Anda di halaman 1dari 7

Kaidah kaidah fiqih islam Hukum benda dan hukum perbuatan Al ahkam al

khamsah
BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKAN
Sebagaimana kita ketahui bahwa kewajiban kita sebagai generasi baru dalam zaman
pembangunan masyarakat ini adalah berusaha untuk menegakkan negara dan masyarakat yang
diridhai Allah dengan cara menyebarkan fiqh Islam keseluruh bagian tanah air kita. Karena tidak
dapat di pungkiri bahwa kemunduran fiqh islam berarti kerusakan dan kebinasaan masyarakat
Islam.
Salah satu penyebaran fiqh islam tersebut dengan cara menguasai kaidah-kaidah fiqh yang
menjadi titik temu dari masalah-masalah fiqih dan lebih arif dalam menerapkan fiqh dalam
waktu dan tempat yang berbeda kasus, keadaan, dan adat kebiasaan yang berlainan. Selain itu
juga akan lebih moderat di dalam menyikapi masalah-masalah sosial, ekonomi, politik, budaya
dan lebih mudah di dalam memberi solusi terhadap problem-problem yang terus muncul dan
berkembang dengan tetap berpegang kepada kemaslahatan, keadilan, kerahmatan dan hikmah
yang terkandung di dalam fiqh.
B.TUJUAN
Disamping untuk memenuhi tugas mata kuliah HUKUM ISLAM, Kelompok juga ingin
memaparkan apa itu kaidah-kaidah dan bagian-bagiannya agar dapat memberikan sedikit
kejelasan bagi pembaca dan dengan tersebarnya fiqh islam di seluruh lapisan masyarakat serta
dengan berlakunya segala hukum-hukum dalam pergaulan kehidupan itulah salah satu dari syarat
tegak dan berdirinya masyarakat islam.
BAB II
ISI
A.KAIDAH KAIDAH FIQIH
Qawaid merupakan bentuk jamak dari qaidah, yang kemudian dalam bahasa indonesia disebut
dengan istilah kaidah yang berarti aturan atau patokan. Ahmad Warson menembahkan bahwa,
kaidah bisa berarti al-asas (dasar atau pondasi), al-Qanun (peraturan dan kaidah dasar), al-Mabda
(prinsip), dan al-nasaq (metode atau cara). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat AnNahl ayat 26 :
Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah
menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa
mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari.
(Q.S. An-Nahl : 26)
Sedangkan menurut istilah, Fiqh adalah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syara yang
bersifat amaliyah (praktis) yang diambilkan dari dalil-dalil yang tafsili (terperinci).
Jadi, dari semua uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa kaidah fiqih adalah Suatu perkara kulli
(kaidah-kaidah umum) yang berlaku pada semua bagian-bagian atau cabang-cabangnya yang

banyak yang dengannya diketahui hukum-hukum cabang itu.


