Anda di halaman 1dari 55

LAPORAN PRAKTIKUM

METROLOGI INDUSTRI

PENGUKURAN KEKASARAN PERMUKAAN

1.
2.
3.
4.

Oleh :
KELOMPOK 4 (EMPAT)
EKO SAPUTRA
(1107120439)
VICKY YANDRA
(1107120285)
FELDY ANGGRIA
(1107114360)
TONI DARJI
(1107120371)

LABORATORIUM PENGUKURAN
PROGRAM STUDI S1 TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU
JANUARI, 2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan
praktikum Pengukuran Kekasaran Permukaan ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak
kekurangan, baik dari segi isi, penulisan maupun kata-kata yang digunakan. Oleh
karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan
laporan praktikum ini lebih lanjut, akan penulis terima dengan senang hati. Tidak
lupa penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan tugas ini.
Akhirnya, tiada gading yang tak retak, meskipun dalam penyusunan
laporan praktikum ini penulis telah mencurahkan semua kemampuan, namun
penulis sangat menyadari bahwa hasil penyusunan laporan praktikum ini jauh dari
sempurna dikarenakan keterbatasan data dan referensi maupun kemampuan
penulis. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran serta kritik yang
membangun dari berbagai pihak.

Pekanbaru, 01 Januari 2013

Penulis

Page | i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... i


DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ iv
DAFTAR TABEL ...............................................................................................v
DAFTAR NOTASI ........................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................................1
1.2 Tujuan pratikum ...........................................................................................1
1.3 Manfaat Praktikum .......................................................................................2
1.4 Sistematika Penulisan Laporan ....................................................................2
BAB II TEORI DASAR
2.1 Pengertian Kekasaran Permukaan ..................................................................3
2.2 Permukaan dan Profil .....................................................................................4
2.3 Parameter Kekasaran Permukaan ...................................................................6
2.4 Pembahasan Harga Parameter Kekasaran Permukaan .................................10
2.5 Alat Ukur Kekerasan Permukaan .................................................................13
2.5.1 Bagian-bagian Alat Ukur Kekasaran Permukaan ................................ 16
BAB III DATA PENGAMATAN
3.1 Grafik Bidang I...........................................................................................19
3.2 Grafik Bidang II .........................................................................................20
3.3 Grafik Bidang III ........................................................................................21
BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA
4.1 Pengolahan Data Bidang I ...........................................................................22
4.1.1 Perhitungan parameter tegak ................................................................ 23
4.1.2 Perhitungan parameter mendatar.......................................................... 23

Page | ii

4.2 Pengolahan Data Bidang II ........................................................................24


4.2.1 Perhitungan parameter tegak ................................................................ 25
4.2.2 Perhitungan parameter mendatar.......................................................... 25
4.3 Pengolahan Data Bidang III .......................................................................26
4.3.1 Perhitungan parameter tegak ................................................................ 27
4.3.2 Perhitungan parameter mendatar.......................................................... 27
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan.................................................................................................29
5.2 Saran ...........................................................................................................29
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Page | iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.2. 1 Beberapa orientasi bidang potong terhadap geometri ideal ...........5
Gambar 2.3. 1 posisi profil.....................................................................................7
Gambar 2.3. 2 Analisis profil terukur dalam arah sumbu gerak sensor alat ukur.. 9
Gambar 2.3. 3 Kurva abbott................ .................................................................10
Gambar 2.4. 1 Profilberduridan profilbercelah.... .........................................11
Gambar 2.4. 2 Penentuan tinggi gelombang W untuk profil yang
bergelombang.... ...........................................................................12
Gambar 2.5. 1 Sensor alat ukur kekasaran permukaan pengubah (mekanik) opto
mekanik........................................................................................ 14
Gambar 2.5. 2 Pick-Up (PU-A2).......................................................................... 16
Gambar 2.5. 3 Prinsip Optomekanik.................................................................... 17
Gambar 2.5. 4 Drive Unit.....................................................................................17
Gambar 2.5. 5 Amplifier....................................................................................... 17
Gambar 1.

Mengukur Kerataan Meja Rata.................................................... 32

Page | iv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Ketidakteraturan Suatu Profil (Konfigurasi Penampang Permukaan) .....6


Tabel 2. Beberapa profil teoritik dengan harga parameter kekasarannya ........13

Page | v

DAFTAR NOTASI

Simbol
Dx

Keterangan
Panjang sampel

Satuan
Titik

hl....hn

Jarak profil referensi profil terukur

Ku

Koefisien lekukan

Kv

Koefisien kelurusan

Ra

Kekasaran rata-rata aritmatik

Rg

kekasaran rata-rata kuadratik

Rp

Kekasaran perataan

Rt

Kekasaran total

Rz

kekasaran total rata-rata

PA

Profil alas

Titik

PR

Profil referensi

Titik

PT

Profil terukur

Titik

Pt

Profil tengah

Titik

yl....yn

Jarak profil alas profil terukur

Page | vi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada proses pembuatan komponen alat-alat industri ataupun pemesinan
yang menggunakan mesin perkakas memiliki tingkat kekasaran yang berbedabeda. Sedangkan dalam proses assembly suatu alat dibutuhkan tingkat kekasaran
yang baik pada beberapa komponen. Seperti pemasangan poros dengan lubang
dan lain sebagainya. Kekasaran permukaan sangat berpengaruh pada kualitas
assembly suatu komponen, karena semakin baik kekasaran permukaan yang
digunakan
metrologi

maka akan semakin bagus alat tersebut dalam beroperasi. Pada


dan

kontrol

kualitas

dibahas

cara

untuk

memahami

dan

mengidentifikasi suatu kekasaran permukaan pada suatu profil. Untuk menunjang


materi kekasaran permukaan yang dijelaskan dalam metrologi dan kontrol kualitas
dilakukan praktek secara langsung yang dilaksanakan di laboratorium pengukuran
bahan.

1.2 Tujuan praktikum


Pada pelaksanaan praktikum kekasaran permukaan di laboratorium
pengukuran bahan bertujuan untuk :
1. Praktikan dapat mengenal alat kekasaran permukaan dan prinsip
kerjanya.
2. Praktikan memahami prinsip dasar proses pengukuran kekasaran
permukaan
3. Praktikan dapat menggunakan dan mengoperasikan alat ukur
kekasaran permukaan dengan prosedur yang benar, dari hasil
yang didapatkan praktikan mampu mendapatkan parameterparameter yang dibutuhkan dalam menganalisa kekasaran
permukaan suatu profil.
4. Dalam pengukuran yang berulang praktikan dapat mengetahui
perbedaan-perbedaan hasil yang didapatkan.
5. Untuk melatih disiplin dan tanggung jawab praktikan.

Page | 1

1.3 Manfaat Praktikum


1. Praktikan mampu menggunakan alat ukur kekasaran permukaan.
2. Praktikan mampu melaksanakan proses pengukuran kekasaran permukaan
suatu benda dengan prosedur yang baik dan benar.
3. Praktikan mengetahui bagian-bagian alat ukur kekasaran permukaan.
4. Praktikan mengetahui faktor-faktor penyebab kesalahan dalam pengukuran
kekasaran permukaan.
5. Praktikan menjadi disiplin dan lebih bertanggung jawab.

1.4 Sistematika Penulisan Laporan


Adapun sistematika penulisan laporan ini adalah sebagai berikut :
BAB I

Pendahuluan
Berisi mengenai latar belakang, tujuan, manfaat dan sistematika
penulisan laporan.

BAB II

Teori Dasar
Bab ini membahas tentang teori-teori dasar mengenai serba serbi
pengukuran kekasaran permukaan.

BAB III Alat dan Bahan


Bab ini berisi tentang alat-alat yang kita pergunakan selama praktikum
serta bahan apa saja yang dijadikan sebagai benda kerja.
BAB IV Prosedur Kerja
Bab ini menjelaskan tentang langkah dan proses pengerjaan terhadap
benda kerja.
BAB V

Pembahasan
Bab ini menjelaskan tentang perhitungan-perhitungannya kita jumpai
dalam praktikum.

BAB VI Kesimpulan dan Saran


Bab ini berisikan tentang kesimpulan-kesimpulan yang dapat kita tarik
dari praktikum yang telah dilaksanakan dan saran-saran yang dapat
memajukan kita ke arah yang lebih baik dalam melakukan praktikum.

Page | 2

BAB II
TEORI DASAR

2.1 Pengertian Kekasaran Permukaan


Kekasaran permukaan adalah salah satu penyimpangan yang disebabkan
oleh kondisi pemotongan dari proses pemesinan. Sedangkan permukaan itu
sendiri ialah batas yang memisahkan benda padat dengan sekelilingnya. Karakter
suatu permukaan memegang peranan penting dalam perancangan komponen
mesin / peralatan. Dimana karakteristik permukaan dinyatakan dengan jelas
misalnya dalam kaitannya dengan gesekan, keausan, pelumasan, tahanan
kelelahan, dan lain-lain. Karakteristik perancangan sedapat mungkin harus
dipenuhi oleh si pembuat komponen.
Kekasaran permukaan dapat diwakilkan kedalam sebuah grafik yang
memiliki bentuk yang sama dengan profil yang diukur. Grafik tersebut merupakan
pembesaran dari kekasaran permukaan pada profil tersebut. Dari grafik yang
didapatkan tersebut, dapat dicari beberapa parameter-parameter guna menganalisa
dan mengidentifikasi konfigurasi suatu permukaan.
Jika ditinjau dengan skala kecil pada dasarnya konfigurasi permukaan
suatu elemen mesin (produk) juga merupakan suatu karakteristik geometri, yang
dalam hal ini termasuk golongan mikrogeometri. Sementara itu yang tergolong
mikrogeometri adalah permukaan secara keseluruhan yang membuat bentuk atau
rupa yang spesifik. Misalnya permukaan poros, lubang, sisi dan sebagainya.
Karakteristik suatu permukaan memegang peranan penting dalam
rancangan komponen mesin atau peralatan, dalam proses pengerjaan harus sangat
diperhatikan. Kompromi haruslah didapatkan antara persyaratan fungsional
komponen dengan ongkos pembuatan.
Agar pengerjaan lebih mudah maka sebaiknya diperhatikan seperti
toleransi, ukuran, bentuk dan posisi. Karakteristik permukaan harus diterjemahkan
kedalam bentuk gambar teknik.

