Anda di halaman 1dari 101

KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM ISLAM

(Studi Pemikiran M. Quraish Shihab)

SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana dalam Bidang Falsafah
dan Agama

Disusun Oleh:

Fitriyani
210000005

PROGRAM STUDI FALSAFAH DAN AGAMA


FAKULTAS FALSAFAH DAN PERADABAN
UNIVERSITAS PARAMADINA
JAKARTA
2014

ii

iii

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbilalamin. Segala puja dan puji penulis panjatkan ke hadirat Allah
SWT yang telah memberikan rahmat tak terhingga kepada penulis. Sholawat dan salam
penulis sampaikan kepada sang pemimpin ideal sepanjang masa, Nabi Muhammad SAW. Puji
syukur, akhirnya penulis dapat merampungkan skripsi yang berjudul Kepemimpinan
Perempuan dalam Islam (Studi Pemikiran M. Quraish Shihab) sebagai syarat memperoleh
gelar akademik di Universitas Paramadina. Tentunya, banyak pihak yang secara langsung
maupun tidak langsung telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Untuk itu
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibunda penulis, Komriyah, madrasah pertama dalam kehidupan penulis. Yang telah
mengajarkan segalanya yang diperlukan dalam hidup kepada penulis, serta selalu
mendoakan kelancaran studi dan kesuksesan penulis. Ayahanda Mustadi, yang
telah berjasa membesarkan penulis dan memberikan pendidikan yang sangat
keras agar penulis mampu bertahan dan tegar dalam mengarungi tantangan
kehidupan yang sulit.
2. Saudara-saudara penulis. Jamaludin, kakak tertua yang selalu menjadi tauladan
yang baik bagi adik-adiknya dan Rini Andriani, kakak ipar yang cantik dan baik
hati beserta Akhdan Fatih Azizan, keponakan penulis yang selalu membuat hari
menjadi lebih ceria dan bersemangat. Amrullah, kakak yang selalu jahil dan usil
namun setia mengantar jemput penulis sejak penulis masih sekolah hingga penulis
kuliah. Rizkiyana Dewi, adik yang beranjak dewasa, yang telah menggantikan
peran penulis menjaga ibu dan adik-adik selama penulis menimba ilmu di Jakarta.
Muhammad Abdul Muksit, adik lelaki yang sudah beranjak remaja yang nakal tapi
penurut dan ringan tangan membantu orang tua dan saudara-saudaranya. Siti
Fajriyati, yang selalu mengingatkan penulis tentang masa kecil yang begitu ceria
dan menyenangkan. Zahrotusyita, si bungsu yang manja dan selalu memberi
pelukan hangat penuh cinta jika penulis ada di rumah. Terima kasih untuk
kehangatan cinta yang kalian berikan.
3. Universitas Paramadina dan PT Trikomsel Oke yang telah memberikan kesempatan
bagi penulis untuk mengenyam pendidikan tinggi di kampus peradaban ini melalui
program Paramadina Fellowship 2010.
4. Pak Pipip Ahmad Rifai Hasan, Ph.D yang telah menjadi pembimbing penulis
dalam menyelesaikan skripsi ini.
iv

5. Mohammad Rahmatul Azis. Sahabat, guru, dan pembimbing pribadi penulis yang
tak pernah henti memberikan support, membantu mencarikan referensi dan teman
berdialog dalam wacana keilmuan kritis.
6. Program studi Falsafah dan Agama, tempat penulis menimba ilmu filsafat dan
agama. Penulis mengucapkan terima kasih kepada para dosen yang telah berbagi
ilmu kepada penulis sehingga penulis bisa merasakan manisnya lautan ilmu lewat
tangan-tangan mereka, yakni; Aan Rukmana, MA, Mas Lukman Hakim, SS.,
M.Ag, M. Subhi-Ibrahim, M.Hum, Fuad Mahbub Siraj, Ph.D, Abdul Muis
Naharong, MA, Prof. Dr. Abdul Hadi WM, Prof. Dr. Sukron Kamil, MA, A. Luthfi
Assyaukanie, Ph.D, Dr. Abdul Moqsith Ghazali, MA, Ihsan Ali-Fauzi, MA,
Novriantoni Kahar, Lc., M.Si, Dr. Asep Usman Ismail, MA, Muhammad Baqir,
MA, Dr. Abdul Muid Nawawi, MA, Rani Anggraeni, MA, mbak Fitri dan mbak
Dwi selaku staf Prodi FA.
7. Keluarga di Asrama Al Mustaqim yang menjadi tempat penulis berbagi suka duka,
canda tawa, tempat diskusi segala macam pemikiran yang tak kenal batas waktu,
serta tempat mencurahkan segala keluh kesah penulis selama empat tahun terakhir.
Fidia Larakinanti, Deti Yulianita, Nida Ulfia, Zahra Rahmani Rahmiyah, Intan
Dewi Karlita, Septi Diah Prameswari, Nurazizah Fadhilah, Asri Nuraeni, Julianti,
Tsamrotul Aniqoh, Winner Fransisca Manik, Nazifatur Rahmi, dan Indah Riadiani.
8. Teman-teman Prodi Falsafah dan Agama 2010; Joko Arizal, Aa Saepuddin, Ahmad
Hayat Fathuroji, Deddy, Elmira Cahyanate, Firman, Fatimah Zahrah, Nurul Annisa
Hamudy, Mahmud, Halim Miftahul Khoiri, Kusnandang, M. Luthfi Ghazali, M.
Sholeh, Sholahuddin, Syaharbanu, Syamsul Rizal, dan Wandi yang telah
mengajarkan penulis arti sesungguhnya kerukunan dalam perbedaan dan wadah
penulis menemukan dialog peradaban.
9. Teman-teman Fellowship 2010: Harumi Kartini, Rona Mentari, Niken Ajar Wulan,
Sherly Annavita, Nimas Ayu, Ayu Melisa, Resti Juliani, Nurmala Dewi, Nayla
Avisha, Yeni Susanti, Aan Andrian, Indra Umbara, Sefchullisan, Hery Prasetyo,
Andri Sumarno, Ardi Ramadhana, Asri Ramadhani, Arnaldi Nasrum, Azam Anas
Furqan, Diky Saputra, Faras Dianda, Farid Kardana, Grio M. Akhir, Gema
Wahyudi, Immanuel A. Cahyono, M. Imam Hidayat, Nazilil Asror, dan Said
Jahasan.

10. Teman-teman

HIMAFA

Paramadina,

Taekwondo

Paramadina,

KOMPAK

Paramadina, Kafha Paramadina, DKM Paramadina serta kawan-kawan volunteer di


Transparency International Indonesia (TII) dan Peace Women Across The Globe
Indonesia yang telah menorehkan warna-warni berbeda dalam sejarah hidup
penulis.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih terdapat banyak
kekurangan, oleh karena itu penulis menerima dengan terbuka segala saran, kritik dan
masukan yang membangun. Harapan penulis, skripsi ini dapat memberikan manfaat yang
besar bagi khazanah keilmuan islam, serta memperkaya wacana tentang gender dan
perempuan di Indonesia.
Jakarta, Agustus 2014
Penulis,

Fitriyani

vi

ABSTRAK
Universitas Paramadina
Falsafah dan Agama
(2014)
Fitriyani / 210000005
Kepemimpinan Perempuan dalam Islam (Studi Pemikiran M. Quraish Shihab)
(90 + xi)
Skripsi ini membahas pandangan Quraish Shihab mengenai konsep kepemimpinan
perempuan dalam Islam untuk mencari jawaban tentang apakah perempuan dalam ajaran
Islam dibolehkan menjadi pemimpin politik. Quraish Shihab merupakan salah satu ulama
tafsir terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Beliau juga masih tetap aktif menulis dan
berceramah sampai saat ini. Selain itu pandangan-pandangan beliau menjadi pegangan
banyak kalangan umat Islam Indonesia. Perbincangan mengenai kepemimpinan perempuan
dalam konteks Islam merupakan topik yang selalu mengundang kontroversi. Ada yang pro
dan ada yang kontra. Bagi mereka yang kontra terhadap kepemimpinan politik perempuan,
banyak dalih yang diajukan untuk menentangnya. Salah satunya adalah dalil kitab suci, di
mana dalam Al-Quran terdapat ayat yang secara eksplisit sering diartikan bahwa lelaki
adalah pemimpin bagi perempuan. Sedangkan yang pro, mereka mengajukan fakta-fakta
dalam sejarah Islam dan penafsiran ajaran Islam yang berbeda yang menunjukkan bahwa
Islam membolehkan perempuan untuk menjadi pemimpin politik atau berkiprah di ranah
publik. Konsep kepemimpinan perempuan dalam Islam juga biasa dirujuk oleh mereka yang
setuju dengannya pada konsep HAM yang memberikan hak sepenuhnya kepada setiap
individu manusia untuk terjun ke wilayah politik praktis. Quraish Shihab sendiri menyatakan
bahwa tidak ada dalil yang valid baik dalam ajaran Islam maupun akal pikiran (alasan
rasional) yang bisa melarang perempuan untuk menjadi seorang pemimpin. Namun demikian
Quraish Shihab menggarisbawahi kewajiban perempuan untuk mengasuh dan memberikan
pendidikan kepada anak-anaknya agar tidak diabaikan jika perempuan menjadi pemimpin
masyarakat. Oleh karena itu Pandangan Quraish Shihab tentang kepemimpinan perempuan
dapat digolongkan sebagai moderat.
Dalam studi ini penulis menggunakan metode historis-kualitatif dan deskriptis-analitis
yaitu penelitian kepustakaan (library research) dengan mempelajari, menggambarkan dan
menganalisis tulisan-tulisan Quraish Shihab baik yang berbentuk buku mau pun hasil
penelitian, dan tulisan-tulisan yang membahas tentang pemikiran Quraish Shihab mengenai
kepemimpinan perempuan, serta buku-buku lain yang relevan dengan topik yang penulis
bahas. Selain itu penulis juga melakukan wawancara (metode interview) dengan Quraish
Shihab untuk lebih memahami dan mendalami pandangan-pandangannya. Studi tentang
kepemimpinan perempuan dalam Islam merupakan salah satu subjek yang masih akan tetap
"menantang" dan menarik karena berkaitan dengan problem bagaimana ajaran agama (Islam)
dihadirkan dan bagaimana kaum Muslim melakukan respon dan terlibat dalam dinamika
sosial-budaya yang semakin kompleks dan terbuka di era globalisasi dewasa ini.
Kata kunci : Pemimpin, Perempuan, Quraish Shihab, Hak, Islam.
Daftar Pustaka: 74 (1985 s.d 2014)
vii

ABSTRACT
Paramadina University
Philosophy and Religion
(2014)
Fitriyani / 210000005
Women Leadership in Islam (A Study of M. Quraish Shihab Thoughts)
(90 + xi)
This thesis discusses the Quraish Shihab view of the concept of female leadership in Islam to
seek an answer about whether women in Islam are allowed to become political leader.
Quraish Shihab is one of the best interpreter of the Qur'an in Indonesia. He also still actively
writes and gives lectures to this date. In addition, his views have had much influence among
Indonesian Muslims. The discourse about women's leadership in Islamic context is a topic
that always invites controversy. There are pros and cons. For those who cons of women's
political leadership, many arguments were filed against it. One of the argument is sciptural,
i.e. there is a verse in the Qur'an often interpreted explicitly that men is leaders of women.
While the pros, they apply the facts in the history of Islam and the different interpretations of
Islam which show that Islam permits women to become political leaders or to engage actively
in the public domain. The concept of female leadership in Islam is also commonly referred to
by those who support it with the concept of human rights that gives full rights to every
individual human being to plunge into the sphere of practical politics. Quraish Shihab has
said that there is no valid argument both in Islamic teaching and reasoning (rational
arguments) which forbid women to become a leader. However, Quraish Shihab underlines the
obligation of women to nurture and educate their children so as not to be ignored if women
become public leaders. Therefore Quraish Shihab's view on women's leadership can be
classified as moderate.
In this study the author uses historical, qualitative, and descriptive-analytical methods
namely library research (library research) to study, describe and analyze the writings of
Quraish Shihab either in the form of books or research reports, and writings that discuss the
views of Quraish Shihab on women leadership, as well as other books that are relevant to the
topics which the author discusses. Moreover, the author also conducted interviews (interview
method) with Quraish Shihab to better understand and explore his views. The study of female
leadership in Islam is one of the subjects that will remain "challenging" and interesting
because it deals with the problem of how religion (Islam) is presented and how the Muslims
responding and engaging in socio-cultural dynamics in increased complex and more open
global world.
Keywords: Leader, Female, Quraish Shihab, Rights, Islam.
Bibliography : 74 (1985 - 2014)

viii

PEDOMAN TRANSLITERASI

I.

f =

r =

a =

q =

z =

b =

k =

s =

t =

l =

sy =

ts =

m =

sh =

j =

n =

l =

h =

w =

th =

kh =

h =

zh =

d =

` =

dz =

y =

gh =

Vokal Pendek:

a = _ ; i = -- ; u = _

II. Vokal Panjang:


Bunyi a panjang ditulis ( = fal), bunyi i panjang ditulis ( = khalfa), dan u panjang
ditulis ( = syr), masing-masing dengan tanda garis(-) di atasnya.
Bunyi Rangkap:

ay =;

aw =

Kata Sandang
Kata sandang, yang dilambangkan dengan huruf (), menjadi (l), baik ketika diikuti oleh
huruf shamsiyya maupun qamariyya: al-rijl bukan ar-rijl, al-dwn bukan ad-dwn.

ix

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ...........................................................................................

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ...............................................................

ii

KATA PENGANTAR ....................................................................................................

iii

ABSTRAK ......................................................................................................................

vi

ABSTRACT ...................................................................................................................

vii

PEDOMAN TRANSLITERASI .....................................................................................

viii

DAFTAR ISI ..................................................................................................................

ix

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................

1.1 Latar Belakang Masalah .....................................................................................

1.2 Rumusan Masalah dan Batasan Masalah ...........................................................

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ...........................................................................

1.3.1 Tujuan Penelitian .......................................................................................

1.3.2 Manfaat Penelitian .....................................................................................

10

1.3.2.1 Manfaat Teoritis................................................................................

10

1.3.2.2 Manfaat Praktis .................................................................................

10

1.4 Tinjauan Pustaka .................................................................................................

10

1.5 Metode Penelitian ...............................................................................................

12

1.6 Sistematika Penulisan .........................................................................................

12

BAB II TINJAUAN KONSEP KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM ISLAM .


2.1 Konsep Islam ...................................................................................................

14

2.2 Konsep Kepemimpinan ...................................................................................

14

2.3 Konsep Perempuan ..........................................................................................

16

2.4 Konsep Kepemimpinan dalam Islam ...............................................................

16

2.5 Konsep Perempuan dalam Islam .....................................................................

17

2.5.1 Perempuan dalam Al-Qur'an......................................................................

18

2.5.2 Perempuan dalam Hadits ...........................................................................

18

2.6 Konsep Kepemimpinan Perempuan dalam Islam ............................................

20

BAB III BIOGRAFI DAN KARYA INTELEKTUAL M. QURAISH SHIHAB ..........

21

3.1 Biografi M. Quraish Shihab ............................................................................

25

3.1.1 Latar Belakang Keluarga ...........................................................................

25

3.1.2 Latar Belakang Pendidikan .......................................................................

25

3.1.3 Karir Intelektual dan Politik ......................................................................

27

3.2. Karya Intelektual M. Quraish Shihab .............................................................

28

BAB IV PEMIKIRAN M. QURAISH SHIHAB MENGENAI KEPEMIMPINAN


PEREMPUAN DALAM ISLAM ...................................................................................

30

4.1 Manusia dalam Pandangan M. Quraish Shihab ..............................................

34

4.2 Perempuan dalam Pandangan M. Quraish Shihab ..........................................

34

4.3 Pandangan Quraish Shihab Tentang Kepemimpinan Perempuan dalam

45

Islam ...............................................................................................................

50

4.4 Tinjauan Kritis Pemikiran M. Quraish Shihab ...............................................

58

BAB V PENUTUP .........................................................................................................

66

5.1 Kesimpulan......................................................................................................

66

5.2 Saran ................................................................................................................

69

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................................

70

LAMPIRAN ...................................................................................................................

76

DAFTAR RIWAYAT HIDUP .......................................................................................

83

xi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Dewasa ini, pembahasan mengenai gender begitu sering tampil di permukaan,
terutama soal penghapusan diskriminasi terhadap perempuan, kesadaran perempuan Indonesia
untuk mengangkat derajatnya sudah semakin tumbuh. Hampir di setiap kota di Indonesia
muncul organisasi atau komunitas yang bergerak di isu gender dan perempuan. Contohnya,
Aceh Women For Peace Foundation yang memperjuangkan kesejahteraan perempuan di
Aceh, Fahmina Institute yang aktif mengadakan diskusi mengenai gender di Cirebon, Peace
Women Across The Globe Indonesia yang berpusat di Jakarta juga aktif melakukan
serangkaian kegiatan yang mengusung tema pembebasan perempuan, dan lain-lain. Serta
masih banyak lagi yang lainnya.
Kosakata gender berasal dari bahasa Inggris yang artinya jenis kelamin. Gender adalah
sifat dan prilaku yang dibentuk secara sosial yang disematkan pada perempuan dan laki-laki1.
Konsep gender yang dipahami di Indonesia umumnya mengacu kepada peranan sosial dalam
masyarakat yang dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Peranan sosial ini juga tidak serupa di
semua tempat karena disesuaikan oleh keadaan budaya dan tradisi masyarakat setempat.
Dalam kajian di Indonesia, istilah gender sering dikaitkan dengan kata feminin. Istilah
feminin digunakan untuk membedakan konsep gender antara laki-laki dan perempuan.
Feminin merupakan kata serapan dari bahasa inggris feminine yang memiliki makna
perempuan atau bersifat keperempuanan. Feminin diartikan sebagai suatu sifat lemah lembut,
halus dan penuh perasaan yang melekat pada diri perempuan secara kodrati, serta tabu bagi
lelaki untuk memiliki sifat feminin ini.
Gerakan yang mengusung pembebasan perempuan disebut feminisme, yang akar
katanya bersinionim dengan kata feminine. George Ritzer2 menjabarkan tiga gelombang

1Liza Hadiz. kata pengantar dalam buku Perempuan dalam Wacana Politik Orde Baru: Kumpulan Artikel
Prisma (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2004) hlm. x-xi.
2George Ritzer. Teori Sosiologi: Dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Terakhir Postmodern.
Diterjemahkan oleh Tim Penerbit (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2012) hlm. 779.

feminisme awal yang muncul di Amerika Serikat pada dekade 80-an hingga era 90-an.
Gelombang pertama dimulai pada era 1830-an, agendanya berfokus pada perjuangan anti
perbudakan, hak-hak politis perempuan terutama hak untuk memilih. Gelombang pertama ini
berhasil membuat terjadinya konvensi pertama yang membicarakan mengenai hak-hak
perempuan pada tahun 1848 bertempat di Seneca Falls, New York. Konstitusi Amerika
tentang hak pilih perempuan akhirnya diamandemen dengan amandemen ke-19 pada tahun
1920, dengan adanya amandemen ini perempuan diberikan hak pilih untuk memilih dalam
pemilihan umum. Feminisme gelombang kedua (1960-1990) merumuskan ulang mengenai
konsep hubungan antara lelaki dan perempuan dalam konsep gender agar tercapai kesetaraan
ekonomi dan kesetaraan sosial. Feminisme gelombang ketiga menyuarakan aspirasi dari para
perempuan kulit berwarna, lesbian, dan perempuan kelas pekerja yang merupakan respon dari
ide-ide yang digaungkan oleh para perempuan kulit putih yang menyatakan diri sebagai
feminisme gelombang kedua. Feminisme gelombang ketiga ini juga mewakili gagasan dari
pada perempuan dewasa yang akan menjalani abad kedua puluh satu di mana tantangan yang
akan dihadapi jelas berbeda dengan perempuan-perempuan di abad sebelumnya.
Menurut

Husein

Muhammad,

feminisme

adalah

gerakan

yang

berusaha

memperjuangkan martabat kemanusiaan dan kesetaraan sosial (gender), yang diarahkan untuk
merubah sistem yang diskriminatif terhadap perempuan3. Yanti Muchtar sebagaimana dikutip
oleh Nuruzzaman, Jalal, dan J. Ardiantoro4 menulis dalam Jurnal Perempuan bahwa ada tiga
pandangan dalam mendefinisikan feminisme. Yang pertama, feminisme adalah teori yang
mempertanyakan pola hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan. Yang kedua
menyatakan bahwa seseorang dapat dikatakan feminis jika pandangan dan pemikirannya
sesuai dengan kategori feminisme yang telah ada sebelumnya, yakni Feminis Radikal,
Feminis Marxis, Feminis Liberal atau Feminis Sosialis. Yang ketiga adalah pandangan yang
berpendapat bahwa feminisme merupakan sebuah gerakan atas dasar kesadaran tentang
penindasan terhadap perempuan yang bergerak untuk melawan penindasan tersebut.
Konstruksi budaya mengenai perempuan tak pernah lepas dari ideologi patriarki yang
menganggap bahwa laki-laki lebih superior daripada perempuan. Penulis mengambil contoh

3Husein Muhammad. Islam Agama Ramah Perempuan: Pembelaan Kiai Pesantren (Yogyakarta: Lkis, 2004)
hlm. 98.
4Nuruzzaman, Jalal, dan J. Ardiantoro. Pengantar Editor dalam buku Islam Agama Ramah Perempuan:
Pembelaan Kiai Pesantren (Yogyakarta: Lkis, 2004) hlm. xxiii.

kultur di jazirah Arab dan negara Arab. Di sini penulis membedakan antara jazirah Arab dan
negara Arab, jazirah Arab meliputi semenanjung Arabia dimana agama Islam turun dan
berkembang pertamakali yakni Arab Saudi, sedangkan negara Arab ialah wilayah dimana
negara yang menggunakan bahasa Arab serta kultur universal Arabisme diterapkan dalam segi
sosial kemasyarakatan dan mempengaruhi kebijakan politik pemerintahan seperti di Mesir
dan sekitarnya.
Negara Arab Saudi, negara yang menerapkan syariat Islam secara legal dan formal
dengan menjadikan Islam sebagai agama negara. Negara tersebut dikenal sebagai satu-satunya
negara yang memberlakukan hukum larangan mengemudi bagi perempuan, bahkan
perempuan di Arab Saudi tidak dibolehkan pergi kemanapun tanpa seijin wali atau tanpa
muhrim yang mendampinginya. Hak untuk terjun di bidang politik dan ekonomi bagi kaum
perempuan di Arab Saudi bukanlah suatu hal yang mudah untuk dicapai. Bahkan hingga kini,
perempuan di Arab Saudi tidak diberikan hak politik, baik untuk memilih, ataupun untuk
dipilih5. Adanya aturan bahwa perempuan Saudi boleh memiliki peranan dalam wilayah
publik tanpa menanggalkan kewajiban mereka mengurus rumah tangga membuahkan peran
ganda yang membebani kaum perempuan Saudi.
Tidak berbeda jauh dengan Arab Saudi, negara Arab seperti Mesir memiliki predikat
buruk dalam hal perlakuan terhadap perempuan. Perempuan Mesir diikat dengan begitu
banyak norma sosial dan norma agama. Hak-hak mereka dibatasi. Meski pelayanan medis dan
informasi mengenai kesehatan reproduksi sangat terbuka dan bisa diakses dengan mudah,
namun perlindungan terhadap kaum perempuan di Mesir belum memadai6.
Kesamaan antara jazirah Arab seperti Arab Saudi dan negara Arab seperti Mesir
terletak pada segi kulturalnya, dimana norma agama menjadi panutan dan posisi perempuan
dinomorduakan setelah laki-laki. Kekerasan dalam rumah tangga yang sering dialami
perempuan Mesir mendapat pembenaran dari agama melalui surah An-Nisa ayat 34 yang
berbunyi:

5Quraish Shihab. Perempuan: Dari Cinta sampai Seks dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah dari Bias Lama
sampai Bias Baru (Jakarta: Lentera Hati, 2005) hlm. 378.
6Shereen El Feki. Seks dan Hijab: Gairah dan Intimitas di Dunia Arab yang Berubah diterjemahkan oleh Adi
Toha (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2013) 175-176.














Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan
karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu
maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika
suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita
yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka
di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu,
maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya
Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Sehingga jika terjadi pemukulan oleh suami terhadap istrinya maka hal tersebut
dianggap wajar dan perempuan yang menjadi korban tak dapat berbuat apapun. Karena
hukum di Mesir tidak ramah terhadap perempuan yang mengalami kasus kekerasan dalam
rumah tangga. Pun bila sang perempuan mengajukan tuntutan cerai, maka akan dipersulit.
Tidak saja dalam proses perceraiannya, bahkan setelah bercerai perempuan Mesir tetap
kesulitan menjalani hidupnya disebabkan oleh sikap masyarakat Mesir yang tidak toleran
terhadap perceraian dikarenakan adanya stereotip janda dalam masyarakat sebagai pemangsa
seksual yang berkeliaran mencari laki-laki untuk memuaskan nafsunya. Yang mendapat
stigma negatif atas terjadinya perceraian tentu saja pihak perempuan, mereka dipandang
sebagai perempuan yang buruk, sedangkan pihak lelaki bisa melenggang dengan tenang dan
menikah lagi7.
Seorang ulama besar Mesir yakni Syekh Muhammad al Ghazali sebagaimana yang
dikutip oleh Husein Muhammad8 mengatakan:Sekalipun dunia sudah berubah, ternyata
hubungan laki-laki dan perempuan berikut hak-hak mereka, baik yang umum maupun yang
khusus belum menempuh jalan yang benar.
Dalam konteks di Indonesia, masalah gender yang melingkupi peran antara laki-laki
dan perempuan sudah terjadi jauh sebelum Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia.

7Shereen El Feki. Seks & Hijab: Gairah dan Intimitas di Dunia Arab yang Berubah. Diterjemahkan oleh Adi
Toha. (Tangerang: Alvabet, 2013) hlm. 108-109.
8Husein Muhammad. Islam Agama Ramah Perempuan: Pembelaan Kiai Pesantren. (Yogyakarta: Lkis, 2004)
hlm. 13.

