Anda di halaman 1dari 8

PENGARUH VARIASI SUDUT PIPA CABANG TERHADAP

KECEPATAN FLUIDA DENGAN METODE SIMULASI


TUGAS AKHIR
Untuk memenuhi persyaratan
memperoleh gelar sarjana S-1

Oleh:
NAMA

: YUNUS MAHARDIKA

NIM

: H1F110019

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2014

PENGARUH VARIASI SUDUT PIPA CABANG


TERHADAP KECEPATAN FLUIDA DENGAN METODE SIMULASI
Yunus Mahardika, Akhmad Syarief, Hajar Isworo
Program Studi Teknik Mesin Universitas Lambung Mangkurat
Jalan A. Yani km 36 Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Email : yunus.mahardika@yahoo.co.id

Abstrak : Perkembangan aliran dalam pipa hingga sekarang masih terus berlanjut. Sudah banyak hasil dan
kajian aliran tersebut yang digunakan, baik dalam bidang penelitian mekanika fluida, maupun penggunaannya
dalam bidang industri, terutama dalam penerapannya di lapangan. Perkembangan yang pesat ini telah mendorong
untuk membuat kajian aliran dalam pipa yang lebih praktis dan efisien. Sekarang ini bukan hal yang baru lagi
apabila mendapatkan paket penyelesaian masalah aliran fluida dalam bentuk program komputer. Dalam
perhitungan kecepatan, debit, drop tekanan, dan lain-lain, kesemuanya dapat diolah dalam program yang telah
tersedia. Jadi tergantung data yang tersedia dan apa yang hendak dihitung. Akan tetapi satu hal yang pasti bahwa
dalam penyusunan dan pembuatan software tersebut tidak terlepas dari persamaan dasar dan empiric yang telah
ditemukan sebelumnya oleh para peneliti. Penelitian ini mengenai suatu akibat pada kecepatan fluida setelah
fluida cair mengalami penggabungan, namun penelitian ini menggunakan softwer ansys sehingga hasil bisa lebih
maksimal. Pipa sambungan yang digunakan tersebut terdiri dari pipa PVC 30 o, 45o dan 90o dan fluida yang
digunakan adalah air. Pada pipa 30o didapat nilai kecepatan adalah 0.092501199 m/s, pipa 45 o adalah
0.089394033 m/s dan pipa 90 o adalah 0.083213492 m/s. Dan untuk momentum tumbukan pada pipa 90 o adalah
1.92 kg.m/s, 45o adalah 1.97 kg.m/s dan pipa 30o adalah 1.99 kg.m/s.
Kata kunci : Ansys, Pipa PVC, Kecepatan Fluida, Momentum.
Abstract : The development of the flow in the pipe until now still continues. There have been many studies and
the results of the flow is used, both in the field of fluid mechanics research, and its use in industry, especially in
its application in the field. This rapid development has pushed to make the study of flow in a pipe that is more
practical and efficient. Now this is not a new thing anymore when getting a package settlement of the problem of
fluid flow in the form of a computer program. In the calculation of velocity, flow, pressure drop, and others, all
of which can be processed in a program as they become available. So depending on what data is available and
to be counted. But one thing is for sure that in the preparation and manufacture of such software cant be
separated from the base and empirical equations that have been found previously by researchers. This research
is a result of the velocity of the fluid after the incorporation of fluid experience, but this study using ansys
softwer so that the results can be maximized. Pipe connections are used consisted of PVC pipe 30 o, 45o and 90o
and the fluid used is water. At 30o pipe velocity value obtained is 0.092501199 m/s, pipe 45 o is 0.089394033 m/s
and 90o pipe is 0.083213492 m/s. And for the momentum of the collision at 90 o pipe is 1.92 kg.m/s, 45o is 1.97
kg.m/s and 30o pipe is 1.99 kg.m/s.
Keywords : Ansys, PVC Pipe, Fluid Velocity, Momentum.

