Anda di halaman 1dari 30

KATA PENGANTAR

Dengan berkembangnya berbagai macam jenis pekerjaan manusia, ternyata


berdampak buruk bagi perkembangan kesehatan manusia. Manusia dipaksa bekerja
lembur siang malam. Seperti di pabrik-pabrik material. Hal ini akan berdampak buruk
pada kesehatan organ-organ yang berhubungan dengan pernafasan, seperti paru-paru.
Yang bisa menyebabkan terjadinya inhalantion-toksikologi (rute pernafasan) dan
respiratory tract toksikologi (organ target).
Sekarang banyak jenis penyakit kerusakan paru-paru yang disebabkan oleh
factor pekerjaan seperti, black-lung pada buruh tambang batu bara, silicosis dan
silicotuberculosis pada penggali terowongan dan penambang pasir, dan asbestosis pada
tukang kapal. Asbes atau metal lain seperti nikel, berilium, dan cadmium juga bisa
menyebabkan kanker paru.
Di abad 20 seperti sekarang ini, bukan hanya akibat kerja saja yang bisa
menyebabkan kerusakan pada organ pernafasan manusia. Tapi juga polusi udara yang
sudah menjadi masalah serius bagi kesehatan manusia bahkan juga keasrian lingkungan.
Sebagai tenaga kesehatan, masalah seperti ini perlu diperhatikan karena menyangkut
tentang kesehatan. Selain itu juga diperlukan pemahaman tentang hal yang bisa
menyebabkan kerusakan organ pernafasan, termasuk mekanisme perusakan, antidotum
dan pencegahannya.
Sehubungan dengan upaya untuk meningkatkan pemahaman tersebut dan untuk
memenuhi tugas mata kuliah Toksikologi, maka dibuatlah makalah ini dengan judul
Respon toksik system pernafasan.
Akhir kata, kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam
penyusunan makalah Respon toksik system pernafasan ini, diucapkan terima kasih
banyak dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Purwokerto, 15 Desember 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................1
DAFTAR ISI2
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang 3
1.2. Tujuan.. 3
BAB 2
SISTEM PERNAFASAN MANUSIA
2.1. Struktur system pernafasan manusia.. 4
2.2.

Mekanisme pernafasan.... 8

BAB 3
AGEN PENYEBAB KERUSAKAN
3.1. Berasal dari udara ( eksogen ).. II
3.2.

Berasal dari system sirkulasi ( endogen ). I3

BAB 4
RESPON SISTEM PERNAFASAN TERHADAP TOKSIKAN
4.1. Respon akut........................................... I5
4.2.

Respon kronis...I7

BAB 5
TERAPI DAN PENCEGAHAN
5.1. Antidotum dan mekanisme pencegahan kerusakan. 25
5.2.

Pencegahan terjadinya kerusakan. 27

BAB 6
PENUTUP. 28
DAFTAR PUSTAKA. 29
EVALUASI DIRI..30

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dengan berkembangnya berbagai macam jenis pekerjaan manusia, ternyata
berdampak buruk bagi perkembangan kesehatan manusia. Manusia dipaksa bekerja
lembur siang malam. Seperti di pabrik-pabrik material. Hal ini akan berdampak buruk
pada kesehatan organ-organ yang berhubungan dengan pernafasan, seperti paru-paru.
Yang bisa menyebabkan terjadinya inhalantion-toksikologi (rute pernafasan) dan
respiratory tract toksikologi (organ target).
Sekarang banyak jenis penyakit kerusakan paru-paru yang disebabkan oleh
factor pekerjaan seperti, black-lung pada buruh tambang batu bara, silicosis dan
silicotuberculosis pada penggali terowongan dan penambang pasir, dan asbestosis pada
tukang kapal. Asbes atau metal lain seperti nikel, berilium, dan cadmium juga bisa
menyebabkan kanker paru.
Di abad 20 seperti sekarang ini, bukan hanya akibat kerja saja yang bisa
menyebabkan kerusakan pada organ pernafasan manusia. Tapi juga polusi udara yang
sudah menjadi masalah serius bagi kesehatan manusia bahkan juga keasrian lingkungan.
Sebagai tenaga kesehatan, masalah seperti ini perlu diperhatikan karena menyangkut
tentang kesehatan. Selain itu juga diperlukan pemahaman tentang hal yang bisa
menyebabkan kerusakan organ pernafasan, termasuk mekanisme perusakan, antidotum
dan pencegahannya.

1.2 TUJUAN
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
Toksikologi dengan topik bahasan Respon toksik system pernafasan, dengan pokok
bahasan utama akan menjawab pertanyaan berikut :
1. Apa tipe dan bagaimana mekanisme toksik yang merusak system pernafasan ?
2. Apa antidotum dan bagaimana mekanisme pencegahan kerusakan system pernafasan ?
Makalah ini juga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa
farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang nantinya akan menjadi tenaga
kesehatan di masyarakat.

BAB 2
SISTEM PERNAFASAN MANUSIA

2.1 STRUKTUR SYSTEM PERNAFASAN MANUSIA


Respirasi adalah pertukaran gas, yaitu oksigen (O) yang dibutuhkan tubuh untuk
metabolisme sel dan karbondioksida (CO) yang dihasilkan dari metabolisme tersebut
dikeluarkan dari tubuh melalui paru. Fungsi respirasi dan non respirasi adalah :
- Respirasi : pertukaran gas O dan CO
- Keseimbangan asam basa
- Keseimbangan cairan
- Keseimbangan suhu tubuh
- Membantu venous return darah ke atrium kanan selama fase inspirasi
- Endokrin : keseimbangan bahan vaso aktif, histamine, serotonin, ECF dan
angiotensin
- Perlindungan terhadap infeksi: makrofag yang akan membunuh bakteri
Kebutuhan oksigen tubuh bersifat dinamis, berubah-ubah dipengaruhi oleh berbagai
faktor diantaranya adalah aktivitas. Saat aktivitas meningkat maka kebutuhan oksigen akan
meningkat sehingga kerja sistem respirasi juga meningkat. Mekanisme adaptasi sistem
respirasi terhadap perubahan kebutuhan oksigen tubuh sangat penting untuk menjaga
homeostastis dengan mekanisme sebagai berikut :
Sistem respirasi diatur oleh pusat pernafasan pada otak yaitu medula oblongata.
Pusat nafas terdiri dari daerah berirama medulla (medulla rithmicity) dan pons. Daerah
berirama medula terdiri dari area inspirasi dan ekspirasi. Sedangkan pons terdiri dari
pneumotaxic area dan apneustic area. Pneumotaxic area menginhibisi sirkuit inspirasi dan
meningkatkan irama respirasi. Sedangkan apneustic area mengeksitasi sirkuit inspirasi.
Daerah berirama medula mempertahankan irama nafas I : E = 2 : 3. Stimulasi
neuron inspirasi menyebabkan osilasi pada sirkuit inspirasi selama 2 dan inhibisi pada
neuron ekspirasi kemudian terjadi kelelahan sehingga berhenti. Setelah inhibisi hilang
kemudian sirkuit ekspirasi berosilasi selama 3 dan terjadi inhibisi pada sirkuit inspirasi.
Setelah itu terjadi kelelahan dan berhenti dan terus menerus terjadi sehingga tercipta
pernafasan yang ritmis. Pengaturan respirasi dipengaruhi oleh :
1. Korteks serebri yang dapat mempengaruhi pola respirasi.
2. Zat-zat kimiawi : dalam tubuh terdapat kemoresptor yang sensitif terhadap perubahan
konsentrasi O2, CO2 dan H+ di aorta, arkus aorta dan arteri karotis.
3. Gerakan : perubahan gerakan diterima oleh proprioseptor.
4. Refleks Heuring Breur : menjaga pengembangan dan pengempisan paru agar optimal.

