Anda di halaman 1dari 11

Tuberculosis dalam Pengobatan dan

Tuberculosis Resisten Obat


Anesty Claresta
102011223
a_resta21@yahoo.com
Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510
Pendahuluan
Bila ditemukan mayat bayi di tempat yang tidak semestinya, misalnya di sungai, got,
atau seperti pada kasus ini di tempat sampah, maka bayi tersebut mungkin adalah korban
pembunuhan anak sendiri (PAS), pembunuhan, lahir mati kemudian dibuang, atau bayi yang
ditelantarkan sampai mati. Untuk membedakan hal-hal tersebut, harus dapat ditentukan
apakah bayi lahir hidup atau lahir mati, dan lain sebagainya sehingga diperlukan pemeriksaan
forensic pada mayat bayi tersebut serta barang bukti yang dibawa bersamanya, pemeriksaan
terhadap wanita tersangka, serta adakah hubungan antara keduanya.
Kematian bayi yang terjadi di Indonesia bisa dimasukan ke dalam kategori
Kinderdoodslag yaitu tanpa rencana atau Kindermoord yaitu dengan rencana, tergantung dari
motif tersangka yang bukan lain adalah ibu kandungnya sendiri saat melakukan pembunuhan
bayi. Pembunuhan Anak sendiri (PAS) menurut undang-undang di Indonesia adalah
pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak
berapa lama setelah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia melahirkan anak.
Pembunuhan Anak Sendiri (PAS) adalah merupakan suatu bentuk kejahatan terhadap
nyawa yang unik sifatnya. Unik dalam arti si pelaku pembunuhan haruslah ibu kandungnya
sendiri, dan alasan atau motivasi untuk melakukan kejahatan tersebut adalah karena si ibu
takut ketahuan bahwa ia telah melahirkan anak; oleh karena anak tersebut umumnya adalah
hasil hubungan gelap. Cara yang paling sering digunakan dalam kasus PAS adalah membuat
keadaan asfiksia mekanik yaitu pembekapan, pencekikan, penjeratan dan penyumbatan. Di
Jakarta dilaporkan bahwa 90-95% dari sekitar 30-40 kasus PAS per tahun dilakukan dengan
cara asfiksia mekanik. Bentuk kekerasan lainnya adalah kekerasan tumpul di kepala (5-10%)
dan kekerasan tajam pada leher atau dada (1 kasus dalam 6-7 tahun).
1

Pembunuhan bayi yang dilakukan dengan rencana dan dilakukan lebih dari 24 jam
setelah bayi lahir maka disebut pembunuhan bayi biasa sedangkan pembunuhan tanpa rencana
yang dilakukan kurang dari 24 jam setelah bayi lahir maka disebut dengan infantisida.
Infantisida adalah tindakan perampasan nyawa bayi yang berusia dibawah satu tahun.
Menurut hukum di Indonesia infantisida adalah perampasan nyawa anak pada saat anak
dilahirkan atau tidak lama kemudian karena alasan tertentu. Infanticide tidak termasuk
kematian pada bayi selama proses persalinan ketika fetus dihancurkan dengan craniotomy
atau decapitasi yang dikerjakan oleh ahli obsgene yang dilakukan dengan tujuan
menyelamatkan nyawa ibu ketika kondisi persalinan tidak dapat selesai tanpa menyebabkan
kematian pada ibu dan anak.
Skenario
Sesosok mayat bayi baru lahir ditemukan di suatu tempat sampah. Masyarakat
melaporkannya kepada polisi. Mereka juga melaporkan bahwa semalam melihat seorang
perempuan yang menghentikan mobilnya didekat sampah tersebut dan berada di sana cukup
lama. Seorang dari anggota masyarakat sempat mencatat nomor mobil perempuan tersebut.
Polisi mengambil mayat bayi tersebut dan menyerahkannya kepada anda sebagai
dokter direktur rumah sakit. Polisi juga mengatakan bahwa sebentar lagi si perempuan yang
dicurigai sebagai pelakunya akan dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Anda harus
mengatur segalanya agar semua pemeriksaan dapat berjalan dengan baik dan akan
membriefing para dokter yang akan menjadi pemeriksa.
Aspek Hukum
Sampai tahun 1922, menghilangkan nyawa bayi yang baru lahir (dalam segala keadaan)
adalah pembunuhan. Keadaan ini tidak mengijinkan fakta bahwa melahirkan dapat berefek
yang secara sementara mengganggu keadaan jiwa ibu sehingga dia harus bertanggung jawab
atas tindakan membunuh anaknya. Undang-undang Infantisida tahun 1922, yang mengatur
tentang kejahatan infantisida membatasi kemungkinan terjadinya hal ini, namun tidak
mendefinisikan keadaan baru lahir dan apakah benar adanya kemungkinan lanjut bahwa
menyusui juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan mental secara sementara.2

