P. 1
Museum TNI-AU Dirgantara Mandala

Museum TNI-AU Dirgantara Mandala

|Views: 4,747|Likes:
Dipublikasikan oleh Indra Furwita

More info:

Published by: Indra Furwita on Jan 13, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF or read online from Scribd
See more
See less

09/03/2015

pdf

BAB I PENDAHULUAN • Lokasi museum Museum pusat TNU-AU Dirgantara Mandala berada di kawasan Pangkalan udara TNI-AU Adisutjipto

, kurang lebih 6 kilometer timur pusat kota Yogyakarta. Museum ini tidak jauh dari jalan raya rute Bus Yogyakarta Solo-Yogyakarta dengan cek point SD Angkasa. • Ciri khusus atau keunikan Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala. Museum pusat TNI-AU Dirganytara Mandala menyimpan benda-benda koleksi ynga sebagina besarberupa pesawat terbang ynag pernah digunakan oleh TNI-AU, koleksi pesawat terbang tersebut berasal dari berbagai Negara, baik begara barat ataupun Negara timur. Disamping itu disimpan juga pesawat terbang buatan putra-putra bangsa Indonesia Sendiri. Dengan katnlain bahwa koleksi pesawat terbang di Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala ini berasal dari berbagai Negara, bahkan ada pesawat yang tinggal satu-satunya yang ada di dunia ini, hanya ada di Museum Dirgantara Mandala dan Negara yang memproduksinya tidak memiliki lagi. BAB II SEJARAH SINGKAT MUSEUM PUSAT TNI-AU DIRGANTARA MANDALA

• a.

Hal-hal yang mendorong didirikannya museum : Semua kegiatan dan peristiwa bersejarah dalam pertumbuhan dan perkembangan TNI-AU serta semua pengorbanan para pendahulu, pejuang dan pahlawan udara dalam membina dan merintis Angkatan Udara RI/TNI khusunya, serta mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan Negara dan BAngsa Indonesia perlu dilestarikan.

b. Dalam rangka pewarisan nilai-nilai 45 yakni bahwa pengabdian dan pendokumentasian tersebut perlu direalisasikan dalam bentuk visualisasi bukti sejarah agar dapat diterima, dihayati dan diamlkan oleh generasi penerus. • Museum Pusat Angkatan Udara Republik Indonesia (Museum Pusat AURI ) Di Jakarta

Hasrat utnuk mengabadikan dan mendokumentasikan kegiatan-kegiatan maupun peristiwa bersejarah di lingkungan AURI adalah merupakan gagasan Pimpinan AURI yang dituangkan dalam keputusan menteri /Panglima Angkatan Udara No. 491 Tanggal 6 Agustus 1960 tentang dokumentasi, sejarah dan museum AURI. Meskipun demikian,

realisasinya tidak secepat yang kita harapkan. Museum Angkatan Udara baru bisa diwujudkan pada tanggal 21 April 1967. Semula masih masih bersifat embrio dan organisasinya berada dibawah Pembinaan Asisten Direktorat Hubungan Masyarakat Angkatan Udara Republik Indonesia. Museum yang masih berstatus embrio ini mempunyai tiga bagian yaitu : a. Bagian pembinaan benda-benda b. Bagian administrasi dan deskripsi c. Bagian dokumentasi dan pameran Kegiatan museum pada saat itu masih sangat terbatas karena kurangnya tenaga professional maupun biaya. Sejak dikeluarkannya keputusan menteri/Panglima Angkatan Udara No. 2 Tahun 1967 tanggal 30 Juli 1967 tentang peningkatan kegiatan bidang sejarah, budaya dan Museum Angkatan Udara, maka mulai ada titik terang dan dapat meletakkan rencana kerja bagi perkembangannya. Kemudian berkat perhatian yang besar dari Pimpinan Angkatan Udara maka pada tanggal 4 April 1969 diresmikan berdirinya Museum Pusat Angkatan Udara Republik Indonesia oleh Menteri Panglima Angkatan Udara Laksamana Udara Roesmin Nurjadin. Dengan dihadiri beberapa petinggi-petinggi Angkatan Udara. Museum pusat ini berlokasi di kawasan Markas Komando Wilayah Udara V (Makowilu) Jalan Tanah Abang Bukit Jakarta Pusat. • Menuju Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala

Sementara itu dilembaga pendidikan AKABRI Bagian Udara Yogyakarta yang saat ini bernama Akademi Angkatan Udara (AAU), sudah berdiri Museum Pendidikan Karbol, sehingga mulailah adnya pemikiran yang mengarah pada pengembangan dan upaya menyatukan kedua museum tersebut. Di samping itu timbul pemikiran untuk mempertimbangkan dalam menetukan lokasi atau kedudukan museum yang natinya mengarah ke Yogyakarta. Adpun dasar pertimbangan penetuan lokasi museum berada di Yogyakarta adalah sebagai berikut : a. Pada peristiwa 1945-1949 Yogyakarta memegang peranan penting sebagai tempat lahir dan pusat perjuangan TNI-AU. b. Yogyakarta adalah tempat penggodokan Taruna-Taruna Angkatan Udara (Karbol) calon perwira TNI-AU. c. Perlu pemupukan semangat minat dirgantara, nilai –nilai 45 dan tradisi juang TNI-AU dengan mengau pada semangat Maguwo. Atas dasar pertimbangan tersebut, maka Kepala Staf TNI Angkatan Udara mengeluarkan keputusan No. Kep/11/IV/1978 tanggal 17 April 1978 menetapkan bahwa

Museum Pusat AURI yangbsemual berkedudukan di Jakarta dipindahkan ke Yogyakarta, dintegrasikan dengan Museum Pendidikan /Karbol menjadi Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala dengan memanfaatkan gedunk Link Trainer di kawasan kesatrian Bagian Udara. Opersai boyong perpindahan benda-benda koleksi museum dari Pusat Museum Pusat AURI di Jakarta ke Yogyakarta telah mulai sejak November 1977. Dalam langkah penyempurnaan pemindahan lebih lanjut berdasarkan Keputusan Kasau No. Skep/04/IV/1978 tanggal 17 April 1978, dilengkapi dengan nama museum pusat TNI-AU “Dirgantara Mandala”. Pembukaan dan peresmian Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala bersamaan pula dengan peresmian museum Sekbang Pertama 1945 yang berlokasi di dekat Base Ops Lanud Adisutjipto, dilakukan oleh Kepala Staf TNI-AU Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi bertepatan dengan hari bakti TNI-AU 29 Juli 1978. Perlu dicatat bahwa Pembinaan Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala mencakup pula Museum Sekbang Pertama tahun 1945. • Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala Di Kawasan Lanud Adisujipto Dengan pertimbangan bahwa koleksi Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala terus berkembang dan bertambah terutama Alutsita Udara berupa pesawat terbang, sehingga gedung museum di Kesatrian AKABRI Bagian Udara tidak dapat menampung, serta lokasinya ukar dijangkau pengunjung, maka Pimpianan TNI-AU meutuskan untuk memindahkan lagi. Pimpinan TNI –AU kemudin menunjuk dan memutuskan bahwa gedung bekas pabrik gula di Wonocatur Lanud Adisutjipto yang di masa pendudukan Jepang digunakan sebagai gudang logistic, segera direhabilitasi unuk di rehabilitasi untuyk dimanfaatkan sebagai museum pusat TNI-AU Dirgantara Mandala. Sebagai tanda dimualinya pembangunan atau rehabilitasi gedung tersebut, maka pad tanggal 17 desember 1982 Kepala Staf TNI-AU Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi menandatangani sebuah prasasti. Hal ini diperkuat dengan Surat Perintah Kepala Staf TNI-AU No. sprin/05/IV/1984 tanggal 11 April 1984 tentang rehabilitasi gedung bekas pabrik gula tersebut untuk dipersiapkan sebagai gedung permanen Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala. Dalam perkembangan selanjutnya pad tanggal 29 Juli 1984 Kepala Staf TNI-AU Marsekal TNI Sukardi meresmikan penggunaan gedung yang sudah direhab tersebut sebagai gudang Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala . Luas area museum seluruhnya lebih kurang 4,2 Ha. Luas bangunan seluruhnya yang dugunakan 8.765 M2.

BAB III ALUR PENGUNJUNG Berbagai koleksi/benda-benda bersejarah TNI-AU dipamerkan di dalam ruanganruangan, masing-masing memiliki nama sebagai berikut : a. Ruang Utama, memuat koleksi lambang TNI-AU beserta jajarannya. Para pahlawan nasional TNI-AU, foto para tokoh penerima Bintang Swa Nhuman Paksa, serta tanda-tanda kehormatan lainnya. b. Ruang Kronologi, yang menggambarkan sejarah perjuangan dan perkembangn TNI-AU mulai dari Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945. c. Ruang Kasau, diruangan ini memuat barang-barang dan benda yang pernah dipakai oleh Para Mantan Kasau dan Para Perintis berdirinya TNI-AU. d. Ruang Kotama, memuat koleksi dan benda-benda yang berkaitan dengan Kotamadi Jajaran TNI-AU, diantaranya : Koppaskhasau, Kodikau,AAU, Seskoau, Kohanudnas dan perkembangan Sekolah Penerbang TNI-AU. e. Ruang Alutsista I dan II, memuat koleksi alat utama system senjata udara yang pernah digunakan oleh TNI-AU dari tahun 1945 hingga tahun 1970-an f. Ruang Diorama I, memuat 4 buah diorama g. Ruang diorama II, memuat 3 buah diorama h. Ruang Diorama III, memuat 14 buah diorama i. Ruang Diorama SKSD Palapa j. Ruang Minat Dirgantara, memuat tentang lambang-lambang skadron udara dan jenis pendukungnya, serta koleksi buku-buku terbitan TNI-AU yang pernah mendapatkan penghargaan dari MURI Jawa Tengah atas prestainya TNI-AU yang telah menerbitkan 100 judul buku dalam satu tahun.

BAB IV KOLEKSI MUSEUM PUSAT TNI-AU DIRGANTARA MANDALA Koleksi Museum Pusat TNI-AU Dirgantar Mandala dipamerkan sesuai dengan kronologi peristiwa sejarah TNI-AU. Mengingat bahwa tidak semua koleksi yang mendukung bukti sejarah dipamerkan pada ruang kronologi, maka koleksi tersebut dikelompokkan pada suatu ruang yakni koleksi pesawat. Sedang peristiwa yang memiliki bukti berupa gambar divisualisasikan dalam bentuk diorama yang bersifat imajiner. A. Ruang Utama 1. Patung Empat Pahlawan Nasional Perintis TNI-AU : a. Marsekal Muda TNI Anumerta Agustinus Adisutjipto b. Marsekal Muda TNI Anumerta Prof. Dr. Abdurrachman Saleh c. Marsekal Muda TNI Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma d. Marsekal Pertama TNI Anumerta Iswahyudi 2. Beberapa Foto Mantan Pimpinan TNI-AU : a. Laksamana Udara Suryadi Suryadarma (Kepala Staf TRI AU tahun 19461962) b. Laksamana Muda Udara Omar Dani (Menteri/Panglima Angkatan Udara tahun 1962-1965) c. Laksamana Muda Udara Sri Muljono Herlambang (Menteri Panglima Angkatan Udara tahun 1965-1966) d. Laksamana Udara RoesminNurjadin ( Menteri Panglima Angkatan Udara 1966-1969) e. Marsekal TNI Suwoto Sukendar ( Kepala Staf TNI Angkatan Udara tahun 1969-1973) f. Marsekal TNI Saleh Basarah (Kepala Staf TNI Angkatan Udara tahun 1973-1977) g. Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi (Kepala Staf TNI Angkatan Udara tahun 1977-1983)

h. Marsekal TNI Sukardi (Kepala Staf TNI Angkatan Udara tahun 19831986) i. Marsekal TNI Utomo (Kepala Staf TNI Angkatan Udara tahun 19861990) j. Marsekal TNI Siboen (Kepala Staf TNI Angkatan Udara tahun 19901993) k. Marsekal TNI Rilo Pambudi (Kepala Staf TNI Angkatan Udara tahun 1993-1996) l. Marsekal TNI Sutria Tubagus (Kepala Staf TNI Angkatan Udara tahun 1996-1999) m. Mareskal TNI Hanafie Asnan. S.IP (Kepala Staf TNI Angkatan Udara tahun 1999-2002) n. Marsekal TNI Chappy Hakim (Kepala Staf TNI Angkatan Udara tahun 2002-2005) o. Marsekal TNI Djoko Suyanto. S.IP (Kepala Staf TNI Angkatan Udara tahun 2005-2006) p. Marsekal TNI Herman Prayitno (Kepala Staf TNI Angkatan Udara tahun 2006-200…) 3. Lambang-lambang a. Swa Bhuwana Paksa adalah lambang TNI Angkatan AU , yang artinya Sayap Tanah Air. b. Panji-panji TNI Angkatan Udara diresmikan oleh Presiden/ Panglima Tertinggi angkatan Angakatan Perang pada tanggal 5 Oktober 1952 bersama –sama dengan Panji-Panji TNI Angkatan Darat dan Panji-panji TNI Angkatan Laut dalam suatu upacara militer di Jakarta. c. Pataka Komando Operasi TNI-AU (Koopsau) Motto : Ahbibuti Antarikshe Artinya : Keunggulan di Udara adalah tujuan utama d. Pataka KOmando Panduan Tempur Udara (Kopatdara) Motto : Nitya Samakta Maawarti Swarbaya Artinya : senantiasa siaga bertindak terhadap segala ancaman bahaya e. Pataka Komando Pertahanan Udara (Kohanud)

