Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

HERNIA

DANNY DANANTA YOGA


14J10497

PROGRAM STUDI PROFESI NERS KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BALI
DENPASAR
2014

A. Pengertian
Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dari tempatnya yang
normal melalui sebuah defek kongenital atau yang didapat. (Long, 1996 : 246)
Hernia adalah suatu keadaan menonjolnya isi usus suatu rongga melalui lubang
(Oswari, 2000 : 216)
Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding
rongga secara normal memang berisi bagian bagian tersebut. (Nettina, 2011 : 253)
Jadi kesimpulannya adalah Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur
organ dari tempatnya yang normal melalui sebuah defek kongenital atau melewati
dinding rongga secara normal memang berisi bagian bagian tersebut.

B. Klasifikasi
a. Berdasarkan terjadinya :
1) Hernia congenital/bawaan
2) Hernia akuisita
b. Berdasarkan sifatnya :
1) Hernia Reponible, yaitu hernia yang dapat dimasukkan kembali. Usus keluar bila
berdiri atau mengedan dan masuk lagi bila berbaring atau didorong masuk. Tidak
terdapat keluhan atau gejala obstruksi
2) Hernia Ireponible, yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan kedalam
rongga, hal ini disebabkan perlengkatan isi usus pada peritoneum kantong hernia.
Tidak ada keluhan nyeri atau tanda sumbatan usus.
c. Berdasarkan isinya :
1) Hernia adipose, yaitu hernia yang isinya jaringan lemak
2) Standing hernia, yaitu hernia yang isinya kembali sebagian dari dinding kantong
hernia
3) Hernia litter, hernia inkaserata/strangulasi yang sebagian dinding ususnya terjepit
dalam cincin hernia
d. Berdasarkan macam macam hernia :
1) Inguinalis Indirect
Batang usus melewati cincin abdomen dan mengikuti saluran sperma masuk
kedalam kanalis inguinalis
2) Inguinalis Direct
Batang usus melewati dinding inguinal bagian posterior
3) Femoralis
Batang usus melewati femoral ke bawah kedalam kanalis femoralis

4) Umbilikal
Batang usus melewati cincin umbilikal
5) Insicional
Batang usus atau organ lain menonjol melalui jaringan perut yang lemah

C. Etiologi
a. Kelemahan dinding abdomen
Lemahnya dinding abdomen bisa disebabkan karena cacat bawaan atau keadaan yang
didapat sesudah lahir.
b. Peningkatan Tekanan Intra Abdomen
Mengangkat benda berat, batuk kronis, kehamilan, kegemukan dan sering mengedan.
c. Bawaan Sejak Lahir
Misalnya hernia omphalokel yang terjadi karena sewaktu bayi lahir, tali pusarnya tidak
segera berobliterasi (menutup) dan masih terbuka.
d. Riwayat keluarga/genetic
Misalnya seorang ayah menderita hernia bawaan, kemungkinan sering terjadi juga
pada anaknya.
e. Usia
Pada umur lanjut jaringan penyangga makin melemah, umur lanjut dan didukung
dengan sering melakukan pekerjaan mengangkat benda benda berat dalam jangka
lama juga dapat melemahkan dinding perut.

D. Manifestasi Klinis
a. Tanpa Keluhan (asimtomatis)
b. Daerah hernia agak menonjol, bertambah besar ketika berdiri, terbatuk dan mengedan
c. Adanya nyeri dan demam, nyeri sering timbul mendadak
d. Nyeri abdomen generalisata
e. Mual muntah

E. Patofisiologi
Pada bayi yang mengalami hernia akibat kegagalan beroblitesasi, dapat
menyebabkan adanya rongga yang terbuka sebagian yang dapat terjadi adalah hidrokel,
dan dapat terbuka terus, yang menyebabkan terjadinya hernia.
Untuk usia yang semakin menua, umumnya penyangga pada dinding abdomen
semakin melemah dan didukung dengan sering melakukan pekerjaan pekerjaan yang
berat, hal tersebut juga dapat menyebabkan hernia.
Kelemahan otot karena cacat bawaan dan ditambahan dengan melakukan kegiatan
kegiatan berat lainnya juga dapat menyebabkan hernia.

