Anda di halaman 1dari 20

Bayi Kurang Bulan, Kecil Masa Kehamilan,

dengan BBLR/BBLSR dan RDS (Respiratory


Distress Syndrom)
Meilan Tahir Refra / 10-2010-026/D1
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6 Kebon Jeruk, Jakarta 11510
Email: meylan_tahir@yahoo.com

Pendahuluan
Berat badan lahir rendah adalah neonatus yang dilahirkan terlalu kecil.Kelahiran kurang
bulan atau prematur merupakan istilah yang digunakan untuk mendefinisikan neonatus yang
dilahirkan terlalu dini. Berdasarkan usia kehamilan, bayi yang baru lahir mungkin kurang
bulan, aterm, atau lebih bulan.Dilihat berdasarkan ukuran, bayi yang baru lahir mungkin
tumbuh normal dan sesuai masa kehamilan, kecil ukurannya yaitu kecil masa kehamilan, atau
tumbuh berlebihan yaitu besar masa kehamilan. Dimana kelahiran kurang bulan atau
prematur didefinisikan sebagai pelahiran sebelum 37 minggu lengkap.Pada kasus ini akan
dibahas lebih rinci tentang kelahiran kurang bulan atau prematur yang mempunyai berat
badan yang rendah atau sangat amat rendah.Dimana merupakan masalah utama di negara
berkembang termasuk Indonesia. Kelahiran bayi prematur BBLR/BBLSR merupakan salah
satu masalah kesehatan utama dalam masyarakat dan merupakan penyebab utama kematian
neonatal serta gangguan perkembangan saraf dalam jangka panjang. 1-6

Pembahasan
Anamnesis merupakan suatu pemeriksaan yang dilakukan dengan berdialog antara seorang
dokter dengan pasiennya secara langsung atau dengan orang lain yang mengetahui tentang
kondisi pasien, untuk mendapatkan data pasien beserta permasalahan medisnya dengan
tujuan untuk memperoleh data atau informasi tentang permasalahan yang sedang dialami atau
dirasakan oleh pasien.
Pertanyaan-pertanyaan yang perlu ditanyakan pada ibu dalam anamesis untuk menegakkan
mencari etiologi dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya BBLR :2

Riwayat hari pertama haid terakhir?

Riwayat persalinan sebelumnya?

Paritas, jarak kelahiran sebelumnya?

Kenaikan berat badan selama hamil?

Aktivitas?

Penyakit yang diderita selama hamil?

Obat-obatan yang diminum selama hamil?

Pemeriksaan Fisik
Apgar Score

Merupakan alat untuk mengkaji kondisi bayi sesaat setelah lahir meliputi 5 variabel
(pernafasan, frek. Jantung, warna, tonus otot & iritabilitas reflek)

Ditemukan oleh Dr. Virginia Apgar (1950)

Lima hal pokok yang diperiksa :


Appearance : Penampilan, yang dilihat dari warna kulit
Pulse : Frekuensi denyut jantung
Grimace : Usaha bernapas yang dilihat dari kuat lemahnya tangisan.
Activity : Aktif atau tidaknya tonus otot
Reflex : Reaksi spontan atas rangsang yang datang
Dilakukan pada :2

1 menit kelahiran
yaitu untuk memberi kesempatan pada bayi untuk memulai perubahan
2

Menit ke-5

Menit ke-10
penilaian dapat dilakukan lebih sering jika ada nilai yg rendah & perlu tindakan
resusitasi. Penilaian menit ke-10 memberikan indikasi morbiditas pada masa
mendatang, nilai yang rendah berhubungan dengan kondisi neurologis,
TANDA

Appearance

Biru,pucat

Badan
pucat,tungkai
biru

Semuanya merah
muda

Pulse

Tidak teraba

< 100

> 100

Grimace

Tidak ada

Lambat

Menangis kuat

Activity

Lemas/lumpuh

Gerakan
sedikit/fleksi
tungkai

Aktif/fleksi tungkai
baik/reaksi
melawan

Respiratory

Tidak ada

Lambat, tidak
teratur

Baik, menangis kuat

Prosedur penilaian APGAR

Pastikan pencahayaan baik

Catat waktu kelahiran, nilai APGAR pada 1 menit pertama dg cepat & simultan.
Jumlahkan hasilnya

