Anda di halaman 1dari 27

PELAKSANAAN PEMBERIAN HIBAH DAN BANTUAN SOSIAL

YANG BERSUMBER DARI APBD TAHUN 2013


PADA DINAS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
PROVINSI SUMATERA BARAT

JURNAL

Diajukan Oleh
DANI ENDARTO
NPM. 0910005600008

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS TAMANSISWA
PADANG
2014

PELAKSANAAN PEMBERIAN HIBAH DAN BANTUAN SOSIAL YANG


BERSUMBER DARI APBD TAHUN2013 DI DINAS PENGELOLAAN
KEUANGAN DAERAH PROPINSI SUMATERA BARAT

(Dani Endarto, FH. Unitas Padang.)

ABSTRAK
Setiap tahun pemerintah daerah baik pemerintah provinsi maupun
pemerintah kabupaten/kota di seluruh Indonesia mengalokasikan anggaran
untuk hibah maupun bantuan sosial dan pemberian bantuan tersebut
dibenarkan.Hibah adalah pemberian uang/ barang atau jasa dari pemerintah
daerah kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya, perusahaan daerah,
masyarakat dan organisasi kemasyarakatan, yang secara spesifik telah
ditetapkan peruntukannya, bersifat tidak wajib dan tidak mengikat, serta tidak
secara terus menerus yang bertujuan untuk menunjang penyelenggaraan urusan
pemerintah daerah. Sementara, bantuan sosial adalah pemberian bantuan berupa
uang/ barang dari pemerintah daerah kepada individu, keluarga, kelompok
dan/atau masyarakat yang sifatnya tidak secara terus menerus dan selektif yang
bertujuan untuk melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial.Rumusan
permasalahan yang dikemukakan adalah (1) pelaksanaan pemberian hibah dan
bantuan sosial yang bersumber dari APBD Tahun 2013 pada Dinas Pengelolaan
Keuangan Daerah Propinsi Sumatera Barat dan (2) Apakah kendala yang
dihadapi dalam pelaksanaan pemberian hibah dan bantuan sosial yang
bersumber dari APBD Tahun 2013 pada Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah
Propinsi Sumatera Barat dan upaya yang dilakukan. Dalam menjawab rumusan
permasalah digunakan pedekatan secara yuridis sosiologis dengan
mengumpulkan data sekunder dan data primer melalui studi pustaka dan
dokumen serta wawancara. Setelah semua data dikumpulkan, lalu diolah
dengan melakukan pengeditan, kemudian dianalisis secara kualitatif.Dari
pengolahan dan analisis data diperoleh jawaban sekaligus kesimpulan penulisan
ini,pelaksanaan pemberian hibah dan bantuan sosial yang bersumber dari APBD
Tahun 2013 pada Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Propinsi Sumatera Barat
didasarkan pada Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 25 Tahun 2013
Tentang Tata Cara Pemberian Hibah Dan Bantuan Sosial. Dilakukan dengan
memperhatikan asas keadilan, kepatutan, rasionalitas, dan manfaat untuk
masyarakat dan Pemberian hibah dan bantuan sosial dilakukan dengan prinsip
selektif, akuntabel, transparan dan keadilan.Kendala adalah penerima bantuan
hibah dan bantuan sosial tidak memahami bahwa bantuan yang diterimanya
2

harus dipergunakan sebagaimana RAB dan kurang memahami bahwa


bantuan yang diterimanya harus dipertanggungjawabkan seseuai ketentuan
yang berlaku dan menyampaikan laporan penggunaan dana kepada Gubernur
cq. Bidang Kuasa BUD DPKD selaku PPKD dan tembusannya disampaikan ke
SKPD pemberi rekomendasi. Sementara upaya yang dilakukan adalah
penyaluran dana hibah dan bantuan sosial yang bersumber dari APBD Provinsi
Sumatera Barat, diberikan tidak sekaligus. Tetapi teknis penyalurannya dibagi ke
dalam dua tahap yaitu tahap pertama disalurkan sebanyak 70 % dari total
bantuan yang diberikan dan 30 % diberikan pada saat penerima bantuan
menyampaikan laporan yang disampaikan ke Gubernur cq. Bidang Kuasa BUD
DPKD , kemudian ditembusankan ke SKPD pemberi rekomendasi. Memintakan
laporan penggunaan dana kepada penerima bantuan dengan cara
mendatangi penerima bantuan yang tersebar di 19 Kabupaten/ Kota di
Sumatera Barat apabila penerima hibah / bantuan sosial belum menyampaikan

laporan pada waktu seseuai dengan ketentuan.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setiap tahun pemerintah daerah baik pemerintah provinsi maupun
pemerintah kabupaten/kota di seluruh Indonesia mengalokasikan anggaran
untuk hibah maupun bantuan sosial. Pemberian bantuan tersebut dibenarkan,
saat ini regulasi pemberian hibah dan bantuan sosial yang bersumber dari
APBD oleh Pemerintah Daerah baik Pemerintah Provinsi dan Pemerintah
Kabupaten/Kota dapat dikatakan komplit walaupun sesungguhnya masih
diperlukan berbagai peraturan pendukung lainnya sebagai penjelasan dari
beberapa ketentuan yang butuh penjelasan dari kementeraian dalam negeri.
Ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur pemberian
hibah dan bantuan sosial oleh pemerintah daerah adalah Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 Tentang Pedoman Pemberian Hibah dan
Bantuan Sosial yang Bersumber dari APBD yang ditetapkan pada tanggal 27
Juli 2011 dan diundangkan pada tanggal 28 Juli 2012. Kemudian pada tanggal
21 Mei 2012 telah ditetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39
Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor
32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang
Bersumber dari APBD yang diundangkan pada tanggal 22 Mei 2012.
Demikian pula sejak tanggal 3 Januari 2012 telah ditetapkan dan diundangkan
PP Nomor 2 Tahun 2012 tentang Hibah Daerah.
Dalam Pasal 1 angka 14 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32
Tahun 2011 Tentang Pedoman Pemberian Hibah Dan Bantuan Sosial Yang
Bersumber

Dari

Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD)

dinyatakan bahwa :
Hibah adalah pemberian uang/ barang atau jasa dari pemerintah daerah
kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya, perusahaan daerah,
masyarakat dan organisasi kemasyarakatan, yang secara spesifik telah
ditetapkan peruntukannya, bersifat tidak wajib dan tidak mengikat, serta tidak

secara terus menerus yang bertujuan untuk menunjang penyelenggaraan


urusan pemerintah daerah.

Sementara itu, dalam Pasal 1 angka 15 Peraturan Menteri Dalam Negeri


Nomor 32 Tahun 2011 Tentang Pedoman Pemberian Hibah Dan Bantuan
Sosial Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah
(APBD) dinyatakan bahwa : Bantuan sosial adalah pemberian bantuan
berupa uang/ barang dari pemerintah daerah kepada individu, keluarga,
kelompok dan/atau masyarakat yang sifatnya tidak secara terus menerus dan
selektif yang bertujuan untuk melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko
sosial.

B. Perumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang di atas, beberapa permasalahan yang dapat
dikemukakan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pelaksanaan pemberian hibah dan bantuan sosial yang
bersumber dari APBD Tahun 2013 pada Dinas Pengelolaan Keuangan
Daerah Propinsi Sumatera Barat ?
2. Apakah kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pemberian hibah dan
bantuan sosial yang bersumber dari APBD Tahun 2013 pada Dinas
Pengelolaan Keuangan Daerah Propinsi Sumatera Barat dan upaya yang
dilakukan ?

C. Tujuan
Adapun tujuan yang hendak dicapai yaitu untuk mengetahui bagaimana
pelaksanaan pemberian hibah dan bantuan sosial yang bersumber dari APBD
Tahun 2013 pada Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Propinsi Sumatera
Baratdan apa kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pemberian hibah dan
bantuan sosial yang bersumber dari APBD Tahun 2013 pada Dinas
Pengelolaan Keuangan Daerah Propinsi Sumatera Barat dan upaya yang
dilakukan.
5

PEMBAHASAN

1. Pelaksanaan Pemberian Hibah Yang Bersumber Dari APBD Tahun 2013


Pada Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Propinsi Sumatera Barat

Pada uraian sebelumnya telah disebutkan bahwa hibah adalah


pemberian uang/barang atau jasa dari pemerintah daerah kepada pemerintah
atau pemerintah daerah lainnya, perusahaan daerah, masyarakat dan
organisasi

kemasyarakatan,

yang

secara

spesifik

telah

ditetapkan

peruntukannya, bersifat tidak wajib dan tidak mengikat, serta tidak secara
terus menerus yang bertujuan untuk menunjang penyelenggaraan urusan
pemerintah daerah. Intinya pemerintah daerah dapat memberikan hibah dan
bantuan sosial dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah.
Pemberian hibah dilakukan setelah memprioritaskan pemenuhan belanja
urusan wajibdengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, rasionalitas
dan manfaat untuk masyarakat. Dalam arti kata pemberian hibah dan
bantuan sosial dapat diberikan jika seluruh belanja urusan wajib sudah
terpenuhi atau tidak ada lagi belanja satuan kerja (urusan wajib) yang tidak
teranggarkan dalam anggaran belanja, yaitu pendidikan, kesehatan, pekerjaan
umum, perumahan rakyat, penataan ruang, perencanaan pembangunan,
perhubungan, lingkungan hidup, pertanahan, kependudukan dan catatan sipil,
pemberdayaan perempuan, keluarga berencana, sosial, tenaga kerja, koperasi
dan usaha kecil dan menengah, penanaman modal, kebudayaan, pemuda dan
olahraga, kesbangpol, kepegawaian, pemberdayaan masyarakat dan desa,
statistik, arsip dan komunikasi dan informatika.
Pemberian hibah ditujukan untuk menunjang pencapaian sasaran
program dan kegiatan pemerintah daerah dengan memperhatikan asas
keadilan, kepatutan, rasionalitas, dan manfaat untuk masyarakat. Hibah
yang diberikan kepada penerima memangharus benar-benar menunjang
pencapaian sasaran dan kegiatan pemerintah daerahdan tidak untuk
menunjang pencitraan kinerja pemerintah daerah dengan berpijak pada
6

asas keadilan yaitu terdapat keseimbangan distribusi kewenangan dan


pendanaannya dan/atau keseimbangan distribusi hak dan kewajiban
berdasarkan pertimbangan objektif, asas kepatutan, yaitu tindakan atau suatu
sikap yang dilakukan dengan wajar dan proporsional, asas rasionalitas yaitu
keputusan atas pemberian hibah banar-banar mencapai sasaran dan dapat
dipertanggungjawabkan serta asas manfaat untuk masyarakat, yaitu bahwa
keuangan daerah diutamakan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Pemberian hibah harus memenuhi kriteria peruntukannya secara
spesifik telah ditetapkan, tidak wajib, tidak mengikat dan tidak terus menerus
setiap tahun anggaran, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundangundangan dan memenuhi persyaratan penerima hibah sebagai berikut :
a. Hibah kepada masyarakat diberikan dengan persyaratan memiliki
kepengurusan yang jelas dan berkedudukan dalam wilayah administrasi
pemerintah daerah yang bersangkutan.
b. Hibah kepada organisasi kemasyarakatan diberikan dengan persyaratan
telah terdaftar pada pemerintah daerah setempat sekurang-kurangnya 3
tahun, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan,
berkedudukan dalam wilayah daerah danmemiliki sekretariat tetap.
Penganggaran hibah diawali dari usulan hibah secara tertulis kepada
Gubernur yang diajukan pemerintah, pemerintah daerah lainnya, perusahaan
daerah, masyarakat dan organisasi kemasyarakatan. Untuk melakukan evaluasi
terhadap usulan yang diajukan, Gubernur menunjuk Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) terkait untuk melakukan evaluasi atas usulan dimaksud
melalui sebuah Keputusan Gubernur. Evaluasi yang dilakukan oleh Kepala
SKPD terkait meliputi usulan yang diajukan, mengecek kelengkapan
persyaratan administrasi dan menetapkan besaranhibah yang akan diberikan.
SKPD yang melakukan evaluasi adalah SKPD yang mempunyai tugas pokok
dan fungsi pengkoordinasian, pembinaan dan pengawasan terhadap calon
penerima hibah. SKPD yang melakukan evaluasi dapat berkoordinasi dengan
SKPD lain apabila usulan yang diajukan oleh calon penerima hibah secara
substansi terkait dengan SKPD tersebut.
7

Hasil evaluasi disampaikan dalam bentuk rekomendasi kepada


Gubernur melalui Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). TAPD
memberikan pertimbangan atas rekomendasi sesuai dengan prioritas dan
kemampuan keuangan daerah. Ketua TAPD menunjuk pejabat/tim yang
memberikan pertimbangan sesuai dengan prioritas dan kemampuan keuangan
daerah. Rekomendasi kepala SKPD terkait dan pertimbangan TAPD menjadi
dasar pencantuman alokasi anggaran hibah dalam rancangan KUA dan PPAS.
Pencantuman alokasi anggaran meliputi anggaran hibah berupa uang, barang
dan/atau jasa.
Hibah berupa uang dicantumkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran
PPKD selanjutnya disingkat dengan RKA-PPKD. Hibah berupa barang
dan/atau jasa dicantumkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran SKPD (RKASKPD). RKA-PPKD dan RKA-SKPD menjadi dasar penganggaran hibah
dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD sesuai peraturan
perundang-undangan. Hibah berupa uang dianggarkan dalam kelompok
belanja tidak langsung, jenis belanja hibah, obyek belanja hibah, dan rincian
obyek belanja hibah pada RKA-PPKD. Obyek belanja hibah dan rincian
obyek belanja hibah meliputi pemerintah, pemerintah daerah lainnya,
perusahaan daerah, masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan. Hibah berupa
barang dan/atau jasa dianggarkan dalam kelompok belanja langsung yang
diformulasikan ke dalam program dan kegiatan, yang diuraikan ke dalam jenis
belanja barang dan jasa, obyek belanja hibah barang dan/atau jasa serta rincian
obyek belanja hibah barang dan/atau jasa yang diserahkan kepada pihak
ketiga/masyarakat pada RKA-SKPD.
Pelaksanaan anggaran hibah berupa uang berdasarkan atas Dokumen
Pelaksanaan Anggaran PPKD (DPA-PPKD). Pelaksanaan anggaran hibah
berupa barang dan/atau jasa berdasarkan atas DPA-SKPD. Setiap pemberian
hibah dituangkan dalam Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) yang
ditandatangani bersama oleh Gubernur dan penerima hibah. NPHD paling
sedikit memuat ketentuan mengenai:
a. Pemberi dan penerima hibah;
8