Dalam budaya Jawa, kepemilikan atas perempuan merupakan atribut yang wajar dari
kekuasaan9.
Pada era kolonialisme Belanda, berkembang institusi selir di antara para lelaki
Belanda yang bertugas di Indonesia. Selir adalah perempuan yang digauli tanpa dinikahi, hal
ini didorong oleh sedikitnya perempuan Belanda yang datang ke Indonesia, sehingga untuk
memenuhi kebutuhan biologisnya, para lelaki Belanda mengambil perempuan pribumi untuk
digauli yang biasa disebut Nyai10. Perempuan-perempuan pribumi yang menjadi Nyai ini tak
memiliki kuasa untuk menentukan nasibnya sendiri, bagi perempuan yang berasal dari
kalangan miskin, ia akan diserahkan kepada orang Belanda untuk mendapatkan uang (dijual),
sedangkan bagi perempuan yang berasal dari kalangan menengah dan orangtuanya memiliki
jabatan di pemerintahan kolonial Belanda, ia diserahkan kepada orang Belanda untuk
mengamankan jabatan atau agar orangtuanya bisa naik pangkat 11. Para perempuan ini tak bisa
melakukan apapun untuk menolak keinginan orangtuanya, tidak tersedianya pendidikan bagi
kaum perempuan pada masa itu membuat mereka tak mampu berbicara untuk hak mereka
sendiri. Kehidupan para perempuan pribumi yang menjadi Nyai ini mungkin berubah menjadi
lebih baik dari segi ekonomi karena ditopang oleh pejabat Belanda yang memeliharanya.
Namun setelah ia melahirkan anak dari pejabat tersebut, maka ia akan dibuang dari kehidupan
orang Belanda yang dulu merawat dan menggaulinya. Berkembang luasnya pergundikan ini
disebabkan oleh para pejabat Belanda yang bertugas di Indonesia tidak diperkenankan untuk
menikahi wanita pribumi karena pernikahan mereka tidak akan diakui oleh institusi gereja di
tempat asalnya12. Maka di sini, nasib perempuan pribumi hanya sebatas pemuas nafsu dan
penghasil keturunan semata.
Pasca kemerdekaan Indonesia, peran perempuan masih terpinggirkan. Meski pada era
Orde Baru ada organisasi Dharma Wanita yang mewadahi istri pegawai negeri dan pegawai
negara di Indonesia, pada kenyataannya organisasi ini dibentuk dengan tujuan agar bisa
9Julia I Suryakusuma. Seksualitas dalam Pengaturan Negara. Dalam Liza Hadiz, ed. Perempuan dalam Wacana
Politik Orde Baru (Jakarta: LP3ES, 2004) hlm. 361.
10Onghokham. Kekuasaan dan Seksualitas: Lintasan Sejarah Pra dan Masa Kolonial. Dalam Liza Hadiz, ed.
Perempuan dalam Wacana Politik Orde Baru (Jakarta: LP3ES, 2004) hlm. 324.
11Linda Christanty. Nyai dan Masyarakat Kolonial Belanda. Dalam Liza Hadiz, ed. Perempuan dalam Wacana
Politik Orde Baru (Jakarta: LP3ES, 2004) hlm. 340.
12Linda Christanty. Nyai dan Masyarakat Kolonial Hindia Belanda. Dalam Liza Hadiz, ed. Perempuan dalam
Wacana Politik Orde Baru (Jakarta: LP3ES, 2004) hlm. 339.

membentuk seorang istri yang patuh dan taat kepada suami13. Meski demikian, Dharma
Wanita ampuh menjadi tempat keluh kesah para istri pejabat negara yang mendapatkan
perlakuan kasar dari suaminya hingga pada tahun 1983, organisasi Dharma Wanita berhasil
mendesak pemerintah untuk mengesahkan sebuah peraturan yang membatasi pejabat negara
untuk memperlakukan istrinya dengan semena-mena. Peraturan Pemerintah Nomor 10 atau
yang lebih popular di sebut PP 10 merupakan pelengkap Undang-Undang Perkawinan yang
disahkan pada tahun 1974. Dengan adanya PP 10 ini, Pegawai Negeri yang hendak bercerai
atau mengambil istri kedua harus mendapatkan izin dari atasannya, perceraian dapat membuat
pegawai negara yang bersangkutan mendapatkan sanksi atau pemecatan jika alasan bercerai
tidak sesuai dengan PP 1014. Sekilas, PP 10 ini tampak menguntungkan perempuan, namun
dalam implementasinya, timbul masalah-masalah baru yang membuat para istri pegawai
negara mengalami penderitaan dalam bentuk lain. Di antaranya ialah terjebak dalam
perkawinan sandiwara, tidak mendapatkan nafkah batin, namun tak bisa bercerai karena
konsekuensinya ialah suami akan kehilangan jabatan dan hidup mapan yang mereka rasakan
akan berakhir. Akhirnya kaum perempuan ini tetap diam demi melanggengkan karir jabatan
suaminya dan demi masa depan anak-anaknya. Kembali, perempuan tak memiliki daya untuk
memperjuangkan nasib mereka sendiri. Karena meskipun ada di antara mereka berhasil
membebaskan diri dari belenggu perkawinan yang tidak bahagia, maka mereka akan
mendapatkan citra negatif sebagai seorang janda cerai15.
Begitu kompleks permasalahan tentang perempuan ini juga menarik perhatian
kalangan ulama Islam di Indonesia untuk ikut merumuskan permasalahan dan mencari
solusinya dari sudut pandang Islam. Sebut saja Kiai Husein Muhammad yang mengaku
tertarik untuk mencari tahu lebih dalam permasalahan perempuan dalam Islam setelah
mengikuti seminar tentang perempuan dalam pandangan agama-agama pada tahun 199316.
Sejak itu Husein Muhammad mulai menelaah kitab-kitab kuning yang menjadi rujukan dalam

13Julia I Suryakusuma. Seksualitas dalam Pengaturan Negara. Dalam Liza Hadiz, ed. Perempuan dalam
Wacana Politik Orde Baru (Jakarta: LP3ES, 2004) hlm. 359.
14Julia I Suryakusuma. Seksualitas dalam Pengaturan Negara. Dalam Liza Hadiz, ed. Perempuan dalam
Wacana Politik Orde Baru (Jakarta: LP3ES, 2004) hlm. 361-362.
15Julia I Suryakusuma. Seksualitas dalam Pengaturan Negara. Dalam Liza Hadiz, ed. Perempuan dalam
Wacana Politik Orde Baru (Jakarta: LP3ES, 2004) hlm. 367.
16Nuruzzaman, Jalal, dan J. Ardiantoro. Pengantar Editor dalam buku Islam Agama Ramah Perempuan:
Pembelaan Kiai Pesantren (Yogyakarta: Lkis, 2004) hlm. xxxii.

pendidikan di kalangan pesantren, dan beliau menemui cukup banyak bias gender yang ada
dalam teks-teks tersebut.
Almarhum KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur memandang
perempuan sebagai mahluk yang luar biasa rumit dari segi psikologi, karena faktor emosinya
yang lebih bervariasi dibandingkan laki-laki. Namun di situlah menurut Gus Dur, perempuan
memiliki potensi untuk membuat capaian yang lebih besar daripada pria17.
M. Quraish Shihab, yang pemikirannya dijadikan topik kajian dalam skripsi ini
memandang perempuan sebagai makhluk yang tercipta untuk menyempurnakan laki-laki.
Maka dari itu, perempuan wajib dihormati dan dicintai. Karena ketidakhadiran perempuan
dalam dunia ini akan menyebabkan kehancuran bagi laki-laki18.
Salah satu hal yang sering diperdebatkan ketika berbicara tentang perempuan ialah
apakah perempuan bisa menjadi pemimpin suatu kelompok yang didalamnya mayoritas lakilaki. Pembicaraan mengenai persoalan kepemimpinan perempuan di Indonesia mulai
menghangat ketika Megawati Soekarnoputri mencalonkan diri menjadi presiden. Banyak
pihak yang menentangnya bukan karena meragukan kemampuan Megawati untuk memimpin,
melainkan karena jenis kelaminnya perempuan. Meski pada Pemilu tahun 1999 Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan yang dipimpin oleh Megawati memenangkan suara
terbanyak, namun hal tersebut tidak otomatis membuat Megawati menduduki jabatan
Presiden. Sebagian ulama bersikeras menentangnya, bahkan kalangan ulama NU pun menjadi
terpecah saat mendiskusikan tentang apakah mungkin perempuan menjadi pemimpin19.
Beberapa ulama yang menentang perempuan menjadi pemimpin biasanya bersandar
pada Quran Surat An-Nisa ayat 34 berikut ini:

17M. N Ibad. Kekuatan Perempuan dalam Perjuangan Gus Dur-Gus Miek (Yogyakarta: Pustaka Pesantren,
2011) hlm. 137.
18Quraish Shihab. Perempuan: Dari Cinta sampai Seks dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah dari Bias
Lama sampai Bias Baru (Jakarta: Lentera Hati, 2005) hlm. x.
19M. N Ibad. Kekuatan Perempuan dalam Perjuangan Gus Dur-Gus Miek (Yogyakarta: Pustaka Pesantren,
2011) cat. kaki nomor 1 hlm. 89-90.

Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan
sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)
Abbas Mahmud al-Aqqad menjadikan ayat ini sebagai afirmasi bahwa ada perbedaan
mendasar antara laki-laki dan perempuan yang bersifat alamiah, yang dia sebut sebagai asas
pembawaan alamiah dan asas tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, hak atas kepemimpinan
bersumber dari kesanggupan alamiah yang dimiliki oleh jenis kelamin laki-laki. Maka, bagi
al-Aqqad, hak atas kepemimpinan hanya bisa didapat oleh laki-laki20. Selain itu, beberapa ahli
fiqih klasik seperti Ibn Hazm, Abu Ya'la al Farra, dan al-Mawardi dalam menetapkan hukun
tentang kepemimpinan mereka mensyaratkan agar seorang kepala negara tidak boleh
perempuan. Alasannya ialah bahwa tugas seorang pemimpin sangatlah berat (menjaga
eksistensi agama, ijtihad, mengimami shalat, dan lain-lain)21.
Husein Muhammad, dalam menafsirkan ayat ini meletakkannya dalam konteks sosial
pada masa al-Quran diturunkan, dimana masyarakat Quraisy menempatkan perempuan
dalam kelas sosial yang rendah bahkan hampir tak memiliki hak, maka ayat ini berbicara
tentang realitas sosial yang ada dalam masyarakat Arab pada masa itu yang dihadapi oleh
umat Islam. Husein Muhammad menyatakan bahwa ayat ini bukanlah ayat normatif yang
berlaku di segala zaman, karena Al-Quran sendiri tidak mengharuskan laki-laki menjadi
pemimpin baik dalam ranah domestik maupun ranah publik22.
Adapun Quraish Shihab menafsirkan ayat ini dalam konteks kepemimpinan dalam
rumah tangga, walaupun ia tak menutup kemungkinan bahwa perempuan juga bisa menjadi
kepala rumah tangga. Gus Dur sendiri dalam menafsirkan ayat ini berpegang pada pendapat
bahwa laki-laki memiliki kelebihan dalam hal kekuatan fisik dibandingkan wanita sehingga
laki-laki bertanggung jawab atas keselamatan perempuan, karena tanggung jawabnya inilah

20Abbas Mahmud al-Aqqad. Filsafat Al-Qur'an: Filsafat, Spiritual dan Sosial dalam Isyarat Al-Qur'an (Jakarta:
Pustaka Firdaus, 1986) hlm. 73-74.
21Sukron Kamil. Pemikiran Islam Tematik: Agama dan Negara, Demokrasi, Civil Society, Syariah dan HAM,
Fundamentalisme, dan Antikorupsi (Jakarta: Kencana, 2013) hlm. 194-195.
22Husein Muhammad. Islam Agama Ramah Perempuan: Pembelaan Kiai Pesantren (Yogyakarta: Lkis, 2004)
hlm. 91.

laki-laki dijadikan sebagai pemimpin. Sedangkan dari segi yang lainnya tidak ada perbedaan
antara laki-laki maupun perempuan23.
Sementara itu, Syaikh Mahmud Syaltut yang merupakan mantan pemimpin tertinggi
Al Azhar seperti yang dikutip oleh Quraish Shihab24 menyatakan bahwa Allah telah
menganugerahkan potensi yang cukup kepada laki-laki dan perempuan untuk mengemban
tanggung jawab sosial dan kemanusiaan. Potensi ini juga termasuk dalam hal kepemimpinan.
Karena pada akhirnya setiap manusia akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya
kepada Allah SWT, maka tak ada alasan bagi pelarangan seorang perempuan menjadi
pemimpin.
Keberagaman pendapat dari para ulama dan cendekiawan muslim inilah yang
kemudian menarik minat penulis untuk mengangkat tema tentang kepemimpinan perempuan
dalam Islam yang dikhususkan kepada pemikiran M. Quraish Shihab. Penulis memilih
Muhammad Quraish Shihab untuk dijadikan sebagai objek pembahasan dalam skripsi ini
dengan alasan bahwa beliau adalah seorang ulama tafsir terkemuka di Indonesia dan
pemikiran-pemikirannya jauh lebih terbuka dibandingkan kebanyakan ulama di negeri ini.
Sebagai ulama, beliau juga tidak hanya giat berdakwah, namun terjun langsung dalam
pemerintahan dengan menjabat sebagai Menteri Agama pada tahun 1998. Beliau juga pernah
menjabat sebagai Rektor IAIN Jakarta selama dua periode dan pernah pula menjabat sebagai
Ketua MUI Pusat. Semua kesibukan dan aktifitas dalam kesehariannya tidak menghalani
beliau untuk tetap produktif menulis. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Tafsir
al-Mishbah. Tafsir al-Mishbah di tulis dalam bahasa Indonesia, sehingga memudahkan
masyarakat muslim Indonesia untuk memahami makna yang terkandung dalam al-Quran
melalui Kitab Tafsir al-Mishbah tanpa harus menerjemahkan dulu tafsirannya dari bahasa
lain. Inilah salah satu keunggulan kitab tafsir karangan Quraish Shihab dibandingkan kitab
tafsir lainnya yang beredar di Indonesia25.

23M. N Ibad. Kekuatan Perempuan dalam Perjuangan Gus Dur-Gus Miek (Yogyakarta: Pustaka Pesantren,
2011) hlm. 57-58.
24Quraish Shihab. Perempuan: Dari Cinta sampai Seks dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah dari Bias
Lama sampai Bias Baru (Jakarta: Lentera Hati, 2005) hlm. 7.
25Naqiyah Mukhtar. Kepala Negara Perempuan Muslimah: Analisis Wacana Terhadap Tafsir Quraish Shihab.
Dimuat dalam Komunika, Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol. 5 No. 2 STAIN Purwokerto tahun 2011.

1.2 Rumusan Masalah dan Batasan Masalah


Berdasarkan uraian yang penulis paparkan dalam latar belakang, muncullah permasalahan
mengenai kepemimpinan perempuan dilihat dari sudut pandang agama Islam. Posisi
perempuan yang subordinat dibanding laki-laki menyulitkannya untuk dapat memegang
tampuk kepemimpinan atas laki-laki. Adapun batasan masalahnya ialah persoalan
kepemimpinan perempuan dari sudut pandang agama Islam yang dikhususkan kepada
pemikiran M. Quraish Shihab sebagai salah satu ulama tafsir Indonesia yang cukup terkenal
dan diakui keahliannya dalam ilmu agama Islam. Adapun rumusan masalahnya ialah sebagai
berikut.
1. Bagaimanakah latar belakang sosial dan intelektual M.Quraish Shihab?
2. Bagaimanakah pandangan Quraish Shihab mengenai perempuan?
3. Bagaimanakah Quraish Shihab memandang persoalan kepemimpinan perempuan?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Dari permasalahan yang diuraikan di rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini
sesungguhnya ialah untuk mengetahui pandangan M.

Quraish

Shihab mengenai

kepemimpinan perempuan dalam Islam. Adapun tujuan penelitiannya secara khusus ialah
untuk mengetahui:
1. Latar belakang sosial dan intelektual Quraish Shihab
2. Pandangan Quraish Shihab tentang perempuan
3. Pemikiran Quraish Shihab mengenai persoalan kepemimpinan perempuan dalam
Islam
1.3.2 Manfaat Penelitian
Dengan hadirnya skripsi ini, penulis mengharapkan ada manfaat yang bisa dihasilkan.
Diantaranya ialah manfaat teoritis dan manfaat praktis.

10

1.3.2.1 Manfaat Teoritis


Dari segi teoritis, penulis mengharapkan skripsi ini bisa menjadi kontribusi dalam
mengubah pandangan masyarakat yang kurang positif terhadap kepemimpinan perempuan
dalam Islam. menambah khazanah keilmuan Islam, khususnya kajian tentang perempuan dan
pemikiran Quraish Shihab. Juga memperkaya referensi tentang pembahasan gender di
kalangan umat Islam.
1.3.2.2 Manfaat Praktis
Dari segi manfaat praktis, penulis mengharapkan skripsi ini bisa menjadi acuan studi
dengan fokus kajian perempuan di Universitas Paramadina, mengingat bahwa studi yang
membahas mengenai gender dan perempuan masih jarang dibahas di kampus ini.
1.4 Tinjauan Pustaka
Salah satu tulisan yang pernah diterbitkan mengenai pandangan Quraish Shihab
tentang pemimpin perempuan adalah tulisan dari Naqiyah Mukhtar (Dosen Tetap STAIN
Purwokerto) yang dimuat dalam jurnal Komunika, terbit pada tahun 2011. Tulisannya
berjudul Kepala Negara Perempuan Muslimah: Analisis Wacana terhadap Tafsir Quraish
Shihab. Dalam tulisannya ini, Naqiyah Mukhtar menganalisa tafsiran Quraish Shihab
terhadap surat An Nisa ayat 34 dalam berbagai karya berbeda yang pernah ditulis oleh
Quraish Shihab, yakni Membumikan Al-Quran, Wawasan Al Quran, Tafsir Al Mishbah, dan
Perempuan. Dengan menggunakan metode analisis wacana, Naqiyah Mukhtar menemukan
ada inkonsistensi antara karya Quraish Shihab sebelum dan sesudah tahun 2000. Quraish
Shihab menafsirkan kata ar Rijal dalam Tafsir Al Mishbah yang terbit pada tahun 2000
sebagai laki-laki secara umum, sedangkan dalam karya sebelumnya yakni Wawasan Al
Quran (terbit 1996) dan Membumikan Al Quran ( terbit 1992) ia memaknai kata tersebut
sebagai suami, hal yang sama ia kemukakan dalam buku Perempuan (2005), bahwa ar Rijal
harus dimaknai sebagai suami. Naqiyah Mukhtar mengungkap suatu kemungkinan bahwa
pemaknaan yang berbeda dari kata ar Rijal dalam Al Mishbah, dibandingkan karya sebelum
dan sesudahnya mengindikasikan ketidaksetujuan Quraish Shihab terhadap wacana
kepemimpinan Megawati Soekarnoputri yang sedang menjadi perbincangan hangat di
kalangan intelektual muslim, dimana isu tersebut mencuat bertepatan dengan waktu Al
Mishbah ditulis dan diterbitkan.

11

Perbedaan Skripsi ini dengan karya Naqiyah Mukhtar tersebut terletak pada kekuatan
sumber yang digunakan, Naqiyah Mukhtar hanya mendasarkan pada karya-karya Quraish
Shihab yang telah diterbitkan dan mengungkap beberapa kemungkinan. Sedangkan penulis
menyusun skripsi ini dengan mewawancarai langsung objek yang bersangkutan yakni Quraish
Shihab untuk menanyakan pandangannya mengenai konsep kepemimpinan perempuan dalam
Islam. Bila Naqiyah Mukhtar hanya melakukan analisis wacana terhadap penafsiran Quraish
Shihab mengenai surah an Nisa ayat 34, penulis menyusun skripsi ini dengan menganalisa
pandangan Quraish Shihab mengenai perempuan terlebih dulu melalui tafsirannya terhadap
ayat-ayat lain yang diperkuat dengan beberapa hadits dan wawancara langsung yang
dilakukan oleh penulis. Untuk mendapatkan gambaran bagaimana sebenarnya Quraish Shihab
memandang sosok perempuan hingga pemikirannya tentang kepemimpinan perempuan bisa
dijabarkan.
Beberapa tulisan lain

mengenai pandangan-pandangan Quraish Shihab tentang

masalah sehari-hari juga pernah dibuat. Salah satunya adalah skripsi dari salah satu
mahasiswa di Fakultas Dakwah IAIN Walisongo bernama Supriyati yang mengangkat topik
Jilbab Menurut Quraish Shihab dan Implikasinya terhadap Bimbingan Muslimah dalam
Berbusana. Skripsi tersebut menjabarkan poin-poin mengenai konsep aurat dan jilbab yang
ada dalam buku berjudul Jilbab Pakaian Wanita Muslimah karya Quraish Shihab.
Tulisan lain yang mengutip pendapat Quraish Shihab tentang perempuan adalah milik
Dr. Ajat Sudrajat, seorang Dosen Filsafat Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta yang
berjudul Beberapa Persoalan Perempuan Dalam Islam, beliau mengutip pandangan Quraish
Shihab mengenai kepemimpinan perempuan dalam rumah tangga dan juga negara secara
sekilas dalam salah satu penjelasan makalahnya.
Perbedaan tulisan-tulisan tersebut dengan tema yang penulis angkat ialah bahwa
dalam skripsi ini, penulis tidak hanya sekedar mengutip, namun membedah pemikiran
Quraish Shihab tentang kepemimpinan perempuan dalam Islam secara runut dan mendalam.
Runut dalam arti berurutan, yakni dipaparkan terlebih dulu pandangan Quraish Shihab
mengenai perempuan, juga pendapat beliau tentang kepemimpinan, kemudian baru
menjabarkan kepemimpinan perempuan dalam Islam menurut Quraish Shihab. Mendalam,
karena apa yang disampaikan dalam skripsi ini tidak hanya sekedar mendeskripsikan
pandangan Quraish Shihab, namun juga meninjau secara kritis pandangan Quraish Shihab
mengenai Kepemimpinan Perempuan dalam Islam.
12

Setelah mendeskripsikan pandangan Quraish Shihab, penulis menyajikan analisis


kritis dari setiap pandangan yang dikemuakan oleh Quraish Shihab dengan cara
membandingkan pendapat tersebut dengan pendapat-pendapat dari intelektual lain, baik
intelektual yang muslim maupun non-Muslim. Penulis dapat memastikan bahwa karya tulis
ini bebas dari plagiasi dan memiliki diferensiasi dengan karya sejenis yang juga membahas
tokoh yang sama.
1.5 Metode Penelitian
Metode Penelitian ialah suatu cara kerja yang dilakukan untuk memperoleh
pengetahuan yang dimulai dengan merumuskan masalah hingga menarik kesimpulan26.
Adapun metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini ialah kajian pustaka (library
research) dengan menggabungkan sumber-sumber tertulis baik berupa buku, makalah,
ataupun artikel di media massa yang sesuai dengan objek kajian penulis yakni kepemimpinan
perempuan dalam Islam menurut pandangan Quraish Shihab. Kemudian dianalisis dengan
cermat untuk memperoleh sebuah pemahaman baru mengenai konteks kepemimpinan
perempuan dalam Islam.
1.6 Sistematika Penulisan
BAB 1, merupakan pendahuluan yang berisi uraian latar belakang yang memuat
alasan-alasan mengapa penulis memilih topik kepemimpinan perempuan untuk dijadikan
skripsi, rumusan dan batasan masalah membahas mengenai fokus kajian yang mencakup
pemikiran Quraish Shihab tentang kepemimpinan perempuan, tujuan dan manfaat penelitian
baik secara teoritis maupun praktis, tinjauan pustaka yang menyajikan tulisan-tulisan sejenis
yang membahas pemikiran Quraish Shihab serta diferensiasi dengan topik yang diangkat oleh
penulis, metode penelitian yang memaparkan metodologi pengambilan informasi dan data
dalam penyusunan skripsi ini, dan sistematika penulisan yang menerangkan secara singkat
pembahasan bab per bab dalam skripsi ini.
BAB 2, membahas tinjauan konsep kepemimpinan perempuan dalam Islam. Di sini
akan dijelaskan pengertian Islam, kepemimpinan, perempuan, konsep feminisme, konsep
kepemimpinan dalam Islam, perempuan dalam pandangan Islam, dan konsep kepemimpinan
perempuan dalam Islam.
26Cik Hasan Bisri & Eva Rufaidah. Kata Pengantar dalam buku Model Penelitian Agama dan Dinamika Sosial
(Jakarta: Rajawali Pers, 2006) hlm. vi.

13

BAB 3, merupakan biografi M.Quraish Shihab yang berisi riwayat hidup dan rekam
jejak sosial intelektual beliau dalam kiprahnya sebagai ulama tafsir di Indonesia. Juga akan
dipaparkan karya-karya intelektual yang telah dihasilkan selama kurun waktu kehidupannya.
BAB 4, merupakan isi utama yang membahas pemikiran M. Quraish Shihab tentang
konsep kepemimpinan perempuan dalam Islam. Diawali dengan penjelasan pandangan
Quraish Shihab tentang perempuan, pandangannya mengenai konsep kepemimpinan, dan
tema utama yakni kepemimpinan perempuan dalam Islam. Kemudian di akhir pembahasan
disajikan tinjauan kritis atas pemikiran Quraish Shihab mengenai kepemimpinan perempuan
dalam Islam dengan konteksnya di Indonesia masa kini.
BAB 5, berisi kesimpulan dan penutup. Di sini akan disajikan jawaban-jawaban dari
pertanyaan yang ada di rumusan masalah. Kemudian di perkaya dengan saran dari penulis
terkait wacana tentang perempuan.

14

BAB II
TINJAUAN KONSEP KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM ISLAM

Menurut J. Sudarminta, konsep adalah suatu representasi abstrak dan umum tentang
sesuatu yang bersifat mental, merupakan medium yang menghubungkan subjek penahu
dengan objek yang diketahui, yakni pikian dan kenyataan1. Dalam bab ini, akan dipaparkan
tentang konsep kepemimpinan perempuan dalam Islam. Dengan lebih rinci penulis
menghadirkan konsep dari setiap kata yang tercantum dalam judul skripsi ini, yakni Islam,
kepemimpinan, perempuan dan juga konsep kepemimpinan dalam Islam dan konsep
perempuan dalam Islam. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam
atas semua konsep yang terkandung dalam kalimat kepemimpinan perempuan dalam Islam.
2.1 Konsep Islam
Kata Islam berasal dari bahasa Arab salama dari akar kata salima yang memiliki arti
menyelamatkan, pasrah, tunduk, berserah diri2. Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi
Muhammad SAW. Menurut ajaran Islam, sebelum Nabi Muhammad telah hadir nabi-nabi
lainnya yang membawa ajaran dan seruan untuk menyembah Allah SWT seperti Nabi Nuh
AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa AS, dan Nabi Isa AS. Ajakan yang mereka bawa adalah
untuk menyembah hanya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Muhammad Isa Nuruddin,
seorang filosof berkebangsaan Swiss sebagaimana yang dikutip oleh Mohammad Monib dan
Fery Mulayana3 menyatakan bahwa Islam adalah konsep agama yang paling sempurna dari
keseluruhan ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Nuh AS hingga Nabi Isa AS. Sementara itu,
Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa heterogenitas agama yang ada di dunia ini
menjadi alasan logis mengapa ajaran Islam diturunkan ke bumi. Islam hadir untuk
menyempurnakan ajaran-ajaran agama sebelumnya, mengukuhkan tauhid kepada umat

1J. Sudarminta. Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan (Yogyakarta: Kanisius, 2002) hlm. 87.
2Nanang Tahqiq. Islam Agama Pasrah dalam Tim Penerbit Dian Rakyat, ed. Mengenal Islam Jalan Tengah:
Buku Daras Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi (Jakarta: Dian Rakyat, 2012) hlm. 9.
3Mohammad Monib & Fery Mulyana. Pelita Hati Pelita Kemanusiaan (Jakarta: Pustaka Intermasa, 2009) hlm.
317.

15

manusia, dan meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di agama-agama sebelumnya karena


kebodohan manusia itu sendiri4.
Nanang Tahqiq mengungkapkan bahwa Islam yang dipahami oleh masyarakat muslim
pada umumnya adalah sesuai dengan apa yang tercantum dalam hadits Rasul SAW sebagai
berikut.
Melalui otoritas Abu 'Abd al-Rahman 'Abdullah, putra Umar bin Khattab berkata:
Aku dengar Rasulullah bersabda, Islam telah dibangn di atas lima (tiang): bersaksi tiada
Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya, mendirikan sholat, membayar zakat, pergi
haji dan puasa ramadhan. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)5.
Nurcholish, mendefinisikan kata Islam sebagai suatu sikap tunduk dan pasrah kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu, masih menurutnya, jika dikembalikan pada asal
muasalnya, semua agama mengajarkan ketundukan dan kepasrahan. Meski nama Islam baru
muncul pada masa Nabi Muhammad SAW, pada dasarnya agama-agama samawi yang
dibawa oleh para Nabi sebelumnya juga bisa disebut Islam. Karena mengajarkan ketundukan
dan kepasrahan hanya kepada satu Tuhan6. Bagi Quraish Shihab, kata Islam dimaknai sebagai
sebuah perdamaian. Seperti yang tercantum dalam ucapa Assalamu 'Alaikum (damai untuk
anda), melalui kalimat ini Islam mendambakan kedamaian bagi diri sendiri dan orang lain.
Lebih lanjut Quraish Shihab menyatakan bahwa perdamaian merupakan salah satu ciri utama
agama Islam yang lahir dari pandangan ajaran tentang Allah Tuhan Yang Maha Esa. Di dalam
hadits Rasulullah SAW juga disebutkan bahwa ciri seorang muslim adalah dia yang membuat
orang lain merasa damai dari gangguan lidah dan tangannya7.
Quraish Shihab juga menolak pandangan yang menyatakan bahwa syariat Islam
mewajibkan perempuan untuk diam di dalam rumah. Menurutnya, perempuan yang
4Mohammad Monib & Fery Mulyana. Pelita Hati Pelita Kemanusiaan (Jakarta: Pustaka Intermasa, 2009) hlm.
145.
5Nanang Tahqiq. Islam Agama Pasrah dalam Tim Penerbit Dian Rakyat, ed. Mengenal Islam Jalan Tengah:
Buku Daras Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi (Jakarta: Dian Rakyat, 2012) hlm. 14.
6Mohammad Monib & Fery Mulyana. Pelita Hati Pelita Kemanusiaan (Jakarta: Pustaka Intermasa, 2009) hlm.
320-321.
7Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996)
hlm. 378.

