Anda di halaman 1dari 3

Linkungan Hidup Dalam Perspektif Ilmu Hubungan Internasional

Dewasa ini isu-isu mengenai lingkungan hidup menjadi hal yang sering
diperbincangkan. Hal ini dikarenakan makin menurunnya kualitas lingkungan dalam
tahun-tahun terakhir. Data dan fakta menyajikan bahwa kini habitat alam telah
hancur, ekosistem laut dan makhluk hidup di dalamnya makin berkurang jumlahnya
karena perburuan, tanah subur dalam jumlah yang besar kian sulit ditemukan.
Kerusakan alam yang terjadi menyebabkan berkurangnya jumlah tanaman dan
hewan tiap tahunnya. Permasalahan pembuangan limbah juga muncul dimanamana baik daratan, perairan, dan udara. Limbah-limbah ini meliputi bahan kimia
berbahaya, logam berat, bahan-bahan radioaktif, mereka dibuang di laut dan
mencemari sungai. Mereka bercampur dengan minyak dan menjadi polusi perairan
yang berbahaya. (Pandangan umum tentang lingkungan hidup)
Mengenai lingkungan hidup sebenarnya bukanlah isu yang baru. Kehidupan
manusia sudah lama berakibat terhadap penurunan kualitas lingkungan. Manusia
memiliki kecenderungan untuk mengeksploitasi bahan-bahan yang disediakan
lingkungan sebagai penunjang kehidupan yang terkadang berakibat terhadap
hilangnya komunitas itu sendiri. Awalnya, isu-isu lingkungan muncul dalam politik
internasional pada abad 19 dalam bentuk persetujuan internasional untuk mengatur
sumber daya alam. Contohnya the River Commissions for the Rhine and the
Danube yang awalnya dibentuk untuk memfasilitasi sungai sebagai alat transportasi
perairan dalam lingkup ekonomi, kini makin hirau dengan isu mengenai politik
(Greene, 2001: 389). Perhatian mengenai lingkungan kian santer terdengar pada
tahun 1960an, bahwa dunia internasional memerlukan persetujuan mengenai
pelestarian lingkungan, hal ini terutama digagas negara-negara maju. (Awal mula
lahirnya isu lingkungan hidup)
Merespon isu-isu yang terjadi pada 1960an seperti polusi laut karena
jatuhnya kapal minyak Torey Canyon, meningkatnya kesadaran tentang bahaya
radioaktif dalam atmosfer, kewaspadaan akan hujan asam dan polusi udara
membawa dunia internasional kedalam suatu konferensi yaitu UN Conference on the
Human Environment pada 1972. Tujuan konferensi ini adalah menetapkan
kerangka internasional untuk memulai pendekatan yang lebih koordinatif mengenai
polusi dan masalah-masalah lingkungan. Pentingnya isu lingkungan dalam
perhatian publik internasional berjalan seiring dengan prinsip bahwa negara memiliki
tanggung jawab untuk bekerjasama sebagai usaha dalam mengatur kepentingan
global dan mengurangi polusi di perbatasan (Greene, 2001:390). Dalam hal ini,
negara berkembang menyatakan bahwa mereka tidak bertanggungjawab terhadap
kerusakan lingkungan sebanyak pertanggungajwaban yang seharusnya dilakukan
negara-negara industri dan tindakan-tindakan mengenai lingkungan seharusnya
dihubungkan dengan usaha negara berkembang yang sedang melakukan
pembangunan ekonomi. Pernyataan ini menjadi dasar yang membedakan
kepentingan antara negara maju dan berkembang mengenai lingkungan dan
pembangunan. (Perkembangan isu lingkungan hidup dalam dunia internasional)

Harus diakui bahwa dalam usaha preservasi lingkungan, perekonomian dunia


yang secara garis besar terbagi menjadi utara-yang dihuni negara-negara maju dan
selatan-yang dihuni negara-negara berkembang, belum satu suara. Di satu pihak
negara berkembang membutuhkan sumber daya alamnya sebagai sumber
pembangunan untuk kemajuan perekonomian. Terdapat perbedaan kepentingan
yang dibawa negara selatan denga negara utara dimana negara utara menekankan
usaha-usaha pelestarian lingkungan secara terus menerus. Perbedaan ini
membawa dunia ke dalam satu konfensi, yaitu Eart Summit sebagai konferensi 20
tahun setelah Stockholm Conference yang diadakan di Rio De Janeiro, Brazil.
Konferensi ini merupakan usaha PBB dalam mempertemukan kepentingan
lingkungan dan pembangunan, dinamai United Nations Conference on Environment
and Development (UNCED). (Upaya penyelesaian permasalahan lingkungan
internasional)
Konsep yang menjadi integrasi antara pembangunan dan lingkungan dikenal
dengan pembangunan berkelanjutan, merupakan suatu pembangunan yang
mempertemukan kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan lingkungan
untuk menyediakan kebutuhan manusia di masa depan. Konsep ini berfokus pada
perhatian untuk menemukan strategi ekonomi dan pembangunan dengan
menghindari degradasi lingkungan, eksploitasi berlebihan dan polusi, dan
mengurangi perdebatan tentang mana yang harus didahulukan, lingkungan atau
pembangunan. Maka pembangunan ini harus didukung secara universal dan
disetujui oleh perwakilan baik dari negara maju dan berkembang, agensi
pembangunan, dan kelompok peduli lingkungan (Greene, 2001:392). (Pandangan
teoritis)
Dalam menganalisa permasalahan lingkungan, teori tidak bisa digunakan
dengan cara yang sama dengan bagaimana teori menyikapi masalah-masalah
keamanan atau ekonomi. Dalam prakteknya perlu diadakan pengamatan yang
mendalam untuk menjawab permasalahan lingkungan secara spesifik. Salah satu
contoh berhubungan dengan peran negara. Tradisi yang dominan dalam hubungan
internasional berkaitan dengan negara, difokuskan dalam usaha-usaha negara
sebagai aktor utama dan kepercayaan bahwa politik internasional diwarnai oleh
usaha-usaha pemenuhan kebutuhan oleh negara (Greene, 2001:393). Lingkungan,
lebih dari itu semua, jarang disebabkan oleh tindakan yang disengaja, tapi lebih
merupakan efek yang lebih luas dari kegiatan ekonomi dan sosial. Negara memang
memiliki posisi spesial dalam merespon permasalahan lingkungan global dan peran
yang penting dalam pengimplementasian regulasi-regulasi lingkungan. Ketika
permasalahan lingkungan ini menjadi kian kompleks, Greene melihat bahwa
terdapat pertanyaan-pertanyaan mengenai power dan kedaulatan negara. Respon
terhadap permasalahan lingkungan menguatkan aspek otoritas negara dan
keterlibatan masyarakat. Persetujuan-persetujuan internasional menjadi penting dan
diplomasi antar negara harus dikedepankan. (Analisis permasalahan lingkunga
hidup)