b. tujuan pemberian hibah;


c. besaran/rincian penggunaan hibah yang akan diterima;
d. hak dan kewajiban;
e. tata carapenyaluran/penyerahan hibah;
f. tata cara pelaporan hibah; dan
g. foto copy rekening penerima hibah.
Gubernur

dapat

menunjuk

pejabat

yang

diberi

wewenang

untuk

menandatangani NPHD yaitu kepala SKPD pemberi rekomendasi.


Melalui Keputusan Gubernur berdasarkan Peraturan Daerah tentang
APBD dan Peraturan Gubernur tentang Penjabaran APBD,Gubernur
menetapkan daftar penerima hibah beserta besaran uang atau jenis barang
dan/atau jasa yang akan dihibahkan. Daftar penerima hibah tersebut menjadi
dasar penyaluran/penyerahan hibah. Penyaluran/penyerahan hibah dari
pemerintah daerah kepada penerima hibah dilakukan setelah penandatanganan
NPHD. Pencairan hibah dalam bentuk uang dilakukan dengan mekanisme
pembayaran langsung (LS) yang penggunaannya sesuai dengan NPHD.
Pencairan hibah dalam bentuk barang atau jasa pengadaannya dilakukan pada
kegiatan SKPD.
Khusus untuk rumah ibadah, persyaratan pencairan dananya ditambah
dengan melampirkan Surat keterangan keberadaan rumah ibadah dari
pemerintah daerah setempat KUA dan/atau Wali Nagari dan/atau Lurah
dan/atau

Camat.

SKPD

pemberi

rekomendasi

setelah

mengevaluasi

kelengkapan administrasi yang dipersyaratkan, meneruskan ke DPKD melalui


bidang Kuasa Bendahara Umum Daerah (BUD). Mekanisme pencairan dana
hibah dalam bentuk barang diproses oleh SKPD terkait melalui langkahlangkah sebagai berikut :
a.

Bendahara Pengeluaran PPKD membuat SPP setelah melengkapi


ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2); dan

b.

PPK-PPKD menerbitkan SPM sesuai dengan ketentuan peraturan


perundang-undangan.

Berdasarkan Surat Permintaan Pembayaran (SPP), Surat Perintah


Membayar (SPM) dan kelengkapannya, Kuasa BUD menerbitkan Surat
Perintah Pencairan Dana (SP2D) dan setelah diotorisasi diteruskan ke Bank
Nagari.Bank Nagari selaku penyimpanuang milik pemerintah daerah
melakukan transfer dana kepada penerima hibah sesuai dengan yang
tercantum dalam SP2D.Pencairan dana hibah dilakukan berdasarkan alokasi
aliran kas yang sudah ditetapkan dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran
PPKD (DPA-PPKD). Pencairan dana hibah yang dilakukan secara triwulan,
maka pencairan triwulan berikutnya harus melampirkan laporan penggunaan
dana triwulan sebelumnya.
Penerima hibah bertanggungjawab secara formal dan material atas
penggunaan hibah yang diterimanya.Pertanggungjawaban penerima hibah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a.

Laporan penggunaan hibah;

b.

Pakta Integritas dan Surat Pernyataan Tanggungjawab yang menyatakan


bahwa hibah yang diterima telah digunakan sesuai NPHD; dan

c.

bukti-bukti pengeluaran yang lengkap dan sah sesuai peraturan


perundang-undangan bagi penerima hibah berupa uang atau salinan bukti
serah terima barang/jasa bagi penerima hibah berupa barang/jasa.

Pertanggungjawaban disampaikan kepada Gubernur melalui SKPD pemberi


rekomendasi paling lambat tanggal 10 bulan Januari tahun anggaran
berikutnya,

kecuali

ditentukan

lain

sesuai

peraturan

perundang-

undangan.Penerima hibah berupa uang menyampaikan laporan penggunaan


hibah kepada Gubernur melalui Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD)
(rangkap dua) dengan tembusan kepada SKPD terkait.
Penerima hibah berupa barang dan/atau jasa menyampaikan laporan
penggunaan

hibah

kepada

Gubernur

melalui

SKPD

terkait.

Pertanggungjawaban disimpan dan dipergunakan oleh penerima hibah selaku


obyek pemeriksaan. Hibah dalam bentuk barang dipertanggungjawabkan oleh
penerima hibah berdasarkan berita acara serah terima barang dan penggunaan
atau pemanfaatannya harus sesuai dengan NPHD, proposal hibah atau
10

dokumen lain yang dipersamakan.Hibah berupa barang yang belum


diserahkan kepada penerima hibah sampai dengan akhir tahun anggaran
berkenaan dilaporkan sebagai persediaan dalam neraca. Hibah berupa uang
dicatat sebagai realisasi jenis belanja hibah pada PPKD dalam tahun anggaran
berkenaan. Hibah berupa barang dan/atau jasa dicatat sebagai realisasi obyek
belanja hibah pada jenis belanja barang dan jasa dalam program dan kegiatan
pada SKPD terkait.
Sementara penerima hibah berupa uang menyampaikan laporan
penggunaan hibah kepada Gubernur melalui PPKD dengan tembusan kepada
SKPD terkait. Penerima Hibah berupa barang dan/atau jasa menyampaikan
laporan penggunaan hibah kepada Gubernur melalui SKPD terkait. Apabila
penerima hibah belum menyampaikan laporan penggunaan dana, SKPD
pemberi rekomendasi wajib memperingatkan penerima hibah dengan
menyampaikan peringatan tertulis maksimal 3 (tiga) kali. Apabila peringatan
diabaikan oleh penerima hibah menjadi tanggungjawab penuh penerima hibah.
Realisasi hibah dalam bentuk uang dicantumkan pada laporan
keuangan pemerintah daerah dalam tahun anggaran berkenaan . Realisasi
hibah dicantumkan sebesar Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) yang telah
ditransfer ke rekening penerima hibah. Realisasi hibah berupa barang
dikonversikan sesuai standar akuntansi pemerintahan pada laporan realisasi
anggaran dan diungkapkan pada catatan atas laporan keuangan dalam
penyusunan laporan keuangan.
Terhadap realisasi hibah di atas, SKPD terkait melakukan monitoring
dan evaluasi atas pemberian hibah. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi
dilakukan dengan memperhatikan efesiensi, efektifitas dan ekonomis. Hasil
monitoring dan evaluasi diserahkan kepada Gubernur dengan tembusan
kepada SKPD terkait yang mempunyai tugas dan fungsi pengawasan. Apabila
dalam hasil monitoring dan evaluasi terdapat penggunaan hibah yang tidak
sesuai dengan usulan yang telah disetujui, penerima hibah yang bersangkutan
dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

