Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI III

Karakteristik dan Persyaratan Pengemas untuk


Sediaan Parenteral

DISUSUN OLEH
ANNISA KARTIKA SARI
G 701 11 013

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2014

BAB I
PENDAHULUAN

Kemasan adalah wadah, tutup dan selubung sebelah luar. Kemasan dapat
mempengaruhi stabilitas dan mutu produk akhir. Untuk menjamin stabilitas dari
produk ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bahan kemas primer karena
kontak langsung dengan produk baik cair, padat, semi padat. Bahan kemas primer
adalah bahan kemas yang kontak langsung dengan bahan yang dikemas-produk
antara lain: strip/ blister, botol, ampul, vial, plastik dan lain-lain.
Bahan kemas sekunder adalah pembungkus selanjutnya, biasanya dikenal
dengan inner box. Bahan kemasan primer adalah pembungkus setelah sekunder
biasanya berupa outer box. Untuk menjamin stabilitas produk, harus ditetapkan
syarat yang sangat tegas terhadap bahan kemas primer, yang seringkali menyatu
dengan seluruh bahan yang diisikan baik berupa cairan dan semi padatan. Bahan
kemas sekunder pada umumnya tidak berpengaruh terhadap stabilitas
Setelah proses pembuatan sediaan injeksi selesai, maka dilakukan proses
packaging dengan menggunakan bahan pengemas. Terdapat tiga jenis bahan
pengemas, yaitu :
1. Pengemas primer, merupakan pengemas yang berhubungan langsung dengan
obat, contohnya : botol, ampul dan vial.
2. Pengemas sekunder, contohnya dos serta perlengkapan pengemas seperti
sendok, brosur / leaflet
3. Pengemas tersier, contoh master box

BAB II
PEMBAHASAN

Dalam industri farmasi, kemasan yang terpilih harus cukup melindungi


kelengkapan suatu produk. Karenanya seleksi kemasan dimulai dengan penetuan
sifat-sifat fisika dan kimia dari produk itu, keperluan melindunginya, dan tuntutan
pemasarannya. Secara umum, hal-hal penting yang harus diperhatikan dari wadah
adalah:
a) Harus cukup kuat untuk menjaga isi wadah dari kerusakan
b) Bahan yang digunakan untuk membuat wadah tidak bereaksi dengan isi wadah
c) Penutup wadah harus bisa mencegah isi:

Kehilangan yang tidak diinginkan dari kandungan isi wadah

Kontaminasi produk oleh kotoran yang masuk seperti mikroorganisme


atau uap yang akan mempengaruhi penampilan dan bau produk.

d) Untuk sediaan jenis tertentu harus dapat melindungi isi wadah dari cahaya
e) Bahan aktif atau komponen obat lainnya tidak boleh diadsorpsi oleh bahan
pembuat wadah dan penutupnya, wadah dan penutup harus mencegah
terjadinya difusi melalui dinding wadah serta wadah tidak boleh melepaskan
partikel asing ke dalam isi wadah
f) Menunjukkan penampilan sediaan farmasi yang menarik

Material yang digunakan memiliki sifat yang berbeda. Contohnya gelas,


porselen, logam, produk selulosa (kertas, lem, gelas sel). Jenis gom, gabus, bahan
sintetis dan lain-lain. Sebagai jenis pengemas khusus adalah kemasan pengaman
bagi anak-anak. Jenis ini berfungsi untuk menghalangi atau menyulitkan
pengambilan obat oleh anak kecil, sehingga bahaya keracunan obat dapat
dihindari. Syarat ini direalisasikan misalnya pada larutan tetes melalui mekanisme
penutup ganda. Kemasan sekali pakai diistilahkan dengan kemasan satu dosis.

Bahan pengemas yang biasa digunakan sebagai sediaan steril yaitu Gelas, Plastik,
Elastik / karet, dan metal/logam.
TIPE PENGEMAS PRIMER (WADAH DAN TUTUP)
Menurut KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN
MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.00.05.4.1745 TENTANG
KOSMETIK, wadah adalah kemasan yang bersentuhan langsung dengan isi.
Pengemas diartikan sebagai wadah, tutup, dan selubung sebelah luar, artinya
keseluruhan bahan kemas, dengannya obat ditransportasikan dan/atau disimpan.
Kemasan adalah penyatuan dari bahan yang dikemas (bahan yang diisikan) dan
pengemas.
KEMASAN PRIMER
Bahan kemas yang kontak langsung dengan bahan yang dikemas, dinyatakan
sebagai bahan kemas primer.
Jenis kemasan primer dalam sediaan steril terdapat wadah gelas, wadah plastik,
wadah metal, wadah karet.

