Anda di halaman 1dari 3

Artikel Populer

Mortifikasi SBY
Oleh : Ari Sulistyanto

Belum genap 100 hari pemerintahan, Presiden SBY menghadapi berbagai persoalan
pelik, mulai dari masalah “kriminalisasi pimpinan KPK sampai pada “mega skandal
Century”. Seiring dengan persoalan tersebut, Presiden kerap mengeluarkan berbagai
pernyataan sebagai reaksi dari tuntutan public untuk menuntaskan kasus tersebut. Dari
pernyataan yang di lontarkan, respon public juteru mengecam pernyatan Presiden, karena
pernyataan di anggap sebagai sesuatu yang diluar konteks, jauh dari penyelesaian masalah.
Bahkan lebih dari itu, justru digunakan sebagai upaya untuk berkelit-cuci tangan dari
substansi masalah.
Misalnya, pernyataan SBY mengenai kewenangan KPK, “Saya wanti-wanti benar.
Power must not go uncheck. KPK ini sudah powerholder yang luar biasa.
Pertanggungjawabannya hanya kepada Allah. Hati-hati ! Reaksi public berkait dengan
pernyataan tersebut, public menyatakan, Presiden SBY terlalu ikut campur tangan. Begitu
pula saat menaggapi laporan Tim 8, di respon sebagai pernyataan yang tidak tegas dalam
menyelesaikan masalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Presiden lamban dan tidak
jelas.
Bertepatan dengan Peringatan hari raya Natal, kembali Presiden SBY melalui pidato
membuat pernyataan yang salah satu bagian berbunyi, “ Perilaku kasar dan bernuansa
kekerasan yang dilakukan sejumlah elemen masyarakat demi mengekspresikan hak dan
kebebasannya. Yang mana telah melewati batas kepatutan moral, etika, dan budi pekerti”.
Sudah jelas kemana arah pidato Presiden SBY, tidak lain sebagai tanggapan terhadap isi
terbitan buku“Membongkar Gurita Cikeas” karangan aktivis George Junus Aditjondro, yang
berisikan tentang aliran dana yang tidak jelas mengalir pada keluarga besar Cikeas.
Sudah menjadi kebiasaan SBY, setiap masalah yang muncul selalu di jawab dengan
rhetorika melankolis. Politik pencitraan yang hendak dibangun, bahwa dirinya adalah sosok
yang teraniaya, target dari sebuah konspirasi, setidakmya menjadi pakem dalam meraih
simpati dan menjaga popularitasnya. Misalnya, ketika terjadi terror bom di JW Mariot,
Presiden SBY menyebut bahwa dirinya akan dijadikan sasaran teror, kemudian pada saat
peringaatn Hari Antikorupsi Dunia, menghimbau untuk mewaspadai adanya unjuk reasa yang
ditunggangi motif politis, begitu pula soal pertemuan tokoh-tokoh di Dharmawangsa yang
membahas rencana aksi besar-besaran yang akan di gelar pada 9 Desember, dan yang terakhir
pada perayaan Natal.
Memang dalam politik pencitraan, Presiden SBY pernah menuai pengalaman manis.
Pada saat masih menjabat sebagai Menko Polkam, dan berseteru dengan atasannya, Presiden
Megawati, melalui setting dramatic mengaduk-aduk emosi public untuk meraih popularitas.
Pada saat itu komunikasi politik yang dibangun dengan membangun citra sebagai pihak yang
“teraniaya” memang berhasil meraih simpati untuk menghantarkan ke tangga kepresidenan.

