Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH FISIOLOGI HEWAN AIR

KERANG MUTIARA

Dinur Piranto

(230210130021)

Shaf Itmam

(230210130032)

Putri Kirana

(230210130037)

Agus Tri Askar

(230210130040)

M Ali Rahman

(230210130059)

Joana Viviani K

(230210130054)

Meidina P

(230210130088)

Universitas Padjajaran
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas berkat dan rahmat-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul Kerang Mutiara Salam serta salawat kepada junjungan Nabi
Muhammad SAW yang merupakan tauladan bagi kaum muslimin dimuka bumi
ini. Walaupun berbagai macam tantangan yang dihadapi, tapi semua itu telah
memberikan pengalaman yang berharga untuk dijadikan pelajaran dimasa yang
akan datang.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan
hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa
teratasi. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini,
semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik
dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca
sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita
sekalian.

Jatinangor, 26 November 2014

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indoensia merupakan negara penghasil mutiara putih terbesar di dunia,
setelah

Australia

dan

Mynmar.

Tinginya

permintaan

mutiara

didunia

menyebabkan menjamurnya perusahan kerang mutiara didunia, khususnya di


Indonesia.
Mutiara merupakan suatu benda keras yang diproduksi di dalam jaringan
lunak (khususnya

mantel)

dari moluska hidup.

Sama

seperti cangkang-nya,

mutiara terdiri dari kalsium karbonat dalam bentuk kristal yang telah disimpan
dalam lapisan-lapisan konsentris. Mutiara yang ideal adalah yang berbentuk
sempurna bulat dan halus, tetapi ada juga berbagai macam bentuk lain. Mutiara
alami berkualitas terbaik telah sangat dihargai sebagai batu permata dan objek
keindahan selama berabad-abad, dan oleh karena itu, kata "mutiara" telah menjadi
metafora untuk sesuatu yang sangat langka, baik, mengagumkan, dan berharga.
Salah satu spesies kerang penghasil mutiara adalah kerang pinctada maxima.
Pinctada maxima merupakan kerang penghasil mutiara yang terdapat
dalam laut yang persebarannya meliputi Philipina, Thailand, Birma, Australia Dan
Indonesia. kerang ini termasuk dalam kelas bivalvia yaitu hewan yang memiliki
dua katub, hewan ini hidup menempel pada substrat di dasar perairan dikarenakan
menyesuaikan dengan cara makannya dan cenderung tidak bisa bergerak secara
bebas. Kerang ini juga bisa digunakan sebagai tolak ukur atau sebagai indikator
kualitas air suatu perairan.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa klasifikasi dari Pinctada maxima?
2. Apa habitat dari Pinctada maxima?
3. Bagaimana struktur tubuh dari Pinctada maxima?

4. Bagaimana sistem-sistem yang terdapat dalam Pinctada maxima meliputi


sitem respirasi, sistem sirkulasi, sistem saraf dan sistem reproduksi?
5. Bagaimana teknik budidaya kerang mutiara (Pinctada maxima)?
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui klasifikasi dari Pinctada maxima.
2. Untuk mengetahui habitat dari Pinctada maxima
3. Untuk mengetahui struktur tubuh dari Pinctada maxima
4. Untuk mengetahui sistem-sistem yang terdapat dalam Pinctada maxima
meliputi sitem respirasi, sistem pencernaan, sistem sirkulasi, sistem saraf dan
sistem reproduksi.
5. Untuk mengetahui teknik budidaya kerang mutiara (Pinctada maxima).

