Anda di halaman 1dari 14

Asuhan keperawanan osteomielitis |1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Osteomielitis adalah infeksi akut tulang yang dapat terjadi karena penyebaran
infeksi dari darah (osteomielitis hematogen) atau yang lebih sering, setelah
kontaminasi fraktur terbuka atau reduksi (osteomielitis eksogen).
Luka tusuk pada jaringan lunak atau tulang akibat gigitan hewan, manusia atau
penyuntikan intramusculus dapat menyebabkan osteomielitis eksogen. Osteomielitis
akut biasanya dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus, jamur, dan mikroorganisme lain.
Osteomielitis adalah penyakit yang sulit diobati karena dapat terbentuk abses
local. Abses tulang biasanya memiliki pendarahan yang sangat kurang, dengan
demikian, penyampaian sel-sel imun dan antibiotic terbatas. Apabila infeksi tulang
tidak diobati secara segera dan agresif, nyeri hebat dan ketidak mampuan permanen
dapat terjadi (Corwin, 2001).
Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Osteomielitis ini
maka penulis membuat makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan Pada Klien
Dengan Osteomielitis.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, rumusan masalah
dalam makalah ini adalah bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan
Osteomielitis.
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan osteomielitis.
2. Untuk mengetahui patofisiologi dari osteomielitis
3. Untuk mengetahui manifestasi klinis pada pasien yang mengalami osteomielitis.
4. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang bagi klien dengan osteomielitis.
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan medis pada klien yang mengalami
osteomielitis.
6. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan klien yang mengalami osteomielitis.
D. Manfaat penulisan
Diharapkan setelah adanya makalah ini penulis berharap mahasiswa mampu
memperoleh manfaat diantaranya:
1.
2.
3.
4.

Memhami apa yang disebut osteomielitis


Mampu memahami patofisiologi osteomielitis
Mampu memahami manifestasi klinis osteomielitis
Mampu memahami penatalaksanaan osteomielitis baik dari segi medis maupun
keperawanan
5. Mampu memahami asuhan keperawanan pada pasien osteomielitis

Asuhan keperawanan osteomielitis |2

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI
Osteomielitis adalah infeksi pada tulang dan sumsum tulang yang dapat
disebabkan oleh bakteri, virus atau proses spesifik (Mansjoer, 2000).
Osteomieletis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan
daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan
terhadap inflamasi,tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum
(pembentukan tulang baru disekeliling jaringan tulang mati).Osteomielitis dapat
menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan
kehilangan ektermitas.
Infeksi bisa disebabakan oleh penyebaran hematogen (melalui darah) dari
fokus infeksi ditempat lain(mis:tonsil yang terinfeksi,lepuh,gigi terinfeksi,infeksi
saluran nafas atas).Osteomielitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi di
tempat dimana terdapat trauma atau dimana terdapat resistensi rendah,kemugkinan
akibat trauma subklinis(tak jelas).
Osteomielitis dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan
lunak(mis: ulkus dekubitus ysng terinfeksi atau uskus vaskuler) atau kontaminasi
langsung
tulang(mis:
fraktur
terbuka,cedera
traumatik
seperti
luka
tembak,pembedahan tulang.(Brunner & Sudarth Edisi8).
B. ETIOLOGI
Adapun penyebab penyebab osteomielitis ini adalah:
1. Bakteri
Menurut Joyce & Hawks (2005), penyebab osteomyelitis adalah Staphylococcus
aureus (70 %-80 %), selain itu juga bisa disebabkan oleh Escherichia coli,
Pseudomonas, Klebsiella, Salmonella, dan Proteus.
2. Virus
3. Jamur
4. Mikroorganisme lain (Smeltzer, Suzanne C, 2002).
Osteomyelitis juga bisa terjadi melalui 3 cara (Wikipedia, the free encyclopedia,
2000) yaitu:
1. Aliran darah
Infeksi bisa disebabkan oleh penyebaran hematogen (melalui darah) dari
fokus infeksi di tempat lain (misalnya tonsil yang terinfeksi, lepuh, gigi
terinfeksi). Aliran darah bisa membawa suatu infeksi dari bagian tubuh yang lain
ke tulang. Pada anak-anak, infeksi biasanya terjadi di ujung tulang tungkai dan
lengan. Sedangkan pada orang dewasa biasanya terjadi pada tulang belakang dan
panggul. Osteomyelitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi ditempat di
mana terdapat trauma.
2. Penyebaran langsung

