Anda di halaman 1dari 31

‫مكانة التوحيد‬

Ridwan Hamidi, Lc.

Sesungguhnya kaidah Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar; satu-
satunya yang diterima dan diridloi Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa untuk hamba-hamba Nya,
yang merupakan satu-satunya jalan menuju kepada Nya, kunci kebahagiaan dan jalan hidayah,
tanda kesuksesan dan pemelihara dari berbagai perselisihan, sumber semua kebaikan dan nikmat,
kewajiban pertama bagi seluruh hamba, serta kabar gembira yang dibawa oleh para rasul dan
para nabi adalah IBADAH HANYA KEPADA ALLAH Subhaanahu Wa Ta'aalaa SEMATA
TIDAK MENYEKUTUKANNYA, bertauhid dalam semua keinginannya terhadap Allah
Subhaanahu Wa Ta'aalaa, bertauhid dalam urusan penciptaan, perintah-Nya dan seluruh asma
(nama-nama) dan sifat-sifat Nya. Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman:

َ ‫غو‬
‫ت‬ ُ ‫طا‬
ّ ‫جَتِنُبوا ال‬
ْ ‫ل َوا‬
َّ ‫عُبُدوا ا‬
ْ ‫ن ُا‬
ِ ‫سوًل َأ‬
ُ ‫َوَلَقْد َبَعْثَنا ِفي ُكّل ُأّمٍة َر‬

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
“Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS An Nahl: 36)

‫وما أرسلنا من قبلك من رسول إل نوحي إليه أنه ل إله إل أنا فاعبدون‬

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan
kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu
sekalian akan Aku”. (QS Al Anbiyaa’ : 25)

َ ‫شِرُكو‬
‫ن‬ ْ ‫عّما ُي‬
َ ‫حاَنُه‬
َ ‫سْب‬
ُ ‫حًدا َل ِإَلَه ِإّل ُهَو‬
ِ ‫َوَما ُأِمُروا ِإّل ِلَيْعُبُدوا ِإَلًها َوا‬

“Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS At
Taubah: 31)

ُ‫خاِلص‬
َ ‫ن اْل‬
ُ ‫ل الّدي‬
ِّ ‫(َأَل‬2)‫ن‬
َ ‫صا َلُه الّدي‬
ً ‫خِل‬
ْ ‫ل ُم‬
َّ ‫عُبِد ا‬
ْ ‫َفا‬

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan
Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS Az Zumar: 2-3)

‫حَنَفاَء‬
ُ ‫ن‬
َ ‫ن َلُه الّدي‬
َ ‫صي‬
ِ ‫خِل‬
ْ ‫ل ُم‬
َّ ‫َوَما ُأِمُروا ِإّل ِلَيْعُبُدوا ا‬

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”(QS Al Bayyinah: 5)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Orang yang mau


mentadabburi keadaan alam akan mendapati bahwa sumber kebaikan di muka bumi ini adalah
bertauhid dan beribadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa serta taat kepada Rasulullah
shallallaahu 'alaihi wa sallam. Sebaliknya semua kejelekan di muka bumi ini; fitnah, musibah,
paceklik, dikuasai musuh dan lain-lain penyebabnya adalah menyelisihi Rasulullah shallallaahu
'alaihi wa sallam dan berdakwah (mengajak) kepada selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.
Orang yang mentadabburi hal ini dengan sebenar-benarnya akan mendapati kenyataan seperti ini
baik dalam dirinya maupun di luar dirinya.” (Majmu’ Fatawa 15/25)
Karena kenyataannya demikian dan pengaruhnya-pengaruhnya yang terpuji ini, maka
syetan adalah makhluk yang paling cepat (dalam usahanya) untuk menghancurkan dan
merusaknya. Senantiasa bekerja untuk melemahkan dan membahayakan tauhid itu. Syetan
lakukan hal ini siang malam dengan berbagai cara yang diharapkan membuahkan hasil.

Jika syetan tidak berhasil (menjerumuskan ke dalam) syirik akbar, syetan tidak akan
putus asa untuk menjerumuskan ke dalam syirik dalam berbagai kehendak dan lafadz (yang
diucapkan manusia). Jika masih juga tidak berhasil maka ia akan menjerumuskan ke dalam
berbagai bid’ah dan khurafat. (Al Istighatsah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal 293, lihat
Muqaddimah Fathul Majiid tahqiq DR Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Ali Furayyaan,
hal 4)

Setiap dakwah Islam yang baru muncul tidak dibangun di atas tauhid yang murni kepada
Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dan tidak menempuh jalan yang telah dilalui oleh para salaful
ummah yang

shalih, maka akan tersesat hina dan gagal, meski dikira berhasil, tidak sabar ketika berhadapan
dengan musuh, tidak kokoh dalam al haqq dan tidak kuat berhadapan (dengan berbagai
rintangan).

Kita saksikan banyak contoh-contoh dakwah yang dicatat dalam sejarah berbicara
kenyataan yang menyedihkan ini dan akhir yang buruk. Dakwah-dakwah yang berlangsung
bertahun-tahun, yang telah mengorbankan nyawa dan harta kemudian berakhir dengan
kebinasaan.

Namun seorang mu’min yang yakin dengan janji Allah yang pasti benar, tidak akan putus
asa dan menjadi kendor, tidak akan gentar menghadapi berbagai cobaan dan tidak akan
menerima jika sekian banyak percobaan-percobaan itu berlangsung silih berganti tanpa ada
manfaat yang diambil atau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. (Sebagaimana hadits
dari sahabat Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no 6133) dan Imam Muslim
(no 2998) serta Imam Ahmad dalam Musnadnya (2/379)

Sudah ada teladan dan contoh yang paling bagus pada diri Rasulullah shallallaahu 'alaihi
wa sallam. Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman:

‫لقد كان لكم في رسول ال أسوة حسنة لمن كان يرجو ال واليوم‬

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat. (QS Al Ahzaab: 21)

Inilah manhaj pertama dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam berdakwah kepada
tauhid, memulai dengan tauhid dan mendahulukan tauhid dan semua urusan yang dianggap
penting. (Diringkas dari Muqaddimah Fathul Majiid tahqiq DR Walid bin Abdurrahman bin
Muhammad Ali Furayyaan, hal 2-6)

‫فضل التوحيد‬
(KEUTAMAAN TAUHID)
Berbicara tentang keutamaan tauhid sebenarnya terkandung unsur kewajiban
untuk bertauhid. Sebab “tidak berarti bahwa adanya keutamaan pada sesuatu berarti bahwa
sesuatu itu tidak wajib, karena keutamaan merupakan hasil atau buah yang ditimbulkan. Seperti
sholat jama’ah yang telah jelas keutamaannya dalam hadits Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa
sallam:

‫صلة الجماعة أفضل من صلة الفذ بسبع وعشرين درجة‬

“Shalat jama’ah lebih utama daripada shalat sendiri, dua puluh tujuh derajat.” (HR Imam
Bukhari [Kitab Adzan, bab Keutamaan Shalat Jama’ah] dan Imam Muslim (Kitab Al Masajid
[masjid-masjid], Bab Keutamaan Shalat Jam’ah) Keutamaan yang ada pada shalat jama’ah ini
tidak berarti bahwa shalat jama’ah ini tidak wajib.

Jadi tidak selalu berarti bahwa ketika kita berbicara tentang keutamaan tauhid berarti
tauhid itu tidak wajib, sebab tauhid adalah kewajiban yang paling pertama. Tidak mungkin suatu
amal akan diterima tanpa tauhid. Tidak mungkin seorang hamba bertaqarrub kepada Allah
Subhaanahu Wa Ta'aalaa tanpa tauhid. Sekaligus bahwa tauhid juga memiliki keutamaan.

Faidah tauhid sangat banyak, diantaranya:

1. Tauhid adalah penopang utama yang memberikan semangat dalam melakukan ketaatan
kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa; sebab orang yang bertauhid akan beramal untuk dan
karena Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa, baik ketika ia sendiri maupun ketika bersama orang
banyak. Sedangkan orang yang tidak bertauhid, misalnya seperti orang yang riya`, ia hanya
akan bersedekah, shalat dan berdzikir kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa kalau ada orang
yang melihatnya. Oleh karena itu sebagian ulama salaf mengatakan: Sesungguhnya saya
sangat ingin bertaqarrub kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dengan melakukan ketaatan
yang hanya diketahui oleh Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.

2. Orang-orang yang bertauhid akan mendapatkan ketenangan dan petunjuk, sebagaimana


firman Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa:

‫الذين ءامنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم المن وهم مهتدون‬

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman
(syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-
orang yang mendapat petunjuk. (QS Al An’aam ayat 82)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang memurnikan ibadah
hanya kepada Nya semata yang tidak ada sekutu bagi Nya, dan mereka tidak menyekutukan
Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa sedikitpun dalam berbagai hal. Mereka itulah yang akan
mendapatkan keamanan pada hari Qiamat dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat.”

Syekh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin –hafizhalullah- mengatakan: Firman Allah


Subhaanahu Wa Ta'aalaa (Wahum Muhtaduun; dan merekalah orang-orang yang
mendapatkan hidayah) maksudnya di dunia, (mendapatkan hidayah) menuju syari’at Allah
Subhaanahu Wa Ta'aalaa dengan ilmu dan amal. Mendapat hidayah dengan ilmu adalah
hidayah irsyaad, sedangkan mendapat hidayah dengan amal adalah hidayah taufiq. Mereka
juga mendapatkan hidayah di akhirat menuju surga. Hidayah di akhirat ini, untuk orang-orang
yang zhalim (mereka mendapatkan hidayah) jalan menuju neraka jahim, sebaliknya untuk
orang-orang yang tidak zhalim mendapat hidayah jalan menuju surga (yang penuh
kenikmatan). Banyak diantara ulama tafsir yang mengatakan tentang firman Allah
Subhaanahu Wa Ta'aalaa (‫ن‬ُ ‫ك َلُهُم اَْلْم‬
َ ‫ )ُأوَلِئ‬mereka adalah orang-orang yang mendapatkan rasa
aman: Rasa aman itu di akhirat sedangkan hidayah itu di dunia. Pendapat yang lebih tepat
bahwa rasa aman dan hidayah itu bersifat umum, baik di dunia maupun di akhirat.”

Ketika ayat ini turun dirasakan berat oleh para sahabat -radliyallaahu 'anhum-. Mereka
mengatakan: “Siapakah diantara kita yang tidak menzholimi dirinya sendiri ?” Kemudian
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menjelaskan: “Maksud ayat tersebut bukan seperti
yang kalian kira, yang dimaksud zholim dalam ayat tersebut adalah syirik, tidakkah kalian
mendengar perkataan lelaki yang sholeh, Luqman:

‫إن الشرك لظلم عظيم‬

“Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman yang sangat besar.” (QS Luqman: 13)

Ada beberapa jenis zholim:

1) Zholim yang paling besar yaitu syirik dalam hak Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.

2) Zholim yang dilakukan seseorang terhadap dirinya sendiri, dengan tidak memberikan
haknya, seperti orang yang berpuasa dan tidak berbuka, orang yang shalat malam terus
dan tidak tidur.

3) Zholim yang dilakukan seseorang terhadap orang lain, misalnya memukul, membunuh,
mengambil harta dan lain-lain.

Jika tidak ada kezholiman maka akan terwujud keamanan. Namun apakah keamanan yang
smepurna ?

Jawabannya: jika imannya sempurna dan tidak dicampuri ma’shiyat maka akan terwujud rasa
aman yang mutlak (sempurna), jika iamnnya tidak sempurna maka yang akan terwujud adalah
rasa aman yang kurang juga.

Contohnya: Orang yang melakukan dosa besar. Ia akan aman dari ancaman tinggal kekal di
neraka, tetapi tidak aman dari adzab yang akan menimpa dirinya, tergantung kehendak Allah
Subhaanahu Wa Ta'aalaa (apakah diampuni atau di adzab?). Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa
berfirman:

‫إن ال ل يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء‬

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan
Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS An
Nisaa` ayat 116)

Ayat ini (QS Luqman ayat 13) Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa nyatakan sebagai pemutus
antara Nabi Ibrahim 'alaihis salaam dengan kaumnya ketika beliau mengatakan kepada
mereka:

‫وكيف أخاف ما أشركتم ول تخافون أنكم أشركتم بال ما لم ينزل به عليكم سلطانا فأي الفريقين أحق بالمن إن كنتم تعلمون‬

Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah),
padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah
sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di
antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu
mengetahui?” (QS Al An’am: 81)

Kemudian Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman:

َ ‫ن َوُهْم ُمْهَتُدو‬
‫ن‬ ُ ‫ك َلُهُم اَْلْم‬
َ ‫ظْلٍم ُأوَلِئ‬
ُ ‫سوا ِإيَماَنُهْم ِب‬
ُ ‫ن ءاَمُنوا َوَلْم َيْلِب‬
َ ‫اّلِذي‬

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman
(syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-
orang yang mendapat petunjuk. (QS Al An’aam ayat 82)

‫الشرك‬
SYIRIK

Pembatal ke-Islaman seseorang yang paling besar adalah syirik kepada Allah
Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Oleh karena itu kita temukan dalam al Qur`an Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa mengingatkan kita (agar menjauhkan) syirik, orang-orang yang melakukan syirik dan
akibat yang akan mereka rasakan, dalam banyak ayat. Lafadz syirik dan bentukannya disebutkan
berulang-ulang dalam al Qur`an lebih dari 160 kali. Demikian juga dalam sunnah, kita temukan
sangat banyak hadits-hadits Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam yang menjelaskan
bahayanya.

