Anda di halaman 1dari 74

PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE

ANAK (PPIA)

Dr. Milwiyandia , MARS


Direktorat Bina Kesehatan Ibu
Disampaikan pada:
Pertemuan TOT Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB)
Jakarta, 4 Desember 2014

KERANGKA PENYAJIAN

1. PPIA (Pengertian, tujuan dan sasaran PPIA)


2. Kebijakan PPIA
3. Tatalaksana Kehamilan , Persalinan dan Nifas Pada

Ibu HIV
4. Tatalaksana Bayi Lahir Dari Ibu HIV
5. Indikator PPIA

Pengertian ,Tujuan dan sasaran Program PPIA

Pengertian PPIA
PPIA adalah upaya yang ditujukan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak
yang dilakukan secara terintegrasi dan kompre- hensif dengan program-program
lainnya yang berkaitan dengan pengendalian HIV-AIDS.
Tujuan PPIA:
Menurunkan jumlah kasus baru HIV pada anak serendah
Menurunkan kematian ibu dan anak akibat AIDS serendah mungkin
Meningkatkan kualitas hidup ibu hamil dan anak dengan HIV

Lanjutan,

Sasaran Program PPIA


1. Perempuan usia reproduktif (15-49 tahun), termasuk remaja dan populasi risti
2. Perempuan HIV dan pasangannya
3. Perempuan HIV yang hamil dan pasangannya
4. Perempuan HIV, anak dan keluarganya.

Mengapa diperlukan PPIA ?

RISIKO PENULARAN HIV DARI IBU KE BAYI-ANAK


Selama kehamilan

5 - 10 %

Saat persalinan

10 - 20 %

Selama menyusui (rata-rata 15%)

5 - 15 %

Keseluruhan

20-45 %

Kegiatan PPIA Komprehensif

kegiatan komprehensif yang meliputi 4 komponen/ Prong meliputi:


1.

2.
3.

4.

Prong (1)Mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia reproduksi


Prong (2) Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu dengan HIV
Prong (3) Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV ke bayi yang
dikandungnya
Prong (4) Memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu HIV
beserta bayi dan keluarganya.

Prong 1. Mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia reproduksi

Langkah dini yang paling efektif untuk mencegah terjadinya penularan HIV pada bayi adalah dengan mencegah
perempuan usia reproduksi tertular HIV. Komponen ini dapat juga dinamakan pencegahan primer (Primary
prevention)

Untuk menghindari penularan HIV, dengan menggunakan konsep ABCDE sebagai berikut.
1. A (Abstinence): artinya Absen seks atau tidak melakukan hubungan seks bagi yang belum menikah.
2. B (Be faithful): artinya Bersikap saling setia kepada satu pasangan seks (tidak berganti-ganti pasangan).
3. C (Condom): artinya Cegah penularan HIV melalui hubungan seksual dengan menggunakan kondom.
4. D (Drug No): artinya Dilarang menggunakan narkoba.
5. E (Education) : artinya pemberian Edukasi dan informasi yang benar mengenai HIV, cara penularan,
pencegahan dan pengobatannya

Lanjutan Prong 1,

1. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk pencegahan primer antara lain :


2. KIE tentang HIV-AIDS dan kesehatan reproduksi, baik secara individu atau
kelompok kepada masyarakat dengan sasaran khusus perempuan usia reproduksi.
3. Dukungan psikologis kepada perempuan usia reproduksi dengan perilaku berisiko,
pekerjaan berisiko dan rentan tertular HIV (penerima donor darah, pasangan
dengan perilaku/pekerjaan berisiko) agar bersedia melakukan pemeriksaan HIV.
4. Dukungan sosial dan perawatan bila hasil tes positif

Prong 2. Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada


ibu dengan HIV
Perempuan dengan HIV dan pasangannya perlu merencanakan dengan seksama
sebelum memutuskan untuk ingin punya anak. Perempuan dengan HIV
memerlukan kondisi khusus yang AMAN untuk hamil, bersalin, nifas dan menyusui.
Aman untuk ibu terhadap komplikasi kehamilan akibat keadaan daya tahan tubuh
yang rendah, dan aman untuk bayi terhadap penularan HIV selama kehamilan,
proses persalinan dan masa laktasi.
Perempuan dengan HIV dan pasangannya harus dapat mengakses layanan yang
menyediakan informasi dan sarana kontrasepsi guna mencegah kehamilan yang
tidak direncanakan.

Lanjutan Prong 2
1. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut.
2. Meningkatkan akses ODHA ke layanan yang menyediakan informasi dan sarana
pelayanan kontrasepsi yang aman dan efektif
3. Memberikan pelayanan dan Konseling yang berkualitas mengenai perencanaan
kehamilan dan pemilihan metode kontrasepsi yang sesuai dan kehidupan seksual
yang aman termasuk penanganan komplikasi.
4. Menyediakan alat dan obat kontrasepsi yang sesuai untuk perempuan dengan HIV.
5. Memberikan Dukungan psikologis , sosial, medis dan keperawatan

Prong 3. Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil


HIV positif ke bayi yang dikandungnya
kegiatan sebagai berikut:
1.
tes HIV
2.
Diagnosis HIV
3.
Pemberian terapi antiretroviral
4.
Konseling persalinan serta KB pasca persalinan.
5.
Konseling menyusui dan pemberian makanan bagi bayi dan anak , menyusui dan KB.
6.
Konseling pemberian profilaksis ARV dan kotrimoksazol pada anak.
7.
Persalinan yang aman dan pelayanan KB pasca persalinan.
8.
Pemberian profilaksis ARV pada bayi
9.
Memberikan dukungan Psikologis, sosial dan keperawatan bagi ibu selama hamil,
bersalin dan bayinya.

