P. 1
Pengaruh Variabel Makroekonomi Terhadap Kinerja Saham Pertambangan

Pengaruh Variabel Makroekonomi Terhadap Kinerja Saham Pertambangan

|Views: 1,775|Likes:
Dipublikasikan oleh hendsu

More info:

Published by: hendsu on Jan 13, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/09/2013

pdf

text

original

PENGARUH VARIABEL MAKROEKONOMI TERHADAP KINERJA SAHAM PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI SEBAGAI EMITEN DI BURSA EFEK

INDONESIA Dr. Maurin Sitorus 2004

ABSTRAK Kontribusi sektor minyak dan gas bumi mempunyai peran penting dalam pertumbuhan dan pembangunan ekonomi secara global, regional maupun nasional khususnya Indonesia. Tetapi kondisi minyak dan gas bumi Indonesia telah mengalami penurunan terutama dalam hal eksportir bahan mentah minyak semenjak Indonesia mengalami krisis moneter. Atas pertimbangan-pertimbangan tersebut, penelitian ini dilakukan guna mengetahui bagaimana pengaruh faktor ekonomi makro Indonesia terhadap kinerja saham sektor pertambangan minyak dan gas bumi, dan faktor mana yang sangat berpengaruh terhadap kondisi pertambangan minyak dan gas bumi. Adapun variabelvariabel yang dilibatkan dalam faktor ekonomi makro adalah inflasi, suku bunga SBI, kurs, dan jumlah uang beredar. Hasil penelitian mejelaskan bahwa variabel-variabel makro ekonomi berpengaruh secara simultan terhadap kinerja saham pertambangan minyak dan gas bumi. Dan variabel makro ekonomi yang berpengaruh sangat besar terhadap kinerja saham pertambangan minyak dan gas bumi adalah variabel kurs. PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan Minyak merupakan komoditas utama didalam perekonomian modern. Seluruh aktivitas perekonomian serta industri tergantung dari stabilitas harga minyak. Hal ini dikarenakan peranan vital minyak sebagai sumber energi utama bagi sebagian besar proses produksi dan kegiatan perekonomian di seluruh belahan bumi. Fluktuasi harga minyak memiliki pengaruh besar terhadap seluruh rangkaian proses produksi maupun aktivitas modern, sehingga kenaikan atau penurunan harga minyak memiliki pengaruh signifikan terhadap seluruh kegiatan perekonomian dan kehidupan masyarakat dunia. Secara empiris, resesi perekonomian dunia selalu dipicu oleh kenaikan harga minyak. Salah satu contoh yang riil ialah saat ini di New York, dimana harga minyak mentah melonjak tajam menjadi 41,56 US$ per barrel (Jum’at, 14 Mei 2003), setelah sebelumnya selalu berkisar antara 25 US$ - 30 US$ per barrel. Kenaikan harga minyak tersebut dipicu laporan mengenai persediaan minyak Amerika Serikat yang ternyata tidak

sebesar perkiraan sebelumnya. Kenaikan harga minyak mentah tersebut secara perlahan bias memicu inflasi dan menurunkan kinerja bursa saham di Amerika Serikat. Hal serupa bisa terjadi di Negara-negara lain. Oleh karena itu, minyak memegang peranan vital di dalam menjaga stabilitas perekonomian dunia. Perseteruan atau sengketa soal minyak telah terbukti melahirkan peperangan di berbagai negara, sehingga komoditas ini selalu menjadi titik sentral dari pertumbuhan dan pengembangan ekonomi secara global, regional, maupun nasional. Kinerja seluruh bursa saham dunia selalu terpengaruh oleh fluktuasi harga minyak mentah dunia. Indonesia sebagai salah satu Negara produsen minyak mentah dunia memiliki ketergantungan yang besar terhadap fluktuasi harga minyak. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode 1970-1980 bergantung kepada harga minyak mentah dunia yang meningkat tajam seiring dengan krisis minyak dunia akibat perang Arab-Israel dan embargo Negara Arab terhadap Amerika Serikat, yang sering dosebut sebagai Oil Bonanza. Tetapi kontribusi sektor minyak dan gas bumi menurun seiring dengan persediaan minyak bumi yang semakin menipis di Indonesia dan Pertumbuhan sektor riil yang lain di luar minyak dan gas bumi. Dalam kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Tahun 2000, kontribusi sub-sektor industri pengolahan bukan minyak dan gas mencapai 22,10 persen dan Produk Domestik Bruto Indonesia dan tahun 2001 mencapai 21,96 persen. Sementara itu, sumbangan sub sektor industri migas tahun 2000 dan 2001 sama, yaitu sebesar 4,15%. Seiring dengan kondisi makroekonomi Indonesia yang masih belum stabil sejak krisi ekonomi tahun 1998, kontribusi sektor minyak dan gas pun mengalami fluktuasi. Hal ini terlihat dari tingkat inflasi tahun 1998 sebesar 77,63%, tahun 1999 sebesar 2,01%, tahun 2000 sebesar 9,35% dan tahun 2001sebesar 7,70%, sementara kontibusi sektor minyak tahun 1998 sebesar 7,84%, tahun 1999 sebesar 6,59%, tahun 2000 sebesar 10,22% dan tahun 9,60%. Secara sepintas terlihat ada hubungan linier antara tingkat inflasi dan kontribusi sektor migas terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tetapi yang menjadi pertanyaan ialah apakah hubungan tersebut juga terdapat pada kierja saham minyak dan gas. Bagaimanapun di dalam sistem perekonomian modern, tidak bisa dipungkiri bahwa sektor finansial memegang peranan yang lebih besar dibandingkan dengan sektor riil. Majunya investasi di bidang finansial pada suatu negara akan mendorong kelancaran investasi pada sektor riil. Kedua bentuk investasi tersebut di atas, memilikisuatu karakteristik yang bersifat komplementer (Alexander, Sharpe, Bailey, 1995). Oleh karena itu, didalam penelitian ini akan diteliti mengenai hubungan antara variabel-variabel makroekonomi terhadap kierja saham perusahaan minyak di Indonesia. Kinerja saham Perusahaan Minyak yang sudah listing di Bursa Efek Jakarta merupakan obyek di dalam penelitian ini.

