Anda di halaman 1dari 17

Manajemen Chasis

PAPER

Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen Chasis semester genap tahun
2013/2014 yang diampu oleh Bapak Kasjianto,IR.MT.
Oleh

Abiyoga Koesnanto : NIM 1141220032 - 3B D IV


Docky Koesryanto : NIM 1141220034 3B D IV

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI TEKNIK OTOMOTIF ELEKTRONIK
POLITEKNIK NEGERI MALANG
MALANG
2014

Nama Kelompok :
-

Abiyoga Koesnanto / 3B-D4 / 1141220032


Docky Koesryanto / 3B-D4 / 1141220034

ABS
Sejarah ABS
Sejarah ABS ( AntiLock Brake System ) pertama kali diperkenalkan oleh french
Automobile & Aircraft Poineer yang dipimpin oleh Gabriel Viosin untuk menahan Laju
pesawat saat Landing pada tahun 1929. Tidak secanggih sekarang tentunya karena sistem
kerjanya masih sederhana. Kemudian dikembangkan oleh Dunlop's Maxaret System pada
tahun 1950an. Pada tahun 1958, Maxaret mencoba mengaplikasikan teknologi tersebut
kepada Motor yang bernama Royal Enfield Super Meteor Motor. Hasil testnya menunjukan
bahwa ABS merupakan nilai tambah yang besar terhadap sistem keamanan aktif sepeda
motor. Dari hasil pengujian tersebut dapat di simpulkan bahwa jarak pengereman sepeda
motor dengan ABS dapat menjadi lebih pendek 30% jika di bandingkan dengan Sepeda
motor tanpa ABS.
Pengertian ABS
Rem ABS sering disebut sebagai sistem rem anti
terkunci. Hal ini tidak terdapat pada sistem rem model lama
( konvensional ) yang jika dilakukan rem mendadak dan
kuat sering membuat kampas rem tidak dapat balik (
terkunci ).
ABS adalah Anti-lock Braking System merupakan sebuah
terobosan teknologi pada sistem rem dimana ketika terjadi
pengereman mendadak tidak akan membuat roda terkunci,
sehingga sistem rem ABS sangat dibutuhkan dalam
pengereman pada kendaraan khususnya mobil. Dengan
demikian mampu meminimalkan kecelakaan di jalan raya.
Rem ABS diterapkan pada keempat ban mobil, sehingga menghasilkan pengeremen pada saat
yang sama pada keempat roda kendaraan, sehingga ketika terjadi pengereman laju mobil
tetap stabil dan tidak oleng.

Hal ini berbeda pada sistem pengereman standar yang biasanya menggunakan dua buah rem
cakram dan dua buah tromol sehingga memungkinkan terjadi tingkat pengereman yang
berbeda.

Cara Kerja
Pada dasarnya rem ABS berfungsi untuk
mencegah mobil berhenti mendadak ketika
pedal rem diinjak sangat keras dan mendadak.
Pada rem konvensional ( standar ) ketika pedal
rem mendapat penekanan mendadak keras akan
menghentikan putaran ban seketika dan
hasilnya kendaraan akan tergelincir karena
putaran roda berhenti, seperti ketika anda
menyaksikan sebuah mobil yang mengeluarkan bunyi berdecit saat direm mendadak dan pada
aspal jalan biasanya timbul tapak ban.
Hal ini tidak akan terjadi pada kendaraan yang menggunakan sistem rem ABS. Pada
kendaraan yang menerapkan sistem rem ABS ketika terjadi pengereman maka putaran roda
akan berhenti dan pada saat yang sama roda akan be

rputar kembali, selanjutnya roda berhenti dan berputar lagi, begitu seterusnya dan terjadi

berulang ulang dalam waktu sangat cepat, diperkirakan terjadi pengulangan pengereman 15
hingga 20 kali perdetik. Dan hasilnya kendaraan tidak akan tergelincir dan mengeluarkan
bunyi berdecit. Sistem rem ABS juga menghasilkan laju kendaraan berhenti lebih cepat dan
aman.
Komponen ABS
1. Sensor Kecepatan
Sensor ini berfungsi untuk membaca kecepatan
putaran roda, terdapat di setiap roda atapun di
diferensial (tergantung dari pabrik).
2. Katup Pengereman
Di setiap jalur minyak rem terdapat katup, dan katup ini dikendalikan oleh komputer /
kontroler ABS. Secara umum, katup rem memiliki tiga posisi yang berbeda.