Prong 4. Memberikan dukungan psikologis, sosial dan Medis


perawatan kepada ibu HIV beserta bayi dan keluarganya
Dukungan Medis Keperawatan

Dukungan bagi ibu:


1. pemeriksaan dan pemantauan kondisi kesehatan
2. pengobatan dan pemantauan terapi ARV
3. pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik
4. konseling dan dukungan kontrasepsi dan pengaturan kehamilan
5. konseling dan dukungan asupan gizi
6. layanan klinik dan rumah sakit yang bersahabat
7. kunjungan rumah.

Prong 4. Memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu HIV beserta bayi dan
keluarganya

Dukungan bagi bayi:


1. diagnosis HIV pada bayi dan anak.
2. pemberian kotrimoksazol Profilaksis
3. pemberian ARV pada bayi HIV.
4. informasi dan edukasi pemberian makanan bayi dan anak
5. Pemeliharaan kesehatan dan Pemantauan tumbuh kembang anak
6. Pemberian imunisasi

Dukungan Bagi Keluarga


Penyuluhan kepada anggota keluarga tentang cara penularan HIV dan pencegahannya
serta penggerakan dukungan masyarakat bagi keluarga dengan atau terdampak HIV.

Lanjutan Prong 4,

Dukungan Psikososial
Pemberian dukungan psikologis dan sosial kepada ibu HIV dan keluarganya adalah penting, mengingat ibu HIV maupun ODHA
menghadapi masalah psikososial, seperti stigma dan diskriminasi, depresi, pengucilan dari lingkungan sosial dan keluarga,
masalah dalam pekerjaan, ekonomi dan pengasuhan anak.

Dukungan psikososial dapat diberikan oleh pasangan dan keluarga, kelompok dukungan sebaya, kader kesehatan, tokoh agama
dan masyarakat, tenaga kesehatan dan Pemerintah.
Bentuk dukungan psikososial ada 4, yaitu:
1. Dukungan emosional, berupa empati dan kasih sayang

2. Dukungan penghargaan, berupa sikap dan dukungan positif


3. Dukungan instrumental, berupa dukungan untuk ekonomi keluarga
4. Dukungan informasi, berupa semua informasi terkait HIV-AIDS dan seluruh layanan pendukungnya, termasuk informasi
tentang kontak petugas kesehatan/ LSM/ kelompok dukungan sebaya

Kebijakan Terkait PPIA


1.

2.
3.
4.

5.

6.

SE Menkes No GK/ Menkes/001/1/2013 tentang layanan PPIA


Permenkes no 51 Tahun 2013 Tentang Pedoman PPIA
Permenkes No 21 tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS
SE Menkes No 129 tahun 2013 tentang pelaksanaan Pengendalian HIVAIDS dan IMS
SE Dirjen P2PL No HK.02.03/0/III/2/823/2013 tentang alokasi
pembiayaan Logistik Program Pengendalian HIV-AIDS dan IMS
SE Dirjen BUK tentang Penyelenggaraan Pelayanan orang dengan HIVAIDS di Rumah sakit

Surat Edaran Menteri Kesehatan


No.GK/MENKES/001/I/2013
Tentang
Layanan Pencegahan Penularan HIV
dari Ibu ke Anak (PPIA)

Kebijakan PPIA(SE MENTERI KESEHATAN NO.GK/MENKES/001/I/2013)

1. Melaksanakan pelayanan pencegahan penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA)


untuk diintegrasikan pada layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga
Berencana (KB) dan konseling remaja di setiap jenjang pelayanan kesehatan
dengan ekspansi secara bertahap dan dapat melibatkan peran swasta serta
LSM.
2. PPIA dalam pelayanan KIA merupakan bagian dari Program Nasional
Pengendalian HIV-AIDS dan IMS.
3. Setiap perempuan yang datang ke layanan KIA-KB dan remaja harus
mendapat informasi mengenai PPIA.

4.

5.

6.

Di daerah epidemi HIV meluas dan terkonsentrasi, tenaga kesehatan di fasilitas


pelayanan kesehatan wajib menawarkan tes HIV kepada semua ibu hamil
secara inklusif pada pemeriksaan laboratorium rutin lainnya saat pemeriksaan
antenatal atau menjelang persalinan.
Di daerah epidemi HIV rendah, penawaran tes HIV oleh tenaga kesehatan
diprioritaskan pada ibu hamil dengan IMS dan TB secara inklusif pada
pemeriksaan laboratorium rutin lainnya saat pemeriksaan antenatal atau
menjelang persalinan.
Untuk daerah yang belum mempunyai tenaga kesehatan yang mampu /
berwenang memberikan pelayanan PPIA dapat dilakukan dengan cara :
a. Merujuk ibu hamil ke fasilitas pelayanan HIV yang memadai
b. Pelimpahan wewenang (task shifting) kepada tenaga kesehatan lain yang
terlatih. Penetapan daerah yang memerlukan task shifting petugas
dilakukan oleh Kepala Dinas Kesehatan setempat.

