Anda di halaman 1dari 57

Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

UPAYA POKOK KESEHATAN (UPK)


PUSKESMAS PALARAN
PERIODE SEMESTER I
BULAN JANUARI JUNI TAHUN 2014

Disusun oleh:
Ayu Dwi Ratna Sari
Pembimbing :

M. Adi Wardana

Veronika

Yemima Nega Lethy

Hinum, S.

KM, MM
dr. Resda
Dr.dr. Swandari Paramitha, M.Kes
LABORATORIUM ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MULAWARMAN
PUSKESMAS PALARAN
SAMARINDA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah unit pelaksana teknis Dinas


Kesehatan Kota yang bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan di wilayah
kerjanya. Menurut Depkes RI tahun 1991, Puskesmas adalah organisasi kesehatan
fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga
membina peran serta masyarakat dan memberikan pelayanan secara menyeluruh dan
terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok. Menurut
KEPMENKES RI No.128/Menkes/SK II/tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar
Puskesmas, puskesmas merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kota yang
bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Puskesmas
ini diberikan kewenangan oleh Dinas Kesehatan kabupaten/kota guna melaksanakan
tugas operasional pembangunan kesehatan untuk mencapai kemampuan hidup sehat
bagi setiap penduduk.
Tujuan dari puskesmas secara umum adalah mendukung tercapainya tujuan
pembangunan kesehatan nasional, yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja
puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi tingginya.
Puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan
kesehatan, pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat dalam pembangunan
kesehatan dan pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama meliputi pelayanan medik
dasar individu dan keluarga, serta pelayanan kesehatan masyarakat yang mencakup
usaha pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Dari fungsi puskesmas ini
jelas peran puskesmas bukan hanya persoalan teknis medis tetapi juga bagaimana
keterampilan sumber daya manusia untuk mampu mengorganisir modal sosial yang ada
di masyarakat. Fungsi dan peran puskesmas sebagai lembaga kesehatan yang
menjangkau masyarakat di wilayah terkecil sekalipun, membutuhkan strategi dalam
mengorganisir masyarakat untuk terlibat dalam penyelenggaraan kesehatan secara
mandiri.
Ditinjau dari sistem pelayanan kesehatan di Indonesia, maka peranan dan
kedudukan puskesmas adalah sebagai ujung tombak sistem pelayanan kesehatan di

Indonesia. Hal ini karena peranan dan kedudukan puskesmas di Indonesia sangat unik.
Sebagai sarana pelayanan kesehatan terdepan di Indonesia, maka puskesmas
bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kedokteran.
Dengan diberlakukannya UU Otonomi Daerah yang
desentralisasi, maka setiap daerah tingkat I dan

mengutamakan

II memiliki kesempatan

mengembangkan puskesmas sesuai Rencana Strategis (renstra) Kesehatan Daerah dan


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Bidang Kesehatan sesuai
situasi dan kondisi daerah tingkat I dan II. Konsekuensi dari undang-undang tersebut
ialah terjadinya perubahan struktur organisasi kesehatan serta tugas pokok yang
menunjukkan kepentingan daerah tingkat I dan II yang lebih dominan, hal ini dapat
menimbulkan perbedaan penentuan skala prioritas upaya peningkatan pelayanan
kesehatan di tiap daerah, dengan catatan setiap kebijakan tetap mengacu pada Renstra
Kesehatan Nasional. Disamping itu daerah tingkat II dituntut untuk melakukan
akselerasi di semua sektor penunjanng upaya pelayanan kesehatan.
Puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan
kesehatan, pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat, serta pelayanan kesehatan
strata pertama meliputi pelayanan medik dasar individu dan keluarga. Pelayanan
kesehatan yang diberikan Puskesmas adalah pelayanan kesehatan menyeluruh, meliputi:
pelayanan promotif (upaya edukasi peningkatan kesehatan), pelayanan preventif
(pencegahan), kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan). Keempat
jenis pelayanan dasar tersebut bersifat integratif, baik personal maupun program melalui
UPK (Upaya Pokok Kesehatan). Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan setiap kegiatan
tertata rapi dan memiliki kejelasan spesifikasi tugas dan sasaran serta hasil masingmasing program.
Fungsi Puskesmas tersebut diwujudkan dalam upaya Puskesmas yang terdiri dari
Upaya Kesehatan Wajib dan Upaya Kesehatan Pengembangan. Upaya kesehatan wajib
puskesmas atau Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) terdiri dari 6 kegiatan pokok (Basic
Six) yakni :
a. Promosi Kesehatan
b. Kesehatan Lingkungan
c. Kesehatan Ibu dan Anak dan Keluarga Berencana (KIA dan KB)
d. Peningkatan Gizi
e. Penanggulangan Penyakit Menular (P2M)

f. Pengobatan Dasar
Saat ini program pokok pelayanan kesehatan dasar (basic health care services)
telah dikembangkan oleh badan kesehatan dunia (WHO) yang dikenal dengan basic
seven. Basic seven terdiri dari:
a. MCHC ( Maternal and Child Health Care)
b. MC (Medical care)
c. ES (Environment Sanitation)
d. HE (Health education) untuk kelompok-kelompok masyarakat
e. SL (Simple Laboratory)
f. CDC (Communicable Disease Control)
g. Simple Statistic (recording/reporting atau pencatatan dan pelaporan)
Sedangkan Upaya Kesehatan Pengembangan yaitu upaya kesehatan yang
dilaksanakan sesuai dengan masalah kesehatan yang ada dan disesuaikan dengan
kemampuan Puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan ditetapkan bersama Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota dengan mempertimbangkan masukan dari masyarakat
melalui perwakilan masyarakat dalam bentuk Badan Penyantun Puskesmas/Konsil
Kesehatan Kecamatan. Yang termasuk dalam Upaya Kesehatan Pengembangan :
a.

Puskesmas dengan Unit rawat Inap

b.

Kesehatan Usia Lanjut

c.

Upaya Kesehatan Mata dan pencegahan kebutaan

d.

Upaya Kesehatan Telinga dan pencegahan Pendengaran

e.

Upaya Kesehatan Jiwa

f.

Upaya Kesehatan Olah Raga

g.

Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Gigi

h.

Perawatan Kesehatan Masyarakat Dan Sebagainya

i.

Pembinaan Pengobatan Tradisional

j.

Upaya Kesehatan Kerja

Kecamatan Palaran merupakan salah satu kecamatan di Samarinda yang


memiliki sebuah puskesmas induk. Saat ini puskesmas Palaran dilengkapi dengan
fasilitas rawat inap sebagai pengembangan Puskesmas Induk Palaran yang telah
diresmikan sejak 21 Januari 2004. Puskesmas Palaran berhasil tidak hanya dalam
pelaksanaan upaya pelayanan kesehatan pokok tetapi juga dalam beberapa program

pengembangan. UPK sangat penting dalam menunjang keberhasilan peran Puskesmas


bagi masyarakat. Oleh karena itu UPK harus diketahui dan dipahami agar peran dan
fungsi Puskesmas dapat dilaksanakan dengan baik. Pembuatan makalah ini bertujuan
memberikan informasi mengenai UPK Puskesmas, khususnya UPK di Puskesmas
Palaran.

BAB II
PROFIL PUSKESMAS PALARAN
2.1

Visi, Misi, Strategi, Nilai dan Motto


2.1.1 Visi
Mewujudkan kecamatan Palaran sehat, mandiri dan sejahtera dengan
pelayanan kesehatan bermutu, terjangkau dan berkeadilan.
2.1.2 Misi
Dalam mencapai visinya, puskesmas Palaran mempunyai misi, antara
lain:
a. Mewujudkan masyarakat kecamatan Palaran hidup bersih sehat
melalui keluarga sehat mandiri.
b. Penyelenggaraan puskesmas perawatan melalui manajemen mutu dan
akuntanbilitas.
c. Memelihara mutu dan kesetaraan pelayanan.
d. Menggerakan pemberdayaan masyarakat dan kemitraan lintas sektor.
2.1.3 Strategi
Strategi yang dijalankan oleh puskesmas Palaran adalah:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Meningkatkan promosi kesehatan.


Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
Meningkatkan kesejahteraan pegawai.
Meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektor.
Meningkatkan sarana dan prasarana.
Disiplin dan bekerja sama.
Meningkatkan kinerja pegawai.
Menjalin komunikasi yang baik.
Meningkatkan pelayanan kesehatan puskesmas

2.1.4 Nilai
Nilai-nilai Puskesmas Palaran adalah CINTA PALARAN, 5S dan
C+U:
a. CINTA PALARAN (Cermat, Iman, Norma, Transparan, Akurat,
Profesional, Amanah, Loyalitas, Adil, Ramah tamah, Aman, Nyaman)
b. 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun)

c. C+U = Care, Comitment, Consistent, Continous, Charity, Competence,


dan Unforgetable
2.1.5 Motto
Motto Puskesmas Palaran adalah Kesehatan Anda Tujuan Kami,
Kepuasan Anda Kebanggaan Kami.
2.2 KEADAAN UMUM
2.2.1 Gambaran Umum Demografi dan Geografi
Kecamatan Palaran adalah salah satu bagian dari wilayah Kota
Samarinda, yang berdasarkan PP No.21 Tahun 1987 terdiri atas 5 Kelurahan,
yaitu Kelurahan Rawa Makmur, Bukuan, Simpang Pasir, Bantuas dan Handil
Bakti.
Batas wilayah Kecamatan Palaran meliputi:
a.
b.
c.

Sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Mahakam.


Sebelah Timur berbatasan dengan Sungai Mahakam.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Sanga-Sanga Kabupaten

d.

Kutai Kartanegara.
Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Samarinda Seberang.

