Anda di halaman 1dari 14

TUGAS REMEDIAL PAI

Nama

: Alif Al Faris Maulana

Kelas

: XI IPA 7

Absen

: 02

Guru

: Pa Nur Fajri Alnajakhi S.Pd.I

SMA NEGERI 1 KOTA CIREBON

SHOLAT JENAZAH

Shalat Jenazah atau Mayit fardhu kifayah hukumnya dikerjakan dan diwakili salah satu
keluarganya si mayit jika tidak maka pihak keluarga yang ditinggalkan akan menanggung dosa.
Rasulullah SAW bersabda:
Barang siapa menghadiri jenazah sampai jenazah itu disalati, maka ia mendapatkan satu qirath.
Dan barang siapa menghadirinya sampai jenazah itu dikuburkan, maka ia mendapatkan dua
qirath. Ada yang bertanya: Apakah dua qirath itu? Rasulullah SAW bersabda: Sama dengan dua
gunung yang besar. (HR Abu Hurairah)
Dan Rasulullah SAW bersabda:
Barang siapa menyalati jenazah, maka ia mendapatkan satu qirath. Jika ia menghadiri
penguburannya, maka ia mendapatkan dua qirath. Satu qirath sama dengan gunung Uhud.
(HR Tsauban).
Shalat jenazah merupakan salah satu praktik ibadah shalat yang dilakukan umat Muslim
jika ada Muslim lainnya yang meninggal dunia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Q.S. Al-Imran : 185 yang berbunyi :

Artinya : Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati dan sesungguhnya pada hari kiamat
sajalah disempurnakan pahalamu. (Q.S. Al-Imran : 185)
Dalam hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi yang dishahihkan oleh Ibnu Hibban,
Rasuullah SAW bersabda :
Banyak-banyaklah kamu mengingat hal yang memutuskan kesenangan, yakni mati. (HR. AtTirmidzi , dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Kewajiban orang Islam terhadap jenazah muslim

1. Memejamkan mata, mengatupkan mulut, menyedekapkan tangan, dan meluruskan


kakinya.
2. Menutupnya dengan kain.
3. Memandikannya.
4. Mengafaninya.

5. Menyalatkannya.
6. Menguburkannya.

Tata cara memandikan jenazah

1. Siapkan tempat untuk meletakkan jenazah, air biasa secukupnya, air yang dicampurkan
daun bidara atau sabun, dan air yang dicampur dengan kapur barus.
2. Letakkanlah jenazah di tempat yang sudah disediakan, sebaiknya di tempat tertutup.
3. Kain penutup jenazah dilepas, sedangkan bagian kemaluan ditutup dengan kain atau
lainnya.
4. Memandikan jenazah dimulai dengan mengeluarkan dan membersihkan kotoran jenazah
lebih dahulu.
5. Mulailah dari anggota wudlu dan anggota kananya.
Hal ini berdasarkan hadits Nabi yang berbunyi : Mulailah dengan anggotanya yang
sebelah kanan dan tempat (anggota) wudlunya. (HR. Al Jamaah)
6. Setelah itu, mandikanlah dengan bilangan gasal ( 3 sebanyak 5 kali atau lebih dari itu)
dengan air biasa, air yang diberi daun bidari atau sabun dan yang terakhir disiram dengan
air yang dicampur dengan kapur barus.
Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW yang berbunyi : Mandikanlah dia tiga kali, atau
lima kali, atau lebih dari itu menurut pendapat kalian dengan air dan daun bidara, serta
pada kali yang terakhir , campurkanlah air dengan kapur barus atau sesuatu yang sama
dengan kapur barus. (HR. Al-Bukhari)
7. Jika perempuan, jalinlah rambut menjadi 3 pintal, lalu keringkanlah dengan handuk.
Rasulullah SAW bersabda : Mandikanlah dalam jumlah gasal, tiga atau lima atau tujuh
kali atau lebih dari itu menurut pendapatmu, lalu kami menjalin rambutnya tiga jalinan.
(HR A-Bukhari, Musim, dan Abu Dawud)
8. Hendaklah jenazah laki-laki dimandikan oleh orang laki-laki. Sedangkan jenazah
perempuan dimandikan oleh orang perempuan, kecuali mahramnya.
Dibenarkan suami memandikan jenazah istrinya atau sebaliknya, sebagaimana dijelaskan
di dalam hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasai dan Ibnu Hibban dan menshahihkannya
yang berbunyi : Apa halangannya seumpama kamu meninggal sebelumku, akulah yang
memandikanmu, menyalatkanmu, dan menguburmu. (HR. An-Nasai dan Ibnu Hibban)
Disampig itu ada pula hadits yang berbunyi : Seumpama aku dapat mengulangi perkara
yang telah lampau, pastilah yang memandikan Rasulullah SAW itu hanya istri-istrinya.
(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Mjah)
9. Jika pada tubuh jenazah terdapat cacat, tutuplah hal ini sesuai dengan hadits yang
berbunyi : Barangsiapa memandikan jenazah, lalu merahasiakan cacat tubuhnya, Allah
memberikan ampun baginya empat puluh kali. (HR Al-Hakim dan menshahihkannya
menurut syarat Muslim)
10. Setelah selesai keringkan dengan handuk.
Hal ini telah diriwayatkan dalam hadits yang berbunyi : Bahwa Rasulullah SAW
diselubungi dengan kain Yaman untuk mengeringkan, lalu dilepaskan. (HR. Muslim)
11. Lalu, tutuplah dengan kain,

