Anda di halaman 1dari 99

Modul II

Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

MODUL II
MANAJEMEN DAN PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN
DI UNIT RUANG RAWAT RUMAH SAKIT
(TM: 11 JPL; P: 9 JPL; PL: - JPL)
I. DESKRIPSI MODUL
Modul II ini terdiri dari 2 (dua) bagian. Modul pertama yaitu manajemen
pelayanan keperawatan yang menguraikan tentang fungsi-fungsi
manajemen dalam asuhan keperawatan, supervisi klinik, audit
keperawatan serta manajemen unit ruang rawat. Modul kedua
menguraikan tentang pengelolaan asuhan keperawatan di unit ruang
rawat mencakup: sistem klasifikasi pasien, kebutuhan perawat dan sistem
penjadwalan, metode pemberian asuhan keperawatan, kebutuhan saranaprasarana serta keterampilan spesifik dalam pemberian asuhan
keperawatan.
Modul ini bermanfaat dalam memberikan kompetensi bagi perawat
manajer unit ruang rawat tentang pengelolaan sumber-sumber untuk
terlaksananya asuhan keperawatan secara efektif dan efisien.
Pengalaman belajar meliputi: ceramah,
penugasan dan praktik lapangan.

diskusi,

kerja

kelompok,

II. KOMPETENSI
1. Mengaplikasikan konsep manajemen dalam pelayanan dan asuhan
keperawatan.
2. Melakukan supervisi dalam mengarahkan asuhan keperawatan
3. Melaksanakan audit keperawatan dalam menjamin mutu pelayanan
dan asuhan keperawatan
4. Mengidentifikasi klasifikasi pasien pada unit ruang rawat
5. Menetapkan kebutuhan tenaga sesuai dengan klasifikasi klien
6. Mampu menetapkan metode pemberian asuhan keperawatan
7. Mampu mengidentifikasi kebutuhan logistik keperawatan
8. Mampu mengelola proses keperawatan dan dokumentasi
9. Mengaplikasikan ketrampilan spesifik manajemen asuhan keperawatan
Komunikasi yang efektif, Delegasi, Koordinasi, Konsultasi, Coaching,
Advokasi, Kolaborasi.
III. Tujuan
Tujuan Pembelajaran Umum:
Mampu mengelola dan memberikan asuhan keperawatan pada unit ruang
rawat

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

31

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Tujuan Pembelajaran Khusus:


Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta mampu:
1. Menguraikan fungsi-fungsi manajemen dalam pelayanan/asuhan
keperawatan
2. Mengidentifikasi fungsi-fungsi manajemen dalam setiap proses
keperawatan
3. Menjelaskan supervisi keperawatan dalam fungsi pengarahan
4. Melaksanakan supervisi klinik dalam asuhan keperawatan
5. Menjelaskan audit keperawatan dalam fungsi pengawasan
6. Melaksanakan audit keperawatan
7. Mengidentifikasi profil klien pada unit ruang rawat
8. Menetapkan kebutuhan tenaga sesuai dengan profil klien
9. Menetapkan metode pemberian ashan keperawatan
10. Mengidentifikasi kebutuhan sarana dan prasaranan (kebutuhan logistik
keperawatan)
11. Menjelaskan proses keperawatan sebagai metode ilmiah asuham
keperawatan
12. Melakukan dokumentasi asuhan keperawatan
13. Melakukan komunikasi efektif dalam asuhan keperawatan
14. Melakukan delegasi dalam asuhan keperawatan
15. Melakukan koordinasi dengan unsur terkait dalam asuhan
keperawatan
16. Melakukan konsultasi dalam pengelolaan asuhan keperawatan
17. Melaksanakan kolaborasi dalam pelaksanakan pelayanan asuhan
keperawatan
18. Melakukan Coacing (bimbingan) dalam pengembangan kinerja
perawat.
19. Mengaplikasikan cara-cara melakukan advokasi pada berbagai situasi
yang dihadapi dilingkungan kerja masing-masing.
20. Memperlihatkan komitmen yang tinggi dalam pengelolaan asuhan
keperawatan di unit ruang rawat

IV. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN


1. Peran Kepemimpinan Dan Manajemen Keperawatan Dalam
Pelayanan Dan Asuhan Keperawatan
a. Fungsi-fungsi manajemen dalam asuhan keperawatan
b. Fungsi manajemen dalam tahapan proses keperawatan
c. Manajemen unit rawat inap
d. Peran pemimpin dan manajer dalam unit ruang rawat
e. Tugas lower manajer dalam unit ruang rawat
f. Diskusi dan kesimpulan
2. Supervisi Dalam Mengarahkan Asuhan Keperawatan
a. Pengertian, tujuan dan prinsip-prinsip supervisi
b. Supervisi keperawatan dalam fungsi pengarahan di unit ruang
rawat

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

32

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

c. Hal-hal yang tercakup dalam supervisi keperawatan,membuat


program, memberi arahan , observasi, coaching, pengawasan
dan evaluasi.
d. Tehnik tehnik dalam supervisi keperawatan
3. Audit Keperawatan
a. Pengertian audit keperawatan
b. Tujuan audit keperawatan
c. Audit keperawatan meningkatkan mutu asuhan keperawatan
d. Prinsip-prinsip audit keperawatan
e. Manfaat audit keperawatan
f. Langkah-langkah dalam proses audit keperawatan
4. Identifikasi Sistem Klasifikasi Pasien Pada Unit Ruang Rawat
a. Pengertian, tujuan sistim klasifikasi pasien
b. Karakteristik sistem klarsifikasi pasien
c. Komponen dari sistem klasifikasi pasien
d. Kategori klasifikasi pasien
5. Penetapan Kebutuhan Perawat, Tugas Dan Penjadwalan
a. Pengertian ketenagaan (staffing) pada unit ruang rawat
b. Komponen beban kerja perawat
c. Penentuan kualifikasi perawat
d. Penentuan jumlah perawat
e. Kebijakan yang diperlukan untuk penjadwalan perawat
f. Siklus penjadwalan perawat
6. Metoda Pemberian Asuhan Keperawatan
a. Metode pemberian asuhan keperawatan sebagai penentu
pencapaian tujuan unit ruang rawat
b. Dasar pertimbangan penetapan metoda asuhan keperawatan
c. Jenis metoda asuhan keperawatan
7.

Pengelolaan Kebutuhan Logistik Keperawatan


a. Penyusunan program pengadaan logistik keperawatan di unit
ruang rawat
b. Identifikasi kebutuhan logistik keperawatan di unit ruang rawat
c. Pengusulan pengadaan logistik keperawatan sesuai standar di
unit ruang rawat
d. Pencatatan logistik keperawatan di unit ruang rawat
e. Pencatatan utilisasi alat keperawatan di unit ruang rawat
f. Pelaporan inventarisasi alat keperawatan di unit ruang rawat

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

33

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

8. Aplikasi Proses Keperawatan Dan Dokumentasi


a. Pengertian proses keperawatan sebagai metode ilmiah asuhan
keperawatan
b. Proses membuat keputusan ilmiah dalam kontek proses
keperawatan
c. Keterampilan manajerial dalam proses keperawatan
d. Dokumentasi keperawatan dalam sistem informasi kesehatan
e. Aspek legal dalam dokumentasi keperawatan
f. Dokumentasi asuhan keperawatan pada setiap tahap proses
keperawatan
g. Bentuk-bentuk dokumentasi asuhan keperawatan dan contohcontoh
h. Faktor-faktor yang mempengaruhi dokumentasi asuhan
keperawatan
9. Ketrampilan Spesifik Manajemen Asuhan Keperawatan: Komunikasi
Yang Efektif, Delegasi, Koordinasi, Konsultasi, Coaching, Advokasi,
Kolaborasi.
A. Komunikasi Dalam Pelayanan Dan Asuhan Keperawatan
1) Pengertian komunikasi interpersonal dalam keperawatan
2) Tujuan komunikasi dalam layanan keperawatan
3) Tahap-tahap komunikasi
4) Fungsi komunikasi dalam manajemenen dan kepemimpinan
5) Dimensi dalam komunikasi keperawatan
6) Konsep-konsep kunci dalam komunikasi
7) Diskusi kasus dan kesimpulan
B. Pendelegasin Tugas Dalam Pemberian Asuhan Keperawatan
1) Pengertian pendelegasian tugas
2) Prinsip dasar delegasi dalam pelayanan dan asuhan
keperawatan
3) Proses delegasi tugas dalam pemberian asuhan keperawatan
4) Konsep-konsep kuci pendelegasian tugas dalam pemberian
asuhan keperawatan
C. Koordinasi Dengan Unsur Terkait Dalam Asuhan Keperawatan
1) Pengertian koordinasi dalam pemberian asuhan keperawatan
2) Tujuan koordinasi di layanan keperawatan
3) Tahapan proses dalam pemberian asuhan keperaatan
D. Konsultasi Dalam Pelayanan Keperawatan
1) Pengertian konsultasi dalam penerapan praktik keperawatan
2) Tujuan konsultasi dalam pelayanan kesehatan
3) Tahapan proses seorang perawat yang akan melakukan
konsultasi

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

34

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

4) Peran perawat pelaksana dalam pemberian konsultasi untuk


meningkatkan kualitas asuhan keperawan.
5) Konsep-konsep kunci konsultasi dalam pelayanan dan asuhan
keperawatan
E. Coacing (Bimbingan) Dalam Pengembangan Kinerja Perawat.
1) Pengertian coaching (bimbingan) dalam dalam upaya
meningkatkan kualitas kinerja
2) Tujuan coaching dalam pelayanan asuhan keperawatan
3) Proses coaching dalam praktik keperawatan
F. Advokasi Pada Berbagai Situasi Yang Dihadapi Pada Layanan
Keperawatan.
1) Pengertian advokasi dalam layanan keperawatan
2) Tujuan advokasi pada praktik keperawatan
3) Prinsip-prinsip advokasi dalam layanan praktik keperawatan
4) Syarat-syarat pemberian advokasi dalam pelyanan
keperawatan
5) Strategi advokasi dalam pemebrian asuhan keperawatan pada
klien
G. Kolaborasi Dalam Penerapan Pemberian Asuhan Keperawatan Di
Unit Ruang Rawat
1) Pengertian kolaborasi dalam asuhan keperawatan
2) Prinsip-prinsip dasar kolaborasi dalam praktik keperawatan
3) Elemen-elemen kolaborasi dalam praktik asuhan keperawatan
4) Peran perawat dalam kolaborasi pada pratik asuhan
keperawatan
5) Faktor-faktor yang membambat kolaborasi dalam pemberian
asuhan keperawatan
6) Area yang dapat memperluas kolaborasi dengan tim
kesehatan lain
7) Faktor-faktor perilaku petugas kesehatan yang dapat
menghambat kolaborasi
8) Prinsip-prissip dasar yang dapat membuat suasana positif
dalam kolaborasi

V. METODA
1. Ceramah, tanya, jawab
2. Studi kasus
3. Diskusi
4. Role play
5. Praktika dengan pendekatan pemecahan masalah
6. Praktik terintegrasi dengan kompetensi lainnya.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

35

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

VI. MEDIA
1. Kasus serta situasi dan kondisi unit ruang rawat di RS
2. AVA
3. Flipchart/whiteboard
VII. EVALUASI
1. Tes tertulis
2. Tes lisan
3. Observasi
VIII. REFERENSI
Schober Madren and McKay Nancy :Collaborative Practice in the 21
st Century. International Council of Nurses.
Baggs, J & Schmitt, M. (1981). Collaboration between Nurses and
Physicians. Image : Journal of Nursing Scholarship. Vol 20 (3)
Berger, KJ & William, M.B. (1992). Fundamental of Nursing :
collaborating for optimal health. Connecticut : Appleton & Lange
Congeniality. (1999). Communication, collegiality and collaboration
can improve relationship between MDs, RNs and patients. Nurse
Week.
Depkes RI, Pusdiklat, 2002, Metode pembelajaran, Modul 2:
Syaefudin, Jakarta.
Lunandi, LG, 1990, Pendidikan Orang Dewasa, PT, Gramedia,
Jakarta
Scwanburg, Managament and Leadership in Nursing, Philadelphia.
Watts, Nancy T., 1990, Hand of Clinical Teaching, Churchil
Livingstone. New York
WHO-DEPKES-UGM, 2001, 2003, Paketan Mentri SPMKK, Jakarta.
Yeung Rob, 2001, Coaching People (pelatihan karyawan), PT. Elex
Media Komputindo, Jakarta.
Depkes RI, Pusat Promosi Kesehatan, 2003, Media Promosi
Kesehatan indonesia, Juli 2001, Jakarta.

IX.

LAMPIRAN
1. Lembar Bacaan
2. Penugasan berupa kasus-kasus

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

36

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

LEMBAR BACAAN

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

37

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

PERAN KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN KEPERAWATAN DALAM


PELAYANAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
I.

PENGANTAR
Manajemen adalah merupakan proses kerjasama melalui orang lain
untuk mencapai tujuan. Manajemen keperawatan adalah proses
kerjasama melalui personel perawat untuk menyediakan asuhan, terapi
dan kenyamanan bagi sekelompok pasen. Tugas perawat manajer
mencakup
perencanaan,
pengorganisasian,
pengarahan,
dan
pengawasan terhadap ketersediaan financial, material dan sumber daya
manusia sehingga asuhan sekelompok pasen menjadi efektif dan
efisien. Proses manajemen keperawatan secara parallel memfasilitasi
terlaksananya asuhan keperawatan dengan pendekatan proses
keperawatan. Bagaimana gambaran tentang manajemen unit ruang
rawat akan diuraikan berikut ini, mencakup: fungsi manajemen
mendukung proses keperawatan, manajemen unit ruang rawat, peran
pemimpin dan manajer, serta tugas manajer di unit ruang rawat.

II.

FUNGSI MANAJEMEN (MANAJER) DALAM PELAYANAN DAN


ASUHAN KEPERAWATAN
Fungsi manajemen dalam pelayanan dan asuhan keperawatan
mencakup:
pengumpulan data, perencanaan, pengorganisasian,
ketenagaan, pengarahan dan pengawasan. Sebagai indicator bahwa
manajemen terlaksana dengan baik adalah: kualitas pelayanan
meningkat, adanya pengembangan staf dan riset terapan untuk
menghasilkan tehnologi keperawatan.
Pengumpulan data menggambarkan aktifitas pengumpulan informasi
tentang asensi/esensi) RS, profil pasen, profil tenaga termasuk perawat
baik jumlah, kualifikasi keahlian, pengalaman serta demografi serta
sumber 2 lain seperti sarana prasarana, financial. Informasi ini
diperlukan sebagai masukan dalam proses manajemen.
Perencanaan mencakup fungsi merumuskan tujuan pelayanan/asuhan
keperawatan, system pelayanan keperawatan, standar pelayanan
keperawatan,
kebijakan/peraturan/prosedur
operasional
dan
pembiayaan. Fungsi ini sangat penting karena diperlukan untuk
terlaksananya fungsi 2 manajemen lainnya.
Pengorganisasian, mencakup pengorganisasian tugas, struktur
organisasi, diskripsi tugas, evaluasi tugas, kerja tim serta membangun
tim. Fungsi ini diharapkan dapat memberikan kejelasan bagaimana

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

38

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

tujuan pelayan dicapai denga strategi dan penggunaan sumber-sumber


dengan tepat.
Ketenagaan merupakan fungsi bagaimana sumber tenaga dikelola untuk
mencapai tujuan. Fungsi ini mencakup sistem klasifikasi pasen sebagai
dasar penghitungan kebtuhan tenaga, menetapkan kebutuhan tenaga,
proses rekruitmen, seleksi, orientasi, penjadualan, penugasan,
pembinaan untuk mengurangi absen dan menurunkan keluar masuk
kerja dan pengembangan staf.
Pengarahan merupakan fungsi kekuatan (power) untuk terlaksananya
pengelolaan pelayanan/asuhan keperawatan. Fungsi ini terdiri dari
penggunaan kekuatan, pemecahan masalah, membuat keputusan,
perubahan efektif, penanganan konflik dan komunikasi serta analisis
transaksional.
Pengawasan merupakan fungsi manajemen yang melakukan penilaian,
monitoring terhadap pengelolaan pelayanan/asuhan keperawatan.
Fungsi ini mencakup pengendalian dan peningkatan mutu, audit pasen,
penilaian penampilan kinerja, disiplin juga termasuk sistem informasi .
Seluruh fungsi manajemen keperawatan ini saling berhubungan dan
memiliki sistem umpan balik dan merupakan proses yang komplek. Agar
seluruh fungsi ini dapat optimal dilaksanakan maka perawat manajer
harus memiliki inteligensia, percaya diri, diplomasi, fleksibel dan
imaginatif . Persyaratan ini diperoleh melalui pelatihan spesifik tentang
kepemimpinan dan manajemen. Tidak kalah penting, perawat manajer
memerlukan dukungan staf perawat untuk memahami proses
manajemen.

III.

PERAN DAN FUNGSI MANAJEMEN (MANAJER) DALAM


MENDUKUNG PROSES KEPERAWATAN
Asuhan keperawatan pasen diberikan dengan pendekatan proses
keperawatan yang terdiri dari tahapan pengkajian, diagnosa
keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Agar asuhan
keperawatan dapat dilaksanakan perlu didukung dengan fungsi fungsi
manajemen sbb:
Pengkajian didukung oleh fungsi manajemen pengumpulan data,
diagnosis oleh fungsi perencanaan dan pengorganisasian, perencanaan
oleh pengorganisasian dan ketenagaan, implementasi oleh fungsi
ketenagaan dan pengarahan serta evaluasi oleh fungsi pengawasan.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

39

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Manajer dalam mendukung proses keperawatan memfasilitasi,


memastikan bahwa seluruh proses keperawatan dilaksanakan sesuai
dengan tanggung jawabnya. Tabel dibawah ini merupakan panduan bagi
manajer dalam memastikan terlaksanannya proses keperawatan.
Untuk menjabarkan fungsi-fungsi tersebut, lakukan tugas berikut dengan
mengisi format sbb:

1.

Tahap proses
keperawatan
Pengkajiaian

Pengumpulan data

1.Formulir
2.Juknis/juklak
3.Supervisi Kelengkapan
& ketepatan

2.

Diagnosis

Perencanaan

1.SAK
2.Menyediakan
Form
Check List Diagnosis &
Rencana tindakan
3. Supervisi

No

Fungsi manajemen

Pengorganisasian

3.

Perencanaan

Pengorganisasian
Ketenagaan

4.

Implementasi

Ketenagaan

Pengarahan

5.

Evaluasi

Pengawasan

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

Aktifitas manajer

1.Form SOAP
2.Supervisi SOAP
interaksi

pre

1. Adanya SPO &


memastikan bahwa
semua tindakan
dilakukan berdasarkan
SPO yang tersedia
(Memastikan semua
tindakan dilakukan
dengan komunikasi
terapeutik)
2. Tersedianya Alat
bantu penkes
3. melengkapi sarana &
prasarana
4. manajemen waktu
5. manaj.konflik
1. Supervisi Evaluasi
yang dilakukan

40

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Catatan:
Manajer selalu melihat apakah seluruh perawat mempunyai
kemampuan dalam melakukan proses keperawatan
Manajer selalu meningkatkan pengetahuan & skill perawat dalam
melakukan asuhan keperawatan (contoh: presentasi kasus,
morning klinik, ronde keperawatan, mengikuti seminar & workshop,
pendidikan berkelanjutan)

IV.

FUNGSI MANAJER DALAM MENGELOLA MANAJEMEN UNIT


RUANG RAWAT
Manajemen unit ruang rawat merupakan manajemen operasional
langsung berhubungan
dengan
kebutuhan
pasien
terhadap
kesehatannya. Sering disebut dengan manajemen unit atau bangsal
(ward management) dan di unit inilah terjadi pemberian asuhan
keperawatan pasien, dimana perawat memegang peranan penting baik
sebagai manajer unit atau kepala ruangan, ketua tim maupun sebagai
perawat pelaksana. Manajemen unit harus memfasilitasi untuk
pencapaian tujuan pelayanan, efektif efisien, kepuasan pasen, kepuasan
peran perawat, penerapan proses keperawatan dan terjadinya
komunikasi yang adekuat diantara tenaga kesehatan.
Manajemen unit menggambarkan pengelolaan sekelompok pasen rawat
inap. Pasien rawat inap adalah seseorang yang dirawat di RS atau klinik
untuk pengobatan dan perawatan yang diperlukan paling sedikit
menginap 1 (satu) malam (The American Heritage Dictionary of the
English Language, Fourth Edition. Updated in 2003 . Published by
Houghton Mifflin Company). Pengelolaan dimulai sejak pasien masuk
ruang rawat sampai pulang atau meninggal dunia atau pindah ke RS
lain.
Tujuan yang ingin dicapai dari setiap unit ruang rawat mengacu pada
filosofi, visi dan misi RS. Beberapa pertimbangan dalam proses memilih
model penugasan unit ruang rawat adalah hal hal yang perlu dijawab
sbb:
1.
2.
3.
4.
5.

Bagaimana kualifikasi perawat yang ada?


Berapa jumlah perawat yang dimiliki?
Bagaimana tingkat ketergantungan pasien?
Model penugasan apa yang menggambarkan otonomi perawat ?.
Siapa yang bertanggung gugat terhadap pemberian asuhan
keperawatan?.
6. Apa saja bentuk power (kekuatan) dan politic (strategi) yang
dipergunakan di RS?
7. Bagaimana kekuatan dan strategi tersebut mempengaruhi perawat
di unit ruang rawat?

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

41

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

8. Apakah model penugasan yang dipilih tergantung pada pimpinan /


atasan atau kebutuhan pasien dan perawat?
Dalam konteks tingkat acuity pasien, rasio perawat-pasien, jumlah staf
dan penjadualan, beberapa pertanyaan perlu dijawab sbb :
1. Bagaimana gambaran jenis pasien ? (anak, dewasa, maternitas,
geriatric, dll)
2. Bagaimana gambaran diagnosa penyakit ?
3. Bagaimana gambaran tingkat acuity pasen?
4. Bagaimana rasio perawat pasen selama ini ?
5. Bagaimana komposisi perawat professional dan non professional ?
6. Bagaimana gambaran penjadualan perawat di unit ruang rawat, tiap
12 jam, 10 jam, atau 8 jam atau kombinasi keduanya ?
7. Berapa jumlah jam kerja pada setiap jadual dinas, dan berapa orang
setiap jadual?
Manajer unit ruang rawat perlu mempertimbangkan hal-hal tersebut
diatas. Jika tidak, distribusi kerja mudah dimanipulasi sehingga akan
mempengaruhi kualitas asuhan keperawatan.
Bagaimana ukuran unit ruang rawat dan tatanannya, maka manajer unit
harus mempertimbangkan hal-hal sbb:
Dimana lokasi ruang jaga perawat (nurse station) ?
Apakah lokasi ruang jaga perawat ada ditengah ruang rawat ?
Dimana area pasen terhadap ruang jaga perawat?
Bagaimana rute / jalan / arus lalu lintas, apakah melalui ruang jaga
perawat?
5. Bagaimana bentuk unit, T atau oval ?
6. Apakah unit yang ada saat ini sudah memenuhi persyaratan?
7. Berapa besar kapasitas ruangan? 25, 30, atau 40 tempat tidur ?
8. Bagaimana kondisi sirkulasi, pencahayaan dan penerangan ?
9. Apakah terdapat ruang untuk diskusi ?
10. Apakah fungsi-fungsi ruangan sesuai kondisi dan kebutuhan pasen ?
1.
2.
3.
4.

Dalam menentukan model pemberian asuhan keperawatan di unit ruang


rawat, perlu juga dipertimbangkan pembiayaan dan sumber-sumber
yang diperlukan, untuk hal ini manajer unit hendaknya
mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan sbb:
1. Model yg manakah akan memberikan pelayanan profesional &
memenuhi kebutuhan pasien dan keluarganya.
2. Berapakah jumlah perawat professional dan non professional yg
diperlukan untuk memberikan pelayanan profesional berdasarkan
acuity pasien ?

