Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN TUTORIAL

BLOK XIII
EMERGENCY & TRAUMATOLOGY

HARI/TANGGAL

JUMAT/ 11 APRIL 2014

NAMA

IIN TIFANNI S

NPM

211210057

Fasilitator

dr. Rachmat Atmawidjaja,MSc.


AIFM

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS METHODIST INDONESIA
MEDAN
2014/2015

Pemicu
Seorang anak geng motor mengalami kecelakaan di Ring Road ketika ugal-ugalan.
Motornya menabrak trotoar, dia terlempar dan kepalanya terbentur keras ke aspal. Anak
lelaki umur 17 tahun ini tak sadarkan diri sejenak, selagi hendak dibawa kerumah sakit oleh
teman-temannya, dia tersadar, agak bingung sebentar. Akhirnya dia menolak dibawa ke
rumah sakit dan mengatakan dia ingin pulang kerumah. Dia diantar pulang kerumah, kejadian
ini diberitahukan pada keluarganya. Anak ini disuruh istirahat dikamar tidur, 2 jam
kemudian, ketika hendak makan malam. Si anak dipanggil tetapi tidak menjawab. Ketika
dilihat, sudah tidak sadar dan dibawa ke rumah sakit. Sebelum mendapat pertolongan dan
pemeriksaan si anak sudah meninggal.

A. Klarifikasi Istilah : B. Definisi Masalah :

1. Kepala terbentur
2. Tak sadarkan diri sejenak
3. Agak bingung sebentar
4. Meninggal

C. Analisa Masalah
1. Kepala terbentur :

:
a. KLL (Kecelakaan Lalu Lintas)
b. Jatuh
c. Terpeleset
d. Dipukul

2. Tak sadarkan diri sejenak : a. Kekurangan oksigen


b. Dehidrasi
c. Gangguan pada sistem ARAS
d. Syok
e. Stress psikologis berat
f. Pengaruh anastesi
g. Perdarahan di otak
h. Pengaruh narkoba, alkohol
i. Histeria

j. Keracunan
3. Agak bingung sebentar:

a. Gugup
b. Tidak konsentrasi
c. Ambang kesadaran belum normal
d. Trauma pada kepala
e. Mabuk
f. Pengaruh narkoba
g. Banyak pikiran
h. Baru sadar dari anastesi
i. Keracunan

4. Meninggal

a. Henti napas
b. Henti jantung
c. KLL
d. Overdosis
e. Pertolongan yang terlambat
f. Keracunan
g. Dehidrasi berat
h. Keganasan

D. Kerangka Konsep
Penurunan Kesadaran

Kepala terbentur

Tak sadarkan diri


sejenak

Agak bingung sebentar

Meninggal

Pertolongan tidak tepat

E. Learning Objectives
1. Definisi dan skala penurunan kesadaran
2. Penyebab penurunan kesadaran
3. Penatalaksanaan farmakologi dan non farmakologi pada penurunan kesadaran
4. Patofisiologi penurunan kesadaran
5. DD
6. Apa yang dialami pasien ini
7. Jenis perdarahan otak
8. Penatalaksanaan

F. Kumpulan Informasi
1.
Penurunan kesadaran adalah keadaan dimana penderita tidak sadar dalam arti tidak
terjaga/ tidak terbangun secara utuh sehingga tidak mampu memberikan respons yang normal
terhadap stimulus.
Tingkat kesadaran secara kualitatif

