Anda di halaman 1dari 9

JURNAL READING

JUDUL:
TOOTHPASTE ALLERGY:
DIAGNOSIS AND MANAGEMENT

NAMA

: GLORIA KEMALA ATE

NIM

: 112013224

PEMBIMBING : DR. CHADIJAH RIFAI, Sp.KK

KEPANITERAAN KLINIK UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA


JAKARTA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOJA
STASE KULIT DAN KELAMIN
DESEMBER 2014

Diagnosis dan Penatalaksanaan Alergi Pasta Gigi

Kasus
Seorang pria berumur 81 tahun dengan keluhan bengkak pada daerah mulut
yang hilang timbul yang sudah berlansung selama tujuh bulan. Dermatitis yang
dideritanya dirasakan sangan gatal dan sakit. Biasanya menyerang pada daerah bagian
kanan mulut, namun menyebar ke sekeliling mulut dan sudah masuk ke dalam
mukosa bibir. Bahkan pada pinggir gusi sudah ditutupi oleh erupsi. Timbul fisura
pada bibirnya, dan bibirnya sangat kering dan sedikit bengkak. Rongga mulut terlihat
kemerahan.

acrodermatitis

enteropatika

adalah

diagnosis

banding

yang

dipertimbangkan, namun dikeluarkan setelah mendapatkan hasil zinc yang normal.


Dermatitis kontak alergi kemudian dipertimbangkan dan pasien dirujuk ke The
Ohio State University Contact and Occupational Dermatitis Centre di Colombus,
Ohio. Dia menjalani tes alergi (patch test) dan ditemukan mempunyai reaksi +1
terhadap wewangian dan bahan yang berbau kayu manis. Dia juga bereaksi +2
terhadap pasta gigi bermerk Arm & Hammer Advance White Fresh Mint Toothpaste
miliknya. Pasien kemudian mengganti pasta giginya menjadi Toms of Maine Natural
Orange and Mango Toothpaste and LISTERINE Antiseptic Mouthwash Natural
Citrus. Setelah 4minggu, keadaan pasien membaik.

Diskusi
Kasus ini menarik dalam beberapa hal. Meskipun alergi terhadap wewangian
atau perasa umum, namun pada sebagian besar kasus yang telah kami lihat, pasien
dengan bengkak pada daerah mulut dan alergi wewangian tidak membaik setelah
diterapkan pantangan pada zat-zat tersebut. Namun, pada kasus ini, pembengkakan
pada mulut sembuh dengan menghindari pasta gigil rasa mint dan berbau kayu manis,
menegaskan bahwa perasa dalam pasta gigi faktor yang berhubungan terhadap
pembengkakan pada mulut.
Faktor klinis yang pengarang perhatikan dari pengalaman meningkatkan
kemungkinan ditemukannya kontak alergi yang berhubungan yang dapat menjelaskan
bengkak pada mulut termasuk gejala yang asimetris, dengan satu sisi yang lebih
sering terkena dibanding sisi yang lain, dan tertutupnya daerah pinggir gusi, yang

