Anda di halaman 1dari 26

BELAJAR PENGELOLAAN BLUD, DINKES DAN PUSKESMAS

KUKAR MELAKUKAN KUNJUNGAN KE BALIKPAPAN


25/11/2014 14:31 WITA

Kutai Kartanegara : Selama ini semua puskesmas Kutai Kartanegara belum dapat
memanfaatkan langsung dana yang berasal dari BPJS dan Jamkesda maupun dari sumber
yang lain oleh karena belum berstatus BLUD yaitu sebagai Badan Layanan Umum Daerah
yang bisa menerapkan secara fleksibel dan memanfaatkan langsung dana tersebut melalui
sistem pengelolaan keuangan khusus pada lembaga tersebut. Dengan kondisi seperti ini,
menjadi permasalahan sendiri bagi puskesmas, oleh sebab itu Kukar ingin memulai
menjadikan puskesmasnya berstatus BLUD dengan melakukan kunjungan ke Puskesmas
Mekar Sari Balikpapan yang sudah berstatus BLUD. Pernyataan ini disampaikan oleh Abdul
Samad Kepala Bidang Manajemen Dinas Kesehatan Kukar saat berkunjung ke puskesmas
Mekar Sari Balikpapan (24/11).
Rombongan Dinas Kesehatan Kukar yang terdiri dari Kepala Bidang Manajemen, Kepala
Bidang UPK, beberapa kepala seksi dan beberapa puskesmas beserta staf pada hari senin
24 Nopember 2014 melakukan kunjungan ke Puskesmas Mekar Sari Balikpapan berkaitan
dengan pembelajaran penerapan status BLUD di puskesmas tersebut. Dinas Kesehatan
Balikpapan yang diwakili oleh Wulan Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan didampingi
oleh Siti Wahyutiarni Kepala Puskesmas Mekar Sari menyambut kedatangan rombongan
dari Kukar.
Dalam penjelasannya, Wulan Kabid SDK Dinkes Balikpapan mengatakan bahwa PPK-BLUD
adalah Pola Pengelolaan Keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk
menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan
bangsa, sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada
umumnya. Hal ini mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 61 Tahun 2007
tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah.
Lanjut Wulan pada pertengahan tahun 2011 Dinas Kesehatan Kota Balikpapan melakukan
fasilitasi dan persiapan bagi 27 puskesmas di wilayah Balikpapan untuk membuat Dokumen
Persyaranan Administrasi PPK BLUD, melakukan Kunjungan Pembelajaran beberapa kali ke
daerah-daerah yang telah menerapkan PPK-BLUD yang ada di Pulau Jawa dan Mengirim
Petugas puskesmas dan dinas kesehatan untuk mengikuti Bimtek-bimtek serta Pelatihan
Peningkatan SDM tentang pengelolaan keuangan BLUD.
Pada awal tahun 2012 para Stakeholder pemerintah kota (Sekda, DPRD dan SKPD Terkait)
diajak untuk melakukan kunjungan pembelajaran dan mengikuti Bimtek BLUD. Pada saat
yang sama seluruh Kepala Puskesmas di Kota Balikpapan ditetapkan sebagai Kuasa
Pengguna Anggaran (KPA) sebagai salah satu persyaratan UPTD yang akan menerapkan
PPK BLUD (dimana sebelumnya Kepala Puskesmas hanya sebagai PPTK)
Pada pertengahan tahun 2012 dari 27 puskesmas di Kota Balikpapan ada 7 Puskesmas yang
telah siap mengajukan Dokumen Persyaratan Administrasinya kepada Kepala Dinas
Kesehatan Kota Balikpapan untuk dinilai oleh Tim Penilai dari Pemerintah Kota Balikpapan.
Dan akhirnya pada tanggal 27 Desember 2012 Walikota Balikpapan menetapkan 7 (tujuh)
Puskesmas untuk menerapkan PPK-BLUD secara BERTAHAP melalui SK Walikota.
Bukan waktu yang singkat ternyata untuk mewujudkan Puskesmas dengan status PPK-

BLUD. Adalah tugas dinas kesehatan sebagai fungsi regulator melakukan bimbingan dan
fasilitasi untuk mempersiapkan puskesmas melengkapi persyaratan substantif, teknis dan
administratif. Persyaratan substantif adalah persyaratan yang meliputi lembaga tersebut
bersifat operasional yang menyelenggarakan pelayanan umum. Persyaratan teknis adalah
status PPK-BLUD puskesmas yang bersangkutan harus ada rekomendasi dari Sekretaris
Daerah dan penilaian dari Tim Penilai Pemerintah Daerah. Persyaratan administratif adalah
persyaratan yang paling penting yang meliputi pembuatan dokumen mulai dari :
1.Pernyataan Kesanggupan meningkatkan Kinerja
2.Tata Kelola
3.Rencana Stategi Bisnis (RSB)
4.Standar Pelayanan Minimal (SPM)
5.Laporan Keuangan Pokok/ Prognosa Laporan Keuangan
6.Pernyataan bersedia diaudit secara independen
Dari enam persyaratan administratif tersebut, ada tiga persyaratan kunci untuk berjalannya
puskesmas dengan status BLUD yaitu dokumen tata kelola, dokumen rencana strategi bisnis
dan progonosa laporan keuangan.
Dokumen tata kelola keuangan adalah dokumen tentang sistem dan prosedur pengelolaan
keuangan yang baik dan sehat yang harus dimiliki oleh puskesmas terhadap penggunaan
sumber-sumber keuangan, dokumen Rencana Strategi Bisnis adalah rencana strategis
operasional pelayanan kesehatan yang bisa diprediksi selama lima tahun ke depan dan
dokumen prognosa keuangan yaitu dokumen yang berisi tentang proyeksi keuangan dan
pemasukkan keuangan selama lima tahun ke depan.
Sedangkan tiga dokumen lainnya, surat pernyataan kesanggupan meningkatkan kinerja,
bersedia diaudit dan capaian standar pelayanan minimal yang dibuat dan ditandatangani
oleh kepala puskesmas menjadi dokumen pendukung dari tiga dokumen sebelumnya.
Menyimak dari apa yang sudah dilakukan Dinkes Balikpapan berkaitan dengan proses
penerapan PPK-BLUD puskesmas, maka pertanyaannya bagaimana dengan Dinas Kesehatan
Kukar melakukan langkah-langkah strategisnya.?
Ketika kami konfirmasi dengan Kepala Bidang Manajemen Abdul Samad mengatakan Dinkes
Kukar harus melakukan langkah-langkah strategis yaitu advokasi kepada pemerintah
kabupaten agar mendapat dukungan dari Sekretaris daerah selaku tim penilai dan
dibuatkan surat keputusan Bupati untuk kelayakan operasional PPK-BLUD puskesmas. Hal
lain yang juga sangat penting adalah komitmen kepala puskesmas dan staf untuk
terwujudnya puskesmas dengan penerapan PPK-BLUD. Dengan demikian diperlukan
anggaran kegiatan yang cukup untuk proses persiapan sampai kepada pelaksanaan yang
meliputi :
1.Sosialisasi dan Advokasi kepada stake holder pemerintah daerah untuk membentuk Tim
Penilai kelayakan BLUD yang diketuai oleh Sekda.
2.Bekerja sama dengan konsultan untuk bimbingan teknis pembuatan dokumen BLUD
secara bertahap.
3.Pelatihan-pelatihan bagi pengelola BLUD baik di puskesmas maupun di Dinas Kesehatan.
4.Pelaksanaan Status BLUD secara bertahap atau Penuh di beberapa puskesmas.
Selanjutnya Samad berharap bahwa Dinas Kesehatan mengalokasikan anggaran yang
cukup pada Tahun 2015 untuk persiapan-persiapan tersebut dan Tahun 2016 sudah ada
beberapa puskesmas yang bisa melakukan Lounching status PPK-BLUD. Sukses Dinkes dan
Puskesmas Kuka

Simulasi Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Puskesmas di Lingkungan
Dinas Kesehatan Kab.Malang

