Anda di halaman 1dari 23

Kali ini, kita akan membahas tentang Konseling.

Wajib di baca..

KONSELING

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pengertian Konseling

Konseling berasal dari kata counsel yang artinya saran, melakukan diskusi dan pertukaran pendapat.
Konseling adalah suatu kegiatan bertemu dan berdiskusinya seseorang yang membutuhkan (klien) dan
seseorang yang memberikan (konselor) dukungan dan dorongan sedemikian rupa sehingga klien
memperoleh keyakinan akan kemampuannya dalam pemecahan masalah. Konseling pasien merupakan
bagian tidak terpisahkan dalam elemen kunci dari pelayanan kefarmasian, karena Apoteker sekarang ini
tidak hanya melakukan kegiatan compounding dan dispensing aja, tetapi juga harus berinteraksi dengan
pasien dan tenaga kesehatan lainnya dimana dijelaskan dalam konsep Pharmaceutical Care.
Dapat disimpulkan bahwa pelayanan konseling pasien adalah suatu pelayanan kefarmasian yang
mempunyai tanggung jawab etika serta medikasi legal untuk memberikan informasi dan edukasi
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan obat. Kegiatan konseling dapat diberikan atas inisiatif langsung
dari Apoteker mengingat perlunya pemberian konseling karena pemakaian obat-obat dengan cara
penanganan khusus, obat-obat yang membutuhkan terapi jangka panjang sehingga perlu memastikan
untuk kepatuhan pasien meminum obat. Konseling yang diberikan atas inisiatif langsung dari Apoteker
disebut konseling aktif. Selain konseling aktif dapat juga konseling terjadi jika pasien datang untuk
berkonsultasi pada apoteker untuk mendapatkan penjelasan tentang segala sesuatu yang berhubungan
dengan obat dan pengobatan, bentuk konseling seperti ini disebut konseling pasif.
Konseling obat adalah suatu prosesyang memberikan kesempatan kepada pasien untuk
mengeksplorasikan diri yang dapat mengarah pada peningkatan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran
tentang penggunaan obat yang benar.

B.

Manfaat dan Tujuan Konseling

Manfaat dari Konseling yaitu :


1.

Bagi Pasien :

a.

Menjamin keamanan dan efektifitas pengobatan

b.

Mendapatkan penjelasan tambahan mengenai penyakitnya

c.

Membantu dalam merawat atau perawatan kesehatan sendiri

d.

Membantu pemecahan masalah terapi dalam situasi tertentu

e.

Menurunkan kesalahan penggunaan obat

f.

Meningkatkan kepatuhan dalam menjalankan terpai.

g.

Menghindari reaksi obat yang tidak diinginkan

h.

Meningkatkan efektivitas dan efisiensi biaya kesehatan

2.

Bagi Farmasis

a.

Menjaga citra profesi sebagai bagian dari tim pelayan kesehatan.

b.

Mewujudkan bentuk pelayanan asuhan kefarmasian sebagai tanggung jawab profesi Farmasis

c.

Menghindari Farmasis dari tuntutan karena kesalahan pengguanaan obat (Medicatiaon Error)

d.
Suatu pelayanan tambahan untuk menarik pelanggan sehingga menjadi upaya dalam memasarkan
jasa pelayanan.
Tujuan dari konseling pada pelayanan farmasi adalah :
1.
Membian hubungan/komunikai farmasis dengan pasien dan membangun kepercayaan pasien kepada
farmasis.
2.

Memberikan informasi yang sesuai kondisi dan masalah pasien.

3.
Membantu pasien menggunakan obat sesuai tujuan terapi dengan memberikan cara/metode yang
memudahkan pasien menggunakan obat dengan benar.

C. Prinsip Konseling
Prinsip dasar konseling adalah terjadinya kemitraan atau korelasi antara pasien dengan Apoteker sehingga
terjadi perubahan perilaku pasien secara sukarela. Pendekatan Apoteker dalam pelayanan konseling
mengalami perubahan modela pendekatan "Medical Model" menjadi pendekatan "Helping Model". HalHal yang perlu diperhatikan oleh apoteker tertera dalam Tabel 1.

"Mengerti kebutuhan, keinginan, dan pilihan dari pasien"

1)

Menentukan Kebutuhan

Konseling tidak terjadi bila pasien datang tanpa ia sadari apa yang dibutuhkannya. Seringkali pasien
datang tanpa dapat mengungkapkan kebutuhannya, walaupun sebetulnya ada sesuatu yang dibutuhkan.
Oleh karena itu dilakukan pendekatan awal dengan mengemukakan pertanyaan terbuka dan mendengar
dengan baik dan hati-hati.
2)