Page | 3

2.2 Permukaan dan Profil


Karena ketidaksempurnaan alat ukur dan cara pengukuran maupun cara
evaluasi hasil pengukuran maka suatu permukaan sesungguhnya (real surface)
tidaklah dapat dibuat tiruan (duplikatnya secara sempurna). Tiruan permukaan
hasil pengukuran hanya bisa mendekati bentuk atau konfigurasi permukaan yang
sesungguhnya dan disebut sebagai permukaan terukur. Sebagai contoh suatu celah
atau retakan yang sempit pada permukaan tidak akan dapat diikuti oleh jarum
peraba (stylus) alat ukur karena dimensi ujung jarum ini lebih besar dari pada
ukuran celah.
Karena terjadinya berbagai penyimpangan selama proses pembuatan
maka permukaan geometri ideal (geometrically ideal surface) yaitu permukaan
yang dianggap mempunyai bentuk yang sempurna tidaklah dapat dibuat. Dalam
praktek seorang perancang akan menuliskan syarat permukaan pada gambar
teknik dengan cara yang mengikuti suatu aturan (standar) yang tertentu.suatu
permukaan yang disyaratkan pada gambar teknik itu adalah disebut sebagai
permukaan nominal (nominal surface).
Permukaan hanya dipandang sebagai penampang permukaan yang
dipotong yang ditinjau relatif terhadap permukaan dengan geometri ideal secara
tegak lurus (normal), serong (oblique) atau singgung (tangensial). Bidang
pemotongan juga dapat diatur orientasinya, sehingga sejajar permukaan, lalu
geser kedalam permukaan cara pemotongan ini akan menghasilkan suatu
garis/daerah yang dinamakan sesuai dengan nama pemotongannya. Khusus untuk
pemotongan normal dan serong, garis hasil pemotongannya disebut profil.

Page | 4

Gambar 2.2. 1 Beberapa orientasi bidang potong terhadap geometri ideal

Ketidakteraturan konfigurasi suatu permukaan, bila di tinjau dari


profilnya dapat diuraikan atas beberapa tingkat: tingkat pertama yaitu
ketidakteraturan makrogeometri sebagaimana telah dibahas pada toleransi bentuk.
Tingkat kedua adalah disebut dengan gelombang (waviness) merupakan
ketidakteraturan yang periodik dengan penjang gelombang yang jelas lebih besar
dan kedalamannya (amplitudo). Tingkat ketiga alur (grooves) serta tingkat
keempat yang disebut dengan serpihan (flakes) kedua-duanya lebih dikenal
dengan istilah kekasaran (rougness). Dalam kebanyakan hal ke empat tingkat
ketidakteraturan konfigurasi suatu permukaan jarang ditemukan sendiri terpisah.
Melainkan kombinasi beberapa tingkat ketidakteraturan yang tersebut.
Sepintas pembedaan antara tingkat ketidakteraturan ini dapat dimengerti
dan dapat juga diperkirakan faktor-faktor penyebabnya, akan tetapi persoalannya
adalah bagaimana membuat dan menyatakan secara kuantitatif suatu parameter
yang dapat menjelaskan satu persatu tingkat ketidakteraturan bagi suatu
permukaan yang sekaligus mempunyai kombinasi ketidakteraturan diatas.

Page | 5

Tabel 1. Ketidakteraturan Suatu Profil (Konfigurasi Penampang Permukaan)

2.3 Parameter Kekasaran Permukaan


Untuk memproduksi profil suatu permukaan sensor atau peraba (stylus)
alat ukur harus digerakkan mengikuti gerakan lintasan yang berupa garis lurus
dengan jarak yang telah ditentukan terlebih dahulu. Panjang lintasan ini disebut
dengan panjang pengukuran (traveling enght ; e).
Berikut adalah beberapa istiah penting tentang profil-profil pada
pengukuran kekasarn permukaan :
Profil geometrik ideal (geometrically ideal profil) adalah profil
permukaan sempurna (berupa garis lurus, lengkung dan busur).
Profil terukur ( measure profil) adalah profil permukaan terukur
Profil referensi (acuan / puncak) adalah profil yang digunakan
sebagai acuan/puncak Untuk menganalisis ketidakteraturan
konfigurasi permukaan.
Profil akar/alas ( root profil) adalah profil referensi yang digeser
ke bawah sehingga menyinggung titik terendah profil terukur.

Page | 6

Profil tengah (center profil) adalah profil referensi yang digeser


ke bawah arah bawah sedemikan rupa sehingga jumlah luas bagi
daerah-daerah di alas profil tengah sampai ke profil terukur
adalah sama dengan jumlah luas dengan daerah daerah
dibawah profil tengah sampai ke profil terukur.

Gambar 2.3. 1 Posisi profil

Berdasarkan profil-profil yang diterangkan diatas, dapat dideferensikan


beberapa parameter permukaan, yaitu yang berhubungan dimensi pada arah tegak
dan arah memanjang/mendatar. Untuk dimensi arah tegak dikenal beberapa
parameter, yaitu:
Kekasaran total ( peak to valley height/total height): Rt (m)
Adalah jarak antara profil referensi dengan profil alas.
Kekasaran peralatan ( deph of surface smooting / peak to mean
line), Rp (m) Adalah jarak rata rata antara profil referensi
dengan profil terukur.
Rp =

... (2.3.1)

Page | 7

Kekasaran rata rata aritmatik ( mean roughness indek /


center line average, CLA). Ra (m) Adalah harga rata rata
aritmatik bagi harga absolutnya jarak antara profil terukur
dengan profil tengah.

Ra =

1 1
hi dx ... (2.3.2)
0

Catatan :
Parameter Ra ini banyak dimanfaatkan dalam praktek. Pada gambar 2.3.1
diperlihatkan jika daerah-daerah dibawah profil tengah Lembah dicerminkan ke
atas ( menjadi daerah-daerah yang diarsir tegak ) di rata ratakan dengan daerah
daerah diatas profil tengah ( gunung ; daerah yang diarsir miring ) maka akan
terbentuk dataran tinggi dengan ketinggian sebesar Ra.
Kekasaran rata rata kuadratik ( root mean square height )
Rg ( m) Adalah akar bagi jarak kuadrat rata rata antara profil
terukur dengan profil Tengah.
Rg =

1 1 2
hi dx ... (2.3.3)
0

Kekasaran total rata rata, Rz ( m) Adalah merupakan jarak


rata rata profil alas ke profil terukur pada lima puncak tertinggi
dikurangi jarak rata rata profil alas ke profil terukur pada lima
lembah terendah.
Rz =
... (2.3.4)
Selanjutnya untuk dimensi arah mendatar ( sesuai dengan arah gerak
sensor alat ukur) diterangkan beberapa parameter antara lain (lihat gambar
2.3.2a):

Page | 8

Gambar 2.3. 2 Analisis profil terukur dalam arah sumbu gerak sensor alat ukur.

Lebar gelombang (waviness width) Aw (mm) adalah rata rata


aritmatik bagi semua jarak a1 diantara dua buah puncak
gelombang (profil terukur ) yang berdekatan pada suatu panjag
sampel w. w ini disebut dengan panjang sampel gelombang
(waviness sampeling length), dimensinya lebih panjang dari pada
panjang sampel (yang biasanya dipakai untuk mengukur
kekasaran), maksud pemakaian w adalah untuk memisahkan
efek gelombang dari parameter kekasaran.
Lebar kekasaran. (roughness width) Ar (mm) adalah rata rata
aritmatik bagi semua jarak awi diantara dua puncak kekasaran
profil terukur yang berdekatan pada suatu panjang sampel .
Panjang penahan (bearing lenght ). t (mm) apabila profil
referensi digeserkan ke bawah sejauh c (dalam mm) akan
memotong profil terukur sepanjang c1 , c2 .........cn. panjang
penahan t adalah jumlah proyeksi c1 , c2 .........cn. (pada
profil referensi atau profil geometrik ideal, lihat gambar 2.3.2-b )
karena untuk tiap harga C (mm) akan memberikan harga harga t
yang tertentu, maka pada waktu menulisakan t perlu dijelaskan
juga harga C ini didapat untuk pergeseran C sebesar 0,25 m.

Page | 9

Bagian panjang penahan ( bearing lenght frantion), tp (mm)


Adalah hasil bagi panjang penahan terhadap panjang sampelnya
tp =

lt
100%
l
... (2.3.5)

Seperti halnya pada pernyataan t, besarnya C harus pula dituliskan, yaitu secara
contoh berikut : tp 0,25 = ...........%
Apabila C mencapai harga maksimum, yaitu sama dengan harga
mencapai harga 100% . Selanjutnya, dapat dibuat suatu kurva yang
menggambarkan hubungan antara C dan tp, dan kuva ini dikenal dengan nama
kurva abbott dengan bentuk yang tertentu, sehingga dapat dianggap sebagai salah
satu karakteristik konfigurasi permukaan yang bersangkutan gambar 2.3.3
menunjukkan contoh kurva ini.

Gambar 2.3. 3 Kurva abbott

2.4 Pembahasan Harga Parameter Kekasaran Permukaan


Sebagaimana yang telah disinggung dimuka, parameter kekasaran
permukaan

merupakan

besaran

panjang

yang

direkayasa

orang

guna

mengidentifikasikan suatu permukaan. Suatu parameter dikatakan ideal jika


perbedaan yang bagaimanapun spesifikasinya dapat diketahui dan perbedaan hasil
pengukuran berdasarkan parameter tersebut. Karena kompleksitas suatu
permukaan maka sulit untuk membuat parameter yang ideal, hal ini
dapatditunjukkan melalui ulasan berikut.

