Anda di halaman 1dari 8

Enny SOEPRAPTO

11 Maret 2002

PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA ∗

I. PENDAHULUAN

1. Konsep hak asasi manusia (HAM) sebagai hak yang melekat pada diri manusia sebagai
hak yang harus di hormati dan dilindungi pada aalnya tumbuh di tataran nasional pada
abad ke-17 dan ke-18, khususnya di Inggris, Amerika dan Perancis dengan
dikeluarkannya Bill of Rights (judul lengkapnya berbunyi “An Act Declaring and
Liberties of the Subjects and Settling the Succession of the Crown”), 1688 di Inggris,
Virginia Declaration of Rights, 1776 (yang disusun oleh George Mason sebulan sebelum
dikeluarkannya Declaration of Independence), Declaration of Independence, 1776 (yang
disusun oleh Thomas Jefferson) di Amerika Serikat, Declaration des Droits de l’Homme
et du Citoyen, 1789 di Prancis, dan Bill of Rights, 1791 di Amerika Serikat. Instrumen-
instrumen nasional ini menetapkan pokok-pokok yang sekarang kita sebut “human rights”
HAM, yang pada waktu dibuatnya pada abad ke-17 dan ke-18 belum disebut demikian.

2. Pada abad ke-19 dan dasawarsa-dasawarsa pertama abad ke-20, konsep HAM mulai
berkembang di tataran Internasional, artinya dianut oleh komunitas bangsa-bangsa dalam
hubungan antara mereka, sebagaimana dapat dilihat dari perkembangan berikut:
(a) Pengutukan praktik perbudakan, yang mula-mula dinyatakan dalam Traktat
Perdamaian Paris, 1814 antara Inggris dan Prancis, yang kemudian berkembang dari
komitmen dua negara menjadi komitmen komunitas internasional dengan dibuatnya
sebagai konvensi yang bertujuan menghapuskan perbudakan dan perdagangan budak,
yakni Slavery Convention (Konvensi Perbudakan) pada 1926 (yang kemudian diubah
dengan Protocol amending the Slavery Convention signed an Geneva on 25
September 1926 (Protokol perubahan atas konvensi Perbudakan yang ditandatangani
di Jenewa pada 25 September 1926) pada 1953 dan ditambah oleh Supplementary


Makalah dibuat guna memenuhi permintaan Dewan Perwakilan Rakyat RI sehubungan dengan pembahasan
dan pemilihan Calon Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

1
Convention on the Abolition of Slavery, the Slave Trade, and Institutions and
Practices Similar to Slavery (Konvensi Tambahan tentang Penghapusan Perbudakan,
Perdagangan Budak, dan Lembaga atau Praktik Yang Sama Dengan Perbudakan)
pada 1956) ;
(b) Pembentukan Comite International de la Croix Rouge (CICR) (Komite Internasional
Palang Merah) pada 1863, yang memprakarsai penyusunan Convention for the
Ameliration of the Condition of the Wounded in Armies in the Field (Konvensi bagi
Perbaikan Kondisi Tentara yang Luka di Darat), 1864. Konvensi ini, yang hanya
terdiri dari sepuluh pasal, memuat asas-asas dasar yang masih berlaku sampai
sekarang. Stelah mengalami beberapa kali penambahan, pelengkapan, dan perluasan
lingkup berlakunya, perlindungan, korban perang, termasuk perlindungan penduduk
sipil dalam konflik bersenjata, kemudian terangkum dalam empat Konvensi Jenewa,
1949, yang kemudian dilengkapi lagi dengan dua protokol Tambahan pada 1977.
Instrumen-instrumen internasional ini, yang semula terkenal sebagai Hukum Perang
(Law of War) (yang tertulis) yang kini disebut Hukum Humaniter (Humanitarian
Law), esensinya bertujuan melindungi hak asasi orang-orang dalam situasi konflik
bersenjata, baik yang terlibat maupun yang tidak terlibat di dalamnya ;
(c) Dengan pembentukan Liga Bangsa-Bangsa (League of Nations) pada 1919 setelah
berakhirnya Perang Dunia I, dibentuk oragnisasi perburuhan Internasional
(International Labour Organization) (ILO), yang bertujuan memajukan
penghormatan hak asasi kaum buruh. Di samping itu dibentuk pula Kantor
Internasional Nansen untuk pengungsi (Nansen International Office for Refugees),
yang bertugas melindungi hak asasi pengungsi.

