Anda di halaman 1dari 13

Laporan Praktikum Kimia Fisik 1

Diagram Terner Sistem Zat Cair Tiga Komponen

Oleh
Ni Putu Noviyanti
1308105017
Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana

Abstrak
Praktikum ini bertujuan untuk membuat kurva kelarutan suatu cairan yang terdapat dalam
campuran dua atau atau lebih cairan tertentu. Digunakan 3 zat cair yaitu zat A= CCl4, zat B=
aquades dan zat C = asam asetat glasial. Dalam percobaan digunakan metode titrasi dimana
sebagai larutan penitrasi adalah aquades sampai fasa zat campuran CCl4 dan asam asetat glasial
menjadi satu fasa. Metode yang digunakan ialah metode titrasi. Dimana didapatkan hasil larutan
yang mengandung dua komponen yang saling larut sempurna akan membentuk daerah berfase
tunggal, sedangkan untuk komponen yang tidak saling larut sempurna akan membentuk daerah
fase dua.Fraksi mol rata-rata pada percobaan 1 pada perbandingan 1:9 = 33,33 %, 3:7 = 33,34 %,
5:5 = 33,33 %, 7:3 = 33,81% dan 9:1 = 33,32 %. Dan pada percobaan 2 fraksi mol rata-rata yang
didapat dari perhitungan dengan perbandingan yang sama yaitu 1:9 =33,33 %, 3:7;5:5;7:3;9:1 =
33,34 %.

Kata kunci : kurva kelarutan, fasa dan titrasi.

PENDAHULUAN
Sistem adalah suatu zat yang dapat diisolasikan dari zat-zat lain dalam suatu bejana inert,
yang menjadi pusat perhatiandalam mengamati pengaruh perubahan temperatur, tekanan serta
konsentrasi zat tersebut. sedangkan komponen adalah sistem, seperti zat terlarut dan pelarut
dalam senyawa biner. Banyaknya komponen dalam sistem adalah jumlah minimum spesies
bebas yang diperlukan untuk menentukan konsentrasi semua fase dalam system. Derajat
kebebasan yaitu jumlah minimum variable intensif yang harus dipilih agar keberadaan variable
intensif dapat ditetapkan. Jumlah minimum variable intensif dapat berupa temperature, tekanan,
konsentrasi. Simbol untuk derajat kebebasan yaitu F dan invariant bila F=0, univarian bila
F=1, bivarian bila F=2 dan seterusnya (Dogra, 2009).
Diagram fase merupakan cara mudah menampilkan wujud zat sebagai fungsi suhu dan
tekanan. Oleh karena sistem tiga kompoen pada suhu dan tekanan tetap mempunyai jumlah
derajat kebebasan paling banyak dua, maka diagram fasa sistem ini dapat digambarkan dalam
satu bidang datar berupa suatu segitiga sama sisi yang disebut diagram terner. Contoh khas
diagram fasa tiga komponen air, kloroform dan asam asetat (Anzar, 2011).
Komposisi salah satu komponen sudah tertentu jika dua komponen lainnya diketahui.
Untuk menyatakannya dalam suatu grafik, Gibbs dan Rozenboom menggunakan suatu segitiga
sama sisi.Setiap titik dalam segitiga tersebut jika dihubungkan secara tegak lurus ke sisi-sisinya
akan diperoleh penjumlahan ketiga garis ini selalu konstan, sama dengan tinggi segitiga tersebut.
Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga komponen tergantung pada daya saling larut antar zat cair
tersebut dan suhu percobaan. Misalnya ada tiga zat cair A, B dan C. A dan B saling larut
sebagian. Penambahan zat C kedalam campuran A dan B akan memperbesar atau memperkecil
daya saling larut A dan B. Pada percobaan ini hanya akan ditinjau sistem yang memperbesar
daya saling larut A dan B. Dalam hal ini A dan C serta B dan C saling larut sempurna. Kelarutan
cairan C dalam berbagai komposisi campuran A dan B pada suhu tetap dapat digambarkan pada
suatu diagram terner. Prinsip menggambarkan komposisi dalam diagram terner dapat dilihat pada
gambar (1) dan (2) di bawah ini Untuk campuran yang terdiri atas tiga komponen, komposisi
(perbandingan masing-masing komponen) dapat digambarkan di dalam suatu diagram segitiga
sama sisi yang disebut dengan Diagram Terner. Komposisi dapat dinyatakan dalam fraksi massa
(untuk cairan) atau fraksi mol (untuk gas). Diagram tiga sudut atau diagram segitiga berbentuk

segitiga sama sisi dimana setiap sudutnya ditempati komponen zat. Sisi-sisinya itu terbagi dalam
ukuran yang menyatakan bagian 100% zat yang berada pada setiap sudutnya. Untuk menentukan
letak titik dalam diagram segitiga yang menggambarkan jumlah kadar dari masing-masing
komponen dilakukan sebagai berikut :

Gambar 1. Diagram Terner


Titik A, B dan C menyatakan kompoenen murni. Titik-titik pada sisi Ab, BC

dan Ac

menyatakan fraksi dari dua komponen, sedangkan titik didalam segitiga menyatakan fraksi dari
tiga komponen. Titik P menyatakan suatu campuran dengan fraksi dari A, B dan C masingmasing sebanyak x, y dan z.

