Anda di halaman 1dari 17

BAB IV

MORE INFO
4.1. Lintas Program
Pada puskesmas Industri, dalam menangani adanya kasus yang
berhubungan dengan gizi kurang, maka diperlukan pendekatan lintas
program antara lain :
4.1.1 Loket pendaftaran
Pasien datang mendaftar di loket pendaftaran. Pasien adalah
pasien lama dan mendaftar sebagai pasien BPJS. Pasien tersebut
harus mengikuti alur pendaftaran sebagai berikut :
1. Pasien mendaftar di loket dengan menunjukkan kartu BPJS
2. Setelah itu pasien ditangani di poli anak
3. Setelah dilayani, bila perlu dirujuk ke bagian gizi atau ke rumah
sakit dibuatkan surat rujukan
4. Bila ada yang perlu tindakan laboratorium maka dibuat surat
rujukan ke laboratorium tanpa dipungut biaya
5. Bila ada yang perlu tindakan rawat inap selama puskesmas
masih bisa, dapat dimasukan di ruang rawat inap
6. Setelah dilayani, bila tidak perlu tindakan, dapat langsung ambil
obat di apotek
Pemberdayaan sumber daya dari puskesmas harus dilakukan
agar pasien tetap dapat melakukan pengobatan secara kontinyu
hingga membaik/sembuh, mengingat gizi buruk pasien merupakan
keadaan yang dapat mengganggu pertumbuhan pasien.

4.1.2 Poli anak


Setelah mendaftar dari loket pendaftaran, pasien diarahkan ke
poli anak. Di poli anak, dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik.
Pada anamnesa dan pemeriksaan fisik

diketahui bahwa pasien

menderita gizi buruk sejak 6 bulan yang lalu. Pasien di berikan terapi

13

paracetamol sirup 3 x sdt dan dextral sirup 3 x sdt. Pasien


kemudian diberikan pengantar ke bagian gizi.
4.1.3 Program gizi
Di bagian gizi keluarga pasien mendapatkan penyuluhan oleh
seorang ahli gizi tentang pentingnya pemberian asupan makanan
yang sehat serta menu makanan yang dapat memenuhi kebutuhan
gizi. Selain itu pasien juga mendapat makanan tambahan seperti susu
lactogen dan sereal Koko Krunch.
4.1.4 Promosi kesehatan
4.1.4.1 PHBS
Penyuluhan Kesehatan Masyarakat adalah upaya

untuk

memberikan pengalaman belajar atau menciptakan kondisi bagi


perseorangan, kelompok, dan masyarakat.
Keluarga pasien mendapat penyuluhan mengenai perilaku
hidup bersih dan sehat sepeti mencuci tangan dengan sabun,
mencuci tangan sebelum makan, cuci tangan dengan 6 langkah,
menjaga kebersihan rumah, menjaga kebersihan alat makan, tidak
merokok di dalam rumah serta menggunakan masker bagi ayah
pasien.
Dilakukan

penyuluhan

bagi

keluarga

pasien

tentang

penanggulangan gizi buruk, meningkatkan pengetahuan, motivasi dan


partisipasi keluarga pasien.
4.1.5 P3-kesling
Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Bluum, faktor
lingkungan merupakan salah satu faktor yang memiliki pengaruh
paling besar terhadap status kesehatan masyarakat di samping faktor
pelayanan kesehatan, faktor genetik dan faktor prilaku. Oleh karena
itu upaya kesehatan lingkungan sangat penting. Salah satu bentuk
upaya kesehatan lingkungan adalah dengan penyehatan perumahan.
Secara umum, program Penyehatan Perumahan ditujukan untuk
menghilangkan

