Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN TETAP

SATUAN OPERASI

OIL FILTRASI 1
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2

Hafifa Marza
Lian Elvani
Miranda Aristy
Nini Nadilah
Optimisma Situngkir
Siti Rahma Yanti
Virta Puspita Sari

(061330400317)
(061330400320)
(061330400323)
(061330400326)
(061330400330)
(061330400333)
(061330400336)

KELAS 3KB

DOSEN PEMBIMBING

Ir. Nyayu Zubaidah, M.Si


NIP 195501011988112001

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


PALEMBANG
2014

OIL FILTRASI

I.

TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan praktikum mahasiswa diharapkan dapat :
1.

Memahami proses filtrasi (pembersihan partikel padat dari suatu fluida)


dengan menggunakan media penyaring yang berupa karbon aktif.

2.

Mengoperasikan alat oil filtration yang ada di laboratorium Teknik


Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya.

II.

ALAT DAN BAHAN


1.

2.

Alat yang digunakan :


a. Seperangkat alat Oil Filtrasi

1 buah

b. Piknometer

1 buah

c. Gelas kimia 2 liter

1 buah

d. Gelas kimia 350 ml

1 buah

e. Ember 15 liter

1 buah

f. Spatula

1 buah

g. Pengaduk

1 buah

Bahan yang digunakan :


a. Indikator PP padat

0,5 gram

b. NaOH

2 gram

c. Aquadest/air

secukupnya

III. GAMBAR ALAT


Terlampir

IV. DASAR TEORI


Filtrasi adalah pemisahan partikel padatan dari suatu fluida dengan
menggunakannya pada medium penyaringan atau septum yang diatasnya padatan
akan terendapkan. Range filtrasi pada industri mulai dari penyaringan sederhana
hingga pemisahan yang kompleks. Fluida yang difiltrasi dapat berupa cairan atau
gas, aliran yang lolos dari saringan mungkin saja cairan, padatan atau keduanya.
Suatu saat justru limbah padatnyalah yang harus dipisahkan dari limbah cair
sebelum dibuang. Di dalam industri, kandungan padatan suatu umpan mempunyai
range dari hanya sekedar jejak sampai persentasi yang besar. Seringkali umpan
dimodifikasi melalui beberapa pengolahan awal untuk meningkatkan laju filtrasi,
misalnya dengan pemanasan, kristalisasi atau memasang peralatan tambahan pada
penyaring seperti selulosa atau tanah diatomae. Oleh karena varietas dan material
harus disaring beragam dan kondisi proses yang berbeda, banyak jenis penyaring
telah dikembangkan, beberapa jenis akan dijelaskan dibawah ini. Fluida mengalir
melalui media penyaring karena perbedaan tekanan yang melalui media tersebut.
Penyaring dapat beroperasi pada :
1. Tekanan diatas atmosfer pada bagian atas media penyaring
2. Tekanan operasi pada bagian atas media penyaring
3. Vakum pada bagian bawah
Tekanan diatas atmosfer dapat dilaksanakan dengan gaya grafitasi pada
cairan dalam suatu kolom dengan menggunakan pompa atau blower, atau dengan
gaya sentrifugal. Dalam suatu media penyaring biasa tidak lebih baik dari pada
saringan (screen) kasar atau dengan unggun partikel kasar seperti pasir. Penyaring
gravitasi dibatasi penggunaanya dalam industri untuk suatu aliran cairan kristal
pasir, penjernihan air minum dan pengolahan limbah cair.
Penyaring dibagi ke dalam tiga golongan utama yaitu penyaring kue (cake),
penyaring penjernihan (clarifying) dan penyaringan aliran silang (cross flow).
Penyaring kue memisahkan cairan dan padatan sebelum dengan jumlah relative
besar sebagai suatu kue kristal atau lumpur. Seringkali penyaring ini dilengkapi
peralatan untuk membersihkan kue dan untuk membersihkan cairan dan padatan
sebelum dibuang. Penyaring penjernihan membersihkan sejumlah kecil padatan