Katup Posisi Satu: Dalam posisi ini, katup dalam posisi terbuka penuh, sehingga
tekanan minyak rem secara penuh, langsung diteruskan ke rem.

Katup Posisi Dua: Dalam posisi ini, katup akan menghalangi tekanan minyak rem,
sehingga tekanan tidak akan diteruskan ke rem walaupun pengemudi menekan rem.

Katup Posisi Tiga: Dalam posisi ini, katup akan menghalangi sebagian dari tekanan
minyak rem, sehingga tekanan hanya setengah yang diteruskan ke rem, walaupun
pengemudi menekan rem secara penuh.

3. Pompa
Fungsi dari pompa ini adalah mengembalikan tekanan pada jalur pengereman yang
dilepaskan oleh katup ke rem.
4. Kontroler / Komputer
Fungsi dari alat ini adalah otak yang mengendalikan katup dan mengolah data dari sensor
kecepatan.

Klasifikasi ABS
ABS menggunakan beberapa macam skema, yang dapat dibedakan menurut jumlah
channel:
(berapa banyak valve yang dikontrol secara individual) dan jumlah dari speed sensor.

1.4-channel, 4-sensor ABS


Terdapat satu buah speed sensor pada masing-masing keempat roda dan sebuah valve
terpisah untuk masing-masing keempat roda.Controller memonitor tiap-tiap roda untuk
memastikan roda tersebut memperoleh gaya pengereman yang maksimum.

2.3-channel, 3-sensor ABS


Pada skema ini, masing masing roda depan memiliki sebuah sensor dan valve, namunhanya
satu valve dan satu sensor untuk kedua roda belakang. Sistem ini memberikankontrol secara
mandiri pada tiap-tiap roda depan namun tidak pada roda belakang. Pada sistem ini roda
belakang harus mulai terkunci lebih dulu baru ABS bekerja, sehingga masih dapat
memungkinkan salah satu roda belakang mengalami selip pada saat pengereman.

3.1-channel , 1-sensor ABS


Pada sistem ini, hanya ada 1 valve yang mengontrol kedua roda belakang dan 1 sensor

EBD
Sejarah EBD
Beberapa teknologi keselamatan otomotif terbaru yang bekerja didasarkan sistem
kerja komputer, menggunakan sirkuit mikro yang dapat mendeteksi apa yang mobil dan
pengemudinya lakukan dan memberikan solusi untuk setiap masalah yang mungkin
mengancam keselamatan mobil dan penumpangnya. Beberapa peningkatan keamanan
yang paling mengesankan melibatkan sistem pengereman. Kemampuan untuk
menghentikan mobil dengan cara yang aman sangat penting dalam mencegah kecelakaan.
Sistem ABS (Antilock Break System) sekarang ditemukan dihampir semua mobil, dan
dengan penambahan kontrol seperti kontrol skid elektronik (Electronic Skid Control /

ESC), bersama dengan peringatan sopir, dapat meminimalisir banyak kecelakaan sebelum
terjadi.