Page | 10

Gambar 2.4. 1 Profilberduridan profilbercelah.

Pertamatama marilah kita tinjau dua buah profil permukaan yang


istimewa seperti gambar 2.4.1. salah satu profil mempunyai celah celah yang
sempit. Bila diukur, kedua profil ini akan memberikan harga Ra yang kurang lebih
sama. Demikian pula halnya dengan harga Rt-nya. Perbedaan kedua profil ini
hanya terletak pada harga Rp-nya. Oleh karena itu, untuk memberikan informasi
yang lebih lengkap mengenai konfigurasi permukaan. dikemukakan suatu
parameter baru yang disebut dengan parameter bentuk yang dapat dinyatakan
dengan memakai salah satu dan dua cara pernyataan berikut:
Koefisien lekukan, ku
Adalah kekasaran peralatan dibagi dengan kekasaran total

Ku =

Rp
... (2.4.1)
Rt

Koefisien kelurusan, kv
Adalah merupakan komplemen satuan koefisien lekukan

Kv = 1

Rp
1 ku
Rt
... (2.4.2)

Untuk suatu profil yang mempunyai kombinasi ketidakteraturan yang


berbentuk gelombang dan sekaligus juga kekasaran harus diusahakan untuk
memisahkan tingkatan ketidakteraturan tersebut. Caranya, dengan mengambil dua
panjang sampel yang bebeda yaitu panjang sampel gelombang dan panjang
Page | 11

sampel kekasaran jadi, harga rata rata aritmatik Ra untuk beberapa panjang
sampel kekasaran yang diukur pada beberapa tempat didalam panjang sampel
gelombang dapat dikurangkan dari harga Ra yang didapat dari pengukuran untuk
satu panjang sampel gelombang tersebut (lihat gambar 2.4.2 ) .

Gambar 2.4. 2 Penentuan tinggi gelombang W untuk profil yang bergelombang

Dan hasil ini dapat didefenisikan suatu parameter lain yang disebut ketinggian /
kekasaran gelombang, w (waviness height). Untuk satu panjang sampel
gelombang. W adalah jarak antara profil dasar dengan profil referensi yang telah
digeser sejauh harga rata rata Rt untuk beberapa panjang sampel kekasaran .
W = Rt kekasaran Rt kekasaran ... (2.4.3)
Dimana :
Rt kekasaran =

1
Rti kekasaran
n

Untuk mengetahui karakteristik suatu permukaan akan diperoleh hasil


yang lebih baik jika dilakukan dengan cara merataratakan hasil pengukuran pada
beberapa tempat Arah gerak sensor alat ukur (arah pengukuran ) adalah
sembarang, kecuali jika ada ketentuan bahwa arah pengukuran harus tegak lurus
terhadap alur alur bekas pengerjaan (dan ini merupakan cara yang banyak
dipraktekkan). Apabila arah telah ditentukan, pengukuran yang dilakukan pada
beberapa tempat harus menggunakan arah gerak sensor yang sama, jadi, garis
garis pengukuran harus sejajar.
Secara teoritik dapat dimisalkan bentuk suatu profil permukaan.
Kemudian,dihitung parameter permukaannya berdasarkan rumus matematika tabel
2 berikut adalah contoh beberapa bentuk profil teoritik dengan perbandingan
hargaharga parameter kekasarannya.

Page | 12

Tabel 2. Beberapa profil teoritik dengan harga parameter kekasarannya

Dari tabel 2 ini dapat disimpulkan beberapa hal yang penting yaitu:
Koefisien Rg/Ra untuk kesemua bentuk profil harganya hampir
tidak berubah, yaitu Rg/Ra =1,2. Oleh karena itu dapat dianggap
bahwa Rg dan Ra adalah sederajat, artinya kedua parameter
tersebut mempunyai nilai informasi yang sama atas konfigurasi
permukaan.
Koefisien Ra/Rt dan Rg/Rt tidak banyak dipengaruhi oleh bentuk
profil, yang bearti kedua koefisien ini tidak sesuai untuk
menandai konfigurasi permukaan.
Koefisien Rp/Rt yang harganya terletak diantara 0 dan 1 ternyata
lebih dapat digunakan untuk menandai konfigurasi permukaan
dari pada yang lain. Oleh sebab itu Rp/Rt ini disebut dengan
nama koefisien lekukan Ku.
2.5 Alat Ukur Kekerasan Permukaan
Dalam mengidentifikasi adanya kekasaran dapat dibantu pada alat ukur
kekasaran permukaan. Alat ukur kekasaran permukaan memiliki prinsip kerja
jenis opto-elektrik yang dirancang dengan penggabungan beberapa prinsip dasar
berikut :

Page | 13

1. Fotosel (Photo cell/ Photo dicate)


Fotosel merupakan komponen elektronik yang peka terhadap sinar
yang jatuh pada permukaan aktifnya.
2. Berkas cahaya dari suatu sumber cahaya (lampu atau LED (light
Emiting Diode) diarahkan oleh sistem optik agar dapat mengenai
fotosel.
3. Suatu sistem optik (gabungan opto-mekanik) yang dirancang untuk
mendeteksi perubahan gerakan, diusahakan untuk mengubah intensitas
cahaya yang mengenai fotosel yaitu pada saat terjadi perubahan
gerakan.
4. Pengolahan sinyal fotosel (besaran listrik) sedemikian rupa sehingga
korelasi (hubungan) antara perubahan intensitas cahaya dengan
perubahan gerakan dapat dibaca dengan kecermatan tertentu.

Alat ukur permukaan dengan prinsip kerja yang dijelaskan dapat dilihat
pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.5. 1 Sensor alat ukur kekasaran permukaan pengubah (mekanik) opto
mekanik

Sensor

yang berupa ujung jarum diatur sehingga menempel pada

permukaan yang akan diukur kekasarannya (sampai penunjuk skala berhenti pada
posisi nol). Sistem mekanik, optik, elektrik, dan pengolahan data pengukuran
berfungsi sebagai berikut :

Page | 14

a. Sistem Mekanik
Akibat tekanan pegas pada batang ayun sensor akan selalu menempel pada
permukaan. Poros alat ukur digerakkan (digerakkan oleh motor yang
dikontrol kecepatannya). Sepanjang sampel kekasaran dan sensor
menggeser sambil bergerak turun naik mengikuti profil permukaan.
Gerakan sensor menggoyangkan batang ayun pada engselnya dan pelat
bercelah mengikutinya sesuai dengan perbandingan jarak sensor engsel
dan pelat engsel.
b. Sistem Optik
Berkas cahaya diarahkan pada sepasang fotosel pada celah. Akibat
goyangan celah, kedua fotosel akan menerima cahaya dengan bergantian
intensitas cahayanya. Saat celah bergerak keatas fotosel yang diatas akan
menerima cahaya dengan intensitas cahaya yang lebih besar daripada
diterima fotosel yang berada dibawah.
c. Sistem elektrik
Perubahan sinyal listrik karena perubahan intensitas cahaya pada sepasang
fotosel secara sistematik mengikuti irama goyangan celah dapat diperoleh
secara elektronik.
d. Sistem pengolahan data
Berbagai parameter kekasaran permukaan dapat dianalisis secara manual
berdasarkan grafik profil kekasaran permukaan. Grafik kekasaran
permukaan ini adalah hasil pengubahan sinyal sensor menjadi sinyal
analog besaran listrik yang direkam dengan perekam jenis galvanometer.

Alat ukur kekasaran permukaan memiliki kapasitas ukur dengan terbatas


(0,1 mm). Kapasitas pengukuran dapat diperpanjang dengan membuat batang
pengubah intensitas cahaya sama dengan batang skala inductosin (kapasitas ukur
panjang skala dikurangi panjang slider). Pengubah intensitas cahaya dapat berupa
batang skala terbuat dari gelas (transparan). Dengan teknik photoligrafi garis-garis
skala dibuat dipermukaan gelas dengan kecermatan yang sangat tinggi (pits; P=
0,008 mm) dan dinamakan sebagai skala ukur.

Page | 15

Reaksi fotosel atas cahaya yang datang pada permukaan aktifnya dapat
dianggap sebagai dua kondisi, yaitu : kondisi ON (satu) dan kondisi OFF (nol).
a) Kondisi ON
Skala pada slider akan menempati posisi yang sama dengan skala pada
batang skala dan berkas cahaya dapat melewati celah-celah antar garis.
b) Kondisi OFF
Garis-garis skala pada slider menempati posisi yang persis pada celah
antara garis-garis pada batang skala sehingga berkas cahaya tidak bisa
lewat.

2.5.1 Bagian-bagian Alat Ukur Kekasaran Permukaan


Pada alat ukur kekasaran permukaan terdiri dari beberapa bagian-bagian
yang memiliki fungsi berbeda. Bagian-bagian alat ukur akan dijelaskan sebagai
berikut :
1. Pick-Up (PU-A2)

Gambar 2.5. 2 Pick-Up (PU-A2)

Pick-Up digunakan sebagai sensor yang memiliki prinsip kerja


optomekanik. Pada pick-up terdapat batang ayun sebagai dudukan sensor dan
pengubah gerakan sensor pada batang membuat pelat pada ujung lain ikut
bergerak. Cahaya yang dipantulkan ke pelat akan melewati lubang pada pelat.
Lalu naik turunnya cahaya diterima oleh fotosel. Skematik pada pelat dapat dilihat
pada gambar dibawah ini.

