Anda di halaman 1dari 21

CASE REPORT

STRUMA NODUSA NON TOXIC LOBUS SINISTRA
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan
Pendidikan Program Profesi Dokter Stase Bedah
Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pembimbing :
dr. Bakri B Hasbullah, Sp.B, FINACS

Diajukan Oleh:
Aulia Luthfi Kusuma, S.Ked

J 500100059

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
CASE REPORT
STRUMA NODUSA NON TOXIC LOBUS SINISTRA
Diajukan Oleh :
Aulia Luthfi Kusuma, S.Ked

J 500100059

Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari, 2015
Pembimbing :
dr.

Bakri,

Sp.B

(.................................)

Disahkan Ketua Program Profesi :
dr. Dona Dewi Nirlawati
(.................................)

. menelan. ANAMNESIS 1. Pasien gangguan juga tidak mengeluhkan badannya sering gemetar dan tidak mudah lelah saat beraktifitas. Keluhan Utama Terdapat benjolan di leher 2. ikut bergerak saat menelan. IDENTITAS Nama : Ny. tidak bernafas serta terdapat gangguan perubahan suara. Benjolan tersebut muncul sekitar 2 tahun yang lalu. kemudian benjolan tersebut semakin membesar hingga saat ini kira-kira sebesar telur ayam. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan keluhan terdapat benjolan di leher sebelah kiri. awalnya sebesar kacang tanah. M Umur : 42 tahun Jenis Kelamin Pekerjaan : Perempuan : Ibu RT Agama : Islam Suku : Jawa Alamat : Bauyanan 1/6 Matesih Tanggal MRS : 28 Desember 2014 No. Pasien tidak mengeluhkan nyeri sekitar benjolan. RM : 003226XX B.LAPORAN KASUS A. Warna benjolan sama dengan kulit sekitarnya.

Riwayat Hipertensi : disangkal e. Riwayat Penyakit Keluarga a. Riwayat Penyakit Jantung : disangkal 5. Riwayat Penyakit Serupa : disangkal b. Riwayat Hipertensi : disangkal e. Riwayat Penyakit Serupa : disangkal b. Riwayat DM : disangkal f. nafsu makan minum tidak mengalami perubahan. dan lebih menyukai suhu dingin daripada suhu panas. Riwayat Asma : disangkal c. Riwayat Penyakit Dahulu a. Riwayat Alergiobat : disangkal d. Riwayat DM : disangkal f. Pasien mengeluh sedikit pusing. BAB dan BAK dalam batas normal. mual (-). muntah (-). Riwayat Alergiobat : disangkal d. Riwayat Asma : disangkal c. 3. Riwayat Penyakit Jantung : disangkal 4.Pasien mengakui sering mengkonsumsi kubis karena pasien menyukainya. Keluhan Sistemik .

Musculoskeletal : Nyeri otot (-). sulit BAB (-) e. Pulmo : Sesak napas (-). tangan bergetar (-). Abdomen : Diare (-). batuk (-). Urologi : BAK lancar f. intoleransi dingin (-). Nyeri sendi (-) batuk . berdahak (-) d. Cardio : Nyeri dada kambuh-kambuhan (-). dada berdebar-debar (-) c. mengantuk yang berlebihan (-) b.a. sulit tidur (-). kembung (-). Neuro : Intoleransi panas (-).

PEMERIKSAAN FISIK 1. Pemeriksaan Thorax . Keadaan Umum b. 2mm Konjungtiva anemis (-/-) Sklera ikhterik (-/-) b. Kesadaran c.4oc 2. Status Generalis a.C. Pemeriksaan Kepala Normocephal Pupil isokhor. Status Interna a. : Baik : Compos Mentis Vital Sign  Tekanan Darah : 130/80 mmHg  Nadi : 78x/menit  Respirasi : 16x/menit  Suhu : 36. Pemeriksaan Leher KGB : tidak ada pembesaran JVP : tidak ada peningkatan Terdapat benjolan pada leher sebelah kiri c.

retraksi intercostae (-)  Palpasi Ketinggalan gerak Depan Belakang - - - - - - - - - - - - Fremitus Depan Belakang N N N N N N N N N N N N  Perkusi Depan Belakang Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor  Auskultasi Suara dasar → vesikuler SDV Depan SDV Belakang . Simetris. tertingal gerak (-). Paru  Inspeksi : Bentuk dada normal.