3. (a) Kekejaman Jerman Nazi selam Perang Dunia II menyadarkan komunitas Internasional
tentang sangat pentingnya penghormatan HAM bagi umat manusia secara
keseluruhan. Ketetapan demikian sudah diambil sebelum usainya Perang Dunia II,
yaitu ketika pada 1 Januari 1942, di Washington, D.C., 26 bangsa melawan kekuatan
poros (Axis Powers) menandatangani Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Deklarasi tersebut menyatakan dalam preambulnya menyatakan, antara lain, tentang,
“esensialnya mempertahankan hidup, kebebasan, kemerdekaan, dan kebebasan
agama, dan melindungi HAM serta keadilan di dalam wilayah mereka sendiri dan
juga di negeri lain …”;

2
(b) Piagam PBB, yang diterima oleh 50 bangsa dalam pertemuannya di San Fransisco pada
25 April-25 Juni 1945, mengukuhkan deklarasi PBB 1942 tersebut dalam paragrag
preambuler kedua, Pasal 1 ayat 3, Pasal 55 huruf c, dan Pasal 56 Piagam PBB;
(c) Upaya komunitas internasional untuk memantapkan pengakuan dan penghormatan HAM
mencapai kulminasinya pada 10 Desember 1948 dengan diterima dan
diproklamasikannya Universal Declaration of Human Rights (UDHR) (Deklarasi
Universal Hak Asasi Manusia) (DUHAM), DUHAM 1948, yang merupkan “katalog”
HAM dan yang terdiri dari 30 pasal, dalam garis besarnya menetapkan hak dan kebebasan
setiap orang yang harus diakui dan dihormati serta kewajiban setiap orang untuk
dipenuhi. Hak dan kebebasan yang ditetapkan dalam DUHAM, 1948 tersebut dapat
dikelompokan dalam dua bidang besar, yakni, pertama, hak sipil dan politik dan, kedua,
hak ekonomi, sosial, dan budaya;
(d) Agar mempunyai daya ikat secara hukum, ketentua-ketentuan DUHAM, 1948 kemudian
dituangkan dalam dua kovenan yang masing-masing mengelompokkan dan kebebasan di
bidang sipil dan politik serta hak dan kebebasan di bidang ekonomi, sosial, dan budaya,
yakni International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) (Kovenan
Internasional tentang Hak Sipil dan Politik), 1966 dan International Covenant on
Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR) (Kovenan Internasional tentang Hak
Ekonomi, Sosial, dan Budaya), 1966. Ketiga instrumen internasional induk ini, yakni
UDHR, 1948, ICCPR, 1948, dan ICESCR, 1966, yang merupakan instrumen-instrumen
internasional induk di bidang HAM dikenal sebagai International Bills of Human Rights;
(e) Ketentuan-ketentuan DUHAM, 1948 juga dituangkan dalam berbagai instrumen
internasional yuridis lain yang bertujuan mengatur kategori orang atau masalah khusus
tertentu, yakni Konvensi mengenai Status Pengungsi, 1951 dan Protokol mengenai Status
Pengungsi, 1967 (penerapan HAM bagi pengungsi), Konvensi mengenai Hak Politik
Perempuan, 1952 (penjabaran Pasal 21), Konvensi UNESCO menentang Diskriminasi
dalam Pendidikan, 1960 (penjabaran Pasal 2 dan Pasal 26), Konvensi mengenai Status
Orang Tanpa kewarganegaraan, 1954 (penerapan HAM bagi orang-orang tanpa
kewarganegaraan), Konvensi tentang Ketiadaan Kewarganegaraan, 1961 (penjabaran
pasal 15), Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi
Rasial, 1965 (penjabaran Pasal 2), Konvensi Internasional tentang Penindasan dan
Penghukuman Tindak Pidana Apartheid, 1973 (penjabaran pasal 1 dan pasal 2), Konvensi
tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, 1979 (penjabaran
pasal 2), Konvensi menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman yang kejam,