Perasaan

Farmasis harus dapat mengerti dan menerima perasaan pasien (berempati). Farmasis harus
mengetahui dan mengerti perasaan pasien (bagaimana perasaan menjadi orang sakit) sehingga dapat
berinteraksi dan menolong dengan lebih efektif. Beberapa bentuk perasaan atau emosi pasien dan cara
penanganannya adalah sebagai berikut :
a) Frustasi yaitu membantu menumbuhkan rasa keberanian pasien untuk mencari alternatif jalan lain
yang lebih tepat dan meminimalkan rasa ketidaknyamanan dari aktifitas hariannya yang tertunda.
b) Takut dan cemas yaitu membantu menjernihkan situasi apa yang sebenarnya ditakutinya dan
membuat pasien menerima keadaan dengan keberanian yang ada dalam dirinya.
c) Marah yaitu mencoba ikut terbawa suasana marahnya, dan jangan juga begitu saja menerima
kemarahannya tetapi mencari tahu kenapa pasien marah dengan jalan mendengarkan dan berempati.
d) Depresi yaitu Usahakan membiarkan pasien mengekspresikan penderitaannya, membiarkan
privasinya, tetapi dengarkan jika pasien ingin bicara
e)

Hilang kepercayaan diri

f)

Merasa bersalah

D.

Sasaran Konseling

a.

Konseling Pasien Rawat Jalan

b.

Konseling Pasien Rawat Inap

E.

Kegiatan Konseling

Kegiatan konseling meliputi beberapa hal yaitu :


a.

Persiapan dalam melakukan konseling

b.

Tahap konseling

Pembukaan

Diskusi untuk mengumpulkan informasi dan identifikasi masalah


Diskusi untuk mencegah atau memecahkan masalah dan mempelajarinya
Memastikan pasien telah memahami informasi yang diperoleh
Menutup diskusi
Follow up diskusi
Aspek Konseling yang harus disampaikan :
a.

Deskripsi dan kekuatan obat

b.

Jadwal dan cara penggunaan

c.

Mekanisme kerja obat

d.

Dampak gaya hidup

e.

Penyimpanan

f.

Efek potensial yang tidak diinginkan

Masalah dalam konseling yaitu :


a.

Faktor penyakit

b.

Faktor terapi

c.

Faktor pasien

d.

Faktor komunikasi

F.

Hal-hal yang harus disiapkan dalam memberikan pelayanan Konseling pada pasien

Sebelum memberikan konseling ada beberap hal yang harus diketahuio oleh seorang apoteker agar tujuan
konseling tercapai .Hal yang Perlu diperhatikan adalah latar belakang pasien (database pasien ) seperti
biodata, riwayat penyakit, riwayat pengobatan, alergi, riwayat keluarga ,sosial dan ekonomi.Hal kedua
yang pelu diperhatikan adalah membuat daftar masalah yang dihadapi pasien( terutama masalah yang
berkaitan dengan obat ). Setelah kedua hal tersebut dilakukan barudapat memberikan konseling
berdasarkan masalah yang sudah di susun kemudian dapat dilihatdari perubahan sikap pasien apakah
konseling yang telah diberikan sudah tepat atau belum.

G.

Kendala dalam pemberian obat dan konseling

Berbagai kendala dalam memberikan konseling dapat terjadi pada prosespengobatan dan pemberian
konseling. Kendala yang berasal dari pasien antara lain adalahperasaan marah, malu, sedih, takut, raguragu. Hal ini dapat diatasi dengan bersikap empathy,mencari sumber timbulnya masalah tersebut, tetap
bersikap terbuka dan siap membantu.Untuk kendala yang berasal dari Latarbelakang pendidikan, budaya
dan bahasa Kendala dapat diatasi dengan Menggunakan istilah sederhana dan dapat dipahami, Berhatihati dalam menyampaikan hal yang sensitif , atau Menggunakan penterjemah.Untuk kendala yang berasal
dari f isik dan mental dapat diatsai dengan upaya menggunakanalat bantu yang sesuai atau Melibatkan
orang yang merawatnya.Sedangkan Kendala yang berasal dari tenaga farmasi dapat berupa m endominasi
percakapan,Menunjukkan sikap yang tidak memberikan perhatian dan tidak mendengarkan apa
yangpasien sampaikan, cara berbicara yang tidak sesuai (terlalu keras , sering mengulang suatukata ),
Menggunakan istilah yang terlalu teknis yang tidak dipahami pasien, sikap dan gerakanbadan yang tidak
sesuai yang dapat mengganggu konsentrasi pasien, sedikit atau terlalubanyak melakukan kontak mata
dengan pasien.Bila ini terjadi pada upaya mengatasinya adalah dengan Memberikan pasien
kesempatanuntuk menyampaikan masalahnya dengan bebas, menunjukan kepada pasien bahwa apa
yangdisampaikannya didengarkan dan diperhatikan melalui sesekali anggukan kepala, kata ya dansikap
badan yang cenderung ke arah pasien, Menyesuaikan volume suara dan mengurangikebiasaan
mengeluarkan kata-kata yang mengesankan gugup dan tidak siap, menghindaripemakaian istilah yang
tidak dipahami oleh pasien, tidak menyilangkan kedua tangan danmenghindari gerakan berufang yang
tidakk pada tempatnya dan Menjaga kontak mata dengan pasien.
Selain kendala - kendala tersebut diatas terdapat kendala lain yang kadang kurang diperhatikanoleh
tenaga farmasi . kendala tersebut adalah lingkungan pada saat konseling dilakukan. Tempat yang terbuka,
suasana yang bising, sering adanya interupsi, adanya partisi (kacakounter ) dapat mempengaruhi pasien
dalam menerima konseling. Hal ini harus diperhatikanoleh tenaga farmasi dalam memberikan konseling.
Adanya tempat khusus ataupun tidakmenerima telepon atau tamu lain dapat memberikan rasa privasi dan
nyaman kepada pasien .Itulah sekilas pandangan tentang pelayan konseling pasien , diharapkan dengan
melakukanpelayanan konseling secara benar dan konsisten akan meningkatkan peran dan citra
tenagafarmasi di masyarakat luas

H.