12. Selanjutnya jenazah diangkat dan diletakkan di tempat yang sudah disediakan untuk
dikafani.

Tata cara mengkafani jenazah

Ukuran Kain Kafan Yang Digunakan Untuk Jenazah


Ukurlah lebar tubuh jenazah. Jika lebar tubuhnya 30 cm, maka lebar kain kafan yang disediakan
adalah 90 cm. 1 : 3
Ukuran tinggi tubuh jenazah :
1. Jika tinggi tubuhnya 180 cm, maka panjang kain kafannya ditambah 60 cm.
2. Jika tinggi tubuhnya 150 cm, maka panjang kain kafannya ditambah 50 cm.
3. Jika tinggi tubuhnya 120 cm, maka panjang kain kafannya ditambah 40 cm.
4. Jika tinggi tubuhnya 90 cm, maka panjang kain kafannya ditambah 30 cm.
5. Tambahan panjang kain kafan dimaksudkan agar mudah mengikat bagian atas kepalanya dan
bagian bawahnya.

Tata Cara Mengkafani Jenazah laki-laki


Jenazah laki-laki dibalut dengan tiga lapis kain kafan. Berdasar dengan hadits.
Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam dikafani dengan 3 helai kain sahuliyah yang putih
bersih dari kapas, tanpa ada baju dan serban padanya, beliau dibalut dengan 3 kain tersebut.

Cara mempersiapkan tali pengikat kain kafan


1. Panjang tali pengikat disesuaikan dengan lebar tubuh dan ukuran kain kafan. Misalnya
lebarnya 60 cm maka panjangnya 180 cm.
2. Persiapkan sebanyak 7 tali pengikat. ( jumlah tali usahakan ganjil). Kemudian dipintal dan
diletakkan dengan jarak yang sama diatas usungan jenazah.
b. Cara mempersiapkan kain kafan.
3 helai kain diletakkan sama rata diatas tali pengikat yang sudah lebih dahulu , diletakkan diatas
usungan jenazah, dengan menyisakan lebih panjang di bagian kepala.

Cara mempersiapkan kain penutup aurat


1. Sediakan kain dengan panjang 100 cm dan lebar 25 cm ( untuk mayyit yang berukuran lebar
60 cm dan tinggi 180 cm), potonglah dari atas dan dari bawah sehingga bentuknya seperti popok
bayi.
2. Kemudian letakkan diatas ketiga helai kain kafan tepat dibawah tempat duduk mayyit,
letakkan pula potongan kapas diatasnya.
3. Lalu bubuhilah wewangian dan kapur barus diatas kain penutup aurat dan kain kafan yang
langsung melekat pada tubuh mayyit.

