Anda di halaman 1dari 20

ETIKA FARMASI DALAM FARMASI

RUMAH SAKIT INDONESIA

DH-Etikandan Undang-Undang 2014

PENDAHULUAN

DH-Etikandan Undang-Undang

Latar Belakang
Upaya kesehatan adalah suatu kegiatan untuk memelihara
dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan
derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.
Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan
di rumah sakit yang menunjang pelayanan kesehatan yang
bermutu.
Tuntutan pasien dan masyarakat akan mutu pelayanan
farmasi, mengharuskan adanya perubahan pelayanan dari
paradigma lama drug oriented ke paradigma baru patient
oriented & drug oriented dengan filosofi Pharmaceutical Care
(pelayanan kefarmasian).
DH-Etikandan Undang-Undang

Praktek pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang


terpadu dengan tujuan untuk mengidentifikasi, mencegah dan
menyelesaikan masalah obat dan masalah yang berhubungan
dengan kesehatan.
kenyataannya sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum
melakukan kegiatan pelayanan farmasi seperti yang
diharapkan, mengingat beberapa kendala.
Akibat kondisi ini maka pelayanan farmasi rumah sakit masih
bersifat konvensional yang hanya berorientasi pada produk
yaitu sebatas penyediaan dan pendistribusian.

DH-Etikandan Undang-Undang

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, adakah suatu hubungan
kerjasama yang kolaboratif antara dokter dan
farmasis sehingga peran farmasis tidak hanya sebatas
penyedia dan pendistribusi obat saja tetapi perhatian
dan pelayanan pada pasien oriented perlu dilakukan
dengan filosofi pharmaceutical care?

DH-Etikandan Undang-Undang

Tujuan
Mengetahui etika farmasis dalam farmasi
Rumah Sakit di Indonesia dalam berkolaborasi
dengan praktisi kesehatan lain.

DH-Etikandan Undang-Undang

Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional


tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan
apa yang tidak benar bagi profesional.
Berdasarkan Kode Etik Apoteker Indonesia:
Pasal 1: Seorang Apoteker harus menjunjung tinggi, menghayati dan
mengamalkan Sumpah atau janji Apoteker.
Pasal 2: Seorang Apoteker harus bersungguh-sungguh menghayati dan
mengamalkan Kode Etik Apoteker Indonesia.
Pasal 3 : Seorang Apoteker harus senantiasa menjalankan profesinya sesuai
kompetensi Apoteker Indonesia serta selalu mengutamakan dan berpegang teguh
pada prinsip kemanusiaan dalam melaksanakan kewajibannya.
Pasal 4 : Seorang Apoteker harus selalu aktif mengikuti perkembangan diibidang
kesehatan pada umumnya dan dibidang farmasi pada khususnya.
Pasal 5 : di dalam menjalankan tugasnya seorang apoteker harus menjauhkan diri
dari usaha mencari keuntungan diri semata yang bertenatangan dengan martabat
dan tradisi luhur jabatan kefarmasian.
Pasal 6 : seorang apoteker harus berbudi luhur dan menjadi contoh yang baik bagi
orang lain.

DH-Etikandan Undang-Undang

Rumah sakit adalah suatu organisasi yang kompleks,


menggunakan gabungan alat ilmiah khusus dan rumit, dan
difungsikan oleh berbagai kesatuan personel terlatih dan
terdidik dalam menghadapi dan menangani masalah medik
modern, yang semuanya terikat bersama-sama dalam maksud
yang sama, untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan
yang baik.
Farmasi rumah sakit adalah departemen atau unit atau bagian
di suatu rumah sakit di bawah pimpinan seorang apoteker dan
dibantu oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi
persyaratan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan
kompeten secara profesional, tempat, atau fasilitas
penyelenggaraan yang bertanggung jawab atas seluruh
pekerjaan serta pelayanan kefarmasian.
DH-Etikandan Undang-Undang