Undang-undang Infantisida tahun 1938 bagian 1 menyebutkan Ketika wanita melakukan


tindakan atau tidak melakukan tindakan yang dapat menyebabkan kematian anak
kandungnya yang berusia di bawah 12 bulan, tetapi pada saat itu kegiatan melakukan
tindakan atau tidak melakukan tindakan tersebut keadaan pikirannya terganggu dengan
alasan belum pulih dari pengaruh melahirkan dan pengaruh menyusui setelah melahirkan,
walaupun demikian keadaan demikian tetap berlaku sebagai pembunuhan dia dinyatakan
bersalah telah melakukan infantisida secara kejam dan kemungkinan dapat diancam atau
dihukum seperti dia telah membantai manusia. Pencegahan juga dibuat pada keadaan, jika
dia didakwa melakukan pembunuhan, sebagai tuduhan alternatif dari pembantaian,
bersalah namun gila atau menyembunyikan kelahiran tergantung keputusan juri.
Dalam KUHAP, pembunuhan anak sendiri tercantum di dalam bab kejahatan terhadap nyawa
orang. Pasal-pasal yang berhubungan adalah seperti berikut :
Pasal 341.
Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau
tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh
anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama 7 tahun.
Pasal 342.
Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan
bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian
merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan
rencana, dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.
Pasal 343.
Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang bagi orang lain yang turut
serta melakukan sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana.
Pasal 181.
Barang siapa mengubur, menyembunyikan, mengangkut atau menghilangkan mayat, dengan
maksud hendak menyembunyikan kematian dan kelahiran orang itu, dihukum penjara selama
lamanya 9 bulan atau denda sebanyak banyak 4500 rupiah.
3

Pasal 304.
Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau membiarkan orang dalam kesengsaraan,
sedangkan ia wajib memberi kehidupan perawatan atau pemeliharaan pada orang itu karena
hukum yang berlaku atasnya atau karena menurut perjanjian, dihukum penjara selama 2 tahun
8 bulan atau denda sebanyaknya 4500 rupiah.
Pasal 305.
Barang siapa yang menaruhkan anak yang dibawah umur 7 tahun di suatu tempat supaya
dipungut oleh orang lain, atau dimaksud akan terbebas daripada pemeliharaan anak itu,
meninggalkannya, dihukum penjara sebanyak-banyaknya 5 tahun 6 bulan.
Pasal 306.
(1) Kalau salah satu perbuatan yang diterangkan dalam pasal 304 dan 305 itu menyebabkan
luka berat, maka si tersalah dihukum penjara selama-lamanya 7 tahun 6 bulan.
(2) Kalau salah satu perbuatan ini menyebabkan orang lain mati, si tersalah itu dihukum
penjara selama-lamanya 9 bulan.

Pasal 307.
Kalau si tersalah karena kejahatan yang diterangkan dalam pasal 305 adalah bapa atau ibu
dari anak itu, maka baginya hukuman yang ditentukan dalam pasal 305 dan 306 dapat
ditambah dengan sepertiganya.
Pasal 308.
Kalau ibu menaruh anaknya di suatu tempat supaya dipungut oleh orang lain tidak lama
sesudah anak itu dilahirkan oleh karena takut akan diketahui orang ia melahirkan anak atau
dengan maksud akan terbebas dari pemeliharaan anak itu, meninggalkannya, maka hukuman
maksimum yang tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi hingga seperduanya.
Dengan demikian, pada kasus pembunuhan anak terdapat tiga unsur yang penting, yaitu: 1,2,3
1. 1. Pelaku:
4

Pelaku haruslah ibu kandung korban.