I. PENDAHULUAN
Perkembangan aliran dalam pipa hingga
sekarang masih terus berlanjut. Sudah banyak hasil hasil dan kajian aliran tersebut yang digunakan, baik
dalam bidang penelitian mekanika fluida, maupun
penggunaannya dalam bidang industri, terutama
dalam penerapannya di lapangan. Perkembangan
yang pesat ini telah mendorong para ahli untuk
membuat kajian aliran dalam pipa yang lebih praktis
dan efisien. Sekarang ini bukan hal yang baru lagi
apabila kita mendapatkan paket-paket penyelesaian
masalah aliran fluida dalam bentuk program-program
komputer. Sebagai contoh, dalam perhitungan

kecepatan, debit, drop tekanan, perhitungan


kerugian-kerugian
(losses),
dan
lain-lain,
kesemuanya dapat diolah dalam program yang telah
tersedia. Jadi tergantung data yang tersedia dan apa
yang hendak dihitung.
Akan tetapi satu hal yang pasti bahwa dalam
penyusunan dan pembuatan software - software
tersebut tidak terlepas dari persamaan dasar dan
empiric yang telah ditemukan sebelumnya oleh para
peneliti. Pertanyaannya sekarang adalah sejauh mana
tingkat akurasi dan persamaan-persamaan yang
digunakan tersebut. Mengetahui tingkat akurasi
persamaan-persamaan yang digunakan dalam kajian

aliran dalam pipa sangat diperlukan, terutama untuk


menghemat biaya instalasi perpipaan secara
keseluruhan. Salah satu cara yang dapat digunakan
untuk menguji keakuratan persamaan-persamaan
tersebut di atas adalah dengan menentukan dan
menghitung fluida secara eksperimen dan secara
teoritis.
Perumusan Masalah
Bagaimana pengaruh sudut sambungan pipa 30o,
pipa 45o dan 90o terhadap kecepatan fluida ?
Tujuan Penelitian
Mengetahui pengaruh sudut sambungan pipa 30o,
45 , dan 90o terhadap kecepatan fluida.
o

Manfaat Penelitian
1 Memberikan
sumbangan
pemikiran
dan
pengembangan dalam bidang konversi energi.
2 Sebagai bahan rujukan atau referensi bagi
penelitian sejenis atau penelitian untuk
pengembangan yang lebih luas.
3 Secara teoritis dapat dipakai untuk mengetahui
seberapa besar efisiensi aliran setelah melawati
penggabungan aliran pada pipa cabang.
4 Secara praktis dapat dipakai sebagai bahan untuk
menentukan seberapa besar sudut pipa cabang
aliran yang bagus untuk penggabungan aliran di
industri maupun di instalasi tertentu.
Batasan Penelitian
a.
b.

c.
d.

e.
f.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui angka


kecepatan fluida.
Faktor gesek diasumsikan 0.0032245 m pada
pipa 30o , 0.00331459 m pada pipa 45o dan
0.0028398 m pada pipa 90o.
Fluida yang dipakai adalah air biasa.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
sambungan mana yang lebih efisien atau adanya
gesekan yang paling sedikit.
Aliran yang digunakan aliran laminer. Sehingga
angka reynold dan tingkat turbulen diabaikan.
Peneletian ini dilakukan menggunakan metode
simulasi, yaitu menggunakan softwer ansys.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Fluida adalah suatu zat yang bisa mengalami
perubahan-perubahan bentuknya secara continue atau
terus-menerus bila terkena tekanan atau gaya geser
walaupun relatif kecil atau bisa juga dikatakan suatu
zat yang mengalir, kata fluida mencakup zat cair, gas,
dan udara karena zat-zat ini dapat mengalir.
Sebaliknya batu dan benda-benda keras (seluruh zatzat padat tidak dapat dikategorikan sebagai fluida
karena zat-zat tersebut tidak bisa mengalir secara
continue).