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Klasifikasi
Tiram mutiara termasuk dalam phylum mollusca, phylum ini terdiri atas 6
klas yaitu: Monoplancohora, Amphineura, Gastropoda, Lamellibrachiata, atau
Pellecypoda, seaphopoda, dan Cephalopoda (Mulyanto, 1987). Tiram merupakan
hewan yang mempunyai cangkang yang sangat keras dan tidak simetris. Hewan
ini tidak bertulang belakang dan bertubuh lunak (Philum mollusca).
Klasifikasi tiram mutiara menurut mulyanto (1987) dan Sutaman(1993)
adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Animalia

Sub kingdom

: Invertebrata

Philum

: Mollusca

Klas

: Pellecypoda

Ordo

: Anysomyaria

Famili

: Pteridae

Genus

: Pinctada

Spesies

: Pinctada

maxima (Jameson 1901)


Menurut Dwiponggo (1976), jenis-jenis tiram mutiara yang terdapat di
Indonesia adalah: Pintada maxima, Pinctada margaritefera, Pinctada fucata,
Pinctada

chimnitzii, dan Pteria

penguin. Di

beberapa

daerah Pinctada

fucata dikenal juga sebagai Pinctada martensii. Sebagai penghasil mutiara


terpenting

adalah

tiga

margaritifera dan Pinctada

spesies,

yaitu, Pinctada

martensii.Sebagai

jenis

maxima,

yang

ukuran

Pinctada
terbesar

adalah Pinctada maxima. Untuk membedakan jenis tiram mutiara tersebut, perlu
dilakukan pengamatan morfologi, seperti warna cangkang dan cangkang bagian
dalam (Nacre), ukuran serta bentuk.

2.2. Habitat
Tiram mutiara jenis Pinctada sp. yang banyak dijumpai di berbagai Negara
seperti Pilipina, Thailand, Birma, Australia dan perairan Indonesia, sebenarnya
lebih menyukai hidup di daerah batuan karang atau dasar perairan yang berpasir.
Disamping itu juga banyak dijumpai pada kedalaman antara 20 m 60 m. Untuk
perairan Indonesia sendiri jenid tiram Pinctada maxima banyak terdapat di
wilayah Indonesia bagian timur, seperti Irian Jaya, Sulawesi dan gugusan laut
Arafuru. (Sutaman 1993)
Menurut Sutaman (1993) kondisi dan kualitas air yang berpengaruh
terhadap pertumbuhan, ukuran dan kualitas mutiara adalah sebagai berikut :
a. Dasar Perairan
Dasar perairan secara fisik maupun kimia berpengaruh besar terhadap susunan
dan kelimpahan organisme di dalam air termasuk bagi kehidupan tiram mutiara.
Adanya perubahan tanah dasar (sedimen) akibat banjir yang menyebabkan
dasar perairan tertutup lumpur sering menimbulkan kematian pada tiram terutama
yang masih muda. Oleh karena itu dasar perairan yang berpasir atau berlumpur
tidak layak untuk lokasi budidaya tiram mutiara. Dasar perairan yang cocok untuk
budidaya untuk budidaya tiram mutiara ialah dasar perairan yang berkarang atau
mengandung pecahan-pecahan karang. Bisa juga dipilih dasar perairan yang
terbentuk akibat gugusan karang yang sudah mati atau gunungan-gunungan
karang.
b. Kedalam
Kedalaman air dilokasi budidaya mempunyai pengaruh yang cukup besar
terhadap kualitas mutiara. Berdasarkan penelitian semakin dalam letak tiram yang
dipelihara,maka kualitas mutiara yang dihasilkan akan semakin baik. Kedalaman
perairan yang cocok untuk budidaya tiram mutiara ialah berkisar antara 15 m s/d
20 m. Pada kedalaman ini pertumbuhan tiram mutiara akan lebih baik.
c. Arus Air
Banyak sedikitnya kelimpahan plankton sebagai makanan alami tiram
sangat tergantung pada kuat tidaknya arus yang mengalir dilokasi tersebut. Tiram
mutiara memiliki sifat filter feeder. Oleh karena itu tiram mutiara akan mudah

