Anda di halaman 1dari 2

1

BAB I
PENDAHULUAN

Statistik WHO memperkirakan 25% kematian ibu oleh karena


perdarahan post partum, dimana lebih dari 100.000 kematiaan ibu per
taun. Dimana diperkirakan kematian 1 ibu per 4 menit. Menurut Survei
Kesehatan Rumah Tangga(SKRT) tahun 2010, penyebab kematian ibu disebabkan oleh
perdarahan(28%),eklampsi(24%),infeksi(11%),komplikasi masa nifas(8%), abortus(5%),
emboli obstetric(3%), dan lain-lain.
Persalinan berhubungan dengan perdarahan, karena semua persalinan baik
pervaginam ataupun perabdominal (seksio sesarea) selalu disertai perdarahan. Pada
persalinan pervaginam perdarahan dapat terjadi sebelum, selama ataupun sesudah
persalinan.
Perdarahan postpartum adalah penyebab paling umum perdarahan yang berlebihan
pada kehamilan. Berdasarkan penyebabnya diperoleh sebagai berikut : atonia uteri (50
60 %), sisa plasenta( 23 24 %), retensio plasenta (16 17 %), laserasi jalan lahir (4 5
%) dan kelainan darah(0,5 0,8 %).
Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini (50%), dan
merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi peripartum. Kontraksi
uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah melahirkan.
Atonia uteri terjadi karena kegagalan mekanisme ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perdarahan Pasca Persalinan


Perdarahan pasca persalinan atau hemorragic post partum (HPP) adalah kehilangan
darah melebihi 500 ml yang terjadi setelah bayi lahir.1
Perdarahan pascapersalinan di bagi menjadi perdarahan pascapersalinan primer dan
sekunder. Perdarahan pascapersalinan primer (Early HPP) terjadi dalam 24 jam pertama.
Penyebab utama perdarahan pascapersalinan primer adalah atonia uteri (50-60%), retensio
plasenta(16 17%), robekan jalan lahir (4-5%), ruptur uteri, sisa plasenta, dan kelainan
pembekuan darah. Sedangkan perdarahan pascapersalinan sekunder (Late HPP) terjadi
setelah 24 jam pertama. Penyebab utama perdarahan pascapersalinan sekunder adalah
robekan jalan lahir, subinvolusi didaerah insersi plasenta,dan sisa plasenta atau membran.
Kadang-kadang perdarahan disebabkan kelainan proses pembekuan darah akibat
dari hipofibrinogenemia (solusio plasenta, retensi janin mati dalam uterus, emboli air
ketuban). Apabila sebagian plasenta lepas sebagian lagi belum, terjadi perdarahan karena
uterus tidak bisa berkontraksi dan beretraksi dengan baik pada batas antara dua bagian itu.
Selanjutnya, apabila sebagian besar plasenta sudah lahir, tetapi sebagian kecil masih
melekat pada dinding uterus, dapat timbul perdarahan dalam masa nifas.
2.2 Atonia Uteri
2.2.1 Definisi
Atonia uteria (relaksasi otot uterus) adalah uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik
setelah dilakukan pemijatan fundus uteri (plasenta telah lahir). 1