Page | 16

Gambar 2.5. 3 Prinsip Optomekanik

2. Drive Unit (DR-30x31)

Gambar 2.5. 4 Drive Unit

Drive unit merupakan alat elektrik yang menerima respon dari pick-up.
Pada drive unit terdapat kalibrasi agar pengukuran yang didapatkan sesuai acuan
standart. Drive unit merupakan alat pencatat yang dihasilkan oleh fotosel.
3. Amplifier (AS-1700)

Gambar 2.5. 5 Amplifier

Page | 17

Pada amplifier ini merupakan alat yang membantu menampilkan grafik


yang dibaca oleh drive unit. Pada amplifier terdapat layar, lalu proses pengukuran
dilakukan pada amplifier. Hasil grafik yang didapatkan dapat dicetak pada kertas
grafik agar dapat dianalisa mengenai parameter yang didapatkan dari grafik profil
benda ukur.

Page | 18

BAB III DATA


PENGAMATAN

3.1 Grafik Bidang I

Gambar 3.1 Grafik Bidang I

R1= 8.5 mm

h1= 5.5 mm

Lc1= 0.5 mm

P(aw1)= 22.5 mm

R2= 7 mm

h2= 4 mm

Lc2= 0.75 mm P(aw2)= 2.5 mm

R3= 6 mm

h3= 3 mm

Lc3= 1 mm

R4= 6 mm

h4= 3 mm

R5= 5.5 mm

h5= 2.5 mm

R6= 0 mm

h6= 3 mm

a(ar1)= 1.5 mm

R7= 0.25 mm

h7= 2.75 mm

a (ar2)= 1 mm

R8= 0.5 mm

h8= 2.5 mm

a (ar3)= 0.5 mm

R9= 0.5 mm

h9= 2.5 mm

R10= 1 mm

h10= 2 mm

P(aw3)= 12 mm
P(aw4)= 3.5 mm

Lw= 36 mm
L= 28 mm
C= 3500 m

Page | 19

3.2 Grafik Bidang II

Gambar 3.1 Grafik Bidang II

R1= 9 mm

h1= 8.5 mm

Lc1= 0.5 mm

P(aw1)= 8 mm

R2= 6 mm

h2= 7.5 mm

Lc2= 1 mm

P(aw2)= 15 mm

R3= 5.5 mm

h3= 6.5 mm

Lc3= 2 mm

P(aw3)= 6 mm

R4= 5 mm

h4= 5 mm

R5= 4.5 mm

h5= 4 mm

R6= 0 mm

h6= 5.75 mm

a(ar1)= 1.5 mm

R7= 1 mm

h7= 4.5 mm

a (ar2)= 1 mm

R8= 1.5 mm

h8= 4.5 mm

a (ar3)= 2 mm

R9= 2 mm

h9= 3.5 mm

R10= 3 mm

h10= 3 mm

P(aw4)= 2.5 mm

Lw= 28 mm
L= 36 mm
C= 7000 m

Page | 20

3.3 Grafik Bidang III

Gambar 3.2 Grafik Bidang III

R1= 7 mm

h1= 3.5 m m

Lc1= 0.5 mm

P(aw1)= 5.5 mm

R2= 6.5 mm

h2= 3 mm

Lc2= 1.5 mm

P(aw2)= 18 mm

R3= 6.35 mm

h3= 3.35 mm

P(aw3)= 7 mm

R4= 6.25 mm

h4= 3.25 mm

P(aw4)= 9 mm

R5= 6 mm

h5= 3 mm

a (ar1)= 1.5 mm

R6= 0 mm

h6= 3.5 mm

a (ar2)= 0.5 mm

R7= 0.5 mm

h7= 3 mm

a (ar3)= 1 mm

R8= 1 mm

h8= 2.5 mm

a (ar4)= 1 mm

R9= 1.5 mm

h9= 2 mm

a (ar5)= 0.5 mm

R10= 1.5 mm

h10= 2 mm

a (ar6)= 1 mm
a (ar7)= 0,5 mm

Lw= 43.5 mm

a (ar8)= 0.5 mm

L= 48.5 mm
C= 2000 m

Page | 21

BAB IV
PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA

4.1 Pengolahan Data Bidang I

Gambar 4. 1 Grafik Bidang I

R1= 8.5 mm

h1= 5.5 mm

Lc1= 0.5 mm

P(aw1)= 22.5 mm

R2= 7 mm

h2= 4 mm

Lc2= 0.75 mm P(aw2)= 2.5 mm

R3= 6 mm

h3= 3 mm

Lc3= 1 mm

R4= 6 mm

h4= 3 mm

R5= 5.5 mm

h5= 2.5 mm

R6= 0 mm

h6= 3 mm

a(ar1)= 1.5 mm

R7= 0.25 mm

h7= 2.75 mm

a (ar2)= 1 mm

R8= 0.5 mm

h8= 2.5 mm

a (ar3)= 0.5 mm

R9= 0.5 mm

h9= 2.5 mm

R10= 1 mm

h10= 2 mm

P(aw3)= 12 mm
P(aw4)= 3.5 mm

Lw= 36 mm
L= 28 mm
C= 3500 m

Page | 22

4.1.1 Perhitungan parameter tegak


a. Kekasaran total rata-rata. R2 (
(

R2=

4.1.2 Perhitungan parameter mendatar


a. Lebar gelombang (waviness width), Aw(mm)
Didapat dari pegukuran grafik yaitu :
Aw1= 22.5 mm
Aw2= 2.5 mm
Aw3= 32 mm
Aw4= 8 mm
b.

Lebar kekasaran (roughness width) pr (mm)


Didapat dari pegukuran grafik yaitu :
Ar1= 1.5 mm
Ar2=1 mm
Ar3=0.5 mm

c.

Panjang penahan (beading length) lt (mm)


Didapat dari pegukuran grafik yaitu :
1.

lc 1 = 0.5

2.

lc 2 = 0.75

3.

lc3 = 1

l = 3500

lt= jumlah proyeksi tn untuk setiap harga lt 3500

= 3500

mempunyai 3 proyeksi di lt
d.

Bagian panjang penahan (bearing length friction)


tp (mm) =
=

Page | 23

4.2 Pengolahan Data Bidang II

Gambar 4. 2 Grafik Bidang II

R1= 9 mm

h1= 8.5 mm

Lc1= 0.5 mm

P(aw1)= 8 mm

R2= 6 mm

h2= 7.5 mm

Lc2= 1 mm

P(aw2)= 15 mm

R3= 5.5 mm

h3= 6.5 mm

Lc3= 2 mm

P(aw3)= 6 mm

R4= 5 mm

h4= 5 mm

R5= 4.5 mm

h5= 4 mm

R6= 0 mm

h6= 5.75 mm

a(ar1)= 1.5 mm

R7= 1 mm

h7= 4.5 mm

a (ar2)= 1 mm

R8= 1.5 mm

h8= 4.5 mm

a (ar3)= 2 mm

R9= 2 mm

h9= 3.5 mm

R10= 3 mm

h10= 3 mm

P(aw4)= 2.5 mm

Lw= 28 mm
L= 36 mm
C= 7000 m

Page | 24

4.2.1 Perhitungan parameter tegak


a. Kekasaran total rata-rata. R2 (
(

R2=

4.2.2 Perhitungan parameter mendatar


a. Lebar gelombang (waviness width), Aw(mm)
Didapat dari pegukuran grafik yaitu :
Aw1= 8 mm
Aw2= 15 mm
Aw3=6 mm
Aw4=2.5 mm
b. Lebar kekasaran (roughness width) pr (mm)
Didapat dari pegukuran grafik yaitu :
Ar1= 1.5 mm
Ar2=1 mm
Ar3=2 mm
c. Panjang penahan (beading length) lt (mm)
Didapat dari pegukuran grafik yaitu :
1.

lc 1 = 0.5

2.

lc 2 = 1

3.

lc3 = 2

l = 7000

lt= jumlah proyeksi tn untuk setiap harga lt 7000

= 7000

mempunyai 3.5 proyeksi di lt


d. Bagian panjang penahan (bearing length friction)
tp(mm) =
=

Page | 25

4.3 Pengolahan Data Bidang III

Gambar 4. 3 Grafik Bidang III

R1= 7 mm

h1= 3.5 m m

Lc1= 0.5 mm

P(aw1)= 5.5 mm

R2= 6.5 mm

h2= 3 mm

Lc2= 1.5 mm

P(aw2)= 18 mm

R3= 6.35 mm

h3= 3.35 mm

P(aw3)= 7 mm

R4= 6.25 mm

h4= 3.25 mm

P(aw4)= 9 mm

R5= 6 mm

h5= 3 mm

a (ar1)= 1.5 mm

R6= 0 mm

h6= 3.5 mm

a (ar2)= 0.5 mm

R7= 0.5 mm

h7= 3 mm

a (ar3)= 1 mm

R8= 1 mm

h8= 2.5 mm

a (ar4)= 1 mm

R9= 1.5 mm

h9= 2 mm

a (ar5)= 0.5 mm

R10= 1.5 mm

h10= 2 mm

a (ar6)= 1 mm
a (ar7)= 0,5 mm

Lw= 43.5 mm

a (ar8)= 0.5 mm

L= 48.5 mm
C= 2000 m

Page | 26

4.3.1 Perhitungan parameter tegak


a. Kekasaran total rata-rata. R2 (
R2=

4.3.2 Perhitungan parameter mendatar


a. Lebar gelombang (waviness width), Aw(mm)
Didapat dari pegukuran grafik yaitu :
Aw1= 5.5 mm
Aw2= 18 mm
Aw3=1 mm
Aw4=9 mm
b. Lebar kekasaran (roughness width) pr (mm)
Didapat dari pegukuran grafik yaitu :
Ar1= 1.5 mm
Ar2=0.5 mm
Ar3=1 mm
c. Panjang penahan (beading length) lt (mm)
Didapat dari pegukuran grafik yaitu :
1. lc 1 = 0.5
l = 2000
2. lc 2 = 1.5
lt= jumlah proyeksi tn untuk setiap harga lt 2000
mempunyai 2 proyeksi di lt
d. Bagian panjang penahan (bearing length friction)