Sadar. Sadar penuh akan sekeliling ; orientasi baik terhadap orang, tempat, dan
waktu. Kooperatif. Dapat mengulang beberapa angka beberapa menit setelah
diberitahu
Otomatisme. Tingkah laku relatif normal (misal, mampu makan sendiri) dapat
berbicara dalam kalimat tetapi kesulitan dalam mengingat dan memberi penilaian ;
tidak ingat peristiwa-peristiwa sebelum periode hilangnya kesadaran; dapat
mengajukan pertanyaan yang sama berulang kali
Somnolen. Keadaan mengantuk. Kesadaran dapat pulih penuh bila dirangsang.
Somnolen disebut juga sebagai: latergi, obtundasi. Tingkat kesadaran ini ditandai
oleh mudahnya penderita dibangunkan, mampu memberi jawaban verbal dan
menangkis serangan nyeri.
Sopor (stupor). Kantuk yang dalam. Penderita masih dapat dibangunkan dengan
rangsang yang kuat, namun kesadarannya segera menurun lagi. Ia masih dapat
mengikuti suruhan yang singkat, dan masih terlihat gerakan spontan. Dengan
rangsang nyeri penderita tidak dapat dibangunkan sempurna. Reaksi terhadap
perintah tidak konsisten dan samar. Tidak dapat diperoleh jawaban verbal dari
penderita. Gerak motorik untuk menangkis rangsang nyeri masih baik.
Koma-ringan (semi-koma). Pada keadaan ini, tidak ada respon terhadap rangsang
verbal. Refleks (kornea, pupil, dll) masih baik. Gerakan terutama timbul sebagai
respons terhadap rangsang nyeri. Reaksi terhadap rangsang nyeri tidak

terorganisasi, merupakan jawaban primitif. Penderita sama sekali tidak dapat


dibangunkan.
Koma (dalam atau komplit). Tidak ada gerakan spontan. Tidak ada jawaban sama
sekali terhadap rangsang nyeri yang bagaimanapun kuatnya.
Delirium, yaitu tingkat kesadaran paling bawah ditandai dengan disorientasi yang
sangat iriatif, kacau dan salah persepsi terhadap rangsangan sensorik.

Pembagian tingkat kesadaran di atas merupakan pembagian dalam pengertian klinis,


dan batas antara tingkatan ini tidak tegas. Tidaklah mengherankan bila kita menjumpai
penggunaan kata soporo-koma, somnolen-sopor.
Tingkat kesadaran secara kuantitatif dapat diukur melalui penilaian skala koma
(Glasgow) yang dinyatakan dengan ecselargow comascale dengan nilai koma dibawah 8.
Adapun penilaian sebagai berikut
Penilaian pada Glasgow Coma Scale
Membuka Mata (E)

Spontan : membuka mata spontan


Terhadap rangsang suara : membuka mata bila dipanggil atau diperintahkan
Terhadap rangsang nyeri : membuka mata bila ada tekanan pada jari di atas
Bantalan kuku proksimal
Tidak ada: mata tidak membuka terhadap rangsang apapun

(4)
(3)
(2)
(1)

Respons Verbal Terbaik (V)

Orientasi baik: dapat bercakap-cakap, mengetahui siapa dirinya, dimana berada,


Bulan dan tahun
Bingung: dapat bercakap-cakap tetapi ada disorientasi pada satu atau lebih sferis
Kata yang diucapkan tidak tepat: percakapan tidak dapat bertahan, susunan kata
kacau atau tidak tepat
Tidak dapat dimengerti: mengeluarkan suara (misal, merintih) tetapi tidak ada
Kata-kata yang dapat dikenal
Tidak ada: tidak mengeluarkan suara apapun walaupun diberi rangsangan nyeri

(5)
(4)
(3)
(2)
(1)

Respons Motorik Terbaik (M)

Mematuhi perintah: misal, angkat tangan;tunjukkan dua jari


(6)
Melokalisasi nyeri: tidak mematuhi perintah tetapi berusaha menunjukkan lokasi (5)
nyeri dan mencoba menghilangkan rangsang nyeri tersebut
Reaksi fleksi: lengan fleksi bila diberi rangsang nyeri tetapi tidak ada usaha yang (4)
yang jelas untuk menghilangkan rangsang nyeri tersebut
Fleksi abnormal terhadap nyeri: lengan fleksi disiku dan pronasi, tangan mengepal (3)
(postur dekortikasi)
Ekstensi abnormal terhadap nyeri: ekstensi lengan di siku, lengan biasanya
(2)

adduksi dan bahu berotasi kedalam (postur deserebrasi)


Tidak ada: tidak ada respons terhadap nyeri; flaksid

(1)