Salah satu teknologi terbaru yang paling sukses untuk sistem pengereman
adalah EBD (Electronic Brake-ForceDistribution). EBD didasarkan pada prinsip bahwa
tidak setiap roda kendaraan membutuhkan gaya pengereman yang sama untuk membuat
mobil berhenti tanpa mengurangi kemampuan kendaraan untuk dikontrol

Pengertian EBD

EBD (electronic brake distribution) adalah suatu piranti yang membagi


pengereman dari tiap roda agar mobil tetap dalam keadaan terkendali dan bergerak secara
linear. Teknologi ini sama dengan ESP. EBD biasanya lebih sederhana dari ESP dan biasa
diterapkan pada mobil buatan Jepang. Dan bisa mengatur tekanan minyak rem yg berbeda
beda ke setiap roda berdasarkan kondisi jalan, kecepatan, beban dan faktor2 lain.
dikombinasikan dgn ABS, EBD akan membagi dan mengatur tekanan rem yang sesuai ke
setiap roda agar roda yang slip bisa kembali mendapatkan daya cengkeram dan roda yg
menapak jalan bisa melakukan pengereman sehingga kendaraan bisa terkontrol.

Tugas EBD sebagai subsistem dari sistem ABS untuk mengontrol adhesi pemanfaatan
yang efektif oleh roda belakang. Tekanan roda belakang didekati dengan distribusi kekuatan
rem yang ideal dalam operasi pengereman parsial. Untuk melakukannya, desain rem yang
konvensional diubah dalam arah overbraking poros belakang, dan komponen ABS digunakan
EBD mengurangi ketegangan pada kekuatan rem hidrolik katup proporsi dalam kendaraan
EBD mengoptimalkan desain rem berkaitan
dengan: pemanfaatan adhesi(gaya tarik
menarik antar molekul yang tidak sejenis)

EBD dapat bekerja dalam hubungannya


dengan ABS dan Electronic Stability
Control ("ESC") untuk meminimalkan percepatan yaw selama bergantian. ESC

membandingkan sudut roda kemudi untuk menilai kendaraan memutar menggunakan sensor
tingkat yaw. "Yaw" adalah rotasi kendaraan sekitar pusat vertikal gravitasi (belok kiri atau
kanan). Jika sensor yaw mendeteksi lebih / yaw kurang dari sudut roda kemudi harus
menciptakan, mobil understeering atau oversteering dan ESC mengaktifkan salah satu depan
atau rem belakang untuk memutar mobil kembali ke kursus yang dimaksudkan. Sebagai
contoh, jika mobil adalah membuat berbelok ke kiri dan mulai understeer. ESC mengaktifkan
rem belakang kiri, yang akan membantu mengubah mobil kiri. Sensor sangat sensitif, dan
aktuasi yang begitu cepat bahwa sistem dapat memperbaiki arah sebelum pengemudi
bereaksi. ABS membantu mencegah roda lock-up dan EBD membantu kekuatan rem berlaku
tepat untuk membuat ESC bekerja secara efektif.

Untuk EBD diperlukan 3 komponen hardware


yaitu :
1. sensor
yang mana dapat menentukan slip ratio dari roda,

system EBD memerlukan 2 informasi yaitu kecepatan roda berotasi dan kecepatan dari
mobil. Jika kecepatan roda berputar lebih lambat daripada kecepatan mobil, itu berarti roda
selip. Sebuah sensor ditaruh di tiap roda untuk mengetahui kecepatan roda. Tidak ada sensor
yang specific untuk mengetahui pergerakan mobil. Kecepatan dari keempat roda dirata-rata
untuk mengetahui perkiraan kecepatan mobil.
2. Brake force modulators
Brake force ini di taruh pada roda dan bekerja secara hidrolis, dengan minyak rem yang di
pompa ke dalam selang rem seperti pneumatic aktif yang menggerakkan silinder rem. System
EBD dapat menentukan jumlah minyak rem yang dapat mengalir ke setiap roda melalui katup
elektroliknya.
3. ECU
ECU merupakan computer kecil yang terintegrasi pada antilock braking system. Alat ini akan
menerima input dari sensor kecepatan, kemudian menghitung slip ratio roda dan
menggunakan brake force modulator untuk mengatur jumlah gaya pada tiap roda agar slip
rationya tetap dalam batasan aman.
Ini merupakan kuntungan lain dari EBD, ketika anda membawa barang di bagasi atau di
bagian belakang mobil anda, itu akan merubah traksi ban belakang anda, yang mana ban
belakang dapat diberikan gaya pengereman yang lebih. System pengereman standard seperti
ABS tidak bisa memperhitungkan tambahan beban ini, tetapi EBD melakukan tugas itu, dia
memperhitungkan berat bagian belakang kendaraan anda sebagai keuntungan dalam
melakukan pengereman. EBD tidak secara langsung mengetahui beban yang kita bawa, tetapi
sistemnya melihat dari effect beban yang kita bawa ini dikonversi ke slip ratio dari ban.