= 2000

tp(mm) =
=

4.4 Analisa Data


Pada praktikum pengukuran kekasaran permukaan kali ini mengukur
kekasaran suatu permukaan benda ukur. Prinsip kerja alat ini digunakan untuk
mengetahui seberapa tinggi kekasaran permukaan benda yang mau diukur tersebut
yaitu menggunakan optoelektrik. Dimana pada drive unit terdapat komponen
elektronik dan sistem optik didalam.
Rangkaian alat ini dimulai dari pick-up yang dipasang pada drive unit,
kemudian kabel pada drive unit disambungan pada amplifire. Kemudian
menyalakan amplifire yang tujuannya agar data yang telah diperoleh dan diproses
dari sensor pada pick-up dan drive unit dilanjutkan pada amplifire sehingga hasil
proses pengukuran kekasaran permukaan ini berbentuk grafik.
Page | 27

Setelah diproses data pengamatan yang berupa grafik, lanjutkan dengan


menghitung parameter kekasaran permukaan sesuai dengan referensi/ modul
praktikum.
Hasil dari pratikum titik y dan h mencapai 5 puncak dan 5
lembah.
Grafik kurva yang didapat garis kekasaran tidaklah pernah putus
selalu menyatu antara satu dengan yang lainnya walaupun tingkat
ketidakteraturan tidak sempurna. ketidakteraturan garis kurva ini
disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :
a. Kesalahan pada mesin yang digunakan
b. Kesalahan pada operator pada saat memproduksi
c. Penggunaan alat yang tidak sesuai dengan ketentuan
d. kepanasan, benda yang mengalami proses pemanasan
akan mengubah stuktur pada permukaannya.

Page | 28

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan :
1. Prinsip kerja dari alat ukur kekasaran permukaan ini adalah optoelektrik.
2. Parameter-parameter yang diukur antara lain kekasaran total, kekasaran
perataan, kekasaran rata-rata aritmatik, kekasaran rata-rata kuadratik dan
kekasaran total rata-rata.
3. Untuk mengetahui nilai kekasaran suatu benda, yang terlebih dahulu
dilakukan adalah melakukan pengukuran terhadap benda ukur tersebut dan
akan didapat data pengamatan berupa grafik kekasaran. Selain itu, data
tersebut dikonversi agar dapat nilai kekasarannya.
4. Ketidakteraturan grafik atau kurva pengukuran kekasaran permukaan
disebabkan oleh perancangan benda kerja itu sendiri.
5. Dalam ilmu pengukuran, kesalahan (error) didefinisikan sebangai
perbedaan antara hasil pengukuran dengan nilai sebenarnya dari objek
fisik yang diukur.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan pada pembaca sebagai berikut:
1. Sebelum melakukan praktikum sebaiknya praktikan menguasai teori
terlebih dahulu agar memudahkan dalam melakukan praktikum.
2. Dalam praktikum hendaknya mengikuti perosedur yang baik.
3. Bersikap serius selama melakukan pengukuran.
4. Pengukuran harus dilakukan dengan cermat agar hasil pengukuran akurat,
karena hasil pengukuran tergantung pada operator yang mengukur.
5. Pastikan benda ukur masih dalam keadaan baik.

Page | 29

DAFTAR PUSTAKA

Rochim Taufik. 2001. Spesifikasi, Metrology Dan Control Kualitas


Geometric I. Bandung : ITB

Rochim Taufiq, Spesifikasi Metrologi dan Kontrol Kualitas Geometri


jilid 2, penebit ITB : Bandung, 2006.

Page | 30

LAMPIRAN

Page | 31

1.

Prosedur Kerja
Adapun prosedur pelaksanaan pratikum pengukuran kekasaran

permukaan antara lain :


1. Alat ukur dan benda ukur disiapkan.
2. Meja rata diukur kerataan dengan menggunakan waterpass dengan
metode union jack.

Gambar 1. Mengukur Kerataan Meja Rata

3. Alat ukur dirangkai dan disetting sesuai standar ISO.


4. Benda ukur (Calibration) di letak pada meja ukur dan berada di bawah
jarum sensor yang terdapat pada Pick Up. Set meter pada posisi 0.
5. Pengambilan data dilakukan dan data yang diperoleh adalah grafik.
6. Perhitungan parameter-parameter kekasaran permukaan dilakukan dari
data yang diperoleh.
7. Analisa dilakukan dari hasil perhitungan dan data yang diperoleh.

Page | 32

2.

Perusahaan yang memproduksi alat ukur kekasaran permukaan adalah


sebagai berikut:
a) Nama Perusahaan : Para Weifang yang Huaguang Ukur co,Ltd
(Weifang tanaman Ukur)
Distributor

: [MT] Zhou Chengxin

Email

: liangju@hgpm.com. liangju@126.com,
ldh586@163.com

Telphone

: 086 0086 15853672153

b) Nama Perusahaan : NAASRA co,Ltd


Contact Persons

: 0852 1765 7700


0812 2073 8885

3.

Profil Perusahaan KRISBOW

Page | 33

Sejarah Krisbow

Sebuah Fenomena Entrepreneurship

Dari satu toko kecil di kawasan Glodok warisan sang ayah, Kuncoro
Wibowo dan adik-adiknya berhasil membangunnya menjadi kerajaan bisnis
perkakas terkemuka di Asia Tenggara. Bagaimana usaha ini bisa meraksasa?

Alex Widjaja, pemilik toko di Kawasan Glodok, mengaku tak pernah


membayangkan kalau salah satu keluarga pemilik toko alat pertukangan yang
telah lama menjadi tetangganya bisa sukses memiliki perusahaan besar. Pasalnya,
dulu toko milik Wong Jin (almarhum), tetangga dan temannya itu, tak lebih
istimewa dari toko-toko lain di sana, termasuk toko Alex sendiri. Yang ia tahu,
putra-putra Wong Jin memang rajin dan mau bersusah payah membantu ayahnya
berdagang di toko. "Mereka anak-anak muda pekerja keras," tutur Alex yang
tahun ini genap berusia 62 tahun. Alex mengaku ikut gembira dan takjub
mengetahui putra-putra sobatnya itu kini telah berhasil membangun bisnis
berskala besar dengan bendera Grup Kawan Lama (GKL). Ketakjubannya makin
bertambah setelah diberitahukan bahwa gerai Ace Hardware dan Index yang
mulai bertebaran di Jabotabek, ternyata juga milik keluarga kawan lamanya itu.

Boleh jadi, bukan hanya Alex yang cukup terkejut dengan perkembangan
bisnis GKL, tapi juga sejumlah pedagang Glodok yang tokonya berdekatan
dengan toko milik Wong Jin. Maklum, puluhan tahun lalu, bisnis keluarga ini bisa
dibilang tak ada apa-apanya. Bayangkan. Tahun 1960-an, toko kecil yang
berdagang perkakas teknik ini tak berbeda dari toko-toko sejenis lainnya di
Glodok. Ukurannya hanya sekitar 3 x 3 meter, dan tampilan ruangannya
sederhana, bahkan terkesan kusam dan gelap. Di toko itulah Wong Jin yang warga
Tionghoa, selain mencari nafkah juga mengajarkan kepada anak-anaknya -terutama anak lelaki tertuanya, Kuncoro Wibowo -- tentang bagaimana berdagang

Page | 34

dan melayani pembeli, serta bagaimana bekerja keras dan belajar. Toko kecil itu
sendiri sudah dibuka Wong Jin sejak tahun 1950.

Roda kehidupan memang berputar. Terbukti di tangan generasi kedua -Kuncoro Wibowo dan adik-adiknya -- GKL menjelma menjadi perusahaan besar
yang menguasai bisnis perdagangan perkakas di Indonesia. Produk yang
dipasarkan tak kurang dari 20 kategori dan meliputi lebih dari 60 ribu item.
Sekitar 90% produk yang dijual GKL ini merupakan produk impor yang
diproduksi perusahaan perkakas besar dunia.

Keistimewaan GKL terutama karena mampu keluar dari kerumunan para


pemain di bisnis distribusi produk perkakas dengan menunjukkan kelasnya
sendiri. Bukan rahasia lagi, hampir semua pemain distribusi perkakas teknik di
Indonesia adalah perusahaan kelas toko alias UKM yang banyak terdapat di
bilangan Kota (Jakarta). Sulit menyebutkan bisnis mereka sebagai bisnis
korporasi. GKL-lah yang paling sukses melewati kerumunan itu. Di Asia
Tenggara, kalau Anda bandingkan dengan perusahaan distributor dan showroom
perkakas lain, kamilah yang terbesar dan paling lengkap," ujar seorang eksekutif
Kawan Lama. Tampaknya klaim sang eksekutif GKL itu tak berlebihan. Berbeda
jauh dari para kompetitornya yang hampir semua masih menempati toko atau
ruko, GKL sudah punya banyak gerai, showroom, dan kantor pusat sendiri yang
cukup mentereng.

Di gedung yang dijadikan markas besarnya itu GKL membuka showroom


untuk displai produk seluas 2.000 m2. Showroom dilengkapi dengan sistem
katalog yang terkomputerisasi sehingga sangat memudahkan visualisasi produk ke
calon pembeli. Kehadiran perangkat canggih itu juga memungkinkan simulasi dan
testing produk bagi calon pembeli yang ingin menjajal produk. Showroom ini
dikelola salah satu anak usaha GKL yang paling tua, yakni PT Kawan Lama
Sejahtera, yang kini diperkuat sekitar 1.200 karyawan.