29 Juli 2009 00:00:00 / ekobayong / dibaca: 2594 kali / Kat: Audit

Asistensi ini adalah sebagai persiapan persyaratan administrasi menuju BLUD pada 8 Puskesmas. Kemarin
(28/7/2009) telah dilakukan simulasi persiapan akhir untuk pemaparan di depan tim penilai BLUD Kab. Malang.
Bila berhasil maka akan dilanjutkan dengan penyusunan sistem akuntansi dan aplikasi sistem komputer akuntansi.
Pada acara simulasi tersebut dihadiri seluruh 30 Kepala Puskesmas se Kabupaten Malang dengan simulasi
dipresentasikan oleh tim counterpart dari Puskesmas Kepanjen dan Puskesmas Lawang. Dalam presentasi tersebut
tim counterpart menyajikan 4 (empat) persyaratan administrasi BLUD Puskesmas yaitu: Neraca Awal, Tata Kelola,
Rencana Bisnis Stratejik, dan Standar Pelayanan Minimum yang telah didampingi sejak Pebruari 2009. Simulasi
tersebut didampingi tim asistensi dari perwakilan BPKP Jawa Timur Drs. Zainal Asrul, M.Ak dan Drs. Mukhtar D.
Joesoef, Ak., dan Tim Asistensi serta Kepala Dinas Kesehatan Kab. Malang dr. Agus W. Arifin. Simulasi tersebut
adalah untuk menguji kesiapan dan melatih keberanian 8 delapan Kepala Puskesmas untuk mempresentasikan di
depan tim penilai kelayakan BLUD kab. Malang.
Kepala Dinas Kesehatan Kab. Malang dr. Agus W. Arifin berpesan bahwa dengan adanya pendampingan dari BPKP
diharapkan 8 Puskesmas ini dapat mempresentasikan dengan baik dihadapan tim penilai 2 minggu ke depan beliau
juga mengharapkan semoga jerih payah dan waktu yang telah dihabiskan dapat memberikan hasil berupa dengan
pengesahan ke-8 Puskesmas menjadi BLUD. Dr Agus. W.Arifin berpesan dalam seminggu ke depan diharapkan ke8 menyelesaikan proposal untuk segera diajukan ke tim penilai. Bagi Puskesmas yang tidak termasuk dalam pilot
project ini bisa mempersiapkan diri untuk mengajukan, dalam waktu dekat akan diterbitkan Surat Keputusan Kepala
Dinas Kesehatan Kab. Malang berupa batasan syarat subtansi dan teknis bagi Puskesmas yang akan mengajukan
menjadi BLUD. Sedangkan dari tim BPKP Drs. Zainal Asrul, M.Ak berpesan agar 4 persyaratan yang
penyusunannya telah didampingi oleh tim BPKP agar dapat dipresentasi dengan baik dan beliau memberi kisi-kisi
hal-hal yang sering ditanyakan oleh tim penilai antara lain dalam presentasi Kepala Puskesmas agar menonjolkan
aspek stratejik dan program kedepan setelah jadi BLUD dan manfaatnya bagi Pemerintah Daerah.
Sesuai dengan kesepakatan dengan Kepala Dinas Kesehatan, setelah jadi BLUD, Puskesmas akan didampingi
bagaimana menyusun sistem akuntansi dan software aplikasi akuntansi BLUD Puskesmas. Dalam waktu dekat tim
asistensi BPKP akan melanjutkan hal yang serupa pada beberapa Pemerintah Daerah untuk mem-BLUD-kan
Puskesmasnya. Jadi tim Perwakilan BPKP Jawa Timur tidak berhenti dalam memberi layanan dan produk jasa serta
terus meningkatkan inovasi dalam membantu stakeholders. (MD & ZA)

Istilah Badan Layanan Umum (BLU) atau Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) mulai kita
ketahui pada tahun 2004 sebagaimana terdapat pada Pasal 1 UU No. 1/2004 tentang
Perbendaharaan Negara. Namun, mengenai apa dan bagaimana BLU/BLUD, diantara
penyelenggara pemerintah sendiri hingga kini kerap kali masih terdapat perbedaan
persepsi.
Sejak digulirkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum pada tanggal 13 Juni 2005, kita masih
cukup asing mengenai bagaiman BLU ini seharusnya dibentuk dan dikeloa, walaupun di
tahun itu beberapa rumah sakit pemerintah dilingkungan Kementerian Kesehatan
(Departemen Kesehatan waktu itu) telah dibentuk menjadi BLU. Bagi kita yang berkiprah di
daerah, titik terang mengenai BLUD mulai terlihat ketika Menteri Dalam Negeri H.
Mardiyanto pada tanggal 7 November 2007 mengeluarkan Pedoman Teknis Pengelolaan
Keuangan Badan Layanan Umum Daerah melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor
61 Tahun 2007. Dan pemahaman kita semakin jelas saat mendagri mengeluarkan
Pedoman Penilaian Penerapan PPK-BLUD melalui Surat Edaran Nomor 900/2759/SJ pada
tanggal 10 September 2008. Surat Edaran ini mengandung makna tata cara penilaian

administratif terhadap SKPD yang akan menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD.
SE ini berisi definisi operasional dan pedoman penilaian termasuk bobot nilai dokumen,
indikator dan unsur yang dinilai dari masing-masing dokumen persyaratan PPK-BLUD.
Secara tidak langsung SE ini mengajarkan kepada kita tentang apa dan bagaimana
seharusnya dokumen persyaratan PPK-BLUD dipersiapkan.
Dalam pasal 1 Undang-undang No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara, BLU diartikan
sebagai instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan
kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa
mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada
prinsip efisiensi dan produktivitas. Di daerah, pola pengelolaan keuangan BLUD dapat
diterapkan pada Rumah Sakit Umum Daerah dan layanan kesehatan lainnya, layanan
pendidikan, pengelolaan kawasan, pengelolaan dana bergulir untuk usaha kecil dan
menengah, lisensi, dan lain-lain, baik yang saat ini merupakan SKPD maupun UPTD
dibawah SKPD. Instansi ini biasanya masih menghadapi berbagai macam permasalahan
berkaitan dengan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan (padat karya), jumlah personil
yang harus diorganisasikan (padat SDM), banyaknya asset yang harus dikelola (padat
teknologi), besarnya biaya yang harus dikelola untuk operasional (padat modal), maupun
banyaknya permasalahan yang harus diselesaikan (padat masalah). Sementara harapan
dari stakeholder terhadap instansi ini adalah agar tetap dapat maksimal melayani
masyarakat, dapat hidup dan berkembang, mandiri dan dapat bersaing dengan bisnis
sejenis baik dari sesama instansi pemerintah maupun terutama dengan swasta.
Perubahan menjadi BLUD, bukan semata berkaitan dengan kemerdekaan berupa
fleksibilatas pengelolaan keuangan berupa pendapatan fungsional dapat langsung
digunakan untuk operasional pelayanan tanpa harus disetor ke kas daerah, namun lebih
kepada perubahan pola manajemen dan paradigma seluruh unsur di dalam organisasi
BLUD.
Perubahan paradigma menuntut kesadaran dan kesungguhan semua personil dalam
BLUD. Untuk sebuah RSUD misalnya, setelah menjadi BLUD, kini tidak lagi hanya sekedar
melayani pasien/masyarakat namun harus dapat memberikan kepuasan terhadap
pelanggan. Pelaksanaan kegiatan bukan hanya sekedar pelaksanaan DPA tahun berjalan
sebesar anggaran yang telah ditetapkan, namun harus berhitung profit untuk
menghidupkan dan mengembangkan bisnis/usaha rumah sakit. Demikian juga kebiasaan
meminta dana dan menggunakan anggaran kepada pemerintah daerah baik
kota/kabupaten/provinsi, harus diimbangi dengan intensifikasi dan ekstensifikasi usaha dan
membangun jiwa enterpreneur, karena dengan BLUD, RSUD tersebut sudah sedikit
dilepaskan dari aturan birokrasi yang membelenggu dan diberikan keleluasaan mengatur

pendapatan fungsionalnya. Dan tentunya, perubahan pola manajemen dan perubahan


paradigma ini diharapkan mampu memberikan kesejahteraan dan kebanggaan profesi bagi
setiap insan rumah sakit dimanapun mereka diposisikan dalam memberikan pelayanan
kesehatan dan dukungan administrasi bagi masyarakat.
Paradigma baru sebagai sebuah Badan Layanan Umum Daerah juga harus seimbang
antara Enterprising the government dalam arti mewiraswastakan instansi pemerintah
dengan pengelolaan instansi pemerintah ala bisnis, dengan Public Service Oriented yaitu
tetap berorientasi pada peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Hal inilah yang harus
tetap diingat oleh kita semua bahwa tujuan penerapan PPK-BLUD adalah lebih kepada
peningkatan efisiensi dan efektivitas pelayanan masyarakat oleh instansi pemerintah
dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip
ekonomi dan produktuvitas dan penerapan prektek bisnis yang sehat.
Maksud baik para penggagas BLUD harus kita pahami yaitu agar BLUD dapat
memecahkan berbagai permasalahan yang selama ini dihadapi dalam pelayanan kepada
masyarakat. Sebuah rumah sakit yang harus melakukan pelayanan setiap waktu tentunya
tidak ingin setiap awal tahun anggaran menghadapi kendala keterbatasan obat, alat
kesehatan, makan-minum pasien dan lain-lain hanya karena belum selesainya proses
penganggaran di pemeritah daerah. Optimalisasi pelayanan ini dapat diatasi manakala
pendapatan fungsional bisa langsung digunakan untuk pengadaan obat/alkes dan lain-lain
serta penyederhanaan proses pengadaan barang/jasa yang tetap menguntungkan rumah
sakit. Lebih jauh dari itu, keterbatasan dan kelancaran dana operasional serta
ketergantungan terhadap subsidi pemerintah akan sedikit teratasi manakala BLUD dapat
memerankan diri sebagai sebuah bisnis swasta yang mampu menarik sebanyak mungkin
pelanggan, dan bersaing dengan bisnis sejenis dalam cakupan wilayah yang telah
diperhitungkan dalam Rencana Strategi Bisnis.
Perbedaan persepsi dan kendala yang dihadapi
Dalam kenyataanya, perjalanan sebuah RSUD (misalnya) menjadi BLUD masih
menghadapai berbagai kendala baik dari internal RSUD sendiri maupun dengan pihak
ekternal. Kendala-kendala yang dihadapi lebih kepada perubahan paradigma yang masih
membutuhkan proses pembelajaran dan pemahaman tentang BLUD yang masih perlu
disosialisasikan. Adapun perbedaan persepsi dan kendala yang sering terjadi antara lain
berasal dari:
1. Internal Rumah Sakit
Perubahan status menjadi sebuah BLUD seharusnya direspon oleh setiap individu dalam
rumah sakit, dimanapun posisi dan peran yang diemban dalam memberikan kontribusi bagi
kemajuan rumah sakit. Moment penting lahirnya BLUD seringkali hanya diketahui oleh