Modal Untuk Melaksanakan Konseling Bagi Pasien

1.

MENGUASAI ILMU

Kalau kita menguasai ilmu yang akn kita sampaikan, maka kita akan dapat berbicr lacr, meyakinkn
sehingga pasen akan puas dan pecaya, ini meupakan kunci utama. Kalu psien sudah percaya maka
mereka akan patuh.
2.

KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI

Ini penting, karena teknik berbicara akan sangat berpengaruh pada keberhasilan komunikasi

I.

Metode Konseling

Beberapa metode Konseling yaitu :


1.

Three Prime Questions

Bagaimana Penjelasan Dokter ttg Obat Anda ?


Bagaimana Penjelasan Dokter ttg Cara Pakai Obat Anda ?
Bagaimana Penjelasan Dokter ttg Harapan setelah minum/memakai Obat Anda ?
2.

Final Verification

Meminta Pasien utk Mengulang Instruksi


Yakin Bahwa pesan tidak ada terlewat
Koreksi bila ada Salah Informasi
3.

Show and Tell

Melakukan Cerita
Melakukan Peragaan
Melalui Gambar, Tayangan

J.

Tahapan Proses Konseling

Tahapan-tahapan proses konseling meliputi yaitu :


1.

Pengenalan/ pembuka

Tujuan : pendekatan dan membangun kepercayaan


Teknik :
a.

Memperkenalkan diri

b.

Menjelaskan tujuan konseling, mengapa dan berapa lama ?

Contoh Pengenalan/ pembukaan :


a.

Sapa pasien dengan ramah

b.

Perkenal diri anda

c.

Jelaskan tujuan konseling

d.

Informasikan lama waktu yang dibutuhkan

selamat pagi, saya Tanti, Apoteker disisni ( perkenalkan diri ). Saya ingin menanyakan beberapa
pertanyaan singkat tentang obat-obatan yang baru Anda peroleh (subjyek yang akan ditanyakan ). Hanya
butuh waktu beberapa menit saja (waktu yang dibutuhkan ). Informasi yang Anda berikan nanti akan
sangat membantu kita untuk mengenali masalah yang mungkin timbul dari obat-oabt yang baru anda
terima ini. (tujuan/iuran)
2.

Penilaian Awal/Identifikasi

Tujuan : menilai pengetahuan pasien dan kebutuhan informasi yang harus dipenuhi.
Perhatikan apakah pasien baru/lama dan peresepan baru/lama/OTC
Teknik :Three Prime Questions
Contoh:
Pasien mendapat obat antihipertensi
Ny. Jamilah: Dokterbilang, sayamemerlukanobatini, tapisayamerasabaik-baiksaja, mungkinsayabenarbenartidakmembutuhkannya?
Tn.Jamil: Saya tahu TD saya tinggi dan harus minum obat secara teratur, tapi jadwal saya sibuk dan
sering lupa?
Pasien baru: Apakah sudah mendapatkan informasi tentang: nama obat, kegunaan dan cara penggunaan
inhaler.. ?
Pasien Lama: Apakah ada masalah tentang cara penggunaan inhaler, kepatuhan..?
3.

Pemberian Informasi

Tujuan: Mendorong perubahan sikap/prilaku agar memahami dan mengikuti regimen terapi.
Tehnik :Show & Tell
Contoh Pemberian informasi
Berikan informasi pokok tentang:
Nama obat dan bentuk sediaan
Kegunaan inhaler
Cara menggunakan inhaler
Cara penyimpanan (suhu<30 c="" cahaya="" span="" terlindung="">
Gunakan sarana: Poster, contoh inhaler
Cara Penggunaan Inhaler

Information Sheet ?

a.

Mengeluarkan dahak / lendir(bila ada)

b.

Latihan nafas

c.

Periksa alat / wadah

d.

Tahap penggunaan:

1)

Kocok dulu dan buka penutup.

2)

Tarik dan keluarkan nafas.

3)

Pasang alat dimulut.

4)

Ambil nafas pelan-dalam dan tekan alat

5)

Tutup mulut,tahan nafas 5-10 detik,alat dilepas.

6)

Keluarkan nafas lewat hidung,bila ada dosis ke-2, beri jarak 5 mnt.

7)

Cuci mulut atau berkumur.

4.

Verifikasi

Tujuan :
a.