gangguan

kesehatan

yang

diakibatkan

oleh

perumahan yang tidak sehat. Dan secara khusus, merupakan upaya


peningkatan / perbaikan fasilitas perumahan, peningkatan / perbaikan
14

tata laksana rumah tangga, peningkatan / perbaikan fasilitas


perhawaan / pencahayaan, peningkatan usaha pemberantasan tikus,
dan peningkatan kebersihan perumahan.
Untuk dapat mengetahui dan memenuhi persyaratan rumah
sehat maka diperlukan format skoring berupa Formulir Penilaian
Rumah Sehat (Lampiran 1). Dengan adanya sistem skoring ini, dapat
ditentukan apakah rumah yang ditempati pasien dan keluarganya
sudah layak dikatakan sehat atau belum.
4.1.6 Program Community Health Nursing (CHN)
Community Health Nursing (CHN) atau home visite merupakan
sarana kontak langsung antara masyarakat dan petugas kesehatan
yang memungkinkan petugas kesehatan untuk menilai rumah dan
situasi keluarga untuk memberikan perawatan yang diperlukan dan
kegiatan kesehatan yang terkait. Dalam melakukan kunjungan rumah,
sangat penting untuk mempersiapkan rencana kunjungan untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat dan mencapai hasil yang baik.
Tujuannya antara lain untuk memberikan perawatan kepada anggota
keluarga

yang

keluarganya,

sakit,

menilai

memberikan

status

pengajaran

kesehatan
kesehatan

pasien

dan

mengenai

pencegahan dan pengendalian penyakit, membangun hubungan yang


erat antara lembaga kesehatan dan masyarakat terutama dalam
promosi kesehatan, dan memanfaatkan sistem rujukan dan untuk
mempromosikan pemanfaatan pelayanan kesehatan masyarakat.
Beberapa

pedoman

yang

harus

dipertimbangkan

saat

fisik,

dan

melakukan kunjungan rumah:


1. Harus

memperhatikan

kebutuhan

psikologis,

kebutuhan pendidikan individu dan keluarga.


2. Menilai penerimaan serta keterbukaan keluarga untuk layanan
yang akan diberikan dan minat serta kesediaan untuk bekerja
sama
3. Sesuai kebijakan lembaga tertentu dan penekanan diberikan
terhadap program kesehatan mereka
4. Memperhitungkan jumlah tenaga kesehatan sudah terlibat
dalam perawatan keluarga tertentu
15

5. Melakukan evaluasi secara berkala dan bagaimana respons


keluarga tersebut
6. Menilai kemampuan pasien dan keluarganya untuk mengenali
kebutuhan mereka sendiri, pengetahuan mereka tentang
sumber daya yang tersedia dan kemampuan mereka untuk
memanfaatkan sumber daya mereka untuk keuntungan mereka
Hal yang harus dilakukan saat melakukan kunjungan rumah
antara lain:
1. Menyapa pasien dan memperkenalkan diri
2. Menyatakan tujuan kunjungan
3. Melakukan
pengamatan
dan
menentukan

kebutuhan

kesehatan.
4. Melakukan perawatan yang diperlukan dan memberikan
pengajaran kesehatan yang diperlukan.
5. Mencatat jadwal kunjungan, hasil observasi dan perawatan
diberikan.
6. Membuat janji untuk kunjungan selanjutnya.
Kriteria untuk menentukan kasus yang membutuhkan rujukan
untuk program CHN :
1. Pasien yang perlu dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan
tingkat pertama
a. Kasus resiko tinggi : kehamilan dengan masalah nutrisi,
kehamilan

dengan

hipertensi/perdarahan/infeksi,

anak

dengan malnutrisi, bayi BBLR, orang tua, kasus bunuh diri,


post partum dengan komplikasi.
b. Penyakit menular atau penyakit kronis seperti : TBC, kusta,
HIV/AIDS, skabies, DHF, malaria.
c. Kasus drop out
d. Program prioritas untuk daerah yang terpencil
e. Follow up di rumah
Penentuan untuk proses rujukan dilakukan bersama tim atau
koordinasi dengan petugas pelayanan kesehatan atau berdasarkan
rekomendasi puskesmas/ fasilitas pelayanan kesehatan dasar.
2. Pasien yang perlu dirujuk ke RS atau yankes lainnya
a. Pasien yang membutuhkan perawatan spsesialistik seperti,
pembedahan, persalinan yang membutuhkan intervensi
khusus, dll.

16

b. Pasien yang tidak dapat dilayani karena keterbatasan


fasilitas puskesmas seperti, keperluan untuk diagnostik,
terapi parenteral, dll.
3. Pasien yang tidak perlu dirujuk
a. Pasien yang tidak memerlukan perhatian atau penanganan
lebih lanjut.
b. Pasien yang dapat mencari sendiri pelayanan kesehatan dari
puskesmas
4.2 Home Visit
Dari hasil kunjungan rumah yang dilakukan pada tanggal 08
September 2014, di dapati pasien tinggal di rumah berukuran 7 x 5 meter
yang cukup ventilasi dan cahaya dari luar; menggunakan air isi ulang yang
tidak direbus kembali untuk minum, air PDAM untuk keperluan memasak,
dan air sumur bor untuk keperluan mandi dan mencuci pakaian namun
cenderung kotor; berdasarkan Formulir Penilaian Rumah Sehat (Lampiran 1)
didapatkan bahwa rumah yang ditempati pasien termasuk kategori rumah
tidak sehat dengan skor 1030. (Lampiran 1)
4.3

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan


Jaminan kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan

agar

peserta

memperoleh

manfaat

pemeliharaan

kesehatan

dan

perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar keseahatan yang diberikan


pada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh
pemerintah. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang
Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
ditetapkan bahwa operasional BPJS Kesehatan dimulai sejak tanggal 1
Januari 2014.
BPJS Kesehatan sebagai Badan Pelaksana merupakan badan hukum
publik yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan
bagi seluruh rakyat Indonesia. Tujuan diberlakukannya program Jaminan
Kesehatan Nasional ini adalah untuk memenuhi kebutuhan kesehatan
masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap orang yang telah
17

membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah. Alur pelayanan


rawat jalan di fasilitas kesehatan tingkat pertama lihat lampiran 7.
Terdapat dua kelompok peserta BPJS Kesehatan yaitu kelompok
penerima bantuan iuran (PBI) jaminan kesehatan dan bukan PBI jaminan
kesehatan. Peserta bukan PBI jaminan kesehatan termasuk pekerja
penerima upah (PNS, TNI, Polri, pejabat negara, pegawai pemerintah non
pegawai negeri, pegawai swasta, dan pekerja lain yang menerima upah) dan
anggota

keluarganya,

pekerja

bukan

penerima

upah

dan

anggota

keluarganya, dan bukan pekerja dan anggota keluarganya. Anggota keluarga


yang dimaksud meliputi:

Satu orang istri atau suami yang sah dari peserta

Anak kandung, anak tiri dan/atau anak angkat yang sah dari peserta,
dengan kriteria:
o Tidak

atau

belum

pernah

menikah

atau

tidak

punya

penghasilan sendiri dan


o Belum berusia 21 tahun atau belum berusia 25 tahun yang
masih melanjutkan pendidikan formal.
4.4 Drug Interaction & Side Effect
4.4.1 Parasetamol
A. Farmakodinamik
Parasetamol merupakan penghambat COX-1 dan COX-2 yang lemah
di jaringan perifer dan hampir tidak memiliki efek anti-inflamasi/antiradang. Hambatan biosintesis Prostaglandin (PG) hanya terjadi bila
lingkungan yang rendah kadar peroksid seperti di hipotalamus
sedangkan lokasi inflamasi biasanya mengandung banyak peroksid
yang

dihasilkan

antiinflamasi

leukosit,

parasetamol

hal

inilah

yang

menjelaskan

tidak

ada.

Studi

terbaru

efek

menduga

parasetamol juga menghambat COX-3 di sistem saraf pusat yang


menjelaskan

cara

kerjanya

sebagai

antipiretik.

Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam -1 jam dan waktu


paruh (T) sekitar 2 jam. Obat tersebar ke seluruh cairan tubuh.
Terikat 20-50% pada protein plasma. Metabolisme: di hati Glucuronide
18

conjugates (60%); sulfuric acid conjugates (35%). Ekskresi: ginjal


dalam bentuk terkonjugasi dan sebagai parasetamol (3%).
B. Farmakokinetik

Absorpsi : diberikan peroral, absorpsi bergantung pada kecepatan


pengosongan lambung, dan kadar puncak dalam darah biasanya

tercapai dalam waktu 30-60 menit.


Distribusi : Asetaminofen sedikit terikat dengan protein plasma
Metabolisme : dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati dan
diubah menjadi asetaminofen sulfat dan glukuronida, yang secara

farmakologi tidak efektif.


Ekskresi : diekskresikan ke dalam urin dalam bentuk tidak
berubah.

C. Indikasi

Analgesik/antinyeri (nyeri ringan-sedang : sakit kepala, mialgia,


nyeri postpartum, dll).

Analgesik pada yang kontraindikasi dengan aspirin (ulkus


peptikum, hipersensitivitas aspirin, anak dengan demam).

Antipiretik/antidemam.

D. Kontraindikasi :
Hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi hati & ginjal, dan
ketergantungan

pada

alkohol.

Toksisitas

parasetamol

dapat

disebabkan dari penggunaan dosis tunggal yang toksik, penggunaan


berulang dosis yang besar, atau penggunan obat yang kronis.
E. Dosis

Anak : 10-15 mg / kgBB / kali tiap 4 jam (maksimal 5 dosis / 24

jam)
Dewasa : 300 mg 1 g / kali, maks 4 g / hari (maksimal 2 g / hari

untuk alkoholik)
Sediaan : tablet 500 mg, sirup 120 mg / 5 ml

19

F. Efek samping

Pada dosis terapi, kadang-kadang timbul peningkatan enzim hati


tanpa ikterus (keadaan ini reversible bila obat dihentikan).

Pada dosis yang lebih besar, dapat timbul pusing, mudah


terangsang, dan disorientasi.

Pemakaian dosis tunggal 10-15 gram, bisa berakibat fatal,


kematian disebabkan oleh hepatotoksisitas yang berat dengan
nekrosis lobulus sentral, kadang-kadang berhubungan dengan
nekrosis tubulus ginjal akut.

Reaksi alergi.

Gejala dini kerusakan hati meliputi mual, muntah, diare, dan nyeri
abdomen.

G.Interaksi obat :

Alkohol,

hepatotoksis.
Antikoagulan oral : dapat meningkatkan efek warfarin.
Fenotiazin : kemungkinan terjadi hipotermia parah.

antikonvulsan,

isoniazid

meningkatkan

resiko

4.4.2 Klorfeniramin maleat


A. Farmakodinamik
Klorfeniramin maleat merupakan antihistamin penghambat reseptor
H1 yang termasuk golongan alkilamin. Memiliki efek menghambat
histamin pada pembuluh darah, bronkus, dan bermacam-macam otot
polos.

Selain

itu

AH1

juga

bermanfaat

mengobati

reaksi

hipersensitivitas atau keadaan lain yang disertai pelepasan histamin


endogen berlebihan. AH1 dapat merangsang maupun menghambat
sistem saraf pusat. Efek perangsangan yang kadang-kadang terlihat
dengan dosis AH1 biasanya ialah insomnia, gelisah, dan eksitasi.
Dosis terapi AH1 umumnya menyebabkan penghambatan SSP
dengan gejala misalnya kantuk, berkurangnya kewaspadaan dan
20

waktu reaksi yang lambat. AH1 juga efektif untuk mengobati mual dan
muntah akibat peradangan labirin atau sebab lain.
B. Farmakokinetik

Absorbsi dan distribusi : setelah pemberian oral atau parenteral,


AH1 diabsorbsi secara baik. Efeknya timbul 15-30 menit setelah
pemberian oral dan maksimal setelah 1-2 jam. Lama kerja AH1
setelah pemberian dosis tunggal kira-kira 4-6 jam. Kadar tertinggi
terdapat pada paru-paru, sedangkan pada limpa, ginjal, otak, otot,

dan kulit kadarnya lebih rendah.


Metabolisme : hepar, tetapi dapat juga pada paru-paru dan ginjal.
Ekskresi : melalui urine setelah 24 jam, terutama dalam bentuk
metabolitnya.

C. Efek Samping

Efek samping yang paling sering adalah sedasi.


Efek samping yang berhubungan dengan sentral AH1 ialah
vertigo, tinnitus, lelah, inkoordinasi, penglihatan kabur, diplopia,

euphoria, gelisah, insomnia, dan tremor.


Efek samping yang termasuk sering juga ditemukan ialah nafsu
makan berkurang, mual, muntah, keluhan pada epigastrium,
konstipasi atau diare; efek samping ini akan berkurang bila AH1

diberikan sewaktu makan.


Efek samping akibat efek antikolinergik seperti mulut kering,
disuria, palpitasi, hipotensi, sakit kepala, rasa berat dan lemah

pada tangan.
Efek samping lain seperti : alergi, fotosensitivitas

D. Indikasi
AH1 berguna untuk pengobatan simptomatik berbagai penyakit alergi
dan mencegah atau mengobati mabuk perjalanan.
E. Kontraindikasi

21

Menimbulkan efektivitas antikolinergik yang dapat memperburuk asma


bronkial, retensi urin, glaukoma. Memiliki interaksi dengan alkohol,
depresan syaraf pusat, antikolinergik.
F. Dosis

Anak : 0,35 mg / kg / hari, 3 kali sehari


Dewasa : 2-4 mg, 3-4 kali sehari
Sediaan : tablet 4 mg

4.4.3 Ekspektoran (Gliseril guaiakolat)


A. Farmakodinamik
Ekspektoran ialah obat yang dapat merangsang pengeluaran dahak
dari

saluran

napas

(ekspektorasi).

Penggunaan

ekspektoran

didasarkan pada pengalaman empiris. Belum ada data yang


membuktikan efektivitas ekspektoran dengan dosis yang umum
digunakan.

Mekanisme

kerjanya

diduga

berdasarkan

stimulasi

mukosa lambung dan selanjutnya secra reflex merangsang sekresi


kelenjar saluran napas lewat N.vagus, sehingga menurunkan
viskositas dan mempermudah pengeluaran dahak.

B. Efek Samping
Efek samping yang mungkin timbul dengan dosis besar berupa
kantuk, mual, dan muntah.
C. Dosis

Anak : 50-100 mg / kali, 3-4 kali sehari


Dewasa : 100-200 mg / kali, 3-4 kali sehari

Sediaan tablet 50 mg & 100 mg


(Lihat lampiran 6)

4.5 Manajemen Terpadu Balita Sakit


A. Definisi MTBS
Manajemen

Terpadu

Balita

Sakit

(MTBS)

atau

Integrated

Management of Childhood Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan yang


22

terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita sakit dengan fokus kepada


kesehatan anak usia 0-59 bulan (balita) secara menyeluruh. Suatu
manajemen untuk balita yang datang di pelayanan kesehatan, dilaksanakan
secara terpadu mengenai klasifikasi, status gizi, status imun maupun
penanganan dan konseling yang diberikan. MTBS bukan merupakan
program kesehatan tetapi pendekatan/cara menatalaksana balita sakit.
MTBS adalah suatu pendekatan yang digagas oleh WHO dan UNICEF untuk
menyiapkan petugas kesehatan melakukan penilaian, membuat klasifikasi
serta memberikan tindakan kepada anak terhadap penyakit-penyakit yang
umumnya mengancam jiwa. MTBS merupakan suatu program pemerintah
untuk menurunkan angka kematian balita dan menurunkan angka kesakitan.
B. Tujuan MTBS

Meningkatkan keterampilan petugas

Menilai, mengklasifikasi dan mengetahui resiko dari penyakit yang


timbul

Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan


dirumah

Sebagai pedoman kerja bagi petugas dalam pelayanan balita sakit

Memperbaiki sistem kesehatan

C. Ruang Lingkup MTBS

Penilaian, klasifikasi dan pengobatan bayi muda umur 1 hari- 2


bulan

Penilaian dan klasifikasi anak sakit umur 2 bulan- 5 tahun

Pengobatan yang telah ditetapkan dalam bagan penilaian dan


klasifikasi

Konseling bagi ibu

Tindakan dan pengobatan

Masalah dan pemecahan dan pelayanan tindak lanjut

D. Protap Pelayanan MTBS

Anamnesa :
23

Wawancara terhadap orang tua bayi dan balita mengenai


keluhan utama, lamanya sakit, pengobatan yang telah diberikan
dan riwayat penyakit lainnya.

Pemeriksaan :
o Untuk bayi umur 1hari-2 bulan
Periksa kemungkinan kejang, gangguan nafas, suhu
tubuh, adanya infeksi, ikterus, gangguan pencernaan, BB,
status imun.
o Untuk bayi 2bulan-5 tahun
Keadaan umum, respirasi, derajat dehidrasi, suhu, periksa
telinga, status gizi, imun, penilaian pemberian makanan.

Menentukan klasifikasi, tindakan, penyuluhan dan konsultasi


dokter.

E. Langkah-langkah Kegiatan

Pendaftaran bayi/balita menuju ruang KIA dan lanjut pelayanan


MTBS

Petugas menulis identitas pasien pada kartu rawat jalan

Petugas melaksanakan anamnesa

Petugas melakukan pemeriksaan

Petugas menulis hasil anamnesa dan pemeriksaan serta


mengklasifikan dan memberikan penyuluhan

Petugas memberikan pengobatan sesuai buku pedomen MTBS


bila perlu dirujuk ke ruang pengobatan untuk konsultasi ke
dokter

F. Penerapan MTBS
Program MTBS perlu persiapan untuk menerapkannya meliputi :

Informasi mengenai MTBS kepada seluruh petugas

Persiapan penilaian, obat-obat dan alat yang digunakan untuk


pelayanan
Persiapan pengadaan formulir
24

Melaksanakan pencatatan dan pelaporan hasil pelayanan

Penerapan MTBS dilaksanakan secara bertahap

G. Identifikasi Tindakan MTBS


Yaitu pengambilan keputusan oleh petugas dalam menangani diare,
tindakan MTBS mencangkup 3 rencana terapi :

Terapi A
Terapi dirumah untuk mencegah dehidrasi, cairan yang biasa
diberikan berupa oral gula-garam, sayuran dan sup yang
mengandung garam

Terapi B
Dehidrasi sedang dengan pemberian CRO. Ex : oralit

Terapi C
Dehidrasi berat dengan pemberian cairan RL

H. Konseling MTBS
Merupakan suatu bantuan yang diberikan oleh konselor kepada klien
sebagai upaya membantu orang lain agar ia mampu memecahkan
masalah yang dihadapi.
I. Konseling Bagi Ibu
Bertujuan agar ibu mengetahui dan dapat menilai keadaan anak
secara dini. Penilaian berupa :

Menilai cara pemberian makan anak :


Langkah yang dilakukan tenaga kesehatan, tanyakan kepada
ibu cara pemberian makanan anak sehari-hari dan selama
sakit. Bandingkan jawaban ibu dengan anjuran pemberian
makan yang sesuai umur anak.

Hal yang ditanyakan :


o Apakah ibu meneteki anak ? berapa kali ? apa ibu juga
meneteki pada malam hari ?

25

o Apakah

anak

mendapat

makanan/minuman

lain

makanan/minuman apa ? berapa kali sehari ? alat apa


yang digunakan untuk memberi makanan ? jika BB
menurut umur sangat rendah, maka ditanya barapa
banyak makan/minum yang diberikan ? apakah anak
dapat porsi tersendiri ? Siapa yang memberi makan anak
dan bagaimana caranya ?
o Selama anak sakit, apakah pemberian makan anak di
ubah ? bila ya, bagaimana caranya?
Anjuran makanan selama anak sakit maupun anak sehat
0-6 bulan : beri ASI sesuai keinginan anak, min 8x sehari.
6-8 bulan : teruskan pemberian ASI dan makanan
pendamping ASI ex: pisang, pepaya, air jeruk dan air
tomat, makan pendamping diberikan 2x/hari ,sesuai
pertambahan umur diberikan bubur tim ditambah kuning
telur, tempe, tahu, ayam, ikan, daging, wortel, bayam,
kacang hijau, santan/minyak. frekuensi 7-8 sendok/hari
9-12 bulan : ASI dilanjutkan dan kenalkan makanan
keluarga secara bertahap dimulai dari bubur nasi-nasi tim
dan makanan keluarga. Berikan 3x/hari frekuensi 9-11
sendok, dan beri makanan selingan 2x/hari ex: bubur
kacang hijau, pisang, biskuit dan lain-lain diantara waktu
makan.
12-24 bulan : beri ASI sesuai keinginan anak, beri nasi
lunak yang ditambah telur, ayam, ikan, tempe, tahu,
daging, wortel, bayam, kacang, santan minyak. Beri
3x/hari dan makanan selingan 2x/hari.
> 2 tahun : makanan keluarga 3x/hari terdiri dari nasi, lauk
pauk, sayur dan buah, makanan selingan 2x/hari. Jika
anak diare, beri ASI lebih sering dan lebih lama. Jangan
diberi susu kental.

Menasehati ibu untuk meningkatkan pemberian cairan selama


anak sakit
26

o Untuk setiap anak sakit :


Beri ASI lebih sering dan lebih lama, tingkatkan pemberian
cairan ex: beri kuah sayur dan air putih
o Untuk anak diare :
Diberi cairan tambahan terapi A dan B sesuai pengobatan
o Untuk anak mungkin DBD :
Cairan tambahan sangat penting ex : oralit

Menasehati ibu kapan harus kembali ke petugas kesehatan


Nasehati ibu untuk kunjungan ulang sesuai waktu paling awal
untuk permasalahan anaknya.
Anak dengan kunjungan ulang : (2 hari)
o 2 hari : Pnemonemia, disentri, malaria, demam, campak,
DBD
o 5 hari : Diare, infeksi telinga, masalah pemberian makan,
penyakit lain jika tidak ada perubahan
o 4 minggu : Anemia, BB menurut umur sangat rendah
Kunjungan berikut, nasehati ibu bila ditemukan tanda-tanda
pada anak seperti :
o Setiap anak sakit Tidak mau minum/menetek
o Bertambah parah dan timbul demam
o Anak batuk, bukan pnemonia Nafas cepat dan sukar
bernafas
o Anak diare BAB campur darah, malas minum
o Mungkin DBD/demam Ada tanda-tanda perdarahan, ujung
extermitas dingin, nyeri ulu hati/gelisah dan sering muntah

Menasehati ibu tentang kesehatan dirinya


o Nasehati ibu untuk makan dengan baik untuk menjaga
kekuatan dan kesehatan dirinya
o Periksa status imunisasi ibu, k/p beri imunisasi TT
o Pastikan bahwa ibu memperoleh imunisasi dan pelayanan
terhadap program KB, konseling PMS dan pencegahan
o Anjurkan ibu untuk deteksi dini
27

J. Masalah dan Pemecahan

Bayi rewel : terkait pemberian ASI, periksa popok, gendong


bayi, perlu perhatian.

Bayi tdk tidur sepanjang malam

Bayi menolak menetek : tidurkan bayi disamping ibu dan sering


diberi ASI, jangan beri makanan lain

Bayi bingung putting : beri ASI, beri perhatian dan kasih sayang

Bayi BBLR Beri ASI sesering mungkin

Bayi ikterik Meneteki segera setelah lahir, ASI sesering


mungkin

ASI tdk cukup Semakin sering meneteki semakin banyak


produksi ASI

Ibu mengatakan ASI tdk keluar Jelaskan cara memproduksi


dan mengeluarkan ASI, teteki bayi sesering mungkin.

Ibu mengeluh puting terasa sakit Beri paracetamol 1 tablet tiap


4-6 jam, tetap beri ASI pada bayi. Perbaiki posisi dan
perlekatan saat memberi ASI

Ibu mengeluh payudara penuh Usaha meneteki bayi sampai


payudara kosong, kompres payudara dgn air hangat dan teteki
bayi segera mungkin

Mastitis dan abses Beri antibiotik,beri obat penghilang rasa


sakit, kompres hangat, tetap beri ASI. Jika abses hentikan ASI
dulu

Ibu sakit dan tdk mau meneteki Teteki bayi dulu baru ibu minum
obat

Ibu bekerja Teteki bayi pada pagi hari, pada waktu pulang
kerumah dan lebih sering pada malam hari.

4.6

Hasil Konsultasi
4.6.1 Pembimbing Akademik

28

Dari hasil diskusi, diperoleh cukup banyak revisi, pada judul,


abstrak, BAB 1, BAB 2, BAB 3, BAB 4, BAB 5, dan BAB 6.
4.6.2 Kepala Puskesmas Industri
Dari hasil diskusi dengan kepala Puskesmas Industri kami
memperoleh saran dan kritik mengenai topik dan judul UKP.
4.6.3 Penanggung Jawab Program Gizi
Dari hasil diskusi dengan penanggung jawab program Gizi
Puskesmas diperoleh masukan dan informasi mengenai pengukuran
status gizi balita, penanganan balita dengan gizi kurang.
4.6.4 Penanggung Jawab Program Kesling Puskesmas
Dari hasil diskusi dengan kepala program Kesling Puskesmas
diperoleh

masukan

dan

informasi

mengenai

Syarat-Syarat

Membangun Rumah Sehat di Pedesaan (Lampiran 3).


4.6.5 Penanggung Jawab Program Pengendalian Penyakit (P2)
Dari

hasil

diskusi

dengan

penanggung

jawab

program

pengendalian penyakit (P2) Puskesmas diperoleh masukan dan


informasi mengenai tatalaksana balita dengan keluarga pasien TB
BTA (+).

29