segelintir personil dalam jajaran manajemen terutama yang berhubungan langsung dengan
pengelolaan keuangan, sedangkan sebagian besar pegawai yang melaksanakan
pelayanan mungkin tidak tahu apa itu BLUD sehingga tidak ada perubahan paradigma
mengenai apa yang seharusnya mereka lakukan setelah menjadi BLUD.
2. Penyelenggara Pemerintahan
Terdapat dua kekurangtepatan anggapan dari pemerintah daerah tempat BLUD bernaung,
yang pertama anggapan yang over estimate terhadap keberadaan BLUD. Pemerintah
daerah beranggapan dengan adanya perubahan menjadi BLUD, rumah sakit akan benarbenar mandiri dan lepas dari beban pembiayaan pemerintah daerah, termasuk belanja
modal bahkan pembayaran gaji pegawai. Anggapan kedua, walaupun tidak dominan tetapi
masih tetap ada, yaitu kekhawatiran dengan adanya fleksibilitas pengelolaan keuangan,
pemerintah daerah tidak lagi dapat mengontrol rumah sakit yang dapat mengakibatkan
rumah sakit tidak dapat berkembang, atau bahkan jika terlalu pesat berkembang, rumah
sakit tersebut tidak lagi dapat memberikan kontribusi terhadap pemerintah daerah
dikarenakan pendapatan rumah sakit tidak lagi disetorkan ke kas daerah.
3. Lingkungan Bisnis/Pihak Ketiga
Pengaruh lingkungan bisnis/pihak ketiga ini terkait dengan mitra rumah sakit dalam
menjalankan bisnis/pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pihak ketiga berharap
praktek bisnis swasta yang biasa mereka lakukan bisa diterapkan di rumah sakit
pemerintah setelah menjadi BLUD. Misalnya, sebuah perusahaan tertentu siap menjalin
kerjasama layanan kesehatan bagi seluruh karyawannya asalkan ada imbal balik yang bisa
diperoleh manajemen dari setiap pembayaran layanan kesehatan terhadap para
karyawan tersebut (sedangkan tarif layanan kesehatan BLUD yang diberlakukan masih
tetap ditentukan oleh pemerintah daerah). Demikian juga persaingan rekanan dalam
penyediaan kebutuhan rumah sakit yang kerap kali tidak sesuai dengan prosedur.
Ada satu hal lagi permasalahan yang dihadapi oleh BLUD yang sulit untuk dikatogorikan ke
dalam tiga kelompok di atas, yaitu mengenai keberadaan dokter rumah sakit, terutama
dokter ahli. Secara internal, dokter ahli merpakan asset berharga dan ujung tombak
pemasaran rumah sakit. Namun kebijakan pemerintah hingga saat ini bagi sebagian pihak
dianggap belum memberikan penghargaan yang wajar bagi dokter atas jasa layanan rumah
sakit (jika dibandingkan dengan swasta). Walaupun ada pendapat bahwa dokter yang
bekerja di rumah sakit telah mendapatkan gaji dan fasilitas kerja dari pemerintah, namun
penghargaan profesi dan imbalan materi yang terlalu jauh perbedaanya, secara manusiawi
orang akan memaklumi manakala dokter tersebut akan mencari tambahan di tempat lain
baik bekerja di rumah sakit swasta maupun membuka prktek pelayanan kesehatan yang
kerapkali menyita jam kerja sebagai dokter rumah sakit pemerintah.

Beberapa alternative solusi


Menghadapi perbedaan persepsi dan beberapa kendala yang dihadapi, ada beberapa
alternative solusi yang bisa kita lakukan, diantaranya:
1. Menjadikan moment lahirnya BLUD sebagai titik tolak membangun paradigma baru bagi
seluruh insan rumah sakit untuk memberikan yang terbaik bagi pelanggan sejak
pelanggan masuk gerbang rumah sakit hingga kembali ke rumah dengan kesembuhan
dan perasaan puas. Image jelek rumah sakit pemerintah yang selama ini melekat di
benak masyarakat harus segera diubah. Sikap santun dan ramah serta professionalism
pelayanan harus mulai ditunjukkan oleh satpam, tukang parkir, petugas pendaftaran,
perawat, dokter, apoteker, kasir, dst. Hal ini yang akan memberikan kepuasan
pelanggan sehingga dapat mempertahankan pasien lama dan menarik pasien baru
melalui tenaga pemasaran gratis, yaitu pasien dan keluarga pasien. Namun
membangun paradigma baru ternyata tidak mudah, perlu sosialisasi
berkesinambungan. Cara yang lebih efektif adalah menumbuhkan rasa memiliki bisnis
rumah sakit dan menunjukkan bahwa kedudukan tiap individu dalam rumah sakit adalah
penting. Dengan melibatkan secara langsung dalam perumusan visi dan misi rumah
sakit pada saat penyusunan Rencanan Strategi Bisnis, merupakan salah satu cara
memberikan penghargaan atas peran dan keterlibatan insan rumah sakit. Selanjutnya
keterlibatan dalam pengaturan kode etik dan perumusan Standar Operating dan
Prosedur (SOP) juga merupakan media sosialisasi yang cukup efektif, terlebih rumusan
remunerasi penghasilan yang akan diperjuangkan bersama dari kegigihan kerja dan
dan kontribusi nyata setiap insan rumah sakit.
2. Terhadap perbedaan persepsi dengan pemerintah daerah, dokumen Rencana Strategi
Bisnis (RSB) lima tahunan merupakan media komunikasi yang cukup efektif manakala
pihak rumah sakit mampu memaparkan hitungan-hitungan bisnis kepada pemerintah
daerah, didukung dengan Rencanan Bisnis dan Anggaran (RBA) untuk tiap-tiap
tahunnya. Rencana bisnis selama lima tahun dengan trend kenaikan prosentase tingkat
kemandirian yang menggambarkan kenaikan pendapatan fungsional untuk menutupi
biaya operasional layanan, diharap dapat memberikan persamaan persepsi antara
penyelenggara pemerintahan dengan pengelola BLUD. Tidak menutup kemungkinan
BLUD RSUD suatu saat kelak mampu memberikan pilihan kepada pegawainya, apakah
akan berstatus sebagai pegawai BLUD atau tetap menjadi PNS. Dan semua masih
tetap dalam kontrol pemerintah daerah melalui dewan pengawas dan kinerja BLUD
dapat dipertanggungjawabkan karena selalau dilakukan audit oleh auditor independent.
Bahkan evaluasi kinerja terhadap BLUD dapat memberikan korekis perbaikan dan juga
memungkinkan pengembalian status SKPD (penurunan/pencabutan status BLUD).
3. Menghadapi persaingan bisnis dengan rumah sakit sejenis dalam menarik pelanggan,
dapat dilakukan dengan pelayanan prima secara professional dengan selalu
memperhatikan kebutuhan pelanggan. Profesionalisme layanan dari para perawat dan
dokter/dokter ahli (dan tenaga pendukung lainnya) serta peralatan medis yang modern
hingga saat ini masih menjadi faktor utama dalam menarik pelanggan/pasien, dan
RSUD harus segera merancang investasi kearah sana, misalnya dengan menghimpun

