Anda di halaman 1dari 10

Efek intrusi atraumatik implan ke dalam sinus maksilaris

Implan gigi dalam rehabilitasi oral telah menjadi satu perkembangan yang paling menarik
dalam kedokteran gigi. Namun, daerah tak bergigi posterior atas memberikan tantangan
sebenarnya karena jumlah tulang yang terbatas dalam ridge atrofi bersama dengan
pneumatisasi sinus maksilaris. Ini menyebabkan penempatan implan di daerah ini menjadi
prosedur yang lebih rumit dan menuntut. Penelitian dilakukan pada 14 pasien tak bergigi di
daerah posterior atas. Pasien dibagi menjadi dua kelompok yang berjumlah sama dan dirawat
menggunakan panjang implan dan diameter yang sama. Pasien pada Grup 1 menerima implan
gigi yang intrusi 2 mm ke dalam rongga sinus, sementara pasien pada Grup 2 menerima
implan yang memanjang sampai 4 mm melewati dasar sinus. Untuk kedua Grup, dilakukan
pemeriksaan klinis menyeluruh untuk setiap pasien. Radiografi preoperatif panoramik dan
computed tomography (CT) diambil untuk setiap kasus. Selain itu,foto panoramik dan dental
computed tomography diambil postoperatif. Penelitian ini membuktikan bahwa implan yang
protrusi ke sinus dapat digunakan sebagai prosedur yang lebih sederhana dibandingkan
dengan pilihan bedah lainnya. Prosedur ini kurang memakan waktu dan lebih diterima secara
ekonomi. Ini juga menunjukkan stabilitas dan tekanan yang merata. Follow up menunjukkan
hasil klinis dan radiografi yang memuaskan tanpa komplikasi signifikan.
Kata kunci: implan, sinus maksilaris, osseointegration
Pendahuluan
Penggunaan implan gigi dalam rehabilitasi oral telah menjadi satu perkembangan yang paling
menarik dalam kedokteran gigi selama beberapa dekade terakhir. Masalah gigi yang dalam
sejarah dianggap paling sulit saat ini dapat diatasi dengan penggunaan implan gigi.
Contohnya, pasien tak bergigi sekarang dapat menikmati keamanan dan fungsi restorasi
cekat. Pasien yang kehilangan gigi penyangga posterior, yang biasanya membutuhkan gigi
tiruan lepasan perluasan distal, akhirnya juga dapat menggunakan restorasi cekat. Selain itu,
pasien trauma yang menderita kehilangan gigi dan tulang dapat berhasil direhabilitasi baik
fungsi dan estetik menggunakan restorasi cekat.
Intrusi implan gigi ke dalam sinus maksilaris telah dianggap dalam jangka waktu yang lama
sebagai penyebab komplikasi yang tidak diinginkan. Namun, pernyataan ini belum diperiksa
menggunakan kedokteran berbasis bukti. Untuk menghindari masuk ke dalam sinus melalui
ridge maksila atrofi, banyak sekali teknik peningkatan sinus dan prosedur graft telah