Selain aktor negara seperti yang sudah dijelaskan, menangani permasalahan


lingkungan hidup memerlukan peranan banyak pihak. Organisasi supranasional
seperti Uni Eropa berperan penting dalam meregulasi anggota-anggotanya. Juga
organisasi internasional, institusi finansial internasional organisasi transasional,
gerakan-gerakan sosial, bahkan ilmuwan turut berperan memegang peran kunci.
Mengimplementasikan komitmen internasional terhadap lingkungan memang
memerlukan kombinasi dari negara dan institusi swasta, juga kelompok lokal.
Sebagai contoh dalam membatasi polusi udara, dalam hal ini jarang diarahkan
secara langsung oleh negara seperti penarikan senjata-senjata yang membuang
limbah ke udara. Usaha ini memerlukan proses yang kompleks oleh masyarakat,
meliputi NGO, badan-badan lokal, dan individu. (Pihak-pihak yang terkait dalam
menyelesaikan masalah lingkungan hidup)
Green Perspective merupakan salah satu bentuk teori kritis, bukan problem
solving teori. Tujuan teori ini bersifat eksplanatori dan normatif, berupa penjelasan
mengenai suatu fenomena dan menyediakan sekumpulan klain-klaim normatif dalam
politik global dan respon-respon yang diperlukan dalam menyikapinya (Paterson,
2001:225). Objek analisis teori ini adalah bahwa manusia modern tidak
berkelanjutan secara ekologis. Teori hijau fokus pada struktur politik yang berlaku
menang
dan
proses
dekonstruksinya.
Para
pemikir
dari Green
Perspective berpendapat bahwa harus ada keseimbangan antara lingkungan
dengan pembangunan. Dalam pelaksanaan suatu pembangunan, harus
memperhatikan dampak bagi lingkungan. Begitu juga sebaliknya. Jika ingin memiliki
lingkungan yang baik, maka kegiatan pembangungan harus diminimalisir. Jika ingin
memiliki pembangunan yang pesat, maka potensi krisis lingkungan pun juga tinggi
(Steans, et al., 2005). Tidak hanya itu, Green Perspective juga berargumen
mengenai produksi massal yang dilakukan oleh industri. Menurut mereka, kegiatan
produksi tersebut dapat mengancam jumlah sumber daya material maupun energi
yang terhitung langka. Jumlah masyarakat yang semakin meningkat rupanya juga
tidak luput dibahas oleh Green Prespective. Dengan bertambahnya angka kelahiran,
untuk kesekian kalinya potensi terjadinya krisis lingkungan pun turut meningkat.
Selain itu, penganut Green Perspective juga melihat bahwa aktivitas sosial dan
ekonomi manusia saat ini berlangsung dengan cara yang mengancam
kelangsungan lingkungan hidup. (Pembahasan teori permasalahan lingkungan
hidup)
Mungkin masih banyak di luar sana yang mengatakan bahwa isu lingkungan
tidak cocok jika dimasukkan ke dalam daftar kajian ilmu Hubungan Internasional.
Akan tetapi, hal tersebut tidak sejalan dengan pendapat penulis. Menurut penulis,
isu lingkungan merupakan bagian dari ilmu Hubungan Internasional. Lingkungan
adalah tempat tinggal bagi masyarakat dunia. Jika lingkungan mengalami krisis,
maka kehidupan masyarakat dunia pun juga akan terganggu. Begitu juga dengan
sistem politik dunia. Maka dari itu, penulis setuju dengan pernyataan bahwa
lingkungan hidup telah menjadi issue area utama ketiga dalam ilmu Hubungan
Internasional karena lingkungan hidup tidak kalah pentingnya dengan aktor,
kekuatan, maupun kepentingan nasional yang dimiliki oleh suatu negara. (Opini)

Anda mungkin juga menyukai