Pipa adalah saluran tertutup yang biasanya


berpenampang lingkaran yang digunakan untuk
mengalirkan fluida dengan tampang aliran penuh
(Triatmojo 1996 : 25). Fluida yang di alirkan melalui
pipa bisa berupa zat cair atau gas dan tekanan bisa
lebih besar atau lebih kecil dari tekanan atmosfer.
Apabila zat cair di dalam pipa tidak penuh maka
aliran termasuk dalam aliran saluran terbuka atau
karena tekanan di dalam pipa sama dengan tekanan
atmosfer (zat cair di dalam pipa tidak penuh), aliran
temasuk dalam pengaliran terbuka. Karena
mempunyai permukaan bebas, maka fluida yang
dialirkan adalah zat cair. Tekanan dipermukaan zat
cair disepanjang saluran terbuka adalah tekanan
atmosfer.
Aliran Fluida Dalam Pipa Cabang
Pada saat ini teknologi semakin maju
khususnya pada pengembangan aliran fluida, para
ahli selalu berusaha untuk mencari penemuanpenemuan baru yang lebih aerodinamis untuk
mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Sudah
banyak peneletian tentang pengaruh kecepatan fluida
pada percabangan, belokan,
maupun kerugiankerugian lain yang terjadi di dalamnya. Beberapa
penelitian tersebut menjelaskan bahwa perubahan
penampang
maupun
bentuk
pipa
sangat
mempengaruhi aliran di dalamnya, salah satu
diantaranya menjelaskan bahwa variasi laju aliran
mempengaruhi nilai koefisien kerugian untuk pipa
cabang. Serta adapula hasil penelitian yang
menjelaskan bahwa nilai kerugian aliran akan
semakin tinggi jika sudut belok pipa semakin besar.
Aliran laminer dalam pipa
Aliran Laminer adalah aliran fluida yang
bergerak dengan kondisi lapisan-lapisan (lanimalamina) membentuk garis-garis alir yang tidak
berpotongan satu sama lain. Hal tersebut ditunjukkan
oleh percobaan Osborne Reynold. Pada laju aliran
rendah, aliran laminer tergambar sebagai filamen
panjang yang mengalir sepanjang aliran.

Gambar 1 aliran laminer


Dalam aliran laminer partikel-partikel zat
cair bergerak teratur mengikiuti lintasan yang saling
sejajar. Aliran laminer lebih mudah terjadi bila
kecepatan aliran relatif kecil sedangkan viskositas
cairan besar dan pengaruh kekentalan cukup dominan
dibandingkan dengan kecepatan aliran, sehingga
partikel-partikel zat cair akan bergerak teratur
menurut lintasan lurus.

Secara matematis aliran laminer akan terjadi


bila perbandingan momentum dan gaya viskous ada
di bawah 2000, atau yang lebih dikenal dengan
bilangan Reynold (Re) < 2000. Satu hal yang perlu
diperhatikan adalah bahwa aliran laminer tidak
dipengaruhi oleh bidang batas atau kekasaran
dinding.
Aliran turbulen dalam pipa
Aliran Turbulen adalah aliran fluida yang
partikel-partikelnya bergerak secara acak dan tidak
stabil dengan kecepatan berfluktuasi yang saling
interaksi. Akibat dari hal tersebut garis alir antar
partikel fluidanya saling berpotongan. Oleh Osborne
Reynold digambarkan sebagai bentuk yang tidak
stabil yang bercampur dalam waktu yang cepat yang
selanjutnya memecah dan menjadi tak terlihat.

