Anda di halaman 1dari 12

II-1

BAB II
TINJAUAN UMUM

II.1 Lokasi dan Kondisi Geografis Perusahaan


TAC Pertamina Pilona Petro Tanjung Lontar Ltd. merupakan suatu
perusahaan kontrak PT. Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang eksplorasi
dan produksi minyak dan gas bumi. Perusahaan ini memiliki wilayah kerja
pertambangan di wilayah Lahat, Sumatera Selatan. Saat ini rata-rata produksi
minyak mentah TAC Pertamina Pilona Petro Tanjung Lontar Ltd. sekitar 850
sampai 900 BOPD (barrel oil per day).
Kegiatan penelitian tugas akhir (TA) ini dilakukan di TAC Pertamina
Pilona Petro Tanjung Lontar Ltd. Terletak kurang lebih 177 km dari Kota
Palembang, tepatnya di Jalan Raya Lahat KM 4, Kabupaten Lahat, Propinsi
Sumatera Selatan. Lokasi dari TAC Pertamina Pilona Petro Tanjung Lontar
Ltd. ditunjukkan pada Gambar 2.1.
II.2 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan
TAC Pertamina Pilona Petro Tanjung Lontar (PPTL) Ltd. merupakan
Bentuk Usaha Tetap yang pendanaannya dilakukan oleh PT Samudera Energy
Ltd. selaku investor dan pemegang saham 100 persen. Perusahaan ini juga

II-2

merupakan salah satu bentuk kontrak bagi hasil dan bentuk kerja sama dengan
PT. Pertamina (Persero) untuk melaksanakan eksplorasi minyak dan gas bumi
berdasarkan prinsip pembagian hasil produksi yang diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 35 Tahun 1999 tentang syarat-syarat pedoman kerja sama
bagi hasil minyak dan gas bumi. Peraturan tersebut mengatur tentang
keuntungan yang diperoleh untuk selanjutnya dilakukan bagi hasil dengan
ketentuan 15 % untuk perusahaan dan 85 % untuk PT. Pertamina (Persero).
Penandatanganan kontrak perusahaan TAC Pertamina Pilona Petro
Tanjung Lontar (PPTL) Ltd. dengan PT. Pertamina (Persero) dilakukan pada
bulan Oktober 1996. Kemudian kegiatan operasi dimulai pada bulan Mei 1997.
Pada bulan Mei 1998 dimulai produksi minyak TAC Pertamina Pilona Petro
Tanjung Lontar (PPTL) Ltd. Pada awal mulai produksi sampai dengan tahun
2008, TAC Pertamina Pilona Petro Tanjung Lontar (PPTL) Ltd. terus
melakukan upaya untuk meningkatkan produksi minyak dengan melakukan
pengembangan pemboran sumur-sumur dari sumur-sumur sebelumnya.
Sampai dengan bulan Februari 2009, jumlah sumur yang masih
berproduksi 58 sumur dengan jumlah produksi berkisar antara 850 sampai 900
BOPD (barrel oil per day).
Struktur organisasi TAC Pertamina Pilona Petro Tanjung Lontar (PPTL)
Ltd. ditunjukkan pada Gambar 2.2.

II-3

Sumber: TAC Pertamina Pilona Petro Tanjung Lontar Ltd.

GAMBAR 2.1.
LOKASI TAC PERTAMINA PILONA PETRO TANJUNG LONTAR LTD.

II-4

Field Manager

secretary

Operation Dept.

Field Engineers

Material & Logistic Dept

Finance Dept.

Safety & Environment Dept.

Public Affairs & Employee Relation Dept.

Sumber: TAC Pertamina Pilona Petro Tanjung Lontar Ltd.

