Anda di halaman 1dari 11

1.

Nikah Wisata
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Fatwanya Tentang Nikah Wisata Nomor 02/MunasVIII/MUI/2010 Tertanggal 27 Juli 2010, Memutuskan/Menetapkan:
Ketentuan Umum
Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan Nikah Wisata adalah bentuk pernikahan yang
dilakukan dengan memenuhi rukun dan syarat pernikahan, namun pernikahan tersebut
diniatkan dan/atau disepakati untuk sementara, semata-mata hanya untuk memenuhi
kebutuhan selama dalam wisata/perjalanan.
Ketentuan Hukum
Nikah Wisata sebagaimana dimaksud dalam ketentuan umum hukumnya haram, karena
merupakan nikah muaqqat (nikah sementara) yang merupakan salah satu bentuk nikah
mutah.

2. Perubahan Dan Penyempurnaan Jenis Kelamin


Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Fatwanya Tentang Perubahan Dan Penyempurnaan
Jenis Kelamin Nomor 03/Munas-VIII/MUI/2010 Tertanggal 27 Juli 2010,
Memutuskan/Menetapkan:
Ketentuan Hukum
A. Penggantian Alat Kelamin
1. Mengubah alat kelamin dari laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya yang
dilakukan dengan sengaja, misalnya dengan operasi ganti kelamin, hukumnya haram.
2. Membantu melakukan ganti kelamin sebagaimana point 1 hukumnya haram.
3. Penetapan keabsahan status jenis kelamin akibat operasi penggantian alat kelamin
sebagaimana point 1 tidak dibolehkan dan tidak memiliki implikasi hukum syari terkait
penggantian tersebut.
4. Kedudukan hukum jenis kelamin orang yang telah melakukan operasi ganti kelamin
sebagaimana point 1 adalah sama dengan jenis kelamin semula seperti sebelum
dilakukan operasi ganti kelamin, meski telah memperoleh penetapan pengadilan.
B. Penyempurnaan Alat Kelamin
1. Menyempurnakan alat kelamin bagi seorang khuntsa yang fungsi alat kelamin lakilakinya lebih dominan atau sebaliknya, melalui operasi penyempurnaan alat kelamin
hukumnya boleh.
2. Membantu melakukan penyempurnaan alat kelamin sebagaimana dimaksud pada point 1
hukumnya boleh.
3. Pelaksanaan operasi penyempurnaan alat kelamin sebagaimana dimaksud pada point 1
harus didasarkan atas pertimbangan medis, bukan hanya pertimbangan psikis semata.
4. Penetapan keabsahan status jenis kelamin akibat operasi penyempurnaan alat kelamin
sebagaimana dimaksud pada point 1 dibolehkan, sehingga memiliki implikasi hukum
syari terkait penyempurnaan tersebut.
5. Kedudukan hukum jenis kelamin orang yang telah melakukan operasi penyempurnaan
alat kelamin sebagaimana dimaksud pada point 1 adalah sesuai dengan jenis kelamin
setelah penyempurnaan sekalipun belum memperoleh penetapan pengadilan terkait
perubahan status tersebut.
C. Rekomendasi

1. Kementerian Kesehatan RI diminta untuk membuat regulasi pelarangan terhadap operasi


penggantian alat kelamin dan pengaturan pelaksanaan operasi penyempurnaan alat
kelamin dengan menjadikan fatwa ini sebagai pedoman.
2. Organisasi profesi kedokteran diminta untuk membuat kode etik kedokteran terkait
larangan praktek operasi ganti alat kelamin dan pengaturan bagi praktek operasi
penyempurnaan alat kelamin dengan menjadikan fatwa ini sebagai pedoman.
3. Mahkamah Agung diminta membuat Surat Edaran kepada hakim untuk tidak
menetapkan permohonan penggantian jenis kelamin dari hasil operasi ganti alat kelamin
yang diharamkan.
4. Ulama dan psikiater (ahli kejiwaan) diminta aktif melakukan pendampingan terhadap
seseorang yang memiliki kelainan psikis yang mempengaruhi perilaku seksual, agar
kembali normal.