Bahan pengemas yang biasa digunakan sebagai sediaan steril yaitu :


A. GELAS
Gelas merupakan salah satu bahan pengemas yang pada dasarnya bersifat
inert secara kimiawi, tidak permeable, kuat, keras, dan disetujui FDA. Gelas tidak
menurun mutunya pada penyimpanan dan dengan sistem penutupan yang
sekucupnya dapat menjadi suatu penghalang yang sangat baik terhadap hampir
semua unsur kecuali cahaya. Gelas diperoleh melalui leburan bersama dari soda,
batu kapur dan kuarsa, merupakan suatu leburan dingin serta terdiri dari kisi
SiO4- tetraeter, yang terdeposit didalam ruang-ruang antar ion Na+ dan Cl- . gelas
kapur natrium normal terdiri 75% SiO2. 15% Na2O dan 10% CaO. Kualitas gelas
yang berbeda ditandai oleh kelas hidrolitik atau kompleks resistensi. Melalui
proses manipulasi permukaan, resistensi hidrolitik gelas dapat sangat diperbaiki
(dikompenansi). Pelepasan alkali sangat dikurangi air (diuapi) pada suhu tinggi.

Gelas berwarna yang digunakan untuk menyimpan bahan obat peka cahaya,
diperoleh melalui penambahan logam oksida. Kekurangan utama gelas sebagai
bahan pengemas adalah mudah pecah dan berat (Dhadhang, WK., Teuku, NSS.
2012)

Gelas yang digunakan untuk mengemas sediaan farmasi digolongkan


menjadi 4 katagori, tergantung pada bahan kimia gelas tersebut dan kemampuan
untuk mencegah penguraian, antara lain :

Gelas

Komposisi

Sifat-sifat

Aplikasi

Tipe 1

Borosilikat

Resistensi terhadap hidrolisis Sediaan


tinggi,eksporasi termal rendah

parenteral

asidik

dan

netral, bisa juga untuk sediaan


alkali yang sama

Tipe II

Kaca soda kapur Resistensi


(diperlukan

hidrolitik

tinggi

relatif Sediaan

parenteral

asidik

dan

netral, bisa juga untuk sediaan

dealkalisasi)

alkalin yang sesuai

Tipe III Kaca soda kapur Sama dengan tipe II, tapi Cairan anhidrat dan produk kurang,
(tidak mengalami dengan pelepasan oksida

sediaan parenteral jika sesuai

perlakuan
Tipe

Kaca soda kapur Resistensi

NP

(penggunaan
umum)

rendah

hidrolitik

sangat Hanya digunakan untuksediaaan


non parenteral (oral, tipikal, dsb)

Gelas terutama tersusun dari pasir (silica yang hampir murni), soda abu
(natrium karbonat), batu kapur (kalsium karbonat), dan cullet (pecahan gelas yang
dicampur denganbatch pembuatan dan berfungsi sebagai bahan penyatu untuk
seluruh campuran). Kation yang paling umum didapatkan dalam bahan gelas
farmasi adalah silicon, alumunium, boron, natrium, kalium, kalsium, magnesium,
zink, dan barium. Satu-satunya anion yang penting adalah oksigen. Boron oksida
ditambahkan untuk membantu proses pencairan. Timah dalam jumlah kecil
membuat gelas jernih dan berkilau. Alumina (Alumunium oksida) sering
digunakan menambah kekerasan dan keawetan serta menambah ketahanan
terhadap reaksi kimia
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN

Keunggulan menggunakan gelas antara lain, inert, kedap udara, dibuat dari

bahan yang relatif murah, tidak mudah terbakar, bentuknya tetap, mudah diisi,
mudah ditutup, dapat dikemas menggunakan packaging line, mudah disterilisasi,
mudah dibersihkan dan dapat digunakan kembali.
Kelemahan gelas sebagai wadah untuk menyimpan sediaan semisolid
dibandingkan dengan logam dan plastik adalah lebih rapuh (mudah pecah) dan
lebih berat untuk pengiriman. Kemasan untuk konsumen yang terbuat dari gelas
bukan merupakan wadah yang paling tidak higienis karena wadah akan sering
dibuka berulang ulang oleh konsumen, dimana tangannya tidak selalu bersih
Kemasan gelas/kaca mempunyai sifat sebagai berikut : tembus pandang,
kuat, mudah dibentuk, lembam, tahan pemanasan, pelindung terbaik terhadap
kontaminasi dan flavor, tidak tembus gas, cairan dan padatan, dapat diberi warna,
dapat dipakai kembali (returnable), relatif murah (Stefanus, 2006).
Macam-macam bentuk kemasan gelas/ kaca yaitu :