Tujuan kegiatan IFRS


antara lain

Memberi manfaat kepada penderita, rumah sakit, sejawat


profesi kesehatan, dan kepada profesi farmasi oleh apoteker
rumah sakit yang kompeten dan memenuhi syarat.
Membantu dalam penyediaan perbekalan yang memadai oleh
apoteker rumah sakit yang memenuhi syarat.
Menjamin praktik profesional yang bermutu tinggi melalui
penetapan dan pemeliharaan standar etika profesional,
pendidikan dan pencapaian, dan melalui peningkatan
kesejahteraan ekonomi.
Menyebarkan pengetahuan farmasi dengan mengadakan
pertukaran informasi antara para apoteker rumah sakit,
anggota profesi, dan spesialis yang serumpun.
Memperluas dan memperkuat kemampuan apoteker rumah sakit untuk:
a. Secara efektif mengelola suatu pelayanan farmasi yang terorganisasi
b. Mengembangkan dan memberikan pelayanan klinik
c. Melakukan dan berpartisipasi dalam penelitian klinik dan farmasi dan
dalam program edukasi untuk praktisi kesehatan, penderita, mahasiswa, dan
masyarakat
DH-Etikandan Undang-Undang

Pembahasan dan solusi

DH-Etikandan Undang-Undang

Sering menyerahkan
tugas yang harus
dilakukannya kepada
perawat
Keengganan Farmasis
untuk memberikan
informasi mengenai
obat kepada praktisi
kesehatan lain dan
pasien.

Tidak rutin
mengunjungi pasien
rawat inap

Kasus
Pelayanan
Farmasi
DH-Etikandan Undang-Undang

Tinjauan berdasarkan etika


1.Professional
recognition

Professional
awareness.

Menurut
McDonough
dan Doucette
(2001)

2. exploration
and trial.

4. commitment
3. professional
to the
collaborative
relationship
working
expansion.
DH-Etikandan
Undang-Undang
relationship.

Tahap awal
Professional awareness
Pada tahap ini dimana masing-masing profesi saling
mengenal dan mengetahui.
Hubungannya masih alamiah, hanya sebatas farmasis
menerima resep dari dokter, kemudian dispensing.
Farmasis mengontak dokter jika terjadi hal-hal tidak jelas
yang terkait dengan resep (dosis, nama obat, dsb), dan
menjawab pertanyaan tentang infomasi obat. Tidak ada
diskusi lebih lanjut apakah obat telah memberikan hasil
optimal kepada pasien.
Mestinya Farmasis tidak boleh puas hanya dengan tahap
tersebut, walau dianggap lebih aman secara profesional.
Farmasis perlu meningkatkan peranannya untuk
mencapai pada tahap 1.
DH-Etikandan Undang-Undang

Tahap pertama
Professional recognition.

Pada awalnya, usaha untuk meningkatkan frekuensi dan kualitas hubungan


dokter-Farmasis cenderung unilateral, dengan Farmasis yang harus memulai.
Farmasis perlu berusaha untuk membuat dokter menjadi paham tentang apaapa yang bisa disumbangkan Farmasis terhadap pelayanan pasien, misalnya
menunjukkan keahliannya dalam memberikan informasi obat yang up to date,
memberikan alternatif obat untuk kondisi-kondisi khusus pasien, dsb. Dari situ
dokter akan dapat membangun dasar kepercayaan dan menumbuhkan
komitmen terhadap hubungan kerjasama dengan Farmasis.
Pada stage ini, komunikasi sering merupakan tantangan tersendiri. Jangan
sampai terjadi miskomunikasi bahwa seolah-olah Farmasi akan
mengintervensi wewenang dokter dalam memilih obat atau akan menjadi
polisi yang akan mengawasi pengobatan oleh dokter. Justru perlu ditekankan
bahwa Farmasis adalah mitra yang akan membantu dokter sesuai dengan
kewenangannya, demi tercapainya pengobatan pasien yang optimal. Pada
tahap ini dapat dirumuskan mengenai bentuk kerjasama, bagaimana cara
komunikasinya, bagaimana protokolnya, dan dibuat suatu kesepakatan.