batas jantung kanan. batas jantung kiri SIC IV LMC sinistra  Auskultasi: Bunyi jantung I-II murni. Pemeriksaan Abdomen  Inspeksi massa : Permukaan perut rata. (-). tidak nampak massa  Palpasi : Ictus cordis tidak kuat angkat di SIC V LMC sinistra  Perkusi : Batas jantung atas SIC II LPS sinistra.N N N N N N N N N N N N Suara Ronkhi (-/-) Wheezing (-/-) Tambahan  Jantung  Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak. bising jantung (-) d. distended (-). reguler. bekas luka operasi (-)  Auskultasi : Peristaltik (+) normal  Perkusi : Suara tympani . SIC IV LPS dextra.

tidak terlihat radang. : Nyeri tekan (-).9 82. nyeri tekan (-). Benjolan ikut bergerak saat menelan. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Darah No 1 2 3 4 5 Parameter Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit MCV Jumlah 5.0-5.11 12.  Auskultasi : Bruit (-) D. permukaan licin. batas tegas. panas (-). konsistensi kenyal padat. defans muskuler (-) Pemeriksaan Ekstremitas  Superior : Tidak ada kelainan  Inferior : Tidak ada kelainal  Akral : Hangat 3. benjolan ikut bergerak saat menelan.  Palpasi : Teraba massa tunggal di region colli anterior dextra dengan ukuran ± 2cm x 2cm x 3cm. bentuk bulat.89 4.5 Satuan uL uL Gr/dl % Femtolit Nilai Rujukan 5000-10000/uL 4. warna kulit sama dengan sekitarnya. tidak tampak sesak.2 33. tidak melekat pada dasar jaringan sekitarnya. mobile. Status Lokalis Pemeriksaan region Colli anterior  Inspeksi : Terdapat massa ( benjolan ) di regio colli anterior sinistra.5 g/dl 37-43 % 82-92 f .5 juta/uL 11. Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening di regio colli bilateral. Palpasi e. benjolan tidak mengeluarkan darah atau pus.5-13.

25 – 5 Hyperthyroidism : < 0.9 s g/dl uL % % % 32-36 g/dl 150.1 Pmol/L 10.000-400.0 301 28.S Sesak saat kerja Palpitasi Kelelahan Senang udara e +1 +2 +2 -5 - Pembesaran tiroid Bising tiroid Exothalmus Retraksi Palpebra +3 +2 +2 +2 -3 -2 +3 -2 - +5 Palpebra terlambat +4 - panas Senang udara +5 dingin Keringat +3 - Hiperkinesis +2 berlebihan Gugup +2 - Telapak tangan +1 -2 - Lembab Nadi teratur -3 - Nafsu makan naik +3 <80x/menit -2 .9 50.9 Pemeriksaan Seroimunologi No Paramete Jumlah Satuan Nilai Rujukan 1 r FT4 17.6 MCH 29.32 uIU/ml Euthyroidism : 0.30-34.78 Mg/dl 0.15 Hypothyroidism : > 7 Gejala Scor Ny.S Tanda Ada Tidak ada Ny.70 TSH 1.5 – 0.7 er Pikogram 27-31 pg 7 8 9 10 11 MCHC Trombosit Limfosit Monosit Neutrofil 36.000/uL 20/40% 2-8% 33-70% 12 HBS Ag Negativ 13 GDS e 99 mg/dl 70 – 150 14 Ureum 15 mg/dl 10 – 50 15 Creatinin 0.6 3.

batas tegas. dan mudah lelah saat beraktifitas. Status lokalis : terdapat massa ( benjolan ) di regio colli anterior sinistra. panas (-). Benjolan ikut bergerak saat menelan. awalnya sebesar kacang tanah. tidak melekat pada dasar jaringan sekitarnya. saat ini kira-kira sebesar telur ayam. RESUME Wanita usia 42 tahun. Brit Med J 1:78. nyeri tekan (-). Pasien tidak mengeluhkan nyeri disekitar benjolan. Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening. (>20) E. konsistensi kenyal padat. benjolan ikut bergerak saat menelan. mobile. Warna benjolan sama dengan kulit sekitarnya. Hiper. Pasien juga tidak mengeluhkan badannya sering gemetar. benjolan tidak mengeluarkan darah atau pus. mengeluh muncul benjolan di leher . permukaan licin. Eutiroid (<10). 1960). ikut bergerak saat menelan. ukuran ± 2cm x 2cm x 3cm. warna kulit sama dengan sekitarnya. benjolan tersebut semakin membesar.Nafsu makan turun -3 - BB naik -3 - BB turun +3 - 80-90x/menit - - >90x/menit Atrial fibrilasi +3 +4 - - Jumlah = +4 → Eutiroid (Wayne EJ. gangguan bernafas serta perubahan suara. Pasien mengakui sering mengkonsumsi kubis karena pasien menyukainya dan lebih menyukai suhu dingin daripada suhu panas. bentuk bulat. tidak terdapat gangguan menelan. Benjolan muncul sekitar 2 bulan yang lalu. . nafsu makan minum tidak mengalami perubahan. Meragukan (10-19). tidak terlihat radang.