Botol (leher tinggi, mulut sempit)

Jar (leher pendek, mulut lebar)

Tumbler (tanpa leher dan finish)

Jugs (leher pendek, ada pegangan)

Vial dan ampul (ukuran kecil, untuk obat/bumbu/zat kimia, dll.)

(Goeswin, 2009).

Pelepasan alkali dari gelas dapat ditentukan melalui cara yang berlainan.
Untuk maksud tersebut dapat digunakan dua metode : metode serbuk gelas
(metode lumatan) dan metode permukaan. Pada metode serbuk gelas, gelas
diserbukan, disuspensikan dalam aseton. Setelah ditambahkan air harus dilakukan
pemanasan dalam autoklaf dan ditetesi larutan indicator (merah metil) kemudian
dititrasi dengan asam hidroklorida. Pada metode permukaan, wadah gelas yang
diisikan dengan air bebas CO2 dan mengandung sejumlah asam hidroklorida atau
asam sulfat tertentu dan merah metal sebagai indicator. Setelah disterilkan wadah
tertutup dalam autoklaf tidak boleh menghasilkan perubahan warna (Voight,
1995).

B. PLASTIK
Plastik merupakan padatan, terdiri dari molekul tinggi yang dominan, zat
organic, bahan yang dapat berubah bentuk secara praktis pada kondisi tertentu
atau juga barang yang dibuat dari padanya. Plastik dapat dibedakan atas
termoplastik (misalnya harsa, fenol, poliester) dan duroplastik. Termoplastik
menjadi plastis jika dipanaskan dan dalam keadaan seperti ini dapat dibentuk
menjadi kerangka dasar yang dikehendaki. Pada saat pendinginan, material
membeku dan bentuknya stabil. Duroplastik produk awal yang belum terajut,
dikempa dalam cetakan yang dipanaskan, dimana terjadi perajutan dan pengerasan
akibat reaksi kimia kemudian memperoleh bentuk akhirnya (Voight, 1995).

Penggunaan plastik sebagai pengemas pangan dan obat terutama karena


keunggulannya dalam hal bentuknya yang fleksibel sehingga mudah mengikuti
bentuk pangan yang dikemas, berbobot ringan, tidak mudah pecah, bersifat
transparan/tembus pandang, mudah diberi label dan dibuat dalam aneka warna,
dapat diproduksi secara massal, harga relative murah dan terdapat berbagai jenis
pilihan bahan dasar plastik. Walaupun plastik memiliki banyak keunggulan,
terdapat pula kelemahan plastik bila digunakan sebagai kemasan pangan, yaitu
jenis tertentu (misalnya PE, PP, PVC) tidak tahan panas, berpotensi melepaskan
migran berbahaya yang berasal dari sisa monomer dari polimer dan plastik
merupakan bahan yang sulit terbiodegradasi sehingga dapat mencemari
lingkungan (Anonim, 2010).

Menurut pembentukannya dapat dibedakan bahan pada sintesis produk


polimerisasi, poliadisi dan polikondensasi. Pada polimerisasi, monomer, senyawa
asal tak jenuh. Produk polimerisasi misalnya polietilen, polipropilen, polivinil
klorida. Melalui poliadisi dapat terbentuk antara lain poliuretan dan harsa
epoksida. Pada proses polikondensasi perajutan dua molekul monomer
berlangsung secara kontinyu dengan diikuti pembentukan produk reaksi molecular
rendah (misalnya HCI, NaCI, NH3, H2O). Secara umum senyawa polikondensat
dan poliadisi lebih cocok digunakan untuk kepentingan medisin dan farmasetik
daripada polimerisat, oleh karena itu hanya sedikit atau bahkan tidak memerlukan
bahan tambahan, sehingga toksisitas hanya bersumber dari bahan asalnya
(Anonim, 2006).