Untuk memastikan apakah pasien memahami informasi yang sudah disampaikan.

b.

Mengulang hal-hal penting.

Tehnik : fill in the gaps


Contoh Penilaian akhir/ Verifikasi yaitu:
Bertanya tentang pemahaman informasi yang disampaikan.
Meminta pasien untuk menceritakan dan memperagakan ulang cara penggunaan.
5.

Tindak lanjut

Tujuan :
a.

Mengikuti perkembangan pasien

b.

Monitoring keberhasilan pengobatan.

Tehnik :
a.

Membuat patient medication record(PMR)

b.

Komunikasi melalui telepon.

Contoh Penutup / Tindak lanjut:


Ingatkan waktu untuk kontrol
Berikan salam dan ucapkan semoga lekas sembuh
Lakukan pencatatan pada kartu konseling/ PMR.

K.

Komponen konseling

Enam komponen konseling minimal yaitu:


a.

Nama obat, jumlahnya dan indikasinya

b. Aturan pakai, cara dan lama pemakaian


c.

Interaksi obat

d.

Efek samping obat

e.

Pengaruh terhadap pola hidup, pola makan

f.

Cara penyimpanan

Komunikasi dan Konseling Apoteker pada Pasien


Konseling kefarmasian merupakan tugas wajib dari apoteker untuk membantu masyarakat guna
menyelesaikan masalah kesehatan yang umumnya terkait dengan sediaan farmasi agar dapat
meningkatkan kualitas hidup pasien tersebut sehingga pasien dapat menyelesaikan masalahnya sesuai
dengan kemampuan dan kondisi masyarakat itu sendiri. Konseling kefarmasian bukan hanya sekedar
pemberian informasi obat (PIO), namun dapat menambahkan pengetahuan pasien tentang kondisi dan
informasi tentang hal-hal apa saja yang dapat dilakukan pasien agar tercapainya tujuan terapi yang
maksimal. Para apoteker praktisi harus selalu melatih menggunakan teknik-teknik konseling yang
dibutuhkan pada praktek komunitas untuk mendapatkan konseling yang efektif.

Tujuan pemberian konseling kepada pasien adalah untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan
kemampuan pasien dalam menjalani pengobatannya serta untuk memantau perkembangan terapi yang
dijalani pasien. Ada tiga pertanyaan utama (Three Prime Questions) yang dapat digunakan oleh apoteker
dalam membuka sesi konseling untuk pertama kalinya pada pasien dengan resep dokter. Pertanyaan
tersebut adalah sebagai berikut:

1. Apa yang telah dokter katakan tentang obat anda?

2. Apa yang dokter jelaskan tentang harapan setelah minum obat ini?

3. Bagaimana penjelasan dokter tentang cara minum obat ini?

Pengajuan ketiga pertanyaan di atas dilakukan dengan tujuan agar tidak terjadi pemberian informasi yang
tumpang tindih (menghemat waktu), mencegah pemberian informasi yang bertentangan dengan informasi
yang telah disampaikan oleh dokter (misalnya menyebutkan indikasi lain dari obat yang diberikan)
sehingga pasien tidak akan meragukan kompetensi dokter atau apoteker, dan juga untuk menggali
informasi seluas-luasnya (dengan tipe open ended question).

Tiga pertanyaan utama tersebut dapat dikembangkan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut sesuai dengan
situasi dan kondisi pasien:

1. Apa yang dikatakan dokter tentang peruntukan/kegunaan pengobatan anda?

Persoalan apa yang harus dibantu?

Apa yang harus dilakukan?

Persoalan apa yang menyebabkan anda ke dokter?

2. Bagaimana yang dikatakan dokter tentang cara pakai obat anda?

Berapa kali menurut dokter anda harus menggunakan obat tersebut?

Berapa banyak anda harus menggunakannya?

Berapa lama anda terus menggunakannya?

Apa yang dikatakan dokter bila anda kelewatan satu dosis?

Bagaimana anda harus menyimpan obatnya?

Apa artinya tiga kali sehari bagi anda?

3. Apa yang dikatakan dokter tentang harapan terhadap pengobatan anda?

Bagaimana anda tahu bahwa obatnya bekerja?

Pengaruh buruk apa yang dikatakan dokter kepada anda untuk diwaspadai?

Perhatian apa yang harus anda berikan selama dalam pengobatan ini?

Apa yang dikatakan dokter apabila anda merasa makin parah/buruk?

Pada akhir konseling perlu dilakukan verifikasi akhir untuk lebih memastikan bahwa hal-hal yang
dikonselingkan dipahami oleh pasien.