kelaparan pada kondisi arus yang terlalu kuat yang terjadi selama berjam-jam
dalam sehari.
Lokasi yang cocok untuk budidaya tiram mutiara ialah yang terlindung dari
arus yang kuat. Disamping itu pasang surut yang terjadi mampu menggantikan
massa air secara total dan teratur,sehingga ketersediaan oksigen terlarut maupun
plankton segar dapat terjamin.
d. Salinitas
Kualitas mutiara yang terbentuk dalam tubuh tiram dapat dipengaruhi oleh
kadar salinitas yang terlalu tinggi, warna mutiara menjadi keemasan. Sedangkan
pada kadar salinitas di bawah 14% atau di atas 55% dapat mengakibatkan
kematian tiram yang dipelihara secara massal. Sebenarnya tiram mutiara ini
mampu bertahan hidup pada kisaran salinitas yang luas,yaitu antara 20% 50%.
Tetapi salinitas yang terbaik untuk pertumbuhan tiram mutiara adalah 32% 35%.
e. Suhu
Suhu memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan lapisan
mutiara dan pertumbuhan tiram itu sendiri. Di beberapa Negara, pertumbuhan
tiram mutiara yang ideal menunjukan kisaran suhu yang berbeda-beda. Di jepang,
misalnya, pertumbuhan yang terbaik berkisar antara 200 C 250 C, sebab pada
suhu di atas 280 C menunjukan tanda-tanda yang melemah. Hal ini bisa
dimengerti, karena rata-rata suhu harian di jepang masih relative rendah, walupun
musim panas. Sedangkan di teluk Klutch India, pertumbuhan yang pesat dicapai
pada suhu anatara 230 C 270 C.
Untuk Negara kita sendiri yang beriklim tropis, pertumbuhan yang terbaik
dicapai pada suhu antara 280 C 300 C. Pada iklim ini ternyata sangat
menguntungkan untuk budidaya tiram mutiara, sebab pertumbuhan lapisan
mutiara dapat terjadi sepanjang tahun. Sedangkan Negara yang memiliki empat
musim (iklim sub-tropis) biasanya pertumbuhan tiram mutiara tidak terjadi
sepanjang tahun, karena pada suhu air di bawah 130 C (musim dingin) pelapisan
mutiara atau penimbunan zat kapur akan terhenti.
f. Kecerahan

Banyak sedikitnya sinar matahari yang menembus ke dalam perairan sangat


tergantung dari kecerahan air. Semakin cerah perairan tersebut, maka semakin
dalam sinar yang menembus ke dalam perairan. Demekian pula sebaliknya.
Untuk keperluaan budidaya tiram mutiara selayaknya dipilih lokasi yang
mempunyai kecerahan antara 4,5 m 6,5 m, sehingga kedalaman pemeliharaan
bisa diusahakan antara 6 m 7 m. sebab biasanya tiram yang dibudidayakan
diletakkan di bawah kedalaman atau kecerahan rata-rata.
g. Kesuburan Perairan
Tiram sebagai binatang yang tergolong filter feeder hanya mengandalakan
makanan dengan menyerap plankton dari perairan sekitar, sehingga keberadaan
pakan alami memegang peranan yang sangat penting. Sedangkan keberadaan
pakan alami itu sendiri sangat berkaitan erat dengan kesuburan suatu perairan.
Pada kondisi perairan yang kurang subur (tercemar), komposisi pakan alami
jumlahnya akan sangat sedikit, sehingga kurang mendukung untuk penyediaan
pakan yang diperlukan tiram. Padahal tiram yang dipelihara dalam laut, jelas tidak
mungkin diberi pakan tambahan sebagaimana ikan atau udang yang dipelihara
dalam tambak. Oleh karena itu lokasi budidaya pada kondisi perairan yang subur
mutlak diperlukan.
2.2. Struktur Tubuh

Bentuk luar tiram mutiara tampak seperti batu karang yang tidak ada
tanda-tanda kehidupan. Tetapi di balik kekokohan tersebut terdapat organ yang
dapat mengatur segala aktivitas kehidupan dari tiram itu sendiri. Dalam kelunakan
tubuh tiram tersebut terdapat cangkang yang keras untuk melindungi bagian tubuh
agar terhindar dari benturan maupun serangan hewan lain. Disamping itu, dalam