16

semestinya dikurung di dalam rumah ialah mereka yang jika dibiarkan keluar rumah maka
akan berbuat kerusakan. Akan tetapi, bila keluarnya si perempuan dengan tujuan baik dan
tidak melakukan tindakan yang dapat menganggu kedamaian dalam masyarakat, maka tak
seharusnya perempuan itu dikurung. Quraish Shihab memaknai al-Quran sebagai petunjuk
agama Islam harus dipahami dalam konteks dan sebab-sebab turunnya sebuah ayat, agar kita
terhindar dari sebuah penghakiman terhadap sesama manusia karena menganggap sebuah
interpretasi terhadap ayat al-Quran berlaku di segala zaman. Islam yang dipahami oleh
Quraish Shihab adalah ajaran yang membawa kemaslahatan bagi seluruh umat manusia, baik
laki-laki maupun perempuan8.
2.2 Konsep Kepemimpinan
Secara umum, kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki oleh seorang individu
sehingga dapat mempengaruhi, mendorong, menggerakkan orang lain agar dapat berbuat
sesuatu demi mencapai tujuan tertentu. Menurut Mangunhardjana seperti yang dikutip oleh
Baharuddin dan Umiarso, kepemimpinan berasal dari kata dasar pemimpin. Dalam Bahasa
Inggris, kepemimpinan dinamakan leadership, asal katanya adalah leader, dari akar kata to
lead yang memiliki makna bergerak lebih awal, berjalan di awal, mengambil langkah awal,
berbuat paling dulu, memelopori, membimbing, menuntun, mengarahkan pikiran atau
pendapat orang lain, dan menggerakkan orang lain melalui pengaruhnya. Hendiyat Soetopo
dan Waty Soemanto mendefinisikan kepemimpinan sebagai sebuah kegiatan untuk
membimibing suatu golongan atau kelompok dengan cara sedemikian rupa hingga tercapai
tujuan bersama dari kelompok tersebut. J. Salusu mengartikan kepemimpinan sebagai
kekuatan dalam memengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum9.
Jadi, dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu
kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Kepemimpinan bisa terjadi sebagai bawaan lahir seseorang atau bisa juga dipelajari.

8Wawancara dengan Quraish Shihab.


9Baharuddin & Umiarso. Kepemimpinan Pendidikan Islam: Antara Teori dan Praktik (Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media, 2012) hlm. 47.

17

2.3 Konsep Perempuan


Membicarakan tentang perempuan, tentunya kita tak bisa melepaskan diri dari
pasangan jenisnya yakni laki-laki. Ada beberapa konsep yang mengatur hubungan antar dua
jenis kelamin ini. Salah satunya adalah teori nature dan teori nurture10. Teori nature
menyatakan bahwa secara biologis perempuan dan lelaki memiliki perbedaan sejak lahir
dimana perbedaan ini tidak bisa dipertukarkan antara satu sama lain, contohnya, perempuan
mengalami menstruasi, melahirkan dan menyusui sedangkan laki-laki tidak. Perbedaan ini
menjadikan lelaki sering menjadi tokoh utama dalam kehidupan berkeluarga dan
bermasyarakat, karena laki-laki dianggap lebih potensial untuk mengemban tugas-tugas
kemasyarakatan. Keadaan biologis perempuan dianggap sebagai kelemahan yang membatasi
ruang gerak mereka, sehingga ia tak mampu mengemban tugas-tugas sosial kemasyarakatan.
Sedangkan teori nurture menyatakan bahwa perbedaan peran dalam masyarakat antara kedua
jenis kelamin ini bukan disebabkan oleh perbedaan biologis, namun lebih banyak disebabkan
oleh bangunan kultural yang melekat dalam masyarakat. Peran sosial yang diberikan oleh
teori nature ditolak oleh penganut teori nurture, karena hal tersebut bukanlah kehendak
Tuhan, ajaran agama, dan bukan pula karena faktor biologis, melainkan karena konstruksi
budaya dalam masyarakat yang memandang perempuan lebih lemah dari laki-laki.
Selain teori nature dan teori nurture, ada pula konsep gender dan seks yang
membedakan antara lelaki dan perempuan. Prinsip dari konsep gender dan seks kurang lebih
sama dengan dua teori sebelumnya. Awalnya kata gender dipadankan dengan kata seks yang
merujuk pada perbedan jenis kelamin. Hingga kemudian muncul karya dari Charlotte Perkins
Gilman Women and Economics, yang menciptakan suatu konsep pembedaan seks yang
berlebihan untuk merujuk kepada hal-hal yang sekarang ini disebut gender11. Nasaruddin
Umar membatasi dua pengertian konsep ini dengan mengatakan bahwa gender adalah tentang

10Ajat Sudrajat. Beberapa Persoalan Perempuan dalam Islam. Makalah pdf diunduh dari
http://staff.uny.ac.id/dosen/prof-dr-ajat-sudrajat-mag diakses pada 25 Maret 2014 pukul 11.30 WIB. hlm. 1-2.
11George Ritzer. Teori Sosiologi: Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan terakhir Postmodern.
Diterjemahkan oleh Saut Pasaribu, Rh. Widada, dan Eka Adinugraha. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012) cat.
kaki hlm. 775.

18

feminitas dan maskulinitas sedangkan konsep seksual adalah perbedaan berdasarkan


komposisi kimia dalam tubuh12.
Oleh sebab itu, pembedaan terhadap perempuan dibandingkan dengan laki-laki lebih
bersifat budaya daripada kodrati. Yang kemudian membuahkan peran berbeda antar dua jenis
kelamin ini di masyarakat. Adapun penjelasan lebih lanjut mengenai perempuan dalam Islam
akan dijabarkan pada pembahasan selanjutnya.
2.4 Konsep Kepemimpinan dalam Islam
Secara etimologis, kepemimpinan dalam Islam sering disebut sebagai khilafah,
imamah atau imarah. Ketiga istilah tersebut memiliki makna yang sama, yaitu daya
memimpin, kualitas seorang pemimpin, atau tindakan dalam memimpin. Secara terminologi,
kepemimpinan diartikan sebagai suatu kemampuan untuk mengajak orang lain agar mencapai
tujuan-tujuan tertentu yang telah ditetapkan13. Penulis hanya akan menjelaskan secara lebih
rinci mengenai term khalifah.
Kata Khalifah, akar katanya terdiri dari tiga huruf, yaitu kha, lamdan fa. Terma
khalifah ini memiliki arti mengganti kedudukan, belakangan, dan perubahan. Pengertian
mengganti bisa diartikan sebagai pergantian generasi, atau penggantian kedudukan pemimpin
untuk periode yang akan datang. Dari akar kata tersebut, ada dua bentuk kata kerja berbeda
yang ditemukan dalam Al-Quran, yaitu khalafa-yakhlifu yang dipergunakan untuk makna
mengganti, dan kata kerja istakhlafa-yastakhlifu yang digunakan untuk arti kata menjadikan.
Bentuk jamak dari kata khalifah adalah khalaif dan khulafa. Kata khalaif digunakan dalam
pembicaraan mengenai orang mukmin, sementara khulafa digunakan untuk pembicaraan yang
ditujukan kepada orang-orang kafir. Sedangkan dalam konsep yang terkandung dalam kata
kerja khalafa bermakna regenerasi kepemimpinan, dan dalam makna konotasinya diartikan
sebagai seseorang yang diangkat sebagai pemimpin dan penguasa di bumi yang mengemban
tugas-tugas tertentu14. Kepemimpinan dalam Islam memiliki misi untuk menuntun manusia
12Nasaruddin Umar. Kodrat Perempuan dalam Islam (Jakarta: Fikahati Aneska, 2000) hlm. 10-11.
13Baharuddin & Umiarso. Kepemimpinan Pendidikan Islam: Antara Teori dan Praktik (Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media, 2012) hlm. 80.
14Baharuddin & Umiarso. Kepemimpinan Pendidikan Islam: Antara Teori dan Praktik (Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media, 2012) hlm. 81.

19

mencapai tujuan bersama yang diridhai oleh Allah SWT. Tujuan itu ialah pengabdian kepada
Sang Pencipta untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
2.5 Konsep Perempuan dalam Islam
Dalam terminologi Islam, perempuan disebut sebagai al-Marah, sedangkan bentuk
jamaknya adalah an-Nisa yang sepadan dengan kata wanita, perempuan dewasa atau lawan
jenis pria. Penjelasan mengenai perempuan dalam konteks Islam, kita perlu merujuk pada dua
sumber utama hukum Islam yakni al-Quran dan Hadits. Maka, penjelasan ini akan dibagi
menjadi dua, yakni wacana perempuan dalam Al-Quran yang ditemui dalam kitab tafsir dan
wacana perempuan dalam teks-teks hadits.
2.5.1 Perempuan dalam al-Quran
Wacana tentang perempuan dalam al-Quran bisa kita temui dalam banyak ayat.
Bahkan beberapa surat dalam Al-Quran juga menggunakan nama perempuan. Contohnya
Surat An Nisa dan surat Maryam. Di dalam surat Maryam dikisahkan putri dari Imran yang
memiliki derajat ketakwaan paling tinggi di antara semua perempuan di masanya, bahkan
mengalahkan laki-laki. Hingga kemudian ia dipilih untuk melahirkan Nabi Isa AS meski tak
pernah berhubungan dengan laki-laki. Satu-satunya ibunda Nabi yang namanya diabadikan
dalam Al-Quran hanyalah Maryam. Sebelum ia melahirkan Nabi Isa, Maryam digambarkan
sebagai seorang perempuan mulia yang kesehariannya dihabiskan untuk beribadah dan
mengabdi kepada Allah SWT. Ketika ia dipilih untuk mengandung bayi Nabi Isa tanpa
seorang suami yang mencampurinya, Maryam telah menyadari konsekuensi yang akan ia
terima berupa celaan dari masyarakat. Namun Maryam tetap menjalaninya sebagai ketetapan
dari Allah SWT dan bukti kepasrahannya terhadap Allah.
Di dalam Al-Quran juga terdapat kisah seorang perempuan yang menjadi pemimpin
dari sebuah kerajaan besar, yaitu Ratu Balqis dari kerajaan Saba. Kisah tentang Ratu Balqis
ada dalam dua surat dalam al-Quran, yakni surat an-Naml dan surat al-Anbiya. Kerajaan
Saba digambarkan dalam Al-Quran sebagai kerajaan yang makmur, rakyatnya sejahtera, dan
memiliki angkatan perang yang kuat. Ketika Nabi Sulaiman mengirimkan surat kepada Ratu
Balqis yang berisi ajakan untuk mengadakan hubungan diplomatik dan menyeru agar Ratu

20

Balqis dan rakyatnya menyembah kepada Allah SWT, pada saat itu rakyat kerajaan Saba
masih menyembah matahari15.
Selain Ratu Balqis dan Maryam ibu Nabi Isa AS, masih ada beberapa orang
perempuan lagi yang kisahnya tercantum dalam al-Quran. Contohnya, ibu Nabi Musa AS,
istri Imran, dan Zulaikha. Kecuali Zulaikha yang memperdaya Nabi Yusuf AS, kesemua
perempuan yang diceritakan dalam al-Quran tersebut menempati posisi yang mulia, sebagai
ibu atau istri dari laki-laki shalih yang mengabdi kepada Allah. Ada pula Istri dari Nabi Luth
AS dan Nabi Nuh AS yang membangkang dari ajaran suaminya sehingga mendapatkan azab
dari Allah.
Demikianlah, sekilas mengenai perempuan dalam pandangan al-Quran. Al Quran
sebagai sumber hukum utama yang menjadi rujukan bagi umat muslim, memandang wanita
sebagai makhluk yang mulia, baik dalam posisinya sebagai ibu maupun sebagai individu yang
utuh. Dan apabila ia beriman dengan sebenar-benarnya iman, maka derajatnya bisa melebihi
laki-laki.
2.5.2 Perempuan dalam Hadits
Badriyah Fayuni dan Alai Najib menjelaskan menjelaskan posisi perempuan dalam
Islam melalui hadits-hadits Nabi SAW. Mereka membagi pembahasannya ke dalam empat
perspektif gender dalam hadits, yakni sebagai berikut16.

Secara esensial, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam masalah
ibadah dan ajaran Islam. Semua hadits-hadits Nabi Muhammad SAW yang
menyangkut ajaran Islam berlaku untuk semua jenis kelamin. Seruan untuk menuntut
ilmu, berbuat amal sholeh, dan ajakan untuk bersodakoh ditujukan kepada semua jenis
manusia, tanpa memandang laki-laki ataupun perempuan. Kesetaraan jenis kelamin
berlaku untuk semua jenis ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan ibadah haji. Bahkan

15Nasaruddin Umar dan Amany Lubis. Hawa Sebagai Simbol Ketergantungan: Relasi Gender dalam Kitab
Tafsir dalam Ali Munhanif, ed. Mutiara Terpendam: Perempuan dalam Literatur Islam Klasik (Jakarta:
Gramedia, 2002) hlm. 9-11.
16Badriyah Fayuni dan Alai Najib. Perempuan yang Paling Mendapat Perhatian Nabi: Perempuan dalam
Hadits dalam Ali Munhanif, ed. Mutiara Terpendam: Perempuan dalam Literatur Islam Klasik (Jakarta:
Gramedia, 2002) hlm. 55-57.

21

Nabi pun membolehkan perempuan untuk melakukan sholat Jumat dan menganjurkan
untuk mengikuti shalat Ied. Ini menandakan bahwa kesempatan untuk mendapatkan
pahala dan dosa, setara antara laki-laki dan perempuan.

Dalam beberapa hadits Nabi, perempuan diperlakukan secara istimewa sesuai


kodratnya, sebagaimana juga terdapat pengkhususan terhadap laki-laki sesuai dengan
kodratnya. Perbedaan ini tidak dijadikan sebagai pembedaan yang mencolok yang bisa
menimbulkan perpecahan. Tapi diakui sebagai keistimewaan masing-masing jenis
kelamin.

Perempuan diperlakukan secara khusus sesuai dengan kondisi-kondisi objektif yang


menuntut terjadinya pengkhususan atas mereka. Kadang pula terjadi tawar-menawar
antara Nabi dan kaum perempuan dalam hal yang khusus ini. Hingga kemudian dicari
jalan keluar yang bersifat akomodatif di kedua belah pihak. Hal yang sama juga terjadi
pada laki-laki.

Perempuan dipandang sebagai makhluk yang inferior dibanding laki-laki, namun pada
saat yang sama, perempuan diberi kesempatan untuk menutupi kekurangannya agar
bisa mencapai derajat yang setara bahkan melebihi laki-laki. Contohnya, dalam
permasalahan agama, wanita kurang agamanya karena tidak melakukan shalat dan
puasa saat haid, akan tetapi mereka bisa menggantinya dengan bersodakoh sehingga
perempuan tetap bisa mendapatkan pahala dari sodakoh. Terlebih lagi, meninggalkan
shalat dan puasa saat sedang haid dan nifas merupakan perintah Allah yang jika ditaati
akan mendapatkan pahala dan bila dilanggar mendapatkan dosa, seperti halnya
larangan berzina dan memakan daging babi. Di sisi lain, laki-laki dipandang lebih
superior daripada wanita namun superioritas ini membuahkan tanggung jawab besar
yang harus dipikul oleh laki-laki. Jika tanggung jawab ini diabaikan oleh laki-laki,
maka derajat lebih yang dimilikinya bisa berkurang atau bahkan hilang. Contohnya,
laki-laki dianggap sebagai pemimpin bagi wanita dan laki-laki memiliki kelebihan
beberapa derajat di atas wanita karena ia berkewajiban memberi nafkah, melindungi
dan menjaga keselamatan bagi wanita. Jika tanggung jawab ini diabaikan, laki-laki
akan jatuh ke tingkat derajat yang paling hina, bukan hanya di mata Allah, tapi juga di
mata manusia.
22

Dari empat kategori perspektif gender dalam hadits yang diungkapkan oleh Badriyah
Fayuni dan Alai Najib ini, ditemukan sebuah pemahaman bahwa Rasulullah tidak pernah
membeda-bedakan antara umatnya. Pengkhususan satu jenis kelamin dari jenis kelamin yang
lainnya dilakukan sesuai kebutuhan dari masing-masing jenis kelamin itu sendiri, dan bukan
untuk memarginalkan satu jenis dari jenis lainnya. Adapun kelebihan dan kekurangan antara
jenis kelamin yang satu dengan yang lainnya dibarengi dengan catatan-catatan penting yang
tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa perempuan memiliki
kedudukan yang setara dengan laki-laki dalam hadits-hadits Rasulullah SAW17.
2.6 Konsep Kepemimpinan Perempuan dalam Islam
Hal yang selalu menjadi kontroversi dalam perbincangan mengenai sosok perempuan
ialah tentang boleh tidaknya seorang perempuan menjadi pemimpin. Konsep kepemimpinan
perempuan dalam Islam yang akan dibahas dalam sub-bab ini dikhususkan pada pembahasan
mengenai kepemimpinan dalam ranah publik di luar rumah tangga. Karena diskursus
mengenai kepemimpinan perempuan di ranah publik ini lebih beragam dan kompleks
dibandingkan dengan pembicaraan mengenai kepemimpinan perempuan dalam rumah tangga.
Salah satu orang yang menolak kepemimpinan perempuan di ranah publik ini ialah
Abbas Mahmud al-Aqqad. Dia menjadikan perbedaan fisik dan biologis sebagai landasan
perbedaan tanggung jawab sosial yang diemban oleh kedua jenis kelamin. Dengan adanya
perbedaan tanggung jawab sosial ini, maka laki-laki dinilai lebih berhak menjadi pemimpin
karena laki-laki sudah terbiasa bertanggung jawab dalam keluarga dan masyarakat, sedangkan
perempuan bertanggung jawab untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Ia menyatakan
bahwa hak kepemimpinan bersumber pada kesanggupan alamiah yang tentu lebih dimiliki
oleh kaum lelaki dibandingkan perempuan. Lebih jauh ia menyampaikan bahwa kerajaan
seorang perempuan ada dalam rumah tangga, sedangkan kerajaan laki-laki ada di dalam
perjuangan hidup18.

17Badriyah Fayuni dan Alai Najib. Perempuan yang Paling Mendapat Perhatian Nabi: Perempuan dalam
Hadits dalam Ali Munhanif, ed. Mutiara Terpendam: Perempuan dalam Literatur Islam Klasik (Jakarta:
Gramedia, 2002) hlm. 58.
18Abbas Mahmud al-Aqqad. Filsafat Al-Qur'an: Filsafat, Spiritual dan Sosial dalam Isyarat Al-Qur'an
(Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986) hlm. 74-75.

23

Lain halnya dengan Nasaruddin Umar19, seorang cendekiawan muslim kontemporer


yang menyatakan bahwa tidak ada satupun dalil, baik dari al-Quran maupun hadits yang
melarang kaum perempuan aktif di dunia politik. Hal ini merupakan hak yang dimiliki oleh
seorang perempuan untuk terjun ke dalam bidang politik baik sebagai pejabat atau pemimpin
negara. Fakta sejarah mengungkapkan bahwa perempuan-perempuan di sekitar Nabi terlibat
aktif dalam dunia politik. Nasaruddin Umar juga menegaskan bahwa kata khalifah pada surat
al-Baqarah ayat 30 tidak merujuk hanya kepada satu jenis kelamin tertentu, laki-laki dan
perempuan sama-sama memiliki fungsi sebagai khalifah di muka bumi yang akan
mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah SWT20.
Hal yang serupa disampaikan oleh Husein Muhammad21, dengan terlebih dulu
menjabarkan pandangan ulama-ulama klasik yang tidak memberikan peluang sama sekali
untuk perempuan terlibat dalam dunia politik. Husein Muhammad kemudian menguraikan
bahwa sejak awal abad ke-20, dengan terbukanya akses pendidikan bagi kaum perempuan,
maka peluang partisipasi politik bagi kaum perempuan juga semakin terbuka. Hal ini ditandai
dengan perubahan-perubahan dalam undang-undang yang lebih mengakomodasi kepentingan
perempuan di ranah publik negara-negara Islam seperti Mesir, Sudan, Yordania, Tunisia, Irak,
Iran, dan Suriah. Di Indonesia sendiri, aktivitas politik kaum perempuan telah memiliki
landasan yuridis dalam UUD 1945. Apalagi sekarang, dengan adanya kebijakan 30% kursi di
parlemen harus diisi oleh perempuan, maka tidak ada lagi alasan untuk melarang perempuan
terjun langsung ke dalam politik. Husein Muhammad memandang hal ini sebagai hal yang
menarik, mengingat pada pemilu tahun 1999, banyak partai politik yang menolak presiden
perempuan sekarang langsung menyetujui affirmative action 30% kuota tersebut tanpa ada
penolakan ataupun perdebatan.
Kepemimpinan Aisyah di Perang Jamal di mana sejumlah sahabat Nabi yang terkenal
bersatu di bawah komandonya merupakan bukti nyata bahwa perempuan juga mampu

19Nasaruddin Umar. Kodrat Perempuan dalam Islam (Jakarta: Fikahati Aneska, 2000) hlm. 49.
20Fadlan. Islam, Feminisme dan Konsep Kesetaraan Gender dalam Al-Qur'an Dalam Karsa: Jurnal Budaya
dan Sosial Keislaman Vol. 19 No. 2 STAIN Pamekasan. hlm. 115.
21Husein Muhammad. Islam Agama Ramah Perempuan: Pembelaan Kiai Pesantren (Yogyakarta: Lkis, 2004)
hlm. 170-172.

24

memimpin laki-laki. Kaukab Siddique22 menambahkan bahwa kepemimpinan Aisyah ini


bukanlah suatu hal yang muncul tiba-tiba saat perang Jamal terjadi, karena jauh sebelum itu
yakni pada masa awal Islam Aisyah adalah orang yang selalu dimintai fatwa oleh para sahabat
Nabi SAW seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman. Sebelum Aisyah terjun memimpin pasukan
di perang Jamal, beliau telah lebih dulu menjadi seorang guru yang fatwanya diterima oleh
semua kalangan baik laki-laki maupun perempuan. Banyak orang yang datang dari seluruh
penjuru dunia Arab untuk mendapatkan pengajaran dari istri Nabi yang terkenal cerdas itu.
Bahkan, tak sedikit ulama dan guru para imam yang terkenal pada masa itu yang dulunya
merupakan murid Aisyah.
KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur, seorang
ulama NU yang pernah menjadi Presiden Republik Indonesia ini tidak menampik
kemungkinan seorang perempuan menjadi pemimpin negara. Abdurrahman Wahid
mengungkapkan bahwa sukses atau tidaknya perempuan menjadi seorang pemimpin sangat
bergantung kepada penerimaan dari kaum laki-laki yang berada di bawah kepemimpinannya,
apakah mereka bersedia bekerjasama di bawah komando perempuan tersebut atau tidak.
Abdurrahman Wahid juga menyampaikan bahwa ungkapan ulama yang menyatakan bahwa
perempuan lebih lemah dari laki-laki sehingga tidak bisa memimpin justru bertolak belakang
dengan fakta sejarah bahwa banyak pemimpin negara yang sukses justru dari jenis kelamin
perempuan. Misalnya Cleopatra, Ratu Balqis, Corie Aquino, Margaret Theatcher dan Benazir
Butho. Bahkan Abdurrahman Wahid mengakui kemampuan Megawati Soekarnoputri untuk
menjadi seorang presiden, di samping karena ia memiliki nasab dari Soekarno yang
merupakan pemimpin negara, kesuksesannya memimpin PDIP membuktikan bahwa
Megawati memiliki kecerdasan dalam memimpin. Menurut pandangan Abdurrahman Wahid,
apa yang dimiliki Megawati yaitu nasab dan kecerdasan dalam memimpin adalah landasan
yang bisa menjadikan seseorang sebagai pemimpin di masa depan23.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa pandangan ulama-ulama klasik mayoritas tidak
menyetujui jika perempuan menjadi pemimpin dalam ranah publik yang kebanyakan

22Kaukab Siddique. Menggugat Tuhan Yang Maskulin. Diterjemahkan oleh Arif Maftuhin. (Jakarta:
Paramadina, 2012) hlm. 50-53.
23M.N Ibad. Kekuatan Perempuan dalam Perjuangan Gus Dur-Gus Miek (Yogyakarta: Pustaka Pesantren,
2011) hlm. 101-102.

25

dilakukan oleh laki-laki. Sedangkan ulama-ulama modern dan kontemporer saat ini lebih
melihat ke dalam fakta sejarah dan realita yang ada sekarang bahwa banyak dari kaum
perempuan yang memiliki kemampuan dalam bidang politik dan jabatan-jabatan penting di
ranah publik yang biasanya di-dominasi oleh laki-laki. Karenanya, menafikan peran
perempuan dalam kancah perpolitikan sama halnya mengabaikan potensi separuh dari
masyarakat itu sendiri.

26

BAB III
BIOGRAFI DAN KARYA INTELEKTUAL M. QURAISH SHIHAB
3.1 Biografi M. Quraish Shihab
3.1.1 Latar Belakang Keluarga
Muhammad Quraish Shihab atau lebih dikenal dengan Quraish Shihab, lahir pada
tanggal 16 Februari 1944 di Rappang, Kabupaten Sidenreng, Rappang, Sulawesi Selatan. Ia
merupakan keturunan campuran Arab Quraisy dan Bugis dan berasal dari kaum terpelajar.
Ayahnya bernama Abdurrahman Shihab, dan ibunya bernama Asma Aburisyi. Dia adalah
anak keempat dari dua belas bersaudara. Dia memiliki tiga orang kakak bernama Nur, Ali dan
Umar. Ia juga mempunyai delapan orang adik yakni Wardah, Alwi Shihab, Nina, Sida Nizar,
Abdul Mutalib, Salwa, serta si kembar Ulfa dan Latifah.Ayah Quraish Shihab, yakni Prof.
Abdurrahman Shihab adalah seorang ulama yang cukup terpandang di daerah Sulawesi
Selatan1.
Selain sebagai ulama, Abdurrahman Shihab juga seorang pengusaha dan politikus
yang memiliki reputasi baik di kalangan masyarakat yang mengenalnya. Beliau memiliki
kontribusi dalam dunia pendidikan. Hal ini terlihat dalam usahanya membina dua perguruan
tinggi besar di daerah Sulawesi Selatan yakni Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan IAIN
Alauddin Makassar. UMI adalah sebuah perguruan tinggi swasta terbesar di Indonesia bagian
timur. Abdurrahman Shihab juga pernah menjabat sebagai rektor di UMI dari tahun 1959
hingga tahun 1965, kemudian menjadi rektor di IAIN Alauddin sejak tahun 1972 hingga
tahun 19772. Dari sini terlihat bahwa Quraish Shihab berasal dari keluarga yang akrab dengan
dunia pendidikan, hingga tak heran jika di kemudian hari beliau menjadi seorang
cendekiawan besar karena sejak dini telah mengenal budaya akademik melalui atmosfer
pendidikan yang diterapkan ayahnya di rumah.