Cara Memakaikan Kain Penutup Auratnya


1. Pindahkan jenazah kemudian bubuhi tubuh mayyit dengan wewangian atau sejenisnya.
Bubuhi anggota-anggota sujud.
2. Sediakan kapas yang diberi wewangian dan letakkan di lipatan-lipatan tubuh seperti ketiak
dan yang lainnya.
3. Letakkan kedua tangan sejajar dengan sisi tubuh, lalu ikatlah kain penutup sebagaimana
memopok bayi dimulai dari sebelah kanan dan ikatlah dengan baik.

Cara Membalut Kain Kafan


1. Mulailah dengan melipat lembaran pertama kain kafan sebelah kanan, balutlah dari kepala
sampai kaki .
2. Demikian lakukan denngan lembaran kain kafan yang kedua dan yang ketiga.
f. Cara mengikat tali-tali pengikat.
1. Mulailah dengan mengikat tali bagian atas kepala mayyit dan sisa kain bagian atas yang lebih
itu dilipat kewajahnya lalu diikat dengan sisa tali itu sendiri.
2. Kemudian ikatlah tali bagian bawah kaki dan sisa kain kafan bagian bawah yang lebih itu
dilipat kekakinya lalu diikat dengan sisa tali itu sendiri.
3. Setelah itu ikatlah kelima tali yang lain dengan jarak yang sama rata. Perlu diperhatikan,
mengikat tali tersebut jangan terlalu kencang dan usahakan ikatannya terletak disisi sebelah kiri
tubuh, agar mudah dibuka ketika jenazah dibaringkan kesisi sebelah kanan dalam kubur.

Mengkafani Jenazah Wanita


Jenazah wanita dibalut dengan lima helai kain kafan. Terdiri atas : Dua helai kain, sebuah baju
kurung dan selembar sarung beserta kerudungnya. Jika ukuran lebar tubuhnya 50 cm dan
tingginya 150 cm, maka lebar kain kafannya 150 cm dan panjangnya 150 ditambah 50 cm.
Adapun panjang tali pengikatnya adalah 150 cm, disediakan sebanyak tujuh utas tali, kemudian
dipintal dan diletakkan sama rata di atas usungan jenazah. Kemudian dua kain kafan tersebut
diletakkan sama rata diatas tali tersebut dengan menyisakan lebih panjang dibagian kepala.

Cara mempersiapkan baju kurungnya


1. Ukurlah mulai dari pundak sampai kebetisnya, lalu ukuran tersebut dikalikan dua, kemudian
persiapkanlah kain baju kurungnya sesuai dengan ukuran tersebut.
2. Lalu buatlah potongan kerah tepat ditengah-tengah kain itu agar mudah dimasuki kepalanya.
3. Setelah dilipat dua, biarkanlah lembaran baju kurung bagian bawah terbentang, dan lipatlah
lebih dulu lembaran atasnya (sebelum dikenakan pada mayyit, dan letakkan baju kurung ini di
atas kedua helai kain kafannya ).lebar baju kurung tersebut 90 cm.

Cara mempersiapkan kain sarung


Ukuran kain sarung adalah : lebar 90 cm dan panjang 150 cm. Kemudian kain sarung tersebut
dibentangkan diatas bagian atas baju kurungnya.

Cara mempersiapkan kerudung.


Ukuran kerudungnya adalah 90 cm x90 cm. Kemudian kerudung tersebut dibentangkan diatas
bagian atas baju kurung.

Cara mempersiapkan kain penutup aurat.


1. Sediakan kain dengan panjang 90 cm dan lebar 25 cm.
2. Potonglah dari atas dan dari bawah seperti popok.
3. Kemudian letakkanlah diatas kain sarungnya tepat dibawah tempat duduknya, letakkan juga
potongan kapas diatasnya.
4. Lalu bubuhilah wewangian dan kapur barus diatas kain penutup aurat dan kain sarung serta
baju kurungnya.