7. Setiap ibu hamil

yang positif HIV wajib diberi obat ARV dan mendapatkan


pelayanan perawatan, dukungan dan pengobatan lebih lanjut (PDP).
8. Kepala Dinas Kesehatan merencanakan ketersediaan logistik (obat dan
pemeriksaan tes HIV) berkoordinasi dengan Ditjen P2PL, Kemenkes.
9. Pelaksanaan pertolongan persalinan baik secara per vaginam atau per
abdominam harus memperhatikan indikasi obstetrik ibu dan bayinya serta
harus menerapkan kewaspadaan standar
10.Sesuai dengan kebijakan program bahwa makanan terbaik untuk bayi adalah
pemberian ASI secara ekslusif selama 0-6 bulan, maka ibu dengan HIV perlu
mendapat konseling laktasi dengan baik sejak perawatan antenatal pertama.
Namun apabila ibu memilih lain (pengganti ASI) maka, ibu, pasangan, dan
keluarganya perlu mendapat konseling makanan bayi yang memenuhi
persyaratan teknis.

KTIP

Tes HIV

Positif

Negatif

Konseling pasca Tes HIV

Konseling Pasca Tes HIV

Rujuk Ke RS PDP untuk


mendapatkan ARV

INTEGRASI PPIA DALAM LAYANAN KIA

Alur integrasi PPIA di pelayanan KB


Klien
pelayanan KB

Poli KB/Klinik KB

Anamnesis :
identitas, metode KB yang diinginkan, status kesehatan
(riwayat penyakit), status Kespro (hamil/tidak hamil/pasca
keguguran, 4T, risiko IMS)

Konseling pra pelayanan:


Informasi ringkas berbagai metode kontrasepsi, pemilihan
metode KB

Klien KB dengan Faktor


risiko/keluhan dan gejala IMS

Pemeriksaan Fisik
Umum, organ reproduksi dan gejala IMS ( Duh tubuh,
ulkus/luka pada alat kelamin,vegetasi dll )
Pelayanan Kontrasepsi :
Informasikan hasil pemeriksaan, bahas kondisi dengan metode
yang dipilih, berikan pelayanan kontrasepsi dan penjelasan
tindakan

Konseling pasca pelayanan :


Informasi lengkap tenang metode KB yang diberikan,
termasuk kunjungan ulang

Rujuk ke KTS/Poli IMS


Tawarkan tes HIV
Anjurkan pengunaan kondom
secara konsisten

Klien KB

Reaktif

Non Reaktif

Konseling agar tetap


negatif
Ingin hamil

Tidak mau Hamil

Memenuhi Syarat

Tawarkan pilihan Kontrasepsi


Ya

Boleh Hamil

Tidak

Perencanaan Kehamilan

INTEGRASI PELAYANAN KESEHATAN REMAJA

Informasi dan edukasi HIV-AIDS termasuk PPIA


Remaja

Sekolah: UKS

Luar Sekolah/masyarakat

Puskesmas PKPR,

PIK-R,PIK-M

KIE :
-Penyuluhan pada
Masa Orientasi
Sekolah (MOS)
-Penyuluhan rutin

Konseling
Pribadi :
Guru BK, KS,
dll

KIE

Konseling

Rujuk bila tidak


dapat ditangani

Konseling dan KIE

PENATALAKSANAAN PADA
KEHAMILAN, BERSALIN DAN NIFAS
PADA IBU HIV

Penatalaksanaan Antenatal

1/4

Asuhan Antenatal seperti biasanya


Ukur Tinggi Badan, Berat Badan, LILA, Tinggi Fundus Uteri, Tekanan Darah, DJJ Bayi, Status
Tetanus Toksoid, tablet tambah darah
Laboratorium Hemoglobin, Proteinurin, GD puasa, Golongan darah dll
Deteksi dini faktor resiko atau penyulit

Pelihara kesehatan secara umum


Pola hidup sehat (diit seimbang, tidak merokok, tidak minum alkohol, olahraga teratur, istirahat
cukup)
Minum roboransia

Kurangi kadar virus (Viral Load)


Minum ARV profilaksis secara teratur
Dianjurkan untuk pemeriksaan VL pada usia kehamilan 36 minggu ke atas

Penatalaksanaan Antenatal

3/4

Hindari penularan ke pasangan


Perilaku seksual sehat, setia pada pasangan
Selalu menggunakan kondom
Periksa status serologis HIV pasangan seksual

Konseling persiapan persalinan


Perlu dilakukan konseling kepada ibu, pasangan dan keluarga mengenai manfaat dan risiko
persalinan pervaginam dan persalinan dengan seksio sesarea berencana
Cara persalinan: Seksio sesarea/ pervaginam
Tempat persalinan dianjurkan di RS rujukan ARV