Asuhan keperawanan osteomielitis |3

Organisme bisa memasuki tulang secara langsung melalui fraktur terbuka,


cedera traumatik seperti luka tembak, selama pembedahan tulang atau dari benda
yang tercemar yang menembus tulang.
3. Infeksi dari jaringan lunak di dekatnya
Osteomyelitis dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan
lunak Infeksi pada jaringan lunak di sekitar tulang bisa menyebar ke tulang setelah
beberapa hari atau minggu. Infeksi jaringan lunak bisa timbul di daerah yang
mengalami kerusakan karena cedera, terapi penyinaran atau kanker, atau ulkus di
kulit yang disebabkan oleh jeleknya pasokan darah (misalnya ulkus dekubitus
yang terinfeksi).
Osteomyelitis dapat timbul akut atau kronik. Bentuk akut dicirikan dengan
adanya awitan demam sistemik maupun manifestasi lokal yang berjalan dengan
cepat. Osteomyelitis kronik adalah akibat dari osteomielitis akut yang tidak
ditangani dengan baik. Osteomyelitis kronis akan mempengaruhi kualitas hidup
atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. Luka tusuk pada jaringan lunak atau
tulang akibat gigitan hewan, manusia atau penyuntikan intramuskular dapat
menyebabkan osteomyelitis eksogen. Osteomyelitis akut biasanya disebabkan
oleh bakteri, maupun virus, jamur, dan mikroorganisme lain.
Pasien yang beresiko tinggi mengalami osteomielitis adalah mereka yang
nutrisinya buruk, lansia, kegemukan, atau penderita diabetes mellitus. Selain itu,
pasien yang menderita artritis rheumatoid, telah di rawat lama di rumah sakit,
menjalani pembedahan ortopedi, mengalami infeksi luka mengeluarkan pus, juga
beresiko mengalami osteomyelitis.
C. PATOFISIOLOGI
Staphylococcus aureus merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang.
Organisme patogenik lainnya yang sering dijumpai pada Osteomielitis meliputi :
Proteus, Pseudomonas, dan Escerichia Coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi
resistensi penisilin, nosokomial, gram negative dan anaerobik.
Awitan Osteomielitis stelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan
pertama (akut fulminan stadium 1) dan sering berhubungan dengan penumpukan
hematoma atau infeksi superficial. Infeksi awitan lambat (stadium 2) terjadi antara 4
sampai 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya
akibat penyebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan.
Respon inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan
vaskularisasi, dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombisis pada pembuluh darah terjadi
pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dan nefrosis tulang sehubungan dengan
penigkatan tekanan jaringan dan medula. Infeksi kemudian berkembang ke kavitas
medularis dan ke bawah periosteum dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi
di sekitarnya. Kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan
membentuk abses tulang.
Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan namun yang lebih
sering harus dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk
dalam dindingnya terbentuk daerah jaringan mati (sequestrum) tidak mudah mencari
dan mengalir keluar. Rongga tidak dapat mengempis dan menyembuh, seperti yang
terjadi pada jaringan lunak. Terjadi pertumbuhan tulang baru (involukrum) dan
mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, namun

Asuhan keperawanan osteomielitis |4

sequestrum infeksius kronis yang ada tetap rentan mengeluarkan abses kambuhan
sepanjang hidup pasien. Dinamakan osteomielitis tipe kronik. (Brunner&sudarth
edisi8)
D. Pathway
Bakteri, virus, jamur,
mikroorganisme lain

Inflasi mikroorganisme yang


menyebar melalui aliran darah

Masuk ke justaepiffitis
tulang panjang

osteomielitis

Kurang pengetahuan

pagositosis

Proses inflamasi. Hiperemia,


pembengkakan, gangguan fungsi,
pembentukan bus, dan kerusakan integritas
jaringan