1. 2. Motif:
Motif atau alasan pembunuhan adalah karena takut ketahuan telah melahirkan anak.
1. 3. Waktu:
Pembunuhan dilakukan segera setelah anak dilahirkan atau tidak beberapa lama kemudian,
yang dapat diketahui dari ada tidaknya tanda-tanda perawatan.
Prosedur Medikolegal
Prosedur medikolegal adalah tatacara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang
berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar prosedur
medikolegal mengacu kepada peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia, dan
pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran.

Ruang lingkup medikolegal dapat disimpulkan sebagai yang berikut:


1. pengadaan visum et repertum,
2. tentang pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka.
3. pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian
keterangan ahli di dalam persidangan,
4. kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran,
5. tentang penerbitan Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan Medik ,
6. tentang kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik,
Setelah pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan UU No. 73 Tahun 1958 yang
isinya menyatakan berlakunya UU No. 1 Tahun 1945 untuk seluruh Indonesia, maka
suatu perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan
perundang-undangan pidana yang telah ada, sesuai dengan ketentuan Pasal 1 KUHP.

Salah satu pemeriksaan yang dilakukan pada jenazah bayi adalah autopsi. Hal ini dapat
membantu dokter forensic untuk mengetahui mekanisme kematian sehingga dapat membantu
penyidik mengetahui cara kematian korban. Sesuai dengan Pasal KUHP 222 yang
menyatakan barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
5

pemeriksaan mayat forensik, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Pada persidangan kasus pidana, dokter forensic akan dipanggil sebagai saksi ahli. Sesuai
dengan Pasal 179 ayat 1 KUHAP yang menyatakan setiap orang yang diminta pendapatnya
sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan
keterangan ahli demi keadilan.

Berikut dinyatakan pasal-pasal KUHAP yang berhubungan:

1. Kewajiban dokter membantu peradilan


Pasal 133KUHP
a) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka,
keracunan ataupun mati yang didiuga karena peristiwa yang merupakn tindak pidana,
ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman
atau dokter ahli lainnya.
b) Permintaan keterangan ahli sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (a) dilakukan
secara
tertulis, dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka dan
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
c) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman tau dokter pada rumah sakit
harus
diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan
diberi
label yang memuat identitas mayat, dengan dieri cap jabatn yang dilekatkankan pada
ibu
jari kaki tau bahagin lain badan mayat.

2. Hak menolak menjadi saksi/ahli


Pasal 120 KUHAP
6

a) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat meminta pendapat seorang ahli atau
orang yang memiliki keahlian khusus.
b) Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa
ia
akan memberi keterangan menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya kecuali bila
disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau jabatan yang mewajibkan ia
menyimpan rahsia dapat menolak untuk memberi keterangan yang diminta.

3. Bentuk bantuan dokter bagi peradilan dan manfaatnya


Pasal 183 KUHAP
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu
tindak pidana benar-benar terjadi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya.

4. Sangsi bagi pelanggar kewajiban dokter


Pasal 216 KUHP
a) Barang siapa dengan sengaja tidak menurut perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang
diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana, demikian pula barang siapa
yang
dengan sengaja mencegah, menghalangi

atau menggagalkn tindakan guna

menjalankan
ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau
denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
Interpretasi Temuan TKP (Tempat Kejadian Perkara)

Mayat bayi lahir ditemukan di suatu tempat sampah, kemungkinan bayi tersebut lahir
mati atau dibunuh karena kelahirannya tidak diinginkan atau merupakan anak di luar
pernikahan.