Penelitian Sebelumnya Chen, Roll dan Ross (1986) melakukan penelitian yang dilakukan dalam 2 tahap. Tahap pertama dengan menggunakan regresi time series yang hasilnya menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mendasari perubahan harga saham, yaitu, 1. Tingkat Inflasi 2. Perbedaan antara tingkat suku bunga jangka pendek dan jangka panjang. 3. Perbedaan antara tingkat keuntungan obligasi yang beresiko tinggi dan rendah 4. Tingkat kegiatan dalam industri. Di luar faktor-faktor tersebut di atas, diteliti juga faktor-faktor lainnya, yaitu persentase pertumbuhan konsumsi riil per kapita dan perubahan indeks harga minyak, tetapi hasilnya tidak signifikan mempengaruhi volatilitas harga. Tahap kedua, mereka melakukan regresi cross section dengan menggunakan variabel beta yang didapat dari regresi tahap pertama dari masing-masing perusahaan dan faktor untuk setiap portofolionya. Hasilnya menunjukkan bahwa beta faktor tidak signifikan mempengaruhi return saham. Burnmeister dan McElroy (1988) menlanjutkan penelitian Chen, Roll dan Ross yang hasilnya menyatakan terdapat hubungan yang kuat antara variabel makroekonomi terhadap return suatu saham. Mereka memformulasikan hubungan tersebut sebagai berikut: Rm-λ 0 = 0,0022 – 1,33 X1 + 0,56 X2 + 2,29X3 – 0,93X4 T value R2 = 0,24 Di mana: X1 = Default Risk X2 = Time Premium X3 = Deflation X4 = Change In Expected Sales Sorensen, Menrich dan Thun Chee (1989) melakukan penelitian dengan membuat model untuk Solomon Brother Risk Index Model yang menyatakan bahwa terdapat tujuh fkator penting yang mempengaruhi returns saham, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Economic growth Business Cycle Long Term Interest Short Term Interest Inflation Currency Fluctuastion Market Index Securities (0,62) (-3,94) (4,96) (1,99) -2,27)

Untuk kondisi Amerika Serikat, variabel oil price dikeluarkan karena variabel tersebut tidak signifikan. Tetapi di Jerman, Prancis dan Jepang, variabel oil price mempengaruhi secara signifikan terhadap variasi return sekuritas. Riskianto (1992) menggunakan data di BEJ dari tahun 1984 sampai dengan tahun 1988 menguji Capital Asset Pricing Model (CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory (APT), dimana di dalam pengujian APT digunakan 2 faktor yaitu return pasar dan inflasi. Baik CAPM maupun Apt menunjukkan tidak adanya pola yang jelas antara beta dari return pasar maupun beta dari inflasi. Kubota dan Takehara (1994) melakukan peneltian terhadap return bulanan kurang lebih 1100 perusahaan pabrikan dan non pabrikan yang telah listing di Tokyo Stock Exchange pada periode penelitian September 1981 sampai dengan Juni 1993. Hasil dari penelitiannya menolak penggunaan single risk dari CAPM. Hal ini di karenakan beta tidak bisa menjelaskan variasi cross section return dari sekuritas, baik untuk sample portofolio maupun individu. Hubungan beta dengan realisasi return rata-rata adalah datar. Bambang Trisilo (1995) Menlakukan pengujian CAPM yang berorientasi kansumsi dengan menggunakan data triwulan dan gabungan CAPM-APT dengan menggunakan data bulanan di BEJ. Variabel bebas pada model APT ialah deposito berjangka, inflasi yang diharapkan, residual Indeks Harga Konsumen (IHK) Sebagao tingkat inflasi yang tidak diharapkan, return pasar yang diukur dengan IHSG dan perubahan harga minyak ekspor. Hasil yang didapat pada penelitian ini ialah koefosoen beta pada model CAPM maupun gabungan CAPM-APT tidak signifikan, sementara beta konsumsi pada CAPM berorientasi konsumsi signifikan dalam menjelaskan variasi return saham di BEJ. Erb, Harvey dan Vsikanta (1995) meneliti hubungan antara inflasi dan return asset di 41 negara yang terdiri dari Negara manju dan Negara berkembang dengan hasil sebagai berikut: 1. Secara Time series hubungan antara inflasi actual dan return asset memiliki hubungan yang negatif. 2. Return pasar Negara berkembang berkorelasi lebih tinggi terhadap inflasi dibandingkan di pasar modal Amerika Serikat dan dunia. 3. Dengan menggunakan inflasi yang diharapkan sebagai proxy Country Credit ratings ditemukan bahwa credit rating rata-rata memiliki korelasi yang tinggi dengan inflasi di masa dating. 4. Perbedaan tingkat inflasi antar Negara memiliki kemapuan untuk membedakan expected return dan volatilitasnya. 5. Penggunaan country credit rating bisa membedakan antara Negara yang memiliki expected return tinggi dan rendah. Kandell dan Offer (1996) menggunakan metode untuk mengukur ex ante tingkat bunga riil dengan menggunakan harga dari index dan nominal onligasi. Penggunaan metode ini dan data yang terbaru untuk menguji Hipotesis Fisher bahw tingkat bunga riil adalah independen dari tingkat inflasi yang diharapkan.