Lakukan tindakan dg cepat & tepat sesuai dg hasilnya

Ulangi pada menit kelima

Ulangi pada menit kesepuluh

Dokumentasikan hasil & lakukan tindakan yg sesuai

Penilaian
Setiap variabel dinilai : 0, 1 dan 2
Nilai tertinggi adalah 10

Nilai 7-10 menunjukkan bahwa bayi dalam keadaan baik


3

Nilai 4-6 menunjukkan bayi mengalami depresi sedang & membutuhkan tindakan
resusitasi
Nilai 03 menunjukkan bayi mengalami depresi serius & membutuhkan resusitasi segera
sampai ventilasi

Ballard Score1
Sistem penilaian ini dikembangkan oleh Dr. Jeanne L Ballard, MD untuk menentukan usia
gestasi bayi baru lahir melalui penilaian neuromuskular dan fisik. Penilaian neuromuskular
meliputi postur, square, window, arm recoil, sudut popliteal, scarf sign dan heel to ear
manuver penilaian fisik yang diamati adalah kulit, lanugo, permukaan plantar, payudara,
mata atau telinga dan genitalia.
a. Penilaian maturitas neuromuskular

Postur
Tonus otot tubuh tercermin dalam postur tubuh bayi saat istirahat dan adanya tahanan saat
otot diregangkan. Ketika pematangan berlangsung berangsur-angsur janin mengalami
peningkatan kaki yang fleksi. Lutut mulai fleksi bersamaan dengan pergelangan tangan.
Arm Recoil
Manuver ini berfokus pada fleksor pasif dari tonus otot biseps dengan mengukur sudut
mundur singkat setelah sendi siku difleksi dan ekstensikan. Arm recoil dilakukan dengan cara
evaluasi saat bayi terlentang. Pegang kedua tangan bayi, fleksikan lengan bagian bawah
sejauh mungkin dalam 5 detik, lalu rentangkan kedua lengan dan lepaskan. Amati reaksi bayi
saat lengan dilepaskan. Skor 0 : tangan tetap terentang/gerakan acak, Skor 1 : fleksi parsial
140-1800, Skor 2 : fleksi parsial 110 140o, Skor 3 : fleksi parsial 90 100o, dan Skor 4:
kembali ke fleksi penuh.
Scarf Sign
Manuver ini menguji tonus pasif fleksor gelang bahu. Dengan bayi berbaring telentang,
pemeriksa mengarahkan kepala bayi ke garis tengah tubuh dan mendorong tangan bayi
melalui dada bagian atas dengan satu tangan dan ibu jari dari tangan sisi lain pemeriksa
diletakkan pada siku bayi. Siku mungkin perlu diangkat melewati badan, namun kedua bahu
harus tetap menempel di permukaan meja dan kepala tetap lurus dan amati posisi siku pada
dada bayi dan bandingkan dengan angka pada lembar kerja, yakni penuh pada tingkat leher (1); garis aksila kontralateral (0); kontralateral baris puting (1); prosesus xyphoid (2), garis
puting ipsilateral (3); dan garis aksila ipsilateral (4)
Heel to Ear
Manuver ini menilai tonus pasif otot fleksor pada gelang panggul dengan memberikan fleksi
pasif atau tahanan terhadap otot-otot posterior fleksor pinggul. Dengan posisi bayi terlentang
lalu pegang kaki bayi dengan ibu jari dan telunjuk, tarik sedekat mungkin dengan kepala
tanpa memaksa, pertahankan panggul pada permukaan meja periksa dan amati jarak antara
kaki dan kepala serta tingkat ekstensi lutut (bandingkan dengan angka pada lembar kerja).
b. Penilaian maturitas fisik
Kulit
Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur intrinsiknya bersamaan dengan
hilangnya secara bertahap dari lapisan pelindung, yaitu vernix caseosa. Oleh karena itu kulit
4