PENGERTIAN SYIRIK

Menurut bahasa: Syirik adalah sebuah kata yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang
terjadi antara dua orang atau lebih.

Menurut istilah syar’i: Syirik kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa maksudnya menjadikan
sekutu bagi Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa, baik dalam rububiyahnya ataupun uluhiyahnya,
tetapi istilah syirik lebih sering digunakan untuk syirik dalam uluhiyahnya.

Atau: menyamakan selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dengan Allah Subhaanahu Wa


Ta'aalaa dalam hal-hal yang menjadi hak Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.

HUKUM SYIRIK

Syirik adalah larangan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa yang paling besar. Allah
Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman dalam surat An Nisaa` ayat 36:

‫شْيًئا‬
َ ‫شِرُكوا ِبِه‬
ْ ‫ل َوَل ُت‬
َّ ‫عُبُدوا ا‬
ْ ‫َوا‬
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.”

Syirik juga merupakan perbuatan haram yang pertama (harus ditinggalkan). Allah Subhaanahu
Wa Ta'aalaa berfirman dalam surat Al An’aam ayat 151:

َ ‫ن َنْرُزُقُكْم َوِإّياُهْم َو‬


‫ل‬ ُ‫ح‬ ْ ‫ق َن‬ٍ‫ل‬ َ ‫ن ِإْم‬ْ ‫ل َتْقُتُلوا َأْولَدُكْم ِم‬
َ ‫ساًنا َو‬ َ‫ح‬ْ ‫ن ِإ‬
ِ ‫شْيًئا َوِباْلَواِلَدْي‬
َ ‫شِرُكوا ِبِه‬ ْ ‫ل ُت‬
ّ ‫عَلْيُكْم َأ‬
َ ‫حّرَم َرّبُكْم‬
َ ‫ل َما‬
ُ ‫ل َتَعاَلْوا َأْت‬
ْ ‫ُق‬
َ ‫صاُكْم ِبِه َلَعّلُكْم َتْعِقُلو‬
‫ن‬ ّ ‫ق َذِلُكْم َو‬
ّ‫ح‬ َ ‫ل ِباْل‬
ّ ‫ل ِإ‬
ُّ ‫حّرَم ا‬َ ‫س اّلِتي‬ َ ‫ل َتْقُتُلوا الّنْف‬
َ ‫ن َو‬
َ‫ط‬ َ ‫ظَهَر ِمْنَها َوَما َب‬ َ ‫ش َما‬
َ ‫ح‬ ِ ‫َتْقَرُبوا اْلَفَوا‬

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu:
janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang
ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan
memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-
perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah
kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu
(sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu
memahami (nya).”

PENGGUNAKAN KATA SYIRIK

Jika anda mendapat istilah syirik dalam buku aqidah maka maksudnya bisa berarti syirik
akbar atau syirik ashghar. Maka anda jangan menghina orang-orang yang mendakwahkan tauhid
bahwa mereka selalu menghukumi segala sesuatu dengan syirik. Fahamilah setiap ungkapan
pada tempatnya yang tepat.

Oleh karena itu anda perlu mengetahui bahwa syirik dalam pengertian syar’I digunakan
untuk tiga makna:

1. Meyakini ada sekutu bagi Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam kekuasaan, rububiyah,
mencipta, memberi rizqi dan mengatur alam. Siapa yang meyakini bahwa ada orang yang
mengatur alam ini dan mengatur seluruh urusannya, maka ia telah menyekutukan Allah
Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam rububiyah dan telah kafir kepada Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa. Dalil-dalil (argumen-argumen) yang menunjukkan bathilnya keyakinan akan
adanya dzat lain selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa yang memiliki hak rububiyah sangat
banyak dan begitu jelas, baik dalil yang bisa kita saksikan dari alam ini maupun dalil sam’i
(al Qur`an dan as Sunnah). Diantaranya firman Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam surat
Saba` ayat 22:

ْ ‫ك َوَما َلُه ِمْنُهْم ِم‬


‫ن‬ ٍ ‫شْر‬
ِ ‫ن‬
ْ ‫ض َوَما َلُهْم ِفيِهَما ِم‬
ِ ‫لْر‬
َْ ‫ل ِفي ا‬
َ ‫ت َو‬
ِ ‫سَمَوا‬
ّ ‫ل َذّرٍة ِفي ال‬
َ ‫ن ِمْثَقا‬
َ ‫ل ل َيْمِلُكو‬
ِّ ‫ن ا‬
ِ ‫ن ُدو‬
ْ ‫عْمُتْم ِم‬
َ ‫ن َز‬
َ ‫عوا اّلِذي‬
ُ ‫ل اْد‬ِ ‫ُق‬
‫ظِهيٍر‬َ

Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak
memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai
suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara
mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya”.

Syirik jenis ini tidak terjadi pada semua orang kafir di zaman Rasulullah shallallaahu 'alaihi
wa sallam. Sebagian mereka meyakini bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa adalah
pencipta dan pengatur alam. Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman:

َ ‫ن الُّ َفَأّنى ُيْؤَفُكو‬


‫ن‬ ّ ‫س َواْلَقَمَر َلَيُقوُل‬
َ ‫شْم‬
ّ ‫خَر ال‬
ّ‫س‬َ ‫ت َواَْلْرضَ َو‬
ِ ‫سَمَوا‬
ّ ‫ق ال‬
َ ‫خَل‬
َ ‫ن‬
ْ ‫سَأْلَتُهْم َم‬
َ ‫ن‬
ْ ‫َوَلِئ‬
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit
dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”,
maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (QS Al Ankabut: 61)

‫ن‬
َ ‫ل َيْعِقُلو‬
َ ‫ل َأْكَثُرُهْم‬
ْ ‫ل َب‬
ِّ ‫حْمُد‬
َ ‫ل اْل‬
ِ ‫ل ُق‬
ُّ ‫ن ا‬
ّ ‫ن َبْعِد َمْوِتَها َلَيُقوُل‬
ْ ‫ض ِم‬
َ ‫لْر‬
َْ ‫حَيا ِبِه ا‬
ْ ‫سَماِء َماًء َفَأ‬
ّ ‫ن ال‬
َ ‫ل ِم‬
َ ‫ن َنّز‬
ْ ‫سَأْلَتُهْم َم‬
َ ‫ن‬
ْ ‫َوَلِئ‬

“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air
dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan
menjawab: "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak
memahami (nya).” (QS Al Ankabut: 63)

2. Meyakini adanya dzat selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa yang bisa memberikan
manfaat atau madlarat, dzat ini merupakan perantara antara Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa
dan makhluq, maka sebagian jenis ibadah ditujukan padanya. Inilah yang dinamakan syirik
dalam uluhiyyah. Syirik inilah yang banyak dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy.
Mereka mengatakan tentang sembahan mereka

‫ل ُزْلَفى‬
ِّ ‫َما َنْعُبُدُهْم ِإّل ِلُيَقّرُبوَنا ِإَلى ا‬

(mereka berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan
kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS Az Zumar: 3)

Inilah keyakinan yang tersebar di kalangan mereka, sebagaimana friman Allah Subhaanahu
Wa Ta'aalaa dalam surat Ghafir ayat 12:

‫ي اْلَكِبيِر‬
ّ ‫ل اْلَعِل‬
ِّ ‫حْكُم‬
ُ ‫ك ِبِه ُتْؤِمُنوا َفاْل‬
ْ ‫شَر‬
ْ ‫ن ُي‬
ْ ‫حَدُه َكَفْرُتْم َوِإ‬
ْ ‫ل َو‬
ُّ ‫ي ا‬
َ‫ع‬
ِ ‫َذِلُكْم ِبَأّنُه ِإَذا ُد‬

“Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja yang disembah. Dan kamu
percaya apabila Allah dipersekutukan, maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang
Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa menceritakan keadaan mereka dalam surat Shaad: 4-5

ٌ ‫جا‬
‫ب‬ َ‫ع‬
ُ ‫يٌء‬
ْ ‫ش‬
َ ‫ن َهَذا َل‬
ّ ‫حًدا ِإ‬
ِ ‫لِلَهَة ِإَلًها َوا‬
ْ ‫لا‬
َ ‫جَع‬
َ ‫ب )( َأ‬
ٌ ‫حٌر َكّذا‬
ِ ‫سا‬
َ ‫ن َهَذا‬
َ ‫ل اْلَكاِفُرو‬
َ ‫جاَءُهْم ُمْنِذٌر ِمْنُهْم َوَقا‬
َ ‫ن‬
ْ ‫جُبوا َأ‬
ِ‫ع‬َ ‫َو‬

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari
kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak
berdusta”. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini
benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.

Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa menceritakan bahwa tauhid kepada Allah Subhaanahu Wa


Ta'aalaa dan meninggalkan syirik adalah sebab diutusnya para rasul. Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa berfirman dalam surat Ar Ra`d ayat 36:

ِ ‫عو َوِإَلْيِه َمآ‬


‫ب‬ ُ ‫ك ِبِه ِإَلْيِه َأْد‬
َ ‫شِر‬
ْ ‫ل َوَل ُأ‬
َّ ‫عُبَد ا‬
ْ ‫ن َأ‬
ْ ‫ت َأ‬
ُ ‫ُقْل ِإّنَما ُأِمْر‬

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak
mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan
hanya kepada-Nya aku kembali”.

Syirik akan merusak dan menghapus semua amal dan hal ini berlaku pada seluruh umat.
Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman dalam surat Az Zumar ayat 65:
َ ‫سِري‬
‫ن‬ ِ ‫خا‬
َ ‫ن اْل‬
َ ‫ن ِم‬
ّ ‫ك َوَلَتُكوَن‬
َ ‫عَمُل‬
َ ‫ن‬
ّ‫ط‬َ ‫حَب‬
ْ ‫ت َلَي‬
َ ‫شَرْك‬
ْ ‫ن َأ‬
ْ ‫ك َلِئ‬
َ ‫ن َقْبِل‬
ْ ‫ن ِم‬
َ ‫ك َوِإَلى اّلِذي‬
َ ‫ي ِإَلْي‬
َ‫ح‬
ِ ‫َوَلَقْد ُأو‬

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu:
"Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu
termasuk orang-orang yang merugi.”

Oleh karena itu Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa memerintahkan (hamba-hamba Nya) untuk
beribadah kepada Nya dan melarang menyekutukan (syirik kepada) Nya dalam banyak ayat:

‫شْيًئا‬
َ ‫شِرُكوا ِبِه‬
ْ ‫ل َوَل ُت‬
َّ ‫عُبُدوا ا‬
ْ ‫َوا‬

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.”


(QS An Nisaa` ayat 36)

َ ‫غو‬
‫ت‬ ُ ‫طا‬
ّ ‫جَتِنُبوا ال‬
ْ ‫ل َوا‬
َّ ‫عُبُدوا ا‬
ْ ‫ن ُا‬
ِ ‫سوًل َأ‬
ُ ‫َوَلَقْد َبَعْثَنا ِفي ُكّل ُأّمٍة َر‬

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, (QS An Nahl ayat 36)

‫سَتِقيٌم‬
ْ ‫ط ُم‬
ٌ ‫صَرا‬
ِ ‫عُبُدوِني َهَذا‬
ْ ‫نا‬
ِ ‫ن )( َوَأ‬
ٌ ‫عُدّو ُمِبي‬
َ ‫ن ِإّنُه َلُكْم‬
َ ‫طا‬
َ ‫شْي‬
ّ ‫ن َل َتْعُبُدوا ال‬
ْ ‫َأَلْم َأعَْهْد ِإَلْيُكْم َياَبِني َءاَدَم َأ‬

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak
menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”. dan
hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (QS Yasiin ayat 60-61)

3. Mempertimbangkan (dapat perhatian, pujian dan lain-lain) dari selain Allah Subhaanahu
Wa Ta'aalaa dalam perkataan maupun perbuatan. Adapun mempertimbangkan perhatian atau
pujian dalam perbuatan seperti riya yang dilakukan oleh orang yang rajin ibadah, misalnya
ketika shalat, ia panjangkan berdiri, ruku’ dan sujudnya kemudian ia tampakkan
kekhusyu’annya di hadapan orang banyak, ketika ia puasa, ia tampakkan bahwa dirinya
sedang puasa, misalnya dengan mengatakan: “Apa anda tidak tahu bahwa hari ini Senin (atau
Kamis) ?” “Apa anda tidak puasa ?” Atau ia katakan: “Hari ini saya undang anda untuk
berbuka puasa bersama ?” Demikian pula haji dan jihad. Ia pergi haji dan jihad tetapi
tujuannya riya`.