U
KEL. KP BAQA
KEL. SEI
KELEDANG

KEL. MASJID

KEL. RAPAK
DALAM

KEL. H. BARU
KEL. SENGKOTEK

KEL.
SIMPAN
G PASIR

KEL. SIMPANG
TIGA

S
PKM
Palara
n
KEL. RAWA
MAKMUR

KEL.
BUKUA
N

KEL. LOA JANAN ILIR

KEL.
HANDIL
BAKTI

7
Ket : Skala 1 : 750.000

Gambar 1. Peta Wilayah Kecamatan Palaran

Luas wilayah kecamatan Palaran 15.572 Km2 yang dihuni oleh sekitar
48.133 jiwa terdiri dari laki-laki 25.435 jiwa dan perempuan sebanyak 22.698
jiwa yang tersebar di lima kelurahan. Kepadatan penduduk 1.936 Jiwa/km 2.
Adapun jumlah kepala keluarga sebanyak 14.246 KK.
Kecamatan Palaran merupakan salah satu daerah sentra industri yang
bergerak di bidang pertambangan dan industri lainnya. Di samping itu,
Palaran merupakan area pertanian dan perkebunan yang cukup potensial,
ditinjau dari luasnya areal pertanian dan perkebunan. Namun karena berbagai
kendala teknis dan kondisi alam, maka potensi tersebut belum tergarap secara
optimal. Untuk itu pada masa yang akan datang, diharapkan berbagai potensi
tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Di Palaran telah dibangun
pelabuhan Peti Kemas, kemudian dilanjutkan dengan Pembangunan Jembatan
Mahkota II yang sedang berlangsung. Diharapkan dengan pembangunan
sarana tersebut dapat meningkatkan perekonomian di Palaran.
2.2.2 Sejarah Singkat berdirinya Palaran
Pada mulanya Palaran adalah daerah transmigrasi tahun 1953-1954
yang terpusat di kelurahan Rawa Makmur, kemudian disusul oleh
transmigrasi spontan di Kelurahan Bukuan dan Simpang Pasir pada tahun
1970-an kemudian transmigrasi ke daerah Bantuas.
Dengan

berjalannya

waktu

dan

berdirinya

Industri,

maka

berkembang pula jumlah penduduk dan menyebar ke seluruh wilayah


Palaran.
2.2.3 Sejarah Singkat berdirinya Puskesmas Palaran
Pada tahun 1968 di Kecamatan Palaran Kelurahan Rawa Makmur
sebelum berdirinya Puskesmas Palaran telah berdiri sebuah Balai
Pengobatan Transmigrasi yang terletak di depan Puskesmas Palaran yang
sekarang atau berlokasi di TK Kenari, dua tahun kemudian berdirilah
Puskesmas Palaran yaitu pada tahun 1970 dan petugas pertama H.A. Sjahran

& Hj.Noor Anisah (1968). Pimpro bangunan Puskesmas Palaran adalah dr.
Helmi Jafar dan Pelaksana harian : dr. Widianto.
Bentuk awal bangunan Puskesmas Palaran kayu atap sirap dilengkapi
bangsal perawatan dengan 20 tempat tidur dan dibiayai oleh UNICEF
beroperasi sejak tahun 1972 dan beroperasi lagi sekitar awal tahun 1980-an
karena tidak ada biaya operasional. Pada tahun 1992 dilakukan renovasi
dibagian belakang menjadi bangunan tembok. Tahun 2002 dikembangkanlah
menjadi Puskesmas Unit Rawat Inap Palaran dan selesai dibangun pada
tahun 2003. Kemudian pada tahun 2004 rencana pembangunan Puskesmas
Unit Rawat Inap Palaran tahap 2 namun baru terealisasi pada tahun 2008.
Adapun Nama-nama Pimpinan Puskesmas yang pernah dan sedang
bertugas di Puskesmas Palaran adalah sebagai berikut :
a. dr. Tumpak Sinaga
b. dr. Aida
c. dr. Handoyo
d. dr. Bambang Indra Aschartca
e. dr. Taufik Chalsun
f. dr. Madi Heru L
g. dr. Hatmoko
h. dr. Yetty Semiarti
i. dr. Hatmoko
j. dr. Hj. Syarifah Rahimah, M.Kes
k. dr. Sri Asih
l. Veronika Hinum, SKM, MM
2.2.4 Gambaran Umum Sarana Kesehatan
Fasilitas pelayanan kesehatan yang ada di Kecamatan Palaran terdiri
dari :
Puskesmas induk
: 1 buah
Rawat inap
: 1 unit
Puskesmas pembantu (pustu) : 5 unit (Pusban Balik Buaya, Pusban
Handil Bakti, Pusban Gotong Royong dan Pusban Simpang Pasir) yang
merupakan unit-unit pelayanan kesehatan milik pemerintah.
Posyandu balita

: 30 posyandu
9

Posyandu lansia

: 5 posyandu

Pada tahun 2008 telah dilanjutkan pembangunan gedung Unit Rawat


Inap tahap II, melihat dengan meningkatnya angka kunjungan pelayanan
maka pada tahun 2009 telah difungsikannya bangunan tersebut.
Sejak tahun 2012, Puskesmas Induk sedang mengembangkan 2
Puskesmas Induk yaitu terletak di Kelurahan Bantuas. Adapun rencana
pembagian wilayah kinerja Puskesmas Palaran nantinya untuk Puskesmas
Induk Rawa Makmur terdiri dari Pusban Handil Bakti, Pusban Gotong
Royong, Pusban Simpang Pasir, pembagian wilayah kinerja Puskesmas
Induk Bukuan terdiri dari Pusban Bukuan dan Pusban Balik buaya,
sedangkan Puskesmas Induk Bantuas terdiri dari Pusban Bantuas kota dan
Pusban Bantuas darat.
Disamping fasilitas pelayanan kesehatan tersebut, terdapat juga
beberapa klinik atau Balai Pengobatan swasta yang umumnya dikelola dan
untuk

melayani

masyarakat

pekerja

Badan-Badan

Usaha

Swasta

(Perusahaan-Perusahaan Swasta) dan juga adanya persiapan desa siaga.

Gambar 2. Puskesmas Palaran

10

Gambar 3. Puskesmas Palaran (Tampak Depan)

Gambar 4. Puskesmas Palaran (Balai Pengobatan)

11

Gambar 5. Puskesmas Palaran (Unit Rawat Inap & Instalasi Gawat Darurat)
2.2.3 Data Pegawai Puskesmas Palaran
Manajemen

: 1 orang

Dokter umum

: 9 orang

Dokter gigi

: 1 orang

Ahli kesehatan masyarakat

: 2 orang

Sanitarian

: 2 orang

Perawat

: 23 orang

Bidan

: 20 orang

Perawat gigi

: 1 orang

Analis

: 3 orang

Ahli Gizi

: 2 orang

Apoteker

: 1 orang

Asisten apoteker

: 2 orang

Pembantu Apotik

: 1 orang

Administrasi

: 5 orang

Pekarya Kesehatan

: 3 orang

Ahli Komputer

: 1 orang

Akuntansi

: 1 orang

Rekam medik

: 3 orang

Register harian

: 2 orang

Security

: 1 orang
12

Wakar

: 1 orang

Tukang Kebun

: 2 orang

Cleaning Service

: 8 orang

Loundry

: 2 orang

Supir

: 2 orang

Total tenaga kerja

: 92 orang

2.3 UPK WAJIB PUSKESMAS PALARAN


2.3.1 Promosi Kesehatan
Tujuan UPK promosi kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran
masyarakat akan pentingnya kesehatan dan merubah paradigma di masyarakat
yang semula berparadigma sakit menjadi paradigma sehat. Hasil dari data
Puskesmas bulan Januari - Juni 2014, pencapaian komponen kegiatan upaya
promosi kesehatan sekitar 89 %.
Adapun pokok kegiatan UPK Promosi Kesehatan di Puskesmas Palaran :
2.3.1.1 Penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
Sasaran dari kegiatan ini meliputi rumah tangga, institusi pendidikan
(sekolah), institusi sarana kesehatan, institusi TTU (Tempat-Tempat Umum) dan
institusi tempat kerja. Cakupan pada program ini belum dapat dinilai sedangkan
target minimalnya adalah 50%. Hal ini dikarenakan tidak adanya check list
untuk menilai indikator PHBS.
Penyuluhan PHBS dapat dilakukan secara langsung maupun tidak
langsung. Penyuluhan secara langsung dapat dilakukan dengan mengumpulkan
massa pada institusi masing-masing ataupun dilakukan bersamaan dengan
kegiatan

lainnya,

seperti

pembinaan/penjaringan

kesehatan

di institusi

pendidikan, posyandu dan sebagainya. Penyuluhan secara tidak langsung


dilakukan melalui pembagian pamflet yang berisi tentang informasi kesehatan.
2.3.1.1.1 PHBS rumah tangga
PHBS di rumah tangga merupakan upaya untuk memberdayakan
anggota rumah tangga agar dapat mengetahui, memiliki kemauan dan mampu
mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam
gerakan kesehatan di masyarakat. Rumah tangga sehat adalah rumah tangga

13

yang semua anggota keluarganya berperilaku hidup bersih dan sehat yaitu
merupakan komposit dari 10 indikator :
1. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
Merupakan tindakan yang dilakukan bidan atau tenaga kesehatan lainnya
dalam proses lahirnya janin dari kandungan ke dunia luar dimulai dari
tanda-tanda lahirnya bayi, pemotongan tali pusat dan keluarnya plasenta.
2. Balita diberi ASI eksklusif
Merupakan proporsi bayi usia 0-6 bulan yang hanya mendapat ASI saja
sejak lahir.
3. Mempunyai jaminan pemeliharaan kesehatan
Merupakan penduduk semua umur yang tercakup berbagai jenis
pembiayaan praupaya seperti ASKES, JAMSOSTEK, asuransi perusahaan,
dana sehat, kartu sehat dan lain-lain.
4. Tidak merokok adalah penduduk umur 10 tahun ke atas yang tidak
merokok selama 1 bulan terakhir.
5. Melakukan aktivitas fisik setiap hari adalah penduduk 10 tahun ke atas
dalam seminggu terakhir melakukan aktivitas fisik sedang atau berat
minimal 30 menit setiap hari.
6. Makan sayur dan buah setiap hari adalah penduduk 10 tahun keatas yang
mengkonsumsi minimal 2 porsi sayuran dan 2 porsi buah buahan dalam
seminggu terakhir.
7. Tersedia air bersih. Rumah tangga memiliki akses terhadap air bersih
adalah rumah tangga yang memakai sehari-hari kebutuhan air minum
yang, meliputi air dalam kemasan, ledeng, pompa, sumur terlindung, serta
mata air terlindung yang berjarak minimal 10 meter dari tempat
penampungan kotoran atau limbah.
8. Tersedianya jamban adalah rumah tangga menggunakan jamban dengan
septic tank atau lubang penampungan sebagai pembuangan akhir.
9. Kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni adalah lantai rumah yang
ditempati dan digunakan untuk keperluan sehari-hari dibagi dengan jumlah
penghuni rumah (2,5 m2 / orang).
10. Lantai rumah bukan dari tanah adalah bagian bawah / dasar / alas suatu
ruangan terbuat dari semen, papan dan ubin.
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari Juni 2014, untuk program
penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat pada rumah tangga diperoleh
hasil sebagai berikut :
Pencapaian program penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat pada rumah
tangga Bulan Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
Target
1
250 rumah
250 rumah (100%)

Pencapaian

14

2.3.1.1.2 PHBS Institusi Pendidikan


PHBS di sekolah merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktikkan
oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar
kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu
mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam
mewujudkan lingkungan sehat.
Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai
PHBS di sekolah, yaitu :
1. Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun.
2. Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah.
3. Menggunakan jamban yang bersih dan sehat.
4. Olahraga yang teratur dan terukur.
5. Memberantas jentik nyamuk.
6. Tidak merokok di sekolah.
7. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan.
8. Membuang sampah pada tempatnya.
Merupakan penyuluhan kesehatan yang dilakukan di sekolah-sekolah,
juga dilakukan pembagian kuesioner pada tiap sekolah. Kemudian dari hasil
kuesioner tersebut bisa terlihat masalah tentang perilaku hidup bersih dan
sehat pada sekolah tersebut.
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari Juni tahun 2014, untuk
program penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat pada institusi pendidikan
diperoleh hasil sebagai berikut :
Pencapaian program penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat pada institusi
pendidikan Bulan Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
Target
1
75 sekolah
45 sekolah (60%)

Pencapaian
50 sekolah (67%)

15

Target minimal kegiatan tersebut telah tercapai.