menebal, mengering dan menjadi keriput dan / atau mengelupas dan dapat timbul ruam
selama pematangan janin. Fenomena ini bisa terjadi dengan kecepatan berbeda-beda pada
masing-masing janin tergantung pada kondisi ibu dan lingkungan intrauterine.
Sebelum perkembangan lapisan epidermis dengan stratum corneumnya, kulit agak transparan
dan lengket ke jari pemeriksa. Pada usia perkembangan selanjutnya kulit menjadi lebih halus,
menebal dan menghasilkan pelumas, yaitu vernix, yang menghilang menjelang akhir
kehamilan. Pada keadaan matur dan pos matur, janin dapat mengeluarkan mekonium dalam
cairan ketuban. Hal ini dapat mempercepat proses pengeringan kulit, menyebabkan
mengelupas, pecah-pecah, dehidrasi, seperti sebuah perkamen.
Lanugo
Lanugo adalah rambut halus yang menutupi tubuh fetus. Pada etreme prematurity kulit janin
sedikit sekali terdapat lanugo. Lanugo mulai tumbuh pada usia gestasi 24-25 minggu dan
biasanya sangat banyak, terutama di bahu dan punggung atas ketika memasuki minggu ke 28.
Lanugo mulai menipis dimulai dari punggung bagian bawah. Daerah yang tidak ditutupi
lanugo meluas sejalan dengan maturitasnya dan biasanya yang paling luas terdapat di daerah
lumbosakral. Pada punggung bayi matur biasanya sudah tidak ditutupi lanugo. Variasi jumlah
dan lokasi lanugo pada masing-masing usia gestasi tergantung pada genetik, kebangsaan,
keadaan hormonal, metabolik, serta pengaruh gizi. Sebagai contoh bayi dari ibu dengan
diabetes mempunyai lanugo yang sangat banyak.
Pada melakukan skoring pemeriksa hendaknya menilak pada daeerah yang mewakili julmlah
relatif lanugo bayi yakni pada daerah atas dan bawah dari punggung bayi.
Permukaan plantar
Garis telapak kaki pertama kali muncul pada bagian anterior ini kemungkinan berkaitan
dengan posisi bayi ketika di dalam kandungan. Bayi dari ras selain kulit putih mempunyai
sedikit garis telapak kaki lebih sedikit saat lahir. Disisi lain pada bayi kulit hitam dilaporkan
terdapat percepatan maturitas neuromuskular sehingga timbulnya garis pada telapak kaki
tidak mengalami penurunan. Namun demikian penilaian dengan menggunakan skor New
Ballard tidak didasarkan atas ras atau etnis tertentu.
Bayi very premature dan etremely immature tidak mempunyai garis pada telapak kaki. Untuk
membantu menilai maturitas fisik bayi tersebut berdasarkan permukaan plantar maka dipakai
ukuran panjang dari ujung jari hingga tumit. Untuk jarak < 40 mm diberikan skor -2. Untuk
jarak 40-50 mm skor -1. Hasil pemeriksaan disesuaikan dengan skor di tabel.
Payudara

Aerola mammae terdiri atas jaringan mammae yang tumbuh akibat stimulasi esterogen ibu
dan jaringan lemak yang tergantung dari nutrisi yang eiterima janin. Pemeriksa menilai
ukuran aerola dan menilai ada atau tidaknya bintik-bintik akibat pertubuhan papilla
Montgom. Kemudian dilakukan palpasi jaringan mammae di bawah aerola dengan ibu jari
dan telunjuk untuk mengukur diameternya dalam milimeter.
Mata dan telinga
Daun telinga pada fetus mengalami penambahan kartilago seiring perkembangannya menuju
matur. Pemeriksaan yang dilakukan terdiri atas palpasi ketebalan kartilago kemudian
pemeriksa melipat daun telinga ke arah wajah kemudian lepaskan dan pemeriksa mengamati
kecepatan kembalinya daun telinga ketika dilepaskan ke posisi semulanya.
Pada bayi prematur daun telinga biasanya akan tetap terlipat ketika dilepaskan. Pemeriksaan
mata pada intinya menilai kematangan berdasarkan perkembangan palpebra. Pemeriksa
berusaha membuka dan memisahkan palpebra superior dan inferior dnegan menggunakan jari
telunjuk dan ibu jari. Pada bayi extremely premature palpebra akan menempel erat satu sama
lain. Dengan bertambahnya maturitas palpebra kemudian bisa dipisahkan walaupuh hanya
satu sisi dan meninggalkan sisi lainnya tetap pada posisinya.
Hasil pemeriksaan pemeriksa kemudian disesuaikan dengan skor dalam tabel. Perlu diingat
bahwa banyak terdapat bariasi kematangan palpebra pada individu dengan usia gestasi yang
sama. Hal ini dikarenakan terdapat faktor seperti stress intrauterin dan faktor humoral yang
mempengaruhi perkembangan kematangan palpebra.
Genital pria
Testis pada fetus mulai turun dari cavum peritoneum ke dalam scrotum kurang lebih pada
minggu ke 30 gestasi. Testis kiri turun mendahului testis kanan yakni pada sekitar minggu ke
32. Kedua testis biasanya sudah dapat diraba di canalis inguinalis bagian atas atau bawah
pada minggu ke 33 hingga ke 34 kehamilan. Bersamaan dengan itu, kulit skrotum menjadi
lebih tebal dan membentuk rugae.
Testis dikatakan telah turun secara penuh apabila terdapat di dalam zona berugae. Pada
neonatus etremely premature scrotum datar, lembut dan kadang belum bisa dibedakan jenis
kelaminnya. Berbeda halnya pada neonatus matur hingga postmatur, scrotumnya biasanya
seperti pendulum dan dapat menyentuh kasur ketika berbaring.
Genital wanita
Untuk memeriksa genital neonatus perempuan maka neonatus harus diposisikan telentang
dengan pinggul abduksi kurang lebih 45o dari garis horizontal. Abduksi yang berlebihan