3. Kiblat
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Fatwanya Tentang Kiblat Nomor 03 Tahun 2010
Tertanggal 01 Februari 2010, Memutuskan/Menetapkan:
Ketentuan Hukum
1. Kiblat bagi orang yang shalat dan dapat melihat Kabah adalah menghadap ke bangunan
Kabah ('ainul Kabah).
2. Kiblat bagi orang yang shalat dan tidak dapat melihat Kabah adalah arah Kabah (jihat
al-Kabah)
3. Letak geografis Indonesia yang berada di bagian timur Kabah/Mekkah maka kiblat
umat Islam Indonesia adalah menghadap ke arah barat.
Rekomendasi
Bangunan Masjid/musholla di Indonesia sepanjang kiblatnya menghadap ke arah barat, tidak
perlu diubah, dibongkar dan sebagainya.

4. Puasa Bagi Penerbang


Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Fatwanya Tentang Puasa Bagi Penerbang Nomor
04/MUNAS-VIII/MUI/2010 Tertanggal 21 Juli 2010, Memutuskan/Menetapkan:
Ketentuan Umum:
Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan :
1. Penerbang (Pilot) adalah awak/kru pesawat yang sedang bertugas menerbangkan
pesawat.
2. Musafir tetap adalah seseorang yang melakukan perjalanan secara terus menerus.
3. Musafir tidak tetap adalah seseorang yang melakukan perjalanan temporal.
Ketentuan Hukum:
1. Penerbang (Pilot) boleh meninggalkan ibadah puasa Ramadhan sebagai rukhshah safar
(keringanan karena bepergian); dengan ketentuan:
1. penerbang yang berstatus musafir tetap dapat mengganti dengan membayar fidyah;
2. penerbang yang berstatus musafir tidak tetap wajib mengganti puasa di hari lain.
2. Membuat peraturan yang melarang seseorang berpuasa Ramadhan hukumnya haram
karena bertentangan dengan syariat Islam.
5. Infotainment
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Fatwanya Tentang Infotainment Nomor 05/MUNASVIII/MUI/2010 Tertanggal 27 Juli 2010, Memutuskan/Menetapkan:
1. Menceritakan aib, kejelekan, gosip, dan hal-hal lain sejenis terkait pribadi kepada orang
lain dan/atau khalayak hukumnya haram.
2. Upaya membuat berita yang mengorek dan membeberkan aib, kejelekan, gosip, dan halhal lain sejenis terkait pribadi kepada orang lain dan/atau khalayak hukumnya haram.
3. Menayangkan dan menyiarkan berita yang berisi tentang aib, kejelekan, gosip, dan halhal lain sejenis terkait pribadi kepada orang lain hukumnya haram.
4. Menonton, membaca, dan/atau mendengarkan berita yang berisi tentang aib, kejelekan
orang lain, gosip, dan hal-hal lain sejenis terkait hukumnya haram.

