Anda di halaman 1dari 11

SEJARAH KONSERVASI TANAH DI INDONESIA

(Tugas Terstruktur Konservasi Tanah dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai)

Oleh
Abdul Rohman
1114121001

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam budidaya pertanian, penggunaan lahan secara berlebihan secara terus


menerus tanpa disadari dapat menurunkan produktifitas dari lahan tersebut karena
penurunan produktifitas terjadi secara perlahan. Penurunan produktifitas
disebabkan terjadinya degradasi atau penurunan kualitas lahan karena lahan
digunakan secara terus menerus. Hal ini yang sering terjadi pada lahan pertanian
yang umumnya penggunaan lahan tidak memperhatikan penurunan kualitas lahan.
Kualitas lahan dapat dipertahankan atau bahkan dapat ditingkatkan dengan
tindakan konservasi tanah.

Menurut Sitanala Arsyad (1989) dalam Rossa (2012), konservasi tanah adalah
penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan
kemampuan tanah tersebut dan memperlakukkannya sesuai dengan syarat-syarat
yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Konservasi tanah dalam arti
luas adalah penempatan tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan
kemampuan tanah tersebar dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat
yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Dalam arti sempit konservasi
tanah diartikan sebagai upaya untuk mencegah kerusakan tanah oleh erosi dan
memperbaiki tanah yang rusak oleh erosi.

Namun pengetahuan tentang sejarah konservasi tanah khususnya di Indonesia


belum banyak diketahui. Padahal hal ini merupakan salah satu hal penting karena
dari situ dapat dilihat bagaimana proses yang terjadi sampai menjadi konservasi
tanah yang ada saat ini

Berdasarkan paparan diatas maka dipandang penting untuk membuat makalah ini
yang diberi judul Sejarah Konservasi Tanah di Indonesia.

1.2. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah mengetahui sejarah konservai tanah di
Indonesia.

II.

ISI

Menurut Adimihardja (2008) sejarah perkembangan iptek dan penelitian tanah di


Indonesia diawali pada tahun 1905, bertepatan dengan berdirinya Laboratorium
voor Vermeerdering de Kennis van den Bodem (Laboratorium untuk Perluasan
Pengetahuan tentang Tanah), yang sekarang menjadi Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Kegiatan pengembangan ilmu
tanah waktu itu mencakup pula penelitian erosi dan konservasi tanah. Namun,
penelitian konservasi tanah yang lebih terprogram dan terorganisasi baru
dikembangkan sekitar tahun 1969-1970 dengan dibentuknya Bagian Konservasi
Tanah pada Lembaga Penelitian Tanah, Departemen Pertanian. Secara
kronologis, garis besar sejarah perkembangan penelitian konservasi tanah dapat
dipilah dalam beberapa kurun waktu sebagai berikut.

Periode 1970-1980
Dalam periode ini pengembangan iptek dan penelitian konservasi tanah
didominasi oleh kegiatan di laboratorium dan rumah kaca, didukung dengan
beberapa kegiatan penelitian lapangan. Kegiatan penelitian diarahkan untuk
mengkompilasi berbagai data fisika dan konservasi tanah serta menguji berbagai
metode dan teknologi dasar konservasi tanah dan air, termasuk penggunaan soil
conditioner. Dalam periode ini juga dikembangkan teknik simulasi dan
pemodelan, seperti rainfall simulator, Universal Soil Loss Equation (USLE), dan
RUSLE (Revised USLE) (Abdurachman et al. 1984; Abdurachman 1989;
Abdurachman dan Kurnia 1990) dalam (Adimihardja, 2008).