Plastik yang digunakan sebagai wadah produk sediaan farmasi umumnya


terbuat dari, polimer-polimer. Contohnya polietilen, polietilen tereftalat (PET) dan
polietilen tereftalat, polipropilen (PP), polivinil khlorida (PVC).
a. Polietilen

Digunakan untuk bentuk sediaan oral kering yang tidak akan direkonstitusi
menjadi bentuk larutan.

b. Polietilen tereftalat (PET) dan polietilen tereftalat

PET adalah polimer kondensasi berbentuk kristalin yang dibuat dari reaksi asam
tereftalat dengan etilenglikol, digunakan terutama sebagai kemasan minuman
berkarbonatasi dan untuk pengemasan sediaan oral.
c. Polipropilen (PP)

PP adalah polimer yang termasuk poliolefin, dibuat melalui cara polimerisasi


propilen. Digunakan untuk pengemasan padat kering atau sediaan cair oral.
d. Polivinil khlorida (PVC)

PVC adalah salah satu kemasan obat yang umum digunakan di Amerika
Serikat setelah HDPE. Digunakan terutama untuk bentuk kemasan kaku dan
produksi film (sebagian besar sebagai kantong untuk cairan intravena).

Pembuatan

polimer

tinggi sering membutuhkan katalisator dan

pengendali polimerisasi. Oleh karena itu secara umum diperlukan tambahan bahan
pembantu untuk menghasilkan material plastic yang sesuai dengan tujuan
penggunaanya. Pembuatan lunak bahan ini digunakan untuk menghasilkan
plastisitas, elastisitas dan fleksibilitas yang diperlukan. Yang tergolong dalam

bahan ini antara lain gliserrol, glikol, alcohol tinggi, ester dari asam dikarboksilat
(asam ftalat, asam adipat, asam sebasinat) (Anonim, 2006).

Beberapa faktor yang menyebabkan industri farmasi semakin banyak


menggunakan wadah plastic antara lain :

Jika dibandingan dengan wadah gelas, wadah plastic beratnya lebih ringan dan
lebih tahan terhadap benturan sehingan biaya pengangkutan lebih murah dan
resiko wadah pecah lebih kecil.

Desain wadahnya beragam dan penerimaan pasien terhadap wadah plastic


cukup baik.

Penggunaan wadah plastic relative efektif. Dalam bentuk botol plastic yang
dapat dipencet dapat menyebabkan wadah berfungsi ganda baik sebagai
pengemas maupun sebagai aplikator sediaan-sediaan seperti obat mata, obat
hidung, dan lotio (Dhadhang, WK., Teuku, NSS. 2012).
Penggunaan plastik pada bidang farmasetik dan medisin mensyaratkan

pemahaman akan sifat material serta juga pengamatan kemungkinan terjadinya


antaraksi dengan bahan yang diisikan, oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan yaitu sifat mekanik (misalnya pada wadah yang kaku atau fleksibel),
sifat optik (pada zat pekat cahaya), kemantapan terhadap suhu dan tekanan, yang
berkaitan dengan permeabilitas gas uap air dan bahan penguap. Disamping itu,
banyaknya kemugkinan antraksi antara meterial pengemas dan bahan yang
diisikan tergantung dari sifat fisika dan bahan kimia yang diisikan, sifat kimia dan
fisika materi pengemas, ukuran dan luas permukaan yang kontak dari bahan yang
diisikan dan bahan pengemas, lama kontak dan suhu (Goeswin, 2009).
Syarat bahan sintetis yang digunakan secara farmasetik,yaitu :

Material

plastik

harus

sedemikian

tebal,

sehingga

lintasan

untuk

mikroorganisme tidak dimungkinkan, dan sebaiknya tidak permeabel untuk


uap dan gas.

Harus dapat disterilkan; jika mungkin dalam keadaan kosong maupun terisi.

Tidak boleh membebaskan bahan asing kedalam kandungannya (absorbsi,


absorbsi). Komponen toksis atau komponen lain dari bahan sintetis yang dapat
bermigrasi kedalam kandungan harus serendah mungkin, sehingga tidak
bersifat merusak.

Sebaiknya menunjukan kemantapan absolut terhadap bahan obat,bahan


pembantu galenik dan bahan pelarut semua jenis.

Tidak boleh menimbulkan perubahan konsentrasi. Yang mempengaruhi efek


terapetik dari preparat.

Bahan sintetis untuk wadah larutan injeksi, mengingat kontrol pengamatan


yangdilakukan.harus memiliki transparansi yang baik.

Bahan sintetis, tergantung tujuan penggunaannya harus mempunyai elastisitas


yang memuaskan. Kekompakan tekan atau mantap terhadap koyakan dan
penuaan.