3
Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia, 1984 (penjabaran apsal 5),
Konvensi tentang Hak Anak, 1989 (penjabaran pasal 25 ayai (2)), dan Konvensi
Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota
Keluargannya, 1990 (penjabaran pasal 2).

II. PENGAKUAN DAN PENEGAKAN HAM DI INDONESIA

4. Meskipun Republik Indonesia (RI) lahir sebelum proklamasinya DUHAM beberapa hak
asasi dan kebebasan fundamental yang sangat penting sudah diakui dalam konstitusinya,
baik hak rakyat (peoples’ rights) maupun hak individu (individual rights), yakni hak
semua bangsa untuk merdeka (alinea pertama pembukaan), hak atas persamaan di
hadapan hukum dan dalam pemerintahan (Pasal 27 ayat (1)), hak atas pekerjaan (Pasal27
ayat (2)), hak atas penghidupan yang layak (Pasal 27 ayat (2)), kebebasan berserikat dan
berkumpul (pasal 28), kebebasan mengeluarkan pendapat (pasal 28), kebebasan beragama
(Pasal 29 ayat (2)), dan hak atas pendidikan (Pasal 31 ayat (1)). Sudah tentu pelaksanaan
hak-hak individu di amsa berlakunya UUD 1945 di masa revolusi kemerdekaan (1945-
1949) tidak berlangsungnya sebagaimana mestinya karena bangsa Indonesia sedang
berada dalam konflik bersenjata dengan Belanda.

5. Di masa hidup republik Indonesia Serikat (RIS) (27 Desember 1949-15 Agustus 1950)
pengakuan dan penghormatan HAM, setidak-tidaknya secara legal formal, sangat maju
dengan dicantumkannya tidak kurang dari 35 pasal dalam konstitusi RIS (KRIS), 1950
(dari keseluruhan 197 pasal, atau sekitar 18 persen) yang mengatur HAM. Singkatnya
masa depan RIS (hanya sekitar 8.5 bulan) tidak memungkinkan dibuatnya penilaian
umum penegakan HAM waktu itu.

6. Kemajuan yang sama, secara konstitusional, juga berlangsung sekembali Indonesia


menjadi negara kesatuan dan berlakunya Undang-Undang Dasar Sementara RI
(UUDSRI), 15 Agustus 1950-4 Juli 1959, dengan dicantumkannya 38 pasal dalam
UUDSRI, 1950 (dari keseluruhan 146 pasal, atau sekitar 26 persen) yang mengatur HAM.
Di masa berlakunya UUDSRI, 1950 dapatlah dikatakan cukup baiknya penghormatan
atas HAM. Patut diingat bahwa di masa itu perhatian bangsa terhadap masalah HAM
masih belum besar. Di masa berlakunya UUDSRI, 1950 ini, sebagai tindak di tataran

4
internasional Indonesia menyatakan meneruskan berlakunya bagi Indonesia beberapa
konvensi ILO yang dibuat sebelum Perang Dunia II dan dinyatakan berlaku bagi Hindia
Belanda oleh Belanda dan mengesahkan Konvensi Hak Politik Perempuan, 1952.