dan suatu gas atau medium penyaring atau percikan cairan jenuh semisal
minuman. Partikel padatan ditangkap di dalam medium penyaring atau di atas
permukaan luarnya. Penyaring penjernihan berbeda dengan saringan biasa, yaitu
memiliki diameter pori medium penyaring lebih besar dan partikel yang akan
disingkirkan.
Di dalam penyaringan aliran silang, umpan suspensi mengalir dengan
tekanan tertentu diatas medium penyaring. Lapisan tipis dan padatan dapat
terbentuk diatas medium permukaan tetapi kecepatan cairan yang tinggi mencegah
terbntuknya lapisan. Medium penyaring adalah membrane keramik, logam, atau
polimer dengan pori yang cukup kecil untuk menahan sebagian besar partikel
tersuspensi. Sebagian cairan mengalir melalui mdium sebagai filtrate yang jernih,
meninggalkan suspensi pekatnya.

Penyaringan vakum
Didalam penyaringan vakum cairan dihisap melalui septum yang bergerak
untuk mengendapkan padatan cake. Cake kemudian dipindahkan ke tempat
penyariingan untuk dicuci, dihisap,dikeringkan dan dikeluarkan metode yang
digunakan pada oil filtrasi adalah metode adsorbsi dengan menggunakan adsorber.

Adsorpsi atau penyerapan adalah suatu proses pemisahan dimana


komponen dari suatu fase fluida (baik gas maupun cairan) berpindah ke
permukaan zat padat yang menyerap (adsorben). Adsorpsi adalah terserapnya atau
terikatnya suatu substansi (adsorbat) pada permukaan yang dapat menyerap
(adsorben) Karena selektivitas adsorbsi yang tinggi, proses adsorpsi ini sangat
sesuai untuk memisahkan bahan dengan konsentrasi yang kecil dari campuran
yang mengandung bahan lain yang berkonsentrasi tinggi. bahan yang dipisahkan
harus dapat diadsorpsi.
Adsorpsi dapat terjadi antara zat padat dan zat cair, zat padat dengan gas,
zat cair dengan zat cair, dan zat cair dengan gas. Adsorpsi terjadi karena molekulmolekul pada permukaan zat padat atau zat cair yang memiliki gaya tarik dalam
keadaan tidak setimbang yang cenderung tertarik ke arah dalam (gaya kohesi

adsorben lebih besar daripada gaya adhesinya). Ketidakseimbangan gaya tarik


tersebut mengakibatkan zat padat atau zat cair yang digunakan sebagai adsorben
cenderung menarik zat-zat lain yang bersentuhan dengan permukaannya.
Berdasarkan interaksi molekular antara permukaan adsorben dengan
adsorbat, adsorpsi dibagi menjadi dua bagian, yaitu adsorpsi fisika dan adsorpsi
kimia.
A. Adsorpsi Fisika
Adsorpsi fisika terjadi bila gaya intermolekular lebih besar dari gaya tarik
antar molekul atau gaya tarik menarik yang relatif lemah antara adsorbat
dengan permukaan adsorben, gaya ini disebut gaya Van der Waals sehingga
adsorbat dapat bergerak dari satu bagian permukaan ke bagian permukaan lain
dari adsorben.
Gaya antar molekul adalah gaya tarik antara molekul-molekul fluida dengan
permukaan padat, sedangkan gaya intermolekular adalah gaya tarik antar
molekul-molekul fluida itu sendiri. Adsorpsi ini berlangsung cepat, dapat
membentuk lapisan jamak (multilayer), dan dapat bereaksi balik (reversible),
karena energi yang dibutuhkan relatif rendah. Energi aktivasi untuk terjadinya
adsorpsi fisika biasanya adalah tidak lebih dari 1 kkal/gr-mol, sehingga gaya
yang terjadi pada adsorpsi fisika termasuk lemah. Adsorpsi fisika dapat
berlangsung di bawah temperatur kritis adsorbat yang relatif rendah sehingga
panas adsorpsi yang dilepaskan juga rendah yaitu sekitar 5 10 kkal/gr-mol
gas, lebih rendah dari panas adsorpsi kimia.