Bahan sintetis harus dapat dilas dengan baik, dan dapat dibuat dengan murah
(Anonim, 1995)

C. ELASTIK
Elastik adalah bahan yang berbentuk dari zat-zat organik, padat,
didominasi oleh polimer tinggi, yang menunjukan sifat seperti karet elastis
contohnya tutup botol infus (Goeswin,2009). Elastik ini terbuat dari produk karet
alam, karet sintesis dan bahan sejenis karet. Elastisitas karet memiliki gaya tarik
yang relatif rendah sehingga akan terjadi peregangan yang kuat. Elastik dalam
keadaan tidak meregang adalah amorf, pada saat meregang muncul sifat
kristalinitasnya (Lukas,2006).
Bahan karet seperti produk karet sintesis dapat divulkanisasi hal ini untuk
memperoleh elastisitasnya,

contohnya vulkanisasi

karet

mentah

dengan

penambahan belerang dan pemanasan. Pada proses pembuatan terdapat bahanbahan pembantu diantaranya :

1. Katalisator : Senyawa ini mempercepat proses polimerisasi ( misalnya


peroksida sebagai suplier oksigen).
2. Pempercepat vulkanisasi : senyawa yang digunakan yaitu senyawa nitrogen
organik atau belerang seperti amin sekunder, santogenat, ditiokarbamat, tiazol
atau bahan anorganik, seperti magnesium oksida, kalsium hidroksida, antimon
trisulfida, atau antimon pentasulfida.
3. Inhibitor : senyawa yang berfungsi sebagai penghambat proses vulkanisasi
yang dapat dikendalikan setelah mencapai kekerasan karet yang dikehendaki
(misalnya garam timbal,nikel dan besi).
4. Stabilisator atau bahan pelindung proses penuaan contoh senyawa fenol.
5. Modifikator : senyawa yang berfungsi untuk memperbaik bentuk dan kualitas
dari produk, contohnya bahan pengeras, parafin cair, pengedap pori dsb.
6. Bahan pengisi : senyawa ini digunakan untuk memperbaiki sifat mekanis
contoh pasir, asbes dsb.
7. Bahan pewarna, bahan pelindung cahaya, bahan penutup bau dan bahan anti
terbakar
Jenis-jenis elastik antara lain :
a. Karet alam

Karet mentah terdiri dari hidrokarbon 93,3-93,6 %. Seluruh jenis karet alam
merupakan polisopren dengan rumus kimia(C5H8)n dengan konfigurasi cis- 1,4
yang jumlahnya nyaris 100% dan memiliki berat molekul antara 300.000 dan
700.000 Karet mentah diperoleh dari lateks ( getah) Hevea brasiliensis dan
Euphorbiaceae lainnya. Tumbuhan penghasil penghasil karet juga termasuk famili
Apocyaceae, Moraceae dan Compositae.
b. Produk perubahan dari karet alam

Karet klor diperoleh melalui pengklorinasian karet mentah dalam karbon


tetraklorida pasa suhu 80-110 oC. Kandungan klor berjumlah sampai 65 %
pada suhu di atas 80 oC terjadi penguraian( pemisahan HCl). Keuntungannya

terletak pada kekerasannya, tidak mudah terbakar dan memiliki kualitas yang
lebih baik dalam alkali dan asam.

Karet siklo merupakan produk siklinisasi yang terbentuk melalui pemanasan


karet mentah dengan asam sulfonilat atau sulfoklorida. Karet siklo stabil
terhadap lemak, asam encer, dan alkali, akan tetapi rusak oleh hodrokarbon
alifatik dan aromatik. Digunakan untuk membuat salutan pada material wadah.

Karet sintetis memiliki kemiripan dengan karet alam dalam bangun kimianya
atau sifat fisika kimianya. Karet jenis ini juga digunakan dalam campuran
dengan karet alam.