11

Bila diperhatikan dengan cermat pelaksanaan pemberian hibah yang


bersumber dari APBD sebagaimana diuraikan di atas dapat ditegaskan bahwa
pemberian hibah tersebut harus memenuhi kriteria paling sedikit
peruntukannya secara spesifik telah ditetapkan baik melalui Peraturan Kepala
Daerah, Keputusan Kepala Daerah, dan Naskah Perjanjian Hibah Daerah,
tidak wajib, tidak mengikat dan tidak terus-menerus setiap tahun anggaran,
kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan. Tidak terusmenerus setiap tahun anggaran maksudnya adalah tidak mengulang-ulang
dalam satu tahun anggaran, kriteria lainnya dapat ditambahkan dalam
peraturan kepala daerah tentang tata cara penganggaran, pelaksanaan dan
penatausahaan, pertanggungjawaban dan pelaporan serta monitoring dan
evaluasi hibah dan bantuan sosial, sesuai kebutuhan daerah masing-masing
sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 32 Tahun 2011 Tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan
Sosial yang Bersumber dari APBD jo Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 39 Tahun 2012 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan
Bantuan Sosial yang Bersumber dari APBD.
2. Pelaksanaan Pemberian Bantuan Sosial Yang Bersumber Dari APBD
Tahun 2013 Pada Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Propinsi
Sumatera Barat
Bantuan sosial merupakan pemberian bantuan berupa uang/barang dari
pemerintah daerah kepada individu, keluarga, kelompok dan/atau masyarakat
yang sifatnya tidak secara terus menerus dan selektif yang bertujuan untuk
melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial.
Ketentuan pelaksanaan pemberian Bantuan Sosial yang bersumber dari
APBD diatur dalam Pasal 33 sampai dengan Pasal 60 Peraturan Gubernur
Sumatera Barat Nomor 25 Tahun 2013 Tentang Tata Cara Pemberian Hibah
Dan Bantuan Sosial yang menyebutkan bahwa, pemerintah daerah dapat
memberikan bantuan sosial kepada anggota/kelompok masyarakat sesuai
12

kemampuan keuangan daerah. Diberikan setelah memprioritaskan pemenuhan


belanja urusan wajib dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan,
rasionalitas dan manfaat untuk masyarakat. Bertujuan untuk memberikan
perlindungan

terhadap

kemungkinan

terjadinya

resiko

sosial.

Anggota/kelompok masyarakat dimaksud meliputi individu, keluarga,


dan/atau masyarakat yang mengalami keadaan yang tidak stabil sebagai akibat
dari krisis sosial, ekonomi, politik, bencana, atau fenomena alam agar dapat
memenuhi kebutuhan hidup minimum, lembaga non pemerintahan bidang
pendidikan, keagamaan, dan bidang lain yang berperan untuk melindungi
individu, kelompok, dan/atau masyarakat dari kemungkinan terjadinya resiko
sosial baik yang terjadi secara sendiri atau bersamaan yaitu :
a. Resiko yang terkait dengan siklus hidup, antara lain kelaparan, penyakit,
cacat,usia tua dan kematian;
b. Resiko yang terkait dengan kondisi ekonomi, antara lain hilangnya
sumber penghasilan, pengangguran, pendapatan rendah, kenaikan harga
kebutuhan pokok dan krisis ekonomi;
c. Resiko yang terkait dengan lingkungan, antara lain kekeringan, banjir,
gempa bumi, tanah longsor dan kebakaran;
d. Resiko yang terkait dengan kondisi sosial/pemerintahan, antara lain
kehilangan status sosial, kekerasan domestik, ketidak stabilan politik dan
korupsi.
Bantuan sosial dapat berupa uang dan/atau barang yang diterima
langsung oleh penerima bantuan sosial. Bantuan sosial berupa uang adalah
uang yang diberikan secara langsung kepada penerima bantuan sosial yang
telah memenuhi kriteria, antara lain beasiswa bagi anak miskin, yayasan
pengelola yatim piatu, nelayan miskin, masyarakat lanjut usia, terlantar, cacat
berat

dan

tunjangan

kesehatan

putra

putri

pahlawan

yang

tidak

mampu.Sementara bantuan sosial berupa barang adalah barang yang diberikan


secara langsung baik berupa barang habis pakai maupun berbentuk aset tetap
kepada penerima bantuan sosial yang telah memenuhi kriteriaantara lain
bantuan kendaraan operasional untuk sekolah luar biasa swasta dan
13

masyarakat tidak mampu, bantuan perahu untuk nelayan miskin, bantuan


makanan/pakaian kepada yatim piatu/tuna sosial, ternak bagi kelompok
masyarakat kurang mampu.
Bantuan sosial berupa uang kepada individu dan/atau keluarga terdiri
dari bantuan sosial kepada individu dan/atau keluarga yang direncanakan dan
yang tidak dapat direncanakan sebelumnya. Bantuan sosial yang direncanakan
dialokasikan kepada individu dan/atau keluarga yang sudah jelas nama alamat
penerima dan besarannya pada saat penyusunan APBD. Bantuan sosial yang
tidak dapat direncanakan sebelumnya dialokasikan untuk kebutuhan akibat
resiko sosial yang tidak dapat diperkirakan pada saat penyusunan APBD yang
apabila ditunda penanganannya akan menimbulkan resiko sosial yang lebih
besar bagi individu dan/atau keluarga yang bersangkutan.Pagu alokasi
anggaran yang tidak dapat direncanakan sebelumnya tidak melebihi pagu
alokasi anggaran yang direncanakan.
Pemberian bantuan sosial memenuhi kriteria paling sedikit selektif,
memenuhi persyaratan penerima bantuan, bersifat sementara dan tidak terus
menerus, kecuali dalam keadaan tertentu dapat berkelanjutan, dansesuai
tujuan penggunaan. Kriteria selektif dimaksudkan bahwa bantuan sosial
hanya diberikan kepada calon penerima yang ditujukan untuk melindungi dari
kemungkinan resiko sosial. Kriteria memenuhi persyaratan penerima bantuan
meliputi memiliki indentitas yang jelas dan berdomisili dalam wilayah
daerah. Kriteria bersifat sementara dan tidak terus menerus diartikan bahwa
pemberian bantuan sosial tidak wajib dan tidak harus diberikan setiap tahun
anggaran.Keadaan tertentu dapat berkelanjutan diartikan bahwa bantuan
sosial dapat diberikan setiap tahun anggaran sampai penerima bantuan telah
lepas dari resiko sosial. Kriteria sesuai tujuan penggunaan diartikan bantuan
sosial dapat diberikan sesuai dengan tujuan yang meliputi rehabilitasi sosial,
perlindungan sosial, pemberdayaan sosial, jaminan sosial, penanggulangan
kemiskinan; danpenanggulangan bencana.
Rehabilitasi sosial ditujukan untuk memulihkan dan mengembangkan
kemampuan seseorang yang mengalami disfungsi sosial agar dapat
14

melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar. Perlindungan sosial ditujukan


untuk mencegah dan menangani resiko dari guncangan dan kerentanansosial
seseorang, keluarga, kelompok masyarakat agar kelangsungan hidupnya dapat
dipenuhi sesuai dengan kebutuhan dasar minimal. Pemberdayaan sosial
ditujukan untuk menjadikan seseorang atau kelompok masyarakat yang
mengalami masalah sosial mempunyai daya sehingga mampu memenuhi
kebutuhan dasarnya. Jaminan sosial merupakan skema yang melembaga
untuk menjamin penerima bantuan agar dapat memenuhi kebutuhan dasar
hidupnya yang layak. Penanggulangan kemiskinan merupakan kebijakan,
program, dan kegiatan yang dilakukan terhadap orang, keluarga, kelompok
masyarakat yang tidak mempunyai atau mempunyai sumber mata
pencaharian dan tidak dapat memenuhi kebutuhan yang layak bagi
kemanusiaan. Penanggulangan bencana merupakan serangkaian upaya yang
ditujukan untuk rehabilitasi.
Persyaratan pemberian bantuan sosial yang dapat direncanakan bagi
individu dan/atau keluarga meliputi surat permohonan bantuan sosial,
Proposal rencana anggaran biaya, surat keterangan tidak mampu yang
ditandatangani oleh pejabat yang berwenang, surat keterangan indentitas diri
(KTP/SIM/Kartu Mahasiswa) yang masih berlaku, surat keterangan dari
pimpinan lembaga pendidikan terkait (Kepala Sekolah/Rektor); dan surat izin
usaha dari pejabat yang berwenang.Sementara persyaratan pemberian bantuan
sosial yang dapat direncanakan bagi kelompok masyarakat dan lembaga non
pemerintah meliputi surat permohonan bantuan sosial, proposal yang
dilengkapi rencana anggaran biaya, struktur organisasi dan kepengurusan
yang jelas, surat keterangan indentitas diri (KTP/SIM) bagi ketua organisasi
yang masih berlaku, surat keterangan keberadaan organisasi/lembaga dari
pejabat

setempat;

dan

surat

izin

usaha

dari

pejabat

yang

berwenang.Pemberian bantuan sosial kepada siswa/mahasiswa yang tidak


mampu

namun

berprestasi

dalam

melaksanakan

pendidikan

harus

membuktikan surat keterangan tidak mampu dan surat keterangan Kepala


sekolah untuk Siswa dan Dekan dan/atau Rektor dan/atau pimpinan
15

perguruan tinggi untuk Mahasiswa. Pemberian bantuan sosial biaya


pendidikan tidak termasuk dalam program kegiatan Dinas Pendidikan
Provinsi Sumatera Barat. Besaran dana bantuan diberikan paling tinggi
sebagai berikut :
a. Untuk tingkat mahasiswa strata 1 (S1) sebesar Rp.5.000.000,- (lima juta
rupiah);
b. Untuk tingkat SLTA sebesar Rp.4.000.000,- (empat juta rupiah);
c. Untuk tingkat SLTP sebesar Rp.2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu
rupiah); dan
d. Untuk Tingkat SD dan sederajat sebesar Rp.1.000.000,- (satujuta rupiah).
SKPD yang melakukan evaluasi yaitu SKPD yang mempunyai tugas
pokok dan fungsi pengkoordinasian, pembinaan dan pengawasan terhadap
calon penerima bantuan sosial. SKPD yang melakukan evaluasi dapat
berkoordinasi dengan SKPD lain apabila usulan yang diajukan oleh calon
penerima bantuan sosial secara substansi terkait dengan SKPD tersebut. Hasil
evaluasi disampaikan dalam bentuk rekomendasi kepada Gubernur melalui
TAPD. TAPD memberikan pertimbangan atas rekomendasi sesuai dengan
prioritas dan kemampuan keuangan daerah. Ketua TAPD menunjuk
pejabat/tim yang memberikan pertimbangan sesuai dengan prioritas dan
kemampuan keuangan daerah. Rekomendasi kepala SKPD terkait dan
pertimbangan TAPD menjadi dasar pencantuman alokasi anggaran bantuan
sosial dalam rancangan KUA dan PPAS. Pencantuman alokasi anggaran
meliputi anggaran bantuan sosial berupa uang dan/atau barang.
Bantuan sosial berupa uangdicantumkan dalam RKA-PPKD.
Bantuan sosial berupa barangdan/atau jasa dicantumkan dalam RKA-SKPD.
RKA-PPKD dan RKA-SKPD menjadi dasar penganggaran bantuan sosial
dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.Bantuan sosial berupa uang dianggarkan dalam
kelompok belanja tidak langsung, jenis belanja bantuan sosial, obyek belanja
bantuan sosial, dan rincian obyek belanja bantuan sosial pada PPKD.Obyek
belanja bantuan sosial dan rincian obyek belanja bantuan sosial
16

meliputiindividu

dan/atau

keluarga,

masyarakat,

dan

lembaga

non

pemerintahan.Bantuan sosial berupa barang dan/atau jasa dianggarkan dalam


kelompok belanja langsung yang diformulasikan kedalam program dan
kegiatan, yang diuraikan kedalam jenis belanja barang dan jasa, objek belanja
bantuan sosial barang dan rincian obyek belanja bantuan sosial barang yang
diserahkan pihak ketiga/masyarakat pada SKPD.Bantuan sosial yang tidak
dapat direncanakan sebelumnya dialokasikan untuk kebutuhan akibat resiko
sosial yang tidak dapat diperkirakan pada saat penyusunan APBD yang
apabila ditunda penanganannya akan menimbulkan resiko sosial yang lebih
besar bagi individu dan/atau keluarga yang bersangkutan.
Pelaksanaan anggaran bantuan sosial berupa uang berdasarkan atas
DPA-PPKD.

Pelaksanaan

anggaran

bantuan

sosial

berupa

barang

berdasarkan atas DPA-SKPD. Gubernur menetapkan daftar penerima dan


besaran bantuan sosial dengan Keputusan Gubernur berdasarkan Peraturan
Daerah tentang APBD dan Peraturan Gubernur tentang Penjabaran
APBD.Penyaluran dan/atau penyerahan bantuan sosial didasarkan pada daftar
penerima bantuan sosial yang tercantum dalam Keputusan Gubernur kecuali
bantuan sosial kepada individu dan/atau keluarga yang tidak dapat
direncanakan sebelumnya. Penyaluran/penyerahan bantuan sosial kepada
individu dan/atau keluarga yang tidak dapat direncanakan sebelumnya
didasarkan pada permintaan tertulis dari individu dan/atau keluarga yang
bersangkutan atau surat keterangan dari pejabat yang berwenang serta
mendapat persetujuan Gubernur setelah diverifikasi oleh SKPD terkait.
SKPD pemberi rekomendasi setelah mengevaluasi kelengkapan
administrasi yang dipersyaratkanselanjutnya meneruskan ke DPKD melalui
Bidang Kuasa BUD.Mekanisme pencairan bantuan sosial yang dapat
direncanakan khususnya dalam bentuk barang, diproses oleh SKPD terkait
berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Pencairan bantuan sosial yang tidak dapat direncanakan sebelumnya
dilakukan dengan mengajukan surat permohonan pencairan oleh calon

17

penerima bantuan sosial kepada Gubernur melalui SKPD.SKPD ditetapkan


dengan Keputusan Gubernur.Surat permohonan dilampiri dengan:
1. Surat keterangan tidak mampu dari pejabat yang berwenang (lurah
dan/atau wali nagari dan/atau camat);
2. Fotocopy KTP/Indentitas yang masih berlaku; dan
3. Surat pernyataan bertanggungjawab.
Permohonan baru dapat direalisir setelah mendapat persetujuan dari
Gubernur dan/atau pejabat yang berwenang.
Mekanisme pencairan bantuan sosial dilakukan melalui langkahlangkah sebagai berikut :
a.