Penatalaksanaan Antenatal

4/4

Konseling pemberian makanan bayi


Perlu dilakukan konseling kepada ibu, pasangan dan keluarga
mengenai manfaat dan risiko pemberian ASI Eksklusif dan Susu
Formula Eksklusif
Perlu diberikan dukungan terhadap ibu mengenai keputusan terhadap
pilihan pemberian makanan bayi.
Apabila pilihan adalah ASI Eksklusif maka dijelaskan mengenai
manajemen laktasi.
Apabila pilihan adalah Susu Formula Eksklusif maka dijelaskan
mengenai syarat AFASS dan cara mencapainya.
Halama
n 27
Mazami Enterprise 2009

Modul 4,

Tujuan Penatalaksanaan Obstetri

Persalinan yang aman


Kondisi ibu baik
Tidak terjadi penularan
Ke Bayi
Ke Tim Penolong
Ke Pasien lainnya

Tindakan efektif dan efisien


Halama
n 28

Modul 4,

Risiko penularan masa persalinan

His tekanan pada plasenta meningkat


Terjadi sedikit pencampuran antara darah ibu dengan darah bayi

Lebih sering terjadi jika plasenta meradang/ terinfeksi

Bayi terpapar darah dan lendir serviks pada saat


melewati jalan lahir

Bayi kemungkinan terinfeksi karena menelan darah dan


lendir serviks pada saat resusitasi

Penatalaksanaan Persalinan

1/4

Pemilihan rute persalinan tergantung


Status obstetri
Status PPIA: ARV dan viral load

Kesiapan petugas medis: Kewaspadaan standar, SDM, sarana medis &


non medis

Persyaratan untuk persalinan pervaginam


Ibu sdh minum ARV teratur 6 bulan dan atau,
Muatan virus/ kadar viral load < 1000 kopi/mm3 pada minggu ke-36)

Penatalaksanaan Masa Nifas

1/2

Perawatan nifas umum


Pemeriksaan tanda vital, involusi uterus
Higiene genitalia dan payudara
Nutrisi cukup, istirahat cukup

Perawatan nifas khusus


Pastikan ibu telah menentukan pilihan pemberian makanan untuk bayi
Supresi laktasi apabila ibu memilih untuk tidak menyusui
Anjuran pemeriksaan CD4, untuk menilai kelayakan terapi ARV
berikutnya
Halama
n 31
Mazami Enterprise 2009

Modul 4,

Halaman 32

Keluarga Berencana dan Perencanaan Kehamilan

KONTRASEPSI UNTUK ODHA


Halaman 33

1. Kontrasepsi mantap atau sterilisasi: dengan adanya risiko penularan HIV ke bayi, bila ibu dengan HIV sudah
memiliki jumlah anak yang cukup, dipertimbangkan kontrasepsi mantap.
2. Kontrasepsi jangka panjang:
a. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR): bila risiko IMS rendah dan pasangannya tidak berisiko IMS. Syaratsyarat pemasangan AKDR mengikuti standar
b. Hormonal :

Pil KB kombinasi: aman dan efektif untuk perempuan dengan HIV yang tidak dalam terapi obat ARV dan
obat lain yang dapat meningkatkan enzim hati. ARV dapat menurunkan efektivitas pil KB kombinasi.
Pil progesteron: direkomendasikan bagi perempuan dengan HIV yang tidak dalam terapi obat ARV, karena
ARV menurunkan efektivitas pil progesteron.
Suntik progesteron jangka panjang: DMPA dapat digunakan bagi perempuan dengan HIV yang diberi ART
tanpa kehilangan efektivitas kontrasepsi. Metabolisme DMPA tidak dipengaruhi oleh obat ARV dan tetap
dapat diberikan dengan interval 12 minggu.
Implan progesteron: implan etonorgestrel adalah kontrasepsi yang amat efektif dan aman pada
perempuan dengan HIV yang tidak dalam terapi obat ARV.

Persiapan ODHA Yang Ingin Punya Anak


Halaman 34

Pasangan ODHA

Perempuan ODHA

Pemeriksaan kadar CD4 dan viral load,


untuk mengetahui apakah sudah layak
untuk hamil

Bila VL tidak terdeteksi atau kadar CD4


lebih dari 350 sel/mm3, sanggama tanpa
kontrasepsi dapat dilakukan, terutama pada
masa subur.

Bila kadar CD4 masih kurang dari 350


sel/mm3, minum ARV secara teratur dan
disiplin minimal selama enam bulan dan
tetap menggunakan kondom selama
sanggama

Bila dipastikan serologis HIV non-reaktif


(negatif), maka kapan pun boleh sanggama
tanpa kondom, setelah pihak perempuan
dipastikan layak untuk hamil.

Apabila serologis reaktif (positif), perlu


dilakukan pemeriksaan viral load, untuk
mengetahui risiko penularan.

Apabila VL tidak terdeteksi sanggama tanpa


kontrasepsi dapat dilakukan pada masa subur
pasangan.

Apabila VL masih terdeteksi atau kadar CD4


kurang dari 350 sel/mm3, maka sebaiknya
rencana kehamilan ditunda dulu.