1http://tafsiralmishbah.wordpress.com/biografi-m-quraish-shihab/ diakses pada tanggal 18 Mei 2014 pukul 22.42


WIB.
2Rahmat Hidayat. Pemikiran Muhammad Quraish Shihab tentang Poligami. Skripsi S1 Program Studi AlAhwal Al-Syakhshiyah Fakultas Syariah UIN Malang tahun 2008. hlm. 61.

27

Quraish Shihab mendapatkan motivasi dan benih kecintaan terhadap studi tafsir alQuran dari sang ayah. Sejak dini, Abdurrahman Shihab telah membiasakan anak-anaknya
untuk duduk bersama usai shalat Maghrib, saat-saat seperti ini Abdurrahman Shihab
menyampaikan nasihat yang lebih sering berupa ayat-ayat Al-Quran. Quraish Shihab juga
diwajibkan untuk mengikuti pengajian Al-Quran yang diadakan oleh ayahnya. Tidak hanya
menyuruh anak-anaknya untuk rajin membaca Al-Quran, Abdurrahman Shihab juga kerap
menguraikan kisah-kisah dalam Al-Quran kepada anak-anaknya secara sepintas. Dari sinilah
benih-benih kecintaan terhadap Al-Quran mulai tumbuh dalam diri Quraish Shihab3.
Quraish Shihab memiliki seorang istri bernama Fatmawaty Assegaf yang dinikahinya pada
bulan Februari tahun 1975 di Solo, Jawa Tengah. Keduanya dikaruniai lima orang anak,
masing-masing ialah Najelaa (lahir pada tanggal 11 September 1976), Najwa (lahir 16
September 1977), Nasma (lahir tahun 1982), Ahmad (lahir 1 Juli 1983), dan Nahla (lahir
Oktober 1986)4. Anak sulungnya Najelaa, menikah dengan Ahmad Fikri Assegaf pada tahun
1995 dan memberi tiga orang cucu kepada Quraish Shihab, yaitu Fathi, Nishrin, dan Nihlah.
Putri kedua Quraish Shihab menikah dengan Ibrahim Syarief Assegaf pada tahun 1997 dan
dikaruniai anak bernama Izzat dan almarhum Namiya (meninggal empat jam setelah
dilahirkan karena prematur5). Putri ketiganya yakni Nasywa Shihab menikah dengan
Muhammad Riza Alydrus pada tahun 2005 yang kemudian dikaruniai dua orang putri yaitu
Naziha dan Nuha. Ahmad Shihab, yang merupakan satu-satunya anak lelaki dari Quraish
Shihab, menikah dengan Sidah Al Hadad6.
Anak-anak Quraish Shihab yang telah menikah tinggal di rumah yang tidak berjauhan
dengan rumah Quraish Shihab di Cilandak, Jakarta Timur. Setiap pagi semua anak-anaknya
akan berkunjung ke rumah Quraish Shihab untuk mencium tangannya sebelum mereka
beraktifitas, bila tak sempat melakukannya mereka akan pamit lewat telepon. Kebiasaan
tersebut untuk menjaga hubungan antara orangtua dan anak agar tidak berjarak dan tetap
dekat. Bahkan Quraish Shihab juga menugaskan seorang koki di rumahnya untuk memasak
3Rahmat Hidayat. Pemikiran Muhammad Quraish Shihab tentang Poligami. Skripsi S1 Program Studi AlAhwal Al-Syakhshiyah Fakultas Syariah UIN Malang tahun 2008. hlm. 62.
4Suliyah. Pemikiran Muhammad Quraish Shihab Tentang Makna dan Upaya Meraih Hidayah dalam Tafsir Al
Misbah. Skripsi S1 Program Ushuludin IAIN Walisongo Semarang tahun 2007. hlm. 34.
5http://wowkeren.com/berita/tampil/00053646.html diakses pada 8 Agustus 2014 pukul 20.00 WIB.
6http://quraishshihab.com/profile/ diakses pada tanggal 18 Juli pukul 12.34 WIB.

28

dan mengirimkan makanan ke rumah anak-anaknya setiap hari. Hal ini dilakukan untuk
menjaga kesehatan seluruh anggota keluarganya agar terhindar dari efek buruk makanan yang
dibeli dari luar7.
Quraish Shihab memiliki prinsip untuk selalu memberikan keteladanan kepada anakanaknya. Ia membebaskan anak-anaknya untuk menentukan jalan hidupnya, dengan tetap
memberikan rambu-rambu agama yang bersifat tegas. Sejak kecil anak-anaknya dididik
dengan ilmu agama yang kuat, sebagai bekal untuk kehidupan di masa depan. Kemudian
dalam menentukan pasangan hidup pun, Quraish Shihab membebaskan anak-anaknya untuk
memilih pendamping hidupnya sendiri. Bahkan dalam hal berpakaian, Quraish Shihab tidak
memaksakan bahwa anak perempuannya harus berjilbab. Namun secara tegas ia menyatakan
bahwa dalam hal berpakaian harus tetap berpegang pada norma-norma kesopanan dan
kehormatan bagi seorang muslim8.
3.1.2 Latar Belakang Pendidikan
Selain mengikuti pengajian dan kultum (kuliah tujuh menit) yang diberikan sang ayah
seusai shalat maghrib, yang bisa dikategorikan sebagai pendidikan informal dalam keluarga
yang diterimanya, Quraish Shihab mendapatkan pendidikan formal di sekolah dasar hingga
kelas dua sekolah menengah pertama di Ujungpandang. Pada tahun 1956, Quraish Shihab
dikirim ayahnya untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren Darul-Hadits Al-Faqihiyyah9.
Ketika pemerintah Mesir menawarkan program beasiswa, Quraish Shihab bersama
adiknya Alwi Shihab mengikuti tes seleksi dan lolos ke Kairo. Quraish Shihab berangkat ke
Mesir pada tahun 1958 dan diterima di kelas dua Tsanawiyah Al Azhar. Setelah menamatkan
sekolah menengah, Quraish Shihab melanjutkan studinya di Universitas al-Azhar pada
Fakultas Ushuluddin dengan Jurusan Tafsir Hadits. Tahun 1967 beliau berhasil meraih gelar
Lc. Dua tahun berselang, yaitu tahun 1969, Quraish Shihab meraih gelar M.A di jurusan yang
sama dengan tesis berjudul Al-Ijaz Al Tasyriiy li Al-Qur'an Al-Karim (Kemukjizatan Al7http://www.tempo.co/read/news/2012/08/26/219425534/Quraish-Shihab-Si-Pengubah-Dunia diakses pada 25
Mei 2014 pukul 14.40 WIB.
8http://bio.or.id/biografi-najwa-shihab/ diakses pada 8 Agustus pukul 19.45 WIB.
9http:tafsiralmishbah.wordpress.com/biografi-m-quraish-shihab/ diakses pada tanggal 18 Mei 2014 pukul 22.42
WIB.

29

Quranul Karim dari Segi Hukum). Tahun 1980, Quraish Shihab kembali ke Universitas Al
Azhar Kairo untuk mengambil spesialisasi studi tafsir Al-Quran. Dua tahun kemudian gelar
doktor dalam bidang tafsir berhasil diraihnya. Dengan disertasi berjudul Nazm ad-Durar li alBiqa'i Tahqiq wa Dirasah (Suatu Kajian dan Analisis terhadap Keotentikan Kitab Nazm adDurar Karya al-Biqai), disertasinya ini mendapat predikat Mumtaz Ma`a Martabah AsySyaraf al-Ula atau Summa Cum Laude yaitu penghargaan tingkat pertama di Asia Tenggara
dengan gelar Doktor dalam bidang Ilmu-ilmu al-Qur'an10.
3.1.3 Karir Intelektual dan Politik
Tahun 1973, Quraish Shihab disuruh pulang ke kampung halaman oleh ayahnya yang
pada saat itu menjabat sebagai rektor di IAIN Alauddin. Quraish Shihab diminta ayahnya
untuk membantu mengelola pendidikan di IAIN Alauddin, ia dijadikan Wakil Rektor Bidang
Akademik dan Kemahasiswaan hingga tahun 1980. Selain menjabat sebagai Wakil Rektor,
Quraish Shihab juga sering ditunjuk untuk mewakili ayahnya menjalankan tugas-tugas pokok
tertentu yang tidak bisa dilakukan oleh ayahnya karena kondisi kesehatan yang semakin
menurun. Di samping itu, Quraish Shihab sering dipercaya untuk memegang berbagai jabatan
penting, di antaranya ialah Kordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VII Indonesia
Bagian Timur, Pembantu Pimpinan Kepolisian dalam Bidang Pembinaan Mental, dan
beberapa jabatan lain di luar kampus. Dengan kesibukannya yang begitu padat, Quraish
Shihab masih sempat menyelesaikan beberapa tugas penelitian, yakni Penerapan Kerukunan
Hidup Beragama di Indonesia (1975), dan Masalah Wakaf di Sulawesi Selatan (1978)11.
Setelah menyelesaikan S3-nya, Quraish Shihab kembali ke Indonesia pada tahun 1982
dan melanjutkan tugasnya di IAIN Alauddin. Dua tahun kemudian yakni pada tahun 1984, dia
dipanggil ke Jakarta untuk mengajar Tafsir al-Quran dan Ulumul Hadits di Fakultas
Ushuluddin IAIN Jakarta. Ia pun pindah dari Makassar ke Jakarta untuk menunaikan tugas
tersebut. Quraish Shihab mengajar program S1, S2, dan S3 sampai tahun 1998. Selain
mengajar sebagai dosen, ia juga sempat terpilih untuk menduduki jabatan Rektor IAIN Jakarta
selama dua periode yakni pada 1992-1996 dan 1997-1998. Jabatan Rektor IAIN pada periode
10
Suliyah. Pemikiran Muhammad Quraish Shihab Tentang Makna dan Upaya Meraih Hidayah dalam
Tafsir Al Misbah. Skripsi S1 Program Ushuludin IAIN Walisongo Semarang tahun 2007. hlm. 33-34.
11
Rahmat Hidayat. Pemikiran Muhammad Quraish Shihab tentang Poligami. Skripsi S1 Program Studi
Al-Ahwal Al-Syakhshiyah Fakultas Syariah UIN Malang tahun 2008. hlm. 62.

30

kedua dijalani Quraish Shihab dengan waktu singkat, karena pada awal tahun 1998 ia
dipercaya untuk menduduki jabatan sebagai Menteri Agama, meski hanya bertahan selama
dua bulan. Setelah itu, ia diangkat menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh
Republik Indonesia untuk Negara Republik Arab Mesir merangkap Negara Republik Djibouti
yang berkedudukan di Kairo12.
Di samping kesibukannya mengajar di IAIN Jakarta, Quraish Shihab juga dipercaya
untuk menduduki sejumlah jabatan penting. Di antaranya, ialah Ketua Majelis Ulama
Indonesia (MUI) Pusat sejak 1984, anggota Lajnah Pentashhih Al-Quran Departemen Agama
sejak 1989, Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI),
Pengurus Perhimpunan Ilmu-ilmu Syariah, dan Pengurus Konsorsium Ilmu-ilmu Agama di
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Serta tercatat sebagai Dewan Redaksi Studia
Islamika: Indonesian Journal for Islamic Studies, Ulumul Quran, Mimbar Ulama, dan
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat. Semua penerbitan ini berlokasi di Jakarta13.
Quraish Shihab juga sering menulis karya ilmiah dan mengasuh rubrik di beberapa
media nasional seperti Harian Republika (Rubrik M.Quraish Shihab Menjawab), Harian Pelita
(rubrik Pelita Hati), dan Majalah Amanah (rubrik Tafsir al-Amanah). Aktivitas ceramah
dilakukan Quraish Shihab di sejumlah masjid besar dan cukup terkenal di Jakarta, di
antaranya Masjid at- Tin, Masjid Sunda Kelapa, dan Masjid Fathullah. Sedang di lingkungan
pejabat pemerintahan, Quraish Shihab memberikan pengajian serta ceramah di Masjid Istiqlal.
Beberapa stasiun televisi swasta juga memiliki program khusus ceramah yang diisi oleh
Quraish Shihab selama bulan Ramadhan seperti RCTI, SCTV dan Metro TV.
Quraish Shihab adalah seorang ulama moderat, ilmu al-Quran yang dimilikinya tidak
ada yang meragukan. Ciri khas dari Quraish Shihab ialah menafsirkan al-Quran dengan
metode maudui atau tematik. Yakni suatu metode menerjemahkan dan menafsirkan alQuran dengan cara mengumpulkan sejumlah ayat yang membahas masalah serupa namun
tersebar dalam al-Quran pada surat-surat yang berbeda. Kemudian Menjelaskan pengertian
secara menyeluruh dari ayat-ayat tersebut, setelah itu menarik kesimpulan sebagai jawaban
12http:tafsiralmishbah.wordpress.com/biografi-m-quraish-shihab/ diakses pada tanggal 18 Mei 2014 pukul 22.42
WIB.
13http:tafsiralmishbah.wordpress.com/biografi-m-quraish-shihab/ diakses pada tanggal 18 Mei 2014 pukul 22.42
WIB.

31

dari permasalahan yang dikemukakan. Kemampuan Quraish Shihab menyampaikan pesanpesan al-Quran yang telah diterjemahkannya dengan pemahaman murni mengenai konteks
kekinian dan masa post-modern membuat dirinya lebih unggul dibandingkan pakar al-Quran
Indonesia lainnya14.
Berdasarkan pembacaan penulis terhadap karya-karya dari Quraish Shihab, beliau
menyampaikan pendapat mengenai suatu masalah tidak secara langsung, melainkan secara
tersirat. Dengan terlebih dulu mengungkapkan pendapat ulama-ulama terdahulu maupun
sekarang mengenai kajian yang dibahas, beserta pro dan kontra terhadap kajian tersebut, baru
kemudian ia mengungkapkan pendapatnya sendiri secara tersirat. Jika tidak jeli, kita bisa saja
kebingungan saat membaca tulisan beliau yang begitu banyak mengutip pendapat ulama
lainnya, sehingga pendapat pribadinya seringkali tersamarkan.
Quraish Shihab seringkali menekankan betapa pentingnya memahami al-Quran
secara kontekstual, dan menghindari pemahaman tekstual terhadap wahyu Ilahi. Hal ini
dimaksudkan agar pesan-pesan yang terkandung dalam wahyu tersebut bisa diaplikasikan
dalam kehidupan sehari-hari. Ia pun sering memotivasi para mahasiswanya di tingkat pasca
sarjana untuk berani menafsirkan al-Quran dengan tetap berpegang teguh pada aturan tafsir
yang sudah berlaku. Bagi Quraish Shihab, penafsiran terhadap al-Quran tidak akan pernah
berakhir. Setiap masa akan muncul penafsiran baru, sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan tuntutan zaman. Akan tetapi, sikap teliti dan berhati-hati harus tetap
dipegang teguh oleh penafsir agar tidak mudah mengklaim sebuah tafsiran sebagai sebuah
pendapat yang mutlak dari al-Quran. Adalah sebuah dosa besar jika seseorang memaksakan
pendapatnya dengan mengatasnamakan al-Quran15. Saat wawancara dengan penulis, Quraish
Shihab mengakui bahwa kiprahnya dalam dunia pendidikan adalah bentuk peran sertanya
sebagai seorang pendidik untuk mentransfer ilmu kepada umat.

14http:tafsiralmishbah.wordpress.com/biografi-m-quraish-shihab/ diakses pada tanggal 18 Mei 2014 pukul 22.42


WIB.
15http:tafsiralmishbah.wordpress.com/biografi-m-quraish-shihab/ diakses pada tanggal 18 Mei 2014 pukul 22.42
WIB.

32

3.2 Karya Intelektual M. Quraish Shihab


Kecintaan Quraish Shihab terhadap ilmu al-Quran dibuktikan dengan kemampuannya
menulis yang begitu produktif. Meski telah mengasuh rubrik di berbagai media lokal dan
nasional. serta kesibukannya ceramah baik off air maupun on air, Quraish Shihab tetap
meluangkan waktunya untuk menulis buku. Membagikan ilmu pengetahuan yang ia dapatkan
selama hidupnya dengan menulis buku yang bisa dibaca oleh orang banyak. Berikut ini adalah
karya-karya intelektual Quraish Shihab.

Tafsir al-Manar, Keistimewaan dan Kelemahannya (Ujung Pandang, IAIN


Alauddin, 1984):

Menyingkap Tabir Ilahi: Asma al-Husna dalam Perspektif al-Qur'an (Jakarta:


Lentera Hati, 1998):

Untaian Permata Buat Anakku (Bandung: Mizan 1998):

Pengantin al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati, 1999):

Haji Bersama Quraish Shihab (Bandung: Mizan, 1999):

Sahur Bersama Quraish Shihab (Bandung: Mizan 1999):

Panduan Puasa bersama Quraish Shihab (Jakarta: Penerbit Republika,


Nopember 2000):

Panduan Shalat bersama Quraish Shihab (Jakarta: Penerbit Republika,


September 2003):

Anda Bertanya,Quraish Shihab Menjawab Berbagai Masalah Keislaman


(Mizan Pustaka)

Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Ibadah Mahdah (Bandung: Mizan,


1999):

Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Al Qur'an dan Hadits (Bandung:


Mizan, 1999):

Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Ibadah dan Muamalah (Bandung:


Mizan, 1999):

Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Wawasan Agama (Bandung: Mizan,


1999):

33

Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Tafsir Al Quran (Bandung: Mizan,


1999):

Satu Islam, Sebuah Dilema (Bandung: Mizan, 1987):

Filsafat Hukum Islam (Jakarta: Departemen Agama, 1987):

Pandangan Islam Tentang Perkawinan Usia Muda (MUI & Unesco, 1990):

Kedudukan Wanita Dalam Islam (Departemen Agama):

Membumikan al-Qur'an: Fungsi dan Kedudukan Wahyu dalam Kehidupan


Masyarakat (Bandung: Mizan, 1994):

Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan (Bandung: Mizan, 1994):

Studi Kritis Tafsir al-Manar (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996):

Wawasan al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung:


Mizan, 1996):

Tafsir al-Qur'an (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997):

Secercah Cahaya Ilahi: Hidup Bersama Al-Qur'an (Bandung: Mizan, 1999)

Hidangan Ilahi, Tafsir Ayat-ayat Tahlili (Jakarta: Lentara Hati, 1999):

Jalan Menuju Keabadian (Jakarta: Lentera Hati, 2000):

Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur'an (15 Volume,


Jakarta: Lentera Hati, 2003):

Menjemput Maut: Bekal Perjalanan Menuju Allah SWT. (Jakarta: Lentera


Hati, 2003)

Jilbab Pakaian Wanita Muslimah: dalam Pandangan Ulama dan Cendekiawan


Kontemporer (Jakarta: Lentera Hati, 2004):

Dia di Mana-mana: Tangan Tuhan di balik Setiap Fenomena (Jakarta: Lentera


Hati, 2004):

Perempuan (Jakarta: Lentera Hati, 2005):

Logika Agama: Kedudukan Wahyu & Batas-Batas Akal Dalam Islam (Jakarta:
Lentera Hati, 2005):

Rasionalitas al-Qur'an: Studi Kritis atas Tafsir al-Manar (Jakarta: Lentera


Hati, 2006):

Menabur Pesan Ilahi: al-Qur'an dan Dinamika Kehidupan Masyarakat


(Jakarta: Lentera Hati, 2006):
34

Wawasan al-Qur'an Tentang Dzikir dan Doa (Jakarta: Lentera Hati, 2006):

Asm' al-Husn: Dalam Perspektif al-Qur'an (4 buku dalam 1 boks) (Jakarta:


Lentera Hati):

Sunnah - Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?: Kajian atas Konsep


Ajaran dan Pemikiran (Jakarta: Lentera Hati, Maret 2007):

Al-Lubb: Makna, Tujuan dan Pelajaran dari al-Ftihah dan Juz 'Amma
(Jakarta: Lentera Hati, Agustus 2008):

40 Hadits Qudsi Pilihan (Jakarta: Lentera Hati):

Berbisnis dengan Allah: Tips Jitu Jadi Pebisnis Sukses Dunia Akhirat (Jakarta:
Lentera Hati):

M. Quraish Shihab Menjawab: 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
(Jakarta: Lentera Hati, 2008):

Doa Harian bersama M. Quraish Shihab (Jakarta: Lentera Hati, Agustus


2009):

Seri yang Halus dan Tak Terlihat: Jin dalam al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati):

Seri yang Halus dan Tak Terlihat: Malaikat dalam al-Qur'an (Jakarta: Lentera
Hati):

Seri yang Halus dan Tak Terlihat: Setan dalam al-Qur'an (Jakarta: Lentera
Hati):

M. Quraish Shihab Menjawab: 101 Soal Perempuan yang Patut Anda Ketahui
(Jakarta: Lentera Hati, Maret 2010):

Al-Qur'n dan Maknanya: Terjemahan Makna disusun oleh M. Quraish


Shihab (Jakarta: Lentera Hati, Agustus 2010):

Membumikan al-Qur'n Jilid 2: Memfungsikan Wahyu dalam Kehidupan


(Jakarta: Lentera Hati, Februari 2011):

Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW, dalam sorotan Al-Quran dan Hadits
Shahih (Jakarta: Lentera Hati, Juni 2011):

Do'a al-Asm' al-Husn (Doa yang Disukai Allah SWT.) (Jakarta: Lentera
Hati, Juli 2011):

35

Tafr Al-Lubb: Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah Al-Qur'n


(Boxset terdiri dari 4 buku) (Jakarta: Lentera Hati, Juli 2012)16.

Banyaknya karya tulis yang ia terbitkan, membuat Quraish Shihab menjadi salah satu
intelektual muslim Indonesia yang paling produktif. Karya-karyanya dijadikan rujukan oleh
banyak mahasiswa di perguruan tinggi untuk skripsi. Karya tafsirnya yang hadir dalam bahasa
Indonesia memudahkan masyarakat untuk memahami apa yang ia ungkapkan dalam tafsirnya.

16http://quraishshihab.com/work/ diakses pada 9 agustus 2014 pukul 10.05 WIB.

36

BAB IV
PEMIKIRAN M. QURAISH SHIHAB MENGENAI KEPEMIMPINAN PEREMPUAN
DALAM ISLAM
4.1 Manusia dalam Pandangan Quraish Shihab
Dalam menjelaskan tentang manusia, Quraish Shihab mengutip pernyataan dari Dr.
Alexis Carrel bahwa ilmu pengetahuan tentang manusia yang dicapai oleh para ilmuwan
amatlah sedikit, jauh dibandingkan pencapaian manusia di bidang lainnya1. Lebih lanjut
Quraish Shihab menyebutkan bahwa terbatasnya ilmu pengetahuan manusia tentang manusia
disebabkan oleh terlambatnya manusia untuk meneliti hakikat manusia karena mereka
cenderung kepada hal-hal bersifat materi yang berada di luar dirinya, akal manusia yang lebih
suka memikirkan hal-hal yang ringan sedangkan permasalahan tentang manusia begitu
kompleks. Dari sisi agama, Quraish Shihab menganggap bahwa hal ini terjadi karena manusia
adalah satu-satunya makhluk yang dalam proses penciptaannya terdapat ruh ilahi, sedangkan
manusia tidak diberi pengetahuan tentang ruh. Ini disebutkan dalam al-Qur'an Surat al-Isra'
ayat 85:


Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
Maka, bagi Quraish Shihab, tidak ada jalan lain untuk mengenal hakikat manusia selain
merujuk kepada wahyu ilahi.2 Quraish Shihab juga mengutip pandangan Sigmund Freud yang
menganggap bahwa manusia adalah makhluk bumi yang segala aktivitasnya bertumpu pada
libido, anggapan ini dikemukakan Freud setelah ia meneliti sekelompok orang sakit3.

1Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996)
hlm. 273.
2Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996)
hlm. 274.
3Quraish Shihab. Membumikan Al Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat
(Bandung: Mizan, 1992) hlm. 62.

37

Al-Qur'an tidak menerangkan proses penciptaan manusia pertama secara rinci, di sana hanya
diterangkan bahwa bahan awal pembuatan manusia adalah tanah, kemudian disempurnakan,
dan setelah wujudnya sempurna ditiupkan ruh ilahi ke dalamnya4. Hal ini diterangkan dalam
Surat al-Hijr ayat 28-29:





Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang
diberi bentuk, Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan
kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
Dalam proses penciptaan ini sendiri, Quraish Shihab menemukan sebuah perbedaan
antara penciptaan manusia pertama yang dalam kepercayaan agama Islam disebut sebagai
Nabi Adam AS. Dengan manusia-manusia lainnya. Saat menyebutkan tentang penciptaan
manusia pertama, al-Qur'an menggunakan kata ganti tunggal, seperti yang terlihat dalam
Surat Shad ayat 71-72 dan 75 berikut ini:





(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
menciptakan manusia dari tanah".Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan
Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud
kepadanya".



Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu
(merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?".

4Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996)
hlm. 277-278.

38

Sedangkan ketika menyebutkan proses penciptaan manusia secara umum, al-Qur'an


menggunakan kata ganti jamak. Sebagaimana yang tampak dalam penggalan surat At-Tin
ayat 4:


sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Hal ini bisa dipahami karena pada penciptaan manusia pertama, tidak ada keterlibatan pihak
lain. Allah melakukan proses penciptaan manusia pertama ini tanpa perantara pihak lain.
Sedangkan pada proses penciptaan manusia secara umum, ada keterlibatan ayah dan ibu.
Ayah dan ibu berperan dalam pembentukan fisik dan psikis manusia. Karenanya dalam
menceritakan penciptaan manusia secara umum, al-Qur'an menggunakan kata ganti jamak
sebagai pengakuan keterlibatan ayah dan ibu dalam proses penciptaan tersebut5.
Quraish Shihab membandingkan proses kejadian manusia dari segi ilmu pengetahuan
yang biasa disebut sebagai embriologi dengan apa yang tercantum dalam al-Qur'an Surat alMu'minuun ayat 12-14:





Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari
tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang
kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu
Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
Dari ayat ini, proses kejadian manusia mengalami 5 periode yakni dari al-Nuthfah (saripati
tanah/tanah yang bersih) kemudian menjadi al-Alaq (air mani), setelah itu menjadi alMudghah (segumpal darah), kemudian berubah menjadi al-Idzam (segumpal daging), dan

5Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996)
hlm. 277.

39

terakhir al-Lahm (tulang belulang)6. Sedangkan menurut Embriologi, proses kejadian manusia
mengalami tiga periode. Yang pertama adalah periode Ovum, yakni pembuahan dari sel
sperma ke sel telur hingga membentuk zygote, zygote membelah diri menjadi beberapa bagian
sel kemudian bergerak untuk kemudian menempel pada pada dinding rahim, proses ini
disebut Implantasi. Yang kedua ialah periode Embrio, ini adalah periode dimana organ-organ
manusia mulai terbentuk dari pembelahan sel pada priode sebelumnya. Yang terakhir adalah
periode Foetus, periode ini merupakan penyempurnaan organ-organ yang terbentuk dari
periode Embrio hingga mencapai kesempurnaan dan manusia tersebut siap untuk dilahirkan7.
Quraish Shihab memberikan penyesuaian antara proses kejadian manusia seperti yang
tersebut dalam al-Qur'an surat al-Mu'minuun dengan Embriologi. Periode ketiga yang disebut
al-Qur'an sebagai al-Mudghah sesuai dengan periode kedua dalam Embriologi. Periode ini
merupakan pembentukan organ-organ penting manusia. Sedangkan periode keempat dan
kelima menurut al-Qur'an sama dengan Periode Foetus8.
Mengenai teori Evolusi dari Darwin, Quraish Shihab tidak secara tegas menyatakan
pendapatnya mengenai teori tersebut. Melainkan dengan mengutip pandangan dari ulama lain
seperti pakar tafsir Syaikh Muhammad Abduh yang ia kutip di buku Wawan Al-Qur'an
menyatakan bahwa jika teori Evolusi dari Darwin bisa dibuktikan secara ilmiah, maka tidak
ada alasan dari al-Qur'an untuk menolaknya. Karena al-Qur'an hanya menerangkan proses
penciptaan manusia periode pertama, tengah dan akhir. Apa yang terjadi antara proses
pertama dengan pertengahan dan proses antara pertengahan dengan akhir tidak dijelaskan.
Quraish Shihab juga mengutip Abbas al-Aqad yang mempersilakan kaum muslim untuk
menerima atau menolak teori Evolusi Darwin tanpa melibatkan al-Qur'an. Karena al-Qur'an
tidak bicara secara rinci tentang proses kejadian manusia9.