2.3.1.1.3 PHBS Institusi Sarana Kesehatan
PHBS di Institusi Kesehatan adalah upaya untuk memberdayakan
pasien, masyarakat pengunjung dan petugas agar tahu, mau dan mampu untuk
mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dan berperan aktif dalam
mewujudkan Institusi Kesehatan Sehat dan mencegah penularan penyakit di
institusi kesehatan.
Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai
PHBS di institusi kesehatan, yaitu :
1. Menggunakan air bersih.
2. Menggunakan jamban.
3. Membuang sampah pada tempatnya.
4. Tidak merokok di institusi kesehatan.
5. Tidak meludah sembarangan.
6. Memberantas jentik nyamuk.
PHBS institusi sarana kesehatan ini dilakukan di 8 sarana kesehatan
yang terdiri dari 1 puskesmas induk dan 7 puskesmas pembantu. Kegiatan ini
dilakukan melalui pembagian kuesioner pada 8 sarana kesehatan. Kemudian
dari hasil kuesioner tersebut bisa terlihat masalah tentang perilaku hidup
bersih dan sehat pada sarana kesehatan tersebut.
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari Juni tahun 2014, untuk
program penyuluh perilaku hidup bersih dan sehat pada institusi sarana
kesehatan diperoleh hasil sebagai berikut:
Pencapaian program penyuluh perilaku hidup bersih dan sehat pada institusi
sarana kesehatan Bulan Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
Target
1
8 lokasi
5 lokasi (60%)

Pencapaian
6 lokasi (75%)

16

Target minimal kegiatan tersebut telah tercapai.


2.3.1.1.4 PHBS tempat-tempat umum
PHBS

di

tempat-tempat

umum

merupakan

upaya

untuk

memberdayakan masyarakat pengunjung dan pengelola tempat-tempat umum


agar mengetahui, memiliki kemauan dan mampu untuk mempraktikkan
PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan tempat - tempat umum yang
sehat.
Tempat-tempat umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh
pemerintah/swasta atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi
masyarakat seperti sarana pariwisata, transportasi, sarana ibadah, sarana
perdagangan dan olahraga, rekreasi dan sarana sosial lainnya.
Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai
PHBS di tempat - tempat umum yaitu :
1. Menggunakan air bersih.
2. Menggunakan jamban.
3. Membuang sampah pada tempatnya.
4. Tidak merokok di tempat umum.
5. Tidak meludah sembarangan.
6. Memberantas jentik nyamuk.
Kegiatan ini dilakukan melalui pembagian kuesioner pada tempattempat umum di Palaran terdiri dari 13 buah masjid/langgar dan gereja, serta
pasar sebanyak 3 buah. Kemudian dari hasil kuesioner tersebut bisa terlihat
masalah tentang perilaku hidup bersih dan sehat pada tempat-tempat umum
tersebut.
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari Juni tahun 2014, untuk
program penyuluh perilaku hidup bersih dan sehat pada tempat-tempat umum
diperoleh hasil sebagai berikut :
Pencapaian penyuluh perilaku hidup bersih dan sehat pada tempat-tempat
umum Bulan Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
Target
1
5 lokasi
3 lokasi (60%)

Pencapaian
4 lokasi (80%)
17

Target minimal kegiatan tersebut telah tercapai.


2.3.1.1.5 PHBS tempat-tempat kerja
PHBS di tempat kerja adalah upaya untuk memberdayakan para
pekerja agar

dapat

mengetahui,

memiliki

kemauan

dan

mampu

mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam
mewujudkan tempat kerja sehat.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tempat kerja, antara lain :
1. Tidak merokok di tempat kerja.
2. Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja.
3. Melakukan olahraga secara teratur / aktifitas fisik.
4. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan
5.
6.
7.
8.
9.

sesudah buang air besar dan buang air kecil.


Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja.
Menggunakan air bersih.
Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar.
Membuang sampah pada tempatnya.
Mempergunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan.
PHBS institusi tempat kerja ditargetkan dilakukan di 10 tempat

institusi. Namun, berdasarkan data Puskesmas bulan Januari Juni tahun


2014, untuk program penyuluh perilaku hidup bersih dan sehat pada tempattempat kerja belum terlaksana.
Pencapaian penyuluh perilaku hidup bersih dan sehat pada tempat-tempat
kerja Bulan Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
Target
1
10 Institusi
6 Institusi (60%)

Pencapaian
8 Institusi (80%)

Target minimal kegiatan tersebut telah tercapai.

18

1. Bayi mendapat ASI eksklusif


ASI eksklusif merupakan pemberian ASI sedini mungkin setelah
persalinan, diberikan tanpa jadwal dan tidak diberikan makanan lain walaupun
hanya air putih sampai bayi berusia 6 bulan. Kegiatan ini bertujuan untuk
meningkatkan

kesadaran

masyarakat

akan

pentingnya

ASI

eksklusif.

Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari Juni tahun 2014, untuk program
bayi mendapat ASI eksklusif telah terlaksana dengan baik.
Pencapaian program bayi mendapat ASI eksklusif Bulan Januari Juni
tahun 2014
No.
Sasaran
1
530 bayi

Target
270 bayi (60%)

Pencapaian
326 bayi (61%)

Kesadaran ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya tergolong baik.


Adapun saran pada kegiatan ini antara lain:

Perlu dipertahankan dan ditingkatkan keaktifan tenaga kesehatan dan kader


posyandu dalam mengisi tabel pemberian ASI ekslusif yang terdapat pada
Kartu Menuju Sehat (KMS).

Tetap memberikan informasi tentang pentingnya ASI eksklusif, cara


menyusui yang benar dan cara menyimpan ASI baik berupa penyuluhan atau
pamflet.

1.

Mendorong Terbentuknya Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat


(UKBM)
Posyandu merupakan sistem pelayanan yang dipadukan antara satu
program dengan program lainnya yang merupakan forum komunikasi
pelayanan terpadu dan dinamis yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat.
Posyandu adalah wadah kegiatan masyarakat, dimana masyarakat dapat
memperoleh pelayananan kesehatan, serta sebagai sarana komunikasi antara
masyarakat dan petugas kesehatan tentang masalah kesehatan. Pelayanan
terpadu bertujuan memberikan kemudahan dan keuntungan bagi masyarakat

19

karena bisa mendapatkan pelayanan lengkap pada waktu dan tempat yang
sama. Posyandu memiliki beberapa tingkatan yaitu :
1. Posyandu pratama
Posyandu pratama adalah posyandu yang belum mantap, yang ditandai oleh
kegiatan bulanan posyandu belum terlaksana secara rutin, serta jumlah kader
sangat terbatas, yakni kurang 5 orang. Berdasarkan data Puskesmas bulan
Januari Juni tahun 2014 terdapat 6 posyandu pratama.
2. Posyandu madya
Posyandu madya adalah posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan
lebih dari 8 kali per tahun dengan rata-rata jumlah kader sebanyak 5 orang
atau lebih. Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari Juni tahun 2014 ,
terdapat 1 posyandu madya.
3. Posyandu purnama
Posyandu purnama adalah posyandu yang sudah dapat melaksanakan lebih
dari 8 kali per tahun dengan jumlah kader 5 orang atau lebih. Berdasarkan
data Puskesmas bulan Januari Juni tahun 2014, terdapat 29 Posyandu
purnama.
4.Posyandu mandiri adalah posyandu yang sudah dapat melaksanakan lebih
dari 8 kali per tahun dengan jumlah kader sebanyak 5 atau lebih. .
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari Juni tahun 2014, terdapat 2
2.

Posyandu mandiri.
Penyuluhan Napza
Program ini merupakan salah satu bagian dari upaya promosi kesehatan
yang sampai saat ini belum terlaksana.

ii.

Kesehatan Lingkungan
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari Juni tahun 2014 cakupannya
mencapai 121%. Program Kesehatan Lingkungan adalah sebagai berikut :
1.

Penyehatan Air
Kegiatan berupa inspeksi sanitasi sarana air bersih. Program ini
dilaksanakan 2 kali dalam setahun. Pelaksanaan program ini ialah dengan
melakukan peninjauan sarana air bersih yang dimiliki warga, lalu membagikan
kuisioner untuk menentukan tingkat pencemaran sarana air bersih yang dimiliki
warga dan kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan penyuluhan. Selain itu
pada tempat-tempat yang berpotensial banyak digunakan oleh masyarakat

20

dilakukan pemeriksaan kimia berupa pH dan Fe, serta pemeriksaan bakteriologi


untuk mendukung ketercapaian dan ketersediaan sarana air bersih di masyarakat.
Pemeriksaan di PDAM dilakukan perbulan.
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari Juni tahun 2014 didapatkan
data inspeksi sanitasi sarana air bersih :
Pencapaian program inspeksi sanitasi sarana air bersih Bulan Januari Juni
tahun 2014
No.
Sasaran
1
250 sarana

Target
200 sarana (80%)

Pencapaian
200 sarana (80%)

Dari data tersebut, didapatkan pencapaian sebesar 80%. Hal-hal yang


perlu ditingkatkan ialah kerja sama antar lintas sektor, seperti tim surveilence
untuk mengetahui daerah yang masyarakatnya banyak menderita penyakit yang
disebabkan oleh keadaan lingkungan yang tidak sehat terutama air yang tidak
bersih, sehingga daerah tersebut bisa menjadi prioritas untuk lebih diperhatikan
dan dilakukan pembinaan mengenai air bersih.
2.

Higiene dan sanitasi makanan dan minuman


Kegiatan

ini

dilakukan

dengan

mengadakan

peninjauan

tempat

pengolahan makanan diikuti pembagian kuisoner dan kemudian ditindak lanjuti


dengan melakukan penyuluhan agar tempat pengolahan makanan terjamin aman
dan sehat. Kegiatan ini dilakukan 2 kali dalam setahun. Masyarakat juga
dianjurkan untuk membuat surat izin layak sehat higiene sanitasi untuk rumah
makan yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kota.
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari Juni tahun 2014 didapatkan
data inspeksi sanitasi tempat pengolahan makanan :

21

Pencapaian program inspeksi sanitasi tempat pengolahan makanan Bulan


Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
1
58 sarana

Target
46 sarana (80%)

Pencapaian
46 sarana (80%)

Dari data tersebut, didapatkan pencapaian sebesar 80%. Program ini


telah berjalan dan
masyarakat

mencapai target

palaran.

mengembangkan

Adapun

dalam meningkatkan derajat kesehatan

saran

program-program

untuk

yang

ada

tetap
dan

mempertahankan
menambahkan

dan
dalam

peningkatan kualitas pelayanan.


3.

Penyehatan tempat pembuangan sementara dan tempat pembuangan akhir


Kegiatan berupa inspeksi sanitasi sarana pembuangan sampah. Kegiatan
dilakukan 2 kali per tahun di 2 tempat yaitu Tempat Pembuangan Sementara (TPS)
dan Tempat Pembuangan Akhir.
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari Juni tahun 2014 diperoleh
sebagai berikut :
Pencapaian program Penyehatan tempat pembuangan sementara dan tempat
pembuangan akhir Bulan Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
Target
1
2 sarana
2 sarana (100%)

Pencapaian
2 sarana (100%)

22

Sejauh ini tidak ada kendala yang berarti. Namun program yang telah ada
perlu dipertahankan dan perlunya kerjasama dengan beberapa bidang terkait
seperti Dinas Kebersihan daerah setempat untuk menunjang upaya kesehatan ini.
4.

