Anda di halaman 1dari 4

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bambu adalah suatu pohon yang banyak mempunyai kegunaan bagi masyarakat
dan hampir semua bagian dari bambu dapat di manfaatkan dan bernilai ekonomis tinggi.
Salah satu bagian bambu yang memiliki bagian ekonomis tinggi adalah bagian batang.
Batang bambu dapat digunakan sebagai resonator gamelan. Hampir diseluruh wilayah
Indonesia mempunyai seni musik tradisional yang khas. Keunikan tersebut bisa dilihat
dari teknik permainannya, penyajiannya maupun bentuk atau organologi instrumen
musiknya. Aktivitas umat Hindu khususnya di Bali dalam kegiatan budaya maupun
keagamaan tidak bisa dilepaskan dari perangkat instrumen akustik yang dinamakan
gamelan. Hal ini merupakan suatu nilai eksistensi dari peradaban masyarakat Hindu Bali
yang secara turun temurun telah dipelihara.
Proses pengeringan bambu di Indonesia masih sangat jarang di lakukan dan tidak
adanya perlakuan pendahuluan pada bambu dan sortimen bambu tersebut untuk
menurunkan kadar air bambu melalui proses pengeringan akan berakibat timbulnya cacat
pada bambu atau cacat pada produk akhir seperti bambu yang akan digunakan sebagai
resonator gamelan.
Sebelum bambu dapat di gunakan sebagai resonator, bambu akan melalui proses
pengeringan yaitu dengan menggunakan oven pengering dengan sumber panas yang di
peroleh dari panas hasil peleburan. Resonator berfungsi sebagai penyimpan energi
akustik, menguatkan dan memperpanjang durasi bunyi dari bilah gamelan. Resonansi
akustik dipengaruhi oleh jenis dan volume udara yang bergetar di dalam resonator
tersebut. Resonator gamelan Bali terbuat dari bambu berbentuk silinder yang nadanya bisa
diatur dengan mengubah volume bambunya. Resonator biasanya juga disebut bumbung
yang paling baik dibuat dari Bambu Rampal, Bambu Petung, Bambu Gading dan Bambu
Tamblang.

Gambar 1.1 Gamelan

Hasil dalam penelitian yang akan dilakukan setidaknya dapat memberikan


kontribusi bagi perajin gamelan Bali terutama untuk menekan biaya produksi serta gairah
untuk melestarikan eksistensi budaya. Panas yang dihasilkan dari peleburan gambelan
dapat dioptimalkan menjadi pemanas yang dapat mengeringkan bambu untuk resonator
gambelan. Pengeringan merupakan proses penurunan kadar air bahan sampai mencapai
kadar air tertentu sehingga dapat memperlambat laju kerusakan produk akibat aktivitas
biologi dan kimia. Pengeringan pada dasarnya merupakan proses perpindahan energi yang
digunakan untuk menguapkan air yang berada dalam bahan, sehingga mencapai kadar air
tertentu agar kerusakan bahan dapat diperlambat. Kelembapan udara pengering harus
memenuhi syarat yaitu sebesar 55 60% (Pinem, 2004).
Menurut Hasibun (2005) bahwa bahasa pengeringan merupakan penghidratan,
yang berarti menghilangkan air dari suatu bahan. Proses pengeringan atau penghidratan
berlaku apabila bahan yang dikeringkan kehilangan sebagian atau keseluruhan air yang
dikandungnya. Proses utama saat pengeringan adalah penguapan yang terjadi apabila air
yang dikandung oleh suatu bahan teruap, yaitu apabila panas diberikan kepada bahan
tersebut. Panas ini dapat diberikan melalui berbagai sumber, seperti kayu api, minyak dan
gas, arang baru ataupun tenaga surya.

1.2 Rumusan Masalah


Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana karakteristik
kekuatan bambu melalui proses pengeringan pada oven dengan menggunakan panas dari
peleburan.
1.3 Batasan Masalah
Adapun permasalahan yang ada di atas perlu diberikan batasan masalah, sehingga
permasalahan tersebut nantinya dapat diselesaikan dengan lebih mudah atau sederhana
dan tentunya tanpa mengurangi kualitas dari bambu tersebut dan kekuatan dari hasil
penelitian yang akan dilakukan.
1. Oven pengering bambu konvensional dengan ukuran, Panjang 150 cm,
Lebar 75 cm, Tinggi 200 cm
2. Spesimen uji kekuatan tekan bambu dengan ukuran, Panjang 30 cm, Lebar
3 cm dan ketebalan bambu 1 cm.
3. Jenis bambu yang akan digunakan yaitu bambu Tamblang.
4. Panjang bambu yang akan di keringkan dengan ukuran 65 cm
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian yang akan dilakukan adalah :
1. Untuk mengetahui waktu yang di perlukan unuk mengeringkan bambu yang di
gunakan pada resonator gamelan.
2. Untuk mengetahui massa jenis pada bambu sebelum dan sesudah proses
pengeringan terjadi.
3. Untuk mengetahui hasil uji kekuatan bambu sesudah proses pengeringan.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian yang akan dilakukan, diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat
seperti berikut :
1. Mengurangi waktu pengeringan.
2. Menghemat bahan bakar karena mengunakan panas peleburan perunggu.
3. Cacat pada bambu dapat dihindari pada saat proses pengeringan.
4. Tidak memerlukan tempat yang luas.
5. Kualitas bambu yang diperoleh akan jauh lebih baik.

6. Dapat menghitung kadar air bambu sesudah dan sebelum proses


pengeringan.
7. Dapat memberikan referensi tambahan bagi penelitian selanjutnya.