ditunjukkan untuk memperbesar sinus, sehingga menyediakan ruang yang sesuai bagi implan
posterior atas untuk memperoleh stabilitas yang tepat.
Daerah tak bergigi posterior rahang atas menjadi kondisi yang sangat menantang dalam
kedokteran gigi implan dibandingkan dengan daerah lain dalam rahang. Jumlah volume
tulang yang terbatas dalam ridge atrofi juga dengan pneumatisasi sinus maksila menyebabkan
penempatan implan gigi pada posterior atas menjadi prosedur yang lebih rumit, menuntut,
dan berbahaya.
Kami berteori bahwa intrusi implan pendek (menjaga stabilitas awal) ke dalam sinus maksila
tidak menyebabkan efek yang merusak. Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memeriksa
kemungkinan komplikasi sinus akibat tembusnya implan gigi sebesar 2-4 mm dan lebih ke
dalam rongga sinus maksilaris pada pasien yang mencari restorasi implan gigi dan memiliki
ketebalan tulang yang terbatas.
Tujuan penelitian ini yaitu mengevaluasi efek insersi traumatik implan gigi ke dalam rongga
sinus.
Pasien dan metode
14 pasien (5 laki-laki dan 9 perempuan) usia dari 27 sampai 55 tahun dimasukkan dalam
penelitian ini. Mereka menderita kehilangan gigi unilateral di daerah posterior atas. Kasus
dipilih menurut kriteria berikut:
(1) Semua pasien bebas dari penyakit sistemik yang dapat memiliki efek negatif terhadap
ketahanan implan
(2) Semua pasien yang bebas dari patosis lokal yang kontraindikasi atau dapat
mengganggu prosedur inplan gigi
(3) Tidak ada riwayat bedah sinus maksila sebelumnya
(4) Tidak ada kelainan dental dan/atau skeletal
(5) Stabil secara psikologi untuk mengerti gambaran prosedur
Sebelum memulai penelitian kami, gambaran prosedur bedah dan kemungkinan komplikasi
dijelaskan pada semua pasien. Perawatan alternatif juga didiskusikan. Informed consent
diperoleh dari tiap pasien sebelum pembedahan dan setelah berdiskusi mengenai semua
kemungkinan.
Foto radiografi preoperatif yaitu panoramik dan dental computed tomography (DCT) scan
dibuat untuk semua kasus. Foto panoramik postoperatif segera dibuat untuk semua pasien.

Sementara itu, dibuat foto panoramik pada 4 dan 10 bulan postoperatif, serta DCT pada 16
bulan postoperatif. Foto panoramik preoperatif dilakukan untuk menunjukkan ketinggian
tulang dan trabekulasi pada ridge yang ada dan menghilangkan penyebeb umum dan lokal
yang dapat menghambat prosedur penempatan implan. Sebaliknya, DCT dilakukan untuk
mengevaluasi kondisi sinus jika terdapat adanya infeksi atau patosis. Lebih lagi, ini
memungkinkan evaluasi tinggi tulang dalam tiga dimensi (aksial, koronal, dan sagital) pada
daerah yang dilihat dan memungkinkan pemeriksaan ridge yang akurat. Foto panoramik
segera diambil postoperatif untuk memastikan implan masuk ke dalam dasar sinus sesuai
panjang yang direncanakan. Empat bulan postoperatif, foto panoramik dilakukan untuk
mengevaluasi penggabungan tulang setelah penempatan pada tulang peri-implan. Selain itu,
foto panoramik dilakukan pada 12 bulan setelah penempatan implan untuk memastikan
kondisi sinus.
Pasien secara selektif dibagi menjadi dua grup yang sama banyak berdasarkan tinggi tulang
yang ada dan panjang implan yang masuk ke dalam sinus maksilaris. Kedua grup dirawat
menggunakan implan gigi dengan panjang yang sama (10,5 mm) (Biohorizon International
Implant System, Biohorizons Implant System Inc., Birmingham, UK, Al 35243).
(1) Grup 1: tinggi tulang yang ada antara puncak ridge dan dasar sinus pada daerah
pembedahan sebesar 8 mm, sehingga di daerah implan dimasukkan, implan akan
masuk kurang dari 4 mm ke dalam sinus maksila (10,5 8 = 2,5)
(2) Grup 2: tinggi tulang yang ada sebesar 6 mm, sehingga di daerah implan dimasukkan,
implan akan masuk 4 mm atau lebih ke dalam rongga sinus (10,5 6 = 4,5)
Tahap 1 bedah
Anastesi yang dalam diperoleh untuk semua pasien. Ditandai flap trapezoid mukoperiosteal.
Insisi paracrestal tajan pertama dibuat di daerah tak bergigi sampai 1 mm dari gigi tetangga
untuk menjaga papila. Dua insisi melingkar dibuat pada mesial dan distal dari tepi insisi
paracrestal ke arah vestibulum bukal (Gambar 1). Flap mukoperiosteal diretraksi untuk
membuka daerah penempatan implan. Pola penunjuk bedah ditempatkan pada posisinya, dan
lokasi bukopalatal dan angulasi ideal ditentukan. Alignment drill digunakan untuk memulai
osteotomi sampai kedalaman 5 mm (Gambar 2). Selanjutnya, surgical stent dikeluarkan.
Kedalaman osteotomi dicapai melewati tinggi ridge residual menggunakan depth drill yang
menembus dasar sinus. Pengukur kedalaman digunakan untuk memastikan perforasi sinus.
Osteotomi diperlebar menggunakan beberapa bur besar dengan diameter 2,5; 3; 3,2; dan 3,7