Adapun manfaat dari kaidah Fiqh antara lain adalah :
1.Dengan kaidah-kidah fiqh kita akan mengetahui prinsip-prinsip umum fiqh dan akan
mengetahui pokok masalah yang mewarnai fiqh dan kemudian menjadi titik temu dari masalahmasalah fiqh.
Moenawwar Khaliel ,Ilmu fiqih, April 2008. http://moenawar.multiply.com/
2.Dengan memperhatikan kaidah-kaidah fiqh akan lebih mudah menetapkan hukum bagi
masalah-masalah yang dihadapi
3.Dengan kaidah fiqh akan lebih arif dalam menerapkan materi-materi dalam waktu dan tempat
yang berbeda, untuk keadaan dan adapt yang berbeda
4.Meskipun kaidah-kaidah fiqh merupakan teori-teori fiqh yang diciptakan oleh Ulama, pada
dasarnya kaidah fiqh yang sudah mapan sebenarnya mengikuti al-Quran dan al-Sunnah,
meskipun dengan cara yang tidak langsung.
1.Perbedaan Kaidah Ushul dan Kaidah Fiqh
1.Kaidah ushul adalah cara menggali hukum syara yang praktis. Sedangkan kaidah fiqh adalah
kumpulan hukum-hukum yang serupa yang kembali kepada satu hukum yang sama.
2.Kaidah-kaidah ushul muncul sebelum furu (cabang). Sedangkan kaidah fiqh muncul setelah
furu.
3.Kaidah-kaidah ushul menjelaskan masalah-masalah yang terkandung di dalam berbagai macam
dalil yang rinciyang memungkinkan dikeluarkan hukum dari dalil-dalil tersebut. Sedangkan
kaidah fiqh menjelaskan masalh fiqh yang terhimpun di dalam kaidah.
2.Kaidah-kaidah Fiqh yang Asasi
1.Meraih kemaslahatan dan menolak kemafsadatan
Izzuddin bin Abdul as-Salam di dalam kitabnya Qawaidul al-Ahkam fi mushalih al-Anam
mengatakan bahwa seluruh syariah itu adalah muslahat, baik dengan cara menolak mafsadat
atau dengan meraih maslahat. Kerja manusia itu ada yang membawa kepada kemaslahatan,
adapula ynag menyebabkan mafsadat. Seluruh maslahat itu diperintahkan oleh syariah dan
seluruh yang mafsadat dilarang oleh syariah.
2.Al-Qawaid al-Khamsah (lima kaidah asasi)
Kelima kaidah asasi tersebut sebagai berikut :
a.Kaidah asasi pertama
segala perkara tergantung kepada niatnya
Niat sangat penting dalam menentukan kualitas ataupun makna perbuatan seseorang, apakah
seseorang melakukan perbuatan itu dengan niat ibadah kepada Allah dengan melakukan perintah
dan menjauhi laranganNya. Ataukah dia tidak niat karena Allah, tetapi agar disanjung orang lain.
b.Kaidah asasi kedua
keyakinan tisak bisa dihilangkan dengan adanya keraguan
c.Kaidah asasi ketiga
kesulitan mendatangkan kemudahan
Makna dari kaidah diatas adalah bahwa hukum-hukum yang dalam penerapannya menimbulkan
kesulitan dan kesukaran bagi mukallaf , maka syariah meringankannya, sehingga mukallaf
mampu melaksanakannya tanpa kesulitan dan kesukaran.
d.Kaidah asasi keempat
kemudhoratan harus dihilangkan
Kaidah tersebut kembali kepada tujuan merealisasikan maqasid al-Syariah dengan menolak

yang mufsadat, dengan cara menghilangkan kemudhoratan atau setidak-tidaknya


meringankannya.
e.Kaidah asasi kelima
adat kebiasaan dapat dijadikan (pertimbangan) hukum
Adat yang dimaksudkan kaidah diatas mencakup hal yang penting, yaitu : di dalam adapt ada
unsure berulang-ulang dilakukan, yang dikenal sebagai sesuatu yang baik.
3.Kaidah-kaidah Fiqh yang umum
Kaidah-kaidah Fiqh yang umum terdiri dari 38 kaidah, namun disini kami hanya menjelaskan
sebagiannya saja, yaitu :
1.ijthat yang telah lalu tidak bisa dibatalkan oleh ijtihat yang baru
Hail ini berdasarkan perkataan Umar bin Khattab :
itu adalah yang kami putuskan pada masa lalu dan ini adalah yang kami putuskan sekarang
2.apa yang haram diambil haram pula diberikannya
Atas dasar kaidah ini, maka haram memberikan uang hasil korupsi atau hasil suap. Sebab,
perbuatan demikian bisa diartikan tolong menolong dalam dosa.
3.Apa yang tidak bisa dilaksanakan seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya
4.Petunjuk sesuatu pada unsure-unsur yang tersembunyi mempunyai kekuatan sebagai dalil
Maksud kaidah ini adalah ada hal-hal yang sulit diketahui oleh umum, akan tetapi ada tandatanda yang menunjukkan hal tadi. Contoh dari kaidah ini, seperti : Barang yang dicuri ada pada
si B, keadaan ini setidaknya bisa jadi petunjuk bahwa si B adalah pencurinya, kecuali dia bisa
membuktikan bahwa barang tersebut bukan hasil curian.
5.Barang siapa yang mempercepat sesuatu sebelum waktunya, maka menanggung akibat tidak
mendapat sesuatu tersebut
Contah dari kaidah ini : Kita mempercepat berbuka pada saat kita puasa sebelum maghrib tiba.

