Anda di halaman 1dari 6

METODE PELAKSANAAN

Pekerjaan
Kegiatan
Kabupaten
Provinsi
Tahun Anggaran

: Perkuatan Tebing Sungai Gp Kuala Panteu Blang Malo


Kec. Tangse Kab. Pidie
: Pekerjaan Konstruksi
: Pidie
: Aceh
: 2013

1. P E K E R J A A N P E R S I A PAN
1. Mobilisasi dan Demobilisasi
Pekerjaan ini meliputi pekerjaan mendatangkan peralatan yang dibutuhkan hingga
lokasi pekerjaan dan mengembalikannya setelah seluruh pekerjaan selesai. Selain itu
juga mendatangkan personil sesuai dengan kebutuhan dan persetujuan Direksi
Pekerjaan agar pekerjaan dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan rencana yang
telah disepakati. Mobilisasi peralatan terkadang juga dilakukan sebelum Direksi Keet
dan Gudang terbangun. Peralatan yang dimobilisasi disini hanyalah peralatan berat
yang disyaratkan pada dokumen pengadaan. Peralatan-peralatan lain yang
didatangkan ke proyek yang akan dipakai Kontraktor pada proyek ini diajukan
pada Konsultan MK / Pengawas termasuk surat uji peralatan dan perizinan serta
kelaikan peralatan tersebut sesuai dengan fungsinya. Semua alat ukur yang berkaitan
dengan testing pada sistim harus disertai surat uji kelaikan dari informasi berwenang.
Untuk alat berat operator yang didatangkan haruslah yang memiliki sertifikat atau SIO
(Surat Ijin Operasi). SIO dan Uji kelayakan berguna untuk memastikan bahwa
peralatan yang digunakan layak, telah tersertifikasi dan terkalibrasi. SIO guna
memastikan bahwa orang tersebut memang memiliki keahlian di bidang operator alat
tersebut.
2. Pembersihan Lapangan
Pekerjaan ini meliputi membersihkan Lokasi pekerjaan dari rumput, semak belukar,
tanam- tanaman dan lain-lain pada lokasi pekerjaan.

2. P E K E R J A A N T E B I N G S U N G A I
Semua pekerjaan tanah dari beberapa bagian harus dilaksanakan menurut ukuran
ketinggian yang ditunjukkan dalam gambar, atau menurut ukuran dan ketinggian lain, yang
mungkin akan diperintahkan oleh Direksi. Ukuran yang berdasarkan atau berhubungan
dengan ketinggian tanah, atau jarak terusan harus ditunjukkan kepada Direksi lebih dahulu,
sebelum memulai pekerjaan tanah pada setiap tempat. Yang dimaksud dengan ketinggian
tanah dalam spesifikasi adalah tinggi permukaan tanah sesudah pembersihan lapangan
dan sebelum pekerjaan tanah dimulai. Hal yang membedakan jenis galian tersebut di atas
hanyalah material yang akan digali yang berimplikasi terhadap jenis peralatan dan
produktifitas hasil galian.
a. Galian Tanah Diangkut(AB)