Gambar 2. Penggambaran Diagram Terner


Titik X menyatakan suatu campuran dengan fraksi A = 25%, B = 25%, dan C = 50%.
Titik-titik pada garis BP dan BQ menyatakan campuran dengan perbandingan dengan jumlah A
dan C yang tetap, tetapi dengan jumlah B yang berubah. Hal yang sama berlaku bagi garis-garis
yang ditarik dari salah satu sudut segitiga kesisi yang ada dihadapannya. Daerah didalam
lengkungan merupakan daerah dua fasa. Salah satu cara untuk menentukan garis binoidal atau
kurva kelarutan ini ialah dengan cara menambah zat B ke dalam berbagai komposisi campuran
A dan C. Titik-titik pada lengkungan menggambarkan komposisi sistem pada saat terjadi
perubahan dari jernih menjadi keruh. Kekeruhan timbul karena larutan tiga komponen yang
homogen pecah menjadi dua larutan konjugat terner.

ALAT DAN BAHAN


Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu labu bertutup 100mL 5 buah, labu
erlenmeyer 250ml 3 buah, buret 50ml, dan neraca waspal. Bahan yang digunakan antara lain zat
A = CCl4, zat B = aquades dan zat C = asam asetat glasial.

METODE
Percobaan ini dilakukan dengan menimbang tiap labu kosong terlebih dahulu. Kemudian
ditambahkan cairan A dan ditimbang lagi. Setelah itu ditambahkan cairan C dan ditimbang
sekali lagi. Dengan begitu diketahui massa cairan A dan C untuk setiap labu. Tiap campuran
dalam labu 1 sampai dengan labu 5 dititrasi dengan zat B sampai tepat timbul kekeruhan dan
dicatat volume zat B yang digunakan. Titrasi dilakukan perlahan-lahan. Setelah didapatkan titik
akhir titrasi, setiap labu ditimbang untuk menentukan massa cairan B. Percobaan diulang sekali
lagi.

DATA PENGAMATAN
Zat A = CCl4
Zat B = Aquades
Zat C = Asam asetat glasial

Hasil percobaan 1
Perbandingan

Massa

Massa

Massa Zat A

Volume B

Massa

A : B (mL)

Erlenmeyer

Erlenmeyer

+ Zat C (g)

(g)

setelah titrasi

kosong (g)

+ zat A (g)

1:9

106,20

107,63

116,78

3,50

120,51

3:7

127,92

132,43

139,57

0,95

140,48

5:5

125,22

132,87

137,94

0,95

138,83

7:3

128,73

139,50

142,45

0,60

142,93

9:1

126,82

140,71

141,62

0,55

142,17

(g)

Hasil pengamatan 2
Perbandingan

Massa

Massa

Massa Zat A

Volume B

Massa

A : B (mL)

Erlenmeyer

Erlenmeyer

+ Zat C (g)

(g)

setelah titrasi

kosong (g)

+ zat A (g)

1:9

98,08

99,64

108,78

3,50

112,29

3:7

126,20

130,86

137,98

0,50

141,96

5:5

126,91

134,63

139,65

0,70

140,33

7:3

127,94

138,54

141,55

0,55

141,60

9:1

125,32

139,21

139,42

0,50

140,14

(g)

PERHITUNGAN
Percobaan I
1. Konsentrasi ketiga komponen dalam % mol untuk tiap campuran ketika terjadi perubahan
fase adalah sebagai berikut:
Percobaan 1 (campuran A dan C sebagai pelarut)
Untuk Pelarut A : C = 1 : 9
MA = (Massa Erlenmeyer + A) - erlenmeyer kosong
= 107,63 gram 106,20 gram = 1,43 gram
Jadi massa CCl4= 1,43 gram

MB

= (Massa Erlenmeyer + A + B + C) (Massa Erlenmeyer + A + C)


= 120,51 gram 116,78 gram = 3,73 gram

Jadi massa Aquadest = 3,73 gram

MC

= (Massa Erlenmeyer + A + C) (Massa Erlenmeyer + A)