Keterangan:
Skor koma = E+M+V : 15= Sadar penuh; <8 = koma. Skor >11 setelah cedera kepala
menunjukkan adanya kemungkinan sembuh atau sembuh dengan cacat sedang sebesar 85%,
bila skornya 3 atau 4 menunjukkan kemungkinan 85% meninggal atau tetap dalam keadaan
vegetatif. Skor diantaranya menunjukkan kemungkinan sembuh sesuai proporsi dari skor
tersebut.
Skor
13-15 = penurunan kesadaran ringan
9-13 = penurunan kesadaran sedang
3-8 = penurunan kesadaran berat

2. Penyebab penurunan kesadaran


Gangguan kesadaran dibagi 3, yaitu gangguan kesadaran tanpa disertai kelainan
fokal/lateralisasi dan tanpa disertai kaku kuduk; dan gangguan kesadaran tanpa disertai
kelainan fokal/ lateralisasi disertai dengan kaku kuduk; dan gangguan kesadaran disertai
dengan kelainan fokal.
I. Gangguan kesadaran tanpa disertai kelainan fokal dan kaku kuduk
1. Gangguan iskemik
2. Gangguan metabolik
3. Intoksikasi
4. Infeksi sistemis
5. Hipertermia
6. Epilepsi
II. Gangguan kesadaran tanpa disertai kelainan fokal tapi disertai kaku kuduk
1. Perdarahan subarakhnoid
2. Radang selaput otak
3. Radang otak
III. Gangguan kesadaran dengan kelainan fokal
1. Tumor otak
2. Perdarahan otak
3. Infark otak
4. Abses otak
Ada juga istilah untuk mengingat beberapa penyebab penurunan kesadaran S E
M E N I T E

S : Sirkulasi
Meliputi stroke dan penyakit jantung, Syok (shock) adalah kondisi medis tubuh
yang mengancam jiwa yang diakibatkan oleh kegagalan sistem sirkulasi darah dalam
mempertahankan suplai darah memadai. Berkurangnya suplai darah mengakibatkan
berkurangnya suplai oksigen ke jaringan tubuh. Jika tidak teratasi maka dapat
menyebabkan kegagalan fungsi organ penting yang dapat mengakibatkan kematian.
E : Ensefalitis
Dengan tetap mempertimbangkan adanya infeksi sistemik/sepsis yang mungkin
melatarbelakanginya atau muncul secara bersamaan. Virus-virus pada umumnya
menggandakan dirinya sendiri pada bagian infeksi awal (misal sistem nasofaringeal
atau GI) dan kemudian menyebar ke SSP melalui sistem vaskular. Berlawanan dengan
pemikiran yang terdahulu, sawar darah otak tidak memberikan perlindungan yang
sempurna dalam melawan serangan virus. Ensefalitis melibatkan reaksi inflamasi
parenkim otak, menyebabkan degenerasi, dan fagositosis sel-sel neuron.
M : Metabolik
Misalnya hiperglikemia, hipoglikemia, hipoksi, uremia, koma hepatikum.
E : Elektrolit
Misalnya diare dan muntah yang berlebihan. Diare akut karena infeksi dapat
disertai muntah-muntah, demam, tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau
kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi
yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan
hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut.
N : Neoplasma
Tumor otak baik primer maupun metastasis, muntah : gejala muntah terdapat
pada 30% kasus dan umumnya menyertai nyeri kepala. Lebih sering dijumpai pada
tumor di fossa posterior, umumnya muntah bersifat proyektil dan tak disertai dengan
mual. Kejang : bangkitan kejang dapat merupakan gejala awal dari tumor otak pada
25% kasus, dan lebih dari 35% kasus pada stadium lanjut.
I : Intoksikasi
Penurunan kesadaran disebabkan oleh gangguan pada korteks secara menyeluruh
misalnya pada gangguan metabolik, dan dapat pula disebabkan oleh gangguan ARAS
di batang otak, terhadap formasio retikularis di thalamus, hipotalamus maupun
mesensefalon. Pada penurunan kesadaran, gangguan terbagi menjadi dua, yakni
gangguan derajat (kuantitas, arousal wakefullness) kesadaran dan gangguan isi (
kualitas, awareness alertness kesadaran). Adanya lesi yang dapat mengganggu
interaksi ARAS dengan korteks serebri, apakah lesi supratentorial, subtentorial, dan
metabolik akan mengakibatkan menurunnya kesadaran.
T : Trauma
Terutama trauma kapitis : kontusio, komusio, perdarahan epidural, perdarahan
subdural, dapat pula trauma abdomen dan dada.
Trauma pada kepala menyebabkan fragmentasi jaringan dan kontusio lalu
merusak BBB (Blood Brain Barrier) atau sawar darah otak, disertai dengan
vasodilatasi dan eksudasi cairan sehingga timbul edema otak yang berdampak pada