TCS
Sejarah TCS
Pada tahun 1971, Buick divisi GM memperkenalkan MaxTrac, yang menggunakan
suatu sistem komputer untuk mendeteksi putaran roda belakang dan memodulasi tenaga
mesin ke roda tersebut untuk memberikan traksi yang paling baik.Teknologi tersebut

diterapkan pada semua model, seperti Riviera, Wagon Estate, Electra 225, Centurion, dan
sedan LeSabre keluarga yang cukup populer. Cadillac juga memperkenalkan teknologi
Traction Monitoring System (TMS) pada 1979 yang merupakan re-desain dari tipe Eldorado.
Namun tipe ini mendapat banyak kritikan karena waktu reaksi yang lambat dan tingkat
kegagalan sistem sangat tinggi.
Pengertian TCS
TCS adalah singkatan dari traction control system, yaitu Sebuah sistem kontrol traksi,
juga dikenal sebagai anti-slip regulation (ASR), biasanya (tapi tidak harus) merupakan fungsi
sekunder dari ABS pada mobil, yang dirancang untuk mencegah hilangnya traksi roda
dengan jalan saat pengemudian basah atau licin .Sistem ini membantu meningkatkan traksi
roda saat kendaraan berjalan pada daerah berair atau jalan licin. Ketika sensor membaca ban
tidak memiliki traksi, maka sistem akan memberikan kompensasi dengan memperlambat
putaran roda, mengurangi daya atau keduanya. Sistem ini menggunakan sensor kecepatan
roda untuk memonitor kecepatan roda. Ketika traksi hilang, sensor meminta ECU sistem rem
untuk menerapkan sebagian rem ke roda yang berputar, yang memungkinkan untuk
mendapatkan traksi. Jadi seperti kebalikan dari rem ABS
Cara Kerja TCS
TC bekerja dalam tiga tahap, yaitu sensing (melakukan pengukuran), processing
(melakukan proses perhitungan data dan analysis), serta actuating (melakukan aksi
pengaturan). Sensing dilakukan oleh sensor-sensor yang mengukur putaran roda belakang,
roda depan, dan laju mobil. Processing dilakukan oleh komputer mobil yang terintegrasi
dalam sistem ECU (Electronic Control Unit) dan selanjutnya proses pengaturan dilakukan
oleh beberapa actuator yang melakukan beberapa aksi untuk mengurangi power engine yang
terhantar ke roda belakang.
Walaupun ada tiga tahapan, seluruh aktifitas system TC itu dilakukan dalam hitungan
miliseconds dan kecepatan itulah merupakan keuntungan sebenarnya dari system TC karena
sebenarnya semua pembalap F1 dapat melakukan fungsi TC itu sendiri. Pembalap mobil pada
level F1 sudah pasti mempunyai kemampuan dalam merasakan wheelspin yang terjadi pada
roda mobilnya. Bedanya, fungsi yang kontrol traksi yang dilakukan pembalap, tentu saja,
kalah cepat dan kalah akurat dibanding TC yang dilakukan oleh sistem komputer mobil.