cangkang yang jumlahnya satu pasang dan mempunyai bentuk yang berlainan itu
terdapat mother of pearl atau lapisan induk mutiara serta nacre yang dapat
membentuk lapisan mutiara. (Sutaman 1993)
Kulit mutiara (Pinctada maxima) ditutupi oleh sepasang kulit tiram
(Shell, cangkan), yang tidak sama bentuknya, kulit sebelah kanan agak pipih,
sedangkan kulit sebelah kiri agak cembung. Specie ini mempunyai diameter
dorsal-ventral dan anterior-posterior hampir sama sehingga bentuknya agak
bundar. Bagian dorsal bentuk datar dan panjang semacam engsel berwarna hitam.
Yang berfungsi untuk membuka dan menutup cangkang. (Winarto, 2004).
Cangkang tersusun dari zat kapur yang dikeluarkan oleh epithel luar. Sel
epitel luar ini juga menghasilkan kristal kalsium karbonat (Ca CO3) dalam bentuk
kristal argonit yang lebih dikenal sebagai nacre dan kristal heksagonal kalsit yang
merupakan pembentuk lapisan seperti prisma pada cangkang.
Menurut Sutaman (1993) bentuk cangkang bagian luar yang keras apabila
dipotong atau dibelah secara melintang, maka ada tiga lapisan yang akan tampak,
yaitu

lapisan

periostrakum yang

berada

paling

atas

atau

luar,

dan

lapisan prismatik yang terdapat di bagian tengah. Sedangkan lapisan yang agak ke
dalam yang berhubungan dengan organ dalam disebut lapisan nacre atau lapisan
mutiara.
Ketiga lapisan tersebut, jika dilihat dari zat penyusunnya masing-masing
adalah sebagai berikut :
1) Lapisan periostrakom adalah lapisan kulit terluar yang kasar yang tersusun
dari zat organic yang menyerupai tanduk.
2) Lapisan prismatik, adalah lapisan kedua yang tersusun dari Kristal-kristal
kecil yang berbentuk prisma dari hexagonal caltice.
3) Lapisan mutiara atau nacre adalah lapisan kulit sebelah dalam yang tersusun
dari kalsium karbonat (CaCO3). (Sutaman 1993)
Menurut Sutaman (1993) apabila cangkang tiram dibuka, maka akan terlihat
sekumpulan organ tubuh yang berfungsi sebagai pengatur segala aktivitas
kehidupan tiram mutiara itu sendiri. Namun secara umum, organ tubuh tiram
mutiara dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kaki, mantel dan organ dalam.

a. Kaki
Kaki tiram mutiara merupakan suatu organ tubuh yang mudah bergerak dan
berbentuk seperti lidah yang dapat memanjang dan memendek. Kaki ini tersusun
dari jaringan otot yang menuju ke berbagai jurusan, sehingga dapat digunakan
untuk bergerak terutama waktu masih muda. Sedangkan setelah agak dewasa dan
hidup menempel pada suatu substrat, kaki tidak lagi dugunakan untuk bergerak,
tetapi menggunakan byssusnya untuk menempel. Selain itu, kaki tiram juga
berfungsi untuk membersihkan kotoran yang mungkin menempel pada insang
maupun mantel.
b. Mantel
Mantel merupakan jaringan yang dilindungi oleh sel-sel epithelial dan dapat
membungkus organ bagian dalam. Letaknya berada di antara cangkang bagian
dalam atau epithel luar dengan organ dalam atau mass viseralis. Sel-sel dari
epithel luar ini akan menghasilkan Kristal kalsium karbonat (CaCO3 ) dalam
bentuk Kristal aroganit yang lebih dikenal denga nama lapisan mutiara. Sel ini
juga membentuk bahan organik protein yang disebut kokhialin sebagai bahan
perekat Kristal kapur. Apabila potongan mantel ditransplantasikan ke dalam tubuh
tiram akan menghasilkan zat kapur.
c. Organ Dalam
Bagian ini letaknya agak tersembunyi setelah mantel dan merupakan pusat
aktivitas kehidupannya yang terdiri dari : insang, mulut, jantung, susunan syaraf,
alat perkembangbiakan, otot, lambung, usus dan anus.
2.3. Sistem Pencernaan
Menurut Gosling (2004), seperti halnya pada jenis kerangan yang lain, tiram
mutiara mampu memanfaatkan phytoplankton yang terdapat secara alamiah di
sekitarnya. Tiram mutiara bersifat filter feeder atau mengambil makanan dengan
cara menyaring pakan yang ada di dalam air laut. Getaran silia pada insang
menimbulkan arus air yang masuk ke dalam ronga mantel. Gerakan silia akan
memindahkan phytiplankton yang ada di sekeliling insang dan dengan bantuan