Penyehatan Lingkungan Pemukiman Dan Jamban Keluarga


Program ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan perumahan yang
bersih dan sehat dengan kegiatan pemeriksaan kesehatan lingkungan dan
perumahan yang meliputi inspeksi atau pengawasan terhadap jamban, tempat
sampah, kandang ternak, dan saluran limbah di setiap rumah. Berdasarkan data
Puskesmas pada bulan Januari - Juni tahun 2014 diperoleh sebagai berikut:
Pencapaian

program Penyehatan Lingkungan Pemukiman Dan Jamban

Keluarga Bulan Januari Juni tahun 2014


No.
Sasaran
Target
1
277 rumah
221 rumah (80%)

Pencapaian
221 rumah (80%)

Kegiatan ini dilaksanakan sekali dalam setahun. Perlu adanya pelatihan


mengenai pengolahan sampah dan limbah rumah tangga serta rumah produksi
seperti peternak serta melibatkan kerjasama dengan pihak yang dapat terkait
dalam pengolahan limbah ini seperti dinas pertanian guna memajukan upaya
kesehatan ini.

5.

Pengawasan Sanitasi Tempat-Tempat Umum


Program ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan
sehat, serta memenuhi akses sanitasi dasar, meliputi air, jamban, limbah dan
sampah, melaksanakan pengendalian vektor, higiene sanitasi makanan dan

23

minuman, pencahayaan dan ventilasi sesuai dengan kriteria persyaratan standar


kesehatan. Kegiatan dilakukan sebanyak 2 kali per tahun ditempat-tempat
umum, seperti pasar, salon, masjid dan hotel.
Kegiatan ini berupa inspeksi sanitasi tempat-tempat umum dan sanitasi
tempat umum yang memenuhi syarat. Berdasarkan data Puskesmas bulan
Januari - Juni tahun 2014, cakupan mencapai 80 %. Dan diperoleh hasil sebagai
berikut :
Pencapaian program Inspeksi sanitasi tempat-tempat umum Bulan Januari
Juni tahun 2014
No.
Sasaran
1
76 sarana

Target
76 sarana (100%)

Pencapaian
61 sarana (80%)

Pencapaian Sanitasi tempat umum yang memenuhi syarat Bulan Januari


Juni tahun 2014
No.
Sasaran
1
76 sarana

Target
61 sarana (80%)

Pencapaian
61 sarana (80%)

Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014 didapatkan


pencapaian sebesar 80% dari target sasaran per tahun pada inspeksi sanitasi
tempat-tempat umum sedangkan sanitasi umum yang memenuhi syarat
didapatkan pencapaian sebesar 80 %.
6.

Pengamanan Tempat Pengelolaan Pestisida


Program ini bertujuan untuk menciptakan tempat pengolahan pestisida
yang aman. Dalam wilayah kecamatan Palaran tidak terdapat tempat

24

pengelolaan pestisida sehingga program ini tidak dapat dijalankan namun


program ini terus dijalankan dengan sasaran toko penjual pestisida. Dari data
Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014 didapatkan pencapaian sebesar 80%
dari 9 sasaran per tahun.
7.

Pengendalian Vektor
Pengendalian vektor adalah kegiatan yang dilaksanakan mulai dari
pengukuran dan pengendalian populasi vektor. Pengukuran adalah mengukur
angka bebas jentik nyamuk penular (vektor) yang ditemukan di rumah,
bangunan, sekolah, kantor, tempat umum, gudang, dan tempat penampungan air
lainnya yaitu bak mandi, tempayan dan plastik-plastik, kaleng bekas, ban bekas,
dan tempat air lainnya. Pengendalian populasi adalah kegiatan operasional
pemberantasan vektor secara kimiawi ataupun biologi berdasarkan dengan data
pengukuran yang dilaksanakan.
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari Juni 2014 belum diperoleh
data yang menggambarkan pencapaian dari 5 sasaran per tahun dengan target
95%. Kendala utama yang ditemui dalam program ini ialah dimana tidak
ditemukan 2 kasus

atau lebih pada suatu daerah. Disarankan untuk lebih

tersistematisnya pendataan sumber informasi guna penentuan lokasi potensial


serta perlunya kerjasama kegiatan ini dilaksanakan bersama promosi kesehatan
serta melibatkan tokoh-tokoh terkemuka di masyarakat guna menunjang upaya
kesehatan ini.
2.3.3 Kesehatan Ibu dan Anak termasuk Keluarga Berencana
2.3.3.1 Kesehatan Ibu
Salah satu program KK ini dilaksanakan melalui pelayanan, oleh petugas
kesehatan (bidan) di puskesmas dengan cara melakukan pemeriksaan kehamilan
secara berkala dan terjadwal sehingga dapat diketahui kesehatan ibu serta
perkembangan dan kesehatan janin dalam kandungan. Proses yang dilakukan
dapat berupa penjadwalan pemeriksaan dan mengevaluasi kunjungan dari ibu
hamil, mulai dari kunjungan pertama hingga kunjungan keempat (K1 hingga
K4), sehingga hasil yang didapatkan diupayakan sesuai dengan tujuan.

25

Setiap data ibu hamil di dimasukkan sesuai dengan bulan taksiran


persalinan. Sedangkan pada ibu hamil dengan resiko tinggi dimasukkan pada
kantong resiko tinggi sehingga mendapat perhatian.
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pertolongan
persalinan oleh petugas kesehatan. Pertolongan persalinan dilakukan oleh dokter,
bidan atau petugas kesehatan lainnya yang telah memperoleh pelatihan tehnis
pertolongan kepada ibu bersalin yang dilakukan sesuai dengan pedoman dan
prosedur teknis yang telah ditetapkan.
Istilah K1 atau kunjungan pertama ibu hamil pada dasarnya satu paket
dengan istilah K4 atau kunjungan keempat ibu hamil. Kunjungan ibu hamil K4
adalah ibu hamil yang kontak dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan
pelayanan antenatal care (ANC) sesuai dengan standar 10T dengan frekuensi
kunjungan minimal 4 kali selama hamil, dengan syarat trimester I minimal 1
kali, trimester II minimal 1 kali dan trimester III minimal 2 kali. Standar 10 T
yang dimaksud adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Timbang berat badan dan ukur tinggi badan


Pemeriksaan tekanan darah
Nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas)
Pemeriksaan puncak rahim (tinggi fundus uteri)
Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)
Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi Tetanus Toksoid

(TT) bila diperlukan.


7. Pemberian Tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan
8. Test laboratorium (rutin dan khusus)
9. Tatalaksana kasus
10. Temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi (P4K) serta KB paska persalinan
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014 cakupannya mencapai 42
%. Adapun jenis kegiatannya, meliputi :
2.3.3.1.1 Pelayanan kesehatan Ibu Hamil (Bumil) sesuai standar untuk kunjungan
lengkap (K4)
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014, diperoleh
hasil sebagai berikut :
Pencapaian Pelayanan kesehatan Ibu Hamil (Bumil) sesuai standar untuk
kunjungan lengkap (K4) Bulan Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
Target
Pencapaian
1
1066 bumil
959 bumil (90%)
400 bumil (42%)

26

Pencapaian kunjungan lengkap (K4) pada bulan Januari - Juni tahun


2014 didapatkan hasil 42 %. Hasil ini menunjukkan pencapaian dalam
semester I kurang dari 50% dari target. Hal ini kemungkinan disebabkan
karena kesadaran ibu untuk memeriksakan kehamilannya yang kurang dan
karena jarak puskesmas yang jauh.
2.3.3.1.2 Kesenjangan K4-K1
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014, diperoleh
hasil sebagai berikut :
Kesenjangan K4-K1 Bulan Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
Target
1
1265 bumil
< 127 bumil (< 10%)

Pencapaian
bumil ( %)

Berdasarkan mutu pelayanan kesehatan Puskesmas, angka drop out


pelayanan ANC (K1-K4) pada bulan Januari - Juni tahun 2014 belum dapat di
evaluasi. Standar pelayanan minimal drop out K4-K1 dalam 1 tahun ialah <
10%.
2.3.3.1.3. Pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan sesuai standar
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014, diperoleh
hasil sebagai berikut :

Pencapaian Pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan sesuai standar


Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
1
969 ibu bersalin

Target
872 ibu bersalin (90%)

Pencapaian
357 ibu bersalin (41%)
27

Berdasarkan

standar

pencapaian

minimal

pelayanan

kesehatan

Puskesmas, persalinan oleh tenaga kesehatan dalam 1 tahun ialah 90%,


sedangkan yang tercapai pada bulan Januari - Juni tahun 2014 sebesar 41%.
Harapannya dalam 6 bulan ke depan angka pencapaian persalinan oleh nakes
mampu memenuhi target.
2.3.3.1.4 Pelayanan nifas lengkap (ibu dan neonatus) sesuai standar
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014, diperoleh
hasil sebagai berikut:
Pencapaian Pelayanan nifas lengkap (ibu dan neonatus) sesuai standar Bulan
Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
1
1018 ibu bersalin

Target
916 ibu bersalin (90%)

Pencapaian
350 ibu bersalin (38%)

berdasarkan indikator pencapaian minimal, program ini bernilai 90%


per tahun. Sedangkan yang tercapai pada bulan Januari - Juni tahun 2014
sebesar 38% maka masih belum mencapai target yang diharapkan.
2.3.3.1.5 Pelayanan dan atau rujukan ibu hamil resiko tinggi / komplikasi
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014, diperoleh
hasil sebagai berikut :

28

Pencapaian Pelayanan dan atau rujukan ibu hamil resiko tinggi / komplikasi
Bulan Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
Target
1
212 bumil
170 bumil (80%)

Pencapaian
0 bumil (0 %)

Hasil data diatas menunjukkan bahwa pencapaian target pelayanan pada


ibu hamil yang berisiko tinggi pada bulan Januari - Juni tahun 2014 sebesar 0
%. Hal ini menunjukkan bahwa kasus ibu hamil resti yang diberikan rujukan
untuk mendapatkan pelayanan lebih lanjut belum mencapai target.
Besarnya angka ini juga menunjukkan tingginya angka ibu hamil
dengan resti di wilayah Palaran, sehingga perlu adanya pengawasan dan
evaluasi agar jumlah ibu hamil dengan risiko tinggi tidak bertambah. Juga
dibutuhkan kemampuan PONED (Pelayanan Obstetrik dan Neonatal
Emergensi Dasar) para tenaga kesehatan yang baik dalam mendeteksi,
penanganan awal, dan rujukan yang tepat pada ibu hamil, ibu bersalin dan ibu
dalam masa nifas yang berisiko tinggi.

2.3.3.2

Kesehatan Bayi
Tujuan dari program ini adalah mengurangi angka morbiditas dan mortalitas
neonatus resiko tinggi/ bayi dengan BBLR. Program ini dilaksanakan oleh
petugas kesehatan yang berkompeten, yang disampaikan melalui penyuluhan
kesehatan, PMT (Pemberian Makanan Tambahan) dan pemeriksaan rutin.
Penyuluhan kesehatan diberikan melalui kelas ibu, sedangkan pemeriksaan
kesehatan dilakukan pada saat setiap kali kunjungan ibu hamil (K1 hingga K4),
di mana pada saat itu dapat diberikan materi atau pengetahuan mengenai

29

manfaat menjaga dan memperhatikan asupan gizi pada ibu hamil untuk
mencegah terjadinya BBLR.