mm berurutan untuk memperbesar daerah osteotomi secara sistematik. Proses bur dilakukan
dengan gerakan memompa dibawah aliran saline untuk membersihkan dan mendinginkan.
Pin paralel ditempatkan dengan urutan yang sama untuk memastikan posisi dan angulasi
(Gambar 3). Bur terakhir (diameter 4,7 mm) digunakan sebelum penempatan implan
(Gambar 4).
Setelah kedalaman yang diinginkan dan daerah untuk penempatan implan diperoleh, implan
dipasang. Implan dimasukkan ke dalam tempat osteotomi menggunakan hand piece adaptor;
kemudian stabilitas diperiksa dan dipastikan. Suturing flap dilakukan dengan interrupted
suture dengan silk hitam. Penutupan bebas tekanan dilakukan pada semua kasus. Foto
panoramik segera diambil postoperatif untuk mengevaluasi daerah rongga sinus maksilaris
yang ditembus oleh implan. Semua pasien diinstruksikan untuk mengikuti prosedur
postoperatif.
Tahap 2 bedah
Pembukaan daerah implan dilakukan 4 bulan setelah pembedahan pertama. Daerah
pembedahan dianestesi dan jaringan lunak yang menutupi implan dikeluarkan untuk
membuka skrup penutup implan, yang selanjutnya dibuka. Healing abutment dipilih
berdasarkan tinggi jaringan lunak dan diinsersi. Setelah 10-14 hari, pasien dirujuk ke bagian
prostodontik cekat, dimana healing abutment dikeluarkan dan abutment permanen
diinsersikan, sampai mahkota tetap dipasang beberapa hari kemudian.
Follow-up postoperatif
Follow-up klinis dilakukan setiap minggu pada bulan pertama dan kemudian setelah 6, 12,
dan 16 bulan postoperatif. Penyembuhan jaringan lunak, stabilitas implan, dan kondisi klinis
sinus maksilaris diperiksa. Foto panoramik dilakukan untuk semua pasien pada 4 bulan
postoperatif, dan 6 bulan setelah penempatan implan untuk evaluasi penyatuan dengan tulang
implan yang dipasang. Kualitas tulang dan adanya radiolusensi di sekitar implan dilaporkan.
Selanjutnya, 12 bulan setelah penempatan implan DCT scan dilakukan pada setiap pasien
untuk memeriksa kondisi sinus maksilaris dan tulang yang menyatu di sekitar implan. Semua
foto radiografi dievaluasi melalui analisis kualitatif dan kuantitatif. Semua gambar CT
diperiksa menggunakan Dicom Software (dicomwok, version 1.3.5 2000, 2008,Philippe
PUECH and Loic BOUSSEL, Lyon, France) dan difoto menggunakan camera digital yang
sama (Sony Cyper Shot, 5.1 mega pixel, China). Untuk standarisasi, semua jarak pemotretan
dan setting kamera tetap sama.