6Quraish Shihab. Membumikan Al Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat
(Bandung: Mizan, 1992) hlm. 50.
7Quraish Shihab. Membumikan Al Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat
(Bandung: Mizan, 1992) hlm. 50-51.
8Quraish Shihab. Membumikan Al Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat
(Bandung: Mizan, 1992) hlm. 51.
9
Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung:
Mizan, 1996) hlm. 281.

40

Quraish Shihab menyebutkan tiga istilah yang sering digunakan dalam al-Qur'an untuk
menunjuk kepada manusia. Yakni basyar, bani adam/zuriyat adam, dan kata yang terdiri dari
huruf nun, sin, dan alif seperti an-nas, al-insan, atau unas. Basyar diambil dari akar kata
yang awalnya bermakna sesuatu yang baik atau indah, kemudian dari akar kata yang sama
muncul istilah basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamai basyar karena kulitnya terlihat
jelas dibandingkan makhluk lainnya. Al-Qur'an menggunakan istilah ini untuk menyebut
manusia sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan satu kali dalam bentuk muannats (kata
jamak yang berarti dua)10. Salah satu ayat yang menggunakan kata basyar adalah surat arRum ayat 20:




Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya (Allah) menciptakan kamu dari tanah, kemudian
ketika kamu menjadi basyar bertebaran.
Quraish Shihab mengartikan kata bertebaran di sini sebagai proses reproduksi manusia dan
kegiatan mencari rezeki di berbagai belahan bumi. Proses reproduksi dan mencari rezeki ini
tidak bisa dilakukan kecuali oleh manusia yang telah dewasa dan memiliki tanggung jawab.
Karenanya, menurut Quraish Shihab, istilah basyar dikaitkan dengan kedewasaan seorang
manusia yang membuatnya mampu memikul tanggung jawab. Oleh sebab itu, tugas
kekhalifahan dibebankan kepada basyar. Seperti terlihat dalam Surat al-Hijr ayat 28:



Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang
diberi bentuk11
Kata insan diambil dari akar kata uns yang berarti jinak, harmonis dan tampak. Jika
dilihat dari sudut pandang al-Qur'an maka lbeih tepat jika dikatakan berasal dari kata nasiya

10
Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung:
Mizan, 1996) hlm. 275.
11
Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung:
Mizan, 1996) hlm. 276.

41

(lupa), dan nasa-yanusu (berguncang)12. Hal ini bisa dipahami melihat sifat manusia yang
pelupa dan selalu mengalami guncangan dalam batinnya. Kata insan digunakan al-Qur'an
untuk menyebut manusia secara keseluruhan dalam dirinya meliputi jiwa dan raga.
Quraish Shihab menyebutkan beberapa potensi manusia yang disebutkan dalam alQur'an, yakni sebagai berikut:

Makhluk pertama yang disebut dalam rangkaian wahyu pertama. Tercantum dalam
Surat al-Alaq ayat 1-5:





Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha
Pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya.

Memiliki keutamaan yang lebih tinggi dari makhluk ciptaan lain sebagaimana yang
disebut dalam Surat Hud ayat 3:


dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya.
(Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan
yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan
Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan)
keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan
ditimpa siksa hari kiamat.

Mempunyai kecenderungan dekat kepada Tuhan dengan kesadaran akan kehadiran


Tuhan yang melekat di alam bawah sadarnya. QS ar-Rum ayat 43:

12
Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung:
Mizan, 1996) hlm. 276.

42





Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum
datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu
mereka terpisah-pisah."

Diberi kepercayaan dan kebebasan penuh untuk memilih jalan masing-masing. QS. Al
Insan ayat 2-3:






Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur
yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami
jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan
yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.

Makhluk yang paling mulia dan paling sempurna diantara makhluk lainnya.
Ditunjukkan dalam Surat al-Isra' ayat 70:


Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di
daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami
lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang
telah Kami ciptakan.

Nurani manusia dibimbing oleh wahyu untuk menentukan baik atau buruk. Dijelaskan
dalam Surat As-Syams ayat 7-8:






dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya))maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

Diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya. Tampak dalam surat At-Tin ayat 4:


43

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Namun terkadang manusia berbuat aniaya dan mengingkari nikmat Tuhan. Disebutkan
dalam Surat Ibrahim ayat 34:



Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu
mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu
menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari
(nikmat Allah).

Terkadang manusia juga banyak membantah ajaran Tuhan. Tersebut dalam Surat alHajj ayat 67:




Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka lakukan, maka
janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan
serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada
jalan yang lurus.
Meski dua potensi yang disebutkan terakhir berkebalikan dengan potensi-potensi yang
disebutkan sebelumnya, hal ini bukan berarti bahwa ayat al-Qur'an saling bertentangan.
Namun karena manusia memang diciptakan dengan dua sisi yang saling bertolak belakang
sebagai potensi kemanusiawian yang dimilikinya. Sehingga manusia bisa mencapai derajat
tertinggi dengan segala potensi baik yang ada dalam dirinya, atau malah terjerumus ke level
terendah dan hina karena potensi sifat buruk yang juga dimilikinya13.
Potensi manusia juga bisa dilihat dari kisah Adam dan Hawa yang ada dalam alQur'an. Al-Qur'an mengajarkan bahwa Tuhan juga mengajarkan potensi mengenali bendabenda dan fungsinya di alam semesta kepada manusia. Keberadaan Adam dan Hawa di Surga
memberitahu kita tentang kenikmatan yang bisa diperoleh, karena itu surga harus menjadi
tujuan utama hidup manusia. Akan halnya dengan kisah Adam dan Hawa yang tergoda rayuan
13
Quraish Shihab. Membumikan Al Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat
(Bandung: Mizan, 1992) hlm. 63-64.

44

Iblis, ini menjadi peringatan bagi umat manusia terhadap godaan dari Iblis agar tidak
mengalami nasib buruk seperti yang telah dialami oleh Adam dan Hawa yang terusir dari
surga karena mengikuti rayuan Iblis14.
Manusia terdiri dari jasmani dan rohani. Di atas telah dijelaskan proses kejadian
manusia yang bersifat fisik, berikut ini akan dijelaskan bagian-bagian manusia yang bersifat
non-materi sesuai dengan apa yang disebutkan dalam al-Qur'an. Yaitu fitrah, nafs, qalb, dan
ruh yang dimiliki oleh setiap manusia. Fitrah merupakan bawaan lahir, potensi yang dimiliki
manusia sejak awal penciptaannya. Yakni fitrah untuk mengikuti agama yang lurus (tauhid),
seperti disebutkan dalam Surat Ar-Rum ayat 30:













Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah
yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.
(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,15
Kata la yang bermakna 'tidak' pada ayat tersebut mengisyaratkan bahwa manusia tidak bisa
menghindar dari fitrah keagamaan yang melekat padanya sejak lahir, meskipun manusia itu
sendiri menolaknya. Selain fitrah keagamaan ada pula fitrah yang merupakan kecenderungan
manusia untuk mencintai sesuatu yang bersifat material seperti yang tercantum dalam Surat
Ali Imran ayat 14 berikut:



Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-

14
Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung:
Mizan, 1996) hlm. 279-280.
15
Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung:
Mizan, 1996) hlm. 280-281.

45

binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah
tempat kembali yang baik (surga).
Quraish Shihab menyimpulkan bahwa manusia berjalan dengan kaki adalah fitrah
jasadiahnya, membuat sebuah konklusi dari premis-premis adalah fitrah akliahnya. Senang
menerima nikmat dan sedih mendapat musibah juga adalah fitrah manusia16.
Selanjutnya ialah nafs atau sering diartikan sebagai jiwa manusia. Nafs ialah potensi
dalam diri manusia untuk berbuat baik atau buruk.

Qur'an surat as-Syams ayat 7-8

menyebutkan:






dan nafs serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepadanya
(jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
Mengilhamkan yang dimaksud ayat ini ialah memberi potensi kepada manusia melalui nafs
agar dapat menangkap baik dan buruk, serta mendorongnya untuk melakukan kebaikan atau
keburukan. Karenanya Tuhan menganjurkan untuk memberi perhatian yang lebih kepada nafs
ini. Quraish Shihab berpendapat bahwa al-Qur'an secara tegas menyatakan nafs memiliki
potensi positif dan potensi negatif. Meski hakikatnya potensi positif lebih kuat dari potensi
negatif, namun daya tarik dari potensi negatif lebih kuat sehingga manusia seringkali
terjerumus ke dalam keburukan karena mengikuti daya tarik dari potensi negatif tersebut.
Karenanya, manusia dihimbau untuk menjaga kesucian nafs melalui Surat as-Syams ayat 910:




Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menyucikannya, dan merugilah orang-orang
yang mengotorinya.17

16
Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung:
Mizan, 1996) hlm. 282-283.
17
Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung:
Mizan, 1996) hlm. 283-284.

46

Berikutnya ialah qalb, menurut Quraish Shihab kata ini terambil dari akar kata yang
bermakna membalik karena sifatnya yang mudah berbolak balik. Qalb berpotensi untuk tidak
konsisten,

sekali

waktu

menyenangi,

dilain

waktu

malah

membenci.

Al-Qur'an

menggambarkan bahwa qalb ada yang baik ada yang buruk, berikut ini adalah contoh
ayatnya. QS. Qaf ayat 37:




Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang
yang mempunyai qalbu atau yang mencurahkan pendengaran, lagi menjadi saksi.
QS. al-Hadid ayat 27:













Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula)
dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam qalbu
orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan
rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah
yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya
dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang
beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.
Dari ayat-ayat ini Quraish Shihab menarik kesimpulan bahwa qalb adalah tempat untuk
menampung hal-hal yang disadari oleh pemiliknya seperti rasa cinta, kasih sayang, dan
pengajaran, juga rasa takut dan keimanan. Perbedaan nafs dan qalb menjadi jelas, nafs adalah
segala sesuatu yang berada di alam bawah sadar sedangkan qalb adalah hal-hal yang disadari
oleh manusia. Karenanya Allah hanya meminta tanggung jawab dari apa yang dilakukan oleh
qalb dan bukan nafs. Sebagaimana terlihat dalam Surat al-Baqarah ayat 225 berikut:

47

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk
bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk
bersumpah) oleh qalbumu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.18
Bagian selanjutnya dari manusia yang bersifat non-materi ialah ruh. Dalam
pembahasan mengenai ruh, Quraish Shihab mengingatkan tentang ayat al-Qur'an yang secara
tegas menyatakan bahwa pengetahuan manusia sangat sedikit mengenai ruh. Yakni Surat alIsra ayat 85:



Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
Kata ruh terulang sebanyak 24 kali dalam al-Qur'an dengan konteks yang beraneka ragam,
tidak hanya menyangkut soal manusia.
Yang terakhir ialah 'aql. Menurut Quraish Shihab, kata 'aql tidak tersebut dalam alQur'an, yang ada adalah bentuk kata kerja masa kini dan lampau. Pengertian mengenai 'aql
ini bisa dipahami dari konteks beberapa ayat. Diantaranya ialah daya untuk memahami dan
menggambarkan sesuatu seperti yang tercantum dalam Surat al-Ankabut ayat 43:





Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang
memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.
'aql sebagai dorongan moral untuk berbuat kebaikan (QS. Al-An'am ayat 151), daya untuk
menangkap bukti-bukti keesaan Allah dalam siklus pergantian siang dan malam (QS. AlBaqarah ayat 164), dan daya untuk mengambil kesimpulan serta hikmah seperti yang
termaktub dalam Surat al-Mulk ayat 10:

18
Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung:
Mizan, 1996) hlm. 286-287.

48

Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengar berakal maka pasti kami tidak termasuk
penghuni neraka".19
Itulah penjelasan mengenai bagian-bagian dari manusia sesuai pandangan Quraish
Shihab. Di sini terlihat bahwa Quraish Shihab mencoba memadukan antara ilmu pengetahuan
dengan al-Qur'an saat berbicara tentang menusia, terutama dalam proses penciptaan dan
proses kejadian manusia. Penjelasan tentang manusia ini akan berimplikasi secara tidak
langsung terhadap pandangan Quraish Shihab mengenai perempuan.
4.2 Perempuan dalam Pandangan M. Quraish Shihab
Berdasarkan hasil wawancara pada hari Selasa, 20 Mei 2014, Quraish Shihab
mengaku bahwa dirinya bersinggungan dengan isu-isu tentang perempuan sejak ia mampu
mengenali kedua orang tuanya. Kemudian hal tersebut semakin dikuatkan setelah ia menikah
dan memiliki empat orang anak perempuan. Quraish Shihab menyadari bahwa ada perbedaan
potensi antara anak lelaki dan anak perempuan. Meski potensi intelektual antara kedua jenis
kelamin ini sama-sama tinggi. Namun, ada hal yang membedakan keduanya dari segi
pembawaan dan perhatian terhadap sesuatu. Pembawaan anak perempuan yang cenderung
memiliki perhatian terhadap hal-hal kecil yang sering diabaikan oleh anak laki-laki, dari segi
ketertarikan terhadap alat permainan pun berbeda antara anak lelaki dan perempuan. Anak
perempuan cenderung suka pada alat permainan yang merefleksikan manusia, seperti boneka.
Sedangkan anak laki-laki tidak suka boneka, malah lebih suka objek di luar manusia seperti
mobil-mobilan.
Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Quraish Shihab tersebut, berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Marianne Githens pada tahun 1983 seperti dikutip oleh
Muhammad Asfar20, terungkap bahwa anak lelaki lebih cenderung tertarik untuk menjadi
pemimpin dibandingkan anak perempuan yang lebih suka terjun ke dunia pendidikan atau
terlibat dalam proses pembuatan keadilan. Anak lelaki memiliki perhatian terhadap isu-isu
ekonomi sedangkan anak perempuan lebih tertarik pada isu-isu perdamaian, kejujuran, dan

19
Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung:
Mizan, 1996) hlm. 292-293.
20
Muhammad Asfar. Wanita dan Politik: Antara Karier dab Jabatan Suami dalam Liza Hadiz, ed.
Perempuan dalam Wacana Politik Orde Baru (Jakarta: LP3ES, 2004) hlm. 405.

49

integritas. Hal ini mencerminkan perbedaan minat yang dimiliki oleh anak lelaki dan
perempuan. Anak lelaki tertarik pada hal-hal berbau kekuasaan, sedangkan anak perempuan
lebih tertarik pada hal-hal yang membawa kedamaian dan sifat-sifat menenangkan.
Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Murtadha Muthahari sebagaimana dikutip
oleh Quraish Shihab bahwa perbedaan minat antara lelaki dan perempuan bisa terjadi karena
kemampuan biologis yang berbeda, paru-paru lelaki lebih banyak menghirup udara
dibandingkan perempuan, maka tak heran laki-laki menyenangi kegiatan yang menuntut
kekuatan fisik. Denyut jantung perempuan yang lebih cepat daripada denyut jantung lelaki,
membuatnya cenderung kepada hal-hal yang bersifat menenangkan dan menentramkan21.
Dari segi seksual, Quraish Shihab mengungkap perbedaan laki-laki dan perempuan
dari hormon dan apa yang dikeluarkan dari dalam tubuh untuk melaksanakan tugas
reproduksi. Wanita mengeluarkan sel telur (ovum) sedangkan pria mengeluarkan air mani
(sperma). Pria mengeluarkan hormon testosterone, sedangkan wanita mengeluarkan hormon
estrogen yang muncul sebelum sel telur keluar sehingga sering disebut sebagai hormon cinta,
dan hormon progesterone yang muncul setelah keluarnya sel telur sehingga progesterone
sering disebut sebagai hormon keibuan22.
Quraish Shihab mengakui bahwa dorongan untuk menulis tentang perempuan berasal
dari apa yang ia serap dari ilmu-ilmu yang ia pelajari, kemudian muncul sebuah gagasan
ketika melihat kondisi riil masyarakat di mana perempuan diperlakukan tidak sejalan dengan
apa yang dikehendaki oleh agama dan budaya23. Seperti yang terlihat dalam buku Wawasan
Al-Qur'an, Quraish Shihab menjabarkan kondisi memprihatinkan perempuan pada masa
Yunani, Romawi, Hindu, Nasrani dan Cina. Kesemua peradaban tersebut menempatkan
perempuan dalam posisi yang sangat rendah, bahkan berada di bawah kekuasaan lelaki yang
memiliki hak untuk memperlakukan perempuan sesuka hati ataupun menjual perempuan
tersebut. Menurut Quraish Shihab, kondisi seperti ini tidak sejalan dengan petunjuk-petunjuk

21
Quraish Shihab. Perempuan: Dari Cinta Sampai Seks dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah dari
Bias Lama sampai Bias Baru (Jakarrta: Lentera Hati, 2005) hlm. 11-12.
22
Quraish Shihab. Pengantin Al-Qur'an: Kalung Permata Buat Anak-anakku (Jakarta: Lentera Hati,
2010) hlm. 15.
23

Wawancara dengan Quraish Shihab.

50

Al-Qur'an tentang perempuan24. Dan kondisi-kondisi ini masih sering ditemui dalam
kehidupan modern di masa kini.
Dalam bukunya yang berjudul Perempuan, Quraish Shihab menguraikan secara
gamblang bagaimana seorang perempuan memiliki peranan penting dalam kehidupan seorang
lelaki. Bahkan dalam memunculkan peradaban, perempuan merupakan tonggak utama, karena
dari perempuanlah lahir para pembaharu-pembaharu yang membawa perubahan dan
kecemerlangan zaman. Quraish Shihab menegaskan bahwa perempuanlah yang memiliki
peranan besar dalam pembentukan watak seorang manusia, sejak ia mengandung, melahirkan
dan membesarkannya25. Oleh sebab itu, perempuan yang terdidik dengan baik tentunya akan
menghasilkan manusia-manusia yang lebih berkualitas dibandingkan dengan perempuan yang
tidak memperoleh pendidikan layak. Pendidikan layak di sini mencakup pendidikan formal
dan pendidikan informal, sebagai bekal seorang perempuan untuk mengajar dan mendidik
anaknya kelak. Bagaimana bisa seorang ibu mendidik anak-anaknya jika ia sendiri tidak
memiliki pengetahuan mengenai pendidikan yang baik?26 Di sini Quraish Shihab menyatakan
bahwa fungsi perempuan adalah untuk mendidik generasi penerus bangsa, dan juga menjadi
pemimpin bagi anak-anaknya. Dan fungsi ini amat penting bagi kelangsungan keluarga
Pendapat ini hampir mirip dengan apa yang disebut oleh Radcliffe Brown sebagai
fungsi struktural. Wanita memiliki fungsi yang harus dilihat dari struktur masyarakat di mana
wanita itu berada. Wanita menjadi pusat kehidupan dalam berbagai kelompok dan suku
bangsa di dunia untuk mempertahankan silsilah keluarga, agar tidak terjadi inses dan tabutabu yang dilanggar. Peranan ini hanya bisa dilakukan oleh wanita agar keharmonisan dalam
kehidupan masyarakat bisa tercapai. Bertolak belakang dengan C. Levi Strauss yang
menyatakan bahwa fungsi wanita (perempuan) adalah untuk memperluas dan memperkuat
jaringan antar kelompok di dunia dengan metode pertukaran perempuan melalui lembaga
perkawinan. Dengan adanya pertukaran ini, komunikasi antar suku bangsa bisa terus terjalin
melalui pertukaran ini. Levi Strauss menempatkan wanita sebagai komoditi berharga dalam
24
Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung:
Mizan, 1996) hlm. 293-295.
25
Quraish Shihab. Perempuan: Dari Cinta Sampai Seks dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah dari
Bias Lama sampai Bias Baru (Jakarrta: Lentera Hati, 2005) hlm. 279.
26

Wawancara dengan Quraish Shihab.

51

penyatuan kelompok dan suku bangsa yang berbeda-beda27. Apa yang diungkapkan oleh
Strauss tidak dibahas oleh Quraish Shihab, bisa jadi karena dirinya tak pernah bersentuhan
dengan isu-isu tersebut. Quraish Shihab menempatkan perempuan dalam posisi penting dalam
rumah tangga. Posisi ini tidak bisa digantikan oleh lelaki, karena kemampuan untuk
mengingat hal detil yang dimiliki oleh perempuan membuatnya memiliki keunggulan dalam
mengurus rumah tangga dibandingkan lelaki.
Quraish Shihab menolak pendapat yang menyatakan bahwa perempuan tercipta dari
tulang rusuk lelaki. Menurutnya, anggapan tersebut berasal dari pembacaan terhadap kitab
Perjanjian Lama. Adapun hadits yang menyatakan bahwa perempuan terbuat dari tulang rusuk
yang bengkok, Quraish Shihab lebih memaknai hadits ini sebagai metafora atau kiasan.
Bahwa perempuan terbuat dari tulang rusuk yang bengkok mengindikasikan seruan kepada
para lelaki agar mereka bersikap bijaksana dalam menghadapi perempuan, karena ada
kecenderungan-kecenderungan dari sifat perempuan yang sama sekali berbeda dengan lelaki.
Jika tidak disikapi dengan bijaksana, kecenderungan ini bisa menyebabkan perpecahan antara
lelaki dengan perempuan28. Quraish Shihab juga tidak sependapat dengan pandangan yang
menganggap perempuan sebagai penyebab manusia pertama terusir dari surga sehingga lelaki
harus menderita di bumi karena ulah perempuan seperti yang ada dalam ajaran agama Kristen,
menurut Quraish Shihab tujuan penciptaan Adam dan Hawa memanglah untuk dijadikan
khalifah di muka bumi. Justru kisah Adam dan Hawa menjadi pelajaran bahwa akan selalu
ada makhluk yang menggoda manusia untuk melanggar perintah Tuhan, yakni Iblis29.
Quraish Shihab menjabarkan suatu proses biologis yang terjadi ketika sperma
membuahi sel telur, di mana sel kromosom lelaki bertemu dengan sel kromosom perempuan.
Ada 23 kromosom yang dimiliki oleh sel telur dan 23 kromosom di sperma. Sperma
membawa kromosom XY sebagai pembawa gen jenis kelamin sedangkan sel telur membawa
kromosom XX. Jika saat pembuahan kromosom X dan X yang bertemu, maka anak yang lahir
akan berjenis kelamin perempuan. Sedangkan jika kromosom yang bertemu adalah X dan Y,
27
Kartini Sjahrir. Wanita: Beberapa Catatan Antropologis dalam Liza Hadiz, ed. Perempuan dalam
Wacana Politik Orde Baru (Jakarta: LP3ES, 2004) hlm. 64.
28
Quraish Shihab. Perempuan: Dari Cinta Sampai Seks dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah dari
Bias Lama sampai Bias Baru (Jakarta: Lentera Hati, 2005) hlm. 43-44.
29
Quraish Shihab. M. Quraish Shihab Menjawab: 101 Soal Perempuan yang Patut Anda Ketahui
(Jakarta: Lentera Hati, 2010) hlm. 62

52

maka anak yang lahir adalah lelaki. Demikianlah Quraish Shihab menjelaskan secara biologis
proses penciptaan manusia. Ini menjadi bukti bahwa tak ada seorang pun manusia yang bisa
memilih apakah ia akan terlahir sebagai perempuan atau lelaki, karena hal itu berada di luar
kekuasaannya30. Allah- lah yang menentukan saat terjadinya pembuahan apakah kromosom X
dan X yang bertemu ataukah kromosom X dan Y. Pastinya ketentuan ini diciptakan Allah
sebagai hal yang terbaik untuk manusia, jika ada yang menyesal dengan jenis kelamin yang
dimilikinya saat ini, maka orang tersebut bisa dikategorikan sebagai orang yang kufur atas
nikmat Allah. Selanjutnya Quraish Shihab juga menegaskan bahwa hanya Adam dan Hawa
sajalah manusia yang tak tercipta dari percampuran ayah dan Ibu. Sedangkan manusiamanusia lain lahir dari persatuan antara lelaki dan perempuan, pertemuan sel sperma dan sel
telur. Jadi tak ada manusia yang melebihi manusia lainnya, karena semua mengalami proses
penciptaan yang sama. Jika ada golongan manusia yang merasa lebih tinggi dibandingkan
golongan manusia lainnya, hal ini tidak dapat dibenarkan. Ditegaskan dalam Al-Quran:








Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah
orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal. ( Al Hujurat Ayat 13)
Menurut hemat penulis, ayat ini mengungkapkan secara gamblang bahwa ketakwaaan
menjadi tolak ukur seorang manusia bisa menjadi lebih mulia dari manusia lainnya, dan yang
bisa menilai ketakwaan ini hanyalah Allah SWT. Maka tak ada alasan bagi seorang manusia
untuk merasa lebih tinggi dari manusia lainnya. Demikian pula dalam relasi antara perempuan
dengan lelaki. Meski kondisi budaya membuat posisi lelaki seakan lebih superior dari
perempuan, seharusnya kehadiran Islam bisa membuat relasi yang timpang ini menjadi lebih
seimbang dengan pembagian peran yang adil antara lelaki dengan perempuan. Seorang

30
Quraish Shihab. Perempuan: Dari Cinta Sampai Seks dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah dari
Bias Lama sampai Bias Baru (Jakarta: Lentera Hati, 2005) hlm. 8.

53

perempuan bisa saja melebihi seorang lelaki dalam derajat ketakwaan, contohnya Rabiah alAdawiyah, seorang perempuan mulia kekasih Allah. Tingkat ketakwaannya melebihi para
lelaki di masanya. Demikian pula seorang lelaki juga bisa mencapai derajat kemuliaan yang
tinggi dengan mendekatkan diri kepada Allah.
Perempuan dengan laki-laki diciptakan untuk saling melengkapi, jika hanya ada satu
jenis kelamin di dunia ini, tentu dunia ini akan sangat membosankan. Ras manusia pun akan
segera punah karena fungsi reproduksi manusia tidak akan berguna tanpa jenis kelamin
lainnya. Oleh karena itu, saling menghargai antar sesama manusia sangat dianjurkan dalam
Islam. Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan bisa hidup tanpa manusia lainnya. Seorang
lelaki takkan bisa hidup sendirian di dunia ini tanpa ada perempuan yang mendampinginya,
demikian pula sebaliknya, perempuan tidak akan bisa hidup tanpa ada lelaki yang melindungi
dan mencintainya.
Dalam persoalan para perempuan yang bekerja di luar rumah, Quraish Shihab
mengatakan bahwa kondisi sosial ekonomi saat ini memang menuntut peran aktif dari kaum
perempuan untuk ikut mencari penghasilan demi membantu suami. Selain itu, perempuan
sebagai anggota dari masyarakat juga dituntut untuk terlibat dalam berbagai peran
membangun bangsa dan negara. Bisa jadi peran ini dulu tak dilakukan oleh ibu atau nenek
kita, namun dengan semakin terbukanya akses dan kondisi yang dialami oleh umat manusia
masa kini membutuhkan uluran tangan perempuan untuk ikut membantu pembangunan
kesejahteraan di segala bidang31. Syaikh Mahmud Syaltut sebagaimana yang dikutip oleh
Quraish Shihab mengatakan bahwa Allah telah menganugerahkan potensi yang cukup kepada
laki-laki dan perempuan untuk mengemban tanggung jawab kemanusiaan. Karenanya tugas
kemanusiaan bukan hanya milik lelaki tapi juga perempuan32.
Quraish Shihab pun setuju jika seorang lelaki juga dituntut untuk bisa melakukan
pekerjaan rumah tangga, demi menjaga keharmonisan keluarga. Bahkan Nabi SAW sendiri
juga membantu istrinya melakukan pekerjaan rumah tangga. Bagi Quraish Shihab, sudah
bukan masanya lagi perempuan dihijab di dalam rumah. Potensi yang dimiliki oleh
31
Quraish Shihab. Perempuan: Dari Cinta Sampai Seks dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah dari
Bias Lama sampai Bias Baru (Jakarta: Lentera Hati, 2005) hlm. 3.
32
Quraish Shihab. Perempuan: Dari Cinta Sampai Seks dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah dari
Bias Lama sampai Bias Baru (Jakarta: Lentera Hati, 2005) hlm. 7.