labial palp atau melalui simpul bibir yang bergerak-gerak akan membawa masuk
makanan ke dalam mulut.
Mulut terlerak pada bagian ujung depan saluran pencernaan atau disebelah
atas kaki. Makanan yang ditelan masuk ke dari mulut kemudian melaui
kerongkongan yang pendek langsung masuk perut, atau saluran kantong tipis pada
perut dengan kulit luar (cuticle) kasar yang berfungsi untuk memisah-misahkan
makanan. Dari perut sisa makanan (kotoran) akan dibuang melalui saluran usus
yang relatif pendek dan bentuknya seperti hurus S kemudian keluar lewat anus
(Velayudhan and Gandhi 1987 dalam Winanto, 2009)
2.4. Sistem sirkulasi
Sistem sirkulasi pada kerang mutiara ini adalah sitem peredaran terbuka
yaitu Sistem Sirkulasi dari insang memasuki jantung, melewati salah satu dari dua
aurikel. Jantung terbungkus dalam pericardium. Dari ventrikel darah dipompa
baik ke anterior maupun melalui 2 buah aorta menuju ke bagian-bagian tubuh.
Kemudian darah berkumpul lagi dalam vena cava, lalu diangkut ke ginjal, terus ke
insang dan kemabali lagi ke jantung.
Sistem sirkulasinya terbuka, berarti tidak memiliki pembuluh darah. Pasokan
oksigen berasal dari darah yang sangat cair yang kaya nutrisi dan oksigen yang
menyelubungi organ-organnya. Makanan kerang adalah plankton, dengan cara
menyaring. Kerang sendiri merupakan mangsa bagi cumi-cumi dan hiu.
2.5. Sistem respirasi
Insang merupakan organ yang mempunyai peran fungsional baik dalam
pernapasan

maupun

osmoregulasi.

Sel-sel

yang

berperan

pada

proses

osmoregulasi adalah sel-sel chlorida yang terletak pada bagian dasar lembaranlembaran insang. Insang berjumlah empat buah, berbentuk sabit, dua insang
berada di sisi kanan dan kiri, menggantung pada pangkal mantel seperti lipatan
buku (Velayudhan and Gandhi 1987 dalam Winanto, 2009)
Air masuk melalui saluran inhelan akan berhenti pada bagian mantel, lalu
secara cepat dan kompak bekerjasama dengan insang sehingga dapat
memanfaatkan udara yang terangkut dan air dikeluarkan kembali melalui saluran
ekshalen. Air serta darah yang tidak berwarna masuk melaui beberapa filamen