Page | 35

Yang tak kalah menarik, jumlah produk yang dipasarkan (termasuk yang
diageni) GKL sekitar 130 merek. Hebatnya, GKL hanya mau mengageni merekmerek perkakas tiga besar (the big three) dunia. Malah, untuk mengageni merek
yang punya pasar besar, GKL mendirikan perusahaan tersendiri (dedicated).
Misalnya ada PT Indo Kompressigma untuk mengelola penjualan produk
kompresor udara paling top di dunia dari Jerman bermerek Kaeser. Lalu, PT
Miller Weldindo memasarkan mesin las asal Amerika Serikat bermerek Miller.
Ada pula PT Kawan Lama Multiweldindo, pemegang lisensi pemasaran mesin las
merek Saf (Prancis). Sementara PT Global Tools Indonesia memasarkan berbagai
tool bermerek Facom (Prancis).
Ada lagi salah satu merek yang diageni GKL dan sekarang tengah naik
daun, yakni Sensormatic. Produk untuk keamanan ini berbentuk scanner yang
banyak dipakai kalangan pengelola gedung (hotel, mal, dan lainnya), khususnya
untuk melakukan scanning terhadap kemungkinan pengunjung yang membawa
bahan peledak. GKL memasarkan produk ini di bawah bendera PT Sensormatic
Indonesia. Kami memasarkan produk-produk itu dengan pola joint venture
dengan prinsipal, ujar Kuncoro Wibowo, yang juga CEO GKL.

Selain merek-merek top itu masih ada puluhan merek lain yang diageni
GKL. Pasalnya, GKL memang menyediakan aneka produk mulai dari perkakas
pemotongan (cutting tool), pengeboran (drilling tool), alat-alat pengukuran dan
presisi, perkakas keselamatan kerja, fastening tool, produk kimia (untuk adesif,
cat, lubrikasi dan pembersih), lightening equipment, cleaning service, automotive
service & testing equipment, kompresor, diesel, alarm, dan sebagainya.
Pendeknya, barang dagangannya mulai dari obeng kecil hingga kompresor dan
diesel yang besarnya memenuhi ruangan. Keunikan kami adalah one stop
shopping concept. Jadi bila ada industri yang butuh alat-alat perkakas, kami
menyediakannya," kata Kuncoro yang kini mempekerjakan 3 ribu orang di
kelompok usahanya. Untuk memasarkan produk-produknya itu GKL mendirikan
9 cabang di berbagai kota.

Page | 36

Menyingkap perjalanan bisnis GKL memang amat menarik. Sebab, yang


terurai kemudian adalah cerita kewirausahaan (entrepreneurship) yang penuh
teladan. Boleh dibilang, di dalamnya banyak pelajaran tentang sebuah perjuangan
bisnis, kerja keras, kedisplinan, semangat terus belajar. Kenyataannya, unsurunsur inilah yang bisa membalikkan nasib dari nobody menjadi somebody yang
terpandang. Itulah yang terjadi pada GKL, terutama setelah Kuncoro dan adikadiknya menerima tongkat estafet pengelolaan toko yang didirikan sang ayah.

Kuncoro, anak keempat dari 9 bersaudara, sedari kecil memang sudah


terbiasa bekerja keras -- dan masih dilakukannya hingga sekarang. Salah satu
alasannya, dia ingin selalu melakukan sesuatu yang berbeda. I want to be
something different, katanya menegaskan. Saya kalau sudah punya keinginan,
harus bisa diperoleh, tambah Kuncoro berterus terang kepada tim SWA yang
mewawancarainya. Pengusaha yang lebih suka tampil dengan potongan rambut
cepak ini menceritakan, ketika masih SD, ia dan adik-adiknya sudah biasa
membantu ayahnya bekerja di toko. Sepulang dari sekolah langsung menuju toko.
Adik perempuannya biasanya berperan sebagai kasir, sedangkan Kuncoro dan dan
adik-adik lelakinya ikut membantu melayani di toko. Saya ingat kalau ke toko,
tiap pagi bawa teko yang sudah diisi teh oleh ibu. Ketika makan siang, ibu
mengirimkan rantang nasi yang zaman dulu masih pakai rantang rotan, kenang
kelahiran 1956 yang punya hobi mengoleksi korek api ini.

Bukan masa kuliah formal bertahun-tahun yang mengasah keterampilan


bisnis Kuncoro, melainkan lebih karena tempaan kerja keras dan otodidak. Ia
belajar sambil bekerja di lapangan, di toko kecil itu. Prinsip saya learning by
practicing. Apa yang salah terus diperbaiki. Dan, secara tidak sadar itu terus
bergulir sampai kami bisa mandiri, sampai dilepas oleh ayah kami, ujar Kuncoro
yang memang hanya tamatan SLTA. Meski tak duduk di bangku kuliah, tak
berarti Kuncoro tak suka belajar. Selain belajar dari tempaan pengalaman selama
melayani pelanggan di toko, ia juga banyak mengambil kursus informal untuk
mengasah wawasan bisnisnya. Tak ayal kematangan berbisnisnya pun cepat

Page | 37

terbentuk.

Yang membuat GKL cepat melaju bisa dibilang karena kegigihan Kuncoro
baik dalam menangkap peluang pasar, menggandeng prinsipal luar negeri,
membimbing adik-adiknya, hingga membangun organisasi bisnis. Bukan rahasia
lagi bagi kalangan karyawan GKL, jiwa dan semangat kewirausahaan Kuncoro
memang terasa kental. Pengusaha yang selalu datang ke kantor pukul 08.00 dan
pulang pukul 21.00 ini dikenal punya kepemimpinan (leadership) yang kuat,
malah bisa dibilang cukup keras. Mungkin semimiliter, kata seorang manajer di
GKL menilai. Contohnya, karyawan yang datang ke kantor telat, namanya akan
muncul di layar monitor. GKL juga menegakkan aturan di kantor karyawan tak
boleh baca koran atau majalah, melainkan hanya boleh bekerja. Sebenarnya bisa
dipahami bila Kuncoro menerapkan gaya ini. Pasalnya, ia memimpin sebuah
perusahaan penjualan yang memang menuntut disiplin tinggi dan kerja keras.

Sebelum menyuruh anak buahnya bekerja keras, Kuncoro sendiri sudah


menjalankannya. Ketika berusia 17 tahun ayahnya sudah biasa melepas Kuncoro
dan adiknya untuk menggulirkan usaha dagang keluarga sendiri. Misalnya untuk
urusan pembelian, pengepakan dan pengiriman barang. Malahan di usia 17 tahun
itu Kuncoro sudah pergi ke luar negeri sendiri guna mencari produk-produk
perkakas yang potensial diageni. Saya sudah sering pergi cari produk ke
Singapura, Hong Kong dan Jepang. Ketika itu Cina belum terbuka, kata Kuncoro
seraya menjelaskan rata-rata para prinsipal yang mereknya diageni dari awal
sampai sekarang, masih bertahan bermitra dengan GKL. Di tahun 1980-an itu,
Kuncoro rajin mengembangkan hubungan dengan para prinsipal termasuk
mengunjungi pameran di mancanegara -- dan mulai mengageni produk-produk
luar negeri. Saya melihat kesempatan dan timing, waktu itu barang-barang
bermerek dan berkualitas mulai bergerak di sini seiring dengan berkembangnya
industri, seperti asembling mobil, ungkap pria yang mengaku tiga bulan dalam
setahun waktunya dihabiskan di luar negeri itu.

Kuncoro melihat perusahaannya bisa berkembang jauh lebih pesat

Page | 38

dibanding para pesaing yang sekarang masih jualan di ruko-ruko, karena


perbedaan cara berpikir dan adanya keinginan untuk maju. Saya percaya dengan
orang

(people)

dan

selalu

mengadaptasi

teknologi

baru,

Kuncoro

mengungkapkan kiatnya. Ia memberi contoh perbedaan dalam mengembangkan


bisnis. Jika mereka memperoleh Rp 100, yang Rp 50 disimpan untuk properti
atau investasi lain. Kalau kami tidak. Duit itu terus diputar sehingga seperti snow
ball, ungkapnya lagi. Selain itu, lanjut Kuncoro, pihaknya tergolong perusahaan
lokal pertama yang berinisiatif mencari pasar. Ketika penjual lain lebih banyak
menunggu pembeli datang ke toko, pihaknya memilih jemput bola. "Kami
termasuk yang paling awal yang bisa melakukan penjualan dengan approach ke
pabrikan," katanya bangga.

Dengan prinsip-prinsip itulah GKL terus berkembang. Bila awalnya hanya


sebuah toko berukuran 3 x 3 meter di Glodok, di akhir tahun 1970 bisa pindah ke
ruko yang lebih baik. Lalu, tahun 1985 bisa menambah gerai menjadi tiga ruko.
Dan akhirnya, tahun 1997 bisa membangun gedung sendiri. Kini, boleh dibilang
GKL dikelompokkan sebagai korporasi besar. Hanya saja, bagi kebanyakan orang
awam, nama Kawan Lama memang tak sepopuler pemain di industri fast moving
& consumer goods semisal Coca-Cola, Unilever, Grup Wings, Sosro, Ultrajaya,
dan lainnya. Padahal, skala bisnisnya boleh dipertandingkan dengan mereka itu.
Kurangnya popularitas ini karena memang bidang bisnis GKL yang lebih banyak
menyasar ke pelanggan perusahaan, bukan pasar massal (mass market).

Di bidang pemasaran, GKL sukses melakukan berbagai transformasi. Di


antaranya, berhasil mentransformasi dari sekadar penjual atau agen berbagai
produk milik perusahaan lain menjadi perusahaan yang punya merek sendiri. Hal
ini terlihat dari keberadaan merek Krisbow yang tak lain merupakan merek yang
murni dimiliki dan dikembangkan oleh GKL. Didukung jaringan penjualan GKL
yang kuat, kini Krisbow sangat sukses dan merupakan merek lokal terbesar di
bisnis perkakas.
Di pasar kompresor misalnya, Krisbow mampu bersaing dekat dengan
Kaeser yang merupakan market leader dunia. Merek Krisbow sendiri kini tak

Page | 39

hanya dipakai untuk produk kompresor, tapi sudah diekstensi untuk 22 kategori
produk yang meliputi lebih dari 4.500 item. Tak heran, kontribusi penjualan
Krisbow terhadap GKL mencapai sekitar 10%. Langkah GKL meluncurkan merek
sendiri ini merupakan terobosan (breakthrough) bagi pemain lokal. Pasalnya, di
bisnis ini hampir 100% pemain lokal sebatas berperan sebagai agen atau
distributor. Jadi, belum muncul kesadaran membangun merek sendiri.