Pekerjaan galian biasa pada proyek ini meliputi galian tanah biasa pada badan jalanyang
akan dipersiapkan untuk dasar perletakan perkuatan tebing sungai.Galian dilakukan dengan
langkah-langkah yang sistematis dan cara mekanis, yaitu menggunakan alat berat dan
transportasi pendukung berupa dump truck untuk pembuangan tanah ke disposal
area.Peralatan yang digunakan untuk pekerjaan galian adalah Excavator. Metode kerja
Pekerjaan galian dilaksanakan secara open cut, sama dengan Pekerjaan Galian pada system
drainase. Lubang galian yang telah selesai digali dengan alat berat, dilakukanperapihan
dengan tenaga manusia, untuk persiapan pekerjaan selanjutnya.
b. Timbunan Tanah Didatangkan/dipadatkan (AB)
Yaitu meliputi timbunan pilihan yang didatangkan dari luar dengan kualitas material
pilihan (selected) yang baik untuk timbunan, bersih dari kotoran dan akar-akar kayu di
hampar lalu dipadatkan perlapis setiap ketebalan 20 cmdengan menggunakan bebby roller
dan harus mendapat persetujuan Pengawas Lapangan berdasarkan spesifikasi teknis..
Dalam pelaksanaannya pekerjaan timbunan ini perlu diperhatikan dari segi Kesehatan dan
Keselamatan Kerja. dan dampak lingkungan (Environmental Aspect), terutama pada saat
transportasi material timbunan. Tanah timbun yang didatangkan dari luar(barrow) diangkut
dengan Dump truk. Bak dump truk harus ditutupi dengan terpal plastik agar tidak
berceceran diperjalanan. Adapun jalan yang dilewati oleh dump truck harus selalu dirawat
dan dijaga dari dampak debu yang ditimbulkan dari hasil transport tersebut, dengan
menyediakan tenaga pembersih dan penyiraman jika terjadi debu.
Peralatan yang digunakan.
- Excavator
- Dump Truck
- Bebby Roller

c. Penyediaan/Pancang Cerucuk Kayu


Menyediakan Cerucuk 10cm, L = 300cm
Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang dilakukan untuk mengadakan bahan Cerucuk dia
10 cm, L = 300 cm hingga ke lokasi. Proses pengadaan tersebut dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
a. Bahan dipesan terlebih dahulu sesuai dengan kebutuhan di lapangan kepada supplier
yang terlebih dahulu berkonsultasi dengan direksi pekerjaan.
b. Dilakukan bahan ke lokasi pekerjaan.
c. Sesampainya di lokasi bahan diperiksa kembali terhadap ukuran dan bentuknya.
d. Bahan yang sudah diperiksa kemudian disimpan pada tempat/gudang penyimpanan
yang aman.
Penumpukan dan harus dilindungi dari pengaruh cuaca untuk mencegah kerusakan
material tersebut.
4. Memancang Cerucuk 10 cm
Pemancangan cerucuk dilakukan pada saat sebelum dilakukannya proses pekerjaan
pasangan Bronjong dan sebelum ataupun bersamaan dengan pemasangan Geotextile.
Proses pemancangan cerucuk dilakukan secara manual dengan tenaga manusia dengan
mengunakan alat bantu. Pemancangan dilakukan pada titik-titik/lokasi yang ditentukan
yang ditancapkan secara vertikal. Kemudian dilakukan juga pemasangan kepala cerucuk,
dimana kepala cerucuk ini dilakukan dengan menyatukan ujung kepala kayu yang sudah
ditanamkan dengan membuat ikatan antar kepala kayuda ndibuat bidang datar sebagai
penempatan pondasi konstruksi yang direncanakan.
Secara konstruksi, pelaksanaan pekerjaan pondasi cerucuk dapat dibagi atas :
1. Perkuatan tanah dasar, dilakukan penggantian tanah dasar dengan menimbun tanah
baru yang lebih stabil, dilakukan dengan menguruk tanah pada lokasi yang sudah
direncanakan.