Ditinjau dari sistem kontrolnya, sistem control traksi


merupakan system yang mampu mempertahankan ratio slip
diantara ban dan permukaan jalan dengan cara mengontrol
peralatan-peralatan guna memberikan perlawanan
percepatan terhadap perubahan kondisi permukaan jalan.
1. Peralatan itu tersebut, yaitu:
a. Kontrol Torsi Engine, berfungsi mempertahankan kondisi
steady state plant.
b. Kontrol Torsi Pengereman, mencegah keberadaan torsi dengan memberikan gaya gesek
yang berbeda di antara kedua roda penggerak. Sistem kontrol traksi direncanakan untuk
mencegah roda melintir dengan gaya akseleratif yang tinggi.
2. Komponen Kontrol Traksi
a. Wheel Speed sensor, sensor yang memberikan informasi kepada ABS untuk ditindak
lanjuti.

b. ECU (Electronic Control Unit) Input amplifier IC menerima sinyal dari wheel speed
sensor, sinyal frekwensi tersebut memberi perintah tentang kecepatan roda penggerak.
Microcontrollernya akan memproses sinyal-sinyal percepatan dan kecepatan roda penggerak.
Data data ini akhirnya akan menyiapkan basis perhitungan dalam menentukan nilai akhir
yang dibutuhkan untuk kendali slip.
c. Hydraulic Unit
d. Electronic throttle control actuator
e. Simplified throttle control actuator
f. Fuel injection dan ignition control
(Pengurangan tekanan pompa mesin
secara perlahan-lahan).
System kontrol traksi (TCS), juga dikenal sebagai anti-slip regulasi (ASR), biasanya (tapi
tidak harus) fungsi sekunder anti-lock braking system (ABS) pada kendaraan bermotor
produksi, dirancang untuk mencegah hilangnya traksi jalan roda didorong. Ketika dipanggil
karena itu meningkatkan kontrol throttle driver sebagai masukan yang diterapkan adalah
salah disesuaikan
dengan kondisi permukaan jalan (karena
berbagai faktor) tidak mampu untuk mengelola
diterapkan torsi.
Intervensi (bantuan) terdiri dari satu atau lebih
dari berikut ini:
a. Mengurangi atau menekan percikan urutan ke satu atau lebih silinder
b. Mengurangi pasokan bahan bakar ke satu atau lebih silinder
c. Rem gaya yang diterapkan pada satu atau lebih roda
d. Tutup throttle, jika kendaraan ini dilengkapi dengan drive by wire throttle

e. Dalam turbo-charged kendaraan, sebuah solenoida dapat meningkatkan kontrol digerakkan


untuk mengurangi dan karena itu meningkatkan tenaga mesin.
Biasanya, sistem kontrol traksi berbagi aktuator elektro-hidrolik rem (tapi tidak
menggunakan master silinder konvensional dan servo), dan sensor kecepatan roda dengan
sistem anti-lock braking
ESP
Pengertian ESP
Sebuah teknologi terkomputerisasi [1][2]
yang bertujuan untuk meningkatkan keamanan dari
sisi pengendalian mobil dengan cara mendeteksi dan
meminimalisir slip. Ketika kontrol ini mendeteksi
adanya kehilangan kontrol pengendalian, maka
dengan otomatis sistem ini akan membantu rem
untuk mengendalikan mobil. Sistem pengereman
langsung berjalan ke masing-masing roda, rem roda
depan akan mencegah oversteer dan rem roda
belakang mencegah understeer. Kadang, sistem ini juga mengurangi tenaga mesin sampai
mobilnya terkontrol kembali. Menurut IIHS dan NHTSA (badan regulasi keselamatan
otomotif AS), sepertiga dari total kecelakaan fatal dapat dicegah oleh teknologi ini.
Cara kerja ESP
Cara kerjanya adalah mengontrol laju pengendaraan dengan secara selektif
memberikan pengereman pada roda yang paling membutuhkan. Dalam kondisi jalan lurus,
kendaraan pun melaju lurus di permukaan jalan rata, maka pengereman terpusat pada keempat roda secara bersamaan. Namun jika jalan berbelok atau mobil melaju berbelok atau
kondisi jalan tidak rata. maka beban pengereman tidaklah terpusat pada ke empat roda secara
merata. ESP mengatur pengereman sedemikian rupa agar mobil tidak kehilangan kendali
sekalipun pengereman tiba-tiba sewaktu berbelok disertai kecepatan tinggi. ESP bekerja
dengan sensor elektronis (48 kilobyte) yang keseluruhannya mengontrol akselerasi,
pengereman di berbagai jenis kondisi jalanan, mengontrol putaran masing-masing roda,
menurunkan rpm untuk pada kondisi tertentu untuk menghindari selip.