5. Faktor lain : tekanan darah, emosi, suhu, nyeri, aktivitas spinkter ani dan iritasi saluran
nafas

Struktur system pernafasan manusia terdiri atas :


1. Saluran nafas bagian atas
a. Rongga hidung
Udara yang dihirup melalui hidung akan mengalami tiga hal :
- Dihangatkan
- Disaring
- Dan dilembabkan
Yang merupakan fungsi utama dari selaput lendir respirasi ( terdiri dari :
Psedostrafied ciliated columnar epitelium yang berfungsi menggerakkan partikel
partikel halus kearah faring sedangkan partikel yang besar akan disaring oleh
bulu hidung, sel golbet dan kelenjar serous yang berfungsi melembabkan udara
yang masuk, pembuluh darah yang berfungsi menghangatkan udara). Ketiga hal
tersebut dibantu dengan concha. Kemudian udara akan diteruskan ke:
b. Nasofaring (terdapat pharyngeal tonsil dan Tuba Eustachius)
c. Orofaring (merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring,terdapat pangkal
lidah)
d. Laringofaring(terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan)
2. Saluran nafas bagian bawah
Bagian ini menghantarkan udara yang masuk dari saluran bagian atas ke alveoli
5

a. Laring : Terdiri dari struktur yang penting yaitu :Tulang rawan krikoid,
Selaput/pita suara, Epilotis dan Glotis.
b. Trakhea
Merupakan pipa silider dengan panjang 11 cm, berbentuk cincin tulang
rawan seperti huruf C. Bagian belakang dihubungkan oleh membran fibroelastic
menempel pada dinding depan usofagus.
c. Bronkhi
Merupakan percabangan trakhea kanan dan kiri. Tempat percabangan ini
disebut carina. Bronchus kanan lebih pendek, lebar dan lebih dekat dengan
trachea. Bronchus kanan bercabang menjadi : lobus superior, medius, inferior.
Bronchus kiri terdiri dari : lobus superior dan inferior.
3. Alveoli
Terjadi pertukaran gas anatara O2 dan CO2. Terdiri dari : membran alveolar dan
ruang interstisial. Membran alveolar :
- Small alveolar cell dengan ekstensi ektoplasmik ke arah rongga alveoli
- Large alveolar cell mengandung inclusion bodies yang menghasilkan surfactant.
- Anastomosing capillary, merupakan system vena dan arteri yang saling
berhubungan langsung, ini terdiri dari : sel endotel, aliran darah dalam rongga
endotel
- Interstitial space merupakan ruangan yang dibentuk oleh : endotel kapiler, epitel
alveoli, saluran limfe, jaringan kolagen dan sedikit serum.
4. Sirkulasi paru
Pembuluh darah arteri menuju paru, sedangkan pembuluh darah vena
meninggalkan paru.
a. Pulmonary blood flow total = 5 liter/menit
Ventilasi alveolar = 4 liter/menit
Sehingga ratio ventilasi dengan aliran darah dalam keadaan normal = 4/5 = 0,8
b. Tekanan arteri pulmonal = 25/10 mmHg dengan rata-rata = 15 mmHg.
Tekanan vena pulmonalis = 5 mmHg, mean capilary pressure = 7 mmHg
Sehingga pada keadaan normal terdapat perbedaan 10 mmHg untuk
mengalirkan darah dari arteri pulmonalis ke vena pulmonalis
c. Adanya mean capilary pressure mengakibatkan garam dan air mengalir dari
rongga kapiler ke rongga interstitial, sedangkan osmotic colloid pressure akan
menarik garam dan air dari rongga interstitial kearah rongga kapiler.
Kondisi
ini dalam keadaan normal selalu seimbang. Peningkatan tekanan kapiler atau
penurunan koloid akan menyebabkan peningkatan akumulasi air dan garam
dalam rongga interstitial.
6

5. Paru-paru
Terdiri dari : Saluran nafas bagian bawah, Alveoli, Sirkulasi paru
6. Rongga Pleura
Terbentuk dari dua selaput serosa, yang meluputi dinding dalam rongga dada yang
disebut pleura parietalis, dan yang meliputi paru atau pleura veseralis
7. Rongga dan dinding dada
Merupakan pompa muskuloskeletal yang mengatur pertukaran gas dalam proses
respirasi. Rongga ini terbentuk oleh:
Otot otot interkostalis, Otot otot pektoralis mayor dan minor, Otot otot
trapezius, Otot otot seratus anterior/posterior, Kosta- kosta dan kolumna
vertebralis, Kedua hemi diafragma Yang secara aktif mengatur mekanik respirasi.
Pemejanan xenobiotika yang berada di udara dapat terjadi melalui penghirupan
xenobiotika tersebut. Tokson yang terdapat di udara berada dalam bentuk gas, uap,
butiran cair, dan partikel padat dengan ukuran yang berbeda-beda. Disamping itu perlu
diingat, bahwa saluran pernafasan merupakan sistem yang komplek, yang secara alami
dapat menseleksi partikel berdasarkan ukurannya. Oleh sebab itu ambilan dan efek
toksik dari tokson yang dihirup tidak saja tergantung pada sifat toksisitasnya tetapi juga
pada sifat fisiknya. Saluran pernafasan terdiri atas nasofaring, saluran trakea dan
bronkus, serta acini paru-paru, yang terdiri atas bronkiol pernafasan, saluran alveolar,
dan alveoli. Nasofaring berfungsi membuang partikel besar dari udara yang dihirup,
menambahkan uap air, dan mengatur suhu. Umumnya partikel besar ( > 10 m) tidak
memasuki saluran napas, kalau masuk akan diendapkan di hidung dan dienyahkan
dengan diusap, dihembuskan dan berbangkis. Saluran trakea dan bronkus berfungsi
sebagai saluran udara yang menuju alveoli. Trakea dan bronki dibatasioleh epiel bersilia
dan dilapisi oleh lapisan tipis lendir yang disekresi dari sel tertentu dalam lapisan epitel.
Dengan silia dan lendirnya, lapisan ini dapat mendorong naik partikel yang mengendap
pada permukaan menuju mulut. Partikel yang mengandung lendir tersebut kemudian
dibuang dari saluran pernafasan dengan diludahkan atau ditelan. Namun, butiran cairan
dan partikel padat yang kecil juga dapat diserap lewat difusi dan fagositosis. Fagosit yang
berisi partikel-partikel akan diserap ke dalam sistem limfatik. Beberapa partikel bebas
dapat juga masuk ke saluran limfatik. Partikel-partikel yang dapat terlarut mungkin
diserap lewat epitel ke dalam darah. Alveoli merupakan tempat utama terjadinya
absorpsi xenobiotika yang berbentuk gas, seperti carbon monoksida, oksida nitrogen,
belerang dioksida atau uap cairan, seperti bensen dan karbontetraklorida. Kemudahan
absorpsi ini berkaitan dengan luasnya permukaan alveoli, cepatnya aliran darah, dan
dekatnya darah dengan udara alveoli. Laju absorpsi bergantung pada daya larut gas
dalam darah. Semakin mudah larut akan semakin cepat diabsorpsi.
7

2.2 MEKANISME PERNAFASAN


Sistem respirasi bekerja melalui 3 tahapan yaitu :
1. Ventilasi
Ventilasi merupakan proses pertukaran udara antara atmosfer dengan alveoli.
Proses ini terdiri dari inspirasi (masuknya udara ke paru-paru) dan ekspirasi (keluarnya
udara dari paru-paru). Ventilasi terjadi karena adanya perubahan tekanan intra
pulmonal, pada saat inspirasi tekanan intra pulmonal lebih rendah dari tekanan atmosfer
sehingga udara dari atmosfer akan terhisap ke dalam paru-paru. Sebaliknya pada saat
ekspirasi tekanan intrapulmonal menjadi lebih tinggi dari atmosfer sehingga udara akan
tertiup keluar dari paru-paru.
Perubahan tekanan intrapulmonal tersebut disebabkan karena perubahan volume
thorax akibat kerja dari otot-otot pernafasan dan diafragma. Pada saat inspirasi terjadi
kontraksi dari otot-otot insiprasi (muskulus interkostalis eksternus dan
diafragma)sehingga terjadi elevasi dari tulang-tulang kostae dan menyebabkan
peningkatan volume cavum thorax (rongga dada), secara bersamaan paru-paru juga akan
ikut mengembang sehingga tekanan intra pulmonal menurun dan udara terhirup ke
dalam paru-paru.
Setelah inspirasi normal biasanya kita masih bisa menghirup udara dalam-dalam
(menarik nafas dalam), hal ini dimungkinkan karena kerja dari otot-otot tambahan
isnpirasi yaitu muskulus sternokleidomastoideus dan muskulus skalenus. Ekspirasi
merupakan proses yang pasif dimana setelah terjadi pengembangan cavum thorax akibat
kerja otot-otot inspirasi maka setelah otot-otot tersebut relaksasi maka terjadilah
ekspirasi. Tetapi setelah ekspirasi normal, kitapun masih bisa menghembuskan nafas
dalam-dalam karena adanya kerja dari otot-otot ekspirasi yaitu muskulus interkostalis
internus dan muskulus abdominis.
Kerja otot pernafasan disebabkan karena adanya perintah dari pusat pernafasan
(medula oblongata) pada otak, yang terdiri dari sekelompok neuron inspirasi dan
ekspirasi. Eksitasi neuron-neuron inspirasi akan dilanjutkan dengan eksitasi pada neuronneuron ekspirasi serta inhibisi terhadap neuron-neuron inspirasi sehingga terjadilah
peristiwa inspirasi yang diikuti dengan peristiwa ekspirasi. Area inspirasi dan area
ekspirasi ini terdapat pada daerah berirama medula (medulla rithmicity) yang
menyebabkan irama pernafasan berjalan teratur dengan perbandingan 2 : 3 (inspirasi :
ekspirasi).
Ventilasi dipengaruhi oleh :
- Kadar oksigen pada atmosfer
- Kebersihan jalan nafas
- Daya recoil & complience (kembang kempis) dari paru-paru
8