Konservasi tanah dalam arti luas adalah penempatan tanah pada cara penggunaan
yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebar dan memperlakukannya sesuai

dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Dalam
arti sempit konservasi tanah diartikan sebagai upaya untuk mencegah kerusakan
tanah oleh erosi dan memperbaiki tanah yang rusak oleh erosi. Upaya konservasi
tanah ditujukan untuk :
Mencegah erosi.
Memperbaiki tanah yang rusak.
Memelihara serta meningkatkan produktivitas tanah agar tanah dapat
digunakan secara berkelanjutan.
Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan yang jauh ke tanah
untuk pertanian seefisien mungkin, dan mengatur waktu aliran agar tidak terjadi
banjir yang dapat merusak serta tersedianya air pada musim kemarau. Konservasi
tanah dan air sangat erat hubungannya karena setiap perlakuan pada sebidang
tanah akan mempengaruhi tata air pada tempat itu dan tempat-tempat di hilirnya.
Oleh karena itu, berbagai tindakan konservasi tanah adalah tindakan konservasi
air juga. Berdasarkan hubungan tersebut, maka tanggung jawab di sektor
pertanian dalam masalah air ada dua,yaitu:
Memelihara jumlah, waktu aliran, dan kualitas air.
Mengoptimalkan manfaat air melalui penerapan cara-cara penggunan air untuk
pertanian yang efisien (Renne, 1960) dalam (Anonym 3, 2011).

Soil Conditioner merupakan bahan pembenah tanah yang dibuat dari bahan alami
atau sintetis, dan terdiri dari beberapa jenis seperti emulsi bitumen,
Polyacrylamide (PAM), dan Lateks untuk merperbaiki sifat-sifat tanah sehingga
dapat mendukung pertumbuhan tanaman. Pemanfaatan Soil Conditioner dapat
mengurangi erosi tanah, menciptakan sistem usaha tani yang berkelanjutan karena
mampu menghasilkan produksi terus menerus dengan kuantitas dan kualitas yang
prima. Penggunaan bahan pembenah tanah ini sebaiknya yang berasal dari bahan
organik, serta tidak mengandung logam berat untuk menghindari adanya residu
logam berat di tanah yang dapat membahayakan manusia melalui rantai makanan.
Teknologi Soil Conditioner merupakan salah satu teknologi yang digunakan untuk
mencegah lahan terdegradasi, mempertahankan kelestarian lingkungan dan
membentuk agroekosistem yang mantap (Rosmika, 2008).

Metode Universal Soil Loss Equation (USLE), dan RUSLE merupakan metode
prediksi erosi. Pendugaan erosi yang akan terjadi berdasarkan pada penggunaan
lahan jika dipergunakaan untuk penggunaan tertentu. Sehingga dapat ditentukan
kebijakan penggunaan lahan tersebut. Menurut Vadari et al (2009) banyak model
erosi yang telah dikembangkan, paling tidak selama empat dekade terakhir,
dimulai dengan USLE, dan beberapa model empiris lainnya, misalnya RUSLE,
MUSLE (modified universal soil loss equation) yang dikembangkan atau
berpatokan pada konsep USLE. Beberapa model fisik dikembangkan setelah
generasi USLE, salah satu diantaranya adalah model fisik GUEST (griffith
university erosion system template) (Rose et al., 1997a) dalam (Vadari et al,
2009). Beberapa model erosi untuk DAS yang berkaitan dengan hidrologi yang
juga berdasarkan pada konsep USLE adalah ANSWERS (areal non-point sources
watershed environment response simulation) yang selanjutnya diperbaiki dengan
model AGNPS atau agricultural non-point source pollution model (Sinukaban,
1997) dalam (Vadari et al, 2009).

Dalam Adimihardja (2008), beberapa inovasi iptek utama yang dihasilkan dalam
periode ini adalah: (1) nilai faktor erodibilitas tanah-tanah Indonesia (Kurnia dan
Suwardjo 1984), (2) nilai faktor pertanaman dan tindakan pengendalian erosi
(Abdurachman et al. 1984), (3) penggunaan soil conditoner, (4) tingkat erosi tanah
pada berbagai lahan pertanian, (5) teknologi pengelolaan bahan organik, (6)
teknologi pengolahan tanah, (7) teknologi pengendalian erosi, dan (8) teknologi
rehabilitasi tanah.