dana, mencari donatur atau melakukan kerja sama operasi (KSO) dengan pihak
swasta.
4. Solusi terbaik terhadap permasalahan dokter/dokter ahli memerlukan koordinasi yang
baik di antara pengambil kebijakan agar rumah sakit pemerintah tetap diuntungkan dan
dokter/dokter spesialis tidak terlalu dirugikan (win-win solution) dengan memperhatikan
perhitungan remunerasi yang adil. Jalan keluar lain juga dapat dilakukan, misalnya,
rumah sakit membuka layanan paviliun di luar jam kerja rumah sakit untuk memfasilitasi
praktek dokter/dokter ahli rumah sakit yang bersangkutan dengan perjanjian kerjasama
yang disepakati kedua belah pihak.
Pilihan alternative solusi di atas hanyalah sebagian kecil dari solusi-solusi lain yang masih
dapat kita gali. Bagi kita yang terpenting adalah, walaupun padadigma baru Badan Layanan
Umum Daerah sebagai Enterprising the Government dalam arti mewiraswastakan instansi
pemerintah dengan pengelolaan instansi pemerintah ala bisnis, namun kita tidak dapat
melupakan bahwa tujuan utama kita adalah Public Service Oriented yaitu tetap
berorientasi pada peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Hal inilah yang harus tetap
diingat oleh kita semua bahwa tujuan penerapan PPK-BLUD adalah lebih kepada
peningkatan efisiensi dan efektivitas pelayanan masyarakat oleh instansi pemerintah
dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip
ekonomi dan produktuvitas serta penerapan prektek bisnis yang sehat.
Penerapan Perda no. 22/2010 kabupaten Pacitan telah sejak Maret 2011 kemarin menyisakan tanda
tanya besar, Apakah penerapan PERDA RETRIBUSI PUSKESMAS ini benar-benar mampu mengangkat
citra puskesmas kita.Dan apakah semangat PERDA ini benar-benar bisa mewujudkan Puskesmas yang
mampu memberikan layanan bermutu, l ayak dan terjangkauserta menghapus citra Puskesmas jaman
Ken Arok yang selama ini kadung disandangkan, jorok, obat pas-pasan, pelayanan seadanya dan
sebagainya.

Diskusi berikut ini mudah-mudahan mencerahkan kita semua. Diskusi ini dimoderatori Cak moki dalam
blognya.

Swakelola Puskesmas Rawat Inap

Diterbitkan September 26, 2009

Sesuai janji saya saat posting Wacana Puskesmas 24 Jam beberapa waktu yang lalu, kali ini saya ingin
berbagi pengalaman ketika masih aktif mengelola Puskesmas Rawat Inap Palaran, Samarinda.

Beberapa sejawat dokter sudah sejak sekitar tahun 1995-an mewacanakan dan mencoba
memperkenalkan swakelola ke internal jajaran Kesehatan dan jajaran Pemerintah Kota Samarinda
sebagai salah satu model pengelolaan sebagian keperluan Puskesmas terutama untuk menunjang
pelayanan medis agar lebih berkualitas dan lebih tepat sasaran, khususnya pengadaan obat dan Bahan
Habis Pakai.

Sayangnya, tatkala pihak petinggi Pemkot telah setuju dan bersedia untuk memberi modal awal, hanya
beberapa teman sejawat dokter Pimpinan Puskesmas yang menyatakan bersedia, sedangkan sebagian
besar ogah mikir ruwet (alasan yang dilontarkan). Nah, lho.

Sering sudah saya ungkapkan secara terbuka bahwa upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan
lebih kerap terkendala faktor internal, yakni orang-orang kesehatan sendiri dibanding kendala dari pihak
lintas sektoral. Apa pasal ? Gak tahu !!!

Melalui diskusi panjang di milis kami, seorang teman (acc prof Monash tapi gak diakui di negeri dewe),
staf ahli Menkes, yang biasa melanglang menjalin jejaring dengan pihak luar berujar:

Mok, yang aku maksud tidak hanya pemikir meskipun kita tau pemikir di republik ini sering pake akal
sendiri tanpa memperhitungkan sinergi dengan pemikir lain dan decision makers. Orang selalu bicara
BLU tapi gak mikir apakah decision maker mau implementasi dan bagaimana implikasi penganggaran
dan kewenangannya. Belum lagi konteks format kepegawaian. Orang bicara tentang family physician
tanpa mikir sinergi dan sinkronisasi sistem kesehatan yang berjalan dan sistem UU yang ada. Mengapa
family physician di Australia berjalan sempurna? Karena sistem kesehatannya mengatakan begitu,
bahwa primary health care bermula dari family physician, yang juga ditunjang dengan struktur
kemasyarakatan yang ada, seorang family physician bertangung jawab terhadap suatu neighborhood
(mungkin seperti kelurahan disini). Seorang spesialis disana silahkan saja menerima pasien batuk pilek
asal mau terima konsekwensi tidak dapat reimburse dari medical care, karena reimbursement medical
care harus cantumkan provider number dari family physician alias GP.

Berangkat dari pengalaman masa lalu dan kesadaran bahwa begitu besar harapan pengguna jasa
pelayanan medis untuk mendapatkan pelayanan yang berkualitas dan bersahabat, maka ketika
permintaan untuk dibangunkan Puskesmas Rawat Inap yang memadai dipenuhi Pemkot Samarinda,
kami (saya dan seorang sejawat dokter) berkesempatan untuk mengoperasionalkan Rawat Inap secara
swakelola, khususnya obat dan Bahan Habis Pakai (BHP). Tentu setelah mendapatkan lampu hijau dari
Kepala Dinas Kesehatan (kala itu) dan persetujuan DPRD melalui hearing.

Berikut ini adalah fakta beberapa faktor penghambat dan upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan
yang sudah dilakukan sejak 24 Maret 2004 (so, harap dicatat: bukan ide, namun nyata dan sudah
dilakukan).

Fakta 1: Gedung Rawat Inap.

Sejauh ini Gedung Rawat Inap jadi satu dengan Puskesmas Induk sehingga suka atau tidak suka, pasien
dipaksa dirawat di ruang yang gaduh karena berdekatan dengan Poli-poli di Puskesmas Induk, terutama
pada jam kunjungan Rawat Jalan. Kondisi demikian kami anggap sebagai salah satu hambatan yang
harus diperbaiki.

Upaya Jalan Keluar:

Mengupayakan pembangunan Gedung khusus Rawat Inap yang terpisah dari Puskesmas Induk. Bukan
hanya itu, tata ruang dan luas setiap ruang dapat kita minta agar lapang dan nyaman. Artinya, luas dan
tata ruang tidak lagi bersandar pada standar Depkes. Kita dapat menggambar denah sesuai lalu lintas
pasien, kenyamanan dan aspek psikologis serta keamanan. Selanjutnya, kita bisa minta tolong
membuatkan detail gambar kepada insinyur. Kalo gak punya kenalan, mau gak mau bayar.

Kami dibuatkan 6 gambar pilihan oleh seorang insinyur (Ir. Smr) dan akhirnya kami pilih salah satu yang
paling cocok senilai 2,5 milyar. Setelahnya, gambar tersebut kita ajukan kepada Kepala Daerah.
Akhirnya, permintaan kami disetujui dengan perjanjian akan dibangun dalam 3 tahap.

Lho, koq mudah ? Sapa bilang mudah Sungguh, orang-orang yang pertama tidak setuju dengan upaya
tersebut adalah dari internal kesehatan, di Puskesmas dan Dinkes tingat II. Alih-alih mendukung,
kebanyakan dari mereka malah mencibir.

Fakta 2: Obat dan Bahan Habis Pakai.

Ketika itu, pengadaan obat dilakukan melalui permintaan ke Gudang Farmasi setiap 2 bulan sekali. Jenis
dan jumlah obat disesuaikan dengan pelbagai pertimbangan, diluar pertimbangan kepentingan
penderita. Itupun sesuai Permenkes diwajibkan lelang. Hmmm, lelang konon menurut cerita pihak
PBF, harga obat bisa melonjak (dilonjakkan) beberapa kali lipat. Bisa dibayangkan berapa banyak uang
negara hilang melalui proses tersebut.

Tentu situasi tersebut merupakan penghalang besar terciptanya pelayanan berkualitas dan murah.

Upaya Jalan Keluar:

Swakelola Obat, Bahan Habis Pakai dan Reagen Laboratorium. Modal awal sekitar 25 juta rupiah yang
kami peroleh dari pinjaman. Sebagian obat kami bawa dari praktek (bersama dr. Ergia L yang saat ini
menempuh pendidikan spesialisasi Anak thanks Dr. Lia).

Cara pengadaan: membeli cash ke PBF melalui apotik.