Peningkatan tekanan intra abdomen kemungkinan karena sering mengangkat


benda benda berat, kehamilan, kegemukan, batuk kronis, sering mengedan juga dapat
menyebabkan hernia.

F. Komplikasi
a. Hernia berulang
b. Hidrokel
c. Perdarahan yang berlebihan / infeksi luka bedah
d. Terjadi peningkatan antara isi hebura dengan dinding kartona hernia, sehingga isi
hernia tidak dapat dimasukkan kembali
e. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia, akibat makin bertambah banyaknya usus
yang masuk
f. Bila inkaserata (sebagian usus terjepit dalam cincin hernia) dibiarkan, maka akan
timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis.

G. Pemeriksaan Penunjang
1.

Herniografi
Teknik ini yang melibatkan injeksi medium kontras ke dalam kavum peritoneal.

2.

X-ray
Sekarang jarang dilakukan pada bayi untuk mengidentifikasi hernia kontralateral.

3.

Groin
Kadang berguna untuk memastikan adanya hernia pada pasien dengan nyeri kronis.

4.

USG
Sering digunakan untuk menilai hernia yang sulit dilihat secara klinis, misalnya
Spigelian hernia

5.

CT dan MRI
Berguna untuk menentukan hernia yang jarang terjadi (misalnya : H. Obturator)

6.

Laparaskopi
Hernia tidak diperkirakan terkadang ditemukan saat laparaskopi untuk nyeri perut

7.

Operasi Eksplorasi
Pada beberapa bayi, dengan riwayat meyakinkan dari ibunya, namun tidak ditemukan
secara klinis. Operasi ekplorasi dapat dilakukan.

8.

Lab darah : hematology rutin, BUN, kreatinin dan elektrolit darah


Leukosit 10.000 18.000/mm3
Serum elektrolit meningkat

9.

Radiologi, foto abdomen dengan kotras barium, flouroskopi

H. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis
1) Terapi Konservatif pada hernia reponible dilakukan tekanan secara terus
menerus pada benjolan seperti dengan bantal pasir, pasien tidur pada posisi supine
antitrenderburg atau memakai korset
2) Terapi Pembedahan pada hernia dapat dilakukan herniotomi dan herniografi
(menjahit kantong hernia). Tindakan pembedahan lebih efektif pada hernia
reponibel karena dikhawatirkan terjadi komplikasi. Kondisi usus harus
diperhatikan pada hernia inkarserata atau strangulate, bila terjadi nekrosis harus
direseksi. Metode pembedahan antara lain :

Perbaikan bassini :
Kantung indirect dibuka, diperiksa dan diligasi. Bagian dasar inguinalis diperkuat
dengan menjahit fascia transversalis pada ligamentum inguinalis di belakang
funikulus.

Ligasi tinggi kantong hernia :


Merupakan tindakan pada hernia inguinalis pada bayi dan anak.

Perbaikan shoudice :
Fascia transversal dibagi secara longitudinal dan kedua lembaran diimbrikasi pada
ligamentum inguinal. Perbaikan diperkuat dengan menjahit musculus obliges
internus dan konjoined tendon pada opneurosisi obligustrenus, untuk hernia direct
dan indirect

Pada inkontabilitas, maka diusahakan agar isi hernia dimasukkan kembali. Pada
penderita istirahat baring dan dipuasakan atau mendapat diet halus, herniatomi
(memotong hernia), herniografi (menjahit kantong hernia) tetapi distritmik adalah
pembedahan kantung hernia yang tidak pevil di eksisi tetapi cukup dikembalikan
ke dalam rongga perut.

b. Penatalaksanaan Keperawatan

Meredakan nyeri pasien

Meredakan kecemasan pasien

Memberikan health education tentang hernia yang dialami

Membantu pasien agar lebih siap, bilamana operasi sebagai indikasi pengobatan
yang harus dijalaninya