Rem ABS memiliki sejumlah sensor kecepatan dan ESC menambah sensor yang
secara kontinyu memonitor seberapa baik kendaraan merespon input dari roda kemudi.
Sensor-sensor ini bisa mendeteksi kapan pengemudi kehilangan kontrol karena mobil
melenceng dari jalur yang seharusnya dilalui, -masalah yang sering muncul pada manuver
kecepatan tinggi atau jalan licin-. Dalam situasi ini, otomatis ESC mengerem ban-ban secara
individual untuk menjaga mobil tetap terkontrol. Bila pengemudi melakukan gerakan
manuver mendadak, misal menikung terlalu cepat, mobil beresiko hilang kontrol. Maka ESC
akan melakukan serangkaian pengereman yang diperlukan dan pada kasus-kasus tertentu juga
mengurangi kecepatan mobil agar mobil tetap terkontrol.
Kerja ESP membantu pengendalian mobil ketika kemudi diputar secara mendadak
saat kendaaraan tengah melaju dengan kecepatan tinggi. Tidak hanya pada waktu berbelok
melibas tikungan, melainkan juga ketika pengemudi memutar setir untuk menghindari objek
yang tiba-tiba muncul di depan. Hal itu dapat terjadi karena stability control system
menggunakan sensor yang secara konstan memonitor kecepatan putaran masing-masing roda,
sudut putaran setir, dan akselerasi lateral (menyamping) . Sistem itu juga memonitor kerja
banyak sistem lain, apakah menyimpang atau tidak. Semua informasi itu dikumpulkan oleh
komputer, yang akan menentukan apakah mobil itu berjalan sesuai dengan keinginan
pengendaranya atau tidak. Dan jika tidak sesuai, stability control system akan mengintervensi
dan mengembalikan posisi mobil sesuai dengan yang diinginkan pengendara.
Komponen ESP
Komponen komponen ESP pada kendaraan meliputi :
1. ESP-Hydraulic Unit with Integrated ECU

Merupakan rangkaian hidrolik pada booster rem dan roda roda yang berintegrasi
atau di kontrol oleh ECU

2. Wheel Speed Sensor

Merupakan sensor yang memantau kecepatan putaran roda

3. Steering Angle Sensor

komponen ini merupakan sensor yang bekerja memantau sudut belok kendaraan pada
saat dibelokan ke arah kanan ataupun kiri

4. Yaw Rate Sensor with Integrated Acceleration Sensor

Merupakan sensor yang berfungsi memantau akselerasi (percepatan) kendaraan

5. Engine-Management ECU for Communication

Merupakan otak dari system elektronik pada kendaraan yang berfungsi mengatur
seluruh system otomatis yang menggunakan sensor elektronik dalam kendaraan

4WS
Pengertian 4WS
BMW pada mobil Seri-7 terbaru (740Li dan juga 750Li) kembali menerapkan sistem kemudi
empat roda (4-wheel steering) dan diberi nama BMW Integral Active Steering. Dengan
sistem kemudi cerdas ini, sudut belok roda depan dan belakang dapat diatur sesuai kondisi.

Sistem ini merupakan paduan active steering yang mampu mengubah rasio putaran kemudi
sesuai kecepatan dengan mechatronic actuator yang menggerakkan roda belakang sesuai
sudut yang dibutuhkan.