Keuntungan swakelola:

Harga obat lebih murah dari Harga Netto Apotik (HNA). Sebagai contoh, jika harga netto apotik suatu
obat semisal 10.000 rupiah, maka dengan sistem diskon dari PBF dapat diperoleh lebih murah,
katakanlah 7.000 rupiah, sehingga harga jual ke pasien (dengan keuntungan sekitar 15-20%) dapat kita
tekan menjadi di bawah HNA. Selain itu, jenis dan merk obat dapat dipilih sesuai kebutuhan sesuai
penyakit pasien. Andai obat habis dalam seminggu karena adanya peningkatan penyakit tertentu, maka
kita dapat membelinya sebelum obat habis. Dengan demikian, pasien selalu mendapatkan obat sesuai
penyakitnya tepat waktu, dan murah.
Bahan Habis Pakai (BHP), seperti: cairan infus, infus set, cath, spuit (suntikan), jarum suntik (needle) dan
sejenisnya, dapat kita pilih yang kelas 1 dengan harga murah (diskon dan cash). Pasien sebenernya gak
pernah tahu jenis dan kulaitas cairan infus. Kebanyakan dari mereka tahunya hanya diinfus dan netes.
Namun, Bukankah tugas dokter untuk memberikan yang terbaik ? Contoh, kita bisa belikan cairan RD5,
Asering dll dll dengan merk terbaik dan bertutup karet, bukan tutup plastik. Demikian pula cath, kita
mampu beli misalnya Otsucath (merk ini biasa dipakai di RS swasta dan RSUD paviliun). Masyarakat
ndeso berhak mendapatkan yang terbaik dengan harga murah bukan ?
Reagen Laboratorium. Saat ini, Puskesmas Rawat Inap Palaran (ndeso full) sudah mampu membeli
sendiri Fotometri manual seharga sekitar 65 juta. Kalo minta ke Pemerintah, kayaknya gak bakalan
dikasih deh . hehehe. Bahkan sejak 2 tahun yang lalu sudah menggunakan Tubex TF untuk deteksi
typhus. ( kata temen saya, seorang DSA di Surabaya, test Widal sudah saatnya ditinggalkan, itu mah
jaman Ken Arok kalau keberatan silahkan protes kepada beliau ). Namun kami masih menggunakn test
widal untuk follow up. Contoh lain, untuk pemeriksaan sekret vagina bagi yang keputihan, hanya 22.000
dan selesai dalam 1 jam. Sekali lagi, semuanya menggunakan modal sendiri, termasuk mikroskop
binokuler buatan Olympus seharga hampir 10 juta (kayaknya sekelas dengan milik FK).
Pengembangan Obat dan BHP. Dengan swakelola, kami mampu menyisihkan sebagian keuntungan
untuk pengembangan dan peningkatan kualitas Obat maupun Bahan Habis Pakai. Menurut
bendaharawan, kekayaan saat ini mencapai ratusan juta rupiah.

Pemerintah tak perlu repot. Belanja rata-rata Obat dan Bahan Habis Pakai sekitar 30-40 juta perbulan.
Atau sekitar 360-480 juta per tahun. Artinya, Pemerintah Daerah tidak perlu lagi mengucurkan Anggaran
senilai 360-480 juta per tahun. Dan itu berlanjut hingga tahun-tahun mendatang. ( sudah selayaknya
Pemerintah Daerah memberikan reward yang layak kepada Rawat Inap bener gak ? ). So, sungguh
aneh jika uang jaga perawat dan bidan malah diamputasi. Koq tega ya?
Fakta 3: Tarip Perawatan.

Hasil sounding dan rasan-rasan masyarakat, konon umumnya biaya perawatan cenderung gelap gulita,
tahu-tahu keluar kuitansi di luar perkiraan. Bukankah ini merupakan kendala yang harus diperbaiki ?
Seorang teman yang kini bekerja sebagai pengelola IT di RSUD memberikan ilustrasi sebagai berikut:
orang lebih suka makan di KFC dan sejenisnya, salah satunya karena taripnya jelas. Andai kita punya
uang 100 ribu, kita akan tahu makanan dan minuman apa saja yang dapat dibeli dengan uang segitu.

Upaya Jalan Keluar:

Untuk menjamin keterbukaan tarip perawatan, kami menyusun Perda Tarip Rawat Inap. Semuanya
serba jelas dan terbuka. Contoh, biaya melahirkan, termasuk jahit (bagi yang perlu episiotomi), visit
dokter, infus (jika diperlukan) dan obat senilai maksimal 420.000.

Saat hearing di DPRD, yang terpenting bukan itung-itungan njlimet, tapi jaminan biaya realistis untuk
perawatan suatu penyakit. Presentasi cukup 45 menit (kalo kelamaan ntar anggota DPRD bosan lantaran
mumet mendengar istilah aneh-aneh). Setelah itu diskusi sekitar 1 jam. Ketika kami hearing tentang
Perda Tarip, tidak ada satupun item yang dicoret.

Fakta 4: Konsentrasi Petugas.

Sepengetahuan saya, petugas Rawat Inap masih dibebani tugas rutin Puskesmas seperti Posyandu, dan
berbagai UPK (Upaya Pokok Kesehatan lain. Menurut saya hal ini akan menggangu konsentrasi petugas
dalam merawat pasien di Rawat Inap maupun tugas UPK. Hampir gak mungkin kita menuntut kinerja
optimal dengan tugas ganda di ruang perawatan dan UPK.

Upaya Jalan Keluar:

Saat itu kami mengusulkan (sebenernya maksa) perekrutan petugas khusus (perawat, bidan, lab,
cleaning service, laundry, dll) dari wilayah kami sendiri (Palaran) agar tercipta koordinasi yang bagus dan
tidak terkendala transport.

Dengan rencana 30-40 Tempat Tidur, kami memerlukan maksimal 25 tenaga khusus (perhitungan
menggunakan Index Staff Need, bukan pake selera atau titipan) di Rawat Inap tanpa ada tugas lain.
Sayangnya, karena kesalahan inventarisasi Bagian Kepegawaian Dinkes, tenaga yang dapat disetujui
Pemerintah Daerah hanya 11orang (perawat, bidan dan Lab), plus 1 orang laundry honorer, 1 orang
cleaning service honorer dan 1 orang catering kontrak.

Fakta 5: Jasa Petugas.

Kita tahu, seberapapun rajinnya dan seberapapun beban kerja serta seberapa pandaipun petugas,
gajinya sama jika golongan dan masa kerjanya sama. Di sisi lain, kita ingin memberikan pelayanan
berkualitas melalui optimalisasi kinerja dan konsentrasi full dari masing-masing petugas. Lantas,
bagaimana untuk memberikan tambahan jasa bagi petugas dengan legal formal?

Sebagaimana prinsip dasar perawatan, petugas adalah salah satu pilar penting tercapainya pelayanan
berkualitas. Tanpa reward yang memadai, mustahil cita-cita tersebut akan terwujud.

Upaya Jalan Keluar:

Lagi-lagi melalui Perda. Seperti halnya Guru, petugas perawatan Rawat Inap juga layak mendapatkan
tambahan jasa sesuai dengan tuntutan kualitas pelayanan yang kita harapkan dari mereka. Dan pilihan
yang paling masuk akal adalah jasa jaga dan jasa perawatan yang dapat dimasukkan dalam item Perda
berdasarkan aturan yang berlaku.

Pertanyaan yang kami terima saat menyampaikan hal tersebut adalah: Bukankah pegawai sudah
mendapatkan gaji dan bukankah merawat pasien adalah tugasnya?.

Saya ingin memberikan ilustrasi sederhana. Coba bandingkan, seorang petugas rawat inap harus selalu
siap selama 8 jam plus menangani pasien UGD, sementara petugas bukan Rawat Inap bisa nonton TV
setelah tugasnya selesai sekitar jam 7.30 sampai jam 13.00. Bahkan adakalanya sudah bisa bersantai
sebelum jam 13.00. Ditinjau dari sudut efesiensi waktu, jelas berbeda. Belum lagi dari tingkat stress dan
bolak-balik dipanggil pasien yang harus dilayani dengan ramah.

Anehnya, pertanyaan yang bersifat keberatan (ataukah iri?) tersebut datang dari insan kesehatan, bukan
dari lintas sektor ataupun masyarakat. Sebagai perbandingan, tidak ada satupun keberatan dari
masyarakat ketika kami mengadakan simulasi tentang Perda Tarip bersama Camat, Lurah-lurah,
stakeholder maupun instansi lintas sektoral.

Alhasil, usulan jasa petugas dalam item Perda Rawat Inap disetujui oleh DPRD dan Pemerintah Daerah.
Bahkan salah seorang anggota DPRD menyarankan untuk meningkatkan besaran jasa jaga perawat dan
bidan dalam jangka waktu tertentu jika menunjukkan kinerja yang bagus.

Segini dulu serial garis besar swakelola Rawat Inap (Palaran). Ntar akan disambung dengan Rekam Medik
dan kesinambungan sistem swakelola serta hambatan-hambatan terutama oleh insan kesehatan sendiri.
Kenyataan pahit, bahwa inovasi yang sudah terprogram jangka panjang kadang tidak berjalan sesuai alur
manakala terjadi pergantian kepemimpinan. Terlebih ketika godaan uang dengan kemasan berbagai
judul melambai di depan mata. Tapi kita harus berani mengurai kekeliruan agar mudah memperbaikinya
jika ingin benar-benar memberikan pelayanan kesehatan berkualitas sebagaimana nasehat Dr. Bill
Goulds. Kalo tidak, maka bersiaplah mengucapkan selamat tinggal kepada pelayanan berkualitas

Dibaca: 7400 kali


Tentang BLU: Rencana Bisnis Anggaran (RBA)
Friday, 14 September 2012 03:15

administrator E-mail Print PDF

Share
Rencana Bisnis Anggaran (RBA) adalah dokumen perencanaan bisnis dan penganggaran yang berisi
program, kegiatan, target kinerja dan anggaran suatu satker Badan Layanan Umum (BLU).