Diet cairan sampai saluran gastrointerstinal berfungsi normal kembali

I. Pencegahan
Makan makanan berserat tinggi. Dapat menghindari diri dari konstipasi dan mengedan
terus menerus akibat konstipasi saat BAB dan juga mengedan pada BAK
Hindari mengangkat benda benda yang terlalu berat
Jaga berat badan tubuh yang ideal

ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS


PASIEN HERNIA INGUINALIS

1. Pengkajian
a. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Biasanya klien mengeluh nyeri selangkangan.
2. Riwayat penyakit sekarang
Pengkajian Riwayat penyakit sekarang yang mendukung keluhan utama dengan
melakukan serangkaian pertanyaan tentang apa yang diderita oleh pasien dan
terapi yang diberikan.
3. Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian penyakit terdahulu yang mendukung dengan mengkaji apakah klien
sebelumnya klien pernah menderita penyakit seperti sekarang atau yang
berhubungan dengan penyakit pasien. Tanyakan mengenai obat-obat yang biasa
diminum oleh klien pada masa lalu yang masih relevan. Catat adanya efek
samping yang terjadi di masa lalu. Tanyakan juga mengenai alergi obat dan reaksi
alergi apa yang timbul. Sering kali klien tidak bisa membedakan antara reaksi
alergi dengan efek samping obat.
4. Riwayat keluarga
Perawat menanyakan tentang penyakit yang pernah dialami keluarga serta bila ada
anggota keluarga yang meninggal, maka penyebab kematian juga ditanyakan. Bisa
dibuat genogram dengan disertai keterangannya.

b. Pola Kebiasaan (14 Kebutuhan Dasar Virginia Henderson)


1. Gerak dan Aktivitas
Kelemahan atau keletihan akibat adanya faktor yang mempengaruhi seperti
nyeri.
2. Istirahat dan tidur
Perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur
seperti nyeri.
3. Rasa Aman
Faktor stres, masalah tentang perubahan penampilan, menyangkal diagnosis,
perasaan tidak berdaya, kehilangan kontrol, depresi, menarik diri, marah, malu
4. Eliminasi
Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin,
perubahan bising usus, distensi abdomen.

5. Makanan dan minum


Kebiasaan diit buruk (rendah serat, aditif, bahan pengawet), anoreksia,
mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan, perubahan berat badan,
perubahan kelembaban/turgor kulit, perubahan membrane mukosa
6. Rasa Nyaman
Masalah seksual misalnya dampak hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan.
Jika terdapat nyeri harus dikaji PQRST.
Provoking incident
Nyeri setelah beraktivitas dan tidak berkurang dengan istirahat.
Quality of pain
-

Seperti apa rasa nyeri yang dirasakan klien atau digambarkan klien.

Sifat keluhan nyeri seperti tertekan.

Region, radiation, relief


Identifikasi lokasi nyeri, penyebarannya.
Severity ( scale ) of pain
Klien bisa ditanya dengan menggunakan rentang 0-10 menurut Smeltzer,
S.C bare B.G (2002) dan klien akan menilai seberapa jauh rasa nyeri yang
dirasakan.
Keterangan :
-

0 : Tidak nyeri

1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan


baik.

4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, Menyeringai, dapat


menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti
perintah dengan baik.

7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat


Mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat
menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat
diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi

10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi,


memukul.

Time
Sifat mula timbulnya (onset), gejal timbul mendadak, lama timbulnya
(durasi), gejala yang menyertai.

c. Pemeriksaan fisik
1) Inspeksi
Mengkaji tingkat kesadaran, perhatikan adanya bengkak; ada atau tidak
adanya benjolan
2) Palpasi
Tugor kulit, palpasi terhadap nyeri dan massa
3) Auskultasi
Bising usus, bunyi nafas, bunyijantung
4) Perkusi
kembung

d. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan darah koagulasi
2) Pemeriksaan urine
3) EKG
2. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan terjepitnya hernia
2) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penyakit.
3) Resiko infeksi berrhubungan dengan pembedahan dengan perawatan yang tidak
adekuat
4) Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi

3. Intervensi
Diagnosa : Nyeri akut
Diagnosa
Keperawatan

No
1

Rencana Tujuan dan


Kriteria Hasil

Rencana Tindakan

Rasional

Nyeri akut

Tujuan :

Mandiri

Mandiri

berhubungan dengan

Setelah diberikan asuhan

1. Kaji kemampuan kontrol

1. Banyak faktor fisiologis (motivasi,

keperawatan selama x 24

Agen cedera :

jam diharapkan nyeri pasien

-biologis

teratasi atau terkontrol.