2. Penancapan kayu cerucuk, dilakukan dengan menancapkan kayu terhadap lokasi


pondasi yang akan dikerjakan, Pelaksanakan diseuaikan dengan jarak antar titik kayu
dan kedalaman yang direncanakan.
3. Pemasangan kepala cerucuk. Dilakukan dengan menyatukan ujung kepala kayu yang
sudah ditanamkan dengan membuat ikatan antar kepala kayu dan dibuat bidang datar
sebagai penempatan pondasi konstruksi yang direncanakan.
Kadang dalam hal tertentu, pondasi cerucuk ditanamkan pada kedalam tertentu dimana
sebelumnya kita terlebih dahulu melakukan penggalian tanah asli sesuai dengan kedalaman
yang direncanakan, dan setelah itu baru dilakukan penancapan kayu cerucuk.
Untuk pelaksanaan pemancangan kayu cerucuk dapat dilakukan secara manual (tenaga
manusia) dan dapat juga dilakukan dengan mekanik atau alat mesin yang sering disebut
mesin pancang (back hoe). Pada prinsipnya kedua cara tersebut adalah melakukan
pemberian tekanan ke kepala kayu pancang sehingga kayu akan tergeser secara vertikal
kedalam tanah yang ditumbukkan. Secara umum, untuk pondasi cerucuk kayu yang
dipergunakan harus mengikuti persyaratan teknis yaitu :
1.
Kayu harus mempunyai diameter yang seragam yaitu antara 10 15 cm, dimana
pada ujung terkecil tidak boleh kurang dari 10 cm dan pada ujung terbesar tidak melebihi
15 cm
2.
Kayu harus dalam bentang yang lurus untuk kemudahan penancapan dan juga daya
dukung yang makin besar.
3.
Jenis kayu harus merupakan kayu yang tidak busuk jika terendam air, kayu tidak
dalam kondisi busuk dan tidak dalam keadaan mudah patah jika ada pembebanan.

d. Pengadaan dan Pasang Beronjong Kawat


a. Pekerjaan bronjong meliputi pekerjaan-pekerjaan : penyediaan, pengangkutan dan

pemasangan kawat bronjong yang diisi dengan batu kali seperti yang ditunjuk pada gambar
rencana.
b. Bahan kawat bronjong terbuat dari kawat galvanisir berdiameter 3 mm yang mempunyai
fleksibilitas yang tinggi sesuai dengan spesifikasi standard Indonesia, dianyam dengan
menggunakan mesin penganyam/pabrikasi atau sesuai dengan petunjuk Direksi. Anyaman
dibuat dengan melilitkan dua batang kawat sebanyak 3 (tiga) lilitan membentuk segi enam.
c. Sambungan-sambungan antara bronjong maupun sekat-sekatnya harus diikat dengan
kawat dengan mutu yang sama. Bronjong ditempatkan sesuai dengan yang ditunjukkan
dalam gambar. Batu isian yang dipergunakan adalah batu yang keras tahan lama, tidak
rusak dan pecah oleh air. Ukuran batu minimum tidak boleh lebih kecil dari 16 cm, dengan
ukuran batu rata-rata berbentuk sama yang dapat ditahan oleh saringan kawat bronjong.
d. Ukuran sangkar bronjong : Ukuran-ukuran bronjong disesuaikan dengan kondisi
lapangan dan harus mendapat petunjuk dan persetujuan pihak Direksi.
e. Pemasangan bronjong harus hati-hati untuk mencegah kerusakan lapisan saringan.
Sebelum batu diisi, bronjong ditegangkan sampai bentuk yang diinginkan. Pengisian mulai
dari bagian bawah, krat-krat supaya diletakkan dalam keadaan kosong, diisi dengan
batu sampai penuh dan kemudian ditutup.
f. Semua bagian tepi dari bronjong dan matras termasuk panel, dan sekat harus terikat
rapat pada kawat sisi panel dan terikat secara mekanikal atau petunjuk Direksi, hal untuk