RBA terdiri dari:

Ringkasan Eksekutif
BAB I Pendahuluan

BAB II Kinerja BLU TA 20xx dan RBA BLU TA 20xx+1


BAB III Penutup
TATA CARA PENYUSUNAN RBA:

1. RBA disusun berdasarkan:


Basis kinerja dan perhitungan akuntansi biaya menurut jenis layanannya.
Pagu belanja dan target pendapatan yang diperkirakan akan diterima; dan
Basis akrual.
2. RBA memuat paling kurang:
Seluruh program, kegiatan dan target kinerja (output), dimana rumusannya harus sama dengan
rumusan yang ada pada RKA K/L.
Kondisi kinerja BLU tahun berjalan.
Asumsi makro, merupakan data dan/atau informasi atas indikator ekonomi yang berhubungan dengan
aktivitas perekonomian nasional dan/atau global secara keseluruhan
Asumsi mikro, merupakan data dan/atau informasi atas indikator ekonomi yang berhubungan dengan
aktivitas BLU.
Target pendapatan dan pagu belanja, disusun berbasis kas dan per unit kerja.
Perkiraan biaya, disusun berbasis akrual dan per unit kerja.
Prakiraan maju pendapatan dan belanja 3 tahun ke depan.
3. Standar Biaya:
Bagi BLU yang telah menyusun standar biaya layanannya berdasarkan perhitungan akuntansi biaya
(dihasilkan oleh sistem akuntansi biaya), RBA disusun menggunakan standar biaya tersebut. Penetapan
standar biaya oleh Pimpinan BLU dan dilampiri SPTJM (Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak).
Bagi BLU yang belum menyusun standar biaya layanannya berdasarkan perhitungan akuntansi biaya,
BLU menggunakan standar biaya yang ditetapkan oleh Menkeu.

4. Pendapatan yang dicantumkan dalam RBA, bersumber dari:


Pendapatan yang akan diperoleh dari layanan yang diberikan kepada masyarakat;
Hibah tidak terikat dan/atau hibah terikat yang diperoleh dari masyarakat atau badan lain;

Hasil kerja sama BLU dengan pihak lain dan/atau hasil usaha lainnya (antara lain pendapatan jasa
lembaga keuangan, hasil penjualan aset tetap, dan pendapatan sewa);
Penerimaan lainnya yang sah; dan/atau Penerimaan anggaran yang bersumber dari APBN.
5. Ambang Batas Belanja BLU
RBA menganut pola anggaran fleksibel (flexible budget) yaitu belanja BLU dapat melampaui atau
dibawah pagu anggaran sesuai dengan realisasi pendapatan.
Belanja BLU yang melampaui pagu anggaran dapat dilakukan dalam suatu angka persentase ambang
batas.
Penghitungan ambang batas belanja mempertimbangkan fluktuasi kegiatan operasional, antara lain
trend naik/turun realisasi anggaran BLU tahun sebelumnya, realisasi/prognosa tahun anggaran berjalan,
dan target anggaran BLU tahun yang akan datang.
Penghitungan ambang batas BLU hanya untuk belanja yang didanai dari PNBP BLU tahun anggaran
berjalan.
Satker BLU dapat melakukan belanja melampaui pagu anggaran sampai dengan ambang batas
mendahului pengesahan revisi DIPA

SISTEMATIKA FORMAT RBA


1. RINGKASAN EKSEKUTIF
Memuat uraian ringkas mengenai apa yang termuat dalam RBA (uraian singkat mengenai rencana
bisnis/kegiatan dan target pencapaian serta rencana pendapatan dan biaya)

2. BAB I PENDAHULUAN
Gambaran Umum
Visi Badan Layanan Umum
Misi Badan Layanan Umum
Budaya Badan Layanan Umum
Susunan Pejabat Pengelola BLU dan Dewan Pengawas
3. BAB II KINERJA TAHUN 2012 DAN RBA TAHUN 2013
Gambaran Kondisi BLU (kondisi internal BLU, kondisi eksternal BLU serta asumsi makro dan mikro yang
digunakan dalam penyusunan RBA).

Pencapaian Kinerja dan Target Kinerja BLU. Uraian pencapaian kinerja tahun 2012, dan target kinerja
yang akan dicapai tahun 2013. Informasi /tabel yang disajikan:
Rincian Pendapatan Per Unit Kerja;
Rincian Belanja Per Unit Kerja;
Pengelolaan Dana Khusus bagi satker BLU Pengelola Dana Khusus;
Ikhtisar Target Pendapatan menurut Program dan Kegiatan TA 2013;
Ikhtisar Belanja/Pembiayaan menurut Program dan Kegiatan TA 2013;
Pendapatan dan Belanja Agregat;
Perhitungan Biaya Layanan Per Unit Kerja;
Prakiraan Maju Pendapatan dan Prakiraan Maju Belanja.
Informasi lainnya yang perlu disampaikan (ISO, tingkat kesehatan).
Ambang Batas Belanja BLU.
4. BAB III PENUTUP (Kesimpulan dan Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian)
MEKANISME PENGAJUAN DAN PENGESAHAN RBA

Penyusunan RSB (Rencana Strategis Bisnis) BLU. BLU menyusun RSB BLU berdasarkan Renstra K/L.
Penyusunan RBA. BLU menyusun RBA mengacu pada RSB BLU dan Pagu Anggaran K/L (merupakan batas
tertinggi anggaran yang dialokasikan kepada K/L dalam rangka penyusunan RKA-K/L yang diterima pada
akhir Bulan Juni).
Penyusunan RKA K/L
RBA ditandatangani oleh Pemimpin BLU dan diketahui oleh Dewas/pejabat yang ditunjuk, selanjutnya
diusulkan kepada Menteri/Pimpinan lembaga/ketua dewan pengawas untuk mendapat persetujuan.
RBA dilampiri SPM (Standar Pelayanan Minimal), tarif, biaya dari output, dan/atau standar biaya.
RBA yang telah disetujui oleh menteri/pimpinan lembaga/ketua dewan kawasan menjadi dasar
penyusunan RKA K/L untuk satker BLU

Penelaahan RKA K/L


RKA K/L dan RBA diajukan kepada menteri/pimpinan lembaga/ketua dewan kawasan untuk disampaikan
kepada Menkeu c.q. DJA.

Menkeu c.q. DJA menelaah RKA K/L dan RBA yang diajukan oleh menteri/pimpinan lembaga/ketua
dewan kawasan dalam rangka penelahaan RKA-K/L sesuai siklus APBN.
Penyusunan RBA Definitif
Pemimpin BLU melakukan penyesuaian RKA K/L dan RBA dengan Keppres Rincian Anggaran Belanja
Pemerintah Pusat.
RBA yang telah disesuaikan ditandatangani oleh Pemimpin BLU, diketahui oleh Dewas/pejabat yang
ditunjuk, dan disetujui menteri/pimpinan lembaga/ketua dewan kawasan menjadi RBA definitif.
Menteri/pimpinan lembaga/ketua dewan kawasan menyampaikan RKA K/L dan RBA definitif kepada
Menkeu c.q. DJA dan DJPBN.
RBA definitif merupakan dasar untuk melakukan kegiatan satker BLU.
PERATURAN TEKNIS RBA:

PMK-92/PMK.05/2011 tanggal 23 Juni 2011 tentang Rencana Bisnis dan Anggaran serta Pelaksanaan
Anggaran Badan Layanan Umum;
PER-55/PB/2011 tanggal tentang Tata Cara Revisi Rencana Bisnis dan Anggaran Definitif dan Revisi
Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum.

Puskesmas Sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)


Badan Layanan Umum Daerah atau disingkat BLUD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) atau
Unit Kerja pada Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan pemerintah daerah diIndonesia yang
dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang/jasa yang dijual
tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip
efisiensi dan produktivitas.

BLUD merupakan bagian dari perangkat pemerintah daerah, dengan status hukum tidak terpisah dari
pemerintah daerah. Berbeda dengan SKPD pada umumnya, pola pengelolaan keuangan BLUD
memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, seperti pengecualian dari ketentuan pengelolaan
keuangan daerah pada umumnya. Sebuah satuan kerja atau unit kerja dapat ditingkatkan statusnya
sebagai BLUD.

Praktek bisnis yang sehat adalah penyelenggaraan fungsi organisasi berdasarkan kaidah-kaidah
manajemen yang baik dalam rangka pemberian layanan yang bermutu dan berkesinambungan.

Sedangkan Standar Pelayanan Minimum adalah spesifikasi teknis tentang tolok ukur layanan minimum
yang diberikan oleh BLU kepada masyarakat. Rencana kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan
kinerja BLU disusun dan disajikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rencana kerja dan anggaran
serta laporan keuangan dan kinerja kementerian Negara /lembaga /SKPD/ pemerintah daerah.

Suatu satuan kerja instansi pemerintah dapat diizinkan mengelola keuangan dengan PPK-BLU apabila
memenuhi persyaratan substantif, teknis, dan administratif.

