Anda di halaman 1dari 3

kontraksi otot

Posted on October 27, 2010 by elokdian

Otot rangka adalah masa otot yang bertaut pada tulang yang berperan dalam menggerakkan tulangtulang tubuh. Otot rangka dapat kita kaji lebih dalam misalnya dengan mempelajari otot
gastroknemus pada katak. Otot gastroknemus katak banyak digunakan dalam percobaan fisiologi
hewan. Otot ini lebar dan terletak di atas fibiofibula, serta disisipi oleh tendon tumit yang tampak
jelas (tendon Achillus) pada permukaan kaki.Mekanisme kerja otot pada dasarnya melibatkan suatu
perubahan dalam keadaan yang relatif dari filamen-filamen aktin dan myosin. Selama kontraksi otot,
filamen-filamen tipis aktin terikat pada dua garis yang bergerak ke Pita A, meskipun filamen tersebut
tidak bertambah banyak.Namun, gerakan pergeseran itu mengakibatkan perubahan dalam
penampilan sarkomer, yaitu penghapusan sebagian atau seluruhnya garis H. selain itu filamen
myosin letaknya menjadi sangat dekat dengan garis-garis Z dan pita-pita A serta lebar sarkomer
menjadi berkurang sehingga kontraksi terjadi. Kontraksi berlangsung pada interaksi antara aktin
miosin untuk membentuk komplek aktin-miosin.

Kontraksi otot dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :


Treppe atau staircase effect, yaitu meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu
serabut otot karena stimulasi berurutan berseling beberapa detik. Pengaruh ini disebabkan karena
konsentrasi ion Ca2+ di dalam serabut otot yang meningkatkan aktivitas miofibril.
Summasi, berbeda dengan treppe, pada summasi tiap otot berkontraksi dengan kekuatan berbeda
yang merupakan hasil penjumlahan kontraksi dua jalan (summasi unit motor berganda dan summasi
bergelombang).
Fatique adalah menurunnya kapasitas bekerja karena pekerjaan itu sendiri.
Tetani adalah peningkatan frekuensi stimulasi dengan cepat sehingga tidak ada peningkatan
tegangan kontraksi.
Rigor terjadi bila sebagian terbesar ATP dalam otot telah dihabiskan, sehingga kalsium tidak lagi
dapat dikembalikan ke RS melalui mekanisme pemompaan. Metode pergeseran filamen dijelaskan
melalui mekanisme kontraksi pencampuran aktin dan miosin membentuk kompleks akto-miosin
yang dipengaruhi oleh ATP. Miosin merupakan produk, dan proses tersebut mempunyai ikatan

dengan ATP. Selanjutnya ATP yang terikat dengan miosin terhidrolisis membentuk kompleks miosin
ADP-Pi dan akan berikatan dengan aktin. Selanjutnya tahap relaksasi konformasional kompleks aktin,
miosin, ADP-pi secara bertahap melepaskan ikatan dengan Pi dan ADP, proses terkait dan
terlepasnya aktin menghasilkan gaya fektorial.

Sumber Energi untuk Gerak Otot

ATP (Adenosht Tri Phosphat) merupakan sumber energi utama untuk kontraksi otot. ATP berasal
dari oksidasi karbohidrat dan lemak. Kontraksi otot merupakan interaksi antara aktin dan miosin
yang memerlukan ATP.
ATP - ADP + P
Aktin + Miosin - Aktomiosin
ATPase
Fosfokreatin merupakan persenyawaan fosfat berenergi tinggi yang terdapat dalam konsentrasi
tinggi pada otot. Fosfokreatin tidak dapat dipakai langsung sebagai sumber energi, tetapi
fosfokreatin dapat memberikan energinya kepada ADP.
kreatin
Fosfokreatin + ADP keratin + ATP
Fosfokinase

Pada otot lurik jumlah fosfokreatin lebih dari lima kali jumlah ATP. Pemecahan ATP dan fosfokreatin
untuk menghasilkan energy tidak memerlukan oksigen bebas. Oleh sebab itu , fase kontraksi otot
sering disebut fase anaerob.

E. Mekanisme Kontraksi Otot


Dari hasil penelitian dan pengamatan dengan mikroskop elektron dan sinar infra X, Hansen dan Huxli
(1955) mengemukakan teori kontraksi otot yang di sebut model sliding filaments.
Model ini menyatakan bahwa kontraksi di dasarkan adanya dua set filamen di dalam sel otot
kontraktil yang berupa filamen di dalam sel otot kontraktil yang berupa filament aktin dan berupa
filamen miosin. Rangsangan yang di terima oleh asetilkolin menyebabkan akto miosin mengerut
(kontaraksi). Kontraksi ini memerlukan energi.
Pada waktu kontraksi, filamen aktin meluncur antara miosin ke dalam zona H (zona H adalah bagian
terang di antara dua pita gelap). Dengan demikian serabut otot menjadi memendek yang tetap

panjangnya ialah ban A (pita gelap), sedangkan ban I (pita terang) dan zona H bertambah pendek
waktu kontraksi.
Ujung miosin dapat mengikat ATP dan menghidrolisisnya menjadi menjadi ADP. Beberapa energi di
lepaskan dengan cara memotong pemindahan ATP ke miosin yang berubah bentuk ke konfigurasi
energi tinggi. Miosin yang berenergi tinggi ini kemudian mengikatkan diri dengan kedudukan khusus
pada aktin membentuk jembatan silang. Kemudian simpanan energi mosin di lepaskan dan ujung
miosin lalu beristirahat dengan energi rendah, pada saat inilah terjadi relaksasi. Relaksasi ini
mengubah sudut perlekatan ujung miosin ekor. Ikatan antara miosin energi rendah dan aktin
terpecah ketika molekul baru ATP bergabung dengan ujung miosin. Kemudian siklus tadi berulang
lagi.