= 116,78 gram 107,63 gram = 9,15 gram

Jadi massa asam asetat glasial = 9,15 gram


Dengan cara yang sama maka didapatkan massa masing-masing zat pada :
Perbandingan
MA (gram) MB (gram) MC (gram)
A : C (mL)
1:9
1,43
3,73
9,15
3:7
4,11
0,91
7,14
5:5
7,65
0,89
5,07
7:3
10,77
0,38
2,95

9:1

13,89

0,55

0,91

Perhitunganmol
nA

nB

nC

Dengan cara yang sama maka didapatkan mol masing masing zat yaitu :
Perbandingan

nA

nB

nC

nA + nB + nC

A:C

(mol )

1:9

0,0093 0,2072 0,1578

0,3743

3:7

0,0267 0,0505 0,1231

0,2003

5:5

0,0498 0,0494 0,0874

0,1866

7:3

0,0699 0,0211 0,0509

0,1419

9 :1

0,0902 0,0305 0,0157

0,1364

( mol ) ( mol )

Fraksimol
XA

0,0248 mol

= 2,48 %

XB

0,5536 mol

= 55,36 %

XC

0,4216 mol

= 42,16 %

Dengancara yang sama maka didapatkanmolmasing masingzatyaitu :


Perbandingan A : C

XA ( % )

XB ( % )

XC ( %)

1:9
3:7
5:5
7:3
9:1

2,48
13,33
26,69
49,26
66,13

55,36
25,21
26,47
16,30
22,36

42,16
61,48
46,84
35,87
11,51

Percobaan II

2. Konsentrasi ketiga komponen dalam % mol untuk tiap campuran ketika terjadi perubahan
fase adalah sebagai berikut:
Percobaan 2 (campuran A dan C sebagai pelarut)
Untuk Pelarut A : C = 1 : 9
MA = (Massa Erlenmeyer + A) - erlenmeyer kosong
= 99,64 gram 98,08 gram = 1,56 gram
Jadi massa CCl4= 1,56 gram

MB

= (Massa Erlenmeyer + A + B + C) (Massa Erlenmeyer + A + C)


= 112,29 gram 108,78 gram = 3,51 gram

Jadi massa Aquadest = 3,51 gram

MC

= (Massa Erlenmeyer + A + C) (Massa Erlenmeyer + A)


= 108,78 gram 99,64 gram = 9,14 gram

Jadi massa asam asetat glasial = 9,14 gram


Dengan cara yang sama maka didapatkan massa masing-masing zat pada :
Perbandingan
MA (gram) MB (gram) MC (gram)
A : C (mL)
1:9
1,56
3,51
9,14
3:7
4,66
3,98
7,12
5:5
7,72
0,68
5,02
7:3
10,60
0,05
3,01
9:1
13,89
0,72
0,21
Perhitunganmol
nA

nB

nC

Dengan cara yang sama maka didapatkan mol masing masing zat yaitu :
Perbandingan

nA

nB

nC

nA + nB + nC

A:C

(mol )

1:9

0,0101 0,1950 0,1576

0,3627

3:7

0,0303 0,2211 0,1228

0,3742

( mol ) ( mol )

5:5

0,0501 0,0378 0,0865

0,1744

7:3

0,0688 0,0028 0,0519

0,1235

9 :1

0,0902 0,0400 0,0036

0,1338

Fraksimol
XA

0,0278 mol

= 2,78 %

XB

0,5376 mol

= 53,76 %

XC

0,4345 mol

= 43,45 %

Dengancara yang sama maka didapatkanmolmasing masingzatyaitu :


Perbandingan A : C

XA ( % )

XB ( % )

XC ( %)

1:9
3:7
5:5
7:3
9:1

2,78
8,10
28,73
55,71
67,41

53,76
59,09
21,67
2,27
29,90

43,45
32,82
49,60
42,02
2,69

Diagram Terner
Percobaan I

Percobaan II

PEMBAHASAN
Praktikum ini bertujuan untuk membuat kurva kelarutan suatu cairan yang terdapat dalam
campuran dua cairan tertentu, dengan metode titrasi. Pemisahan dapat dilakukan dengan
menggunakan pelarut yang tidak larut dengan sempurna terhadap campuran, tetapi dapat
melarutkan salah satu komponen dalam campuran tersebut. Pada praktikum kali ini,
dicampurkan tiga komponen berfasa cair yaitu aquades, kloroform dan asam asetat glasial.Asam