Cara melipat kain kafan


Sama seperti membungkus mayat laki-laki

Cara mengikat tali


Sama sepert membungkus jenazah laki-laki.
Catatan:
1. Cara mengkafani jenazah anak laki-laki yang berusia dibawah tujuh tahun adalah
membalutnya dengan sepotong baju yang dapat menutup seluruh tubuhnya atau membalutnya
dengan tiga helai kain.
2. Cara mengkafani jenazah anak perempuan yang berusia dibawah tujuh tahun adalah dengan
membaluatnya dengan sepotong baju kurung dan dua helai kain.

Tata Cara Shalat Jenazah:


A. Hukum shalat jenazah
Shalat jenazah adalah shalat yang dikerjakah dengan 4 takbir, tanpa ruku, i'tidal,
sujud dan duduk. Jadi dilakukan hafiya dengan berdiri, Shalat jenazah hukumnya fardhu
kifayah, yaitu kewajiban yang bersifat kolektif. Artinya, jika dalam satu wilayah tak ada
seorang pun yang menyelenggarakan shalat jenazah, maka seluruh penduduk wilayah itu
akan menanggung dosa. Akan tetapi jika ada beberapa orang saja yang
menyelenggarakannya, maka penduduk yang lainnya bebas dari kewajiban itu. Jenazah
yang boleh dishalati adalah jenazah orang Islam yang bukan mati syahid (yaitu mati
dalam peperangan melawan orang kafir atau orang musyrik). Sedangkan orang yang mati
syahid dan bayi yang gugur dalam kandungan (atau sejak dilahirkan, sebeium mati,
belum dapat bersuara atau menangis) tidak boleh dishalati, juga tidak boleh dimandikan.
Shalat jenazah ini boleh dikerjakan di setiap waktu, karena shalat ini termasuk shalat
yang mempunyai sebab. Shalat jenazah boleh dikerjakan kaum wanita. Beberapa jenazah
boleh dishalati secara bersama-sama.
B. Syarat shalat jenazah
- Sama dengan syarat shalat biasa, yaitu menutup aurat, menghadap kiblat, suci dari
hadats (besar dan kecil) dan najis, baik badan, pakaian maupun tempatnya.
- Jenazah sudah dimandikan dan dikafani (dibungkus).
- Jenazah diletakkan di hadapan orang yang menyalati, dengan posisi kepalanya berada
disebelah kanan, searah dengan kiblat.

C. Rukun shalat jenazah


-Niat.
-Berdiri bagi yang mampu.
-Empat kali takbir (termasuk takbiratul ihram).
-Membaca surat Al-Fatihah setelah takbir yang pertama (takbiratul ihram).
-Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw. setelah takbir yang kedua.
-Membaca doa untuk jenazah setelah takbir yang ketiga.
-Membaca doa untuk jenazah dan orang yang menyalatinya setelah takbir yang
keempat.
-Membaca salam ke kanan dan ke kiri.
D. Sunat shalat jenazah
-Mengangkat kedua tangan pada saat bertakbir.
-Merendahkan suara pada setiap bacaan (israr).
-Membaca isu'adzah (A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajlim). Di samping itu,
posisi imam hendaknya didekat kepala jenazah laki-laki atau di dekat pmggul
jenazah perempuan. Shaf (barisan hendaknya dijadikan3 shaf atau lebih. Satu
shaf sekurang-kurarangnya 2 orang.
E. Cara melaksanakan shalat jenazah
(1) Berdiri tegak menghadap kiblat, Kedua belah tangan berada di samping sejajar
dengan pinggul, Sedangkan kepala agak tunduk ke sajadah. Hati dan pikiran
berkonsentrasi, lalu membaca lafal shalat jenazah, yaitu :
a. Jika jenazah orang laki-laki:

USHALLII 'ALAA HAADZAL MAYYITI ARBA'A TAKBIIRAATIN FARDHAL


KIFAAYATI MA'MUUMAN LILLAAHITA' AALAA.
b. Jika jenazah orang perempuan:

USHALLII 'ALAA HAADZIHIL JANAAZATI ARBA'A TAKBIIRAATIN FARDHAL


KIFAAYATI MA'MUUMAN LILLAAHITA' AALAA.
(Jika mehjadi imam, kata MA'MUUMAN diganti dengan -IMAAMAN)