TATALAKSANA BAYI YANG LAHIR DARI IBU HIV (+)

Penanganan bayi saat persalinan

Gunakan sarung tangan saat terpapar dengan darah atau cairan


tubuh
Jepit dan potong tali pusat dengan hati-hati untuk mengurangi
kontaminasi percikan darah
Keringkan dan bersihkan kulit bayi dengan kain hangat untuk
mengurangi kontaminasi darah atau cairan tubuh ibu sebelum pindah
ke ruang perawatan
Hindari penggunaaan gastric tube yang tidak perlu untuk mencegah
trauma mukosa
Berikan vitamin K dan vaksinasi rutin

Profilaksis ARV

Pemberian AZT pada bayi normal


AZT 4mg/ KgBB/, 2Xsehari mulai hari pertama hingga 6 minggu (golden peroide 12
jam setelah lahir)
Pemberian AZT (Zidovudine) pada bayi prematur:
Bayi

<30 minggu:

dosis

2 mg/kg/12 jam selama 4 minggu


2mg/kg/8 jam selama 2 minggu
Bayi

30-35 minggu:

dosis

2 mg/kg/12 jam selama 2 minggu pertama


2mg/kg/8 jam selama 2 minggu kedua
4 mg/kg/12 jam selama 2 minggu terakhir

Profilaksis Kotrimoksasol

Diberikan pada semua bayi terekspos HIV (bayi lahir dari ibu HIV) dari
usia 6 minggu (termasuk atau tidak dalam program PMTCT)
Diberikan sampai infeksi HIV sudah disingkirkan DAN ibu sudah tidak
memberikan lagi ASI
Mencegah Pneumocystis Jirovecii Pneumonia dan juga efektif
mencegah toxoplasmosis dan beberapa infeksi bakteri seperti
Salmonella, Haemophilus, Staphylococcus

JOINT WHO/UNAIDS/UNICEF STATEMENT ON USE OF COTRIMOXAZOLE AS PROPHYLAXIS IN HIV EXPOSED


AND HIV INFECTED CHILDREN

Profilaksis Kotrimoksasol

Dosis: 4-6 mg/kg BB TMP 1x/hari, setiap hari


Sediaan: Sirup 40 mg (TMP) tiap 5 mL, tablet 80 mg (TMP) dan 160
mg (TMP)
Efek samping: reaksi berat seperti Stevens Johnson syndrome,
insufisiensi ginjal dan/atau hati atau toksisitas hematologi berat
jarang pada bayi

Nutrisi apa yang terbaik untuk bayi dari ibu HIV


?

Transmisi vertikal HIV


Tanpa intervensi:
Risiko 5-10%

Risiko 10-20%

Risiko 10-15%

Intrauterin

intrapartum

Pasca persalinan

Antiretrovirus
(ARV)

ARV
SC/Pervaginam

Bayi: ARV, Pemberian


Nutrisi Pada Bayi

Intervensi/PMTCT

Probabilitas kumulatif terinfeksi HIV


40
35
30
25
20
15
10

Mixed feeding

No Breastfeeding
Exclusive breastfeeding

5
0

AIDS. 2001;15:379-87

Prinsip Pemberian Nutrisi Pada Bayi Lahir dari Ibu


HIV

Konseling pemilihan makanan bayi yang terkait risiko penularan HIV


diberikan sejak sebelum persalinan.
Pengambilan keputusan dapat dilakukan oleh ibu/keluarga setelah
mendapat informasi dan konseling secara lengkap. Pilihan apapun
yang diambil seorang ibu haruslah didukung.
Pilihan yang diambil haruslah antara ASI saja atau susu formula saja
( tidak boleh mixed feeding).
Jika Ibu memilih ASI berikan pengetahuan mengenai Manajemen
Laktasi, bila memilih susu formula berikan pengetahuan mengenai
cara penyiapan susu formula yg baik

ASI ?

ASI memberikan nutrisi optimal bagi bayi selama 612 bulan pertama
ASI menurunkan risiko morbiditas dan mortalitas
pada satu tahun pertama. (WHO Collaborative Study, Lancet
2002)
Photo from Kenya - IBFAN-Africa

Masalah: ASI memiliki risiko transmisi HIV

Meski ASI mengandung semua unsur yang diperlukan untuk nutrisi


bayi yang sempurna, ASI juga bisa mengandung virus HIV
Penularan bisa terjadi sepanjang masa menyusui
Risiko absolut ibu menularkan HIV melalui ASI adalah 10%
(40% bayi yang terinfeksi HIV: melalui pemberian ASI)

Jika bayi telah diketahui HIV positif

Sangat dianjurkan ASI eksklusif untuk usia 6 bulan pertama


Setelah usia 6 bulan diberi MP-ASI dan ASI diteruskan hingga 2
tahun.

Metode pemanasan ASI


1. Cara cepat (flash heating)
Letakkan ASI perah dalam wadah terbuka berbahan gelas dalam
panci berisi air, panaskan panci sampai air mendidih. Matikan api,
segera angkat ASI perah, tutup dan biarkan berangsur dingin
2. Pasteurisasi cara Pretoria
letakkan ASI dalam tempat berbahan gelas, tutup,
masukkan kedalam air panas yang sudah dididihkan selama 20
menit, lalu angkat dan biarkan dingin

Donor ASI

Harus memenuhi syarat:


Permintaan ibu kandung atau keluarga bayi yang bersangkutan;
Identitas, agama, dan alamat pendonor ASI diketahui dengan jelas oleh ibu
atau keluarga dari bayi penerima ASI;
Persetujuan pendonor ASI setelah mengetahui identitas bayi yang diberi ASI;
Pendonor ASI dalam kondisi kesehatan baik dan tidak mempunyai indikasi
medis yang menjadi kontraindikasi pemberian ASI; dan
ASI tidak diperjualbelikan.