B. Adsorpsi Kimia
Adsorpsi kimia terjadi karena adanya reaksi antara molekul-molekul adsorbat
dengan adsorben dimana terbentuk ikatan kovalen dengan ion. Gaya ikat
adsorpsi ini bervariasi tergantung pada zat yang bereaksi. Adsorpsi jenis ini
bersifat tidak reversible dan hanya dapat membentuk lapisan tunggal
(monolayer). Umumnya terjadi pada temperatur tinggi di atas temperatur kritis
adsorbat, sehingga panas adsorpsi yang dilepaskan juga tinggi, yaitu sekitar
10-100 kkal/gr-mol. Untuk dapat terjadinya peristiwa desorpsi dibutuhkan

energi lebih tinggi untuk memutuskan ikatan yang terjadi antara adsorbat
dengan adsorben. Energi aktivasi pada adsorpsi kimia berkisar antara 10 60
kkal/gr-mol.

Tabel 2. 1 Perbedaan antara adsorpsi fisika dengan adsorpsi kimia

No Parameter

Adsorpsi fisika

Adsorpsi kimia

Adsorben

semua jenis

Terbatas

Adsorbat

semua gas

kecuali gas mulia

Jenis ikatan

Fisika

Kimia

Panas adsorpsi

5 10 kkal/gr-mol gas

10-100 kkal/gr-mol gas

Temperatur operasi

di bawah temperatur kritis

di atas temperatur kritis

Energi aktivasi

kurang dari 1 kkal/gr-mol

10-60 kkal/gr-mol

Reversibilitas

Reversible

Tidak selamanya reversible

Tebal lapisan

Banyak (multilayer)

Satu (monolayer)

Kecepatan adsorpsi

Besar

Kecil

10

Jumlah
teradsorp

zat Sebanding dengan kenaikan


tekanan

Sebanding dengan banyaknya inti


aktif adsorben yang dapat bereaksi
dengan adsorbat

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Daya Adsorpsi


Banyaknya adsorbat yang teradsorp pada permukaan adsorben dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu :

Jenis adsorbat, dapat ditinjau dari :


1. Ukuran molekul adsorbat
Rongga tempat terjadinya adsorpsi dapat dicapai melalui ukuran yang
sesuai, sehingga molekul-molekul yang bisa diadsorpsi adalah
molekul-molekul yang berdiameter sama atau lebih kecil dari diameter
pori adsorben.
2. Polaritas molekul adsorbat

Apabila diameter sama, molekul-molekul polar lebih kuat diadsorpsi


daripada molekul-molekul yang kurang polar, sehingga molekulmolekul yang lebih polar bisa menggantikan molekul-molekul yang
kurang polar yang telah diserap.

Sifat adsorben, dapat ditinjau dari :


1. Kemurnian adsorben
Adsorben yang lebih murni memiliki daya adsorpsi yang lebih baik.
2. Luas permukaan adsorben
Semakin luas permukaan adsorben maka jumlah adsorbat yang
terserap akan semakin banyak pula.

Temperatur
Adsorpsi merupakan proses eksotermis sehingga jumlah adsorbat akan
bertambah dengan berkurangnya temperatur adsorbat. Adsorpsi fisika yang
substansial biasa terjadi pada temperatur di bawah titik didih adsorbat,
terutama dibawah 500 C.

Tekanan
Untuk adsorpsi fisika, kenaikan tekanan adsorbat mengakibatkan kenaikan
jumlah zat yang diadsorpsi. Sebaliknya pada adsorpsi kimia, jumlah yang
diadsorpsi berkurang dengan naiknya temperatur adsorbat.