GAMBAR 2.2.
STRUKTUR ORGANISASI FIELD OFFICE
TAC PERTAMINA PILONA PETRO TANJUNG LONTAR LTD.
II.3 Wilayah Operasi dan Kegiatan Operasional Perusahaan
Wilayah operasi TAC Pertamina Pilona Petro Tanjung Lontar Ltd.
terletak di Kecamatan Merapi, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan.
Wilayah TAC Pertamina Pilona Petro Tanjung Lontar (PPTL) Ltd terbagi
dalam empat lapangan (field) yaitu Lapangan Tanjung Lontar (24 sumur
produksi, 2 natural flow), Lapangan Sengkuang (5 sumur produksi), Lapangan
Banjarsari (11 sumur produksi) dan Lapangan Arahan (17 sumur produksi).

II-5

Sumur-sumur minyak yang ada di TAC Pertamina Pilona Petro Tanjung


Lontar (PPTL) Ltd. diproduksi dengan metode artificial lift, yaitu memompa
crude oil ke permukaan menggunakan pompa angguk (Sucker Rod Pump),
kemudian dialirkan ke tangki-tangki penampungan melalui flow line. Crude oil
yang berada di tangki penampungan dikumpulkan di Stasiun Pengumpul (SP)
terdekat. Dari Stasiun Pengumpul crude oil dialirkan kembali ke Stasiun
Pengumpul Utama (SPU) yang berada di Sengkuang.
Crude oil yang berada di SPU Sengkuang didorong melalui Station
Booster 1 dan Station Booster 2 menuju KM 66. Jarak dari SPU Sengkuang ke
KM 66 adalah 56 kilometer. Di KM 66 ini crude oil dikumpulkan kembali dan
dihitung volumenya. Setelah volume dihitung, selanjutnya

crude oil

diserahterimakan ke PT. Pertamina (Persero). Dari KM 66 crude oil kembali


dialirkan melalui pipa ke Limau kemudian diteruskan ke Prabumulih. Dari
Prabumulih, crude oil dialirkan melalui pipa ke Plaju untuk dilakukan
pengolahan lebih lanjut.
II.4 Kondisi Lapangan Y
Dilapangan Y terdapat 63 sumur, 35 sumur merupakan peninggalan zaman
Belanda, 2 sumur milik Pertamina dan 26 sumur merupakan sumur yang dibor
langsung oleh Pilona Petro Tanjung Lontar Ltd. Dari 63 sumur tersebut, 24
sumur produksi, 33 sumur tutup sementara dan 6 sumur merupakan sumur
kering.

II-6

Dengan metode produksi 2 sumur sembur alam (natural flow) dan 22


sumur artificial lift (sucker rod pump). Sejarah produksi Lapangan Y 5 tahun
kebelakang (2004-2008) adalah sebagai berikut :
a.2004 = 118.409 barrel
b. 2005 = 161.566 barrel
c.2006 = 260.141 barrel
d. 2007 = 383.189 barrel
e.2008 = 332.891 barrel
II.5 Kondisi Geologi dan Stratigrafi Perusahaan
1. Kondisi Geologi dan Stratigrafi Regional
Antiklin di wilayah operasi TAC Pertamina Pilona Petro Tanjung
Lontar Ltd. merupakan bentuk struktur dimana antiklinnya agak curam dan
asimetrik yang disertai sesar. Formasi utamanya adalah Formasi Muara
Enim yang terbentuk pada Miosen Akhir dan tertutup dengan baik oleh
adanya perlapisan batu pasir - batu lempung - batubara.
Cekungan Sumatera Selatan terletak di Pulau Sumatera bagian selatan,
di sebelah timur pegunungan Bukit Barisan memanjang arah barat laut tenggara,

terbuka ke arah timur laut hingga ke daerah lepas pantai.

Cekungan ini dibatasi oleh pegunungan Bukit Barisan di sebelah barat daya,
Paparan Sunda di sebelah timur laut, Tinggian Lampung di sebelah
tenggara, dan pegunungan Tigapuluh di sebelah barat laut.