Susu formula ?

Harus memenuhi syarat AFASS


Tidak boleh mixed feeding
Pilihan harus ditentukan sebelum bayi lahir
Pilihan dilakukan setelah konseling dan harus didukung oleh petugas
kesehatan

AFASS
Acceptable

Feasible

Affordable

Sustainable
Safe

Ibu & keluarga tidak mengalami hambatan dalam memberikan PASI. Hambatan: budaya,
sosial, ketakutan akan stigma atau diskriminasi

Ibu & keluarga memiliki waktu, pengetahuan dan keterampilan serta sumber daya yang
cukup untuk menyiapkan PASI dan memberikannya pada bayi sampai 12 kali dalam 24 jam

Ibu & keluarga, didukung masyarakat jika perlu, dapat membayar biaya
pembelian, penyiapan & penggunaan PASI. Termasuk susu formula, bahan
bakar, air bersih, sabun, tanpa mengganggu kesehatan & nutrisi seluruh
keluarga
Ibu dan keluarga memiliki akses yang tidak terputus terhadap suplai seluruh komponen
yang diperlukan utk PASI yang aman selama diperlukan bayi, sedikitnya sampai usia 1
tahun atau lebih

Ibu dan keluarga mampu secara benar & higienis menyimpan & menyiapkan peralatan yg bersih:
Memiliki akses terhadap penyediaan air bersih
Menyiapkan PASI dengan gizi cukup dan bebas mikroba
Mampu mencuci tangan dan peralatan dengan sabun dan secara teratur mensterilkan peralatan dgn merebud
Dapat merebus air untuk menyiapkan PASI
Dapat menyimpan formula yang belum dipakai dalam wadah yang bersih dan tertutup dan terlindungi dari tikus,
serangga dan binatang lain

Early Infant Diagnosis

Diagnosis dini penting untuk memberikan inisiasi ART dini


Inisiasi ART dini memberi prognosis klinis lebih baik
Kendala:
Teknik

pemeriksaan

Biaya
Pemberian

ASI diperiksa setelah 6 minggu penghentian ASI

Teknik Pemeriksaan

Antibodi HIV ibu dapat ditransfer ke


janin melalui plasenta. Baru hilang pada
usia sekitar 12-18 bulan
Antibodi HIV (rapid test, ELISA) tidak
bisa dijadikan alat diagnostik pada anak
<18 bulan
Menggunakan PCR RNA HIV/viral load:
mahal, hanya tersedia di kota besar.
Idealnya PCR DNA HIV menggunakan
kertas saring (dried blood spot)

Waktu Pemeriksaan

4-6 minggu:

4-6 bulan:

18 bulan:

PCR HIV

PCR HIV

Antibodi HIV

HIV task force, Indonesia Pediatric Society

Diagnosis pasti infeksi:


Dua kali uji virologi positif, usia berapa saja
ATAU
Usia >18 bulan dengan hasil uji positif atau uji serologi positif
Diagnosis pasti tidak ada infeksi pada bayi tanpa ASI:
Dua kali hasil uji virologi negatif, dilakukan pada usia >1 bulan dan pada usia >4
bulan, dan tidak pernah positif
ATAU
Dua kali atau lebih hasil uji serologi HIV negatif pada usia >6 bulan

Imunisasi
1.

2.

3.

Prinsip umum semua vaksinasi tetap diberikan seperti pada bayi


lainnya, termasuk memberikan vaksin hidup (BCG, polio oral,
campak), kecuali bila terdapat gejala klinis infeksi HIV.
Jadwal pemberian imunisasi mengikuti buku KIA .
Tidak boleh ada pelabelan HIV, namun kewaspadaan standar tetap
dilakukan

Jadwal kunjungan bayi


Kegiatan

Saat lahir

10 Hr

4 Mgg

6 Mgg

2 Bln

3 Bln

4 Bln

6 Bln

9 Bln

12 Bln

18 Bln

Evaluasi klinis

Berat Badan & Panjang


Badan

Pemberian makanan

SF/ASIe

SF/ASI

SF/ASI

SF/ASI

SF/eASI

SF/ASI

SF/ASI

SF+MP

SF+MP

ARV Profilaksis

Kotrimoksazol Profilaksis

SF+MP

Tiap 6
Bln

SF+MP

Sesuai dengan jadwal imunisasi Depkes/IDAI


Perhatian khusus untuk BCG

Imunisasi
Laboratorium
Hb & Leukosit

Kadar CD4
PCR (RNA/DNA)

Dilakukan bila pasien terbukti terinfeksi HIV atau ada tanda terinfeksi HIV
Dilakukan bila pasien mampu, paling dini pada usia 6 minggu