Bendahara Pengeluaran PPKD membuat SPP setelah melengkapi


ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48ayat (2) dan pasal 51
ayat (3);

b.

PPK-PPKD selanjutnya menerbitkan SPM sesuai dengan ketentuan


peraturan perundang-undangan.

Berdasarkan SPP, SPM dan kelengkapannya, Bidang Kuasa BUD melakukan


penerbitan SP2D.SP2D diteruskan ke Bank Nagari selaku penyimpan uang
milik pemerintah daerah dan selanjutnya di transfer ke rekening yang
tercantum dalam SP2D.
Penyaluran/penyerahan

bantuan

sosial

yang

direncanakan

didasarkan pada daftar penerima bantuan sosial yang tercantum dalam


Keputusan Gubernur.Pencairan bantuan sosial berupa uang dilakukan dengan
cara pembayaran langsung (LS).Dalam hal bantuan sosial berupa uang
dengan nilai sampai dengan Rp.5.000.000,00 (lima juta rupiah) pencairannya
dapat dilakukan melalui mekanisme pembayaran langsung (LS) kepada
Bendahara Pengeluaran PPKD, selanjutnya bendahara bantuan melakukan
proses pemindahbukuan dari rekening bendahara bantuan ke rekening
penerima bantuan.Penyaluran dana bantuan sosial kepada penerima bantuan
sosial dilengkapi dengan kuitansi bukti penerimaan uang bantuan
sosial.Pertanggungjawaban bagi individu dan/atau keluarga yang tidak dapat
direncanakan sebelumnya meliputi nota Persetujuan dari Gubernur dan/atau
18

pejabat yang berwenangdan tanda terima uang beserta perincian peruntukan


penggunaannya.
Penerima bantuan sosial bertanggungjawab secara formal dan
material

atas

penggunaan

bantuan

sosial

yang

diterimanya.

Pertanggungjawaban penerima bantuan sosial meliputi:


a.

laporan penggunaan bantuan sosial oleh penerima bantuan sosial;

b.

surat pernyataan tanggungjawab yang menyatakan bahwa bantuan sosial


yang diterima telah digunakan sesuai dengan usulan; dan

c.

bukti-bukti pengeluaran yang lengkap dan sah sesuai peraturan


perundang-undangan bagi penerima bantuan sosial berupa uang atau
salinan bukti serah terima barang bagi penerima bantuan sosial berupa
barang.
Pertanggungjawaban disampaikan kepada Gubernur paling lambat

tanggal 10 bulan Januari tahun anggaran berikutnya. Pertanggungjawaban


disimpan dan dipergunakan oleh penerima bantuan sosial selaku obyek
pemeriksaan. Pertanggungjawaban merupakan bukti fisik yang harus
disimpan oleh sipenerima bantuan yang akan pergunakan sebagai obyek
pemeriksaan. Penerima bantuan sosial berupa uang menyampaikan laporan
penggunaan bantuan sosial kepada Gubernur melalui PPKD dengan tembusan
kepada SKPD terkait.Penerima bantuan sosial berupa barang menyampaikan
laporan penggunaan bantuan sosial kepada Gubernur melalui kepala SKPD
terkait.
Bantuan sosial berupa uang dicatat sebagai realisasi jenis belanja
bantuan sosial pada PPKD dalam tahun anggaran berkenaan.Bantuan sosial
berupa barang dicatat sebagai realisasi obyek belanja bantuan sosial pada
jenis belanja barang dan jasa dalam program dan kegiatan pada SKPD terkait.
Realisasi bantuan sosial dicantumkan pada laporan keuangan pemerintah
daerah dalam tahun anggaran berkenaan. Bantuan sosial berupa barang yang
belum diserahkan kepada penerima bantuan sosial sampai dengan akhir tahun
anggaran berkenaan dilaporkan sebagai persediaan dalam neraca. Realisasi
bantuan sosial berupa barang dikonversikan sesuai standar akuntansi
19

pemerintahan pada laporan realisasi anggaran dan dicantumkan pada catatan


atas laporan keuangandalam penyusunan laporan keuangan pemerintah
daerah.
SKPD terkait melakukan monitoring dan evaluasi atas pemberian
hibah dan bantuan sosial.Pelaksanaan monitoring dan evaluasidilakukan
dengan memperhatikan efesiensi, efektifitas dan ekonomis.Hasil monitoring
dan evaluasi disampaikan kepada Gubernur dengan tembusan kepada
SKPDterkait yang mempunyai tugas dan fungsi pengawasan.Apabila dalam
hasil monitoring dan evaluasi terdapat penggunaan hibah dan bantuan sosial
yang tidak sesuai dengan usulan yang telah disetujui, penerima hibah dan
bantuan sosial yang bersangkutan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
Kendala Yang Dihadapi Dalam Pelaksanaan Pemberian Hibah Dan
Bantuan Sosial Yang Bersumber Dari APBD Tahun 2012 Pada Dinas
Pengelolaan Keuangan Daerah Propinsi Sumatera Barat Dan Upaya
Yang Dilakukan
Dalam rangka tertib administrasi, akuntabilitas dan transparansi
pemberian hibah dan bantuan sosial telah dikeluarkan Peraturan Gubernur
Sumatera Barat Nomor 25 Tahun 2013 Tentang Tata Cara Pemberian Hibah
Dan Bantuan Sosial yang akan dijadikan pedoman dalam pemberian Hibah
dan bantuan sosial, mulai dari penganggaran, pelaksanaan dan penatausahaan,
pelaporan dan pertanggungjawaban serta monitoring dan evaluasi pemberian
hibah dan bantuan sosial yang bersumber dari APBD di Provinsi Sumatera
Barat. Setiap tahun pemerintah daerah Provinsi Sumatera Barat telah
mengalokasikan anggaran untuk hibah maupun bantuan sosial. dalam
penyalurannya mempedomani Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 25
Tahun