Semua foto radiografi diposisikan pada sumber cahaya yang sama dan dipotret dalam satu
sesi, disimpan dalam memori komputer, kemudian diproyeksikan ke monitor dalam tampilan
512 x 512 pixel dengan tingkat keabuan 256. Gambar yang difoto dimanipulasi menggunakan
software khusus yang didesain oleh Digora system (Digora system, Soredex, Orion
Corporation, Finland). Pada setiap gambar digital, nilai rata-rata abu-abu daerah yang
diinginkan, batas tulang implan, dan tulang alveolar pada tiga daerah berbeda (koronal,
tengah, dan apikal) dihitung menggunakan fasilitas pengukuran area dari software. Dilakukan
pembacaan seperti dijelaskan, dan data diperiksa, dikode, dan dianalisa menggunakan
Software SPSS versi 17.0. Hasil dikumpulkan dan dianalisa menggunakan tingkat
signifikansi 0,05 dan tingkat signifikansi tinggi 0,01; nilai P kurang dari 0,05 dianggap
signifikan.
Hasil
Penelitian ini dilakukan pada 14 pasien. Jumlah 14 implan ditempatkan pada ridge residual
dengan cara tertentu sampai menembus dinding sinus maksilaris kira-kira 2 mm pada tujuh
pasien (grup 1) dan 4 mm atau lebih pada pasien lainnya (grup 2).
Hasil klinis
Pasien dievaluasi secara klnis mengenai penyembuhan pada daerah pembedahan, stabilitas
implan, serta kondisi klinis sinus maksilaris. Evaluasi daerah pembedahan dilakukan
berdasarkan adanya edema, wound dehiscence, dan infeksi. Penelitian ini tidak menunjukkan
adanya edema postoperatif, kecuali pada kasus no.2 dalam grup 1, kasus no.4 pada grup 2,
yang menunjukkan pembengkakan sedang yang dimulai pada hari pertama postoperatif dan
menghilang perlahan-lahan beberapa hari kemudian. Dua kasus yang sama mengalami wound
dehiscence yang diatasi dengan perawatan lokal. Luka ini sembuh tanpa masalah besar,
kecuali pada pembukaan skrup penutup implan. Tidak ada tanda atau gejala infeksi
dilaporkan pada daerah pembedahan selama waktu follow-up. Semua pasien menerima
prosedur bedah tanpa komplikasi signifikan.
Stabilitas implan dievaluasi sebelum pemasangan dan pada 3, 6, dan 12 bulan setelah
pemasangan. Mobilitas implan diperiksa secara klinis dengan menempatkan setiap implan di
antara jari pada satu sisi dan handle kaca mulut pada sisi yang lain. Kemudian implan
digoyang-goyang dan penilaian klinis diperiksa berdasarkan indeks mobilitas Miller.
Mobilitas diperiksa pada semua arah. Semua pasien dari kedua grup tidak menunjukkan
adanya gerakan yang tampak dalam seluruh waktu penelitian.

