Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

AGRARIA PADA MASA POLITIK ETIS

OLEH

M. MAHFUD MUSTHOFA

( 100210302033)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT., karena berkah dan rakhmat-Nya
penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Sejarah agraria.
Penulisan makalah ini dilakukan dengan kerja keras untuk menelusuri sumber-sumber
tertulis serta sumber internet, yang kemudian dilakukan upaya untuk menyeleksinya dan
merekonstruksi serta disesuaikan dengan tujuan, yaitu membantu teman-teman program studi
pendidikan sejarah untuk lebih mengerti tentang Sejarah Agraria Pada Masa Politik Etis.
Semoga makalah ini dapat berguna bagi penyusun khususnya, bagi teman-teman yang
membutuhkan dan semua pihak terutama Civitas Akademika di Universitas Jember. Penyusun
juga mohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat kesalahan dalam penulisannya.

22 April 2012

Penyusun

BAB I.
PENDAHULUAN

1.1 Latarbelakang
Kita mengetahui bahwa penjajahan atau ekspansi orang eropa di Indonesia sangatlah
menyengsarakan penduduk pribumi, dimana orang eropa telah banyak memonopoli perdagangan
Indonesia, mulai dari inggris, belanda yang memanfaatkan Indonesia sebagai lahan untuk
pemasukan negaranya sendiri tanpa memperhatikan kondisi social masyarakat yang
memprihatinkan. Tidak hanya sebatas itu, orang eropa juga jelas mengeksplorasi dan mengeruk
sumber daya alam Negara jajahanya dengan memaksakan penduduk pribumi untuk menuruti apa
yang menjadi keinginan bangsa barat, seperti halnya menanam tanaman ekspor (tebu, teh, kopi
dll).
Setelah dominasi monopoli inggris berakhir di Indonesia, maka kemudian tampil belanda
yang menggantikan inggris sebagai penguasa yang mengatur Negara jajahannya sejak 1816.
Dengan kedatangan belanda tersebut menjadikan rakyat Indonesia dihisap dan dipaksa bekerja
dinegeri sendiri, untuk memaksimalkan penguasaan dan pengerukan SDA Indonesia sampai
kedasar-dasarnya, colonial belanda membangun sekolah yang bertujuan untuk melahirkan tenaga
ahli baru yang nantinya kelak akan dipekerjakan di perusahaan belanda. Tetapi sebelumnya pada
tahun 1819 belanda juga menderikan sekolah tetapi hanya untuk warga belanda dan pejabat
tinggi saja. Kemudian tahun 1871, seiring dengan kemenangan kaum liberalis di parlemen
belanda, menuntut pendidikan di hindia belanda juga mencakup rakyat pribumi, kemudian
dibentuk UU agraria yang bertujuan untuk memberikan keleluasaan kepada modal swasta
belanda masuk ke Indonesia seperti dengan di buatnya Agrarische Wet.
Latar belakang dikeluarkannya Undang-Undang Agraria (Agrarische Wet) antara lain
karena kesewenangan pemerintah mengambil alih tanah rakyat. Politikus liberal yang saat itu
berkuasa di Belanda tidak setuju dengan Tanam Paksa di Jawa dan ingin membantu penduduk
Jawa sambil sekaligus keuntungan ekonomi dari tanah jajahan dengan mengizinkan berdirinya
sejumlah perusahaan swasta. UU Agraria memastikan bahwa kepemilikan tanah di Jawa tercatat.
Tanah penduduk dijamin sementara tanah tak bertuan dalam sewaan dapat diserahkan. UU ini
dapat dikatakan mengawali berdirinya sejumlah perusahaan swasta di Hindia-Belanda. Tujuan
dari UU tersebut adalah Melindungi hak milik petani atas tanahnya dari penguasa dan pemodal

asing. Memberi peluang kepada pemodal asing untuk menyewa tanah dari penduduk Indonesia
seperti dari Inggris, Belgia, Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan lain-lain. Serta Membuka
kesempatan kerja kepada penduduk untuk menjadi buruh perkebunan.
Ternyata dengan dikeluarkannya Undang-Undang Agraria 1870 yang menjadi alat
pemodal asing untuk menyewa tanah seluas dan selama mungkin yang akhrnya Sistem ini
membawa kemunduran bagi kesejahteraan pribumi. Yang kemudian Munculah gagasan etis di
kancah pertanian Pemerintah Belanda.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah kronologis terjadinya liberalisasi pertanahan tahun 1870 1900?
2. Bagaimanakah penerapan liberalisasi yang menyangkut pertanahan di Indonesia?
3. Apakah yang melatar belakangi kemunculan politik etis?