Motto : Suraksita Nabhastala Artinya : Udara yang dipertahankan dengan baik f. Pataka Komando Pemeliharaan Materiil TNI-AU (Kohormatau) Motto : Sewana Karya Biddhi sakti Artinya : dengan segala akal dan okol dikerahkan untuk berbakti kepada nusa dan bangsa dengan perjuangan g. Pataka komando Pendidikan TNI-AU (Kodikau) Motto : Vidyasana Viveka Vardhana Artinya : Tempat mengembangkan pengetahuan dan kesiagaan h. Pataka Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Motto : Labda Prakarsa Nirwikara Artinya : berdasarkan kemahiran dan kecakapan khusus, maka dengan segenap potensi sanggup menghancurkan lawan dan menanggulangi segala bahaya apapun. i. Pataka Akademi TNI Angkatan Udara (AAU) Motto : Vidya Karma Vira Paksa Artinya : Bersentakan ilmu mengamalkan darma bakti sebagai kesatria Indonesia yang berani, jujur dan bijaksana tanpa pamrih demi kejayaan, keamanan dan keselamatan bangsa dan Negara. j. Pataka Komando Daerah Udara (Kodau) I Motto : Sonya Gati Gatra Bhuwana Artinya : Tanpa menhitung-hitung untung rugi tanpa pamrih dalam menjalankan tugas-tugas dan kewajiban pembinaan wilayah k. Pataka Komando Daerah Udara (Kodau) II Motto : Bhakti Bina Kerta Bhuwana Artinya : demia pengabdian (kebaktian) kita bina pembangunan Negara Republik Indonesia dan Pertahankan Tanah Air Indonesia

l. Pataka Komando Daerah Udara (Kodau) III Motto : Gabti Prabivita Stala Artinya : Komando wilayah udara adalah unsure terpenting untuk mencapai kejayaan m. Pataka Komando Daerah Udara (Kodau) IV Motto : Wira Dharma Bhakti Artinya : dengan semangat dan jiwa kepahlawanan kita tunaikan kewajiban tergadap Bangsa dan Negara Republic Indonesia n. Pataka Komando Daerah Udara (Kodau) V Motto : Karya Phalam anasritam Kurmahe Artinya : kami membina dan bertindak tanpa mengharapkan balasan o. Pataka Komando Daerah Udara (Kodau) VI Motto : Nityasa Prayatna Eka Mandala Artinya : Senantiasa waspada untuk kebutuhan wilayah dan daerah 4. Foto Beberapa Pejabat Indoensia Dan Mancanegara Yang Mendapat Tanda Kehormatan Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama Dari Presiden RI GAMBAR MASUKKAN B.RUANG KRONOLOGI
1. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Proklamasi tangagal 17 Agustus 1945 pukul 10.30 waktu jawa jaman jepang atau pukul 10.00 WIB Ir. Soekarno didampingi Drs. Moh. Hatta atas nama Bangsa Indonesia menyatakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Rumah Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Pada keesokan harinya tanggal 18 Agusutus 1945 PPKI dalam sidangnya telah menetapkan UUD dn memilih Presiden serta Wakil Presiden.
2. Tentara Keamanan Rakyat-Jawatan Penerbangan (TKR-Jawatan Penerbangan) Pada tanggal 23 agustus 1945 diumumkan berdirinya Badan Keamanan rakyat (BKR). Di daerah-daerah-daerah yang terdapat pangkalan udara., berdiri pula BKR yang berkaitan dengan tugas utamanya mereka ini disebut BKR Oedara. Tugas utama BKR udara adalah bersama-sama rakyat merebut dan menguasai pangkalan udara setempat, beserta pesawat

terbang dan fasilitas lainnya dari tangan Jepang. Sesuai dengan perkembangan selanjutnya, dengan adanya maklumat pemerintah 5 Oktober 1945, BKR yang ditingkatkan menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat), maka BKR udara yang terkenal dengan sebutan TKR Jawatan Penerbangan. Kegiatan yang berhasil dan menunjukkan eksistensi TKR Jawatan Penerbangan antara lain: a. Penerbangan pertama di alam Indonesia Merdeka Setelah pangkalan udara Maguwo beserta pesawat dan gfasilitas lainnya direbut dan dikuasai oleh BKR Yogyakarta dari tangan Jepang pada bulan Oktober 1945, para teknisi pesawat udara Putra-Putri bangsa Indonesia memperbaiki dan menyiap terbangkan pesawat bersayap dua yang disebut denga Cureng. Sebagai kelanjutan keberhasilan teknisi Indonesia tersebut, maka tanggal 27 Oktober 1945 Bapak Agustinus Adisutjipto berhasil menerbangkan pesawat Cureng tersebut dengan identitas Merah Putih di Pangkalan Maguwo. Penerbangan ini merupakan penerbangan pertam sejak Indonsia Merdeka, yang menggunakan identitas bendera merah outih, oleh penerbang putra Indonesia yang berkualifikasi sebagai penerbang, karena beliaumempunyai wing penerbang yaitu Militaire Brivet. Itulah sebabnya bahwa peristiwa tersebut merupakan tonggak sejarah Penerbangan Nasional yang perlu diperingati oleh segenap unsure penerbangan baik militer maupun sipil.

b. Sekolah Penerbang Pertama di Maguwo Keberhasilan dalam pengusaan Pangkalan UDara Maguwo dan penerbangan pertama mendorong untuk melangkah lebih maju lagi. Atas prakarsa Bapak Agustinus Adisutjipto diadakannya pertemuan bebrapa tokoh penerbangan dari Yogyakarta, Malang an Surabaya pada tanggal 7 November 1945 di Yogyakarta melahirkan kesepakatan bersama untuk mulai menyelenggarakan pendidikan bagi putera-puteri Indonesia . pada tanggal 15 November 1945 pendidikan tersebut dibuka dan diikuti oleh pemuda-pemuda Indonesia baik yang pernah belajar terbang sebelum perang dunia ke-II maupun yang belum pernah sama sekali. Sarana dan prasarana pendidikan serba darurat, tempat pendidikan memanfatkan bangunan kecil didekat tower/ menara Pangkalan Udara Maguwo bahkan tidak jarang diberikan kepada para Kadet di bawah pohon Cerry (Talok di depan tower tersebut. Pelajaran terbang atau latihan terbang menggunakan pesawt Cureng, pesawat bersayap ganda peninggalan Jepang buatan pabrik Nippon Hikoki tahun 1933. Peristiwa dimulainya pendidikan penerbang yang pertama atau yang terkenal dengan Sekolah Penerbang Pertama yaitu tanggal 15 November diresmikan dan diperingati sebagai hari jadi komando Pnedidikan TNI-AU (Kodikau). c. Latihan Terjun Payung

Disamping upaya dalam bentuk penerbangan pertama, pembukaan Sekolah Penerbang Pertama yang didukung oleh keberhasilan teknisi menyiapkan dan memperbaiki pesawat juga diadakan latihan terjun paying. Pada tanggal 11 Februari 1946 di Pangkalan Udara Maguwo dilakukan latihan terjun payung yang pertama. Pelaku sebagai penerjun ini adalah Amir Hamzah, Legino dan Pungut. Pesawt yanag dipergunakan adalah 3 buah pesawat Cureng. Payung yang digunkan adalah poyung tua peninggalan Jepang. Latihan yang pertama ini berhasil baik yang sekaligus memberikan predikat bahwa ketiga perintis tersebut adalah penerjun paying yang pertama Indonesia sejak Indonesia merdeka. Adapun penerbang yang membawanya waktu itu adalah Bapak A. Adisutjipto, Iswahyudi dan Makmur Suhodo. 3. Pembentukan TNI Angkatan Udara a. Partisipasi TKR Jawatan Penerbangan dan Tugas Internasional (dalam Operasi POPDA) Setelah Jepang kalah perang dunia (PDII), sebelum Tentara Sekutu tiba di Indonesia, Jepang ditugasi menjaga status quo atas Indonesia (Hindia Belanda) Adapun tugas Tentara Sekutu nantinya di Indonesia adalah: 1) Menerima penyerahan Tentara Jepang. 2) Membebaskan tawanan Perang Serikat (APWI = Alied Presoners of war and Interners )

Namun ketika tentara sekutu di Indonesia telah dihadapkan pada Indonesia yang merdeka. Dalam kaitannya dengan dua tugas Tentara Sekutu tersebut diatas, pad akhirnya November 1945 berlangsunglah perundingan anatara RI yang diwakili Menteri Muda luar negeri H. Agus Salim dengan pihak sekutu yang diwakili oleh kepala staf Alied Force Nederlands Indies (AFNEI) Brigjen I.G.A Lauder. Sebagai kelanjutan dari perundingan ini disepakati bahwa lucutan 3500 orang tentara Jepang dan pemulangan kurang lebih 28.000 orang tawanan perang dan interniran yang pada waktu itu mnasih berada di wilayah Indonesia diserahkan penuh kepada TKR. Dalam pelaksanaannya dibentukklah Panitia Oerroessan Pemoelangan Djepang dan APWI disingkat POPDA kemudian Operasi pemulangan tersebut disebut Operasi Popda. Operasi POPDA berlansung kuirang lebih 17 bulan dari bulan Desember 1945 sampai dengan 1947. b. Penetapan TRI Angkatan Udara Kegiatan-kegiatan TKR Jawatan Penerbangan Seperti tersebut dimuka membuktikan adanya upaya peningkatan eksistensi yang dibarengi dengan peningkatan organisasi TKR maka kegiatan tersebut merupakan

sumbangan nyata menuju pembinaan kekuatan Nasional di Udara. Sesuai perkembangan organisasi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Kemudian pada tanggal 24 Januari 1946 menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) maka TKR Jawatan Penerbangan yang telah membangkitkan kepercayaan pemerintah menjadi TI AU. Akhirnya berdasarkan penetapan Pemerintah No.6/SD/tahun 1946 tanggal 9 April 1946 dinyatakan bahwa TRI Jawatan Penerbangan menjadi Tentara Republik Indonesia selanjutnya dikenal denganAURI. Dalam perkembangannya selanjutnya mulai tahun 1969 dikukuhkan sebutan TNI Angkatan Udara (TNI-AU). 4. Semangat Tekad Bangsa Indonesia untuk Mewujudkan Pesawat Terbang Sendiri. Ketika Suryadi Suryadarma mendapat kepercayaan untuk memimpin TKR Jawatan Penerbangan, menyandang tugas untuk membentuk Kekuaan Udara Nasional. Situasi dan kondisi geografi Indonesia serta dikuatkan oleh suasana perang kemerdekaan yang berkecamuk, makin disadari pentingnya sarana perhubungan udara dengan kata lain perlu akan pesawat terbang, baik untuk kepentingan kelancaran pemerintahan, perekonomian maupun pertahanan dan keamanan. Dalam abatan lebih lanjut dismpulkaan bahwa membangun kekuatan udara nasioanl tidak cukup dengan angkatan udara saja. Melainkan perlu adanya penerbangan sipil dan Industri Pesawat Terbang. . untuk mewujudkan pesawat terbang tersebut sejak TKR Jawatan Penerbangan ditetapkan sebagai TRI Angkatan Udara, di bidang organisasi dibentuklah Biro Rencana dan Konstruksi yang berkedudukan di Maospati. Melalui bagian ini Bangsa Indonesia dalam hal ini TRI Angkatan Udara berhasil mewujudkan pesawat buatan sendiri, yaitu pesawat layang jenis Zogling (NWG-I) selanjutnya berhasil pula diciptakan pesawat terbang bermasin I yang kita kenal dengan pesawat WEL I RI X. 5. Replika Pesawat WEL RI X Type : Pesawat terbang ringan bermotor tunggal dengan tempat duduk tunggal dan sayap atas. Motor : Harley Davidson 2 silinder model tahun 1928, 15 daya kuda Ukuran : Panjang sayap 9 meter, panjang badan 5,05 m, tinggi 2,40 m, berat kosong 293 kg. Prestasi : Kecepatan jelajah 85 km/jam. Pesawat terbang bermotor WEL RI X merupakan pesawat bermotor hasil produksi pertama Bangsa Indonesia yang dirancang dan dibuat dalam waktu lima bulan pada tahun 1948. Pembuatan dilakukan oleh biro rencana dan konstruksi markas tertinggi AURI seksi percobaan pembuatan pesawt terbang di Magetan. Di bawah pimpinan Opsir Udara III (Kapten) Wiweko Supono. Diabadikan si museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala tahun1980. Tekad bangsa Indonesia