tunggal lalu mengalir ke luar menuju pinggir insang, kemudian melintas ke atas
berputar kembali melalui filamen dan masuk ke branchial atau ctenidial. Dengan
bantuan silia-silia pada branchial dapat menimbulkan arus yang masuk ke bilik
palial dan melintas ke atas, melaui lamela branchial. Jadi selain menjalankan
fungsi pernafasan, filamen pada insang dan mantel dapat memperlancar peredaran
darah. (Gosling, 2004; Velayudhan and Gandhi 1987)
2.6. Sistem saraf
Sistem sarafnya ada tiga pasang ganglia : dikepala, dikaki, dan di alat-alat
dalam. System sarafnya terdiri dari 3 pasang ganglionyang saling berhubungan
yaitu:
a. ganglion anterior terdapat di sebelah ventral lambung
b. ganglion pedal terdapat pada kaki
c. ganglion posterior terdapat di sebelah ventral otot aduktor posterior.
2.7. Sistem reproduksi
Tiram mutiara mempunyai jenis kalamin terpisah, kecuali pada beberapa
kasus tertentu ditemukan sejumlah individu hermaprodit terjadi perubahan sel
kelamin (sel reversal) biasanya terjadi pada sejumlah individu setelah memijah
atau pada fase awal perkembangan gonad. Fenomena sex reversal pada tiram
mutiara (Pinctada maxima) menunjukan bahwa jenis kelamin pada tiram teryata
tidak tetap.
Bentuk gonad tebal menggembung pada kondisi matang penuh, gonat
menutupi organ dalam (seperti perut, hati, dan lain-lain). Kecuali bagian kaki pada
fase awal, gonad jantan dan betina secara eksternal sangat sulit dibedakan,
keduanya berwarna krem kekuningan. Namun, setelah fase matang penuh, gonad
tiram mutiara (Pinctada maxima) jantan berwarna putih krem, sedangkan betina
berwarna kuning tua. Pada tiram Pinctada fucata warna gonad ini terjadi
sebaliknya.
Menurut Winanto (2004) bahwa, Tingkat kematangan gonad tiram mutiara
dikelompokkan menjadi 5 fase yaitu :
Fase I : Tahap tidak aktif/salin/istrahat (Inactife/spent/resting)

Kondisi gonad mengecil dan bening transparan dalam beberapa kasus, gonad
berwarna oranye pucat. Rongga kosong, sel berwarna kekuningan (lemak). Pada
fase ini sangat sulit untuk dibedakan.
Fase II : Perkembangan/pematangan (Developing/maturing)
Warna transparan hanya terdapat pada bagian tertentu, material gametogenetik
(sel kelamin) mulai ada dalam gonad sampai mencapai fase lanjut, gonad mulai
menyebar di sepanjang bagian posterior disekitar otot refraktor dan lebih jelas lagi
dibagian anterior-dorsal. Gamet mulai berkembang disepanjang dinding katong
gonad. Sebagian besar oocyt (bakal telur) bentuknya belum beraturan dan inti
belum ada. Ukuran rata-rata oocyt 60 m x 47,5 m.
Fase III : Matang (Mature)
Gonad tersebar merata hampir keseluruh jaringan organ, biasanya berwarna
krem kekuningan. Oocyt berbentuk seperti buah pir dengan ukuran 68 x 50 m
dan inti berukuran 25 m.

Fase IV : Matang penuh/memijah sebagian (Fully maturation/partially


spawned)
Gonad menggembung, tersebar merata dan secara konsisten akan keluar

dengan sendirinya atau jika ada sedikit-sedikit trigger (getaran). oosyt bebas dan
terdapat diseluruh dinding kantong. Hampir semua oosyt berbentuk bulat dan
berinti, ukuran oosyt rata-rata 51,7 m.
Fase V : Salin (Spent)
Bagian permukaan gonad mulai menyusut dan mengerut dengan sedikit gonad
(kelebihan gamet) tertinggal didalam lumen (saluran-saluran didalam organ
reproduksi) pada kantong. Jika ada oosyt maka jumlahnya hanya sedikit dan
bentuknya bulat, ukuran rata-rata oosyt 54,4 m.
Fertilisasi terjadi di dalam tubuh induk betina.Hasil fertilisasi berupa zigot
menetas menjadi larva.Larvanya bersilia, dapat keluar dari induknya, berenang,
dan segera menempel pada insang ikan.Larva ini bersifat parasit, dapat
mengakibatkan sakit dan membunuh ikan. Setelah 12 minggu, larva melepaskan
diri dari tubuh ikan dan tumbuh dewasa.