Mekanisme Adsorpsi
Adsorpsi ialah pengumpulan zat terlarut di permukaan media dan merupakan

jenis adhesi yang terjadi pada zat padat atau zat cair yang kontak dengan zat
lainnya. Proses ini menghasilkan akumulasi konsentrasi zat tertentu di permukaan
media setelah terjadi kontak antarmuka atau bidang batas (paras, interface) cairan
dengan cairan, cairan dengan gas atau cairan dengan padatan dalam waktu
tertentu. Contohnya antara lain dehumidifikasi, yaitu pengeringan udara dengan
desiccant (penyerap), pemisahan zat yang tidak diinginkan dari udara atau air
menggunakan karbon aktif, ion exchanger untuk zat terlarut di dalam larutan
dengan ion dari media exchanger. Artinya, pengolahan air minum dengan karbon
aktif hanyalah salah satu dari terapan adsorpsi.

Atas dasar fenomena kejadiannya, adsorpsi juga dibedakan menjadi tiga


macam. Yang pertama disebut chemisorption, terjadi karena ikatan kimia
(chemical bonding) antara molekul zat terlarut (solute) dengan molekul adsorban.
Adsorpsi ini bersifat sangat eksotermis dan tidak dapat berbalik (irreversible).
Yang kedua, adsorpsi fisika (physical adsorption, terjadi karena gaya tarik
molekul oleh gaya van der Waals dan yang ketiga disebut ion exchange
(pertukaran ion), terjadi karena gaya elektrostatis.
Ahli pengolahan air membagi adsorpsi menjadi tiga langkah, yaitu (1)
makrotransport: perpindahan zat pencemar, disebut juga adsorbat (zat yang
diadsorpsi), di dalam air menuju permukaan adsorban; (2) mikrotransport:
perpindahan adsorbat menuju pori-pori di dalam adsorban; (3) sorpsi: pelekatan
zat adsorbat ke dinding pori-pori atau jaringan pembuluh kapiler mikroskopis.
Ada sejumlah hal yang mempengaruhi efektivitas adsorpsi, yaitu: (1) jenis
adsorban, apakah berupa arang batok, batubara (antrasit), sekam, dll; (2)
temperatur lingkungan (udara, air, cairan): proses adsorpsi makin baik jika
temperaturnya makin rendah; (3) jenis adsorbat, bergantung pada bangun molekul
zat, kelarutan zat (makin mudah larut, makin sulit diadsorpsi), taraf ionisasi (zat
organik yang tidak terionisasi lebih mudah diadsorpsi). Berdasarkan jenis
adsorbatnya, tingkat adsorpsi digolongkan menjadi tiga, yaitu lemah (weak),
terjadi pada zat anorganik kecuali golongan halogen (salah satunya adalah klor).
Adsorpsi menengah (medium), terjadi pada zat organik alifatik dan adsorpsi kuat
(strong) terjadi pada senyawa aromatic (zat organik yang berbau (aroma) struktur
benzene.

Contoh-contoh Adsorpsi
1. Pengeringan udara atau gas-gas lain
2. Pemisahan bahan yang mengandung racun atau yang berbau busuk dari
udara buang
3. Pemisahan campuran gas untuk memperoleh komponen-komponen gas
4. Penghilangan warna larutan misalnya sebelum kristalisasi

5. Pemisahan bahan organik dari air (bersamaaan dengan pemisahan


pengotor berbentuk koloida yang sukar diaring)
6. Pemutihan maupun perbaikan bau dan rasa bahan makanan cair (misalnya
minyak-minyak,lemak-lemak)

Adsorben
Dalam adsorpsi digunakan istilah adsorbat dan adsorban, dimana adsorbat

adalah substansi yang terserap atau substansi yang akan dipisahkan dari
pelarutnya, sedangkan adsorban adalah merupakan suatu media penyerap yang
dalam hal ini berupa dapat senyawa karbon. Regenerasi dilakukan untuk
memperbaiki kembali daya adsorpsi dari adsorben yang telah dipakai maupun
untuk memperoleh kembali bahan yang telah teradsorpsi. Dalam hal ini bahan
yang teradsorpsi dikeluarkan dengan cara pemanasan, penurunan tekanan,
pencucian dengan bahan yang tidak dapat teradsorpsi.