-fisik

Kriteria hasil :

ditandai dengan:
DS :
Pasien mengatakan
susah tidur.
Pasien merasa
tidak nyaman
Pasien mengeluh

nyeri pasien.

1. Secara verbal

efektif, kognitif dan emosional) yang


dapat memengaruhi persepsi nyeri.

2. Kaji nyeri pasien dengan


teknik PQRST.

2. Skala nyeri pascaoperatif tergantung


pada persepsi fisiologis dan psikologis

melaporkan nyeri

individu, toleransi yang ditimbulkan

berkurang.

untuk nyeri, letak insisi, sifat prosedur

2. Tanda tanda vital


dalam batas normal
TD : 90-120 / 60-80
mmHg

3. Kaji tanda tanda vital


pasien meliputi: TD, N, RR.

3. Untuk mengetahui terjadinya


perubahan tekanan darah, nadi,

nyeri bagian

: 36,8-37,4 oC

pernapasan. Adanya peningkatan

selangkangan

RR : 16 20 x / menit

tekanan darah, denyut nadi, dan

: 60 100 x / menit.

respirasi menunjukkan peningkatan

3. Nyeri di tingkat 0-2 dari


DO :

0 10 skala nyeri

intensitas nyeri.
4. Kaji faktor yang dapat

Pasien tampak
meringis.
Perubahan TTV :

4. Pasien tidak meringis.


5. Pasien mampu

meningkatkan nyeri
5. Lakukan manajemen nyeri

mengidentifikasi

keperawatan :

TD : ..

berbagai tindakan untuk

a. Istirahatkan pasien

mengurangi nyeri.

: ..

N : ..
RR : .
.

4. Untuk mengetahui factor penyebab


nyeri yang dirasakan sehingga dapat
menentukan tindakan selanjutnya.

5.
b. Ajarkan tehnik relaksasi

a. Istirahat secara fisiologis akan

pernapasan dalam saat

menurunkan kebutuhan oksigen

nyeri muncul.

yang diperlukan untuk memenuhi


kebutuhan metabolisme basal.
b. Membantu mengurangi stimulus

c. Ajarkan tehnik distraksi

nyeri.

pada saat nyeri.


c. Distraksi (pengalihan perhatian)
dapat menurunkan stimulus
internal untuk mengurangi nyeri.
Dsitraksi visual seperti membaca,
menggambar, distraksi auditorik
d. Manajemen lingkungan :

seperti mendengar radio, dapat

Lingkungan tenang,

dilakukan untuk mengurangi

batasi pengunjung dan

nyeri.

istirahatkan pasien.

d. Lingkungan tenang akan


menurunkan stimulus eksternal

dan pembatasan pengunjung akan


membantu meningkatkan kondisi
O2 ruangan yang akan berkurang
e. Lakukan manajemen
sentuhan.

apabila banyak pengunjung


berada di ruangan. Istirahat akan
menurunkan kebutuhan O2
jaringan perifer.
e. Manajemen sentuhan pada saat
nyeri berupa sentuhan dukungan

6. Anjurkan klien untuk


meminimalkan aktivitas.
7. Berikan HE tentang
penyebab nyeri dan
menghubungkan berapa

psikologis dapat membantu


menurunkan nyeri.
6. Untuk mengurangi nyeri orbita pasca
operasi.
7. Pengetahuan membantu mengurangi

lama nyeri akan

nyerinya dan mengembangkan

berlangsung.

kepatuhan pasien terhadap rencana

Kolaborasi :

terapeutik.

8. Kolaborasi dengan dokter


untuk pemberian analgetik.

Kolaborasi :
8. Pemberian analgetik dapat
mengurangi nyeri

Diagnosa : Gangguan Citra tubuh


No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

2.