Struma dapat mengarah ke dalam sehingga mendorong trakea. esophagus dan pita suara sehingga terjadi kesulitan bernapas dan disfagia. jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia. Defenisi Struma Struma disebut juga goiter adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran kelenjar tiroid akibat kelainan glandula tiroid dapat berupa gangguan fungsi atau perubahan susunan kelenjar dan morfologinya. Hal tersebut akan berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen. DIAGNOSIS BANDING Keganasan tiroid H. F. Index wayne jumlah skor (+4) termasuk eutiroid.32uIU/ml dan FT4 17. analgesik TINJAUAN PUSTAKA A. Di bagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trakea dan esophagus. nutrisi serta cairan dan elektrolit.1 pmol/L masih berada dalam batas normal. Dampak struma terhadap tubuh terletak pada pembesaran kelenjar tiroid yang dapat mempengaruhi kedudukan organ-organ di sekitarnya. PENATALAKSAAN Operatif : Lobektomi dextra Post Operatif : Antibiotik.Pemeriksaan seroimunologi TSH 1. Bila pembesaran keluar maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat asimetris atau tidak. . DIAGNOSIS KERJA Struma Nodosa Non Toksik G.

Kelenjar ini memproduksi hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dan menyalurkan hormon tersebut ke dalam aliran darah. . Gambar anatomi tiroid dapat dilihat di bawah ini.B. Terdapat 4 atom yodium di setiap molekul T4 dan 3 atom yodium pada setiap molekul T3.5 cm.5 cm dan berkisar 10-20 gram. lebar 1. Anatomi Tiroid Kelenjar tiroid/gondok terletak di bagian bawah leher. kelenjar ini memiliki dua bagian lobus yang dihubungkan oleh ismus yang masing-masing berbetuk lonjong berukuran panjang 2.5-5 cm. Kelenjar tiroid sangat penting untuk mengatur metabolisme dan bertanggung jawab atas normalnya kerja setiap sel tubuh. tebal 1-1. Hormon tersebut dikendalikan oleh kadar hormon perangsang tiroid TSH (thyroid stimulating hormone) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Yodium adalah bahan dasar pembentukan hormon T3 dan T4 yang diperoleh dari makanan dan minuman yang mengandung yodium.

menambah produksi panas. ukuran folikel menjadi lebih besar dan kelenjar tiroid dapat bertambah berat sekitar 300-500 gram. mengatur kecepatan metabolisme tubuh dan reaksi metabolik. E. Berdasarkan Fisiologisnya Berdasakan fisiologisnya struma dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. b. Hal tersebut memungkinkan hipofisis mensekresikan TSH dalam jumlah yang berlebihan. Selain itu struma dapat disebabkan kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tiroid. Patogenesis Struma Struma terjadi akibat kekurangan yodium yang dapat menghambat pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid sehingga terjadi pula penghambatan dalam pembentukan TSH oleh hipofisis anterior. Akibat kekurangan yodium maka tidak terjadi peningkatan pembentukan T4 dan T3. membuat retardasi mental dan kematangan neurologik timbul pada saat lahir dan bayi. Fisiologi Kelenjar Tiroid Hormon tiroid memiliki efek pada pertumbuhan sel.C.merangsang pertumbuhan somatis dan berperan dalam perkembangan normal sistem saraf pusat. Hipotiroidisme . TSH kemudian menyebabkan sel-sel tiroid mensekresikan tiroglobulin dalam jumlah yang besar (kolid) ke dalam folikel. Tidak adanya hormon-hormon ini. gangguan metabolik misalnya struma kolid dan struma non toksik (struma endemik). sulfonylurea dan litium. D. Eutiroidisme Eutiroidisme adalah suatu keadaan hipertrofi pada kelenjar tiroid yang disebabkan stimulasi kelenjar tiroid yang berada di bawah normal sedangkan kelenjar hipofisis menghasilkan TSH dalam jumlah yang meningkat. Pembesaran yang didasari oleh suatu tumor atau neoplasma dan penghambatan sintesa hormon tiroid oleh obatobatan misalnya thiocarbamide. penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (goitrogenic agent). dan kelenjar tumbuh makin lama makin bertambah besar. Goiter atau struma semacm ini biasanya tidak menimbulkan gejala kecuali pembesaran pada leher yang jika terjadi secara berlebihan dapat mengakibatkan kompresi trakea. menambah sintesis asam ribonukleat (RNA). proses peradangan atau gangguan autoimun seperti penyakit Graves. absorpsi intestinal terhadap glukosa. Klasifikasi Struma 1. Selain itu hormon tiroid mempengaruhi pertumbuhan pematangan jaringan tubuh dan energi. perkembangan dan metabolisme energi.