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

42

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

3. Bagaimana manajer unit dapat meyakinkan pimpinan bahwa model


yang dipilih dapat meningkatkan kualitas asuhan yang pada akhirnya
dapat meningkatkan pendapatan rumah sakit.
Manajemen unit ruang rawat merupakan pengelolaan sumber daya
manusia, pembiayaan, material, metode, mesin, pemasaran, agar
kualitas asuhan dapat ditingkatkan terhadap sekelompok pasen dan
dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Manajemen ruang rawat mencakup komponen ketenagaan yaitu :
manajer unit dan perawat pelaksana, metode/ sistem pemberian asuhan
keperawatan, fasilitas & sarana, proses keperawatan sebagai metode
asuhan keperawatan, serta keterampilan manajemen dalam pemberian
asuhan keperawatan di unit ruang rawat.
Manajer unit dalam mengelola staf, material dan sistem bertanggung
gugat untuk :
1. Menyediakan sumber tenaga yang diperlukan untuk melakukan
pekerjaan di unit.
2. Menyediakan material melalui manajemen pembiayaan untuk
meyakinkan apakah kelengkapan alat-alat tersedia dan dapat
digunakan.
3. Mengelola sistem (pola tenaga, jumlah tenaga, pencapaian tujuan
dan sasaran unit, hubungan dengan unit lain) untuk menghasilkan
alur kerja yang kondusif dan produktif.
4. Mendukung shared governance models
(Shared governace models adalah............)
Fungsi-Fungsi Manajemen:
1. Merencanakan kegiatan untuk pencapaian tujuan unit ruang rawat
2. Membuat perubahan dalam merancang kegiatan kerja sehingga
sistem organisasi di unit secara total difasilitasi
3. Mengorganisir aktivitas kerja untuk pencapaian tujuan unit ruang
rawat.
4. Mengorganisir kerja dengan memfasilitasi komunikasi.
5. Mengorganisir kerja sehingga pembiayaan sedapat mungkin efektif.
6. Mengkoordinir Aktifitas kelompok dalam hal memfasilitasi koordinasi
di dalam dan diantara unit
7. Mempergunakan sistem pemberian asuhan keperawatan dengan
memaksimalkan sumber-sumber, orang, material dan waktu

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

43

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Peran Kepemimpinan :
1. Evaluasi secara periodik efektifitas dari struktur organisasi pada unit
ruang rawat dalam rangka pemberian asuhan keperawatan.
2. Menentukan sumber-sumber adekuat sebelum membuat perubahan
dalam pengorganisasian asuhan pasen.
3. Menilai elemen manusia dalam merancang ulang kerja dan dukungan
personil selama penyesuaian perubahan.(mengevaluasi SDM
keperawatan untuk merencanakan kebutuhan tenaga dalam
pemberian asuhan keperawatan profesional)
4. Membangun kerja kelompok dengan semangat tim (kerja tim)
5. Mengkaji filosofi unit untuk meyakinkan apakah masih sesuai dengan
perubahan dalam sistem pemberian asuhan keperawatan.
6. Mempergunakan penelitian ilmiah untuk mendukung perubahan
dalam model SP2KP.
7. Meyakinkan apakah model pemberian asuhan keperawatan
merupakan praktik keperawatan professional.

Untuk sukses sebagai perawat manajer garis depan, beberapa


kompetensi harus dikuasai , yaitu:
1. Keterampilan keperawatan dasar, mencakup proses keperawatan.
2. Tehnik manajemen waktu dalam pengelolaan unit ruang rawat.
3. Kemampuan belajar informasi baru, mencakup mempergunakan
sumber sumber untuk belajar.
4. Mempergunakan positive self talk and thinking
5. Perilaku assertive.
6. Keterampilan komunikasi.
7. Penerapan aspek legal dalam pelayanan keperawatan.
8. Penerapan aspek etik dalam pelayanan keperawatan.
9. Penyelesaian masalah dan berfikir kritis.
10. Manajemen stres.
Kompetensi tersebut diatas diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan
antara lain memantau dan yakin bahwa semua pasen menerima
pelayanan keperawatan, melalui tindakan keperawatan mandiri maupun
tindakan kolaboratif (penanganan dan obat-obatan atas instruksi medis,
mengkoordinasikan pelayanan kesehatan pasen dari dokter, ahli gizi,
fisioterapi, farmasi dan tenaga kesehatan lain) sesuai kebutuhan pasien.
Membantu manajer keperawatan yang lebih tinggi dalam hal orientasi
dan penugasan perawat baru. Mengatur pembagian tugas dan
penjadualan setiap jadual dinas serta mengevaluasi kinerja perawat,
serta memberikan rekomendasi untuk penghargaan dan karir sesuai
kebijakan setempat. Selanjutnya disusun tanggung jawab dan tugastugasnya.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

44

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

V.

KASUS
Tentunya saudara sudah memiliki pengalaman mengelola unit ruang
rawat di RS tempat saudara bekerja, jawablah pertanyaan dibawah ini
dan tulislah pada kertas yang telah disediakan:
1. Apakah saudara mengelola unit ruang rawat sesuai dengan visi, misi
serta sasaran RS ? jika ya , tuliskan visi, misi dan sasaran tersebut.
Jika tidak sebutkan alasannya.
2. Uraikan bagaimana implementasi pengelolaan unit ruang rawat yang
pernah menjadi tanggung jawab saudara.
3. Uraikan kendala kendala utama yang saudara hadapi selama
saudara mengelola unit ruang rawat berdasarkan fungsi 2
manajemen.
4. Menurut saudara komponen manajemen apa yang prioritas perlu
dilakukan perubahan sehingga asuhan keperawatan di unit rawat
menjadi lebih efektif dan efisien.
5. Tuliskan tugas saudara sehari hari sebagai manajer unit ruang rawat
atau ketua tim asuhan pasen.

VI.

PENUTUP
Modul manajemen dan pemberian asuhan keperawatan ini memberikan
pengantar pemahaman tentang manajemen pelayanan keperawatan,
manajemen unit ruang rawat dan perawat manajer unit ruang rawat.
Bagaimana pengelolaan unit ruang rawat tsb secara operasional akan
dibahas pada modul 2 B.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

45

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

APLIKASI PROSES KEPERAWATAN DAN PENDOKUMENTASIAN

I. PENDAHULUAN
Penggunaan proses keperawatan mempunyai dampak bagi pasien,
perawat, dan profesi keperwatan. Klien mendapat keuntungan karena
dengan menggunakan proses keperawatan menjamin kwalitan asuhan
yang diberikan kepada individu serta melibatkan partisipasi pasien pada
setiap fase proses keperwatan. Keuntungan bagi perawat meningkatkan
kepuasan kerja dan menumbuhkan sikap professional. Bagi profesi
keperawatan, penggunaan proses keperawatan mendefinisikan ruang
lingkup praktek keperawatan dan berkontribusi pada otonomi dari suatu
profesi.
A. Pengertian, proses keperawatan adalah: metode rasional yang
sistimatis untuk merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan.
Hal ini mempunyai tujuan mengidentifikasi status kesehatan klien,
masalah kesehatan baik actual maupun potensial, menyusun rencana
untuk memenuhi kebutuhan yang telah diidentifikasi, dan memberikan
intervensi keperawatan yang spesifik sesuai dengan kebutuhan.
B. Proses keperawatan merupakan siklus, dimana komponenkomponennya mengikuti sekuen yang logik, tetapi lebih dari satu
komponen pada satu waktu. Diakhir satu siklus asuhan akan
dihentikan jika tujuan telah tercapai atau siklus akan dimulai kembali
degan pengkajian ulang.
C. Proses keperawatan merupakan metoda yang sistimatis diorganisir
untuk memberikan asuhan keperawatan individu yang berfokus pada
respon manusia yang unik pada seseorang atau kelompok terhadap
gangguan kesehatan baik actual maupun potensial.
Proses keperawatan merupakan proses sistematis dari perencanaan,
pemberian asuhan dan evaluasi asuhan yang sifatnya individual kepada
pasien dalam keadaan sehat maupun sakit berdasarkan metode
pemecahan masalah ilmiah yang merupakan fondasi dari praktek
keperawatan.
Proses keperawatan merupakan siklus dimana setiap fase merupakan
landasan untuk setiap fase berikutnya. Setiap fase tergantung pada
keakuratan fase sebelumnya. Sebagai contoh, diagnosa keperawatan
yang tepat tidakdapat diidentifikasi tanpa data pengkajian yang tepat.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

46

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

II. KOMPONEN PROSES KEPERAWATAN


Proses keperawatan terdiri dari seri dengan 5 komponen atau tahap yang
spesifik yaitu: pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan
evaluasi. Walaupun teori-teori keperawatan mungkin mempergunakan
istilah yang berbeda untuk menguraikan tahap tersebut, tetapi kegiatan
perawat dalam menggunakan proses tersebut pada prinsipnya sama.
adalah sama.
Untuk menyamakan persepsi, menghindari salah pengertian, perawat
perlu mengenal beberapa istilah seperti: diagnose keperawatan yang
merupakan hasilanalisis kumpulan data subyektif dan obyektif. Istilah
implementasi sering disebut dengan intervensi. harus terbiasa dengan
istilah-istilah alternative dalam menguraikan tahap-tahap tersebut.
Sebagai contoh diagnosa perawat disebut analisis, dan implementasi
disebut intervensi.
Secara ringkas, berikut dibawah ini akan diuraikan tahap-tahap proses
keperawatan dan bahasan yang dalam dan luas dari tiap tahap akan
diuraikan dalam bab berikut.
1. Pengkajian merupakan tahap awal dan merupakan tahap yang paling
penting dalam proses keperawatan. Pengkajian adalah proses
sistematis dan terorganisir dalam mengumpulkan informasi dari
berbagai sumber (pasien, keluarga,catatan medis,staf keperawatan,dan
tenaga kesehatan lain) dalam rangka mengevaluasi status kesehatan
pasien.pengkajian
dimulai
dari
kontak
pertama
dengan
pasien.Pengkajian data dikumpulkan melalui interviu,observasi,
pemeriksaan fisik,dan pemeriksaan penunjang.
2. Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon
pasien, keluarga dan masyarakat terhadap masalah actual maupun
risiko dalam proses kehidupan. Diagnose keperawatan memberikan
dasar untuk memilih intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang
dapat dipertanggung jawabkan dan dipertanggung gugatkan. Diagnosa,
adalah proses yang menghasilkan pernyataan diagnostik atau diagnosa
keperawatan.Pada
tahap
ini
perawat
melakukan
seleksi,
cluster/pengelompokan dan analisa data selanjutnya bertanya : Apa
masalah kesehatan yang actual atau potensial dimana pasien
membutuhkan bantuan perawat? dan apa saja faktor-faktor yang
berkonstribusi terhadap masalah-masalah tersebut?.Jawaban dari
pertanyaan tersebut akan menggambarkan diagnosa keperawatan
.
3. Perencanaan mencakup satu rangkaian langkah-langkah dimana
perawat dan klien: menyusun prioritas, tujuan atau hasil yang
diharapkan untuk memecahkan atau mengurangi masalah-masalah
klien yang telah teridentifikasi.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

47

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Dalam bekerja sama dengan klien, perawat mengembangkan intervensi


spesifik untuk setiap diagnosa keperawatan.Hasil dari tahap
perencanaan adalah Rencana asuhan keperawatan tertulis yang
dipergunakan untuk koordinasi asuhan yang diberikan oleh seluruh
anggota tim kesehatan.
4. Implementasi adalah merealisasikan rencana asuhan keperawatan
kedalam kegiatan. Selama tahap implementasi perawat melaksanankan
instruksi keperawatan yang telah ditulis atau mendelegasikan/
melimpahkan pada oran yang tepat/ sesuai dan menvalidasi dengan
rencana asuhan keperawatan. Tahap ini diakhiri jika perawat mencatat
asuhan keperawatan yang telah diberikan beserta respon klien pada:
catatan-klien (contoh: catatan perkembangan keperawatan).
5. Evaluasi, adalah pengkajian respon pasien klien terhadap intervensi
keperawatan dan membandingkan respon tersebut dengan tujuan atau
criteria hasil yang tertulis pada tahap perencanaan. Perawat
menentukan hasil yang telah dicapai. Rencana asuhan dikaji ulang
pada tahap ini, yang mana mencakup perubahan-perubahan pada
sebagian atau keseluruhan dari tahap proses keperawatan.
Lima tahap proses keperawatan tidak terpisah-pisah tetapi saling tumpang
tindih, sebagai contoh: pengkajian merupakan tahap pertama proses
keperawatan selalu terdapat juga selama tahap implementasi dan
evaluasi.
Setiap tahap mempengaruhi tahap yang lain, sangat berhubungan,
contoh: jika data yang dikumpulkan pada tahap pengkajian tidak adekuat
maka tidak lengkap atau tidak benar. Hal ini juga akan mempengaruhi
tahap perencanaan, implementasi dan evaluasi.

III. KARAKTERISTIK PROSES KEPERAWATAN


Proses keperawatan menyediakan kerangka kerja dimana perawatperawat mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk
menyatakan asuhan manusia = human caring dan membantu klien
memenuhi kebutuhan-kebutuhan kesehatannya (Wilkinson 1992, pp. 45).Proses keperawatan dicirikan oleh properties unik yang mampu
berespon terhadap perubahan status perubahan klien, sehingga proses
keperawatan merupakan siklus dan dinamis, bukan statis.
Proses keperawatan berpusat pada pasien.Perawat mengorganisasi
rencana asuhan keperawatan berdasarkan masalah pasien bukan tujuan
perawat.Pada tahap pengkajian perawat mengumpulkan data untuk
menentukan kebiasaan, aktifitas rutin dan kebutuhan klien sehingga dapat
tersusun rencana asuhan sedapat mungkin tidak jauh menyimpan dari
rutin.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

48

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Proses keperawatan adalan interpersonal dan kolaborative.Untuk


meyakinkan pemberian asuhan keperawatan yang berkualitas, perawat
harus mengutamakan keterkaitan dan masalah dan berpartisipasi dalam
evaluasi rencana asuhan secara terus-menerus.Hal ini tergantung pada
komunikasi yang terbuka dan mempunyai arti dan mengembangkam
laporan antara klien dan perawat.Untuk menciptakan proses keperawatan
yang efektif dan pendekatan individual untuk setiap pemenuhan
kebutuhan pasien, perawat harus melakukan kolaborasi dengan setiap
individu, keluarga, kelompok dan komunitas.
Karakteristik lain proses keperawatan adalah dapat diterapkan secara
universal.Hal ini dapat dipergunakan pada klien dengan segala umur pada
setiap waktu diadakan batas kontinum sehat-sakit.Selanjutnya dapat
dipergunakan pada tempat yang berbeda-berbeda seperti sekolah, RS,
klinik, rumah dan area spesifik seperti keperawatan, ortopedi, maternitas,
dan bedah.
Proses keperawatan merupakan adaptasi dari tehnik-tehnik pemecahan
masalah dan teori sistem.Ia dapat dijelaskan secara paralel tetapi terpisah
dari proses medis.
Karakteristik proses keperawatan yang lainnya adalah :
1. merupakan sistem terbuka dan fleksibel dalam menemukan kebutuhan
yang unik dari klien, keluarga kelompok atau komunitas.
2. Siklus dan dinamis.Karena setiap tahap saling berhubungan, tidak ada
yang secara absolut mulai dan berakhir.
3. Berorientasi pada klien, pendekatan individual pada setiap pasien dan
memenuhi kebutuhannya.
4. Interpersonal dan kolaborasi.Hal ini memerlukan perawat melakukan
komunikasi langsung dan konsisten dengan klien dalam memenuhi
kebutuhannya.
5. Direncanakan.
6. Berorientasi pada tujuan.
7. Menyediakan kreatifitas untuk perawat dan klien dalam menentukan
cara untuk memecahkan masalah kesehatan pasien yang telah
ditentukan.
8. Memberikan umpan balik, yang mana diperlukan untuk mengkaji ulang
masalah atau revisi terhadap rencana asuhan keperawatan.
9. Dipergunakan secara universal.Proses keperawatan dipergunakan
sebagai kerangka kerja dalam memberikan asuhan keperawatan pada
semua jenis tempat asuhan kesehatan dengan klien semua kelompok
umur.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

49

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

IV. KEUNTUNGAN PROSES KEPERAWATAN


Keuntungan proses keperawatan bagi klien adalah meningkatkan kualitas
asuhan yang diterima.Tingginya tingkat partisipasi, bersama dengan
evaluasi terus menerus, yakin dengan asuhan yang dirancang untuk
memenuhi kebutuhan klien yang unik.Karena proses keperawatan
diorganisasi, pendekatan sistematis, memungkinkan perawat-perawat
mempergunakan waktu dan sumber-sumber secara efisien yang
menguntungkan baik pasien atau perawat.
Keuntungan proses keperawatan bagi perawat-perawat adalah dengan
mengetahui bahwa mereka telah memberikan asuhan untuk memenuhi
harapan pelayanan kesehatan dan memenuhi standar dari profesi.
Kriteria dikembangkan oleh ANA dan terdapat pada standar d praktik
keperawatan klinik ke IV yang berdasarkan pada tahap-tahap proses
keperawatan (ANA 1991).Bagian dari Canadian Nurses Associations
Definition of Nursing Practise : Standar untuk praktik keperawatan (1987)
juga mencakup standard yang berhubungan dengan proses keperawatan.
Di United States, Joint Commission on Acreditation of Healthcare
Organization (JCAHO) menetapkan tahap-tahap proses keperawatan
dipergunakan pada setiap klien yang dirawat (JCAHO1992, Nursing Care,
pp.1-67).Proses keperawatan sebagai kerangka kerja untuk tanggung
gugat perawat, ini memegang tanggung gugat dan tanggung jawab
perawat untuk pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan
evaluasi asuhan klien.
Proses keperawatan membantu perawat mendefinisikan perannya kepada
profesi lain, dengan jelas memperlihatkan konstribusi perawat dalam
kesehatan klien.

V. PROSES KEPERAWATAN DAN PERAN PERAWAT


Sebaiknya untuk mempergunakan proses keperawatan dalam pelayanan
keperawatan di unit ruang rawat, menejer unit harus terlebih dahulu
menetapkan metode pemberian asuhan keperawatan, karena akan
menentukan peran perawat dalam aplikasinya.
Peran perawat sebagai berikut:
1. Tahap pengkajian :
- Melakukan pengumpulan data.
- Mengumpulkan informasi berdasarkan teori dan pola
pertimbangan yang diyakini.
- Validasi data yang dikumpulkan oleh perawat/tenaga kesehatan
lain.
- Memastikan data fokus yang menggambarkan masalah pasien.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

50

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Mendokumentasikan dan cek hasil pengkajian pada format


pengkajian data dasar dan data fokus.
2. Tahap diagnosa keperawatan :
- Analisa, interpretasi dan sintesa data fokus yang telah
dikumpulkan.
- Mengambil keputusan klinik.
- Merumuskan diagnosa keperawatan sesuai kondisi pasien.
- Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada format daftar
masalah.
-

3. Tahap perencanaan :
- Menyusun rencana asuhan keperawatan sesuai dengan
diagnosa keperawatan.
- Mempergunakan tehnik-tehnik komunikasi untuk membangun
kerjasama dalam perencanaan keperawatan
- Menulis intervensi keperawatan.
- Membagi tugas pada anggota tim atau perawat pelaksana
sesuai kewenangannya.
- Mendokumentasikan
rencana
pada
format
rencana
keperawatan.
4. Tahap implementasi :
- Mengorganisir dan mengelola asuhan pasien dengan
mengimplementasikan rencana asuhan keperawatan.
- Melaksanakan intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan
dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Sesuai dengan SOP di unit ruang rawat.
b. Memperhatikan keselamatan pasien.
c. Mempersiapkan pasien dengan mempertimbangkan hakhaknya
d. Menerapkan prinsip moral-etik sesuai kondisi pasien.
e. Memberikan dukungan dan perlindungan terhadap pasien.
f. Melakukan pengkajian lanjutan selama implementasi.
- melakukan penilaian hasil dan setiap intervensi keperawatan.
- Mengkomunikasikan intervensi keperawatan.
- Mendokumentasikan implementasi pada format catatan
keperawatan.
5. Tahap evaluasi :
- Melakukan penilaian dengan membandingkan hasil dengan
tujuan yang diharapkan.
- Mengambil keputusan apakan tujuan tercapai atau tidak.
- Melakukan umpan balik, dan rencana tindak lanjut.
- Mengkomunikasikan hasil kepada pasien sesuai ketantuan.
- Mendokumentasikan hasil penilaian pada format catatan
perkembangan.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

51

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

52

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

SUPERVISI DALAM MENGARAHKAN


ASUHAN KEPERAWATAN
I.

PENDAHULUAN
Supervisi dan evaluasi merupakan bagian yang penting dalam
manajemen serta keseluruhan tanggung jawab seorang pemimpin. Hal
ini juga berlaku dalam manajemen keperawatan dan untuk itu
dibutuhkan kemampuan manajemen dari seorang perawat profesional
atau manajer keperawatan dalam hal supervisi atau evaluasi.
Supervisi merupakan bagian dari fungsi directing (pengarahan) dalam
fungsi manajemen yang berperan untuk mempertahankan agar segala
kegiatan yang telah di program dapat dilaksanakan dengan baik dan
lancar. Supervisi secara langsung memungkinkan manajer keperawatan
mengurangi berbagai hambatan/ permasalahan dalam melaksanakan
asuhan keperawatan diruangan dengan mencoba memandang secara
menyeluruh faktor-faktor yang mempengaruhi dan bersama staf
keperawatan mencari jalan pemecahannya.

II.