Riyanya orang-orang yang cinta dunia seperti orang yang angkuh dan sombong ketika berjalan,
memalingkan mukanya atau menggerakkan kendaraannya dengan gerakan khusus.

Riya` dengan teman atau orang yang berkunjung ke rumahnya, seperti orang yang
memaksakan diri meminta seorang ‘alim atau seorang yang dikenal ahli ibadah untuk datang
ke rumahnya agar dikatakan bahwa fulan telah mengunjungi rumahnya, atau sebaliknya ia
kunjungi mereka (orang-orang ‘alim dan ahli ibadah) agar dikatakan bahwa kami telah
mengunjungi fulan atau kami telah bertemu dengan ‘alim fulan dan yang lainnya.

Sedang riya dengan perkata yang dilakukan oleh orang-orang ahli agama seperti orang yang
memberikan nasehat di majlis-majlis, kemudian ia menghafal hadits-hadits dan atsar-atsar
khusus untuk acara-acara tertentu agar bisa berbicara dan debat dengan orang-orang,
sehingga tampak di hadapan mereka bahwa ia memiliki pengetahuan tentang hal-hal
tersebut, tampak di hadapan mereka bahwa ia memiliki ilmu yang kuat dan perhatian yang
besar terhadap keadaan ulama-ulama salaf, tetapi ketika kita lihat di rumahnya bersama
keluarganya, ia adalah orang jauh dari keadaan tersebut. Contoh lain adalah menggerak-
gerakkan kedua bibir untuk berdzikir di hadapan orang banyak dan menampakkan
kemarahan terhadap kemunkaran di hadapan orang, tetapi ketika ia berada di rumah ia tidak
mengingkari atau lalai melakukan hal tersebut.

Semua perbuatan ini mengurangi kesempurnaan tauhid dan ikhlas.

Sangat banyak dalil-dalil yang menunjukkan tercelanya perbuatan ini, diantaranya adalah
hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Sa’id al Khudri, ia berkata: Rasulullah
shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

‫ الشرك الخفي أن يقوم الرجل يصلي فيزين‬:‫ قال‬,‫ بلى‬:‫ قلنا‬:‫أل أخبركم بما هو أخوف عليكم عندي من المسيح الدجال ؟ قال‬
.‫صلته لما يرى من نظر رجل‬

“Maukah kalian saya beritahu tentang perbuatan yang bagi saya itu lebih saya takuti
daripada Al Masih Ad Dajjal? Kami katakan: Ya,” Ia berkata: “Rasulullah shallallaahu
'alaihi wa sallam bersabda: “Syirik khafiyy (yang tersembunyi) yaitu seseorang mengerjakan
shalat kemudian ia perbaiki shalatnya karena ia mengetahui ada orang yang melihatnya.”
(Menurut Syaikh Al Albani rahimahullah hadits ini hasan. Shahih Sunan Ibni Majah 2/310
hadits no 3389).

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

‫من سمع سمع ال به ومن راءى راءى ال به‬

“Siapa yang memperdengarkan amalnya maka Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa akan


memperdengarkan (aibnya) dan siapa yang riya` maka Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa akan
akan menampakkan (aibnya pada hari Qiamat.”

MACAM-MACAM SYIRIK

Para ulama berbeda pendapat dalam mengungkapkan pembagian syirik meski intinya tidak
terlepas dari tiga penggunaan kata syirik yang telah dibahas di atas. Namun pembagian yang
merangkum semuanya bisa kita katakan bahwa syirik terbagi menjadi dua:

1. Syirik Akbar.

Syirik ini terbagi menjadi dua:

1) Syirik yang berkaitan dengan dzat Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa atau syirik dalam
rububiyah Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Syirik ini terbagi lagi menjadi dua:

(1) Syirik dalam ta’thil, seperti syirik yang dilakukan oleh Fir’aun dan orang-orang atheis.

(2) Syirik yang dilakukan oleh orang yang menjadikan sembahan lain selain Allah
Subhaanahu Wa Ta'aalaa tetapi tidak menafikan asma (nama-nama), sifat-sifat dan
rububiyah Nya, seperti syirik yang dilakukan oleh orang-orang Nashrani yang
menjadikan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa sebagai salah satu dari tiga Tuhan
(trinitas).

2) Syirik yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa atau syirik
dalam uluhiyyah. Syirik ini ada empat jenis:
(1) Syirik dalam berdo’a; yaitu berdo’a kepada selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.

(2) Syirik dalam niat, keinginan dan kehendak. Beramal karena ditujukan kepada selain
Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa menyebabkan pahalanya hilang.

(3) Syirik dalam keta’atan; yaitu seorang hamba taat kepada makhluk dalam perbuatan
ma’shiyat kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.

(4) Syirik dalam mahabbah; yaitu seorang hamba mencintai makhluk seperti cintanya
kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.

2. Syirik Ashghar.

Syirik Ashghar terbagi menjadi dua:

1) Yang Zhahir (tampak);

- mengerjakan amal dengan riya`. Melakukan perbuatan untuk selain Allah


Subhaanahu Wa Ta'aalaa yang zhahir (tampak)nya untuk Allah Subhaanahu Wa
Ta'aalaa, tetapi dalam hatinya tidak ikhlas karena Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.

- dengan ucapan, seperti bersumpah dengan selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa,


perkataan: Ma Syaa Allah wa Syi`ta.

2) Yang Khafiyy (samar);

Yaitu sesuatu yang kadang-kadang, terjadi dalam perkataan atau perbuatan manusia tanpa ia
sadari bahwa itu adalah syirik. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu
Abbas -radliyallaahu 'anhuma- bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

‫الشرك فى أمتي أخفى من دبيب النمل على الصفا‬

“Syirik bagi umatku lebih halus (samar) dari pada barjalannya semut di atas batu yang
licin (hitam).” (Hadits ini dishahihkan oleh Syekh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash
Shaghir, hadits no 3730 dan 3731)

Karena begitu halusnya syirik ini sehingga para sahabat bertanya pada Rasulullah
shallallaahu 'alaihi wa sallam bagaimana caranya terhindar dari syirik ini? Rasulullah
shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: Katakanlah (Bacalah) oleh kalian semua

‫اللهم إنا نعوذبك من أن نشرك بك شيئا نعلمه ونستغفرك لما ل نعلمه‬

“Ya Allah, kami berlindung kepada Mu dari perbuatan (kami) menyekutukan Mu dengan
sesuatu yang kami ketahui dan kami memohon ampunan kepada Mu dari sesuatu yang
tidak kami ketahui.” (HR Imam Ahmad 4/403 dan Ath Thabrani dalam Mu’jam Kabir
dan Ausathnya sebagaimana dikatakan oleh Al Haitsami 10/223-224. Al Haitsami
mengatakan: Rawi-rawinya Imam Ahmad adalah rawi-rawi shahih selain Abu Ali dan ia
dianggap tsiqah oleh Ibnu Hibban).

(Disarikan dari buku Syarh Nawaqidhit tauhiid, tulisan Syekh Abu Usamah Hasan bin Ali Al
‘Awaji, Maktabatul Liinah, cet pertama, 1993-1413)
MENIKAH DENGAN NON MUSLIM

Di antara masalah yang membuat miris hati kaum muslimin yang konsisten dengan ajaran
Islam, banyaknya orang yang menikah dengan pasangan yang berbeda aqidah tanpa
mengindahkan larangan dan aturan agama. Oleh sebab itu, masalah tersebut perlu dibahas
dengan merujuk kepada Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sabda Rasul-Nya Shallallaahu
alaihi wa Sallam dengan penjelasan para ulama.

Muslimah Menikah dengan Laki-Laki Non Muslim.

Tidak ada seorang ulama pun yang membolehkan wanita muslimah menikah dengan laki-laki
non muslim, bahkan ijma’ ulama menyatakan haramnya wanita muslimah menikah dengan
laki-laki non muslim, baik dari kalangan musyrikin (Budha, Hindu, Majusi, Shinto, Konghucu,
Penyembah kuburan dan lain-lain) ataupun dari kalangan orang-orang murtad dan Ahlul Kitab
(Yahudi dan Nashrani).1 Hal ini berdasarkan firman Allah

“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan


yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang
keimanan mereka, maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman
maka janganlah kamu kemba-likan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir,
mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pulabagi
mereka.” (AlMumtahanah:10)

Di dalam ayat ini, sangat jelas sekali Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa wanita
muslimah itu tidak halal bagi orang kafir. Dan di antara hikmah pengharaman ini adalah bahwa
Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.2 Dan sesungguhnya laki-laki itu
memilki hak qawamah (pengendalian) atas istrinya dan si istri itu wajib mentaatinya di dalam
perintah yang ma’ruf. Hal ini berarti mengandung makna perwalian dan kekuasaan atas
wanita, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menjadikan kekuasaan bagi orang kafir
terhadap orang muslim atau muslimah.3 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir atas orang-orang
mu’min.” (An Nisaa: 141).

Kemudian suami yang kafir itu tidak mengakui akan agama wanita muslimah, bahkan dia itu
mendustakan Kitabnya, mengingkari Rasulnya dan tidak mungkin rumah tangga bisa damai
dan kehidupan bisa terus berlangsung bila disertai perbedaan yang sangat mendasar ini.4

Dandiantaradalilyangmengharamkan pernikahan ini adalah firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala ,

“Dan jangalah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min)


sebelum mereka beriman.” (Al Baqarah: 221).

Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang para wali (ayah, kakek, saudara,
paman dan orang-orang yang memiliki hak perwalian atas wanita) menikahkan wanita yang
menjadi tanggung jawabnya dengan orang musyrik. Yang dimaksud musyrik di sini adalah
semua orang yang tidak beragama Islam, mencakup penyembah berhala, Majusi, Yahudi,
Nashrani dan orang yang murtad dari Islam.5

Ibnu Katsir Asy Syafi’iy rahimahullah berkata, “Janganlah menikahkan wanita-wanita


muslimat dengan orang-orang musyrik.”6

Al Imam Al Qurthubiy rahimahullah berkata, “Janganlah menikahkan wanita muslimah


dengan orang musyrik. Dan Umat ini telah berijma’ bahwa laki-laki musyrik itu tidak boleh
menggauli wanita mu’minah, bagaimanapun bentuknya, karena perbuatan itu merupakan
penghinaan terhadap Islam.”7

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, (Ulama ijma’) bahwa muslimah tidak halal menjadi
istri orang kafir.8

Syaikh Abu Bakar Al Jaza’iriy hafidhahullah berkata, “Tidak halal bagi muslimah menikah
dengan orang kafir secara mutlaq, baik Ahlul Kitab ataupun bukan.”9

Syaikh Shalih Al Fauzan hafidhahullah berkata, “Laki-laki kafir tidak halal menikahi wanita
muslimah,10 berdasarkan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala, “Dan jangalah kamu menikahkan
orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman.” (Al
Baqarah: 221).

Jelaslah bahwa pernikahan antara muslimah dengan laki-laki non muslim itu adalah haram,
tidak sah dan bathil.

Pernikahan Laki-Laki Muslim dengan Wanita Non Islam.

Sebagaimana wanita muslimah haram dinikahi oleh laki-laki non muslim, begitu juga laki-laki
muslim haram menikah dengan wanita non Islam, berdasarkan Firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala,

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman.” (Al Baqarah:
221).

Ayat ini secara umum menerangkan keharaman laki-laki muslim menikah dengan wanita
musyrik (kafir), meskipun ada ayat yang mengecualikan darinya, yakni untuk wanita ahlu
kitab, yang akan kita bahas nanti. Tidak boleh seorang muslim menikahi wanita Budha, Hindu,
Konghucu, Shinto, wanita yang murtad dari Islam. Dan jika seorang laki-laki kafir masuk
Islam sedangkan istrinya tidak atau bila si istri murtad dari Islam, maka dia harus melepaskannya,
berdasar-kan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala

“Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan wanita-wanita kafir.” (Al
Mumtahanah: 10).