Parameter dan alat untuk pemeriksaan klinis sinus dilakukan melalui kuisioner pasien. Rasa
sakit dievaluasi menggunakan skor analog dari 1 sampai 10. Nyeri tekan, cairan hidung, atau
tanda inflamasi dievaluasi dengan membandingkan kondisi sinus preoperatif dan postoperatif.
Catatan ini jelas dan tujuan penelitian dimodifikasi.
Evaluasi radiografi
Foto panoramik diambil dan dianalisa (kualitatif dan kuantitatif) pada semua pasien 4 bulan
setelah tahap 1 bedah dan 6 bulan setelah penempatan implan. Evaluasi foto panoramik
menunjukkan adaptasi yang bagus tulang di sekitar implan tanpa adanya radiolusensi periimplan pada semua pasien dari semua grup (Gambar 5-23). Tidak terdapat perbedaan
signifikan secara statistik antara pengukuran radiodensitometrik batas tulang/implan dam
tulang alveolar di sekitarnyapada semua pasien dari kedua grup (Tabel 1 dan 2).
Dilakukan DCT pada semua pasien 12 bulan setelah penempatan implan. Gambar pada grup
1 menunjukkan tidak ada reaksi abnormal, kecuali pada 2 kasus menunjukkan penebalan
mukosa di sekitar implan. Sebaliknya, semua pasien pada grup 2 menunjukkan penebalan
mukosa di sekitar bagian implan yang masuk, kecuali satu pasien. Tulang yang menyatu di
sekitar implan tampak berkontak dekat pada permukaan implan pada semua pasien dari kedua
grup. Tidak terdapat perbedaan signifikan secara statistik antara nilai rata-rata batas
implan/tulang dan tulang alveolar di sekitarnya.
Diskusi
Teknik peningkatan sinus dan augmentasi subantral memungkinkan peningkatan penggunaan
implan yang dapat diprediksi pada posterior rahang atas.
Sebenarnya, teknik graft sinus telah menjadi metode yang paling sering dipakai untuk
meningkatkan tinggi dan kepadatan tulang, memberikan statistik ketahanan klinis yang
sangat baik. Namun, ini diikuti dengan beberapa kesulitan yang membuat teknik ini lebih
rumit.
Literatur penuh dengan penelitian yang berharga yang membicarakan tentang implan gigi dan
sinus, tapi sedikit yang memeriksa responsinus terhadap perforasi oleh implan gigi. Penelitian
ini secara retrospektif menganalisa respon sinus pada implan yang masuk ke dalam rongga
sinus. Sementara itu, peneliti yang membicarakan reaksi sinus pada pembukaan parsial
implan melalui ruang sinus sangat jarang.

Walaupun lebih diandalkan untuk memiliki kelompok kontrol dalam penelitian manapun,
desain penelitian kami tidak melibatkan penggunaan grup kontrol standar karena banyak
alasan. Pertama, grup kontrol dalam penelitian ini akan menjadi kelompok sinus lift. Prosedur
ini lama dan rumit serta hasilnya dicatat dengan baik dalam literatur. Jadi, kami dapat
mendasarkan hal perbandingan kami pada hasil dalam literatur. Kedua, kami lebih menyukai
untuk membuat penelitian prospektif daripada retrospektif. Ketiga, kami juga lebih suka
untuk membagi pasien ke dalam 2 grup berdasarkan jarak implan yang masuk ke dalam
kavitas sinus untuk membandingkan efek implan yang menembus kavitas sinus dengan
membedakan jarak.
Walaupun tampak tidak etis untuk menempatkan implan di dalam kavitas sinus, situasi tidak
sengaja menembus kavitas sinus biasa terjadi dan tidak disadari sampai ditemukan pada foto
radiografi postoperatif. Keputusan sulit mengeluarkan atau membiarkan implan tidak pernah
berdasarkan pada dasar ilmiah yang pasti karena kurangnya penelitian seperti ini dalam
literatur. Sementara itu, mengeluarkan implan yang stabil tanpa komplikasi yang jelas
merupakan keputusan yang sulit pula. Implan yang longgar dan tidak stabil akan dikeluarkan.
Sebaliknya, implan yang stabil membutuhkan penelitian menyeluruh pada reaksi sinus dan
kondisi imlan jangka panjang.
Beberapa peneliti mengamati bahwa penetrasi langsung secara tidak sengaja tidak
menyebabkan masalah besar seperti yang dipikirkan. Mereka mengandalkan penyembuhan
spontan membran sinus setelah sedikit perforasi akibat penempatan implan. Penelitian fokus
khususnya pada menunjukkan implan yang telah menembus dasar sinus. Disarankan bahwa
paling kurang 4 mm atau lebih tinggi tulang di bawah dasar sinus harus tersedia untuk
memperoleh stabilitas utama.
Branemark,dkk membicarakan mengenai reaksi sinus dan penyatuan dengan tulang implan
yang masuk melalui hidung dan rongga sinus. Mereka melaporkan hasil yang baik. Saat ini,
pada penelitian eksperimental, Jung,dkk memeriksa kemungkinan komplikasi sinus
maksilaris setelah intrusi implan gigi yang disengaja. Peneliti melaporkan bahwa intrusi
implan ke dalam rongga sinus maksila tidak berhubungan dengan komplikasi sinus. Satu
tahun kemudian, peneliti yang sama meneliti secara retrospektif efek terbukanya implan gigi
ke rongga sinus pada manusia. Mereka menemukan bahwa implan yang masuk lebih dari 4
mm ke dalam sinus maksila tidak berhubungan dengan komplinasi klinis. Ini sama dengan
temuan klinis kami yang menunjukkan tidak ada tanda dan gejala infeksi sinus maksila pada
pasien dari kedua grup.