KONSEP DASAR
1. Definisi Supervisi
Supervisi adalah suatu proses kemudahan mendapatkan sumbersumber yang diperlukan untuk penyelesaian tugas-tugasnya.
(Swanburg, 1999).
Korn (1987) mengatakan bahwa supervisi adalah merencanakan,
mengarahkan, membimbing, mengajar, mengobservasi, mendorong,
memperbaiki, mempercayai dan mengevaluasi secara terus menerus
dengan sabar, adil, serta bijaksana sehingga setiap perawat dapat
memberikan asuhan keperawatan dengan baik, trampil, aman, cepat
dan tepat secara menyeluruh sesuai dengan kemampuan dan
keterbatasan dari perawat
Supervisi dapat diartikan sebagai suatu aktivitas pembinaan yang
direncanakan untuk membantu para tenaga keperawatan dan staf
lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Pada
prinsipnya dalam kegiatan supervisi seluruh staf keperawatan bukan
sebagai pelaksana pasif, melainkan diperlukan sebagai partner kerja
yang memiliki ide-ide, pendapat, pengalaman yang perlu didengar,
dihargai, diikutsertakan dalam usaha perbaikan proses keperawatan.
2. Tujuan Supervisi
a. mengorientasi staf dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
b. melatih staf dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
c. memberikan arahan dalam pelaksanaan tugasnya agar
menyadari dan mengerti terhadap peran, fungsi sebagai staf dan
pelaksana asuhan keperawatan

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

53

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

d. memberikan layanan kemampuan staf dan pelaksanaan


keperawatan dalam memberikan asuhan
e. mengusahakan seoptimal mungkin kondisi kerja yang nyaman
3. Sasaran Supervisi
a. pelaksanaan tugas sesuai dengan pola
b. struktur dan hirarki sesuai dengan rencana
c. staf yang berkualitas dapat dikembangkan secara kontinue dan
sistematis
d. penggunaan alat yang efektif dan ekonomis
e. sistem dan prosedur yang tidak menyimpang
f. pembagian tugas, wewenang ada pertimbangan objektif atau
rasional
g. tidak terjadi penyimpangan atau penyelewengan kekuasaan,
kedudukan dan keuangan.
4. Prinsip prinsip Supervisi
a. Supervisi dalam Keperawatan
1) Didasarkan atas hubungan profesional dan bukan pribadi
2) Kegiatan direncanakan secara matang
3) Bersifat edukatif, suportif
4) Memberikan perasaan aman pada staf dalam pelaksanaan
perawatan
5) Membentuk suatu kerjasama yang demokratis antara
supervisor dengan staf dalam pelaksanaan keperawatan
6) Obyektif dan harus mampu melakukan self evaluation
7) Progresif, inovatif, fleksibel dan dapat mengembangkan
kelebihan
masing-masing
staf
dalam
pelaksanaan
keperawatan
8) Konstruktif dan kreatif dalam mengembangkan diri disesuaikan
dengan kebutuhan
9) Meningkatkan kinerja bawahan dalam upaya meningkatkan
kualitas asuhan keperawatan
b. Prinsip Ilmiah Supervisi Keperawatan
1) Kegiatan supervisi dilaksanakan atasdasar data obyektif yang
diperoleh dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan
2) Menggunakan berbagai instrumen pengumpulan data agar
memperoleh hasil yang baik ( angket, observasi, pedoman
wawancara, dll.)
3) Dilaksanakan secara sistematis, terencana dan terus menerus
5. Karakteristik Supervisi
a. mencerminkan kegiatan pelayanan asuhan keperawatan yang
sesungguhnya
b. mencerminkan pola organisasi/struktur organisasi keperawatan
yang ada
c. kegiatan yang berkesinambungan dan teratur

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

54

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

d. dilaksanakan oleh atasan langsung


e. menunjukkan kepada kegiatan perbaikan dan meningkatkan
kualitas asuhan keperawatan
6. Model model Supervisi
a. Model Konvensional
1) Bersifat pada kegiatan inspeksi
2) Memata-matai atau supervisi korektif untuk menoreksi
kesalahan orang lain
3) Pekerjaan seorang supervisor hanya untuk mencari kesalahan
4) Praktik model supervisi ini masih banyak terjadi, termasuk
dalam pelayanan keperawatan
b. Model Ilmiah
1) Dilaksanakan secara berencana dan terus menerus
2) Sistematis dan menggunakan prosedur
3) Ada data yang obyektif yang diperoleh dari keadaan yang riil/
nyata
4) Menggunakan rating scale, check list, pedoman wawancara,
dsb.
5) Ada upaya perbaikan dan umpan balik hasil
6) Berkaitan erat dengan penelitian
c. Model Klinis
Supervisi klinik adalah satu cara untuk mensupport perawat
dimana mereka harus mempertahankan kompetensi sebagai
perawat.
Fungsi Supervisi Klinik (Proctor, 1986) :
1) Fungsi Formatif / edukatif adalah proses edukasi untuk
mengembangkan ketrampilan dan pemahaman profesi. Sehingga
diperlukan seorang supervisor yang dapat menjamin bahwa
ketrampilan perawat telah sesuai standar
2) Bagaimana pemahaman perawat terhadap profesi perawat, peran
mitra dan profesi kesehatan lain, dan sikap profesional dalam
pelayanan keperawatan adalah merupakan masalah utama yang
harus dimengerti kemudian diatasi melalui supervisi klinik
3) Fungsi Restorative / supportive adalah dimana supervisor
membantu perawat untuk dapat berhubungan secara profesional/
terapeutik
dengan
klien
yang
membutuhkan
support,
mempertahankan kestabilan emosi adalah penting untuk perawat
agar dapat mengatasi stress dan mengontrol situasi yang
mendukung sehingga klien merasa nyaman dengan perawat
4) Fungsi Normative of manajerial adalah supervisor menolong
perawat untuk mengembangkan standart keperawatan. Praktek
keperawatan yang efektif tergantung dari kemampuan perawat
belajar dari pengalaman.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

55

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

56

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

7. Penerapan Supervisi Di Rumah Sakit


a. Self Supervision
Self supervision adalah supervisi mengevaluasi pekerjaannya
sendiri apakah sudah efektif atau menuju kepada perubahan
intervision kepada pasien. Tipe ini tidak memerlukan biaya, bisa
kapan saja sesuai dengan waktu yang mereka punya,
membangun perjuangan dengan menjadi konselor bagi diri sendiri
melalui refleksi, menawarkan kemandirian, lebih proaktif dan
inovatif, serta dapat diaplikasikan kapan saja. Namun disisi lain
perawat sebagai konselor tidak mampu menyentuh segala
sesuatu yang menyangkut dirinya sendiri, ketidakmampuan
mengobservasi faktor yang mempengaruhi hubungannya dengan
klien, ketidakmampuan merefleksikan issue yang ada, kurang
tanggap atau sensitive melakukan intervensi dengan klien.
b. One To One Supervision
One to one supervision adalah hubungan antara supervisor dan
supervisee yang mengarah pada tujuan belajar yang diinginkan.
Tipe ini memberikan kebebasan berkreasi pada individu dan lebih
berfokus sesuai dengan masalah individu.
c. Group Supervision
Group supervision adalah Clinical Supervision dimana group
perawat bertemu bersama. Keuntungan tipe ini adalah masukan
dari sejumlah orang, pertukaran pengalaman juga berorientasi
pada konseling dan pendekatan keperawatan, menerima support
dari mereka sendiri terutama perawat baru.
d. Team of Staff Supervision
Team of staff supervision melibatkan kelompok yang bekerja
sebagai tenaga kesehatan dengan pekerjaan yang sama akan
mendapatkan supervisor dari luar institusi untuk membantu
meningkatkan kemampuannya.

8. Tehnik Supervisi dalam Keperawatan (Swanburg, 1999)


a. Proses Supervisi
1) Standar asuhan keperawatan sebagai acuan
2) Fakta pelaksanaan praktek keperawatan sebagai pembanding
untuk pencapaian/ kesenjangan
3) Tindak lanjut yaitu sebagai upaya mempertahankan kualitas
maupun memperbaiki
b. Area Supervisi
1) Pengetahuan dan pengertian tentang tugas yang akan
dilaksanakan
2) Ketrampilan yang dilakukan sesuai standart
3) Sikap serta penghargaan terhadap pekerjaan.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

57

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

9. Kompetensi Supervisi (Bittel, 1996)


a. Pengetahuan
Seorang manajer akan lebih sukses bila dilandasi dengan ilmu
pengetahuan yang cukup.
b. Kompetensi Entrepreneurial
Kompetensi supervisor meliputi orientasi yang terdiri dari suatu
keinginan untuk mendapatkan dan melakukan pekerjaan yang
lebih baik.
c. Kompetensi Intelektual
Bagaimana supervisor berpikir logis misalnya mencari penyebab
suatu kejadian, ketrampilan mendiagnosa serta mengaplikasikan
konsep dan teori dalam situasi nyata,
d. Kemampuan Sosioemosional
Kompetensi supervisor dalam hal emosi dan sosialisasi
mencakup kepercayaan diri, mengembangkan rasa tanggung
jawab dan menanamkan kedisiplinan.
e. Kemampuan Berinteraksi
Kemampuan berinteraksi dengan orang lain mencakup
kepercayaan diri, pengembangan diri, mempertahankan dan
mempelajari semua perilaku atau respon terhadap kebijakan/
keputusan organisasi serta mengelola proses kelompok.

10. Tugas dan Tanggung Jawab Supervisor (Kron, 1987)


a. merencanakan tugas sehari-hari: pembagian beban kerja,
perincian penggunaan waktu dan batas kewenangan
b. menggunakan kewenangan dengan tepat: bertindak efektif dan
efisien dan mampu mengatasi masalah; transformasi baik dari
atasan maupun bawahan dan sebaliknya; melaksanakan
petunjuk; menyaring dan menyampaikan informasi atasan;
mengusahakan hasil kerja maksimal
11. Supervisor Keperawatan
a. Kepala Ruang
Bertanggung jawab dalam supervisi pelayanan keperawatan
untuk pasien. Merupakan ujung tombak penentu tercapai tidaknya
tujuan pelayanan keperawatan dan mengawasi perawat
pelaksana dalam memberikan asuhan keperawatan
b. Pengawas Perawatan
Beberapa ruang atau unit pelayanan berada dibawah unit
pelaksana funsional (UPF), pengawas bertanggung jawab dalam
supervisi pelayanan keperawatan pada areanya yaitu bebrapa
kepala ruang yang di UPF yang bersangkutan

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

58

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

c. Kepala Seksi
Bebrapa UPF digabung dalam satu pengawasan kepala seksi
(Kasie). Kepala seksi mengawasi pengawas UPF dalam
melaksanakan tugasnya secara langsung dan seluruh perawat
secara tidak langsung.
d. Kepala Bidang
Kepala bidang bertanggung jawab untuk supervisi kepala seksi
secara langsung dan semua perawat tidak langsung. Jadi
supervisi
berkaitan
dengan
struktur
organisasi
yang
menggambarkan garis tanggung jawab, siapa yang menjadi
supervisor dan siapayang disupervisi.

12. Sistem yang mendukung penerapan Supervisi


a. Preceptorship
Preceptorship adalah dosen atau instruktur dan memiliki arti yaitu
cara belajar perawat yang dinamik sebagai interaktif proses yang
tidak bisa direncanakan karena banyak hal tidak terduga karena
menekan kebutuhan individu. Preceptorship juga mengidentifikasi
pengalaman perawat dengan tanggung jawabnya pada
sekelompok klien, dimana melakukan pembelajaran seperti
mengajar, instruktur, supervise dan role model.
b. Mentorship
Mentor adalah perawat profesional yang berpengalaman
memelihara dan menuntun perawat baru untuk menjadi atau
berkembang menjadi perawat profesional.
Mentoring adalah fenomena yang kompleks dan menyenangkan,
natural dan sangat berarti untuk keuntungan individu dalam
membagi pengalaman dan pengetahuan dengan teman.
Peran mentor:
1) Peran sebagai inspirasi
2) Peran sebagai investor
3) Peran sebagai supporter

13. Cara Supervisi


a. Langsung
Supervisor terlibat dalam kegiatan agarpengarahan dan
pemberian petunjuk tidak dirasakan sebagai perintah. Agar efektif
yaitu:
1) Pengarahan harus lengkap
2) Mudah dipahami
3) Menggunakan kata-kata yang tepat
4) Berbicara dengan jelas dan lambat

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

59

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

5)
6)
7)
8)

Berikan arahan yang logis


Hindari memberikan banyak arahan pada satu saat
Pastikan bahwa araha anda dipahami
Yakinlah bahwa arahan anda dilaksanakan/ perlu tindak lanjut

b. Tidak Langsung
Supervisi dilakukan melalui laporan baik tertulis maupun lisan.
Supervisor tidak melihat langsung apa yang terjadi dilapangan,
sehingga mungkin terjadi kesenjangan fakta dan dapat dilakukan
secara tertulis

14. Kegiatan Rutin Supervisor (Bettel, 1997)


a. Sebelum pertukaran shif (15-30 menit)
1) Mengecek kecukupan fasilitas/ sarana/ peralatan hari itu
2) Mengecek jadwal kerja
b. Pada waktu mulai shif (15-30 menit)
1) Mengecek personil yang ada
2) Menganalisa keseimbangan personil dan pekerjaannya.
3) Mengatur pekerjaannya
4) Mengidentifikasi kendala yang muncul, dan
5) Mencari jalan agar pekerjaan dapat diselesaikan
c. Sepanjang Hari (6-7 jam)
1) Mengecek pekerjaan personil
2) Mengarahkan sesuai kebutuhan
3) Mengecek kemajuan pekerjaan personil
4) Mengecek pekerjaan rumah tangga
5) Menciptakan kenyamanan kerja khususnya personil baru
6) Berjaga-jaga ditempat apabila ada pertanyaan atau
permintaan bantuan
7) Mengatur istirahat jam personil
8) Mendeteksi dan mencatat problem yang muncul saat itu serta
solusinya
9) Mengecek kecukupan alat/ sarana/ fasilitas sesuai kondisi
operasional
10) Mencatat fasilitas/ sarana yang rusak kemudian melaorkannya
11) Mengecek adanya kejadian kecelakaan kerja
d. Sekali dalam sehari (15-30 menit)
1) Mengobservasi satu personil atau area kerja secara kontinyu
untuk 15 menit
2) Melihat dengan seksama hal-hal yang terjadi misal:
keterlambatan pekerjaan, lamanya mengambil barang,
kesulitan pekerjaan
e. Sebelum pulang kerumah(15 menit)
1) Membuat daftar masalah yang belum diselesaikan
2) Berusaha menyelesaikan persoalan tersebut besok harinya

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

60

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

3) Pikirkan pekerjaan yang telah dilakukan sepanjang hari dan


hasilnya
4) Lengkapi laporan harian sebelum pulang
5) Membuat daftar pekerjaan untuk besok
6) Membawa pulang dan mempelajarinya dirumah sebelum pergi
bekerja

III.

PERAN DAN FUNGSI KEPALA RUANG


Kepala ruang adalah seorang tenaga perawat profesional yang diberi
tanggung jawab atau wewenang dalam mengelola kegiatan pelayanan
keperawatan disatu ruang rawat inap (Depkes RI, 1999).
Tanggung Jawab Kepala Ruang:
1. Manajemen personalia/ ketenagaan : penerimaan, seleksi, orientasi,
pengembangan staf, penilaian kinerja, promosi dan penyediaan
ketenagaan staf keperawatan.
2. Manajemen operasional : perencanaan, pengorganisasian dan
pengarahan dalam pelayanan keperawatan
3. Manajemen kualitas pelayanan : pengembangan standar asuhan
keperawatan, program kendali mutu, program evaluasi tim, persiapan
akreditasi pelayanan keperawatan
4. Manajemen finansial : budget, cost control dalam pelayanan
keperawatan.
Dalam melaksanakan pelayanan asuhan keperawatan kepala ruang
sebagai pemimpin bertanggung jawab dalam :
1. membantu perawat lain mencapai tujuan yang ditentukan
2. mengarahkan kegiatan-kegiatan keperawatan
3. bertanggung jawab atas tindakan keperawatan yang dilakukan
4. pelaksanaan keperawatan sesuai standar
5. penyelesaian pekerjaan dengan benar
6. pencapaian tujuan keperawatan
7. memperhatikan kesejahteraan karyawan
8. memotivasi bawahan.

IV.

PENUTUP
Supervisi keperawatan diperlukan untuk mencapai tujuan pelayanan
keperawatan di rumah sakit, supervisi bukan berarti menghukum tetapi
memberikan pengarahan dan petunjuk agar perawat dapat
menyelesaikan tugasnya secara efektif dan efisien.
Supervisor perlu membuat rencana supervisi dengan dilengkapi standar
acuanagar dapat dianalisa untuk tindak lanjut perbaikan atau
pemeliharaan perilaku dari staf keperawatan. Supervisor diharapkan
mempunyai hubungan interpersonal yang memuaskan dengan staf agar

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

61

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

tujuan supervisi dapat tercapai guna meningkatkan motivasi, kreativitas


dan kemampuan perawat yang akan berdampak pada peningkatan
kualitas pelayanan keperawatan.

Petunjuk Pengisian Pedoman dan Instrumentasi Pelaksanaan Supervisi


1. Isilah nama lengkap perawat pelaksana yang akan disupervisi
2. Tuliskan nama ruangan tempat perawat tersebut bekerja
3. Tuliskan waktu pelaksanaan supervisi yang telah disepakati bersama
antara kepala ruangan dan perawat yang akan disupervisi
4. Pilihlah salah satu yang dianggap tepat dan sesuai dengan petunjuk
penilaian yang tertera pada setiap instrumen
5. Bacalah setiap pernyataan atau aspek yang disupervisi dengan teliti
dan berilah angka penilaian pada kolom nilai
6. gunakan tinta biru atau hitam untuk pengisian dan tinta merah untuk
koreksi supervisor
7. format supervisi dianggap tidak sah apabila pengisian menggunakan
pensil, lembar kotor, ada koreksi menggunakan tipe x
8. format supervisi dianggap sah bila telah di tandatangani oleh perawat
pelaksana yang disupervisi, supervisor dan atasan supervisor
9. perhitungan nilai rata-rata dengan cara total score dibagi jumlah item
atau aspek yang dinilai. Kemudian hasil supervisi dinilai dengan ratarata score yang terbagi menjadi 4 kategori yaitu:
a. sangat baik bila nilai berkisar antara
81 100
b. baik bila nilai berkisar antara
68 80
c. cukup bila nilai berkisar antara
56 67
d. kurang bila nilai berkisar antara
41 - 55
e. Sangat kurang sekali bila nilai berkisar antara < 40
10. Isilah aspek positif atau negatif dari perawat yang bersangkutan
selama proses supervisi
11. Supervisor memberi kesempatan pada perawat yang bersangkutan
untuk
mengajukankomplain
atau
alasannya
atas
hasil
penilaiansupervisor
12. Supervisor memberikan kesempatan pengarahan langsung bagi
perawat yang bersangkutan dan merencanakan tindak lanjut atas
supervisi tersebut
13. Apabila hasil supervisi sudah disetujui olehkedua belah pihak maka
keduanya wajib menandatangani hasil tersebut
14. Format supervisi ini kemudian dilanjutkan atau diketahui oleh atasan
supervisor untuk dikoreksi dan ditandatangani

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

62

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

INSTRUMEN SUPERVISI
ASUHAN KEPERAWATAN LANGSUNG
RS BHAKTI YUDHA
Nama Perawat
Ruangan

:.................................
:.................................

NO

ASPEK YANG DINILAI

A.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
B
7.
8.
9.
10.
11.

PENGKAJIAN
Membuat kontrak denganklien
Melakukan pengkajian
Merumuskan masalah
Merumuskan diagnosa keperawatan
Merumuskan diagnosa prioritas keperawatan
Mendokumentasikan hasil pengkajian
RENCANA TINDAKAN
Memberikan pendidikan kesehatan
Menciptakan lingkungan terapeutik
Melakukan tindakan mandiri keperawatan
Melakukan tindakan kolaborasi
Mendokumentasikan
rencana
tindakan
keperawatan
PELAKSANAAN
Melakukan hubungan terapeutik (sikap &
teknik komunikasi)
Memberikan tindakan keperawatan
Melibatkan peran serta klien (sesuai
rencana)
Mendokumentasikan tindakan keperawatan
EVALUASI
Menilai kemampuan/ respon klien yang
dicapai
Membuat kontrak yang akan datang
Merencanakan tindak lanjut
Membuatmodifikasi tindakan
Mendokumentasikan evaluasi keperawatan
TOTAL SCORE

C
12.
13.
14.
15.
D
16.
17.
18.
19.
20.

Nilai = jumlah total nilai/24 x 100%


Keterangan : Dilakukan
=1
Tidak Dilakukan = 0

PELAKSANAAN
YA
TIDAK

Aspek Positif
:.....................................
Aspek Negatif
:.....................................
Kesimpulan hasil
Tanggapan yg disupervisi
Pengarahan langsung
Saran/ tindak lanjut

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

63

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

AUDIT KEPERAWATAN
I. PENDAHULUAN
Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan yang menyeluruh dalam tatanan pelayanan di rumah sakit.
Pelayanan keperawatan diberikan sesuai dengan dasar-dasar ilmu yang
menunjang dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien namun
dalam penerapannya masih banyak kendala kendala serta hambatan
yang dapat mempengaruhi standar keperawatan. Untuk meningkatkan
mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit
perlu mengevaluasi
kelayakan terhadap asuhan yang diberikan kepada pasien yaitu dengan
audit keperawatan
apakah telah sesuai dengan standar dan kriteria
asuhan keperawatan.

II. PENGERTIAN AUDIT KEPERAWATAN


Audit Keperawatan adalah suatu proses analisa data yang menilai tentang
proses keperawatan atau hasil asuhan keperawatan pada pasien untuk
mengevaluasi kelayakan dan keefektifan tindakan keperawatan.

III. TUJUAN AUDIT KEPERAWATAN


Audit Keperawatan bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan terhadap
asahan yang diberikan kepada pasien serta keefektifan tindakan
keperawatan untuk mempertanggung jawabkan hasil mutu yang akuntabel
dengan melakukan audit keperawatan dapat dinilai kelengkapan dan
keakuratan pencatatan asuhan keperawatan.

IV. PRINSIP-PRINSIP DALAM AUDIT KEPERAWATAN


Audit keperawatan mencerminkan kualitas dari pelayanan keperawatan
yang diberikan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan
sehingga penilaiannya adalah restrospektif dan selalu dilakukan setelah
pasien mendapatkan pemberian asuhan keperawatan. Dalam audit
keperawatan didalamnya termasuk pendelegasian, pendidikan kesehatan,
kelengkapan pendokumetasian asuhan keperawatan dimana audit
keperawatan dapat meningkatkan pengetahuan perawat terhadap praktik
keperawatan dan membantu perawat dalam merealisasikan tanggung
jawab secara professional.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

64

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

V. MANFAAT AUDIT KEPERAWATAN


Audit keperawatan bermanfaat untuk tinmgkat manajemen antara lain :
a. Bagi Administrator
1.
2.
3.
4.

Memberikan evaluasi program tertentu


Mendukung permintaan data untuk akreditasi rumah sakit
Melandasi perencanaan program baru untuk perubahan
Memungkinkan identifikasi kekuatan dan kelemahan dari proses
keperawatan
5. Menentukan pengaruh pola ketenagaan keperawatan
6. Sebagai data pengkajian terhadap efisiensi pelayanan
b. Bagi Supervisi
1. Mengidentifikasi area keperawatan yang diperlukan
2. Memberikan landasan rencana Diklat
3. Mengidentifikasi kebutuhan ilmu pengetahuan
c. Bagi Kepala Ruangan dan Perawat pelaksana
1. Sebagai Evaluasi dan introspeksi berkenaan dengan asuhan
keperawatan yang diberikan
2. Identifikasi jenis asuhan keperawatan yang diberikan
3. Identifikasi kebutuhan sebagai dasar untuk imlu pengetahuan di
bidang kesehatan

VI. LANGKAH-LANGKAH AUDIT KEPERAWATAN


a. Tentukan aspek yang akan dievaluasi atau di audit serta pendekatan
apa yang akan di gunakan
b. Identifikasi kekurangan dan tentukan langkah perbaikan
c. Tentukan standard an criteria
d. Susun instruimen evaluasi
e. Tentukan sampel dan lamanya audit
f. Analisa data yang ditemukan
g. Buat kesimpulan tingkat mutu aspek yang di audit
h. Identifikasi kekurangan dan tentukan langkah perbaikan berikutnya.
VII.

LINGKUP AUDIT KEPERAWATAN


a. Audit struktur
Audit struktur berfokus pada tempat dimana pemberian asuhan
keperawatan dilaksanakan yang meliputi:
1. Fasilitas
2. Peralatan
3. Petugas /Tenaga
4. Pengorganisasian , pencatatan pelaporan

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

65

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

b. Audit Proses
1. Merupakan
penilaian
terhadap
pelaksanaan
keperawatan apakah sudah sesuia dengan standar
2. Proses audit menggunakan pendekata retrospektif
cara mengukur kualitas asuhan keperawatan

asuhan
dengan

c. Audit Hasil
Audit hasil dapat dilakukan secara concurrent atau restrospektif
yang berdasar pada konsep 14 pola palayanan . Sehingga asuhan
Keperawatan akan memberikan dampak terhadap :
1. Kebutuhan pasien terpenuhi
2. Pasien memiliki pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan
3. Pasien memiliki ketrampilan dan kemampuan
4. Pasien memiliki motivasi.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

66

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

INSTRUMEN EVALUASI
DOKUMENTASI KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1.Data demografi

Pemeriksaan fisik meliputi ; head to toe/ dari kepala sampai kaki


a. Keluhan utama
b. Riwayat penyakit
c. System kardiorespiratori
d. System neurologi
e. System pencernaan
f. System perkemihan
g. System muskuloskeletal
h. System integument

i.

System reproduksi dan seksual

j.

Pemeriksaan Penunjang.