5. Mengambil keuntungan dari berita yang berisi tentang aib, kejelekan orang lain, gosip,
dan hal-hal lain sejenis terkait pribadi kepada orang lain dan/atau khalayak hukumnya
haram.
6. Menayangkan dan menyiarkan, serta menonton, membaca, dan/atau mendengarkan
berita yang berisi tentang aib, kejelekan orang lain, dan hal-hal lain sejenis terkait
pribadi dibolehkan jika ada pertimbangan yang dibenarkan secara syari, seperti untuk
kepentingan penegakan hukum, memberantas kemunkaran, memberi peringatan,
menyampaikan pengaduan/laporan, meminta pertolongan dan/atau meminta fatwa
hukum.
Rekomendasi
1. Pemerintah dan DPR-RI diminta segera merumuskan peraturan perundang-undangan
untuk mencegah konten tayangan yang bertentangan dengan norma agama, keadaban,
kesusilaan, dan nilai luhur kemanusiaan.
2. Komisi Penyiaran Indonesia diminta untuk meregulasi tayangan infotainment untuk
menjamin hak masyarakat memperoleh tayangan bermutu dan melindunginya dari halhal negatif.
3. Lembaga Sensor Film diminta mengambil langkah proaktif untuk menyensor tayangan
infotainment guna menjamin terpenuhinya hak-hak publik dalam menikmati tayangan
bermutu.
6. Penggunaan Vaksin Meningitis Bagi Jemaah Haji Atau Umrah
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Fatwanya Tentang Penggunaan Vaksin Meningitis
Bagi Jemaah Haji Atau Umrah Nomor 06 Tahun 2010 Tertanggal 16 Juli 2010,
Memutuskan/Menetapkan:
Ketentuan Umum :
Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan :
1. Vaksin MencevaxTM ACW135Y adalah vaksin meningitis yang diproduksi oleh Glaxo
Smith Kline Beecham Pharmaceutical-Belgium.
2. Vaksin Menveo Meningococcal adalah vaksin yang mempunyai nama produksi Menveo
Meningococcal Group A, C, W135 and Y Conyugate Vaccine yang diproduksi oleh
Novartis Vaccine and Diagnostics S.r.i.
3. Vaksin Meningococcal adalah vaksin yang mempunyai nama produksi Meningococcal
Vaccine yang diproduksi oleh Zheijiang Tianyuan Bio Pharmaceutical Co. Ltd.
Ketentuan Hukum :
1.
2.
3.
4.

Vaksin MencevaxTM ACW135Y hukumnya Haram.


Vaksin Menveo Meningococcal dan Vaksin Meningococcal hukumnya Halal.
Vaksin yang boleh digunakan hanyalah vaksin meningitis yang halal.
Ketentuan dalam Fatwa MUI Nomor 5 Tahun 2009 yang menyatakan bahwa bagi orang
yang melaksanakan haji wajib atau umrah wajib boleh menggunakan vaksin meningitis
haram karena al-hajah (kebutuhan mendesak) dinyatakan tidak berlaku lagi.

7. Riswah (Suap), Ghulul (Korupsi) Dan Hadiah Kepada Pejabat


Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Fatwanya Tentang Riswah (Suap), Ghulul (Korupsi)
Dan Hadiah Kepada Pejabat Tertanggal 29 Juli 2000, Memutuskan/Menetapkan:
Pertama : Pengertian

Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan:


1.

Risywah adalah pemberian yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain (pejabat)
dengan maksud meluluskan suatu perbuatan yang batil (tidak benar menurut syariah)
atau membatilkan perbuatan yang hak. Pemberi disebut rasyi; penerima disebut
murtasyi; dan penghubung antara rasyi dan murtasyi disebut ra'isy (Ibn al-Atsir, alNihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar, II, h. 226).
2. Suap, uang pelicin, money politic dan lain sebagainya dapat dikategorikan sebagai
risywah apabila tujuannya untuk meluluskan sesuatu yang batil atau membatilkan
perbuatan yang hak.
3. Hadiah kepada pejabat adalah suatu pemberian dari seseorang dan/atau masyarakat yang
diberikan kepada pejabat, karena kedudukannya, baik pejabat di lingkungan
pemerintahan maupun lainnya.
4. Korupsi adalah tindakan pengambilan sesua-tu yang ada di bawah kekuasaannya dengan
cara yang tidak benar menurut syariat Islam.
Kedua : Hukum
1. Memberikan risywah dan menerimanya hu-kumnya adalah haram.
2. Melakukan korupsi hukumnya adalah haram.
3. Memberikan hadiah kepada pejabat:
1. Jika pemberian hadiah itu pernah dilakukan sebelum pejabat tersebut memegang
jabatan, maka pemberian seperti itu hukumnya halal (tidak haram), demikian juga
menerimanya;
2. Jika pemberian hadiah itu tidak pernah dilakukan sebelum pejabat tersebut memegang jabatan, maka dalam hal ini ada tiga kemungkinan:
1. Jika antara pemberi hadiah dan pejabat tidak ada atau tidak akan ada urusan
apa-apa, maka memberikan dan menerima hadiah tersebut tidak haram;
2. Jika antara pemberi hadiah dan pejabat terdapat urusan (perkara), ma-ka bagi
pejabat haram menerima hadiah tersebut; sedangkan bagi pemberi, haram
memberikannya apabila perberian dimaksud bertujuan untuk meluluskan
sesuatu yang batil (bukan haknya);
3. Jika antara pemberi hadiah dan pejabat ada sesuatu urusan, baik sebe-lum
maupun sesudah pemberian hadiah dan pemberiannya itu tidak bertujuan untuk
sesuatu yang batil, maka halal (tidak haram) bagi pem-beri memberikan hadiah
itu, tetapi bagi pejabat haram menerimanya.
Ketiga : Seruan
Semua lapisan masyarakat berkewajiban untuk memberantas dan tidak terlibat dalam praktek
hal-hal tersebut.
Keempat : Fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan
fatwa ini.

