Anda di halaman 1dari 1

BAB IV

PENUTUP

1. Simpulan
Secara leksikal baik agaru maupun ageru memunyai makna perubahan
arah dari bawah ke atas, dengan padanan kata dalam bahasa Indonesia ‘naik’
untuk agaru, dan ‘menaikkan’ untuk ageru. Namun setelah terjadinya

pemajemukan dengan pola zenkōdōshi berupa bentuk ren’yōkei dan kōkōdōshi


verba agaru/ageru terdapat diferensiasi dalam makna dan kaidah pemakaiannya.
Bentuk ren’yōkei ialah satu bentuk konjugasi yōgen untuk dikombinasi dengan
yōgen lainnya. Jika yōgen berupa verba, maka dipakai kepala verba bentuk –masu.

Misalnya agaru  agari, taberu  tabe, suru  shi.


Dari segi transitivitas, dapat penulis simpulkan bahwa pemajemukan
dengan pola –agaru dapat terjadi pada zenkōdōshi transitif maupun intransitif
yang menghasilkan bentukan verba majemuk intransitif. Sedangkan pemajemukan
dengan pola –ageru hanya dapat terjadi pada zenkōdōshi transitif yang

menghasilkan bentukan verba majemuk transitif pula, kecuali untuk satu kategori
makna pergerakan naik suatu zat dari dalam tubuh (tainai no jōshō 体内上昇)
Secara rinci, Himeno Masako mengklasifikasikan makna bentukan verba

majemuk berpola –agaru dan –ageru ke dalam beberapa kategori makna sebagai
berikut:

1. Makna Verba Majemuk –agaru


Pergerakan Naik ( 上昇 jōshō)
Terdapat dua macam keadaan pergerakan naik ditinjau dari
perpindahan bagian subjek, yaitu perpindahan subjek secara keseluruhan
dan perpindahan subjek secara parsial.
Kenaikan seluruh bagian subjek ( 全体的上昇 zentaiteki jōshō)

83