7. Sejak berlkunya kembali UUD 1945 pada 5 Juli 1959 bangsa Indonesia mengalami
kemunduran dalam penikmatan HAM-nya. Sampai 1966 kemunduran itu terutama
berlangsung dalam hal yang menyakngkut kebebasan mengeluarkan pendapat. Sejak 1966
sampai runtuhnya rezim otoriter dan represif yang menamakan dirinya “Orde Baru”,
bangsa Indonesia mengalami kemunduran dalam penikmatan HAM-nya disemua bidang
yang diakui oleh UUD 1945. Di tataran internasional, selama 32 tahun masa hidup “Orde
Baru” Indonesia mengesahkan tidak lebih dari dua instrumen internasional mengenai
HAM, yakni Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap
Perempuan, 1979 dan Konvensi tentang Hak Anak, 1989. Pada 1993 memang dibentuk
Komisi Nasional (Komnas) HAM (Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 1993) yang
bertujuan membantu mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan HAM dan
meningkatkan perlindungan HAM “guna mendukung tujuan pembangunan nasional”
(Pasal 4). Meskipun Komnas HAM yang dibentuk berdasarkan Keppres 50/1993 tersebut
dinyatakan bersifat mandiri (Pasal 3), karena para anggotanya diangkat [secara langsung]
oleh Presiden (Pasal 8 ayat (3)), besarnya kekuasaan Presiden secara de facto dalam
kehidupan negara dan bangsa, kondisi objektif bangsa yang berada di bawah rezim yang
otoriter dan represif, pembentukan Komnas HAM di Indonesia waktu itu, yang sejak
1966 ditandai oleh pelanggaran HAM di segala bidang utama, yakni, sipil, politik,
ekonomi, sosial, dan budaya.

8. Sejak runtunya rezim otoriter dan represif “Orde Baru” gerakan penghormatan dan
penegakan HAM yang sebelumnya merupakan gerakan arus bawah (undercurrent)
muncul ke permukaan dan bergerak secara terbuka pula. Gerakan ini memperoleh
impetus dengan diterimanya Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor
XVII/MPR/1998 tentang HAM, yang melampirkan antara lain, Piagam HAM yang terdiri
dari Pembukaan dan 44 Pasal (Lampiran II). Upaya bangsa bagi penghormatan dan
penegakan HAM berlanjut, di bidang legal-formal, dengan diundangkannya Undang-
Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, yang pada hakikatnya mentransformasikan
pokok-pokok Piagam HAM yang ditetapkan oleh MPR menjadi norma yuridis.
Komitmen Negara RI untuk menghormati dan menegakan HAM meningkat menjadi

5
komitmen konstitusional dengan Perubahan Kedua UUD 1945 yang diterima oleh MPR
pada 18 Agustus 2000 dengan menambahkan sepuluh pasal baru (Pasal 28A-28J) yang
mengatur pengakuan dan penghormatan HAM, yang menambah ketentuan yang sudah
ada sebelumnya dalam UUD 1945 (lihat supra, para 4, hlm. 3-4). Pembuatan peraturan
perundang-undangan sebagai “perangkat lunak” berlanjut dengan diundangkannya
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM, yang juga
memungkinkan dibentuknya pengadilan HAM ad hoc guna mengadili pelanggaran HAM
yang berat yang terjadi sebelum diundangkannya undang-undang tersebut 23 September
2000).

9. Di samping peraturan perundang-undangan yang sudah ada sebagaimana disebut dalam


para 8 di atas sudah tentu masih perlu dibuat peraturan perundang-undangan lain sebagai
pelaksanaan atau pelengkap yang sudah ada, seperti peraturan pemerintah tentang
perlindungan korban dan saksi, peraturan pemerintah tentang kompensasi, restitusi, dan
rehabilitasi (sebagaimana keduanya diperintahkan pembuatannya oleh Undang-Undang
Nomor 26 Tahun 2000), undang-undang tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
Nasional (KKRN) yang pembentukannya diperintahkan oleh Ketetapan MPR Nomor
V/MPR/2000, prubahan, pencabutan, atau pembuatan peraturan perundang-undangan
baru untuk mengoreksi peraturan perundang-undangan yang ada yang bertentangan atau
tidak sesuai dengan prinsip-prinsip HAM (misalnya perubahan atau pencabutan peraturan
perundang-undangan yang masih ada bersifat diskriminatif termasuk pasal 6 ayat (1) dan
pasal 26 ayat (1) UUD 1945), dan pengesahn instrumen-instrumen internasional yang
relevan, terutama yang bersifat dasar, khususnya Kovenan Internasional tentang Hak
Ekonomi, Sosial, dan Budaya 1966.