8. Aborsi (1)
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Fatwanya Tentang Aborsi (1) Nomor 1/MUNAS
VI/MUI/2000 Tertanggal 29 Juli 2000, Memutuskan/Menetapkan:
Mengukuhkan keputusan Munas Ulama Indonesia, tanggal 28 Oktober 1983 tentang
kependudukan, kesehatan, dan pembangunan.

1. Melakukan aborsi (pengguguran janin) sesudah nafkh al-ruh hukumnya adalah haram,
kecuali jika ada alasan medis, seperti untuk menyelamatkan jiwa si ibu.
2. Melakukan aborsi sejak terjadinya pembuahan ovum, walaupun sebelum nafkh al-ruh,
hukumnya adalah haram, kecuali ada alasan medis atau alasan lain yang dibenarkan oleh
syariah Islam.
3. Mengharamkan semua pihak untuk melakukan, membantu, atau mengizinkan aborsi.
4. Fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
5. Agar setiap orang dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk
menyebarluaskan fatwa ini.
9. Shalat Disertai Terjemahan Bacaannya
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Fatwanya Tentang Shalat Disertai Terjemahan
Bacaannya Nomor 3 Tahun 2005 Tertanggal 7 Mei 2000, Memutuskan/Menetapkan:
1. Shalat adalah suatu ibadah murni (ibadah mahdhah); oleh karena itu, pelaksanaannya
wajib mengikuti petunjuk Allah s.w.t. yang telah disampaikan dan dicontohkan oleh
Rasulullah s.a.w.; baik dalam bacaan maupun gerakannya (aqwal wa afal).
2. Shalat yang disertai terjemah bacaannya adalah tidak sah karena tidak sesuai dengan
tuntunan Rasulullah saw.
3. Shalat yang dilakukan oleh pengasuh Pondok Itikaf Jamaah Ngaji Lelaku Yayasan
Taqwallah tergolong bidah dhalalah, yaitu bidah yang sesat serta tertolak; dan shalat
yang dilakukannya adalah tidak sah.
Agar setiap muslim yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk
menyebarluaskan fatwa ini.