Pusat pernafasan
Fleksibilitas paru sangat penting dalam proses ventilasi. Fleksibilitas paru dijaga
oleh surfaktan. Surfaktan merupakan campuran lipoprotein yang dikeluarkan sel
sekretori alveoli pada bagian epitel alveolus dan berfungsi menurunkan tegangan
permukaan alveolus yang disebabkan karena daya tarik menarik molekul air & mencegah
kolaps alveoli dengan cara membentuk lapisan monomolekuler antara lapisan cairan dan
udara.
Energi yang diperlukan untuk ventilasi adalah 23% energi total yang dibentuk oleh
tubuh. Kebutuhan energi ini meningkat saat olahraga berat, bisa mencapai 25 kali lipat.
2. Difusi
Difusi dalam respirasi merupakan proses pertukaran gas antara alveoli dengan
darah pada kapiler paru. Proses difusi terjadi karena perbedaan tekanan, gas berdifusi
dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Salah satu ukuran difusi adalah tekanan parsial.
Difusi terjadi melalui membran respirasi yang merupakan dinding alveolus yang
sangat tipis dengan ketebalan rata-rata 0,5 m. Di dalamnya terdapat jalinan kapiler
yang sangat banyak dengan diameter 8 . Dalam paru terdapat sekitar 300juta alveoli
dan bila dibentangkan dindingnya maka luasnya mencapai 70 m 2 pada orang dewasa
normal.
Saat difusi terjadi pertukaran gas antara oksigen dan karbondioksida secara
simultan. Saat inspirasi maka oksigen akan masuk ke dalam kapiler paru dan saat
ekspirasi karbondioksida akan dilepaskan kapiler paru ke alveoli untuk dibuang ke
atmosfer. Proses pertukaran gas tersebut terjadi karena perbedaan tekanan parsial
oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler paru.
Volume gas yang berdifusi melalui membran respirasi per menit untuk setiap
perbedaan tekanan 1mmHg disebut dengan kapasitas difusi. Kapasitas difusi oksigen
dalam keadaan istirahat sekitar 230 ml/menit. Saat aktivitas meningkat maka kapasitas
difusi ini juga meningkat karena jumlah kapiler aktif meningkat disertai dilatasi kapiler
yang menyebabkan luas permukaan membran difusi meningkat. Kapasitas difusi
karbondioksida saat istirahat adalah 400-450 ml/menit. Saat bekerja meningkat menjadi
1200-1500ml/menit.
Difusi dipengaruhi oleh :
- Ketebalan membran respirasi
- Koefisien difusi
- Luas permukaan membran respirasi
- Perbedaan tekanan parsial
3. Transportasi
9

Setelah difusi maka selanjutnya terjadi proses transportasi oksigen ke sel-sel


yang membutuhkan melalui darah dan pengangkutan karbondioksida sebagai sisa
metabolisme ke kapiler paru. Sekitar 97 - 98,5% Oksigen ditransportasikan dengan cara
berikatan dengan Hb ( HbO2 atau oksihaemoglobin ), sisanya larut dalam plasma. Sekitar
5- 7 % karbondioksida larut dalam plasma, 23 30% berikatan dengan Hb ( HbCO2 atau
karbamina haemoglobin ) dan 65 70% dalam bentuk HCO3 ( ion bikarbonat ).
Saat istirahat, 5 ml oksigen ditransportasikan oleh 100 ml darah setiap menit.
Jika curah jantung 5000 ml/menit maka jumlah oksigen yang diberikan ke jaringan
sekitar 250 ml/menit. Saat olah raga berat dapat meningkat 1520 kali lipat.
Transportasi gas dipengaruhi oleh :
- Cardiac Output
- Jumlah eritrosit
- Aktivitas
- Hematokrit darah
Setelah transportasi maka terjadilah difusi gas pada sel/jaringan. Difusi gas pada
sel/jaringan terjadi karena tekanan parsial oksigen (PO2) intrasel selalu lebih rendah
dari PO2 kapiler karena O2 dalam sel selalu digunakan oleh sel. Sebaliknya tekanan
parsial karbondioksida (PCO2) intrasel selalu lebih tinggi karena CO2 selalu diproduksi
oleh sel sebagai sisa metabolisme.

10

BAB 3
AGEN PENYEBAB KERUSAKAN
Absorpsi xenobiotika melalui saluran napas.
Tempat utama bagi absorpsi di saluran napas adalah alveoli paru-paru, terutama
berlaku untuk gas (seperti karbon monoksida CO, oksida nitrogen, dan belerang oksida)
dan juga uap cairan (seperti benzen dan karbon tetraklorida). Sistem pernapasan
mempunyai kapasitas absorpsi yang tinggi. Kemudahan absorpsi ini berkaitan dengan
luasnya permukaan alveoli, laju aliran darah yang cepat, dan dekatnya darah dengan udara
alveoli. Oleh sebab itu jalur eksposisi ini merupakan hal yang menarik bagi farmasis untuk
mengembangkan produk sediaan farmaseutika untuk mendapatkan efek farmakologi yang
akut, guna menghindari pemakaian secara injeksi. Absorpsi pada jalur ini dapat terjadi
melalui membran nasal cavity atau absorpsi melalui alveoli paru-paru. Kedua membran
ini relativ mempunyai permeabilitas yang tinggi terhadap xenobiotika. Sebagai contoh
senyawa amonium quarterner, dimana sangat susah diserap jika diberikan melalui jalur
oral, namun pada pemberian melalui nasal cavity menunjukkan tingkat konsentrasi di
darah yang hampir sama dibandingkan dengan pemakaian secara intravena. Luas
permukaan alveoli yang sangat luas, ketebalan diding membran yang relativ tipis,
permeabilitas yang tinggi, lanju aliran darah yang tinggi, dan tidak terdapat reaksi firstpass-efect merupakan faktor yang menguntungkan proses absorpsi xenobiotika dari paruparu. Namun pada kenyataannya jalur eksposisi ini sedikit dipillih dalam uji toksisitas dari
suatu xenobiotika, karena; (1) kesulitan mengkuantisasikan dosis yang terserap, (2)
partikel dengan ukuran tertentu akan terperangkap oleh rambut silia atau lendir dimana
selanjutnya dibuang melalui saluran cerna, sehingga absopsi justru terjadi melalui saluran
cerna, (3) senyawa volatil (mudah menguap) pada umumnya melalui jalur ini terabsorpsi
sebagian, bagian yang tidak terabsorsi akan dihembuskan menuju udara bebas.

3.1 AGEN YANG BERASAL DARI UDARA ( EKSOGEN )


3.1.1 Asbes
Asbes merupakan mineral silikat dalam bentuk serabut halus. Asbes adalah salah satu
mineral yang ditambang dan secara komersial diproduksi menjadi serpentine chrysotil
asbestos, genteng waterproof dan masih banyak lagi produk lainnya. Dampak atau resiko
yang dapat ditimbulkan oleh asbes tergantung pada ukuran ( long ) partikel serabut ( fiber )
11