Pada penelitian ini, gambar CT kedua grup menunjukkan penebalan mukosa dengan derajat
yang berbeda-beda. Lima pasien dalam grup 2 yang dilakukan penetrasi implan 4 mm atau
lebih ke dalam rongga sinus menunjukkan penebalan mukosa di sekitar bagian implan yang
intrusi. Ini dapat dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jung, dkk dimana
pemeriksaan radiografi menunjukkan penebalan mukosa sinus postoperatif pada sekitar 61%
dari implan yang dipakai. Namun pada penelitian kami, dua pasien dari grup 1 (yang
dipasang implan intrusi kurang dari 4 mm) menunjukkan reaksi sinus yang sama dalam hal
penebalan mukosa. Tidak sama dengan penelitian oleh Jung,dkk saat mereka tidak
melaporkan adanya penebalan garis sinus di sekitar implan yang intrusi 2 mm ke dalam sinus.
Menariknya, tidak ada gejala sinusitis maksilaris yangdipicu oleh penebalan mukosa pada
waktu follow-up (16 bulan). Ini mungkin karena fakta bahwa pembengkakan garis mukosa
terlokalisir secara alami.
Boyne mengevaluasi efek jangka panjang hubungan metal-tulang implan yang protrusi 5 mm
ke dalam sinus dan dilaporkan fungsi klinis yang sangat baik 14 bulan setelah pemasangan
implan. Peneliti juga menyatakan bahwa protrusi implan ke dasar sinus tidak membutuhkan
graft tulang untuk menghasilkan penyangga yang fungsional. Temuan ini sejalan dengan hasil
kami dimana follow-up klinis postoperatif menunjukkan bahwa implan kedua grup tetap
stabil saat berfungsi, walaupun jarak intrusi ke dalam rongga sinus yang lebih besar pada
beberapa kasus. Ini mungkin berhubungan dengan kualitas tulang yang baik pada ridge
residual, bedah atraumatik, dan penanganan jaringan lunak yang tepat. Kecepatan yang
terkontrol, penggunaan bur yang tajam, dan pendinginan terus-menerus merupakan parameter
penting dalam protokol bedah. Secara radiografi, tidak tampak ada tanda reaksi tulang
patologis atau kehilangan abnormal tulang penjangkar. Selanjutnya, penyatuan tulang dapat
dibandingkan dengan tulang alami pada semua pasien dari kedua grup. Semua implan
memiliki stabilitas memuaskan saat pembedahan. Ini memastikan bahwa stabilitas awal
merupakan dasar penyatuan tulang dan ketahanan implan.
Pada penelitian ini, semua implan dari kedua grup dipasang 4 bulan setelah pembedahan
dengan mahkota cekat. Implan yang dipasang menunjukkan fungsi dan stabilitas yang baik
melalui waktu follow-up postoperatif yang diperpanjang sampai 12 bulan bagi semua kasus
dan 20 bulan pada beberapa pasien. Temuan ini sejalan dengan hasil yang diperoleh Mish.
Peneliti ini melaporkan bahwa implan bahkan dapat menembus dasar sinus, protrusi ke dalam
ruang sinus, dan dapat berperan sebagai penyangga prostetik yang memuaskan.