menandakan erupsi telah menyebar sampai ke bibir dan kulit. Pasien ini telah
mendemonstrasikan dua gejala klinis di atas.
Terakhir, reaksi patch test terhadap wewangian dan bau kayu manis yang
sama-sama +1. Pengarang menganggap +1 merupakan reaksi yang positif dan
memberitahu pasien untung menghindari alergen yang memberikan reaksi, hanya
berdasarkan penemuan yang berhubungan dengan kasus. Sudah diterima secara
umum bahwa reaksi positif, apakah +1 (teraba, namun tidak memenuhi area patch
test), +2 (teraba, dan memenuhi area patch test), atau +3 (meluas melebihi area patch
test atau sudah terbentuk vesikel), dipertimbangkan sebagai bukti adanya adanya
alergi terhadap zat yang diujikan.
Pasta gigi umumnya digunakan sebagai produk perawatan pribadi. Masyarakat
Amerika menghabiskan rata-rata total 38.5 hari hidup mereka untuk menyikat gigi
mereka, berdasarkan Akademi Periodontologi. Pasta gigi sebagian besar digunakan
untuk meningkatkan kesehatan gigi dan menghindari pengeroposan gigi. Rata-rata,
konsumen menghabiskan kira-kira 5.2 miliar US Dolar untuk kesehatan gigi setiap
tahunnya. Kategori utama yang digunakan untuk membuat pasta gigi adalah zat
abrasif, detergen, dan zat pelarut, zat pelembut, zat pengawet, zat pewarna, antiseptik,
garam flourid, dan perasa. Pasta gigi modern dibuat pada tahun 1800 dan zat perasa
adalah salah astu zat yang pertama ditambahkan. Zat pewarna tidak hanya membuat
pasta gigi lebih enak untuk digunakan, namun juga berfungsi sebagai penyegar napas.
Namun, pada sebagan besar kasus yang sudah dideskripsikan, pasta gigi dengan zat
perasa adalah sumber dari timbulkan kontak alergi pad amulut, sedangkan komponen
yang lain dari pasta gigi jarang ditemukan sebagai penyebabnya.
Patch test untuk alergi pasta gigi sangat menantang. Banyak dari faktor
alergen yang berhubungan dapat menjadi zat iritan yang berujung pada adanya hasil
positif palsu. Hal ini dapat dibuktikan pada tes yang dilakukan langsung pada pasta
gigi. Beberapa cara memberikan alternatif untuk menghindari terjadinya positif palsu
dari zat iritan, misalnya detergen dan zat abrasif. Namun, untuk menghindari negatif
palsu adalah hal yang sama sulitnya.
Zat perasa yang umumnya menyebabkan alergi pada pasta gigi adalan
cinnamal, spearmint, peppermint, carvone, dan anethole. Karena sebagian besar pasta
gigi diberi perasa antara variasi mint atau kayu manis, tantangan besar timbul untuk
menemukan pasta gigi yang bebas dari zat perasa ini bagi mereka yang mempunyai
alergi. Pengarang mencari cara untuk mengevaluasi potensial zat alergen yang
3

sekarang ini digunakan di pasta gigi yang ada di Amerika Serikat. Informasi ini
diharapkan menolong para tenaga medis untuk mendeteksi alergi pada suatu zat,
terutama rasa yang mungkin muncul pada sebagian besar pasta gigi yang dibeli
pasien.

Metode
Pengarang menggunakan data pasta gigi yang muncul di apotek Walgreen
baru-baru ini. Untuk setiap pasta gigi, data ini mengelompokkan semua zat alergen
dari North American Contact Dermatitis Group berdasarkan panel penilaian yang ada
di produk. Data yang ada dbuat oleh dokter kulit dengan keahlian di bidang ACD.
Dengan menggunakan data ini, pengarang memasukan setiap nama pasta gigi dan zat
alergen yang ada dalam pasta gigi tersebut ke dalam lembar kerja Microsoft Excel.
Menggunakan filter, pengarang menetapkan jumlah pasta gigi yang mengandung zat
alergen.

Hasil
Data yang ada mencakup 80 tipe pasta gigi, 76 diantaranya mengandung zat
perasa yang tidak spesifik, yang membuat zat perasa ini zat yang sering menyebabkan
alergen (tabel 1). Hanya ada empat pasta gigi yang tidak mengandung zat perasa
apapun. Namun, ada empat pasta gigi yan gmengandung zat perasa alternatif, namun
tidak mengandung mint, spearmint, pepermint, atau perasa kayu manis, yang
merupakan zat alergen yang paling sering. Karena itu, jika alergi pasien dapat
diperkecil secara spesifik menjadi alergi mint atau rasa kayu manis, makan mereka
dapat menggunakan perasa alternatif, misalnya anggur, stroberi, jeruk-manga, atau
aprikot.
Zat