Erodibilitas tanah adalah tingkat kepekaan suatu jenis tanah terhadap erosi.
Menurut Poesen (1983) dalam Anonym (2011) menyatakan bahwa erodibilitas
bukan hanya ditentukan oleh sifat-sifat tanah, namun ditentukan pula oleh faktorfaktor erosi lainnya yakni erosivitas, topografi, vegetasi, fauna dan aktivitas
manusia. Suatu tanah yang memiliki erodibilitas rendah mungkin akan
mengalami erosi yang berat jika tanah tersebut terdapat pada lereng yang curam
dan panjang, serta curah hujan dengan intensitas yang tinggi. Sebaliknya tanah
yang memiliki erodibilitas tinggi, kemungkinan akan memperlihatkan gejala erosi

ringan atau bahkan tidak sama sekali bila terdapat pada pada lereng yang landai,
dengan penutupan vegetasi baik, dan curah hujan dengan intensitas rendah.

Menurut Rahim (2013), macam pengolahan tanah dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Pengolahan Lahan Sempurna
Pengolahan lahan secara sempurna yaitu pengolahan lahan yang meliputi
seluruh kegiatan pengolahan lahan. Dimulai dari awal pembukaan lahan
hingga lahan siap untuk ditanami, meliputi pembajakan, pemupukan dan
rotary.
2. Olah Lahan Minimum.
Pengolahan lahan dengan olah tanah minimum hanya meliputi pembajakan
(tanah diolah, dibalik, kemudian tanah diratakan). Pada pengolahan tanah ini
biasanya banyak dilakukan untuk lahan persawahan.
3. Tanpa Olah Tanah(TOT)
Pengolahan lahan pada system ini hanya meliputi penyemprotan gulma
membunuh atau menghilangkan gulma pada lahan, kemudian ditunggu hingga
gulma mati dan lahan siap untuk ditanami. Pada pengolahan lahan ini biasanya
digunakan sisti tajuk dalam proses penanamannya.

Secara garis besar, teknik pengendalian erosi dibedakan menjadi dua, yaitu teknik
konservasi mekanik dan vegetatif. Konservasi tanah secara mekanik adalah
semua perlakuan fisik mekanis dan pembuatan bangunan yang ditujukan untuk
mengurangi aliran permukaan guna menekan erosi dan meningkatkan kemampuan
tanah mendukung usahatani secara berkelanjutan. Pada prinsipnya konservasi
mekanik dalam pengendalian erosi harus selalu diikuti oleh cara vegetatif, yaitu
penggunaan tumbuhan/tanaman dan sisa-sisa tanaman/tumbuhan (misalnya mulsa
dan pupuk hijau), serta penerapan pola tanam yang dapat menutup permukaan
tanah sepanjang tahun (Anonym 2, 2011).

Periode 1980-2002
Dalam periode ini, iptek dan penelitian konservasi tanah lebih diarahkan pada
kegiatan lapangan dengan melibatkan petani, dan didukung dengan penelitian

rumah kaca dan laboratorium. Kegiatan penelitian dan pengembangan konservasi


tanah pada masa ini cukup aktif dan luas, karena didukung oleh berbagai kerja
sama dalam dan luar negeri. Kegiatan utamanya antara lain (Abdurachman dan
Agus 2000; Agus et al. 2005) : (1) Proyek Penyelamatan Hutan Tanah dan Air di
DAS Citanduy, 1982-1988; (2) Proyek Penelitian Lahan Kering dan Konservasi
Tanah (P3HTA/ UACP) di DAS Jratunseluna dan Brantas, 1984-1994; (3) Proyek
Penelitian Terapan Sistem DAS Kawasan Perbukitan Kritis di Yogyakarta
(YUADP), 1992-1996; (4) Proyek Pembangunan Penelitian Pertanian Nusa
Tenggara, 1986-1995; (5) Penelitian Peningkatan Produktivitas dan Konservasi
Tanah untuk Mengatasi Peladangan Berpindah, 1990-1993; (6) Proyek Penelitian
Usahatani Lahan Kering-UFDP (Upland Farmers Development Project) di Jawa
Barat, Kalimantan Tengah, dan Nusa Tenggara Timur, 1993-2000; (7) Kelompok
Kerja Penelitian dan Pengembangan Sistem Usahatani Lahan Kering, di DAS
Cimanuk, 1995-2000; (8) Managing of Soil Erosion Consortium (MSEC) di Jawa
Tengah, 1995-2004; dan (9) Penelitian Multifungsi Pertanian, antara lain untuk
memformulasikan kebijakan pembangunan pertanian dan tata guna lahan, 20002005 (Adimihadja, 2008).