Di dalam hal ini, sama saja baik wanita itu murtad masuk agama Ahlul Kitab (Yahudi dan
Nashrani) atau agama lainnya atau tidak masuk agama mana-mana atau dia itu tidak shalat,
tetap pernikahannya lepas, karena Islam tidak mengakui statusnya saat masuk agama barunya,
berbeda kalau memang dia dari awalnya termasuk Ahlul Kitab, maka hal ini memiliki hukum
tersendiri.

Namun dari keharaman menikahi wanita kafir ini dikecualikan terhadap wanita dari kalangan
Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani) yang memang sejak awal dia memeluk agama ini, bukan
karena murtad, ini adalah pendapat Jumhur Ulama,11 yang didasarkan pada Firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala ,
“Dan (dihalalkan bagi kalian meni-kahi) wanita-wanita yang menjaga kehor-matan di antara
orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kalian.” (Al Maidah: 5)

Namun demikian, para ulama meng-anggap makruh12 pernikahan muslim dengan wanita
Ahlul Kitab. Umar Ibnu Al Khaththab Radhiallaahu anhu pernah memerintahkan Hudzaifah agar
melepas istrinya yang beragama Yahudi, beliau berkata, “Saya tidak mengklaim itu haram,
namun saya khawatir kalian mendapatkan wanita-wanita pezina dari mereka.”1314

Ibnu Umar Radhiallaahu anhu berpendapat, haram hukumnya menikahi wanita Ahlul Kitab.
Beliau berkata saat ditanya tentang laki-laki muslim menikahi wanita Yahudi atau Nashrani,
“Allah Subhanahu wa Ta'ala mengharamkan menikahi wanita-wanita musyrik atas kaum
muslimin dan saya tidak mengetahui sesuatu dari syirik yang lebih dahsyat dari perkataan
wanita, bahwa Tuhannya adalah Isa, atau hamba dari hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala.”15

Namun sebenarnya ada perbedaan antara syiriknya orang-orang musyrik dengan syiriknya Ahlul Kitab,
yaitu kemusy-rikan di dalam keyakinan orang musyrik adalah asli (pokok) ajaran mereka,
sedangkan syirik pada Ahlul Kitab adalah bid’ah di dalam agama mereka, ini sebagaimana
yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t.16

Dan perlu diingat bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala hanya membolehkan menikahi wanita
Ahlul Kitab, jika wanita itu wanita yang selalu menjaga kehormatannya, selain mereka, Allah
Subhanahu wa Ta'ala mengharamkannya. Selanjutnya kita patut bertanya, “Adakah wanita
ahlul kitab yang mampu menjaga kehormatannya?” Realitas menunjuk-kan, wanita-wanita
muslim pun banyak yang tak sanggup menjaga kehormatan diri mereka, yang di antaranya
disebabkan oleh profokasi wanita ahlul kitab. Yang terpengaruh sudah begitu parah
keadaannya, bagaimana lagi yang mempengaruhi (yang merupakan sumber kehinaan diri).
Untuk itu, setiap muslim dituntut agar bersikap selektif dan waspada demi menjaga hal-hal
yang tidak diinginkan, apalagi dalam hal yang menyangkut keselamatan akidah dan masa
depan Islam dan kaum muslimin. Wallahu a’lam. (Abu Sulaiman)

Endnote:

1. Fiqhus Sunnah: 2/181, Rawai’ul Bayan 1/289.


2. Rawai’ul Bayan 1/289.
3. Fiqhus Sunnah: 2/181
4. Fiqhus Sunnah: 2/181
5. Rawai’ul Bayan 1/289.
6. Tafsir Al Quranil Adhim 1/348.
7. Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 3/67, lihat pula Fathul Qadir Karya Asy Syaukani
1/284, Fathul Bayan Fi Maqaslidil Qur’an karya Shiddiq Hasan Khan 1/446.
8. Al Ijma Karya Ibnu Abdil Barr: 250.
9. Minhajul Muslim: 563.
10. Al Mulakhkhash Al Fiqhiy 2/272.
11. Al Mulakhkhash Al Fiqhiy 2/272, Fiqhus Sunnah 2/179, Tafsir Ibni Katsir
1/347, Al Jami Li Ahkamil Qur’an 3/63-65, Asy Syarhul Kabir Karya Ar Rafiiy
8/67-73, Rawai’ul Bayan 1/287.
12. Ini dikarenakan kekhawatiran akan pengaruh isteri terhadap suaminya juga akan
anak-anaknya.
13. Isnadnya shahih, lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/347.
14. Dan memang untuk zaman sekarang sangat sulit mencari wanita yang mampu
menjaga kehormatan dari kalangan Yahudi dan Nashrani.
15. Tafsir Ibnu Katsir ibid, Al Jami Li Ahkamil Qur’an ibid, Rawai’ul Bayan ibid.
16. Al Fatawa Al Kubraa 3/116-117.

ASYURA' DALAM PERSPEKTIF ISLAM, SYI'AH


DAN KEJAWEN

A. Asyuro' dalam ajaran Islam

Ulama Ahlussunnah sepakat bahwa pada hari 10 Muharram disyari'atkan untuk berpuasa. Ibnu
: Abbas mencerita-kan

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tiba di Madinah, lalu beliau melihat orang-orang Yahudi"
berpuasa pada hari Asyura' ( tanggal 10 Muharram), maka beliau bertanya: "Hari apakah ini?"
Mereka menjawab: "Ini adalah hari yang baik. Ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani
Israil dari musuhnya, maka Musa shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada hari itu karena
syukur kepada Allah. Dan kami berpuasa pada hari itu untuk mengagungkannya." Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian", maka Nabi
(berpuasa Asyura' dan memerintah-kan puasanya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim

Harus Menyalahi Ahli Kitab

Para sahabat berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : "Ya Rasulullah, sesung-
guhnya Asyura' itu hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani", maka Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tahun depan insya Allah kita akan puasa (juga) pada
.(hari yang kesembilan." (HR. Muslim (1134) dari Ibnu Abbas

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari jalur lain, sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi
: wasallam

Berpuasalah pada hari Asyura' dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari"
sebelumnya atau sehari sesudahnya." (Fathul Bari, 4/245). Imam Syafi'i juga meriwayatkan
hadits di atas, makanya beliau di dalam kitab Al-Um dan Al-Imla' menyatakan kesun-nahan
puasa tiga kali tanggal 8, 9 dan 10 Muharram. (Al-Ibda', Ali Mahfudz hal. 149, Fathul Bari
.(4/246

'Keutamaan Asyura

:Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyura', maka beliau menjawab

.(Ia menghapuskan dosa tahun yang lalu." (HR. Muslim (1162), Ahmad 5/296, 297"

Karena itu, pantas jika Ibnu Abbas menyatakan : "Saya tidak pernah melihat Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada suatu hari karena ingin mengejar keutamaannya
selain hari ini (Asyura') dan tidak pada suatu bulan selain bulan ini (maksudnya: Ramadhan)."
.(((HR. Al-Bukhari (2006), Muslim (1132

: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda


Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah yang bernama Muharram. (HR."
.(Muslim,1163
'B. Bid'ah-bid'ah Asyura

Muharram 61 H adalah hari terbu-nuhnya Abu Abdillah Al-Husen bin Ali (ra) di padang 10
.Karbala. Karena peristiwa berdarah ini, setan berhasil menciptakan dua kebid'ahan sekaligus

Pertama : Bid'ah Syi'ah

Asyura' dijadikan oleh Syi'ah sebagai hari berkabung, duka cita, dan menyiksa diri sebagai
ungkapan dari kesedihan dan penyesalan. Pada setiap Asyura', mereka memperingati kematian
Al-Husen dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela seperti berkumpul, menangis,
meratapi Al-Husen secara histeris, membentuk kelompok-kelompok untuk pawai berkeliling di
jalan-jalan dan di pasar-pasar sambil memukuli badan mereka dengan rantai besi, melukai kepala
dengan pedang, mengikat tangan dan lain sebagainya. (At-Tasyayyu' Wasy-Syi'ah, Ahmad Al-
.(Kisrawiy Asy-Syi'iy, hal. 141, Tahqiq Dr. Nasyir Al-Qifari

Kedua : Bid'ah Jahalatu Ahlissunnah

Sebagai tandingan dari apa yang dilakukan oleh orang Syi'ah di atas, orang Ahlussunnah yang
.jahil (Bodoh) menjadikan hari Asyura' sebagai hari raya, pesta dan serba ria

Menurut Ahmad Al-Kisrawi Asy-Syi'iy: "Dua budaya (bid'ah) yang sangat kontras ini, menurut
literatur yang ada bermula pada jaman dinasti Buwaihi (321H - 447 H.) yang mana masa itu
terkenal dengan tajamnya pertentangan antara Ahlus-sunnah dan Syi'ah. Orang-orang jahalatu
(bodoh) Ahlussunnah menjadikan Asyura' sebagai hari raya dan hari bahagia sementara orang-
orang Syi'ah menjadikannya sebagai hari duka cita, mereka berkumpul membacakan syair-syair
(haru kemudian menangis dan menjerit." (At-Tasyayyu' Wasy-Syi'ah hal.142

Sementara Syekh Ali Mahfudz mengatakan bahwa di Kufah ada kelompok Syi'ah yang sampai
ghuluw (berlebihan) dalam mencintai Al-Husen (ra) yang dipelopori oleh Al-Mukhtar bin Abi
Ubaid Ats-Tsaqafi (tahun 67 H dibunuh oleh Mush'ab bin Az-Zubair) dan ada kelompok
Nashibah (yang anti Ali beserta keturunannya), yang diantaranya adalah Al-Hajjaj bin Yusuf
.Ats-Tsaqafi. Dan telah disebut di dalam hadits shahih
Sesungguhnya (akan muncul) di Tsaqif (kepala suku dari Hawazin) seorang pendusta dan"
".pembantai

Pendusta tadi adalah Al-Mukhtar yang memperselisihkan keimamahan Ibnul Hanafiyah, dan
pembantai tadi adalah Al-Hajjaj yang membenci Alawiyyin, maka yang Syi'ah tadi menciptakan
(bid'ah duka cita sementara yang Nashibah menciptakan bid'ah bersuka ria. (Al-Ibda' hal. 150

: Bid'ah-bid'ah tersebut berbentuk

.Menambah belanja dapur .1


Banyak riwayat yang mengatakan :"Barangsiapa yang meluaskan (nafkah) kepada
keluarganya pada hari Asyura', maka Allah akan melapangkan (rizkinya) selama setahun
itu." (HR. At-Thabraniy, Al-Baihaqi dan Ibnu Abdil Barr). Asy-Syabaniy berkata: semua
jalurnya lemah, Al-Iraqi berkata : sebagian jalur dari Abu Hurairah dishahihkan oleh Al-
Hafidz Ibnu Nashir, jadi menurutnya ini hadits hasan, sedangkan Ibnul Jauzi menulisnya
di dalam kumpulan hadits palsu. (Tamyizuth-Thayyib minal Khabits, no. 1472, Tanbihul
Ghafilin, 1/367). Sementa-ra itu imam As-Suyuthi dengan tegas mengatakan : "Telah
diriwayatkan tentang keutamaan meluaskan nafkah sebuah hadits dhaif, bisa jadi
sebabnya adalah ghuluw di dalam mengagungkan-nya, dari sebagian segi untuk
menandingi orang-orang Rafidhah (Syi'ah) karena syetan sangat berambisi untuk
memalingkan manusia dari jalan lurus. Ia tidak peduli ke arah mana -dari dua arah-
mereka akan berpaling, maka hendaklah para pelaku bid'ah menghin-dari bid'ah-bid'ah
(sama sekali." (Al-Amru Bil Ittiba', hal.88-89
Imam Ahmad mengatakan ketika ditanya : "Hadits ini tidak ada asalnya, ia tidak
bersanad kecuali apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Uyainah dari Ibnul Muntasyir,
sementara ia adalah orang Kufah, ia meriwayatkan dari seorang yang tidak dikenal." (Al-
(Ibda', Ali Mahfudz, 150

.(Memakai celak (sifat mata .2

.Mandi .3
Mereka meriwayatkan sebuah hadits: "Barangsiapa yang memakai celak pada hari
Asyura', maka ia tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu. Dan barangsiapa mandi
pada hari Asyura', ia tidak akan sakit selama tahun itu." (Hadits ini palsu menurut As-
(Sakhawi, Mulla Ali Qari dan Al-Hakim) (Al-Ibda', hal. 150-151

.Mewarnai kuku .4

Bersalam-salaman. Imam As-Suyuthi mengatakan : " Semua perkara ini (no.2-5) .5


adalah bid'ah munkarah, dasarnya adalah hadits palsu atas nama Rasulullah shallallahu
('alaihi wasallam ." (Al-Amru bil Ittiba' , hal.88