54

perempuan bisa menjadi tumpul jika ia dipaksa untuk tetap di dalam rumah tanpa bisa
mengaktualisasikan dirinya dalam panggung kehidupan33.
4.2 Pandangan M. Quraish Shihab tentang Kepemimpinan Perempuan dalam
Islam
Quraish Shihab memandang kepemimpinan sebagai sebuah tugas pokok manusia sejak
ia dilahirkan. Semua manusia adalah pemimpin, minimal ia harus bisa memimpin dirinya
sendiri. Beberapa ciri kepemimpinan yang diungkapkan oleh Quraish Shihab:

Seorang pemimpin harus tahu apa tugas yang diembannya

Seorang pemimpin wajib memiliki pengetahuan atas apa yang dipimpinnya

Seorang pemimpin tidak boleh emosional

Seorang pemimpin harus bisa memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin


orang lain

Seorang pemimpin harus mencintai apa yang dipimpinnya34.

Quraish Shihab mengutip ayat dalam al-Qur'an yang menurutnya bisa menjadi rujukan
dalam mengetahui sifat-sifat seorang pemimpin. Yakni Surat al-Baqarah ayat 124:






Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan
larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan
menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari
keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".35
Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim dijanjikan Allah untuk dijadikan pemimpin
(imam) bagi manusia, kemudian ketika Nabi Ibrahim AS memohon agar anaknya dijadikan
33

Wawancara dengan Quraish Shihab.

34

Wawancara dengan Quraish Shihab.

35
Quraish Shihab. Membumikan Al Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat
(Bandung: Mizan, 1992) hlm. 189.

55

pemimpin seperti dirinya. Allah memberikan syarat bahwa Dia akan menjadikan keturunan
Nabi Ibrahim sebagai pemimpin dengan syarat bahwa keturunannya bukanlah orang-orang
yang berbuat zalim. Keadilan adalah lawan dari kezaliman. Karenanya, seorang pemimpin
haruslah orang yang dapat bersikap adil terhadap diri, keluarga, sesama manusia, lingkungan
dan juga adil memberikan hak Allah36.
Quraish Shihab menyatakan bahwa al-Qur'an menyebut kepemimpinan sebagai
imamah. Sehingga ia merujuk kepada ayat-ayat yang menyebut tentang imam atau imamah.
Ada beberapa ayat al-Qur'an yang mengandung kata imam atau imamah, namun tak
semuanya bicara tentang sifat-sifat terpuji dari kepemimpinan. Quraish Shihab memilih Surat
al-Anbiya ayat 73 dan Surat as-Sajdah ayat 24 untuk mendapatkan penjelasan mengenai sifatsifat terpuji pemimpin dalam al-Qur'an.
Surat al-Anbiya ayat 73:

(






Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk
dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan,
mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu
menyembah,
Surat as-Sajdah ayat 24:





Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan
perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.
Quraish Shihab menggabungkan kedua ayat tersebut untuk mendapatkan gambaran lima sifat
terpuji yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Yaitu yahduna bi amrina (pemimpin
harus memberi petunjuk kepada pengikutnya sesuai dengan perintah dari Allah), wa awhayna

36
Quraish Shihab. Membumikan Al Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat
(Bandung: Mizan, 1992) hlm. 190.

56

dayhim fi'la al-khairat ( pemimpin yang telah menerima wahyu dari Allah harus menyeru
kepada pengikutnya untuk berbuat kebajikan), 'abidin (pemimpin yang baik adalah pemimpin
yang taat beribadah termasuk shalat dan zakat), yuqinun (meyakini ayat-ayat Allah), dan
shabaru (sabar dan tekun)37.
Dari kelima sifat tersebut, Quraish Shihab menyatakan bahwa al-shabar (ketekunan
dan kesabaran) dijadikan Tuhan sebagai konsideran pengangkatan seorang manusia menjadi
pemimpin bagi manusia lainnya. Seolah sifat inilah yang utama ada dalam diri seorang
pemimpin, sedangkan sifat-sifat lainnya menggambarkan karakter mental dan prilaku dalam
keseharian seorang pemimpin. Seorang pemimpin haruslah bisa membawa pengikutnya ke
dalam kebahagiaan dna kesejahteraan. Dengan kata lain, seorang khalifah haruslah memiliki
sifat-sifat terpuji yang sudah melekat dalam dirinya dan tercermin dalam prilaku serta tutur
katanya sehingga bisa menunjukkan jalan kebahagiaan bagi mereka yang dipimpinnya38.
Lebih lanjut, Quraish Shihab juga menjelaskan tugas-tugas seorang pemimpin dengan
merujuk kepada surat al Hajj ayat 41:









(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya
mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah
dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
Mendirikan shalat merupakan bukti kedekatan hubungan antara hamba dengan Allah, zakat
adalah manifestasi dari harmonisnya hubungan antar sesama manusia, sedangkan amar ma'ruf
nahyi munkar adalah menyeru kepada hal-hal yang dianggap baik oleh akal, agama dan
budaya serta mencegah sesuatu buruk menurut agama, akal dan budaya. Dari hal-hal yang
tertera dalam ayat di atas, maka tugas seorang pemimpin adalah menciptakan hubungan

37
Quraish Shihab. Membumikan Al Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat
(Bandung: Mizan, 1992) hlm. 191.
38
Quraish Shihab. Membumikan Al Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat
(Bandung: Mizan, 1992) hlm. 192-193.

57

masyarakat dengan Allah menjadi harmonis, kehidupan sosial kemasyarakatan berlangsung


baik, serta agama, akal dan budayanya terpelihara39.
Quran Surah An Nisa ayat 34 yang berbunyi :





Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena
mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.
Ayat ini dipahami Quraish Shihab dalam konteks rumah tangga. Yaitu bahwa lelaki adalah
yang paling berhak menjadi pemimpin dalam rumah tangga karena kewajibannya memberi
nafkah kepada keluarganya. Hal ini dikatakan oleh Quraish Shihab sebagai imbalan atas kerja
kerasnya menafkahi keluarga, maka sudah seharusnya lelaki menjadi pemimpin. Meski dia
juga tak menutup kemungkinan bahwa dalam keadaan-keadaan tertentu perempuan bisa saja
menjadi pemimpin dalam rumah tangga. Contohnya jika lelaki sebagai suami tidak bisa
memberi nafkah karena cacat atau sakit keras. Di luar hal tersebut laki-lakilah yang harus
memimpin di rumah tangga, karena ia bertanggungjawab memberi nafkah dan melindungi
keluarganya40.

Lelaki membutuhkan istri, dan dia berkewajiban menafkahinya

sedangkan perempuan juga membutuhkan suami namun ia tak wajib menafkahi justru dialah
yang kebutuhannya harus dipenuhi oleh suami. Inilah yang menurut Quraish Shihab sebagai
alasan logis kepemimpinan laki-laki di dalam rumah tangga41.
Quraish Shihab menuturkan bahwa seseorang yang melaksanakan tugas dinamakan
qa'im, bila tugas itu dilaksanakan dengan sempurna, berkesinambungan dan berulang-ulang
maka dia dianamakan qawwam. Kata qawwam ini sering diterjemahkan sebagai pemimpin,
meski tidak menggambarkan keseluruhan makna yang dikehendaki dalam kata qawwam. Di
sini, Quraish Shihab mengartikan kepemimpinan sebagai pemenuhan kebutuhan, perhatian,
pemeliharaan, pembelaan dan pembinaan. Maka dari itu, menurut Quraish Shihab perlu
digarisbawahi bahwa qawwamah atau kepemimpinan yang dianugerahkan Allah kepada
39
Quraish Shihab. Membumikan Al Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat
(Bandung: Mizan, 1992) hlm. 193.
40

Wawancara dengan Quraish Shihab.

41
Quraish Shihab. M. Quraish Shihab Menjawab: 101 Soal Perempuan yang Patut Anda Ketahui
(Jakarta: Lentera Hati, 2010) hlm. 17.

58

suami tidak boleh membuatnya berlaku sewenang-wenang terhadap istri. Lebih jauh Quraish
Shihab menyimpulkan bahwa kepemimpinan suami atas istri adalah suatu kelebihan yang
dimiliki suami namun juga mengandung tanggung jawab besar.42.
Di samping itu, Quraish Shihab juga menyatakan bahwa kepemimpinan adalah sebuah
kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain agar ia mengarah secara sadar dan sukarela ke
tujuan yang hendak dicapai. Kemampuan mempengaruhi ini bisa dilakukan oleh siapapun,
termasuk perempuan. Perempuan sesungguhnya juga bisa menjadi pemimpin dalam rumah
tangga secara tidak langsung ketika ia bisa mempengaruhi keputusan sang suami melalui
musyawarah yang menyangkut kepentingan keluarga. Oleh sebab itu, Quraish Shihab
menganjurkan kepada para perempuan agar terus memperbaiki kualitas dirinya dengan terus
belajar supaya bisa mempengaruhi lelaki dengan argumentasi yang logis dan ilmiah.
Perempuan yang seperti ini akan menjadi bintang dalam rumah tangganya, baik bagi suami
maupun anak-anaknya, karena ia memiliki kekuatan argumentasi logis yang bisa
mempengaruhi keputusan yang diambil suami dan perasaan halus untuk mengasihi
keluarganya. Mengenai kepemimpinan perempuan, Quraish Shihab tidak menentang jika
seorang perempuan memang memiliki kemampuan untuk memimpin. Maka dari itu, sah-sah
saja jika perempuan tersebut menjadi pimpinan sebuah komunitas atau kelompok, dengan
syarat bahwa tugas pokoknya yakni memberikan kasih sayang kepada anak dan mendampingi
suami tidak terabaikan43.
Quraish Shihab menolak pendapat yang menjadikan ayat ini dalil untuk menghalangi
perempuan menjadi pemimpin. Karena baginya, jelas tercantum di lanjutan ayat tersebut yang
berbunyi:

....
dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

42
Quraish Shihab. Pengantin Al Qur'an: Kalung Permata Buat Anak-Anakku (Jakarta: Lentera Hati,
2007) hlm. 147-148.
43
Quraish Shihab. Perempuan: Dari Cinta Sampai Seks dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah dari
Bias Lama sampai Bias Baru (Jakarta: Lentera Hati, 2005) hlm. 370-372.

59

Ayat ini berbicara dalam konteks rumah tangga. Bukan dalam konteks lain. Di luar rumah
tangga, Quraish Shihab membolehkan perempuan menjadi pemimpin bagi sesama perempuan
ataupun laki-laki. Dengan catatan bahwa perempuan tersebut tidak meninggalkan tugas
pokoknya untuk mendidik dan merawat seorang anak dengan penuh kasih sayang. Quraish
Shihab tidak menyatakan secara langsung bahwa tugas perempuan adalah di dalam rumah
tangga, tapi ia selalu menegaskan bahwa mendidik dan memberi kasih sayang terhadap anakanak adalah tugas utama perempuan44. Dalam hal mengenai tugas pokok ini, Quraish Shihab
berpegang pada surat al-Ahzab ayat 33:













dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan
taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa
dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
Dalam menafsirkan ayat ini, Quraish Shihab tidak sependapat dengan Ibnu Katsir melarang
perempuan keluar rumah kecuali dalam keadaan darurat. Quraish Shihab lebih memaknai ayat
ini sebagai sebuah pembagian kerja antara lelaki dan perempuan dengan menitikberatkan
penugasan perempuan dalam urusan rumah tangga sebagai tugas pokoknya. Quraish Shihab
juga menguti Sayyid Quthb yang menyatakan bahwa kata waqarna dalam ayat ini bermakna
berart, mantap,dan menetap, namun bukan berarti melarang perempuan keluar rumah. Hanya
saja, ayat ini mengisyaratkan bahwa tugas pokok perempuan adalah di dalam rumah tangga,
sedangkan di luar rumah tangga adalah bukan tugas pokoknya. Adapun pembagian tugas
untuk lelaki didasarkan pada Surat al-Jumu'ah ayat 10:





Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah
karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

44

Wawancara dengan Quraish Shihab.

60

Ayat ini menjadi penegasan bahwa lelaki memang bertugas di luar rumah untuk mencari
nafkah, mereka juga diwajibkan untuk melaksanakan shalat Jum'at di Masjid. Sedangkan
perempuan tidak diwajibkan untuk shalat di masjid. Malah dianjurkan untuk tetap diam di
dalam rumah45.
Laki-laki dan perempuan masing-masing mempunyai kelebihan yang membuat mereka
bisa saling melengkapi. Laki-laki tegas, rasional dan kuat. Sedangkan perempuan memiliki
sifat keibuan dan kasih sayang yang tanpa batas. Dalam hal kelebihan yang dimiliki oleh
kedua jenis kelamin ini, menurut Quraish Shihab kelebihan yang dipunyai laki-laki lebih
cocok untuk menjadi pemimpin dalam rumah tangga dibandingkan perempuan. Hal ini
disebabkan oleh perempuan yang mengalami siklus menstruasi setiap bulan yang
mempengaruhi kondisi mental dan kejiwaan perempuan. Perempuan menjadi lebih emosional
dan cepat tersinggung saat sedang datang bulan, oleh karena itu ia tidak bisa menjadi
pemimpin dalam rumah tangga. Merujuk pada bahasan sebelumnya bahwa pemimpin tidak
boleh emosional, maka Quraish Shihab menggarisbawahi siklus menstruasi yang dialami oleh
perempuan sebagai sebab mereka tidak bisa menjadi pemimpin dalam rumah tangga46.
Di sisi lain, Quraish Shihab menentang pandangan yang menganggap keadaan biologis
perempuan seperti menstruasi, melahirkan dan menyusui sebagai halangan untuk mereka
terlibat aktif dalam politik praktis. Laki-laki juga ada yang sakit dan tak mampu
melaksanakan tugas-tugas politik, namun hal ini tidak dijadikan alasan untuk melarang lakilaki terjun ke politik. Maka, seharusnya perempuan juga tak dilarang untuk berpolitik karena
di antara mereka ada yang sudah berhenti siklus menstruasinya, dan juga tak memiliki anakanak yang harus diasuh sehingga tak menghalangi tugas-tugas kepemimpinan yang mereka
emban47.
Quraish Shihab berpegang teguh pada pendapatnya bahwa QS. An-Nisa ayat 34 adalah
persoalan kepemimpinan dalam rumah tangga. Dengan beberapa rasionalisasi yang ia berikan
seperti rasionalitas laki-laki yang lebih kuat dibanding perempuan, dan siklus menstruasi
45
Quraish Shihab. Membongkar Hadits-Hadits Bias Gender dalam Shafiq Hisyam, ed. Kepemimpinan
Perempuan dalam Islam (Jakarta: JPRR, 1999) hlm. 30.
46

Wawancara dengan Quraish Shihab.

47
Quraish Shihab. Perempuan: Dari Cinta Sampai Seks dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah dari
Bias Lama sampai Bias Baru (Jakarta: Lentera Hati, 2005) hlm. 380.

61

perempuan yang mempengaruhi kestabilan emosi perempuan menjadikan laki-laki lebih layak
memimpin. Kemudian, setelah menegaskan hal ini Quraish Shihab menyatakan bahwa pada
prinsipnya siapa yang memiliki kecakapan dan kemampuan dalam memimpin maka dialah
yang wajar memimpin. Di dalam rumah tangga, kemampuan ini dianggap dimiliki oleh lakilaki. Di luar rumah tangga, perempuan boleh menjadi pemimpin selama ia mampu48.
Di sini kita dapat mengetahui pandangan yang berbeda dari Quraish Shihab mengenai
persoalan kepemimpinan perempuan di dalam dan di luar rumah tangga. Di satu sisi, ia
mengatakan siklus bulanan perempuan menyebabkan ia tidak bisa jadi pemimpin di rumah
tangga, namun di sisi lainnya ia mengatakan bahwa siklus tersebut tidak boleh dijadikan
alasan untuk menghalangi perempuan menjadi pemimpin di ruang publik. Ini memperlihatkan
bahwa Quraish Shihab tidak menyetujui jika perempuan menjadi pemimpin dalam rumah
tangga, dan baginya laki-lakilah yang paling berhak menjadi pemimpin dalam keluarga. Dia
memberikan rasionalisasi bahwa tidak ada satupun lelaki di dunia yang mau diketahui oleh
masyarakat luas bahwa ia dinafkahi oleh istrinya, demikian pula perempuan, tidak ada
seorang perempuan pun yang akan merasa bangga jika diketahui oleh masyarakat luas bahwa
dirinya yang menafkahi suami dan keluarganya49. Persoalan nafkah keluarga menjadi hal
penting yang menentukan siapa yang berhak menjadi pemimpin keluarga. Quraish Shihab
ingin mengatakan bahwa secara kodrati perempuan lebih nyaman berada dalam perlindungan
lelaki dan kebutuhan hidupnya dicukupi oleh lelaki, kodrat inilah yang membuat perempuan
lebih suka dipimpin oleh lelaki dibandingkan menjadi pemimpin50.
Quraish Shihab menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama
untuk aktif di dalam politik praktis, pun juga memiliki hak untuk menjadi seorang pemimpin.
Dia mengutip Surat At-Taubah ayat 71:














48
Quraish Shihab. M. Quraish Shihab Menjawab: 101 Soal Perempuan yang Patut Anda Ketahui
(Jakarta: Lentera Hati, 2010) hlm. 197-198.
49
Naqiyah Mukhtar. Kepala Negara Perempuan Muslimah: Analisis Wacana Terhdapa Tafsir Quraish
Shihab. dalam Komunika: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol. 5 No. 2 STAIN Purwokerto tahun 2011.
50

Wawancara dengan Quraish Shihab.

62

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah)
menjadi auliya bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf,
mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada
Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Quraish Shihab mengartikan kata auliya sebagai suatu bentuk kerjasama, bantuan, dan
penguasaan. Sedangan menyuruh yang maruf berarti menyeru kepada kebaikan, termasuk
juga memberikan nasihat atau kritik kepada penguasa/pemimpin51. Hal ini bisa dilakukan oleh
lelaki mau pun perempuan. Bahkan Rasulullah SAW pun menerima baiat dari kaum
perempuan yang merupakan salah satu elemen politis pada masa itu, dan Aisyah RA istri
Rasullah sendiri terjun langsung memimpin pasukan pada Perang Jamal, ini membuktikan
bahwa Aisyah sendiri dan para pengikutnya tidak melarang kepemimpinan perempuan52.
Mengenai hak keterlibatan perempuan dalam politik praktis tercantum dalam surat alBaqarah ayat 228:


Dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara
yang ma'ruf
Quraish Shihab menggaris-bawahi kata hak di sini termasuk juga hak dalam berpolitik.
Kata hak yang mendahului kewajiban bermakna bahwa di samping kewajiban-kewajiban
yang dibebankan kepadanya, perempuan juga memiliki hak yang terlebih dahulu harus
dipenuhi sebelum ia mampu melaksanakan kewajibannya53. Hak itu antara lain memperoleh
pendidikan, pemeliharaan dan perlindungan, serta hak untuk berperan serta dalam politik.
4.3 Tinjauan Kritis Pemikiran Quraish Shihab
Dalam hal mempersepsikan perempuan, Quraish Shihab nampaknya sepakat dengan Carol
Gilligan sebagaimana dikutip oleh Ritzer, menyatakan bahwa wanita bekerja dari metode

51
Quraish Shihab. Perempuan: Dari Cinta Sampai Seks dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah dari
Bias Lama sampai Bias Baru (Jakarta: Lentera Hati, 2005) hlm. 381.
52
Quraish Shihab. Membongkar Hadits-Hadits Bias Gender dalam Shafiq Hisyam, ed. Kepemimpinan
Perempuan dalam Islam (Jakarta: JPRR, 1999) hlm. 28.
53
Quraish Shihab. Perempuan: Dari Cinta Sampai Seks dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah dari
Bias Lama sampai Bias Baru (Jakarta: Lentera Hati, 2005) hlm. 122.

63

penalaran moral yang berbeda dengan pria. Gilligan membedakan dua gaya etis yang ia sebut
sebagai etika kepedulian yang memfokuskan pada pencapaian hasil ketika semua pihak
merasa kebutuhannya ditanggapi dan diperhatikan. Hal ini merupakan fokus seorang
perempuan yang biasa bekerja dalam rumah tangga yang berusaha memenuhi semua
kebutuhan suami dan anak-anaknya. Dan etika keadilan yang bersifat lelaki di mana etika ini
memfokuskan pada tercapainya perlindungan hak-hak yang sama bagi semua kalangan54.
Quraish Shihab sendiri menyatakan bahwa kasih seorang ibu itu tiada batasnya, meski
anaknya telah durhaka maka seorang ibu tetap saja akan memaafkan. Berbeda dengan seorang
ayah yang takkan lagi mau peduli dengan anaknya jika anaknya tersebut telah
mendurhakainya55. Hal ini bisa dilihat dalam konteks etika keadilan yang diungkapkan
Gilligan, di mana lelaki memfokuskan pada tercapainya hak dan kewajiban. Contohnya,
ketika anak berbuat kesalahan, maka pasti akan mendapat hukuman dari sang ayah, demi
tegaknya keadilan, dan tercapainya hak sang ayah untuk mendidik sang anak melalui metode
hukuman. Sedangkan sang ibu lebih mudah untuk memaafkan kesalahan anaknya karena sang
ibu lebih memperhatikan si anak yang membutuhkan perlindungan dari kemarahan ayahnya.
Pendapat Quraish Shihab tentang penciptaan wanita dari tulang rusuk berasal dari Kitab
Perjanjian Lama, diamini oleh Nasaruddin Umar. Nasaruddin Umar menuliskan berbagai
bentuk kosakata yang dipakai al-Quran dalam menyebut penciptaan manusia. Seperti al-maa
yang berarti air, dan al-ardh yang bermakna tanah atau bumi56, serta beberapa kosakata lain
yang bermakna tanah liat atau air mani. Kesemua kosa kata yang dipakai al-Quran tersebut
tidak ada yang berkonotasi dengan kata yang bermakna tulang rusuk57. Bahkan dia mengutip
ucapan yang dikemukakan oleh Rasyid Ridha yang menyatakan bahwa jika saja tidak ada
kisah tentang Adam dan Hawa di dalam Kitab Perjanjian Lama, maka pemikiran tentang
perempuan yang terbuat dari tulang rusuk lelaki tidak akan pernah terlintas dalam pikiran
umat muslim58. Nasaruddin Umar juga sepakat dengan Quraish Shihab ketika membicarakan
54
George Ritzer. Teori Sosiologi: Dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Terakhir Postmodern
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012) hlm. 787.
55

Wawancara dengan Quraish Shihab.

56

Nasarudin Umar. Paradigma Baru Teologi Perempuan (Jakarta: Fikahati Aneska, 2000) hlm. 26-27.

57

Nasarudin Umar. Paradigma Baru Teologi Perempuan (Jakarta: Fikahati Aneska, 2000) hlm. 31.

58

Nasarudin Umar. Kodrat Perempuan dalam Islam (Jakarta: Fikahati Aneska, 2000) hlm. 35.

64

mengenai hadits yang menyebutkan bahwa perempuan terbuat dari tulang rusuk yang
bengkok hanya sebagai kiasan semata. Dia menegaskan dengan fakta sejarah bahwa banyak
orang yang masuk Islam dulunya adalah penganut setia ajaran Kristen atau Yahudi. Dan
ketika masuk Islam, banyak dari apa yang pernah dipelajari dalam agama-agama tersebut
tidak ditinggalkan. Apalagi antara agama Islam dengan Kristen dan Yahudi terdapat beberapa
persamaan. Maka tak heran jika kemudian banyak cerita-cerita Israiliyat yang masuk dalam
tradisi umat muslim.
Quraish Shihab mengakui bahwa perempuan terkadang memiliki potensi kecerdasan
melebihi lelaki, contohnya dalam mengingat hal-hal kecil. Kelebihan ini bertolak belakang
dengan apa yang diungkapkan oleh James Brown, yang menganggap bahwa kemampuan
reproduksi perempuan sebagai kekurangan dan kelemahan yang dimilikinya. Bagi James
Brown, pekerjaan rumah tangga yang dilakukan para perempuan adalah pekerjaan yang
membosankan dan bisa menumpulkan otak. Brown merasa bahwa pekerjaan rumah tangga
yang dilakukan oleh perempuan hanya membutuhkan keterampilan dan tidak memerlukan
otak. Pendapat Brown ini didasarkan pada pemikiran masyarakat Eropa yang menganggap
perempuan paling banyak menghabiskan waktunya untuk mengurus rumah tangga, pekerjaan
yang dianggap tak memerlukan otak, hanya butuh keterampilan untuk melakukannya. Seperti
halnya yang terjadi di Meksiko dan Brazil, ditunjukkan oleh Arizpe bahwa rendahnya status
wanita adalah sebuah konsekuensi logis dari proses industrialisasi. Keberadaan perempuan
hanya didasarkan pada keberadaan tenaga kerja perempuan di pabrik yang relatif sedikit,
sedangkan peran serta perempuan di sektor pertanian dan perdagangan dalam lingkup mikro
tidak di hitung. Akibat dari anggapan ini, konsep domestifikasi perempuan semakin
menguat.59
Dalam menanggapi domestifikasi perempuan, Quraish Shihab menyatakan bahwa hal
tersebut tidak sepatutnya dilakukan. Perempuan boleh saja ikut bekerja membantu suaminya
mencari nafkah, dikarenakan tuntutan ekonomi semakin tinggi. Dengan catatan bahwa
perempuan tersebut tidak meninggalkan kewajibannya untuk memberi pengasuhan dan
pendidikan kepada anak-anak. Quraish Shihab juga tak setuju jika perempuan dikurung di
rumah, kecuali perempuan-perempuan yang dikhawatirkan akan berbuat kerusakan jika keluar
59
Kartini Sjahrir. Wanita: Beberapa Catatan Antropologis dalam Liza Hadiz, ed. Perempuan dalam
Wacana Politik Orde Baru (Jakarta: LP3ES, 2004) hlm. 61.

65

rumah. Dari pernyataan ini dapat dilihat bahwa seorang perempuan muslimah yang ideal
dalam pandangan Quraish Shihab adalah mereka yang tak meninggalkan kewajiban mengasuh
anak-anak walau sesibuk apa pun mereka, meski Quraish Shihab juga mengakui peran penting
ayah dalam pendidikan karakter seorang anak. Namun dengan mengatakan bahwa perempuan
memiliki kasih sayang yang tanpa batas, Quraish Shihab seolah ingin mengatakan bahwa
tugas ini lebih banyak dibebankan kepada perempuan daripada lelaki. Ungkapannya yang
mengatakan bahwa perempuan butuh anak dan takkan sempurna tanpa seorang anak,
mengindikasikan sebuah pesan bahwa perempuan tak boleh meninggalkan pengasuhan
terhadap anak-anaknya. Bukankah anak-anak tersebut adalah sebab kesempurnaan seorang
perempuan? Maka, karena anak adalah sumber kesempurnaan diri seorang perempuan, maka
pengasuhan yang baik tak boleh diabaikan oleh si perempuan itu sendiri60.
Seperti yang telah dipaparkan pada sub-bab sebelumnya, Quraish Shihab mendukung
hak perempuan untuk terjun di bidang politik. Karena hak berpolitik merupakan salah satu
aspek dalam hak asasi manusia yang dimiliki oleh setiap indvidu sejak ia dilahirkan. Pendapat
ini bertolak-belakang dengan apa yang dinyatakan oleh Abu Hamid al-Ghazali bahwa
kepemimpinan tidak bisa diserahkan kepada perempuan meskipun perempuan tersebut
memiliki kemampuan. Pendapat ini didasari oleh fatwa lainnya di mana perempuan tak
memiliki hak pengadilan dan kesaksian dalam berbagai hukum. Al-Qasyqandi juga
menyetujui pendapat Abu Hamid al-Ghazali ini, dengan menyampaikan argumen bahwa
pemimpin memerlukan pergaulan luas dengan orang lain agar dapat bermusyawarah untuk
memutuskan sesuatu hal yang penting. Sedangkan perempuan memiliki keterbatasan dalam
pergaulan sehingga ia tidak bisa menjadi pemimpin61.
Berbicara soal hak, kita tidak bisa melepaskan ini dari konsep HAM yang telah ada
sekarang. Bahwa setiap manusia yang terlahir ke dunia memiliki hak untuk menentukan jalan
hidupnya. Betapa banyak kita temui saat ini fenomena anak-anak yang diekspos ke media,
atau dipekerjakan di dunia hiburan sehingga mengurangi hak mereka sebagai anak-anak yang
seharusnya bisa bermain dan belajar bersama teman-teman sebayanya. Hal yang menarik saat
membincangkan mengenai hak adalah ketika kita mengaitkannya dengan fakta-fakta realitas
60

Wawancara dengan Quraish Shihab.