Berbeda dengan sistem four wheel steering lama, tak ada hubungan mekanis antara kemudi
roda depan dan belakang. Sudut belok roda belakang ditentukan oleh ECU yang memantau
berbagai aspek seperti kecepatan, derajat belok roda depan, maupun sudut kemiringan mobil.

Tentu saja sistem kemudi ini tidak terlepas dari beberapa sistem lainnya seperti Dynamic
Stability Control (DSC) maupun Integrated Chassis Management yang sama-sama bertugas
menjaga kestabilan kendaraan.

Cara Kerja 4WS


Pada kecepatan di atas 80 km/jam, roda belakang dapat bergerak dengan sudut maksimum 3
derajat searah dengan roda depan. Hal ini meningkatkan kestabilan dan keselamatan di
berbagai manuver. Seperti saat mobil pindah jalur di jalan bebas hambatan maupun melewati
tikungan panjang.

Pada kecepatan rendah, mobil terasa tak begitu panjang sehingga mudah diajak bermanuver.
Pada kecepatan sampai 60 km/jam, roda belakang bergerak juga dengan sudut 3 derajat
berlawanan arah dengan roda depan. Pada saat yang sama, Active Steering akan menurunkan
rasio putaran kemudi pada roda depan.

Kombinasi kedua fitur ini mampu menghasilkan kemampuan bermanuver yang baik terutama
di jalan sempit maupun berkelok tajam. Saat melakukan manuver untuk parkir, mobil dengan
panjang sumbu roda 3,21 meter ini, mengalami penurunan radius putar hingga 70 cm
dibandingkan tanpa sistem ini.

Selain beberapa keuntungan yang signifikan di atas, pengemudi juga tidak perlu melakukan
gerakan ekstra karena derajat belok roda depan sudah mendapatkan kompensasi dari roda
belakang selain Aktive Steering yang telah diadaptasinya. Hal ini mereduksi segala usaha
untuk memutar kemudi menjadi lebih rendah lagi. Pengemudi maupun penumpang bisa
sama-sama merasakan sensasi berkendara tanpa mengorbankan kenyamanan.

System Active Suspension (SAS)

Pengertian SAS
Dengan

adanya

perkembangan

teknologi di bidang komputer,


elektronik, hidrolik dan teknik
control permasalahan kenyamanan
berkendara dapat diatasi dengan
hadirnya teknologi
dunia

otomotif,

suspensi

aktif.

baru pada
yaitu

Suspensi

sistem
aktif

adalah suatu sistem suspensi yang menggunakan microkontrol dan sensor dengan feedback
loop untuk meningkatkan perfomen suspensi yang optimal. Secara prinsip komponenkompenen hampir sama dengan suspensi biasa, hanya saja ada beberapa komponen yang
dikontrol secara elektronik sehingga ada beberapa komponen tambahan, antara lain :
- Sensor, berbagai macam sensor
dipasang pada kendaraan untuk
mengetahui kondisi kendaraan dan
aktivitas pengemudi.
- ECU (Electronic Control Unit),
semua sinyal dari sensor akan
dibaca oleh
bantuan

ECU dan dengan

memori

yang

sudah

diprogram , sinyal yang masuk akan


diolah untuk menentukan tingkat
suspensi sesuai kebutuhan.
- Actuator, perintah dari ECU akan dirubah menjadi sinyal elektrik dan langsung diteruskan
ke berbagai aktuator untuk mengontrol sistem suspensi.

Prinsip kerja suspensi aktif :

Gambar diatas merupakan layout prinsip kerja dari Fully Slow Aktive Suspensions. Tenaga
disuplai dari pompa yang digerakkan oleh engine. Minyak dari pompa diteruskan ke unit
pertama dari Fail Safe Valve. Unit ini mempunyai dua fungsi, yaitu pertama mematikan
sistem pada saat emergency sehingga suspensi menjadi passive dan yang kedua mengatur
suplai tekanan. Ketika suspensi aktif tidak bekerja maka unit Fail Safe Valve mengurangi.