.Mengusap-usap kepala anak yatim .6

Memberi makan seorang mukmin di malam Asyura'. Mereka tidak segan-segan .7


membuat hadits palsu dengan sanad dari Ibnu Abbas yang mirip dengan haditsnya orang
:Syi'ah yang berbunyi
Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura' dari bulan Muharram, maka Allah memberinya"
(pahala) sepuluh ribu malaikat, sepuluh ribu haji dan umrah dan sepuluh ribu orang mati
syahid. Dan barangsiapa memberi buka seorang mukmin pada malam Asyura', maka
seakan-akan seluruh umat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam berbuka di rumahnya
sampai kenyang." (Hadits palsu dinyatakan oleh imam As-Suyuthi dan Asy-Syaukani, no.
.(34, lihat Tanbihul Ghafilin, 1/366

Membaca do'a Asyura' seperti yang tercantum dalam kumpulan do'a dan Majmu' .8
Syarif yang berisi minta panjang umur, kehidupan yang baik dan khusnul khotimah.
Begitu pula keyakinan mereka bahwa siapa yang membaca do'a Asyura' tidak akan
meninggal pada tahun tersebut adalah bid'ah yang jahat. (As-Sunan wal Mubtada'at,
.(Muhammad Asy-Syuqairi, hal.134

Membaca "Hasbiyallah wani'mal wakil" pada air kembang untuk obat dari .9
.berbagai penyakit adalah bid'ah

Shalat Asyura'. Haditsnya adalah palsu, seperti yang disebutkan oleh As-Suyuthi .10
.(di dalam Al-La'ali Al-Mashnu'ah (As-Sunan wal Mubtada'at, 134
C. Asyuro dalam Tradisi dan Kultur Kejawen

: Bulan Suro banyak diwarnai oleh orang Jawa dengan berbagai mitos dan khurafat, antara lain

Keyakinan bahwa bulan Suro adalah bulan keramat yang tidak boleh dibuat main-main dan
.bersenang-senang seperti hajatan pernikahan dan lain-lain yang ada hanya ritual

Ternyata kalau kita renungkan dengan cermat apa yang dilakukan oleh orang Jawa di dalam
bulan Suro adalah merupakan akulturasi Syi'ah dan animisme, dinamisme dan Arab jahiliyah.
Dulu,orang Quraisy jahiliyah pada setiap Asyura' selalu mengganti Kiswah Ka'bah (kain
pembungkus Ka'bah) (Fathul Bari, 4/246). Kini, orang Jawa mengganti kelambu makam Sunan
.Kudus. Alangkah miripnya hari ini dan kemarin

Di dalam Islam, Asyura' tidak diisi dengan kesedihan dan penyiksaan diri (Syi'ah), tidak diisi
dengan pesta dan berhias diri (Jahalatu Ahlissunnah) dan tidak diisi dengan ritual di tempat-
tempat keramat atau yang dianggap suci untuk tolak bala' (Kejawen) bahkan tidak diisi dengan
berkumpul-kumpul. Namun yang ada hanyalah puasa Asyura' dengan satu hari sebelumnya atau
(juga dengan sehari sesudahnya. Waallahu-a'lam. ( Abu Hamzah A. Hasan Bashori

***
Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu berkata:Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula
pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan dosa-dosa, tinggalkan menyakiti
tetangga, dan hendaknya kamu senantiasa bersikap tenang pada hari kamu berpuasa, jangan pula
".kamu jadikan hari berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa

MEMBENTUK KELUARGA ISLAMI

Mayoritas manusia tentu mendambakan kebahagiaan, menanti ketentraman dan ketanangan jiwa.
Tentu pula semua menghindari dari berbagai pemicu gundah gulana dan kegelisahan. Terlebih
dalam lingkngan keluarga.

Ingatlah semua ini tak akan terwujud kecuali dengan iman kepada Alloh, tawakal dan
mengembalikan semua masalah kepadaNya, disamping melakukan berbagai usaha yang sesuai
dengan syari’at.
Pentingnya Keharmonisan Keluarga

Yang paling berpengaruh buat pribadi dan masyarakat adalah pembentukan keluarga dan
komitmennya pada kebenaran. Alloh dengan hikmahNya telah mempersiapkan tempat yang
mulia buat manusia untuk menetap dan tinggal dengan tentram di dalamnya. FirmanNya: “dan
diantara tanda-tanda kekuasanNya adalah Dia mencipatakan untukmu istri-istri dari jenismu
sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan diajadikanNya diantara
kamu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir.” (Ar Rum: 21)
Ya…supaya engkau cenderung dan merasa tentram kepadanya (Alloh tidak mengatakan:
‘supaya kamu tinggal bersamanya’). Ini menegaskan makna tenang dalam perangai dan jiwa
serta menekankan wujudnya kedamaian dalam berbagai bentuknya.

Maka suami istri akan mendapatkan ketenangan pada pasangannya di kala datang
kegelisahan dan mendapati kelapangan di saat dihampiri kesempitan.

Sesungguhnya pilar hubungan suami istri adalah kekerabatan dan pershabatan yang
terpancang di atas cinta dan kasih sayang. Hubungan yang mendalam dan lekat ini mirip dengan
hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Al Qur’an menjelaskan: “Mereka itu pakaian
bagimu dan kamu pun pakaian baginya.” (Al Baqarah: 187)

Terlebih lagi ketika mengingat apa yang dipersiapkan bagi hubungan ini misalnya;
penddidikan anak dan jaminan kehidupan, yang tentu saja tak akan terbentuk kecuali dalam
atmosfir keibuan yang lembut dan kebapakan yang semangat dan serius. Adakah di sana
komunitas yang lebih bersih dari suasana hubungan yang mulia ini?
Pilar Peyangga Keluarga Islami

1. Iman dan Taqwa

Faktor pertama dan terpenting adalah iman kepada Alloh dan hari akhir, takut kepada Dzat

Yang memperhatikan segala yang tersembunyi serta senantiasa bertaqwa dan bermuraqabbah

(merasa diawasi oleh Alloh) lalu menjauh dari kedhaliman dan kekeliruan di dalam mencari

kebenaran.

“Demikian diberi pengajaran dengan itu, orang yang beriman kepada Alloh dan hari
akhirat. Barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia kan mengadakan baginya
jalan keluar. Dan Dia kan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.
Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan
keperluannya.” (Ath Thalaq: 2-3)

Di antara yang menguatkan tali iman yaitu bersungguh-sungguh dan serius dalam
ibadah serta saling ingat-mengingatkan. Perhatikan sabda Rasululloh: “Semoga Alloh
merahmati suami yang bangun malam hari lalu shalat dan membangunkan pula istrinya
lalu shalat pula. Jika enggan maka dipercikkannya air ke wajahnya. Dan semoga Alloh
merahmati istri yang bangun malam hari lalu shalat dan membangunkan pula suaminya
lalu shalat pula. Jika enggan maka dipercikkannya air ke wajahnya.” (HR. Ahmad, Abu
Dawud, An Nasa’i, Ibnu Majah).
Hubungan suami istri bukanlah hubungan duniawi atau nafsu hewani namun berupa
interaksi jiwa yang luhur. Jadi ketika hubungan itu shahih maka dapat berlanjut ke
kehidupan akhirat kelak. FirmanNya: “Yaitu surga ‘Adn yang mereka itu masuk di
dalamnya bersama-sama orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan
anak cucunya.” (Ar Ra’du: 23)

2. Hubungan Yang Baik

Termasuk yang mengokohkan hal ini adalah pergaulan yang baik. Ini tidak akan tercipt

akecuali jika keduanya saling mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing.

Mencari kesempurnaan dalam keluarga dan naggotanya adalah hal mustahil dan merasa

frustasi daklam usha melakukan penyempurnan setiap sifat mereka atau yang lainnya

termasuk sia-sia juga.

3. Tugas Suami

Seorang suami dituntut untuk lebih bisa bersabar ketimbang istrinya, dimana istri itu lemah

secara fisik atau pribadinya. Jika ia dituntut untuk melakukan segala sesuatu maka ia akan

buntu.

Teralalu berlebih dalam meluruskannya berarti membengkokkannya dan


membengkokkannya berarti menceraikannya. Rasululloh bersabda: “Nasehatilah wanita
dengan baik. Sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk dan bagian yang
bengkok dari rusuk adalah bagian atasnya. Seandainya kamu luruskan maka berarti
akan mematahkannya. Dan seandainya kamu biarkan maka akan terus saja bengkok,
untuk itu nasehatilah dengan baik.” (HR. Bukhari, Muslim)

Jadi kelemahan wanita sudah ada sejak diciptakan, jadi bersabarlah untuk
menghadapinya.

Seorang suami seyogyanya tidak terus-menerus mengingat apa yang menjadi bahan
kesempitan keluarganya, alihkan pada beberapa sisi kekurangan mereka. Dan perhatikan
sisi kebaikan niscaya akan banyak sekali.
Dalam hal ini maka berperilakulah lemah lembut. Sebab jika ia sudah melihat
sebagian yang dibencinya maka tidak tahu lagi dimana sumber-sumber kebahagiaan itu
berada. Alloh berfirman; “Dan bergaullah bersama mereka dengan patut. Kemudian jika
kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah Karena mungkin kamu tidak menyukai
sesuatu padahal Aloh menjadikannya kebaikan yang banyak.” (An Nisa’: 19)

Apabila tidak begitu lalu bagaimana mungkin akan tercipta ketentraman, kedamaian
dan cinta kasih itu: jika pemimpin keluarga itu sendiri berperangai keras, jelek
pergaulannya, sempit wawasannya, dungu, terburu-buru, tidak pemaaf, pemarah, jika
masuk terlalu banyak mengungkit-ungkit kebaikan dan jika keluar selalu berburuk
sangka.

Padahal sudah dimaklumi bahwa interaksi yang baik dan sumber kebahagiaan itu
tidaklah tercipta kecuali dengan kelembutan dan menjauhakan diri dari prasangka yang
tak beralasan. Dan kecemburuan terkadang berubah menjadi prasangka buruk yang
menggiringnya untuk senantiasa menyalah tafsirkan omongan dan meragukan segala
tingkah laku. Ini tentu akan membikin hidup terasa sempit dan gelisah dengan tanpa
alasan yang jelas dan benar.

4. Tugas Istri

Kebahagiaan, cinta dan kasih sayang tidaklah sempurna kecuali ketika istri mengetahui

kewajiban dan tiada melalaikannya.

Berbakti kepada suami sebagai pemimpin, pelindung, penjaga dan pemberi nafkah. Taat

kepadanya, menjaga dirinya sebagi istri dan harta suami. Demikian pula menguasai tugas istri

dan mengerjakannya serta memperhatikan diri dan rumahnya.

Inilah istri shalihah sekaligus ibu yang penuh kasih sayang, pemimpin di rumah
suaminya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Juga mengakui kecakapan
suami dan tiada mengingkari kebaikannya.

Untuk itu seyogyanya memaafkan kekeliruan dan mangabaikan kekhilafan. Jangan


berperilaku jelek ketika suami hadir dan jangan mengkhianati ketika ia pergi.
Dengan ini sudah barang tentu akan tercapai saling meridhai, akan langgeng
hubungan, mesra, cinta dan kasih sayang. Dalam hadits: “Perempuan mana yang
meninggal dan suaminya ridha kepadanya maka ia masuk surga.” (HR. Tirmidzi, Hakim,
Ibnu Majah)

Maka bertaqwalah wahai kaum muslimin! Ketahuilah bahwa dengan dicapainya


keharmonisan akan tersebarlah semerbak kebahagiaan dan tercipta suasana yang kondusif bagi
tarbiyah.
Selain itu tumbuh pula kehidupan di rumah yang mulia dengan dipenuhi cinta kasih dan
saling pengertian anatar sifat keibuan yang penuh kasih sayang dan kebapakan yang tegas, jauh
dari cekcok, perselisihan dan saling mendhalimi satu sama lain. Juga tak ada permusuhan dan
saling menyakiti.
Penutup

Lurusnya keluarga menjadi media untuk menciptakan keamanan masyarakat. Bagaimana bisa
aman bila ikatan keluarga telah amburadul. Padahal Alloh memberi kenikmatan ini yaitu
kenikmatan kerukunan keluarga, kemesraan dan keharmonisannya.

Hubungan suami istri yang sangat solid dan fungsinya sebagai orang tua di tambah anak-
anaknya yang tumbuh dalam asuhan mereka, merupakan gambaran umat terkini dan masadepan.
Karena itu ketika setan berhasil menceraikan hubungan keluarga dia tidak sekadar
menggoncangkan sebuah keluarga namun juga menjerumuskan masyarakat seluruhnya ke dalam
kebobrokan yang merajalela. Realita sekarang menjadi bukti.