Gambar 2 aliran turbulen


Turbulensi adalah gerak partikel zat cair
yang tidak teratur dan sebarang dalam waktu dan
ruang. Turbulensi ditimbulkan oleh gaya-gaya viskos
dan gerak lapis zat cair yang berdampingan pada
kecepatan berbeda. Aliran turbulen akan terjadi pada
bilangan reynold (Re) lebih besar dari 4000. Analisa
teoritis persamaan kehilangan energi pada aliran
turbulen (Re > 4000) akan lebih sulit dibandingkan
yang terjadi pada aliran laminer. Hal ini disebabkan
adanya ketidakteraturan aliran turbulen. Faktor
gesekan f dapat diturunkan secara matematis untuk
aliran laminar, tetapi belum ada hubungan matematis
yang sederhana untuk aliran turbulen.
Kehilangan Energi (head losses)
1. Kehilangan energi akibat gesekan
Kehilangan energi akibat gesekan disebut
juga kehilangan energi primer (Triatmojo 1996 :
58) atau mayor loss (Kodoatie 2002 : 245).
Terjadi akibat adanya kekentalan zat cair dan
turbulensi karena adanya kekasaran dinding
batas pipa dan akan menimbulkan gaya gesek
yang akan menyebabkan kehilangan energi
disepanjang pipa dengan diameter konstan pada
aliran seragam. Kehilangan energi sepanjang
satu satuan panjang akan konstan selama
kekasaran dan diameter tidak berubah.
2. Kehilangan energi akibat perubahan penampang
dan aksesoris lainnya.
Kehilangan energi akibat perubahan
penampang dan aksesoris lainnya disebut juga
kehilangan energi sekunder (Triatmojo 1996 :
58) atau minor loss (Kodoatie 2002 : 245).
Misalnya terjadi pada pembesaran tampang

(expansion),
pengecilan
penampang
(contraction), belokan atau tikungan. Kehilangan
energi sekunder atau minor loss ini akan
mengakibatkan adanya tumbukan antara partikel
zat cair dan meningkatnya gesekan karena
turbulensi serta tidak seragamnya distribusi
kecepatan pada suatu penampang pipa. Adanya
lapisan batas terpisah dari dinding pipa maka
akan terjadi olakan atau pusaran air. Adanya
olakan ini akan mengganggu pola aliran laminer
sehingga akan menaikan tingkat turbulensi.
Pengukuran Kecepatan Dan Volume Fluida
Meteran laju adalah alat yang menentukan,
pada umumnya dengan satu pengukuran saja, jumlah
(berat atau volume) per waktu satuan yang melalui
suatu penampang tertentu. Meteran laju mencakup
antara lain orifis, nosel, meteran venture, rotometer,
dan bending.
Orifis dapat digunakan untuk mengukur laju
aliran yang keluar dari suatu reservoir atau yang
melalui sebuah pipa. Orifis (lubang ukur) pada
reservoir atau tangki dapat terletak pada dinding atau
pada dasar. Orifis adalah suatu lubang yang biasanya
bulat, tempat fluida mengalir. Seperti pada gambar
2.6. Orifis dapat bertepi siku, dan lain sebagainya.
Luas orifis adalah luas lubang tersebut. Dalam hal
orifis yang bertepi siku, jet fluida menyempit
sepanjang jarak pendek kurang lebih setengah
diameter di sebelah hilir lubang. Bagian aliran yang
datang menyusur dinding tidak dapat membelok 90 o
pada dinding dan karenanya mempunyai komponen
kecepatan radial yang mempersempit luas jet.
Penampang yang penyempitannya maksimum disebut
vena contracta. Di penampang ini garis-garis aliran
sejajar diseluruh jet, dan tekanan adalah tekanan
atmosfer.
Tinggi tekan H di orifis diukur dari titik
pusat orifis sampai permukaan bebas. Tinggi tekan
tersebut diasumsikan dipertahankan konstan.
Persamaan Bernoulli yang ditetapkan dari suatu titik
1 pada permukaan bebas sampai titik pusat vena
contracta, titik 2, dengan tekanan atmosfer lokal
sebagai datum dan titik 2 sebagai datum elevasi
(ketinggian), dengan mengabaikan kerugian, adalah :

Gambar 3 Orifis (lubang ukur) pada reservoir

Dengan memasukkan nilai-nilai kita mendapatkan :

Atau

Momentum
Tumbukan Lenting dan Tak Lenting Sempurna
Tumbukan lenting adalah tumbukan yang
jumlah energi kinetik benda-bendanya sebelum dan
sesudah tumbukan adalah sama. Tumbukan seperti di
atas disebut tumbukan lenting sempurna dan
sebaliknya jika setelah tumbukan terjadi kedua benda
melekat menjadi satu maka disebut tumbukan tak
lenting sempurna.
Persamaan untuk tumbukan tak lenting sempurna
adalah :
Momentum sebelum tumbukan = Momentum
Sesudah Tumbukan