dalam pengembangan ini merupakan titik tolak menuju Industri Pesawat Terbang. Untuk menyatakan kebenaran hal ini maka dengan dasar desain WEL-I RI X tersebut dibuat lagi replikanya pada tahun 1980 dan diterbangkan dari PU Iswahyudi menuju SMO Lanud Adisutipto kemudian di museumkan. 6. Serangan Udara I Terhadap Kota Kedudukan Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa Pada tanggal 21 Juni 1947 Belanda melancarkan serangan serentak di seluruh wilayah kekuasaan RI, yang dikenal sebagai Agresi I. dalam peristiwa tersebut hamper seluruh pangkalan udara RI menjadi sasaran termasuk pangkalan udara maguwo mengalami kegagalan karena kabut tebal meliputi Pangkalan Udara Maguwo. Para pimpinan TNI Angkatan Udara tela mempertimbangkan bahwa saat Belanda akan melakukan serangan Udaranya. Oleh sebab itu timbul gagasan untuk melakukan serangan udara balasan terhadap lawan sudah ada dalam pemikiran beliau. Gagasan ini segera diwujudkan untuk mengimbangia tindakan lawan tersebut. Waktu itu kasau komdor S. Suryadarma bersama Perwir Operasi Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma segera merencanakn operasi udara balasan, dengan perhitungan matang para senior akhirnya tugas mulia untuk melakukan serangan udara itu dipercayakan kepada para Kadet Penerbang. Pada tanggal 29 Juli 1947 kurang lebih pukul 05.00 WIB pagi hari 3 buah pesawat terbang TNI AU berturut-turut meninggalkan landasan Pangkalan Udara Maguwo menuju ke sasaran , sebuah pesawat Guntei yang dipersenjatai 3 buah senapan mesin dan 400 kg bom denagn penerbang Kadet Udara Mulyono beserta penembak udara Anbdurrahman melakukan penyerangan ke Semarang. Menyusul sebuah pesawat Cureg yang dibekali bom-bnom bakar dengan penerbang Kadet Sutarjo Sigit beserta penembak udara Sutarjo melakukan serangan ke Kota salatiga. Sebuah pesawat Cureng lainnya dengan persenjataan yang sama dengan Penerbang Kadet Udara Suharnoko Harbani beserta Penembak Udara Kaput melaksanakn serangan ke Kota Ambarawa. 7. Pengabdian Para Pahlawan TNI-Angakatan Udara Sebuah pesawat Dakota VT-CLA pad tanggal 290Juli 1947, pukul 01.00 siang waktu setempat meninggalkan lapangan terbang. Singapura dengan membawa sumbangan obat-obatan untuk Palang Merah Indonesia. Ketika mendekati Pangkalan UDara Maguwo saat roda-roda pendarat mulai keluar, pesawat Dakota VT-CLA membuat satu kali putaran untuk persiapan mendarat, tiba-tiba muncul 2 buah pesawat pemburu Kitty Hawk Belanda yang melakukan penemabakan dengan gencar terhadap pesawat Dakota VT-CLA. Dakota VT-CLA kemudian terbang kearah selatan dalam keadaan terbakar dan jatuh di desa Jati Aring

kelurahan Tamanan dekat desa Ngoto kecamatan Banguntapan kabupaten Bantul sebelah tenggara kota Yogyakarta. Dari semua awak pesawat dan penumpang hanya seorang yang selamat yaitu Bapak A. Gani Handonotjokro, korban yang gugur adalah : Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, Komodor Mua Udara Prof. Dr. Abdurrahman Saleh, Opsir Muda Udara I Adisumarno Wiryokusumo, dan beberapa rekan luar negeri yang turut membantu dalam menghantarkan obat-obatan tersebut. Peristiwa gugurnya para perintis dan tokoh TNI-AU tersebut, mula-mula diresmikan dan diperingati hari berkabung . Namun bila direnungkan betapa semangat juang dan pengorbanannya, begitu pula drnga peristiwa serangan udara yang belum pernah terjadi dalam satu hari tanggal 29 Juli 1947. Betul-betul merupakan pengabdian, baktinya kepada negaradan bangsa, oleh karena itu sjak tahun 1962 ditetapkan menjadi Hari Bhakti TNI-AU dan tanggal 29 Juli diperingati secara tradisional dipusatkan di Lanud Adisutjipto Yogyakarta. Atas dasar keterbatasan pengetahuan awam akan ketetapan nama lokasi peristiwa gugurnya pahlawan udara tersebut, maka monument yang didirikan untuk memperingati peristiwa tersebut terkenal dengan nama Monumen Ngoto atau Tugu Ngoto, dan sejak tahun 2000 setelah Monumen tersebut direnovasi akhirnya namanya diganti menjadi Monumen Perjuangan TNI-AU. 8. Stasiun PHB AURI PC-2 DI Playen Gunung Kidul Dalam rangka perjuanagn mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan . stasiun radio AURI PC-2 di Desa Banaran, Kecamatan Playen, kabupaten Gunung Kidul, daerah Istimewa Yogyakarta, berhasil menyiarkan berita-berita perjuangan mengahdapi Agresi Militer II Bleanda tanggal 19 Desember 1948. Berita ini antarta lain menyiarkan keberhasilanSerangan Umum 1 Maret 1949 yang dipimpin oleh Letkol Soeharto atas kedudkan Militer di Yogyakarta selama 6 jam. Dari stasiun radio AURI di Jawa dan Sumatera, khususnya stasiun PDRI, bahkan diterima oleh Stasiun AURI pada Indonesian Airways di Rangoon (BIrma). Melalui perwakilan RI di Birma dan India diteruskan ke Perwakilan RI di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Dalam PC 2 tesebut dibangunlah Monumen Radio AURI PC-2 di Banaran oleh Yayasan 19 Desemer 1948 yang diprakarsai oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada tanggal 10 Juli 1984. 9. Pasukan Garuda Mulya Dengan melancarkan Agresi MIliter II belanda tanggal 19 Desember 1948 hampir seluruh Pangkalan Udara jatuh ke tangan Belanda. Anggota Pangkalan Udara Panasan segera mengatur taktik gerilya di daerah Kecamatan Jumantoro dan Gayadompo serta melakukan serangan terhadap kedudukan Belanda di

Karangpandan, Karanganyar dan Pabrik Gula Tasikmadu. Pasukan ini terkenal sebagai Pasukan Panembahan Senopati 105. 10. Perintis Perindustrian Pesawat Terbang di Indonesia Pada tahun 1946 Markas TERTINGGI TRI Angkatan UDara meresmikan Biro Rencana dan konstruksi yang berkedudukan di Lanud Maospati (Madiun) yang dipimpin oleh opsir MUda Wiweko Supono. Meskipun dengan segala keterbatasan, dtiambah lagi dengan berbagai kesulitan di segala bidang dan ancaman agresi militer balanda, namun dengan jiwa semangat dan tekad para teknisi. Seksi percobaan pembuatan pesawat terbang yang dipelopori oleh Wiweko Supono dan Opsir Muda Udara I Nurtanio berhasil mewujudkan beberapa prestasidalam merintis pembuatan pesawat terbang. diantaranya diawali dengan pembuatan kurang lebih 6 buah pesawat Glider NWG untuk latihan para calon Kadet Penerbang. Memodifikasi pesawat pembom Guntai menjadi pesawat angkuit, memodifikasi pesawt sakai Blanheim menjadi pesawt permotretan dan membuat pesawat terbang Janis olah raga RI-X/WEL I. Setelah pengakauan Kedaulatan Negara Republik Indonesia 27 Desember 1949, maka instansi yang menangani kegiatan pembuatan pesawat terbang di lingkungan TNI-AU mengalami beberapa peubahan dan peningkatan secara kronologis sebagai berikut : a. Depo Penyelidikan Perawatan Pembuatan Pesawat Terbang (1950) b. Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (1961 c. Lembaga industry Penerbangan Nurtanio (1966) Selama tahun 1950-1976 telah dihasilkan beberapa jenis esawat antara lain : NU200 Si Kumbang, Belalang 85, NU-25 Kunagn, Belalang-90, Girokopter Kolintang, super kunag 40, Kumbang -260,PXL-104 Gelatik, Kineng, 150 Hovercraff, Manyang, LT-200 Nefoo Light (VIP) Dan Glider G-012. Kemudian pada tahun 1976 Lipnur ditingkatkan dan diresmikan oleh bapak presiden Soeharto menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan akhrinya pada tahun 1986 diubah namanya menjadi PT. Industri Pesawat TerbangNusantara. Dengan namanya Nusantara ini diharapakn adanya prospek yang lebih luas selaras dengan tujuan dan jangkauan hasil produksi insdustri pesawat terbang sebagai saran aperhubungan yang bertaraf interbasional. Sejak 1976 IPTN telah menghasilkan beberapa jenis pesawat terbang anatar lain : NC-212 Casa, N Bell-142, NSA 330Puma, NBO-105 Bolkow, NSA 332 Suprpuma dan CN 235 Tetuko, CN-250 Gatotokaca. Pada tahun 2002 nama IPTN diubah lagi menjadi PT Dirganatar hingga sekarang.

11. Indonesian Airways Dalam rangka memperlancar tugas perjuangan khususnya perhubungan jarak jauh dengan daerah luar pulau Jawa sangat dibutuhkan adanya pesawat terbang. Untuk itu pada aawal Juni 1948 dengan membawa pesawt model C-47 Dakota, Presiden Soekarno mengadakan perjalanan keliling sumatera untuk mendapatkan Fond Dakota. Hasil dari perjalanan ini terkumpul sejumlah dana dari rakyat Acehyang cukup untuk dipergunakan membeli pesawt Dakota C-47. Pesawat tersebut diberi nomor reistrasi RI-001 sengan nama sebuah gunung di Aceh ‘Seulawah”. Di dalam negeri selain dipergunakan untuk mengangkut wakil presiden Drs. Moh. Hatta ke Sumatera. Mengangkut pada Kadet ALRI dari Bukkit Tinggi ke Aceh dan juga mengadakan pemotretan gunung berapi. Pada tanggal 7 Desember 1948, pesawat RI-001/Seulawah mendarat di Calcuta india dalam rangka menjalani perbaikan menyeluruh/ over haul. Selama menjal;ani perbaikan tersebut, di Indonesia berlangsung agresi militer II Belanda sehingga sementara hubungan dengan tanah air terputus dan belum menemukan jalan pulang. Pada tanggal 26 Januari 1949 atas ijin Pemerintah Burma RI-001 Seulawah diterbangkan ke Rangoon Burma disertai Wiweko Supono berhasil mendirikan suatu badan hokum penerbangan niaga dengan nama Indonesian Airways yang beroperasi du Burma. Dalam perkembangannnya Indonesian Airways berhasil menambah armadanya dengan 2 pesawat Dakota beregistrasi RI-007 dan RI-009. Adapun keuntungannya disamping dipergunakan untuk membiayai Kadet-kadet Indonesia yang belajar di India dan Philipina, juga untuk membantu perjuangan kemerdekaan RI denganmenerobos blockade udara Belanda dan Mendrop senjata, amunisi dan peralatan radio untuk perjuanagan RI di Aceh. Sebagai penghargaan kepada Pemerintah Burma. Pada tanggal 31 Oktober 1950 Pesawat RI-007 diserahkan kepada Pemerintah Burma. Sedangkan momentumnya dimulainya Indonesian Airways beroperasi 26 Januari 1949 diresmikan sebagai Hari jadi Garuda Indonesia Airways GIA). 12. Perintis Jawatan Kesehatan TNI-AU a. Opsir Udara I Dokter Esnawam b. Laksamana Muda Udara Dokter Suhardi Hardjolukito c. Laksamana Muda Udara Dokter Salamun.

C. RUANG KOLEKSI PAHLAWAN DAN MANTAN KASAU

Di ruangan ini disimpan dan dipamerkan sebagian benda-benda yang pernah dipakai dan digunkan oleh pada Mantan Kepala Staf TNI Angkatan UDara dari yang pertam hingga Kasau terakhir dan digunkan oleh Para Pahlawan Nasional ari TNI Angkatan Udara. Riwayat Singkat Para Perintis TNI-AU a. Laksamana Anumerta R. Suryadi Suryadarma R. Suryadi Suryadarma dilahirkan di Banyuwangi (Jawa Timur) pada tanggal 6 Desember 1912. Pendidikan umum terakhir adalah KWS pada tahun 1931. Pendidikan militernya mula-mula lulus Koninklijk Militaire Academie di Breda, pada tahun 1934. Kemudian pada tahun 1939 lulus Sekolah Navigator di Kalijati. Setela diresmikannya TEntara Keamanan akyat pada 5 Oktober 1945, beliau ditugasi Pemerintah RI untuk membentuk kekuatan udara, pda tanggal 10 Desember 1945 diangkat sebgai kepala Bagian Pnenerbangan pada Markaas Besar Oemoem Tentara Keamanan Rakyat di Yogyakarta. Dalam perkembangan oraganisasi, maka TKR Bagian Penerbangan menjadi TKR JAwatan PEnerbangan. Kemudian sejak tanggal 9 April 1946 beliau diangkat sebagai Kepala Staf TEnatara Republik Indonesia Angkatan Udara Berdasarkan Penetapan Pemerintah Nomor 6/SD Tahun 1946. Jabatan lain yang pernah dipangkunya anatara lain anggota POPDA, KSAP, Penasihat Ahli Penerbangan dalam KMB, MenteriPenasihat Presiden. Wafat pada tangal 16 Agustus 1975 di Jakarta, sedang namanya diaanadikan untuk ruanga operasi di Mabesau dan Markas Komando dalam jajarana TNI Angkatan Udara. b. Marsekal Muda TNI Aumerta Agustinus Adisutjipto Agustinus Adisutjipto dilahirkan pada tanngal 3 Juli 1916 di Salatiga. Adalah putera Bapak Roewidodarmo, pendidikan umum :HIS,MULO, AMS, dan GHS. Sedangkan pendidikan militernya ialah : sekolah penerbangan (Vlieghschool) Kalijati. Adisutjipto pernah bertugas di pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta sebagai Calon Perwira Penerbang, sedangkan pada masa Jepang bekerja Pada Perusahaan Angkutan Darat di Salatiga. Prestasi Selama di TNI Angkatan Udara diantaranya : 1) Tanggal 27 Oktober 1945 untuk pertama kalinya berhasil menrbangkan Pesawt Cureng yang beridentitaskan Merah PUtih di Yogyakarta. 2) Tanggal 15 November 1945 atas prakarsanya didirikan Sekolah Penerbang di pangklan udara Maguwo.