Semoga Alloh merahmati pria yang perilakunya terpuji, baik hatinya, pandai bergaul
(terhadap keluarga), lemah lembut, pengasih, penyayang, tekun, tidak berlebihan dan tiada lalai
dengan kewajibannya. Semoga Alloh merahmati pula wanita yang tidak mencari-cari kekeliruan,
tidak cerewet, shalihah, taat dan memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada karena Alloh
telah memeliharanya.

Bertaqwalah wahai kaum muslimin, wahai suami istri.


Barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaaya
akan dimudahkan urusannya. (Syeikh Shalih bin
Abdullah bin Al Humaid).
Cinta, Kedamaian, Pencerahan
Dalam banyak hal, Barat menyimpan tanda-tanda ke mana peradaban bergerak. Industrialisasi,
demokrasi, kapitalisme, feminisme hanyalah sebagian hal yang awalnya terjadi di Barat,
kemudian menerjang ke seluruh dunia.

Kepunahan agama

Siapa saja yang rajin ke Barat di abad 21 ini, boleh bertanya ‘what is your religion?’. Dan siap-
siaplah dijawab: stupid question. Seorang pengajar di perguruan tinggi di Melbourne, pernah
bertanya ke mahasiswanya di sebuah kelas: any one of you who have religion? Dan yang
menaikkan tangan hanya segelintir. Itu pun semuanya berwajah Asia.

Dari salah satu segi terlihat, agama di Barat lebih dipandang sebagai beban dibandingkan
identitas yang membahagiakan. Dan pada saat yang sama, ada kecenderungan lain yang layak
direnungkan.

Karen Amstrong (penulis buku Hystory of God) menulis, inilah zaman keemasan Buddha di
Barat. Albert Einstein (fisikawan besar abad 20) berpendapat, agama yang bisa memenuhi
kebutuhan intelek manusia masa depan adalah agama Buddha. Lama Surya Das (penulis
Awakening to the Sacred) menjumpai sejumlah anak muda di Barat yang mengaku: ‘my parent
hate me when they know that I am a Buddhist, but they love me when they know that I am a
Buddha’. 0rang tua kesal melihat puterinya masuk Vihara. Namun mereka cinta ketika
menyadari anaknya sabar, santun, penuh rasa hormat dan rendah hati.

Digabung menjadi satu, ada sebuah pintu kecenderungan yang terbuka. Di satu sisi ada rasa
dahaga manusia akan kedamaian. Terutama karena materialisme di Barat sudah menunjukkan
batas-batasnya. Dan di lain sisi, agama Buddha menyentuh komunitas Barat dengan kedamaian.

Membaca tanda-tanda seperti ini, tantangan agama-agama sebenarnya bukan persaingan


antaragama. Raja Asoka (murid serius Buddha) mewariskan: ’siapa yang menghina agama
orang, ia sedang mencaci agamanya sendiri. Siapa yang menghormati agama orang, ia sedang
mencintai agamanya sendiri’. Tantangan agama-agama ke depan adalah memuaskan rasa dahaga
manusia akan kedamaian.

Tanpa kemampuan memuaskan rasa dahaga akan kedamaian, lebih-lebih memperpanjang daftar
kekerasan yang sudah panjang, maka bukan tidak mungkin ada agama yang mengalami
kepunahan di masa depan.
Bahasa-bahasa cinta

Kalau boleh jujur, semua agama berbahasakan cinta. Islam menempatkan cinta di urutan nomer
satu dalam 99 nama Allah. Nasrani mengalami dinamika dari perjanjian lama ke perjanjian baru,
namun dalam kasih ia tidak bergeser sama sekali. Yoga Hindu tidak bisa sempurna tanpa bhakti
yoga (path of love and devotion). Rumah batin luhurnya Buddha mulai dengan cinta kasih.

Dalam ketokohan juga serupa. Islam bersinar di tangan manusia seperti Jalaludin Rumi, Imam
Al-Ghazalli yang tidak punya bahasa lain selain cinta. Ajaran Kristus menyentuh di tangan
orang seperti Santo Franciscus dari Asisi yang digerakkan kasih. Di tangan Mahatma Gandhi,
Bhagawad Gita hidup. Tidak ada kekuatan lain yang membantu Gandhi terkecuali bhakti.
Tatkala Dalai Lama ditanya pengertian Tuhan, ia menjawab: God is an infinite compassion.
Teduh, menyentuh, itulah wajah asli agama-agama.

Namun, kerap ini dihadang keingintahuan yang membandingkan wacana dengan realita. Bila
memang demikian, kenapa ada serangan teroris, pemerintah AS dan kawan-kawan menyerang
Afghanistan dan Irak, rezim militer Myanmar demikian kejam menembaki sejumlah Bhiksu,
masyarakat Bali yang tekun berupacara melakukan sejumlah kekerasan?

Latihan sebagai langkah

Meminjam cerita Zen, setiap kata hanyalah jari yang menunjuk bulan. Bahkan kata-kata Buddha
digabung dengan Krishna pun tidak bisa menghantar manusia menemukan pencerahan, terutama
bila hanya sebatas dimengerti kemudian lupa. Apa yang kita tahu adalah sebuah tebing. Apa
yang kita laksanakan dalam keseharian adalah tebing lain. Dan jembatan yang menghubungkan
keduanya bernama latihan.

Sulit membayangkan ada pencerahan tanpa ketekunan latihan. Raksasa spiritual dari Jalaludin
Rumi, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi sampai dengan Dalai Lama, semuanya dibesarkan
latihan. Siapa yang berani membayar latihannya dengan ongkos lebih mahal, ia sampai di
tempat yang lebih jauh.

Sayangnya, ini yang tidak mau dilakukan banyak orang. Hanya berbekalkan intelek, kemudian
berharap pencerahan. Ia serupa dengan hanya melihat ujung jari, mau sampai di bulan.

Thich Nhat Hanh dalam Creating true peace lebih konkrit soal latihan. Di dalam diri kita ada
bibit kedamaian sekaligus bibit kemarahan. Perjalanan latihan bergerak semakin sempurna,
ketika manusia dalam keseharian menyirami bibit kedamaian, berhenti menyirami bibit
kemarahan. Cara terbaik melakukan ini adalah dengan mempraktekkan kesadaran (mindfulness).

Dalam aktivitas apa pun (bangun, makan, bekerja sampai tidur lagi) lakukanlah dengan penuh
kesadaran. Bila kemarahan yang datang, senyumlah sambil ingat untuk tidak mengikuti
kehendak kemarahan. Tatkala kedamaian yang berkunjung senyumlah sambil sadar kalau
kedamaian pasti pergi. Sehingga ketika kedamaian pergi, tidak perlu kecewa.

Bila digoda orang menjengkelkan, berfokuslah pada api amarah yang ada di dalam. Lihat,
senyum, jangan diikuti. Bila ini tidak membantu, ganti judul orang menjengkelkan dengan orang
yang membutuhkan uluran cinta kita. Sebab bila judulnya menjengkelkan, respon alaminya
marah. Jika judulnya ia memerlukan cinta kita, maka respon alaminya membantu.

Teruslah berlatih sampai tidak ada lagi yang tersisa (kemarahan menghilang, kedamaian
menghilang), terkecuali kesadaran agung. Kadang disebut kesempurnaan agung karena semua
sempurna apa adanya. Dan yang terlihat oleh orang lain di luar adalah keseharian yang diam,
senyum serta tangan yang bahagia bila ada kesempatan membantu.

Dibimbing cinta manusia bertemu keteduhan, kesejukan kedamaian. Kedamaian kemudian


membukakan pintu pencerahan. Ada yang bertanya, apa itu pencerahan? Seperti berlatih naik
sepeda. Teorinya sederhana. Namun begitu berlatih dijamin jatuh. Ada yang masuk selokan. Ada
juga kakinya berdarah. Hanya dengan ketekunan latihan seseorang bisa menemukan
keseimbangan (baca: kesadaran agung). Dan momen ketika kesadaran agung dialami, ia akan
berujar: oooo!
Itulah pencerahan. Ia di luar kata-kata. Bila ada yang mau
menjelaskannya dengan kata-kata, nasibnya akan
serupa dengan sepasang tangan manusia yang mau
mengambil seluruh air samudera
Bahagia Menjadi Nomer Dua
Puluhan tahun lalu, David C Mc. Clleland pernah dikenal dengan idenya tentang masyarakat
berprestasi. Hampir setiap negara, korporasi tertarik mempercepat pertumbuhan dengan
menginjeksikan virus motivasi berprestasi. Fundamental dalam ide ini, kehidupan hanya layak
dijalani bila menjadi nomer satu. Dan sekian puluh tahun setelah ide ini berlalu, tampaknya
penyebaran virusnya masih berjalan cepat.

Di dunia korporasi, pusat pertumbuhan dari mana masa depan banyak dipersiapkan, ditandai oleh
semakin derasnya penyebaran virus ini.

Dalam pergeseran-pergeseran kekuasaan negara juga serupa. Yang berpengaruh adalah tokoh
seperti George W. Bush, John Howard yang agresif, diimbangi oleh teroris yang tidak kalah
agresif. Sebagai hasilnya, suhu hubungan antarmanusia di dunia memanas dari hari ke hari.

Soal implikasi kemajuan materi dari injeksi virus berprestasi, memang tidak diragukan. Namun
semua ada ongkosnya. Kedamaian, kebahagiaan dan kenyamanan jiwa hanyalah sebagian hal
yang mesti dikorbankan.

Isu pemanasan global yang belakangan ditiupkan ulang secara besar-besaran oleh Al Gore,
belum terlihatnya tanda-tanda perdamaian akibat serangan AS ke Afghanistan dan Irak, serta
memanasnya suhu politik di beberapa negara yang dulunya sejuk seperti Thailand dan Myanmar
hanyalah sebagian tanda.

Negeri ini juga serupa. Sepuluh tahun reformasi ditandai oleh gesekan-gesekan antarelit yang
berebut menjadi nomer satu. Di zaman pemilihan kepala daerah secara langsung, rakyat teramat
sibuk melayani elit yang semuanya mau nomer satu.

Rahasia-rahasia sentuhan

Sebagaimana ditulis Daoed Joesoef tentang ekonomi Jepang. Tiang penopang kemajuan Jepang
yang mengagumkan itu adalah ibu rumah tangga yang melaksanakan tugas keibuannya dengan
rasa bangga dan bahagia.

Cerita India juga serupa. Begitu India merdeka, dengan ikhlas Mahatma Gandhi memberikan
kursi perdana menteri kepada Nehru. Sebuah keputusan yang menyelamatkan India, sekaligus
memberikan kesempatan India bertumbuh tanpa diganggu virus perseteruan menjadi nomer satu.

Mohammad Hatta adalah legenda Indonesia. Ia berbahagia mengisi hidupnya dengan menjadi
nomer dua. Beberapa kali pun terjadi perselisihan dengan orang nomer satu ketika itu, ia
selamatkan negeri ini dengan cara berbahagia menjadi nomer dua.

Di Timur pernah lahir guru agung dengan cahaya terang benderang. Jauh sebelum ia mengalami
pencerahan, guru ini pernah lahir sebagai kura-kura. Suatu hari di tengah lautan, kura-kura ini
melihat manusia terapung. Hanya karena menempatkan hidup orang lebih penting dari hidupnya,
ia gendong manusia ini ke pinggir pantai. Setelah kelelahan di pantai, ia tertidur. Dan terbangun
dalam keadaan tubuh yang sudah diselimuti ribuan semut. Lagi-lagi karena menganggap hidup
orang lebih penting dari hidupnya, ia biarkan ribuan semut ini memakan tubuhnya sampai mati.
Padahal, hanya dengan sebuah gerakan ke arah laut, ia selamat dan ribuan semut ini mati.

Terinspirasi dari kehidupan seperti inilah, kemudian lahir orang-orang seperti Master Hsing Yun.
Dalam karya indahnya The Philosophy of Being Second, guru rendah hati yang banyak dipuji ini
bertutur mengenai rahasia hidupnya. Di salah satu pojokan bukunya ia menulis: ’you are
important, he is important, I am not’.

Terdengar aneh memang, terutama bagi mereka yang biasa menyembah ego, meletakkan nomer
satu sebagai satu-satunya kelayakan kehidupan. Namun bagi raksasa pelayanan kelas dunia
seperti Singapore Airlines dll, keberhasilan mereka disebabkan karena rajin mengajari orang-
orangnya: ’orang lain penting, saya tidak penting’. Dalai Lama is a living spiritual giant.
Mendapat hadiah nobel perdamaian dan penghargaan sivil tertinggi di AS yang membuatnya
sejajar dengan George Washington dan Paus Yohanes Paulus II. Rahasia di balik semua ini juga
serupa: musnahnya semua ego, kemudian hanya menyisakan kebajikan.

