Anda di halaman 1dari 4

RP: Flexible Manufacturing System1

Flexible Manufacturing System:


Implikasi Manajemen Biaya dan Akuntansi Biaya
George Forster and Charles T. Horngren
Seiring dengan perkembangan teknologi, terutama di era globalisasi ini,
pertumbuhan dan perkembangan industri meningkat semakin pesat dan cepat.
Persaingan tidak hanya terjadi di bidang harga saja, melainkan juga di bidang
kualitas, waktu pengiriman produk ke pelanggan, dan sebagainya, sehingga
tingkat fleksibilitas perusahaan pun harus ditingkatkan.
Pada dasarnya, fleksibilitas ini merupakan kemampuan perusahaan dalam
merespon berbagai perubahan yang terjadi di lingkungannya, baik internal
maupun

eksternal.

Kemampuan

tersebut

meliputi

kemampuan

untuk

memproduksi berbagai produk yang berbeda, memperpendek siklus hidup produk,


serta melakukan produksi secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, untuk
mencapai tujuan tersebut diperlukan suatu sistem yang memungkinkan
perusahaan dapat menanggapi perubahan secara cepat, seperti Flexible
Manufacturing Systems (FMS).
FMS

merupakan

suatu

sistem

produksi

yang

dilakukan

dengan

mengintegrasikan dua buah mesin atau lebih menjadi satu kesatuan sehingga
memungkinkan bahan baku berpindah secara otomatis untuk di proses pada tahap
selanjutnya. Dalam penerapannya, pengoperasian FMS ini diatur melalui
komputer, yang mana setiap toolnya telah dirancang sedemikian rupa sesuai
dengan kebutuhan perusahaan.
Pada dasarnya, ada beberapa elemen kunci yang terdapat dalam FMS, yaitu
1) sebuah sistem penanganan material yang otomatis, 2) seperangkat stasiun kerja
yang semi independen, serta 3) sebuah jaringan pengawasan yang dapat
mengarahkan rute pekerjaan, memeriksa setiap status pekerjaan, melewati setiap
instruksi, memantau kinerja operasi, dan memastikan ketepatan alat yang tersedia
untuk suatu pekerjaan. Untuk menerapkan FMS, keseluruhan elemen tersebut
harus dipenuhi oleh perusahaan.

RP: Flexible Manufacturing System2

Sebelum memenuhi setiap elemen kunci, ada beberapa hal yang dapat
dijadikan pertimbangan oleh pihak manajemen untuk mendukung keputusan
dalam menerapkan FMS. Pertama, biaya. Dengan menggunakan FMS, persediaan
barang dalam proses dapat dikurangi, karena setiap bahan baku yang dimasukkan
akan diproses secara langsung menjadi barang jadi, tanpa adanya barang dalam
proses yang menganggur. Melalui penerapan FMS, biaya tenaga kerja perusahaan
juga dapat dikurangi, baik biaya tenaga kerja langsung maupun biaya tenaga kerja
tidak langsung. Hal ini dikarenakan adanya pengurangan jumlah tenaga kerja yang
dibutuhkan perusahaan sebagai dampak penggunaan mesin dalam produksi. Di
samping itu, FMS juga dapat mengurangi kerusakan dan pengerjaan ulang suatu
produk, mengurangi kebutuhan ruangan, serta mengurangi biaya perolehan
informasi.
Kedua, waktu. Dengan menggunakan FMS, perusahaan dapat menurunkan
siklus waktu mulai dari perancangan produk hingga produk tersebut sampai ke
tangan konsumen. Hal ini dikarenakan oleh kemampuan FMS dalam mengatasi
bottlenecks kemacetan serta mengurangi waktu set up, kesalahan peralatan, dan
campur tangan manusia dalam setiap tahap manufaktur.
Ketiga, pemasaran. Dengan menggunakan FMS, waktu pendistribusian,
pengenalan produk baru, dan pemodifikasian produk dapat menjadi lebih cepat.
Di samping itu, FMS juga mampu mengelola produksi dalam volume kecil serta
membuat perubahan yang sangat cepat dalam bauran produk dan volume produk
untuk mengakomodasi perubahan pasar.
Keempat, kualitas. Dengan menggunakan FMS, perusahaan dapat
beroperasi dengan kualitas tinggi dalam sekali produksi dan perusahaan juga
dapat menjaga kekonsistenan kualitas produk tersebut.
Kelima, teknologi. Dengan menggunakan FMS, otomatis perusahaan harus
menggunakan teknologi tingkat tinggi dan canggih untuk produksi sehingga
produk yang dihasilkan lebih beragam, berkualitas, dan lebih murah. Hal ini akan
membuat perusahaan dapat mempertahankan keunggulan kompetitifnya.
Namun demikian, tidak semua pihak mau mendukung penerapan sistem ini.
Ada beberapa pro dan kontra yang dapat timbul dalam penerapannya. Pro dan
kontra tersebut akan dijelaskan pada tabel berikut:

RP: Flexible Manufacturing System3

PRO
KONTRA
- Pengurangan tenaga kerja akan - Pengurangan tenaga kerja atau PHK
menurunkan biaya tenaga kerja
akan
meningkatkan
jumlah
pengangguran.
- Penggunaan mesin yang canggih akan - Penggunaan mesin yang canggih
meningkatkan kualitas produk serta
akan meningkatkan biaya pememengurangi produk rusak dan cacat.
liharaan dan apabila rusak akan
membutuhkan teknisi khusus untuk
memperbaikinya.
- Penggunaan mesin yang canggih - Penggunaan mesin yang canggih
dapat membantu perusahaan memembutuhkan biaya instalasi yang
nambah lini produksi baru dan
mahal.
mengurangi kecelakaan kerja.
- Penggunaan software yang canggih - Penggunaan software yang canggih
dapat memudahkan pekerjaan dalam
membutuhkan biaya yang relatif
mengubah kapasitas produksi dan
mahal, implementasi yang lama,
rancangan produk.
dan apabila rusak, maka produksi
akan macet total.
Untuk merencanakan dan mengembangkan FMS, perusahaan biasanya
menggunakan pengembang internal dan vendor eksternal sekaligus. Dalam hal ini,
biaya pengembangan internal langsung dibebankan sebagai biaya, sementara
biaya vendor eksternal dikapitalisasi terlebih dahulu, sehingga bebannya pun
menjadi lebih rendah.
Setelah sistem selesai dikembangkan, maka perusahaan harus menentukan
jenis produk dan jumlah produksinya. Selain itu, perusahaan juga harus
mengetahui informasi akuntansi biaya yang akurat untuk setiap lini produk yang
akan diproduksi. Biasanya, alokasi pekerjaan dalam FMS dijalankan dengan
bantuan komputer yang terjadwal secara algoritma.
Dalam penerapannya, FMS memiliki banyak ukuran kinerja, baik ukuran
kinerja yang sama dengan ukuran kinerja dalam lingkungan intensif maupun
ukuran kinerja khusus dalam aspek fleksibel. Ukuran kinerja khusus tersebut
meliputi ukuran biaya, ukuran waktu, ukuran kualitas, ukuran kinerja operasional,
dan ukuran fleksibel.
Di samping beberapa ukuran kinerja tambahan tersebut, FMS juga memberi
berbagai implikasi terhadap manajemen biaya dan akuntansi biaya pada suatu
perusahaan. Contohnya dalam perhitungan harga pokok produk. Dengan FMS,
komponen biaya langsung, alokasi biaya tidak langsung, dan perlakuan biaya

RP: Flexible Manufacturing System4

sebagai biaya periode dapat berubah. Pada komponen biaya langsung, biaya tidak
langsung bisa berubah menjadi biaya langsung dan biaya langsung dapat berubah
menjadi biaya tidak langsung. Begitu pun dengan yang lainnya. Perusahaan
cenderung menerapkan FMS yang memiliki respon paling sama terhadap
manajemen biaya dan akuntansi biaya.
Menurut kami, FMS sebenarnya baik untuk diterapkan perusahaan agar
tidak kalah bersaing dengan perusahaan lainnya, mengingat banyaknya dampak
positif yang diberikan dibandingkan dampak negatifnya. Dengan menerapkan
FMS perusahaan dapat memproduksi berbagai jenis produk dengan satu sistem
yang terintegrasi sehingga akan menghemat waktu dan biaya. Hal ini sesuai
dengan tujuan rata-rata perusahaan yang menginginkan agar proses produksi dapat
dilakukan secara efektif dan efisien.
Namun demikian, tidak semua perusahaan bisa menerapkannya. Perusahaan
yang kami nilai bisa menerapkannya adalah perusahaan besar yang memproduksi
berbagai jenis produk, seperti Indofood, Unilever, dan lain-lain. Sementara itu,
perusahaan kecil kami nilai tidak bisa menerapkan sistem ini, karena produknya
belum terlalu bervariasi dan biaya pengimplementasiannya yang relatif besar tidak
sesuai dengan kondisi keuangan perusahaan. Hal ini tidak menutup kemungkinan
perusahaan tersebut untuk dapat menggunakan mesin dalam produksi. Perusahaan
dapat menggunakan mesin, tapi mesin tersebut belum terintegrasi sedemikian rupa
seperti pada FMS.