(2) Setelah selesai membaca lafal niat tersebut, kedua belah tangan diangkat (jari-jari terbuka
rapat, kecuali ibu jari!) sejajar dengan kedua bahu (ujung jari-jari sejajar dengan telinga!) sambil
mengucapkan "ALLAAHU AKBAR". Pada saat tangan diangkat dan mulut mengucapkan
kalimat takbir ini, hatinya mengatakan: "Aku niat shalat atas jenazah ini 4 takbir, fardhu kifayah
mengikut imam, karma Allah Ta'ala." (Jika sebagai imam, jika sebagai ma'mum diganti dengan
'menjadi ma'mum'!).
(3) Setelah hati selesai mengucapkan niat, dan bacaan takbir selesai, kedua belah tangan
diturunkan perlahan-lahan, dan diletakkan di atas pusar dan di bawah dada, Tangan kanan
diletakkan di atas tangan kiri, lalu langsung mem-baca isti'adzah dan Al-Fatihah (tanpa membaca
do'a iftitah!).
(4) Setelah selesai membaca surat Al-Fatihah, dilanjutkan dengan bertakbir yang kedua sambil
mengangkat kedua tangan dengan gerakan sama seperti gerakan pada takbir pertama (tapi tanpa
niat), dalam posisi tetap berdiri, tanpa ruku dan tanpa sujud. Selesai bertakbir kedua tangan
kembali ke posisi semula, yaitu bersedekap, lalu membaca shalawat kepada Nabi Muhammad
saw. yang lafalnya :
a. Sekurang-kurangnya (minimal):

ALLAHUMMA SHALLI'ALAA MUHAMMAD


c.

Yang paling sempurna (lengkap):

ALLAAHUMMA SHALLI 'ALAA MUHAMMAD WA'ALAA AALI MUHAMMAD,


KAMAA SHALLAITA 'ALAA IBRAAHIIM WA'ALAA AALI IBRAAHIIM, WA BAARIK
'ALAA MUHAMMAD WA * ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA BAARAKTA * ALAA
IBRAAHIIM WA 'ALAA AALI IBRAHIM, FIL AALAMIINA INNAKA
HAMIIDUMMAJIID
Artinya: "Wahai Allah! Berilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana
Engkau telah memberi rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, dan berilah keberkahan
kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi keberkahan
kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, sungguh di alam semesta ini Engkau Maha Terpuji lagi
Maha Mulia.

(5) Selesai membaca shalawat, dilanjutkan dengan bertakbir yang ketiga sambil mengangkat
kedua tangan, tanpa ruku' dan tanpa sujud Selesai bertakbir, kedua tangan kembali: ke posisi
semula, yaitu bersedekap, lalu membaca doa yang ditujukan untuk jenazah, yaitu:
a. Sekurang-kurangnya:

ALLAAHUMMAGH FIRLAHU WARHAMHU WA 'AAFIHI WAWANHU


Jika jenazah seorang perempuan, maka lafalnya:

ALLAAHUMAGHFIRLAHAA WARHAMHAAWA *AAFIHAA WA'FU'ANHAA.


b. Yang paling sempurna (lengkap):

ALLAAHUMMAGHFIR LAHU WARHAMHU WA'AAFIHI' WA'FU 'ANHU WA AKRIM


NUZULAHU WAWASSi: MAD-KHALAHU WAGHSILHU BILMAA'I WATS TSALJI
WAL-BARADI WANAQQIHI MINAL KHATHAAYAA KAMAA YUNAQQATS TSAUBUL
ABYADHU MINAD DANASI WA ABDILHU DAARAN KHAIRAN MIN DAARIHI WA
AHLAN KHAIRAN MIN AHLIHI WA ZAUJAN KHAIRAN MINZAUJIHIWAQIHIFTTNATALQABRI WA 'ADZAABAN NAARI.