61
Muhammad Anis Qasim Djafar. Aktualisasi Kaum Perempuan dalam Panggung Kehidupan
diterjemahkan oleh Ikhwan Fauzi (Depk: Bina Mitra Press, 2004) hlm. 62-63.

66

yang ada. Gerakan feminis yang muncul sebagai reaksi atas tindakan diskriminasi gender
yang kemudian melayangkan tuntutan-tuntutan kesetaraan di segala bidang, tanpa disadari
juga telah melahirkan penindasan terhadap hak dalam bentuk lain. .
Orang-orang yang terlibat dalam gerakan feminis tentunya adalah mereka yang
memperoleh pendidikan tinggi yang melihat adanya ketimpangan penempatan kerja sosial
antara laki-laki dan perempuan. Karena itu salah satu gerakan feminis awal adalah menuntut
upah yang setara antara pekerja lelaki dan perempuan. Kemudian berlanjut pada tuntutan agar
kesempatan berkiprah di ranah publik dan politik terbuka bagi perempuan. Kesalahan dari
para feminis ini terletak pada generalisasi konsep kesetaraan yang mereka gaungkan, dengan
mengindentifikasi diri mereka sebagai pembela kaum perempuan, mereka mengabaikan fakta
bahwa tak semua perempuan setuju dengan konsep mereka. Tidak semua perempuan
keberatan atas pembagian kerja yang menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah dan
perempuan di dalam rumah mengurus keluarga. Hal ini sudah berlaku umum dan dianggap
sebagai sesuatu yang kodrati, bahkan ada perempuan yang menganggap menjadi seorang ibu
rumah tangga adalah sumber kebahagiaan bagi mereka tanpa harus menuntut kesempatan
untuk berkiprah di luar rumah tangga.
Tak berbeda jauh seperti yang terjadi di Eropa, di mana gerakan feminis yang
dipelopori oleh para perempuan kulit putih mendapatkan penolakan dari perempuanperempuan kulit hitam. Perbedaan ras membuat mereka memiliki pengalaman yang berbeda
sebagai kaum yang tersubordinasi dari lelaki. Maka, apa yang diperjuangkan oleh perempuan
kulit putih belum tentu bisa membebaskan kaum perempuan kulit hitam yang merasakan
penindasan ganda, penindasan jenis kelamin dan penindasan rasial. Demikian pula di
Indonesia, gerakan feminis yang diusung oleh Kartini - meski Kartini sendiri tak menyebut
dirinya seorang feminis, namun pergolakan pemikirannya menggambarkan penolakan
terhadap subordinasi laki-laki atas perempuan yang merupakan agenda utama perjuangan
kaum feminis - memperjuangkan hak perempuan untuk memperoleh pendidikan dan
partisipasi aktif di ranah publik. Di sini kita perlu melihat latar belakang Kartini yang berasal
dari keluarga priyayi, sehingga seperti halnya organisasi-organisasi perempuan yang
terbentuk setelah kemerdekaan yang digawangi oleh para perempuan dari kalangan elit
priyayi, hal-hal yang dituntut adalah mengenai masalah rumah tangga seperti poligami dan
kesempatan untuk berkiprah di ranah publik. Bagi kalangan perempuan priyayi, kebutuhan
67

ekonomi sudah dicukupi oleh suami. Lain cerita jika yang tergabung dalam organisasi
perempuan tersebut adalah perempuan-perempuan di pedesaan yang terbiasa bekerja di
sawah, perkebunan dan hutan tanpa meninggalkan pekerjaan mereka sebagai ibu rumah
tangga. Tentunya isu yang diangkat bukan lagi mengenai poligami (poliginy) atau keinginan
untuk bekerja di luar rumah, melainkan kesejahteraan ekonomi. Karena para perempuan di
pedesaan merasakan langsung bagaimana mereka bekerja keras untuk menghidupi keluarga,
tentunya hal yang mereka inginkan ialah kemudahan dalam mencari nafkah sehingga
kebutuhan hidup keluarga mereka bisa tercukupi.
Perbedaan latar belakang keluarga, lingkungan masyarakat, tingkat pendidikan, dan
status sosial menjadi hal yang krusial ketika membincangkan masalah hak dan kewajiban
yang dipahami oleh si perempuan itu sendiri. Perempuan di perkotaan tentu memiliki
pandangan yang berbeda mengenai hak dan kewajiban dibandingkan dengan perempuan di
pedesaan. Bisa jadi, perempuan di pedesaan menganggap pekerjaan di rumah tangga adalah
kewajiban yang melekat pada kodratnya, sedangkan perempuan di perkotaan menganggap hal
tersebut bukanlah kewajiban. Perempuan di perkotaan lebih memiliki kesadaran akan identitas
dirinya dan menuntut hak yang menurutnya belum dipenuhi, yakni hak kebebasan untuk
berkiprah di ruang publik dan membebaskan diri dari pekerjaan domestik yang dianggap
mengungkung mereka.
Ketika perempuan yang memperoleh pendidikan lebih tinggi berusaha menghapus
diskriminasi dan subordinasi perempuan dari laki-laki dengan cara memaksakan ideologi
feminisnya kepada semua perempuan dan menganggap hal tersebut paling benar, ini bisa
disebut sebagai kesalahan fatal. Karena jika nilai-nilai yang ditanamkan dalam diri perempuan
di pedesaan tentang seorang wanita ideal yang diam di rumah mengurus rumah tangga
dicabut, maka ia akan kehilangan norma hidupnya sendiri dan tak tahu apa yang harus ia
lakukan. Oleh karena itu, seharusnya bagi perempuan pun ada hak untuk memilih, mengurus
rumah tangga, atau bekerja di luar rumah. Semuanya bisa diputuskan sendiri oleh si
perempuan sebagai manusia merdeka. Bila seorang perempuan yang memiliki keinginan
untuk mengabdikan hidupnya dalam rumah tangga untuk mengurus suami dan anak-anak,
kemudian perempuan tersebut dipaksa untuk keluar dari rumah tangga dan bekerja di luar
rumah dengan mengatasnamakan emansipasi, yang terjadi adalah diskriminasi bentuk lain.

68

Bukan diskriminasi dari lelaki terhadap perempuan, melainkan diskriminasi dari perempuan
terhadap perempuan.
Salah satu hak yang paling penting dalam hidup seorang manusia adalah hak untuk
menentukan hidup dan kehidupannya sendiri. Ketika seorang perempuan memilih untuk
menjadi seorang ibu rumah tangga, maka orang lain tak berhak memaksanya untuk aktif di
luar rumah jika perempuan itu sendiri tidak bersedia. Begitu pun ketika kita membicarakan
persoalan kepemimpinan perempuan. Menjadi seorang pemimpin adalah hak bagi siapapun,
sepanjang ia memiliki kemampuan dan mempunyai kepercayaan dari masyarakat untuk
memimpin meski ia adalah seorang perempuan, maka tak seharusnya hak ini dihalang-halangi
dengan dalih kondisi biologis perempuan dianggap sebagai kelemahan.
Apabila yang dikhawatirkan bila seorang perempuan menjadi pemimpin maka siklus
menstruasi yang mempengaruhi keadaan mentalnya bisa menyebabkan pengambilan
keputusan yang salah dalam suatu masalah penting, solusinya ialah memilih seorang wakil
laki-laki bagi perempuan tersebut untuk menjalankan tugas-tugasnya. Wakil laki-laki ini harus
memiliki pengetahuan yang cukup mengenai karakter si perempuan yang menjadi pemimpin,
jadi ia bisa mengetahui kapan si perempuan sedang stabil emosinya dan kapan sedang labil.
Sehingga si lelaki ini bisa menutupi kekurangan yang ada dalam diri perempuan karena kodrat
biologisnya. Tentu saja, lelaki yang menjadi wakil ini harus orang yang amanah, sehingga
pengetahuan tentang perempuan yang menjadi pemimpin itu tidak disalahgunakan olehnya.
Sedangkan bagi si perempuan, dia harus sepenuhnya menyadari dan mengakui kondisi
mentalnya yang tak stabil jika sedang menstruasi sehingga perlu meminta pertimbangan
dengan melakukan musyawarah bersama laki-laki yang menjadi wakilnya. Jika hal ini bisa
dilakukan, maka kesuksesan dalam kepemimpinan tersebut pasti akan tercapai.
Muhammad al-Ghazali menyatakan bahwa lelaki dan perempuan memiliki persamaan
dalam beberapa hal menyangkut prilaku yang baik dan kemampuan berpikir benar, terkadang
laki-laki mengungguli wanita, terkadang pula sebaliknya. Maka, perbedaan jenis kelamin
sesungguhnya tak memiliki pengaruh atas kesuksesan atau kegagalan seseorang. Kedua jenis
kelamin bisa saling bekerjasama, bahu membahu untuk mencapai kesuksesan yang diinginkan
dengan saling melengkapi kekurangan yang dimiliki oleh lawan jenisnya. Sebagaimana
contoh yang penulis berikan sebelumnya. Jadi, pelarangan kepemimpinan seorang perempuan
sudah tak relevan lagi di masa sekarang, mengingat bahwa pendidikan sudah terbuka seluas69

luasnya bagi semua orang, dan kesempatan untuk berkiprah di ranah politik praktis juga
merupakan hak setiap individu. Tak seorangpun boleh mencabut hak ini dengan dalih agama
ataupun logika.
Naqiyah Mukhtar mengatakan bahwa ketidakkonsistenan Quraish Shihab dalam
memaknai kata ar-Rijal dalam karyanya, membuktikan suatu teori yang menyatakan bahwa
teks tidak pernah steril dari konteks yang melingkupinya, termasuk tafsir Al-Quran. Dalam
hal ini penulis setuju, pemikiran Quraish Shihab mengenai kepemimpinan perempuan dalam
Islam sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan tempat ia tumbuh dan memperoleh
pendidikan, yaitu keluarga, pesantren dan Universitas al-Azhar Mesir. Ketiga institusi tersebut
membentuk pola pikir Quraish Shihab yang mengunggulkan lelaki untuk menjadi pemimpin
dibandingkan perempuan62.
Meski Quraish Shihab tak pernah secara eksplisit mengungkapkan keberatannya
terhadap pemimpin perempuan, namun dengan beberapa dalih yang ia kemukakan seperti
dalih biologis dan nature perempuan, mengisyaratkan bahwa Quraish Shihab menginginkan
perempuan tetap pada tugasnya untuk menjadi ibu yang bekerja dalam rumah tangga
mengasuh anak-anak dan tak boleh menjadi pemimpin selama suaminya masih ada dan
mampu memimpinnya. Jikapun menjadi pemimpin di luar rumah tangga, maka ibu tak boleh
meninggalkan kewajiban mengasuh anak.

62
Naqiyah Mukhtar. Kepala Negara Perempuan Muslimah: Analisis Wacana Terhdapa Tafsir Quraish
Shihab. dalam Komunika: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol. 5 No. 2 STAIN Purwokerto tahun 2011.

70

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah menelusuri dan mengkaji sumber-sumber yang terkait dengan Quraish Shihab
beserta pandangannya mengenai konsep kepemimpinan perempuan dalam Islam, penulis
sampai pada kesimpulan sebagai berikut.
Latar Belakang Sosial Intelektual Quraish Shihab

Quraish Shihab berasal dari keluarga cendekiawan terpandang di Makassar.


Kebiasaan ayahnya memberikan nasihat berupa ayat al-Qur'an menumbuhkan
benih kecintaan dalam diri Quraish Shihab terhadap al-Qur'an. Sehingga di
kemudian hari ia menjadi seorang pakar dalam ilmu al-Qur'an.

Pendidikan dasarnya didapatkan di Makassar kemudian dilanjutkan ke


pesantren Dar al-Faqihiyah di Malang Jawa Timur. Besar kemungkinan
pemikiran Quraish Shihab tentang tugas pokok wanita adalah di dalam rumah
tangga berasal dari konsepsi dalam budaya jawa yang menganggap bahwa
sudah menjadi kodrat perempuan untuk melaksanakan seluruh tugas rumah
tangga.

Pendidikan tinggi yang ditempuh di Universitas Al Azhar Mesir membuat


Quraish Shihab membuka mata atas segala fenomena yang terjadi. Di Mesir
banyak perempuan yang berkiprah di ranah publik. Karenanya Quraish Shihab
tak menampik kemungkinan perempuan bisa menjadi pemimpin dalam
kegiatan publik.

Latar belakang sosial dan pendidikan Quraish Shihab membentuk karakter


pemikirannya yang cenderung moderat. Quraish Shihab tidak berpandangan
konservatif dengan melarang sama sekali perempuan menjadi pemimpin,
namun juga tidak beraliran liberal dengan mendukung kepemimpinan
perempuan di segala bidang yang mutlak harus digalakkan.

Pandangan Quraish Shihab mengenai perempuan.


71

Quraish Shihab memandang seorang perempuan adalah makhluk yang


mulia dan diciptakan untuk melengkapi hidup lelaki. Quraish Shihab
menganggap kehadiran perempuan adalah hal yang mutlak harus ada dalam
kehidupan lelaki, bila tidak maka kehidupan seorang lelaki akan menjadi
hampa dan tidak bermakna. Pandangan ini menyiratkan bahwa Quraish
Shihab memandang sebuah kebutuhan yang sangat penting, kebutuhan
laki-laki akan seorang perempuan yang mendampinginya. Bahkan Nabi
Adam AS yang dilimpahi segala kenikmatan surga masih merasa hampa
sehingga diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya. Karena itu, menurut
Quraish Shihab, kehidupan seorang lelaki akan menjadi indah dengan
kehadiran seorang perempuan.

Quraish

Shihab

menolak

pandangan

yang

merendahkan

dan

mendiskriminasi perempuan. Namun ia juga menolak pendapat yang


menyamaratakan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam segala hal.
Baginya, laki-laki dan perempuan harus ditempatkan sesuai dengan kodrat
alamiahnya masing-masing.

Quraish Shihab menyatakan bahwa lelaki dan perempuan memiliki


kelebihan dan kekurangan yang menjadi ciri khas masing-masing jenis
kelamin. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan. Oleh sebab
itu, bagi Quraish Shihab, adalah suatu hal yang salah jika memaksakan
seorang perempuan harus bisa menjadi seperti laki-laki, dan demikian pula
sebaliknya.

Perempuan tidak tercipta dari tulang rusuk lelaki, pandangan itu berasal
dari kitab Perjanjian Lama. Bagi Quraish Shihab, perempuan tercipta dari
tulang rusuk hanyalah sebuah metafora.

Menurut Quraish Shihab, tugas pokok perempuan ada dalam rumah tangga
sesuai dengan apa yang tercantum dalam Surat al-Ahzab ayat 33:







dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan
bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah
72

shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya


Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait
dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Kepemimpinan perempuan dalam Islam menurut Quraish Shihab:

Quraish Shihab dengan tegas menyatakan bahwa di dalam rumah tangga,


perempuan harus tunduk di dalam kepemimpinan laki-laki. Sedangkan di
luar rumah tangga, perempuan boleh menjadi pemimpin meskipun di
dalam kelompok yang dipimpinnya terdapat laki-laki.

Quraish Shihab menetapkan dua syarat dalam hal kepemimpinan


perempuan, yakni bahwa perempuan tersebut tidak boleh mengabaikan
tugas pokoknya untuk mengasuh anak dan melayani suami. Dan
perempuan yang menjadi pemimpin harus selalu melakukan musywarah
sebagai bagian dari kepemimpinannya.

Sebagaimana terlihat dalam poin-poin di atas, Quraish Shihab memandang perempuan


sebagai makhluk yang mulia. Fungsinya untuk mendampingi lelaki. Quraish Shihab mengakui
bahwa lelaki dan perempuan saling membutuhkan. Kekuatan laki-laki dibutuhkan oleh
perempuan untuk membuat perempuan merasa aman di bawah perlindungannya. Kelembutan
perempuan dibutuhkan oleh laki-laki untuk menyempurnakan kehidupannya.
Terkait masalah kepemimpinan perempuan, penulis menemukan inkonsistensi dalam
pernyataan Quraish Shihab. Secara eksplisit Quraish Shihab menyatakan bahwa tidak ada
dalil agama maupun rasio yang bisa dibenarkan dalam hal pelarangan seorang perempuan
yang ingin menjadi pemimpin. Namun di sisi lain, secara implisit Quraish Shihab
mengungkapkan keberatannya terhadap kepemimpinan perempuan melalui pernyataannya
bahwa seorang pemimpin tidak boleh emosional dan bahwa perempuan mengalami siklus
bulanan yang membuat kondisi emosionalnya terganggu. Quraish Shihab juga menetapkan
syarat yang berat bagi seorang perempuan yang ingin menjadi pemimpin, baik di dalam
rumah tangga maupun di luar rumah tangga. Di dalam rumah tangga, perempuan baru bisa
menjadi pemimpin jika suami sakit keras dan tidak bisa memberi nafkah. Di luar rumah
tangga, perempuan yang ingin menjadi pemimpin tidak boleh mengabaikan tugas pokoknya
sebagai seorang ibu dan seorang istri.

73

Demikianlah, dengan ini penulis berkesimpulan bahwa sebenarnya Quraish Shihab


bukan termasuk ulama yang pro terhadap wacana kepemimpinan perempuan. Meski sering
mengutip ulama yang membolehkan kepemimpinan perempuan, dan berbagai fakta sejarah
tentang pemimpin perempuan. Namun dengan dalih-dalih yang ia kemukakan, Quraish
Shihab menyampaikan pendapatnya secara tidak langsung bahwa sebaiknya perempuan tidak
menjadi pemimpin.
5.2 Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan terkait wacana kepemimpinan perempuan ialah
agar

kegiatan penelitian untuk menyelidiki isu-isu tentang perempuan harus terus

dilaksanakan. Mengingat bahwa emansipasi perempuan di masa kini sudah menyentuh


berbagai segi kehidupan. Pada saat ini, kita tidak bisa lagi berbicara soal kodrat perempuan
dan kodrat laki-laki. Melainkan hak bagi setiap individu untuk menentukan kehidupannya
sendiri. Dengan tak mengabaikan etika, dan moral kemanusiaan. Diskriminasi terhadap
perempuan sudah sepatutnya ditentang, namun pengabaian terhadap tugas kemanusiaan
perempuan dalam membesarkan seorang anak juga tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu,
wacana yang membahas tentang peranan perempuan di ranah publik harus terus disuburkan.
Demi mencapai sebuah kesepakatan yang berlaku umum dan membawa kesejahteraan bagi
semua pihak, baik itu perempuan maupun laki-laki. Dan juga untuk mewujudkan ajaran
agama Islam yang rahmatan lil alamin.

74

Daftar Pustaka

Sumber Primer
Shihab, M. Quraish. (2013). Pengantin Al-Quran: Kalung Permata Buat Anak-Anakku.
Jakarta:
Lentera Hati.
----------------------. (2010). M. Quraish Shihab Menjawab 101 Soal Perempuan yang Patut
Anda
Ketahui. Jakarta: Lentera Hati.
--------------------. (2008) . Ayat-Ayat Fitna: Sekelumit Keadaban Islam di Tengah
Purbasangka.
Jakarta: Lentera Hati.
----------------------. (2005). Perempuan: dari cinta sampai seks,dari nikah mutah sampai
nikah
sunnah,dari bias lama sampai bias baru. Jakarta: Lentera Hati.
-----------------------. (2004). Jilbab: Pakaian Wanita Muslimah. Jakarta: Lentera Hati.
---------------------. (1996) Wawasan al-Quran: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan
Umat
Bandung: Mizan.
-----------------------. (1992). Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam
Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.
---------------------. Tafsir dan Modernisasi. Jurnal Ulumul Qur'an
Wawancara

75

8.Tatap muka dengan M. Quraish Shihab, 20 Mei 2014. Di kantor Pusat Studi Qur'an
Tangerang.
Sumber Sekunder
Hidayat, Rahmad. (2008). Hak-Hak Perempuan dalam Keluarga ( Studi Komparatif atas
Penafsiran M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al Mishbah dan Nasaruddin Umar
dalam
Argumen Kesetaraan Jender Perspektif al Quran). Skripsi S1 Jurusan Tafsir Hadits,
Fakultas Ushuludin, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Hidayat, Rahmat. (2008) Pemikiran Muhammad Quraish Shihab tentang Poligami. Skripsi S1
Program Studi Al Ahwal Al Syakhshiyah, Fakultas Syariah, UIN Malang.
Mukhtar, Naqiyah. (2011). Kepala Negara Perempuan Muslimah: Analisis Wacana Terhadap
Tafsir Quraish Shihab, Komunika, Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol. 5 No. 2
STAIN
Purwokerto.
Nurfadillah. (2012) Studi Analisis Pandangan M. Quraish Shihab Tentang Sistem Ekonomi
Islam. Skripsi S1 Jurusan Ekonomi Islam, Fakultas Syariah, IAIN Walisongo Semarang.
Rohana. (2011). Studi Deskriptif Pemikiran Quraish Shihab Tentang Konsep Membaca dalam
Surat Al Alaq ayat 1-5. Skripsi S1 Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab
dan
Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Saifudin. (2009). Relasi Gender dalam Khazanah Tafsir Nusantara: Studi Perbandingan
Tafsir
Tajuman al Mustafid karya Abd Rauf Singkel dan al Mishbah karya Quraish
Shihab,

76

Makalah dipresentasikan pada 9th Annual Conference on Islamic Studies 2-5


November
di Surakarta.
Suliyah. (2007). Pemikiran Muhammad Quraish Shihab Tentang Makna dan Upaya Meraih
Hidayah dalam Tafsir Al Misbah. Skripsi S1 Program Ushuluddin IAIN Walisongo
Semarang.
Website
http://tafsiralmishbah.wordpress.com/biografi-m-quraish-shihab/ diakses pada tanggal 18 Mei
2014 pukul 22.42 WIB
http://www.tempo.co/read/news/2012/08/26/219425534/Quraish-Shihab-Si-Pengubah-Dunia
diakses 25 Mei 2014 pukul 14.40 WIB
http://quraishshihab.com/profile/ diakses tanggal 18 juli 2014 pukul 12.34 WIB
http://syiarmedia.com/index.php/31-artikel/13-penciptaan-perempuan-menurut-quraishshihab-dalam-tafsir-al-misbah diakses tanggal 18 Mei pukul 22.40 WIB
http://quraishshihab.com/work/ 9 agustus 2014 pukul 10.05 wib
http://bio.or.id/biografi-quraish-shihab/ diakses pada 8 Agustus 2014 pukul 19.55 WIB.
Lain-lain
Abd. Hakim, Atang & Jaih Mubarok. (2012). Metodologi Studi Islam. Jakarta: Remaja
Rosdakarya.
Al Aqqad, Abbas Mahmud. (1986). Filsafat Al-Quran: Filsafat, Spiritual dan Sosial dalam
Isyarat Al-Quran. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Amuli, Jawadi. (2011). Keindahan dan Keagungan Perempuan. Jakarta: Sadra Press.
Baharuddin & Umiarso. (2012). Kepemimpinan Pendidikan Islam: Antara Teori dan Praktik.
Jogjakarta: Ar Ruzz Media
77

Barakat, Halim. (2012). Dunia Arab: Masyarakat, Budaya dan Negara. Bandung: Nusa
Media.
Barker, Chris. (2004). Cultural Studies: Teori dan Praktik. diterjemahkan oleh Nurhadi.
Bantul:
Kreasi Wacana.
Bisri, Cik Hasan & Eva Rufaidah. edt. (2006). Model Penelitian Agama dan Dinamika
Sosial.
Jakarta: Rajawali Pers.
Djafar, Muhammad Anis Qasim. (2004). Aktualisasi Kaum Perempuan dalam Panggung
Kehidupan. Depok: Bina Mitra Press.
El Feki, Shereen. (2013). Seks & Hijab: Gairah dan Intimitas di Dunia Arab yang Berubah.
Diterjemahkan oleh Adi Toha. Tangerang: Alvabet.
El Guindi, Fedwa. (2005). Jilbab: Antara Kesalehan, Kesopanan dan Perlawanan.
Diterjemahkan oleh Mujiburrohman. Jakarta: Serambi.
Habudin, Ihab. (2009) Konstruksi Gagasan Feminisme Islam Khaled M. Abou El Fadl.
Skripsi S1
Program Studi Al-Akhwal Asy-Syakhsiyyah Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta.
Hadiz, Liza. Edt. (2004). Perempuan dalam Wacana Politik Orde Baru: Pilihan Artikel
Prisma.
Jakarta: Pustaka LP3ES
Hemdi, Yoli. (2007). Ukhti, Hatimu di Jendela Dunia: Sebuah Torehan Wajah Perempuan
dan
Peristiwa. Jakarta: Zikrul Hakim.
78

Herdiansyah, Haris. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial.


Jakarta: Salemba Humanika.
Kamil, Sukron. (2013). Pemikiran Islam Tematik: Agama dan Negara, Demokrasi, Civil
Society,
Syariah dan HAM, Fundamentalisme, dan Antikorupsi. Jakarta: Kencana.
Kuntjara, Esther. (2012). Gender, Bahasa dan Kekuasaan. Jakarta: Libri.
Monib, Mohammad & Fery Mulyana. (2009). Pelita Hati Pelita Kemanusiaan. Jakarta:
Pustaka
Intermasa.
Muhammad, Husein. (2004). Islam Agama Ramah Perempuan; Pembelaan Kiai Pesantren.
Yogyakarta: Lkis
Muhanif, Ali. Edt. (2002). Mutiara Terpendam: Perempuan dalam Literatur Islam Klasik.
Jakarta:
Gramedia
Muslich, Masnur. (2010). Bagaimana Menulis Skripsi. Jakarta: Bumi Aksara.
Nawawi, Muhammad. (2006). Inilah Wanita (Istri) Salehah: Sebuah Risalah dan Beberapa
Kisah. Diterjemahkan oleh Hasan Wakil. Semarang: Qudsi Media.
Ritzer, George. (2012). Teori Sosiologi: Dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan
Terakhir
Postmodern. Diterjemahkan oleh Tim Penerbit. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
Siddique, Kaukab. (2002). Menggugat Tuhan Yang Maskulin. Diterjemahkan oleh Arif
Maftuhin. Jakarta: Paramadina.
Tim Penyusun. (2012). Panduan Karya Ilmiah Mahasiswa. Jakarta: Universitas Paramadina.
79

Tim Penyusun. (2012). Panduan Penulisan Skripsi Atau Laporan Tugas Akhir. Jakarta:
Universitas Paramadina.
Tim Penyusun. (2012). Pencegahan dan Sanksi Terhadap Praktek Penyalahgunaan
Narasumber
dan Penjiplakan & Kode Etik Kegiatan Akademik. Jakarta: Universitas Paramadina
Tim Penyusun. (2013). Say Hello to Our Body. Jakarta: PWAG Indonesia.
Umar, Nasaruddin. (2000a). Kodrat Perempuan Dalam Islam. Jakarta: Fikahadi Aneska.
----------------------. (2000b). Paradigma Baru Teologi Perempuan. Jakarta: Fikahadi Aneska.