1.3 Tujuan
Dengan membahas makalah ini penulis mempunyai tujuan umum yaitu memperkenalkan dan
memberikan gambaran serta informasi mengenai keadaan peraturan pertanahan yang pada
akhirnya memunculkan politik etis, tujuan khusus dari penulisan ini adalah untuk memenuhi
tugas mata kuliah sejarah agrarian.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Politik Liberal


Politik kolonial liberal di Eropa pada awalnya merupakan cerminan antara perbedaan
dalam bidang politik yang berhaluan totalitarisme (fasisme dan komunisme) dan liberalisme
(sosialisme dan kapitalisme). Hubungan timbal balik antara ekonomi pasar dengan liberalisasi
politik yang relatif bisa dilihat pada studi perbandingan mengenai negara-negara fasis maupun
komunis. Doktrin liberal jauh lebih mengutamakan masyarakat dari pada negara. Dalam doktrin
liberal klasik, masyarakat pada dasarnya dianggap mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dan
negara baru ikut campur tangan hanya kalau usaha-usaha masyarakat yang bersifat sukarela
menemui kegagalan. Dengan demikian, teori Negara sebagai alat menempatkan negara pada
kedudukannya sebagai pelengkap. Sejauh individu dapat menjalankan kehidupannya tanpa
Negara, kaum liberal menentang keberadaan negara bahkan jika negara dapat melakukan yang
lebih baik dari pada individu.
Selain itu, konsep hukum dibalik hukum secara langsung diturunkan dari pandangan
kosesual Negara dan masyarakat dalam liberalisme klasik. Masyarakat dipahami sebagai
himpunan bermacam-macam perkumpulan sukarela, dan negara itu juga pada intinya dianggap
sebagai badan yang diorganisasikan secara sukarela, karena otoritasnya diperoleh atas dasar
persetujuan mereka yang diperintah. Liberalisme selalu menganut pemikiran bahwa hubungan
antara Negara dan masyarakat atau antara pemerintah dan individu pada akhirnya ditentukan
oleh hokum yang kedudukannya lebih tinggi daripada hukum negara.
Paham kebebasan liberalisme mulai tumbuh subur di Eropa dan dianggap sebagai paham
yang paling sesuai untuk diterapkan oleh negara-negara yang menjunjung tinggi kebebasan.
Liberalisme muncul sebagai sikap pendobrakan terhadap kekuasaan absolut dan didasarkan atas
teori rasionalistis yang umum dikenal sebagai Social Contract. Sejak tahun 1900-an, politik dan
ekonomi liberal memiliki hubungan yang sangat erat. Gagasan ekonomi liberal didasarkan pada
sebuah pandangan; setiap individu harus diberi akses seluas mungkin untuk melakukan kegiatankegiatan ekonominya, tanpa ada intervensi dan campur tangan dari negara. Atas dasar itu,
campur tangan negara tidak diperlukan lagi. Bila liberalisme awal (early liberalism) lebih

menekankan pada hak-hak politik, maka sejak tahun 1900-an, liberalisme telah mencakup
hampir seluruh dimensi kehidupan, termasuk di dalamnya liberalisasi pemikiran.