Terobosan tak hanya dilakukan dalam bentuk pengembangan merek


sendiri, tapi juga dalam strategi menjual dan melayani klien. KLS misalnya, tak
lagi

mengandalkan

pendekatan

penjualan

konvensional,

tetapi

telah

mengimplementasi pendekatan konsultasi. Jadi, berangkatnya bukan kami punya


barang dan silakan Anda beli, tapi lebih memberi solusi di antara kebutuhan
pelanggan dan kemampuan pembelian. Sebab itu, tim sales kami selalu
menanyakan ke calon pelanggan apa kebutuhannya dan berapa banyak dana yang
dimiliki. Dari situ tim sales membantu memberikan solusi terbaik, papar Tony
Sartono, Direktur Pemasaran KLS.

Sebagai

perusahaan

pemasar

perkakas,

kini

GKL

juga

mulai

bertransformasi dari yang sebelumnya hanya fokus di bisnis B2B alias menyasar
segmen korporat yang besar (big account), ke perusahaan yang juga gencar
menggarap pasar ritel-massal. Hal ini bisa dibuktikan dari makin intensifnya GKL
mengembangkan gerai ritel perkakasnya: mulai dari Ace Hardware, Index, Toko
Krisbow Perkakas, Krisbow Tools Center, hingga Dunia Teknik.

Perkembangan jumlah gerai ritel yang menjadi andalan GKL untuk


membidik pasar massal ini cukup bagus. Sebut saja Ace Hardware. Sebagaimana
dijelaskan Rudy Hartono, Presdir PT Ace Hardware Indonesia, sejak diluncurkan
1995 pertumbuhan penjualan Ace Hardware minimal 25% per tahun. Jumlah gerai
Ace Hardware pun terus bertambah. Sekarang mencapai 16 gerai, tersebar di
beberapa kota besar di Indonesia. Ace Hardware menyediakan lebih dari 50 ribu
jenis produk, terdiri dari 12 kategori (disebut departemen), mulai dari cat dan
perlengkapannya, perkakas rumah, aksesori otomotif, lampu, perlengkapan mandi,

Page | 40

kunci pintu, engsel dan handel pintu, perlengkapan rumah tangga, peralatan dan
bahan berkebun, perlengkapan kemah dan barbeku, perlengkapan Natal dan harihari besar, hadiah, hingga furnitur.
Selain Ace Hardware, GKL juga mengembangkan Index Furnishing sejak
2004. Paulus Ong, Direktur Operasional PT Home Center Indonesia pengelola
Index menjelaskan pihaknya kini terus gencar mengembangkan supermarket
perabot rumah tangga (home furnishing) itu. Setidaknya GKL sudah punya tiga
gerai, yakni di Puri Indah, Mal Artha Gading dan Mal Metropolitan Bekasi.
Rencananya, sampai semester pertama 2006, akan buka dua gerai Index di
Makassar dan Bandung.

Index merupakan waralaba furnitur dari Thailand, bukan asli merek ritel
milik GKL. Sebenarnya, semula Kuncoro sempat akan membangun merek sendiri
dengan pemasoknya para pengusaha furnitur lokal, tapi kalangan pengusaha lokal
itu tak mau dengan alasan takut desain produknya malah dijiplak. Tak heran,
Kuncoro kemudian memilih Index yang sudah sukses di Thailand. Alasan lainnya,
konsep Index hampir sama dengan ritel Ace Hardware, hanya saja Index lebih
mengarah ke produk perabot rumah tangga (home furnishing).

Keberadaan Ace Hardware dan Index menjadi bukti bahwa GKL telah
mulai mentransformasi pemasarannya dari yang semula didominasi pola
pemasaran B2B -- yang sangat mengandalkan manajemen big account -- menjadi
model pemasaran B2C alias ritel. Yang lebih menarik, ternyata kehadiran dua
jenis gerai GKL itu secara tak langsung telah mengedukasi konsumen perkakas di
perkotaan bahwa berbelanja perabot dan perkakas tak harus berdesak-desakan
atau kepanasan, melainkan bisa dilakukan di sebuah toko besar dengan suasana
yang nyaman.

Dahulu, kalangan mapan perkotaan tak suka berbelanja sendiri untuk


urusan perkakas dan lebih memilih mendelegasikan ke para pembantu atau
tukang. Namun sekarang tak mengherankan, banyak para majikan (terutama dari
kalangan muda) yang tak sungkan lagi berbelanja perabot atau perkakas sendiri.

Page | 41

Kalangan ibu rumah tangga, misalnya, kini justru lebih suka datang sendiri ke Ace
Hardware untuk membeli perkakas pemotong dahan, mesin pembersih lantai,
peranti pengecatan, dan lain-lain. Boleh dibilang, GKL berhasil ikut membangun
gaya hidup yang berhubungan dengan perkakas. Lihat saja, sekarang muncul hobi
baru seperti berkebun ataupun ngebengkel.

Sebenarnya, selain Ace Hardware dan Index, GKL juga mengembangkan


jenis gerai lain, yakni Krisbow Perkakas (KP) dan Krisbow Tools Center (KTC).
Dua jenis gerai ini mulai diluncurkan 2003. Hanya saja, ragam produk yang
dipajang memang tak selengkap di Ace Hardware karena memang fokus dengan
merek Krisbow. Ruangannya pun tak seluas dan selengkap Ace Hardware.
Namun, soal jaringannya jangan diremehkan, sudah ada 17 gerai (16 KP dan satu
KTC). Lokasi gerai ini tersebar di Jakarta, Surabaya dan Bandung. Seorang
eksekutif di GKL menyebutkan, tahun 2006 GKL punya target membuka 20 gerai
baru (baik KP maupun KTC), dan tahun 2007 ditargetkan menambah 50 gerai
baru. Perbedaan KP dan KTC sendiri terletak pada luas bangunan dan fokus
usahanya. KP berkonsep lebih independen dengan varian produk yang lebih
banyak dibanding KTC.

Pada Ace Hardware dan Index, GKL ingin mengembangkan sendiri dan
tidak berencana mewaralabakan atau menggandeng investor lain. Sementara
dalam membesarkan KP dan KTC, GKL malah membuka peluang kerja sama
dengan investor yang berminat. Dari sejumlah KP dan KTC yang sudah berjalan,
sebagian besar dimiliki oleh mitra investor. Cerdiknya, GKL tak mau asal cari
mitra. Persyaratan yang ditetapkan untuk menjadi mitra pemilik KP dan KTC
antara lain: memiliki lokasi strategis dengan luas bangunan minimal 150 m2; serta
memiliki dana Rp 800 juta-1 miliar untuk KP, dan Rp 300-400 juta untuk KTC.

Sisi lain yang menarik dari GKL adalah strateginya untuk fokus. Lihat
saja, meski GKL punya banyak anak usaha, semuanya masih masuk dalam
kompetensi intinya, yakni penjualan perkakas. Hanya Index yang sedikit melebar,
yakni penjualan furnitur. Memang produknya beda, tapi nature of business-nya

Page | 42

masih sama, kilah Kuncoro. Bahkan, GKL juga memilih fokus di distribusi saja,
tidak di manufakturing.

Pilihan strategi ini rupanya tak diputuskan tanpa alasan. Tahun 1994
manajemen GKL melakukan benchmarking ke luar negeri untuk memutuskan
apakah mau menggarap manufakturing atau distribusi/penjualan saja. Ternyata
dari studi banding ke luar negeri Kuncoro mendapatkan jawaban bahwa model
bisnis distribusi perkakas pun bisa survive dan membesar, sehingga akhirnya
memutuskan fokus di distribusi saja. Itulah mengapa, meski punya merek sendiri
(Krisbow),

proses

manufakturingnya

dilakukan

lewat

outsourcing

(toll

manufacturing)

Yang pasti, kini hampir semua perusahaan besar di Indonesia menjadi


pelanggan GKL untuk pengadaan perkakas. Sekadar menyebut klien-klien
besarnya: Garuda Indonesia, Panarub Industry, perusahaan-perusahaan semen,
perusahaan alat-alat berat, keramik, suku cadang, perusahaan asembling otomotif
(Astra International, Indomobil, dan Kramayuda Tiga Berlian), pabrik elektronik,
perusahaan pertambangan (PT Bukit Asam, PT Tambang Timah, KPC, Freeport
Indonesia, Adaro, Aneka Tambang, Newmont, Gulf Resources) plus sederet
perusahaan lainnya. Sebuah sumber juga menyebutkan, ketika Toyota Astra
Motor hendak melakukan setting pabrik untuk memproduksi dan meluncurkan
Innova dua tahun lalu, sebagian perkakas manufakturnya juga dipasok GKL.
Disebutkan Kuncoro, pelanggannya hampir ada di semua sektor yang berbasis
manufakturing. Kami tak punya single customer yang mengontribusi lebih dari
3% sales kami, Kuncoro berterus terang. Jumlah pelanggan GKL diperkirakan
lebih dari 10 ribu. Selama ini orientasi pemasaran GKL hampir 70%-80% ke
kalangan end user, bukan pedagang.

Mengenai kinerja anak-anak usaha GKL, Kuncoro mengaku optimistis.


Selama ini tiga anak usaha yang pertumbuhannya paling pesat adalah KLS, Ace
Hardware dan Index. Hanya saja belakangan ini perkembangan bisnis ritel (Ace
Hardware, Index, Toko Krisbow) grup ini lebih cepat. Adapun kalau dilihat

Page | 43

kontribusinya, 50% diperkirakan masih dari KLS. Sayang Kuncoro tak bersedia
menyebutkan berapa omset grup usahanya saat ini. Namun, kalau mengacu pada
perhitungan Pusat Data Bisnis Indonesia, setidaknya omset grup ini di kisaran Rp
1 triliun.