Langkah Konseling:

Ada 3 langkah pokok konseling yang harus dilaksanakan yaitu :

1) Pendahuluan,

a) Menyapa dan memperkenalkan diri pada pasien

b) Menanyakan identitas pasien

c) Menanyakan informasi yang telah diperoleh pasien dari dokter

d) Mengkonfirmasi kesanggupan pasie untuk menebus resep obat

2) Proses Konseling

a) Menanyakan ketersediaan pasien dalam menerima konseling

b) Menentukan tempat pemberian konseling yang nyaman

c) Menjelaskan mengenai obat yang diperoleh pasien, berupa :

i) Nama obat

ii) Khasiat obat

iii) Cara penggunaan

iv) Waktu penggunaan

v) Interaksi obat

vi) Cara penyimpanan obat

vii) Lama penggunaan obat

viii) Efek samping jika ada

d) Menjelaskan mengenai informasi yang mendukung kesembuhan pasien

e) Melakukan verifikasi informasi yang telah diberikan

3) Bagian akhir, penyimpulan dari seluruh aspek kegiatan dan merupakan tahap penutupan untuk
pertemuan berikutnya.

- Peran Apoteker

Print

BAB V - PERAN APOTEKER


5.1 Pharmaceutical Care
Dalam evolusi perkembangan pelayanan farmasi telah terjadi pergeseran orientasi pelayanan farmasi dari
orientasi terhadap produk menjadi orientasi terhadap kepentingan pasien yang dilatarbelakangi oleh
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan serta menguatnya tuntutan terhadap
jaminan keselamatan pasien. Orientasi terhadap kepentingan pasien tanpa mengesampingkan produk
dikenal dengan konsep Pharmaceutical Care. Dengan banyak ditemukannya masalah yang berkaitan
dengan obat dan penggunaannya; semakin meningkatnya keadaan sosio-ekonomi dan tingkat pendidikan
masyarakat; serta adanya tuntutan dari masyarakat akan pelayanan kefarmasian yang bermutu terutama di
rumah sakit maupun di komunitas, Pharmaceutical Care merupakan hal yang mutlak harus diterapkan.

Penekanan Pharmaceutical Care terletak pada dua hal utama, yaitu:


Apoteker memberikan pelayanan kefarmasian yang dibutuhkan pasien sesuai kondisi penyakit.
Apoteker membuat komitmen untuk meneruskan pelayanan setelah dimulai secara berkesinambungan.
Secara prinsip, Pharmaceutical Care atau pelayanan kefarmasian terdiri dari beberapa tahap yang harus
dilaksanakan secara berurutan:
Penyusunan informasi dasar atau database pasien.
Evaluasi atau Pengkajian (Assessment).
Penyusunan Rencana Pelayanan Kefarmasian (RPK).
Implementasi RPK.
Monitoring Implementasi.
Tindak Lanjut (Follow Up).
Keseluruhan tahap pelayanan kefarmasian ini dilakukan dalam suatu proses penyuluhan dan konseling
kepada pasien mengenai penyakit yang dideritanya.

5.2 Peran Apoteker


Sebagai seorang tenaga profesional, seorang apoteker hendaknya berperan dalam membantu upaya
pemerintah dalam menciptakan masyarakat Indonesia yang sehat dan mandiri. Apoteker khususnya harus
berperan aktif dalam penanganan penyakit-penyakit yang membutuhkan pengobatan jangka panjang,
memiliki prevalensi yang tinggi dan juga membahayakan jiwa. Penyakit hati termasuk penyakit yang
cukup banyak diderita masyarakat Indonesia, jenisnya beragam dan membutuhkan penanganan yang
berbeda. Peran serta apoteker ini didasari dengan pengetahuan yang dimiliki apoteker tentang
patofisiologi penyakit; diet yang harus dijalani; obat-obatan yang diperlukan atau harus dihindari oleh
pasien penyakit hati.

Peran aktif apoteker di antaranya adalah sebagai berikut:


1. Melakukan upaya pencegahan penyakit hati Upaya ini diwujudkan melalui:

Pemberian penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit-penyakit hati; gejala awal, sumber penyakit,
cara pencegahan dan pertolongan pertama yang harus dilakukan.
Pembuatan buletin, leaflet, poster, dan iklan layanan masyarakat seputar penyakit liver dalam rangka
edukasi di atas.

Berpartisipasi dalam upaya pengendalian infeksi di rumah sakit melalui Komite Pengendali Infeksi
dengan memberikan saran tentang pemilihan antiseptik dan desinfektan; menyusun prosedur, kebijakan
untuk mencegah terkontaminasinya produk obat yang diracik di instalasi farmasi atau apotek; menyusun
rekomendasi tentang penggantian, pemilihan alat-alat kesehatan, injeksi, infus, alat kesehatan yang
digunakan untuk tujuan baik invasive maupun non-invasif, serta alat kesehatan balut yang digunakan di
ruang perawatan, ruang tindakan, maupun di unit perawatan intensif (ICU).
2. Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien untuk mempercepat proses penyembuhan, mencegah
bertambah parah atau mencegah kambuhnya penyakit. Hal ini dilakukan dengan cara:

Memberikan informasi kepada pasien tentang penyakitnya dan perubahan pola hidup yang harus dijalani
(misalnya: diet rendah lemak dan garam, tidak minum minuman beralkohol, istirahat yang cukup).
Menjelaskan obat-obat yang harus digunakan, indikasi, cara penggunaan, dosis, dan waktu
penggunaannya.
Melakukan konseling kepada pasien untuk melihat perkembangan terapinya dan memonitor kemungkinan
terjadinya efek samping obat.