dapat menyebabkan labia minora dan klitoris tampak lebih menonjol sedangkan aduksi
menyebabkan keduanya tertutupi oleh labio majora.
Pada neonatus extremely premature labia datar dan klitoris sangat menonjol dan menyerupai
penis. Sejalan dengan berkembangnya maturitas fisik, klitoris menjadi tidak begitu menonjol
dan labia minora menjadi lebih menonjol. Mendekati usia kehamilan matur labia minora dan
klitoris menyusut dan cenderung tertutupi oleh labia majora yang membesar.
Labia majora tersusun atas lemak dan ketebalannya bergantung pada nutrisi intrauterine.
Nutrisi yang berlebihan dapat menyebabkan labia majora menjadi besar pada awal gestasi.
Sebaliknya nutrisi yang kurang menyebabkan labia majora cenderung kecil meskipun pada
usia kehamilan matur atau postmatur dan labia minora serta klitoris cenderung lebih
menonjol.
Interpretasi hasil
Masing-masing hasil penilaian baik maturitas neuromuskular maupun fisik disesuaikan
dengan skor di dalam tabel dan dijumlahkan hasilnya. Interpretasi hasil dapat dilihat pada
tabelskor.

Sebelum melakukan pemeriksaan fisik pada BBL perlu diketahui riwayat keluarga, riwayat
kehamilan sekarang dan sebelumnya riwayat persalinan.
Pemeriksaan bayi perlu dilakukan dalam keadaan telanjang di bawah lampu yang terang
yang berfungsi juga sebagai pemanas untuk mencegah lehilangan panas. Tangan serta alat
yang digunakan harus bersih dan hangat. Pemeriksaan fisik pada bayi BBL paling kurang tiga
kali yaitu : 1) Pada saat lahir, 2) Pemeriksaan yang dilakukan 24 jam di ruang perawatan, dan
3) Pemeriksaan pada waktu pulang.
Pemeriksaan pertama BBL harus dilakukan di kamar bersalin, tujuannya adalah :
1) Menilai gangguan adaptasi BBL dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterine yang
memerlukan resusitasi
2) Untuk menemukan kelainan seperti cacat bawaan yang perlu tindakan segera ( mis. Atresia
ani, atresia esophagus,trauma lahir
3) Menentukan apakah BBL dapat dirawat bersama ibu ( rawat gabung) atau di tempat
perawatan khusus untuk diawas, atau di ruang intensif, atau segera dioperasi.
Bayi tidak boleh dipulangkan sebelum diperiksa kembali pada pemeriksaan terakhir. Hal ini
disebabkan kelainan pada BBL yang belum menghilang saat dipulangkan ( hematoma sefal,
ikterus) atau mungkin pula adanya bising yang hilang timbul pada masa BBL.
1) Pemeriksaan Keadaan Fisik Neonatus2,3

Kepala

Raba

sepanjang

garis

sutura

dan

fontanel,apakah

ukuran

dan

tampilannya

normal. Sutura yang berjarak lebar mengindikasikan bayi preterm, moulding yang buruk atau
hidrosefalus.Pada kelahiran spontan letak

kepala,

terlihat tulang kepala tumpang tindih yang disebut moulding/moulase. Keadaan

sering
ini

normal

kembali setelah beberapa hari sehingga ubun-ubun mudah diraba. Perhatikan ukuran dan
ketegangannya.Fontanel

anterior

harus

diraba,
8

fontanel yang besar dapat terjadi akibat prematuritas atau hidrosefalus,

sedangkan

yang

terlalu kecil terjadi pada mikrosefali. Jika fontanel menonjol,hal ini diakibatkan peningkatan
tekanan intakranial, sedangkan yang cekung dapat tejadi akibat dehidrasi. Terkadang
teraba fontanel ketiga antara fontanel anterior dan posterior, hal ini terjadi karena adanya
trisomi

21.

Periksa

adanya

tauma

kelahiran

misalnya

caput

suksedaneum,

sefalhematoma, perdarahan subaponeurotik/fraktur tulang tengkorak. Perhatikadanya


kelainan kongenital seperti ; anensefali, mikrosefali, kraniotabes dansebagainya.