Kriteria adsorben yang baik :


1. Adsorben-adsorben digunakan biasanya dalam wujud butir berbentuk bola.
2. Harus mempunyai hambatan abrasi tinggi.
3. Kemantapan termal tinggi.
4.Diameter pori kecil, yang mengakibatkan luas permukaan yang diunjukkan yang
lebih tinggi dan kapasitas permukaan tinggi karenanya untuk adsorbsi.
5.Adsorben-adsorben itu harus pula mempunyai suatu struktur pori yang terpisah
jelas yang memungkinkan dengan cepat pengangkutan dari uap air yang berupa
gas.

Jenis Adsorben
Adsorben yang sering digunakan yaitu karbon aktif, silika gel, dan tapis

molecular.
1. Karbon aktif
Salah satu adsorban yang dapat digunakan adalah karbon aktif atau arang
aktif. Karbon aktif biasanya diterapkan dalam pengolahan air minum (juga

air limbah). Arang ini digunakan untuk menghilangkan bau, warna, dan
rasa air termasuk ion-ion logam berat. Karena merupakan fenomena
permukaan maka semakin luas permukaan kontaknya semakin tinggi
efisiensi pengolahannya. Karbon aktif dapat dibuat dari bahan organik
yang dapat dikarbonisasi, misalnya kayu, humus, batu bara coklat dan
tempurung kelapa.
untuk mengatasi masalah adsorpsi yang beragam karbon dapat dibagi
menjadi 2, yaitu :
a) berdasarkan jenisnya
karbon aktif untuk adsorsi gas dan uap dalam skala teknik
karbon penghilang warna untuk meniadakan warna maupun untuk
menjernihkan cairan.
karbon pembersih air untuk pengolahan air minum
b) berdasarkan bentuknya
karbon cetak (misalnya,granulat berbentuk silinder)
karbon bongkahan (bentuknya tidak teratur)
karbon serbuk
2. Silika gel
Silika gel terdiri atas silisium dioksida (SiO2) yang berbentuk koloid,
silika gel ini hampir tidak mengandung air dan mempunyai banyak sekali
pori yang halus. bahan ini dibuat sintetik dengan mengolah silikat alkali
dengan asam sulfat. kemampuan adsorpsi terhadap uap air sangat besar
karena itu sering digunakan unuk pengeringan yang lembab, contohnya
pada instalasi pengeringan udara.
3. Tapis molekuler
Tapis molekuler adalah silikat alkali atau aluminium alkali tanah dengan
ukuran lubang dan rongga tertentu sesuai dengan struktur kristal bahan.
Tapis dibuat secara sintetik misalnya dari natrium silikat, tanah liat dan
natrium hidroksida. Tapis molekuler tidak hanya mampu mengadsorpsi
bahan tunggal melainkan juga dapat memisahkan campuran berdasarkan

ukuran molekul, polaritas, jenis ikatan karbon (jenuh atau tidak jenuh) dan
massa molekul.
Jenis jenis penyaring :

Filter klarifikasi
Filter ini dikenal juga sebagai filter hamparan tebal (deep bed filter),

karena partikel-partikel zat padat diperangkap di dalam medium filter dan


biasanya tidak ada lapisan zaat padat yang terlihat dari permukaan medium Filter
ini biasanya digunakan untuk memisahkan zat padat yang kuantitasnya kecil dan
menghasilkan

gas

yang

bersih

atau

zat

cair

yang

bening,

seperti

minuman.Klarifikasi berbeda dengan penapisan karena pori medium filter ini


jauh lebih besar dari diameter partikel harus dipisahkan.partikel-partikel itu
ditangkap oleh gaya-gaya permukaan dan dibuat tidak bisa bergerak di dalam
saluran aliran dan walaupun mengakibatkan diameter efektif saluran itu
menjadi lebih kecil, namun biasanya tidak sampai menyebabkan saluran itu
buntu.