4.Kaidah-kaidah Fiqh yang khusus


Banyak kaidah fiqh yang ruang lingkup dan cakupannya lebih sempit dan isi kandungan lebih
sedikit. Kaidah yang semacam ini hanya berlaku dalam cabang fioqh tertentu, yaitu :
1.Kaidah fiqh yang khusus di bidang ibadah mahdah
Setiap yang sah digunakan untuk shalat sunnah secara mutlak sah pula digunakan shalat fardhu
2.Kaidah fiqh yang khusuh di bidang al-Ahwal al-Syakhshiyah
Dalam hukum islam, hukum keluarga meliputi : pernikahan, waris, wasiat, waqaf dzurri
(keluarga) dan hibah di kalangan keluarga. Salah satu dari kaidah ini, yaitu
Hukum asal pada masalah seks adalah haram
Maksud kaidah ini adalah dalam hubungan seks, pada asalnya haram sampai datang sebab-sebab
yang jelasdan tanpa meragukan lagi yang menghalalkannya, yaitu dengan adanya akad
pernikahan.
3.Kaidah fiqh yang khusus di bidang muamalah atau transaksi
Hukum asal dalam semua bentuk muamalah adalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang
mengharamkannya
Maksud dari kaidah ini adalah bahwa setiap muamalah dan transaksi, pada dasarnya boleh,
seperti : jual beli, sewa-menyewa, kerja sama. Kecuali yang tegas-tegas diharamkan seperti yang
mengakibatkan kemudharatan, penipuan, judi dan riba.
4.Kaidah fiqh yang khusus di bidang jinayah

Fiqh jinayah adalah hukum islam yang membahas tentang aturan berbagai kejahatan dan
sanksinya; membahas tentang pelaku kejahatan dan perbuatannya. Salah satu kaidah khusus fiqh
jinayah adalah :
Tidak boleh seseorang mengambil harta orang lain tanpa dibenarkan syariah
Pengambilan harta orang lain tanpa dibenarkan oleh syariah adalah pencurian atau perampokan
harta yang ada sanksinya, tetapi jika dibenarkan oleh syariah maka diperbolehkan. Misalnya :
petugas zakat dibolehkan mengambil harta zakat dari muzaki yang sudah wajib mengeluarkan
zakat.
5.Kaidah fiqh yang khusus di bidang siyasah
Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya bergantung kepada kemaslahatan
Kaidah ini menegaskan bahwa seorang pemimpin harus beorientasi kepada kemaslahatan rakyat,
bukan mengikuti keinginan hawa nafsunya atau keluarganya maupun golongannya.
6.Kaidah fiqh yang khusus fiqh qadha (peradilan dan hukum acara)
Lembaga peradilan saat ini berkembang dengan pesat, baik dalam bidangnya, seperti mahkamah
konstitusi maupun tingkatnya, yaitu dari daerah sampai mahkamah agung. Dalam islam hal ini
sah-sah saja, diantara kaidah fiqh dalam bidang ini yaitu :
Perdamaian diantara kaum muslimin adalah boleh kecuali perdamaian yang mengharamkan
yang halal atau menghalalkan yang haram
Perdamaian antara penggugat dan tergugat adalah baik dan diperbolehkan, kecuali perdamaian
yang berisi menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.
B.AL- AHKAM AL KHAMSAH
Ahkam adalah jamak dari hukm. Khamsah artinya lima. Dengan demikian, yang dimaksud alahkam al-khamsah yang disebut juga hukum taklifi adalah lima macam kaidah atau lima katagori
penilayan mengenai benda dan tingkah laku manusia dalam islam.
Dalam al-ahkam al-khamsah ada lima penilayan mengenai benda atau perbuatan manusia.
Perbuatan itu mulai dari mubah (jaiz), sunnah (mandub), makruh, wajib (fardhu) dan haram.
Di dalam sistem tata norma islam, ajaran al-ahkam al-khamsah ini meliputi seluruh kehidupan
manusia, di dalam segala lingkungannya.
Dengan kata lain Al Ahkam Al Khamsah atau biasa disebut Hukum Taklifi adalah ketentuan
hukum yang menuntut para mukallaf atau orang yang dipandang oleh hukum cakap melakukan
perbuatan hukum baik dalam bentuk hak, kewajiban maupun larangan.
Kelima hukum taklifi antara lain :
1.WAJIB ( FARDHU)
Wajib atau fardhu adalah apa yang di tuntut oleh allah secara tegas. Baik yang ditetapkan
berdasarkan dalil qathi ataupun dhanni. Sedangkan menurut Jumhur, wajib atau fardhu adalah
apa yang di tuntut oleh Allah untuk dikerjakan dengan tuntutan yang tegas, juga yang pelakunya
akan diganjar dan dipuji, dan demikian pula sebaliknya. Contoh, seperti shalat lima waktu dan
Puasa di bulan Ramadhan.
Tajuddin Asubki, Jam al-Jami. Juz I. Hal. 79-80
Firman Allah :
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, [QS. Al-Baqarah (2): 183]