2.8 Teknik budidaya


Mutiara peliharaan pada dasarnya adalah suatu hasil produksi Abad ke 20.
Bebarapa orang telah mencoba mengembangkan cara untuk memproduksi
mutiara, Nishikawa, Mise dan Mikimoto adalah nama-nama tenar untuk masalah
ini. Setelah mendapatkan cara penempatan inti yang paten, Mikimoto merupakan
penguasa dalam industri mutiara peliharaan.
Mutiara peliharaan diproduksi dengan memasukkan butiran manik-manik
yang terbuat dari kulit cangkang tiram mutiara pada bagian dari lapisan induk
mutiara ke dalam lapisan mantel yang mengeluarkan lapisan mutiara. Tiram
memperlakukan manik-manik tersebut sebagai penyakit dan menyelimutinya
dengan lapisan nacre. Jadi perbedaan dasar mutiara alam dan peliharaan adalah
partikel dan ukurannya, yang masuk dalam tubuh tiram secara alami dan dibuat
oleh manusia serta cara terjadinya.
Mutiara blister di produksi dengan memasukkan separoh manik-manik,
ditempelkan didinding cangkang bagian dalam. Setelah lapisan nacre menyelimuti
manik-manik, bentuk yang terjadi tersebut dan lapisan nacre lainnya yang telah
dibentuk melengkung, ditempelkan ke bagian datar dari manik-manik. Hasilnya
juga disebut sebagai mutiara 'mabe'.
Mutara 'biwa' diproduksi dari danau Biwa Jepang menggunakan kijing air
tawar. Mutiara biwa bentuknya tidak teratur, tetapi memiliki orient dan warna
yang bagus. Perbedaan mutiara biwa dengan yang lainnya ada lah bahwa mutiara
biwa tidak memiliki inti atau nukleus; sebagai pengganti manikmanik, mantel
empat-persegi dimasukkan ke dalam organ tubuh kijing, syarat pemeliharaannya
memakan waktu tiga tahun.
Jepang adalah pemimpin dunia dalam produksi mutiara peliharaan.
Bentuk-bentuk yang biasa diproduksi adalah baroque, bulat, kancing baju,
lonjong, bulat buah per dan bulat telur; sangat sedikit mutiara peliharaan yang
mempunyai bulatan yang bagus. Dari seluruh batu permata, untuk membedakan
antara mutiara alami dan peliharaan adalah yang paling sulit. Alat yang paling
dapat diandalkan kebenarannya harus melindungi melibatkan adanya mesin
ronsen (x-ray), yang sangat berbahaya bagi tangan-tangan yang tidak ahli. Mutiara

peliharaan yang baik tidak akan dapat dibedakan hanya dengan pandangan mata
ataupun dengan cara pengujian yang sederhana.
Dalam mendeterminasi kualitas dan nilai mutiara peliharaan, dipergunakan
cara yang sama seperti diterapkan terhadap mutiara alam. Harga dari mutiara
peliharaan umumnya lebih rendah dibanding dengan mutiara alam; walaupun
demikian, harga sebutir mutiara peliharaan mungkin dapat mencapai US $.
100.000,- (Joel Arem, 1983).
Disamping itu dapat diproduksi mutiara tiruan/imitasi (imitation pearl)
dalam jumlah besar, dimana inti mutiara tiruan ini dibuat dari gelas atau plastik
yang diberi lapisan 'pearl essence' yang dibuat dari sisik ikan layur (Trachiurus
spp).
Dengan demikian kalau kita tinjau mengenai terjadinya mutiara, untuk saat
ini dapat dibagi menjadi:
a.

Mutiara asli yang terdiri dari mutiara alam (natural pearl) dan mutiara
peliharaan (cultured pearl).

b. Mutiara tiruan/imitasi (imitation pearl) (Dwiponggo,1976).

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari uraian di atas adalah sebagai berikut:
1. Klasifikasi tiram mutiara (Pinctada maxima) adalah sebagai berikut: kingdom
: Animalia, Sub kingdom: Invertebrata, philum: Mollusca, klas: Pellecypoda,
ordo: Anysomyaria, famili : Pteridae, genus: Pinctada, spesies : Pinctada
maxima.
2. Kerang mutiara jenis Pinctada maxima hidup di daerah batuan karang atau
dasar perairan yang berpasir. Disamping itu juga banyak dijumpai pada
kedalaman antara 20 m 60 m.
3. Secara umum bagian pada kerang jenis Pinctada maxima dapat di bedakan
menjadi 3 yaitu kaki, mantel dan organ dalam.
4. Sistem-sitem pada kerang Pinctada maxima
a.