Produk ini mempunyai daya tahan mekanis yang baik, permeabilitas uap air dan
gas yang cukup, serta stabilitas yang baik terhadap minyak lemak dan parafin.
a. Poliklorbutadiena ( karet kloropren)

Pembuatannya berlangsung melelui polimerisasi dari kloropren (2-klor-1,3butadiena). Produk ini memiliki kekerasan yang besar, stabil terhadap pengaruh
oksidatif, minyak mineral, minyak lemak, asam dan basa encer. Permeabilitas air
dan gasnya, rendah. Mereka melunak sejak suhu kira-kira 600C (Anonim,1995).

b. Polisopren(karet isopren, karet metil)

Sifat dan penggunaannya identik dengan karet alam. Polisorpen terbentuk melalui
polimerisasi dari isopren (Anonim,1995)..

c. Polisobutilen (karet butil)

Karet butil diperoleh melalui polimerisasi campuran dari isobutan (97 %) dengan
sedikit isopren atau butadiena dalam metilen klorida pada suhu sekitar -100C
(Anonim,1995).
d. Karet polisulfida

Tieolastik merupakan polikondensat dari alkalipolisulfpida dan dihalogenida


alifatik. Mereka memiliki stabilitas pembengkakan terhadap bahan pelarut, stabil
terhadap penuaan dan oksidasi, dan kekompakan mekanisnya relatif rendah.
e. Karet silicon

Karet silikon stabil terhadap minyak dan lemak serta tidak peka suhu.
Permeabilitas gasnya, sangat tinggi. Digunakan antara lain untuk material selang
medicine, farmasi dan material tutup serta bagian sintetis untuk implantasi.
f. Poliuretan

Poliuretan ini mirip karet diperoleh melalui penggantian diisosianat dengan


poliester rantai panjang, mengandung gugus hidroksil dan diakhiri dengan
perajutan. Sifatnya tidak stabil terhadap asam, basa dan air mendidih, tetapi
kompak terhadap minyak dan gesekan yang tinggi (Anonim,1995).

D. METAL

Penggunaan metal pada produk sediaan farmasi ini relatif terbatas. Metal ini
digunakan sebagai material kemasan yang memiliki bentuk dan sifat yang sukar
diganti dengan kemasan lain walupun metal ini mudah teroksidasi dan
membentuk koosi . Metal yang biasa digunakan yaitu timah, aluminium dan baja.
Kegunaan dari masing-masing metal :

1. Timah sering digunakan untuk produksi kaleng erosol dengan cara


electroplating menjadi bentuk lembaran baja untuk meningkatkan resistensi
terhadap korosi dan untuk memfasilitasi penyolderan.
2.

Aluminium digunakan dalam bentuk murni sebagai foil. Sering aluminium


foil digunakan sebagai lapisan impermeable dalam laminat multilapis yang

dapat menyertakn pula kertas dan plastic. Foil aluminium dapat dibentuk
menjadi kontener kaku, kontener semi kaku, konstruksi olister atau laminat.
3. Baja ini sering digunakan untuk kemasaan atau wadah penampung yang
besar.
Metal dibentuk menjadi sistem penghantaran obat yang lebih kompleks,seperti
inhaler sustained release, inhaler serbuk kering, alat untuk pemberian aerosol,
bahkan jarum yang siap untuk digunakan (Goeswin,2009).

Kelebihan dan kekurangan metal :

1. Kelebihannya dapat digunakan untuk membuat tromol atau drum, ruahan


material dimana diperlukan kekuatan yang besar. Metal dapat pula dibentuk
menjadi silinder bertekanan tinggi untuk menyimpan produk gas.
2. Kekurangan utama dari metal terikat dengan biaya dan control kualitas. Metal
lebih mahal harganya, dan lebih sulit untuk dibentuk menjadi kemasan yang
dapat dimanfaatkan. Untuk bentuk foil (lembaran tipis), banyak dihasilkan
kemasan cacat dikarenakan adanya lubang halus yang terbentuk selama proses
manufacturing sehingga sifatnya sangat tidak menguntungkan sebagai
penghalang (terutama pada foil yang sangat tipis) (Goeswin, 2009).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.1995.Farmakope Indonesia Edisi IV.Departemen Kesehatan RI.Jakarta.
Direktorat Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya Badan Pengawas Obat
dan Makanan RI. Materi Talkshow di RRI tentang Kemasan Pangan.
2008.
Goeswin,Agoes.2009.Sediaan farmasi Steril. ITB Press.Bandung.
Kurniawan, Dhadang Wahyu & Teuku Nanda, S.S . (2012) Teknologi Sediaan
Farmasi. Purwokerto : Laboratorium Farmasetika Unsoed.
Stefanus,Lukas.2006.Formulasi Sediaan Steril. C.V Andi Offset.Yogyakarta.
Tim Publikasi Bersama: Himpunan Polimer Indonesia, Inaplas, Federasi
Pengemas Indonesia. Produk Plastik yang Aman Digunakan. 2006.
Voight,R.1995.Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Gadjah Mada University
Press.Yogyakarta.