kedua

yang biasanya

muncul

pada

alergi

pasta

gigi

adalah

cocamidopropul betaine (CAPB). Meskipun ini menjadi zat alergen kedua yang
sering muncul, hanya 16 sampai 80 persen mengandung zat surfaktan ini. Zat ketiga
yang sering muncul adalah propylene glycol, sebuah zat larut air. Delapan dari
delapan puluh pasta gigi mengandung zat alergen ini.
Minyak esensial dan zat alami adalah zat kelima dalam lima dari 80 pasta gigi
mengandung minyak esensal. Bahan iini berhubungan dengan zat perasa dan semua
pasta gigi yang mengandung minyak esensial dalam data juga mengandung zat
perasa. Karena itu, jika alergi zat perasa dicurigai kecenderungan alerginya, maka
dapat diterapkan larangan untuk menggunakan pasta gigi mengandung minyak
esensial. Ditambah lagi, empat dari 80 pasta gigi mengandung perasa peppermint dan
dua dari 80 pasta gigi mengandung spearmint. Ada satu produk yang mengandung
zat perasa yang spesifik, yaitu peppermint atau spearmint saja.
Parabens juga muncul pada 5 dari 80 pasta gigi. Mereka digunakan sebagai zat
pengawet dalam produk perawatan pribadi. Maka itu, disamping penambahan minyak
esensial, parabens juga termasuk zat kelima yang menyebabkan alergi. Vitamin E
adalah zat keenam yang menyebabkan alergi, yang muncul setelah pemakaian 2
sampai 80 pasta gigi.
Ekstrak anggur,zat pewarna alternatif, digunakan pada satu pasta gigi. Tea tree
oil juga digunakan pada pasta gigi atau propolis. Propolis adalah resin yang

digunakan untuk penyelamatan kulit. Hal ini dapat menjadi pilihan pasta gigi yang
manisnya tidak berlebihan. Ini menjadi hal yang bula tidak teratur.

Diskusi
Alergen yang paling umum muncul pada penelitian yang dilakukan pengarang
adalah zat perasa, yang ada pada 95 persen pasta gigi di dalam data Walgreens. Zat
perasa dicampurkan pada pasta gigi untuk membuat pasta gigi lebih enak untuk
digunakan dan untuk menyegarkan napas. Karena itu,pilihan zat perasa pasta gigi
yang jelas biasanya bervariasi atau kombinasi antara kayu manis dan mint.
Berdasarkan penelitian terbaru tentang alergi kontak daerah mulut akibat pasta gigi, zt
perasa bertanggung jawab pada sebagian besar kasus , dan yang lebih penting lagi
adalah hal-hal yang berhubungan dengan turunan ekstrak dari macam-macam perasa
mint, seperti spearmint, peppermint, menthol, dan carvone- yang digunakan pada
banyak pasta gigi untuk memberikan sensasi kesegaran.
Pasta gigi merupakan produk perawatan pribadi yang secara umum digunakan
oleh konsumen dimulai dari usia yang sangat muda. Lambat laun, sensitifitas terhadap
zat perasa akibat pajanan dapat terbentuk. Konsumen tidak hanya terpapar alergen zat
perasa melalui pata gigi, namun juga melalui permen karet, es krim, minuman soda,
permen dan cairan kumur-kumur mulut. Pajanan di atas meningkatkan kesempatan
untuk terkena alergi terhadap zat perasa pasta gigi.
CAPB adalah zat kedua yang ada dalam data Walgreens. CAPB ditemukan
dalam sebagian besar produk pembersih, seperti sampo, produk mandi, produk untuk
menata rambut, cairan kontak lens, perawatan jerawat dan pasta gigi. Ini adalah zat
yang digunakan sebagai pembuat busa yang umumnya juga ditambahkan ke dalam
pasta gigi. Zat ini juga memiliki efek antimikrobial dan penggunaannya telah
ditingkatkan karena sifat nontoksiknya, dan rendahnya tingkat iritasinya. Karena
dianggap kurang mengiritasi, penggunaanya meningkat, begitu pula produk-produk
yang mengandung zat ini juga lebih berkembang. Karena itu, peningkatan prevalensi
sensitifitas kontak dipikirkan terjadi akibat meningkatnya frekuensi penggunaan
karena CAPB merupakan bahan pengganti bagi surfaktan anionik (misalnya sodium
lauryil sulfat) dan surfatan kationik (misalnya polyoxyethylene dihydroxypropy
linoleaminium klorida), yang besifat lebih iritasi. Beberapa penelitian telah
mendemonstrasikan

