Anda di halaman 1dari 1

M.

Galang Merdeka
Tugas AMI
Andreas Japar, ahli cuci darah yang berbisnis menggunakan hati.
Andreas Japar lahir di desa Jamblang, kecamatan Klangenan Cirebon. Beliau
berkesempatan sekolah di Jakarta, di sebuah SMA yang baru dibuka saat itu sehingga beliau bisa
masuk tanpa tes. Beliau bertemu teman teman yang memacu semangatnya untuk menuntut
ilmu selama di SMA VI. Dan semangatnya itu terus dipertahankan hingga mengikuti SKALU, ujian
masuk perguruan tinggi nasional saat itu. Dan beliau berhasil masuk ITB jurusan FMIPA yang
akhirnya dijuruskan di Fakultas Farmasi.
Masa mahasiswa beliau penuh perjuangan, dimana pada saat beliau memasuki jurusan
Farmasi, kondisi keuangan orang tuanya mulai merosot. Konsentrasi dalam kuliah menjadi
berkurang karena terbatasnya dana. Beliau berpikir, apabila diteruskan kuliah di farmasi, beliau
mungkin akan terlambat lulus dan mungkin akan gagal. Praktikum yang dimulai dari pagi hingga
sore hari dan kekuatan menghafal yang harus diutamakan, membuatnya bertekad untuk pindah
jurusan agar bisa kuliah sembari kerja. Akhirnya permohonan beliau untuk pindah jurusan di
kabulkan oleh Bapak Sosrowinarso untuk masuk ke jurusan Teknik Fisika.
Sejak pindah jurusan, beliau menjalani kuliah sembari menjadi guru di beberapa SMA di
Bandung. Pengalaman menjadi guru merupakan landasan hidupnya untuk bisa mengerti apa
artinya melayani orang lain dengan kasih. Beliau kemudian mulai menggeluti bidang peralatan
kedokteran setelah lulus, karena beliau merasakan kesenangan tersendiri dengan melakukan
bisnis disertai dengan memberikan pelayanan pada rumah sakit dan bahkan langsung kepada
pasien. Setelah mendapatkan pengalaman yang indah selama bekerja di PT Berca Indonesia,
dengan segudang training yang diterima dan juga pengalaman bisnis di segala lini (Internasional,
dalam negeri meliputi swasta dan pemerintah), beliau mencoba meniti karir mengenai alat cuci
darah.Beliau ditawari pekerjaan oleh Fresenius Medical Care, sebuah perusahaan alat cuci darah
dari Jerman. Beliau mulai dengan satu laptop dari rumah dan ia mengetuk setiap rumah sakit
satu persatu setiap hari kerja. Prinsip berbisnis dengan Hati beliau terapkan didalam setiap
tindakan. Beliaiu bercita-cita membantuk seluruh penderita gagal ginjal di Indonesia sejak
mendalami karir tersebut, dikarenakan pertimbangan biaya cuci darah yang relatif mahal. Beliau
mengajak kepada kawan-kawan yang menggeluti secara mendalam keilmuan rekayasa, untuk
menggunakan kesempatan dan ilmu yang dimiliki untuk menciptakan peralatan cuci darah dan
dispossables-nya sehingga bisa melayani pasien di Indonesia dengan biaya terjangkau dan juga
bisa melakukan eksport keluar negeri. Fresenius Medical Care sekarang sudah melebihi US$ 8,5
Milyard pendapatannya per tahun. Harapan beliau adalah adalah membangun Indonesia di
segala bidang dan berkarya dengan menggunakan landasan Berbisnis dengan HATI.
Saat ini, beliau sedang menjabat sebagai salah satu pimpinan di Fresenius Medical Care.
Beliau adalah salah satu ahli terkemuka Indonesia dalam bidang teknologi kedokteran,
khususnya untuk peralatan dan teknologi cuci darah.