3) Tanggal 9 April 1946 menjabat sebagai Wkil Kepala Staf II TRI Angkatan Udara dengan panhkat Komodor Muda Udara. 4) Tanggal 23 April 1946 bersama Imam Suwongso Wiryosaputro dan Iswahyudi masing-masing denga pesawat Cukii mendarat di Lapangan Terbang Kemayoran dalam rangka memebawa delegasi RI KASAU Komodor Udara RS. Suryadarma dan Jenderal Mayor Sudibyo utnuk perundingan dengan sekutu dalam rangka tugas pengangkutan Tentara Jepang dan APWI pulang ke negaranya masing –masing. 5) Gugur dalam perjalanan pulang pada tanggal 29 Juli 1947 dengan pesawat yang ditumpanginya dengan membawa obat-obatan Untuk PMI. Atas jasanya namanya diabadikan di Pangkalan Udara Maguwo. c. Marsekal Muda TNI Anumerta Prof. Dr. Abdurrahman Saleh Abdurrahman Saleh dilahirkan di Jakarta tanggal Juli 1909 adalah putera Bapak DR. Mochaamd Saleh. Pendidikannya : HIS, MULO, AMS, STOVIA dan GHS. Prestasi selama di TNI Angkatan Udara : 1) Mapu menerbangkan pesawt-pesawat peninggalan Jepang 2) Sebagai Instruktur pada Sekolah Penerangan di Maguwo 3) Tahun 1946 menjabat Komando Pangkalan Udara Maospati (Madiun) 4) Mendirikan Sekolah Radio Telegrafis Udara di Malang dan Sekolah Teknik Udara di Madiun. 5) Gugur dalam perjalanan pulang ke Tanah Air pada tanggal 29 Juli 1947 besama dengan pesawat yang ditumpanginya Dakota VT-CLA setelah di temabak oleh Pesawat Kitty hawk Belanda. Atas jasanya Prof. Dr. Abdurrahman Saleh diangkat sebagai pahlawan Nasional dengan pangkat Marsekal Muda TNI Anumerta dan namanya diabadikan untuk pangkalan Udara Bugis (Malang). d. Marsekal Muda TNI Anumerta Abdul Halim Perdana kusuma. Abdul Halim Perdanakusuma dilahirkan di Sampang, Madura pada tanggal 18 November 1922, beliau adalah putera Bapak Haji Abdulgani Wongsotaruno. Sekolah umum : HIS,MULO,AMS,MOSVIA di Malang. Ketika perang dunia

II pemuda Hakim Perdanakusuma dikenakan wajib militer Angkatan Laut Belanda. Ketika Jepang masuk Indonesia, beliau ke Inggris mengikuti pendidikan sebagai Navigator pada royal Canadian Air Force. Selama perang dunia II beliau melakukan operasi penerbangan di Eropa. Setelah berakhir, pada pertengahan Agustus 1945 kemabli ke Taanaha Air di TNI Angakatan Udara. Prestasi selama di Angatan Udara diantaranya : 1) Tahun 1946 melakukan penerbangan dari Maguwo ke Madura dengan pesawat cureng dan mengadakan pendaratan darurat di lapangan tembak. 2) Sebagai perwira operasi menyiapkan Rencana Operasi pemboman Semarang, Salatiga dan Ambarawa dengan dua buah pesawat Cureng dan sebuah Guntai pada tanggal 29 Jui 1947 3) Merintis dan membangun AURI di Sumatera 4) Beberapa kali melaksanakanpenerbangan ke luar negeri 5) Tanggal 14 Desember 1947 dalam perjalanan dari Bangkok ke Indonesia gugur pada saat pesawat Avro Anson RI 003 yang ditumpanginya jatuh di tanjung Hantu, Malaya Atas jasa-jasanya Abdul Halim Perdanakusuma diangkta sebagai pahlawan Nasioanl dengan pangkat Marsekal Muda TNI Anumerta dan namanya diabadikan untuk pangkalan udara Cililitan (Jakarta) e. Marsekal PERTAMA TNI Anumerta Iswahyudi Iswahyudi dilahirkan di Surabaya pada tanggal 15 Juli 1918, beliau putera Bapak wiryomiharjo. Pendidkan umunya HIS, MULYO, AMS dan NIAS di Surabaya. Pada masa penjajahan Belanda mengikuti pendidikan Asistant Officier Kortverband Vliger di Pangkalan Udara Kalijati. Prestasi selama di TNI Angkatan Udara diantaranya : 1) Sebagai Instruktur Penerbangan pada sekolah penerbangan di Maguwo dengan pangakt Opsir Udara II. 2) Tanggal 23 April 1946 melakukan penerbangan dengan pesaawat Cukiu dari Maguwo ke Jakarta, Gorda, Banten, Teluk Betung dan Branti ( Sumatera Selatan) 3) Tanggal 10 Juli 1946 melakukan penerbangan dengan pesawat Cureng dari Maguwo ke Tasikmalaya

4) Tahun 1946 menjabat sebagai Komandan Pangkalan Udara Bukit Tinggi, membentuk dan membina Organisasi AURI di Sumatera 5) Tahun 1947 gugur dalam perjalanan pulang dengan menggunakan pesawat Avro Anson RI-003 yang jatuh di Teluk Hantu Malaya Atas jasanya Iswayudi diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan pangkat Marsekal Pertama Anumerta dan namanya di abadikan dipangkalan udara Maospati ( Madiun)

D.

RUANG KOTAMA

1. KORPPASKHASAU Setelah diproklamirkan kemerdekaan I pada tanggal 17 Agustus 1945 dibentuklah Badan Keamanan Rakyat (BKR), BKR yang merebut pangkalan udara dikenal dengan nama Badan Keamanan Rakyat Oedara (BKRO). Dengan berubanhya BKR menjadi TKR yang kemudian menjadi Tentara Keamanan Rakyat Indonesia,mak pada tanggal 9 April 1946 TKR Jawatan Penerbangan di syahkan menjadi TKR oedara. Dalam perkembangannya untuk mendukung tugas-tugas operasi pada tahun 1950 dibentuklah organisasi darat yaitu Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) yang bertugas mengamankan gasilitas dan Instalasi pangkalan serta pertahanan terhadap serangan lawan. PPP berpusat di Jakarta dengan nama Air Base DEFENCE Troop (ABDT). Selanjutnya denagn perkembangan organisasi pada tanggal 11 Maret 1985 berganti nama menjadi KOPASKHASAU. Berikut adalah para Komandan Paskhasau. 2. KOMANDO PEDIDKAN TNI-AU (KODIKAU) Pada tanggal 27 Oktober 1945 bapak Agustinus Adisutipto berhasil menrebangkan pesawat cureng yang bertandakan merah putih, ditasa kota Yogyakarta, kemudian disusul pada tanggal 7 November 1945 di pangkalan udara Cibeureung berhasi diterbangkan pesawat Nishikoreng. Selanjutnya untuk memperkuat perjuangan kemerdekaan, pada tanggal 15 November 1945 didirikan sekolah penerbangan di pangkalan udara Maguwo Yogyakarta dipimpin oleh Bapak A. Adisutjipto. Berdasarkan hasil serasehan sesepuh (EX Penerbang) pada tahun 1977 bahwa hari jadi , komando pendidkan ditandai dengan mulai dibukanya sekolah penerbang pad tanggal 15 November 1945 di pangkalan udara Maguwo Yogyakarta . maka berdasarkan surat keputusan KASAU NO: Kep/32 /VII/78 tangal 2 Juli 1978

menetapkan bahwa : Tanggal 15 November 1945 sebagai hari jadi , komando pendidkan TNI-AU. KODIKU ini bermarkas di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma Jakarta. Kemudian sejak tahun 1985 pindah ke suabaya. Kemudian pada tahun 2003 dipindahkan lagi ke Jakarta hingga sekarang. Berikut ini adalah para komandan KODIKAU 3. AKADEMI ANGKATAN UDARA (AAU) Pada tanggal 26 Juli 1965 Akademi Angkatan Udara (AAU) berdiri, hal ini berdasarkan : Keputusan menteri/panglima angkatan udara nomor 52 tahun 1965 tanggal 26 Juli 1965, merupakan awal berdirinya Akademi Angkatan Udara (AAU), yang terintegrasikan dengan lembaga lain (AMN/AAU/AAL/AAK) dibawah satu komando AKABRI ( Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Kemudian AAU menjadi AKABRI bagian udara berdasarkan surat keputusan presiden/pangti abri/panglima koti nomor 185/koti/1965 tanggal 16 Desember 1965. Dengan adanya reorganisasi ABRI/TNI-AU sejak tanggal 16 Juni 1984 AKABRI bagian udara kembali ke jajaran TNI-AU dengan nama Akademi TNIAngkatan Udara (AAU)) hingga sekarang. Berikut daftar para Gubernur akademi TNI-AU

4. SEKOLAH STAF KOMANDO TNI AU (SESKOAU) Sekolah staf komando TNI AU angkatan udara sebagai lembaga pendidikan tinggi angaktan / TNI-AU mempunyai tugas menyelenggarakan pendidikan pengembangan, pendalaman materi kejuangan, pengkajian dan pengembangan doktrin serta masalah pertahanan Negara diudara, sesuai dengan mottonya “Pragnya Paramanttha Jaya” yang berarti: ilmu pengetahuan pangkal kemenangan. Seskoau mempunyai tujuan menyiapkan kader-kader pemimpin TNI AU pada masa depan yang memiliki pengetahuan dan pemikiran berwawasan komperhensiv dan strategis. Dalam perjalanannya sejak lahir tanggal 1 agustus 1963 Seskoau telah mengalami tiga kali pergantian nama: a. Seskoau Tahun 1963-1974 b. Sesko ABRI bagian udara tahun 1974-1984 c. Seskoau tahun 1984 sampai sekarang Berikut Daftar Nama Para Komandan Seskoau No. Nama Pangkat 1. Saroso Hurip Kolonel Udara

jabatan Danseskoau tahun 1963-1965

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21 22. 23. 24. 25. 26. 27.

Sri Bimo Ariotejo Sudarmono Sutoyo Adiputro Wisnu Djayengwinardo Roesman Mohammad Lud Loely Wardiman Moh. Diran Sumakno Iswadi Zainuddin Sikado Andaya Lestari Rilo Pambudi Jagyanta Richard Haryono Drs. Djatmiko, S Tamtama Adi Tjutju Djuanda Sonny Rizani Ian Santoso Zeki Ambadar Subagya Saleh A. Hasan Sadjad R. Suprianto IN. Subandrio Slamet Prihatino Surya Darma

Kolonel Udara Laksda Udara Laksda Udara Marsma TNI Marsma TNI Marsma TNI Marsma TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsma TNI Marsma TNI

Danseskoau tahun 1956-2966 Danseskoau tahun 1966-1970 Danseskoau tahun 1970-1971 Danseskoau tahun 1971-1975 Danseskoau tahun 1975-1978 Danseskoau tahun 1978-1983 Danseskoau tahun 1983-1984 Danseskoau tahun 1984-1987 Danseskoau tahun 1987-1989 Danseskoau tahun 1989-1990 Danseskoau tahun 1990-1991 Danseskoau tahun 1991-1992 Danseskoau tahun 1992-1994 Danseskoau tahun 1994-1995 Danseskoau tahun 1995-1996 Danseskoau tahun 1996-1997 Danseskoau tahun 1997-1998 Danseskoau tahun 1998-1999 Danseskoau tahun 1999-2000 Danseskoau tahun 2000-2001 Danseskoau tahun 2001 Danseskoau tahun 2001-2002 Danseskoau tahun 2002-2004 Danseskoau tahun 2004-2005 Danseskoau tahun 2005-2006 Danseskoau tahun 2006

5. KOMANDO PEMELIHARAAN DAN PEMBEKALAN MATERIILTNI-AU (KOHARMATAU) Sejalan dengan perkembangan TRI-AU dan kepemilikan Alutsista udara sebagai lembaga penerima penyerahan Alutsista dari Militaire Luchvatrt (ML) dan berbagai pesawat terbang peninggalaln jepang, maka diperlukan tenaga yang memadai guna pemeliharaan alutsista tersebut. Dalam rangka pemelihara kesiapan seluruh unsure pelaksanaan logistic ankatan udara telah bekerja sama maksimal. Untuk menjamin kelancaran dukungan logistic maka seluruh unsure logistic pemimpin TNI di intograsikan dibawah satu badan setingkat komando. Pada tanggal 15 agustus 1963 berdasar keputusan menteri/ Panglima angkatan udara NO: 38 tahun 1963 lahirlah komando logistic angkatan udara yang dikenal dengan nama KOLOG. Kemudian berdasarkan keputusan Menhankam/ Panglima ABRI No. Kep/14/IV/76 tanggal 13 april 1976 tentang pokok-pokok organisasi dan prosedur TNI AU telah diadakan penyempurnaan. Sebagai penjabaran keputusan tersebut yang tertuang

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21 22.