2.3.3.2.1 Penanganan dan atau rujukan neonatus dengan komplikasi


Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014, diperoleh
hasil sebagai berikut :
Pencapaian Penanganan dan atau rujukan neonatus dengan komplikasi Bulan
Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
1
145 bayi

Target
116 bayi (80%)

Pencapaian
0 bayi (0 %)

Berdasarkan indikator pencapaian minimal, program ini bernilai 80% per


tahun. Sedangkan yang tercapai pada bulan Januari - Juni tahun 2014 sebesar 0
% maka masih belum mencapai target yang diharapkan.
2.3.3.2.2 Cakupan kunjungan bayi
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014, diperoleh
hasil sebagai berikut :
Pencapaian Cakupan kunjungan bayi Bulan Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
Target
Pencapaian
1
969 bayi
872 bayi (90%)
349 bayi (40 %)

30

Berdasarkan indikator pencapaian minimal, program ini bernilai 80% per


tahun. Sedangkan yang tercapai pada bulan Januari - Juni tahun 2014 sebesar
40% maka masih belum mencapai target yang diharapkan.
2.3.3.3 Upaya Kesehatan Balita dan Anak Pra Sekolah
Tujuan dari program ini adalah meningkatkan kesehatan balita dan anak pra
sekolah. Jenis kegiatan yang dilakukan diantaranya : pelayanan deteksi dan
stimulasi dini tumbuh kembang balita (untuk kontak pertama) dan pelayanan
deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang anak pra sekolah (untuk kontak
pertama) di TK.
2.3.3.3.1 Pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang balita (untuk
kontak pertama)
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014, diperoleh hasil
sebagai berikut :
Pencapaian Pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang balita
(untuk kontak pertama) Bulan Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
Target
Pencapaian
1
5968 balita
5371 balita (90%)
10259 balita (191%)

Berdasarkan indikator pencapaian minimal, program ini bernilai 90% per


tahun. Sedangkan yang tercapai pada bulan Januari - Juni tahun 2014 sebesar
191 % maka telah mencapai target yang diharapkan.

31

2.3.3.3.2 Pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang Apras (untuk
kontak pertama) di TK
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014, diperoleh hasil
sebagai berikut :
Pencapaian Pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang Apras
(untuk kontak pertama) di TK Bulan Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
Target
Pencapaian
1
2967 anak
2670 anak (90%)
anak (%)

Berdasarkan indikator pencapaian minimal, program ini bernilai 90%


per tahun. Sedangkan yang tercapai pada bulan Januari - Juni tahun 2014
sebesar % maka masih belum mencapai target yang diharapkan.
2.3.3.4 Upaya Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja
Upaya Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja masih terus dilaksanakan
oleh tenaga terlatih, guru UKS maupun dokter kecil. Tempat dilaksanakannya
adalah ruang UKS sekolah dengan sasaran adalah anak sekolah dasar dan
remaja. Pelatihan dokter kecil dilakukan setiap satu tahun sekali pada bulan
September 2014. Program ini belum dilaksanakan.
2.3.3.5 Pelayanan Keluarga Berencana
Jenis kegiatan pada program ini antara lain: Akseptor KB aktif di puskesmas
(CU), akseptor aktif MKET, akseptor aktif MKET dengan komplikasi, akseptor
aktif MKET mengalami kegagalan.
2.3.3.5.1 Akseptor KB aktif di Puskesmas (CU)
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014,
diperoleh hasil sebagai berikut :

32

Pencapaian Akseptor KB aktif di Puskesmas (CU) Bulan Januari Juni tahun


2014
No.
1

Sasaran
9532 PUS

Target
7149 PUS (75%)

Pencapaian
6943 PUS (97%)

Berdasarkan indikator pencapaian minimal, program ini bernilai 75%


per tahun. Sedangkan yang tercapai pada bulan Januari - Juni tahun 2014
sebesar 97 % maka dalam semester I ini pencapaian telah melampaui target
per tahun.
Pencapaian

yang

diperoleh

dari

pasangan

usia

subur yang

menggunakan KB aktif ialah sebesar 6943 (97 %).


2.3.3.5.2

Akseptor aktif MKET


MKET mencakup AKDR, Implan, MOW dan MOP merupakan salah
satu metode kontrasepsi yang dapat dipilih oleh akseptor KB sesuai dengan
kebutuhan dan kondisinya.
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014,
diperoleh hasil sebaga berikut :
Pencapaian Akseptor aktif MKET Bulan Januari Juni tahun 2014
No.
Sasaran
Target
Pencapaian
1
1706 orang
1280 orang (75%)
39 orang (2.3%)

33

Berdasarkan indikator pencapaian minimal, program ini bernilai 75%


per tahun. Sedangkan yang tercapai pada bulan Januari - Juni tahun 2014 2.3
% maka masih belum mencapai target yang diharapkan.
2.3.3.5.3 Akseptor aktif MKET dengan komplikasi
Tidak ditemukan akseptor aktif dengan komplikasi.
2.3.3.5.4 Akseptor aktif MKET mengalami kegagalan
Tidak ditemukan akseptor aktif yang mengalami kegagalan.

34

2.3.4 Perbaikan Gizi Masyarakat


Upaya perbaikan gizi memiliki beberapa program kerja yang dilaksanakan
dalam wilayah kerjanya dengan koordinator yang bertanggung jawab dalam
pelaksanaan dan pelaporan program yang dijalankan.
Program yang dikerjakan merupakan program standar yang ada di tiap
puskesmas di Indonesia. Berdasarkan data Puskesmas Palaran pada bulan Januari
- Juni tahun 2014 cakupannya mencapai 92 %. Program tersebut, antara lain:
2.3.4.1 Pemberian kapsul vitamin A (dosis 200.000 SI) pada Balita 2 kali/Tahun
Program ini dilaksanakan dua kali dalam setahun yaitu pada bulan Februari
dan Agustus. Pemberian vitamin A untuk bayi (6-11 bulan) sebanyak 100.000 UI
sedangkan untuk balita (1-5 tahun) sebanyak 200.000 UI. Pemberian dilakukan
di Posyandu, TK dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Yang melaksanakan
program ini ialah petugas gizi puskesmas, tim posyandu dan kader. Sasaran
program ini yaitu bayi (6-11 bulan) dan balita (1-5 tahun).
Pencapaian Program Pemberian kapsul vitamin A pada Bayi (6-11 bulan)
Bulan Februari tahun 2014
No.
Sasaran
Target
Pencapaian
1
432 Bayi
389 bayi (90%)
432 bayi (100%)

Pencapaian Program Pemberian kapsul vitamin A pada Balita (1-5 tahun)


Bulan Februari tahun 2014
No.
Sasaran
Target
Pencapaian
1
8513 Balita
7661 balita (90%)
4682 balita (55%)

Berdasarkan data Puskesmas bulan februari tahun 2014, pemberian vitamin


A pada bayi sudah mencapai target yang diharapkan. Sementara pemberian
vitamin A pada balita belum mencapai target. Pencapaian tersebut belum
35

mencapai target dikarenakan kesadaran orang tua pasien yang masih belum
maksimal mengenai pentingnya pemberian vitamin A ini, walaupun sosialisasi
yang dilakukan baik oleh pihak puskesmas maupun posyandu sudah cukup
maksimal. Selain itu, penempatan posyandu yang sudah cukup menyebar
lokasinya di palaran juga seharusnya dapat membantu kelancaran pelaksanaan
program ini. Walaupun begitu untuk meningkatkan kesadaran para orangtua
pasien bisa dilakukan sosialisasi atau penyuluhan untuk meningkatkan
pemahaman tentang pentingnya pemberian vitamin A dan bahaya-bahaya apa
saja yang dapat muncul akibat kekurangan vitamin A.
2.3.4.2 Pemberian Tablet Besi (Fe 90) pada Ibu Hamil
Tujuan program ini adalah untuk mencegah defisiensi zat besi pada ibu
hamil selama masa kehamilannya. Program ini dilaksanakan sepanjang tahun
dan dilakukan bagian KIA di puskesmas pada saat ibu hamil melakukan
pemeriksaan kehamilan (ANC).
Kegiatan ini selain dilaksanakan dipuskesmas, juga dilakukan di klinik
bidan atau bidan-bidan yang menolong persalinan. Puskesmas menyuplai tablet
besi kepada para bidan untuk membagikan kepada para ibu hamil yang
memeriksakan kandungannya pada mereka.
Pencapaian Program Pemberian Tablet Besi (Fe 90) pada Ibu Hamil
Bulan Januari Juni Tahun 2014
No.
Sasaran
Target
Pencapaian
1 1265 ibu hamil
1138 ibu hamil (90%)
599 ibu hamil (47,3%)

Berdasarkan data Puskesmas Januari - Juni tahun 2014 pemberian Fe 90


diperoleh pencapaian sebesar 47.3 %. Disarankan untuk lebih meningkatkan
penyuluhan-penyuluhan, dan perlunya dilakukan evaluasi terhadap data
pemberian tablet Fe baik yang diberikan di puskesmas maupun di luar

36

puskesmas, selain itu perlunya meningkatkan kerjasama dengan pelayan


kesehatan lainnya seperti dokter umum maupun bidan yang disertai pencatatan
yang baik.

2.3.4.3 Pemberian PMT Pemulihan pada Balita Gizi Buruk


Pencapaian Program Pemberian PMT Pemulihan pada Balita Gizi Buruk
Bulan Januari Juni Tahun 2014
No.
Sasaran
Target
Pencapaian
1
0 anak
0 anak
0 anak

Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan gizi balita yang terdapat di
wilayah kerja Puskesmas Palaran. Program dilakukan sepanjang tahun selama
puskesmas dan posyandu dilaksanakan dimana ibu membawa anaknya ke
puskesmas maupun ke posyandu.
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni 2014 diperoleh 0 anak
yang mendapatkan PMT. Program ini juga dilaksanakan oleh Dinas Ketahanan
Pangan pada akhir tahun 2012 yang diharapkan untuk mengatasi masalah balita
gizi buruk. Selain itu, Disarankan untuk memperluas penjaringan dengan
melibatkan pelayan kesehatan lainnya seperti dokter, bidan, dan ahli gizi serta
pentingnya kerjasama dengan promosi kesehatan guna memberi penyuluhan
tentang pemberian makanan bergizi yang sesuai kadar yang dibutuhkan anak
selama tumbuh kembang. Selain itu perlu perhatian lebih dari pemerintah guna
kelancaran pengadaan dan distribusi bahan untuk PMT.
2.3.4.4 Balita Naik Berat Badannya
Program ini bertujan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan
balita setiap bulannya melalui pengukuran BB balita. Kegiatan ini dilaksanakan

37

sepanjang tahun dimana penjaringan dilakukan selama posyandu. Dikatakan


bayi yang naik berat badannya (N) ialah balita yang ditimbang 2 (dua) bulan
berturut-turut naik berat badannya dan mengikuti garis pertumbuhan pada KMS.
Pencapaian Program
Tahun 2014
No.
Sasaran
1
4082 balita

Balita Naik Berat Badannya Bulan Januari Juni


Target
3265 balita (80%)

Pencapaian
2423 balita (59,3%)

Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014 diperoleh


pencapaian sebesar 59.3% dan belum memenuhi target.
2.3.4.5 Balita bawah garis merah
Program ini bertujuan untuk meningkatkan status gizi balita di wilayah
Palaran. Kegiatan ini dilaksanakan sepanjang tahun dan penjaringan dilakukan
selama kegiatan pelayanan kesehatan puskesmas dan posyandu.
Penemuan Balita bawah garis merah Bulan Januari Juni Tahun 2014
No.
Sasaran
Target
Penemuan
1
619 balita
31 balita (5 %)
3 balita (3,72%)

Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014 diperoleh 3


balita (3.72%) yang ada di bawah garis merah dari target sasaran pertahun yaitu
5%. Jumlah ini didapatkan saat penjaringan dan posyandu.
Balita Bawah Garis Merah adalah balita yang ditimbang berat badannya
berada pada garis merah atau di bawah garis merah pada KMS. Selain itu dapat
didefinisikan sebagai balita dengan berat badan menurut umur (BB/U) berada di
bawah garis merah pada KMS. Balita BGM tidak selalu berarti menderita gizi
buruk. Akan tetapi, itu dapat menjadi indikator awal bahwa balita tersebut
mengalami masalah gizi. Para orang tua, terutama ibu juga perlu diingatkan

38

bahwa pola asuh anak sangat berperan penting dalam menentukan status gizi
balita
Kendalanya adalah beberapa ibu tidak kembali lagi untuk kontrol jika
balitanya berada pada BGM sehingga permasalahan gizi buruk tidak
terselesaikan dengan tuntas.
2.3.4.6 Pelayanan Konseling Gizi di Puskesmas Induk Palaran
Program ini merupakan upaya perbaikan gizi, dan Puskesmas Palaran
menjalankannya dengan adanya klinik gizi. Klinik ini terbentuk bulan Mei tahun
2007 sebagai pengembangan program kerja Upaya Perbaikan Gizi PKM Palaran.
Klinik gizi PKM Palaran dilaksanakan setiap hari senin, rabu, dan jumat.
Sasaran klinik konseling gizi antara lain pasien Diabetes melitus, hipertensi,
peningkatan asam urat, peningkatan kolesterol, ibu hamil, bayi, balita, serta
kondisi lainnya yang memerlukan konseling gizi. Pendataan mencakup nama,
usia, alamat, kasus, konseling gizi/uraian/nasehat yang diberikan. Jumlah
kunjungan dari bulan Januari - Juni tahun 2014 yaitu 18 kunjungan.
Sejauh ini masyarakat sudah mulai mengerti pentingnya konseling gizi
sehingga berdampak pada tingginya minat masyarakat. Sebagai sarana untuk
memperluas penjaringan kegiatan ini dapat dilaksanakan bersamaan dengan
kegiatan posyandu baik anak dan lansia selain itu perlu kerjasama pula dengan
promosi kesehatan guna menunjang upaya kesehatan ini.
2.3.5 Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular (P2M)
Program ini bertujuan untuk menurunkan kejadian penyakit menular sampai
pada tingkat terendah dan mencegah terjadinya epidemi. Kegiatan P2M di
puskesmas palaran meliputi menemukan penderita atau tersangka secara pasif
(seperti malaria, ISPA, DBD, Diare, TB, kusta). Selain itu, terdapat Pelayanan
Imunisasi dan Pencegahan serta Penanggulangan PMS dan HIV/AIDS, Rabies,
Filariasis

dan

Schistozomiasis.

Epidemiologi

surveilance

melakukan

penyelidikan lanjutan kontak dari penderita malaria, TB, dan kusta dan
mengetahui peningkatan angka kesakitan terhadap penyakit yang mungkin
menimbulkan epidemi secara dini.
2.3.5.1 TB Paru

39

Untuk menilai kemajuan atau keberhasilan penanggulangan TB, diperlukan


beberapa indikator. Indikator penanggulangan TB secara nasional ada 2, yaitu:
angka penemuan pasien baru TB BTA positif (CDR Case Detection Rate) dan
angka keberhasilan pengobatan (SR Success Rate).

Disamping itu ada beberapa indikator proses untuk mencapai indikator


nasional tersebut, yaitu: (1). Angka penjaringan suspek, (2). Proporsi pasien TB
paru BTA positif diantara suspek yang diperiksa dahaknya, (3). Proporsi pasien
TB paru BTA positif diantara seluruh pasien TB paru, (4). Proporsi pasien TB
anak di antara seluruh pasien TB, (5). Angka notifikasi kasus (CNR Case
Notification Rate), (6). Angka kesembuhan, (7). Angka konversi dan (8). Angka
kesalahan laboratorium.
Jenis kegiatan yang dilakukan antara lain pengobatan penderita TB paru
(DOTS) BTA positif dan pengobatan penderita TB paru (DOTS) BTA negatif
rontgen positif.
Berdasarkan data Puskesmas dengan kriteria pengobatan penderita TB paru
(DOTS) BTA positif pada bulan Januari Juni 2014, diperoleh hasil sebagai
berikut :
Pencapaian Program pengobatan penderita TB paru (DOTS) BTA positif
Bulan Januari Juni Tahun 2014
No.
Sasaran
Target
Pencapaian
1
106 orang
106 (100%)
9 orang (%)

40

Berdasarkan data Puskesmas untuk pasien TB BTA Positif yang sudah


menyelesaikan pengobatan pada bulan Januari - Juni 2014, diperoleh hasil
sebagai berikut :
pasien TB BTA Positif yang sudah menyelesaikan pengobatan pada bulan Januari - Juni
2014
No.
1

Sembuh
6

Lengkap
6

DO
0

Gagal
1

Pindah
1

Berdasarkan data Puskesmas untuk kriteria pengobatan penderita TB paru


(DOTS) BTA negatif rontgen positif pada bulan Januari Juni 2014, diperoleh
hasil sebagai berikut :
Kriteria Pengobatan Penderita TB Paru (DOTS)

Januari - Juni 2014

BTA Negatif Rontgen Positif.


Pencapaian

5 orang

Penemuan kasus TB ini masih rendah karena proses penjaringan dilakukan


secara pasif artinya penjaringan tersangka dilaksanakan hanya pada mereka yang
datang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan dan kurangnya pemeriksaan
pada orang yang kontak serumah, sehingga penemuan kasusnya masih sedikit.
Kendala : Kurangnya kesadaran anggota keluarga penderita untuk
memeriksakan diri akibat kontak dengan penderita TB, kurangnya peran serta
kader dalam masyarakat dalam sweeping kasus yang dicurigai TB berdasarkan
klinis.
Saran : Penyuluhan secara aktif kepada masyarakat untuk meningkatkan
cakupan penemuan tersangka penderita atau biasa dikenal dengan sebutan passive
promotive case finding. Para kader pemberantasan TB di lapangan lebih
menggalakkan kegiatan sweeping dan screening pada komunitas-komunitas yang
dicurigai berisiko tertular TB.

41

2.3.5.2 Malaria
Kegiatan yang dilakukan yaitu menemukan penderita tersangka malaria
yang dilakukan secara pasif melalui kegiatan rutin di unit pelayanan kesehatan
berdasarkan

pemeriksaan

secara

klinis,

kemudian

dikonfirmasi

secara

laboratorium untuk memeriksa Plasmodium dalam darah.


Target program pemberantasan malaria adalah seluruh penderita malaria
baik malaria klinis maupun malaria positif yang ditemukan di Puskesmas
Palaran dapat diobati sesuai standar, dimana semua kasus yang dikonfirmasi
dengan pemeriksaan laboratorium diberikan pegobatan sesuai standar dengan
ACT (Artemisinin Combination Therapy) dan sehingga sebagai pengobatan dini
dan mencegah terjadinya komplikasi dan menurunkan angka pasien yang
dirujuk. Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari Juni 2014 cakupannya
mencapai 96,84%.
Data Penanggulangan penyakit malaria periode Januari - Juni 2014 adalah :
2.3.5.3 Kusta
No
Kegiatan
Temuan
1

Pemeriksaan Sediaan Darah (SD)

2
3

pada penderita malaria klinis


Penderita malaria klinis yang diobati
Penderita malaria positif (+) yang

9
8

diobati sesuai dengan standar


Penderita yang terdeteksi Malaria

berat di Puskesmas yang dirujuk ke


RS
Kegiatan yang dilakukan pada program ini meliputi penemuan tersangka
penderita Kusta PB/MB, mengobati penderita kusta, dan pemeriksaan kontak
penderita.

42

No

Kegiatan

Temuan

Penemuan tersangka penderita

2
3

Kusta PB/MB
Pengobatan penderita kusta
Pemeriksaan kontak penderita

2
6

B
Berdasarkan data Puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014 diperoleh
pencapaian temuan terhadap tersangka penderita Kusta sebanyak 2 kasus. Saran
bagi program ini, Meskipun kasus ini langka diharapkan para kader
pemberantasan kusta di lapangan tetap melakukan kegiatan sweeping dan
screening pada komunitas-komunitas yang dicurigai beresiko tertular kusta.
2.3.5.4 Program Imunisasi
Program ini dilaksanakan seminggu tiap bulannya di puskesmas induk dan
juga dilaksanakan sekali dalam sebulan di tiap-tiap posyandu. Jika terlaksana
dengan

baik diharapkan seluruh anak di Kecamatan Palaran mendapatkan

imunisasi lengkap.
Persiapan yang dilakukan meliputi mempersiapakan perlengkapan dan obat
untuk kegiatan vaksin. Selain itu, mempersiapkan materi dan leaflet untuk
diberikan pada saat sebelum dilakukan pemberian vaksin. Tujuannya untuk
memberikan

vaksinasi serta pengetahuan akan pentingnya imunisasi yang

lengkap, sehingga diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat


Palaran.
Tempat pelaksanaan kegiatan dilakukan di Posyandu setempat, sekolah dan
rumah kader desa. Dengan demikian tempat pelaksanaan kegiatan tidak lagi
menjadi hambatan dalam melaksanakan program ini. Hambatan yang
seringtimbul, terutama pada sasaran anak usia sekolah dasar adalah
ketidakhadiran pada saat pelaksanaan kegiatan. Namun hambatan ini dapat
diatasi, dengan dilakukan screening dan sweeping pada anak yang tidak hadir
pada kegiatan imunisasi berikutnya. Sehingga hasil yang dicapai diharapkan
dapat memuaskan.
Data pelayanan imunisasi periode bulan Januari Juni tahun 2014 adalah:
43