Masyarakat melaporkan bahwa semalam melihat seorang perempuan menghentikan


mobilnya di dekat tempat sampah tersebut dan berada disana cukup lama. Mereka
curiga akan kemungkinan perempuan tersebut adalah ibu dari bayi tersebut yang tidak
menginginkan kelahiran bayi tersebut diketahui orang lain. Dicurigai dia membunuh
7

bayi tersebut dengan cara dibekap supaya tidak menimbulkan suara tangis bayi pada
malam hari yang ditakutkan akan membuat warga sekitar curiga, sehingga wanita
tersebut perlu berada cukup lama di TKP
Identifikasi Forensik
Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun mati, berdasarkan
ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. Identifikasi juga diartikan sebagai suatu usaha untuk
mengetahui identitas seseorang melalui sejumlah ciri yang ada pada orang tak dikenal, sedemikian
rupa sehingga dapat ditentukan bahwa orang itu apakah sama dengan orang yang hilang yang
diperkirakan sebelumnya juga dikenal dengan ciri-ciri itu. Identifikasiforensik merupakan usaha untuk
mengetahui identitas seseorang yang ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan
proses peradilan.

Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah tidak dikenal, jenazah yang
rusak, membusuk, hangus terbakar dan kecelakaan masal, bencana alam, huru hara yang
mengakibatkan banyak korban meninggal, serta potongan tubuh manusia atau kerangka. Selain itu
identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak, bayitertukar,
atau diragukan orangtua nya.Identitas seseorang yang dipastikan bila paling sedikit dua metode yang
digunakan memberikan hasil positif.

Dengan diketahuinya jati diri korban, penyidik akan lebih mudah membuat satu daftar dari orangorang yang patut dicurigai. Daftar tersebut akan lebih diperkecil lagi bila diketahui saat kematian
korban serta alat yang dipakai oleh tersangka pelaku kejahatan

B. metode identifikasi
Dalam pelayanan identifikasi forensik berbagai macam pemeriksaandapat digunakan sebagai sarana
identifikasi. Berdasarkan penyelenggaraan penanganan pemeriksaannya, maka sarana-sarana
identifikasi dapat dikelompokkan:
1.Sarana identifikasi konvensional, yaitu berbagai macam pemeriksaan identifikasi yang biasanya
sudah dapat diselenggarakan penanganannya oleh pihak polisi penyidik antara lain:
Metode visual, dengan memperhatikan dengan cermat atas korban, terutama wajahnya oleh
pihak keluarga atau rekan dekatnya, maka jati diri korban dapat diketahui. Walaupun metoda ini
sederhana, untuk mendapat hasil yang diharapkan perlu diketahui bahwa metode ini baru dapat
dilakukan bila keadaan tubuh dan terutama wajah korban masih dalam keadaan baik dan belum
terjadi pembusukan yang lanjut. Selain itu perlu diperhatikan factor psikologis, emosi serta latar
belakang pendidikan; oleh karena faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.
8

Juga perlu diingat bahwa manusia itu mudah terpengaruh oleh sugesti, khususnya dari pihak
penyidik.
Perhiasan, anting-antign, kalung, gelang serta cincin yang ada pada tubuh korban, khususnya bila
pada perhisan itu terdapat inisial nama seseorang yang biasanya terdapat pada bagian dalam dari
gelang atau cincin; akan membantu dokter atau pihak penyidik didalam menentukan identitas
korban. Mengingat kepentingan tersebut maka penyimpanan dari perhisan haruslah dilakukan
dengan baik.
Dokumen, kartu tanda penduduk, surat izin mengemudi, paspor, kartugolongan darah, tanda
pembayaran dan lain sebagainya yang ditemukan dalam dompet atau tas korban dapat menunjukkan
jati diri korban. Khusus pada kecelakaan masal, perlu diingat akan kebiasaan seseorang di dalam
menaruh dompet atau tasnya. Pada pria dompet biasanya terdapat dalam saku baju atau celana,
sedangkan pada wanita tas biasanya dipegang; sehingga pada kecelakaan masal tas seseorang dapat
terlempar dan sampai pada orang lain yang bukan pemiliknya, jika hal ini tidak diperhatikan
kekeliruan identitas dapat terjadi, khususnya bila kondisi korban sudah busuk atau rusak.
Jari, dapat dikatakan bahwa tidak ada dua orang yang mempunyai sidik jari yang sama, walaupun
kedua orang tersebut kembar satu telur. Atas dasar ini, sidik jari merupakan sarana yang terpenting
khususnya bagi kepolisian didalam mengetahui jati diri seseorang, oleh karena selain kekhususannya,
juga mudah dilakukan secara masal dan murah pembiayaanya. Walaupun pemeriksaan sidik jari tidak
dilakukan dokter, dokter masih mempunyai kewajiban, yaitu untuk mengambilkan (mencetak) sidik
jari, khususnya sidik jari pada korban yang tewas dan keadaan mayatnya telah membusuk. Teknik
pengembangan sidik jari pada jari telah mengelupas dan memasangnya pada jari yang sesuai pada
jari pemeriksa, baru kemudian dilakukan pengambilan sidik jari, merupakan prosedur yang harus
dikatahui dokter.