II-7

Berdasarkan posisi dari tinggian-tinggian lokal serta ketebalan


endapan tersier, cekungan Sumatera Selatan dibagi menjadi Sub cekungan
Jambi dan Sub cekungan Palembang. Sub cekungan Palembang dibagi lagi
menjadi Sub cekungan Palembang Utara, Sub cekungan Palembang Tengah,
dan Sub cekungan Palembang Selatan.
Sedimentasi selama tersier di cekungan Sumatera Selatan pada
umumnya dapat dibedakan menjadi dua fase, yaitu fase Transgresi yang
dimulai pada Oligosen Akhir Miosen Tengah yang tersusun mulai dari
Formasi Talang Akar, Formasi Baturaja dan Formasi Gumai. Sedangkan
fase selanjutnya adalah fase Regresi yang di mulai dari Miosen Tengah
sampai dengan Miosen Akhir yang terdiri dari Formasi Air Benakat dan
Formasi Muara Enim. Formasi Lahat sendiri merupakan formasi tertua
tersier yang diendapkan di atas batuan dasar. Sedangkan batuan dasar yang
ada pada cekungan Sumatera Selatan berumur Devon Kapur, dan formasi
yang paling muda pada cekungan ini adalah Formasi Kasai dan di atasnya
diendapkan endapan kuarter. Tentunya tatanan tektonik yang berlangsung di
Sumatera Selatan tersebut sangat mempengaruhi dari sistem pengendapan
yang ada pada tiap-tiap formasi.
Stratigrafi umum Cekungan Sumatera Selatan (Gambar 2.3) adalah
sebagai berikut (tua ke muda) :
1. Pra-Tersier

II-8

2. Formasi Lahat atau Formasi Lematang


3. Formasi Talang Akar
4. Formasi Baturaja
5. Formasi Gumai
6. Formasi Air Benakat
7. Formasi Muara Enim
8. Formasi Tuff Kasai
Pada umumnya dapat dikenal satu daur besar (megacycle) yang terdiri
dari suatu Transgresi yang diikuti kemudian oleh Regresi. Formasi yang
terbentuk dalam fase Transgresi dikelompokan menjadi kelompok Telisa
(Formasi Lahat, Formasi Batu Raja dan Formasi Gumai), sedangkan yang
terbentuk dalam fase Regresi dikelompokkan menjadi kelompok Palembang
(Formasi Air Benakat, Formasi Muara Enim dan Formasi Kasai).
Formasi Lahat terbentuk sebelum Transgresi utama dan pada
umumnya merupakan sedimentasi non marine, Formasi Lahat disebut juga
Formasi Lematang, diperkirakan terbentuk pada Eosen Atas atau Oligosen
Bawah. Formasi ini diendapkan dalam bongkahbongkah yang terpatahkan
ke bawah. Pada permulaan Tersier, batuan dasar Pra-Tersier terpatahkan
secara tarikan (tensional) dengan arah utara-selatan, barat laut dan timur
laut. Sedimennya terdiri dari kipas aluvial, fluvial, piedmont dan juga delta.

II-9

Pada bagian atas, fasiesnya lempung tuffaan dan batu pasir tuffaan yang
bersifat marine.
Formasi Talang Akar merupakan Transgresi Marine yang sebenarnya
kemudian dipisahkan dari Formasi Lahat oleh suatu ketidakselarasan yang
mewakili