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Kegiatan
Target
Pencapaian
Imunisasi HB-1 < 7 hari
969
92 (9,5%)
Imunisasi DPT 1 pada bayi
969
122 (12.6%)
Imunisasi DPT 2 pada bayi
969
113 (11.7%)
Imunisasi DPT 3 pada bayi
969
118 (12.2%)
Imunisasi POLIO 1 pada bayi
969
118 (12.2%)
Imunisasi POLIO 2 pada bayi
969
113 (11.7%)
Imunisasi POLIO 3 pada bayi
969
100 (10.3%)
Imunisasi POLIO 4 pada bayi
969
103(10.6%)
Imunisasi BCG pada bayi
969
126 (13%)
Imunisasi Campak pada bayi
969
136 (14%)
Rendahnya cakupan angka imunisasi, dikarenakan beberapa kendala yang

mungkin terjadi yaitu pelaksanaan imunisasi di puskesmas terjadwal 1 kali


dalam seminggu dan atau satu kali tiap bulan di masing-masing posyandu. Selain
itu hal lain yang menjadi kendala adalah jarak yang jauh, jalanan yang rusak,
cuaca yang tidak menentu, ibu lupa jadwal imunisasi anaknya, ibu masih dalam
masa nifas ataupun dengan hambatan-hambatan lain juga menjadi kendala bagi
ibu-ibu untuk membawa anaknya ke Posyandu untuk imunisasi. Beberapa ibu
yang membawa anaknya vaksin di rumah sakit di luar Palaran atau ke praktek
swasta lainnya yang tidak tercatat sebagai data Puskesmas turut mengurangi
cakupan imunisasi. Selain itu, pendatang baru yang tidak tahu mengenai
posyandu dan puskesmas sehingga menurunkan angka cakupan imunisasi.
Perlunya mengupayakan kerja sama antara puskesmas dengan pihak
kecamatan dan atau kelurahan dalam kelancaran pelaksanaan program yang
terutama bersifat nasional, yang merupakan tanggung jawab semua pihak
sehingga diharapkan terdapat pembagian tugas yang jelas dan peran serta semua
pihak dalam mensukseskan program tersebut. Meningkatkan koordinasi
antarposyandu, puskesmas, dengan Dinas Kesehatan, dan disiplin dalam
menjalankan program, sehingga memudahkan dalam menjalankan program.
Mengadakan kunjungan ke rumah ibu-ibu yang bermasalah dalam membawa
anaknya untuk mendapat imunisasi, melakukan pendataan kembali melalui kader
di Posyandu untuk menjaring anak yang belum terimunisasi, menanyakan
permasalahan yang dihadapinya kemudian berusaha mencari solusi bersama
untuk permasalahan tersebut.
2.3.5.5 Diare

44

Berdasarkan data Puskesmas Januari Juni 2014 cakupannya mencapai


87,08%. Jenis kegiatan yang dilakukan, antara lain menemukan kasus diare di
puskesmas dan kader, kasus diare ditangani oleh puskesmas dan kader dengan
oral dehidrasi.
Data periode diare bulan Januari - Juni tahun 2014 adalah :
No.

Kegiatan

Temuan

Menemukan kasus diare di

776

puskesmas dan kader


Kasus diare ditangani oleh

650

puskesmas

dan

kader

dengan oral dehidrasi


Kasus Diare ditangani

403

dengan rehidrasi intravena


Tingginya angka diare ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan
perilaku masyarakat mengenai pentingnya hidup bersih dan sehat. Hal ini juga
disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat dan kader dalam pengenalan
tanda penanganan dehidrasi awal apabila terserang diare sebelum mendapatkan
oralit, seperti membuat sendiri cairan penganti yang diolah secara mandiri
(mencampur gula dan garam dalam larutan air mineral) tampak dari tingginya
kasus diare dengan rehidrasi intravena. Tindakan yang dapat dilakukan untuk
mengatasi masalah tersebut dengan penyuluhan dan peningkatan sumber daya.
2.3.5.6 ISPA
Cakupan ISPA di Puskesmas pada Januari Juni 2014 mencapai 37.5%.
Kegiatannya meliputi menemukan kasus pneumonia dan pneumonia berat oleh
Puskesmas dan Kader, kemudian jumlah kasus pneumonia dan pneumonia berat
yang masih bisa ditangani serta jumlah kasus pneumonia berat atau dengan tanda
bahaya ditangani atau dirujuk.
Data penemuan kasus pneumonia dan pneumonia berat oleh petugas
Puskesmas :
Kriteria

Bulan Januari - Desember 2013

Sasaran

693 orang

Target

693 orang (100%)

Pencapaian

26 orang (4%)
45

Selama bulan Januari Juni penemuan kasus Pneumonia sebesar 4 %.


target capaian minimal per tahun 100%. sehingga belum mencapai target
minimal.
2.3.5.7 Demam Berdarah Dengue
Kegiatan yang dilakukan adalah dengan menghitung angka bebas jentik.

Data cakupan angka bebas jentik, diperoleh hasil sebagai berikut :


Kriteria

Januari Juni 2014

Sasaran

95%

Target

95%

Pencapaian
Angka Bebas Jentik = 2755/2900 x 100% = 95%
Data cakupan Penyelidikan Epidemiologi, diperoleh hasil sebagai berikut :
Kriteria

Januari Juni 2014

Sasaran

87

Target

87 %

Pencapaian
Angka Bebas Jentik = 2900/2900 x 100% = 100%
Kendala yang dihadapi dalam pencegahan DBD antara lain lokasi yang
sulit dijangkau petugas, sulitnya perekrutan kader yang berjiwa sosial dan
kurangnya kerjasama antara pegawai yang bertanggung jawab dalam kegiatan
ini. Perlunya sosialisasi program 3M+ dan PHBS rumah tangga.
2.3.6. Upaya pengobatan dasar
Upaya pengobatan dasar bertujuan memberikan pengobatan dan
perawatan yang optimal dengan menentukan diagnosis dengan cepat dan tepat
(sedini mungkin) yang dilanjutkan dengan pemberian pengobatan yang tepat

46

sehingga dapat mengatasi ketidakmampuan maupun kelainan yang dihadapi serta


mengadakan rehabilitasi untuk memperingan penderitaan pasien. Cakupan
berdasarkan data Puskesmas dari bulan Januari hingga Juni 2014 adalah 58 %.
a. Alur pelayanan Puskesmas Palaran
Alur pelayanan puskesmas Palaran dapat dilihat dari gambar berikut ini :
Klinis gizi
Klinis sanitasi

LAYANAN
Pengunjung
pasien

LOKET
PENDAFTARAN

APOTIK
KASIR

Pengobatan umum
Kesehatan ibu dan anak
Pengobatan gigi dan
mulut
Keluarga berencana

P
U
L
A
N
G

Rujuk ke RS

Pemeriksaan
laboratorium
Rujuk ke RS

UGD RAWAT INAP

KASUS GAWAT
DARURAT

OPNAME

Gambar 2. Alur Pelayanan Kesehatan Puskesmas Palaran

b. Fasilitas
Puskesmas palaran memiliki fasilitas rawat jalan dan rawat inap.
c. Sasaran
Semua pasien yang datang berobat ke Puskesmas Palaran baik yang
menggunakan jaminan kartu kesehatan maupun swasta.
d. Data kunjungan pengobatan
Data pemberian pengobatan berdasarkan data Puskesmas bulan Januari Juni
tahun 2014 :

Kunjungan rawat jalan umum (Poli Umum+Poli KIA+Poli Gigi)


Sasaran
52956 kunjungan
Target
7943(15%)
Pencapaian
30831 (58%)

47

Untuk menunjang upaya kesehatan disarankan bagi tenaga kesehatan untuk


terus memperbaharui dan menambah ilmu kesehatan dalam bentuk kegiatan ilmiah
ataupun presentasi kasus.
Dari data kunjungan pengobatan banyak didapatkan jenis penyakit yang
diderita oleh pasien yang berkunjung ke Puskesmas Palaran. Di bawah ini adalah
tabel 10 penyakit terbanyak kunjungan pasien bulan Januari Juni tahun 2014 :

Data
laborat
data
Januari

NO
1
2

Bulan Januari Juni tahun 2014


PENYAKIT
JUMLAH
Hipertensi Esensi
2073
Nasofaringitis Akut /
1491

3
4
5
6
7
8
9
10

common cold
Faringitis akut
Nekrosis pulpa
Dispepsia
DM Tipe II
Influenza
Febris of Unknown Origin
Mialgia
Osteo Arthritis / Gout

1079
655
637
508
503
469
441
320

Bulan
Januari - Juni tahun 2014
Artritis
NO
Kriteria
TOTAL
=8176
1 Pemeriksaan Hemoglobin
2 Pemeriksaan Trombosit
3 Pemeriksaan darah malaria
4
Pemeriksaan test kehamilan
5 Pemeriksaan Sputum TB
6 Pemeriksaan Urine protein pada Ibu

pemeriksaan
orium

berdasarkan

Puskesmas

bulan

- Juni tahun 2014 :


Terlaksana
1069
816
42
58
295
211

Hamil

48

2.4

UPK PENGEMBANGAN PUSKESMAS PALARAN


Puskesmas Palaran merupakan puskesmas yang berbeda dengan puskesmas
lain yang ada di tiap kecamatan di Kota Samarinda karena Puskesmas Palaran
memiliki fasilitas rawat inap. Rawat inap merupakan upaya pengembangan
Puskesmas Induk Palaran yang dibangun pada tahun 2002 dan rampung pada
bulan Desember 2003. Rawat inap diresmikan pada tanggal 21 Januari 2004 dan
mulai beroperasi tanggal 23 Maret 2004. Hal ini menjadikan Puskesmas Palaran
menjadi Puskesmas plus. Saat ini Puskesmas dengan rawat inap ini memiliki
fasilitas UGD dan ruang rawat inap dengan jumlah tempat tidur masing-masing
adalah 4 tempat tidur dan 14 tempat tidur.

2.4.1 Puskesmas dengan Unit Rawat Inap (di rawat inap kantor, data belum ada)
Kinerja puskesmas rawat inap dinilai dari Bed Occupation Rate (BOR),
Average Long Of Stay (AvLOS), Turn Over Internal (TOI), dan Bed Turn Over
(BTO).
2.4.1.1 BOR (Bed Occupation Rate)
BOR : Jumlah penggunaan tempat tidur
BOR Ideal : 75 % s/d 85 %

Pada bulan Januari sampai Desember tahun 2013 jumlah BOR di


Puskesmas Palaran adalah 42,22%.
2.4.1.2 AvLOS (Average Long Of Stay)
AvLOS : Rata-rata lama seorang pasien dirawat

O : rata-rata TT terisi dalam 1 tahun


D : Pasien dipindahkan (rujuk RS ) + pasien keluar hidup + pasien keluar
mati

Angka AvLOS ideal : 3 - 12 hari


Pencapaian AvLOS Puskesmas Rawat Inap Palaran pada bulan Januari

sampai Desember tahun 2013 mendekati kriteria Avlos ideal, yaitu 1-2 hari.

49

2.4.1.3 BTO ( Bed Turn Over )

BTO : tingkat penggunaan sebuah tempat tidur

BTO Ideal : > 30 kali


Tingkat penggunaan sebuah tempat tidur pada bulan Januari sampai

Desember tahun 2013 adalah 24 kali.