2.2 Latar Belakang Politik Etis (Balas Budi)


Pelaksanaan politik kolonial liberal di Indonesia tidak terlepas dari perubahan politik
Belanda. Pada tahun 1850, golongan liberal di negeri Belanda mulai memperoleh kemenangan
dalam pemerintahan. Kemenangan itu diperoleh secara mutlak pada tahun 1870, sehingga tanam
paksa dapat dihapuskan. Mereka berpendapat bahwa kegiatan ekonomi di Indonesia harus
ditangani oleh pihak swasta. Pemerintah hanya mengawasi saja, yaitu hanya sebagai polisi
penjaga malam yang tidak boleh campur tangan dalam bidang ekonomi. Sistem ini akan
menumbuhkan persaingan dalam rangka meningkatkan produksi perkebunan di Indonesia.
Dengan demikian pendapatan negara juga akan bertambah banyak.
Untuk mewujudkan sistem tersebut, pada tahun 1870 di Indonesia dilaksanakan politik
kolonial liberal atau sering disebut politik pintu terbuka (open door policy). Sejak saat itu
pemerintahan Hindia Belanda membuka Indonesia bagi para pengusaha swastaasing untuk
menenemkan modalnya, khususnya di bidang perkebunan. Pelaksanaan sistem liberal ini ditandai
dengan keluarnya Undang-Undang De Waal, yaitu Undang-undang Agraria dan Undang-Undang
Gula. Undang-Undang Gula (Agrarische Wet) menjelaskan, bahwa semua tanah di Indonesia
adalah milik pemerintah kerajaan Belanda. Oleh karena itu, pihak swasta boleh menyewanya
dalam jangka waktu antara 50-75 tahun di luar tanah-tanah yang digunakan oleh penduduk untuk
bercocok tanam.
Sistem ekonomi kolonial antara tahun 1870 dan 1900 pada umumnya disebut sistem
liberalisme. Yang dimaksudkan disini adalah bahwa pada masa itu untuk pertama kalinya dalam
sejarah kolonial, modal swasta diberi peluang sepenuhnya untuk mengusahakan kegiatan di
Indonesia, khususnya perkebunan-perkebunan besar di Jawa maupun di luar Jawa. Selama masa
ini, pihak-pihak swasta Belanda maupun swasta Eropa lainnya mendirikan berbagai perkebunanperkebunan kopi, teh, gula, dan kina. Pembukaan perkebunan-perkebunan besar ini
dimungkinkan oleh Undang-undang Agraria (Agrarische Wet) yang dikeluarkan pada tahun
1870. Pada suatu pihak Undang-undang Agraria membuka peluang bagi orang-orang asing,
artinya orang-orang bukan pribumi Indonesia untuk menyewa tanah dari rakyat Indonesia.

Pelaksanaan Politik Pintu Terbuka Pada tahun 1860-an politik batig slot (mencari keuntungan
besar) mendapat

pertentangan

dari

golongan liberalis

dan humanitaris. Kaum

liberal

dankapital memperoleh kemenangan di parlemen. Terhadap tanah jajahan (Hindia Belanda),


kaum

liberal

berusaha memperbaiki

taraf kehidupan

rakyat

Indonesia.

Keberhasilan

tersebut dibuktikan dengan dikeluarkannya Undang-Undang Agraria tahun 1870.


Pokok-pokok UU Agraria tahun 1870 berisi:
1. Pribumi diberi hak memiliki tanah dan menyewakannya kepada pengusaha swasta, serta
2. Pengusaha dapat menyewa tanah dari gubernemen dalam jangka waktu 75 tahun.

Dikeluarkannya UU Agraria ini mempunyai tujuan yaitu:


1) Memberi kesempatan dan jaminan kepada swasta asing (Eropa) untuk membuka usaha
dalam bidang perkebunan di Indonesia, dan
2) Melindungi hak atas tanah penduduk agar tidak hilang (dijual).