Sistem pencernaan
Cara makan dari Pinctada maxima yaitu filter feeder atau mengambil

makanan dengan cara menyaring pakan yang ada di dalam air laut. Makanan yang
ditelan masuk ke dari mulut kemudian melaui kerongkongan yang pendek
langsung masuk perut, dari perut sisa makanan (kotoran) akan dibuang melalui
saluran usus yang relatif pendek dan bentuknya seperti hurus S kemudian keluar
lewat anus.
b. Sistem sirkulasi
Sistem sirkulasi pada kerang mutiara ini adalah sitem peredaran terbuka
yaitu Sistem Sirkulasi dari insang memasuki jantung, melewati salah satu dari dua
aurikel. Jantung terbungkus dalam pericardium. Dari ventrikel darah dipompa

baik ke anterior maupun melalui 2 buah aorta menuju ke bagian-bagian tubuh.


Kemudian darah berkumpul lagi dalam vena cava, lalu diangkut ke ginjal, terus ke
insang dan kembali lagi ke jantung.
c.

Sistem respirasi
Sistem respirasi pada kerang Pinctada maxima menggunakan insang. Air

masuk melalui saluran inhelan akan berhenti pada bagian mantel, lalu secara cepat
dan kompak bekerjasama dengan insang sehingga dapat memanfaatkan udara
yang terangkut dan air dikeluarkan kembali melalui saluran ekshalen. Air serta
darah yang tidak berwarna masuk melaui beberapa filamen tunggal lalu mengalir
ke luar menuju pinggir insang, kemudian melintas ke atas berputar kembali
melalui filamen dan masuk ke branchial atau ctenidial. Dengan bantuan silia-silia
pada branchial dapat menimbulkan arus yang masuk ke bilik palial dan melintas
ke atas, melaui lamela branchial.
d. Sistem saraf
Sistem sarafnya terdiri dari 3 pasang ganglion yang saling berhubungan
yaitu: ganglion anterior terdapat di sebelah ventral lambung, ganglion pedal
terdapat pada kaki, ganglion posterior terdapat di sebelah ventral otot aduktor
posterior.
e.

Sistem reproduksi
Fertilisasi terjadi di dalam tubuh induk betina.Hasil fertilisasi berupa zigot

menetas menjadi larva.Larvanya bersilia, dapat keluar dari induknya, berenang,


dan segera menempel pada insang ikan.Larva ini bersifat parasit, dapat
mengakibatkan sakit dan membunuh ikan. Setelah 12 minggu, larva melepaskan
diri dari tubuh ikan dan tumbuh dewasa.
5. Teknik budidaya kerang mutiara dilakukan dengan memasukkan butiran manik
manik yang terbuat dari kulit cangkang tiram mutiara pada bagian dari lapisan
induk mutiara ke dalam lapisan mantel yang mengeluarkan lapisan mutiara.
Tiram

memperlakukan

manik-manik

tersebut

sebagai

penyakit

menyelimutinya dengan lapisan nacre yang akan terbentik batu mutiara.

dan

Daftar Pustaka
http://muhditernate.wordpress.com/2011/04/27/budidaya-tiram-mutiara-pinctadamaxima/
http://www.google.com/search?q=sistem+saraf+darah+pinctada+maxima&hl=en
&gbv=2&prmd=ivns&ei=79S2UZTtJsmFrAfL4oDwDA&start=20&sa=N
http://ninopyarehe.wordpress.com/2012/02/01/bab-ipendahulua/
http://en.wikipedia.org/wiki/Pinctada_maxima
http://id.scribd.com/doc/87551146/BUDIDAYA-TIRAM-MUTIARA
Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, 1994
http://frdc.com.au/research/Documents/Final_reports/1994-079-DLD.pdf
http://www.int-res.com/articles/meps/182/m182p161.pdf
http://www.worldfishcenter.org/libinfo/Pdf/Pub%20SR76%2021.pdf