Gangguan citra tubuh

Tujuan :

Mandiri :

berhubungan dengan

Setelah diberikan asuhan

1. Kaji makna perubahan

Penyakit

keperawatan selama x 24

ditandai dengan

jam diharapkan terjadi

DS :

penerimaan penampilan.

Pasien

Kriteria hasil :

frustasi, ketergantungan

pasien sebagai respon normal terhadap

mengungkapkan

1. Pasien mengungkapkan

dan kemarahan. Perhatikan

apa yang terjadi membantu mengubah

perasaan negatif

penerimaan terhadap

prilaku menarik diri dan

pola pikir atau persepsi positif pasien

tentang tubuh (mis.,

penyakitnya

penggunaan

terhadap dirinya. Ini kemungkinan

penyangkalan.

mendorong pasien sebelum ia siap

perasaan putus asa)


Mengungkapkan

2. Persepsi pasien terhadap

Intervensi

Rasional

1. Mengetahui perasaan pasien tentang

yang dialami oleh pasien.

keadaannya dan kontrol emosinya

2. Terima dan akui ekspresi

2. Penerimaan perasaan atau ekspresi

fungsi tubuh positif

untuk menerima kondisi dirinya.

perubahan status
kesehatan
Fokus pada perubahan
yang terjadi pada tubuh

3. Berikan motivasi kepada

3. Dengan adanya motivasi dapat

pasien dan keluarga untuk

mendukung terjadinya prilaku koping

mengikuti terapi

positif.

(mata)
..

4. Libatkan keluarga atau

4. Mempertahankan atau membuka garis

DO :

orang terdekat dalam

komunikasi dan memberikan

Secara sengaja

perawatan.

dukungan terus menerus pada pasien

menyembunyikan

dan keluarga.

bagian tubuh yang


sakit

5. Berikan HE pada pasien

5. Sikap positif untuk dapat memahami

Tidak mau melihat

dan keluarga tentang

penyakit serta rencana terapinya dapat

bagian tubuh yang

pentingnya bersikap

meningkatkan kesehatan psikologis

sakit

positif dalam pemahaman

pasien.

Tidak mau menyentuh


bagian tubuh yang
sakit
Perubahan dalam
keterlibatan sosial
..

mengenai penyakit serta


rencana terapinya.
Kolaborasi :
6. Kolaborasi untuk

6. Pendekatan menyeluruh diperlukan

pemberian terapi dengan

untuk membantu pasien menghadapi

tenaga ahli konseling.

masalah kesehatan yang dialami.


Pasien dan keluarga memerlukan
pemahaman mengenai proses yang
akan dilalui oleh pasien dalam
menjalani terapi yang berkaitan dengan
kesehatannya.

POST OP
Diagnosa : Resiko Infeksi
No
3

Diagnosa Keperawatan
Resiko tinggi infeksi
berhubungan dengan :
luka/pembedahan
akibat perawatan
yang tidak adekuat
.....
ditandai dengan :
Pasien mengatakan
terdapat luka bekas
operasi pada alat
kelaminnya
Terdapat luka bekas

Rencana Tujuan dan


Kriteria Hasil
Setelah diberikan asuhan
keperawatan diharapkan
infeksi tidak terjadi,
dengan kriteria hasil
1. Tidak ada tandatanda infeksi (kalor,
rubor, tumor, dolor,

Intervensi
Mandiri :
1. Observasi luka post op

Rasional

1.

Mengetahui kondisi luka

pasien
2. Observasi tanda-tanda vital

2. Mengetahui keadaan umum pasien

pasien tiap 6 jam


3. Lakukan perawatan luka

3. Mempercepat proses penyembuhan


luka dan mencegah infeksi

fungsiolaesa)
2. Luka pasien membaik 4. Cuci tangan sebelum dan

4. Mencegah infeksi silang

sesudah tindakan
5. Pantau tanda-tanda infeksi

5. Mengetahui infeksi secara dini

pada luka (kalor, rubor,

sehingga dapat memilih intervensi

tumor, dolor, fungsiolaesa)

yang tepat

pembedahan

Luka tertutup

6. Berikan HE tentang cara

perban

pencegahan serta tanda dan

Luka kering

gejala infeksi

6. Memberi pengetahuan pada pasien


agar pasien tau cara memproteksi diri

Kolaborasi :
..