Karolyi dan Stulz (1996) meneliti mengenai faktor fundamental yang mempengaruhi korelasi return saham antar Negara. Mereka menemukan bahwa besaran ekonomi makro di As berpengaruh terhadap nilaitukar Yen terhadap Dollar As dan return T-bills serta tidak terukurnya efek industri yang mempengaruhi terhadap korelasi return antara AS dan Jepang. Namun demikian, pengaruh yang kuat terhadap indeks pasar saham (Nikkei 225 dan S&P 500) yang secara positif mempengaruhi besaran dan kontinuitas korelasi return. Ajayi dan Mongone (1996) meneliti hubungan intertemporal antara indeks harga saham dan kurs mata uang di 8 negara yang telah naju dengan ECM dari 2 variabel yang digunakan untuk mengestimasi secara simultan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Hasil tersebut menunjukkan bahwa harga saham domestik secara agregat berhubungan negatif dengan nilai kurs mata uang domestik dalam jangka pendek. Tetapi dalam jangka panjang memiliki pengaruh positif. Depresiasi mata uang berpengaruh negative terhadap pasar modal baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Erb, Harvey dan Viskanta (1996) meneliti mengenai expected return dan volatilitas saham di 135 negara dangan menggunakan country credit risk exposure untuk kelompok Negara berkembang. Model yang diperoleh adalah expected return dapat diprediksi dengan country credit risk. Manurung (1996) meneliti pengaruh variabel makroekonomi, investor asing dan indeks BEJ dengan menggunakan data triwulanan dan metode akar unit dan kointegrasi. Di dalam penelitiannya, Manurung menemukan bahwa variabel supply uang, tingkat bunga, kurs Rupiah terhadap US$, IHSG, pengeluaran pemerintah, PDB, deficit transaksi berjalan, indeks Strait Times dan indeks Dow Jones memiliki runtun waktu yang stasioner pada derajat I (1). Hanya variabel inflasi dan nilai pembelian bersih investor asing yang stasioner pada derajat I (0). Adapun variabel perubahan jumlah uang yang beredar, inflasi log satu, tingkat bunga, ky\urs Rupiah terhadap dollar AS, deficit transaksi berjalan, pendapatan perusahaan, netto volume pembelian saham asing lag 4, indeks Hangseng dan Dow jones secara signifikan mampu menjelaskan variasi dari perubahan IHSG. PDB dan pengeluaran pemerintah tidak signifikan terhadap perubahan IHSG. Bambang Hermanto (1998) mengatakan di dalam kondisi normal, variabel nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan variabel jumlah uang beredar mempengaruhi harga saham dan resiko saham. Selain itu, menurut Sakhowi (1998), terdapat hubungan yang signifikan antara perubahan nilai tukar rupiah atas dolar AS, perubahan jumlah uang beredar terhadap return saham. Return saham dan return pasar tidak dipengaruhi oleh perubahan tingkat bunga riil. Kerangka Pemikiran

Secara garis besar, konsep dasar dari penelitian ini ialah pengujian pengaruh variabelvariabel makroekonomi terhadap kinerja saham perusahaan minyak dan gas di Bursa Efek Jakarta. Alur dari penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

Suku Bunga SBI Kurs Rupiah Terhadap US $ Uang Beredar

IMBAL SAHAM PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI

Tingkat Inflasi

Secara Matematis alur di atas bisa dituliskan sebagai berikut: Rx = β 0 + β 1X1 + β 2X2 + β 3X3 + β 4X4 Dimana : Rx X1 X2 X3 X4 = Return Saham Perusahaan Minyak dan Gas = Suku Bunga SBI = Kurs Rupiah Terhadap US $ = Uang Beredar = Tingkat Inflasi

Hipotesis Penelitian Sesuai dengan tujuan dari penelitian, yaitu untuk menguji pengaruh dari variabel makroekonomi terhadap kinerja saham perusahaan minyak di Bursa Efek Jakarta (BEJ), maka hipotesis yang dikemukakan di dalam penelitian adalah: H1,0 H1,1 H2,0 H2,1 H3,0 H3,1 H4,0 H4,1 H5,0 H5,1 : Tingkat bunga SBI tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Tingkat bunga SBI berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Inflasi tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Inflasi berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Perubahan uang beredar tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Perubahan uang beredar berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Kurs Dolar AS tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Kurs Dolar AS berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Variabel makro ekonomi tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Variabel makro ekonomi berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi.

ANALISA DATA Model Regresi Berganda Menurut Nachrowi (2002), model regresi berganda (Multiple Regression Model) merupakan regresi yang digunakan untuk membuat hubungan antara satu variabel terikat, dan beberapa variabel bebas. Adapun bentuk model umumnya dituliskan sebagai berikut :

Yi = β 0 + β 1X1i + β 2X2i + β 3 + X3i …. + β kXki + ui dimana i = 1, 2, 3, …….., N (banyaknya observasi) Berdasarkan model diatas, nilai-nilai parameter tersebut akan diduga, sehingga modelnya menjadi Yi = b0 + b1X1i + b2X2i + b3X3i …. + bkXki dimana i = 1, 2, 3, …….., N (banyaknya observasi) b0, b2, b3, b4, ……, bk, dugaan β 0, β 1., β 2, β 3, ……., β k Berdasarkan pengambilan sample yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya, dimana sample yang diambil hanya dua jenis saham yaitu saham MEDCO dan BUMI, maka model yang dibentuk dalam penelitian ini hanya dua model. Dan setiap model menggambarkan kondisi ekonomi makro ekonomi terhadap masing-masing saham. Sebelum melangkah lebih jauh bagaiman model yang akan dibentuk, terlebih dahulu harus mengetahui tahapan-tahapan dalam penyusunan model regresi berganda. Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Menentukan variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent). 2. Menentukan metode penyusunan model regresi 3. Mengamati ada tidaknya data yang ekstrim (outlier) 4. Menguji asumsi-asumsi pada regresi berganda, seperti Normalitas, Autokorelasi, Heterokedastisitas, dan Multikolinearitas 5. Menguji signifikansi model 6. Intepretasi hasil model regresi berganda. Berdasarkan tahapan-tahapan tersebut diatas dan mengingat penelitian ini akan melihat bagaimana pengaruh variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat, langkah pertama yang harus ditentukan terlebih dahulu adalah mengidentifikasi variabel-variabel mana yang akan dikategorikan ke dalam kelompok variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent). Adapun kelompok variabel-variabel tersebut adalah : Variabel Bebas 1. Nilai tukar dollar As terhadap rupiah (KURS) 2. Suku bungan SBI 3. Uang beredar 4. Inflasi Variabel Tak Bebas 1. Return saham pertambangan minyak dan gas bumi. Karena penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengaruh variabel terikat terhadap variabel bebas secara bersamaan (pengaruh ekonomi makro terhadap