5.3 Kompetensi Apoteker


Kompetensi yang diperlukan seorang apoteker untuk dapat memberikan pelayanan kefarmasian terhadap
pasien penyakit liver di antaranya adalah:
Pemahaman patofisiologi penyakit liver.
Penguasaan farmakoterapi penyakit liver.
Penguasaan farmakologi obat-obat yang digunakan pada pengobatan penyakit hati.
Memiliki kemampuan komunikasi yang baik dalam pemberian konseling kepada pasien ataupun ketika
berdiskusi dengan tenaga kesehatan lain.
Memiliki keterampilan dalam mencari sumber literatur untuk Pelayanan Informasi Obat penyakit hati.
Monitoring terapi pengobatan yang telah dilakukan dan kemungkinan terjadinya efek samping
obat.
Memiliki kemampuan menginterprestasikan hasil laboratorium.

5.4 Konseling
Tujuan pemberian konseling kepada pasien adalah untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan
kemampuan pasien dalam menjalani pengobatannya serta untuk memantau perkembangan terapi yang

dijalani pasien. Ada tiga pertanyaan utama (Three Prime Questions) yang dapat digunakan oleh apoteker
dalam membuka sesi konseling untuk pertama kalinya. Pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

Apa yang telah dokter katakan tentang obat anda?


Apa yang dokter jelaskan tentang harapan setelah minum obat ini?
Bagaimana penjelasan dokter tentang cara minum obat ini?

Pengajuan ketiga pertanyaan di atas dilakukan dengan tujuan agar tidak terjadi pemberian informasi yang
tumpang tindih (menghemat waktu); mencegah pemberian informasi yang bertentangan dengan informasi
yang telah disampaikan oleh dokter (misalnya menyebutkan indikasi lain dari obat yang diberikan)
sehingga pasien tidak akan meragukan kompetensi dokter atau apoteker; dan juga untuk menggali
informasi seluas-luasnya (dengan tipe open ended question).
Tiga pertanyaan utama tersebut dapat dikembangkan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut sesuai dengan
situasi dan kondisi pasien:

1. Apa yang dikatakan dokter tentang peruntukan/kegunaan pengobatan anda?

Persoalan apa yang harus dibantu?


Apa yang harus dilakukan?
Persoalan apa yang menyebabkan anda ke dokter?
2. Bagaimana yang dikatakan dokter tentang cara pakai obat anda?

Berapa kali menurut dokter anda harus menggunakan obat tersebut?


Berapa banyak anda harus menggunakannya?
Berapa lama anda terus menggunakannya?
Apa yang dikatakan dokter bila anda kelewatan satu dosis?
Bagaimana anda harus menyimpan obatnya?
Apa artinya tiga kali sehari bagi anda?
3. Apa yang dikatakan dokter tentang harapan terhadap pengobatan anda?

Pengaruh apa yang anda harapkan tampak?


Bagaimana anda tahu bahwa obatnya bekerja?
Pengaruh buruk

apa yang dikatakan dokter kepada anda untuk diwaspadai?

Perhatian apa yang harus anda berikan selama dalam pengobatan ini?
Apa yang dikatakan dokter apabila anda merasa makin parah/buruk?
Bagaimana anda bisa tahu bila obatnya tidak bekerja?

Pada akhir konseling perlu dilakukan verifikasi akhir (tunjukkan dan katakan) untuk lebih memastikan
bahwa hal-hal yang dikonselingkan dipahami oleh pasien terutama dalam hal penggunaan obatnya dapat
dilakukan dengan menyampaikan pernyataan sebagai berikut:
sekedar untuk meyakinkan saya supaya tidak ada yang kelupaan, silakan diulangi bagaimana anda
menggunakan obat anda.
Salah satu ciri khas konseling adalah lebih dari satu kali pertemuan. Pertemuan-pertemuan selanjutnya
dalam konseling dapat dimanfaatkan apoteker dalam memonitoring kondisi pasien. Pemantauan terhadap
kondisi pasien dapat dilakukan Apoteker pada saat pertemuan konsultasi rutin atau pada saat pasien
menebus obat, atau dengan melakukan komunikasi melalui telepon atau internet. Pemantauan kondisi
pasien sangat diperlukan untuk menyesuaikan jenis dan dosis terapi obat yang digunakan. Apoteker harus
mendorong pasien untuk melaporkan keluhan ataupun gangguan kesehatan yang dirasakannya sesegera
mungkin.