Penelitian ini membuktikan bahwa implan yang protrusi ke sinus dapat digunakan sebagai
prosedur yang kurang rumit dibandingkan dengan pilihan bedah lainnya. Ini lebih sedikit
memakan waktu dan lebih diterima secara ekonomi. Ini juga menunjukkan stabilitas
fungsional yang baik dengan pemasangan yang baik. Follow-up menunjukkan hasil klinis dan
radiografi yang memuaskan tanpa komplikasi yang signifikan.
Gambar 1. Foto intraoperatif menunjukkan ridge alveolar setelah retraksi flap
Gambar 2. Gambaran intraoperatif menunjukkan prosedur bur awal melalui surgical stent
Gambar 3. Foto intraoperatif menunjukkan osteotomi paralel
Gambar 4. Foto klinis menunjukkan penempatan implan
Gambar 5. Foto panoramik pasien yang sama 4 bulan pasca bedah menunjukkan intrusi
implan ke dalam rongga sinus dan penyatuan tulang
Gambar 6. Foto intraoral kasus yang sama 1 minggu setelah penyambungan abutmen
Gambar 7. Foto intraoral pasien yang sama setelah pemasangan mahkota
Gambar 8. Foto panoramik pasien yang sama 6 bulan setelah pemasangan implan
Gambar 9. Dental computed tomography (DCT) pasien yang sama 1 tahun setelah
penempatan implan. Terdapat reaksi sinus di sekitar implan (tanda panah)
Gambar 10. Reformatted computed tomography pada pasien yang sama 1 tahun setelah
penempatan implan. Terdapat reaksi sinus
Gambar 11. Foto panoramik kasus lain pada grup 1, 4 bulan setelah pembedahan
menunjukkan intrusi implan ke dalam rongga sinus.
Gambar 12. Foto panoramik pasien yang sama 6 bulan setelah penempatan implan
menunjukkan intrusi implan ke dalam sinus serta adanya penyatuan tulang
Gambar 13. Reformatted computed tomography pada pasien yang sama 1 tahun setelah
penempatan implan
Gambar 14. Foto preoepratif kasus pada grup 2 menunjukkan molar satu kiri atas dan
premolar satu yang hilang
Gambar 15. DCT pasien yang sama menunjukkan ridge residual dan dasar sinus
Gambar 16. Foto panoramik kasus yang sama 4 bulan setelah bedah menunjukkan intrusi
implan ke dalam rongga sinus

Gambar 17. Foto pasien yang sama setelah rekonstruksi mahkota


Gambar 18. Foto panoramik pasien yang sama 6 bulan setelah penempatan implan
menunjukkan intrusi implan ke dalam sinus dan penyatuan tulang
Gambar 19. DCT pasien yang sama 1 tahun setelah penempatan implan. Terdapat reaksi
sinus di sekitar implan (tanda panah).
Gambar 20. Reformatted computed tomography pasien yang sama 1 tahun setelah
penempatan implan. Terdapat reaksi sinus di sekitar implan (tanda panah).
Gambar 21. Foto panoramik kasus lain grup 2 saat 4 bulan setelah bedah menunjukkan intrusi
implan ke dalam sinus.
Gambar 22. Foto panoramik pasien yang sama 6 bulan setelah penempatan implan
menunjukkan intrusi implan ke dalam sinus serta penyatuan tulang
Gambar 23. DCT pasien yang sama 1 tahun setelah pemasangan implan. Terdapat resksi
sinus di sekitar implan (tanda panah).
Tabel 1. Perbandingan antara grup penelitian mengenai pengukuran radiodensitometrik
penyatuan tulang 4 bulan setelah tahap 1 bedah
Tabel 2. Perbandingan antara grup penelitian mengenai pengukuran radiodensitometrik
hubungan penyatuan implan dengan tulang 12 bulan setelah penempatan implan.

Anda mungkin juga menyukai