bahwa

penyebab

sensitifitas

kemungkinan

berasal

dari
6

kontaminasi kimia dimethylaminpropylamine (DMAPA) dan amidoamine (AA),


daripada CAPB sendiri. Masalah mengenai penyebab sensitifitas sudah lama menjadi
kontroversi. Karena itu, NACDG telah memutuskan untuk secara rutin melakukan tes
pada pasien dengan zat CAPB dan AA.
Propylene glycol adalah zat alergen ketiga. Fungsinya adalah sebagai pelarut
terhadap zat-zat yang tidak laur dan bertindak sebagai pengawet. Dari 1.494 pasien
yang telah menjalani patch test yang memiliki riwayat dermatitis generalisata,
sensitifitas pada propylene glycol ditemukan pada sekitar enam persen individu.
Pajanan kulit umumnya terjadi melalui kontak dengan kosmetik atau pengobatan
topikal. Ketika tes alergi dilakukan terhadap propylene glycol, sulit untuk
menemtukan antara respon imunologika dan iritatif. Beberapa tes alergi yang
dilakukan pada populasi yang berbeda dengan propylene glycol dengan konsentrasi
antara 2 sampat 30% menunjukan bahwa propylene glycol diperiksa dengan beberapa
pengenceran, dilakukan dengan pemeriksaan terbuka, dan atau tes tantangan oral,
untuk membantu menentukan faktor klinis. Propylene glycol dan pasta gigi samasama memiliki potensial zat iritan, yang dapat membuat interpretasi lebih sulit.
Minyak esensial adalah zat alergen keempat dalam pasta gigi. Mereka adalah
zat aromatik yang diekstrak dari banyak tumbuhan berbeda dan beberapa hewan atau
disintesis dari batu bara dan petrolatum. Metode ekstrasi minyak essensial termasuk,
distilasi, maserati, pencampuran dan ekstraksi karbon dioksida, ekspresi, dan
enfleurage. Ada banyak komponen dari minyak esensial dan bahannya bervariasi
karena jumlah, panas, cuaca, kelembapan, cahaya, yang karenanya untuk
mengelompokan zat alergen ini sulit untuk dilakukan. Tea tree oil digunakan pada
salah satu pasta gigi yang ada dalam pasta gigi kami. Penelitian terhadap lebih dari
2000 orang yang telah menjalani tes alergi menemukan bahwa tea tree oil, alergen
minyak esensial meningkatkan reaksi positif pada 1,8 persen dari pasien pasien ini.
Ada banyak minyak esensial, namun hanya ada beberapa zat yang menyebabkan
dermatitis kontak, misalnya ylang ylang, tea tree oil, bahan campuran, propolis, dan
colophony. Adalah penting untuk memeriksa dan tahu tentang alergi minyak esensial,
khususnya ketika ada pasta gigi yang direkomendasikan karena mengandung zat
perasa alternatif, karena dapat mengunakan minyak esensial sebagai pengganti zat
perasa utama.
Parabens ditemukan pada enam pasta gigi yang dianalisa di data Walgreens.
Parabens adalah zat pengawet yang umumnya digunakan pada produk-produk rumah
7