kenaikan ICP (IntraCranial Pressure) bisa juga peningkatan ICP disebabkan


peningkatan cairan intra sel, hipoksia, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit,
iskemia otak, meningitis, dan cedera. Kemudian ICP akan menurunkan CBF atau
aliran darah otak, iskemia, hipoksia, asidosis (penurunan pH dan peningkatan PaCO2),
dan kerusakan BBB lebih lanjut. Siklus ini akan terus berlanjut hingga terjadi
kematian sel dan bertambahnya edema secara progresif kecuali bila dilakukan
intervensi.
E : Epilepsi
Pasca serangan Grand Mall atau pada status epilepticus dapat menyebabkan
penurunan kesadaran. Kematian pada status epileptikus disebabkan oleh hiperpireksia
dan obstruksi ventilasi, aspirasi muntahan, dan kegagalan mekanisme kompensasi dan
regulatorik. Kejang yang berkepanjangan (lebih dari 1 jam) bisa menyebabkan
terjadinya hipotensi disertai berkurangnya aliran darah serebrum sehingga terjadi
hipotensi serebrum dan gangguan sawar darah otak yang menyebabkan edema
serebrum.

3. Penatalaksanaan farmako dan non farmakologi


Prinsip pengobatan kesadaran dilakukan dengan cepat, tepat dan akurat,
pengobatan dilakukan bersamaan dalam saat pemeriksaan. Pengobatan meliputi dua
komponen utama yaitu umum dan khusus.
I. Umum

Tidurkan pasien dengan posisi lateral dekubitus dengan leher sedikit ekstensi bila
tidak ada kontraindikasi seperti fraktur servikal dan tekanan intrakranial yang
meningkat
Posisi trendelenburg baik sekali untuk mengeluarkan cairan trakeobronkhial, pastikan
jalan nafas lapang, keluarkan gigi palsu jika ada, lakukan suction di daerah nasofaring
jika diduga ada cairan.
Lakukan imobilisasi jika diduga ada trauma servikal, pasang infus sesuai dengan
kebutuhan bersamaan dengan sampel darah
Pasang monitoring jantung jika tersedia bersamaan dengan melakukan
elektrokardiogram (EKG)
Pasang nasogastric tube, keluarkan isi cairan lambung untuk mencegah aspirasi,
lakukan bilas lambung jika diduga ada intoksikasi. Berikan tiamin 100 mg.iv, berikan
destrosan 100 mg/kgBB setiap 5-10 menit sampai kesadaran pulih (maksimal 2 mg)

II. Khusus

Pada Herniasi
Pasang ventilator lakukan hiperventilasi dengan target PCO2 : 25-30 mmHg
Berikan manitol 20% dengan dosisi 1-2gr/kgBB atau 100gr.iv selama 10-20 menit
kemudian dilanjutkan 0,25-0,5gr/kgBB atau 25 gr setiap 6 jam

Edema serebri karena tumor atau abses dapat diberikan deksametason 10 mg.iv
lanjutkan 4-6 mg setiap 6 jam
Jika pada CT scan kepala ditemukan adanya CT yang operabel seperti epidural
hematom, konsul bedah saraf untuk operasi dekompresi.
Pengobatan khusus tanpa herniasi
Ulang pemeriksaan neurologi yang lebih teliti
Jika pada CT Scan tak ditemukan kelainan, lanjutkan dengan pemeriksaan pungsi
lumbal (LP). Jika LP positif adanya infeksi berikan antibiotik yang sesuai. Jika LP
positif adanya perdarahan terapi sesuai dengan pengobatan perdarahan subarakhnoid