UU Agraria tahun 1870 mendorong pelaksanaan politik pintu terbuka yaitu membuka
Jawa bagi perusahaan swasta. Kebebasan dan keamanan para pengusaha dijamin. Pemerintah
kolonial hanya memberi kebebasan para pengusaha untuk menyewa tanah, bukan untuk
membelinya. Hal ini dimaksudkan agar tanah penduduk tidak jatuh ke tangan asing. Tanah
sewaan itu dimaksudkan untuk memproduksi tanaman yang dapat diekspor ke Eropa.
Selain UU Agraria 1870, pemerintah Belanda juga mengeluarkan Undang-Undang Gula (Suiker
Wet) tahun 1870. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para
pengusaha perkebunan gula. Isi dari UU ini yaitu:
1. Perusahaan-perusahaan gula milik pemerintah akan dihapus secara bertahap, dan
2. Pada tahun 1891 semua perusahaan gula milik pemerintah harus sudah diambil alih
oleh swasta.
Dengan adanya UU Agraria dan UU Gula tahun 1870, banyak swasta asing yang
menanamkan modalnya di Indonesia, baik dalam usaha perkebunan maupun pertambangan.
Berikut ini beberapa perkebunan asing yang muncul di Indonesia :
1. Perkebunan tembakau di Deli, Sumatra Utara.
2. Perkebunan tebu di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
3. Perkebunan kina di Jawa Barat.

4. Perkebunan karet di Sumatra Timur.


5. Perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara.
6. Perkebunan teh di Jawa Barat dan Sumatera Utara.
Politik pintu terbuka yang diharapkan dapat memperbaiki kesejahteraan rakyat, justru
membuat rakyat semakin menderita. Eksploitasi terhadap sumber-sumber pertanian maupun
tenaga manusia semakin hebat. Rakyat semakin menderita dan sengsara. Adanya UU Agraria
memberikan pengaruh bagi kehidupan rakyat, seperti berikut:
1. Dibangunnya fasilitas perhubungan dan irigasi.
2. Rakyat menderita dan miskin.
3. Rakyat mengenal sistem upah dengan uang, juga mengenal barang-barang ekspor
dan impor.
4. Timbul pedagang perantara. Pedagang-pedagang tersebut pergi ke daerah
pedalaman, mengumpulkan hasil pertanian dan menjualnya kepada grosir.
5. Industri atau usaha pribumi mati karena pekerja-pekerjanya banyak yang pindah
bekerja di perkebunan dan pabrik-pabrik.

2.3 Kemunculan Politik Etis (Balas Budi)


Pengaruh Politik Liberalis Bagi Indonesia Sama halnya dengan negara-negara lain, di
negeri Belanda para pengikut aliran liberalisme berpendapat bahwa negara seharusnya tidak
campur tangan dalam kehidupan ekonomi, tetapi membiarkannya kepada kekuatan-kekuatan
pasar. Mengikuti Adam Smith, para pengikut aliran liberalisme berpendapat bahwa satu-satunya
tugas negara adalah memelihara ketertiban umum menegakkan hukum, dengan demikian
kehidupan ekonomi dapat berjalan dengan lancar. Agar hal ini dapat diwujudkan, para pengikut
aliran liberalisme menghendaki agar segala rintangannya yang sebelumya telah dibuat
dihapuskan.
Ketika orang-orang liberal mencapai kemenangan politik di negeri Belanda (setelah tahun
1850) mereka mencoba menerapkan azas-azas liberalisme di koloni-koloni Belanda khususnya di
Indonesia. Mereka berpendapat ekonomi Hindia-Belanda akan berkembang dengan sendirinya
jika diberi peluang sepenuhnya kepada kekuatan-kekuatan pasar untuk bekerja sebagaimana
mestinya. Dalam prakteknya diartikan sebagai kebebasan berusaha dan adanya modal swasta

Belanda untuk mengembangkan sayapnya di Hindia-Belanda dalam berbagai usaha kegiatan