Sarana identifikasi medis, yaitu berbagai macam pemeriksaan identifikasi yang diselenggarakan
penanganannya oleh pihak medis, yaitu apabila pihak polisi penyidik tidak dapat menggunakan
sarana identidikasi konvensional atau kurang memperoleh hasil identifikasi yang meyakinkan, antara
lain:
a. Pemeriksaan ciri-ciri tubuh yang spesifik maupun yang non-spesifik secaramedis melalui
pemeriksaan luar dan dalam pada waktu otopsi. Beberapa cirri yang spesifik, misalnya cacat bibir
sumbing atau celah palatum, bekas luka atau operasi luar (sikatrik atau keloid), hiperpig mentasi
daerah kulit tertentu, tahi lalat, tato, bekas fraktur atau adanya pin pada bekas operasi tulang atau
juga hilangnya bagian tubuh tertentu dan lain-lain. Beberapa contoh cirinon-spesifik antara lain
misalnya tinggi badan, jenis kelamin, warna kulit, warna serta bentuk rambut dan mata, bentukbentuk hidung, bibir dan sebagainya.
b. Pemeriksaan ciri-ciri gigi melalui pemeriksaan odontologis.
9

c. Pemeriksaan ciri-ciri badan atau rangka melalui pemeriksaan antropologis, antroposkopi dan
antropometri.
d. Pemeriksaan golongan darah berbagai sistem: ABO, Rhesus, MN, Keel, Duffy, HLA dan sebagainya.
e. Pemeriksaan ciri-ciri biologi molekuler sidik DNA dan lain-lain.
Dikenal ada dua metode melakukan identifikasi yaitu secara komparatif (membandingkan) dan
secara rekonstruksi. Yang dimaksud dengan identifikasi membandingkan data adalah identifikasi
yang dilakukan dengan cara membandingkan antara data ciri hasil pemeriksaan hasil orang tak
dikenal dengan data ciri orang yang hilang yang diperkirakan yang pernah dibuat sebelumnya. Pada
penerapan penanganan identifikasi kasus korban jenasah tidak dikenal, maka kedua data ciri yang
dibandingkan tersebut adalah data post mortem dan data antemortem. Data ante mortem yang baik
adalah berupa medical record dan dental record.

Kesimpulan
Pada skenario ini pasien mengalami penyakit TB yang belum tuntas atau dalam masa
pengobatan. Hal ini didasarkan pada anamnesis, gejala klinis pasien, dan pemeriksaan
penunjang. Belum bisa ditentukan apakah pasien mengalami MDR, XDR, atau TDR-TB
walaupun pasien mengaku pada pengobatannya yang pertama dijalani dengan tidak tuntas.
Daftar Pustaka
1. Amin Z, Bahar A. Tuberkulosis paru. Dalam : Sudoyo AW, Setyohadi B, Alwi I,
Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi 5 (3). Jakarta: Interna
Publishing; 2010. Hal. 2230-48.
2. Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. Buku ajar patologi. Edisi ke-7 (2). Jakarta: EGC;
2012.hal.544-51
3. Price SA, Wilson LM. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit:
Tuberkulosis Paru. Jakarta : EGC; 2006.hal.852-923.
4. Istiantoro YH, Setiabudy R. Tuberkulostatik dan leprostatik. Dalam : Gunawan SG,
editor. Farmakologi dan terapi. Edisi ke-5. Jakarta: Balai penerbit FKUI;2007.hal.61333.
5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis. Edisi ke-2. 27 Juli 2009.

10

6. World Health Organization. Guidelines for the Programmatic Management of DrugResistant Tuberculosis: Treatment Strategies for MDR-TB. WHO; 2006.hal 40.

11