menjaga terlepasnya anyaman, diameter kawat pengikat yang menghubungkan antara sisi
panel untuk perakitan, pemasangan, matras berdiameter minimal 2 mm. Setiap bronjong
akan dihubungkan dengan ikatan yang didekatnya. Sambungan-sambungan vertikal antara
bronjong-bronjong yang ditempatkan pada setiap 2 (dua) lapisan akan disusun bergiliran
seperti yang ditunjukkan dalam gambar atau petunjuk Direksi. Pemasangan dilaksanakan
terus menerus bertingkat sesuai dengan gambar rencana konstruksi dan sesuai petunjuk
Direksi Pekerjaan.
1. Kawat Bronjong
Haruslah baja berlapis seng yang memenuhi AASHTO M279-03 tipe Z, dan ASTM
A641/AA641M. Lapisan galvanisasi minimum haruslah 0,26 kg/m.
Anyaman : Anyaman haruslah merata berbentuk segi enam yang teranyam dengan tiga
lilitan dengan lubang kira-kira 80 mm x 60 mm yang dibuat sedemikian rupa hingga tidak
lepas-lepas dan dirancang untuk diperoleh kelenturan dan kekuatan yang diperlukan.
Keliling tepi dari anyaman kawat harus diikat pada kerangka bronjong sehingga
sambungan-sambungan yang diikatkan pada kerangka harus sama kuatnya seperti pada
badan anyaman. Keranjang haruslah merupakan unit tunggal dan disediakan dengan
dimensi yang disyaratkan dalam Gambar dan dibuat sedemikian sehingga dapat dikirim ke
lapangan sebelum diisi dengan batu.
2. Batu
Batu untuk pasangan batu kosong dan bronjong harus terdiri dari batu yang keras dan awet
dengan sifat sebagai berikut :
i. Keausan agregat harus kurang dari 35 %.
ii. Berat isi kering oven lebih besar dari 2,3.
iii. Peyerapan Air tidak lebih besar dari 4 %.
iv. Kekekalan bentuk agregat terhadap natrium sulfat atau magnesium sulfat dalam
pengujian 5 siklus (daur) kehilangannya harus kurang dari 10 %.
Batu untuk pasangan batu kosong haruslah bersudut tajam, berat tidak kurang dari 40 kg
dan memiliki dimensi minimum 300 mm. Direksi Pekerjaan dapatmemerintahkan batu
yang ukurannya lebih besar jika kecepatan aliran sungaicukup tinggi.

e. Geotextile Non Woven


Pemasangan NON WOVEN GEOTEXTILE meliputi empat langkah dasar yang harus
dilakukan:
1. Persiapan Subgrade/ tanah dasar
Bersihkan lokasi dari benda benda tajam. Bila diperlukan buang dan ganti tanah dasar yang
lunak dengan material yang lebih baik. (sesuaikan dengan perencanaan). Bila diperlukan
padatkan tanah dasar dengan alat pemadatan yang memadai. (sesuaikan dengan
perencanaan)
2. Penggelaran Geotextile dan Penyambungan
Secara umum, geotextile harus digelar pada bidang melintang. Geotextile harus digelar di
atas tanah dalam keadaan terhampar tanpa gelombang atau kerutan. Pada lahan yang luas
pemasangan geotextile bisa fleksibel (melintang atau memanjang). Dilokasi yang sulit
untuk melakukan pemotongan dan penyambungan, untuk mempermudah geotextile dapat
dipotong potong dan disambung/dijahit terlebih dahulu di tempat yang memungkinkan.
Penyambungan geotextile

Penyambungan geotextile satu dengan yang lain dapat dilakukan dengan cara saling
melewati (overlapp) atau dengan cara dijahit (Sewn). Dengan metode overlap, jarak
minimal yang overlapnya adalah 30 cm 100 cm tergantung kondisi subgrade dan teknik
pelaksanaan. Penjahitan panel geotextile dapat dilakukan di lapangan menggunakan mesin
jahit portable, menggunakan tenaga generator. Penjahitan di lapangan biasanya
memerlukan tiga sampai empat pekerja. Panel yang belum di jahit dapat disiapkan di
gudang (workshop) dalam berbagai macam panjang dan lebar yang diperlukan.Setelah
geotextile selesai disambung dan rapi, kemudian kita dapat menebar dan menempatkan
bronjong.