Peningkatan jaringan
tekanan tulang dan
medula

Pembentukan pus
dan nekrosis jaringan

demam

anoreksia
Iskemia dan
nekrosis tulang

nyeri

Pembentukan
abses tulang

Inadekuat nutrien
Kemamapuan
tonus otot

Penyebaran
inflamasi ke organ
penting

Nutrisi kurang
dari kebutuhan
Resik0 penyebaran
infeksi

Pertumbuhan tulang baru


dan pengeluaran pus

Deformitas dan bau dariluka

Gangguan Citra diri

Kelemahan fisik

Asuhan keperawanan osteomielitis |5

Tirah baring lama

Gangguan
integritas kulit

Gangguan
mobilitas

E. MANIFESTASI KLINIS
1. Infeksi dibawa oleh darah
o Biasanya awitannya mendadak.
o Sering terjadi dengan manifestasi klinis septikemia (mis. Menggigil,
demam,tinggi, denyut nadi cepat dan malaise umum).
2. Infeksi menyebar dari rongga sumsum ke korteks tulang
Bagian yang terinfeksi menjadi nyeri, bengkak dan sangat nyeri tekan.
3. Infeksi terjadi akibat penyebaran dari infeksi di sekitarnya atau kontaminasi
langsung
Daerah infeksi membengkak, hangat, nyeri dan nyeri tekan.
4. Osteomielitis kronik
Ditandai dengan pus yang selalu mengalir keluar dari sinus atau mengalami
periode berulang nyeri, inflamasi, pembengkakan dan pengeluaran pus.
( Brunner & Sudarth Edisi8).

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan darah. Sel darah putih meningkat sampai 30.000 L gr/dl disertai
peningkatan laju endapan darah.
2. Pemeriksaan titer antibodi anti staphylococcus Pemeriksaan kultur darah untuk
menentukan bakteri (50% positif) dan diikuti dengan uji sensitivitas.
3. Pemeriksaan feses. Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat
kecurigaan infeksi oleh bakteri Salmonella.
4. Pemeriksaan ultra sound Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan adanya efusi pada
sendi.
5. Pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan photo polos dalam 10 hari pertama tidak
ditemukan kelainan radiologik, setelah dua minggu akan terlihat berupa refraksi
tulang yang bersifat difusi. (Smeltzer,suzanne C,2002).
G. PENATALAKSANANAAN
Daerah yang terkena harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan
dan mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman salin hangat selama 20
menit beberapa kali per hari untuk meningkatkan aliran darah.
Sasaran awal terapi adalah mengontrol dan menghentikan proses infeksi.
Kultur darah, swab dan kultur abses dilakukan untuk mengidentifikasi organisme dan
memilih antibiotika yang terbaik. Kadang, infeksi disebabkan oleh lebih dari satu
pathogen.

Asuhan keperawanan osteomielitis |6

Begitu spesimen kultur diperoleh dimulai terapi antibiotika intravena, dengan


asumsi bahwa dengan infeksi staphylococcus yang peka terhadap peningkatan semi
sintetik atau sefalosporin. Tujuannya adalah mengontrol infeksi sebelum aliran darah
ke daerah tersebut menurun akibat terjadinya trombosis. Pemberian dosis antibiotika
terus menerus sesuai waktu sangat penting untuk mencapai kadar antibiotika dalam
darah yang terus-menerus tinggi. Antibiotika yang paling sensitif terhadap organisme
penyebab yang diberikan bila telah diketahui biakan dan sensitivitasnya. Bila infeksi
tampak telah terkontrol antibiotika dapat diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3
bulan. Untuk meningkatkan absorpsi antibiotika oral, jangan diminum bersama
makanan.
Bila pasien tidak menunjukkan respons terhadap terapi antibioka, tulang yang
terkena harus dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan nekrotik diangkat dan
daerah itu diirigasi secara langsung dengan larutan salin fisiologis steril. Terapi
antibiotika dilanjutkan.
Pada osteomielitis kronik, antibiotika merupakan ajuvan terhadap debridemen
bedah. Dilakukan sequestrektomi (pangangkatan involukrum secukupnya supaya ahli
bedah dapat mengangkat sequestrum). Kadang harus dilakukan pengangkatan tulang
untuk menjalankan rongga yang dalam menjadi cekungan yang dangkal
(saucerization). Semua tulang dan kartilago yang terinfeksi dan mati diangkat supaya
dapat terjadi penyembuhan yang permanen.
Luka dapat ditutup rapat untuk menutup rongga mati (dead space) atau
dipasang tampon agar dapat diisi oleh jaringan grunulasi atau dilakukan grafting
dikemudian hari. Dapat dipasang drainase berpenghisap untuk mengontrol hematoma
dan membuang debris. Dapat diberikan irigasi larutan salin normal selama 7 sampai 8
hari. Dapat terjadi infeksi samping dangan pemberian irigasi ini.
Rongga yang didebridemen dapat diisi dengan grafit tulang kanselus untuk
merangsang penyembuhan. Pada defek yang sangat besar, rongga dapat diisi dengan
transfer tulang berpembuluh darah atau flap otot (dimana suatu otot diambil dari
jaringan sekitarnya namun dengan pembuluh darah yang utuh). Teknik bedah mikro
ini akan meningkatkan asupan darah, perbaikan asupan darah kemudian akan
memungkinkan penyembuhan tulang dan eradikasi infeksi. Prosedur bedah ini dapat
dilakukan secara bertahap untuk menyakinkan penyembuhan. Debridemen bedah
dapat melemahkan tulang, yang kemudian memerlukan stabilisasi atau penyokong
dengan fiksasi interna atau alat penyokong eksterna untuk mencegah terjadinya patah
tulang. (Brunner & Sudarth Edisi8).