Wajib atau fadhu ini bisa di klasifikasikan berdasarkan aspek yang berbeda, ada yang berkaitan
dengan pelaksanaannya, ukuranya dan ketentuanya, ketertentuan dan ketidaktertentuanya, serta
berkaitan dengan apa yang dibebankanya, sebagai berikut :
a.Dari aspek pelaksanaanya, hukum wajib atau fardu tersebut dapat dibedakan menjadi :
1)Muthlaq ( tidak terikat), yaitu apa yang dituntut oleh pembuat syariat agar dikerjakan dengan
tuntutan yang tegas, tanpa harus terikat dengan waktu tertentu, seperti mengganti puasa
Ramadhan bagi yang tidak berpuasa krena uzhur yang dibenarkan oleh syariat.
2)Muqayyad (terikat), yaitu yang dituntut oleh pembuat syariat agar dikerjakan dengan tuntutan
yang tegas, sementara waktunya ditentukan. Misalnya, shalat lima waktu dan puasa Ramadhan.
Pelaksanaan ibadah tersebut terikat oleh waktu, sehingga seorang mukallaf yang terkena
kewajiban tersebut akan berdosa jika mengerjakannya diuar waktunya.
Muwassa (longgar), yaitu kewajiban yang waktu pelaksanaannya longgar. Contoh, shalat isya,
bisa dikerjakan diawal ataupun ditengah malam.
Mudhayyaq (sempit), yaitu kebajiban yang waktu pelaksanaannya sempit , tidak bisa dipilih
antara awal ataupun pertengahan. Misalnya puasa Ramadhan, waktunya tetap mulai fajar hingga
terbenam matahari.
b.Dari aspek keterukurannya, wajib atau fardu dapat diklasifikasikan menjadi :
1)Muhaddad al-Miqdar (dengan ukuran tertentu), yaitu apa yang dituntut oleh pembuat syariat
agar dikerjakan dengan tuntutan yang tegas, disertai dengan kadar ukuran tertentu, seperti
membayar zakat dan rakaat dalam shalat fardu.
2)Ghayr Muhaddat al-Miqdar (dengan tanpa ukuran tertentu), yaitu apa yang dituntut oleh
pembuat syariat agar dikerjakan dengan tuntutan yang tegas, tanpa disertai kadar kadar tertentu,
seperti membelanjakan harta dijalan Allah dan nafkah kepada istri dan anak.
c.Dari aspek substansi (ayniyyah-nya) wajib dan fardhu tersebut bisa diklasifikasikan menjadi :
1)Muayyan, yaitu apa yang dituntut oleh pembuat syariat agar substansinya dikerjakan dengan
tuntutan yang tengas, tanpa disertai pilihan yang bisa dipilih oleh seorang mukallaf, seperti
shalat.
2)Ghayr Muayyan, yaitu apa yang dituntut oleh pembuat syariat agar dikerjakan dengan
tuntutan yang tegas, disertai pilihan bagi seorang mukallaf untuk menentukan mana substansi
kewajiban yang dikerjakan. Misal kafarat untuk sumpah.
d.Dari aspek subyek yang terkena tanggung jawab, wajib dan fardu tersebut bisa diklasifikasikan
menjadi :
1)Ayn (perkepala), yaitu apa yang dituntut oleh pembuat syariat agar dikerjakan oleh setiap
mukallaf dengan tuntutan yang tegas, karna itu apa yang dilakukan seseorang tidak bisa
menggugurkan kewajiban orang lain. Contohnya seperti, shalat, zakat, puasa dan sebagainya.
2)Kifayah (kolektif), yaitu apa yang dituntut oleh pembuat syariat agar dikerjakan oleh sejumlah
orang denga tuntutan yang tegas, jika telah dikerjakan oleh sebagian, maka kewajiban tersebunt
gugur dari dari pundak yang lain, dan mereka sudah tidak berdosa.
e.Dari aspek substantifnya, wajib danfardu tersebut juga dapat diklasifikasikan menjadi :
1)Wajib Lidzatihi (substansial), yaitu apa yang dituntut untuk dikerjakan dengan tuntutan yang
tegas, karna substansinya.
2)Wajib Lighayrihi (aksidental), yaitu apa yang dituntut untuk dikerjakan dengan tuntutan yang