Darmadi Durianto, pengamat pemasaran, melihat langkah GKL bertransisi


dari B2B ke B2C dengan mengembangkan jaringan ritel merupakan upaya
mendekatkan diri ke kalangan konsumen akhir. Mereka melakukan strategi
forward integrated, tuturnya. Darmadi menilai kalau langkah itu dikelola dengan
baik, akan memperkuat posisinya di pasar. Selain itu pasti semakin memperkuat
bargaining power di hadapan pemasok. Langkah ini juga menguntungkan karena
semakin memungkinkan memperoleh margin lebih besar. Darmadi memberikan
catatan, yang harus diperhitungkan adalah penentuan lokasi. Kalau mereka bisa
memilih lokasi yang baik dan pas, saya pikir peluangnya bagus, ia menegaskan.

Dalam kaitannya dengan brand building, Darmadi menyarankan GKL


untuk terus konsisten membangun awareness, meningkatkan kualitas layanan,
membuat program loyalitas dan terus-menerus membangun citra. Kalau berhenti,
mereka cuma sekadar buka kemudian jual, buka kemudian jual, saya pikir lamakelamaan juga akan jatuh, tandasnya. Catatan kritisnya, ia melihat GKL masih
kurang dalam melakukan emotional bonding ke konsumen. Artinya, Brand
building belum mereka lakukan secara optimal.
Pengamat pemasaran lainnya, Kafi Kurnia dari Peka Consulting, melihat
sukses GKL sebenarnya lebih karena hoki saja. Kebetulan ia masuk ke bisnis
yang belum dilirik orang, tandas Kafi, yang melihat di Indonesia pemain di
kategori ini memang sangat kurang dan cenderung masih tertutup. Penyebab
awalnya, menurut Kafi, para pebisnis tidak melihat bidang ini sebagai
mainstream.

Kafi berpendapat, bila ada pengusaha yang ingin menyaingi GKL saat ini,
sudah tergolong telat. Alasannya, jaringan GKL sudah begitu luas. Toh, bukan
berarti dapat disimpulkan kalau GKL sudah sukses. Itu belum tentu! Seperti Ace

Page | 44

Hardware, kita hanya bisa melihat ekspansi gerainya di mana-mana dengan


areanya yang cukup luas. Tapi apakah penjualannya bagus atau tidak, sejauh ini
kita tidak dapat menyimpulkan bahwa Ace Hardware sukses di pasar. Belum ada
benchmark bagi Ace Hardware hingga saat ini, Kafi menyimpulkan.
Implikasinya, lanjut Kafi, meski harga barangnya mahal dan servisnya tak bagus
pun, orang tetap akan mengunjungi karena tak ada alternatif lain. Ace Hardware
kini menari sendirian, ujarnya.

Kalau begitu, akankah mereka sukses? Kafi tak bisa memastikan, sebab di
bisnis ritel perkakas ini belum ada benchmark, tak seperti ritel umum. Kendati
demikian, Kafi mengakui, GKL dengan Ace Hardwarenya tetap merupakan
fenomena. Sebab, dulunya tak ada tapi langsung bisa melebarkan sayap ke manamana. Tapi kita tidak dapat memprediksi seberapa lama mereka bisa bertahan
karena mereka tidak punya pesaing, kata Kafi.

Apa pun penilaian orang, Kuncoro sendiri tetap melihat prospek bisnisnya
cukup cerah. Namun ke depan ia sudah berpikir untuk menyerahkan
kepemimpinan pengelolaan bisnisnya kepada orang lain (profesional). Saya
mulai tired. Saya cukup capek dan sudah waktunya menikmati hidup yang pendek
ini. Saya harus sudah menyiapkan generasi baru, ujar Kuncoro jujur. Ia
berhitung, mungkin saja pengalamannya tidak lagi aplikatif di masa mendatang.
Ini seperti ombak, yang belakang sudah menggulung ke depan, katanya
bertamsil.

Dalam benak Kuncoro sekarang ini, ia hanya ingin memastikan


perusahaannya tetap eksis di pasar meski ia bukan leader-nya lagi. One day,
mungkin kami akan IPO sehingga kepemilikannya tak hanya dipegang keluarga.
Kalau kita melihat sejarah, bukankah sebuah empire tidak bisa (bertahan) lebih
dari tiga keturunan, Kuncoro menjelaskan. Soal IPO, ia menilai sebenarnya bisa
dilakukan kapan pun karena secara internal sudah siap. Demikian juga secara
administratif. Tapi sejauh ini kami belum butuh dana dari luar untuk

Page | 45

pengembangan bisnis. Biarkan jalan apa adanya dulu, katanya. Sikap prudent
seperti ini agaknya merupakan kelebihan bisnis GKL lainnya.

Reportase: Eddy D. Iskandar, A. Mohamad B.S., Siti Ruslina, Abraham Susanto,


Tutut W. Handayani, Herning Banirestu, Dedi Humaedi. Riset: Asep Rohimat.

Krisbow
Merek Lokal yang Berkibar Tanpa Pabrik
Di bisnis perkakas di Indonesia, Krisbow bukanlah nama asing. Brand
awareness-nya di kalangan pengguna perkakas cukup kuat. Begitu pula,
penguasaan pasarnya di pasar perkakas di Tanah Air. Di segmen kompresor,
misalnya, Krisbow adalah merek yang sangat populer dan bersaing ketat dengan
produk kompresor buatan Jerman, Kaeser. Merek lokal ini banyak dikenal orang
melalui sejumlah produknya yang didistribusikan secara massal di berbagai ritel
perkakas dan hypermarket/supermarket. Merek ini pun dipakai untuk beragam
jenis produk, antara lain kompresor berukuran besar (dipakai bengkel dan pabrik
besar), brankas, pompa, gunting dan alarm.

Kelahiran merek Krisbow dipicu idealisme melahirkan produk alternatif


sebagai solusi saat krisis moneter beberapa tahun lalu. Seperti dijelaskan Kuncoro
Wibowo, CEO Grup Kawan Lama, sebenarnya sebelum krisis GKL selalu
memegang teguh kebijakan bahwa pihaknya hanya mau mendistribusikan atau
menjadi agen produk-produk perkakas top 3 di dunia. Itu memang positioning
GKL, sehingga hanya merek-merek ternama dunia yang diageni. Namun setelah
krisis 1997, pasar perkakas juga mengalami kontraksi, kata Kuncoro. Daya beli
kalangan industri yang selama ini menjadi target pasar GKL mengalami
penurunan. Kebanyakan industri lebih realistis dan memilih back to basic dalam
membeli barang. Yang penting buat mereka, barang bisa dipakai dan harganya
pantas. Tak aneh, mereka enggan membeli merek-merek kelas dunia yang
harganya makin mahal saat krisis.

Page | 46

Celah itulah yang dilihat manajemen GKL sehingga meluncurkan


Krisbow sebagai merek perkakas kelas menengah yang diposisikan sebagai
substitusi merek asing yang makin mahal. Harga produk-produk Krisbow 30%40% lebih murah dari merek-merk besar dunia. GKL tak sulit meluncurkan merek
Krisbow meski tak punya pabrik perkakas sendiri. Pasalnya, dengan jam terbang
cukup panjang di bisnis ini, GKL cukup tahu siapa saja pabrikan perkakas di
dunia yang bisa dipesan untuk membuatkan produk (toll manufacturing). Apalagi,
di industri perkakas hampir tak ada single manufacturer yang memproduksi hanya
satu merek milik sendiri. Tidak perlu memiliki pabrik sendiri. Kami anggap
dunia adalah pabrik kami. Kami ambil barang jadinya lalu dikemas dengan brand
sendiri, ujar Kuncoro.

Merek Krisbow diluncurkan pada 1998. Asal-usul nama Krisbow sendiri


bagi kalangan internal GKL bukan rahasia lagi, karena merupakan penggalan
nama salah seorang adik Kuncoro, yakni Krisnadi Wibowo.

Kini Krisbow termasuk segelintir merek lokal asli yang cukup mapan di
industrinya. Maklum, di bisnis perkakas industri seperti yang digeluti GKL,
kebanyakan pemain adalah merek asing. Maklum, di industri ini dibutuhkan
pengetahuan teknologi manufaktur yang lebih maju -- hal yang sering jadi
menjadi kendala buat kebanyakan pemain lokal. Industri ini memang amat
berbeda dari industri food & beverage, misalnya, yang jumlah merek lokalnya
lumayan banyak.

Produk yang dipasarkan PT Kawan Lama Sejahtera (KLS) dengan merek


Krisbow tak kurang dari 4.500 item, yang terdiri dari 22 kategori produk. Target
pasarnya, pelaku industri dan kalangan pehobi. Manajemen KLS bisa
memasarkan produk sebanyak itu karena menggandeng banyak pabrik di luar
negeri sebagai mitra toll manufacturing. Pabrik yang digandeng rata-rata bukan
pemasok/prinsipal yang produknya diageni KLS sebelumnya. Jadi, mereka betul-

Page | 47

betul mitra baru. Ada yang dari Jepang, Taiwan, Korea dan Cina. KLS juga akan
menggandeng pabrikan di India dan Vietnam.

Manajemen KLS tak memosisikan Krisbow sebagai produk yang


berkualitas lebih rendah dibanding produk asing yang dijajakannya, melainkan
sebagai merek kedua. Target pasar yang dituju memang bukan perusahaan
multinasional, melainkan perusahaan lokal yang mementingkan aspek value for
money. Krisbow tak menggantikan merek-merek yang ada, tapi sebagai merek
tambahan dari yang sudah ada, kata Kuncoro menjelaskan. Yang pasti, produkproduk Krisbow telah dipasarkan ke Malaysia dan Singapura sejak tahun lalu.

Sudarmadi,

Page | 48