nya, asbestosis dapat terjadi dengan asbes yang berukuran 2 m. Meshothelioma


disebabkan oleh asbes berukuran 5m. Sedangkan untuk kanker paru disebabkan oleh
ukuran asbes yang lebih dari 10m. Untuk ukuran diameter, kurang lebih kira-kira 3m
tidak mudah untuk penetrasi ke dalam peripheral paru. Untuk mesothelioma, ukuran
diameter asbes harus lebih kecil dari 0,5m, karena makin tipis ukuran asbes akan
menyebabkan asbes bisa berpindah melalui limfa menuju organ lain atau bahkan menuju
permukaan pleura.
Jika asbes sudah berada di paru maka abes tersebur akan difagositosis oleh makrofag
yang ada pada alveolar. Asbes akan mengaktivasi makrofag sehingga akan menghasilkan (
merelease ) mediator, yaitu lymphokines dan growth factor yang akan menarik sel
immunocompetent atau menstimulasi produksi kolagen. Penyakit paru yang berhubungan
dengan asbes lama kelamaan akan menjadi mediasi dalam perubahan sel sehingga akhirnya
akan mengarah kepada inisiasi ( kerusakan DNA yang disebabkan oleh jenis molekul yang
reaktif ), atau promosi ( peningkatan jumlah sel paru yang tidak semestinya ) dan keduanya
merupakan proses karsinogenik.
Mekanisme penting dari terjadinya kerusakan yang disebabkan oleh asbes terletak pada
permukaannya. Menurut penelitian in vitro, karena adanya superokside dismutase atau
radikal bebas akan menyebabkan kerusakan sel. Keturunan dari jenis oksigen aktif dan lipid
yang terkontaminasi peroksida menjadi mekanisme penting dalam terjadinya toksisitas dari
asbes. Interaksi yang terjadi antara besi pada permukaan serabut asbes bersama dengan
oksigen akan menghasilkan oksigen peroksida dan hidroksil radikal yang sangat reaktif
(Upadhya and Kamp, 2003).
Pada manusia, asbes menyebabkan 3 penyakit yang berhubungan dengan paru yaitu :
a. asbestosis, ditandai dengan adanya peningkatan difusi dari kolagen pada dinding
alveolar (fibrosis) dan adanya kehadiran asbes baik dalam keadaan bebas atau terikat
pada protein.
b. kanker paru, akan beresiko diderita oleh pekerja tambang industry asbes dan perokok.
c. malignant mesothelioma, merupakan tumor langka dimana akan menyerang sel yang
melapisi permukaan paru : visceral dan parietal pleura.

3.1.2

Silica

Dengan terhirupnya silicon dioxide ( silica ) akan menyebabkan terjadinya penyakit


paru baik akut maupun kronis. Silicosis akut terjadi apabila menghirup aerosol yang banyak
mengandung partikel silicon dioxide ( paling sering dalam bentuk butiran seperti pasir )
yang cukup kecil dan bisa direspirasi ( biasanya kurang dari 5m ) selama periode waktu
yang cukup singkat kira-kira beberapa bulan sampai beberapa tahun. Keadaan pasien akan
diperburuk dengan dyspnea, demam batuk dan penurunan berat badan. Lama kelamaan
akan terjadi kerusakan alat pernafasan dan berakhir pada kematian kurang dari satu atau

12

dua tahun. Sampai sekarang belum ada pengobatan yang berpengaruh terhadap silicosis
akut.
Silicosis kronis mempunyai periode yang lebih lama, biasanya lebih dari 10 tahun.
Silicosis yang belum parah biasanya hampir asimptomatik (tanpa gejala klinis), perubahan
kecil dapat ditunjukkan pada tes fungsional rutinitas pulmonary bahkan setelah menderita
penyakit dibuktikan dengan radiografis. Tampilan gambar X-ray akan menunjukkan nodulefibrosis yang umumnya ada pada bagian apical dari paru-paru. Silicosis stadium awal bisa
berubah menjadi silicosis yang parah jika ukuran nodule lebih dari 1cm. Nodule-nodule ini
kebanyakan terjadi pada bagian atas atau bagian tengan dari paru-paru. Silicosis biasanya
disertai dengan adanya tuberkolosis.
Kristal silica adalah salah satu komponen utama yang melimpah keberadaannya di
bumi setelah oksigen, silicon merupakan elemen atau unsur yang paling umum. Sebagai
mineral murni, silicon umunya ditemukan dalam bentuk dioksidnya, silica (Si02). Faktor
utama patogenesis dari silica adalah struktur, ukuran partikel, dan konsentrasi. Ukuran
partikel silica berhubungan dengan fibrogenisitas pada manusia dengan ukuran partikel
1m dengan rentang 0,5-3m. Saat makrofag alveoli mencerna silica, makrofag akan
merelease sitokinin atau senyawa lain yang menyebabkan fibroblast melakukan replikasi
atau meningkatkan jumlah biosintesis kolagennya.

3.1.3 bahan toksik dalam rokok


nikotin yang menyebabkan kecanduan dan ketergantungan pada rokok.
Asap rokok dan ter menyebabkan rambut cilia yang ada pada daerah bronchus tidak
berfungsi dengan baik, karena menjadi lengket dan tidak dapat menolak partikel halus
yang masuk ke paru-paru. Cilia yang lengket menyebabkan partikel halus menempel
padanya dan menyebabkan produksi lendir berlebihan , sehingga menjadi batuk. Kalau hal
ini dibiarkan terus maka akan menjadi COCARCINOGENIK dan akhirnya menjadi kanker.
Selain dari itu , rokok ternyata juga mengandung logam berat yang dapat
mengakibatkan terjadinya racun di tubuh manusia
Bahaya rokok dalam tubuh merokok berdampak buruk pada kesehatan, karena
dapat menimbulkan kanker , serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan , dan
janin.

3.2 AGEN YANG BERASAL DARI DARAH ( ENDOGEN )


3.2.1 Bleomycin
13

Adalah campuran dari beberapa senyawa yang strukturnya mirip, digunakan


untuk agen kemoterapi, dampak utama yang sering timbul adalah fibrosis pulmonary.
Rangkaian kerusakan termasuk kapiler endothelial yang mengalami nekrosis dan sel
alveolar tipe 1, pembentukan edema dan hemorrhage. Setelah 1-2minggu proliferasi
dari sel epitel tipe 2 dan kemungkinan terjadinya penebalan dari dinding sel alveoli
karena terjadinya fibrosis.
Pada beberapa jaringan, enzim sitosol; bleomycin hydrolase menginaktifasi
bleomycin. Sedangkan pada kulit dan paru, 2 organ yang merupakan target utama untuk
toksisitas dari bleomycin, mempunyai aktifitas enzim bleomycin hidrolase yang cukup
rendah jika dibandingkan dengan organ lain. Bleomycin menstimulasi produksi kolagen
di dalam paru. Sebelum meningkatkan biosintesis kolagen, terjadi peningkatan dari level
normal pengikatan mRNA dengan fibronectin dan prokolagen. Yang terjadi pada proses
selanjutnya yaitu mediasi-bleomycin merelease sitokin; TGF- dan TNF-. Bleomycin
juga dapat bergabung dengan Fe (II) dan molekul oksigen, yang jika mereka bergabung
dengan DNA, single dan double strand akan rusak sehingga akan terbentuk radikal
bebas.

3.2.2

Cyclophospamida-1,3-(2 Cloroethyl)-1-Nitrosourea (BCNU)

Biasanya digunakan sebagai obat antikanker dan immunosupresan. Efek samping


yang tidak diinginkan termasuk hemorrhagic cystisis dan fibrotic paru. Cyclophospamida
dimetabolisme oleh enzyme sitokrom p450 melalui 2 reaksi metabolism yang sangat reaktif;
acrolein dan phosporamida mustard. Pada paru cooxidation dengan system prostaglandin H
sintase. Walaupun mekanisme kerusakan yang tepat dalam menyebabkan kerusakan paru
belum ditetapkan, penelitian yang menggunakan isolasi dari mikrosom paru menunjukkan
Cyclophospamida dan metabolitnya acrolein menginisiasi peroksidasi lipid.
Carmustin (BCNU) merupakan agen kemoterapi yang efektif yang digunakan untuk
mendesak antitumornya untuk bereaksi dengan makromolekul sel dan membentuk ikatan
inter atau intrastrand cross linked dengan DNA. Pada manusia, doses-related toksisitas
pulmonary ditandai dengan adanya penurunan kapasitas difusi. Konsentrasi oksigen yang
tinggi dapat mempertinggi kemungkinan toksisitas BCNU dan juga beberapa obat
antikanker lainnya yang juga berefek terhadap kerusakan paru; cyclophospamida dan
bloemycin. Beberapa obat kemoterapi dapat menyebabkan kerusakan paru pada pasien
yang diberikan obat ini.