dalam keputusan kepala Staf TNI AU No: kep/19/V/1978 tanggal 27 mey 1978 komando logistic (kolog) diganti dengan komando materiil alat utama system senjata udara (KOMATAU) Kemudian sejak tahun 1985 berganti nama menjadi: Komando Pemeliharaan dan Pembekalan Materiil TNI Angkatan Udara (KOHARMATAU) berdasarkan keputusan Kepala staf TNI Angkatan Udara No: kep/24/III/85 tanggal 11 maret 1985. Nama Pangkat jabatan Budiarjo Komodor Udara Danjen Komando Logistik Th 1963-1964 Antonius Andoko Komodor Udara Danjen Komando Logistik Th 1964-1966 R. Sutopo Komodor Udara Danjen Komando Logistik Th 1966 Sulaeman Kolonel Udara Danjen Komando Logistik Th 1966 R. Suyatmo Danupoyo Letkol Udara Carteker Danjen Komando Logistik Th 1966 Suryono Hardjo Subroto Komodor Udara Danjen Komando Logistik Th 1966-1968 Untung Suwignyo Komodor Udara Danjen Komando Logistik Th 1968-1976 DR. Kamarudin Marsda TNI Danjen Komando Logistik Th 1976-1982 Benjamin Parwoto Marsda TNI Danjen Komando Logistik Th 1982-1984 Mohammad Besar Marsda TNI Danjen Komando Logistik Th 1984-1986 Ateng Suarsa Marsda TNI Danjen Komando Logistik Th 1986-1987 Isbandi Gondo Suwignyo Marsda TNI Danjen Komando Logistik Th 1987 Dodi Sukardi Marsda TNI Dankoharmatau Sugiarto Marsda TNI Dankoharmatau Achmad, SE Marsda TNI Dankoharmatau Th 1992-1995 IR.M. Sadeli Kalman Marsda TNI Dankoharmatau Sjaiful Kartimunaf, SE Marsda TNI Dankoharmatau Sampiurna Budiman, SE Marsda TNI Dankoharmatau Iskak Karmanto, SIP Marsda TNI Dankoharmatau Th 1995-2000 Mashadi Mulyadi, SE Marsda TNI Dankoharmatau Th 2000-2002 Sudjarwo Marsda TNI Dankoharmatau Th 2002-2004 Suko Kuntjoro Marsda TNI Dankoharmatau Th 2004-2006

5. KOMANDO OPERASI TNI-AU (KOOPSAU) Sejak Belanda mengikuti kedaulatan RI pada tanggal 27 Desember 1949, dan kemudiaan tahun 1950 AURI menerima penyerahan sejumlah pesawat dari Militaire Luchvart (ML)sehingga nantinya akan dapat dipergunakan sebagai modal dasar membentuk Satuan Udara dengan nama Skadron Udara I di Cililitan dan Skadron Udara II di Andir. Pada tanggal 21 Maret 1951 berdasarkan Pengumuman Kasau Nomor : 2/II/Peng/KS/51.Organisasi Skadron I di rubah menjadi “Group Oprasionil”yang terdiri dari beberapa skadron, dan pada tanggal 15 Juni 1951 dibentuklah Komando

Operasional, dalam perkembangannya Komando Operasi tersebut mengalami perubahan menjadi “Komando Group Komposisi” dan pada tahun 1959 dirubah lagi menjadi Komando Operasi. Selanjutnyan berdasarkan Keputusan Pangab No: Kep/10/III/1984 dibentuk dua buah Komando Pembinaan dan Opersional TNI_AU yaitu; Koopsau I berkedudukan di Jakarta dan Koopsau II yang bermarkas di Ujung Pandang. Beriku Daftar Para Panglima Koopsau I dan II : Koopsau I No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21 22. 23. 24. 25. 26. Nama RM. Roeslan Danu samsru s Noordraven R.I.S Wiryosaputro Rusmin Nurjadin L.W Wattimena Suwondo Mochammad Slamet A.R Alamsyah Aried Riyadi Sardjono Imam Suwongso Rukandi Zainudin Sikado IG. Sudana Purnomo Sidhi Abdullah Syirat, SE,SIP Sudijarso Eko Suwaryo Subagyo, SE. Suprihadi Sutrisno, SP,SIP Teuku Syahril Herman Prayitno Slamet Prihatino Mujono Ganjar Wironegoro Pangkat Komodor Muda Udara Kolonel Udara Mayor Udara Letkol Udara Mayor Udara Mayor Udara Kolonel Udara Kolonel Udara Marsda TN Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI jabatan Dan koopsau Th 1952-1954 Dan Komando Group Komposisi Th 1945-1956 Dan koopsau Th 1956-1959 Panglima Koopsau Th 1960-1962 Panglima Koopsau Th 1962-1966 Panglima Koopsau Th 1966-1968 Danjen Koopsau Th 1968-1974 Danjen Koopsau/kopatdara Th 1974-1976 Panglima Kopatdara 1976-1983 Panglima Kopatdara 1983-1985 Pangkoopsau I Th 1985-1988 Pangkoopsau I Th 1988-1989 Pangkoopsau I Th 1989-1990 Pangkoopsau I Th 1990-1991 Pangkoopsau I Th 1991-1992 Pangkoopsau I Th 1992-1994 Pangkoopsau I Th 1994-1996 Pangkoopsau I Th 1996-1997 Pangkoopsau I Th 1997-1998 Pangkoopsau I Th 1998-2000 Pangkoopsau I Th 2000-2001 Pangkoopsau I Th 2001-2002 Pangkoopsau I Th 2002-2003 Pangkoopsau I Th 2003-2005 Pangkoopsau I Th 2005-2006 Pangkoopsau I Th 2006

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

Nama Wardoyo Kusumo Jahman Suharso Tri Suharto I.Gondosuwignyo Mahfudin Taka Hanafi Asnan Suparno Muanan Ian Santoso Ali Munsiri Rappe Djoko Suyanto Rukman Susetyasto Tedy Sumarnao I Made Uka Subandriyo IB Sanubari

Koopsau II Pangkat Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI

jabatan Pangkoopsau II Th 1985-2986 Pangkoopsau II Th 1986-1987 Pangkoopsau II Th 1987-1990 Pangkoopsau II Th 1990-1991 Pangkoopsau II Th 1991-1994 Pangkoopsau II Th 1994-1996 Pangkoopsau II Th 1996-1997 Pangkoopsau II Th 1997-1999 Pangkoopsau II Th 1999-2000 Pangkoopsau II Th 2000-2001 Pangkoopsau II Th 2001-2002 Pangkoopsau II Th 2002-2003 Pangkoopsau II Th 2003-2004 Pangkoopsau II Th 2004-2005 Pangkoopsau II Th 2005-2006 Pangkoopsau II Th 2006

6. KOMANDO PERTAHANAN UDARA NASIONAL (KOHANUDNAS) Embrio Khoanudnas mulai lahir sejak tahun 1958, dimana saat unsure pertahanan udara dari Angkatan Udara baru dilengkapi dengan Skadron Pancargas “VAMPIRE”.Kemudiaan awal tahun 1961 unsur-unsur pertahanan udara dari Angkatan Udara diperbesar dengan pesawat Mig-15 dan Mig-17,serta Satuan Radar yang mampu secara aktif mengadakan pertahanan udara di wilayah Indonesia. Kemudiaan pada tanggal 9 Februari 1962 Presiden selaku Panglima Tertinggi atas Angkatan Perang Republik Indonesia mengluarkan Kepres Nomor : 8/PLM-PS tahun 1962 tentang Pembentukan Komando Pertahanan Udara Nasional yang disingkat

KOHANUDNAS,semula bermarkas di Jalan Tanah Abang Buit Jakarta, lalunpinda ke Lanud Halim Perdanakusuma sampai sekarang. Kohanudnas sebagai Komando Utama Opersional Hankam yang bersifat gabungan dan berfungsi sebagai Komando Kerangka, demikian juga sebagai Komando Opersional ABRI/TNI dengan tugas pokok menyelenggarakan upaya pertahanan keamanan terpadu atas wilayah Udara Nasional secara mandiri maupun bekerjasama dengan Komando Utama Operasional lainnya.Dalam rangka mewujudkan kedaulatan dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Daftar Nama Komandan Kohanudnas : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19 20. Nama H,M. Soedjono Leo Wattimena Rusmin Nurjadin Sudjamiko Suwondo Iskandar Hartono Ateng Suarasana Isbandi Gondo Suwignjo, SR. Subagyo, SE,MBA. FX. Soejitno Irwan Saleh M. Koesbeni,SIP,SE,MBA. Sonny Rizani, SE. Wartoyo, SIP. Zeky Ambadar, SE Achmad Hasan Sajad Wresniwiro F.Djoko Purwoko Errys Haryanto Pangkat Laksda Udara Laksda Udara Laksda Udara Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI Marsda TNI jabatan Pangkohanudnas th 1962-1965 Pangkohanudnas th 1965-1967 Pangkohanudnas th 1967-1969 Pangkohanudnas th 1969-1973 Pangkohanudnas th 1973-1978 Pangkohanudnas th 1978-1984 Pangkohanudnas th 1984-1987 Pangkohanudnas th 1987-1989 Pangkohanudnas th 1989-1991 Pangkohanudnas th 1991-1993 Pangkohanudnas th 1993-1995 Pangkohanudnas th 1995-1997 Pangkohanudnas th 1997-1999 Pangkohanudnas th 1999-2000 Pangkohanudnas th 2000-2001 Pangkohanudnas th 2001-2002 Pangkohanudnas th 2002-2003 Pangkohanudnas th 2003 Pangkohanudnas th 2003-2006 Pangkohanudnas th 2006

7. DAFTAR SISWA SEKOLAH PENERBANG TNI ANKATAN TAHUN 1945 SAMPAI SEKARANG Di tempat ini terukir nama-nama Siswa Penerbangan TNI Angkatan Udara dari Angkatan yang pertama sejak dirintis oleh Marsda Anumerta Agustinus Adisutjipto tanggal 15 November 1945 hingga sekarang.

E. RUANG ALUTSISTA (Alat Utama Sistem Persenjataan Udara) 1.Mitsubshi A6M5 Zero Zen Negara asal : Jepang Jenis : Pemburu Taktis Buatan tahun : 1938 Panjang sayap : 11 M Panjang badan : 9.06 M Berat maksimum : 2.744 Kg Kecepatan maksimum : 570 Km/jam Akomodasi : 1 awak pesawat Sejarah : 1941 : Pertama kali dipergunakan Jepang dalam perang melawan Amerika di China. 1942-1945 : Dalam perang di Pasifik melawan Sekutu,Zero berpangkalan di daerah Irian Barat. 1984 : Diabadikan di Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala 2. P-51 Mustang Negara asal : Amerika Serikat Jenis : Pemburu Taktis Panjang sayap : 11,28 M Panjang badan : 9,81 M Kecepatan jelajah : 735 Km/jam Persenjataan : 6 pucuk Browning caliber 12,7 ,8 buah Roket Launcher, 2 buah bom. Akomodasi : 1 awak pesawat Sejarah : 1959-1965 : Operasi penumpasan DI/TII Jawa Barat,Aceh dan Sulawesi Selatan. 1958 : Operasi penumpasan PRRI/Permesta. 1962-1963 : Operasi Trikora 1964 : Opersai Dwikora

1965 1967-1969 1978

: Operasi penumpasan G 30 S PKI dan sisa-sisanya. : Operasi Saber Kilat dan Operasi Trisula. : Diabadikan di Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala.

3.Glider Kampret Negara asal : Indonesia Panjang sayap : 13,56 M Panjang badan : 5,45 M Tinggi : 1,31 M Berat kosong : 170 Kg Berat dengan isi (Penerbang dan Parasut) : 250 Kg Cepat jelajah : 60 Km/jam Cepat mendarat : 40 Km/jam Sejarah : Dengan didirikan Sekolah Teknik Udara Perwira (Stupa) pada tahun 1951 yang dipimpin oleh Letkol IR.C.W.A. Oyen, maka terbukalah kesempatan untuk merancang pembuatan pesawat-pesawt terbang.Sebagai hasil penelitian ini telah dibuat sebuah pesawat luncur jenis Grummen Baby yang diberi nama Glider Kampret. Grummen mengingatkan sebuah nama dusun di Jerman sebelum perang dunia II.Pabrik pesawat peluncur yang dibuat oleh Kadet Stupa tersebut buka berdasarkan data dari Pabrik father Belanda di Amsterdam,tetapi mencontoh pabrik yang ada di Jerman dengan perbaikan dan perubahan diberbagai segi.