gerakan lamban. mensturasi berlebihan. dementia. kulit kasar. Gambar penderita hipotiroidisme dapat terlihat di bawah ini. Kegagalan dari kelenjar untuk mempertahankan kadar plasma yang cukup dari hormon.Hipotiroidisme adalah kelainan struktural atau fungsional kelenjar tiroid sehingga sintesis dari hormon tiroid menjadi berkurang. Beberapa pasien hipotiroidisme mempunyai kelenjar yang mengalami atrofi atau tidak mempunyai kelenjar tiroid akibat pembedahan/ablasi radioisotop atau akibat destruksi oleh antibodi autoimun yang beredar dalam sirkulasi. konstipasi. sensitif terhadap udara dingin. c. sulit berkonsentrasi. Gejala hipotiroidisme adalah penambahan berat badan. Hipertiroidisme . pendengaran terganggu dan penurunan kemampuan bicara. rambut rontok.

mata melotot (eksoftalamus). leboh suka udara dingin. Gambar penderita hipertiroidisme dapat terlihat di bawah ini. Gejala hipertiroidisme berupa berat badan menurun. Keadaan ini dapat timbul spontan atau adanya sejenis antibodi dalam darah yang merangsang kelenjar tiroid. keringat berlebihan. sehingga tidak hanya produksi hormon yang berlebihan tetapi ukuran kelenjar tiroid menjadi besar. kelelahan. nafsu makan meningkat. . rambut rontok. sesak napas. tremor pada tungkai bagian atas.Dikenal juga sebagai tirotoksikosis atau Graves yang dapat didefenisikan sebagai respon jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolik hormon tiroid yang berlebihan. Selain itu juga terdapat gejala jantung berdebar-debar. diare. haid tidak teratur. dan atrofi otot.

pucat.2. maka pembesaran ini disebut struma nodusa. Kebanyakan penderita tidak mengalami keluhan karena tidak ada . muntah. Struma nodusa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme dan hipotiroidisme disebut struma nodusa non toksik. Jika tidak diberikan tindakan medis sementara nodusa akan memperlihatkan benjolan yang secara klinik teraba satu atau lebih benjolan (struma multinoduler toksik). mual. Struma Non Toksik Struma non toksik sama halnya dengan struma toksik yang dibagi menjadi struma diffusa non toksik dan struma nodusa non toksik. Biasanya tiroid sudah mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. mengaktifkan reseptor tersebut dan menyebabkan kelenjar tiroid hiperaktif. Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah kepada perubahan bentuk anatomi dimana struma diffusa toksik akan menyebar luas ke jaringan lain. bentuk tiroktosikosis yang paling banyak ditemukan diantara hipertiroidisme lainnya. Meningkatnya kadar hormon tiroid cenderung menyebabkan peningkatan pembentukan antibodi sedangkan turunnya konsentrasi hormon tersebut sebagai hasilpengobatan penyakit ini cenderung untuk menurunkan antibodi tetapi bukan mencegah pembentukyna. Berdasarkan Klinisnya Secara klinis pemeriksaan klinis struma toksik dapat dibedakan menjadi sebagai berikut : a.Penyebab tersering adalah penyakit Grave (gondok eksoftalmik / exophtalmic goiter). sulit berbicara dan menelan. Gejala klinik adanya rasa khawatir yang berat. Struma ini disebut sebagai simple goiter. kulit dingin. Struma non toksik disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik. Struma Toksik Struma toksik dapat dibedakan atas dua yaitu struma diffusa toksik dan struma nodusa toksik. koma dan dapat meninggal. Perjalanan penyakitnya tidak disadari oleh pasien meskipun telah diiidap selama berbulan-bulan. b. atau goiter koloid yang sering ditemukan di daerah yang air minumya kurang sekali mengandung yodium dan goitrogen yang menghambat sintesa hormon oleh zat kimia. Struma diffusa toksik (tiroktosikosis) merupakan hipermetabolisme karena jaringan tubuh dipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam darah. struma endemik. Apabila gejala gejala hipertiroidisme bertambah berat dan mengancam jiwa penderita maka akan terjadi krisis tirotoksik. Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul. Antibodi yang berbentuk reseptor TSH beredar dalam sirkulasi darah.