14

BAB 4
RESPON SISTEM PERNAFASAN TERHADAP TOKSIKAN
4.1 RESPON AKUT
4.1.1 Mekanisme kerusakan saluran pernafasan
Segala sesuatu yang ada di udara masuk melalui hidung sampai ke daerah
pertukaran oksigen. Tempat terjadinya interaksi mempunyai implikasi yang penting
terhadap resiko toksisitas oleh inhalant.
Gas atau bau-bauan akan menstimulasi syaraf pada hidung. Hal ini akan
berpengaruh besar tehadap proses selanjutnya, misalnya pola pernafasan, dan hal
lainnya. Irritant yang disebabkan oleh senyawa asam atau basa akan menyebabkan
nekrosis sel dan meningkatkan permeabilitas dari dinding sel alveolar. Selain itu jika
menghirup HCl, NO2, NH3 atau phosgene dalam konsentrasi yang cukup tinggi dapat
menimbulkan kerusakan organ saluran pernafasan. Barrier epitel pada derah alveolar,
setelah periode laten atau beberapa jam, akan mulai bocor, dan akhirnya memenuhi
alveoli sehingga dapat terjadi edema paru yang berakibat fatal.
Keseimbangan dari aktivasi dan detoksifikasi sangat menentukan reaksi kimia yang
terjadi apakah akan menimbulkan kerusakan atau tidak. Paru mengandung enzyme
untuk memetabolisme xenobiotic yang sudah diidentifikasi juga terdapat pada organ
lain, seperti pada hati. Enzyme-enzym ini berkonsentrasi tinggi pada populasi sel sel
spesifik di sepanjang saluran pernafasan dan bagian dari isozym sitokrom p450 lebih
tinggi konsentrasinya pada paru. Contoh isozym yang diidentifikasi pada paru manusia
adalah sitokrom p 450 2F1, 4B1, 3A4, NADPH sitokrom p450 reduktase, epoksida
hydrolase, flavin monoxidase. 2 enzym sitosol yang penting di paru dalam
15

memetabolisme
peroxidase.

4.1.2

xenobiotic

adalah

glutathione-S-transferases

dan

glutathione

Reaksi oksidativ yang berlebihan

Reaksi oksidasi berlebihan yang tidak semestinya terjadinya biasanya terjadi


akibat adanya radikal bebas, NO2, asap rokok, dan lemahnya sel pertahanan paru
(Rahman, 2003), dapat secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan
kerusakan paru. Beberapa penelitian menunjukkan peningkatan aktifitas dari radikal
bebas yang reaktif terhadap enzyme yang ada di paru, setelah pemberian O3, NO2, dan
toksik lainnya.
Teori terjadinya kerusakan paru akibat oksidativ ini diperkirakan terjadi akibat
adanya pembentukan radikal bebas yang reaktif dan jenis oksigen yang aktif. Reaksi
selanjutnya yang melibatkan rantai cabang dapat menjurus ke reaksi aksidativ yang
bersifat tidak terkontrol dan destruktif. Superoxide, nitric oxide, peroxynitrate,
hydroxyl radical, hydrogen peroxide, atau bahkan oksigen single dapat memediasi
terjadinya kerusakan jaringan. Reduksi O2 menjadi metabolit O2-aktif umumya
merupakan hasil metabolism antara pada reaksi metabolism yang terjadi pada reaksi
transfer electron microsomal dan mitokondria.

4.1.3

Mediator kerusakan paru

Interleukin 1 (1L-1), berubah menjadi growth factor (TGF-) dan tumor necrosis
factor (TNF-) yang berimplikasi terhadap terjadinya pathogenesis dari fibrosis paru.
Jenis lain interleukin yaitu : 1L-2, 1L-5, 1L-8, dan 1L-13 yang merupakan komponen
esensial bertanggung jawab terhadap terjadinya kerusakan sel epitel paru.

4.1.4

Edema pulmonary

Edema paru akut adalah keadaan patologi dimana cairan intravaskuler keluar ke
ruang ekstravaskuler, jaringan interstisial dan alveoli yang terjadi secara akut. Pada keadaan
normal cairan intravaskuler merembes ke jaringan interstisial melalui kapiler endotelium
dalam jumlah yang sedikit sekali, kemudian cairan ini akan mengalir ke pembuluh limfe
menuju ke vena pulmonalis untuk kembali ke dalam sirkulasi (Flick, 2000, Hollenberg, 2003). Edema
paru akut dapat terjadi karena penyakit jantung maupun penyakit di luar jantung ( edema
paru kardiogenik dan non kardiogenik ). Angka kematian edema paru akut karena infark miokard
akut mencapai 38 57% sedangkan karena gagal jantung mencapai 30% (Haas, 2002).
Pengetahuan dan penanganan yang tepat pada edema paru akut dapat menyelamatkan
jiwa penderita. Penanganan yang rasional harus berdasarkan penyebab dan patofisiologi
yang terjadi (Alpert, 2002).

16

Edema paru timbul bila cairan yang difiltrasi oleh dinding mikrovaskuler lebih banyak
dari yang bisa dikeluarkan. Akumulasi cairan ini akan berakibat serius pada fungsi paru oleh
karena tidak mungkin terjadi pertukaran gas apabila alveoli penuh terisi cairan. Dalam
keadaan normal di dalam paru terjadi suatu aliran keluar yang kontinyu dari cairan dan
protein dalam pembuluh darah ke jaringan interstisial dan kembali ke system aliran darah
melalui saluran limfe. Pada individu normal tekanan kapiler pulmonal ( wedge pressure)
adalah sekitar 7 dan 12 mm Hg. Karena tekanan onkotik plasma berkisar antara 25 mm Hg,
maka tekanan ini akan mendorong cairan kembali ke dalam kapiler. Tekanan hidrostatik
bekerja melewati jaringan konektif dan barier seluler, yang dalam keadaan normal bersifat
relatif tidak permeabel terhadap protein plasma. Paru mempunyai sistem limfatik yang
secara ekstensif dapat meningkatkan aliran 5 atau 6 kali bila terjadi kelebihan air di dalam
jaringan interstisial paru.
Edema paru akan terjadi bila mekanisme normal untuk menjaga paru tetap kering
terganggu seperti tersebut di bawah ini (Flick, 2000; Alpert 2002) :
- permeabilitas membran yang berubah.
- tekanan hidrostatik mikrovaskuler yang meningkat.
- tekanan peri mikrovaskuler yang menurun.
- tekanan osmotik / onkotik mikrovaskuler yang menurun.
- tekanan osmotik / onkotik peri mikrovaskuler yang meningkat.
- gangguan saluran limfe.
Proses terjadinya edema paru melalui 3 tahap, yaitu :
1. Stadium 1 : pada keadaan ini terjadi peningkatan jumlah cairan dan koloid di ruang
interstitial yang berasal dari kapiler paru. Celah pada endotel kapiler paru mulai
melebar akibat peningkatan tekanan hidrostatik atau efek zatzat toksik. Meskipun
filtrasi sudah meningkat, namun belum tampak peningkatan cairan di ruang interstitial.
2. Stadium 2 : kapasitas limfatik untuk mengalirkan kelebihan cairan sudah melampaui
batas sehingga cairan mulai terkumpul di ruang interstisial dan mengelilingi bronkioli
dan vaskuler paru. Bila cairan terus bertambah akan menyebabkan membran alveoli
menyempit.
3. Stadium 3 : Pada stadium ini terjadi edema alveolar. Pertukaran gas sangat terganggu,
terjadi hipoksemia dan hipokapnia. Penderita nampak sesak sekali dengan batuk
berbuih kemerahan. Kapasitas vital dan volume paru yang lain turun dengan nyata.
Terjadi right-to-left intrapulmonary shunt.Penderita biasanya menderita hipokapnia,
tetapi pada kasus yang berat dapat terjadi hiperkapnia dan acute respiratory acidemia.
Pada keadaan ini morphin hams digunakan dengan hati-hati (Ingram and Braunwald,
1988)