4. Cureng Negara asal : Jepang Buatan tahun : 1933 Jenis : Pesawat latihan lanjut Pabrik : Nippon Hikoki KK Motor : Radial Dingin Angin Teppo Kekuatan : 350 Daya Kuda Panjang sayap : 11 M Panjang badan :8M Jarak jelajah : 708 KM Tinggi terbang : 4000 M Akomodasi : 2 Orang Tahun dimiliki TNI AU : 1945 Sejarah :

1945-1948

: Digunakan oleh TNI AU sebagai pesawat latihan , pengintai, pengankut, pengebom, pemotretan udara, dan palang merah. 27-10-1945 : Diterbitkan pertama kali oleh bapak penerbang A. Adisutjipto dengan tanda Merah Putih di Pangkalan Udara Maguwo (Yogyakarta). 1946 : Operasi memperluas jaringan udara dari Pangkalan Udara Maguwo ke daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa barat dan Sumatera. 02-09-1946 : Opsir Udara II Tarsono Rudjito gugur akibat kecelakaan pesawat Cureng di Cipatujah (Tasikmalaya). Sewaktu pesawat melakukan pendaratan darurat. Opsir Udara II Tarsono merupajkan korban pertama akibat kecelakaan pesawat. 1947 : Melakukan penerjunan pertama kali yang dilakukan dari belakang pesawat. Pengiriman Pos, Obat-obatan,Uang dan lain-lain ke daerah Jawa Timur. 29-07-1947 : Melakukan Operasi pengeboman terhadap daerah kedudukan Belanda di Salatiga dan Ambarawa. 1948 : Operasi pemberontakan PKI/Muso antara lain : Pemotretan, pengintaian,penyebaran pamphlet, bantuan udara (dropping obatobatan, logistic dan lain-lain),Bagi pasukan ABRI yang terpencil/terkurung oleh lawan dan menerjunkan beberapa perwira kita untuk bergabung dengan kesatuannya. Daerah Operasinya antara lain: Ambarawa, Pati, Purwodadi, Cepu, Trenggalek, Madiun dan sekitarnya. 1977 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala 5. BT-13 Valiant Negara asal : Amerika Serikat Buatan tahun : 1940 Jenis : Pesawat latihan dasar Pabrik : Valter aircraft Inc. Motor : 459 Hp. P & W R-985-AN-1 Panjang sayap : 12,80 M Panjang pesawat : 8,87 M Tinggi pesawat : 3,53 M Berat kosong : 1.531 Kg Kecepatan Maksimum : 293 Km/jam Jarak jelajah : 1.167 KM Tinggi terbang : 6.600 M Akomodasi : 2 Awak pesawat Sejarah :

1951 : Pesawat latihan dasar pada Sekolah Penerbangan Lanjutan di Lanud Husein Sastranegara dan Kalijati. 1985 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala. 6.Replika Pesawat Terbang RI-X (Tergantung) Negara asal : Indonesia Buatan tahun : 1948 Jenis pesawat : Pesawat Olah raga Type : Pesawat terbang ringan bermotor tunggal dengan tempat duduk tunggal dan bersayap dua bagioan (parabola). Motor : Harley Davidson 2 Silinder Model th 1925, 20/15 Daya Kuda. Panjang sayap : 9,00 M Panjang badan : 5,5 M Tinggi pesawat : 2,4 M Berat keadaan kosong : 263 Kg Prestasi : Kecepatan jelajah 85 Km/jam Masuk Museum : 1980 7. AT-16 Harvard Negara asal : Amerika Serikat Jenis : Pesawat latihan dasar Panjang sayap : 12,9 M Panjang pesawat : 8,8 M Berat Kosong : 2.406 Kg Kecepatan maksimum : 331 Km/jam Kecepatan jelajah : 272 Km/jam Jarak terbang : 6.000 Km Persenjataan : 1 senapan mesin, 7,7 mm, 2 bom [a] 50 Kg. Akomodasi : 2 awak pesawat Sejarah : 1950-1960 : Operasi Penumpasan DI/TII di Jawa Barat : Operasi penumpasan PRRI di Sumatera 1965-1968 : Operasi penumpasan G 30 S PKI dan sisa-sisanya. 1971 : Operasi pengamanan pemilu 1985 : Diabadikan di Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala.

8. TS-8 BIES Negara asal

: Polandia

Jenis : Pesawat latih Motor : WN-3 Tinggi terbang : 6.400 M Kecepatan jelajah : 270 Km/jam Kecepatan maksimum : 310 Km/jam Panjang sayap : 10,5 M Panjang badan : 8,5 M Tinggi pesawat :3M Berat kosong : 1.531 Kg Akomodasi : 2 Awak pesawat Sejarah : 1960 : Kekuatan TNI AU untuk menggantikan latih lanjut AT-16 harvard. 1984 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala. 9. B-25 Michell Negara asal : Amerika Serikat Jenis : Pengeboman ringan Panjang sayap : 20,69 M Panjang pesawat : 16,14 M Kecepatan jelajah : 370 Km/jam Kecepatan maksimum : 483 Km/jam Berat kosong : 8.836 Kg Tinggi terbang : 7.735 M Akomodasi : 6 Awak pesawat Sejarah : 1950 : Kekuatan skadron I yang berfungsi sebagai pengebom, penembak, foto dan transport. 1962-1963 : Operasi penumpasan DI/TII (Kartosuwiryo, kaharmuzakar, Daud Beureuh), RMS,MMC, Andi Azis, PRRI, Permesta, Operasi Sadar. 1978 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara mandala. 10. C-47 Dakota Negara asal : Amerika Serikat Jenis : Angkutan ringan Panjang sayap : 29 M Panjang pesawat : 19,5 M Berat kosong : 8.200 Kg Kecepatan maksimum : 256 Km/jam Jarak jelajah : 2.400 Km Akomodasi : 5 Awak pesawat dan 27 penumpang. Sejarah :

1947-1948

1949-1950 1950 1957-1958 1962-1963 1964 1967-1968 1976 1984

: Penerobosan blockade Belanda dari Jawa ke Sumatera, Kalimantan dan Luar Negeri (Singapore, India, Pakistan, Philipina dan Burma). : Indonesia Airways di Rangoon. : Kekuatan Skadron II dan DAUM, Operasi penumpasan DI/TII (Kartosuwiryo , Kaharmuzakar, aAndi azis dan RMS) : Operasi penumpasan PRRi dan permesta. : Operasi Trikora : Operasi Dwikora : Operasi Rajawali , Focus, Wamena, Wibawa, Pepera, Puntadewa, Pemilu. : Operasi Seroja : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

11. Hillir-360 Utility Helikopter Negara asal : Amerika Serikat Panjang daun rotor : 10,67 M Rotor ekor : 1,67 M Panjang pesawat : 8,08 M Tinggi pesawat : 2,89 M Berat kosong : 600 Kg, Maximum 1.020 Kg Kecepatan maksimum : 134,4 Km/jam Kecepatan jelajah : 121,6 Km/jam Akomodasi : 3 Orang Sejarah : 24-12-1950 : Penerbangan percobaan oleh Wewiko Soepono 1978 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala. 12. Hovercraft XHV-02 Panjang :4M Lebar : 1,9 M Tinggi : 1,55 M Berat : 400 Kg Kapasitas angkutan : 2 Orang Bahan bakar : 60 Liter Cepat jelajah di darat : 13 Km/jam Kecepatan jelajah di air : 45 Km/jam Jarak jelajah di darat: 202 Km/jam Jarak jelajah di laut/air : 67 Mil Sejarah :

Merupakan hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan bersama-sama oleh Dislitbang AU dan LIPNUR tahun 1969-1973. Tujuan : - Untuk dikembangkan menjadi sarana angkutan yang cocok dengan geografi Indonesia yang terdiri atas lautan dan pulau-pulau. - Memanfaatkan motor yang sudah memiliki kelaikan terbang sebagai penggerak Hovercraft dan membuka spesialisasi baru lapangan kerja di bidang transportasi. 13. B-26 Invander Negara asal : Amerika Serikat Jenis : Pengeboman ringan Panjang pesawat : 17,1 M Panjang sayap : 24,1 M Berat kosong : 10.796 Kg Kecepatan jelajah : 348 Km/jam Jarak jelajah : 1.770 Km Kecepatan maksimum : 455 Km/jam Tinggi terbang : 5.050 M Akomodasi : 7 Awak pesawat Sejarah : 1962-1963 : Operasi Trikora 1964 : Operasi Dwikora 1967-1969 : Operasi Saber Kilat, Operasi Trisula. 1976 : Operasi Seroja 1978 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantar Mandala. 14. DH-115 Vampire Negara asal : Inggris Jenis : Pesawat latih jet Panjang sayap : 11,6 M Panjang pesawat : 10,5 M Kecepatan maksimum : 885 Km/jam Tinggi terbang : 12.200 M Berat kosong : 5.060 Kg Persenjataan : 4 buah Cannon 20 mm, dapat di persenjatai pula dengan roket dan bom. Sejarah :

21 Januari 1956

: Pertama kali diterbangkan di Indonesia oleh Letnan I Leo Wattimena. 20 februari 1956 : 8 buah pesawat diresmikan menjadi kekuatan pada skadron pancargas AURI. 1985 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala. 15. UH-34 Sikorsky Negara asal : Amerika Serikat Jenis : Helikopter Garis tengah rotor utama : 17,07 M Garis tengah rotor ekor : 2,90 M Panjang badan : 14,10 M Berat kosong : 3.384 Kg Akomodasi : 4 Awak pesawat Sejarah : 1961-1963 : Jenis pertama yang datang di Indonesia dengan registrasi H-351 sebagai hadiah Presiden Amerika Serikat untuk Presiden RI. 1967 : Relokasi pesawat tersebut dari istana dimasukkan ke skadron 7. 1973 : Operasi Wisnu 1976 : Operasi Tonggak 1985 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala 16. Radar Darat Nysa Asal Negara : Polandia Tahun Pembuatan : 1960 a. Type: Nysa C/Tx Cabin Berat Kegunaan Kemampuan Berat Kegunaan Kemampuan : 10 Ton : Pengamatan dini : max jarak 400 Km b. Type : Nysa B/Tx Cabin : 8 Ton : Pengamatan ketinggian : Pada jarak 300 Km/ ketinggian Mx 15 Km c. Type : Indikator

Berat : 7 Ton Kegunaan : Layar penampilan jarak dan ketinggian Kemampuan : 3 unit layar Penampilan Sejarah : 1961 : Operasi Trikora

1964 : Operasi Dwikora 1978 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala 17. Stearman Negara asal : Amerika Serikat Jenis : Latihan mula Buatan tahun : 1944 Pabrik : Boeing Panjang sayap atas : 10,7 M Panjang sayap badan: 10,4 M Panjang badan : 8,3 M Berat : 1.037,5 Kg Kecepatan : 160 Km/jam Akomodasi : 2 Orang Sejarah : 1950-1951 : Digunakan oleh Kadet-kadet Penerbang Indonesia dalam Pendidikan Penerbangan TAloa Acedemy of Aeronatics di Oakland California, dalam rangka penyiapan tenaga penerbang untuk perjuangan kemerdekaan dan pengembangan TNI-AU. 18-11-1991 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, diserahkan oleh Marsekal TNI Pur. Saleh Basarah mewakili rekanrekannya. 18.UTI MIG- 15 Negara asal : Uni Soviet Jenis : Pesawat tempur Panjang sayap : 33 ft 1 .1/4 inc. Panjang pesawat: 36 ft 4 inc. Berat keseluruhan : 14.238 Lbs Kecepatan jelajah : 668 Mph. Tinggi terbang : 12.200 M Persenjataan : 1 Cannon 37 mm, N-37 dan 2 cannon 23 mm NR-23. Akomodasi : 2 Awak pesawat Sejarah : 1961 : Kekuatan Skadron II Wing Ops 003 1962-1963 : Operasi Trikora 1963 : Dimasukkan ke dalam kekuatan Kohanud 1964 : Operasi Dwikora 1978 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala

19. MIG-17 Negara asal : Uni Soviet Jenis : Pesawat tempur Panjang sayap : 10,56 M Panjang pesawat: 11,09 M Berat kosong : 4.470 Kg/max. 7.030 Kg Kecepatan maksimum : 1.140 Km/jam Tinggi terbang : 17.530 M Persenjataan : 3 senjata 23 mm,bom,roket 500 Kg Akomodasi : 1 Awak pesawat Sejarah : 1961 : Kekuatan Skadron II Wing Ops 003 1962-1963 : Operasi Trikora 1963 : Kekuatan Kohanud 1964 : Operasi Dwikora 1984 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala 20. MIG-19 Negara asal : Uni Soviet Jenis : Pesawat tempur Panjang sayap :9M Panjang pesawat: 14,64 M Berat kosong : 7.560 Kg/max. 8.650 Kg Kecepatan maksimum : 1.452 Km/jam Tinggi terbang : 17.530 M Persenjataan : 3 Cannon HP-call 30 mm, 2a roket APC-57,50-250 Kg boom Akomodasi : 1 Awak pesawat Sejarah : 1961 : Kekuatan Skadron II Wing Ops 003 1962 : Operasi Trikora 1963 : Kekuatan Kohanud 1964 : Operasi Dwikora 1984 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala 21. MIG-21 Negara asal : Uni Soviet Jenis : Pesawat tempur sergap Panjang sayap : 7,15 M Panjang pesawat: 14,65 M Berat kosong : 4.980 Kg Kecepatan jelajah : 2000 Km/jam

Tinggi terbang : 19.000 M Persenjataan : 1 Cannon caliber 30 mm Type : NR-30 peluru 60 butir, roket udara ke udara Akomodasi : 1 Awak pesawat Sejarah : 1962 : Operasi Trikora 1963 : Dimasukkan menjadi salah satu komponen pada Wing Pertahanan Udara 300 (buru sergap) Kohanudnas 1964 : Operasi Dwikora 1985 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala 22. MI-4 Negara asal : Uni Soviet Jenis : Pesawat Helikopter serbaguna Panjang rotor : 21 M Berat maksimum : 7.150 Kg Kecepatan jelajah : 175 Km/jam Tinggi terbang : 5.500 M Akomodasi : 3 Awak pesawat, 10 penumpang Sejarah : 1950-1965 : Operasi DI/TII di Sulawesi Selatan 1962-1963 : Operasi Trikora 1964 : Operasi Dwikora 1967 : Operasi Saber Kilat 1973 : Operasi Wisnu 1985 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala 23. Peluru Kendali KS Negara asal : Uni Soviet Jenis : Rudal udara ke darat Sasaran : Kapal laut, gedung, pabrik, gudang amunisi Jarak tembak : 70 Km-110 Km Tinggi tembak : 15.000 M dari permukaan laut Pengendalian : Aktif homing Motor : Turbo jet Berat roket : 3.250 Kg Bahan bakar : Avtur (3.301) Daerah kerusakkan : 3 sampi dengan 8 Km Sejarah : 1962-1963 : Operasi Trikora 1964 : Operasi Dwikora