f. Pasangan Batu Rip Rap


Rip rap merupakan lapis pelindung terhadap erosi dibuat dari batu batu yang dipilih untuk
timbunan dan atau pada outlet perlindungan tebing yang terdiri dari dua jenis:
1. Rip rap tanpa siar
2. Riap rap dengan siar
Pemilihan dari dua jenis pekerjaan rip rap diatas dipakai berdasarkan keterjalan lereng,
kecepatan aliran air yang diperkirakan akan mengikis permukaan tersebut atau bahan
timbunan yang akan dipakai, dalam pelaksananan pekerjaan ini kita mengasumsikan
pekerjaan pemasangan rip rap dilakukan dengan metoda :
a. Konstruksi rip rap tanpa siar
Persiapan permukaan
Permukaan yang harus dilindungi harus dipangkas dengan tepat sampai garis elevasi yang
dikehendaki dan juga dipadatkan.
Jika bahan permukaan terdiri dari lumpur atau pasir, lapis kerikil yang gradasinya bagus
dengan tebal 10 cm harus dihamparkan dan dipadatkan.
Bahan batu
Batu bentuknya harus berdudut dan tahan terhadap arus / gerusan oleh udara dan air, berat
batu bervariasi antara 250 1000 kg. Batu kricak yang berbentuk seperti baji dengan
kualitas yang sama harus ada dalam jumlah yang cukup sebelum dilakukan pekerjaan
pemasangan batu rip rap.
Pemasangan batu
Batu harus dipasang pada suatu lapisan tunggal dengan sambungan yang tertutup mulai
dari kaki timbunan dengan batu batu yang paling besar pada ujung ini. Sambungan yang
terbuka harus diisi dengan kricak. Jika ada batu yang menonjol lebih dari 5 cm diatas batu
yang ada didekatnya, maka tanah harus digali lagi dan batu ditanam dengan baik pada
timbunan tersebut.

g. Gebalan Lempengan Rumput


Pekerjaan ini meliputi pekerjaan pengadaan, pengangkutan dan memasang Rumput
dilokasi pada tebing sebelah luar / dalam saluran agar tidak terjadi erosi. Gebalan Rumput

yang digunakan harus sesuai spesifikasi yang disyaratkan dengan kualitas Gebalan harus
berakar dan dicangkul setebal 4 cm. Dan Gebalan Rumput harus ditanamkan dalam
jajaran bersambung dan segera disiram air. Agar gebalan tidak tergelincir, maka harus
dipasang pasak bambu sedalam 10 cm. Rumput yang ditanam adalah jenis rumput Paitpaitan dengan pola tanam papan catur. Metode Pelaksanaan dan peralatan yang digunakan
harus sesuai petunjuk Direksi

3. PEKERJAAN LAIN-LAIN
a. Dokumentasi
Kontraktor harus mengadakan dan menyerahkan kepada Proyek photo-photo dokumentasi
pelaksanaan pekerjaan dalam keadaan lengkap beserta negatifnya. Photo-photo tersebut
harus dibuat pada setiap keadaan/tahapan pekerjaan dengan tempat/posisi pengambilan yang
tetap, yaitu :
1. Satu keadaan pada saat pekerjaan belum dimulai (kondisi 0%)
2. Satu keadaan pada saat pekerjaan sedang dikerjakan (kondisi 50%)
3. Satu keadaan pada saat pekerjaan telah selesai dikerjakan (kondisi 100%)

h. Pembuatan Prasasti

Prasasti 60 x 60 x T = 70 Belakang dan 50 Depan + Nama Pekerjaan pada Granit 40/30 cm


Pekerjaan ini dilaksanakan setelah pekerjaan lantai pengamanan pantai selesai, prasasti
terpasang pada salah satu tembok yang ditentukan oleh direksi pekerjaan.
Tata Cara Pelaksanaan Pekerjaan:
1. Bersama-sama Direksi Pekerjaan, dilakukan pemeriksaan ulang pekerjaan
2. Bersihkan permukaan yang akan dipasang prasasti
3. Pasang Prasasti dengan acian semen lalu bersihkan kembali prasasti dari kotoran.

Banda Aceh, 16 Juli 2013


CV. INDO MARCO

ISKANDAR IBRAHIM
Direktur