10. Pengurusan Jenazah Dalam Keadaan Darurat


Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Fatwanya Tentang Pengurusan Jenazah Dalam
Keadaan Darurat Tertanggal 31 Desember 2004, Memutuskan/Menetapkan:
Pertama :
Pada dasarnya, dalam keadaan normal, mayat wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan
dikuburkan, menurut tata cara yang telah ditentukan menurut syariat Islam.
Kedua :
Dalam keadaan darurat di mana pengurusan (penanganan) jenazah tidak mungkin memenuhi
ketentuan syariat seperti di atas, maka pengurusan jenazah dilakukan sebagai berikut:
1. Memandikan dan mengkafani
1. Jenazah boleh tidak dimandikan; tetapi, apabila memungkinkan sebaiknya diguyur
sebelum penguburan.
2. Pakaian yang melekat pada mayat atau kantong mayat dapat menjadi kafan bagi
jenazah yang bersangkutan walaupun terkena najis.
2. Menshalatkan. Mayat boleh dishalati sesudah dikuburkan walaupun dari jarak jauh
(shalat ghaib), dan boleh juga tidak dishalati menurut qaul mutamad (pendapat yang
kuat).
3. Menguburkan jenazah
1. Jenazah korban wajib segera dikuburkan.
2. Jenazah boleh dikuburkan secara massal dalam jumlah yang tidak terbatas, baik
dalam satu atau beberapa liang kubur, dan tidak harus dihadapkan ke arah kiblat.
3. Penguburan secara massal tersebut boleh dilakukan tanpa memisahkan jenazah
laki-laki dan perempuan; juga antara muslim dan non-muslim.
4. Jenazah boleh langsung dikuburkan di tempat jenazah ditemukan.
11. Permainan Pada Media/Mesin Permainan Yang Dikelola Anggota Asosiasi Rekreasi
Keluarga Indonesia (ARKI)
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Fatwanya Tentang Permainan Pada Media/Mesin
Permainan Yang Dikelola Anggota Asosiasi Rekreasi Keluarga Indonesia (ARKI) Tertanggal
03 Oktober 2007, Memutuskan/Menetapkan:
Ketentuan Umum
Permainan yang dimaksud dalam fatwa ini adalah permainan dan hiburan yang menggunakan
media atau mesin-mesin permainan yang dikelola oleh Perusahaan yang tergabung dalam
Asosiasi Rekreasi keluarga Indonesia (ARKI).
Ketentuan Hukum
1. Mubah, yaitu permainan pada :
1. Media/mesin permainan dan hiburan yang murni menjual jasa atau sewa tanpa
memberikan hadiah/souvenir. Permainan tesebut ialah : permainan pada media/mesin
kategori Kiddy Ride, Softplay, Mesin Foto, Mesin Simulator, Mesin Attraction dan
Major Ride.
2. Media/mesin permainan dan hiburan yang memberikan hadiah (reward) atas dasar
keterampilan pemain dan tidak mengandung unsur judi. Permainan tersebut ialah :

permainan pada media/mesin kategori Mesin Vending dan sebagian Mesin


Redemption.
2. Haram, yaitu permainan pada media/mesin permainan yang memberikan hadiah/souvenir
atas dasar untung-untungan semata dan mengandung unsur judi. Permainan tersebut ialah
: permainan pada media/mesin kategori Medal Game, Pusher Machine dan sebagian
Mesin Redemption.
Ketentuan Khusus
1. Perusahaan wajib menjaga agar arena permainan tidak digunakan untuk taruhan atau judi.
2. Media/Mesin permainan yang dibolehkan, sebagaimana disebut dalam ketentuan hukum
butir 1, adalah media/mesin permainan yang tercantum dalam daftar lampiran fatwa dan
menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dari fatwa ini.
3. Media/Mesin Permainan yang diharamkan, sebagaimana disebut dalam ketentuan hukum
butir 2, harus dimusnahkan atau direeksport dan disterilkan dari arena permainan/outlet.
4. Setiap penambahan media/mesin permainan yang baru, maka pihak perusahaan dan/atau
ARKI harus melaporkan kepada MUI.
5. Untuk mencegah terjadinya Ighra, nilai hadiah yang diberikan perusahaan kepada pemain
harus dibatasi.
6. MUI berhak melakukan pengawasan dan sidak pada setiap outlet perusahaan di bawah
ARKI.
Penutup
Fatwa ini berlaku secara muqayyad untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun. Dan apabila sewaktuwaktu terjadi penyimpangan atau penyalahgunaan oleh pihak perusahaan dan/atau ARKI
maka akan dicabut dan dinyatakan batal demi hukum.
12. Arah Kiblat
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Fatwanya Tentang Arah Kiblat Nomor 05 Tahun
2010 Tertanggal 01 Juli 2010, Memutuskan/Menetapkan:
Ketentuan Hukum
1. Kiblat bagi orang yang shalat dan dapat melihat Kabah adalah menghadap ke bangunan
Kabah ('ainul Kabah).
2. Kiblat bagi orang yang shalat dan tidak dapat melihat Kabah adalah arah Kabah (jihat
al-Kabah)
3. Kiblat umat Islam Indonesia adalah menghadap ke barat laut dengan posisi bervariasi
sesuai dengan letak kawasan masing-masing.
Rekomendasi
Bangunan masjid/mushola yang tidak tepat arah kiblatnya, perlu ditata ulang shafnya tanpa
membongkar bangunannya.