kinerja saham pertambangan minyak dan gas bumi) dan model yang dibentuk hanya 2 jenis model (2 jenis saham), maka pengaruh ekonomi makro terhadap masing-masing kinerja saham dapat dilihat dengan jelas. Berdasarkan penjelasan-penjelasan kondisi masing-masing kinerja saham diatas, dapat disimpulkan kondisi kinerja pertambangan minyak dan gas bumi secara menyeluruh. Dalam regresi linear berganda, prinsip-prinsip yang mendasarinya tidaklah berbeda dengan prinsip-prinsip dalam regresi linear sederhana. Akan tetapi dalam regresi linear berganda akan dijumpai beberapa permasalahan, seperti Multikolinearitas, Heterokedastis (ditemukan juga dalam regresi linear sederhana), dan Otokorelasi. Uji Multikolinearitas Secara implisit, intepretasi model (persamaan regresi berganda) bergantung pada asumsi bahwa variabel-variabel bebas dalam persamaan tersebut tidak saling berkorelasi. Jika dalam model yang dibentuk terdapat korelasi antara variabel bebas, maka permasalahan multikolinearitas (hubungan yang linear) antara regresor akan muncul. Model regresi yang benar semestinya tidak mengandung unsure multikolinearitas (tidak ada korelasi antara variabel bebas), karena akan mengakibatkan intepretasi terhadap permasalahan yang ada menjadi tidak benar. Untuk menguji ada tidaknya masalah multikolinearitas dalam permodelan tersebut dapat digunakan uji terhadap besaran korelasi antar variabel bebas. Adapun batasanbatasan yang digunakan dalam pengujian Multikolinearitas (Levin : 2002) adalah sebagai berikut: • Jika korelasi lebih kecil dari 0,5, hubungan antara variabel bebas tersebut mempunyai korelasi yang lemah. • Jika korelasi lebih kecil dari 0,5, hubungan antara variabel bebas tersebut mempunyai korelasi yang lemah. Uji multikolinearitas dilakukan guna menghindari sebagai berikut:  Variansi besar (dari taksiran OLS)  Interval kepercayaan lebar (variansi besar standard error besar interval kepercayaan lebar)  Uji-t (t rasio) tidak signifikan. Suatu variabel bebas yang signifikan baik secara substansi, maupun secara statistik jika dibuat regresi sederhana, bisa tidak signifikan karena variansi besar akibat kolinearitas.  R2 yang tinggi tetapi tidak banyak variabel yang signifikan dari uji-t.  Terkadang taksiran koefisien yang dihasilkan mempunyai nilai yang tidak sesuai dengan substansi, sehingga dapat menyesatkan intepretasi. Uji Heterokedastisitas Salah satu asumsi yang harus dipenuhi agar taksiran parameter dalam model bersifat BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) adalah variansi dari residunya sama dari setiap pengamatan. Suatu model yang memiliki variansi tetap untuk setiap

pengamatan disebut Homoskedastis, sebaliknya jika variansi residu untuk setiap pengamatan tidak sama maka model tersebut mempunyai sifat heteroskedastis dan model regresi yang baik berdasarkan BLUE adalah model yang mempunyai sifat Homoskedastis. Karena bukti yang menunjukkan apah suatu model regresi linear berganda bersifat heteroskedastis/homoskedastis, maka titik utama yang harus diuji adalah variansinya. Jika variansi residu konstan, maka model regresi linear berganda tersebut bersifat homoskedastis. Dengan kata lain, parameter-parameter yang telah ditaksir dalam model regresi linear berganda tersebut bersifat BLUE (Best Linear Unbiased Estimator). Begitu juga sebaliknya, jika variansi residu tidak konstan, maka model regresi linear berganda tersebut bersifat heteroskedastis (parameter-parameter taksirannya bersifat bias). Adapun hipotesis yang digunakan untuk menguji ada tidaknya heteroskedastis (White, 1980b) adalah sebagai berikut : H0 : var(ui) = σ 2 ( konstan ) Artinya variansi residu selalu konstan untuk setiap i. H1 : var(ui) ≠ σ 2 ( tidak_konstan ) Artinya variansi residu selalu berubah-ubah untuk setiap i. Tingkat kepercayaan yang diambil sebesar 90% (α = 10%). Berdasarkan hipotesis tersebut diatas, H0 ditolak jika nilai Probability dalam White Heteroskedasticity Test ( E-Views) lebih kecil atau sama dengan 10%. Artinya model regresi linear berganda yang terbentuk bersifat heteroskedastis. Begitu juga sebaliknya, H0 tidak ditolak jika nilai Probability dalam White Heteroskedasticity Test ( E-Views) lebih besar dari 10%. Artinya model regresi linear berganda yang terbentuk bersifat homoskedastis, dengan kata lain taksiran parameter-parameter yang terbentuk bersifat BLUE. Uji Otokorelasi Salah satu asumsi yang harus dipenuhi agar taksiran parameter dalam model tersebut bersifat BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) adalah tidak adanya korelasi antara residu satu dengan residu lainnya. Jadi otokorelasi adalah adanya korelasi antara variabel itu sendiri, pada pengamatan yang berbeda waktu atau individu. Cara yang digunakan untuk mendeteksi adanya otokorelasi dalam suatu model regresi linear berganda yaitu Uji Durbin-Watson (Nachrowi, 2002). Adapun batasan-batasan yang digunakan adalah sebagai berikut: • Angka d di bawah –2 berarti ada otokorelasi positif • Angka d diantara –2 sampai +2 berarti tidak ada otokorelasi • Angka d di atas +2 berarti ada otokorelasi