Jurnal/Makalah
Danial. (2014). Pentingnya Pemahaman Gender dalam Islam. Makalah dipresentasikan
pada
Pelatihan Kesehatan Reproduksi dan Kesetaraan Gender untuk Remaja di Banda
Aceh.
Enjang. (2003). Dekonstruksi Hadits-Hadits Bias Gender. Makalah dipresentasikan pada
seminar kelas Mata Kuliah Ulumul Hadits Program Pascasarjana Konsentrasi Studi
Masyarakat Islam, IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Fadlan. (2011) Islam, Feminisme, dan Konsep Kesetaraan Gender dalam al-Qur'an. Dalam
Karsa: Jurnal Budaya dan Sosial Keislaman Vol.19 No.2 STAIN Pamekasan. Hlm.
105-119.
Marhumah. (2011) Konstruksi Gender, Hegemoni Kekuasaan, dan Lembaga Pendidikan.
Dalam
Karsa: Jurnal Budaya dan Sosial Keislaman Vol.19 No.2 STAIN Pamekasan. Hlm.
167-182
80

Marzuki. Perempuan dalam Pandangan Feminis Muslim.


Rahman, Ninies Nadhifah. (2012). Yang Tidak Pernah Sederhana: Gender, Seksualitas,
Agama, dan Keberagaman Anak Muda Indonesia.

Makalah disampaikan pada

diskusi
di Komunitas Salihara Jakarta.
Ridwan. (2008). Kepemimpinan Politik Perempuan dalam Literatur Islam Klasik. Dalam
Yinyang: Jurnal Studi Gender dan Anak. Vol.3 No.1 Pusat Studi Gender STAIN Purwokerto.
Sudrajat. Beberapa Persoalan Perempuan dalam Islam. Makalah pdf diunduh dari
http://staff.uny.ac.id/dosen/prof-dr-ajat-sudrajat-mag diakses 25 juli 2014 00.30 WIB
Tim Penyusun. (2012). Perempuan Anggota Parlemen & Proses Pembuatan Kebijakan DPR
RI. Policy Brief, Women Reasearch Institute Jakarta.
http://pemikiranislam.wordpress.com/2007/08/20/kepemimpinan-perempuan/

diakses

pada 9 Agustus 2014 pukul 10.10 wib


http://wowkeren.com/berita/tampil/00053646.html diakses pada 8 Agustus pukul 20.00
WIB
http://bio.or.id/biografi-najwa-shihab/ diakses pada 8 Agustus pukul 19.45 WIB
http://mawaddahmumtazza.blogspot.com/2013/09/kepemimpinan-wanita-dan-wanitakarir.html
diakses tanggal 25 juli 2014 pukul 00.23 WIB

81

Lampiran 1: Transkrip Wawancara


Transkrip Wawancara dengan M. Quraish Shihab sebagai Narasumber Utama dalam
Penulisan Skripsi ini. Wawancara di lakukan pada hari Selasa, 20 Mei 2014. Bertempat
di ruang kerja beliau di Kantor Pusat Studi Al-Qur'an Yayasan Lentera Hati, Jl.
Kertamukti No. 63 RT 04/08 Ciputat Tangerang.

Penulis

: Selamat Pagi Bapak. Saya Sangat berterimakasih Bapak mau memenuhi


permohonan saya untuk mewawancarai Bapak. Skripsi saya yang berjudul
Kepemimpinan Perempuan dalam Islam bertujuan untuk mengkaji pemikiran
Bapak terutama yang ada dalam buku Perempuan. Awalnya saya ingin mengambil
tema tentang jilbab, namun dikarenakan referensi yang kurang, saya beralih ke
tema tentang perempuan dengan fokus kajian mengenai kepemimpinan dalam
islam. Pertanyaan-pertanyaan saya Insya Allah tidak akan keluar dari tema besar
yang saya angkat dalam skripsi ini. Yaitu perempuan. Baiklah, saya akan langsung
ke pertanyaan.

Penulis

: Sebenarnya kapan pertamakali Bapak bersinggungan dengan isu-isu tentang


perempuan, kemudian tertarik untuk membahasnya dalam buku-buku Bapak?

Narasumber : Saya kira sejak saya mengenal ibu saya. Sejak itu, sadar atau tidak saya sudah
melihat perbedaan antara ayah dan ibu. Semakin besar saya, semakin saya melihat
perbedaan itu. Kemudian diperkuat dengan kelahiran anak-anak saya. Anak saya
empat orang perempuan dan satu laki-laki. Yang pertama, kedua, ketiga
perempuan. Dalam perkembangannya, saya tidak melihat perbedaan dari segi
kemampuan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Yang berbeda itu
perhatiannya. Dalam sekian banyak hal, saya lihat, saya alami, melalui keluarga
saya, bahwa anak perempuan bisa lebih hebat dari anak laki-laki. Tergantung dari
dia punya bawaan, dia punya ini. Saya sebenarnya tidak pernah melihat adanya
perbedaan dari segi kemampuan intelektual. Yang berbeda itu perhatian. Sejak dini
saya melihat ketika anak laki-laki saya lahir, perhatiannya berbeda dengan
perhatian kakaknya.
Penulis

: Perhatian dalam hal apa Pak?

Narasumber : Mulai dari permainan, alat permainan. Dia, tidak senang boneka. Itu berarti
bahwa memang ada bawaaan, ada potensi yang berbeda antara laki-laki dan
perempuan dari segi perhatian. Mungkin sampe tuapun akan terasa itu. Saya di
rumah misalnya, dengan ibu, dia bisa hafal, baju ini sudah pernah dipakai ke
perkawinan. Saya sendiri tidak ingat, tidka ada perhatian. Itu saya kira. Jadi
kebersinggungannya justru mulai sejak...saya yakin sejak saya mulai sadar tentang
ibu dan bapak. Tapi dari hari ke hari itu makin, tentu diperkuat lagi dengan sekian
banyak ide, sekian banyak hal yang berkaitan dengan perkembangan masyarakat
dalam sikapnya terhadap perempuan dan laki-laki.
82

Penulis

: Jadi, apa yang Bapak uraikan tadi itu bisa disebut sebagai latar belakang
Bapak menulis tema-tema tentang perempuan?

Narasumber : Mungkin menulisnya itu. Ad aperbedaan, antara apa yang kita serap dengan
apa yang kita tulis. Tidak semua yang diserap itu ditulis, walaupun mestinya semua
yang ditulis adalah sesuatu yang diserap. Jadi, pengalaman saya, yang saya ceritera
tadi, kemudian ada dorongan untuk menulis. Setelah saya melihat bahwa ada ide-ide,
ada pemikiran-pemikiran, yang tidak sejalan. Bukan saja dengan latar belakang
pendidikan saya, tetapi juga tidak sejalan dengan ide dan kedudukan perempuan
dalam kehidupan yang dikehendaki oleh agama dan budaya kita. Maka lahirlah
tulisan.
Penulis

: Menurut pandangan Bapak sendiri, bagaimana tentang penciptaan


perempuan? Apakah benar perempuan terbuat dari tulang rusuk lelaki?

Narasumber : Itu, ide itu muncul dari bacaan terhadap Perjanjian Lama. Tidak ada di
Qur'an, dan tidak ada di hadits. Kalaupun ad aid hadits, itu pengertiannya secara
metafora. Saya udah jelaskan di buku.
Penulis

: Bagaimana Bapak memandang sosok perempuan sebagai manusia merdeka


yang peran aktifnya dibutuhkan dalam masyarakat? Apakah dia harus tetap
terkurung di dalam rumah, atau boleh ke luar rumah?

Narasumber : Kalo hemat saya, yang dikurung di rumah itu yang berdosa. Ya kan? Qur'an
itu menyatakan demikian. Perempuan-perempuan yang sering berkunjung ke tempattempat yang tidak wajar, itu ditahan di rumah. Tidak wajar di tahan di rumah, kecuali
kalau dia mau dihukum. Kecuali kalau dia di luar melakukan aktivitas yang tidak
sejalan dengan norma agama, norma budaya. Kalau tidak ya silahkan. Tidak ada
masalah buat saya itu. Itu kan prinsipnya juga bahwa perempuan itu ee...tidak boleh
diganggu dan juga tidak boleh mengganggu. Jangan sampe dia ke luar dia
mengganggu.
Penulis

: Kemudian, Pak. Ada titipan pertanyaan dari dosen saya.

Narasumber : Siapa itu?


Penulis

: Pak Pipip Rifai Hasan Phd. Dosen di Universitas Paramadina, lulusan


Amerika. Beliau ingin saya menanyakan ke Bapak mengenai pendapat Bapak tentang
sunat perempuan?

Narasumber : O ndak ada itu. Ndak ada alasannya, tidak ada dasarnya dalam agama. Jadi itu
kembali kepada e pakar kesehatan, kalau dianggap perlu, silahkan. Tidak usah
atasnamakan agama. Kalau dia anggap e membahayakan, dilarang. Karena tidak
ada, tidak disinggung, baik oleh Al-Quran maupun hadits tentang e sunat
perempuan. Kalau sunat lelaki ya, ada, disentil didalam hadits. Kalau perempuan
tidak ada. Jadi itu dikembalikan ke medis, pihak medis, apa kata medis.
83

Penulis

: Selain melalui tulisan-tulisan, apakah Bapak pernah ikut dalam gerakangerakan pemberdayaan perempuan?

Narasumber : kegiatan saya itu kan, mengajar, berceramah, ikut aktif dalam upaya-upaya
pengembangan SDM. Baik lelaki maupun perempuan. Jadi kalau e ada aktifitas
saya misalnya yang khusus dihadiri perempuan, bisa jadi. Tapi itu tidak mengarah
secara secara. Bahwa itu dalam konteks gerakan wanita. Jadi bersifat umum,
tidak ada. Boleh jadi Dharma Wanita undang saya, perkumpulan ibu-ibu undang
saya, saya akan hadir.
Penulis

: Em kemudian lanjut mengenai kepemimpinan, Pak. Sebenarnya konsep


kepemimpinan menurut Bapak seperti apa?

Narasumber : Konsep kepemimpinan? Yang pertama dulu, e selama ada tugas, selama itu
ada tanggung jawab-tanggung jawab, menuntut tanggung jawab itu. Menuntut atau
baru berhasil jika disertai dengan pengetahuan. E minimal, minimal seorang
memimpin dirinya. Itu minimal. Iabu bertugas memimpin di rumah tangganya. Ya
kan? Dan lebih khusus anaknya. Tetapi dia tidak akan berhasil memimpin anaknya
kalau dia tidak bisa memimpin dirinya. Dia tidak berhasil memimpin dirinya kalau
dia tidak punya pengetahuan itu, demikianlah. Nah, kita tidak ingin eseorang
jadi, jadi begini, seorang pemimpin itu harus memahami tugasnya. Saya akan
katakan begini, hei malaikat pun disuruh ngerti manusia. Baru dia disuruh bertugas
menyangkut manusia. Tau maksud saya? Apa? Waktu Tuhan mau menciptakan
Adam, dia panggil malaikat, ini manusia. Kenapa bukan kami yang dijadikan
khalifah di bumi? Secara tersirat Tuhan berkata bahwa kalian tidak mau, kalian tidak
tahu. Apa buktinya tidak tahu? Dia Tanya itu kan, di Quran ada itu kan, ada ya? Dia
ndak bisa jawab. Kenapa Tuhan sodorkan itu? Dia perlu kenal manusia, o ini yang
akan jadi tugas saya, mengawasi dia, mencatat amalnya, sifatnya begini-begini. Jadi
tidak mungkin sukses di dalam satu kepemimpinan kalau dia tidak paham apa
tugasnya. Itu ee di sisi lain, kepemimpinan, kita harus ini. Kepemimpinan itu di
samping pengetahuan, dia harus bisa menyukai, mencintai, siapa yang dipimpinnya.
Kalau dia tidak cinta, dia tidak suka, dia akan sewenang-wenang. Itu sebabnya, ibu
yang eeee apa namanya, yang bertugas bertugas mendidik anak-anaknya.
Itu harus punya pengetahuan mengenai pendidikan. Saya sering berkata kepada ibuibu, kalau bapaknya keluar sudah mencari nafkah, anaknya mau belajar di rumah.
Katakanlah mau belajar berhitung, kalau ibunya ndak pandai berhitung bagaimana?
Siapa yang mau ajar? Itu kan. Jadi, semua kita pemimpin-pemimpin , kita punya
bidang. Nah, ada yang kecil, ada yang besar. Minimal itu tadi, mampun memimpin
diri. Seorang ibu atau bapak harus mampu memimpin keluarganya. Kalau dia sudah
meningkat, bisa memimpin masyarakat. Tapi tidak keluar dari harus tau dan harus
mencintai.
Penulis

: Lanjut ke ini Pak, Surat An Nisa ayat 34. Yang arrijalu qowwamuna
alannisa. Itu kan, saya membaca di buku Bapak , Bapak memaknai ayat ini dalam
konteks rumah tangga. Bahwa suami atau ayahlah yang harus memimpin. Kemudian
84

bagaimana pendapat Bapak tentang ayat ini yang sering dijadikan dalil oleh para
ulama-ulama yang menentang kepemimpinan perempuan?
Narasumber : Kita lihat itu ayat, apa dan mengapa alasannya sehingga lelaki dijadikan
sebagai pemimpin bagi perempuan. Alasannya ada dua, yang pertama bahwa
faddholallahu ala badihim. Itu dalam arti ada kelebihan pada laki-laki dalam
bidang tertentu, dna ada kelebihan perempuan dalam bidang tertentu. Dalam konteks
rumah tangga, kelebihan laki-laki itu, kelebihan suami, itu diperlukan. Nanti akan
saya terangkan. Yang kedua, lelaki itu berkewajiban memberi nafkah. Nah, kita
sekarang ambil yang. kehidupan rumah tangga tidak pernah luput dari cekcok. Ya,
pasti ada cekcok. Kita tahu bahwa eperempuan setiap bulan mengalami
menstruasi, terganggu gak jiwanya?
Penulis

: Ya, situasi emosionalnya terganggu.

Narasumber :Ya, situasi emosionalnya terganggu. Laki-laki tidak. Jadi bisa dibayangkan
kalau perempuan yang memimpin, bisa-bisa dia marah, cerai. Jadi ada kelebihannya
lelaki, dalam konteks kepemimpinan. Kepemimpinan itu orang tidak boleh
emosional. Kalo memimpin, ini ee paling dini dalam sbulan, bisa minimal
sebalas hari ya? Ya tho? Antara tiga sampai sebelas hari kan itu biasanya ya? Jadi,
ada keistimewaan lelaki dalam konteks ini. Keistimewaan perempuan ada juga yang
tidak dimiliki oleh lelaki. Perempuan itu keistimewaannya ee dia tidak merasa
sempurna kalau dia tidak punya anak. Dia butuh anak, kasih sayangnya yang luar
biasa. Dia dengan mudahnya memaafkan anaknya yang durhaka, ini dibutuhkan.
Keistimewaan laki-laki ndak gitu. Peduli amat lelaki, ya kan? Kawin di sini, dia
tinggal anaknya di sana, kawin di tempat lain lagi. Itu lelaki. Jadi, ini menjadikan dia
wajar. Tu, itu. Karena, nah di sini kita liat lagi. Tidak bisa tidak, bahwa dalam suatu
komunitas betapapun kecilnya, kita memerlukan pemimpin. Kalau sudah tiga orang,
perlu ada yang pimpin. Di sini, siapa yang wajar memimpin? Tiga orang, bapak, ibu,
anak. Siapa yang wajar mimpin? Anak?
Penulis

: Bapak.

Narasumber : Yang kedua, dia wajib mengeluarkan uang. A..itu. jadi ini dalam kehidupan
rumah tangga, bukan dalam kehidupan di luar rumah tangga. Karna e... bapak,
seorang laki-laki tidak membiayai saya. Saya tidak membiayai anda. Ya kan? Jadi,
dalam kehidupan rumah tangga. Ayat ini bicara soal kehidupan rumah tangga. Bukan
berbicara akarna itu nanti dalam bidang-bidang yang lebih dikuasai perempuan,
dia yang harus memimpin.
Penulis

: Walau yang dipimpinnya terdapat laki-laki?

Narasumber : Walau yang dipimpinnya laki-laki. Terkadang ada perempuan, dalam hal-hal
yang berkaitan dengan ee perempuan. Laki-laki bisa saksi? Di situ perempuan
yang tampil. Jadi, jadi saya liat itu ayat berbicara tentang kehidupan keluarga.
Apalagi surat An Nisa itu banyak-banyak bicara tentang kehidupan keluarga.
85

Penulis

: Adakah kemungkinan surat An Nisa itu dipahami secara kontekstual? Dalam


arti hanya relevan pada masa ayat itu diturunkan dan bukan untuk masa sekarang?

Narasumber : Bagus. Itu terjawab dengan pertanyaan bisakah sifat dasar lelaki berubah?
Sifat dasar, supaya lebih jelas. Bisakah sifat dasar perempuan berubah? Bisa ada
laki-laki yang mens perempuan tidak mens?
Penulis

: Enggak, Pak?

Narasumber : Nah, itunya kan. Nanti kalau anda berkata begini, seandainya dalam suatu
rumah tangga suaminya sakit tidak bisa memberinya nafkah, pikirannya tidak waras,
jadi pemimpin? Tapi ini ayat berbicara secara umum. Dan ini, kondisi semacam ini,
itue.apa ya? Berlaku kapan dan di mana saja. Karena anda tidak akan
menemukan seorang perempuan yang tidak mens, kecuali kalau dia sudah tua. Nah,
itu. Anda tidak akan menemukan seorang perempuan, walau dia perempuan nakal,
ee merasa senang dinamai dia yang membelanjai suami, dia yang memberi
belanja suaminya. Walaupun dia yang ini, dia tutupi. Jadi ini, e bahwa dalam
secara kontekstual bisa berubah, tetapi kalo ada kondisi tertentu yang menjadikan
lelaki tidak bisa berfungsi dengan baik. Perempuan yang memimpin. Siapa yang
pimpin rumah tangga kalau suaminya sakit? Tidak bisa memberi nafkah, di situ
perempuan yang pimpin rumah tangga. Ya tho?
Penulis

: Seperti yang Bapak uraikan tadi, bahwa dalam rumah tangga, bapaklah atau
laki-lakilah yang harus memimpin. Tetapi di luar rumah tangga, perempuan boleh
memimpin. Bagaimana kondisinya jika perempuan itu sudah berkeluarga, tapi
kemudian dia memimpin suatu organisasi atau komunitas yang besar seperti itu?

Narasumber : E terabaikan ndak tugas pokoknya?


Penulis

: tergantung perempuannya sepertinya, Pak.

Narasumber : Saya tidak ini, karena itu tergantung. Kalau tugas pokoknya terabaikan, ndak
boleh.
Penulis

: Jadi tugas pokoknya di rumah tangga?

Narasumber : Tugas pokoknya, saya tidak mau berkata di rumah tangga. Tugas pokoknya,
eee ada pembagian tugas ya. Ada pembagian tugas. Masing-masing
melaksanakan dulu tugas pokoknya. Kalau tidak bisa, dia bisa mendelegasikan tugas
pokoknya pada orang lain. Boleh jadi bisa ditoleransi. Satu, satu ibu, punya anak.
Anakny mau menyusu, boleh ditinggalkan anaknya? Dia tidak, dia beri susu botol
aja, gimana? Ada yang berkata boleh, iya. Tetapi apa anaknya bisa puas dengan itu?
Apakah kesehatann anak? Dia mau bekerja. Katakanlah dia mau punya anak. Bawa
anaknya ke tempat kerjanya, dia beri susu, bisa. Dia tidak abaikan tugas pokoknya,
dia harus mendidik. Ok? Bagus. Apakah kasih sayang yang dibutuhkan anak masih
diterima oleh sang anak kalau ibunya kerja di luar? Itu semua, saya tidak mau
berkata secara ketat boleh atau tidak boleh. Kita lihat apa tugas pokoknya, istri tugas
86

pokoknya mendampingi suami. Dia tinggalkan suaminya, bekerja. Dia kasih


pembantu urus suaminya, boleh ga itu? Kecuali kalau tadi, ada menyimpang.
Penulis

: Kalau dalam kasusnya single mother gimana, Pak? Perempuan itu satusatunya kepala rumah tangga, jadi dia bercerai atau ditinggal mati suaminya.
Itu seperti apa, Pak?

Narasumber : Ya apa boleh buat? Dia tidak kuasa untuk itu. Itu keadaan darurat. Kalau dia
dapat kawin lagi, syukur. Kalau tidak, dia tidak. Seseorang tidak dibebani tanggung
jawab melebihi kemampuannya. Ya kan? Itu, prinsipnya seperti itu.
Penulis

: Bapak, bagaimana dengan pandangan yangbiasanya ini datang dari


feminis. Jaman sekarang itu digaungkan emansipasi wanita yang menuntut hak
kesetaraan di dalam pekerjaan. Tapi di dalam rumah, perempuan tetap harus
mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Seperti mengurus suami dan anak. Ini
membuahkan beban ganda. Kemudian akhirnya para feminis ini berpendapat bahwa
laki-laki seharusnya bisa melakukan pekerjaan rumah tangga.

Narasumber : Ebagus, bagus. Saya setuju, saya setuju. Tetapi tetap ada penanggung
jawab. Perempuan membantu suami, sekarang harus membantu suami dalam
memenuhi kebutuhan hidup. Karena suami tidak mampu sendiri. Nah, suami juga
harus membantu istri dalam kebutuhan rumah tangga. Boleh jadi dia juga harus ikut
menyuci, boleh jadi dia harus ini. Karena situasi berubah. Laki-laki tidak bisa berkata
saya, kerja saya di luar padahal dia tidak mampu memberikan nafkah yang cukup
istrinya. Istrinya terpaksa bekerja di luar. Apa dia mau diberi beban ganda, dia harus
bertanggung jawab lagi di rumah? Saya tidak setuju dengan itu. Apalagi sekarang.
Sebenarnya, saya ada tulisan tapi ndak ada di sini. Nasihat perkawinan saya untuk
anak saya yang terakhir, waktu dia mau kawin saya buatkan buku. Saya katakana
begini, laki-laki tu sudah tidak punya alasan berkata ndak pandai masak. Ya?
Bumbu-bumbu masak sudah ada, ya kan? Tidak lagi punya lagi alasan untuk berkata,
tidak bisa menyuci, tidak punya waktu. Ada alat-alat, ya kan? Dia harus bantu
istrinya, tapi tetap harus ada penanggung jawab. Jadi pembagian kerja, jadi
pembagian bahwa istri di dalam rumah suami di luar tidak bisa seketat dulu. Karena
kebutuhan sudah terlalu banyak. Saya kira itu, pandangan saya seperti itu. Ya kan?
Kalau tidak nanti keos itu. Bisa saja mereka sepakat tidak usah masak, makan di luar.
Tetapi ada kesepakatan, ada tanggung jawab. Ya kan? Ok. Nabi pun masak sendiri
tehnya, siapkan sarapannya. Begitu. Oke.
Penulis

: Kemudian untuk keperluan data penunjang, saya membutuhkan biografi


Bapak. Tapi sampai sekarang saya belum menemukan buku yang secara khusus
membahas biografi Bapak. Sumber-sumber di internet pun sangat sedikit, takutnya
tidak sesuai. Apakah boleh saya minta biografi Bapak?

Narasumber : Bisa minta aja nanti sama Mbak Tika


Penulis

: Yang di depan itu, Pak?


87

Narasumber : Iya betul. Yang menangani ini, lagi ndak masuk dia. Lagi gak sehat. Nanti
minta aja sama dia. Nanti kalau anu, bisa minta sama dia tulisan menyangkut bukubuku saya apa saja bisa diminta.
Penulis

: Kemudian kalau misalnya kelak saya membutuhkan data tambahan apakah


saya boleh mewawancarai Bapak lagi?

Narasumber : Boleh
Penulis

: Apakah harus menyertakan surat dari kampus lagi?

Narasumber : Tidak usah. Telpon saja ke sini. Nanti dicarikan waktunya yang sesuai.
Penulis

: Sepertinya pertanyaan saya sudah terjawab semua

Narasumber : Alhamdulillah
Penulis

: Bapak dapat salam dari Ibu saya, salam dari pengagum Bapak.

Narasumber : Walaikumsalam. Salam balik.

88

RIWAYAT HIDUP

DATA PRIBADI

Nama

: Fitriyani

Tempat, Tanggal Lahir

: Cirebon, 22 April 1991

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Alamat

: Jl. Al Mustaqim No. 19 Mampang Prapatan 2 Jakarta Selatan 12790

Email

: el.fietry@gmail.com

Nomor Telepon

: 085224936022

Nama Orang Tua

: a. Ayah : Mustadi
b. Ibu

: Komriyah
PENDIDIKAN

2010 - 2014

: Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Jakarta

2007 2010

: Jurusan Bahasa MAN Model Babakan Ciwaringin Cirebon

2004 2007

: Madrasah Tsanawiyah Wathoniyah Gintung Lor Susukan Cirebon

1998 2004

: Madrasah Ibtidaiyah Wathoniyah Gintung Lor Susukan Cirebon


PENGALAMAN ORGANISASI

1. Ketua Buletin dan Mading MAN Model Ciwaringin periode 2008-2009


2. Pemimpin Redaksi Majalah Three-M MAN Model Ciwaringin periode 2009

3. Dewan Kehormatan The Unity of Language Programme periode 2009-2010


4. Divisi Intelektual Serikat Mahasiswa Universitas Paramadina Periode 2011
5. Ketua Taekwondo Paramadina Periode 2011-2012
6. Divisi Medkominfo Himpunan Mahasiswa Falsafah dan Agama Paramadina Periode 2012-2013
7. Wakil Koordinator Divisi Logistik Dewan Keluarga Masjid Universitas Paramadina Periode 2012
8. Wakil Ketua Divisi Litbang Komunitas Pemuda Anti Korupsi Paramadina Periode 2013-2014
9. Relawan Pemantau KIPP (Komite Independen Pengawas Pemilu) dalam Pemilihan Gubernur
Jakarta tahun 2012.
10. Volunteer Youth Department Transparency Internasional Indonesia tahun 2014
11. Volunteer Peace Women Across The Globe Indonesia tahun 2014
PRESTASI

1. Juara Pertama Cerdas Cermat se-KKM MTs Arjawinangun tahun 2006


2. Juara Favorit Teater Kabaret dalam Perayaan Ulang Tahun SMAN Arjawinangun tahun 2008
3. Juara Ketiga Mading Kesehatan di SMAN 1 Arjawinangun tahun 2008
4. Juara Kedua Mading Jepang Nihon Bunkasai di STIBA Invada Cirebon tahun 2009
5. Penerima beasiswa Paramadina Fellowship 2010 atas kerjasama PT. Trikomsel Oke Tbk. Dan
Universitas Paramadina.
6. Peraih Medali Perak Tournament Taekwondo One Solution for New Champion di Jakarta tahun
2012
7. Peraih Medali Perunggu Kejuaraan Taekwondo Trisakti School of Management tahun 2012
8. Duta Paramadina Falsafah Agama Universitas Paramadina tahun 2012
9. Peserta program Mahasiswa Mengabdi Universitas Paramadina yang bekerjasama dengan
program IPB Goes To Field di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah tahun 2013
10. Juara Ketiga Debat Anti Korupsi Universitas Paramadina tahun 2013
11. Juara Ketiga Best Investigative Reports Mata Kuliah Anti Korupsi Semester Gasal tahun 2013
12. Juara Harapan dalam Blog Competition Resolusi 2014 Kratingdaeng tahun 2014

Anda mungkin juga menyukai