Anda di halaman 1dari 6

Tugas individu

Brugia timori

Dosen

: Marlina Kamelia, M.Sc.


Disusun Oleh :

Nama

:Bunga Pertiwi

NPM

: 1211060063

Kelas

: Biologi C

Semester

:V

Jurusa n

: Pendidikan BiologI

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
RADEN INTAN LAMPUNG
2014

Filariasis
Filariasis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeki parasit nematoda yang tersebar di
Indonesia. Walaupun penyakit ini jarang menimbulkan kematian tetapi dapat menurunkan
produktifitas penderitanya karena timbulnya gangguan fisik. Penyakit ini jarang terjadi pada anak
karena manifestasi klinisnya timbul setelah bertahuntahun kemudian setelah terinfeksi. Gejala
pembengkakan kaki muncul karena sumbatan mikrofilaria pada pembuluh limfe yang biasanya
terjadi pada usia diatas 30 tahun setelah terpapar parasit selama bertahun-tahun. Oleh karena itu
filariasis sering juga disebut dengan penyakit kaki gajah. Akibat bagi penderitanya adalah kecacatan
permanen yang sangat mengganggu produktifitas. (Widoyono,2008)

A. Penyebaran :
B.timori hanya terdapat di Indonesia bagian timur, yaitu nusa tenggara timur, dan timor
timur.

B. Hospes
Pada B.timori hospesnya manusia, menyebabkan filariasis timori. (Rosdiana safar,2009)

C. Morfologi dan Daur hidup

Dikenal hanya manusia hospes definitive,transmisi infeksi melalui nyamuk (Anopheles


barbirostis) Cacing dewasa berbentuk silindrik seperti benang, berwarna putih kekuningan.
Pada ujung anteriornya terdapat mulut tanpa bibir dan dilengkapi baris papila 2 buah , baris
luar 4 buah dan baris dalam 10 buah. Cacing betina berukuran 55x0,16 mm dengan ekor
lurus, vulva mempunyai alur tranfersal dan langsung berhubungan dengan vagina
membentuk saluran panjang. Cacing jantan berukuran 23x0,09 mm, ekor melingkar dan
bagian ujugnya terdapat papila 3-4 buah, dan dibelakang anus terdapat sepotong papila. Pada
ujung ekor terdapat 4-6 papila kecil dan spikula yang panjangnya tidak sama. Cacing betina
mengeluarkan mikrofilaria bersarung, panjangnya 177 230 mikron, lekuk tubuh kaku,
panjang ruang kepala dua kali lebarnya, inti tubuh tidak teratur dan ekornya mempunyai 1-2
inti tambahan. Mikrofilaria ini terdapat dalam darah tepi. Periodisias B timori memiliki
periodisitas nocturna. Seseorang dapat tertular atau terinfeksi filariasis apabila orang tersebut
digigit nyamuk yang sudah terinfeksi, yaitu yang didalam tubuhnya mengandung larva (L3).
Nyamuk sendiri mendapat mikrofilarial karena menghisap darah penderitanya atau dari
hewan yang mengandung mikrofilaria. Nyamuk sebagai vektor menghisap darah penderita
(mikrofilaremia), Mikrofilaremia masuk kedalam lambung nyamuk lalu berkembang dalam
otot nyamuk selama 3 minggu. Dalam tubuh nyamuk microfilaria tidak berkembang biak
tetapi hanya berubah bentuk dalam beberapa hari dari larva 1 sampai menjadi larva 3. Pada
stadium 3 larva mulai bergerak aktif dan bergerak ke alat tusuk nyamuk. Nyamuk pembawa
mikrofilaria menggigit manusia dan memindahkan larva infektif tersebut. Bersama aliran
darah larva 3 menuju sistem limfe dan selanjutnya tumbuh menjadi cacing dewasa jantan
atau betina serta berkembang biak .Cacing filarial dalam tubuh manusia terdeteksi pada
malam hari, selebihnya bersembunyi di organ dalam tubuh manusia. Diagnosis dapat
dilakukan dengan pemeriksaan darah tepi. Mikrofilaria dapat ditemukan dalam darah pada
malam hari dan siang hari, tetapi ditemukan dalam jumlah besar pada malam hari dan banyak
ditemukan dalam kapiler dan pembuluh darah paru-paru. (Onggowaluyo,2002)

D. Patologi dan Klinik


Gejala filariasis dapat berupa demam berulang-ulang selama 3-5 hari, demam dapat hilang
bila istirahat dan timbul lagi setelah bekerja berat. Pembengkakan kalenjar getah bening
(tanpa luka) dapat terjadi didaerah lipatan paha, ketiak yang tampak kemerahan panas dan
sakit. Abses filarial terjadi akibat seringnya pembengkakan kalenjar getah bening yang dapat

pecah dan mengeluarkan darah serta nanah. Gejala klinis yang kronis berupa pembesaran
yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, buah dada dan alat kelamin. (Gandahusada,2000)

E. Pengobatan

Hingga saat ini DEC masih merupakan obat pilihan. Di Indonesia dosis yang dianjurkan
adalah 5 mg/kg berat badan / hari selama 10 hari. Efek samping DEC pada pengobatan
filariasis brugia jauh lebih berat, bila dibandingkan dengan yang terdapat pada
pengobatan filariasis bancrofti. Untuk pengobatan masal pemberian dosis standar dan
dosis tunggal tidak dianjurkan, yang dianjurkan adalah pemberian dosis rendah jangka
panjang (100 mg/minggu selama 40 minggu) atau DEC ) 0,2 0,4 % selama 9 12
bulan. Stadium mikrofilaremia, gejala peradangan dan limfadema dapat disembuhkan
dengan pengobatan DEC. (Gandahusada,2000)

F. Pencegahan
1. Menghindari diri dari gigitan nyamuk yaitu dengan menutup ruangan dengan kasa kawat,
memakai kelambu pada tempat tidur.
2. Memberantas nyamuk serta sumber perindukan yaitu dengan membersihkan lingkungan
tempat tinggal, menutup tempat penampungan air yang digunakan sebagai sarang nyamuk,
menguras bak mandi, menggunakan obat nyamuk.

3. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang bahaya yang ditimbulkan oleh nyamuk salah
satunya penyakit filariasis, sehingga masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam
pemberantasan penyakit filariasis. (Gandahusada,2000)

DAFTAR PUSTAKA
Safar,rosdiana.2009.parasitologi kedokteran protozologi,helmintologi,entomologi.
Bandung : CV.YRAMA WIDYA.
Onggowaluyo JS. 2002. Parasitologi Medik I (Helmintologi). Jakarta: EGC.
Gandahusada S. 2000. Parasitologi Kedokteran edisi ke 3. Jakarta:EGC.
Widoyono.2008.Penyakit Tropis : Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, dan
Pemberantasannya. Jakarta : Penerbit Erlangga.