Pengkajian Psikososial dan spriritual

Format pengkajian diisi dalam 24 jam setelah klien masuk (format


pengkajian dapat menggunakan analisa pola Gordon (pola fungsi
kesehatan). Pola Gordon adalah suatu metoda yang digunakan dalam
proses keperawatan untuk melakukan pengkajian kepada pasien secara
komprehensif, meliputi sebelas (11) masalah kesehatan yaitu:
1. Pola persepsi kesehatan (bagaimana pasien memandang dan
menangani masalah kesehatannya, kepatuhan terhadap pengobatan
dan keperawatan)
2. Pola nutrisi dan metabolisme (kebiasaan makan dan kebutuhan
metabolisme)
3. Pola eliminasi (fungsi usus besar/BAB,BAK)
4. Pola aktifitas dan latihan (aktifitas hidup sehari hari termasuk aktifitas
kerja, rekreasi dan acara santai)
5. Pola istirahat dan tidur (kualitas tidur, istirahat an relaksasi)

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

67

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

6. Pola kognitif dan persepsi (pengetahuan,ide,persepsi dan bahasa:


persepsi sensori antara lain pendengaran, penciuman, peraba, perasa
dan penglihatan)
7. Pola konsep diri dan persepsi diri (persepsi tentang identitas diri,
kemampuan, gambaran diri dan harga atau nilai diri)
8. Pola peran dan hubunganla (peran dan hubungan dalam keluarga,
tempat kerja dan masyarakat)
9. Pola seksualitas dan reproduksi (fungsi, kebutuhan dan tingkat
kebahagiaan seksual)
10. Pola manajemen koping dan stres (stressor yang dihadapi, tingkat
toleransi dan metode penanggulangan masalah)
11. Pola nilai dan keyakinan (nilai kehidupan, tujuan,
falsafah,agama/keyakinan)
B. Diagnosa Keperawatan
1. Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi klien
2. Masalah psikososial yang berhubungan dengan penyakitnya
3. Diagnosa keperawatan dirumuskan berdasarkan asuhan keperawatan

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

68

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

IDENTIFIKASI SISTEM KLASIFIKASI PASIEN PADA


UNIT RUANG RAWAT
Klasifikasi pasien sesuatu dapat meningkatkan dalam menentukan hal-hal
yang berhubungan beban kerja dan kebutuhan staf, serta elemen penting di
dalam metode klasifikasi pasien adalah dimana kuantitas asuhan
keperawatan yang diberikan disesuaikan dengan katagori atau tipe pasien
pada setiap unit dan shif. Klasifikasi pasien dipakai untuk prediksi keperluan
keperawatan untuk memberkan asuhan kepada pasien dan dapat
mengevaluasi pola pelayanan yang akan diberikan pada setiap unit, shif dan
lefel dari staf hal ini juga menjadi validasi ulang terhadap pemberikan asuhan
yang disesuaikan katagori pasien. Kebutuhan klasifikasi ini dapat mengetahui
hubungan kebutuhan pelayanan asuhan keperawatan dengan alokasi staf
dari setiap shif ke shif dan dari unit ke unit. Monitoring dan memvalidasi dari
sistem klasifikasi pasien.
Definisi :
Suatu sistem yang dibangun untuk untuk menentukan beban kerja dan
kebutuhan jumlah perawat.
Tujuan :
Menentukan jumlah dan jenis staf yang dibutuhkan
Perencanaan staf menjadi pasti yang disesuaikan kondisi pasien pada
unit, seperti perbandingan kebutuhan perawat antara register, staf
nurse dan asisten nurse
Menentukan sistem penugasan yang efektif
Tenaga perawat menjadi lebih dapat ditentukan sesuai dengan
kemampuan dan beban kerjanya
Menentukan anggaran biaya pelayanan keperawatan yang sebenarnya
Menggambarkan waktu yang akan digunakan untuk menentukan biaya
perawatan. Keuntungan dan kerugian dapat dipastikan
Memberikan kemampuan pada menejer keperawatan untuk
mengendalikan dan menguasi pelayanan
Sistem klaifikasi pasien menjadikan menejer keperawatan dapat
membuat standar mutu sesuai kondisi pasien dan hal ini menjadikan
keputusan untuk mengurangi kualitas dari berkurangnya waktu dan
biaya personal (perawat) secara terus menerus dan dapat
meningkatkan prosedur secara efektif,efisien sesuai protokol.
Keberimbangan produktivitas out put dan in put
Sistem klasifikasi pasien dapat membantu menentukan produktivitas
fungsi perawat agar sesuai antara pemasukan dan pengeluaran.
Mengurangi biaya pemasukan sama dengan mengurangi biaya
keluar.dalam sistim perpektif pembiayaan, sistem pengeluaran menjadi
ukuran pasien keluar, pengeluaran menjadikan kriteria dalam
produktifitas kualitas perawatan.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

69

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Douglas (1992, dalam Sitorus, 2006) bahwa derajat ketergantungan klien


dibagi dalam tiga katagori:
1) Perawatan minimal memerlukan waktu 1 2 jam/ 24 jam, Kriteria :
a) Kebersihan diri, mandi ganti pakaian dilakukan sendiri
b) Makan dan minum dilakukan sendiri
c) Ambulansi dengan pengawasan
d) Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap jaga ( shift )
e) Pengobatan minimal dengan status psikologis stabil
2) Perawatan parsial memerlukan waktu 3 4 jam/ 24jam, Kriteria :
a) Kebersihan diri dibantu, makan dan minum dibantu
b) Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam
c) Ambulansi dibantu, pengobatan lebih dari sekali
d) Pasien dengan kateter urine, pemasukan dan pengeluaran
intake output
cairan dicatat / dihitung.
e) Pasien dengan infus, persiapan pengobatan yang
memerlukan prosedur
3) Perawatan total memerlukan waktu 5 6 jam/ 24jam, Kriteria :
a) Semua keperluan pasien dibantu
b) Perubahan posisi, observasi tanda-tanda vital dilakukan
setiap 2 jam
c) Makan melalui slang ( NGT / pipa lambung ), terapi intravena
d) Dilakukan penghisapan lender
e) Gelisah / disorientasi
Swansburg (1996) membagi ketergantungan pasien menjadi lima
kategori di unit medikal bedah yaitu:
1)

Kategori 1: Perawatan mandiri:


a) Aktifitas aktifitas sehari-hari seperti: untuk makan dan minum
dapat melakukan sendiri atau hanya perlu bantuan dalam
persiapannya, sedangkan untuk merapikan diri klien perlu
sedikit bantuan, kebutuhan eliminasi
ke kamar mandi,
kenyaman posisi tubuh dapat dilakukan sendiri dengan sedikit
bantuan.
b) Keadaan umum:baik, pasien dirawat untuk pemeriksaan
prosedur diagnosis, prosedur sederhana, atau operasi kecil.
c) Kebutuhan pendidikan kesehatan dan dukungan emosional:
pasien membutuhkan penjelasan untuk tiap prosedur tindakan,
maupun penjelasan untuk persiapan pulang, emosi stabil.
d) Pengobatan dan tindakan: tidak ada atau
tindakan atau
pengobatan sederhana.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

70

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

2)

Kategori 2:Perawatan minimal


a) Aktifitas sehari-hari seperti: makan dan minum dapat dilakukan
sendiri, pasien memerlukan bantuan dalam persiapannya,
sedangkan untuk merapikan diri klien perlu sedikit bantuan,
kebutuhan eliminasi perlu dibantu ke kamar mandi atau
menggunakan urinal, kenyamanan posisi tubuh dapat dilakukan
klien sendiri dengan sedikit bantuan.
b) Keadaan umum: tampak sakit ringan perlu pemantauan tandatanda vital, test gula darah urin, terpasang drain atau infus yang
sederhana
c) Kebutuhan pendidikan kesehatan dan dukungan emosi:
membutuhkan waktu 5-10 menit per-shift, sedikit bingung atau
agitasi tapi terkendali dengan obat.
d) Pengobatan dan tindakan: membutuhkan waktu 20-30 menit
per-shift, perlu sering dievaluasi keefektifan pengobatan dan
tindakan, perlu observasi status mental setiap 2 jam.

3)

Kategori 3: Perawatan moderat


a) Aktifitas sehari-hari: seperti makan dan minum disuapi, tetapi
pasien masih dapat mengunyah dan menelan, untuk merapikan
diri klien perlu bantuan, kebutuhan eliminasi dengan
mempergunakan pispot/urinal, inkontinensia dua kali per -shift,
kenyamanan posisi tubuh bergantung pada bantuan perawat.
b) Keadaan umum: gejala akut bisa hilang timbul,perlu
pemantauan fisik dan emosi tiap 2-4 jam, pasien terpasang infus
atau drain dan dipantau setiap 1 jam.
c) Kebutuhan pendidikan kesehatan dan dukungan emosi:
membutuhkan waktu 10-30 menit per-Shiift, pasien tampak
bingung, gelisah, menolak bantuan, dapat dikendalikan dengan
obat, melakukan orientasi sering
d) Pengobatan dan tindakan: membutuhkan waktu 30-60 menit
per-Shift perlu sering diobservasi i terhadap efek samping
pengobatan dan tindakan, perlu observasi status mental setiap
1 jam.

4)

Kategori 4: Perawatan ekstensif


a) Aktifitas sehari-hari:pasien
tidak dapat mengunyah dan
menelan makanan, pemberian makanan dan minuman lewat
sonde, untuk merapikan diri seperti:mandi, penataan rambut
dan kebersihan mulut dilakukan oleh perawat, kebutuhan
eliminasi sering ngompol lebih dari 2 kali per-shift, untuk
kenyamanan posisi tubuh perlu bantuan dua orang
b) Keadaan umum: tampak sakit berat, dapat kehilangan cairan
atau darah, gangguan sistem pernafasan akut dan perlu sedang
dipantau dan dievaluasi

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

71

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

c) Kebutuhan pendidikan kesehatan dan dukungan emosi:


membutuhkan waktu lebih dari 30 menit per-shift, gelisah,
agitasi dan tidak dapat dikendalikan dengan obat.
d) Pengobatan dan tindakan: membutuhkan waktu lebih dari 60
menit per-shift, mengerjakan tindakan lebih dari satu perlu pershift atau membutuhkan dua orang observasi status mental
setiap kurang dari 1 jam.
5)

Kategori 5: perawatan intensif


Pemenuhan kebutuhan dasar bergantung pada perawat keadaan
umum: harus diobservasi secara terus menerus, karena frekuensi
pengobatan dan tindakan yang lebih sering, maka seorang pasien
harus dirawat oleh seorang perawat per-shift.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

72

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

PENGELOLAAN KEBUTUHAN LOGISTIK KEPERAWATAN

A.

PENGERTIAN
Manajemen logistik adalah suatu ilmu pengetahuan dan atau seni serta
proses mengenai perencanaan dan penentuan kebutuhan pengadaan,
penyimpanan, penyaluran dan pemeliharaan serta penghapusan
material/alat-alat sehingga manajemen logistik mampu menjawab tujuan
dan banagaimana cara mencapai tujuan dengan ketersediaan bahan
logistik setiap saat bila dibutuhkan dan dipergunakan secara efisien dan
efektif (Subagya, 1994).
Manajemen Logistik merupakan kegiatan-kegiatan manajemen yang
bertujuan untuk mencapai daya guna (efisiensi) yang optimal didalam
memanfaatkan barang dan jasa. Manajemen logistik modern dapat
didefinisikan sebagai proses pengelolaan yang strategis terhadap
pemindahan dan penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi
dari para suplier, diantara fasiliats-fasilitas perusahaan dan kepada para
langganan. Ciri-ciri utama logistik adalah integrasi berbagai dimensi dan
tuntutan terhadap pemindahan (movement) dan penyimpanan (storage)
yang strategis.

B.

TUJUAN LOGISTIK
Adalah menyampaikan barang jadi dan bermacam-macam material
dalam jumlah yang tepat pada waktu dibutuhkan dan dengan total biaya
yang terendah (manajemen bangsal keperawatan, 2004).
Tujuan manajemen logistik mencakup :
1. Tujuan operasional
Agar tersedia barang dan bahan-bahan dalam jumlah yang tepat
dengan mutu yang memadai.
2. Tujuan keuangan
Difokuskan pada upaya agar operasional kegiatan dapat terlaksana
dengan biaya yang serendah-rendahnya.
3. Tujuan pengamatan
Agar persediaan materi tidak terganggu oleh kerusakan,
pemborosan, penggunaan tanpa hak, pencurian dan penyusutan
yang tidak wajar.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

73

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

C.

MANAJEMEN LOGISTIK
Kegiatan manajemen logistik meliputi berbagai fungsi: perencanaan,
penganggaran, pengadaan, penyimpanan dan penyaluran,
pemeliharaan dan pengendalian.
a. Fungsi Perencanaan
Perencanaan merupakan proses menetapkan sasaran, pedoman dan
dasar ukuran untuk penyelenggaraan pengelolaan dan perlengkapan
bidang logistik.
Fungsi perencanaan terdiri dari:
1. Menghindari kekosongan peralatan
2. Menghindari pengumpulan peralatan
3. Menentukan anggaran.
4. Menyediakan jumlah dan jenis peralatan sesuai kebutuhan
Kegiatan perencanaan mencakup:
1. Penentuan barang yang diperlukan
- Jenis barang yang diperlukan
- Kenapa barang diperlukan
- Kapan diperlukan
- Biaya
- Cara pengadaan
- Siapa yang menggunakan
2. Perhitungan perkiraan kebutuhan dan rencana pengadaan.
Kegiatan perhitungan dapat dilakukan dengan mengetahui data
tentang:
- stok awal dan sisa stok
- penerimaan dan pengelompokkan
- pemakaian rata-rata per bulan
- stok kosong
- stok pengaman
b. Penganggaran
Pengukuran penyelenggaraan bidang logistik dan merumuskan
perincian penentuan kebutuhan dalam suatu skala standar sesuai
dengan standar yang berlaku.
c. Pengadaan
Merupakan proses pemenuhan kebutuhan barang atau jasa dengan
kualitas yang terbaik dan harga yang minimal
Kegiatan pengadaan meliputi:
1. Pengadaan rutin, dilakukan sesuai dengan jadwal yang disusun
dan disepakati oleh GFK

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

74

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

2. Pengadaan khusus, dilakukan di luar jadwal rutin yang


disebabkan karena kebutuhan yang meningkat atau
kekosongan
d. Penyimpanan
Merupakan proses penyelenggaraan penerimaan, penyimpanan,
penyaluran barang agar pada saat diperlukan dapat dilayani dengan
cepat dan tepat.
Barang yang diterima akan disimpan dalam gudang dan dikelola dengan
baik.
Fungsi gudang meliputi :
1. Fungsi penerimaan. Petugas penerimaan barang melakukan
prosedur penerimaan barang dan administrasi yang meliputi.
1) fungsi pengecekan yaitu memeriksa apakah jumlah, bentuk,
dan jenis peralatan sesuai dengan kebutuhan. Apabila barang
yang diterima jumlahnya masih kurang atau rusak, petugas
harus menulis jenis barang yang kurang atau rusak.
2) Pembongkaran dan pemeriksaan barang.
3) Penyelesaian penerimaan laporan (receiving report)
4) Pengiriman barang.
2. Fungsi penyimpanan barang.
Identifikasi barang persedian ada 3 macam :
1) Arbitary : memberi nomer sesuai masuknya barang
2) Simbolik : memberi kode
3) Gambar tehnik
Proses penyimpanan yang perlu diperhatikan :
1) Barang yang penting mudah didapat dan diperoleh
2) Susunan gudang fleksibel
3) Ruang gudang dipakai secara efisien
4) Kehilangan dan kerusakan minimal
Alat penyimpanan barang
Rak terbuka, rak tertutup,kotak-kotak dan sebagainya. Alat
penyimpanan ini disusun dalam gudang sesuai dengan layout
yang dipergunakan dan diberi alamat.
e. Pendistribusian
Merupakan proses dimana dilakukan pengurusan, penyelenggaraan
dan pengaturan pemindahan barang dari tempat penyimpanan ke
tempat pemakai (user).

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

75

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

f. Penghapusan
Merupakan kegiatan penelitian dan pelaksanaan penghapusan
barang dari pertanggung jawaban yang berlaku, sehingga barang
tersebut dihapuskan dari tata usaha material
g. Pengendalian
Merupakan tindakan yang memastikan pelaksanaan sesuai dengan
rencana yang ditentukan dengan menggunakan umpan balik untuk
meyakinkan bahwa tujuan tercapai.

D.

PERALATAN KEPERAWATAN
Peralatan keperawatan meliputi :
1. Alat tenun
Dalam pengadaan alat tenun harus mempertimbangkan aspek:
a. Menyerap keringat
b. Mudah dibersihkan
c. Ukuran memenuhi standarisasi yang ditetapkan
d. Pemilihan warna memperhatikan aspek psikologis pasien
e. Tidak berfungsi sebagai mediator kuman
f. Tidak menyebabkan iritasi/perlukaan kulit
2. Alat kesehatan untuk pelayanan keperawatan
Dalam pengadaan alat kesehatan diperhatikan aspek:
a. Mudah dibersihkan
b. Tidak mudah berkarat
c. Ukuran stadnar secara umum (dewasa, anak, bayi)
d. Aman penggunaan baik bagi petugas dan klien
e. Tidak berfungsi sebagai mediator kuman
f. Untuk alat-aat kesehatan tertentu memenuhi persyaratan
ergonomi
g. Tersedianya suku cadang terhadap kesinambungan alat
h. Tersedianya manual penggunaan alat dan prosedur.
i. Alat rumah tangga.
j. Alat pencatatan dan pelaporan

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

76

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

E.

STANDAR PERALATAN KEPERAWATAN & KEBIDANAN DISARANA


KESEHATAN (DEPKES 2001)
1. Standar alat tenun :
Tersedianya alat tenun sesuai standar
Dokumen : jumlah, jenis,spesifikasi, kondisi, masa pakai
2. Standar alat keperawatan & kebidanan
tersediannya sesuai standar
dokumen:jumlah,spesifikasi, frekuensi penggunaan alat,
kondisi,masa pakai
Adanya daftar invenentaris yang di cek secara teratur & berkala
3. Standar alat rumah tangga
tersedinya sesuai standar
dokumen : jumlah, spesifikasi, frekuensi penggunaan alat, kondisi,
masa pakai
adanya daftar inventaris yang dicek secara teratur dan
berkala
4. Standar alat pencatatan dan pelaporan
mengidentifikasi kebutuhan
menyusun rencana kebutuhan sesuai jenis pelayanan dan
spesifikasi
melaksanakan penyimpanan sesuai SOP
melakukan koordinasi
mengoptimalkan penggunaan
melaksanakan pencatatan
5. Standar pengeloloaan
standar pencatatan alat
perencanaan peralatan yang terintegrasi dalam perencanaan RS
1) mengidentifikasi kebutuhan sesuai standar
2) menyusun perencanaan
3) melakukan koordinasi dgn unit kerja terkait
standar pengadaan alat
1) melaksanakan pengadaan sesuai prosedur
2) melaksanakan proses penerimaan
3) pelatihan cara penggunaan alat
standar penghapusan alat
1) sesuai dengan ketentuan
2) melaksanakan koordinasi

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

77

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menentukan standar peralatan:


1. kebijakan rumah sakit yang menyangkut pengadaan peralatan
keperawatan
2. tingkat hunian : BOR dan TOI
3. pola penyakit dan jenis pelayanan
4. sistim pemeliharaan peralatan keperawatan dan kebidanan
5. adanya SDM yang memiliki pengetahuan dalam pengelolaan
peralatan keperawatan dan kebidanan
6. pemilihan jenis pelalatan keperawatan dan kebidanan
mempertimbangkan klien, petugas dan pangsa pasar

Contoh:
Standar peralatan keperawatan dan kebidanan
Alat tenun dan kebidanan diruang rawat inap dengan kapasitas 30
pasien pada ruangan
No

Nama barang

Ratio (pasien : Alat)

Tensi meter

2/ruangan

Stetoskop

2/ruangan

Timbangan BB/TB

1/ruangan

Irigator Set

2/ruangan

Sterilisator

1/ruangan

Tabung oksigen + flow Meter

2/ruangan(bedah 3/R,P.Dlm 6 / R

Slim Zulger

2/ruangan

VC set

2/ruangan

Gunting Verban

2/ruangan

10

Korentang dan semptung

2/ruangan

11

Bak instrumen Besar

2/ruangan

12

Bak instrumen sedang

2/ruangan

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

78

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

APLIKASI PROSES KEPERAWATAN DAN DOKUMENTASI

I.

PENGERTIAN
Proses keperawatan adalah : metode rasional yang sistimatis untuk
merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan. Hal ini
mempunyai tujuan mengidentifikasi status kesehatan klien, masalah
kesehatan baik actual maupun potensial, menyusun rencana untuk
memenuhi kebutuhan yang telah diidentifikasi, dan memberikan
intervensi keperawatan yang spesifik sesuai dengan kebutuhan.
Proses keperawatan merupakan siklus, dimana komponen 2 nya
mengikuti sekuen yang logic, tetapi lebih dari satu komponen pada satu
waktu. Diakhir satu siklus asuhan akan dihentikan jika tujuan telah
tercapai atau siklus akan dimulai kembali degan pengkajian ulang.
Proses keperawatan merupakan metoda yang sistimatis diorganisir
untuk memberikan asuahn keperawatan individu yang berfokus pada
respon manusia yang unik pada seseorang atau kelompok terhadap
gangguan kesehatan baik actual maupun potensial.

II.

KOMPONEN PROSES KEPERAWATAN


Proses keperawatan terdiri dari seri dengan 5 komponen atau tahap :
pengkajian,
diagnosis,
perencanaan,
implementasi
dan
evaluasi.Walaupun teori-teori keperawatan mungkin mempergunakan
istilah yang berbeda untuk menguraikan tahap tersebut, tetapi kegiatankegiatan perawat dalam mempergunakan proses tersebut adalah sama.
Untuk menghindari salah pengertian, perawat harus terbiasa dengan
istilah-istilah
alternative
dalam
menguraikan
tahap-tahap
tersebut.Sebagai contoh : diagnosa perawat disebut analisis, dan
implementasi disebut intervensi.
Secara ringkas berikut ini akan diuraikan tahap-tahap proses
keperawatan dan bahasan yang dalam dan luas dari tiap tahap akan
diuraikan dalam bab berikut.
1. Pengkajian, mengumpulkan, mengorganisasi, validasi dan mencatat
data tentang status kesehatan klien.Data dikumpulkan dari sumbersumber yang berbeda.Pengkajian merupakan dasar kegiatan dan
keputusan yang diambil dalam pase berikutnya.Tidak ada kesimpulan
tentang data yang tergambar pada tahap ini.
2. Diagnosis, adalah proses yang menghasilkan pernyataan diagnostik
atau diagnosa keperawatan.Pada tahap ini perawat melakukan
seleksi, cluster/pengelompokan dan analisa data selanjutnya
bertanya: Apa masalah kesehatan yang actual atau potensial

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

79

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

dimana klien membutuhkan bantuan perawat? dan apa saja faktorfaktor


yang
berkonstribusi
terhadap
masalah-masalah
tersebut?.Jawaban dari pertanyaan tersebut akan menggambarkan
diagnosa keperawatan.
3. Perencanaan mencakup satu rangkaian langkah-langkah dimana
perawat dan klien : menyusun proiritas, tujuan atau hasil yang
diharapkan untuk memecahkan atau mengurangi masalah-masalah
klien yang telah teridentifikasi.
Dalam bekerja sama dengan klien, perawat mengembangkan
intervensi spesifik untuk setiap diagnosa keperawatan.Hasil dari
tahap perencanaan adalah Rencana asuhan keperawatan tertulis
yang dipergunakan untuk koordinasi asuhan yang diberikan oleh
seluruh anggota tim kesehatan.
4. Implementasi adalah : merealisasikan rencana asuhan keperawatan
kedalam
kegiatan.
Selama
tahap
implementasi
perawat
melaksanankan instruksi keperawatan yang telah ditulis atau
mendelegasikan/ melimpahkan pada oran yang tepat/ sesuai dan
menvalidasi dengan rencana asuhan keperawatan. Tahap ini diakhiri
jika perawat mencatat asuhan keperawatan yang telah diberikan
beserta respon klien pada: catatan-klien (contoh : catatan
perkembangan keperawatan).
5. Evaluasi, adalah pengkajia respon klien terhadap intervensi
keperawatan dan membandingkan respon tersebut dengan tujuan
atau criteria hasil yang tertulis pada tahap perencanaan. Perawat
menentukan hasil yang telah dicapai. Rencana asuhan dikaji ulang
pada tahap ini, yang mana mencakup perubahan-perubahan pada
sebagian atau keseluruhan dari tahap proses keperawatan.
Lima tahap proses keperawatan tidak terpisah-pisah tetapi saling
tumpang tindih, sebagai contoh : pengkajian merupakan tahap pertama
proses keperawatan selalu terdapat juga selama tahap implementasi
dan evaluasi.
Setiap tahap mempengaruhi tahap yang lain, sangat berhubungan,
contoh: jika data yang dikumpulkan pada tahap pengkajian tidak adikuat
maka lengkap atau tidak benar. Hal ini juga akan mempenaruhi tahap
perencanaan, implementasi dan evaluasi.

III.