10. Di bidang yang berkenaan dengan tugas dan fungsi lembaga negara atau yang dibentuk
oleh negara patut dicatat tiga hal berikut:
(a) Perlunya peningkatan perhatian dan kegiatan pemerintah dalam upaya perlindungan,
pemajuan, penegakan, dan pemenuhan HAM, mengigat tanggung jawab utamanya di
bidang ini sebagaimana ditetapkan dalam Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/ 1998
(Lampiran II, Piagam HAM, Pasal 43), Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999
tentang HAM (Pasal 8, Pasal 71, dan Pasal 72), dan UUD 1945 (Pasal 281 ayat (4);

6
(b) Perlunya sikap proaktif Dewan Perwakilan Rakyat untuk turut serta dalam upaya
bangsa dalam perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan HAM, sesuai
dengan yang ditetapkan dalm Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 (Pasal 1); dan
(c) Perlunya perubahan pasal-pasal terkait Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999
tentang HAM yang menyangkut Komnas HAM yang memungkinkan Komnas HAM
lebih menitikberatkan tugas dan fungsinya pada masalah-masalah yang bersifat
strategis dan sebagai pengaris kebijakan sedangkan tugas sehari-hari dilaksanakan
oleh staf Sekretaris Komnas HAM yang, sudah tentu, harus dipastikan
profesionalisme dan dedikasinya.

11. Di bidang penyebaranluasan prinsip-prinsip dan nilai-nilai HAM perlu diintensifkan


pemanfaatan jalur pendidikan dan pelatihan dengan, antara lain, pemasukan HAM dalam
kurikulum pendidikan umum di tingkat SMU, di pelatihan pegawaian dan aparat penegak
hukum, termasuk militer dan polisi, dan pada pelatihan kalangan profesi hukum, misalnya
para pengacara.

12. Mengingat bahwa dewasa ini bangsa Indonesia masih berada dalam masa transisi dari
rezim otoriter dan represif ke rezim demokratis, namun menyadari masih lemahnya
penguasaan masalah dan kesadaran bahwa penegakan HAM merupakan kewajiban
seluruh bangsa tanpa kecuali, perlu diterapkan keadilan yang bersifat transitional, yang
rezim disebut “transitional justice”, yang memungkinkan para korban pelanggaran HAM
di masa lalu dapat secara realistis memperoleh keadilan.

III. SIMPULAN DAN REKOMENDASI

13. Peraturan perundang-undangan mengenai HAM yang sekarang sudah ada dan yang
mungkin dibuat kemudian merupakan perangkat yang sangat esensial bagi upaya
pengembangan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan HAM dan bagi perlindungan
HAM. Kondisi demikian masih jauh dari tercipta karena masih lemahnya pengetahuan
mengenai HAM dan kesadaran tentang penghormatan dan penegakan HAM di kalangan
yang tugas dan fungsinya berkaitan dengan penghormatan dan penegakan HAM dan di
kalangan masyarakat banyak sendiri.

7
14. Berhubung dengan itu direkomendasikan pengambilan langkah-langkah sebagaimana
dimaksud dalam para 9-para 12 (hlm. 5-7) oleh semua pihak yang terkait sesuai dengan
lingkup kewenagan, tugas, dan fungsinya masing-masing.

IV. PENUTUP

15. Upaya perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan HAM merupakan kegiatan
yang bersifat terus-menerus (on-going) dan yang harus dilakukan dengan kegigihan
(perseverance). Kualitas demokrasi Indonesia yang kini sedang diupayakan
perwujudannya oleh seluruh bangsa akan sangat tergantung pada tingkat penghormatan,
perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia di Indonesia.