Identifikasi
Reaksi minor public terhadap pernyataan SBY belakangan ini terjadi, mencerminkan
ketidakselarasan antara SBY dengan public. Komunikasi politik yang digunakan dalam
paradigma lama ternyata tidak mumpuni meraih simpati. Public.dengan logikanya sendiri
secara liar menafsirkan pernyataan sesuai dengan kehendaknya, yaitu transparansi.
Adalah Kenneth Burke, seorang pakar komunikasi politk, yang terkenal dengan teori
dramatisme yang menjelaskan bahwa apabila terdapat ketidakselarasan subsatansi masalah di
antara dua pihak, maka perlu identifikasi yakni symbol menyatukan manusia ke dalam
pemahaman secara lazim- konsubstansialitas. Semakin besar ketidak selarasan yang terjadi,
makin besar identifikasi yang terjadi. Kebalikannya, makin kecil tingkat ketidak selarasan,
makin besar pemisahaan. Identifikasi berperan penting bagaimana seorang komunikator
politik berhasil berbagi ide, perasaan, sikap, maupun tindakan dengan public. Ketika
berpidato, komunikator politik adalah seorang aktor yang sedang berada di atas panggung,
keberhasilan memainkan peran tergantung bagaimana mampu mengidentifikasi public.
Dengan demikian, apabila masih ada cibiran, ketidakpuasan terhadap pernyataan
Presiden SBY berarti identifikasi belum tercapai. Identifikasi sebagai mode yang berputar,
menyiratkan adanya penyatuan makna, sehingga akan meningkatkan pemahaman. Kegagalan
identifikasi berakibat pada penurunan popularitas.
Burke menyatakan bahwa konsubstansialitas atau masalah mengenai identifikasi dan
subsatnsi berhubungan dengan siklus rasa bersalah /penebusan karena bersalah dapat
dihilangkan sebagai hasil identifikasi dan pemisahan. Rasa bersalah adalah motif utama
semua aktivitas simbolik, dan, Burke mendefinisikan rasa bersalah secara luas untuk
mencakup berbagai jenis ketegangan, rasa malu, rasa bersalah, atau perasaan tidak
menyenangkan lainnya. Rasa bersalah adalah adalah sifat intrinsic yang ada dalam kongnisi
manusia. Karena itu perlu pemurnian terhadap ketidak nyamanan rasa bersalah,
Mortifikasi
Dengan menunjuk pada “sejumlah elemen masyarakat”, Presiden SBY, seperti yang
dikatakan Kenneth Burke, hendak melakukan mortification, tetapi dalam bentuk lain, yaitu
teknik pengkambinghitaman (scapegoating). Mortifikasi adalah salah satu metode untuk
memurnikan diri dari rasa bersalah, dengan menyalahkan diri kita sendiri. Sedangkan teknik
pengkambinghitaman adalah kesalahan ditempatkan pada semacam perahu pengorbanan.
Tahun 1998, para pemimpin Partai Republik mengatakan bahwa mereka akan merasa
lebih simpati mengenai skandal seks Presiden Bill Clinton, apabila ia mengakui bersalah dan
tidak berbohong setelah di sumpah. Pada kenyaatnnya, Bill Clinton memakai teknik lain,
yaitu pengkambinghitaman. Dengan mengorbankan si kambing hitam, Clinton akan dimurni
dari dosanya. Bill Clinton berusaha untuk menjadikan Partai Republik dan Kenneth Starr
seabgai penerima kesalahan sesungguhnya untuk masalah-masalah Negara setelah ia
mengakui hubungan yang tidak pantas dengan Monica Lewinsky. Ketika berita mengenai
skandal seks itu terbongkar pada tahun1998, sebelum Clinton mengakui hubungan dengan
Lewinsky, Hillary Clinton muncul di televisi dan mengatakan bahwa rumor mengenai
suaminya adalah sebagai akibat dari sebuah “konspirasi sayap kanan” yang kompleks yang
bermaksud untuk mecelakainya.
Contoh pengkambinghitaman yang lain, seperti yang dilakukan Presiden George
Bush. Setlah tragedi World Trade Center (WTC), ketika Bush mengatakan tentang “Poros
Kejahatan” dan menggunakan perbandingan yang tajam antara kebaikan dan kejahatan, dia
bertindak dalam konsep Burke mengenai kambing hitam.
Bentuk mortifikasi yang baik, seperti di contohkan oleh Edward F. Kennedy, seorang
Senator dari Masschusetts. Pada tahun 1969 E.F. Kennedy terlibat kecelakaan mobel
bersama asistennya, Mary Jo Kopecne. Ketika ia mengemudikan mobilnya keluar dari
jembatan dan masuk ke sungai, Kennedy dapat menyelamatkan diri, tetapi Kopechne
tenggelam. Setelah seminggu kemudian, ia menerangkan kejadian sesungguhnya dan
berusaha mengumpulkan kembali dukungan. Ia menjelaskan kegagalanya unrtuk melaporkan
kecelakaan tersebut sebagai konsekuensi kebinguan dan cederanya. Pernyataan kennedy
menyatakan bahwa ia seolah-olah merupakan korban dari situasi tragis, lebih lanjut
dikatakannya ia bersedia mundur dari jabatanya apabila warga menginginkan hal tersebut.
Reaksi yang timbul benar-benar positif, dan Kennedy tetap bertahan dalam jabatanya.
Elemen lain dari mortifikasi adalah penebusan, yang melibatkan penolakan sesuatu
yang tidak bersih dan kembali pada tatanan baru setelah rasa bersalah di ampuni sementara.
Sang Penebus dalam tradisi Yahudi –Kristen adalah Sang Juru Selamat (Kristus) atau
Tuhan.
Pernyataan Presiden SBY di Hari Natal bisa jadi adalah penembusan dari rasa
bersalah yang dilakukan oleh “sejumlah elemen masyarakat” yang telah menyebarkan fitnah,
berita bohong, fiksi yang mana telah melawati batas-batas kepatutan moral. Walahu allam !

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarajana program studi Ilmu Komunikasi Unpad


Telp – 081310693587
Alamat. Perum Bogor Country Blok FM 4/No.5
Jl. Soleh Iskandar, Bogor