1985 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala 24. L-29 Dolphine Negara asal : Chekoslovakia Jenis : Pesawat latih lanjut Panjang pesawat: 10,8 M Panjang sayap : 10,3 M Berat kosong :2.364 Kg/ Max. 3.535 Kg Kecepatan jelajah : 590 Km/jam Akomodasi : 2 Awak pesawat Sejarah : 1965-1983 : Kekuatan Wing Pendidikan I 1984 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala 25. F-28 Avon Sabre Negara asal : Australia Jenis : Buru sergap Panjang sayap : 11,3 M Panjang pesawat : 11,45 M Kecepatan maksimum: 700 Mph (1.125 Km/jam) Tinggi terbang : 45.000 ft (19.725 M) Persenjataan : 2 Cannon Aden 30 mm, 2 bom 1.000 Lbs atau 24 roket, atau peluru kendali udara ke udara Akomodasi : 1 Awak pesawat Sejarah : 1973-1981 : Kekuatan Skadron 14 Wing 300 Kohanud 1981 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala

26. Peluru Kendali SA-75 Negara asal : Uni Soviet Type : Darat ke udara Jenis : Sista Rudal Hanud jarak sedang Jarak tembak : 36 Km Ketinggian : sampai dengan 70 Km Kecepatan : 1.110 Km/detik Lama terbang : 57’3” Bahan bakar : Tingkat I padat,tingkat II cair Panjang : 10.841 M Berat total : 15.348 Kg

Daya hancur Pengendali Kemampuan lain

: Radius 60 M : Radio Command Automatic System Pyro Cartridge, dengan efek dopler. : Segala cuaca dan untuk semua sasaran udara termasuk anti peluru kendali. Dalam keadaan tertentu dapat dipergunakan terhadap sasaran di darat dan di laut

Sejarah : 1962-1979

: Alutsist6a Udara TNI AU digelar untuk pertahanan udara Ibukota dalam rangka Sishanudnas keseluruhan. Juga dipersiapkan kemungkinan adanya serangan udar lawan dalam rangka Trikora dan Dwikora. 1979-1980 : Digunakan untuk sarana pemeliharaan pengetahuan dan keterampilan teknologi Rudal, khususnya rudal darat udara. 1984 : Diabadiakan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala 27. T-33A-10 T Bird Negara asal : Amerika Serikat Jenis : Pesawat latih lanjut buru sergap Panjang sayap : 11,85 M Panjang pesawat : 11,45 M Berat kosong : 12.000 Lbs/ max. 15.100 Lbs. Kecepatan maksimum: 960 Km/jam Tinggi terbang : 40.000 ft Persenjataan : 6 Mitraliur M3-12,7 mm Akomodasi : 2 Awak pesawat Sejarah : Pesawat ini dipergunakan sebagai pendidikan lebih lanjut yang merupakan peralian ke pesawat buru sergap F-86 sabre. 1985 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala 28. LA-11 Lavochikin Negara asal : Uni Soviet Jenis : Pesawat buru sergap Panjang sayap : 9,94 M Panjang pesawat : 8,70 M Berat maksimum : 3.996 Kg Kecepatan : 660 Km/jam Persenjataan : 3 Cannon NS-23 Jarak tembak : 2.550 Km Akomodasi : 1 Awak pesawat Sejarah : 1958 : Kekuatan Skadron 3

1986

: Diabadiakan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala

29. Pesawat Gelatik Negara asal : Indonesia Penggunaan : Umum Pabrik : Lipnur di bawah Lisensi Polskie Zakladi Litrize (Polandia) Panjang sayap : 11,14 M Kecepatan maksimum: 124 Mph Akomodasi : 2 Awak pesawat Sejarah : Pesawat-pesawat Gelatik telah mengambil peran pertanian, baik Lipnur maupun TNI AU beserta instansi-instansi yang berhubungan dengan “research dan development”.Pesawat Gelatik telah ditingkatkan daya gunanya sebagai pesawat “Argo Aircraft” dan bekerjasama dengan Departement Pertanian.Pada pesawat gelatik dipasang alat penyemprot automatizer type mikronaire yang mampu menyemprot dengan system Ultra low volume dengan spray time 30 menit lebih. 1984 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala. 30. LT-200 Negara asal : Indonesia Jenis : Pesawat latih dasar Mesin : Lycoming 0320E-2A 15 DK Panjang sayap : 8,69 M Berat kosong : 409 Kg Kecepatan jelajah : 219 Km/jam Jarak terbang : 1.216 Km/jam Akomodasi : 2 Awak pesawat Sejarah : 1974 : Kekuatan TNI AU yang merupakan produksi Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (Lipnur) 1987 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala 31. Nishikoreng (Replika) Negara asal (asli) : Jepang Buatan tahun : 1983 Jenis : Pesawat latih buru Pabrik : Nakajima Motor : Radial dingin angina Hitachi Kekuatan : 450 Daya Kuda Panjang sayap : 11,64M

Panjang pesawat : 7,64 M Berat kosong : 12.000 Lbs/ max. 15.100 Lbs. Kecepatan maksimum: 275 Km/jam Kecepatan jelajah : 220 Km/jam Sejarah : 8-11-1945 : Dityerbangkan dari Pangkalan Udara Cibeureum (Tasikmalaya) ke pangkalan Udara Maguwo (Yogyakarta), oleh Bapak Penerbang Adisutjipto. 1945-1949 : Sebagai Pesawat Latih Pemburu 1974 : Dibangun kembali oleh TNI AU 1975 : Diabadikan di Museum ABRI Satria Mandala. 2004 : Dibuat Replikanya di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala. 32. Auster mark II Negara asal : Inggris Jenis : Pesawat Pengintai Darat Panjang sayap : 11 M Panjang badan : 7,1 M Berat kosong : 772 Kg Kecepatan maksimum: 202 Km/jam Jarak terbang : 342 Km/jam Akomodasi : 1 Awak pesawat Sejarah : 1950 : Kekuatan Skadron 4 1950-1956 : Operasi penumpasan Di/TII di Jawa Barat 1987 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala

33. C-140 Jet Star Pancasial Negara asal : Amerika Serikat Pabrik : Lockheet Aircraft Corp Mesin : P & W Jet 12 A-6A 4 buah Rentang sayap : 17,61 M Tinggi pesawat : 7,54 M Berat kosong : 9.797 Kg Berat maksimum : 18.144 Kg Penumpang VIP : 8 VIP, 10 biasa Awak pesawat : 5 Orang Daya angkut : 1.316 Kg Kecepatan maksimum: 0,82 Km/jam Kecepatan jelajah : 0,72 Km/jam

Tinggi terbang : 13.115 Km Lama terbang : $,5 Jam Maksimum jarak terbang : 4.818 Km Sejarah : 1962 : Hadiah Pemerintah Amerika Serikat kepada Presiden RI sebagai pesawat Kepresidenana. Masuk kekuatan Skadron 17 Halim Perdanakusuma. Pernah dipergunakan dalam kunjungan ke beberapa Negara antara lain ; Malaysia,Singapura, Philipina, Vietnam dan Muangthai. 1987 : Diabadika di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala 34. Caisson Keadaan angkasa yang volume udaranya lebih rendah dibandingkan di daratan dapat membahayakan manusia yang sedang melakukan penerbangan tinggi.Hal ini dapat diatasi dengan membawa udara (oksigen) dari daratan, sehingga dapat dipergunakan untuk membantu pernapasan melalui topeng oksigen. Sebelum menggunakan topeng oksigen, calon penerbang mendapat pelayanan dari paramedis, dalam suasana tes di angkasa tanpa menggunkan topeng oksigen. Dengan Cassion hasil test dapat diketahui seberapa jauh batas kemampuan calon penerbang dalam suasana kurang udara dapat melaksanakan tugasnya. Cassion diperlingkapi dengan oksigen, sehingga apabila seorang calon penerbang berada pada batas kemampuan, maka topeng oksigen dapat segera dipergunakan untuk membantu pernapasan.

35. Nakajima Ki 43 Hayabusha (Oscar) Negara asal : Jepang Jenis pesawat : Pesawat pemburu Tahun pembuatan : 1940 Panjang sayap : 10,84 M Tinggi pesawat : 3,27 M Berat kosong : 1.910 Kg Berat muatan : 2.925 Kg Jarak jelajah : 1.760 Km Persenjataan : 2 senapan mesin 12,7 mm dan bom 250 Kg Awak pesawat : 1 Awak pesawat Keterangan : Diketemukan di daerah Babo Irian Barat Tahun 1987 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala 36. Guntai Negara asal

: Jepang

Tahun pembuatan Jenis Panjang sayap Panjang pesawat Kecepatan Jarak terbang Persenjataan Akomodasi Sejarah

: 1930 : Pembom tukik : 10,76 M : 8,90 M : 400 Km/jam : 1.722 Km : 3 senapan mesin 303 dan 500 Kg bom : 2 Awak pesawat : Pesawat ini diketemukan di Pangkalan Udara Babo ex Jepang dalam Perang Dunia II di Irian Barat. 1946-1949 : Jenis pesawat ini dipergunakan oleh TNI AU direbut dari tangan Jepang. Dengan menggunakan jenis pesawat ini Kadet Penerbang Mulyono telah berjasa dalam Perang Kemerdekaan RI, yaitu dalam Operasi Udara Yang pertama (Pemboman terhadap kedudukan Belanda di Semarang). 1987 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala. 37. Replika Dakota VT-CLA Replika reruntuhan pesawat Dakota VT-CLA, untuk mengenang pengorbanan Para Perintis TNI AU dalam memberikan motivasi semangat kepahlawanan terhapat generasi muda penerus bangsa.

38. Senjata Penangkis Serangan udara a. Meriam PSU (Cannon) Negara asal : Swedia Merk Pabrik : Bafors Kaliber/type : 40 M/I 60 Tahun pembuatan : 1962 Berat : 1.586 Kg Panjang Laras : 2,5 M Jangkauan tembak : 2.742 M Kecepatan tembak : 873 M b. Peluncur Roket Pabrik : Hispano Suesa Jenis : Anti Tank, menghancurkan kubu-kubu pertahanan musuh. Daya tembak : 10 Km, digunakan untuk lintas lengkung dan datar. Kecepatan : 50 s/d 300 roket/menit Cara membawa : Ditarik dengan kendaran Jeep

c.Triple Gun Type Jenis Kecepatan awal Alur galangan Panjang senjata Panjang laras Berat badan senjata Berat laras senjata Berat magasen kosong Berat magasen isi Berat keseluruhannya Sejarah

: HSS 804 : Senjata anti pesawat terbang : 850 M/detik : 12 ke kanan : 2.545 Cm : 1900 Cm : 48 Kg : 25 Kg : 12,5 Kg : 28 Kg : 1.100 Kg : Menurut data sejarah senjata ini digunakan oleh Pasukan Gerak Tjepat (PGT) AURI dalam Operasi Trikora

Setelah menyaksikan dan meniknati gelar pameran di ruang alustita, pengunjung dipersilahka menikmati gelar pameran di ruang berikutnya yaitu Ruang Diorama. Diorama adalah Gambaran tiga dimensi untuk memvisualisasikan / menceritakan kisah sejarah. Ruang diorama ini dibagi menjadi 4 ruangan yaitu : Ruang I, memuat 4 buah diorama Ruang II, memuat 3 buah diorama Ruang III, memuat 15 buah diorama RUANG IV, DIORAMA SATELIT SKSD PALAPA F. RUANG DIORAMA I Ruang diorama I meliputi :
a. Diorama Pembentukan TKR Bagian Penerbangan, tanggal 12 Nopember 1945. b. Diorama Pembentukan Pangkalan Udara Maguwo tanggal 9 Oktober 1945. c. Diorama Penerbangan Pertama Pesawat beridentitas Merah Putih tanggal 27 Oktober 1945. d. Diorama Pembukaan Pangkalan Udara di Gadut, Bukit Tinggi tanggal 24 Maret 1947.

G. RUANG DIORAMA II Ruang Diorama II meliputi :
a. Diorama Operasi Pengeboman tiga kota kedudukan Belanda Di Jawa Tengah, Semarang, Ambarawa dan Salatiga tanggal 29 Juli 1947. b. Diorama ditembak jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA tanggal 29 Julin 1947.

c. Diorama Operasi Penerjunan Pasukan Payung RI Pertama di Kalimantan tanggal 17 Oktober 1947.

H. RUANG DIORAMA III Ruang Diorama III meliputi :
a. Diorama Sekolah Penerbangan AURI Angkatan I tanggal 15 September 1945-21 Juli 1947. b. Diorama Sekolah Penerbangan AURI Angkatan II di India Oktober 1947- Nopember 1950. c. Diorama Sekolah Penerbangan AURI Angkatan III di Amerika Serikat 1950-1952. d. Diorama Sekolah Penerbangan Lanjutan di PAngkalan Udara Andir tahun 1950-1953. e. Diorama Sekolah Perwira Teknik Udara. f. Diorama Perlawanan AURI pada masa Agresi Militer Belanda 19 Desember 1948.

g. Diorama Penerobosan blockade udara Belanda di Aceh, dalam rangka pengieiman senjata dari Birma. h. Diorama Misi Perundingan RAPWI tanggal 20 Nopember 1945. i. j. Diorama Perintisan Industri Pesawat Terbang tahunb 1946. Diorama Operasi Pasukan Garuda Mulya (PPP-105) tahun 1948.

k. Diorama Stasiun Radio Angkatan Udara PC-2 di Playen, Wonosari, Gunung Kidul, tahun 1949. l. Dioraman Serah Terima Markas Besar Militaire Luchvart (ML) kepada TRI Angkatan Udara.

m. Dioroma Penerbangan Pesawat Jet Pertama tanggal 21 Januari 1956. n. Operasi Jaya Wijaya dalam Trikora tanggal 19 Desember 1961.