pengangkatan

regional dalam Oligosen Awal dan Oligosen

Tengah. Pada sebagian dari Formasi ini adalah fluviatil sampai delta
(gritsand member) dan laut dangkal (transition member). Di beberapa
tempat, batu pasir terlokalisasi pada daerah tinggi (Pendopo High) atau
dekat Paparan Sunda. Formasi Talang Akar merupakan lapisan reservoar
utama di Sumatera Selatan.
Formasi Baturaja terdiri dari batu gamping dan sering merupakan
terumbu. Formasi ini di Cekungan Jambi tidak terbentuk dan begitu juga
pada bagianbagian tertentu dari Cekungan Palembang, seperti di depresi
Lematang. Di daerah tinggian, terumbu Formasi Baturaja terkadang
langsung terbentuk di atas batuan dasar Pra-Tersier, seperti yang terdapat
dibeberapa tempat di Lapangan Musi. Formasi ini sangat berpotensi akan
kandungan gas.
Formasi Gumai terdapat di atas Formasi Baturaja dan mempunyai
penyebaran yang luas. Pada umunya terdiri dari serpih laut dalam. Formasi
Gumai (Telisa Shale) sering dianggap sebagai batuan induk untuk semua
minyak bumi di Cekungan Sumatra Selatan. Akan tetapi berdasarkan studi
geokimia terakhir di sub Cekungan

Palembang Selatan (Geoservices,

II-10

1992), mengubah pendapat tersebut di atas, yaitu bahwa kematangan batuan


induk di sub Cekungan Palembang Selatan umumnya mulai dari Formasi
Talang Akar bagian tengah, sedangkan di daerah Dalaman Muara Enim
kematangan diidentifikasi mulai Formasi Gumai bagian bawah.
Formasi Air Benakat

merupakan permulaan endapan Regresi dan

terdiri dari lapisan pasir pantai selang-seling dengan batu lempung. Pada
bagian atas sering dijumpai sisipan batubara. Penyebarannya jauh lebih luas
dari formasiformasi sebelumnya dan di beberapa tempat penumpang (on
lapping) terjadi di atas batuan Pra-Tersier ke arah timur

pada

Paparan

Sunda. Lapisan batu pasirnya juga merupakan lapisan reservoar yang


penting.
Formasi Muara Enim di bagian atas berkembang perselingan batu
pasir batu lempung batubara, sedangkan di bagian bawah perselingan
tersebut mengandung batu lanau. Formasi ini lebih merupakan endapan
rawa sebagai fase akhir Regresi.
Formasi Kasai terbentuk pada Pliosen dan diendapkan secara tidak
selaras diatas Formasi Muara Enim dengan lithologi Siltstone.
2. Kondisi Geologi dan Stratigrafi Wilayah Operasi Lapangan
Lapangan operasi TAC Pertamina Pilona Petro Tanjung Lontar Ltd.
secara regional masuk dalam cekungan Sumatera Selatan. Menurut
Koesoemadinata (1980), di dalam daerah cekungan ini terdapat daerah
peninggian batuan-batuan dasar Pra-tersier dan berbagai depresi. Perbedaan

II-11

relief pada batuan dasar ini diperkirakan karena pematahan dasar dalam
bongkah-bongkah. Gerakan

diferensial dari

blok-blok

patahan

ini

mengendalikan sedimentasi fasies serta perlipatan pada lapisan tersier di


atasnya, sehingga terdapat minyak.
Struktur antiklin merupakan jenis jebakan (trap) hidrokarbon di
wilayah operasi TAC Pertamina Pilona Petro Tanjung Lontar Ltd, dimana
bentuk struktur antiklinnya agak curam dan asimetrik yang disertai sesar
naik sedangkan yang ke bawah menjadi patahan batuan dasar (basement
fault) dengan formasi utamanya adalah formasi Muara Enim. Formasi
Muara Enim berada pada stratigrafi Sub Basin South Palembang dengan
ketebalan 250 800 meter yang merupakan interkolasi antara batuan clay,
sandstone, coal, dan siltstone.
Ada beberapa perlapisan batubara yang terjadi pada formasi Muara
Enim adalah Mangoes Coal, Suban Coal, Petai Coal, Merapi Coal, dan
Keladi Coal. Lapisan Kladi Coal dijadikan sebagai indikasi batas akhir dari
formasi ini. Sedangkan Sand Will merupakan batuan reservoar hidrokarbon
pada formasi Muara Enim.

II-12

Sumber: TAC Pertamina Pilona Petro Tanjung Lontar Ltd.

GAMBAR 2.3.
STRATIGRAFI REGIONAL SUMATERA SELATAN