tangga. Setiap ester memiliki efek antimikrobial aygn berbeda-beda, namun pada
umumnya zat ini lebih efektif untuk membunuh jamur daripada bakteria dan
karenanya digunakan dengan zat pengawet yang lain supaya lebih ampuh untuk
membunuh bakteria. Parabens ditemukan pada krim, pasta, produk kecantikan, lem,
lemak dan minyak. Metil dan etil parabens adalah parabens yang sering digunakan,
dengan pengecualian air, adalah bahan yang sering digunakan pada produksi
komestik. Parabens adalah zat pengawet yang terkenal karena harganya murah, tidak
berwarna, tidak berbau, dan tidak beracun. NACDG melaporkan berdasarkan date
terbaru bahwa 0,6% pasien memberikan reaksi terhadap campuran paraben.
Prevalensi ACD melalui parabens adalah rendah, pada sebagian besar penelitian,
berkisar antara 0 sampai 4,2%. ACD biasanya ikut dilaporkan bila produk yang
mengandung parabens digunakan pada kulit yang rusak. Namun, pada pemakaian
normal, zat pengawet parabens merupakan zat sensitif kontak yang rendah dan cukup
aman sehingga zat pengawet yang baru akan cukup sulit menandingi.
Propolis dibuat dari lendir lebah, resin dan balsam sayur, minyak esensial dan
aromatik, polen dan zat lainnya. Mmiliki efek antimikotik, bakteriostatis, astringent,
kolerik, spasmolitik, antiinflamasi dan anestesi. Digunakan secara luas pada bedak,
losion, salep, cairan, krim, pasta gigi dan permen karet. Propolis makin dikenal
sebagai alergen yang penting, dengan prevalensi yang meningkat dari 0,5 sampai
1,4% selama 10 tahun ini. Pemakaian propolis dapat memberikan efek yang
berbahaya yang menyebabkan alergi kotak pada mulut, stomatitis, dan eksem perioral,
labia edema, nyeri pada mulut dan dyspnea. Reaksi ini telah dideskripsikan setelah
pasien menggunakan berbagai macam produk propolis, misalnya tablet, pasta gigi, air
bilas mulut, dan lozengers. Konsentrasi yang direkomendasikan untuk tes alergi
adalah 10%. Dengan meningkatnya pembelian produk natual, pajanan terhadap
propolis akan makin meningkat dam tes alergi untuk alergen akan lebih penting untuk
dilakukan.

Kesimpulan
Pasta gigi memiliki banyak alergen yang berpotensi untuk menyebabkan alergi
kontak pada mulut. Banyak zat yang terkandung dalam pasta gigi berrpotensi untuk
menimbulkan iritasi atau reaksi alergi, membuat tenaga medis untuk mengerti
mengenai bahan-bahan pasta gigi. Penelitian pengarang pada data Walgreens
menemukan bahwa zat perasa adalah zat yang sering menyebabkan alergi, amun
8

cocamidopropyl betaine, proplylene glycol, minyak esensial, parabens, dan propolis


juga merupakan potensial alergen pada pasta gigi. Cukup sulit untuk menentukan
penyebab sebenarnya dari alergi, meskipun zat perasa patut dicurigai. Banyak tenaga

medis berkeinginan untuk menyarankan pasta gigi dengan zat perasa alternatif, namun
hal ini tidak mudah. Hampir semua pasta gigi merk terkenal memberikan zat perasa
yang bervariasa antara mint atau kayu manis. Namun, ada beberapa produk yang tidak
mengandung zat perasa atau zat perasa alternatif, yang dapat digunakan pada pasien.

Kesimpulannya, kelainan kulit pada mulut dapat menjadi tantangan bagi tenaga medis
dan pemeriksaan yang lebih lanjut termasuk tes alergi yang lebih lanjut lagi atau
biopsi mungkin diperlukan untuk dilakukan.