Mekanisme Filtrasi Klarifikasi

Filter Ampas (Cake Filter)


Filter ampas digunakan untuk memisahkan zat padat yang
kuantitasnya besar dalam bentuk ampas atau kristal ataupun Lumpur.
Biasanya filter ini diperlengkapi untuk pencucian zat padat dan untuk
mengeluarkan sebanyak-banyaknya sisa zat cair

dari zat padat itu

sebelum zat padat itu dikeluarkan dari filter. Medium filter pada filter ini

relatif lebih tipis dibandingkan dengan yang digunakan dalam medium


filter Klarifikasi. Pada awal filtrasi sebagian partikel padat masuk ke dalam
pori medium dan tidak dapat bergerak lagi, tetapi segera setelah itu bahan
itu terkumpul pada permukaan septum. Setelah periode pendahuluan
yang berlangsung beberapa saat itu, zat padat itulah yang melakukan
filtrasi, bukan septum lagi. Ampas itu terlihat mengumpul sampai
ketebalan tertentu pada permukaan itu dan harus sewaktu-waktu
dikeluarkan.

Mekanisme Filter Ampas

Klasifikasi penyaringan
Dalam beberapa penyaringan, padatan-saring yang terbentuk merupakan medium
penyaring yang baik. Berdasarkan gaya pendorong aliran, penyaringan dapat di
klasifikasikan sebagai berikut:
1. Penyaring gaya berat (gravity filters)

gravitasi adalah sistem pengaliran air dari sumber ke tempat reservoir dengan cara
memanfaatkan energi potensial gravitasi yang dimiliki air akibat perbedaan
ketinggian lokasi sumber dengan lokasi reservoir

2. Penyaring tekanan (Pressure filters)

Suatu mesin pres bersaringan berisi satu set plat yang didesain untuk
menyediakan serangkaian ruang atau kompartemen yang didalamnya padatan
dikumpulkan. Plat-plat tersebut dilingkupi medium penyaring seperti kanvas.
Lumpur dapat mencapai tiap-tiap kompartemen dengan tekanan tertentu; cairan
melalui kanvas dan keluar ke pipa pembuangan, meninggalkan padatan kue basah
dibelakangnya.
3. Penyaring vakum (Vacuum filters)

4.Penyaring sentrifugal ( Centrifugal filters)

Padatan yang membentuk kue berpori dapat dipisahkan dari cairan dengan
penyaringan berpusing. Umpan dimasukkan ke dalam keranjang berputar yang
memiliki dinding bercelah atau berlubang yang disampuli suatu medium
penyaring seperti kanvas atau kain logam. Tekanan yang dihasilkan dari gaya
sentrifugal memaksa cairan melewati medium penyaring, meninggalkan
padatannya. Jika umpan yang masuk keranjang dihentikan dan padatan kue
diputar untuk waktu yang singkat, kebanyakan cairan residu di dalam kue
mengalirkan partikel sehingga padatan lebih kering daripada hal yang sama untuk
mesin pres bersaringan (filter press) atau penyaring vakum (vacuum filter). Ketika
material yang tersaring harus dikeringkan secara berurut dengan alat pemanas,
pemakaian penyaring ini dapat dipertimbangkan sebagai langkah ekonomis.
Berdasarkan operasinya dibagi atas :
1. Cara batch (bertahap )
2. Cara continue (berkesinambungan)
Tipe-tipe penyaring :
1) Penyaring pasir (sand filter) :

a.tangki terbuka
b.tangki tertutup

2) Penyaring tekan (filters press):

a.Pelat berongga (recessed plate)


b.Pelat dan bingkai (plate and frame)
3) Penyaring Daun ( leaf )

a. Moore
Penyaring Moore adalah penyaring daun yang orsinil. Kumpulan daun
penyaring dicelupkan dalam tangki slurry, daun penyaring dihubungkan dengan
sistim produksi vakum.
b. Kelly
Penyaring ini berbentuk persegi panjang, ditempatkan dalam bejana
silinder horizontal. Kumpulan daun penyaring ini dikeluar masukkan ke bejana
dengan bantuan rel dan roda.
c. Sweetland
Penyaring ini berbentuk lingkaran dan sama besar. Penyaringan dilakukan
dalam bejana bertekanan.
d. Niagara
Penyaring ini ditempatkan dalam tangki vertical dan horizontal.
4) Penyaring tabung ( tubular / candle filter )
5) Penyaring Teromol
a. Oliver ( Rotary drum )
b. Topfeed ( Dorco )
6) Penyaring Sabuk mendatar (horizontal belt filter)

penyaring berfungsi menahan dan menyangga partikel padatan . syarat penyaring


yang baik :
- secara mekanis kuat
- tahan korosi ( terhadap cairan yang ditangani )
- memberikan tahanan yang kecil terhadap aliran ( porosity besar )

VI.