KARAKTERISTIK PROSES KEPERAWATAN


Proses keperawatan menyediakan kerangka kerja dimana perawatperawat mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk
menyatakan asuhan manusia = human caring dan membantu klien
memenuhi kebutuhan-kebutuhan kesehatannya (Wilkinson 1992, pp. 45).Proses keperawatan dicirikan oleh properties unik yang mampu

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

80

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

berespon terhadap perubahan status perubahan klien, sehingga proses


keperawatan merupakan siklus dan dinamis, bukan statis.
Proses keperawatan berpusat pada pasien.Perawat mengorganisasi
rencana asuhan keperawatan berdasarkan masalah pasien bukan tujuan
perawat.Pada tahap pengkajian perawat mengumpulkan data untuk
menentukan kebiasaan, aktifitas rutin dan kebutuhan klien sehingga
dapat tersusun rencana asuhan sedapat mungkin tidak jauh menyimpan
dari rutin.
Proses keperawatan adalan interpersonal dan kolaborative.Untuk
meyakinkan pemberian asuhan keperawatan yang berkualitas, perawat
harus mengutamakan keterkaitan dan masalah dan berpartisipasi dalam
evaluasi rencana asuhan secara terus-menerus.Hal ini tergantung pada
komunikasi yang terbuka dan mempunyai arti dan mengembangkam
laporan antara klien dan perawat.Untuk menciptakan proses
keperawatan yang efektif dan pendekatan individual untuk setiap
pemenuhan kebutuhan pasien, perawat harus melakukan kolaborasi
dengan setiap individu, keluarga, kelompok dan komunitas.
Karakteristik lain proses keperawatan adalah dapat diterapkan secara
universal.Hal ini dapat dipergunakan pada klien dengan segala umur
pada setiap waktu diadakan batas kontinum sehat-sakit.Selanjutnya
dapat dipergunakan pada tempat yang berbeda-berbeda seperti sekolah,
RS, klinik, rumah dan area spesifik seperti keperawatan, ortopedi,
maternitas, dan bedah.
Proses keperawatan merupakan adaptasi dari tehnik-tehnik pemecahan
masalah dan teori sistem.Ia dapat dijelaskan secara paralel tetapi
terpisah dari proses medis.
Karakteristik proses keperawatan yang lainnya adalah:
1. merupakan sistem terbuka dan fleksibel dalam menemukan
kebutuhan yang unik dari klien, keluarga kelompok atau komunitas.
2. Siklus dan dinamis.Karena setiap tahap saling berhubungan, tidak
ada yang secara absolut mulai dan berakhir.
3. Berorientasi pada klien, pendekatan individual pada setiap pasien
dan memenuhi kebutuhannya.
4. Interpersonal dan kolaborasi.Hal ini memerlukan perawat melakukan
komunikasi langsung dan konsisten dengan klien dalam memenuhi
kebutuhannya.
5. Direncanakan.
6. Berorientasi pada tujuan.
7. Menyediakan kreatifitas untuk perawat dan klien dalam menentukan
cara untuk memecahkan masalah kesehatan pasien yang telah
ditentukan.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

81

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

8. Memberikan umpan balik, yang mana diperlukan untuk mengkaji


ulang masalah atau revisi terhadap rencana asuhan keperawatan.
9. Dipergunakan secara universal.Proses keperawatan dipergunakan
sebagai kerangka kerja dalam memberikan asuhan keperawatan
pada semua jenis tempat asuhan kesehatan dengan klien semua
kelompok umur.

IV.

KEUNTUNGAN PROSES KEPERAWATAN


Keuntungan proses keperawatan bagi klien adalah meningkatkan
kualitas asuhan yang diterima.Tingginya tingkat partisipasi, bersama
dengan evaluasi terus menerus, yakin dengan asuhan yang dirancang
untuk memenuhi kebutuhan klien yang unik.Karena proses keperawatan
diorganisasi, pendekatan sistematis, memungkinkan perawat-perawat
mempergunakan waktu dan sumber-sumber secara efisien yang
menguntungkan baik pasien atau perawat.
Keuntungan proses keperawatan bagi perawat-perawat adalah dengan
mengetahui bahwa mereka telah memberikan asuhan untuk memenuhi
harapan pelayanan kesehatan dan memenuhi standar dari profesi.
Kriteria dikembangkan oleh ANA dan terdapat pada standar d praktik
keperawatan klinik ke IV yang berdasarkan pada tahap-tahap proses
keperawatan (ANA 1991).Bagian dari Canadian Nurses Associations
Definition of Nursing Practise : Standar untuk praktik keperawatan
(1987) juga mencakup standard yang berhubungan dengan proses
keperawatan.
Di United States, Joint Commission on Acreditation of Healthcare
Organization (JCAHO) menetapkan tahap-tahap proses keperawatan
dipergunakan pada setiap klien yang dirawat (JCAHO1992, Nursing
Care, pp.1-67).Proses keperawatan sebagai kerangka kerja untuk
tanggung gugat perawat, ini memegang tanggung gugat dan tanggung
jawab perawat untuk pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi
dan evaluasi asuhan klien.
Proses keperawatan membantu perawat mendefinisikan perannya
kepada profesi lain, dengan jelas memperlihatkan konstribusi perawat
dalam kesehatan klien.

V.

PROSES KEPERAWATAN DAN PERAN PERAWAT


Sebaiknya untuk mempergunakan proses keperawatan dalam pelayanan
keperawatan di unit ruang rawat, menejer unit harus terlebih dahulu
menetapkan metode pemberian asuhan keperawatan, karena akan
menentukan peran perawat dalam aplikasinya.
Peran perawat sebagai berikut :

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

82

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

1. Tahap pengkajian :
- Melakukan pengumpulan data.
- Mengumpulkan informasi berdasarkan teori dan pola
pertimbangan yang diyakini.
- Validasi data yang dikumpulkan oleh perawat/tenaga kesehatan
lain.
- Memastikan data fokus yang menggambarkan masalah pasien.
- Mendokumentasikan dan cek hasil pengkajian pada format
pengkajian data dasar dan data fokus.
2. Tahap diagnosa keperawatan :
- Analisa, interpretasi dan sintesa data fokus yang telah
dikumpulkan.
- Mengambil keputusan klinik.
- Merumuskan diagnosa keperawatan sesuai kondisi pasien.
- Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada format daftar
masalah.
3. Tahap perencanaan :
- Menyusun rencana asuhan keperawatan sesuai dengan
diagnosa keperawatan.
- Mempergunakan tehnik-tehnik komunikasi untuk membangun
kerjasama dalam perencanaan keperawatan
- Menulis intervensi keperawatan.
- Membagi tugas pada anggota tim atau perawat pelaksana
sesuai kewenangannya.
- Mendokumentasikan
rencana
pada
format
rencana
keperawatan.
4. Tahap implementasi :
- Mengorganisir dan mengelola asuhan pasien dengan
mengimplementasikan rencana asuhan keperawatan.
- Melaksanakan intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan
dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Sesuai dengan SOP di unit ruang rawat.
b. Memperhatikan keselamatan pasien.
c. Mempersiapkan pasien dengan mempertimbangkan hakhaknya
d. Menerapkan prinsip moral-etik sesuai kondisi pasien.
e. Memberikan dukungan dan perlindungan terhadap pasien.
f. Melakukan pengkajian lanjutan selama implementasi.
- melakukan penilaian hasil dan setiap intervensi keperawatan.
- Mengkomunikasikan intervensi keperawatan.
- Mendokumentasikan implementasi pada format catatan
keperawatan.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

83

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

5. Tahap evaluasi :
- Melakukan penilaian dengan membandingkan hasil dengan
tujuan yang diharapkan.
- Mengambil keputusan apakan tujuan tercapai atau tidak.
- Melakukan umpan balik, dan rencana tindak lanjut.
- Mengkomunikasikan hasil kepada pasien sesuai ketantuan.
- Mendokumentasikan hasil penilaian pada format catatan
perkembangan.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

84

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

KETERAMPILAN SPESIFIK MANAJEMEN ASUHAN


KEPERAWATAN: KOMUNIKASI YANG EFEKTIF, DELEGASI,
KOORDINASI, KONSULTASI, COACHING, ADVOKASI DAN
KOLABORASI

I. KOLABORASI DALAM PENERAPAN PEMBERIAN ASUHAN


KEPERAWATAN DI UNIT RUANG RAWAT
Kolaborasi merupakan suatu bentuk kerja sama dengan individu atau profesi
kesehatan lain (baik sesama profesi/berbeda profesi) atau kelompok sebagai
mitra kerja untuk tujuan yang sama, yaitu memberikan pelayanan kesehatan
pada klien dan masyarakat secara optimal.
Beberapa alasan dilakukannya kolaborasi
Digunakan sebagai pendekatan dalam pemberian asuhan keperawatan
klien, dengan tujuan memberikan kualitas pelayanan yang terbaik bagi
klien.
Digunakan sebagai penyelesaian konflik untuk menemukan
penyelesaian masalah atau isu
Memberikan model yang baik riset kesehatan
Pengertian
American Nurses Association (1980) menjabarkan kolaborasi sebagai
hubungan rekanan sejati, dimana masing-masing pihak menghargai
kekeuasaan pihak lain, dengan mengenal dan menerima lingkup kegiatan
dan tanggung jawab masing-masing yang terpisah maupun yang bersama,
saling melindungi kepentingan masing-masing dan adanya tujuan bersama
yang diketahui oleh kedua belah pihak (Maukssch, 1981; Baggs & Schmitt,
1983).
Baily & Snyder (1995) kolaborasi sebagai hubungan kemitraan yang
bergantung satu sama lain dan memerlukan perawat, dokter dan profesi lain
untuk melengkapi satu sama lain alih-alih berperan secara hirarki.
American Nurses Association (1994) definisiokan kolaborasi sebagai proses
komunikasi, koordinasi dan kerja sama yang terjadi antara perawat-klien,
keluarga dan profesi kesehatan lain.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

85

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Prinsip-prinsip dasar kolaborasi dalam praktik keperawatan


Terdapat beberapa prinsip dasar atau komponen penting dalam praktik
kolaboratif, (National Joint Comission, 1981), yaitu :
a. Adanya saling pengertian
Yang dimaksud pengertian disini adalah saling mengakui/memahami
perbedaan peran dan fungsi serta kontribusi yang diberikan oleh masingmasing profesi kesehatan dalam satu tim, sehingga dalam pelaksanaan
kolaborasi masing-masing profesi kesehatan tidak akan merasa terancam
kekuasaannya dalam memberikan kontribusinya terhadap klien.
b. Menghargai satu sama lain
Hal ini akan terjadi bila setiap anggota dalam tim kesehatan menghargai
keberadaan dan kontribusi yang diberikan oleh masing-masing profesi
kesehatan. Sehingga setiap anggota tim bekerja sama sesuai dengan
keahlian profesinya masing-masing untuk tujuan yang sama, yaitu
memberikan pelayanan kesehatan pada klien. Tanpa adanya saling
menghargai maka kerja sama tidak akan terjadi (Norsen et all, 1995).
Yang dimaksud dengan pentingnya menghargai satu sama lain yaitu :
Dapat mengurangi perbedaan status profesional
Meningkatkan efesiensi dan efektifitas kerja
Meningkatkan pembagian infornmasi diantara profesi
Menerima kontribusi profesi lain
Sebagai advokasi evaluasi kritis penampilan kerja diantara anggota
tim
Mempermudah pengambilan keputusan bersanma
Meningkatkan tanggung jawab dan tanggung gugat dalam bekerja
c. Komunikasi
Komunikasi sangat penting dalam meningkatkan kolaborasi karena
memfasilitasi berbagai pengertian diantara individu. Kita hanya dapat
mengerti persepsi/informasi yang dimiliki oleh orang melaluipercakapan.
Komunikasi disini tidak hany secara lisan baik yang dilakukan secara
langsung berhadapan (face to face) maupun melalui telepon, tetapi juga
secara tertulis melalui pesan yang disampaikan dalam format tertulis.
d. Kompetensi
Kompetensi yang dimaksud disini adalah latar belakang pendidikan.
Praktik kolaboratif dapat berjalan dengan baik bila pendidikan diantara
anggota tim kesehatan relatif sejajar. Adanya persamaan pandangan/
persepsi dan pemahaman tentang ilmu kesehatan dan pelayanan
kesehatan pada klien dan masyarakat akan memudahkan komunikasi
yang terjadi dalam pemberian pelayanan kesehatan di rumah sakit. Hal ini
akan berdampak pada kontribusi yang diberikan oleh masing-masing
profesi dalam memberikan pelayanan kesehatan klien. Disamping itu
sebagai suatu profesi, masing-masing mempunyai otonomi, tanggung

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

86

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

jawab dan tanggung gugat dalam menjalankan fungsinya sesuai dengan


standar dan kode etik profesi.
e. Persepsi
Persepsi tentang kolaborasi merupakan pandangan/ pemahaman
mendasar perawat-dokter tentang kolaborasi, sehingga diharapkan
pelaksanaan kolaborasi dapat dilaksanakan terhadap pelayanan
kesehatan klien, kaarena masing-masing profesi kesehatan mempunyai
pandangan yang sama tntang apa, manfaat a/ keuntungan dan tujuannya
f. Tujuan bersama
Adanya tujuan bersama diantara masing-masing profesi kesehatan
terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan, yaitu klien sebagai fokus
utama. Adanya perbedaan orientasi/ tujuan dalam pelayanan kesehatan
klien merupakan sumber konflik utama dalam hubungan perawat-dokter
(Bradly, 1982). Dengan adanya tujuan yang sama maka perbedaan peran,
fungsi dan kontribusi yang diberikan tidak akan menjadi masalah karena
orientasinya sama.

Elemen-elemen kolaborasi dalam praktik asuhan keperawatan


Praktik kolaborasi memerlukan waktu dan energi. Profesi kesehatan tidak
selalu bergerak cepat dalam satu tim yang baik. Untuk mulai mengerti praktik
kolaborasi, berikut elemen kolaborasi:
Multiple provider : Kerja sama yang meliputi satu atau lebih pemberi
pelayanan kesehatan dan dapat lebih dari satu jenis grup profesi
Service koordinasi : Pendekatan umum yang digunakan untuk
menjamin asuhan dan pelayanan dalam disiplin ilmu yang sama dan
beberapa disiplin ilmu dalam bidang kesehatan
Communication : Berkomitmen untuk saling memberikan informasi
pada grup pemberi pelayanan kesehatan.
Kolaborasi keperawatan adalah bekerja sama dalam tim kesehatan dalam
upaya perawat mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang dibutuhkan
termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam menentukan bentuk pelayanan
keperawatan selanjutnya.
Prinsip prinsip kolaborasi:
Menguasai/memahami masalah pasien
Mampu melakukan komunikasi efektif
Memiliki pengetahuan yang berkaitan dengan masalah pasien
Mampu berpikir kritis
Mampu mengambil keputusan

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

87

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

II. COACHING (BIMBINGAN)


Pengertian
Coaching atau bimbingan merupakan proses belajar intensif melalui
bimbingan perorangan, demonstrasi, dan praktik yang diikuti dengan
pemberian umpan balik segera.
Tujuan Coaching
Coaching mempunyai tujuan untuk meningkatkan, mengembangkan, dan
memantapkan kualitas khususnya ketrampilan dan sikap dalam
melaksanakan atau menerapkan materi pembelajaran atau prosedur, missal :
Prosedur tindakan keperwatan
Manfaat /Keuntungan Coaching
Manfaat /keuntungan yang diperoleh dalam melakukan Coaching yatu :
1. Dapat mendorong kemampuan masing-masing individu sesuai
minatnya
2. Dapat menilai masing-masing peserta dengan berbagai metode
penilaian termasuk observasi dan interview.
3. Dapat mengikuti lebih dekat setiap perkembangna peserta
4. Lebih menekankan pada pendekatan personil dibanding dengan
training kelompok.
5. Peserta merasa lebih termotivasi dan bertanggung jawab untuk
melakukan keterampilan yang baru dipelajari karena bimbingan
berlangsung terus menerus dan personal.
6. Peserta secara individu memperoleh bimbingan intensif sesui dengan
kemampuan dasar, perkembangan dan kebutuhan peserta.
Kemampuan Untuk Melakukan Coaching
Kemampuan yang harus dimiliki untuk melakukan coaching yaitu sebagai
berikut:
1. Fasilitator harus dapat membimbing secara efektif dan sungguh
sungguh kepada setiap peserta.
2. Fasilitator dituntut memiliki kemampuan observasi, analisis dan
diagnosis yang tajam terhadap masalah pelatihan /pembelajaran.
3. Fasilitator dituntut memiliki kemampuan dan fleksibilitas yang tinggi
terhadap materi yang dilatihkannya.
4. Melakukan bimbingan dan komunikasi secara asertif
5. Memiliki daya empati dan peka terhadap kebutuhan peserta.
6. Mampu menjadi pendengar yang baik.
7. Terbuka untuk menerima pendapat.
Langkah Langkah Coaching
Langkah langkah dalam coaching yaitu:
1. Sebelum praktik sebaiknya peserta mengadakan pertemuan untuk
mereview kegiatan, termasuk langkah langkah yang perlu mendapat
penekanan.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

88

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

2. Fasilitator merencanakan skenario pembelajaran secara rinci dan


menyiapkan seluruh instrumen bimbingan termasuk instrumen evaluasi
3. Instrumen evaluasi disampaikan dan dibahas bersama dengan peserta
4. Fasilitator menyiapkan ruangan pelatihan beserta kelengkapannya.
Apabila materi yang akan dilatihkan berupa keterampilan keperawatan,
maka sarana/prasarana pembelajaran disiapkan semirip mungkin
dengan keadaan nyata dilapangan.
5. Pelajari kemampuan dasar yang telah dimiliki oleh setiap peserta,
sehingga fasilitator dapat memusatkan dan menyesuaikan
bimbingannya dengan kemampuan yang telah dimiliki disamping agar
bimbingan relajar secara efektif dan efisien.
6. Fasilitator merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasikan proses
bimbingan dan memberikan umpan balik sesuai dengan tingkat
pencapaian kompetensi setiap peserta.
7. Kondisi atau linkungan pembelajaran disusun menyerupai kondisi
linkungan
nyata
sehingga
memudahkan
peserta
untuk
menginternalisasi dan menghayati prosedur pembelajaran tertentu.
8. Fasilitator mendemonstrasikan setiap langkah tindakan atau prosedur.
9. Peserta melakuka redemonstrasi, fasilitator mengamati dan
memberikan umpan balik saat mereka melaksanakan langkah langkah
kegiatan. Peserta mencoba kembali tanpa bimbingan, fasilitator
memberikan umpan balik dan penguatan.
10. Umpan balik harus disampaikan sesegera mungkin dan lebih sering
dilakukan pada awal latihan kamudian berkurang secara bertahap
sesuai dengan tingkat perkembangan masing masing peserta. Umpan
balik menggunakan penuntun belajar atau check list yang telah
disiapkan.
11. Setelah peserta dinilai kompeten yaitu dapat melakukan prosedur
keperwatan secara mandiri dengan benar didalam pembelajaran
laboratorium atau simulasi, selanjutnya peserta diberikan kesempatan
untuk melakukan prosedur nyata dilahan kepada klien yang
sebenarnya dengan pengawasan dan bimbingan. Fasilitator
melakukan evaluasi terhadap penampilan/kinerja peserta.
12. Apabila pelatihan berupa materi manajemen, maka setelah
pembelajaran laboratarium dilanjutkan pula pada pembimbingan
dilapangan misal penyusunan SOP, perencanaan pelayanan
diruangan perawatan, memimpin rapat koordinasi, melakukan
monitoring dan evaluasi, melakukan supervisi kepada staf
keperawatan/kebidanan.
13. Bimbingan dilakukan sampai peserta dinilai kompeten dalam
melaksanakan keterampilan.
14. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk refleksi
15. Hasil evaluasi penampilan peserta digunakan sebagai salah satu
bahan untuk menetapkan tingkat kompetensi atau keberhasilan
peserta sesuai dengan standar pelatihan yang telah ditetapkan.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

89

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Ciri Ciri Fasilitator Yang Efektif


Fasilitator yang efektif memiliki ciri-ciri berikut:
1. Mahir menguasai keterampilan yang akan dilatihkan
2. Mendorong peserta mempelajari keterampilan baru
3. Meningkatkan komunikasi dua arah dan terbuka
4. Memberikan umpan balik segera dengan cara yang menarik yaitu:
- Menggunakan humor yang tepat
- Mengamati peserta dengan mengamati tanda tanda stres
- Memberikan istirahat selama sesi coaching
- Mengadakan variasi suasana coaching agar tidak monoton
- Memusatkan perhatian kepada keberhasilan peserta bukan
pada kegagalan
5. Gunakan metode coaching dan alat bantu yang variasi
6. Melibatkan peserta semaksimal mungkin dalam merencanakan semua
sesi
7. Menunjukan sumber sumber yang diperlukan
8. Bersifat sabar dan memberikan dukungan
9. Memberikan penghargaan/reinforcement positif
10. Memperbaiki peserta sambil tetap memelihara harga diri peserta
11. Mendengar dan memperhatikan

III. ADVOKASI
Pengertian Advokasi
1. Advokasi adalah usaha untuk mendapatkan atau menciptakan
perhatian terhadap suatu masalah atau isu yang penting dan
mengarah pada para pembuat keputusan untuk langsung membuat
penyelesaian.
2. Advokasi adalah dukungan terhadap suatu permasalahan dan
mengajak lainnya ikut mendukungnya.
3. Advokasi adalah upaya terencana untuk mendapatkan dukungan dan
keputusan dari para pembuat keputusan untuk penyelesaian suatu
masalah.
4. Adovokasi adalah penyampai informasi yang berupa ide, gagasan dan
konsep terhadap pihak pihak terkait (stakeholder) sehingga mereka
mau dan mampu berkontribusi dalam persiapan, pelaksanaan dan
evaluasi kegiatan atau program.
5. Adovokasi adalah usaha mempengaruhi kebijakan public melalui
bermacam macam bentuk komunikasi persuasive (Jonh Hopkins
University 1999)

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

90

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Advokasi dalam Keperawatan


Advokasi keperawatan adalah membantu klien dan keluarga, dapat
menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan atau
informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan
keperawatan yang diberikan kepada pasien serta mempertahankan dan
melindungi hak-hak pasien.
Tujuan Adovokasi:
1. Untuk
memperoleh
dukungan
politis
terhadap
perubahan
kebijaksanaan dan implementasi upaya kesehatan masyarakat
2. Memperoleh
komitmen
dari
semua
stakeholder
terhadap
penanggulangan masalah kesehatan yang diprioritaskan termasuk
program dan anggaran yang disusun melalui proses perencanaan dan
penganggaran kesehatan terpadu (P2KT)
3. Meningkatkan jumlah kebijakan public berwawasan kesehatan yang
dapat diimplementasikan
4. meningkatkan opini masyarakat dalam mendukung program kesehatan

Prinsip Prinsip Advokasi


1. Berdasarkan fakta (evidence based)
Adovokasi harus didasarkan pada data atau kenyataan yang valid dan
dalikasanakan dengan baik. Analisis situasi didasarkan pada data yang
bersumber dari laporan, hasil suvey, dan lainnya.
2. Memahami interes stakeholders
Advokasi dilakukan dengan pertimbangan interes para stakeholder,
karna banyak kemungkinan interes yang ada pada masing masing
stakeholder kesehatan seperti: meningkatkan mutu sumber daya
manusia, pemerataan kesejahtraan sosial, kekuasaan dan pengaruh,
demokrasi, good govenance (pemerintah yang bersih dan efektif) mutu
pelayanan, reward financial, reward non financial, dll. Dalam konteks
advokasi kesehatan kepada stakeholder, bagaimanapun interes
masing masing stakeholder akan mempengaruhi kebersihan advokasi
yaitu (a) membangun sikap (b) membangun komitmen dan (c) oleh
karena itu interes tersebut perlu dipahami terutama dalam
perencanaan advokasi danb dalam mempersiapkan isi pesan
advokasi.

Syarat Syarat Advokasi


1. Dipercaya (Creaible)
Program yang kita tawarkan atau kita ajukan harus dapat meyakinkan
para penentu kebijakan atau pembuat keputusan. Karena itu harus
didukung dengan data dan dari sumber yang dapat dipercaya.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

91

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Program yang didasari dengan permasalahan yang utama dan faktual


artinya masalah tersebut memang ditemukan dilapangan dan penting
untuk segera ditangani.
2. Layak (feasible)
Program tersebut secara teknik, politik maupun ekonomi dimungkinkan
atau layak. Secara teknik layak artinya program tersebut dapat
dilaksanakan, petugas cukup kemampuannya, sarana dan prasarana
pendukung cukup tersedia. Secara politik layak artinya program
tersebut tidak akan membawa dampak politik yang negatif pada
masyarakat. Sedangkan secara ekonomi layakl artinya didukung oleh
dana yang cukup.
3. Memenuhi kebutuhan masyarakat (Relevan)
Program yang diajukan harus mencakup 2 kriteria yakni (1) memenuhi
kebutuhan masyarakat dan (2) memecahkan masalah yang dirasakan
oleh masyarakat. Semua pejabat diseluruh sektor setuju baha tugas
mereka adalah menyelenggarakan pelayanan masyarakat untuk
mencapai kesejahteraan.
4. Penting (Urgent)
Program yang diajukan harus mempunyai urgent tinggi, yakni harus
segera dilaksanakan dan kalau tidak dilaksanakan akan menimbulkan
masalah yang lebih besar lagi. Oleh sebab itu program yang diajukan
adalah yang paling baik diantara alternatif alternatif yang lain.