4. Patofisiologi penurunan kesadaran


Penurunan kesadaran oleh gangguan pada korteks secara menyeluruh misalnya pada
gangguan metabolik, dan dapat pula disebabkan oleh gangguan ARAS di batang otak,
terhadap formasio retikularis di thalamus maupun mesensefalon. Fungsi otak sangat
bergantung pada tersedianya oksigen dan glukosa. Meskipun hanya seberat 2% dari berat
badan orang dewasa, otak menerima 20% dari curah jantung. Sebagian besar yakni 80% dari
glukosa dan oksigen tersebut dikonsumsi oleh substansia kelabu. Cedera otak yang terjadi
langsung akibat trauma disebut cedera otak primer. Proses lanjutan yang sering terjadi adalah
gangguan suplai untuk sel, yaitu oksigen dan nutrien, terutama glukosa. Kekurangan oksigen
dapat terjadi karena berkurangnya oksigenasi darah akibat kegagalan fungsi paru, atau karena
aliran darah otak menurun, misalnya akibat syok. Oleh karena itu pada cedera otak, harus
dijamin bebasnya jalan napas, gerakan napas yang adekuat, dan hemodinamik tidak
terganggu sehingga oksigenasi tubuh cukup. Gangguan metabolisme jaringan otak akan
menyebabkan udem yang dapat mengakibatkan hernia melalui foramen tentorium, foramen
magnum atau herniasi dibawah falks (sabit) serebrum. Jika terjadi hernia, jaringan otak yang
bersangkutan akan mengalami iskemia sehingga mengalami nekrosis, atau mengalami
perdarahan yang menimbulkan kematian.

5. DD

Penurunan kesadaran oleh karena metabolik


Commotio serebri
Hematoma epidural
Subdural hematom
Tumor otak

6. Apa yang dialami pasien ini


Berdasarkan tanda dan gejala yang didapati pada pasien maka kemungkinan pasien ini
mengalami penurunan kesadaran yang diakibatkan adanya trauma pada kepalanya. Hal ini
bisa menimbulkan perdarahan epidural. Salah satu tanda khas dari perdarahan epidural
yaitu adanya lucid interval. Seperti pada pemicu, anak ada mengalami fase tidak sadar
setelah terbentur lalu sadar sebentar kemudian tidak sadarkan lagi setiba di rumah.
Itulah yang disebut lusid interval. Kemudian didapati amnesia retrogarde (amnesia
sementara). Lalu tanda khas lainnya pada epidural hematom ini adalah pasien mengalami
bingung Untuk diagnosa lebih pasti bisa dilakukan pemeriksaan CT-Scan dan didapati
hasil tampak lesi hiperdens yang berbentuk bikonveks (cembung).
Patofisiologi epidural hematom
Pada hematom epidural, perdarahan terjadi di antara tulang tengkorak dan duramater.
Perdarahan ini lebih sering terjadi di daerah temporal bila salah satu cabang arteria
meningea media robek. Robekan ini sering terjadi bila fraktur tulang tengkorak didaerah
bersangkutan. Hematom dapat pula terjadi didaerah frontal atau oksipital. Arteri meningea
media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen spinosum dan jalan antara
duramater dan tulang di permukaan dan os temporale. Perdarahan yang terjadi
menimbulkan hematom epidural, desakan oleh hematoma akan melepaskan duramater
lebih lanjut dari tulang kepala sehingga hematom bertambah besar.
Hematoma yang membesar di daerah temporal menyebabkan tekanan pada lobus
temporalis otak kearah bawah dan dalam. Tekanan ini menyebabkan bagian medial lobus
mengalami herniasi di bawah pinggiran tentorium. Keadaan ini menyebabkan timbulnya
tanda-tanda neurologik yang dapat dikenal oleh tim medis.
Tekanan dari herniasi unkus pada sirkulasi arteria yang mengurus formation
retikularis di medulla oblongata menyebabkan hilangnya kesadaran. Di tempat ini terdapat
nuclei saraf cranial ketiga (okulomotorius). Tekanan pada saraf ini mengakibatkan dilatasi
pupil dan ptosis pada kelopak mata. Tekanan pada lintasan kortikospinalis yang berjalan
naik pada daerah ini, menyebabkan kelemahan respons motorik kontralateral, refleks
hiperaktif atau sangat cepat, dan tanda babinski positif.
Dengan makin membesarnya hematoma, maka seluruh isi otak akan terdorong kearah
yang berlawanan, menyebabkan tekanan intracranial yang besar. Timbul tanda-tanda
lanjut peningkatan tanda-tanda vital dan fungsi pernafasan.
Karena perdarahan ini berasal dari arteri, maka darah akan terpompa terus keluar
hingga makin lama makin besar. Ketika kepala terbanting atau terbentur mungkin
penderita pingsan sebentar dan segera sadar kembali. Dalam waktu beberapa jam,
penderita akan merasakan nyeri kepala yang progresif memberat, kemudian kesadaran
berangsur menurun. Masa antara dua penurunan kesadaran ini selama penderita sadar
setelah terjadi kecelakaan disebut interval lucid. Fenomena lucid interval terjadi karena
cedera primer yang ringan pada epidural hematoma dengan trauma primer berat tidak