Agar lebih jelas batasan-batasan otokorelasi dengan tidak adanya otokorelasi yang digunakan, perhatikan batasan-batasan dibawah ini:      d < 1.25, artinya ada korelasi positif 1.25 ≤ d ≤ 1.72, artinya tidak dapat diambil kesimpulan. 1.72 ≤ d ≤ 2.28, artinya tidak ada korelasi positif maupun negatif 2.28 ≤ d ≤ 2.75, artinya tidak dapat diambil ksimpulan d > 2.75, artinya ada korelasi negatif

Untuk membantu memperjelas batasan-batasan uji Durbin-Watson diatas, perhatikan gambar dibawah ini.
Tidak tahu Tidak tahu

Korelasi positif

Tidak ada korelasi

Korelasi negatif

0

1.25

1.72

2.28

2.75

4

Gambar Aturan Membandingkan Uji Durbin-Watson dengan table Durbin-Watson

Dampak yang timbul akibat adanya otokorelasi adalah taksiran yang diperoleh dengan menggunakan OLS (Ordinary Least Square) tidak lagi BLUE, namun masih tidak bias, dan konsisten. Oleh karenanya interval kepercayaan menjadi lebar, dan uji signifikansi kurang kuat. Akibatnya uji-t dan uji F tidak dapat dilakukan, atau hasinya tidak akan baik. Analisa Uji Hipotesis Model yang digunakan dalam penelitian ini merupakan model regresi linear berganda dengan menggunakan 4 variabel bebas ( variabel ekonomi makro) dan 1 variabel tak bebas (imbal saham pertambangan minyak dan gas bumi). Adapun model regresi tersebut adalah sebagai berikut: Y = β 0 + β 1X1 + β 2X2 + β 3 + X3 + β 4X4 Dimana :

Y X1 X2 X3 X4

: Imbal saham pertambangan minyak dan gas bumi : Tingkat Inflasi : Kurs rupiah terhadap US$ : Suku bungan SBI : Jumlah uang beredar

Dalam model regresi linear berganda yang telah terbentuk akan ditemukan berbagai permasalahan heteroskedastisitas, multikolinearitas dan otokorelasi. Cara yang tepat menanggulangi permasalahan-permasalahan tersebut adalah transformasi dengan menggunakan Natural Log. Agar lebih jelas bagaimana proses pembentukan model regresi linear berganda (parameter-parameternya bersifat BLUE) tersebut, perhatikan kerangka proses pembentukan model dibawah ini.
Proses Transformasi

Uji Model Simultan ( Uji F )

R-Squares
Model diperiksa substansi

Heteroskedastis

Uji Parameter ( Uji t )

Multikolinearitas

Tidak sesuai

Otokorelasi

Kerangka diatas menggambarkan proses pembentukan model yang dilakukan secara berulang-ulang guna mendapatkan model terbaik yang sesuai dengan substansi yang ada. Setelah model terbaik diperoleh, analisa dilanjutkan dengan melakukan uji terhadap semua hipotesis. Adapun hipotesis-hipotesis tersebut adalah sebagai berikut : H1,0 : Variabel Makro ekonomi tidak berpengaruh secara simultan terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi.

H1,1 H2,0 H2,1 H3,0 H3,1 H4,0 H4,1 H5,0 H5,1

: Variabel makro ekonomi berpengaruh secara simultan terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Inflasi tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Inflasi berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Kurs tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Kurs berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Tingkat bunga SBI tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Tingkat bunga SBI berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Perubahan uang beredar tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi. : Perubahan uang beredar berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi.

Uji Hipotesis Terhadap Saham Bumi. Model terbaik saham BUMI yang dihasilkan merupakan model awal yang tidak perlu dilakukan transformasi lagi dikarenakan model tersebut telah bebas dari gejala heteroskedastisitas, multikolinearitas, dan otokorelasi. Dan juga, model yang dihasilkan memiliki signifikansi yang cukup baik. Adapun penjelasan masing-masing uji tersebut adalah sebagai berikut : o Uji Heteroskedastis Model yang telah terbentuk harus terbebas dari gejala heteroskedastisitas (homokedastis), artinya variansi semua residu pada setiap waktu tidak mengalami perubahan (konstan). Karena nilai prob(Obs*R-squared) lebih besar dari α = 10% (table uji heteroskedastis), White Heteroskedasticity Test: F-statistic 1.090195 Probability 0.415770

Obs*R-squared

15.15511

Probability

0.367634

maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima, artinya model terbaik tersebut tidak signifikan pada α = 10%. Dan hal tersebut untuk menunjukkan bahwa model terbaik tersebut tidak mengandung gejala heteroskedastis (Bab 3.7.3).

o Uji Multikolinearitas Gejala multikolinearitas menggambarkan adanya hubungan yang erat (lebih besar 0.5) antara variabel bebas. Sedangkan model yang baik berasumsikan bahwa antar variabel bebas harus saling independen (tidak saling berkorelasi) INFLASI KURS SBI UBER INFLASI 1.000000 -0.089061 -0.230862 -0.028498 KURS -0.089061 1.000000 0.022341 0.256835 SBI -0.230862 0.022341 1.000000 -0.129341 UBER -0.028498 0.256835 -0.129341 1.000000

Berdasarkan table multikolineraitas dapat disimpulkan bahwa antar variabel bebas tidak terkandung unsure multikolinearitas, hal tersebut dikarenakan nilai korelasi antar masing-masing variabel bebas inflasi, kurs, sbi, dan uber (uang beredar) lebih kecil dari 0.5. o Uji Otokorelasi Uji Otokorelasi dapat diuji dengan menggunakan table Durbin-Watson ( Bab 3.7.4). Dan berdasarkan output (table model yang diperoleh, nilai Durbin-Watson stat (1.840817) yang dihasilkan berada dalam kondisi tidak ada korelasi ( 1.72 < d < 2.28 ). Jadi telah terbukti bahwa model yang dihasilkan tidak memiliki gejala otokorelasi.
Dependent Variabel: BUMI Method: Least Squares Date: 07/07/04 Time: 21:24 Sample: 1 37 Included observations: 37 BUMI=C(1)+C(2)*INFLASI+C(3)*KURS+C(4)*SBI+C(5)*UBER Coefficient C(1) C(2) C(3) C(4) C(5) R-squared 0.742053 -6.870750 -3.941754 -0.057545 6.668674 0.387828 Std. Error t-Statistic Prob. 0.0030 0.0039 0.0023 0.2945 0.1622 0.110226