Strategi Advokasi:
A. Analisis Stakeholder
Analisis stakeholder diperlukan karna sangat penting peranannya dalam
pengembangan rencana advokasi selanjutnya. Dalam analisis tersebut
setiap potential-stakeholder perlu dijajaki seberapa besar perananya
dalam isu yang akan diadvokasi.
Contoh analisis stakeholder;
1. Untuk pengambil keputusan
Hal yang perlu didefinisikan adalah:
a) Siapa (jabatan/posisi, jumlah dan jenis klamin), sosial budaya
b) Pengetahuan tentang masalah atau isu (topik) advokasi
c) Saluran untuk mencapai pengambilan keputusan
d) Keahlian keahlian khusus misalnya; pembicara atau negosiator
dll
e) Seberapa jauh pengaruhnya terhadap isu (topik) adviokasi
f)
Apakah mendukung atau menentang masalah/isu(topik0
advokasi dan alasannya

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

92

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

2. Untuk Mitra Kerja


Hal yang perlu diidentifikasi adalah:
Siapa (jabatan/posisi, jumlah, lokasi dan jenis kelamin), sosial
budaya
Pengetahuan tentang masalah atau isu (topik) advokasi
Jejaring kerja dan besarnya kelompok
Kekuatan khusus seperti hubungan dengan media, kemampuan
mobilisasimassa, dsb.
Pengalaman masa lalu dibidang advokasi
Keinginan untuk membagi pengalaman keahlian dan sumber
daya
Harapan bergabung sebagai mitra kerja
3. Untuk kelompok yang kemungkinan menolak
Hal perlu diidentifikasi adalah :
Siapa (jabatan/posisi, jumlah, lokasi dan jenis kelamin), sosial
budaya
Pengetahuan tentang masalah atau isu (topik) advokasi
Alasan bertahan atau menentang
Bagaimana menjangkau kelompok yang kemungkinan menolak
Kepada siapa kelompok tersebut berkonsultasi dan melihat
kelemahan dan kekuatannya.
B. Identifikasi jejaring advokasi
Jejaring advokasi diperlukan agar rencana advokasi dapat
dijalankan lebih optimal untuk mencapai keberhasilan
Jejaring advokasi adalah kelompok organisasi maupun perorangan
yang saling bekerjasama untuk memperjuangkan perubahan dalam
kebijakan/program yang berkaitan dengan masalah atau isu
advokasi
Manfaat jejaring :
- Mendapatkan informasi terkini, akurat dan terpercaya
- Merupakan forum tukar pendapat dan pengembangan
gagasan
- Memberikan dukungan
- Memberikan akses, sumber daya dan kemampuan yang
optimal
- Menyatukan sumber daya yang terbatas untuk tujuan bersama
- Mandapatkan hal yang tidak dapat diberikan perorangan atau
organisasi tunggal
- Membentuk inti kegiatan dan menarik perhatian jejaring lain
- Memperluas basis dukungan
Bentuk Jejaring advokasi :
Salah satu bentuk jejaring adalah koalisi. Koalisi yaitu bentuk kerjasama
individu, kelompok atau institusi yang perduli terhadap isu/masalah
tertentu yang menjadi kepedulian bersama dan berupaya menyelesaikan
bersama.
Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan
Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

93

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Peran advokasi dalam jejaring advokasi antara lain :


Mempengaruhi penentu kebijakan agar membuat/mengeluarkan
kebijakan publik yang menguntungkan/mendukung penyelesaian
masalah/isu yang dimaksud.
Mengadakan kampanye denganmendayagunakan media massa
untuk membentuk opini yang menguntungkan/penyelesaian
masalah/isu yang dimaksud
Melakukan pendidikan massa terutama primary stakeholder atau
orang orang yang secara langsung akan mendapatkan manfaat bila
masalah/isu tersebut terpecahkan, agar mendukung dan berani
melakukan unjuk rasa (class action).
C. Hal Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Melakukan Advokasi
Untuk mencapai maksud dan tujuan advokasi perlu diperhatikan hal hal
berikut ini:
1. Isu advokasi harus fokus
Materi advokasi terfokus pada isu tertentu yang dianggap paling
penting. Dalam advokasi isu utama dapat tergantung dari masalah
yang ada pada saat itu, misalnya dukungan untuk pengadaan SDM
kesehatan dengan anggaran daerah. Disarankan isu yang akan
diadvokasikan diurut menurut prioritasnya, sehingga penentu kebijakan
akan menetapkan isu utama sesuai dengan prioritas yang dimaksud.
2. Tegas dalam menyatakan tang diharapkan
Dalam melakukan advokasi siapkan materi sesuai dangan minat
advokator dan stakeholder. Dalam penyampaian advokasi tampilkan
sikap advokator yang tegas, lugas, dan asertif.
4. Yakinkan Manfaat Yang Diperoleh
Avokator harus mempersiapkan materi advokasi berupa pikiran dan
bukti dari pengelaman yang lalu atau pengelaman ditempat lain
tentangmanfaat yang akan diperoleh kalau rencana dan anggaran
dapat diwujudkan
5. Singkat
Kegiatan advokasi yang diselenggarakan dalam bentuk seminar atau
pertemuan harus berlangsung singkat. Pengelaman melakukan
advokasi kesehatan dengan kalangan eksekutif dan legeslatif
dibeberapa daerah menunjukan bahwa sebaiknya seminari advokasi
diselenggaraka tidak lebih dari 3 jam.
Hal yang sam berlaku kalau advokasi dilakukan dalam bentuk siaran
radio lokal atau surat kabar lokal. Untuk penulisan media cetak lokal
sangat penting membangun jaringan kemitraan dan wartawan lokal
yang umumnya mampu menulis berita atau artikel singkat yang
menarik.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

94

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

D. Teknik Dan Kiat Advokasi


1. Lobi Politik
Lobi banyak digunakan untuk mengadvokasi pembuat kebijakan publik
atau pejabat pejabat publik dalam bentuk bincang bincang
(pendekatan). Yanng diperlukan dalam melobi yaitu data dan argumen
yang kuat untuk meyakinkaan si pejabat bahwa betapa seriusnya
permasalahan/isu yang dihadapi dan betapa pentingnya peranan si
pejabat. Atifitas lobi biasanya berhubungan dengan program, undang
undang atau isu isu tertentu.
Melobi bisa langsung (pertemuan pribadi, percakapan lewat telpon,
surat tertulis pribadi,surat terbuka/massal, email dan pernyataan) atau
tidak langsung (kampanye).
Kiat dalam melobi:
Nalar yang memikat. Menyampaikan hal hal yang secara umum
ideal dan bisa diterima berkaitan dengan pandangan/isu yang kita
perjuangkan.
Ingatkan idealogi mereka. Menyampaikan hal hal yang sesuai
dengan idealisme orang yang sedang kita lobi berkaitan dengan
pandangan/isu yang kita perjuangkan.
Katakan yang benar. Selalu menjaga diri untuk berkata jujur
(sekali ditehui tidak jujur, maka dilain kesempatan kepercayaan
tidak akan didapat lagi).
Kaitkan denngan minat pribadi. Menyampaikan hal hal yang
sesuai dengan kepentingan orang yang sedang kita lobi berkaitan
dengan pandangan/isu yang kita perjuangkan.
Lima hal berikut ini dipegang teguh dalam melobi
1. Berikan informasi yang benar dan akurat.
2. Hindari untuk menjanjikan sesuatu
3. Simak dengan baik apap yang diutarakan oleh pihak yang
advokasi
4. Bina hubungan dengan orang orang terdekat dengan pihak
yang diadvokasi
5. Sampaikan hal hal pokok dan penting untung bahan
pertimbangan dan pengembalian keputusan secara lengkap
kepada yang bersangkutan.
Penting untuk diperhatikan dalam melobi:

Persiapkan dengan baik pertemuan. Berlatilah dahulu untuk


mendapatkan hasil yang lebih baik. Bila bentuknya kunjungan
dalam kelompok, tentukan siapa yang akan bicara/memulai
penbicaraan.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

95

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Rumuskan apa yang akan disampaikan dengan singkat, jelas,


padat, dan runtut tanpa membuat orang yang dilobi merasa
teracam.
Datanglah tepat waktu sesuai dengan perjanjian, bahkan kalau
bisa lebih awal, jangan putus asa kalau janji dibatalkan atau
harus menunggu berjam jam.
Segera perkenalkan diri di awal pertemuan.
Konsentrasi dan fokuskan pikiran pada tujuan.
Gunakan cara cara yang persuasif, hindari perdebatan.
Bersikaplah tebuka pada gagasan yang muncul dalam acara
lobi.
Berikan lembar fakta yang berisi rangkum permasalahan/isu
yang diperjuangkan beserta usulan solusinya
Buat perjanjian untuk pertemuan berikutnya.
Tawaran bantuan, khususnya informasi yang relevan dengan
permalasan/isu.
Mintalah nama dan alamat orang yang akan menjadi contact
person.

2. Petisi
Merupakan pernyataan tetulis dan resma untuk menyampaikan
isu masalah yang sedang hangat diperbincangkan.
Mewakili statu pandangan kolektif dan tidak hanya individu atau
kelompok tertentu.
Merupakan pernyataan yang singkat dan jelas atas
isu/permasalahan pokok, dan tindakan apa yang perlu dilakukan
diikuti dengan nama dan alamat dari sejumlah besar individu
yang mendukung petisi tersebut.
3. Negosiasi
Negosiasi akan menolong untuk menciptakan solusi yang saling
menguntungkan dalam situasi konflik.
Negosiasi merupakan teknik advokasi yang dimaksudkan untuk
menghasilkan kesepakatan. Dalam hal ini pihak yang bernegosiasi
menyadari bahwa masing masing pihak mempunyai kepentingan
yang sama yang perlu diamankan, sekaligus kepentingan yang
berbeda/bertentangan
yang
perlu
dipertautkan.
Negosiasi
memerlukan kemampuan untuk melakukan tawar menawar dengan
alternatif yang cukup terbuka.
Beberapa kiat untuk mengatasi konflik dalam bernegosiasi:
Jangan bereaksi
Dengarkan dan nyatakan
Rekam dan susun apa yang mereka katakan dalam alur pikir
kearah pemecahan maslah

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

96

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Tetaplah kukuh tanpa meremehkan keinginan orang


lain/kelompok
Pecahkan masalah

Cara-cara negosiasi: Kompetisi, Kolaborasi, Kompromi, Akomodasi,


Menghindar
Kemampuan negosiasi dapat ditingkatkan dari:
MENDENGARKAN

MENGAMATI

MENYAMPAIKAN

Atentif/penuh
Perhatian
Mau menerima
Membantu
Waspada
Aktif
Respek

Secara panuh
Bijaksana
SungguhSungguh
Objektif

Menggunakan
Kata-kata sederhana
Tidak mengancam
Berbicara dengan
Sistematis
Menghindari katakata sulit
Akurat & lengkap

Negosiasi harus mempunyai kemampuan : SHAPE


Sincere/ Sensitive (tulus peka)
Honest/ Humoris (jujur/humoris)
Attentive / Articulate ( menarik/ pandai berbicara)
Proficient (pandai/cakap)
Enhtusiastic (antusiasi/tegas)
5. Berdebat
Debat adalah kontes (kompetisi) dimana dua ataau lebih pembicara
mempresentasikan argumentasi mereka dalam mempengaruhi pihak
lain. Debat digunakan bila terdapat dua atau lebih pendapat yang
berbeda tentang masalah tertentu dan merupakan kesempatan untuk
menekankan aspek positif dan negatif dari seluruh pendapat. Untuk
melakukannya diperlukan persiapan secara mendalam dengan
pengetahuan tidak hanya dalam perspektif drir sendiri tetapi juga
tentang situasi serta mengetahui dimana sikap/pendirian dari anggota
debat lainnya. Perlu juga diantisipasi pertanyaan pertanyaan yang
dilontarkan dan dikatakan oleh anggota debat lainnya.
Debat mengharuskan penbicaranya menggunakan bebagai referensi
untuk mendapatkan informasi yang tepat, karna kedudukannya
mengharuskannya untuk berbicara secara rici dan akurat. Pembicara
juga harus dapat menganalisis dan membedakan hal vital dan tidak
penting,menyampaikan bukti bukti valid dan masuk akal atas
pernyataannya. Pendebat harus selalu berkepala dingin, mebuat
keputusan secara cepat dan akurat sehingga meyakinkan
pendengarnya. (dari How to Debate by Harrison Boyd Summers)

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

97

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Empat tipe debat:


1. Debat parlemen. Debat ini dilakukan di akademi atau universitas.
2. Debat nilai, misanya tentang isu moral, tenaga kerja wanita,
euthanasia, aborsi, dsb
3. Debat kebijakan atau debat tim. Pada debat ini, ada dua tim yang
belawanan kedudukannya yaitu sisi afirmatif (positif) dan sisi negatif,
yang memperdebatkan topik kebijakan publik atau pemerintahan.
4. Debat Akadmik. Merupakan debat yang murni akademis, biasanya
merupakan debat yang diciptakan.
Empat langkah yang diikuti:
baca informasi latar belakang mengenai subyek.
persipakan kepustakaan komprehensif.
kumpulkan sebanyak mungkin materi.
baca dan pelajari materi yang ditemkan
5. Seminar atau presentasi
Bentuk prresentasi dapat dijadikan pilihan untuk menyampaikan
informasi kepada beberapa pejabat publik sekaligus, baik dari suatu
intansi tertentu apalagi kalau berasal dari beberapa instansi bebeda
yang bekaitan dengan permasalahan/isu yang diadvokasikan. Selain
dapat menjangkau sejumlah orang sekaligus (lebih efisien), etknik
presentasi juga menguntungkan dalam menyaman presepsi,
menumbuhkan kebersamaan dan membangun komitmen. Selain data
yang akurat dan argumentasi yang kuat, dalam presentasi juga
dipentingkan kemampuan dalam menggunakan media dan alat bantu
penyajian.
Kiat kiat presentasi efektif
Tujunkan antusiasme mengenai pokokpersoalan
Tarik perhatian dengan presentasi yang tidak monoton
Buatlah materi yang menarik dengan mengaitkan minat
audiens
Gunakan istilah praktis dan tidak membingungkan audiens
Pakai bahasa tubuuh yang sesuai dengan mengekspresikan
diri
Berbahasa secara akurat dan tidak berlebih-lebihan
Ciptakan suasana menyenangkan semua pihak
Beri respon memadai terhadap reaksi audensi
6. Mengembangkan Liputan Media
Membangun kontak personal bidang media
Mengikuti perkembangan tren media, dan teknologi yang mereka
gunakan
Memfasilitasi wartawan agar mendapatkan informasi dan data yang
relevan

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

98

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Berpedoman dengan 5F yaitu: Fast, Factual, Frank, Fair, & Frendly


(cepat faktual, jujur, adil & ramah)
Menjalin komunikasi dengan penanggungjawab/editor media.
Menyatakan terima kasi dan memberikan penghargaan kepada
wartawan yanng bejasa dan prifesional

Dua unsur penting dalam mengembangkan strategi media


1. Pesan utama:memberikan keterangan secara ringkas kepada
wartawan untuk apa organisasi berdiri dan apa yang dilakukan oleh
organisasi
2. Konsisten : memastikan setiap orang didalam organisasi
memperoleh pesan yang sama
Audensi dan Media yang Sensual
a. Identifikasi kebutuhan informasidari audensi yang dituju.
b. Ketahui media yang digunakan dan dipercayai oleh mereka
Tentukan untuk tujuan apa anda ingin mendekati mereka
Untuk mendorong diskusi
Untuk menginformasikan tentang isu-isu baru;
Untuk mendidik mereka tentang nilai-nilai;
Untuk membantu mereka membentuk opini
c. Pilihan media berdasrkan tujuan tersebut
d. Media cetak: cenderung sebagai instrumen yang elit, sebaiknya
mencapai orang orang yang berpengaruh, politikus dan membuat
kebijaksanaan.
e. Radio: cenderung sebagai instrumen untuk audensi yang luas,
tetap digunakan walaupun ada TV, sebaiknya untuk penyebaran
informasi, misalnya berita, wawancara.
f. Televisi: cenderung sebagai alat hiburan, berfungsi sebagai hiburan
tetapi juga berguna untuk penyebaran informasi.
Bagaimana Melibatkan Media?
a. Jalin hubungan pribadi
b. Kirim surat, hubungi melalui telpon, dan undangan resmi.
c. Undangan untuk acara yang penting
d. Selenggarakan seminar dan pertemuan orientasi.
e. Ajak untuk kunjungan lapangan
f. Ajak untuk wawancara dengan para VIP
g. Sediakan informasi/data secara teratur
Format pesan bagi media
1. Pengumuman pers
a. Pengumuman pers yang singkat dan dapat (maksimal 2
halaman);
b. Pastikan semua mengandung kenyataan dengan menuangkan
dalam dan berita utama;

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

99

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

c. Tempatkan masalah utama didalam paragraf isi dan bereita


utama;
d. Mulailah artikel anda dengan pernyataan dramatis dan ditulis
secara sederhana, contoh:Lebih dari 260 orang tenaga
produktif diantaranya beberapa eksekutif meninggal akibat KLB
Malaria dikabupaten X
e. Kirim pengumuman pers anda dengan menggunakan kop surat
denganpress release tercetak diatasnya.
f. Sertakan pengumuman pers anda dengan sebuah foto.
2. Facts sheets (lembar data)
Bagi masalah pokok kedalam sub-sub topik yang agak kecil
untuk memudahkan pemahaman
Diskusikan satu sub topik satu kali;
Jaga penggunaan berkali-kali sebuah lembaran fakta didalam
pikiran (sebagai pengumuman pers, materi pelajaran, dan
bagian dari alat alat pers)
Dukungan informasi anda dengan diagram, grafik, foto, statistik,
tabel sederhana;
Tulis secara sederhana, gunakan bahasa yang sederhana.
3. Perlengkapan pers/ paket sederhana
Merupakan sebuah gabungan fakta, data, gontnh,studi kasus,
ilustrasi foto, kaset video, dan lain sebagainya, untuk memberikan
wartawan kemudahan mendapatkan fakta dan informasi atas
masalah yang diangkat.
4. Konferensi pers
Adalah bentuk pertemuan singkat dengan sejumlah wartawan,
media massa yang diundang untuj menjelaskan suatu isu penting
yang segera perlu diketahui masyerakat. Konferensi pers sebaiknya
dilakukan secara cepat (wktu pendek), didahului dengan penjelasan
singkat dan diikuti dengan tanya jawab/klarifikasi.

E. Langkah-langkah Advokasi
1. Definisi Isu Strategis
2. Menentukan tujuan
3. Mengembangkan pesan advokasi
4. Penggalangan Sumber Daya termasuk Dana
5. Menggembangkan rencana kerja

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

100

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

1. Definisikan isu strategis


Merupakan fokus untuk perubahan kebijakan
Contoh isu Pembangunan Berwawasan Kesehatan
Kerangka isu pilihan
KRITERIA UNTUK MEMILIH ISU

NILAI (P)
1
2
3

Isu yang mempengaruhi banyak orang


Isu yang mempunyai pengaruh besar terhadap program
kesehatan
Isu sesuai dengan misi /mandat organisasi
Isu sesui dengan tujuan pembangunan berwawasan
kesehatan
Isu dapat dipertanggung jawabkan dengan intervensi
advokasi
Isu dapat memobilisasi para mitra
TOTAL NILAI
2. Menentukan tujuan advokasi
Tujuan adalah suatu pernyataan tentang suatu keadaan yang akan
dicapai pada massa tertentu. Dalam menetapkan tujuan advokasi
lebih diarahkan pada perubahan perilaku untuk meyakinkan para
pelaku kebijakanyang berkaitan dengan isu-isu yang telah ditetapkan.
Oleh karena itu, dalam menetapkan tujuan advokasi harus
didahulukan dengan suatu pertanyaan 5W + 1H, Siapa yang
diharapkan terlibat, seberapa banyak yang harus dicapai, dalam
kondisi apa, berapa lama, dan dimana?
Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan advokasi harus :
Realistis, artinya bisa dicapai bukan angan-angan
Jelas dapat diukur
Jelas sasaran yang akan diadvokasikan
Menggambarkan tingkat perubahan yang diharapkan
Menjelaskan waktu dan tempat advokasi dilakukan
Contoh menetapkan tujuan mengenai :
Kejadian pleitis di ruang rawat : Menurunkan kejadian plebitis
pasien tirah baring dari 5% menjadi 3% pada bulan September
2008
Pentingnya kawasan merokok ditempat kerja : Meningkatnya
Kawasan Tanpa rokok ditempat kerja dari 10% menjadi 30%
sampai tahun 2004 di kabupaten A.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

101

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

3. Mengembangkan pesan advokasi


Pesan adalah terjemahan tujuan advokasi ke dalam ungkapan atau kata
yang sesuai dengan sasaran.
Mengmbangkan pesan advokasi diperlukan kemampuan perpaduan
antara ilmu pengetahuan dan seni. Pesan advokasi mengajukan fakta
dan data yang akurat, juga diharuskan mampu untuk membangkitkan
emosi dan kemampuan seni untuk mempengaruhi para penentu
kebijakan
Efektifitas Peasan (Seven Csfor Effective Communication)
Suatu pesan advokasi dapat dikatakan efektif dan kreatif jika memenuhi
tujuh criteria sebagai berikut :

Command Attention
Kembangkan suatu isu/ide yang merefleksikan desain suatu pesan.
Bila terlalu banyak ide akan membingungkan penentu kebijakan
sehingga mudah mudah untuk dilupakan

Clarify the Message


Buatlah pesan advokasi mudah, sederhana, dan jelas. Pesan yang
efektif harus memberikan informasi yang relevan dan baru bagi
ppenentu kebijakan sebab, bila diremehkan oleh mereka secara
otomatis pesan tersebut gagal.

Create Trust
Pesan advokasi harus dapat dipercaya dengan menyajikan data dan
fakta yang akurat.

Communicate a Benefit
Tindakan yang dilakukan harus memberi keuntungan sebagai
penentu kebijakan termotivasi untuk menerapkan kebijakan
Kawasan tanpa Rokok yang dikeluarkan pimpinan Perusahaan
merupakan suatu tindakan nyata untuk menerapkan Kawasan Tanpa
Rokok bagi karyawan di tempat kerja.

Pengemasan Pesan
Presentasi adalah kunci untuk menyampaikan pesan
Sebuah prestasi yang berhasil adalah prestasi yang menarik,
didukung oleh fakta yang sahih dan tayangan/tampilan yang
menarik
Pengemasan mencakup cetakan, materi audio visual
Dukungan kemasan dengan ilustrasi sederhana, grafik dan photo.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

102

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Kelompok sasaran pesan terdiri atas ;


Pesan bagi pembuat keputusan
A. MASALAH
B. UKURAN ISU
C. DAMPAK

Pesan bagi mitra dan sekutu


Pesan bagi kelompok yang bertahan/menolak
Pesan bagi masyarakat

4. Penggalangan Sumber Daya termasuk Dana


Kenali dan coba dapatkan sumber daya (uang, tenaga, keahlian,
jejaring dan perlengkapan lain) untuk melaksanakan kampanye
advokasi.
Kata kunci : Ilmu sapu lidi
Kegiatan :
Ciptakan dan perluas jejaring
Mobilisasi sumber daya
5. Mengembangkan Rencana Kerja
Pelaksanaan rencana kegiatan advokasi sesuai dengan identifikasi
kegiatan, tugas pokok dan fungsi dari para pelaksana, jangka waktu,
serta sumber daya yang dibutuhkan.
Antara lain sebagai berikut :
Identifikasi :
Tugas pokok dan fungsi advokasi
Kegiatan
Jadwal
Sumber Daya
Menyusun POA

IV. KOMUNIKASI
1. Pengertian
Komunikasi interpersonal adalah Proses penyampaikan informasi dari
komunikator (sender) kepada komonikan (reciever) dengan harapan
bahwa informasi yang disampaikan dapat dimengerti oleh oleh
(komunikan) penerima informasi
Komunikasi organisasional adalah proses formal mempergunakan chanel/
jalan untuk menerima atau menyampaikan informasi. Kepemimpinan
manajemen dicapai melalui komunikasi efektif (Douglass, 1992). Dalam
manajemen asuhan komunikasi pada semua tingkatan adalah penting.
Jalur komunikasi merupakan penghubung vital dalam fungsi manajen dan
tidak dapat ditinggalkan (Steven, 1983).

