Anda di halaman 1dari 2

Laporan Wawancara Gustian Hafidh kelas X IIS 2 SMAN 1 Sewon (Tuna Rungu)

Pelajaran yang paling disukai oleh responden adalah kimia, B. Inggris, Geografi.
Ia tidak terlalu kesulitan ketika mempelajari kimia karena guru menjelaskannya
berulang-ulang. Sebenarnya dia membutuhkan guru pendamping dalam semua
mata pelajaran yang dapat menjelaskan materi-materi yang tidak dipahami oleh
responden, tetapi karena terbatasnya jumlah guru pendamping di sekolah
tersebut, sehingga guru pendamping hanya berperan ketika ujian berlangsung,
namun ia mempunyai seorang teman yang selalu membantu jika ia merasa
kesulitan. Ketika ada materi yang tidak dapat dipahami dengan penjelasan guru
saja, Ia meminta bantuan temannya untuk menjelaskan, ditambah dengan
belajar mandiri di rumah. Komunikasi terhadap guru di dalam dan di luar kelas
memang untuk seorang tuna wicara lebih susah dibandingkan dengan orang
normal pada umumnya, akan tetapi responden selalu bisa menyikapinya dengan
cara menuliskan pertanyaan atau apapun pada orang lain yang kurang
memahaminya. Dengan demikian, komunikasi antara responden dengan orang
lain dapat berjalan lancar. Akan tetapi karena responden terbiasa dengan bahasa
Indonesia, maka ia kurang memahami ketika seseorang menggunakan bahasa
jawa, sehingga teman-teman di kelas dan guru juga menyesuaikan ketika
berkomunikasi dengan responden harus menggunakan bahasa Indonesia.
Adapun metode yang diterapkan oleh guru biasanya lebih dominan menjelaskan
dengan ceramah disertai diskusi kelompok-kelompok kecil dan menampilkan
slide atau menulis di papan tulis. Hal ini dilakukan agar peserta didik tuna rungu
dapat memahami materi yang disampaikan, karena jika hanya dengan ceramah
dan diskusi saja ABK rungu akan kesulitan memahami materi pembelajaran.
Laporan hasil wawancara Khoirul XI IIS 2 (Low Vision)
Seorang peserta didik yang berasal dari daerah Lumajang, Jawa Timur yang dulu
menempuh pendidikan di menengah pertama di SLB di daerah Klaten, Jawa
Tengah menderita kelainan pada indera penglihatan sejak berusia 7 bulan. Ia
mengalami kesulitan ketika membaca buku yang fontnya berukuran normal, tapi
ia tidak terlalu mengalami kesulitan untuk mengoperasikan gadget sehingga ia
tidak menggunakan aplikasi khusus pada telepon genggamnya. Metode
pembelajaran yang selama ini diterapkan oleh guru di sana yang paling digemari
oleh penderita Low Vision ini adalah diskusi kelompok kecil, karena dengan
berdiskusi ia bisa mendengar dan menyatakan pendapat. Hal yang paling
diperlukan oleh responden adalah perangkat audio yang menunjang
pembelajaran, atau paling tidak penjelasan dari guru, serta ketika ujian harus
ada seoang guru pendamping yang membantu membacakan soal yang
diberikan, karena jika tidak ada seorang guru pendamping yang membantu
membacakan soal, ia akan kesulitan dan waktu yang digunakan untuk menjawab
soal kurang. Salah satu pelajaran yang degemari oleh oleh responden adalah
sosiologi, keterbatasan yang dimilikinya tidak menyurutkan niat belajar kuatnya,
meskipun terkadang ia mengalami kesulitan ketika membaca. Responden kurang
bisa memahami materi pembelajaran yang berhubungan dengan perhitungan,
karena terkadang ketika guru menjelaskan di papan tulis ia tidak dapat melihat
dengan jelas dan belum dapat memahaminya. Selain perangkat audio,

diharapkan juga ada buku pegangan untuk peserta didik yang memiliki difabilitas
dengan kriteria tertentu.

Laporan Wawancara Dio Autis


Pelajar dengan penyandang disabilitas autis ini berasal dari Makasar. Saat ini
responden adalah siswa kelas X di SMA 1 Sewon, tepatnya di kelas X IIS 1.
Responden menyukai mata pelajaran sejarah dan bahasa inggris. Pada mata
pelajaran kimia, responden mengalami beberapa kesulitan pada materi
konfigurasi elektron.