Persyaratan substantif terpenuhi apabila instansi pemerintah yang bersangkutan menyelenggarakan


layanan umum yang berhubungan dengan:
Penyediaan barang dan/atau jasa layanan umum Pengelolaan wilayah/kawasan tertentu untuk tujuan
meningkatkan perekonomian masyarakat atau layanan umum; dan/atau Pengelolaan dana khusus
dalam rangka meningkatkan ekonomi dan/atau pelayanan kepada masyarakat.

Persyaratan teknis terpenuhi apabila:


kinerja pelayanan di bidang tugas pokok dan fungsinya layak dikelola dan ditingkatkan pencapaiannya
melalui BLU sebagaimana direkomendasikan oleh menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD sesuai
dengan kewenangannya; dan kinerja keuangan satuan kerja instansi yang bersangkutan adalah sehat
sebagaimana ditunjukkan dalam dokumen usulan penetapan BLU.

Persyaratan administratif terpenuhi apabila instansi pemerintah yang bersangkutan dapat menyajikan
seluruh dokumen berikut: pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan kinerja pelayanan, keuangan,
dan manfaat bagi masyarakat; pola tata kelola; rencana strategis bisnis; laporan keuangan pokok;
standar pelayanan minimum; dan laporan audit terakhir atau pernyataan bersedia untuk diaudit secara
independen.

Pejabat pengelola BLU terdiri atas:


a. Pemimpin ;
b. Pejabat keuangan; dan
c. Pejabat teknis.

Pemimpin sebagaimana dimaksud berfungsi sebagai penanggung jawab umum operasional dan
keuangan BLU yang berkewajiban:
a. menyiapkan rencana strategis bisnis BLU;

b. menyiapkan RBA tahunan;


c. mengusulkan calon pejabat keuangan dan pejabat teknis sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
d. menyampaikan pertanggungjawaban kinerja operasional dan keuangan BLU.

Pejabat keuangan BLU sebagaimana dimaksud berfungsi sebagai penanggung jawab keuangan yang
berkewajiban :
a. mengkoordinasikan penyusunan RBA;
b. menyiapkan dokumen pelaksanaan anggaran BLU;
c. melakukan pengelolaan pendapatan dan belanja;
d. menyelenggarakan pengelolaan kas;
e. melakukan pengelolaan utang-piutang;
f. menyusun kebijakan pengelolaan barang, aset tetap, dan investasi BLU;
g. menyelenggarakan sistem informasi manajemen keuangan; dan
h. menyelenggarakan akuntansi dan penyusunan laporan keuangan.

Pejabat teknis BLU sebagaimana dimaksud berfungsi sebagai penanggung jawab teknis di bidang
masing-masing yang berkewajiban:
a. menyusun perencanaan kegiatan teknis di bidangnya;
b. melaksanakan kegiatan teknis sesuai menurut RBA; dan
c. mempertanggungjawabkan kinerja operasional di bidangnya.

Pejabat pengelola BLU dan pegawai BLU dapat terdiri dari pegawai negeri sipil dan/atau tenaga
profesional nonpegawai negeri sipil sesuai dengan kebutuhan BLU.

Dengan pola pengelolaan keuangan BLU, fleksibilitas diberikan dalam rangka pelaksanaan anggaran,
termasuk pengelolaan pendapatan dan belanja, pengelolaan kas, dan pengadaan barang/jasa.

Kepada BLU juga diberikan kesempatan untuk mempekerjakan tenaga profesional non PNS serta
kesempatan pemberian imbalan jasa kepada pegawai sesuai dengan kontribusinya. Tetapi sebagai
pengimbang, BLU dikendalikan secara ketat dalam perencanaan dan penganggarannya, serta dalam
pertanggungjawabannya.

Dalam Peraturan Pemerintah ini, BLU wajib menghitung harga pokok dari layanannya dengan kualitas
dan kuantitas yang distandarkan oleh menteri teknis pembina.

Demikian pula dalam pertanggungjawabannya, BLU harus mampu menghitung dan menyajikan
anggaran yang digunakannya dalam kaitannya dengan layanan yang telah direalisasikan.

Oleh karena itu, BLU berperan sebagai agen dari menteri/pimpinan lembaga induknya.
Kedua belah pihak menandatangani kontrak kinerja (a contractual performance agreement), dimana
menteri/pimpinan lembaga induk bertanggung jawab atas kebijakan layanan yang hendak dihasilkan,
dan BLU bertanggung jawab untuk menyajikan layanan yang diminta.

Dengan sifat-sifat tersebut, BLU tetap menjadi instansi pemerintah yang tidak dipisahkan. Dan
karenanya, seluruh pendapatan yang diperolehnya dari non APBN/APBD dilaporkan dan
dikonsolidasikan dalam pertanggungjawaban APBN/APBD.

Sehubungan dengan privilese yang diberikan dan tuntutan khusus yang diharapkan dari BLU,
keberadaannya harus diseleksi dengan tata kelola khusus.
Untuk itu, menteri/pimpinan lembaga/satuan kerja dinas terkait diberi kewajiban untuk membina aspek
teknis BLU, sementara Menteri Keuangan/PPKD berfungsi sebagai pembina di bidang pengelolaan
keuangan.

Pola BLU tersedia untuk diterapkan oleh setiap instansi pemerintah yang secara fungsional
menyelenggarakan kegiatan yang bersifat operasional. Instansi dimaksud dapat berasal dari dan
berkedudukan pada berbagai jenjang eselon atau non eselon.

Sehubungan dengan itu, organisasi dan struktur instansi pemerintah yang berkehendak menerapkan
PPK-BLU kemungkinan memerlukan penyesuaian dengan memperhatikan ketentuan yang diatur dalam
Peraturan Pemerintah.

Dengan demikian, BLU diharapkan tidak sekedar sebagai format baru dalam pengelolaan APBN/APBD,
tetapi BLU diharapkan untuk menyuburkan pewadahan baru bagi pembaharuan manajemen keuangan
sektor publik, demi meningkatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat.

Asas BLU yang lainnya adalah:

Pejabat BLU bertanggungjawab atas pelaksanaan kegiatan layanan umum kepada pimpinan instansi
induk, BLU tidak mencari laba, Rencana kerja, anggaran dan laporan BLU dan instansi induk tidak
terpisah, Pengelolaan sejalan dengan praktik bisnis yang sehat.

Puskesmas sebagai BLU, diberikan kebebasan dalam meningkatkan pelayanannya ke masyarakat.


Puskesmas akan mengelola sendiri keuangannya, tanpa memiliki ketergantungan ke Pemkot seperti
yang terjadi selama ini Gagasan untuk menjadi BLUD sudah jelas secara institusional menjadi badan
layan umum.
Dalam hal ini, layanan kesehatan diberikan keleluasaan dalam konteks mengelola baik dari sisi sumber
daya manusia (SDM) hingga penganggaran.
Demi memberikan pelayanan yang yang lebih maksimal terhadap masyarakat, maka perubahan
puskesmas menjadi BLUD bukan tidak mungkin untuk diwujudkan.

Puskesmas Menuju BLUD


Selasa, 28 Oktober 2014

Puskesmas Menuju BLUD

Dalam rangka menuju terbentuknya Puskesmas sebagai Badan Layanan Umum Daerah dipandang perlu
segera dilakukan langkah-langkah percepatan dengan tetap berpedoman pada ketentuan peraturan
perundang-undangan yang mengatur tentang BLUD. Percepatan ini dilakukan agar dapat diberikan
keleluasaan pengelolaan keuangan/ barang pada batas-batas tertentu yang dapat dikecualikan dari
ketentuan yang berlaku umum terkait jumlah dana yang dapat dikelola langsung, pengelolaan barang,
pengelolaan utang dan piutang, pengelolaan investasi, pengadaan barang dan/atau jasa, serta
perumusan standar, kebijakan, sistem dan prosedur pengelolaan keuangan

Dasar Hukum yang digunakan untuk pembentukan BLUD Puskesmas :

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004tentang Perbendaharaan Negara;


Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana terakhir telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008;
Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2012;
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum Daerah;
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK.05/2011tentang Rencana Bisnis dan Anggaran Serta
Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum;
Tahapan-tahapan yang perlu dilakukan untuk penerapan status BLUD pada Puskesmas adalah sebagai
berikut :
1) Sesuai ketentuan Pasal 11 dan Pasal 18 Permendagri No.61 Tahun 2007, Kepala Dinas Kesehatan
mengajukan permohonan untuk dapat menerapkan PPK-BLUD kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah
dengan dilampiri dokumen administratif meliputi :