ekonomi.
Penanaman modal di Indonesia, sebagian besar diarahkan untuk pembangunan
perkebunan-perkebunan yang dapat menghasilkan komoditi yang diperlukan bagi bahan dasar
industri. Lalu dibangunlah perkebunan- perkebunan yang sebagian besar dibangun di daerah
Jawa dan Sumatera. Pembangunan perkebunan ini membutuhkan tenaga kerja yang akan
digunakan untuk mengurus perkebunan. Dengan demikian, banyak penduduk yang diangkat
menjadi tenaga kerja perkebunan, bahkan untuk perkebunan di Sumatera diangkat tenaga kerja
yang berasal dari Jawa. Terjadilan arus transmigrasi dari pulau Jawa ke Sumatera yang dilakukan
secara paksa. Bahkan ada di antara orang-orang Jawa ini yang dikirim ke daerah Madagaskar dan
Suriname.
Eksploitasi yang dilakukan oleh para kapitalis terhadap penduduk Indonesia dilakukan
dengan gaya baru. Para pekerja dipaksa untuk bekerja di perkebunan-perkebunan dengan upah
yang sangat minim dengan beban kerja yang sangat tinggi. Mereka tidak bisa menghindar dari
ketentuan tersebut karena mereka terikat kontrak kerja. Pada tahun 1881, pemerintah kolonial
Belanda mengeluarkan undang-undang Koelie Ordonantie yang mengatur para pekerja.
Berdasarkan undang-undang tersebut, para kuli bekerja sesuai dengan kontrak. Bagi mereka
yang melanggar ketentuan tersebut akan dijatuhkan hukuman berupa poenale sanctie. Para
pengusaha diberikan kewenangan dan hak yang besar untuk memperlakukan dan menjatuhkan
hukuman para pekerja sesuai dengan keinginannya.
Untuk mendukung program perkebunan tersebut, pemerintah kolonial Hindia Belanda
membangun berbagai prasarana, seperti irigasi, waduk, jalan raya, jalan kereta api, serta
pelabuhan-pelabuhan. Pembangunan sarana-sarana tersebut seringkali memakan korban jiwa
yang sangat banyak dari penduduk Indonesia karena mereka dipekerjakan secara paksa. Akan
tetapi dengan pembangunan prasarana tersebut, terutama pembangunan jaringan jalan raya telah
menimbulkan pengaruh bagi tumbuhnya mobilitas penduduk. Pembangunan jalan raya dan
kereta api memungkinkan pertumbuhan dan hubungan antarkota secara cepat. Dampaknya
adalah lahirnya kota-kota baru di daerah pedalaman seperti Malang, Bandung, Sukabumi, dan
sebagainya. Lahirnya kota-kota baru tersebut memicu pertumbuhan urbanisasi yaitu gerak
perpindahan penduduk dari desa ke kota.

Politik pintu terbuka ternyata tidak membawa kemakmuran bagi rakyat Indonesia. Van
Deventer mengecam pemerintah Belanda yang tidak memisahkan keuangan negeri induk dan
negeri jajahan. Kaum liberal dianggap hanya mementingkan prinsip kebebasan untuk mencari
keuntungan

tanpa

memerhatikan

nasib

rakyat.

Contohnya

perkebunan

tebu

yang

mengeksploitasi tenaga rakyat secara besar-besaran. Dampak politik pintu terbuka bagi Belanda
sangat besar. Negeri Belanda mencapai kemakmuran yang sangat pesat. Sementara rakyat di
negeri jajahan sangat miskin dan menderita.