terjadi lucid interval karena pasien langsung tidak sadarkan diri dan tidak pernah
mengalami fase sadar. Lucid interval (2-3 jam).

7. Jenis-jenis perdarahan otak

Hematoma Epidural
Hematoma epidural merupakan gejala sisa yang serius akibat cedera kepala dan
menyebabkan angka mortalitas 50%. Hematoma epidural palinge sering terjadi
didaerah parietotemporal akibat robekan arteria meningea media. Gejala dan tanda
penderita hematom epidural yang khas memiliki riwayat cedera kepala dengan
periode tidak sadar dalam waktu pendek, diikuti oleh periode lusid. Namun demikian,
perlu diperhatikan bahwa interval lusid bukan merupakan tanda diagnostik yang
dipercaya pada hematom epidural. Pertama, interval lusid mungkin berlalu tanpa
diketahui, terutama bila sekejap saja. Kedua, penderita dengan cedera otak berat
tambahan dapat tetap berada dalam keadaan stupor.
Hematoma Subdural
Sementara hematoma epidural pada umumnya berasal dari arteria, hematoma
subdural berasal dari vena. Hematoma ini timbul akibat ruptur vena yang terjadi
dalam ruangan subdural. Hematoma subdural dipilah menjadi berbagai tipe dengan
gejala dan prognosis yang berbeda : akut, subakut, dan kronik.
Higroma Subdural
Hematom subdural lama yang mungkin disertai pengumpulan cairan
serebrospinal di dalam ruang subdural. Kelainan ini agak jarang ditemukan dan dapat
terjadi karena robekan selaput araknoid yang menyebabkan cairan serebrospinal
keluar ruang subdural. Gambaran klinis menunjukkan adanya tanda kenaikan tekanan
intrakranial, sering tanpa tanda fokal. Penyembuhan cedera otak primer yang biasanya
berupa memar otak, terganggu karena adanya higroma ini. Tata laksananya terdiri atas
trepanasi dan penyaliran. Higroma sendiri berprognosis baik, tetapi prognosis lebih
ditentukan oleh cedera otak primernya.
Hematoma Intraserebral
Perdarahan yang terjadi pada memar otak dapat membesar menjadi hematom
intraserebral. Kelainan ini sering ditemukan pada penderita trauma kepala. Lebih dari
50% hematom intraserebral juga disertai hematom epidural atau hematom subdural.
Hematom intraserebral paling banyak terjadi di lobus frontalis atau temporalis, dan
tidak jarang ditemukan multipel.
Cedera otak akibat trauma ringan (konkusio)
Konkusio sering dianggap sebagai kejadian ringan, tetapi dalam kenyataan dapat
menyebabkan gejala sisa bermakna seumur hidup. Pasien dengan riwayat cedera
kepala dan skor GCS 15 seringkali tidak terdiagnosis. Konkusio dicurigai bila
mekanisme cedera melibatkan adanya benturan di kepala, cedera akselerasi-deselerasi
atau kejadian mendebarkan yang biasanya terjadi pada saat olahraga atau cedera
akibat bermain.