17

4.2 RESPON KRONIS


4.2.1 Emfisema
Emfisema adalah suatu kelainan anatomik paru yang ditandai oleh pelebaran
secara abnormal saluran napas bagian distal bronkus terminalis, disertai dengan
kerusakan dinding alveolus yang ireversibel. Berdasarkan tempat terjadinya proses
kerusakan, emfisema dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :
4. Sentri-asinar (sentrilobular/CLE) : Pelebaran dan kerusakan terjadi pada bagian
bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, dan daerah sekitar asinus.
5. Pan-asinar (panlobular) : Kerusakan terjadi merata di seluruh asinus. Merupakan
bentuk yang jarang, gambaran khas nya adalah tersebar merata di seluruh paruparu, meskipun bagian-bagian basal cenderung terserang lebih parah. Tipe ini sering
timbul pada orang dengan defisiensi alfa-1 anti tripsin.
6. Irregular : Kerusakan pada parenkim paru tanpa menimbulkan kerusakan pada
asinus.
Emfisema dapat bersifat kompensatorik atau obstruktif :
- Emfisema kompensatorik : Terjadi di bagian paru yang masih berfungsi, karena
ada bagian paru lain yang tidak atau kurang berfungsi, misalnya karena
pneumonia, atelektasis, pneumothoraks.
- Emfisema obstruktif : Terjadi karena tertutupnya lumen bronkus atau
bronkiolus yang tidak menyeluruh, hingga terjadi mekanisme ventil.
Emfisema paru merupakan suatu pengembangan paru disertai perobekan alveolusalveolus yang tidak dapat pulih, dapat bersifat menyeluruh atau terlokalisasi, mengenai
sebagian atau seluruh paru. Pengisian udara berlebihan dengan obstruksi terjadi akibat dari
obstruksi sebagian yang mengenai suatu bronkus atau bronkiolus dimana pengeluaran
udara dari dalam alveolus menjadi lebih sukar dari pada pemasukannya. Dalam keadaan
demikian terjadi penimbunan udara yang bertambah di sebelah distal dari alveolus. Pada
Emfisema obstruksi kongenital bagian paru yang paling sering terkena adalah belahan paru
kiri atas. Hal ini diperkirakan oleh mekanisme katup penghentian.
Pada paru-paru sebelah kiri terdapat tulang rawan yang terdapat di dalam bronkusbronkus yang cacat sehingga mempunyai kemampuan penyesuaian diri yang berlebihan.
Selain itu dapat juga disebabkan stenosis bronkial serta penekanan dari luar akibat
pembuluh darah yang menyimpang.
Mekanisme katup penghentian : Pengisian udara berlebihan dengan obstruksi terjadi
akibat dari obstruksi sebagian yang mengenai suatu bronkus atau bronkiolus dimana
pengeluaran udara dari dalam alveolus menjadi lebih sukar dari pemasukannya
penimbunan udara di alveolus menjadi bertambah di sebelah distal dari paru.
18

Pada emfisema paru penyempitan saluran nafas terutama disebabkan elastisitas paru
yang berkurang. Pada paru-paru normal terjadi keseimbangan antara tekanan yang menarik
jaringan paru ke laur yaitu disebabkan tekanan intrapleural dan otot-otot dinding dada
dengan tekanan yang menarik jaringan paru ke dalam yaitu elastisitas paru.
Bila terpapar iritasi yang mengandung radikal hidroksida (OH-). Sebagian besar partikel
bebas ini akan sampai di alveolus waktu menghisap rokok. Partikel ini merupakan oksidan
yang dapat merusak paru. Parenkim paru yang rusak oleh oksidan terjadi karena rusaknya
dinding alveolus dan timbulnya modifikasi fungsi dari anti elastase pada saluran napas.
Sehingga timbul kerusakan jaringan interstitial alveolus.
Partikel asap rokok dan polusi udara mengenap pada lapisan mukus yang melapisi
mukosa bronkus. Sehingga menghambat aktivitas silia. Pergerakan cairan yang melapisi
mukosa berkurang. Sehingga iritasi pada sel epitel mukosa meningkat. Hal ini akan lebih
merangsang kelenjar mukosa. Keadaan ini ditambah dengan gangguan aktivitas silia. Bila
oksidasi dan iritasi di saluran nafas terus berlangsung maka terjadi erosi epital serta
pembentukan jaringan parut. Selain itu terjadi pula metaplasi squamosa dan pembentukan
lapisan squamosa. Hal ini menimbulkan stenosis dan obstruksi saluran napas yang bersifat
irreversibel sehingga terjadi pelebaran alveolus yang permanen disertai kerusakan dinding
alveoli.

4.2.2

Asma

Penyakit asma berasal dari kata Asthma yang diambil dari bahasa yunani yang
berarti sukar bernapas. Penyakit asma dikenal karena adanya gejala sesak napas, batuk
yang disebabkan oleh penyempitan saluran napas. Asma juga disebut penyakit paru-paru
kronis yang menyebabkan penderita sulit bernapas. Hal ini disebabkan karena
pengencangan dari otot sekitar saluran napas, peradangan, rasa nyeri, pembengkakan dan
iritasi pada saluran napas di paru-paru. Hal lain disebut juga bahwa asma adalah penyakit
yang disebabkan oleh peningkatan respon dari trachea dan bronkus terhadap bermacammacam stimuli yang di tandai dengan penyempitan bronkus atau bronkiolus dan sekresi
berlebih dari kelenjar di mukosa bronkus.
Menurut National Asthma Education and Prevention Program (NAEPP) pada
National Institute of Health (NIH) Amerika, asma (dalam hal ini asma bronkial) didefinisikan
sebagai penyakit radang/inflamasi kronik pada paru, yang dikarakterisir oleh adanya :
1. Penyumbatan saluran nafas yang bersifat reversible (dapat balik), baik secara spontan
maupun dengan pengobatan.
2. Peradangan pada jalan nafas.
3. Peningkatan respon jalan nafas terhadap berbagai rangsangan (hiper- responsivitas)
(NAEPP, 1997).
19

Pada saat seseorang menderita asma terkena faktor pemicunya, maka dinding saluran
mafasnya akan menyempit dan membengkak menyebabkan sesak napas. Kadang dinding
saluran napas dilumuri oleh lendir yang lengket sehingga dapat menyebabkan sesak napas
yang lebih parah. Jika tidak dapat ditangani dengan baik maka asma dapat menyebabkan
kematian.
Secara umum gejala penyakit asma adalah sesak napas, batuk berdahak, dan suara
napas yang berbunyi dimana serinya gejala ini timbul pada pagi hari menjelang waktu
subuh, hal ini dikarenakan pengaruh keseimbangan hormon kortisol yang kadarnya rendah
ketika pagi hari. Penderita asma akan mengeluhkan sesak napas karena udara pada waktu
bernapas tidak dapat mengalir dengan lancar pada saluran napas yang sempit hal ini juga
yang menyebabkan timbulnya bunyi pada saat bernapas. Pada penderita asma,
penyempitan saluran napas yang terjadi dapat berupa pegerutan dan tertutupnya saluran
oleh dahak yang diproduksi secara berlebihan dan menimbulkan batuk sebagai respon
untuk mengeluarkan dahak tersebut. Salah satu ciri asma adalah hilangnya keluhan diluar
serangan. Artinya, pada saat serangan, penderita asma bisa kelihatan amat menderita
(banyak batuk, sesak napas, hebat bahkan sampai tercekik) tetapi diluar serangan
penderita sehat-sehat saja. Inilah salah satu yang membedakannya dengan penyakit lain.
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang
menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhioulus
terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga
terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk
membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini
menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya.
Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada
interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila
seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen
bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan
mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi
lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek
gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada dinding
bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan
spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi
sangat meningkat Pada asma , diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi dari
pada inspirasi.
Selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa
menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka
sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi
berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi
20

dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi.Hal ini menyebabkan
dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat
selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini
bisa menyebabkan barrel chest.

4.2.3

Fibrosis

Fibrosis adalah proses pembentukan jaringan fibrin. Fibrosis dapat terjadi setelah
proses degenerasi leiomioma. Beberapa sitokina yang dapat menginduksi fibrosis antara
lain, TGF-, TNF-, PDGF, CTGF, endotelin, GM-CSF, IL-1, IL-6, IL-10, dan IL-13.Beberapa
jenis fibrosis yang dikenal antara lain, mediastinal, retroperitoneal, periorbital, retroorbital,
paru, hati, sistik.
Pada histopatologi, fibrosis paru adalah kelompok kelainan pada paru yang meliputi
usual interstitial pneumonia atau fibrosis paru idiopatik, desquamative interstitial
pneumonia, respiratory bronchiolitis interstitial lung disease, lymphoid interstitial
pneumonia, cryptogenic organizing pneumonia, diffuse alveolar damage atau acute
interstitial pneumonia, dan nonspecific interstitial pneumonia.
Fibrosis paru bukanlah nama suatu penyakit melainkan istilah patologi yang
menyatakan adanya jaringan pengikat dalam jumlah yang berlebihan. Fibrosis timbul
akibat perbaikan jaringan sebagai mekanisme lanjutan pada penyakit paru yang
menimbulkan peradangan atau nekrosis. Jenis fibrosis paru yang paling sering ditemukan
adalah fibrosis lokal pada parenkim paru akibat keadaan yang disebabkan oleh
tuberkolosis, abses paru, bronkhiektasis atau pneumonia yang tidak teratasi. Kadangkadang fibrosis paru dapat secara difus menyerang parenkim paru, terutama pada septum
interaveolar. Tidak seperti pada fibrosis lokal, fibrosis paru difus merupakan kelainan yang
menyebabkan kecacatan dan sering sekali fatal. Terjadinya fibrosis paru difus menunjukkan
stadium akhir penyakit paru baik yang sebabnya diketahui maupun yang belum diketahui
(Smeltzer dan Bare,2002).
Segera setelah radiasi paru akan terjadi gangguan pada sel-sel alveolar tipe-2
sebagaimana terdeteksi dengan mikroskop elektron, dan pelepasan surfaktan. Dalam satu
jam pertama akan terjadi pengurangan lamellar bodies pada pneumosit tipe-1. Lamellar
bodies ini mensekresi surfaktan melalui eksositosis. Sejumlah peneliti mencoba
menjadikan pelepasan dini surfaktan ini sebagai petanda akan berkembangnya
pneumonitis radiasi.
Dalam 24 jam akan timbul edema subendotelial dan perivaskular serta pelepasan
materi protein. Fase berikutnya, proliferasi pneumosit tipe-2, terjadi antara bulan pertama
dan ketiga dimana terjadi hipertrofi kompensatoar dari lamellar bodies. Septum alveolar
menjadi lebih hiperselluler ( dengan mast cells, sel-sel plasma, fibroblast, makrofag dan selsel PMN ) dan timbulnya fibrosis interstitial dengan sejumlah benang-benang kollagen.
21