Dimana :
V = kecepatan (m/s)
g = gravitasi (m/s)
H = Ketinggian (m)

Dimana :
mA = Massa air 1 (kg/m3)
mB = Massa air 2 (kg/m3)
vA1 = Kecepetan benda 1 sebelum tumbukan (m/s)
vB1 = Kecepatan benda 2 sebelum tumbukan (m/s)
v2 = Kecepatan benda setelah tumbukan (m/s)

Gambar 4 Volume kendali untuk aliran


berkembang penuh sebatang pipa miring
Dan
dari
persamaan
,

berdasarkan gambar 4, pipa bergaris tengah R,


dengan sumbu x dipilih sebagai arah dan dimiringkan
pada sudut terhadap garis mendatar. Di dapat
persamaan :

V
g
H

= kecepatan (m/s)
= gravitasi (m/s)
= Ketinggian (m)
= vektor sudut belok pipa

III. METODE PENELITIAN


Tempat dari penelitian ini adalah di
Laboratorium Komputer Program Studi Teknik
Mesin Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.
Penelitian ini termasuk kategori penelitian rekayasa
yaitu penelitian yang digunakan untuk rekayasa
mekanisme, produk atau metode baru dengan
menggunakan teori yang sudah ada. Berdasarkan
kasus tersebut, penelitian yang akan dilaksanakan
mencakup bahan atau komponen yang diteliti dan
cara penelitian.
Metode fluid flow (fluent)
Untuk menganalisa aliran fluida pada pipa
cabang yaitu menggunakan program ansys untuk
mengetahui tingkat head losses setelah dua aliran
fluida mengalami penggabungan aliran. Pada
program akan diketahui seberapa besar angka
kecepatan antara tiga sudut yang berbeda dengan
debit dan jenis fluida sama. Program pemodelan
analisa yang digunakan adalah metode fluid flow
(fluent).

Berdasarkan macam alirannya maka fluida


dapat diklasifikasikan atas fluida sempurna (ideal),
dan fluida nyata (real) compressible dan
incompressible. Suatu fluida sempurna tidak
memiliki sifat kekentalan dan tidak dapat
dimampatkan.
Konsep
fluida
sempurna
memungkinkan untuk memecahkan perumusan
matematik yang lebih sederhana.

Variabel Penelitian

Gambar 5 pipa 30o

Gambar 6 pipa 45o

Gambar 9 pergerakan partikel fluida dalam pipa 30 o


Hasil Simulasi Pipa 45o
Gambar 7 pipa 90o
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Adapun tahapan-tahapan pengerjaan analisis
fluid flow (fluent) pada pipa menggunakan program
Ansys workbench adalah sebagai berikut :
1. Geometry
2. Mesh
3. Setup
4. Solution
5. Results
Hasil Simulasi Pipa 30o

Gambar 10 hasil simulasi pipa 45o


Angka kecepatan hasil dari simulasi pipa 45o adalah :
Inlet 1 : 0.058324885 m/s
Inlet 2 : 0.032319524 m/s
Outlet : 0.089394033 m/s

Gambar 8 hasil simulasi pipa 30o


Angka kecepatan hasil dari simulasi pipa 30o adalah :
Inlet 1 : 0.06050407 m/s
Inlet 2 : 0.032185274 m/s
Outlet : 0.092501199 m/s

Momentum Tumbuka Fluida


Tabel Hasil Perhitungan
Tabel 1 Hasil Perhitungan Momentum Tumbukan

Gambar 11 pergerakan partikel fluida dalam pipa 45 o


Hasil Simulasi Pipa 90o

Pipa

Kecepatan (m/s)

Momentum
(kg.m/s)