LANGKAH KERJA

Percobaan Pertama
1. Menyiapkan 2 gr NaOH, kemudian dimasukkan kedalam air
sebanyak 3 liter.
2. Memasukkan indikator orange atau indikator pp kedalam 3 liter air
yang diletakkan dalam baskom.
3. Menghubungkan peralatan FITR/EV dengan sumber listrik 1 fasa, P
maksimum = 500 watt.
4. Mengoperasikan filter 1 :
a. Membuka katup-katup V1, V3, V9, dan V10 secara sendiri-sendiri.
b. Menutup katup-katup V2, V4, V5, V6, V7, dan V8.
5. Mengoperasikan filter 2 :
a. Membuka katup-katup V2, V4, V9, dan V10 secara sendiri-sendiri.
b. Menutup katup-katup V1, V3, V5, V6, V7, dan V8.
6. Mengisi tabung reservoir DI dengan air yang telah berwarna yang
akan disaring.
7. Memasang E.L.C.B.
8. Memutar knop pompa G1 ke posisi 1.
9. Mengatur

kecepatan

feeding

flow

dengan

menggunakan

potensiometer.
10. Jika diperlukan, untuk meningkatkan kemampuan penyaringan,
menghidupkan pompa vakum G2, menutup katup V9 dan mengatur
penyaringan dengan menggunakan katup V10.

V.

DATA PENGAMATAN

No

Sampel
Indikator PP

1.

padat

No

1.

Percobaan Pertama (F1)


Perubahan Warna

Berat Jenis (gr/ml)

Sebelum

Sesudah

Sebelum

Sesudah

Ungu

Putih keruh

0,988

0,996

Percobaan Kedua (F2)


Sampel
Indikator PP
padat

Perubahan Warna
Sebelum
Ungu

Sesudah
Putih
keruh

Berat Jenis (gr/ml)


Sebelum

Sesudah

0,9979

0,995

DATA PENGAMATAN
No

Perlakuan

Pengamatan

Larutan NaOH +
1

indicator PP paat,
larutan berwarna ungu
sebelum di filter

Larutan berubah warna


2

menjadi putih keruh


setelah di filter

VI. PERHITUNGAN
1. Percobaan Pertama (F1)
Piknometer kosong + Tutup + Termometer

: 36,85 gram (a)

Piknometer + Tutup + Termometer + Aquadest

: 61,62 gram (b)

Piknometer + Tutup + Termometer + Zat sebelum

: 61,64 gram (c)

Piknometer + Tutup + Termometer + Zat sesudah

: 61,59 gram (d)

air (200C)

: 0,998

gram/ml

Volume piknometer

: 24,39

ml

Sebelum
Berat aquadest = (b) (a)
= 61,62 gr 36,85 gr
= 24,77 gr
Volume aquadest = Volume piknometer
=
=
Berat zat sebelum = (c) (a)
= 61,64 gr 36,85 gr
= 24,79 gr
zat sebelum =

Sesudah
Berat zat sesudah = (d) (a)
= 61,59 gr 36,85 gr
= 24,74 gr
zat sesudah =

2. Percobaan Kedua (F2)


Piknometer kosong + Tutup + Termometer

: 36,85 gram (a)

Piknometer + Tutup + Termometer + Zat sebelum : 61,62 gram (e)


Piknometer + Tutup + Termometer + Zat sesudah

: 61,61 gram (f)

air (200C)

: 0,998

gram/ml

Volume piknometer

: 24,39

ml

Berat zat sebelum = (e) (a)