B. RUANG DIOLAMA IV Di ruangan ini ditempatkan diorama SKSD (Sistem Komunikasi Satelit Domestik) Palapa, yang meliputi : a. Diorama Alam Antariksa b. Diorama saat peresmian SKSD Palapa di Senayan Jakarta oleh Presiden RI Soeharto, pada tanggal 16 Agustus 1976. c. Diorama Ruang Kendali Satelit di Cilengsi Cibenong Jawa Barat

d. Model Satelit Palapa Type A dan B beserta Pesawat pengangkutannya (Discovery/Ulang Alik) e. Diorama tempat Peluncuran Pesawat pembawa satelit. f. Diorama pembangunan sarana perkotaan dengan memanfaatkan adanya jasa satelit untuk komunikasi sehingga mempercepat lajunya pembangunan.

C. RUANG MINAT DIRGANTARA Di ruangan ini disajikan beberapa koleksi kedirgantaraan, yang nantinya diharapkan dapat menarik perhatian para pengunjung/generasi muda agar menyukai dan menimbulkan minat untuk mempelajari tentang nuansa kedirgantaraan. Adapun koleksi-koleksi yang dipamerkan meliputi : 1. Badge Komando Wilayah dan Fungsional TNI Angkatan Udara a. Badge Komando Wilayah Udara I b. Badge Komando Wilayah Udara III c. Badge Komando Wilayah Udara IV d. Badge Komando Wilayah Udara V e. Badge Komando Wilayah Udara VII 2. Perkembangan Skadron Udara TNI Angkatan Udara Pada awal tahun 1960-an di samping Skadron yang sudah ada, dibangun skadron baru pula : a. Skadron Helikopter 1) Skadron 6 - MI-4 di Atang Sanjaya 2) Skadron 7 - Bell-204B di Atang Sanjaya

3) Skadron 8,9 b. Skadron Tempur 1) Skadron 11

- Bell-47C-21J di Atang Sanjaya - MI-6 di Atang sanjaya - Mig-17 di P.U. Kemayoran Jakarta - Mig-15 UTI di Pankalan Udara Kemayoran Jakarata - Mig-19 di Pangkalan Udara Kemayoran Jakarta - C-140/Jet Star di Halimperdanakusuma - II-14/Avia di Halim Perdanakusuma - C-47/Dakota di Halim Perdanakusuma - L-140/402 di Halim Perdanakusuma - C-130B/Hercules di Hussein Sastranegara - AN-12B/Antonov di Hussein Sastranegara - IL-28 di Kemayoran Jakarta - TU-16 di Iswahyudi Madiun - TU-16 KS di Iswahyudi Madiun - Peluncur Peluru Kendali di Cibinong - Peluncur Peluru Kendali di Tangerang - Peluncur Peluru Kendali di Cilincing - Peluncur Peluru Kendali di Pondok Gede, Jakarta

2) Skadron 12 c. Skadron Lintas Udara 1) Skadron 17

2) Skadron 31 3) Skadron 32 d. Skadron Pembom 1) Skadron 21 2) Skadron 41 3) Skadron 42 e. Skadron Peluru Kendali 1) Skadron 101 2) Skadron 102 3) Skadron 103 4) Skadron 104

Mulai 1974 Pada awal Renstra (Rencana Strategis) I Hankam tahun 1974, kekuatan pesawat TNI AU disusun dalam Skadron sebagai berikut: a. Skadron Angkut Berat-C130 B/Herculles b. Skadron Angkut Sedang-C-47 Dakota c. Skadron Taktik P-51 /Mustang d. Skadron Komposisi Angkutan Khusus SAR dan Patroli Maritim Uf-1 dan Uf-2 e. Skadron Helikopter UH-34 danm Bell f. Skadron Buru Sergap F-86 Sabre dan T-33 Bird untuk pendidikan dibentuk skadron sebagai berikut : 1. Skadron Latih Mula T-34 A Mentor 2. Skadron Latih Dasar T-34 C 1 Charlie 3. Skadron Latih Lanjut L-29 Dolphine Di samping itu masih diupayakan pengembangan alutsista udara yang terbatas pada pesawat udara : a. UF-2 Albatros/Patroli MAritim b. OV-10 Bronco/Taktis

c. F-27 Troopship/Angkut d. SA-350 Puma/Helikopter e. Bell-47 G Sioux/Helikopter Dalam perkembangan selanjutnya maka tahun 1980-an dan seterusnya jenis pesawat sebagai kekuatan masing-masing skadron mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan. a. Skadron 1 Pengebom - OV-10 Bronco di Lanud Abdulrachman Saleh Malang b. Skadron 2 Angkut Ringan - F-27 Troopship di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta c. Skadron 3 Tempur - F-16 Fighting Falcon di Lanud Iswahyudi Madiun d. Skadron 4 Intai Darat - Casa di Lanud Abdulrachman Saleh Malang e. skadron 5 Intai Laut - Boeng 707 di Lanud Hasanuddin Ujung Pandang Sulawesi f. Skadron 6 helikopter - Sikorsky, Twin Pack di Lanud Atang Sanjaya Bogor g. Skadron 7 Helikopter - Bell Solloy di Lanud Suryadarma Kalijati h. Skadron 8 Helikopter - Puma di Lanud Atang Sanjaya Bogor i. Skadron 11 Tempur - Sukhoi di Lanud hasanuddin Ujung Pandang j. Skadron 12 Tempur - A 4 Skyhawk di Lanud Supadio Pontianak k. Skadron 14 TEmpur - F-15 Tiger di Lanud Iswahyudi Madiun l. Skadron 15 Latih Lanjut - HS Hawk di Lanud Iswahyudi Madiun m. Skadron 17 VIP - F-28, C-130 Hercules, Boing 737 di Lanud Halim Perdanakusuma n. Skadron 31 Angkut Berat - C- 130 Hercules di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta o. Skadron 31 Angkut Berat - C- 130 Hercules di Lanud Abdulrachman Saleh Malang

3. Starlite-PK-SLX Negara asal Jenis Pabrik pembuatan

Rentang Sayap Luas Sayap

: Indonesia : Pesawat Olah Raga : Dibuat pada tahun 1986 oleh Tim Starlite Bandung Indonesia berdasarkan lisensi dari Mr. Mark Brown (Pencipta Pesawat Starlite dari USA) atas ide almarhum Marsma TNI Pribadi di bawah pimpinan Teknisi Kolonel Cpl Handoyo. : 21,5 feet : 57 Sq feet

Panjang seluruhnya Tinggi seluruhnya Berat kosong Berat kotor Daya beban Kapasitas BBM Tempat duduk Mesin Daya maximum Bahan Bakar Minyak pelumas MI-1 ±) Kecepatan jelajah Kecepatan merendah Kecepatan menanjak Catatan

: 16,4 feet : 4 feet : 230 Lbs : 480 Lbs : 12 Lbs/hp : 8 Galon (US) : 1 (satu) : Rotaz 447 : 40 HP/6500 : 100 Oktan Rating (Premix) : Campuran Gradawi Tinggi 2 T Oil (2% Bel Roy. : 120 mph : 42 Mph : 120 ft/menit : 1 feet = 0,3048 M 1Galon = 4.546 Liter 1 Kg = 2.2048 Lbs : - Pesawat ini milik Almarhum Marsma TNI Purn. H. Pribadi - Pesawat Starlite pertama kali dibuat oleh Mr. Mark Brown dari USA (sebagai pencipta) namun dalam beberapa test fligh selalu gagal, bahkan membawa korban jiwa. Atas ide Marsekal Pertama Pribadi dengan lisensi/izin dari Mr. Mark Brown, dilakukan modifikasi oleh Tim Starlite Bandung Indonesia di bawah pimpinan teknisi Kol. Purn. Cpl. Hardoyo. Hasil modifikasi ini dengan Registrasi Starlite PFSLX mendapat restu dan pengakuan. - Test flight pertama di lakukan pada tanggal 11 Juli 1987 oleh Marsma Pribadi sendiri - Pada tanggal 9 Oktober 1987 Diikutsertakan dalam pameran static/ Jakarta Air Show di HAlim Perdanakusuma Jakarta (diterbangkan dari Lanud Husein Sastranegara Bandung ke Halim Perdanakusuma Jakarta - Pada tanggal 10 Mei 1990 Starlite PK-SLX mencapai 30 jam terbang

Riwayat singkat

-

-

-

Direncanakan segera untuk cross country ke Lanud Abdulrachman Saleh Malang, namun belum terlaksana karena Marsma TNI Pribadi wafat pada tanggal 23 Agustus 1990 Sebagai pesawat jenis olah raga yang telah berhasil dalam berbagai tes dan flight, besar pengaruhnya atau memberikan dorongan yang berarti bagi perkembangan dan kemajuan FASI khususnya dalam upaya penanaman Minat Dirgantara. Pesawat Starlite PK-SLX diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala pada tanggal 15 Agustus 1991

4. L-4J PIPER Negara asal : Amerika Serikat Jenis : Pesawat Latih Dasar Pengintai Berat : 553 Kg Panjang Pesawat : 6,82 M Panjang Sayap : 10,73 M Tinggi Terbang maximum : 6.600 M Kecepatan terbang : 140 Km/jam Akomodasi : 2 awak pesawat Sejarah : 1950 : Kekuatan Skadron IV / Pengintai darat PAngkalan Udara Semplak Bogor 1950-1965 : Operasi penumpasan DII/TII di Jawa Barat 1985 : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Di Ruang Minat Dirgantara juga dipamerkan koleksi lainnya, yaitu : Koleksi buku-buku terbitan TNI-AU Uniform/seragam yang digunakan oleh TNI Angkatan Udara Lukisan pesawat terbang decade 1980-an karya Kolonel Udara Noordono

BEBERAPA KOLEKSI MUSEUM YANG DIPAJANG DI LUAR GEDUNG MUSEUM 1. PBY-5A (CATALINA) Negara asal : Amerika Serikat

Jenis Pabrik Motor Panjang sayap Panjang pesawat Tinggi pesawat Berat kosong Berat maximum Berat normal Kecepatan maximum Kecepatan jelajah Jarak jelajah Tinggi terbang Akomodasi Sejarah : 1945 – 1949 1950 1961-1963 1964 1991

: Pesawat pembob/patroli/penolong/penumpang. : Douglas : Piston 2 ea R-1.830-92/P & W : 104 Ft : 64 Ft : 21 Ft : 27.300 Lb : 36.000 Lb : 32.000 Lb : 314 Km/jam : 208 km/jam : 3200 Km/jam : 5500 M : 7 awak pesawat : Jenis Catalina ini pernah diginakan untuk kepentingan perjuangan kemerdekaan RI. : Dimasukan dalam jajaran kekuatan Skadron 5, berpangkalan di Lanud Abdurachman saleh Malang : Disiapkan dan digunakan dalam operasi udara, Dalam perjuangan Trikora : Disiapkan dan digunakan dalam operasi udara, Dalam perjuangan Dwikora : Diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

2. TUPOLEV TU-16 B/KS Negara asal Jenis Pabrik Motor Panjang sayap Panjang pesawat Tinggi pesawat Berat maximum Panjang maximum Kecepatan jelajah Persenjataan Akomodasi

USSR : Pesawat pembom : Tupolev USSR : Turbo Jet 2 ea AM-3, Mikulin USSR : 33,5 M (110 Ft) : 36,5 M (120 Ft) : 10,8 M (35 Ft 6 in) : 68.000 Kg : 600 M (1.970 Ft) : 510 Knots (945 Km/jam) : 7 ea Cannon 23 mm, bom 9.000 Kg, bom Naval : 7 awak pesawat

Kecepatan jelajah Persenjataan Akomodasi Sejarah : 1961 1962 1992

: 510 knots (945 km/jam) : 7 ea kanon 23 mm, bom 9.000 kg, bom naval : 7 awak pesawat : Dimasukan dalam jajaran kekuatan Skadron 42 TNI AU berkedudukan di Lanud Iswahyudi Madiun. : Disiapakan dan digunakan untuk operasi udara dalam perjuangan Trikora : Diabadiakan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala

3. UF 1 ALBATROS IR-0117 Negara asal : Amerika Serikat Jenis : Pesawat angkutan sedang Penggunaan : Untuk SAR, amphibi Pabrik : Grumman Aircracft USA Motor : Piston 2 ea R-1.820 76 A (UF-1) R-1.820 84 B (UF-1) Panjang sayap : 29,42 M (98 Ft 8 in) Panjang pesawat : 19,12 M (62 Ft 10 in) Tinggi pesawat : 7,78 Ft Berat Kosong : 10.380 Kg Berat maximum : 17.010 Kg Kecepatan jelajah : 205 Knots (379 Km/jam) Persenjataan Akomodasi Sejarah : 1955 : Torpedo dan Roket : 7 awak pesawat : Dima sukkan dalam jajaran kekuatan Skadron 5 Intai Laut TNI AU dan sebagai pesawat SAR, berkedudukan di Lanud Abdurachman Saleh. : Disiapkan dalam operasi penumpasan pemberontakan PRRI / Permesta : Digunakan dalam operasi udara pembebasan Irian Barat/ Trikora : Jenis ini dengan Reg. UF-2, memperkuat dalam Skadron 5

1958 1962 1975

1992

: Diabadiakan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala 4. PELURU KENDALI KS Negara asal : Uni Soviet Jenis : Rudal udara ke darat Sasaran : kapal laut, gedung, pabrik, gedung amunisi Jarak tembak : 70 km-110 km Tinggi tembak : 15,000 M dari permukaan laut Pengadilan : Aktif homing. Motor : Turbo jet Berat roket : 3,250 kg Bahan Bakar : Avtur (3,301) Daerah kerusakan : 3 sampai dengan 8 km Sejarah 1962.1963 : operasi trikora 1964 : operasi dwikora 1985 : diabadikan di museum TNI AU Dirgantara Mandala.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->