0.230847 3.214480 2.204867 -3.116174 1.190105 -3.312107 0.053988 -1.065889 4.661288 1.430651 Mean dependent var

Adjusted R-squared S.E. of Regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat

0.311307 0.393617 4.957889 -15.31687 1-840817

S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

0.474308 1.098209 1.315901 5.068226 0.002803

o Uji Model Simultan (Uji F) dan R-Squared (R2). Berdasarkan table model diatas, persamaan regresi berganda yang didapat adalah sebagai berikut: bumi = 0.742 – 6.871 inflasi – 3.942 kurs – 0.058sbi + 6.6694uber Model tersebut menghasilkan uji F yang menjelaskan bahwa model signifikan secara statistik pada α = 10%, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua koefisien secara bersama-sama signifikan secara statistik, dengan kata lain hipotesis H1,0 ditolak. Artinya variabel makro eknomi (inflasi, kurs, sbi, dan jumlah uang beredar) secara simultanberpengaruh terhadap tingkat pengembalian saham BUMI. Dan besarnya R2 yang dihasilkan menunjukkan angka yang cukup, yaitu sebesar 38.8%. Berarti model ersebut dapat menerangkan saham BUMI sebesar 38.8% dan 61.2% saham BUMI dijelaskan oleh faktor-faktor lain (selain faktor makroekonomi). o Uji Parameter (Uji t)  Nilai 0.742053, menjelaskan bahwa bila variabel makro ekonomi tidak mengalami perubahan, atau sama dengan nol, maka tingkat pengembalian saham BUMI sebesar 0.74%. Hal tersebut sangat mungkin terjadi dikarenakan terdapat faktor lain, selain faktor makro ekonomi, yang bias menyebabkan nilai persentasenya tidak akan sama. Faktor-faktor lain tersebut misalnya faktor mikro ekonomi, kondisi pasar, dan lain sebagainya.  Uji Hipotesis Inflasi ( H2,0 ) Nilai –6.870750, memberikan kesimpulan bahwa H2,0 ditolak, dengan kata lain faktor inflasi berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham BUMI. Kesimpulan tersebut menjelaskan bahwa setiap kenaikan 1% tingkat inflasi, mengakibatkan tingkat pengembalian saham BUMI turun sebesar 6.87%. Uji Hipotesis Kurs ( H3,0 ) Nilai –3.941754, menyimpulkan bahwa H3,0 ditolak, dengan kata lain faktor kurs berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham BUMI. Hal tersebut menjelaskan bahwa setiap kenaikan 1 rupiah nilai tukar dollar, mengakibatkan terjadinya penurunan tingkat pengembalian saham BUMI sebesar 3.94%.  Uji Hipotesis Suku Bunga SBI ( H4,0 ) Nilai –0.057545, memberikan informasi bahwa H4,0 tidak ditolak. Jadi jelas bahwa faktor suku bunga SBI (Setifikat Bank Indonesia) tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham BUMI karena

ketidaksignifikananya pada α =10%. Faktor suku bunga SBI hanya bias menerangkan tingkat pengembalian saham BUMI pada α = 29.45% (tingkat kepercayaan).  Uji Hipotesis Uang Beredar ( H5,0 ) Nilai 6.668674, menyimpulkan bahwa H5,0 tidak ditolak, artinya faktor jumlah uang beredar tidak berpengaruh terhadap tingkat pengembalian saham BUMI. Faktor jumlah uang beredar hanya bias menerangkan tingkat pengembalian saham BUMI pada α = 16.22%, sedangkan tingkat kepercayaan yang diambil dalam penelitian ini hanya 10%. Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa hanya faktor inflasi dan kurs nilai rupiah terhadap dolar yang dapat mempengaruhi tingkat pengembalian saham BUMI. Sedangkan faktor suku bunga SBI dan jumlah uang beredar tidak mempengaruhi tingkat pengembalian saham BUMI. Uji Hipotesis Terhadap Saham MEDCO Model yang dihasilkan saham MEDCO merupakan model yang kurang baik disbanding saham BUMI, hal tersebut sudah terefleksikan dalam deskripsi masing-masing saham dimana tingkat fluktuasi yang dihasilkan pada saham MEDCO lebih tinggi disbanding saham BUMI, dengan kata lain saham MEDCO lebih beresiko disbanding saham bUMI. Walaupun demikian, model yang dihasilkan ini merupakan model terbaik dari berbagai bentuk transformasi yang telah dilakukan. Dan model terbaik yang telah terbentuk tersebut juga telah terbebas dari sifat heteroskedastis, multikolinearitas, dan otokorelasi. Adapun penjelasan tentang uji-uji yang telah dilakukan adalah sebagai berikut : o Uji Heteroskedastis Salah satu uji yang harus terpenuhi agar parameter-parameter yang dihasilkan bersifat BLUE adalah menguji ada tidaknya sifat heteroskedastisistas dalam model ang dihasilkan. Dan model yang baik adalah yang tidak mengandung sifat heteroskedastisitas, artinya variansi setiap residu pada setiap waktu tidak mengalami perubahan (konstan). Berdasar uji heteroskedastisitas yang dilakukan dengan metode White terhadap model saham MEDCO, maka dihasilkan nilai prob(Obs*R-squared)lebih besar dari α = 10% (table uji heteroskedastisitas). White Heteroskedaticity Test: F-statistic 1.330394 Obs*R-squared 16.96333 Probability Probability 0.266496 0.258137

atau H0 diterima, artinya model terbaik tersebut tidak signifikan pada α = 10%. Kesimpulan tersebut memberikan gambaran bahwa model terbaik tersebut mengandung gejala homoskedastisitas. o Uji Multikolinearitas Dalam pengujiannya, model yang baik selalu berasumsikan bahwa antar variabel bebas harus saling bebas (tidak saling berkorelasi). Gejala tidak adanya multikolinearitas dalam model tersebut digambarkan oleh adanya hubungan yang

erat (lebih kecil dari 0,5), sedangkan hubungan yang tidak erat diekspresikan dalam bentuk r yang lebih besar dari 0,5. MEDCO MEDCO LN_INFLAS I KURS SBI LN_UBER LN_INFLAS I 1.000000 -0.080092 -0.080092 1.000000 -0.253646 0.066394 0.289669 -0.562467 -0.243119 -0.076181 KURS SBI LN_UBER