asetat glasial bersifat emulgator yaitudapat larut pada air dan CCl4. Pada air dan CCl4, CCl4 tidak
larut dalam air karena bersifat non polar sehingga tidak dapat larut dalam campuran air yang
bersifat polar. Pada percoban ini CCl4 dan asam asetat glasial sebagai titrat dan air sebagai titran.
Perlakuan yang samadiulang. Titik akhir titrasi ditunjukkan dengan terbentuknya larutan keruh
yang menandakan telah terpisahnya komponen-komponen campuran dari larutan tiga komponen
menjadi dua komponen larutan terner terkonjugasi.
Pada titrasi ini dilakukan lima perlakuan pada masing-masing erlenmeyer, dan diulang 2
kali yakni mencampurkan CCl4 dengan asam asetat dengan perbandingan yang berbeda-beda di
tiap labunya. Kecepatan kekeruhan yang timbul pada labu tidak bertahap sesuai dengan kadar air
yang terkandung pada masing-masing labu. Berdasarkan data perngamatan dan perhitungan,
semakin banyak asam asetat glasial yang dicampurkan dengan CCl4 maka semakin banyak pula
aquadest yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen. Jadi asam asetat glasial dapat menaikan
kelarutan CCl4 dalam air.. Titik akhir titrasi ditunjukkan dengan terbentuknya larutan keruh
yang menandakan telah terpisahnya komponen-komponen campuran dari larutan tiga komponen
menjadi dua komponen larutan terner terkonjugasi.
Saat penambahan larutan dengan komposisi kloroform terbanyak dan air terbanyak
terjadi dua lapisan pada larutan. Lapisan atas merupakan campuran dari air dan asam asetat
glasial dan lapisan bawah adalah kloroform. Berat jenis kloroform adalah 1,3752 gr/mL, air 1
gr/mL dan asam asetat glasial 1,05 gr/mL. Berdasarkan berat jenis tersebut dapat dilihat bahwa
kloroform memiliki berat jenis yang lebihbesar, sehingga kloroform berada pada lapisan bawah
larutan.
Untuk membuat suatu kurva kelarutan tiga komponen zat cair tersebut dalam satu bidang
datar berupa suatu segitiga sama sisi digunakan faraksi mol.Jumlah fasa dalam sistem zat cair
tiga komponen bergantung pada daya saling larut antar zat cair tersebut. Larutan yang
mengandung dua komponen yang saling larut sempurna akan membentuk daerah berfase
tunggal, misalnya pada campuran CCl4 dan asam asetat maupun campuran aquades dan asam
asetat,

sedangkan untuk komponen yang tidak saling larut sempurna atau larutsebagian

membentuk daerah dua fase yakni antara aquades dengan CCl4. Fraksi mol rata-rata pada
percobaan 1 pada perbandingan 1:9 = 33,33 %, 3:7 = 33,34 %, 5:5 = 33,33 %, 7:3 = 33,81% dan

9:1 = 33,32 %. Dan pada percobaan 2 fraksi mol rata-rata yang didapat dari perhitungan dengan
perbandingan yang sama yaitu 1:9 =33,33%, 3:7;5:5;7:3;9:1 = 33,34 %.

KESIMPULAN
1. Praktikum ini dilakukan dengan cara titrasi dengan prinsip dasar pemisahan suatu
campuran dengan ekstraksi yang terdiri dari dua komponen cair yang saling larut dengan
sempurna.
2. Pencampuran homogen terjadi pada asam asetat glasial dengan kloroform dan
pencampuran heterogen pada kloroform dengan air.
3. Semakin banyak asam asetat glasial yang dicampurkan dengan kloroform maka semakin
banyak pula aquadest yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen. Jadi asam asetat
glasial dapat menaikan kelarutan kloroform dalam air.
4. Kloroform adalah zat berbahaya untuk dihirup dan merupakan zat untuk anestesi

DAFTAR PUSTAKA
Chang Raymond. 2003. Kimia Dasar Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid I. Jakarta : Erlangga.
Petrucci,R.H. 1993. Fisika Dasar. Jakarta : Erlangga.
R.A.Albertty dan F. Daniels.1983. Kimia Fisika. Jakarta : Erlangga.

S. K. Dogra dan S. Dogra, 2009. Kimia Fisik dan Soal-Soal terj Umar Mansyur. Jakarta
:UI Press.
Tim Laboratorium Kimia Fisik. 2014. Penuntun Praktikum Kimia Fisika. Bukit
Jimbaran: Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Udayana.

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA 1


DIAGRAM TERNER SISTEM ZAT CAIR TIGA KOMPONEN

Oleh :
NI PUTU NOVIYANTI
1308105017
KELOMPOK 1B

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
BUKIT JIMBARAN
2014