Menurut Adimihadja (2008) kegiatan penelitian dan pengembangan tersebut


menghasilkan berbagai teknologi dan sistem usaha tani konservasi (SUT),
termasuk model kelembagaan dan sistem diseminasinya. Beberapa rekomendasi
pengelolaan lahan juga dihasilkan, seperti formulasi dan pemilihan jenis tanaman
sesuai kemiringan lereng, SUT pada wilayah pegunungan, dan SUT lahan kering
beriklim kering. Bahkan Permentan No. 47/2006 tentang Pedoman Budidaya
pada Lahan Pegunungan, pada hakekatnya merupakan kristalisasi, penjabaran, dan
aplikasi dari hampir seluruh kegiatan atau program penelitian dan pengembangan
konservasi tanah pada periode ini.

Menurut Arsyad (2000) dalam Sunarto (2011), usaha tani konservasi adalah
penggunaan tanah untuk kegiatan usaha tani secara efisien dalam jangka waktu
yang tidak terbatas. Konsep usaha tani konservasi adalah penyesuaian
penggunaan tanah dengan kemampuan daya dukungnya. Pendapat lain (Sukma et

al., 1990) menyebutkan bahwa usaha tani konservasi merupakan bentuk


pengusahaan pertanian yang mengkombinasikan teknik konservasi, baik mekanik
maupun vegetatif dalam suatu pola usaha tani terpadu (Sunarto, 2011).

Periode 2002-2007
Pada periode ini, kegiatan penelitian konservasi tanah berkurang karena tidak
banyak lagi penelitian konservasi yang melibatkan petani pada areal yang luas.
Kegiatan lebih banyak berupa desk-work, memanfaatkan data yang telah
terkumpul untuk menyusun baku mutu tanah, pemodelan konservasi tanah, buku
petunjuk konservasi tanah, dan sebagainya. Pada periode ini juga diupayakan
pengembangan dan diseminasi iptek Prima Tani di berbagai lokasi, terutama pada
lahan kering beriklim basah. Kegiatan lain diarahkan pada upaya perakitan
teknologi dan rehabilitasi lahan-lahan terdegradasi, seperti lahan bekas tambang,
lahan tercemar, bekas longsor, termasuk lahan yang tergenang lumpur di Sidoarjo
(Adimihardja, 2008).

Pada tahun 2007 banyak penelitian yang dilakukan berkaitan dengan pemupukan
spesifik lokasi yang berkaitan dengan konservasi tanah. Menurut Balittan (2007)
teknologi pemupukan spesifik lokasi dengan menerapkan pemupukan berimbang
adalah pemupukan untuk mencapai status semua hara dalam tanah optimum untuk
pertumbuhan dan hasil suatu tanaman. Untuk hara yang telah berada dalam status
tinggi, pupuk hanya diberikan dengan takaran yang setara dengan hara yang
terangkut panen, sebagai takaran pemeliharaan. Pemberian takaran pupuk yang
berlebihan justru akan menyebabkan rendahnya efisiensi pemupukan dan masalah
pencemaran lingkungan. Kondisi atau status optimum hara dalam tanah tidak
sama untuk semua tanaman pada suatu tanah. Demikian juga status optimum
untuk suatu tanaman, berbeda untuk tanah yang berlainan. Agar pupuk yang
diberikan lebih tepat, efektif dan efisien, maka rekomendasi pemupukan harus
mempertimbangkan faktor kemampuan tanah menyediakan hara dan kebutuhan
hara tanaman. Rekomendasi pemupukan yang berimbang disusun berdasarkan
status hara dalam tanah yang diketahui melalui teknik uji tanah.