2.4 Penerapan Politik Etis Di Indonesia


Seiring dengan hal tersebut, gerakan-gerakan humanis yang berkembang di negeri
Belanda mendorong diberlakukannya politik balas budi terhadap bangsa Indonesia. Desakan
parlemen kepada pemerintah Belanda untuk menghapus sistem tanam paksa merupakan awal
dari kemenangan terhadap strategi politik yang dijalankan kaum liberal dalam rangka mencapai
kepentingannya di bumi Indonesia.
Sejak saat itu, modal swasta asing diberikan peluang untuk mewarnai berbagai bidang
usaha, terutama pada perkebunan-perkebunan besar, baik di Jawa maupun di luar Jawa.
Pembukaan perkebunan-perkebunan yang didominasi modal asing, seperti Belanda dan negaranegara Eropa lainnya memungkinkan dikeluarkan Undang-undang Agraria dan Undang-Undang
Gula pada tahun 1870. Dalam realisasinya Undang-undang Agraria itu pun tidak membuat
penduduk pribumi menjadi terbebas dari penderitaan. Bahkan sebaliknya, penduduk pribumi
hanya menjadi alat pihak pemilik modal untuk mencapai keuntungan dan tidak memperbaiki
nasib rakyat Indonesia dari keadaan sebelumnya. Kondisi yang tidak seimbang tersebut, pada
akhirnya mendapat perhatian dari beberapa tokoh Belanda seperti Baron van Hoevel, Eduard
Douwes Dekker, dan van Deventer. Tokoh-tokoh Belanda tersebut, kemudian mengusulkan
kepada pemerintah Kerajaan Belanda untuk memperhatikan nasib rakyat Indonesia.
Salah satu politik balas budi tersebut adalah program yang dikemukakan oleh Mr. C. Th.
Van Deventer. Gagasannya yang diterbitkan oleh majalah de Gids pada tahun 1899 memaparkan
perlunya bangsa Belanda melakukan balas budi terhadap Indonesia. Balas budi dilakukan dengan
jalan membantu bangsa Indonesia untuk mencerdaskan dan memakmurkan rakyatnya.
Berikut ini Isi Trilogi van Deventer antara lain:

1) Irigasi (pengairan), yaitu diusahakan pembangunan irigasi untuk mengairi sawah-sawah


milik penduduk untuk membantu peningkatan kesejahteraan penduduk,
2) Edukasi (pendidikan), yaitu penyelenggaraan pendidikan bagi masyarakat pribumi agar
mampu menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang lebih baik,
3) Migrasi (perpindahan penduduk), yaitu perpindahan penduduk dari daerah yang padat
penduduknya (khususnya Pulau Jawa) ke daerah lain yang jarang penduduknya agar lebih
merata.
Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang akhirnya politik etis ini mulai dijalankan d
Indonesia menurut tafsiran dan kemauan pemerintah kolonial Belanda. Pada dasarnya kebijakankebijakan yang diajukan oleh van Deventer tersebut baik. Akan tetapi dalam pelaksanaannya
terjadi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh para pegawai Belanda. Berikut ini
penyimpangan-penyimpangan tersebut:
1.

Irigasi

Pengairan (irigasi) hanya ditujukan kepada tanah-tanah yang subur untuk perkebunan swasta
Belanda. Sedangkan milik rakyat tidak dialiri air dari irigasi.
2.

Edukasi

Pemerintah Belanda membangun sekolah-sekolah. Pendidikan ditujukan untuk mendapatkan


tenaga administrasi yang cakap dan murah Pendidikan yang dibuka untuk seluruh rakyat,
hanya diperuntukkan kepada anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang mampu.
Terjadi diskriminasi pendidikan yaitu pengajaran di sekolah kelas I untuk anak-anak pegawai
negeri dan orang-orang yang berharta, dan di sekolah kelas II kepada anak-anak pribumi dan
pada umumnya.
3.

Migrasi

Migrasi ke daerah luar Jawa hanya ditujukan ke daerah-daerah yang dikembangkan perkebunanperkebunan milik Belanda. Hal ini karena adanya permintaan yang besar akan tenaga kerja di
daerah-daerah perkebunan seperti perkebunan di Sumatra Utara, khususnya di Deli, Suriname,
dan lain-lain.
Mereka dijadikan kuli kontrak. Migrasi ke Lampung mempunyai tujuan menetap. Karena
migrasi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja, maka tidak jarang banyak yang
melarikan diri. Untuk mencegah agar pekerja tidak melarikan diri, pemerintah Belanda
mengeluarkan Poenale Sanctie, (peraturan yang menetapkan bahwa pekerja yang melarikan diri