-0.253646 0.289669 -0.243119 0.066394 -0.562467 -0.076181 1.000000 0.180299 -0.228640 0.180299 1.000000 -0.379826 -0.228640 -0.379826 1.000000

Berdasar table multikolinearitas diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar (92%) variabel bebas tidak mengandung unsure multikolineritas, kecuali terdapat hubungan yang cukup erat antara variabel inflasi denganvariabel SBI. Tetapi nilai korelasi sebesar –0.562467 (lebih mendekati pada ambang batas 0.5) bias dikategorikan dalam kelompok antara ada hubungan maupun tidak ada hubungan. Sedangkan nilai korelasi lain antar masing-masing variabel bebasnya lebih kecil dari 0.5. o Uji Otokorelasi Berdasar table Durbin-Watson (Bab 3.7.4) dan output (table model) yang dihasilkan, nilai Durbin-Watson stats (2.248052) berada dalam kondisi tidak ada korelasi ( 1.72 < d < 2.28 ) positif dan negatif. Dan ini menyimpulkan bahwa model terbaik yang dihasilkan tidak memiliki gejala otokorelasi. o Uji Model Simultan (Uji F) dan R-squared (R2) Berdasar table model dibawah, persamaan regresi berganda yang didapat adalah sebagai berikut:
MEDCO = 0.0449 + 0.0436Ln_inflasi – 0.7172kurs + 1.2095sbi – 0.02298Ln_uber

Model tersebut menghasilkan uji F yang menjelaskan bahwa model signifikan secara statistik pada α = 10%, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua koefisien
Dependent Variabel: MEDCO Method: Least Squares Date: 07/08/04 Time: 10:02 Sample: 1 37 Included observations: 37 MEDCO=C(1)+C(2)*LN_INFLASI+C(3)*KURS+C(4)*SBI+C(5)*LN_UBER Coefficient C(1) C(2) 0.044856 0.043616 Std. Error 0.211368 0.065648 t-Statistic 0.212217 0.664386 Prob. 0.8333 0.5112

C(3) C(4) C(5) R-squared Adjusted R-squared S.E. of Regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat

-0.717173 1.209500 -0.022977 0.231913 0.135902 0.103408 0.342183 34.14086 2.248052

0.314432 -2.280853 0.734864 1.645882 0.023426 -0.980821 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

0.0294 0.1096 0.3340 0.016689 0.111243 -1.575181 -1.357490 2.415488 0.069126

Secara bersama-sama signifikan secara statistik, dengan kata lain hipotesis H1,0 ditolak. Artinya variabel makro ekonomi (inflasi, kurs, sbi, dan jumlah uang beredar) secara simultan berpengaruh terhadap tingkat pengembalian saham MEDCO. Dan besarnya R2 yang dihasilkan menunjukkan angka yang cukup, yaitu sebesar 23.2%. Berarti model tersebut dapat menerangkan saham MEDCO sebesar 38.8% dan 61.2% saham MEDCO dijelaskan oleh faktor-faktor lain (selain faktor makro ekonomi). o Uji Parameter (Uji t)  Nilai 0.044856, menjelaskan bahwa bila variabel makro ekonomi tidak mengalami perubahan, atau sama dengan nol, tidak bias dilakukan untuk memprediksi berapa tingkat pengembalian saham MEDCO karena nilai yang dihasilkan tidak signifikan secara statistik.  Uji Hipotesis Inflasi ( H2,0 ) Nilai 0.043616, menjelaskan bahwa H2,0 tidak ditolak, artinya faktor inflasi tidak berpengaruh terhadap tingkat pengembalian saham MEDCO. Faktor inflasi hanya bias menjelaskan terhadap tingkat pengembalian saham MEDCO pada tingkat kepercayaan (α ) sebesar 51.12% sedangkan tingkat kepercayaan yang diambil dalam penelitian ini hanya 10% Uji Hipotesis Kurs ( H3,0 ) Nilai –0.717173, menyimpulkan bahwa H3,0 ditolak, artinya faktor kurs berpengaruh yang cukup signifikan secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham MEDCO. Dan nilai tersebut menjelaskan bahwa setiap kenaikan 1 rupiah nilai tukar dollar akan mengakibatkan penurunan kurs sebesar 0.72%.  Uji Hipotesis Suku Bunga SBI ( H4,0 ) Nilai 1.209500, menjelaskan bahwa H4,0 tidak ditolak. Jadi jelas bahwa faktor suku bunga SBI (Setifikat Bank Indonesia) tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham BUMI karena ketidaksignifikananya pada α =10%. Faktor suku bunga SBI hanya bias menerangkan tingkat pengembalian saham BUMI pada α = 29.45% (tingkat kepercayaan).  Uji Hipotesis Uang Beredar ( H5,0 ) Nilai 6.668674, menyimpulkan bahwa H5,0 tidak ditolak, artinya faktor jumlah uang beredar tidak berpengaruh terhadap tingkat pengembalian saham BUMI. Faktor jumlah uang beredar hanya bias menerangkan tingkat pengembalian