= 61,62 gr 36,85 gr
= 24,77 gr
zat sebelum =

Sesudah
Berat zat sesudah = (f) (a)
= 61,61 gr 36,85 gr
= 24,76 gr
zat sesudah =

VII. ANALISA PERCOBAAN


Pada percobaan yang dilakukan dapat dianalisa bahwa filtrasi adalah
pemisahan partikel padat dari suatu fluida dengan melewatkannya pada
medium penyaringan atau septum yang diatasnya padatan akan terendapkan.
Pada

percobaan

pertama

digunakannya

larutan

NaOH

yang

ditambahkan Indikator PP dimana terjadi perubahan warna menjadi ungu


dimana berat larutan yang dibuat sebanyak 3 liter. Sebelum larutan masuk
ke filter, filter terlebih dahulu dibersihkan menggunakan air panas terutama
pada kolom yang berisi karbon aktif hal ini dilakukan untuk membersihkan
pori-pori karbon aktif tersebut sehingga proses filtrasi dapat berfungsi
dengan baik. Karbon aktif berperan sebagai media filtrasi.
Larutan dimasukkan pada bejana penampungan lalu dialirkan pada
kolom filtrasi, dimana untuk melakukan filtrasi dilakukan dua kali dan yang
pertama sampel akan dialirkan ke kolom F1. Saat sebelum dialirkan katupkatup harus tertutup terlebih dahulu dan katup yang sesuai harus terbuka
untuk mengarahkan aliran larutan dari tangki ke kolom F1. Pada bagian
bawah kolom filtrasi dihubungkan dengan pompa vakum hal ini dilakukan
untuk mempercepat laju alir filtrasi. Sama halnya untuk kolom F2 larutan
dibuat kembali sebanyak 3 liter tetapi dialirkan ke kolom F2 dan katup yang
bersesuaian untuk mengalirkan larutan ke F2 harus juga dibuka. Pada
percobaan laju pompa itu harus diatur dengan potensiometer. Larutan yang
dialirkan terjadi perubahan warna menjadi putih pada kolom pengeluaran
karena karbon aktif berfungsi untuk menyerap zat padat yang terkandung
pada indicator PP. Larutan sebelum difiltrasi dan sesudah filtrasi diambil
sampel masing-masing kolom F1 dan F2 dimana akan dicari berat jenis dari
larutan tersebut. Untuk F1 berat jenis sebelum adalah 0,998 gr/ml dan
sesudah 0,996 gr/ml sedangkan untuk F2 berat jenis sebelum 0,9979 gr/ml
dan sesudah 0,995 gr/ml.

VIII. KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

percobaan oil filtrasi ini merupakan percobaan yang bertujuan untuk


melihat perubahan warna yang terjadi pada suatu zat cair dengan cara
penyaringan.

Perubahan warna dapat terjadi pada filtrasi karena adanya bantuan dari
karbon aktif sebagai media filtrasi.. proses ini terjadi secara adsopsi

Pada percobaan pertama dan kedua, larutan NaOH yang diberi indikator
PP padat mengalami perubahan dari warna ungu menjadi warna putih
keruh dengan densitas sebelum masing-masing percobaan 0,998 gr/ml,
0,9979 gr/ml dan densitas sesudah 0,996 gr/ml, 0,995 gr/ ml.

IX. DAFTAR PUSTAKA


Jobsheet

Praktikum

Satuan

Operasi.

2014.politeknik

sriwijaya:palembang
http://tsffarmasiunsoed2012.wordpress.com/2012/05/24/filtrasi-danaplikasinya-dalam-industri/

negeri

GAMBAR ALAT

1
4
3
2

Seperangkat Alat Oil Filtrasi


Keterangan :
1. Tempat untuk mengoperasikan alat, tempat mengatur kecepatan feeding
flow dengan menggunakan potensiometer, pengatur pompa G1 dan G2.
2. Tabung reservoir DI
3. Filter 1
4. Filter 2
5. Tempat umpan setelah penyaringan
6. Pompa