akan dicari dan ditangkap polisi, kemudian dikembalikan kepada mandor atau pengawasnya).
Walaupun pemikiran liberalisme di Hindia-Belanda diawali dengan harapan-harapan besar
mengenai keunggulan sistem liberal dalam meningkatkan perkembangan ekonomi koloni
sehingga menguntungkan kesejahteraan rakyat Belanda maupun rakyat Indonesia, namun pada
akhir abad 19 terlihat jelas bahwa rakyat Indonesia sendiri tidak mengalami tingkat kemakmuran
yang lebih baik dari sebelumnya. Ini didasarkan karena kecenderungan politik agraria kolonial
adalah prinsip dagang, yaitu mendapatkan hasil bumi/bahan mentah dengan harga yang serendah
mungkin, kemudian dijual dengan harga setinggi-tingginya.
Tetapi Lambat laun program politik etis ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi
bangsa Indonesia, terutama dalam hal program pendidikan (edukasi). Program pendidikan yang
awalnya ditujukan untuk menghasilkan tenaga administratif rendahan, pada akhirnya semakin
berkembang. Tidak hanya jenjang pendidikan semakin tinggi, tetapi juga menjangkau
spesialisasi bidang pendidikan lainnya seperti kedokteran, keguruan, teknik, pertanian, dan
sebagainya. Dengan demikian, masyarakat Indonesia semakin mengenal pola pendidikan Barat
yang pada akhirnya menjadi benih-benih pergerakan indonesia menuju kemerdekaan.

BAB III.
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari penjelasan sebelumnya, telah diketahui bahwa dasar munculnya politik etis antara
lain, berawal dari kemenangan kaum liberalis dalam negeri belanda yang banyak memberikan
pengaruhnya terhadap Negara jajahannya atau koloniya, bukti nyata dari keberhasilan kaum
liberalis di parlemen belanda adalah dikeluarkannya UU Agraria di Indonesia, yang bentuk
nyatanya adalah untuk memberikan hak kepada penduduk pribumi, seiring munculnya agrarisch
wet, muncul juga agrarische belsuit sebagai penerapan dari agrarische wet, dimana menentukan
domein Negara dalam artian tanah milik pribumi yang tidak bisa dibuktikan dengan kesaksian
orang lain misalnya (adat) maka diakui sebagai tanah Negara (colonial belanda).
Dengan berlakunya agrarische wet, membuka peluang pagi perusahaan asing atau
pemodal asing untuk membuka perusahaan perkebunananya di Indonesia dengan cara menyewa
kepada penduduk pribumi, ataupun kepada pemerintah penguasa, dalam peraturanya sewa tanah
dibatasi maksimal 75 tahun. Secara kasat mata ini dipandang menguntungkan rakyat, dengan
asumsi, selain rakyat menyewakan tananhnya kepada pengusaha dan kemudian bekerja di
perusahaan belanda mereka mendapat penghasilan yang banyak dan dapat sejahtera, tetapi dalam
kenyataannya rakyat semakin menderita, sehingga muncul politik etis yang dimotori oleh van
Deventer, (edukasi, irigasi dan emigrasi). Tetapi dalam perjanannya banyak sekali
penyimpangan yang terjadi. Ini disebabkan karena dalam pelaksanaannya konsep etis tersebut
ditafsirkan sendiri oleh pemerintah belanda.

3.2 saran
Dengan keterbatasan sumber yang dianalisis penulis, pembaca dianjurkan untuk
membaca lagi sumber atau informasi yang berkaitan dengan topic yang dibahas, baik dari
sumber teks (buku) ataupun media elektronik.

DAFTAR PUSTAKA
Muadi Sholih.2008.Penyelesaian sengketa hak atas tanah Perkebunan melalui cara non
litigasi.Semarang:Departemen Pendidikan Nasional Program Doktor Ilmu Hukum Pascasarjana
Universitas Diponegoro.
Prof.Harsono Budi.1999.Hukum Agraria Indonesia Sejarah Pembentukan Undang-Undang
Pokok Agraria.Jakara:Djambatan.
Tarunasena M.2009. Memahami Sejarah SMA Dan Ma Kelas XI Program Ilmu Pengetahuan
Sosial.Jakarta:Departemen pendidikan Nasional.

Sumber website:
http://fandyharwinanto.wordpress.com/2008/12/27/politik-kolonial-liberal-abad-19/
(Diunduh Pada 22 April 2012)
Chekp4yzs blog.28 Juli 2010/9:24 PM. Bab II Agraria. (Diunduh Pada 22 April 2012)