13. Penetapan Produk Halal


Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Fatwanya Tentang Penetapan Produk Halal Nomor
01 Tahun 2011 Tertanggal 05 Januari 2010, Memutuskan/Menetapkan:
1. Produk-produk sebagaimana tersebut dalam lampiran Keputusan Fatwa ini ditetapkan
kehalalan dan kesuciannya.
2. Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata
terdapat kekeliruan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

14. Pertambangan Ramah Lingkungan


Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Fatwanya Tentang Pertambangan Ramah
Lingkungan Nomor 22 Tahun 2011 Tertanggal 26 Mei 2011, Memutuskan/Menetapkan:
Ketentuan Umum
Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan :
1. Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian,
pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum,
eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, pertambangan, pengolahan, dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang.
2. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan
makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri,
kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
3. Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan orang yang menimbulkan perubahan
langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup
sehingga melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.
4. Kerusakan lingkungan hidup adalah perubahan langsung dan/atau tidak langsung
terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang melampaui kriteria
baku kerusakan lingkungan hidup.
Ketentuan Hukum
1. Pertambangan boleh dilakukan sepanjang untuk kepentingan kemaslahatan umum, tidak
mendatangkan kerusakan, dan ramah lingkungan.
2. Pelaksanaan pertambangan sebagaimana dimaksud angka satu harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
1. harus sesuai dengan perencanaan tata ruang dan mekanisme perizinan yang
berkeadilan;
2. harus dilakukan studi kelayakan yang melibatkan masyarakat pemangku kepentingan
(stake holders)
3. pelaksanaannya harus ramah lingkungan (green mining);
4. tidak menimbulkan kerusakan dan pencemaran lingkungan melalui pengawasan
(monitoring) berkelanjutan;
5. melakukan reklamasi, restorasi dan rehabilitasi pascapertambangan;
6. pemanfaatan hasil tambang harus mendukung ketahanan nasional dan pewujudan
kesejahteraan masyarakat sesuai dengan amanat UUD; dan
7. memperhatikan tata guna lahan dan kedaulatan teritorial.
3. Pelaksanaan pertambangan sebagaimana dimaksud angka satu wajib menghindari
kerusakan (dafu al-mafsadah), yang antara lain:
1. menimbulkan kerusakan ekosistem darat dan laut;
2. menimbulkan pencemaran air serta rusaknya daur hidrologi (siklus air);
3. menyebabkan kepunahan atau terganggunya keanekaragaman hayati yang berada di
sekitarnya;
4. menyebabkan polusi udara dan ikut serta mempercepat pemanasan global;
5. mendorong proses pemiskinan masyarakat sekitar;
6. mengancam kesehatan masyarakat.