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

103

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

2. Tujuan
Contoh tujuan secara umum Komunikasi dalam tatanan keperawatan
Tujuan
Inform (Informasi)
Entertain (Hiburan)
Inquare (permintaan)
Persuade
(meyakinkan)
Command
(Komando)

Contoh
Rapat berikutnya akan diadakan pada hari
Rabu jam 14.00
Mari kita adakan pesta (perayaan) untuk
menyambut perawata baru
Karena ada yang sakit, saya minta anda
untuk melanjutkan dinas sore
Anda akan setuju bahwa alat monitor ini
sudah sangat kuno.
Ambil trolly emerjensi !, Bapak . B di kamar
702 sedang gawat

3. Jenis komunikasi
1) Komunikasi verbal adalah komunikasi yang mempergunakan
lambang bahasa dalam penyampaian pesan kepada penerima
2) Komunikasi non verbal adalah komunikasi yang mempergunakan
lambang bukan bahasa dan dapat berwujud gambar, intonasi,
penampilan personal.
4. Tahap-tahap komunikasi
a. Tahap interaksi bidang kepribadian umum ( public areas )
b. Tahap pertukaran eksplorasi ( exploratory exchange ) mencakup
pengembangan kepribadian umum ( Publik )
c. Tahap interaksi sosial efektif komunikasi berfokus pada saling
belajar satu sama lain.
d. Tahap hubungan stabil keterbukaan umum pribadi dalam semua
tingkat.
5. Bagaimana menjadi komunikator yang baik
1) Beberapa dasar untuk menjadi pendengar yang baik :
- Sediakan waktu untuk mendengar
- Gunakan kontak mata
- Bertanya segabai klarifikasi
2) Belajar untuk konsentrasi
- Ketika bicara jangan menginterupsi pembicaraan, tetapi
dengarkan apa yang dikatakannya bukan bagaimana dia
mengatakannya.
- Anda perlu menangkap isi dari pesan dan jangan langsung
menyimpulakan.
6. Dimensi dalam komunikasi keperawatan
7. Konsep-konsep kunci dalam komunikasi
Komunikasi efektif perlu menjadi pendengar yang baik
Pendengar aktif dapat meliputi 4 tahapan : mendengar, berpikir,
merespon dan memahami.
Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan
Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

104

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Perawat berperan dalam komunikasi pada majemen asuhan


keperawatan. Perawat berinteraksi dengan pasien dan keluarga,
petugas kesehatan lain dalam koordinasi manajemen asuhan
keperawatan.
Komunikasi dengan pasien mengandung dua unsur verbal dan non
verbal dalam menyampaikan pesan pada manajemen asuhan
keperawatan.

8. Diskusi kasus
Gunakan 4 langkah dasar menjadi pendengar aktif untuk bermain peran
dengan partner dengan mengikuti situsi berikut ini : Dokumentasikan
setiap tahap. Respon dari pengirim pesan (pasien) sampai pesan tersebut
jelas dan anda berdua setuju bahwa anda telah mengajarkan 4 tahap
dalam mendengar.
a) Ibu A bingung tentang diagnosa medisnya takut bertanya, Dia
mencoba menemukan seorang perawat untuk menceriterakan apa
yang dia alami. Anda sebagai perawat yang bertugas hari ini apa
yang anda lakukan.
b) Ny W. Dirawat di rumah sakit selama 1 minggu, dengan proses
penyembuhan dari trauma, Suaminya komplain tentang perawatan
terhadap istrinya dan dia mengatakan pada perawat Istri saya
jangan dimandikan, dia sedang mengalamai nyeri. Kerjakan sesuatu.!
Bagaimana pendekatan anda terhadap Mr. Y untuk mendengarkan
keluhannya.
c) Anda sebagai perawat Tn C perlu menjelaskan secara detail tentang
pengobatan dan rencana penyuluhan sehubungan dengan
perawatan luka. Apakah ini merupakan pesan mudah ataupun
komplek. Apakah rencana ini perlu dsampaikan lebih dari satu jalan?
Dokumentasikan dan diskusikan cara-cara untuk mengklarifikasi
pesan terhadap Mr. Y.

V. PENDELEGASIAN TUGAS DALAM PEMBERIAN ASUHAN


KEPERAWATAN
Pengertian pendelegasian tugas
Delegasi adalah suatu cara yang membantu organisasi dapat berjalan
dengan lancar, Seorang manajer tidak dapat mengerjakan semuanya sendiri.
Delegasi biasanya merupakan prosedur yang bersifat temporer, dan dalam
suatu organisasi dapat terjadi pada setiap pelaksanaan tugas, Delegasi
dapat terjadi dari atasan kebawahannya contoh dari manejer kepada staf ,
dapat juga secara lateral dari peer ke peer, dapat terjadi dari bawahan ke
atasan (dari staf ke manajer) (Schwartz, 1992). Secara tradisional pada
umumnya hirarki organisasi delegasi mengarah kebawah, delegasi juga
Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan
Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

105

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

terjadi antara staf perawat dan asisten perawat di unit kerja. Proses delegasi
sangat berarti dalam profesi staf keperawatan.
Delegasi adalah suatu pelimpahan tanggung jawab untuk melakukan suatu
tugas dari seseorang keorang lain yang dianggap mampu melaksanakannya.
1.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Langkah langkah pendelegasian yang efektif:


Perencanaan
Mengidentifikasi tingkat kesulitan pekerjaan
Menentukan/memilih kemampuan staf yang paling tepat
Tersedia formulir pendelegasian
Mengkomunikasikan tujuan pendelegasian secara jelas
Beri arahan (guideline)
Evaluasi kinerja pelaksana delegasi
Berikan reward

Contoh pendelegasian:
Dari kepala ruangan kepada ketua Tim:
1. Menyusun daftar dinas staf pelaksana
2. Menentukan tingkat ketergantungan pasien
3. Melakukan audit proses keperawatan
4. Memantau mutu pelayanan keperawtan (BOR,ALOS,TOI)
5. Memantau mutu asuhan keperawtan khusus: angka kejadian infeksi
luka infuse, infeksi luka operasi, kejadian dekubitus, pasien jatuh,
kenyamanan dankepuasan, injuri akibat restrain,dll)
Dari ketua tim kepada perawat pelaksana:
1. Memimpin pre dan post conferensi
2. Pengisian pendokumentasian asuhan keperawatan
3. Presentasi kasus
4. Mengkoordinir asuhankeperawatan dalam tim yang menjadi tanggung
jawabnya
Dari perawat pelaksana kepada perawat pelaksana:
Mendelegasikan asuhan keperawatan pasien yang dikelola
Prinsip-prinsip dasar delegasi dalam pelayanan dan asuhan
keperawatan
a. Delegator seseorang yang memberikan delegasi
b. Delegasi seseorang yang menerima pendelegasian
c. Pertanggungjawaban Pemberi delegasi bertanggung jawab terhadap
tanggung tanggap yang diberikan untuk mencapaui tujuan
d. Otoritas harus diberikan pada penerima delegasi agar tujuan tercapai
Accontable Penerima delegasi harus memegang tanggung gugat
terhadap tujuan dan yang akan dicapai

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

106

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

METODA PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN


Dalam manajemen asuhan keperawatan metoda pemberian pelayanan
keperawatan yang digunakan merupakan faktor penting dalam
menentukan mutu mutu asuhan keperawatan. Model / metoda
pemberian asuhan memberikan gambaran jelas tentang tugas, tanggung
jawab dan kewenangan perawat dalam menyelesaikan asuhan,
menetapkan siapa yang menjalankan tugas dan tanggung jawab,
penyesuaian jumlah pasien dengan jenis tenaga perawat dalam
memenuhi kebutuhan perawatan.
Asuhan keperawatan diberikan dalam beberapa metoda, seperti : metoda
fungsional, metoda tim, metoda keperawatan primer, metoda kasus, metoda
moduler, serta metoda manajemen kasus, partnership model dan pasien
focus dari pelayanan (patient care centre). Dalam praktik keperawatan
profesional, metoda fungsional sebaiknya tidak lagi digunakan. Rumah sakit
dapat menetapkan metoda yang paling memungkinkan untuk dilaksanakan.
a. Metoda Kasus /Keperawatan total pasien
Metoda kasus merupakan sistem pemberian dimana seorang perawat
profesional memberikan asuhan keperawatan langsung kepada sejumlah
pasien sewaktu dia bertugas. Dasar pemikiran metoda ini adalah seorang
perawat profesional paling siap untuk melaksanakan semua asuhan
keperawatan yang diperlukan pasien. Metoda kasus ini biasa digunakan
pada unit perawatan yang memerlukan keahlian keperawatan pada tingkat
ahli, seperti pada unit perawatan kritis atau ruang pemulihan setelah di
anestesi.
Keuntungan:
1. Pasien mendapat asuhan keperawatan secara holistik dan terus
menerus oleh ahlinya.
2. Komunikasi antara perawat pasien dan dokter dengan anggota staf
lainnya berlangsung terus menerus.
3. Perawat mendapat kepuasan karena dapat melakukan semua yang
menjadi wewenangnya.
Kerugian:
1. Perawat
profesional banyak menghabiskan
waktu
untuk
melaksanakan tugas yang dapat dilakukan orang yang tidak trampil.
2. Perencanaan yang dibuat kemungkinan tidak dapat terlaksana
karena kurangnya waktu.
3. Pengkajian yang dilakukan oleh perawat tidak akurat karena
kurangnya komunikasi.
Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan
Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

107

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

4. Asuhan keperawatan tidak terkoordinasi dari shift ke shift atau hari


kehari karena perubahan dalam penugasan.
5. Tidak ada seorangpun perawat yang
mengkoordinasikan asuhan selama 24 jam.

bertanggung

jawab

Tugas Kepala Perawat


a. Membuat penugasan untuk setiap tenaga perawat.
b. Menerima laporan.
Tugas Perawat klinik.
1. Memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang menjadi
tanggung jawabnya pada shift tertentu.
2. Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam memberi
asuhan keperawatan pada pasien.
Dalam metoda kasus banyak menggunakan tenaga perawat register untuk
dapat memberikan semua asuhan yang dibutuhkan pasien dan lebih
sedikit tenaga praktikal yang dibutuhkan.
b. Metode Tim
Metode tim merupakan sistem pemberian asuhan keperawatan yang
umum digunakan. Dalam metoda ini seorang perawat profesional yang
berijazah, berpengalaman serta memiliki pengetahuan dibidangnya
memimpin sekelompok tenaga keperawatan dalam memberikan
asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Dalam memberikan
asuhan kepada sekelompok klien dilakukan melalui upaya kooporatif
dan kolaboratif (Douglas, 1992).
Metoda tim dilaksanakan berdasarkan pada konsep berikut:
1) Ketua tim diberikan pada perawat profesional dan harus
mampu menggunakan berbagai tehnik kepemimpinan,
manajemen dan komunikasi efektif.
2) Ketua tim harus dapat membuat keputusan tentang prioritas
perencanaan, supervisi, dan evaluasi asuhan keperawatan.
3) Komunikasi yang efektif penting untuk menjamin kontinuitas
rencana perawatan. Komunikasi yang terbuka dapat
dilakukan melalui berbagai cara terutama melalui rencana
perawatan tertulis yang merupakan pedoman pelaksanaan
asuhan, supervisi dan evaluasi.
4) Anggota
tim
harus
menerima
dan
menghargai
kepemimpinan ketua tim. Ketua tim membantu anggotanya
untuk memahami dan melakukan tugas sesuai dengan
kemampuan mereka.
5) Peran kepala perawat diruang perawatan penting dalam
metoda tim.
Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan
Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

108

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Tugas dan tanggung jawab kepala perawat diruang perawatan


1). Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf.
2). Membantu staf menetapkan sasaran dari unit atau ruangan
3). Memberikan kesempatan dan bantuan kepada ketua tim
untuk pengembangan kepemimpinan / manajemen.
4). Menjadi narasumber atau konsultan bagi tim
5). Mendorong staf untuk meningkatkan kemampuan melalui
riset keperawatan
6). Menciptakan iklim komunikasi yang terbuka
Tugas dan tanggungjawab ketua tim:
1). Mengkaji setiap klien dan mempertimbangkan intervensi
rencana asuhan keperawatan. yang tepat.
2). Mengkoordinasikan rencana keperawatan dengan tindakan
medis
3). Membagi tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap
anggota kelompok dan memberikan bimbingan melalui
konferensi
4). Mengevaluasi kualitas asuhan keperawatan dan hasil yang
dicapai serta mendokumentasikannya.
Tugas dan tanggung jawab anggota tim:
1). Merawat setiap pasien di unit perawatan.
2). Melaksanakan instruksi keperawatan yang tertera dalam
rencana keperawatan secara teliti termasuk program
pengobatan.
3). Melaporkan secara tepat dan akurat tentang asuhan yang
dilakukan serta respon pasien.
Keuntungan:
1). Memanfaatkan semua kekuatan anggota tim.
2). Tim mendukung pengembangan dan produktifitas kelompok.
3). Pengambilan keputusan organisasi mendekati groos root
4). Komunikasi diantara anggota tim baik karena sering diskusi
mengenaiasuhan keperawatan pasien.
5). Perasaan turut berkontribusi dalam tim terpeliharaan baik.
6). Meningkatnya kepuasan pasien.
7). Biaya efektif.
Kerugian:
1). Diperlukan pengalaman dan ketrampilan ketua tim.
2). Diperlukan staf yang adekwat.
3). Diperlukan campuran ketrampilan yang tepat.
4). Dapat mengarah pada fragmentasi pelayanan bila konsep
timtidak diimplementasikan secara total.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

109

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

5). Sering mendapat kesulitan dalam menetapkan waktu untuk


konferensi dan membuat rencana keperawatan.
Dalam keperawatan tim, perawat profesional dapat mempraktekkan
kemampuan kepemimpinannya secara maksimal. Kepemimpinan
perawat ini menjadi kunci keberhasilan praktek keperawatan dan
menjamin asuhan keperawatan bermutu bagi pasien.

Keperawatan Tim
Kepala Perawat - Ners

Pimpinan Tim - Ners


Angg.Tim : Ners, Pr Dipl, Per.
Pembantu

Pimpinan Tim - Ners


Angg.Tim : Ners, Pr Dipl,
Per. Pembantu

Pasien

Pasien

c. Metoda Primer
Metode keperawatan primer merupakan suatu metoda pemberian
asuhan keperawatan, dimana seorang perawat register bertanggung
jawab dan bertanggung gugat untuk memberikan asuhan
keperawatan kepada pasien dalam 24 jam.
Dalam metoda keperawatan primer ini terdapat hubungan yang dekat
dan berkesinambungan antara klien dan seorang perawat tertentu
yang bertanggung jawab dalam perencanaan, implementasi, evaluasi
dan koordinasi asuhan keperawatan klien sejak masuk unit
perawatan sampai keluar dari unit perawatan.
Metode keperawatan primer dikenal dengan ciri yaitu, akuntabilitas,
otonomi, otoritas, advokasi, ketegasan, dan 5 K yaitu, kontinuitas,
komunikasi, kolaborasi, koordinasi dan komitmen. Pada metode
keperawatan primer terdapat kontinuitas keperawatan dan bersifat
konfrehensif serta dapat dipertanggungjawabkan. Setiap PP
biasanya merawat 4-6 klien dan bertanggung jawab selama 24jam
selama klien tersebut dirawat di rumah sakit atau disuatu unit.
Tugas dan tanggung jawab kepala perawat

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

110

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

1). Identifikasi siapa perawat yang ingin mejadi perawat


primari.
2). Memberi dukungan dan pendidikan.
3). Menjamin semua staf perawat dan pemberi asuhan lain
memahami peran perawat primeri dan asosiet.
4). Menjadi model peran, pembimbing dan konsultan.
5). Menjamin dan mempertahankan mutu asuhan.
6). Mengelola aspek fiscal/keuangan.
7). Memberikan otonomi pada perawat primer untuk
menjalankan pendelegasian dan pengambilan keputusan
yang tepat.
Tugas dan tanggung jawab perawat primer.
1). Memenuhi kebutuhan pasien secara total selama dirawat di
rumah sakit.
2). Melakukan pengkajian secara komprehensif dan
merencanakan asuhan keperawatan.
3).
Mengadakan
komunikasi
dan
koordinasi
dalam
merencanakan asuhan keperawatan dan membuat rencana
pulang pasien
4). Memberikan asuhan keperawatan pasien sesuai rencana
dan mengkoordinasikan dengan tim anggota kesehatan lain :
dokter, dietisien, perawat lain , menginformasikan keadaan
pasien kepada kepala ruangan, dokter, dan staf
keperawatan.
5). Melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontak dengan
lembaga sosial di masyarakat, membuat jadual perjanjian
klinik, mengadakan kunjungan rumah dan lain-lain.
Tugas dan tanggung jawab perawat asosiat.
1). Melaksanakan tugas dan tanggungjawab perawat primer bila
perawat primer tidak ada.
Keuntungan:
1). Memungkinkan Perawat Primer untuk pengembangan diri
melalui implementasi imu pengetahuan.
2). Model praktek didasarkan pada pengetahuan.
3). Fokus pada kebutuhan pasien.
4). Meningkatnya otonomi perawat.
5). Memungkinkan asuhan keperawatan diberikan secara
komprehensif.
6). Membaiknya kontinyuitas dan koordinasi asuhan.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

111

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

7). Meningkatnya kesempatan untuk pengembangan hubungan


antara perawat pasien/keluarga.
8). Peningkatan mutu asuhan, karena

Hanya ada 1(satu) perawat yang bertanggungjawab


dalam perencanaan dan
koordinasi asuhan
keperawatan
Jangkauan observasi setiap perawat hanya 4-6 klien.
Asuhan keperawatan diberikan secara komprehensif
PP bertanggungjawab selama 24 jam
Rencana pulang klien dapat diberikan lebih awal
Rencana asuhan keperawatan dan rencana medik
dapat berjalan paralel.
9). Perbaiki retensi perawat.
10). Meningkatnya kepuasan perawat, dokter dan
pasien/keluarga.
Kerugian:
1). Diperlukan perawat berpendidikan dan berpengalaman.
2). Diperlukan kemampuan komunikasi yang baik antara
perawat primer dengan rekan perawat ( Perawat asosiat).
3). Perawat primer dapat mengambil tanggung jawab rekan
perawat untuk mengimplementasaikan asuhan keperawatan
yang diberikan.
4). Karena pindah keunit yang berbeda pasien dalam kondisi
kritis kemungkinan mempunyai beberapa perawat primer.
5). Biaya tinggi.
6). LOS menjadi singkat.
Keuntungan yang diperoleh rumah sakit adalah rumah sakit tidak
harus mempekerjakan terlalu banyak tenaga keperawatan, tetapi
harus merupakan perawat yang bermutu tinggi.
Keperawatan primer
Kepala Perawat di ruang
perawatan
Perawat Primer

Perawat asosiet bila


PP tdk ada ( siang)

Perawat asosiet bila


PP tdk ada ( sore)

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

Perawat asosiat bila


PP tidak ada ( malam )
112

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

d. Metoda Moduler
Metoda keperawatan modul merupakan metoda modifikasi
keperawatan tim - primer, yang dicoba untuk meningkatkan efektifitas
konsep keperawatan tim melalui penugasan modular. Sistem ini
dipimpin oleh perawat register (Ners).
dan anggota memberikan asuhan keperawatan dibawah pengarahan
dari pimpinan Modulnya. Idealnya 2 3 perawat memberikan asuhan
keperawatan terhadap 8 12 pasien. Aktifitas tim sebagai suatu
kesatuan mempunyai pandangan yang holistik terhadap etiap
kebutuhan pasien, asuhan diberikan semenjak pasien masuk rumah
sakit sampai pasien pulang. Keuntungan pada metoda modular mutu
pelayanan keperawatan meningkat karena pasien mendapat
pelayanan keperawatan secara komprehensif sesuai dengan
kebutuhan perawatan pasien. Tidak banyak tenaga perawat Register
(Ners) yang dimanfaatkan sehingga biaya menjadi lebih efektif.
Tugas dan tanggung jawab kepala perawat
1). Memfasilitasi pelaksanaan pemberian asuhan keperawatam
pasien.
2). Memberikan motivasi pada staf perawat.
3). Melatih perawat untuk bekerjasama dalam pemberian
asuhan
Tugas dan tanggung jawab ketua tim moduler.
1).Memimpin, mendukung dan menginstruksikan perawat non
profesional untuk malaksanakan tindakan keperawatan
2). Memberikan asuhan keperawatan pasien meliputi :
Mengkaji, merencanakan, melaksanakan dan menilai hasil
asuhan keperawatan.
4). Memberi bimbingan dan instruksi kepada perawat partner
kerjanya.
Tugas dan Tanggung jawab anggota tim
1). Memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan yang
ditugaskan ketua tim.
2).
Keuntungan
1). Tim mendukung pengembangan dan produktifitas kelompok.
3). Asuhan keperawatan diberikan secara komprehensif.
4). Membaiknya kontinyuitas dan koordinasi asuhan.
5). Meningkatnya kepuasan pasien.
6). Biaya efektif

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

113

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Kerugian.
1). Sedikit perawat register yang digunakan untuk mengatasi
kondisi pasien yang tidak diharapkan
2). Diperlukan pengalaman dan ketrampilan ketua tim.
3). Diperlukan campuran ketrampilan yang tepat.

e. Metoda Manajemen Kasus


Metoda manajemen kasus adalah suatu sistem pemberian asuhan
keperawatan yang berfokus pada pencapaian hasil dalam kerangka
waktu dan sumber yang tepat dan efektif. Metoda ini sering digunakan
dalam perangkat pelayanan kesehatan masyarakat, psikiatri dan
diadopsi dalam asuhan pasien rawat inap, berfokus pada populasi
semua pasien . Manajemen kasus adalah model yang digunakan untuk
mengidentifikasi, koordinasi, dan monitoring implementasi kebutuhan
pelayanan untuk mencapai asuhan yang diinginkan dalam periode
waktu tertentu.
Elemen penting dalam manajemen kasus meliputi :
1) Kerjasama dan dukungan dari semua anggota pelayanan dan
anggota kunci dalam organisasi ( Administrator, dokter dan
perawat).
2)
3)
4)
5)
6)

Kualifikasi perawat manajer kasus.


Praktek kerjasama Tim.
Kualitas sistem manajemen yang diterapkan.
Menggunakan prinsip perbaikan mutu yang terus menerus.
MenggunakanCritical pathway (hasil) atau asuhan MAPS
(Multidisciplinary Action Plans) yaitu kombinasiClinical Path
dengan Care Plans).
7) Promosi praktek keperawatan profesional
Dalam 1 unit diperlukan 2 manajer kasus yang bekerja
mengkoordinasikan,
mengkomunikasikan,
bekerjasama
untuk
menyelesaikan masalah dan memfasilitasi asuhan sekelompok pasien.
Idealnya 1 orang manajer kasus mempunyai 10 15 kasus pasien
dimana perkembangan pasien akan diikuti terus oleh manajer kasus
mulai dari pasien masuk sampai pulang. Bila diperlukan mengikuti
perkembangan pasien di rawat jalan.
Tugas dan tanggung jawab Manajer
1). Mengelola dan memimpin proses perbaikan mutu.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

114

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

2). Memberikan pengarahan kepada para manajer kasus untuk


memastikan bahwa jumlah kasus yang ditangani tepat dan
ditangani dengan baik
3). Melaksanakan survey kepuasan pasien sebagai ukuran mutu
pelayanan.
4). Membuat batasan area tanggungjawab
5). Mengklarifikasi suatu kejadian kepada manajer lain bila diperlukan
6). Merencanakan & memberikan pendidikan dan pengembangan
staf berdasarkan tujuan unit dan kebutuhan staf.
7). Melakukan monitoring terhadap asuhan yang dilaksanakan oleh
tenaga perawat dan non keperawatan.
8). Melakukan koordinasi, komunikasi dan bekerja sama dalam
menyelesaikan permasalahan pasien.
9). Memfasilitasi asuhan keperawatan pasien.
Keuntungan dari manajemen kasus.
1). Meningkatnya mutu asuhan karena:
a). Perkembangan kesehatan pasien dimonitoring terus
menerus sehingga selalu ada perbaikan bila asuhan yang
diberikan tidak memberikan perbaikan.
b). Adanya kerjasama yang harmonis antara manajer kasus
dengan tim kesehatan lain.
2). Menurunnya komplikasi
3). Menurunnya biaya

Manajemen Kasus I

Administrator Keperawatan

Manajer kasus

Peny.Dalam

Manajer kasus
Pediatrik

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

Manajer Kasus
OB

115

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Manajemen Kasus II
Administrator Keperawatan

Manajer kasus
Resiko tinggi
Ps. Cardiac arrest

Manajer kasus
Resiko tinggi
Ps. Pediatrik

Manajer kasus
Resiko tinggi

Ps. OB

f. Partnership model
Model ini kombinasi antara perawat primer dengan perawat vokasi
(LPN/LVN) atau perawat pembantu (asisten nurse) untuk bekerja
bersama secara konsisten.
Keuntungan
1. Biaya lebih efektif dari keperawatan primer.
2. Perawat primer dapat mendorong peningkatan dan melatih
partnernya.
Kerugian
1. Kemungkinan perawat primer mengalami kesulitan dalam
mendelegasikan pada partnernya.
2. Partnership yang konsisten sulit dipertahankan karena jadwal
yang bervariasi.
g. Pasien fokus dari pelayanan.
Merupakan perkembangan model terbaru dari pelayanan. Model ini
lebih berfokus pada pasien dan penerapan tergantung pada fasilitas.
Tim yang cross-functional dari perawat profesional dan asisten
bekerja sebagai unit based team.
Keuntungan
1. Pasien hanya kontak dengan petugas.
2. Perawat hanya bekerja di unit sehingga bisa menggunakan lebih
banyak waktu untuk memberikan pelayanan keperawatan
langsung.
3. Tim di supervisi oleh perawat profesional.
4. Perawat profesional bertanggung jawab dan gugat untuk pelayanan
secara luas dan berfungsi lebih tinggi.
Kerugian
1. Perubahan struktur organisasi yang besar.
2. Unit/deparatemen
lain
harus
mengakui
kepemimpinan
keperawatan.
3. Kepala ruangan harus mensupervisi berbagai macam pegawai.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

116

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Penanggung Jawab Ruangan


Kegiatan pelayanan: Respiratory service, ECG
admission / discharge phlebotomy, supply
management dll.