30o

0.092501199

1.99

45o

0.089394033

1.97

90o

0.083213492

1.92

Grafik perbandingan

0.094
0.092
0.09
0.088
0.086
0.084
0.082
0.08
0.078

0.0832134
92

Pipa 90

Gambar 12 hasil simulasi pipa 90o


Angka kecepatan hasil dari simulasi pipa 90o adalah :
Inlet 1 : 0.055817171 m/s
Inlet 2 : 0.030732306 m/s
Outlet : 0.083213492 m/s

0.0893940
33

0.0925011
99

Kecep
atan

Pipa 45
Pipa 30
Sudut Pipa

Gambar 14 grafik perbandingan variasi sudut pipa


terhadap kecepatan fluida

1.99

2
1.97

1.98
1.96
1.94
1.92

Mome
ntum

1.92

1.9
1.88
Pipa 90

Pipa 45
Pipa 30
Sudut Pipa

Gambar 15 grafik perbandingan variasi sudut pipa


terhadap momentum tumbukan

V. PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil analisis pada pipa dengan 3
variasi sudut 30o, 45o, dan 90o dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut.

Gambar 13 pergerakan partikel fluida dalam pipa 90o

Dari hasil penelitian didapatkan kecepatan


pada pipa 30o adalah 0.092501199 m/s, pipa 45o
0.089394033 m/s dan pipa 90o adalah 0.083213492
m/s. Dari hasil tersebut menunjukan bahwa semakin
kecil sudut pipa semakin besar kecepatan fluida. Ini
dibuktikan dengan perhitungan momentum tumbukan
tak lenting sempurna fluida, dari hasil perhitungan
menunjukan nilai tumbukan terbesar ada pada
sambungan pipa 30o yaitu 1.99 kg.m/s diikuti
sambungan pipa 45o yaitu 1.97 kg.m/s dan tumbukan
terkecil ada pada pipa 90o yaitu 1.92 kg.m/s.
Saran
Setelah mengamati permasalahan yang terjadi dan
berdasarkan data yang ada, maka saran yang bisa
diberikan antara lain :
1.

2.

3.

4.
5.

Untuk pengembangan penelitian berikutnya


gunakan fluida yang bervariasi, bukan hanya air
biasa.
Pada penelitian berikutnya agar bilangan
Reynold diperhitungkan, karena pada penelitian
ini bilangan Reynold diabaikan sehingga angka
turbulen tidak diketahui.
Posisi pipa dapat divariasikan kembali, apakah
vertikal atau horisontal dan cabang pipa lebih
diperbanyak. Serta jenis bahan pipa yang lebih
kasar, agar faktor gesek juga berpengaruh agar
head losses yang lain dapat diketahui seperti
kerugian tekanan dan koefisien kerugian dapat
pula diketahui.
Penelitian tidak harus pada penggabungan fluida,
namun juga bisa pada pemisahan fluida.
Untuk pengembangan penelitian berikutnya,
judul dari Tugas Akhir ini dapat diterapkan
kepembuatan alat, tidak hanya pada bentuk
simulasi.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Kadir, 2009. Pengaruh Variasi Sudut Cabang
Terhadap
Koefisien
Kerugian
Pada
Penggabungan Aliran Sudut 30o, 45o, dan 90o.
Universitas Haluoleo: Kendari.
[2] Sayoga, I Made Adi. Nuarsa,I Made. 2012.
Analisa Pengaruh Variasi Sudut Sambungan
Belokan Terhadap Head Losses Aliran Pipa.
Universitas Mataram: Mataram.
[3] Streeter L, Viktor. E. Benjamin, Wylie. 1998.
Mekanika Fluida. Edisi Delapan. Erlangga:
Jakarta
[4] Sularso. Tahara, Haruo. 1983. Pompa dan
Kompresor. Pradnya Paramita : Jakarta
.
[4] M. Selpan. M. 2011. Aliran pada Saluran
Tertutup (Pipa), termuat di
http://muhfari.files.wordpress.com/2011/11/ali
ran-fluida-pada-aluran-tertutup-pipa.pdf.
Diakses pada tanggal 20 Januari 2014