2013 Tentang Tata Cara Pemberian Hibah Dan Bantuan Sosial.

Namun dalam pemberian hibah dan bantuan sosial tersebut masih ditemukan

20

kendala sebagaimana terungkap dari hasil wawancara penulis dengan Bapak


KGS. Darwin selaku KPA bantuan yang menyatakan sebagai berikut : 1)
Pemberian hibah dan bantuan sosial mengacu pada Peraturan Gubernur
Sumatera Barat Nomor 25 Tahun 2013 Tentang Tata Cara Pemberian Hibah
Dan Bantuan Sosial, dilakukan dengan memperhatikan asas

keadilan,

kepatutan, rasionalitas, dan manfaat untuk masyarakat dan prinsip selektif,


akuntabel, transparan dan keadilan. Namun dalam pelaksanaanya menemui
beberapa kendala yaitu :
1. Penerima bantuan hibah dan bantuan sosial tidak memahami bahwa
bantuan yang diterimanya harus dipergunakan sebagaimana RAB yang
dicantumkan dalam proposal dan apabila ada perubahan penggunaan
dana tersebut harus melalui prosedur yang berlaku.
2. Penerima bantuan hibah dan bantuan sosial kurang memahami bahwa
bantuan yang diterimanya harus

dipertanggungjawabkan seseuai

ketentuan yang berlaku dan menyampaikan laporan penggunaan dana


kepada Gubernur cq. Bidang Kuasa BUD DPKD selaku PPKD dan
tembusannya disampaikan ke SKPD pemberi rekomendasi. Apabila
banyak penerima bantuan tidak menyampaikan laporannya akan
menjadi catatan bagi pemeriksa internal yaitu inspektorat dan eksternal
yaitu Inspektur Jenderal maupun BPK yang akan berujung pada penilain
kinerja Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Barat yang bertekad untuk
mencapai opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Mencermati keterangan yang diberikan oleh Bapak KGS. Darwin


selaku KPA bantuan di atas, dapat penulis jelaskan disini bahwa kurang
atau tidak pahamnya penerima bantuan hibah dan bantuan sosial bahwa
bantuan yang diterimanya harus dipergunakan sebagaimana RAB yang
dicantumkan dalam proposal dan apabila ada perubahan penggunaan dana

1)

Wawancara dengan Bapak KGS. Darwin, KPA Bantuan, di Dinas Pengelolaan


Keuangan Daerah Provinsi Sumatera Barat, tanggal 26 Maret 2014.
21

tersebut harus melalui prosedur

yang berlaku,

sudah

sepatutnya

merupakan kendala atau masalah tersendiri dalam pemberian bantuan


hibah dan bantuan sosial. Sebab, sebagaimana diketahui anggaran hibah
dan bantuan sosial yang diterima oleh penerima hibah dan bantuan sosial
ditetapkan berdasarkan proposal yang diusulkan dan anggaran yang
diterima tersebut harus dilaporkan dan tentu anggaran yang diterima oleh
peerima hibah dan bantuan sosial harus dipertanggungjawabkan oleh
sesuai dengan proposal yang diusulkan tersebut.
Begitu juga dengan kurang pahamnya penerima bantuan hibah dan
bantuan

sosial

bahwa

bantuan

yang

diterimanya

harus

dipertanggungjawabkan seseuai ketentuan yang berlaku dan menyampaikan


laporan penggunaan dana kepada Gubernur cq. Bidang Kuasa BUD DPKD
selaku PPKD dan tembusannya disampaikan ke SKPD pemberi rekomendasi.
Apabila banyak penerima bantuan tidak menyampaikan laporannya akan
menjadi catatan bagi pemeriksa internal yaitu inspektorat dan eksternal
yaitu Inspektur Jenderal maupun BPK yang akan berujung pada penilain
kinerja Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Barat yang bertekad untuk
mencapai opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) juga merupakan masalah
dalam pemberian hibah dan bantuan sosial. Sebab, tidak diterima atau
diterima

tapi

tidak

sesuai

dengan

ketentuan

yang

berlaku

pertanggungjawaban penerima hibah dan bantuan sosial akan berpengaruh


terhadap kinerja pemerintah daerah Propinsi Sumatera Barat. Mengantisipasi
kendala-kendala
diungkapkan

ini

oleh

telah

dilakukan

beberapa

upaya,

sebagaimana

Bapak KGS. Darwin selaku KPA bantuan sebagai

berikut :
Menghadapi kendala-kendala yang ditemui dalam pemberian hibah dan
bantuan sosial sebagaimana dijelaskan di atas, telah dilakukan beberapa upaya
yaitu : 2)

2)

Wawancara dengan Bapak KGS. Darwin, KPA Bantuan, di Dinas Pengelolaan


Keuangan Daerah Provinsi Sumatera Barat, tanggal 26 Maret 2014.
22

1. Penyaluran dana hibah dan bantuan sosial yang bersumber dari APBD
Provinsi Sumatera Barat, diberikan tidak sekaligus. Tetapi teknis
penyalurannya dibagi ke dalam dua tahap yaitu tahap pertama disalurkan
sebanyak 70 % dari total bantuan yang diberikan dan 30 % diberikan
pada saat penerima bantuan menyampaikan laporan yang disampaikan ke
Gubernur cq. Bidang Kuasa BUD DPKD , kemudian ditembusankan ke
SKPD pemberi rekomendasi.
2. Memintakan laporan penggunaan dana kepada penerima bantuan
dengan cara mendatangi penerima bantuan yang tersebar di 19
Kabupaten/ Kota di Sumatera Barat apabila penerima hibah / bantuan
sosial belum menyampaikan laporan pada waktu seseuai dengan
ketentuan.

Menurut hemat penulis, upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah


Provinsi Sumatera Barat di atas, dalam mengatasi kendala-kendala dalam
pelaksanaan pemberian hibah dan bantuan sosial cukup baik walaupun
menurut penulis kurang efektif. Cukup baik karena membagi penyaluran
bantuan ke dalam dua tahap atau tidak sekaligus. Kurang efektif dalam hal
memintakan laporan penggunaan dana kepada penerima bantuan dengan
cara mendatangi penerima bantuan yang tersebar di 19 Kabupaten/ Kota di
Sumatera Barat. Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi, karena sudah
sewajarnya penerima hibah mempertanggungjawabkan bantuan yang telah
diterimanya tanpa diminta terlebih dahulu. Artinya disini, upaya meminta
laporan dengan mendatangi penerima hibah merupakan kegiatan yang tidak
pada tempatnya.
Dalam Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 25 Tahun 2013
Tentang Tata Cara Pemberian Hibah Dan Bantuan Sosial telah ditegaskan
bahwa, hibah dan bantuan sosial bertanggungjawab secara formal dan material
atas penggunaan hibah yang diterimanya. Pertanggungjawaban tersebut
meliputi:laporan penggunaan hibah dan bantuan sosial, pakta integritas dan
surat pernyataan tanggungjawab yang menyatakan bahwa hibah dan bantuan
23

sosial yang diterima telah digunakan sesuai NPHD, danbukti-bukti


pengeluaran yang lengkap dan sah sesuai peraturan perundang-undangan.
Bagi penerima hibah dan bantuan sosial berupa barang atau salinan bukti
serah terima barang/jasa bagi penerima hibah berupa barang/jasa yang
disampaikan kepada Gubernur melalui SKPD pemberi rekomendasi paling
lambat tanggal 10 bulan Januari tahun anggaran berikutnya, kecuali
ditentukan lain sesuai peraturan perundang-undangan. Penerima hibah dan
bantuan sosial berupa uang menyampaikan laporan penggunaan hibah dan
bantuan sosial kepada Gubernur melalui PPKD (rangkap dua) dengan
tembusan kepada SKPD terkait. Penerima hibah dan bantuan sosial berupa
barang dan/atau jasa menyampaikan laporan penggunaan hibah dan bantuan
sosial kepada Gubernur melalui SKPD terkait.

PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pelaksanaan pemberian hibah dan bantuan sosial yang bersumber dari
APBD Tahun 2013 pada Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Propinsi
Sumatera Barat didasarkan pada Peraturan Gubernur Sumatera Barat
Nomor 25 Tahun 2013 Tentang Tata Cara Pemberian Hibah Dan Bantuan
Sosial.

Dilakukan dengan memperhatikan asas

keadilan, kepatutan,

rasionalitas, dan manfaat untuk masyarakat dan Pemberian hibah dan


bantuan sosial dilakukan dengan prinsip selektif, akuntabel, transparan dan
keadilan.
2. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pemberian hibah dan bantuan
sosial yang bersumber dari APBD Tahun 2013adalah penerima bantuan
hibah dan bantuan sosial tidak memahami bahwa bantuan yang
diterimanya harus dipergunakan sebagaimana RAB yang dicantumkan
dalam proposal dan apabila ada perubahan penggunaan dana tersebut
harus melalui prosedur yang berlaku dan kurang memahami bahwa
bantuan yang diterimanya harus

dipertanggungjawabkan seseuai

ketentuan yang berlaku dan menyampaikan laporan penggunaan dana


24

kepada Gubernur cq. Bidang Kuasa BUD DPKD selaku PPKD dan
tembusannya disampaikan ke SKPD pemberi rekomendasi. Sementara
upaya yang dilakukan adalah penyaluran dana hibah dan bantuan sosial
yang bersumber dari APBD Provinsi Sumatera Barat, diberikan tidak
sekaligus. Tetapi teknis penyalurannya dibagi ke dalam dua tahap yaitu
tahap pertama disalurkan sebanyak 70 % dari total bantuan yang
diberikan dan 30 % diberikan pada saat penerima bantuan menyampaikan
laporan yang disampaikan ke Gubernur cq. Bidang Kuasa BUD DPKD ,
kemudian ditembusankan ke SKPD pemberi rekomendasi. Memintakan
laporan penggunaan dana kepada penerima bantuan dengan cara
mendatangi penerima bantuan yang tersebar di 19 Kabupaten/ Kota di
Sumatera Barat apabila penerima hibah / bantuan sosial belum
menyampaikan laporan pada waktu seseuai dengan ketentuan.

B. Saran
Berangkat dari uraian sebagaimana dipaparkan di atas, dapat diberikan
beberapa saran sebagai berikut :
1. Hibah dan bantuan sosial merupakan salah satu pos pengeluaran yang
dianggarankan oleh pemerintah daerah setiap tahun yang bersumber dari
APBD atau anggaran pendapatan dan belanja daerah. Untuk itu,
disarankan agar dalam pendistribusian bantuan ini baik berupa hibah dan
bantuan sosial benar-benar didasarkan pada ketentuan yang berlaku dan
standar prosedur yang telah ditetapkan.
2. Agar dalam pelaksanaan pemberian hibah dan bantuan sosial terutama
dalam hal penggunaan dan laporan pertanggungjawaban, sebelum hibah
dan bantuan sosial diberikan, seharusnya pemberi hibah dan bantuan sosial
mensosialisasikan ketentuan-ketentuan yang harus diikuti dan dipahami
serta dipenuhi oleh penerima hibah dan bantuan sosial.

25

DAFTAR KEPUSTAKAAN

A. BUKU-BUKU
Arifin P Soeria Atmadja, 2010, Keuangan Publik Dalam Perspektif Hukum Teori,
Praktik dan Kritik, Rajawali Pers, Jakarta.
Bambang Sunggono, 1998, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Bhenyamin Hoessein, 2009, Hubungan Pusat dan Daerah Dalam Konteks
Pemerintahan Umum dalam Buku Pemerintahan Daerah di
Indonesia, MIPI, Jakarta.
Bhenyamin Hoessein, 2011, Perubahan Model, Pola, dan Bentuk Pemerintaha
Daerah dari Era Orde Baru ke Era Reformasi, DIA FISIP UI,
Jakarta.
Dian Puji N. Simatupang, 2011, Paradoks Rasionalitas; Perluasan Ruang
Lingkup Keuangan Negara dan Implikasinya Terhadap Kinerja
Keuangan Pemerintah, Badan Penerbit FHUI, Jakarta.
Ibnu Syamsi, 1983, Dasar-dasar Kebijasanaan Keuangan Negara, Bina Aksara,
Jakarta.
Jimly Asshiddiqie, 2008, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca
Reformasi, Bhuana Ilmu Populer, Jakarta.
Josef Riwu Kaho, 2003, Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik Indonesia,
Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Nurliah A. Wahyudin, 2009, Hubungan Antar Pemerintah Dalam Meningkatkan
Investasi Daerah dalam buku Pemerintahan Daerah di
Indonesia, MIPI, Jakarta.
S. Padmudji, 1980, Pembinaan Perkotaan di Indonesia, Ichtiar, Jakarta.
Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta.
Yusran Lapanda, 2013, Hibah dan Bantuan Sosial Yang Bersumber dari APBD,
Sinar Grafika, Jakarta.
B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
-

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 Tentang Pedoman


Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber dari APBD jo
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2012 Tentang
Perubahan Atas Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang
Bersumber dari APBD
26

Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2012 tentang Hibah Daerah.

Permendagri Nomor 37 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan APBD


Tahun Anggaran 2013.

C. SUMBER LAINNYA
Alfian Lains, 1985, Pendapatan Daerah Dalam Ekonomi Orde Baru, Prisma,
No.4, Jakarta, 1985, hlm 41, Dalam Bukunya Josef Riwu
Kaho, Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik
Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hal 139.
Ketua Banggar DPRD Sumbar, Yultekhnil dan Wakil Ketua Banggar Leonardy
Harmainy, Padang - Berita Daerah SumBar, EVALUASI
APBD 2013, diunduh tanggal 19 November 2013.
http://w\\w.antarasumbar.com/berita/propinsi/d/l/314343/pansus-dp,
Pansus
DPRD: Hentikan Alokasi Dana Hibah dan Bansos Sumbar,
diunduh tanggal 19 November 2013.
http://w\\w.antarasumbar.com/berita/propinsi/d/l/314343/pansus-dp,
Pansus
DPRD: Hentikan Alokasi Dana Hibah dan Bansos Sumbar,
diunduh tanggal 19 November 2013.
http://www.docstoc.com/docs/46619500/Hukum-Keuangan-Negara-Pasca-60Tahun Indonesia- Merdeka-Masalah diunduh pada 15
November 2013.
Yusran Lapananda, Hibah dan Bantuan Sosial (Dasar Hukum), catatan
pojok, 23 Oktober 2012, diakses terakhir kali tanggal 21 Oktober 2013.

27

Anda mungkin juga menyukai