7. Kolaborasi dalam

7. Obat antibiotik dapat membunuh


bakteri pirogen

pemberian obat antibiotik


(ampisilin)

Diagnosa : Hipertermia
No
.
1

Diagnosa
Keperawatan
Hipertermia

Setelah diberikan

berhubungan

asuhan keperawatan

1. Ukur dan pantau tanda-tanda

dengan penyakit

selama x24 jam di

vital (suhu, respirasi, nadi)

(proses infeksi)

harapkan masalah

ditandai dengan :

peningkatan suhu tubuh

DS :

dapat teratasi, dengan

Pasien

kriteria hasil :

mengatakan

Tujuan & Kriteria Hasil

Tanda-tanda vital

badannya

dalam batas normal :

panas.

- Suhu (36,8 0C-

.......................
.......................
....
.......................
.......................
....
.......................
.......................
....

37,40C)
- Nadi (60-100

Intervensi

Rasional

Mandiri :

2. Kaji keadaan kulit dan


mukosa bibir klien.
3. Beri kompres biasa sesuai
suhu ruangan.

4. Anjurkan pasien minum air


putih (2000-2500cc).

1. Untuk mengetahui perkembangan kondisi


pasien.

2. Keadaan kulit dan mukosa bibir adalah


salah satu indikator peningkatan suhu.

3. Konduksi suhu membantu menurunkan


suhu tubuh.

4. Untuk membantu mengganti cairan tubuh


yang hilang akibat evaporasi dalam proses
demam.

x/menit)
- Respirasi (16-20
x/menit)
Badan pasien tidak

5. Anjurkan pasien untuk


membatasi aktivitas.

5. Peningkatan aktivitas dapat meningkatkan


metabolisme tubuh sehingga terjadi
peningkatan suhu tubuh.

teraba hangat.
Kulit pasien tidak
kemerahan.

6. Anjurkan pasien

6. Pakaian yang tipis akan membantu

Mukosa bibir
DO :

kembali lembab.

Suhu tubuh
meningkat di
atas kisaran
normal
Kulit tampak
kemerahan.
Mukosa bibir
kering.
Hasil TTV :
- Suhu
:
..
- Nadi
:
..
- Respirasi
:
...

menggunakan pakaian yang


tipis.

..................................
.........
..................................
.........

penguapan tubuh.

7. Suhu ruangan/ jumlah selimut harus diubah


7. Pantau suhu lingkungan,
batasi/ tambahkan linen

untuk mempertahankan suhu mendekati


normal.

tempat tidur sesuai indikasi.

..................................
.........

Kolaborasi :
8. Kolaborasi dalam pemberian
antipiretik (paracetamol,
sanmol).

8. Antipiretik membantu mengurangi demam


dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.

4. Implementasi
Pelaksanaan/implementasi merupakan tahap keempat dalam proses keperawatan
dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan keperawatan) yang telah
direncanakan. Dalam tahap ini perawat harus mengetahui berbagai hal, diantaranya
bahaya fisik dan perlindungan kepada pasien, teknik komunikasi, kemampuan dalam
prosedur tindakan, pemahaman tentang hak-hak pasien tingkat perkembangan pasien.
Dalam tahap pelaksanaan terdapat dua tindakan yaitu tindakan mandiri dan tindakan
kolaborasi (Aziz Alimul, 2009, page 111)

1. Evaluasi
1) Nyeri akut teratasi
2) Gangguan citra tubuh teratasi.
3) Infeksi tidak terjadi
4) Hipertermia teratasi

DAFTAR PUSTAKA

NANDA Internasional (2012). Diagnosa Keperawatan Definisi Dan Klasifikasi 2012-2014.


Jakarta : EGC
Doenges, Marilym E. dkk.1999.Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan
dan Pendakumentasian Perawatan Pasien.Jakarta: EGC