DH-Etikandan Undang-Undang

Tahap kedua
Exploration and trial
Pada tahap ini partisipan (dokter dan Farmasis) akan menguji
kekompakan, harapan, kepercayaan dan komitmen mereka terhadap
hubungan kerjasama. Dokter mungkin akan memutuskan untuk merujuk
pasien ke farmasis untuk hal-hal yang terkait dengan obat, misalnya
penyesuaian dosis dan konseling obat, dan mengevaluasi kompetensi
Farmasis untuk memutuskan apakah kerjasama ini cukup bermanfaat dan
dapat dilanjutkan. Sebaliknya Apoteker juga dapat menilai apakah dokter
tersebut dapat diajak bekerja sama yang positif.
Pada fase ini, jika harapan dokter terhadap Farmasis terpenuhi, dokter
akan memberikan kepercayaan kepada Farmasis untuk meneruskan
kerjasama untuk bersama-sama memberikan pelayanan yang terbaik pada
pasien. Sebaliknya jika ternyata harapan masing-masing tidak terpenuhi
dari adanya hubungan ini, maka hubungan kerjasama mungkin akan
berakhir. Jika dokter dan Farmasis telah melihat dan mendapatkan
manfaat kerjasama mereka dari tahap exploration and trial, maka mereka
dapat meningkatkan dan memperluas kerjasama profesional tersebut dan
sampai ke tahap 3.
DH-Etikandan Undang-Undang

Tahap ketiga:
professional relationship expansion.
Pada stage ini kuncinya adalah komunikasi, pengembangan
norma/aturan yang disepakati, penilaian performance,
dan resolusi konflik.
Pada fase ini the exchange efforts masih belum seimbang,
dengan Farmasis perlu secara kontinyu mengkomunikasikan
mengenai manfaat bagi pasien yang mendapat pelayanan
farmasi yang tepat. Jika performance Farmasis sesuai
dengan ekspektasi dokter, dokter dan Farmasis secara
pelan-pelan akan memantapkan lingkup dan kedalaman
saling
ketergantungan
(interdependence)
mereka.
Tujuannya adalah memelihara atau meningkatkan kualitas
pertukaran sehingga hubungan profesional dapat terus
dikembangkan
DH-Etikandan Undang-Undang

Tahap keempat:
commitment to the collaborative working
relationship.
Kolaborasi akan semakin mungkin terwujud jika dokter telah
melihat bahwa dengan adanya kerjasama dengan Farmasis resiko
praktek pelayanannya menjadi lebih kecil, dan banyak nilai tambah
yang diperoleh dari kepuasan pasien.
Komitmen akan lebih mungkin tercapai jika usaha dan keinginan
bekerjasama dari masing-masing pihak relatif sama. Dokter akan
mengandalkan pengetahuan dan keahlian Farmasis mengenai obatobatan, sementara Farmasis akan bersandar pada informasi klinis
yang diberikan oleh dokter ketika akan membantu memanage
terapi pasien.
Pada tahap ini pertemuan tatap muka untuk mendiskusikan
masalah pasien, masalah-masalah pelayanan, dan hal-hal lain harus
dijadwalkan, dan bisa dikembangkan bersama tenaga kesehatan
yang lain. Selain itu adanya komitmen kerjasama ini perlu
diinformasikan kepada tenaga kesehatan yang lain sehingga mereka
dapat turut terlibat di dalamnya.
DH-Etikandan Undang-Undang

Sebaiknya pada saat apoteker memberikan


resep kepada perawat, disertai penjelasan
yang detail mengenai penggunaan dan
manfaat obat tersebut.
Untuk pasien tertentu yang perlu bimbingan
dalam mengkonsumsi obat, sebaiknya
apoteker sering mengunjunginya untuk
memberikan motivasi dalam mengkonsumsi
obat secara rutin.

DH-Etikandan Undang-Undang

Standar Pelayanan Farmasi di Rumah


Sakit sesuai dengan Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004
Pelayanan informasi
obat merupakan kegiatan pelayanan yang
dilakukan oleh apoteker untuk memberikan
informasi secara akurat, tidak bias dan terkini
kepada dokter, apoteker, perawat, profesi
kesehatan lainnya dan pasien.
DH-Etikandan Undang-Undang

Kesimpulan
Seorang farmasis di Farmasi Rumah Sakit
harus mengikuti Kode Etik Apoteker.
Mengamalkan professional awareness,
professional recognition, exploration and
trial, professional relationship expansion,
commitment to the collaborative working
relationship.

DH-Etikandan Undang-Undang