Asuhan keperawanan osteomielitis |7

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Anamnesa
Pasien yang datang dengan awitan gejala akut : nyeri akut,
pembangkakan, eritema, demam atau keluarnya pus dari sinus
disertai nyeri, pembengkakan dan demam.
Pasien dikaji adanya faktor resiko : Lansia, DM, terapi
kortikosteroid jangka panjang, cedera, infeksi dan riwayat bedah
ortopedi sebelumnya. Pasien selalu menghindar dari tekanan di
daerah tersebut dan melakukan gerakan perlindungan.pada
osteomielitis akut,pasien akan mengalami kelemahan umum akibat
reaksi sistemik infeksi.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik memperlihatkan adanya daerah inflamasi,
pembengkakan nyata, hangat, dan nyeri.
Cairan purulen dapat terlihat,pasien akan mengalami
peningkatan suhu tubuh disertai anoreksia. Pada osteomielitis
kronik, peningkatan suhu mungkin minimal, yang terjadi pada sore
dan malam hari.
3. Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan darah. Sel darah putih meningkat sampai
30.000 L gr/dl disertai peningkatan laju endapan darah.
2) Pemeriksaan titer antibodi anti staphylococcus
Pemeriksaan kultur darah untuk menentukan bakteri (50%
positif) dan diikuti dengan uji sensitivitas.
3) Pemeriksaan feses. Pemeriksaan feses untuk kultur
dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri
Salmonella.
4) Pemeriksaan ultra sound Pemeriksaan ini dapat
memperlihatkan adanya efusi pada sendi.
5) Pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan photo polos dalam 10
hari pertama tidak ditemukan kelainan radiologik, setelah

Asuhan keperawanan osteomielitis |8

dua minggu akan terlihat berupa refraksi tulang yang


bersifat difusi (Smeltzer,suzanne C,2002).
4. Analisa Data
Data Subjektif :
Pada pasien osteomielitis biasanya mengeluhkan :
1. Nyeri
2. Demam
3. Menggigil
4. Tidak napsu makan
5. Kurang percaya diri
Data Objektif :
1. Bengkak
2. Nyeri
3. Takikardi
4. Hangat pada bagian yang infeksi
5. Demam
6. Inflamasi
B. MASALAH KEPERAWATAN
1. Nyeri
2. Kerusakan mobilitas fisik
3. Resiko terhadap penyebaran infeksi
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan
5. Kerusakan integritas kulit
6. Gangguan Citra diri
7. Kurang pengetahuan mengenai penyakit
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan pada data pengkajian , diagnosa keperawatan pada
pasien osteomielitis dapat meliputi yang berikut :
1. Nyeri yang berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan.
2. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan pembentukan
abses tulang dan adanyan pus, dan nyeri
3. Resiko terhadap penyebaran infeksi, berhubungan dengan
pembentukan abses tulang.
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring terlalu
lama
6. Gangguan Citra diri berhubungan dengan depormitas dan bau dari luka
7. Kurang pengetahuan mengenai penyakit, dan program pengobatan.
D. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Nyeri
yang
berhubungan
dengan
pembengkakan. Tujuan: Peredaan Nyeri
Intervensi:

inflamasi

dan

Asuhan keperawanan osteomielitis |9

Bagian yang terkena harus diimobilisasi dengan bidai untuk


mengurangi nyeri dan spasme otot.
Sendi diatas dan dibawah bagian yang terkena harus dibuat
sedemikian sehingga masih dapat digerakkan sesuai rentangnya
namun dengan lembut.
Lukanya sendiri kadang terasa nyeri dan harus ditangani
dengan hati-hati dan perlahan.
Peninggian
dapat
mengurangi
pembengkakan
dan
ketidaknyamanan yang ditimbulkannya Status neurovaskuler
ektremitas yang terkena harus terpantau.
Teknik untuk mengurangi persepsi nyeri dan analgesic yang
diresepkan cukup berguna.

2. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan


pembentukan abses tulang dan adanyan pus, dan Anyer
Tujuan: Perbaikan Mobilitas Fisik
Intervensi:
Program pengobatan membatasi aktivitas.
Tulang menjadi lemah akibat proses infeksi dan harus
dilindungi dengan alat imobilisasi dan penghindaran stress pada
tulang.
Pasien harus memahami rasional pembatasan aktivitas.
partisipasi aktif dalam kehidupan sehari-hari dalam batas fisik
tetap dianjurkan untuk mempertahankan rasa sehat secara
umum.
3. Resiko terhadap penyebaran infeksi, berhubungan dengan
pembentukan abses tulang.
Tujuan: Mengontrol Proses Infeksi
Intervensi:
Perawat memantau respons pasien terhadap terapi antibiotika
dan melakukan observasi tempat pemasangan infus adanya
bukti flebitis atau infiltrasi.
Bila diperlukan pembedahan, harus dilakukan upaya untuk
meyakinkan adanya peredaran darah yang memadai
(penghisapan luka untuk mencegah penumpukan cairan,
peninggian daerah untuk memperbaiki aliaran balik vena,
menghindari tekanan pada daerah yang di-grafit), untuk
mempertahankan imobilitas yang dibutuhkan dan untuk
memenuhi pembatasan beban berat badan.
Kesehatan umum dan nutrisi pasien harus dipantau.

A s u h a n k e p e r a w a n a n o s t e o m i e l i t i s | 10

Diet protein seimbang, vitamin C dan vitamin D dipilih untuk


meyakinkan adanya keseimbangan nitrogen dan merangasang
penyembuhan.

4. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia


Tujuan: Kebutuhan nutrusi terpenuhi
Intervensi:
kaji intek dan output makanan,
anjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering untuk
mengurangi vomit.
Kolaborasi dengan ahli gizi,
Memberikan pengetahuan mengenai kebutuhan nutrisi yang
harus terpenuhu.
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring
terlalu lama
Tujuan: Mencegah terjadinya perluasan integritas kulit
Intervensi:
kaji tanda tanda pisik secara umum
pantau terus integritas kulit
basuh dengan kain hangat
anjurkan pasien untuk selalu berganti posisi
bantu pasien untuk berganti posisi.
6. Gangguan Citra diri berhubungan dengan depormitas dan bau
dari luka
Tujuan: Mengembalikan kepercayaan diri pasien
Intervensi:
Meningkatkan penerimaan diri
Menggunakan strategkoping yang mengatasi perubahan pada
konsep diri serta citra tubuh
Saran untuk mengurangi dan mmenghadapi situasi penuh stres
di rumah
Memfasilitasi ekspektasi pasien yang lebih positif dan
kesedihannya untuk memahami sifat penyakit yang kronik
7. Kurang pengetahuan mengenai penyakit, dan program
pengobatan.
Tujuan: Pendidikan Pasien dan Pertimbangan Perawatan di
Rumah Intervensi:
Penanganan osteomielitis, termasuk perawatan luka dan terapi
antibiotika intravena, dapat dilakukan di rumah.