Lebih-lebih pejalan kaki di jalan Tuhan dan jalan Buddha. Hampir tidak pernah terdengar kalau
ego dan kecongkakan membawa seseorang sampai di tempat jauh. Mereka-mereka yang
dikagumi di jalan ini, hampir selalu ditandai oleh kesediaan menempatkan orang lain di nomer
satu, kemudian membangun kebahagiaan dengan membahagiakan orang lain.

Bagi seorang Master Hsing Yun malah lebih jauh lagi: being touched is the most wonderful thing
in life. Tersentuh (apa lagi sampai menitikkan air mata) adalah pengalaman batin yang menawan.
Siapa saja yang berhasil membuat orang lain tersentuh, tidak saja sedang menciptakan
kebahagiaan, juga membuat orang membangun tembok-tembok kesetiaan yang susah ditembus.

Di sebuah pojokan kehidupan guru rendah hati ini, pernah terjadi ia demikian dipuji, dikagumi.
Sehingga tidak saja dirinya yang menitikkan air mata, langit yang biru tanpa awan sedikit pun
ikut meneteskan air mata dengan menurunkan hujan. Seperti sedang bercerita, tidak ada
kecongkakan yang menyentuh hati. Kebajikan, ketulusan, kesediaan membangun kebahagiaan di
bawah kebahagiaan orang lain, itulah rahasia-rahasia sentuhan.

Alam memang penuh tanda. Ia tidak melarang manusia menjadi nomer satu. Jumlah batu yang
menjadi puncak gunung jauh lebih sedikit dibandingkan batu yang menjadi lereng dan dasar
gunung. Bila usaha hanya berujung pada nomer dua, ia sebuah pertanda mulya: kita sedang
menjadi lereng dan membuat orang lain jadi nomer satu di puncak gunung. Bukankah ini sebuah
sikap yang menyentuh?

Perlambang alam lain, kelapa tumbuh di pantai, cemara tumbuh di gunung. Mc. Clleland telah
membuat banyak manusia jadi nomer satu, lengkap dengan hawa panas ala kelapa di pantai.
Master Hsing Yun memberikan inspirasi tentang kehidupan yang menyentuh karena berbahagia
jadi nomer dua, mempersilahkan orang lain jadi nomer satu, mirip dengan cemara yang sejuk di
gunung. Bila pencinta nomer satu berfokus pada menjadi benar dan hebat, kesejukan ala cemara
berfokus pada menjadi baik dan menyentuh. Ia serupa dengan kisah tiga anak yang memilih tiga
buah pir pemberian tetangga. Murid Mc.Clleland akan memilih yang terbesar dan tersegar. Anak
yang batinnya sejuk akan memilih yang terkecil dan terjelek. Ia berbahagia melihat orang lain
menikmati buah pir yang besar dan segar. Dan Anda pun bebas memilih ikut yang mana.
Menyentuh Kedamaian
Sejumlah wisatawan yang datang ke Bali, heran membaca peringatan berbunyi: ’pemulung
dilarang masuk’ di mana-mana. Bagi yang punya empati dan memahami psiko-linguistik (ada
cermin kejiwaan dalam pilihan-pilihan kata yang digunakan dalam keseharian) akan bertanya,
ada apa di pulau kedamaian Bali?

Persahabatan, pengertian, kesabaran, kebaikan adalah ciri-ciri tempat penuh kedamaian. Dengan
banyaknya papan ’pemulung dilarang masuk’ di Bali, adakah kedamaian sudah pergi dari tempat
yang kerap disebut the last paradise ini? Maafkanlah keingintahuan. Dan kalau boleh jujur, Bali
tidak sendiri. Keseharian kehidupan di mana pun ditandai oleh semakin langkanya kedamaian.

Jangankan negara miskin seperti Botswana di Afrika yang harapan hidupnya di bawah empat
puluh tahun, sebagian manusia dewasanya positif terjangkit HIV. Amerika Serikat dan Jepang
yang dikenal makmur harus menandai diri sebagai konsumen pil tidur per kapita terbesar di
dunia, dan angka bunuh diri yang tinggi.

Mungkin langkanya kedamaian ini yang ada di balik data amat cepatnya pertumbuhan pusat
meditasi di Barat. Sebagian guru dari Timur disambut oleh komunitas Barat dengan rasa amat
lapar akan kedamaian.

Republik ini serupa. Setelah lebih dari enam dasa warsa merdeka, kedamaian tidak tambah dekat.
Kemiskinan, bencana, bunuh diri, pengangguran hanyalah sebagian data yang memperkuat.

Semakin menjauhnya kedamaian di luar inilah yang membuat banyak sekali manusia memulai
perjalanan ke dalam. Mencari cahaya penerang di dalam.
Pohon Kedamaian

Dalam perjalanan ke dalam, ada yang serupa antara pohon dengan pencinta kedamaian. Pohon
bertumbuh mendekati cahaya. Pencinta kedamaian juga serupa. Dengan keseriusan latihan, suatu
waktu hidupnya terang benderang. Makanya dalam bahasa Inggris puncak perjalanan ke dalam
disebut enlightenment (pencerahan), ada kata light (cahaya) di tengahnya. Untuk itulah,
perjalanan menyentuh kedamaian dalam tulisan ini dibuat menyerupai pohon.

Mari dimulai dengan bibit. Bibit jiwa ketika berjalan ke dalam adalah tabungan perbuatan baik
sekaligus buruk. Bukan baik–buruknya yang jadi bibit, namun bagaimana ia diolah menjadi
bibit. Kebaikan belum tentu menjadi bibit yang baik, terutama kalau kebaikan diikuti
kesombongan dan kecongkakan. Keburukan tidak otomatis menjadi bibit buruk, secara lebih
khusus kalau keburukan menjadi awal tobat mendalam serta komitmen kuat menjalani latihan
keras.

Orang baik dengan bibit yang baik jumlahnya banyak. Namun orang jahat dengan bibit yang
baik juga ada. Milarepa adalah sebuah contoh. Setelah melakukan santet yang berbuntut pada
matinya sejumlah keluarga paman dan tante yang menipunya, Milarepa dihinggapi rasa bersalah
yang mendalam. Sekaligus kesediaan untuk membayar kesalahan dengan pengorbanan berharga
berapa pun. Inilah bibit Milarepa berjalan ke dalam yang membuatnya menjadi salah satu orang
suci yang amat dikagumi di Tibet.

Lahan-lahan pertumbuhan lain lagi. Meminjam kalimat indah Kahlil Gibran, keseharian adalah
tempat ibadah yang sebenarnya. Makanya suatu hari Guru Nanak yang memiliki murid Islam

26
sekaligus Hindu yang sama banyaknya di India, ditanya mana yang lebih agung Islam atau
Hindu. Dengan sejuk dan teduh Guru Nanak menyebutkan, baik Islam mau pun Hindu sama-
sama kehilangan keagungan kalau umatnya tidak berbuat baik. Siapa saja yang mengisi
hidupnya dengan kebaikan, ia sudah menyiapkan lahan subur.

Akar pohon kedamaian adalah pikiran yang bebas dari penghakiman. Sebagaimana ditulis Ajahn
Munindo dalam The gift of well–being : ’until we enter this dimension, all our wise words will
be mere imitation’. Sebelum kita bebas dari penghakiman, maka kata-kata kita hanya barang
tiruan hambar yang tidak bergetar. Makanya mereka yang berkarya dengan kualitas kenabian
(prophetic) seperti Jalaluddin Rumi, Thich Nhat Han, Michael Naimy, Rabindranath Tagore,
dengan kata-kata yang menggetarkan, semuanya sudah lewat dari kesukaan melakukan
penghakiman. Dan siapa saja yang telah melewati ini tahu, betapa cepatnya pertumbuhan
kemudian.

Teknik yang tepat adalah batang pohonnya. Bertemu teknik yang terlalu maju, atau terlalu
rendah dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan, hanya akan membuat perjalanan hambar dan
biasa. Sehingga layak disarankan untuk mencoba berbagai teknik, kemudian rasakan. Teknik
mana pun yang menghadirkan rasa damai yang paling mendalam, bisa jadi itulah teknik yang
sesuai dengan tingkat pertumbuhan kini.

Daun rimbun kedamaian muncul ketika perjalanan ke dalam mulai menyatu dengan keseharian.
Seperti mandi, ada yang kurang kalau sehari tidak melakukan perjalanan ke dalam. Lebih dari
itu, setiap kejadian dalam keseharian (yang menyenangkan sekaligus yang menjengkelkan)
menghadirkan bimbingan-bimbingan.

Bunga pohon kedamaian mulai bermekaran tatkala keseharian mulai menyentuh kedamaian.
Hidup serupa dengan berjalan ke puncak gunung. Semakin lama semakin teduh dan sejuk. Ini
baru bayangan bulan. Bila bayangannya saja demikian indah, betapa indahnya bulan kedamaian
yang sebenarnya.

Siapa saja yang tekun dan terus menerus menyentuh kedamaian, persoalan waktu akan melihat
munculnya buah pohon kedamaian. Kedamaian yang berlawankan kesedihan memang
menghilang, ia digantikan batin tenang seimbang yang keluar dari segala dualitas.

Sejumlah sahabat Sufi yang sampai di sini berhenti memuji surga, berhenti mencaci neraka. Di
Jawa disebut suwung. Di Bali diberi sebutan Embang (Sunyi). Orang Zen menyebutnya attaining
the non attainment. Mencapai keadaan tanpa pencapaian. Yang membuat cerita pohon
kedamaian ini jadi lebih utuh, Thomas Merton pernah mengungkapkan, pekerjaan manusia yang
telah tercerahkan mirip dengan pohon. Dalam hening, dalam damai pohon mengubah karbon
dioksida menjadi oksigen yang dihirup tidak terhitung jumlah mahluk. Peraih buah kedamaian
juga serupa, ia tidak menikmati kedamaiannya sendiri. Dalam hening, dalam damai ia
menghasilkan vibrasi kedamaian, yang serupa dengan oksigen kendati tidak terlihat, namun
amat dibutuhkan oleh tidak terhitung jumlah mahluk. Sebagian orang-orang tercerahkan cara
bernafasnya berbeda. Ketika menarik nafas, ia bayangkan sedang menarik masuk semua
kekotoran. Tatkala menghembuskan nafas, ia bayangkan sedang membuang semua hal yang
bersih dan jernih.

27
Bahagia Menjadi Nomer Dua
Puluhan tahun lalu, David C Mc. Clleland pernah dikenal dengan idenya tentang masyarakat
berprestasi. Hampir setiap negara, korporasi tertarik mempercepat pertumbuhan dengan
menginjeksikan virus motivasi berprestasi. Fundamental dalam ide ini, kehidupan hanya layak
dijalani bila menjadi nomer satu. Dan sekian puluh tahun setelah ide ini berlalu, tampaknya
penyebaran virusnya masih berjalan cepat.

Di dunia korporasi, pusat pertumbuhan dari mana masa depan banyak dipersiapkan, ditandai oleh
semakin derasnya penyebaran virus ini.

Dalam pergeseran-pergeseran kekuasaan negara juga serupa. Yang berpengaruh adalah tokoh
seperti George W. Bush, John Howard yang agresif, diimbangi oleh teroris yang tidak kalah
agresif. Sebagai hasilnya, suhu hubungan antarmanusia di dunia memanas dari hari ke hari.

Soal implikasi kemajuan materi dari injeksi virus berprestasi, memang tidak diragukan. Namun
semua ada ongkosnya. Kedamaian, kebahagiaan dan kenyamanan jiwa hanyalah sebagian hal
yang mesti dikorbankan.

Isu pemanasan global yang belakangan ditiupkan ulang secara besar-besaran oleh Al Gore,
belum terlihatnya tanda-tanda perdamaian akibat serangan AS ke Afghanistan dan Irak, serta
memanasnya suhu politik di beberapa negara yang dulunya sejuk seperti Thailand dan Myanmar
hanyalah sebagian tanda.

Negeri ini juga serupa. Sepuluh tahun reformasi ditandai oleh gesekan-gesekan antarelit yang
berebut menjadi nomer satu. Di zaman pemilihan kepala daerah secara langsung, rakyat teramat
sibuk melayani elit yang semuanya mau nomer satu.

Rahasia-rahasia sentuhan

Sebagaimana ditulis Daoed Joesoef tentang ekonomi Jepang. Tiang penopang kemajuan Jepang
yang mengagumkan itu adalah ibu rumah tangga yang melaksanakan tugas keibuannya dengan
rasa bangga dan bahagia.