4. Kegiatan pertambangan yang tidak sesuai dengan persyaratan sebagaimana angka 2 dan
angka 3 serta tidak mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar, hukumnya
haram.
5. Dalam hal pertambangan yang menimbulkan dampak buruk sebagaimana angka 3,
penambang wajib melakukan perbaikan dalam rangka menjamin kesejahteraan
masyarakat dan kelestarian lingkungan hidup.
6. Mentaati seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan untuk mewujudkan
pertambangan ramah lingkungan hukumnya wajib.
Rekomendasi
Pemerintah
1. Dalam memberikan izin pemanfaatan lahan untuk pertambangan harus dibatasi, selektif
dan berkeadilan serta semata-mata untuk kesejahteraan masyarakat umum (maslahah
ammah).
2. Harus melakukan pengawasan yang efektif terhadap pelaksanaan izin, baik yang
diterbitkan oleh Pemerintah Pusat maupun Daerah dengan melibatkan peran serta
masyarakat (broad-based monitoring system).
3. Harus melakukan penindakan terhadap praktek penyimpangan atas perizinan serta
pelaksanaan pertambangan yang tidak memenuhi persyaratan dan/atau menimbulkan
kerusakan sebagaimana dalam ketentuan fatwa ini, baik dengan tawidl (ganti rugi)
maupun tazir (hukuman).
4. Meninjau kembali izin yang diberikan kepada perusahaan yang secara nyata tidak
memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
5. Khusus kepada penegak hukum agar dapat bekerja lebih teliti dan cermat serta
bertanggung-jawab untuk menindak tegas dan memberi hukuman terhadap oknum dan
perusahaan yang melanggar dan menyimpang dari undang-undang dan peraturan yang
berlaku serta fatwa ini.
6. Terus mengupayakan kesadaran pendidikan lingkungan hidup bagi masyarakat.
Legislatif
1. Agar membuat Undang-Undang yang memberikan sanksi tegas kepada perusak
lingkungan dalam pertambangan;
2. Agar mengkaji ulang dan mengganti ketentuan peraturan perundang-undangan yang
hanya menguntungkan sekelompok orang dan tidak menjamin pemanfaatan
pertambangan untuk kesejahteraan masyarakat dan kedaulatan nasional.
Pemerintah Daerah
1. Agar pemberian izin pertambangan yang menjadi kewenangannya harus sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan, baik terkait dengan tata ruang wilayah maupun
tata guna lahan serta harus memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
2. Agar meningkatkan monitoring dan pengawasan pelaksanaan reklamasi lahan pasca
pertambangan dengan melibatkan masyarakat.
3. Agar meningkatkan pengawasan secara efektif terhadap konsistensi kegiatan
pertambangan agar tidak menimbulkan dampak bagi kelangsungan lingkungan hidup.
4. Agar tidak memberikan izin monopoli pertambangan kepada pihak tertentu.
Pengusaha
1. Agar mentaati seluruh ketentuan perizinan secara benar, termasuk ketentuan Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
2. Agar melakukan reklamasi dan restorasi terhadap lahan yang rusak akibat pertambangan
tersebut sebelum meninggalkan lokasi pertambangan.

3. Agar melakukan pemberdayaan masyarakat, terutama masyarakat sekitar agar lebih


sejahtera.
4. Agar memikul tanggung jawab sosial untuk menjamin terwujudnya kesejahteraan
masyarakat dan kelestarian lingkungan.
5. Agar mentaati kewajiban penunaian zakat atas hasil tambangnya sesuai ketentuan kepada
lembaga amil zakat.
Tokoh Agama
1. Mengembangkan pemahaman dan pengamalan agama dalam aspek perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam untuk mewujudkan kemaslahatan.
2. Memberikan panduan keagamaan guna mewujudkan kesadaran masyarakat dalam
pemeliharaan lingkungan hidup.
3. Berperan serta dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan mencegah terjadinya
kerusakan lingkungan hidup akibat pertambangan dengan memberikan pengarahan dan
pencegahan melalui dakwah yang bijaksana terhadap pemegang kebijakan dan pemangku
kepentingan.
Masyarakat
1. Berperan serta dalam mewujudkan pertambangan yang ramah lingkungan;
2. Berperan serta dalam melakukan pengawasan sosial dan pencegahan kerusakan
lingkungan;
3. Membangun kesadaran dan tanggung jawab dalam pelestarian lingkungan.
Ketentuan Penutup
1. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari
ternyata terdapat kekeliruan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya.
2. Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya,
menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.