Jika jenazah seorang perempuan, maka lafalnya:

ALLAAHUMMAGHFIR LAHAA WARHAMHAA WA 'AAFIHAA WA'FU 'ANHAA WA


AKRIM NUZULAHAA WA WASSF MADKHALAHAA WAGHSILHAABILMAA,I WATS
TSALJI WAL BARADI WANAQQIHAA MINAL KHA-THAAYAA KAMAA YUNAQQATS
TSAUBUL ABYADHU MINAD DAN ASI WA ABDILHAA DAARAN KAAIRAN MIN
DAARIHAA WA AHLAN KHARAN MIN AHLIHAA WA ZAUJAN KHAIRAN MIN
ZAUJIHAA WAQIHAA FTTNATAL QABRl WA 4ADZAABAN NAARI.
Artinya: "Wahai Allah! Ampunilah dia,berilah dia rahmat, berilah dia kesejahteraan, maafkanlah
kesalahdnnya, luaskanlah tempat kediamannya, bersihkanlah dia dengan air, es dan embun, dan
bersihkanlah dia dari segala kesalahan sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran, dan
gantilah rumahhya dengan rumah yang lebih baik, keluarganya dengan keluarga yang lebih baik,
dan istri (suami)nya dengan istri (suami) yang lebih baik, dan peliharalah dia dari fitnah (siksa)
kubur dan azab neraka"
Jika jenazah seorang anak laki - laki yang masih kecil (belum baligh), maka doanya:

ALLAAHUMMAJ 'ALHU FARATHAN LI ABAWAIHI WA SALAFAN WA DZUKHRAN


WA 'IZHATAN WA'TIBAARAN WA SYAFU'AN WA TSAQQIL
BIHIMAWAAZIINAHUMAA WA AFRIGHISH SHABRA'ALAA QULUUBIHIMAA WA
LAA TAFTINHUMAA BA'DAHU WA LAA TAHRIMHUMAA AJRAHU.

Jika seorang anak perempuan, maka lafalnya:

ALLAAHUMMAJ'ALHAAFARATHANLIABAWAIHAAWA SALAFAN WA DZUKHRAN


WA 'IZHATAN WA'TIBAARAN WA SYAFITATAN WA TSAQQIL BIHAA
MAWAAZIINAHU-MAA WA AFRIGHISH SHABRA 'ALAA QULUUBIHIMAA WA LAA
TAFTINHUMAA BA'DAHAA WA LAA TAH-RIMHUMAA AJRAHAA.
Artinya: "Wahai Allah! Jadikanlah dia sebagai simpanan pendahuluan bagi kedua orang tuanya,
titipan, pelajaran (nasihat), contoh, penolong, dan beratkanlah timbangan (kebaikan) kedua orang
tuanya, curahkanlah kesabaran di hati mereka berdua, janganlah Kau jadikan fitnah bagi mereka
berdua setelah kematiannya, janganlah Kau cegah pahalanya bagi mereka berdua."

(6) Selesai membaca doa untuk jenazah, dilanjutkan dengan bertakbir yang keempat sambil
mengangkat kedua tangan, tanpa ruku'

ALLAAHUMMA LAA TAHRIMNAA AJRAHU WA LAA TAFTINNAA BA'DAHU


WAGHFIR LANAA WA LAHU.

Jika jenazah seorang perempuan, maka lafalnya:

ALLAAHUMMA LAA TAHRIMNAA AJRAHAA WA LAA TAFTINNAA BA'DAHAA


WAGHFIR LANAA WA LAHAA.

(7) Setelah membaca doa tersebut dilanjutkan membaca salam, sambil menoleh ke kanan dan ke
kiri, yaitu :

ASSALAAMU 'ALAIKUM WARAHMATULLAAHI WA BARAKAATUH.