5.5 Penyuluhan
Penyuluhan tentang pencegahan dan penanggulangan penyakit liver perlu dilaksanakan secara
berkelanjutan mengingat sebagian besar penyebab penyakit hati adalah karena kurangnya pengetahuan
dan kesadaran masyarakat dalam melindungi diri mereka terhadap penyakit-penyakit hati tersebut.
Penyuluhan dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. Penyuluhan langsung dapat
dilakukan secara perorangan maupun kelompok; sedangkan penyuluhan tidak langsung dapat dilakukan
melalui penyampaian pesan-pesan penting dalam bentuk brosur, leaflet atau tulisan dan gambar di dalam
media cetak atau elektronik.
Apoteker diharapkan dapat memberikan penyuluhan secara personal dengan pasien penyakit liver.
Penyuluhan secara personal dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatannya.
Hendaknya apoteker memastikan bahwa pasien tahu tentang penyakit yang dideritanya, pentingnya
kepatuhan terhadap diet yang disarankan serta akibat dari ketidakpatuhan atau kelalaian dalam
menjalankan terapi pengobatannya. Pasien harus diberi pengertian bahwa penyakit liver, khususnya
hepatitis dapat menimbulkan komplikasi lebih lanjut seperti asites, sirosis hati dan kematian apabila tidak

ditangani dengan baik. Pasien juga harus diberikan daftar obat-obatan yang tidak boleh diminum, seperti
misalnya parasetamol yang bersifat hepatotoksik; jadi apoteker harus mengingatkan pasien untuk
menggunakan obat yang lain (misalnya asetosal) pada saat pasien terserang demam.

5.6 Dokumentasi
Dalam menjalankan tugasnya, seorang Apoteker hendaknya mendokumentasikan segala kegiatannya ke
dalam bentuk dokumentasi yang sewaktu-waktu dapat diakses ataupun ditinjau ulang. Hal ini sebagai
bukti otentik pelaksanaan pelayanan kefarmasian yang dapat digunakan untuk tujuan penelitian maupun
verifikasi pelayanan. Dokumentasi juga akan memudahkan tugas Apoteker dalam memberikan pelayanan
informasi obat untuk kasus yang sama, Apoteker tidak perlu menelusuri literatur dari awal lagi, cukup
dengan melihat arsip kasus sebelumnya.

Sasaran KONSELING

Sasaran Konseling
Pemberian konseling ditujukan baik untuk pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap. Konseling dapat
diberikan kepada pasien langsung atau melalui perantara. Perantara yang dimaksud disini adalah keluarga
pasien, pedamping pasien, perawat pasein,atau siapa saja yang bertanggung jawab dalam perawatan
pasien. Pemberian konselng melalui perantara diberikan jika pasien tidak mampu mengenali obat-obatan
dan terapinya, pasien geriadtrik.
a.

Konseling Pasien Rawat Jalan

Pemberian konseling untuk pasien rawat jalan dapatdibeikan pada pasien mengambil obat di Apotek,
Puskesmas, dan di sarana kesehatan lainnya. Kegiatan ini bisa dilakukan di Counter pada saat penyerahan
obat tetapi lebih efektif bila dilakukan di ruang khusus yang disediakan untuk konseling. Pemilihan

tempat konseling tergantung dari kebutuhan dan tingkat karahasiaan/kerumitan akan hal-hal yang
dikonselingkan kepada pasien. Konseling pasien rawat jalan diutamakan pada pasien yang :
1.
Menjalani terapi untuk penyakit kronis, dan pengobatan jangka panjang. (diabetes, TBC, epilepsy,
HIV/AIDS, dll)
2.
Mendapatkan obat dengan bentuk sediaan tertentu dan dengan cara pemakaian yang khusus.
Missal : suppositoria, nema, inhaler, injeksi insulin dll
3.

Mendapatkan obat dengan cara penyimpanan yang khusus.misal : insulin dll

4.
Mendapatkan obat-obatan dengan aturan pakai yang rumit, misalnya : pemakaian kortikosteroid
dengan tapering down
5.

Golongan pasien yang tingkat kepatuhannya rendah, misalnya : geriatric, pediadtrik

6.

Mendapatkan obat dengan indeks terapi sempit ( digoxin, phenytoin, dll )

7.

Mendapatkan terapi obat-obatan dengan kombinasi yang banyak ( polifarmasi )

b.

Konseling Pasien Rawat Inap

Konseling pada pasien rawat inap, diberikan pada saat pasien akan melanjutkan terapi dirumah.
Pemberian konseling harus lengkap seperti pemberian konseling pada rawat jalan, karena setelah pulang
dari rumah sakit pasien harus mengelolah sendiri terapi obat dirumah.
Selain pemberian konseling pada saat akan pulang, konseling pada pasien rawat inap juga diberikan pada
kondisi sebagai berikut :
1.
Pasien dengan tingkat kepatuhan dalam minum obat rendah. Kadang-kadang dijumpai pasien yang
masih dalam perawatan tidak meminum obat yang disiapkan pada waktu yang sesuai atau bahkan tidak
diminum sama sekali.
2. Adanya perubahan terapi yang berupa penambahan terapi, perubahan regimen terapi, maupun
perubahan rute pemberian.

Aspek konseling yang harus disampaikan kepada pasien


1.

Deskripsi dan kakuatan obat

Farmasis harus memberikan informasi kepada pasien mengenai :

Bentuk sediaan dan cara pemakaiannya

Nama dan zat aktif yang terkandung didalamnay

Kekuatan obat (mg/g)

2.