tegas, bukan karena substansinya, namun karena faktor eksternal, ketika ia menjadi sarana yang
bisa menyempurnakan kewajiban substantif.
2.SUNNAH ( MANDUB)
Menurut istilah syara, sunnah adalah apa yang dituntut oleh pembuat syariat untuk dikerjakan
dengan tuntutan yang tidak tegas, apa yang dilakukan akan diganjar dan tidak disiksa jika
meninggalkannya.
Sunnah kadang bersifat Muakkad (yang dikuatkan), seperti sunnah shalat subuh dan Id. Ada
yang tidak Muakkad, seperti sunah shalat Ashar. Hukum ini memang jika dikerjakan, pelakunya
akan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan tidak mendapatkan apa-apa, namun adakalanya
tidak baik untuk ditinggalkan seperti sunnah menikah. Karena jika ditinggalkan, umat akan
mengalami degenerasi atau tidak mempunyai penerus.
3.HARAM
Secara etimologis, haram diambil dari al-hurmah, yang berarti sesuatu yang tidak boleh
dilanggar4. Menurut syara adalah apa yang dituntut untuk ditinggalkan dengan tuntutan yang
tegas, dimana pelakunya akan dikecam, dikenai saksi di dunia dan azab di akhirat. Menurut
mazhab Hanafi, istilah haram hanya digunakan untuk larangan yang tegas disertai dalil qathi,
namun jika tidak disertai dalil qathi, maka disebut dengan makruh tahrim5. Meskipun
sebenarnya, dua-duanya maksudnya sama.
Sebagai contoh dalam Firman Allah ,
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.
Dan suatu jalan yang buruk. [17:32]
Haram ini dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu haram substansial dan haram aksidental :
4IbnAbidin, Hasyiyah Ibnu Abidin. Juz I. Hal 246
5Ibn an-humam. At-Tahrir, Musthafa al-Bab al-Halabi, Kaero.hal.217
a.Haram Lidzatihi (substansial) adalah apa yang dituntut untuk ditinggalkan dengan tuntutan
yang tegas, karna substansinya. Misalnya zina, riba, membunuh dan suap.
b.Haram Lighayrahi ( aksidental), adalah apa yang dituntut untuk ditinggalkan dengan tuntutan
yang tegas, bukan karena substansinya, namun karena faktor eksternal.Misalnya menghina tuhan
para penganut agama lain.
4.MAKRUH
Makruh adalah apa yang dituntut untuk ditinggalkan dengan tuntutan yang tidak tegas, dimana
pelakunya tidak akan disiksa, sementara meninggalkannya lebih baik, terpuji dan akan diganjar
oleh Allah SWT.
Aktivitas yang berstatus hukum makruh dilarang namun tidak terdapat konsekuensi bila
melakukannya. Atau dengan kata lain perbuatan makruh dapat diartikan sebagai perbuatan yang
sebaiknya tidak dilakukan. Seperti Makan/Minum sambil berdiri dan Merokok.6

5.MUBAH
Secara syari, mubah adalah khithab dari pembuat syariat yang ditunjukkan oleh dalil sami yang

didalamnya berisi pilihan antara melaksanakan dan meninggalkan tanpa disertai kompensasi.
Contoh seperti makan dan minum.
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
1.Kaidah-kaidah fiqh ituterdiri dari banyak pengertian, karena kaidah itu bersifat menyeluruh
yang meliputi bagian-bagiannya dalam arti bisa diterapkan kepada juziyatnya (bagianbagiannya)
2.Salah satu manfaat dari adanya kaidah fiqh, kita akan mengetahui prinsip-prinsip umum fiqh
dan akan mengetahui pokok masalah yang mewarnai fiqh dam kemudian menjadi titik temu dari
masalah-masalahfiqh.
3.Al-ahkam Al khamsah meliputi seluruh lingkungan hidup dan kehidupan.
4.Kelima komponen al akham al khamsah ini berlaku di ruang lingkup keagamaan yang meliputi
semua lingkungan hidup. Ia menjadi ukuran perbuatan manusia baik yang berifat ibadah maupun
muamalah.
B.SARAN
Akidah akidah fiqh sangatlah luas dan banyak, dalam makalah ini hanya sebagian saja yang
dapat penulis paparkan, maka dari itu kelompok menyarankan agar pembaca tidak hanya cukup
dengan membaca makalah ini saja, tapi juga sumber-sumber yang lain yang berhubungan dengan
hal ini.
Pengetahuan tentang akidah akidah fiqh dan juga al-ahkam al-khamsah harusnya ada pada setiap
golongan masyarakat terutama para generasi muda yang merupakan penerus bangsa.
Sumber :
Prof. H. Mohammad Daut Ali, SH, HUKUM ISLAM, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Drs. Hafidz Abdurrahman, MA. USHUL FIQIH , Membagun Paradiqma Berfikir TasyriI,
Al- Azhar Press, 2003, Bogor.
http://moenawar.multiply.com/
http://dewaarka.wordpress.com/2009/07/26/hukum-islam/
http://id.wikipedia.org

Anda mungkin juga menyukai