Cerita India juga serupa. Begitu India merdeka, dengan ikhlas Mahatma Gandhi memberikan
kursi perdana menteri kepada Nehru. Sebuah keputusan yang menyelamatkan India, sekaligus
memberikan kesempatan India bertumbuh tanpa diganggu virus perseteruan menjadi nomer satu.

Mohammad Hatta adalah legenda Indonesia. Ia berbahagia mengisi hidupnya dengan menjadi
nomer dua. Beberapa kali pun terjadi perselisihan dengan orang nomer satu ketika itu, ia
selamatkan negeri ini dengan cara berbahagia menjadi nomer dua.

Di Timur pernah lahir guru agung dengan cahaya terang benderang. Jauh sebelum ia mengalami
pencerahan, guru ini pernah lahir sebagai kura-kura. Suatu hari di tengah lautan, kura-kura ini
melihat manusia terapung. Hanya karena menempatkan hidup orang lebih penting dari hidupnya,
ia gendong manusia ini ke pinggir pantai. Setelah kelelahan di pantai, ia tertidur. Dan terbangun
dalam keadaan tubuh yang sudah diselimuti ribuan semut. Lagi-lagi karena menganggap hidup

28
orang lebih penting dari hidupnya, ia biarkan ribuan semut ini memakan tubuhnya sampai mati.
Padahal, hanya dengan sebuah gerakan ke arah laut, ia selamat dan ribuan semut ini mati.

Terinspirasi dari kehidupan seperti inilah, kemudian lahir orang-orang seperti Master Hsing Yun.
Dalam karya indahnya The Philosophy of Being Second, guru rendah hati yang banyak dipuji ini
bertutur mengenai rahasia hidupnya. Di salah satu pojokan bukunya ia menulis: ’you are
important, he is important, I am not’.

Terdengar aneh memang, terutama bagi mereka yang biasa menyembah ego, meletakkan nomer
satu sebagai satu-satunya kelayakan kehidupan. Namun bagi raksasa pelayanan kelas dunia
seperti Singapore Airlines dll, keberhasilan mereka disebabkan karena rajin mengajari orang-
orangnya: ’orang lain penting, saya tidak penting’. Dalai Lama is a living spiritual giant.
Mendapat hadiah nobel perdamaian dan penghargaan sivil tertinggi di AS yang membuatnya
sejajar dengan George Washington dan Paus Yohanes Paulus II. Rahasia di balik semua ini juga
serupa: musnahnya semua ego, kemudian hanya menyisakan kebajikan.

Lebih-lebih pejalan kaki di jalan Tuhan dan jalan Buddha. Hampir tidak pernah terdengar kalau
ego dan kecongkakan membawa seseorang sampai di tempat jauh. Mereka-mereka yang
dikagumi di jalan ini, hampir selalu ditandai oleh kesediaan menempatkan orang lain di nomer
satu, kemudian membangun kebahagiaan dengan membahagiakan orang lain.

Bagi seorang Master Hsing Yun malah lebih jauh lagi: being touched is the most wonderful thing
in life. Tersentuh (apa lagi sampai menitikkan air mata) adalah pengalaman batin yang menawan.
Siapa saja yang berhasil membuat orang lain tersentuh, tidak saja sedang menciptakan
kebahagiaan, juga membuat orang membangun tembok-tembok kesetiaan yang susah ditembus.

Di sebuah pojokan kehidupan guru rendah hati ini, pernah terjadi ia demikian dipuji, dikagumi.
Sehingga tidak saja dirinya yang menitikkan air mata, langit yang biru tanpa awan sedikit pun
ikut meneteskan air mata dengan menurunkan hujan. Seperti sedang bercerita, tidak ada
kecongkakan yang menyentuh hati. Kebajikan, ketulusan, kesediaan membangun kebahagiaan di
bawah kebahagiaan orang lain, itulah rahasia-rahasia sentuhan.

Alam memang penuh tanda. Ia tidak melarang manusia menjadi nomer satu. Jumlah batu yang
menjadi puncak gunung jauh lebih sedikit dibandingkan batu yang menjadi lereng dan dasar
gunung. Bila usaha hanya berujung pada nomer dua, ia sebuah pertanda mulya: kita sedang
menjadi lereng dan membuat orang lain jadi nomer satu di puncak gunung. Bukankah ini sebuah
sikap yang menyentuh?

Perlambang alam lain, kelapa tumbuh di pantai, cemara tumbuh di gunung. Mc. Clleland telah
membuat banyak manusia jadi nomer satu, lengkap dengan hawa panas ala kelapa di pantai.
Master Hsing Yun memberikan inspirasi tentang kehidupan yang menyentuh karena berbahagia
jadi nomer dua, mempersilahkan orang lain jadi nomer satu, mirip dengan cemara yang sejuk di
gunung. Bila pencinta nomer satu berfokus pada menjadi benar dan hebat, kesejukan ala cemara
berfokus pada menjadi baik dan menyentuh. Ia serupa dengan kisah tiga anak yang memilih tiga
buah pir pemberian tetangga. Murid Mc.Clleland akan memilih yang terbesar dan tersegar. Anak
yang batinnya sejuk akan memilih yang terkecil dan terjelek. Ia berbahagia melihat orang lain
menikmati buah pir yang besar dan segar. Dan Anda pun bebas memilih ikut yang mana.

29
Menyentuh Kedamaian
Sejumlah wisatawan yang datang ke Bali, heran membaca peringatan berbunyi: ’pemulung dilarang
masuk’ di mana-mana. Bagi yang punya empati dan memahami psiko-linguistik (ada cermin kejiwaan
dalam pilihan-pilihan kata yang digunakan dalam keseharian) akan bertanya, ada apa di pulau kedamaian
Bali?

Persahabatan, pengertian, kesabaran, kebaikan adalah ciri-ciri tempat penuh kedamaian. Dengan
banyaknya papan ’pemulung dilarang masuk’ di Bali, adakah kedamaian sudah pergi dari tempat yang
kerap disebut the last paradise ini? Maafkanlah keingintahuan. Dan kalau boleh jujur, Bali tidak sendiri.
Keseharian kehidupan di mana pun ditandai oleh semakin langkanya kedamaian.

Jangankan negara miskin seperti Botswana di Afrika yang harapan hidupnya di bawah empat puluh tahun,
sebagian manusia dewasanya positif terjangkit HIV. Amerika Serikat dan Jepang yang dikenal makmur
harus menandai diri sebagai konsumen pil tidur per kapita terbesar di dunia, dan angka bunuh diri yang
tinggi.

Mungkin langkanya kedamaian ini yang ada di balik data amat cepatnya pertumbuhan pusat meditasi di
Barat. Sebagian guru dari Timur disambut oleh komunitas Barat dengan rasa amat lapar akan kedamaian.

Republik ini serupa. Setelah lebih dari enam dasa warsa merdeka, kedamaian tidak tambah dekat.
Kemiskinan, bencana, bunuh diri, pengangguran hanyalah sebagian data yang memperkuat.

Semakin menjauhnya kedamaian di luar inilah yang membuat banyak sekali manusia memulai perjalanan
ke dalam. Mencari cahaya penerang di dalam.
Pohon Kedamaian

Dalam perjalanan ke dalam, ada yang serupa antara pohon dengan pencinta kedamaian. Pohon bertumbuh
mendekati cahaya. Pencinta kedamaian juga serupa. Dengan keseriusan latihan, suatu waktu hidupnya
terang benderang. Makanya dalam bahasa Inggris puncak perjalanan ke dalam disebut enlightenment
(pencerahan), ada kata light (cahaya) di tengahnya. Untuk itulah, perjalanan menyentuh kedamaian dalam
tulisan ini dibuat menyerupai pohon.

Mari dimulai dengan bibit. Bibit jiwa ketika berjalan ke dalam adalah tabungan perbuatan baik sekaligus
buruk. Bukan baik–buruknya yang jadi bibit, namun bagaimana ia diolah menjadi bibit. Kebaikan belum
tentu menjadi bibit yang baik, terutama kalau kebaikan diikuti kesombongan dan kecongkakan.
Keburukan tidak otomatis menjadi bibit buruk, secara lebih khusus kalau keburukan menjadi awal tobat
mendalam serta komitmen kuat menjalani latihan keras.

Orang baik dengan bibit yang baik jumlahnya banyak. Namun orang jahat dengan bibit yang baik juga
ada. Milarepa adalah sebuah contoh. Setelah melakukan santet yang berbuntut pada matinya sejumlah
keluarga paman dan tante yang menipunya, Milarepa dihinggapi rasa bersalah yang mendalam. Sekaligus
kesediaan untuk membayar kesalahan dengan pengorbanan berharga berapa pun. Inilah bibit Milarepa
berjalan ke dalam yang membuatnya menjadi salah satu orang suci yang amat dikagumi di Tibet.

Lahan-lahan pertumbuhan lain lagi. Meminjam kalimat indah Kahlil Gibran, keseharian adalah tempat
ibadah yang sebenarnya. Makanya suatu hari Guru Nanak yang memiliki murid Islam sekaligus Hindu
yang sama banyaknya di India, ditanya mana yang lebih agung Islam atau Hindu. Dengan sejuk dan teduh
Guru Nanak menyebutkan, baik Islam mau pun Hindu sama-sama kehilangan keagungan kalau umatnya
tidak berbuat baik. Siapa saja yang mengisi hidupnya dengan kebaikan, ia sudah menyiapkan lahan subur.

Akar pohon kedamaian adalah pikiran yang bebas dari penghakiman. Sebagaimana ditulis Ajahn Munindo
dalam The gift of well–being : ’until we enter this dimension, all our wise words will be mere imitation’.
Sebelum kita bebas dari penghakiman, maka kata-kata kita hanya barang tiruan hambar yang tidak
bergetar. Makanya mereka yang berkarya dengan kualitas kenabian (prophetic) seperti Jalaluddin Rumi,
Thich Nhat Han, Michael Naimy, Rabindranath Tagore, dengan kata-kata yang menggetarkan, semuanya
sudah lewat dari kesukaan melakukan penghakiman. Dan siapa saja yang telah melewati ini tahu, betapa
cepatnya pertumbuhan kemudian.

30
Teknik yang tepat adalah batang pohonnya. Bertemu teknik yang terlalu maju, atau terlalu rendah
dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan, hanya akan membuat perjalanan hambar dan biasa. Sehingga
layak disarankan untuk mencoba berbagai teknik, kemudian rasakan. Teknik mana pun yang
menghadirkan rasa damai yang paling mendalam, bisa jadi itulah teknik yang sesuai dengan tingkat
pertumbuhan kini.

Daun rimbun kedamaian muncul ketika perjalanan ke dalam mulai menyatu dengan keseharian. Seperti
mandi, ada yang kurang kalau sehari tidak melakukan perjalanan ke dalam. Lebih dari itu, setiap kejadian
dalam keseharian (yang menyenangkan sekaligus yang menjengkelkan) menghadirkan bimbingan-
bimbingan.

Bunga pohon kedamaian mulai bermekaran tatkala keseharian mulai menyentuh kedamaian. Hidup serupa
dengan berjalan ke puncak gunung. Semakin lama semakin teduh dan sejuk. Ini baru bayangan bulan. Bila
bayangannya saja demikian indah, betapa indahnya bulan kedamaian yang sebenarnya.

Siapa saja yang tekun dan terus menerus menyentuh kedamaian, persoalan waktu akan melihat munculnya
buah pohon kedamaian. Kedamaian yang berlawankan kesedihan memang menghilang, ia digantikan batin
tenang seimbang yang keluar dari segala dualitas.

Sejumlah sahabat Sufi yang sampai di sini berhenti memuji surga, berhenti mencaci neraka. Di Jawa
disebut suwung. Di Bali diberi sebutan Embang (Sunyi). Orang Zen menyebutnya attaining the non
attainment. Mencapai keadaan tanpa pencapaian. Yang membuat cerita pohon kedamaian ini jadi lebih
utuh, Thomas Merton pernah mengungkapkan, pekerjaan manusia yang telah tercerahkan mirip dengan
pohon. Dalam hening, dalam damai pohon mengubah karbon dioksida menjadi oksigen yang dihirup tidak
terhitung jumlah mahluk. Peraih buah kedamaian juga serupa, ia tidak menikmati kedamaiannya sendiri.
Dalam hening, dalam damai ia menghasilkan vibrasi kedamaian, yang serupa dengan oksigen kendati
tidak terlihat, namun amat dibutuhkan oleh tidak terhitung jumlah mahluk. Sebagian orang-orang
tercerahkan cara bernafasnya berbeda. Ketika menarik nafas, ia bayangkan sedang menarik masuk semua
kekotoran. Tatkala menghembuskan nafas, ia bayangkan sedang membuang semua hal yang bersih dan
jernih.

31