Serologi HIV
ASIe= Air Susu Ibu eksklusif

BCG= Bacillus Calmette Guerrin

HIB= Hemofilus Influenza B

PCR= Polimerase Chain Reaction

SF= Susu Formula

DTP= Difteri Tetanus Pertusis


HepB= Hepatitis B

OPV= Oral Polio Vaccine

DNA= Deoxy Ribonucleic Acid


RNA= Ribonucleic Acid

MP= Makanan Padat

Mazami Enterprise 2009

Hb= Hemoglobin

57

Indikator dan Target PPIA

INDIKATOR PPIA

No

Indikator

Definisi Opersional

Proporsi perempuan usia subur (15-49) dengan


HIV

Adalah jumlah perempuan usia subur HIV dibagi dengan jumlah perempuan usia
subur, dikalikan 100%

Proporsi ODHA usia subur yang mendapatkan


konseling KB

Adalah jumlah ODHA usia subur yang mendapatkan koseling KB dibagi dengan
jumlah ODHA usia subur, dikalikan 100%

Cakupan tes HIV pada ibu hamil

adalah jumlah ibu hamil yang di-tes HIV dibagi dengan jumlah seluruh ibu hamil,
dikalikan 100%.

Proporsi ibu hamil yang datang ke pelayanan


dan mendapat tes HIV

adalah jumlah ibu hamil yang di-tes HIV dibagi dengan jumlah ibu hamil yang
datang ke pelayanan antenatal, dikalikan 100%.

Angka positif HIV pada ibu hamil

adalah jumlah ibu hamil dengan HIV dibagi dengan jumlah ibu hamil yang dites
HIV, dikalikan 100%.

INDIKATOR PPIA

No

Indikator

Definisi Opersional

Cakupan ibu hamil HIV yang mendapatkan ARV

adalah jumlah ibu hamil HIV yang mendapatkan ARV dibagi dengan jumlah
ibu hamil HIV, dikalikan 100%.

Cakupan ibu hamil HIV yang bersalin di fasilitas


Kesehatan

dalah jumlah ibu hamil HIV yang bersalin di fasilitas kesehatan dibagi dengan
jumlah ibu hamil HIV, dikalikan 100%.

Cakupan pengobatan profilaksis ARV pada bayi

adalah jumlah bayi lahir dari ibu HIV mendapatkan ARV profilaksis dibagi
dengan jumlah bayi lahir hidup dari ibu HIV, dikalikan 100%.

Cakupan pengobatan profilaksis kotrimoksasol


pada bayi

adalah jumlah bayi yang lahir dari ibu HIV mendapatkan kotrimoksasol
profilaksis dibagi dengan jumlah bayi lahir hidup dari ibu HIV, dikalikan 100%.

10

Jumlah bayi yang terdiagnosis HIV

Adalah jumlah bayi dengan hasil tes HIV positif dibagi dengan jumlah bayi
lahir hidup dari ibu dengan HIV, dikalikan 100%.

Target Ibu Hamil di Tes HIV pada Pemeriksaan Antenatal (RAN PPIA Tahun 2013-2017)

Daerah

Jumlah ibu
Ibu Hamil ANC
hamil

2013

2014

2015

2016

2017

Kabupaten/kota
epidemi meluas
(Papua dan Papua
Barat

82.714

50.721

60%

70%

80%

90%

100%

Kab/Kota epidemi
terkonsentrasi

2.842.341

2.776.673

15%

35%

60%

90%

100%

Kab/Kota epidemi
rendah

2.509.329

2.397.342

10%

15%

20%

25%

30%

Total

5.434.384

5.224.736

686.668

1.366.942

2.186.049

3.143.990

3.546.597

TREND PENINGKATAN IBU HAMIL DI TES HIV TAHUN 2011 JUNI 2014

JUMLAH IBU HAMIL DI TES HIV PER PROVINSI JAN JUNI


TAHUN 2014
45.000
40.000

39.450

35.000
30.000
25.000
20.000

23.829

16.205

15.000
10.000
5.000

10.072
8.976 8.610

7.023
3.870

2.293 2.161 2.129 2.051 2.020 1.932 1.741 1.658

761 742 281 213 168 163 115 102 102

Bumil di tes HIV

Sumber Data; Laporan Dirjen P2PL, Januari- Agustus 2014

43

CASCADE PPIA DI INDONESIA JANUARI JUNI TAHUN 2014

Sumber : Laporan Triwulanan KemKes RI, *Januari- Juni2014

Pencatatan dan Pelaporan

Pencatatan dan pelaporan


Pencatatan

Hasil layanan PPIA dan sifilis pada ibu hamil di unit pelayanan kesehatan dicatat pada Rekam
Medis, Kartu Ibu dan Kohort Ibu, Kohort Bayi dan Balita, formulir Registrasi layanan IMS, formulir
registrasi layanan TIPK dan formulir registrasi layanan PPIA.

Puskesmas :
1. Hasil pelayanan antenatal terpadu termasuk HIV di catat di kartu ibu, kohort dan buku KIA.
2. Formulir registrasi layanan TIPK di isi oleh pemberi layanan
3. Formulir registrasi layanan PPIA hanya diisi bila ibu hamil positif HIV. Pengelola petugas yang
di tunjuk akan mengisi formulir registrasi layanan PPIA dengan memindahkan data hasil
pelayanan dari kartu ibu.
4. Pemantauan dan tumbuh kembang bayi dan balita lahir dari ibu HIV di catat di kohort bayi
dan Balita

Pelaporan
Puskesmas
1.