Pneumosit tipe-2 menjadi abnormal dimana tampak degenerasi pada organel dan
perubahan-perubahan bentuk.
Setelah 6 bulan, terjadi obliterasi kapiler dan digantikan oleh jaringan fibrosis,
deposit kollagen yang ekstensif, pneumosit tipe 2 dalam jumlah lebih banyak dan sel-sel
otot polos arterial. Dalam 9 bulan atau lebih,sel-sel inflamasi menghilang, jumlah
pneumosit-2 kembali normal dan sejumlah kapiler regenerasi. Dari sini terlihat bahwa
pneumonitis radiasi adalah suatu alveolitis akibat kerusakan pneumosit tipe-2 alveolar.
Disamping kerusakan pneumosit tipe-2, kerusakan sel-sel endotel juga berperanan pada
perlangsungan pneumonitis radiasi atau fibrosis. Dalam beberapa hari setelah radiasi,
sel-sel endotel menunjukkan perubahan ultrastruktural dan peningkatan permiabilitas,
ditandai dengan edema perivaskular dan kongesti.
Kerusakan vaskular akibat radiasi menyebabkan eksudasi protein plasma ke
dalam rongga ekstravaskuler yang diduga menjadi faktor utama berlangsungnya proses
fibrosis. Makrofag alveolar dan netrofil adalah sel-sel yang memegang peranan utama
melalui pelepasan fibronektin dan MDGF.
Peranan TGF- 1
Proses utama yang berlangsung pada pemulihan jaringan adalah pengeluaran sitokin
sebagai respon terhadap jejas, dan TGF- merupakan sitokin kunci yang memulai
(initiates) dan mengakhiri (terminates) pemulihan jaringan serta memelihara (sustain)
produksi bahan-bahan untuk terbentuknya fibrosis.
Pada penyembuhan luka seperti di kulit, terjadi rangkaian proses biologik yang
diawali dengan platelet-induced hemostasis, diikuti oleh influks sel-sel inflamasi dan
fibroblast, pembentukan matriks ekstraselluler yang baru dan pembuluh darah (jaringan
granulasi), serta proliferasi sel-sel untuk rekonstitusi jaringan. TGF- berperanan pada
setiap tahapan tersebut. Platelet mengandung TGF- 1 dan PDGF dalam konsentrasi
yang tinggi yang akan dilepaskan pada jaringan yang terkena luka. TGF- 1 yang inaktif
(laten) terikat secara local pada matriks ekstraselluler yang juga dapat diaktifasi setelah
luka. TGF 1 dapat bersifat khemotaktik kuat untuk netrofil, sel-sel T, monosit dan
fibroblast. Monosit mensekresi fibroblast growth factor, TNF, IL-1, dan fibroblast akan
meningkatkan sintesa protein matriks ekstraselluler. TGF- 1 juga dapat menginduksi
baik sel-sel infiltrat maupun sel-sel setempat (resident cells) untuk memproduksi diri
sendiri. Sifat autoinduksi ini memperkuat efek biologik TGF- 1 pada tempat luka dan
menjadi faktor penting pada fibrosis kronik.
TGF- 1 disamping bersifat agonist dan antagonist terhadap proliferasi sel dan
inflamasi, juga bersifat menginduksi deposisi matriks ekstraselluler. Akumulasi matriks
pada jaringan merupakan kelainan patologik utama dari penyakit-penyakit fibrotik.
Matriks ekstraselluler terdiri dari fibronektin, kolllagen dan proteoglikan dimana sel-sel
akan melekat dengan integrin sebagai reseptor permukaan. Sel-sel sekitar matriks
22

secara kontinyu akan didegradasi oleh protease. TGF- 1 menyebabkan deposisi matriks
ekstraselluler melalui stimulasi sel-sel untuk memperbanyak sintesa protein matriks,
pengurangan produksi protease, meningkatkan produksi inhibitor terhadap protease,
dan modulasi ekspresi integrin sehingga meningkatkan adhesi sel pada matriks. Efek
pada matriks ekstraselluler mencerminkan besarnya peranan biologik TGF- 1. TGF-
1 terikat pada proteoglikan pada matriks atau dekat permukaan sel, dan dapat memberi
signal untuk terminasi produksi TGF setelah pemulihan jaringan menjadi sempurna

4.2.4

Kanker paru

Kanker Paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalam
jaringan paru, Patogenesis kanker paru belum benar-benar dipahami. Sepertinya sel
mukosal bronkial mengalami perubahan metaplastik sebagai respon terhadap paparan
kronis dari partikel yang terhirup dan melukai paru. Sebagai respon dari luka selular,
proses reaksi dan radang akan berevolusi. Sel basal mukosal akan mengalami proliferasi
dan terdiferensiasi menjadi sel goblet yang mensekresi mukus.
Sepertinya aktivitas metaplastik terjadi akibat pergantian lapisan epitelium
kolumnar dengan epitelium skuamus, yang disertai dengan atipia selular dan
peningkatan aktivitas mitotik yang berkembang menjadi displasia mukosal. Rentang
waktu proses ini belum dapat dipastikan, hanya diperkirakan kurang lebih antara 10
hingga 20 tahun.
Merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus kanker paru-paru pada
pria dan sekitar 70% pada wanita. Semakin banyak rokok yang dihisap, semakin besar
risiko untuk menderita kanker paru-paru.
Hanya sebagian kecil kanker paru-paru (sekitar 10%-15% pada pria dan 5% pada
wanita) yang disebabkan oleh zat yang ditemui atau terhirup di tempat bekerja. Bekerja
dengan asbes, radiasi, arsen, kromat, nikel, klorometil eter, gas mustard dan pancaran
oven arang bisa menyebabkan kanker paru-paru, meskipun biasanya hanya terjadi pada
pekerja yang juga merokok.
Peranan polusi udara sebagai penyebab Kanker Paru-paru masih belum jelas.
Beberapa kasus terjadi karena adanya pemaparan oleh gas radon di rumah tangga.
Kadang kanker paru-paru (terutama adenokarsinoma dan karsinoma sel alveolar) terjadi
pada orang yang paru-parunya telah memiliki jaringan parut karena penyakit paru-paru
lainnya, seperti tuberkulosis dan fibrosis. Gejala Kanker Paru-paru yang paling umum
dan biasa ditemui pada penderita kanker paru adalah :
Batuk yang terus menerus atau menjadi hebat.
Dahak berdarah, berubah warna dan makin banyak.
Napas sesak dan pendek-pendek.
Sakit kepala, nyeri atau retak tulang dengan sebab yang tidak jelas.
Kelelahan kronis
23

Kehilangan selara makan atau turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas.
Suara serak/parau.
Pembengkakan di wajah atau leher.
Gejala pada Kanker Paru-paru umumnya tidak terlalu kentara, sehingga kebanyakan
penderita kanker paru yang mencari bantuan medis telah berada dalam stadium lanjut.
Kasus-kasus stadium dini/ awal sering ditemukan tanpa sengaja ketika seseorang
melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.
-