A s u h a n k e p e r a w a n a n o s t e o m i e l i t i s | 11

Pasien harus dalam keadaan stabil secara medis dan telah


termotivasi serta keluarga mendukung.
Lingkungan rumah harus bersifat kondusif terhadap promosi
kesehatan dan sesuai dengan program pengobatan terapeutik.
Pasien dan keluarganya harus memahami benar protokol
antibiotika. Selain itu, penggantian balutan secara steril dan
teknik kompres hangat harus diajarkan. Pendidikan pasien
sebelum pemulangan dari rumah sakit dan supervise serta
dukungan yang memadai dari perawatan di rumah sangat
penting dalam keberhasilan penatalaksanaan osteomielitis di
rumah.
Pasein tersebut harus dipantau dengan cermat mengenai
bertambahnya daerah nyeri atau peningkatan suhu yang
mendadak.
Pasien diminta untuk melakukan obsevasi dan melaporkan bila
terjadi peningkatan suhu, keluar pus, bau, dan bertambahnya
inflamasi.

E. IMPLEMENTASI
Sasaran Sasaran pasien meliputi peredaaan nyeri, perbaikan
mobilitas fisik dalam batas-batas terapeutik, kontrol dan eradikasi infeksi,
dan pemahaman mengenai program pengobatan.( Brunner & Sudarth
Edisi8).
F. EVALUASI
Hasil yang diharapkan :
1. Mengalami Peredaan Nyeri
Melaporkan berkurangnya nyeri
Tidak mengalami nyeri tekan di tempat terjadinya infeksi
Tidak mengalami ketidaknyamanan bila bergerak
2. Peningkatan mobilitas fisik
Berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri
Mempertahankan fungsi penuh ektremitas yang sehat
Memperlihatkan penggunaan alat imobilisasi dan alat bantu dengan
aman
3. Tidak adanya infeksi
Memakai antibiotika sesuai resep
Suhu badan normal
Tidak ada pembengkakan
Angka leukosit dan laju endap darah kembali normal
Biakan darah negatif

A s u h a n k e p e r a w a n a n o s t e o m i e l i t i s | 12

4. Kebutuhan nutrisi terpenuhi


Berat badan naik/ tetap
Makan secara teratur, dengan 4 sehat 5 sempurna terpenuhi
Anoreksia dan vomit hilang
5. Integritas kulit hilang / tetap
Tidak adanya perluasan integritas kuli
Memahami perawatan kulit yang teruka
Berpartisipasi dalam proses perawatan diri
Adanya peningkatan mobilisasi walaupun sedikit
6. Percaya diri pasien meningkat
Mampu menerima keadaannya secara sadar
Keluarga berperan aktip dalam pengembalian kepercayaan pasien
Perasaan negatif mengenai dirinya mulai menurun bahkan hilang
Mulai berpikir positif dan penuh percaya diri
7. Mamatuhi rencana terapeutik
Memakai antibiotika sesuai resep
Melindungi tulang yang lemah
Memperlihatkan perawatan luka yang benar
Melaporkan bila ada masalah segera
Makan diet seimbang dengan tinggi protein, vitamin C dan D
Mematuhi perjanjian untuk tindak lanjut
Melaporkan peningkatan kekuatan
Tidak melaporkan penigkatan suhu badan atau kekambuhan nyeri,
pembengkakan, atau gejala lain di tempat tersebut.

A s u h a n k e p e r a w a n a n o s t e o m i e l i t i s | 13

BAB IV
PEMUTUP
A. Kesimpulan
Osteomieletis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan
daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah,respons jaringan
terhadap inflamasi,tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum
(pembentukan tulang baru disekeliling jaringan tulang mati).Osteomielitis dapat
menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan
kehilangan ektermitas.
B. Saran
Ilmu pengetahuan makin hari makin maju, sehingga akan dengan mudah
mencegah terjadinya hal hal yang tidak diharapkan. Kami berharap setelah adanya
makalah ini tenaga medis mampu memahami penyakit dan mengimplementasikannya
dilingkungan masyarakat ataupun dilingkungan tempat dia bekerja.

A s u h a n k e p e r a w a n a n o s t e o m i e l i t i s | 14

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi8, Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku ajar keperawatan medical-bedah. Jakarta: EGC
NANDA Internasional. 2010. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 20092011. Jakarta: EGC
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan.edisi 3, Jakarta : EGC
http://wikipedia.org/osteomielitis. Diambil pada jam 14.05 tanggal 20 oktober 2014