Gejala dan tanda klinis konkusio bervariasi sesuai dengan keparahannya, tetapi
selisih memori atau amnesia akibat kecelakaan merupakan tanda yang khas. Pasien
biasanya bingung saat kejadian, dan kebingungan terus menetap setelah cedera. Tidak
terdapat tanda neurologis khas untuk cedera kepala yang lebih berat

8. Penatalaksanaan
Pada kasus hematoma epidural maka penanganan darurat berupa :

Dekompresi dengan trepanasi sederhana (tindakan bedah dengan menggunakan


trepanan ; trepanan = sejenis bor)
Kraniotomi untuk mengevakuasi hematom

Terapi medikamentosa
Elevasi kepala 300 dari tempat tidur setelah memastikan tidak ada cedera spinal atau
gunakan posisi trendelenburg terbalik untuk mengurangi tekanan intracranial dan
meningkatkan drainase vena.
Pengobatan yang lazim diberikan pada cedera kepala adalah golongan dexametason
(dengan dosis awal 10 mg kemudian dilanjutkan 4 mg tiap 6 jam), mannitol 20%(dosis 1-3
mg/kgBB/hari) yang bertujuan untuk mengatasi edema cerebri yang terjadi akan tetapi hal ini
masih kontroversi dalam memilih mana yang terbaik. Dianjurkan untuk memberikan terapi
profilaksis dengan fenitoin sedini mungkin (24 jam pertama) untuk mencegah timbulnya
focus epileptogenic dan untuk penggunaan jangka panjang dapat dilanjutkan dengan
karbamazepin. Tri-hidroksimetil-amino-metana (THAM) merupakan suatu buffer yang dapat
masuk ke susunan saraf pusat dan secara teoritis lebih superior dari natrium bikarbonat,
dalam hal ini untuk mengurangi tekanan intracranial. Barbiturat dapat dipakai untuk
mengatasi tekanan intracranial yang meninggi dan mempunyai efek protektif terhadap otak
dari anoksia dan iskemik dosis yang biasa diterapkan adalah diawali dengan 10 mg/kgBB
dalam 30 menit dan kemudian dilanjutkan dengan 5 mg/kgBB setiap 3 jam serta drip 1
mg/kgBB/jam untuk mencapai kadar serum 3-4 mg%
Terapi Operatif
Operasi di lakukan bila terdapat :
Volume hematom 25 ml
Keadaan pasien memburuk
Pendorongan garis tengah > 5 mm
Indikasi operasi dibidang bedah saraf adalah untuk life saving dan untuk fungsional
saving. Jika untuk keduanya tujuan tersebut maka operasinya menjadi operasi emergensi.
Biasanya keadaan emergensi ini disebabkan oleh lesi desak ruang.

Indikasi untuk life saving adalah jika lesi desak ruang bervolume :
>25 cc= desak ruang supra tentorial
>10 cc = desak ruang infratentorial
>5 cc = desak ruang thalamus
Sedangkan indikasi evakuasi life saving adalah efek masa yang signifikan :
Penurunan klinis
Efek massa dengan volume > 20 cc dengan midline shift > 5 mm dengan penurunan
klinis yang progresif
Tebal epidural hematoma >,5 cm dengan midline shift > 5 mm dengan penurunan
klinis yang progresif

DAFTAR PUSTAKA

Hafid A. 2004. Epidural Hematoma, Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi kedua, Jong W.D. Jakarta :
EGC
Lumbantobing, S.M. 2011. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI
Mardjono, Mahar. 2009. Neurologis Klinis Dasar. Jakarta : Dian Rakyat
Price A, Sylvia. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta : EGC
Sjamsuhidajat, R. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC