Anda di halaman 1dari 20

Obesitas

Michael Rameres
102010210
Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna no.6, Jakarta Barat 11510
E-mail: Michaelrameres@yahoo.co.id

Pendahuluan
Obesitas atau kegemukan adalah ketidakseimbangan jumlah energy yang masuk dibandingkan
dengan jumlah energy yang keluar. Obesitas dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, seperti
DM, hipertensi dan penyakit jantung koroner. Resiko kematian yang ditimbulkan oleh penyakit
diabetes yakni stroke, coronary artery disease, tekanan darah tinggi, kolesterol yang tinggi, dan
berbagai penyakit lainnya.
Kegemukan dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti pola makan yang salah (sering makan
makanan berlemak tinggi), kurang olahraga, stress yang dilarikan pada makanan dan factor
keturunan.

Pembahasan
I. Definisi obesitas
Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari ketidak seimbangan jumlah makanan
yang masuk dengan yang keluar (dalam bentuk energy, H2O dan CO2). Di mana jumlah energy
yang masuk lebih besar dari pada yang keluar .
Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya
yang normal dianggap mengalami obesitas.1

Obesitas ringan

: kelebihan berat badan 20-40%

Obesitas sedang

: kelebihan berat badan 41-100%

Obesitas berat

: kelebihan berat badan >100%

II. Faktor yang mempengaruhi obesitas

1. Status gizi
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau
perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu (Supariasa, dkk, 2001). Sedangkan
menurut Gibson (1990) menyatakan status gizi adalah keadaan tubuh yang mmerupakan hasil
akhir dari keseimbangan antara zat gizi yang masuk ke dalam tubuh dan utilitasinya. Status gizi
merupakan keadaan tubuh/ekspresi sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat
gizi.1
Ukuran gizi:
Gizi buruk = KEP (kurang energi protein) / Kwaskhiorkor.
Gizi kurang = kurang asupan yodium, vitamin A, zat besi, vitamin C, dll.
Gizi baik

= normal, baik.

Gizi lebih

= obesitas.

Masalah obesitas sangat berhubungan erat dengan gizi, yakni kaitanya dengan komposisi
makanan dan pola makan dari individu masing-masing, apakah sudah seimbang ataukah
melebihi ketentuan standar dari pemenuhan gizi itu sendiri.

2. Komposisi bahan makanan


Bahan makanan yang sering kita konsumsi di kelompokan sebagai bahan makanan pokok
sebagai sumber eneri utama (nasi, jagung, gandum,dsb) , bahan makanan lauk pauk (daging,
ikan, telur ), bahan makanan sayur dan buah (kol,kangkung,alpukat,apel,jeruk,dsb).Bahan
bahan tersebut tersusun atas beberapa jenis zat makanan yang memberi arti tersendiri bagi
status gizi untuk seseorang, adapun diantaranya adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin
,dan mineral.Masing- masing mempunyai kadar baku atau normal bagi tubuh dengan fungsi
yang begitu kompleks.1
Karbohidrat
Merupakan salah satu penghasil energy,sumber utamanya dalam makanan lebih
banyak dari tumbuhan/nabati daripada hewani.Dalam tumbuhan karbohidrat
mempunyai fungsi utama sebagai penghasil energy (zat tepung/amilum dan zat
gula). Karbohidrat nabati di dalam makanan manusia terutama berasal dari makanan
pokok, sebagian berasal dari sayuran dan buah. Sedangkan karbohidrat hewani
berbentuk glikogen dan terdapat dalam hati dan otot, biasanya dalam makanan
manusia seperti hati sapi, telur.
Fungsi karbohidrat di dalam hidangan, yakni sebagai pemberi bentuk terhadap
makanan. Contohnya dalam bentuk kue (ragi kue), selain itu sebagai pemberi rasa
manis (fruktosa,sukrosa,dll). Kebutuhan akan karbohidrat di lihat dari jumlah kalori
yang di perlukan tubuh. Untuk satu gram karbohidrat akan menghasilakan 4 kalori,
tetapi harus di ingat bahwa jumlah ini untuk karbohidrat yang dapat di cerna,
sedangkan untuk karbohidrat yang tidak dapat di cerna (selulosa, galaktosa, dan
pentosa) tidak menghasilkan energy, jadi tidak memberikan iuran kepada nilai
energy seluruh hidangan, tetapi membantu dalam memberikan rasa kenyang dan
melancarkan defekasi.
Protein
Merupakan zat gisi yang sangat penting, dalam sel protein berfungsi sebagai protein
struktural (bagian integral dari struktur sel) dan sebagai protein metabolik (ikut serta
dalam reaksi biokimiawi), dalam makanan satu gram protein juga menghasilkan 4
kalori.

Potein di klasifikasikan dalam beberapa golongan:


a. Berdasarkan komponen penyangkut
a) simple protein (hidrolisanya hanya terdiri dari asam amino)
b) complex protein (hidrolisanya terdiri dari asam amino dan komponen lain)
c) derivate protein (hasil hidrolisa parsial seperti albumosa,peptone)
b. Berdasarkan sumbernya
a) protein hewani (bahan makanan yang berasal dari binatang)
b) protein nabati ( bahan makanan dari tumbuhan)
c. Berdasarkan fungsi fisiologik
a. protein sempurna (mendukung pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan )
b. protein setengah sempuna (hanya mendukung pemeliharaan jaringan)
c. protein tidak sempurna (tidak sanggup mendukung keduanya)

Lemak
Lemak ada yang bersifat cair (minyak),dan ada yang bersifat padat (gajih) , lemak
tidak ikut dalam proses metabolism tetapi sebagai cadangan energy. Pada penderita
obesitas sejumlah lemak yang di simpan harus di bawa tanpa memberi manfaat
langsung. Sumber lemak berasal dari hewani maupun dari nabati, lemak juga
mempunyai fungsi selain sebagai cadangan energy juga sebagai pelindung dan
bantalan bagi organ penting dalam tubuh kita.kebutuhan tubuh akan lemak juga
sebagai pelarut bagi vitamin tertentu.

Vitamin
Vitamin ada yang larut dalam lemak ( A,D,E,K ) dan yang larut dalam air ( vit B
complex, vit C) masing masing mempunyai fungsi penting bagi tubuh dan di
butuhkan badan dalam jumlah tertentu. Bila di konsumsi secara berlebih akan
mengakibatkan hipervitaminosis, jika sebaliknya maka akan terjadi hypovitaminosis.
Kondisi defesiensi vitamin lebih banyak terdapat baik pada vitamin yang larut dalam
lemak maupun yang tidak, sedangkan untuk hypervitaminosis umumnya pada
vitamin yang larut dalam lemak.

Mineral
Di golongkan dalam 3 kelompok yakni :
a. makro elemen yang terdapat dalam jumlah yang besar (Na,K,Ca,Mg,P,S,Cl)
fungsinya : sebagai bagian dari zat aktif dalam metabolime,struktur sel,maupun
cairan tubuh)
b. mikro elemen yang terdapat dalam jumlah yang kecil ( Fe , Cu,Co,Zn,F.dll)
fungsinya :berhubungan dengan enzim
c. trace element bagian dari mikro elemen tetapi di perlukan lebuh sedikit lagi
(Cu,Co,Zn)

3. Pengaruh hormonal
a. Hypofisis cerebri atau glandula pituitari adalah struktur lonjong kecil yang melekat pada
permukaan bawah otak melalui infundibulum. Lokasinya sangat terlindungi baik yaitu
terletak pada sella turcica ossis sphenoidalis. Disebut master endocrine gland karena
hormon yang dihasilkan kelenjar ini banyak mempengaruhi kelenjar endokrin lainya.2

Gambar 1. Diunduh dari:


http://2.bp.blogspot.com/_6fKvrzz
Fjx0/TMz6t4d4NOI/AAAAAAAAAB
w/EkrESCC_fCM/s1600/hipofisis.gi
f

Dibagi menjadi 2 lobus :


1. Lobus anterior ( adenohypofisis), dibagi lagi menjadi:
a. Pars anterior ( pars distalis ),
b. Pars intermedia
Dipisahkan oleh suatu celah, sisa kantong embrional. Juluran dari pars
anterior yaitu pars tuberalis meluas keatas sepanjang permukaan
anterior dan lateral tangkai hypofisis
2. Lobus posterior (neurohypofisis) menghasilkan hormon vasopressin dan oksitosin.
Hormon yang dikeluarkan oleh hipofisis anterior berperan utama dalam pengaturan
fungsi metabolisme di seluruh tubuh. Hormon-hormonnya yaitu:
a. Hormon Pertumbuhan = Meningkatkan pertumbuhan seluruh tubuh
dengan cara mempengaruhi pembentukan protein, pembelahan sel, dan
deferensiasi sel.
b. Adrenokortikotropin (Kortikotropin) = Mengatur sekresi beberapa
hormon

adrenokortikal,

yang

selanjutnya

akan

mempengaruhi

metabolism glukosa, protein dan lemak.


c. Hormon perangsang Tiroid (Tirotropin) - Mengatur kecepatan sekresi
tiroksin dan triiodotironin oleh kelenjar tiroid, dan selanjutnya mengatur
kecepatan sebagian besar reaksi kimia diseluruh tubuh.
Menurunnya hormon tyroid dalam tubuh akibat menurunya fungsi
kelenjar tyroid akan mempengaruhi metabolisme dimana kemampuan
menggunakan energi akan berkurang.
b. Kelenjar adrenal adalah sepasang organ kecil yang terletak diujung bagian atas setiap
ginjal dengan dua komponen endokrin tersendiri, yaitu medulla dan korteks. Korteks
adrenal mensintesis dan mensekresi 3 kelompok utama hormone steroid yang berasal
dari kolesterol : glukokortikoid (kortisol dari zna fasikulata), mineralokortikoid
(aldosteron dari zona glomerulosa), dan steroid seks (androgen dan esterogen dari zona
retikularis).

Gambar 2. diunduh dari:


http://iahealth.net/wpcontent/uploads/2008/12/adren
al_gland.jpg
Metabolisme karbohidrat dipengaruhi oleh kenaikan kadar glukokortikoid yang tinggi.
Glukokortikoid merangsang glukoneogenesis dan mengganggu kerja kerja insulin pada
sel sel perifer. Sebagai akibatnya, penderita dapat mengalami hiperglikemia. Kadar
glukokortikoid yang berlebihan mempengaruhi distribusi jaringan adiposa yang
terkumpul di daerah sentral tubuh dan menyebabkan obesitas.
c. Pankreas merupakan kelenjar endokrin maupun eksokrin. Bagian endokrin pancreas,
yaitu PULAU LANGERHANS, tersebar di seluruh pancreas dan tampak sebagai massa
bundar, tidak teratur, terdiri atas sel pucat dengan banyak pembuluh darah.

Gambar 3. Diunduh dari:


http://legacy.owensboro.kctcs.ed
u/gcaplan/anat2/notes/Image134.
gif

Dengan pewarnaan khusus dapat dibedakan menjadi: 2


1) Sel A = penghasil glukagon
Terletak di tepi pulau. Mengandung gelembung sekretoris dengan ukuran
250nm. Batas inti kadang tidak teratur.
2) Sel B = penghasil insulin
Terletak di bagian lebih dalam atau lebih di pusat pulau. Mengandung kristaloid
romboid atau poligonal di tengah. Mitokondria kecil bundar dan banyak.
3) Sel D = penghasil somatostatin
Terletak di bagian mana saja dari pulau, umumnya berdekatan dengan sel A.
Mengandung gelembung sekretoris ukuran 300-350 nm dengan granula
homogen.
4) Sel C
Terlihat pucat, umumnya tidak bergranula dan terletak di tengah di antara sel B.
Fungsinya tidak diketahui.
Insulin mempunyai peranan penting dalam deposisi dan akumulasi trigliserida dalam
jaringan lemak. Terjadi kelainan dalam pengikatan insulin dengan resetor. Kelainan ini
disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor pada membrane sel yang selnya
responsif terhadap insulin atau akibat ketidaknormalan reseptor insulin intrinsic.
Akibatnya terjadi penggabungan abnormal antara kompleks reseptor insulin dengan
transport glukosa. Ketidaknormalan postreseptor dapat mengganggu kerja insulin. Pada
akhirnya, timbul kegagalan sel beta dengan menurunnya jumlah insulin yang beredar
dan tidak lagi memadai sehingga meyebabkan obesitas. Karena obesitas berkaitan
dengan retensi insulin, maka kelihatannya akan timbul kegagalan toleransi glukosa.
Efek hormon Glukagon juga melawan efek insulin berkenaan dengan metabolisme lemak
dengan mendorong penguraian lemak dan menghambat sintesis trigliserida. Glukagon
meningkatkan pembentukan keton (ketogenensis) di hati dengan mendorong perubahan
asam lemak menjadi benda keton. Dengan demikian, di bawah pengaruh glukagon kadar
asam lemak dan badan keton dalam darah meningkat.

d. Tiroid
Tiroid merupakan kelenjar kecil, dengan diameter sekitar 5 cm dan terletak di leher,
tepat dibawah jakun. Kedua bagian tiroid dihubungkan oleh ismus, sehingga bentuknya
menyerupai huruf H atau dasi kupu-kupu. Dalam keadaan normal, kelenjar tiroid tidak
terlihat dan hampir tidak teraba, tetapi bila membesar, dokter dapat merabanya dengan
mudah dan suatu benjolan bisa tampak dibawah atau di samping jakun.

Gambar. 4 diunduh dari:


http://upload.wikimedia.org/wikip
edia/commons/thumb/a/a3/Illu_t
hyroid_parathyroid.jpg/250pxIllu_thyroid_parathyroid.jpg

Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid, yang mengendalikan kecepatan


metabolisme tubuh. Hormon tiroid mempengaruhi kecepatan metabolisme tubuh
melalui 2 cara:
1. Merangsang hampir setiap jaringan tubuh untuk menghasilkan protein
2. Meningkatkan jumlah oksigen yang digunakan oleh sel.
Untuk menghasilkan hormon tiroid, kelenjar tiroid memerlukan yodium, yaitu suatu
eleman yang terdapat di dalam makanan dan air. Kelenjar tiroid menangkap yodium dan
mengolahnya menjadi hormon tiroid. Setelah hormon tiroid digunakan, beberapa
yodium di dalam hormon kembali ke kelenjar tiroid dan didaur-ulang untuk kembali
menghasilkan hormon tiroid.
Tubuh memiliki mekanisme yang runit untuk menyesuaikan kadar hormon tiroid.
Hipotalamus (terletak tepat di atas kelenjar hipofisa di otak) menghasilkan thyrotropinreleasing hormone, yang menyebabkan kelenjar hipofisa mengeluarkan thyroidstimulating hormone (TSH). Sesuai dengan namanya, TSH ini merangsang kelenjar tiroid
untuk menghasilkan hormon tiroid.

Jika jumlah hormon tiroid dalam darah mencapai kadar tertentu, maka kelenjar hipofisa
menghasilkan TSH dalam jumlah yang lebih sedikit; jika kadar hormon tiroid dalam darah
berkurang, maka kelenjar hipofisa mengeluarkan lebih banyak TSH. Hal ini disebut
mekanisme umpan balik.
Hormon tiroid terdapat dalam 2 bentuk:
Tiroksin (T4), merupakan bentuk yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid, hanya
memiliki efek yang ringan terhadap kecepatan metabolisme tubuh.
Tiroksin dirubah di dalam hati dan organ lainnya ke dalam bentuk aktif, yaitu triiodo-tironin (T3). Perubahan ini menghasilkan sekitar 80% bentuk hormon aktif,
sedangkan 20% sisanya dihasilkan oleh kelenjar tiroid sendiri.
Perubahan dari T4 menjadi T3 di dalam hati dan organ lainnya, dipengaruhi oleh
berbagai

faktor,

diantaranya

kebutuhan

tubuh

dari

waktu

ke

waktu.

Sebagian besar T4 dan T3 terikat erat pada protein tertentu di dalam darah dan hanya
aktif jika tidak terikat pada protein ini. Dengan cara ini, tubuh mempertahankan jumlah
hormon tiroid yang sesuai dengan kebutuhan agar kecepatan metabolisme tetap stabil.
Agar kelenjar tiroid berfungsi secara normal, maka berbagai faktor harus bekerjasama
secara benar:
o

hipotalamus

kelenjar hipofisa

hormon tiroid (ikatannya dengan protein dalam darah dan perubahan T4


menjadi T3 di dalam hati serta organ lainnya).

e. Paratiroid
Secara normal ada empat buah kelenjar paratiroid pada manusia, yang terletak tepat
dibelakang kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di
kutub inferiornya. Namun, letak masing-masing paratiroid dan jumlahnya dapat cukup
bervariasi, jaringan paratiroid kadang-kadang ditemukan di mediastinum.
Kelenjar paratiroid orang dewasa terutama terutama mengandung sel utama (chief cell)
yang mengandung apparatus Golgi yang mencolok plus retikulum endoplasma dan
granula sekretorik yang mensintesis dan mensekresi hormon paratiroid (PTH). Sel oksifil
yang lebih sedikit namun lebih besar mengandung granula oksifil dan sejumlah besar
mitokondria dalam sitoplasmanya.
10

Pada manusia, sebelum pubertas hanya sedikit dijumpai, dan setelah itu jumlah sel ini
meningkat seiring usia, tetapi pada sebagianbesar binatang dan manusia muda, sel
oksifil ini tidak ditemukan. Fungsi sel oksifil masih belum jelas, sel-sel ini mungkin
merupakan modifikasi atau sisa sel utama yang tidak lagi mensekresi sejumlah hormon.
PTH bekerja langsung pada tulang untuk meningkatkan resorpsi tulang dan memobilisasi
Ca2+. Selain meningkatkan Ca2+ plasma dan menurunkan fosfat plasma, PTH
meningkatkan ekskresi fosfat dalam urin. Efek fosfaturik ini disebabkan oleh penurunan
reabsorpsi fosfat di tubulus proksimal. PTHjuga meningkatkan reabsorpsi Ca2+ di
tubulus distal, walaupun ekskresi Ca2+ biasanya meningkat pada hiperparatiroidisme
karena terjadi peningkatan jumlahyang difiltrasi yang melebihi efek reabsorpsi. PTH juga
meningkatkan pembentukan 1,25 dihidroksikolekalsiferol, metabolit vitamin D yang
secara fisiologis aktif. Hormon ini meningkatkan absorpsi Ca2+ dari usus, tetapi efek ini
tampaknya

disebabkan

hanya

akibat

stimulasi

pembentukan

1,25

dihidroksikolekalsiferol.

III. Faktor lain


Genetik
Kegemukan dapat diturunkan dari generasi sebelumnya pada generasi berikutnya di dalam
sebuah keluarga. Itulah sebabnya kita seringkali menjumpai orangtua yang gemuk
cenderung memiliki anak-anak yang gemuk pula. Dalam hal ini nampaknya faktor genetik
telah ikut campur dalam menentukan jumlah unsur sel lemak dalam tubuh. Hal ini
dimungkinkan karena pada saat ibu yang obesitas sedang hamil maka unsur sel lemak yang
berjumlah besar dan melebihi ukuran normal, secara otomatis akan diturunkan kepada sang
bayi selama dalam kandungan.1
Maka tidak heranlah bila bayi yang lahirpun memiliki unsur lemak tubuh yang relatif sama
besar. Selain itu Jenis kelamin berpengaruh terhadap obesitas. Pria memiliki lebih banyak
otot dibandingkan dengan wanita. Otot membakar lebih banyak lemak daripada sel-sel lain.
Oleh karena wanita lebih sedikit memiliki otot, maka wanita memperoleh kesempatan yang
lebih kecil untuk membakar lemak. Hasilnya, wanita lebih berisiko mengalami obesitas.

11

Kurang Gerak/Olahraga
Tingkat pengeluaran energi tubuh sangat peka terhadap pengendalian berat tubuh.
Pengeluaran energi tergantung dari dua faktor :
a) tingkat aktivitas dan olah raga secara umum;
b) angka metabolisme basal atau tingkat energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan
fungsi minimal tubuh.
Dari kedua faktor tersebut metabolisme basal memiliki tanggung jawab dua pertiga dari
pengeluaran energi orang normal. Meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi satu pertiga
pengeluaran energi seseorang dengan berat normal, tapi bagi orang yang memiliki kelebihan
berat badan aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting.
Pada saat berolahraga kalori terbakar, makin banyak berolahraga maka semakin banyak
kalori yang hilang. Kalori secara tidak langsung mempengaruhi sistem metabolisme basal.
Orang yang duduk bekerja seharian akan mengalami penurunn metabolisme basal tubuhnya.
Kekurangan aktifitas gerak akan menyebabkan suatu siklus yang hebat, obesitas membuat
kegiatan olah raga menjadi sangat sulit dan kurang dapat dinikmati dan kurangnya olah raga
secara tidak langsung akan mempengaruhi turunnya metabolisme basal tubuh orang
tersebut. Jadi olah raga sangat penting dalam penurunan berat badan tidak saja karena
dapat membakar kalori, melainkan juga karena dapat membantu mengatur berfungsinya
metabolis normal.
Pola makan (Menu )
Pola makan yang tidak teratur tidak lengkapnya komposisi makanan justru dapsat
meyebabkan ketidakseimbanngan dalam tubuh.biasanya orang yang mengalami kelebihan
berat badan, cendrung mengurangi porsi makan yang justru akan membuat lemas dan
menimbulkan efek buruk bagi tubuh.hal yang benar ialah mengatur pola makan dan
mengatur porsi makan tanpa mengurangi zat makanan yang di butuhkan tubuh.Adapun
porsi standart bagi orang dewasa sebagai berikut :1
a)

standart porsi makanan pokok adalah 100 gr beras atau yang berbentuk nasi sebanyak
1

gelas.

12

b)

standar porsi lauk pauk adalah 50 gr daging (mentah ) atau ikan.dapat pula di ambil 50
gr tempe ( 2 potong ) atau 100 gr tahu.

c)

standar porsi sayur ialah satu mangkok sayur dengan isi sayur daun hijau dan isi
lainnysa

d)

bewarna warni.

standar porsi buah terdiri atas 100 gr ( satu potong ) papaya,atau 75 gr (satu buah
pisang).dapt pula di ambil buah lainya yang beratnya kira-kira sama dengan buah di
atas.

Dan untuk frekuensi normal makan untuk sehari 3 kali makan utama dan 2-3 kali makan
selingan.untuk komposisi gizi nya yang normal karbohidrat 65-70% total kalori/hari, lemak
20-35% total kalori/hari dan protein 10-15% total kaloori / hari. Jika semuanya lewat dari
batas normal maka tidak menutup kemungkinan terjadinya obesitas.

IV. Metabolime karbohidrat,protein dan lemak


Metabolisme Karbohidrat
Adapun jalur oksidasi atau metabolism utama karbohidrat dibagi menjadi:3
a. Glikolisis anaerob
Sering di kenal dengan jalur Embden Meyerhoff,yang berlangsung tanpa adanya oksigen.
Reaksi ini akan di awali dengan reaksi fosforilasi glukosa menjadi glu 6 fosfat
selanjutnyaglukosa 6 fosfat akan di ubah menjadi fruktosa 6 P( isomerase ) yang
kemudian akan mengikat satu gugus fosfat lagi menjadi fruktosa 1,6 bifosfat .dengan
enzim aldolase di ubah menjadi gliseral 3P dengan bantuan NAD+ akan menjadi 1,3 bi
fosfogliserat

yang kemudian akan terus bereaksi sampe pembentukan PEP yang

kemudian dengan hasil akhir asam piruvat yang akan dioksidasi lebih lanjut dalam siklus
asam sitrat.

13

b. Glikolisis aerob
Sering di kenal sbagai siklus crebs (TCA;siklus asam sitrat). Terjadi di mitokondria
meupakan rangkaian reaksi yang melakukan oksidasi terhadap asetil koA sehingga di
hasilkan energi. Siklus ini terdiri dari 1 molekul asetil ko A bergabung dengan asam
oksaloasetat menjadi asam sitrat.
Dan di ubah lagi menjadi isositrat akan terjadi reaksi sampai pembentukan alfa keto
glutarat yang berubah menjadi suksinil ko A yang memebebaskan Ko Ash nya menjadi
suksinat di ubah lagi jadi fumarat dan pada akhirnya menjadi malat dan oksaloasetat
yang akan di pakai lagi mengawali siklus asam sitrat.
c. Gliogenesis dan glikogenolisis
Kedua reaksi ini erat kaitannya dengan kestabilan kadar gula darah dalam tubuh
seseorang. Glikogenesis adalah proses pembentukan glikogen dari glukosa.sedangkan
glikogenolisis merupakam pembentukan glukosa dari pemecahan glikogen.
d. HMP-shunt
Berlangsung di dalam sitosol sel.keperluan utama nya adalah menghasilkan pentosa
yang kemudian DNA dan RNA.selain itu ada tambahan NADPH yang bermanfaat bagi
biosintesa asam lemak
e. Glukoneogenesis
Merupakan adalah reaksi pembentukan glukosa dari senyawa non karbohidrat.reaksi ini
dapat berlangsung jika tubuh dalam keadaaan kekurangan glukosa untuk memenuhi
keperluan energi yang di perlukan tubuh.

Metabolisme Protein
Beberapa asam amino merupakan asama amino yang essential secara nutrisi, yaitu asamasam amino ini harus didapatkan dari makanan, sednagkan asam amino lainnya dapat
disintesis dalam tubuh dengan jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolism.

14

Deaminasi, Aminasi, & Transaminasi


Reaksi transaminasi, perubahan suatu asama amino menjadi asam keto yang bersangkutan
bersama dengan perubahan asam keto lainnya menjadi satu asam amino, terjadi di banyak
jaringan: Alanin + -Ketoglutarat Piruvat + Glutamat
Deaminasi oksidatif asam amino terjadi di hati. Satu asam imino dibentuk oleh
dehidrogenase dan senyawa ini dihidrolisis menjadi asam keto, dengan menghasilkan NH4+:
Asam amino + NAD+ Asam imino + NADH + H+
Asam imino + H2O Asam keto + NH4+
Pembentukan Urea
Sebagian besar NH4+ yang terbentuk oleh deaminasi asam amino di hati di ubah menjadi
urea, dan urea disekresikan ke urin. NH4+ membentuk karbamoil fosfat, dan di mitokondria
gugus ini dipindahkan ke ornitin, membentuk sitrulin. Enzim yang berperan adalah ornitin
karbamoiltransferase. Arginin diubah menjadi sitrulin; stelah itu urea dipisahkan dan ornitin
kembali terbentuk. Kebanyakan urea dibentuk di hati, dan pada penyakit hati berat nitrogen
urea darah turun dan NH3 darah meninggi.

Metabolisme Lemak
Lemak merupakan kelompok senyawa heterogen yang berkaitan dengan asam lemak, baik
secara aktual maupun potensial. Sifat umum lemak yaitu relative tidak larut dalam air dan
larut dalam pelarut non polar seperti eter, kloroform, alcohol dan benzena. Lipid
diklasifikasikan menjadi:4
1.

Lipid sederhana adalah ester asam lemak dengan berbagai alkohol. Misalnya: lilin dan
minyak.

2. Lipid majemuk adalah ester asam lemak yang mengandung gugus lain selain alkohol dan
asam lemak yang terikatpada alkoholnya. Misalnya: fosfolipid, glikolipid, solfolipid,
amino lipid dan lipoprotein.
3. Derivate lipid, misalnya: alkohol, asam lemak, gliserol,steroid, lemak-lemak aldehid dan
vitamin A, D, E, dan K.

15

Fungsi dari lemak adalah sebagai energi cadangan, pembentukan membrane sel, bahan
bakar tubuh, bersama protein sebagai alat angkut, penggerak hormone, agen pengemulsi,
isolator panas memelihara organ tubuh, melindungi organ tubuh dll.

Pemecahan lemak menjadi asam lemak, monogliserida, kolin dan sebagainya, terjadi hampi
semuanyasecara eksklusif dalam duodenum dan jejunum, melalui kerja sama antara garagaram empedu dan lipase pancreas, dalam lingkungan pH yang lebih tinggi yang disebabkan
oleh sekresi bikarbonat.
Asam-asam lemak, monogliserida, fosfat, kolesterol bebas dan bahan penyusun lain dari
lemak yang terbenuk olah proses pencernaan, diserap ke dalam sel mukosa intestine.
Penyerapan terjadi dengan jalan difusi pasif, terutama dalam setengah bagian atas usus
kecil. Garam-garam empedu yang disekresi untuk menolong pencernaan dan penyerapan
akan diserap kembali dalam saluran pencernaan bagian bawah.
Setelah masuk ke dalam mukosa intestin, trigliserida, fosfolipid dan ester kolesterol
disintesis kembali, di bungkus dengan sedikit protein kemudian disekresikan ke dalam
kilomikron ke dalam ruang ekstraselular, memasuki lacteal system limfe.
Bagian terbesar dari lemak makanan yang telah memasuki system limfe secara perlahan
memasuki aliran darah (sebagai kiomikron) melalui ductus turachicus jadi mencegah
perubahan besar kadar lemak darah permukaan. Masuknya darah ke dalam darah dari limfe
terus selama berjam-jam setelah makan banyak lemak. Kilomikron dan VLDL terutama
diproses oleh sel-sel adipose dan urat daging. Apoprotein di permukaan mengaktifkan lipase
lipoprotein (LPL) yang terikat pada permukaan pembuluh darah kecil dan kapiler dalam
jaringan-jaringan tersebut. Ini menyebabkan pembebasan secara local asam lemak bebas
yang secara cepat diserap an digunakan untuk energy atau diinkoporasikan kembali menjadi
trigliserida untuk digunakan kemudian. Kelebihan fosfolipid permukaan dan beberapa
kolesterol dan protein dipindahkan ke HDL. Sisa trigliserida yang terdeplesi dalam
kilomikron, dengan ester kolesterol memasuki hati melalui reseptor khusus. 9
Di dalam hati, ester kolesterol akan mendapat proses esterifikasi dan bersama asam-asam
lemak memasuki pool hati yang ada. Kolesterol diekskresikan ke dalam empedu atau
diesterifikasi dan diinkoporasikan ke dalam VLDL untuk nanti diangkut lebih lanjut. Asamasam lemak terbentuk terutama dari kelebihan karbohidrat yang tidak dibutuhkan secara
local untuk enegi atau membrane sel diinkorporasikan kembali ke dalam trigliserida.
16

Dan bersama fosfolipid, koleserol dan protein dikemas dalambentuk VLDL hati memasuki
aliran darah dan melalui lintasan yang sama dengan VLDL-intestin.yaitu khilangan komponen
trigliserida sampai lipase lipoprotein. Tetapi umumnya, lebih lama dalam plasma daripada
kilomikron.
Hampir semua asam lemak memasuki jaringan lemak atau urat daging untuk disimpan dalam
bentuk trigliserida. Lipoprotein yang tinggal itu menjadi LDL atas pertolongan HDL dan
Lechithin-Cholsterol Acyl Transferase (LCAT) yang mengesterifikasi kolesterol dengan asam
lemak poli tidak jenuh dari posisi 2 pada lesitin. LDL yang pada prinsipnya terdiri dari inti
ester kolesterol, protein dan fosfolipid permukaan kemudian diambil oleh hampir semua
jaringan permukaan. Pengambilan LDL secara normal juga tergantung ikatannya pada
reseptor terutama pada membrane sel. Reseptor-reseptor tesebut bisa tidak mempunyai
atau mengandung secara tidak sempurna salah satu atau lebih bentuk-bentuk
hiperkolesterolemia yang sehubungan. Kalau LDL plasma meningkat, peningkata
katabolisme

terjadi

atas

pertolongan

makrofag-makrofag

retikuloendotelial

atau

peningkatan pengambilan yang tidak spesifik.


Jaringan lemak melepas asam lemak bebas dan gliserol ke dalam darah, dimana asam lemak
tersebut diangkut dengan albumin ke hamper semua organ. Di lain pihak, gliserol berjalan
terutama ke dalam hati dan sedikit ke dalam ginjal, hanya jaringan-jaringan ini tempatnya
dapat digunakan. Langkah pertama memerlukan proses fosforilasi oleh asam alfa gliserol
kinasne, yang tidak didapatkan dalam jaringan lain. Tidak adanya enzim ini dalam jaringan
lemak mungkin dapat menolong mencegah agar sikus pembentukan dan pemecahan
trigliserida dalam tubuh tidak sia-sia, karena pembentukan alfa gliserol fosfat dalam jaringan
lemak akan menyebabkan tersintesisnya kembali trigliserida. Sintesis trigliserida dalam
jaringan lemak tergantung pada pembentukan alfa gliserol fosfat dari glukose dan dalam
kondisi dimana lemak dibutuhkan untuk energy dengan glucose tidak tersedia untuk proses
ini.5

V. Pengukuran gizi secara antopometri


Jenis Parameter antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur
beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia, antara lain: 5

17

1. Umur
2. Berat Badan
3. Tinggi Badan
4. Lingkar Lengan Atas (LLA)
5. Lingkar Kepala
6. Lingkar Kepala
Indeks Antropometri
Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Kombinasi antara beberapa
parameter disebut indeks antropometri.6
1. Berat badan menurut umur (BB/U)
Indeks BB/U merefleksikan berat badan relatif dibandingkan dengan umur anak. Indeks ini
menggambarkan status gizi masa kini, baik digunakan apabila data umur tidak diketahui. Karena
indeks ini menggambarkan proporsi berat badan relatif terhadap tinggi badan maka indeks ini
merupakan indikator kekurusan (wasting). Dengan sifat labil, indeks BB/U menggambarkan status
gizi pada masa kini. Indeks ini dapat mendeteksi apakah seorang anak beratnya kurang atau sangat
kurang, tetapi tidak dapat digunakan untuk mengklasifikasikan apakah seorang anak mengalami
kelebihan berat badan atau sangat gemuk.
2. Berat badan menurut panjang atau tinggi badan (BB/PB atau BB/TB)
Berat badan mempunyai hubungan linear dengan tinggi badan. Pada keadaan normal, maka
perkembangan berat badan searah dengan pertambahan tinggi badan dengan kecepatan tertentu.
Indeks ini menggambarkan status gizi masa kini, baik digunakan apabila data umur tidak diketahui.
Karena indeks ini menggambarkan proporsi berat badan relatif terhadap tinggi badan, maka indeks
ini merupakan indikator kekurusan (wasting).
3. Panjang atau tinggi badan menurut umur (PB/U atau TB/U)
Tinggi badan menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal maka tinggi
badan akan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti
berat badan, dimana tinggibadan relatif kurang sensitif terhadap defisiensi gizi dalam jangka pendek.
Indeks ini menggambarkan keadaan stunting.

18

4. Lingkar Lengan Atas Menurut Umur (LLA/U)


Kelebihan Indeks LLA/U Indikator yang baik untuk menilai KEP berat. Alat ukur murah, sangat ringan,
dan dapat dibuat sendiri. Alat dapat diberi kode warna untuk menentukan tingkat keadaan gizi,
sehingga dapat digunakan oleh yang tidak dapat membaca dan menulis.
5. Indeks Massa Tubuh
Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun) merupakan masalah
penting, karena selain mempunyai resiko penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktivitas
kerja. Oleh karena itu pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan.
Salah satu cara adalah dengan mempertahankan berat badan ideal/normal.
6. Tebal Lemak Bawah Kulit Menurut Umur (TLBK/U)
Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit (skinfold) dilakukan pada
beberapa bagian misalnya pada bagian lengan atas (triceps dan biceps), lengan bawah (foream),
tulang belikat (subscapular), ditengah garis ketiak (midaxilarry). Lemak tubuh dapat diukur secara
absolute dinyatakan dalam kilogram maupun secara relative dinyatakan dalam persen terhadap
berat tubuh total. Jumlah lemak tubuh sangat bervariasi tergantung dari jenis kelamin dan umur.
Umumnya lemak bwah kulit pria = 3,1 kg dan wanita = 5,1 kg. 6

VI. Kesimpulan
Makanan merupakan faktor penting dalam kehidupan, karena makanan
merupakan sumber energi tubuh. Tubuh memerlukan bahan bakar untuk menyediakan
energi untuk fungsi organ dan pergerakan badan, untuk mempertahankan suhu tubuh,
dan untuk menyediakan material mentah untuk fungsi enzim, pertumbuhan, penempatan
kembali, dan pergerakan sel. Kebutuhan energi yang terus menerus memerlukan cukup
nutrisi. ketidakseimbangan jumlah makanan yang masuk dibanding dengan pengeluaran
energi oleh tubuh menyebabkan obesitas.

19

Daftar Pustaka

1. Mary E. Barasi. Ilmu gizi at glance. Penerjemah: Halim H, Nutr. M, Jakarta: EMS; 2009
2. Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. Biokimia harper. Edisi XXV. Penerjemah Hartono
Andry, Jakarta: EGC; 2003
3. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi IX. Penerjemah: Setiawan I, Tengadi
LMAKA, Santoso A, Jakarta: EGC; 1996.
4. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke-2. Jakarta:EGC, 2001
5. Silvia A. P., Lorraine M.W. Patofisiologi. Ed. 6. Jakarta : EGC. 2005.
6. Ilmu Gizi. 2008. Diunduh dari; www.scribd.com

20

Anda mungkin juga menyukai