2.

3.

Bidan/petugas KIA di polindes/poskesdes, pustu/kelurahan dan bidan praktek


mandiri /klinik swasta akan melaporkan hasil pelayanan antenatal terpadu ke
bidan koordinator Puskesmas .
Bidan koordinator Puskesmas akan merekapitulasi data dan melaporkan hasil
pelayanan ANC terpadu melalui format yang tersedia (F1-F6) . Bidan
koordinator akan berbagi data dengan Pengelola program IMS/P2/Petugas
yang ditunjuk
Pengelola program IMS/P2/Petugas yang ditunjuk akan merekapitulasi data
layanan HIV pada ibu hamil yang berasal dari formulir registrasi layanan IMS,
formulir regitrasi layanan TIPK, formulir registrasi layanan PPIA dan melaporkan
dengan mengunakan format pelaporan yang sudah tersedia /aplikasi SIHA
(Sistem Informasi HIV dan AIDS)

Lanjutan Pelaporan
Pelaporan hasil pelayanan PPIA dan sifilis dilakukan setiap bulan,
mengikuti jadwal pelaporan program HIV, sebagai penanggung
jawab pencacatan dan pelaporan adalah pengelola Program
Pengendalian Penyakit (P2).
1. Puskesmas melaksanakan entry data sampai tanggal 25 dan
melaporkan ke kabupaten/kota paling lambat tanggal 30 .
2. dari kabupaten/kota ke provinsi paling lambat tanggal 5.
3. dari provinsi ke pusat paling lambat tanggal 10.

KARTU IBU

Register antenatal

Jumlah bidan yang melakukan kelas ibu hamil


Jumlah suami/keluarga yang mengikuti kelas ibu hamil
Jumlah Ibu Hamil yang mengikuti kelas ibu hamil
Jumlah Kelas Ibu Hamil yang terbentuk
Puskesmas yang melaksanakan kelas ibu hamil

Ibu Hamil diobati


Ibu Hamil Hasil Tes (+) Hepatitis B
Ibu Hamil diperiksa Hepatitis B
Ibu Hamil diobati
Ibu Hamil Hasil Tes (+)
Ibu Hamil diperiksa IMS
Ibu Hamil diobati
Ibu Hamil Hasil Tes (+)
Ibu Hamil diperiksa Ankylostoma
Obat**
Ibu Hamil Hasil (+)
Ibu Hamil diperiksa Dahak

RDT

RDT

Mikroskopis

Total

Mikroskopis

Total

Ibu Hamil mendapatkan Kina/ ACT

Ibu Hamil meninggal karena malaria

Ibu Hamil
Malaria (+)

Ibu Hamil
diperiksa darah
Malaria

Ibu Hamil mendapatkan kelambu


K1 di daerah endemis malaria
Jumlah ibu hamil di daerah endemis malaria

Persalinan Pervaginam

Persalinan Perabdominam (SC)

Puskesmas yang melaksanakan PMDK

Ibu Hamil HIV


(+)
Ibu Hamil Mendapat ART
Ibu Hamil Hasil Tes (+)
Ibu Hamil dites HIV
Ibu Hamil ditawarkan Tes
Ibu Hamil Datang dengan HIV (+)
>140 g/dl
Diperiksa
Positif (+)
Diperiksa
KEK (Lila < 23,5)
Diperiksa LiLa
Anemia (<8 mg/dl)

Diperiksa

67 68 69 70 71 72 73 74 75
63 64 65 66
59 60 61 62
43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58
31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42

Ab % Ab % Ab %
s
s
s
% Abs %
Abs
%
Abs
%
Abs
%
Abs
%
Abs
%
Abs
%
Abs
%
Abs
%
Abs
%
Abs
%
Abs
%
Abs
% Ab %
s
Abs
%
Abs
Ab % Ab %
s
s

Pencegahan IMS dalam Pencegahan Hepatitis B


Kehamilan
dalam Kehamilan
Kecacingan dalam
Kehamilan
TB dalam Kehamilan
Pencegahan Malaria Dalam Kehamilan (PMDK) didaerah Endemis
Malaria
Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak
(PPIA)

Abs %
Ab %
%
% Abs %
% Abs %
% Abs %
%
%
% Ab % Ab % Ab %
Abs
Abs
Abs
Abs
Abs
Abs
Abs
s
s
s
s

30
9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29
8
7
8
7
6
3 4 5
2
1

Anemia (8-11 mg/dl)

NO KAB/KOTA

Gula Darah
Protein urin
KEK
Hb

Pelaksanaan kelas ibu hamil


Integrasi Program

71

72

Kegiatan Komprehensif PPIA

Mencegah infeksi baru HIV


Mencegah kehamilan yang tidak
di rencanakan

Perempuan
Usia Reproduksi

Perempuan

mencegah PIA

HIV

Perempuan
HIV Hamil
Dukungan Psikologis, sosial dan Keperawatan

bayi terinfeksi
HIV

Terima kasih

Perlindungan menyeluruh dan dinamis terhadap penularan HIV dari ibu ke bayi