Anda di halaman 1dari 6

PERCOBAAN II

PENETAPAN KADAR ASETOSAL


DISUSUN OLEH :
INTAN AMALIA OHORELLA
NIM : 093901S12059

PERCOBAAN II
PENETAPAN KADAR ASETOSAL

I. TUJUAN
Untuk menetapkan kadar asetosal menggunakan metode titrasi kembali (AlkaliAcidimetri).

II. TEORI
Titrasi adalah proses mengukur volume titran yang di perlukan untuk mencapai
ekuivalensi. Terdapat dua macam jenis titrasi yaitu titrasi langsung dan kembali.
Titrasi langsung : Sampel langsung bereaksi dengan titran. Contoh : penetapan kadar
asetosal dalam pelarut etanol.
Titrasi kembali : Asetosal direaksikan dengan NaOH berlebih dalam suasana panas
pelarut air, lalu kelebihan NaOH dititrasi dengan H2SO4 .
Dalam metode titrasi digunakan baku primer dan baku senkunder. Baku primer adalah
larutan standar yang tidak perlu dibakukan kembali karena sifatnya sangat stabil. Dan
dapat dibuat dengan teliti. Baku sekunder adalah Larutan standar yang harus dibakukan
kembali, karena sifatnya yang tidak stabil, sulit dilakukan pengukuran atau penimbangan
dengan tepat.
Dalam metode titrasi terdapat titik ekivalen dan titik akhir titrasi. Titik ekivalen yaitu
waktu pada saat sampel tepat habis bereaksi dengan titran atau pada saat pereaksi tepat
habis bereaksi dengan titran. Titik akhir titrasi yaitu waktu pada saat terjadi perubahan
warna. Idealnya titik ekivalen = titik akhir titrasi .
Reaksi Asetosal :

III. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
Buret
Statif dan klem buret
Labu Erlenmeyer
Pipet volumetrik
Neraca
Becker glass
Mortir dan stamper
Pemanas

2. Bahan
Tablet asetosal
Indikator Fenolftalein
Indikator Metil Merah
H2C2O4
Na2B4O7
NaOH
H2SO4

IV. PROSEDUR
1. Pembakuan larutan standar sekunder NaOH dengan H2C2O4
Siapkan buret pada statif. Cek kebocoran. Isi dengan NaOH.
Siapkan 3 Erlenmeyer. Dengan pipet volumetrik ambil tiga kali 10 ml larutan
H2C2O4 0,1 N masukkan masing-masing ke dalam 3 buah labu Erlenmeyer.
Tambahkan masing-masing 3 tetes Fenolftalein.
Titrasi dengan larutan NaOH sampai terjadi warna merah.
Hitung normalitas NaOH.

2. Pembakuan larutan standar sekunder H2SO4 dengan Na2B4O7


Cuci buret bekas NaOH tadi, Pasang buret tersebut pada statif. Cek kebocoran.
Isilah dengan larutan H2SO4

Siapkan tiga labu Erlenmeyer. Dengan pipet volumetrik ambil tiga kali 10 ml
larutan Na2B4O7 0,1 N masukkan masing-masing ke dalam 3 buah labu
Erlenmeyer. Tambahkan masing-masing 3 tetes metil merah.
Titrasi dengan larutan H2SO4 sampai terjadi warna merah.
Hitung normalitas larutan H2SO4.

3. Penetapan kadar Asetosal


Timbang teliti 5 buat tablet asetosal (misal 3000). Mengandung 2500 mg asetosal.
Gerus dalam mortir sampai halus kemudian timbang serbuk tablet yang setara
dengan 300 mg asetosal. Masukkan ke dalam 3 buah labu erlenmeyer yang sudah
diberi tanda 1, 2 dan 3.
Tambahkan masing-masing 50 ml NaOH yang sudah dibakukan. Panaskan kirakira 10 menit setelah mendidih.
Dinginkan, tambahkan dengan indikator fenolftalein sebanyak 3 tetes.
Titrasi dengan larutan H2SO4 yang sudah dibakukan sampai warna merah tepat
hilang.
Hitung kadar asetosal dalam tiap labu.

V. PERHITUNGAN

x 3002,4 mg

Bobot Asetosal =

1. Pembakuan NaOH
Titrasi ke-

Volume NaOH

10 ml

9,5 ml

9,6 ml

Volume rata-rata =

N NaOH x V NaOH = N H2C2O4 x V H2C2O4


N NaOH x 9,7
N NaOH

= 0,1 x 10
= 0,103 N

= 9,7 ml

2. Pembakuan H2SO4
Titrasi ke-

Volume H2SO4

9,9 ml

9,2 ml

9,2 ml

Volume rata-rata =

= 9,43 ml

N H2SO4 x V H2SO4 = N Na2B4O7 x V Na2B4O7


N H2SO4 x 9,43

= 0,1 x 10

N H2SO4

= 0,106 N

3. Penetapan Kadar Asetosal


Titrasi ke-

V H2SO4

Bobot

Bobot Zat

Kadar

Sampel

Aktif

Asetosal

% Kadar

13 ml

363,2 mg

0,3024

0,33978

112,36

13 ml

371,1 mg

0,3090

0,33978

109,96

12,2 ml

382,0 mg

0,31808

0,34742

109,22

Perhitungan Bobot Zat Aktif


1)

x 2500 mg = 302,4 mg = 0,3024

2)

x 2500 mg = 309,0 mg = 0,3090

3)

x 2500 mg = 318,08 mg = 0,31808

Perhitungan Kadar Asetosal


1) (50 ml x 0,103) (13 ml x 0,106) x x 180,16 = 339,78 mg = 0,33978 g
2) (50 ml x 0,103) (13 ml x 0,106) x x 180,16 = 339,78 mg = 0,33978 g
3) (50 ml x 0,103) (12,2 ml x 0,106) x x 180,16 = 347,42 mg = 0,34742 g
% Kadar Asetosal
1)

x 100% = 112,36 %

2)

x 100% = 109,96 %

3)

x 100% = 109,22 %

VI. KESIMPULAN
Pada labu 1 kadar asetosal tidak memenuhi syarat karena persyaratan kadar asetosal
menurut FI 3 tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110% sedangkan pada labu 2
dan 3 memenuhi syarat,

VII. DAFTAR PUSTAKA


Modul praktikum Kimia Farmasi