saham BUMI pada α = 16.22%, sedangkan tingkat kepercayaan yang diambil dalam penelitian ini hanya 10%. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Analisa yang dihasilkan dalam penelitian ini digunakan untuk menjawab semua pokok permasalahan kondisi pertambangan minyak dan gas bumi dan hubungannya dengan kondisi ekonomi makro di Indonesia. Adapun kesimpulan pengaruh variabel makro ekonomi terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi adalah sebagai berikut: 1. Secara Simultan; Variabel makro ekonomi (inflasi, kurs, suku bunga, dan uang beredar) berpengaruh secara simultan terhadap tingkat pengembalian saham BUMI dan MEDCO. Adapaun besar pengaruh variabel makro ekonomi tersebut terhadap masing-masing saham sebagai berikut : o Saham BUMI Variabel makroekonomi dapat menjelaskan tingkat pengembalian saham BUMI sebebsar 38.7%, sedangkan 61.3% tingkat pengembalian saham BUMI dijelaskan oleh variabel-variabel lain (selain inflasi, kurs, suku bunga, dan uang beredar). o Saham MEDCO Variabel makro ekonomi dapat menjelaskan tingkat pengemablian saham MEDCO sebesar 23%, sedangkan 77% tingkat pengembalian saham MEDCO dijelaskan oleh variabel-variabel lain (selain inflasi, kurs, suku bunga, dan uang beredar). 2. Secara Parsial; o Variabel Inflasi; Variabel inflasi berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham BUMI. Besar pengaruh yang dihasilkan adalah setiap kenaikan 1% tingkat inflasi, mengakibatkan turunnya tingkat pengembalian saham BUMI sebebsar 6.87%. Sedangkan saham MEDCO tidak dipengaruhi variabel inflasi secara parsial. o Variabel Kurs; Variabel kurs berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham BUMI dan MEDCO. Besar pengaruh variabel kurs terhadap saham BUMI adalah setiap kenaikan 1 rupiah nilai tukar dolar, mengakibatkan tingkat pengembalian saham BUMI turun sebesar 3.94%, sedangkan besar pengaruh variabel kurs terhadap tingkat pengembalian saham MEDCO yang dihasilkan adalah setiap kenaikan 1 rupiah nilai tukar dolar akan mengakibatkan penurunan kurs sebesar 0.72%. Secara umum, besar pengaruh variabel kurs terhadap saham BUMI dan MEDCO menyebabkan terjadinya penurunan terhadap tingkat pengembalian masing-masing saham.

o Variabel Suku Bunga dan Uang Beredar Variabel suku bunga dan uang beredar tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengembalian saham BUMI dan MEDCO. Hal ini dikarenakan nilai yang dihasilkan tidak signifikan secara statistik. 3. Secara umum, salah satu variabel makroekonomi yang berpengaruh terhadap tingkat pengembalian saham pertambangan minyak dan gas bumi adalah variabel kurs. Dan saham pertambangan minyak dan gas bumi yang sangat dipengaruhi variabel kurs adalah saham BUMI, karena tingkat penurunan yang dihasilkan terhadap tingkat pengembaliannya mencapai 3.94% untuk setiap kenaikan 1 rupiah nilai tukar dolar. 4. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap sektor pertambangan minyak dan gas bumi sudah cukup merepresentasikan karena data sample pengamatan yang dilakukan hampir 66.7% dari populasi saham-saham pertambangan minyak dan gas bumi. Saran 1. Variabel makro ekonomi yang dilibatkan dalam penelitian ini hanya 4 faktor yang dilibatkan, oleh karena itu perlu ditambahkan faktor-faktor lain baik yang termasuk kategori makro ekonomi maupun diluar makro ekonomi agar hasil penelitian yang dilakukan lebih komprehensif. 2. Periode pengamatan yang dilakukan terhadap kondisi pertambangan minyak dan gas bumi diperbesar sehingga data-data yang akan dianalisa lebih banyak. Selain menguntungkan para perusahaan, rentang data yang semakin besar juga bisa memberikan gambaran yang lebih jelas terhadap kondisi pertambangan minyak dan gas bumi. DAFTAR PUSTAKA Arthur J. Keown, et al, Dasar-dasar Manajemen Keuangan, alih bahasa oleh Chaerul D. Djakman, Salemba Empat, Jakarta, 1999, halaman 14. Farah Dewi, Siti Nurfitria & Sibarani Maurits, Peranan MuliNasional Corporation di Indonesia, Pasca Sarjana Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia, Depok, 2000. Lipsey, Richard D, et, al, Pengantar Makroekonomi, 19th ed, alih bahasa oleh Agus Maulana dan Kirbrandoko, cetakan pertama, Binarupa Aksara, Jakarta, 1992. Hady, Hamdy, Ekonomi Internasional: Teori Dan Kebijakan Keuangan Internasional, jilid 2, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2000. Indikator Ekonomi Bulanan Indonesia, Badan Pusat Statistik, Januari 1999- Desember 2003

International Financial Statistics, Official Data base International Monetary Fund (IMF), 2003 Kelana, Said, Teori Ekonomi Makro, cetakan pertama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996. Levin, Richard & Rubin, David, Statistics For Managements, Prentice Hall Internatinal Inc, 1998 Laporan Tahunan Badan Pusat Statistik, 1996-2002. Nachroi Djalal Nachrowi, Penggunaan Teknik Ekonometri: Pendekatan Populer dan Praktis, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2002. Pindyck, Robert & Rubinfeld, Daniel, Econometric Models and Economic Forecast, 4th edition, McGraw-Hill International Editions, Singapore, 1997. Samuelson, Paul & D. Nordhaus, William, ekonomi, alih bahasa oleh : Drs. A. Djaka Wasana, MSM, jilid 1, edisi ke-12, Penerbit erlangga, Jakarta, 1986. Situs Web Resmi Bank Indonesia: http://www.bi.go.id Sukirno, Sadono, Pengantar Teori Makroekonomi, edisi kedua, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1995. Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia Bulanan, Bank Indonesia, Januari 1999Desember 2003. Zvi Bodie, Alex Kane, Alan J Marcus, Investment, McGraw-Hill, New York, 2002.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->