Jadwal dan cara penggunaan

Penekanan dilakukan untuk obat dengan instruksi khusus seperti minum obat sebelum makan , jangan
diminum bersama susu dan lain sebagainya. Kepatuhan pasien tergantung pada pemahaman dan perilaku
social ekonominya.
3.

Mekanisme kerja obat

Farmasis harus mengetahui indiikasi obat, penyakit/gejala yang sedang diobati sehingga Farmasis dapat
memilih mekanisme mana yang harus dijelaskan,ini disebabkan karena banyak obat yang multi-indikasi.
Penjelasan harus sederhana dan ringkas agar mudah dipahami oleh pasien.
4.

Dampak gaya hidup

Banyak regimen obat yang memaksa pasien untuk mengubah gaya hidup. Farmasis harus dapat
menanamkan kepercayaaan pada pasien mengenai manfaat perubahan gaya hidup untuk meningkatkan
kepatuhan pasien.
5.

Penyimpanan

Pasien harus diberitahukan tentang cara penyimpanan obat terutama obat-obat yang harus disimpan pada
temperature kamar, adanya cahaya dan lain sebagainya. Tempat penyimpanan sebaiknya jauh dari
jangkauan anak-anak.
6.

Efek potensial yang tidak diinginkan

Farmasis sebaiknya menjelaskan mekanisme atau alas an terjadinya toksisitasnya sederhana. Penekanan
penjelasan dilakuakn terutama untuk obat yang menyebabkan perubahan warna urin, yang menyebabkan
kekeringan pada mukosa mulut, dan lain sebagainya. Pasien juga diberitahukan tentang tanda dan gejala
keracunan.

Infrastruktur Konseling
A.

Sumber Daya Manusia

Kegiatan konseling obat dilakukan oleh tenaga profesi dalam hal ini, Farmasis yang mempunyai

kompentensi dalam pemberian konseling obat. Farmasis yang melaksanakan kegiatan konseling harus
memahami baik aspek farmakoterapi obat maupun teknik berkomunikasi dengan pasien. Dalam
mewujdkan pelayanan koseling yang baik maka kemampuan komunikasi harus ditingkatkan. Ini penting
agar terjalin komunikasi yang efektif dan inttensif antara Farmasis dengan pasien. Strategi komunikasi
yang dapat dipakai oleh Farmasis dalam melaksanakan konseling adalah sbb:
1.

Membantu dengan cara bersahabat :

Pasien yang pasif akan mempersulit apoteker untuk membuat kesepakatan dan memberikan bantuan
pengobatan. Sangat pentingn bagi apoteker untuk menciptakan suasana yang bersahabat dengan pasien,
ini akan mempengaruhi suasana hati pasien dan pasien menjadi percaya kepada apoteker. Apoteker dapat
memulai konseling dengan menyapa pasien dengan namanya, memperkenalkan diri, memberikan sedikit
waktu untuk pembicaraan umum sebelum memulai pembicaraan tentang pengobatan. Selama konseling
berlangsung maka apoteker harus mendengarkan dengan sungguh-sungguh setiap perkataan pasien.
Selain itu apoteker juga harus memperhatikan bahasa tubuhnya agar pasien merasa lebih dihargai.
2.

Menunjukkan rasa empati pada pasien

Sangat penting adanya perasaan empati pada pasien selama sesi konseling dilakukan. Ketika apoteker
menunjukkan rasa empati maka pasien akan merasa apoteker peduli kepadanya. Penting bagi apoteker
untuk tahu tentang kebutuhan pasien, ketertarikan pasien, motivasi, tingkat pendidikan agar dapat
disesuaikan dengan informasi yang akan diberikan oleh apoteker. Menunjukkan rasa empati berarti bahwa
komunikasi berjalan dengan baik.
3.

Kemampuan nonverbal dalam berkomunikasi

Ada beberapa kemampuan nonverbal yang sangat membantu keberhasilan konseling antara apoteker dan
pasien, yaitu :

Senyum dan wajah yang bersahabat, apoteker harus menunjukan perasaan yang bahagia saat akan
melakukan konseling, karena ekspresi wajah apoteker akan mempengaruhi suasana hati pasien.

Kontak mata, kontak mata langsung boleh terjadi 50% sampai 75% selama sesi konseling.

Gerakan tubuh, harus dilakukan seefektif mungkin. Jika terlalu berlebihan kadang akan
mempengaruhi mood pasien. Sentuhan pada pasien juga kadang dibutuhkan untuk membuatnya merasa
tenang.

Jarak antara apoteker dan pasien, jarak yang terlalu jauh membuat komunikasi menjadi tidak
efektif, begitu juga dengan jarak yang terlalu dekat. Sehinggga posisi dan jarak duduk antara apoteker dan
pasien diatur agar pasien merasa nyaman.

Intonasi Suara, selama komunikasi berlangsung intonasi suara apoteker harus diperhatikan. Suara
yang terlalu pelan atau keras membuat komunikasi menjadi tidak efektif. Begitu juga dengan penekananpenekanan kalimat yang dilakukan.

Penampilan apoteker yang bersih dan rapih membuat pasien merasa lebih nyaman.