BAB 5
TERAPI DAN PENCEGAHAN
Pada umumnya, prinsip dalam pathogenesis sistem pernafasan disebabkan oleh
senyawa kimia, diantaranya adalah toksik inhalasi, gas, dan dosimetri, desposisi partikel, ukuran
partikel, nanotoksikologi, serta desposisi mekanisme.
System pernafasan melakukan proses pembersihan partikel-partikel melalui :
Nasal ( udara yang masuk ke system pernafasan pertama kali akan melewati hidung,
sebagian besar daerah nasal dilapisi oleh epitel mukosiliari yang akan mendorong mucus ke
glottis atau celah suara, dimana mucus tersebut akan tertelan. Partikel yang tidak larut
umumnya akan dibersihkan dengan proses ini kurang dari satu jam pada orang dewasa
sehat. Sedangkan partikel yang larut di mucus akan terlarut dan terbawa oleh epitel atau
darah sebelum dikeluarkan dari tubuh.)
Trakeabronkial ( lapisan muccus yang melapisi batang trakeabronkial bisa berpindah ke
atas oleh detakan atau pukulan yang didasari oleh cilia. Perpindahan muccus yang bergerak
ke atas ini akan membawa partikel yang tersimpan pada saluran tersebut atau partikel yang
sudah dikalahkan oleh makrofag menuju orofaring untuk selanjutnya ditelan dan memasuki
saluran pencernaan. Pada manusia yang sehat, proses ini dapat berlangsung sekitar 24 48
jam untuk partikel yang belum mencapai saluran pernafasan yang lebih dalam. Untuk
infeksi atau luka lainnya akan mendapatkan proses yang lebih mumpuni lagi.)
24

Paru-paru ( ada beberapa cara yang dilakukan unutuk mengatasi partikel yang sudah
memasuki saluran pencernaan selanjutnya, yaitu:
a. Partikel akan terperangkap pada lapisan muccus pada batang trakeabronkial yang
kemudian akan dipindah ke atas oleh system escalator sampai ke saluran
pencernaan.
b. Partikel akan difagositosis oleh makrofag dan akan terbawa oleh mukosiliary pada
trakeabronkial.
c. Partikel akan difagositosis oleh makrofag pada alveoli, dan kemudian di bawa ke
saluran pembuangan limfatik.
d. Material atau bahan yang terlarut akan dikeluarkan melalui darah atau limfa.
e. Partikel kecil akan dipenetrasi oleh membrane epithelial.
f. Beberapa saat setelah partikel terhirup, mereka akan ditemukan oleh makrofag
alveolar. Untuk partikel yang tidak larut, khususnya yang dibatasi serabut akan
disimpan dalam paru dalam jangka waktu yang lama, dan kebanyakan akan di
fagositosis oleh makrofag yang ada di saluran pencernaan.)

5.1 ANTIDOTUM DAN MEKANISME PENCEGAHAN KERUSAKAN


Prinsip umum pengelolaan gangguan saluran nafas adalah:
1. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segera.
2. Mengenal dan menghindari fakto-faktor yang dapat mencetuskan serangan pada
saluran pernafasan
3. Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai
penyakitnya, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga
penderita mengerti tujuan pengobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter
atau perawat yang merawatnya.
OBAT-OBATAN YANG MEMPENGARUHI SISTEM PERNAPASAN
obat-obat respiratorik : Obat yang bekerja dan mempengaruhi sistem pernafasan
Bentuk sediaan yang tersedia bisa berupa : tablet / kapsul, tablet lepas lambat, sirup dan drop,
balsam, inhaler, tetes hidung, nebulizer, dll
Beberapa contoh penyakit saluran pernafasan
Asma bronkhial
adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversible dimana trakeobronkial
berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu
Bronkhitis kronis

25

peradangan saluran napas kronis ditandai dengan batuk berdahak minimal tiga bulan
dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturut-turut dan bukan disebabkan
oleh penyakit lain.
Emfisema
pelebaran gelembung-gelembung paru disertai kerusakan dindingnya sehingga beberapa
gelembung paru menjadi satu
Jenis-jenis obat-obat respiratorik . Dapat dibedakan berdasarkan :
1. tujuan pemberian :

anti asma dan PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis)

obat anti batuk dan pilek

golongan dekongestan dan obat hidung lain


2. efek terhadap organ saluran pernafasan
Bronkodilator
Anti inflamasi
Penekan sekresi dan edema
Bronkodilator : Obat yang melebarkan saluran nafas
Terbagi dalam 2 golongan :
1. Simpatomimetik / adrenergik
Bekerja pada reseptor beta 2 ( Beta 2 agonis )
contoh obat : - Orsiprenalin, Fenoterol, Terbutalin, Salbutamol
Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet,sirup,suntikan
dan semprotan.Contoh produk : Yang berupa semprotan: MDI (Metered
dose inhaler). Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler
dan Bricasma Turbuhaler) atau Cairan broncodilator (Alupent, Berotec, brivasma
serta Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang
sangat halus ) untuk selanjutnya dihirup.
2. Santin (teofilin)
Nama obat : Aminofilin supp, Aminofilin retard , Teofilin
Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi cara kerjanya
berbeda. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat.
Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan asma
akut, dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah.
Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum
sesudah makan. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung
sebaiknya berhati-hati bila minum obat ni.
Teofilin terdapat juga dalam bentuk supositoria yang cara pemakaiannyadimasukkan
ke dalam anus. Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak
dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering).
26

Mekanisme bronkodilator
Mekanisme kerjanya adalah melalui stimulasi reseptor b2 di trachea (batang tenggorok)
dan bronkus, yang menyebabkan aktivasi adenilsiklase. Enzim ini memperkuat pengubahan
adenosintrifosat (ATP) yang kaya energi menjadi cyclic-adenosin monophosphat (cAMP) dengan
pembebasan energi yang digunakan untuk proses-proses dalam sel. Meningkatnya kadar cAMP
di dalam sel menghasilkan beberapa efek bronkodilatasi dan penghambatan pelepasan
mediator oleh mast cells

5.2 PENCEGAHAN TERJADINYA KERUSAKAN


Paru-paru adalah salah satu organ pada sistem pernapasan yang berfungsi sebagai
tempat bertukarnya oksigen dari udara yang menggantikan karbondioksida di dalam darah.
Proses ini dinamakan sebagai respirasi dengan menggunakan batuan haemoglobin sebagai
pengikat oksigen. Setelah O2 di dalam darah diikat oleh hemoglobin, selanjutnya dialirkan ke
seluruh tubuh. Penyakit yang mengancam paru-paru banyak jenisnya. Saatnya mengetahui
penyakit tersebut guna meningkatkan kewaspadaan.
a. Pemeriksaan fungsi paru secara berkala
Kegunaan melakukan pemeriksaan fungsi paru secara berkala dapat mendiagnostik
adanya penyakit seperti : sesak nafas, sianosis, sindrom bronkitis.
Indikasi klinik:
- Kelainan jalan nafas paru,pleura dan dinding toraks
- Payah jantung kanan dan kiri
- Diagnostik pra bedah toraks dan abdomen
- Penyakit-penyakit neuromuskuler
- Usia lebih dari 55 tahun
b. Savety equipment
- masker
c. Mengetahui secara umum tentang penyakit system saluran pernafasan.
d. Gaya hidup sehat
27

Hindari rokok dan alcohol


Olahraga teratur
Makanan bergizi dan air putih

BAB 6
PENUTUP
Sekarang banyak jenis penyakit kerusakan paru-paru yang disebabkan oleh factor
pekerjaan seperti, black-lung pada buruh tambang batu bara, silicosis dan silicotuberculosis
pada penggali terowongan dan penambang pasir, dan asbestosis pada tukang kapal. Asbes atau
metal lain seperti nikel, berilium, dan cadmium juga bisa menyebabkan kanker paru. Oleh
karenanya pengetahuan secara umum tentang kesehatan system pernafasan sangat penting
diketahui oleh masyarakat untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman tentang penyebab, penyakit yang ditimbulkan, mekanisme terjadinya kerusakan,
antidotum dan mekanisme, serta yang terpenting adalah tindakan pencegahan yang dilakukan
untuk menghindari terjadinya penyakit yang berkaitan dengan system pernafasan. Makalah ini
tentunya masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu kritik dan saran dari pembaca akan
sangat bermanfaat untuk makalah-makalah selanjutnya. Dan semoga makalah ini dapat
memberi manfaat sedikit banyaknya untuk kita semua.

28

DAFTAR PUSTAKA
Bellini LM, Grippi MA. Pulmonary Pharmacotherapy. In Fishman AP, Elias JA, Fishman JA, Gripii
MA, Kaiser LR, Senior RM editor Manual of Pulmonary Disease And Disorders. USA :The
McGrow Hill Companies
Casarett and Doulls. Toxicology : The Basic Science of Poison, 6th Ed. New Yorks : Mc. Graw Hill.
Tjay TH, Rahardja K. Obat Asma Dan COPD. Obat-obat Penting kasiat, penggunaan dan efek
samping. Jakarta : Elex media computindo.
https://id.scribd.com/doc/139039579/OBAT-BRONKODILATOR

29

EVALUASI DIRI

30