Pasien

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

117

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

PENGELOLAAN STAF
I. PENDAHULUAN
Dewasa ini pertumbuhan institusi pelayanan kesehatan di Indonesia
sangat tinggi, baik rumah sakit yang dibangun melalui Penanaman Modal
Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA) dan
mengakibatkan tingginya kompetitif antar rumah sakit.
Rumah sakit sebagai suatu organisasi mempunyai misi memberikan
pelayanan kesehatan bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam
rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dan pelayanan
keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan
mempunyai peran penting dalam menentukan mutu pelayanan kesehatan
di rumah sakit, oleh karena itu untuk mencapai hal tersebut dan dalam
rangka menghadapi era kompetitif ini diperlukan proses manajerial yang
efektif berkaitan dengan sumberdaya yang terlibat dalam pemberian
pelayanan kesehatan, khususnya keperawatan.
Tenaga keperawatan merupakan tenaga kesehatan dalam jumlah terbesar
yang memiliki latar belakang pendidikan dan tingkat kompetensi
bervariasi. Hal ini menuntut kemampuan manajerial dan kepemimpinan
dari seorang manajer keperawatan untuk mengelola tenaga keparawatan,
sehingga pelayanan dan asuhan keperawatan yang diberikan
komprehensif dan professional.
Tujuan pengelolaan tenaga keperawatan agar tersedia jumlah staf sesuai
dengan kebutuhan pasien, sehingga pemberian asuhan keperawatan
menjadi lebih efisien dan efektif.
Penempatan sumber daya keperawatan disesuaikan dengan kompetensi
yang dibutuhkan dalam unit perawatan dan keseimbangan antara jumlah
staf keperawatan dengan tingkat ketergantungan klien merupakan salah
satu upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.

II.

PERENCANAAN TENAGA PERAWAT

Perencanaan tenaga keperawatan, memerlukan identifikasi system klasifikasi


pasien sebagai dasar untuk menetapkan standar rasio perawat pasien.
Tenaga perawat mempunyai daya ungkit yang besar dalam meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu yang menjadi focus perhatian
rumah sakit adalah ketersediaan tenaga perawat baik jumlah, kualifikasi
kemampuan dan jenis tenaga yang dibutuhkan untuk mencapai pelayanan
dan asuhan keperawatan komprehensif dan professional.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

118

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Langkah-langkah dalam menentukan kebutuhan tenaga keperawatan:


Tetapkan metoda asuhan yang akan digunakan.
Tentukan katagori tenaga keperawatan yg dibutuhkan.
Prediksi jumlah dari setiap katagori tenaga keperawatan yang
dibutuhkan untuk memberi asuhan keperawatan.
Rekrut tenaga perawat untuk mengisi kekosongan posisi.
Mengatur pemanfaatan tenaga keperawatan yang digunakan untuk
setiap unit dan shif.
Memberikan tanggung jawab untuk memberikan asuhan keperawatan.
Kegiatan penempatan
Faktor faktor yg mempengaruhi beban kerja tenaga perawat dalam
menentukan jumlah kebutuhan tenaga
1. Identifikasi kegiatan non keperawatan.
Manajer perlu melakukan identifikasi dari setiap aktifitas yang
dilakukan di unit. Sebagaimana diketahui bahwa aktifitas perawatan
pada pasien mencakup pelayanan keperawatan langsung dan tidak
langsung, oleh karena itu manajer perlu identifikasi mana aktifitas
keperawatan
yang harus dilakukan oleh perawat dan non
keperawatan sehingga memudahkan dalam menetapkan berapa
jumlah dan kualifikasi tenaga perawat yang dibutuhkan. Hal ini penting
agar tidak terjadi kekurangan atau kelebihan staf dan kesalahan dalam
penempatan.
2. Identifikasi tenaga keperawatan non efektif.
Identifikasi tenaga keperawatan non efektif perlu dilakukan oleh
manajer karena adanya perawat yang sering tidak masuk kerja (sakit)
dapat menurunkan produktifitas kerja dan berdampak pada hasil mutu
pelayanan dan asuhan keperawatan pasien.
3. Kondisi kerja ( lingkungan Fisik, suasana kerja, sistem reward )
Lingungan kerja meliputi lingkungan fisik perlu memperhatikan segi
keamanan dan kenyamanan baik bagi pasien/keluarga maupun bagi
tenaga kesehatan yang bekerja di unit tersebut. Lingkungan yang
aman dan nyaman diperlukan agar tenaga kesehatan di unit tersebut
dapat bekerja memberikan pelayanan pada pasien dengan baik.
Suasana kerja yang kondusif dan berlakunya sistem reward and
punishment dapat mendorong perawat untuk meningkatkan
produktifitas dan kinerjanya dalam memberikan asuhan keperawatan
pasien.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

119

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

4. Beban kerja ( jumlah hari kerja perawatan, jumlah jam kerja perawat,
jumlah dan klasifikasi klien dan jumlah jam perawatan). Kelebihan
beban kerja atau kekurangan beban kerja dapat mempengaruhi mutu
asuhan yang diberikan. Beban kerja berlebihan membuat perawat
kelelahan, mudah sakit meyebabkan menurunnya produktifitas dan
kinerja.
5. Kualifikasi tenaga keperawatan sesuai persyaratan
Setiap unit pelayanan keperawatan berbeda membutuhkan kualifikasi
tenaga perawat yang berbeda pula. Unit pelayanan keperawatan
khusus (ICU, ICCU, Kanker, Anak , dll) membutuhkan tenaga perawat
yang memiliki sertifikat/kualfikasi khusus. Perawat yang bertugas di
ICU dimana pasien yang dirawat mempunyai masalah keperawatan
kompleks
(gangguan
hemodinamik
atau
pernapasan,
dll),
dipersyaratkan memiliki kompetensi khusus.

Beberapa cara perhitungan kebutuhan tenaga


Didasarkan pada tingkat ketergantungan pasien:
1. Menurut Giilies ( 1994 )
Self care
: < 2 jam / 24 jam
Minimal care

: 2 jam / 24 jam

Moderate care : 3,5 jam / 24 jam


Extensive care : 5 6 jam / 24 jam
Intensive care : 7 jam / 24 jam.
2. Howard ( 1980 ) merinci dengan :
Minimal / self care : 2, 8 jam / 24 jam
Partial care
: 4,5 jam / 24 jam
Complete care
: 5, 8 jam / 24 jam
Maximal care
: 8, 6 jam / 24 jam
3. Evaluasi faktor
Berdasarkan jumlah
(relative value units)

point,

berdasarkan

indikator

kritikal

Pasien dikatagorikan dalam kelas


Kelas I. 0 - 11 point / shift.
Kelas II 12 - 25 point / shift.
Kelas III 26 - 40 point / shift.
Kelas IV 41 point keatas / shift.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

120

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

NO
I

Katagori keperawatan pasien


Makan dan Minum
a. Makan / minum sendiri

Standar
score
2
4

b. Makan/minum dibantu ( JT ) tiap 4 jam


II

Pengkajian
a. Tanda vital ( T,N,P,S ) tiap 4 jam

2
2

b. Cek keadaran ( saraf ) tiap 2 4 jam


III

Hygien dan eliminasi.


a. Mandi dibantu penuh ( di TT )

3
3

b. Bed pan dg dibantu 2 orang


IV

Pengobatan.
a.

Oksigen terus menerus/ intra vena.

b.

Transfusi drh/ infus terus menerus.

Aktifitas/ mobilisasi

3
4
3

Berjalan dibantu 2 orang/ tukar posisi.


I

Makan dan Minum


a. Makan / minum sendiri

2
4

b. Makan/minum dibantu ( JT ) tiap 4 jam


II

III

IV

Pengkajian
a.

Tanda vital ( T,N,P,S ) tiap 4 jam

b.

Cek keadaran ( saraf ) tiap 2 4 jam

Hygien dan eliminasi.


a.

Mandi dibantu penuh ( di TT )

b.

Bed pan dg dibantu 2 orang

Pengobatan.
a.

Oksigen terus menerus/ intra vena.

b.

Transfusi drh/ infus terus menerus.

2
2
3
3
3
4

III. MENENTUKAN JAM KEPERAWATAN


Dalam menentukan standar staf yang diperlukan dapat dicapai dengan
menggunakan berbagai sumber. Data mengenai jam keperawatan
perhari dan type pasien dapat dilakukan melalui suatu observasi / studi .
Data dari klasifikasi pasien dan beban kerja di analisa setiap hari selama
semimggu ( kritical care ) untuk menentukan kebutuhan staf.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

121

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Jumlah jam keperawatan dibutuhkan pasien sehari adalah jumlah total


kebutuhan keperawatan dalam unit dibagi dengan jumlah pasien.
Misalnya:
26 pasien dengan jumlah jam keperawatan 109,5 jam sehingga rata
rata jumlah jam keperawatan 5,3 jam
Berbagai metoda perhitungan tenaga perawat dapat digunakan, namun
prinsip dasarnya dapat mencakup beberapa hal dibawah ini
Perhitungan tenaga keperawatan didasarkan pada :
1. Derajat ketergantungan pasien.
a. Kualifikasi pasien ( SC, PC, TC,IC ).
b. Jumlah jam keperawatan ( 2,5 jam, 4,5 jam; 6 6,5 jam; 9 10
jam )
2. Efektifitas kerja perawat.
a. Dinas pagi 6 jam.
b. Dinas sore 7 jam.
c. Dinas malam 9 jam
3. Kualifikasi tenaga perawat ( swansburg : 58% perawat register, 26%
LPN dan 16% NA : Howard: 44% perawat RN, 56 % ).
Penetapan kualifikasi tenaga yang di butuhkan didasarkan pada
tingkat ketrampilan.
Misalnya jam keperawatan pasien 4,3 jam
Perawatan dilakukan oleh perawat RN 1,9 jam dan dilakukan perawat
non professional 2,4 jam.
4. Presentasi jumlah jam keperawatan yg dibutuhkan
Pengukuran aktifitas asuhan keperawatan dapat dilakukan dengan
menggunakan tehnik yang meliputi time studi , frekwensi tugas,
sample kerja, observasi penampilan perawat terus menerus dan
pelaporan aktifitas perawat sendiri. Swanburg menetapkan
persentasi dari setiap ship: pagi 47%, sore : 35% dan Malam 18% ,
sementara Howard: pagi 51%, sore 34%, 15% .
Beberapa contoh perhitungan tenaga keperawatan
Mis : data jumlah jam perawat bekerja seminggu : 40 jam
Jumlah hari dalam 1 minggu : 7 hari.
Rata rata jam ASKEP : 5,3 jam.
5,3 jam x 7 x 26 / 40 = 24 staf perawat.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

122

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Swansburg
Rawat Inap : Jumlah TT 40, BOR 80%
Total care 30% : 12 ps x 6,5 jam =
Partial care 50% : 20 ps x 5 jam
=
Self care 20 % : 8 ps x 2,5 jam
=
Total
= 198 jam

( 32 )
78 jam.
100 jam.
20 jam

198 jam / 40 = 5 jam


Rata rata ps perlu bantuan perawat 5 jam / 24 jam.
Total jam keperawatan yg diperlukan sehari : 5 jam x 32 = 160 jam
1 hari kerja 8 jam

160 jam : 8 jam = 20 perawat ( shift)

Total perawat bekerja dalam 1 minggu : 7 hari x 20 shif = 140 shift


Jam kerja / mg : 40 jam
140 shif : 5 hari = 28 perawat ( kebutuhan dasar unit ).
Komposisi dan proporsi tenaga perawat :
58% perawat register ( S1 kep ) = 16,24 orang.
26% perawat diploma ( LPN )

7,28 orang.

Kepala ruang / wkl /

orang

25, 52 orang
16% perawat pembantu ( NA )
Perawat cuti/ sakit/ libur : 20%

4,48 orang /5 orang


20% x 25 = 5 orang.

Jumlah perawat : 25 + 5 = 30 orang perawat ( Reg & LPN ).


Jumlah perawat pembantu : 20% x 5 = 1 + 5 = 6 orang.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

123

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Tabel Kebutuhan Tenaga Perawat Tiap jaga /shift


Jml
Ps

Minimal care

Parsial

Total

Intensive care

Pagi

Sore

Mlm

Pagi

Sore

Mlm

Pagi

Sore

Mlm

Pagi

Sore

Mlm

0,27

0,18

0,94

0,45

0,30

0,16

0,63

0,42

0,22

0,81

0,54

0,28

0,54

0,36

0,19

0,90

0,60

0,32

1,26

0,84

0,44

1,62

1,08

0,56

1,08

0,72

0,38

1,80

1,20

0,64

2,52

1,68

0,88

2,24

2,16

1,12

1,62

1,08

0,56

2,70

1,80

0,96

3,78

2,52

1,32

3,86

3,34

1,68

2,16

1,44

0,75

3,60

2,40

1,28

5,04

3,36

1,76

5,48

4,32

2,24

12

3,24

2,16

1,13

5,40

3,60

1,92

7,29

5,04

2,64

9,72

6,48

3,36

16

4,32

2,88

1,5

7,20

4,80

2,56

9,81

6,72

3,52

12,96

8,64

4,48

18

4,86

3,24

1,7

8,1

5,40

2,88

11,07

7,56

3,96

14,58

9,72

5,04

20

5,4

3,6

1,9

3,2

12,6

8,4

4,40

16,2

10,8

5,6

II. PENJADWALAN
Proses dimana ada personal staf keperawatan yang adekwat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan unit se hari hari dan mencapai tujuan
organisasi.
Manajer keperawatan mempunyai tanggung jawab untuk merencanakan dan
mengelola sumber daya keperawatan dari hari kehari. staf
Keharusan jadwal kerja sore, malam , week end dan hari libur sering
menimbulkan frustasi perawat (Capuano,Fox dan Green, 1992 dalam
management decision making for nurse, 1998) oleh karena itu pengaturan
penjadwalan menjadi factor besar dalam mengembangkan ketidak puasan
kerja atau meningkatkan kepuasaan kerja dan mengadakan retensi staf.
Upaya yang dapat memberikan kepuasan pada staf adalah mengembangkan
persepsi diantara staf bahwa mereka dapat mengontrol penjadwalan, memilih
shif dan ikut terlibat dalam kebijakan staf.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penjadwalan

Jadwal dikembangkan bersifat relatif permanen didasarkan kebutuhan


staf dan periode kerja yang menyenangkan.
Perawat dapat mengantisipasi waktu libur mereka karena jadwal
dikembangkan untuk kurun waktu 6 12 bulan
Perencanaan personel dibuat sesuai dengan alasan dan kenyataan.
Dapat dimodifikasi untuk antisipasi periode kelebihan beban kerja
atau bersifat sementara untuk memenuhi keadaan emergensi.
Jadwal dibangun berdasarkan persetujuan staf dan manajer.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

124

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

Pola siklus jadwal dapat merefleksikan kebijakan, kelebihan beban


/ menurunnya beban kerja dan pilihan staf.
Pola siklus di evaluasi secara periodik (6 bulan) untuk melihat
memenuhi philosofi, tujuan dan sasaran organisasi divisi keperawatan,
dampak financial, retensi staf, produktifitas, manajemen resiko dan
kepuasaan staf serta kepuasan pasien..
Refleksi pola kombinasi staf.

Masalah Pola Kombinasi Staf


Perawat tidak bekerja penuh, mereka bekerja beberapa hari dan libur
beberapa hari secara berurutan.

Kontinuitas asuhan terputus ketika perawat bekerja diantara shif


/belahan shift ( 7 11 ; 11 15; 15 19 dst ).
Tantangan manajer untuk mengkomunikasikan jadwal pada semua staf
dalam waktu yang tepat.

Keuntungan

Terpenuhinya kebutuhan pasien selama waktu beban kerja


memuncak.
Perbaikan kepuasaan staf dan memaksimalkan pendayagunaan staf

PERMASALAHAN STAF
Berbagai permasalahan staf yang sering terjadi adalah :
1. Absensi / mangkir
Banyak hal yang membuat staf absen dari jadwal smestinya
a.
b.
c.
d.
e.

demografi,: kodrat sebagai wanita ( melahirkan, menyusui )


kehidupan pribadi ( pengalaman traumatik, masalah
keluarga )
Kebutuhan seseorang.
Kebijakan organisasi.
Perencanaan dan penjadwalan tidak sesuai dengan
keinginannya

Mengatasinya:

Ada daftar hadir, pola absen individu, pengembangan


ketrampilan,
Sistem penghargaan dan sediakan pengobatan.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

125

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

2. Turn Over ( keluar masuk )


Terjadi karena tidak ada kesesuaian kebutuhan organisasithdp tenaga
dengan kebutuhan tenaga terhadap harga diri, aktualisasi diri,
pengembangan dll.
Faktor faktor yg berhubungan
a.
b.
c.
d.

Kondisi ekonomi secara umum.


Kondisi pasaran pegawai setempat.
Keamanan dan keselamatan kerja.
Kebijakan sistem pelayanan yg berlaku

Cara mengatasi :
Perbaikan uraian kerja, perubahan sistem rekruitmen, penempatan yg
tepat, program orientasi dan penjadwalan.
3. Burn Out ( kejenuhan )
a. Terjadi karena individu merasa tidak mampu mengatasi
masalah atau tidak produktif
b. Tidak yakin terhadap peran dan tanggungjawabnya.
c. Merasa kurang diperhatikan.
d. Tidak tahu berbuat apa setelah berupaya semaksimal
mungkin.
Mengatasi burn out:
Mobilisasi karier.
Cross training.
Mobilisasi dinas.

PENGEMBANGAN STAF
Tujuan unit keperawatan adalah memberikan pelayanan dan asuhan
keperawatan bermutu kepada masyarakat, dan tingkat pengetahuan dan
kemampuan dari perawat berhubungan langsung dengan jumlah staf yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu pengembangan
dan pendidikan staf merupakann fungsi penting bagi manajer keperawatan.
Pelatihan yang baik dan tepat dapat mengurangi kebutuhan staf, sehingga
biaya pengembangan staf untuk meningkatkan produktifitas menjadi efektif.
Pengembangan ini diarahkan sesuai dengan perkembangan ilmu dan
teknologi keperawatan dengan mempertimbangkan kebutuhan dari institusi
rumah sakit. Kegiatan pengembangan dapat berupa :

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

126

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

1. Induction, orientasion dan socialization.


Kegiatan ini biasanya
diberikan pada staf perawat baru. Perawat baru di informasi dan dilatih
untuk dapat melalukan tanggung jawab terhadap pekerjaan dimana
mereka ditempatkan.
a. Induction training, proses pengembangan awal setelah mereka
di rekruit. Proses ini meliputi semua aktifitas yang mendidik
perawat baru mengenai hal yang menyangkut organisasi
Rumah Sakit. Induction dimulai dengan seperti : tata cara,
peraturan ,kebijakan, system yang berlaku di organisasi
(personal) dan prosedur yang diaplikasi untuk semua karyawan
rumah sakit. Induction dimulai dengan penjelasan riwayat rumah
sakit, filosofi, visi, misi ,tujuan, struktur organisasi, kondisi rumah
sakit dan karyawan, identifikasi karyawan (badges), jam kerja,
hari libur, peraturan sakit, system klasifikasi, standar
penampilan, evaluasi penampilan, dan lain sebagainya.
b.

Orientasi Kerja, setiap organisasi mengembangkan beragai type


program orientasi. Orientasi kerja dilaksanakan setelah perawat
mengikuti lengkap kegiatan induction training. Perawat baru
diorientasikan pada pekerjaan spesifik dimana dia ditempatkan.
merupakan proses pengenalan perawat terhadap berbagai
aspek dalam organisasi. Dalam menyusun orientasi Hari
pertama staf baru akan melakukan tour keliling rumah sakit, hari
kedua mungkin program orientasi

2. Inservice education termasuk lokasi pekerjaan yang akan dilakukan.


Pengetahuan dan ketrampilan bila tidak dimanfaatkan akan hilang, staf
perlu diberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhannya melalui
memperbaharui pengetahuan dan ketrampilannya, mengikuti dan
belajar kembali.
3. Continuing Education termasuk rencana efektifitas belajar.
Manajer perlu memberikan kesempatan secara konstan kepada staf
perawat untuk mengikuti pendidikan berkelanjutan. Pengembangan
program pengembangan secara konstan dan kontinyu dapat berupa :
kursus, seminar, workshop, pengalaman klinik, partisifasi dalam
pertemuan ilmia atau pendidikan di universitas.
KESIMPULAN
Pengelolaan staf merupakan proses yang kompleks. Manajer bertanggung
jawab untuk memberikan staf yang adekwat untuk memenuhi kebutuhan
asuhan keperawatan pasien, perhatian terhadap
fluktuasi
pasien
merupakan tantangan manajer untuk mengelola staf agar tidak terjadi
kelebihan atau kekurangan. Dalam mengembangkan jadwal manajer

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

127

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

harus melibatkan staf dan melakukan evaluasi secara periode untuk


dilakukan perbaikan. Manajer mampu membangun kepercayaan dan spirit
team dalam staf serta mencari metoda inovatif untuk mengatasi berbagai
permasalahan staf.
Catatan
Yang belum 1, Rekrutmen 2), Seleksi 3) orientasi 4) Jenjang Karir
Referensi
1. Rolland Howard S (1984). Nursing Administration Hand book, An
Aspen Publication, London.
2. Swanburg C Russel (2000) .Management and Leadership for Nurse
Manager, Jhon and Barlet Publication, Philadelphia.
3. Gillies, DA. (1996). Nursing Management : System Approach, Third ed,
W.B.Saunders Company, Philadelphia.
4. Thomas, KJK. Clinical & Nursing Staf Development: Current
Competence, Future focus, Second ed, J.B.Lippincott
Company,Philadelphia.
5. Depkes. (2001). Standar Tenaga Keperawatan di Rumah Sakit,
Jakarta.
6. Marquis Bessie L and Huston J Carol (1998). Management Decsion
Making for Nurses. J.B. Lippincott Company, Philadhepia.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

128

Modul II
Manajemen & Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat RS

PENUGASAN
PERAN KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN KEPERAWATAN

Kasus
Unit pelayanan keperawatan di RS Ekapaksi, merupakan unit pelayanan
perawatan bedah. Jumlah kapasitas 40 TT dengan BOR 70 % . Kualifikasi
pasien terdiri dari total care 30%, partial care 30% dan self care 40%. Jumlah
perawat 22 orang ( S1 2orang dan 12 D3 keperawatan, SPK 8 SPK). Ketika
dokter mengadakan visit sore hari, mengeluh bahwa perawat tidak
menemaninya visit dengan alasan sibuk. Keluhan pelayanan juga datang dari
keluarga pasien bahwa perawat yang bertugas susah dicari untuk diminta
bantuannya. Ketika hal ini di konfirmasi kepada kepala ruang rawat,
dilaporkan bahwa perawat yang bertugas hanya 2 orang, karena dari 20
perawat, 2 tugas belajar ke D3 keperawatan dan 1 rang cuti melahirkan, 2
orang tidak efektif karena sering tidak masuk kerja dengan berbagai alasan.
Tugas:
1. Membaca kasus diatas, apa sebenarnya masalah utama yang dihadapi
oleh kepala ruang rawat , jelaskan !
2. Manajer keperawatan meminta kepala unit keperawatan untuk
merencanakan tentang jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk memberi
pelayanan keperawatan sesuai dengan tingkat kebutuhan pasien,
tolong saudara bantu kepala unit untuk merencanakan kebutuhan
tenaga perawat di unitnya.
3. Menurut saudara metoda penugasan apa yang sebaiknya diterapkan
oleh kepala unit keperawatan, jelaskan dasar pertimbangannya.!
4. Bagaimana sebaiknya tindakan yang kepala unit lakukan untuk
mengatasi masalah staf yang sering tidak masuk (absen), uraikan !

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan


Ditjen Bina Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan RI

129