Surat pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan kinerja pelayanan, keuangan dan manfaat bagi
masyarakat- dibuat oleh KepalaDinas Kesehatan dan Kepala Puskesmasdan diketahui oleh Sekretaris
Daerah
Pola tata kelola- memuat antara lain struktur organisasi, prosedur kerja, pengelompokan fungsi yang
logis, pengelolaan sumber daya manusia (Pasal 21 Permendagri 61/2007). Hal ini perlu memperhatikan
transparansi, akuntabilitas, reponsibilitas dan independensi. *Struktur organisasi - posisi jabatan,
pembagian tugas, fungsi, tanggung-jawab dan wewenang dalam organisasi;*Prosedur kerja
menggambarkan hubungan dan mekanisme kerja antar posisi jabatan dan fungsi dalam
organisasi.*Pengelompokkan fungsi yang logis menggambarkan pembagian yang jelas dan rasional
antara fungsi pelayanan dan fungsi pendukung yang sesuai dengan prinsip pengendalian intern.
*Pengelompokan SDM pengaturan dan kebijakan yang jelas mengenai SDM yang berorientasi pada
pemenuhan secara kuantitatif dan kualitatif untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi secara
efisien, efektif dan produktif.
Rencana strategi bisnis(merupakan rencana strategis 5 (lima) tahunan yang mencakup antara lain visi,
misi, program strategis, pengukuran pencapaian kinerja, rencana pencapaian lima tahunan atau proyeksi
keuangan lima tahunan) berpedoman pada Pasal 69 sampai 79 Permendagri Nomor 61/2007 dan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK.05/2011 tentang Rencana Bisnis dan Anggaran Serta
Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum;
Standar pelayanan minimal memuat batasan minimal mengenai jenis dan mutu layanan dasar yang
harus dipenuhi Puskesmas - berpedoman pada PP Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan
dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal);
Laporan keuangan pokok atau prognosa/proyeksi laporan keuangan. Laporan keuangan pokok meliputi
laporan realisasi anggaran, neraca dan catatan atas laporan keuangan. Sedangkan apabila berbentuk
prognosa/proyeksi laporan keuangan terdiri dari prognosa laporan operasional dan prognosa neraca.
Prognosa diperuntukkan bagi Puskesmas yang baru terbentuk dengan berpedoman pada standar
akuntansi yang diterbitkan oleh Asosiasi Profesi Akuntansi Indonesia - berpedoman pada PP Nomor 24
Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan);
Laporan audit terakhir atau pernyataan bersedia untuk diaudit secara independen.

Selanjutnya apabila disetujui, Bupati menetapkan Keputusan Bupati tentang penerapan status PPK
BLUD. Penetapan status ini dapat berupa pemberian status BLUD penuh atau status BLUD bertahap.
a) BLUD PUSKESMAS secara penuh : diberikan apabila seluruh persyaratan telah dipenuhi dan dinilai
memuaskan
b) BLUD PUSKESMAS secara bertahap : diberikan apabila persyaratan substantif dan teknis terpenuhi
namun persyaratan administratif dinilai belum terpenuhi secara memuaskan /tidak sesuai dengan yang
dipersyaratkan;
Status BLUD bertahap diberikan flesksibiltas pada batas batas tertentu yang berkaitan dengan jumlah
dana yang dikelola langsung, pengelolaan barang, pengelolaan piutang serta perumusan
standar,kebijakan,sistemdan prosedur pengelolaan keuangan. Tidak diberikan fleksibilitas untuk
pengelolaan investasi, pengelolaan utang dan pengadaan barang dan/atau jasa. Batas batas tertentu
fleksibilitas ini ditetapkan bersamaan dengan penetapan status BLUD.

Keputusan Bupati ini disampaikan kepada Pimpinan DPRD paling lama 1(satu) bulan sejak tanggal
ditetapkan.

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam penerapan status BLUD PUSKESMAS :
1) Standar Pelayanan Minimal :
Standar pelayanan minimal dapat diusulkan oleh Kepala Dinas Kesehatan kepada Bupati untuk
selanjutnya dimohonkan penetapannya dalam Peraturan Bupati. Standar Pelayanan minimal harus
memenuhi persyaratan sbb : fokus pada jenis pelayanan, terukur, dapat dicapai, relevan dan dapat
diandalkan dan tepat waktu (Pasal 56 Permendagri 61/2007);
2) Tarif Layanan :
BLUD Puskesmas dapat memungut biaya kepada masyarakat sebagai imbalan atas barang dan/atau jasa
layanan yang diberikan (Pasal 57 Permendagri 61/2007). Tarif layanan diusulkan oleh Kepala Dinas
Kesehatan kepada Bupati melalui Sekretris Daerah untuk selanjutnya ditetapkan dalam Peraturan Bupati
dan disampaikan kepada Pimpinan DPRD (Pasal 58 ayat (3) Permendagri Nomor 61/2007). Penetapan
tarif perlu mempertimbangkan kontinuitas dan pengembangan layanan, daya beli masyarakat serta
kompetisi yang sehat.
3) Pendapatan dan Biaya BLUD Puskesmas :
Pendapatan BLUD dapat bersumber dari (Pasal 61 Permendagri Nomor 61/2007):

jasa layanan;
hibah (berupa hibah terikat dan hibah tidak terikat). Hibah terikat diperlakukan sesuai peruntukkannya;
hasil kerjasama dengan pihak lain (berupa perolehan dari kerjasama operasional, sewa menyewa dan
usaha lainnya yang mendukung tugas dan fungsi BLUD PUSKESMAS);
APBD (pendapatan yang berasal dari otorisasi kredit anggaran pemerintah daerah, bukan dari kegiatan
pembiayaan APBD);
APBN (dapat berupa pendapatan yang berasal dari pemerintah dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi
dan/atau tugas pembantuan dan lain-lain);
dan lain-lain pendapatan BLUD yang sah diantaranya hasil penjualan kekayaan yang tidak dipisahkan,
hasil pemanfaatan kekayaan, jasa giro, pendapatan bunga, keuntungan selisih nilai tukar rupiah
terhadap mata uang asing, komisi, potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau
pengadaan barang dan/atau jasa BLUD, hasil investasi.
Biaya BLUD terdiri dari :
biaya operasional (terdiri dari biaya pelayanan dan biaya umum dan administrasi). Biaya pelayanan
terdiri dari : biaya pegawai, biaya bahan, biaya jasa pelayanan, biaya pemeliharaan, biaya barang dan
jasa, biaya pelayanan lain-lain. Biaya umum dan administrasi terdiri dari : biaya pegawai, biaya
administrasi kantor, biaya pemeliharaan, biaya barang dan jasa, biaya promosi, biaya umum dan
administrasi lain-lain.
biaya non operasional terdiri dari biaya bunga, biaya administrasi bank, biaya kerugian penjualan aset
tetap, biaya kerugian penurunan nilai, biaya non oprasional lain-lain.
4) Investasi :
BLUD PUSKESMAS tidak dapat melakukan investasi jangka panjang, kecuali atas persetujuan Bupati
(Pasal 93 Permendagri Nomor 67/2007). Investasi jangka panjang meliputi : penyertaan modal,
pemilikan obligasi untuk jangka panjang dan investasi langsung seperti pendirian perusahaan.
5) Pengadaan Barang dan/atau jasa :
Pengadaan barang dan/atau jasa pada BLUD PUSKESMAS dilaksanakan berdasarkan ketentuan yang
berlaku bagi pengadaan barang dan/atau jasa pemerintah (Pasal 99 Permendagri 61/2007).
Apabila terdapat alasan efektifitas dan/atau efisiensi, BLUD dengan status penuh dapat diberikan
fleksibilitas berupa pembebasan sebagian atau seluruhnnya dari ketentuan yang berlaku umum.
Fleksibilitas diberikan terhadap pengadaan barang dan/atau jasa yang sumber dananya berasal dari :
jasa layanan, hibah tidak terikat, hasil kerjasama dengan pihak lain, lain-lain pendapatan BLUD yang sah.
6) Pembinaan dan Pengawasan :
Pembinaan teknis dilakukan oleh Bupati melalui Sekretaris Daerah. Pembinaan Keuangan BLUD
PUSKESMAS dilakukan oleh DPKD selaku PPKD. Pengawasan operasional BLUD dilakukan oleh pengawas
internal internal auditor yang berkedudukan langsung dibawah Kepala PUSKESMAS.

7) Evaluasi dan Penilaian Kinerja :


Evaluasi dan penilaian kinerja dilakukan setiap tahun oleh Bupati dan/atau Dewan Pengawas terhadap
aspek keuangan dan non keuangan bertujuan mengukur tingkat capaian hasil pengelolaan BLUD
PUSKESMAS sebagaimana ditetapkan dalam Renstra Bisnis dan RBA. Evaluasi dan penilaian kinerja
keuangan dapat diukur berdasarkan tingkat kemampuan BLUD PUSKESMAS dalam :
a) Memperoleh hasil usaha atau hasil kerja dari layanan yang diberikan (rentabilitas);
b) Memenuhi kewajiban jangka pendeknya (likuiditas);
c) Memenuhi seluruh kewajibannya (solvabilitas);
d) Kemampuan penerimaan dan jasa layanan untuk membiayai pengeluaran.
Evaluasi dan penilaian kinerja non keuangan :
a) Persfektif pelanggan;
b) Proses internal pelayanan, pembelajaran dan pertumbuhan