Tes ambilan yodium radioaktif (RAI) digunakan untuk mengukur kemampuan kelenjar tiroid dalam menangkap dan mengubah yodida. Tiroksin bebas serum mengukur kadar tiroksin dalam sirkulasi yang secara metabolik aktif.hipotiroidisme atau hipertiroidisme. leher dalam posisi fleksi. Struma non toksik disebut juga dengan gondok endemik. jumlah nodul. perlu diperhatikan beberapa komponen yaitu lokasi. 1. Diagnosis 1. F. Kriteria daerah endemis gondok yang dipakai Depkes RI adalah endemis ringan prevalensi gondok di atas 10 %-< 20 %. Kadar tinggi pada pasien hipotiroidisme sebaliknya kadar akan berada di bawah normal pada pasien peningkatan autoimun (hipertiroidisme). Inspeksi Inspeksi dilakukan oleh pemeriksa yang berada di depan penderita yang berada pada posisi duduk dengan kepala sedikit fleksi atau leher sedikit terbuka. 2. Palpasi Pemeriksaan dengan metode palpasi dimana pasien diminta untuk duduk. bentuk (diffus atau noduler kecil). Uji ini dapat digunakan pada awal penilaian pasien yang diduga memiliki penyakit tiroid. Namun sebagian pasien mengeluh adanya gejala mekanis yaitu penekanan pada esofagus (disfagia) atau trakea (sesak napas). endemik sedang 20 % . Kadar TSH plasma dapat diukur dengan assay radioimunometrik. Jika terdapat pembengkakan atau nodul.29 % dan endemik berat di atas 30 %. berat ringannya endemisitas dinilai dari prevalensi dan ekskresi yodium urin. gerakan pada saat pasien diminta untuk menelan dan pulpasi pada permukaan pembengkakan. penderita datang berobat karena keluhan kosmetik atau ketakutan akan keganasan. biasanya tidak disertai rasa nyeri kecuali bila timbul perdarahan di dalam nodul. Tes Fungsi Hormon Status fungsional kelenjar tiroid dapat dipastikan dengan perantara tes-tes fungsi tiroid untuk mendiagnosa penyakit tiroid diantaranya kadar total tiroksin dan triyodotiroin serum diukur dengan radioligand assay. Pemeriksa berdiri di belakang pasien dan meraba tiroid dengan menggunakan ibu jari kedua tangan pada tengkuk penderita. 2. Kadar TSH plasma sensitif dapat dipercaya sebagai indikator fungsi tiroid. Dalam keadaan seimbang maka yodium yang masuk ke dalam tubuh hampir sama dengan yang diekskresi lewat urin. Foto Rontgen leher . ukuran.