2.4.1.4 TOI (turn over interval)
TOI : Rata-rata sebuah tempat tidur tidak terisi
TOI Ideal = 1 3 hari

Angka rata-rata sebuah tempat tidur tidak terisi pada bulan Januari
sampai Desember tahun 2013 adalah 2-3 hari.
2.4.2

Upaya Kesehatan Usia Lanjut


Upaya kesehatan usia lanjut dilakukan dengan dijalankannya suatu program

posyandu lansia yang memiliki visi untuk menjaga atau bahkan meningkatkan keadaan
para lansia agar tetap sehat baik secara fisik maupun mental. Posyandu lansia ini juga
memiliki misi agar kinerja posyandu semakin meningkat diiringi oleh upaya
penganekaragaman kegiatan yang dilaksanakan. Posyandu lansia memiliki beberapa
program kerja diantaranya pemeriksaan kesehatan untuk menentukkan ada atau tidak
adanya kelainan pada lansia seperti gangguan mental emosional, indeks massa tubuh,
tekanan darah, maupun penyakit lainnya. Selain itu, dilakukan penyuluhan dan
pengobatan dasar jika ditemukan kelainan pada lansia tersebut.
2.4.2.1 Pembinaan Kelompok Usia Lanjut sesuai standar
Kriteria
Sasaran

Bulan Januari Juni Tahun 2014


5 kelompok

Pencapaian

5 kelompok (100%)

Pembinaan kelompok usia lanjut telah dilakukan pada 5 kelompok dimasingmasing posyandu. Kelompok-kelompok tersebut diantaranya terdapat pada posyandu

50

lansia karya bakti (Kel.Handil Bakti), posyandu lansia melati putih (Kel.Simpang Pasir),
posyandu lansia harapan (Kel.Rawa Makmur), posyandu lansia nurul iman (Kel.Rawa
Makmur), posyandu lansia bukuan (Kel. Bukuan) yang berjalan setiap 1 bulan sekali.
2.4.2.2 Pemantauan kesehatan anggota Kelompok Usia Lanjut yang dibina sesuai
standar
Kriteria
Sasaran

Bulan Januari - Juni tahun 2014


291 orang

Pencapaian

127 (41,24%)

Pemantauan kesehatan pada anggota kelompok usia lanjut yang dibina sejak
bulan Januari- Juni tahun 2014 sebanyak 127 orang.
2.4.3

Upaya Kesehatan Jiwa (Belum ada data)


Pelayanan gangguan jiwa yang dimaksud adalah pemberian pengobatan kepada

setiap pasien yang terdeteksi menderita gangguan jiwa. Gangguan jiwa meliputi
gangguan organik dan fungsional. Usaha peningkatan kesehatan jiwa puskesmas palaran
ditunjang dengan kegiatan seperti :
1. Pemberdayaan kelompok masyarakat khusus dalam upaya penemuan dini dan
rujukan kasus gangguan jiwa.
2. Penemuan dan penanganan kasus gangguan perilaku, gangguan jiwa, Napza dari
rujukan kader dan masyarakat.
3. Penanganan kasus kesehatan jiwa melalui rujukan ke RS / dokter spesialis.
4. Deteksi penanganan kasus jiwa yang datang berobat pada bulan Januari - Juni tahun
2014 tidak didapatkan kasus penanganan kesehatan jiwa melalui rujukan ke RS /
dokter spesialis.
Pihak Puskesmas memfasilitasi pelayanan dokter spesialis kesehatan jiwa yang
bekerjasama dengan RS Atma Husada Samarinda. Layanan ini resmi dilaksanakan dari
pukul 09.00 WITA hingga pukul 12.00 WITA, dimana kunjungan dokter spesialis
kesehatan jiwa ini dilaksanakan sekali setiap bulan pada hari Sabtu minggu pertama.
Kriteria
Sasaran

Januari - Juni 2014


68453

51

Target

6845 (10%)

Pencapaian

110 (2%)

Penjaringan pasien didapatkan dari pasien yang berobat ke balai pengobatan


Puskesmas Palaran yang terdiagnosa penyakit jiwa, kemudian pasien disarankan untuk
kembali berobat sebulan kemudian serta pasien lama RS. Atma Husada yang tinggal di
wilayah puskesmas palaran tidak perlu kontrol ke RS. Atma Husada.
2.4.4

Upaya Kesehatan Mata


Program kerja yang direncana dalam upaya kesehatan mata pencegahan kebutaan

ini, diantaranya: (1). penemuan kasus di masyarakat dan Puskesmas, melalui


pemeriksaan visus/refraksi, (2) penemuan kasus penyakit mata di Puskesmas, (3)
penemuan kasus buta katarak pada usia > 45 tahun. Pada bulan Januari - Juni tahun
2014 didapatkan hasil :
1) penemuan kasus buta katarak pada usia lebih dari 45 tahun sebanyak 16 kasus
Walaupun upaya pelayanan kesehatan mata di Puskesmas Palaran tergolong
program yang baru, namun upaya pelayanan kesehatan ini sudah mulai ditingkatkan
dengan bekerjasama dengan tenaga kesehatan yang lain serta rumah sakit dalam
menurunkan angka kebutaan.
2.4.5

Upaya Kesehatan Telinga


Sejak tahun 2009 telah dilaksanakan upaya kesehatan telinga dan pencegahan

gangguan pendengaran. Adapun program kerja bidang ini menitikberatkan pada :


(1). Penemuan kasus dan rujukan spesialis di Puskesmas melalui pemeriksaan fungsi
pendengaran
(2). Pelayanan tindakan/operatif oleh spesialis di Puskesmas
(3). Kejadian komplikasi operasi.
Penemuan kasus sejak bulan Januari Juni 2014 di Puskesmas sebanyak 23
kasus. Program kesehatan ini juga tergolong baru, sehingga perlu waktu untuk persiapan
ilmu dan materi, serta tenaga. Serta belum adanya kerjasama dengan berbagai pihak
seperti rumah sakit untuk menjalankan program ini.

52

2.4.6

Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Gigi dan Mulut


Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit gigi dan mulut diwujudkan

dengan dilakukannya beberapa program, antara lain adalah :


(1). Pembinaan kesehatan gigi di Sekolah.
(2). Pembinaan kesehatan gigi di Posyandu.
(3). Pelayanan kesehatan gigi dan mulut masyarakat desa.
(4). Pencabutan gigi tetap.
(5). Penambalan/tumpatan permanen gigi tetap, dimana sebagian besar kegiatan tersebut
diatas telah berjalan hingga saat ini.
Data bulan bulan Januari - Juni tahun 2014 untuk UPK ini adalah sebagai
berikut :
Program

Pembinaan kesehatan gigi di


Sekolah
Pembinaan kesehatan gigi di Posyandu

Pelayanan kesehatan gigi dan mulut


masyarakat desa.
Pencabutan gigi tetap.
Gigi tetap yang ditambal permanen

Satuan

Sasaran

Pencapaian

Cakupan

TK,SD,SMP,SMA

25

100%

Posyandu

30

27%

BUMIL, BALITA

10

198

10%

SD/MI

25

111

100%

Gigi

960

46

5%

Pada UPK pengembangan pencegahan dan penanggulangan penyakit gigi dan


mulut masih ditemukan beberapa kendala diantaranya adalah keterbatasan jumlah
petugas pelaksana sehingga pada beberapa keadaan pencapaian tidak dapat memenuhi
target yang telah ditetapkan.
2.4.7

Upaya Pengembangan Pengobatan Tradisional (Belum ada data)


Upaya Pengembangan Pengobatan Tradisional (Batra) termasuk sebagai salah

satu upaya pengembangan kesehatan yang dilakukan oleh puskesmas Palaran. Akan
tetapi, perjalanan dari program ini sendiri tidak terlaksana dengan baik, dimana dari
penanggung jawab program ini sendiri berpindah tangan, dari pemegang sebelumnya
yang harus pindah tempat kerja dan belum menyelesaikan keseluruhan dari rancangan
program Batra ini. Selain itu, adanya keterbatasan dana dalam pelaksanaan program ini
menjadi hambatan dalam pencapaian kegiatan yang disusun.
53

Penanggung jawab program ini sekarang telah merampungkan rancangan


kegiatan yang telah diusulkan kepada pimpinan Puskesmas dan menunggu persetujuan
untuk pelaksanaannya. Adapun usulan yang telah dimajukan antara lain pendataan dari
tempat pengobatan tradisional seperti depot jamu, pengobatan alternatif, panti pijat, dan
lain sebagainya. Selain itu, program penanaman Tanaman Obat Keluarga menjadi
pilihan kegiatan yang sasarannya kepada masyarakat, agar kemandirian masyarakat
dalam pemanfaatan obat tradisional menjadi lebih baik.
2.4.8

Perawatan Kesehatan Masyarakat (Belum ada data)


Perawatan kesehatan masyarakat diwujudkan dengan dilakukannya beberapa

program, antara lain adalah :

Kegiatan asuhan keperawatan pada keluarga

Kegiatan asuhan keperawatan pada kelompok masyarakat

Pemberdayaan dalam upaya kemandirian pada keluarga lepas asuh

Pemberdayaan dalam upaya kemandirian pada kelompok lepas asuh


Program perawatan kesehatan masyarakat belum memiliki data.

2.4.3

Upaya Kesehatan Olahraga


Upaya kesehatan olahraga diwujudkan dengan dilakukannya beberapa program,

antara lain adalah :

Senam kesehatan jasmani

Bulu Tangkis

Sekolah Sepak Bola


Kegiatan
Senam kesehatan jasmani
Bulu Tangkis
Sekolah Sepak Bola

Pendataan Club
2
2
3

54

55

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Puskesmas Palaran merupakan puskesmas induk dengan sasaran populasi yang
sangat luas yakni mencakup seluruh masyarakat di Kecamatan Palaran. Dalam
pelaksanaannya, puskesmas memiliki fungsi sebagai pusat penggerak pembangunan
berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat dan keluarga, pusat pelayanan
kesehatan tingkat pertama yang terdiri atas pelayanan medik dasar dengan pendekatan
individu dan keluarga, serta pelayanan kesehatan masyarakat yang meliputi pelayanan
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Dalam rangka mewujudkan pelaksanaan
fungsi puskesmas, maka dibuatlah program puskesmas yaitu program dasar yang
tercermin dalam Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) Wajib dan Pengembangan.
Hasil evaluasi program kerja puskesmas bulan Januari - Juni tahun 2014
menunjukkan persentase kemajuan pelaksanaan program kerja dari semua upaya
kesehatan dengan persentase tertinggi pada upaya kesehatan lingkungan (84,97%) dan
persentase terendah pada promosi kesehatan (38,44%). Hasil ini menunjukkan bahwa
secara umum program kerja belum memenuhi target ideal pada bulan Januari - Juni
tahun 2014. Sementara ini, ada beberapa program yang belum memiliki data lengkap,
sehingga pencapaian secara keseluruhan belum dapat dilakukan penilaian.
Kendala umum yang dihadapi terutama pada cakupan wilayah kerja Puskesmas
Palaran yang sangat luas dengan keadaan geografis pada beberapa daerah yang masih
sukar dijangkau secara rutin dan berkesinambungan. Hal ini disiasati dengan
pemberdayaan kader-kader kesehatan lokal yang berasal dari masyarakat di wilayah
tersebut. Masalah lain yang kerap muncul adalah kurangnya pengetahuan dan kesadaran
masyarakat untuk berpartisipasi dalam mengikuti program. Untuk mengatasi hal
tersebut dapat dilakukan penyuluhan kader dan masyarakat setempat, pendekatan
terhadap tokoh masyarakat setempat, serta menggunakan media penyuluhan yang lebih
menarik misalnya penggunaan LCD dan proyektor, slide berwarna dan bergambar,
leaflet dan stiker, serta pembagian door prize ataupun reward bagi para kader yang
aktif.

56

Kendala khusus yang dihadapi adalah banyaknya program yang baru berjalan
pada tengah semester. Selain itu, kendala lain juga berasal dari kurangnya sumber daya
manusia untuk beberapa UPK, sumber daya manusia yang masih baru dan kurangnya
transfer informasi mengenai program yang dilaksanakan. Diperlukan kerjasama yang
lebih baik antara lintas program UPK dalam hal pendataan dan bertukar pikiran
mengenai program kerja yang ada, sehingga kinerja Puskesmas dapat lebih baik lagi di
masa yang akan datang.

57