Artinya: "Semoga kesejahteraan, rahmat Allah, dan berkah-Nya tetap tercurahkan kepada Anda
semua" Setelah itu membaca surat Al-Fatihah bersama-sama dan imam hendaklah membaca doa,
sedangkan makmum mengamininya.
Adapun doa yang dibaca setelah selesai shalat jenazah adalah:

ALLAAHUMMAGHFIRLI HAYYINAA WAMAYYIINAAWA


SYAAHIDINAAWAGHAA'IBINAAWASHAGHIIRINAAWAKABHRINAAWADZAKARm
AAWAUNTSAANAA.ALLAA HUMMA MAN AHYAriAHU MINNAA FA AHYIHI ALAL
ISLAAM, WA MAN TAWAFFAITAHU MINNAA FATAWAFFAHU' ALALIIMAANI
Artinya: "Wahai Allah! Ampunilah kami, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, baik
yang hadir maupun yang tidak hadir, baikyang kecil maupun yang besar, baik yang laki-laki
maupun yang perempuan. Wahai Allah! Siapapun yang telah Engkau hidupkan di antara kami
hidupkanlah dia dengan tetap beragama Islam, dan siapapun yang telah Engkau wafatkan di
antara kami, wafatkanlah dia dalam keadaan beriman"

ALLAAHUMMA HAADZAA 'ABDUKA WABNU 'ABDAIKA, KHARAJA MIN RAUHID


DUNYAA WA SA'ATTHAAWA MAHBUUBUHU WA AHIBBAA'UHU FI1HAA ILAA
ZHULMATIL QABRI WA MAA HtfWA LAAQIIHI, KAANA YASYHADU AN LAA
E.AAHA ILLAA ANTA WAH-DAKA LAA SYARIIKA LAKA, WA ANNA
MUHAMMADAN 'ABDUKA WA RASUULUKA WA ANTA A'LAMU Bfflfl MINNAA.

Artinya: "Wahai Allah! Sesungguhnya ini adalah hamba Engkau, anak kedua hamba Engkau, ia
telah keluar dari kesenangan dunia, keluasannya, kekasih dan orang-orang yang dicintainya di
dunia menuju gelapnya kubur dan sesuatu yang akan dia temui di dalamnya. Dia telah
menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Engkau sendiri, tak ada sekutu bagi Engkau, dan bahwa
Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Engkau, dan Engkau lebih mengetahui hal itu dari
pada kami."

ALLAAHUMMAINNAHUNAZALABIKAWAANTAKHAIRU MANZUULIN BIHI. WA


ASHBAHA FAQIIRAN ILAA RAHMATIKA WA ANTA GHANIYYUN 'AN 'ADZAABM
WA QAD JI'NAAKA RAAGHIBIINA |LAIKA SYUFA'AA'A LAHU.
Artinya: "Wahai Allah! Sesungguhnya jenazah ini datang kepada Engkau, sedangkan Engkau
adalah sebaik-baik yang didatangi akan rahmat Engkau, sedangkan Engkau tidak butuh terhadap
siksanya. Kami benar-benar datang kepada Engkau, memohon kepada Engkau, sebagai perantara
baginya"

ALLAAHUMMA IN KAANA MUHSINAN FAZID FII IHSAANIHI, WA IN KAANA


MUSII'AN FATAJAAWAZ ANHU, WA LAQQIHIBIRAHMATIKA RIQHAAKA WA QIHI
FITNATALQABRIWA'ADZAABIHI.
Artinya: "Wahai Allah! Jika mayit ini termasuk orang yang baik, tambahkanlah kebaikannya;
Jika mayit ini termasuk orang yang jahat (jelek), maka bebaskan dia dengan sebab rahmat
Engkau akan keridha'anMu, dan jauhkanlah dia dari fitnah kubur dan siksanya."

WAFSAH LAHU FII.QABRIHI WA JAAEIL ARDHA 'AN. JANBAIHI WA LAQQIHII


BIRAHMATIKAL AMNA MIN 'ADZAABIKA HATTAA TAB'ATSAHU AAMINAN ILAA
JANNATIKABIRAHMATIKAYAAARHAMARRAAHIMIN.
Artinya: "Dan luaskanlah kuburnya, renggangkanlah bumi dan kedua lambungnya, dan
pertemukanlah dia dengan sebab rahmat Engkau akan keselamatan dari siksa Engkau, sehingga
Engkau bangunkan dia dalam keadaan aman sampai ke surgaMu berkat rahmat Engkau, wahai
Zat Yang paling Pengasih di antara para pengasih."