III.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sejarah


perkembangan penelitian dan iptek tanah di Indonesia dimulai pada tahun 1905
bersamaan dengan berdirinya Laboratorium voor Vermeerdering de Kennis van
den Bodem (Laboratorium untuk Perluasan Pengetahuan tentang Tanah), yang
sekarang menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan
Pertanian. Namun, penelitian konservasi tanah yang lebih terprogram dan
terorganisasi baru dikembangkan sekitar tahun 1969-1970 dengan dibentuknya
Bagian Konservasi Tanah pada Lembaga Penelitian Tanah, Departemen
Pertanian. Perkembanagan konservasi tanah dapat dibagi menjadi 3 periode, yaitu
periode 1970-1980, periode 1980-2002, dan periode 2002-2002. Pada periode
1970-1980 pengembangan iptek dan penelitian konservasi tanah didominasi oleh
kegiatan di laboratorium dan rumah kaca, didukung dengan beberapa kegiatan
penelitian lapangan. Sedangkan pada periode 1980-2002 lebih diarahkan pada
kegiatan lapang serta melibatkan petani. Namun pada periode 2002-2007
penelitian tentang konservasi jauh berkurang karena tidak banyak lagi penelitian
konservasi yang melibatkan petani pada areal yang luas. Kegiatan pada periode
2002-2007 lebih banyak penelitian spesifik lokasi.

DAFTAR PUSTAKA

Adimihardja, Abdurachman. 2008. Teknologi dan Strategi Konservasi Tanah


Dalam Kerangka Revitalisasi Pertanian. Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.
http://bebasbanjir2025.wordpress.com/04-konsep-konsepdasar/konservasi-tanah-dan-air/. Diakses pada 16 Mei 2014.
Anonym. 2011. Erosi dan Erodibilitas. http://pengertiandefinisi.blogspot.com/2011/09/erosi-dan-erosibilitas-tanah.html.
Diakses pada 16 Mei 2014.
Anonym 2. 2011. Teknik Pengendalian Erosi.
http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/03/teknik-pengendalianerosi.html. Diakses pada 17 Mei 2014.
Anonym 3. 2011. Pengertian Dasar Konservasi Tanah dan Air.
http://silencesdogood.wordpress.com/2011/12/22/pengertian-dasarkonservasi-tanah-dan-air/. Diakses pada 17 Mei 2014.
Balittan. 2007. Teknologi Pemupukan Spesifik Lokasi dan Konservasi Tanah Desa
Sidokerto Kecamatan Karang Jati Kabupaten Ngawi. Bogor. Balai
Penelitian Tanah.
Rahim, Supli. 2013. Jenis-jenis Pengolahan Tanah.
http://mekanisasisuplirahim.blogspot.com/2013/05/jenis-jenispengolahan-tanah.html. diakses pada 17 Mei 2014.
Rosmika. 2008. Pemanfaatan Soil Condisioner Untuk Konservasi dan
Rehabilitasi Lahan Terdegradasi.
http://rosmika.blogspot.com/2008/08/pemanfaatan-soil-conditioneruntuk.html. diakses pada 16 Mei 2014.
Rossa. 2012. Konservasi Tanah dan Air.
http://konservasitanahdanairrosapbiol09.blogspot.com/. Diakses pada
14 Mei 2014.
Sunarto. 2011. Usahatan Konservasi.
http://sunarto63.wordpress.com/2011/09/08/usahatani-konservasi/.
Diakses pada 16 Mei 2014.
Vadari, T., K. Subagyono, dan N. Sutrisno. 2009. Model prediksi erosi: prinsip,
keunggulan dan keterbatasan. http :// balittanah. litbang. deptan.
go.id. Diakses pada 17 Mei 2014.