Operasi/Pembedahan Pembedahan menghasilkan hipotiroidisme permanen yang kurang sering dibandingkan dengan yodium radioaktif. 4. Hasil pemeriksaan dengan radioisotop adalah teraan ukuran. dan kemungkinan karsinoma. Hal ini disebabkan makin banyak tiroid yang terikat oleh protein maka perlu dilakukan pemeriksaan kadar T4 sehingga dapat diketahui keadaan fungsi tiroid. Biopsi aspirasi jarum tidak nyeri. Pembedahan dengan mengangkat sebagian besar kelenjar tiroid. 3. Penatalaksanaan Medis Ada beberapa macam untuk penatalaksanaan medis jenis-jenis struma antara lain sebagai berikut : 1. USG dapat memperlihatkan ukuran gondok dan kemungkinan adanya kista/nodul yang mungkin tidak terdeteksi waktu pemeriksaan leher. Kerugian pemeriksaan ini dapat memberikan hasil negatif palsu karena lokasi biopsi kurang tepat. 5. Setengah jam kemudian berbaring di bawah suatu kamera canggih tertentu selama beberapa menit. Pada wanita hamil atau wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal (suntik atau pil KB). kadar hormon tiroid total tampak meningkat. Biopsi Aspirasi Jarum Halus Dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan. Ultrasonografi (USG) Alat ini akan ditempelkan di depan leher dan gambaran gondok akan tampak di layar TV. bentuk lokasi dan yang utama adalh fungsi bagian-bagian tiroid. Kelainan-kelainan yang dapat didiagnosis dengan USG antara lain kista. hampir tidak menyebabkan bahaya penyebaran sel-sel ganas. Selain itu teknik biopsi kurang benar dan pembuatan preparat yang kurang baik atau positif palsu karena salah intrepertasi oleh ahli sitologi. G. Terapi ini tepat untuk para pasien hipotiroidisme yang tidak mau mempertimbangkan yodium radioaktif dan tidak dapat diterapi dengan obat-obat anti tiroid.Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat struma telah menekan atau menyumbat trakea (jalan nafas). Kemudian diberikan obat tiroksin karena jaringan tiroid yang tersisa mungkin . Reaksi-reaksi yang merugikan yang dialami dan untuk pasien hamil dengan tirotoksikosis parah atau kekambuhan. sebelum pembedahan tidak perlu pengobatan dan sesudah pembedahan akan dirawat sekitar 3 hari. adenoma. Sidikan (Scan) tiroid Caranya dengan menyuntikan sejumlah substansi radioaktif bernama technetium-99m dan yodium125/yodium131 ke dalam pembuluh darah.

Pemberian Tiroksin dan obat Anti-Tiroid Tiroksin digunakan untuk menyusutkan ukuran struma. Yodium radioaktif tersebut berkumpul dalam kelenjar tiroid sehingga memperkecil penyinaran terhadap jaringan tubuh lainnya. 2. Upaya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut : a. Obat anti-tiroid (tionamid) yang digunakan saat ini adalah propiltiourasil (PTU) dan metimasol/karbimasol.tidak cukup memproduksi hormon dalam jumlah yang adekuat dan pemeriksaan laboratorium untuk menentukan struma dilakukan 3-4 minggu setelah tindakan pembedahan. selama ini diyakini bahwa pertumbuhan sel kanker tiroid dipengaruhi hormon TSH. . obat ini ini biasanya diberikan empat minggu setelah operasi. Setelah pengobatan diperlukan kontrol teratur/berkala untuk memastikan dan mendeteksi adanya kekambuhan atau penyebaran. Yodium Radioaktif Yodium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada kelenjar tiroid sehingga menghasilkan ablasi jaringan. fisik segar dan bugar serta keluarga dan masyarakat dapat menerima kehadirannya melalui melakukan fisioterapi yaitu dengan rehabilitasi fisik. sosial terapi yaitu dengan rehabilitasi sosial dan rehabilitasi aesthesis yaitu yang berhubungan dengan kecantikan. b. 3. Terapi ini tidak meningkatkan resiko kanker. psikoterapi yaitu dengan rehabilitasi kejiwaan. Pasien yang tidak mau dioperasi maka pemberian yodium radioaktif dapat mengurangi gondok sekitar 50 %. Yodium radioaktif diberikan dalam bentuk kapsul atau cairan yang harus diminum di rumah sakit. fisik dan sosial penderita setelah proses penyakitnya dihentikan. atau kelainan genetic. Oleh karena itu untuk menekan TSH serendah mungkin diberikan hormon tiroksin (T4) ini juga diberikan untuk mengatasi hipotiroidisme yang terjadi sesudah operasi pengangkatan kelenjar tiroid. Melakukan rehabilitasi dengan membuat penderita lebih percaya diri. leukimia. Menekan munculnya komplikasi dan kecacatan c. sebelum pemberian obat tiroksin. Pencegahan Tertier Pencegahan tersier bertujuan untuk mengembalikan fungsi mental. 4.

. EGC:Jakarta Djokomoeljanto. R. Slamet (Editor). Dalam : Suyono. sjamsuhidayat. 1998. 2001 Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Kelenjar Tiroid Embriologi. Non Toxic.emedicine. 2001.. 2004. Anatomi dan Faalnya. FKUI:Jakarta Lee. Edisi Revisi. Buku Ajar Ilmu Bedah. Stephanie L... W..htm .DAFTAR PUSTAKA De jong. eMedicine http:// www. Goiter.com/med/topic191.