Wajah

Wajah harus tampak simetris. Terkadang wajah bayi tampak asimetrishal ini dikarenakan
posisi

bayi

di

intrauteri.

Perhatikan

kelainan

wajah

yang

khas seperti sindrom down atau sindrom pierre robin. Perhatikan jugakelainan wajah akibat
trauma lahir seperti laserasi, paresi N.fasialis.

Mata

Telinga

Pemeriksaan telinga dapat dilakukan untuk menilai adanya gangguan pendengaran.Dilakukan


dengan membunyikan bel atau suara jika terjadi refleks terkejut, apabila tidak terjadi refleks,
maka kemungkinan akan terjadi gangguan pendengaran.
-

Simetris dan sejajar

Bentuk. Pembentukan kartilago mengindikasikan maturitas.

Pendengaran. Bayi menengok kearah bisikan; terlihat terkejut sebagai respons terhadap
suara keras. Khususnya pada kasus kelainan kepala dan leher, riwayat tuli pada keluarga,
berat lahir sangat rendah, asfiksia berat, infeksi janin, dan sindrom lain yang
terkaitdengan tuli.

Otoskopi

Hidung

Posisi dan bentuk. Posisi menyimpang dari garis tengah atau tulang hidung yangmendatar
atau bengkok dapat mengindikasikan sindrom kongenital.

Lubang hidung

Mulut

Ukuran dan bentuk. Mulut seperti burung terlihat pada sindrom alcohol; mulut kecil,
mikrostomia, terlihat pada sindrom down; dan mulut yang lebar, makrostomia,
terlihatpada gangguan metabolik.
9

Menyeringai simetris

Palatum melengkung utuh

Ukuran dan fungsi uvula. Uvula yang bifid (terbelah dua) dapat dihubungkan dengan
sumbing palatum submukosa. Pada fungsi neurologis yang normal, uvula akan naik
ketika bayi menangis.

Refleks. Refleks mengisap terlihat sejak usia kehamilan 32 minggu hingga 3-4 bulan.
Refleks rooting terlihat sejak usia kehamilan 34 minggu hingga 3-4 bulan.

Bibir. Harus terbentuk penuh. Filtrum yang memanjang (alur dari hidung hingga
bibiratas) dapat mengindikasikan sindrom kongenital.

Ukuran lidah. Makroglosia dihubungkan dengan hipotiroidisme.

Gusi. Gusi juga perlu diperiksa untuk menilai adanya pigmen pada gigi, apakah terjadi
penumpukan pigmenyang tidak sempurna.

Membrane mukosa. Perhatikan kelembapan. Pengeluaran saliva yang berlebihan


mengindikasikan fistula trakeoesofagus atau atresia esophagus. Sariawan diidentifikasi
dengan adanya bercak putih dan abu-abu.

Dagu

Proporsinya harus tepat. Mikrognatia mengesankan sindrom Pierre-Robin. Pemeriksaan


mulut dapat dilakukan dengan melihat adanya kista yang ada pada mukosa mulut.
Pemeriksaan lidah dapat dinilai melalui warna dan kemampuan reflex mengisap. Apabila
ditemukan lidah yang menjulur keluar, dapat dilihat adanya kemumgkinan kecacatan
kongenital. Adanya bercak pada mukosa mulut, palatum, dan pipi biasanya disebut sebagai
monilia albicans.

Pemeriksaan ekstremitas

Pemeriksaan ini berfungsi untuk menilai ada tidaknya gerakan ekstremitas abnormal,
asimetris, posisi dan gerakan yang abnormal (menghadap ke dalam atau ke luar garis tangan),
serta menilai kondisi jari kaki, yaitu jumlahnya berlebih atau saling melekat.

Pemeriksaan Dada

Bentuk dan kesimetrisan

Lingkar dada pada putting susu

Keberadaan jaringan payudara

Pernapasan. Biasaya pernapasan abdomen pada bayi baru lahir ; frekuensi normalnya
adalah30-60 x/menit, dihitung selama 1 menit penuh. Frekuensi napas > 60 x/menit
mengindikasikan adanya penyakit.
10

Bunyi jantung. Nada terdengar lebih tinggi daripada yang terdengar pada orang dewasa.
Sinus aritmia (varian teratur yang menyertai pernapasan) adalah temuan normal.
Denyut jantung rata-rata adalah 110160 x/menit pada bayi cukup bulan yang sehat. Pada bayi premature, denyut jantung ratarata 140-150 x/menit pada saat istirahat.

Nadi. Nadi sempit dan halus mengindikasikan gagal jantung kongenital atau stenosis
aortaberat ; denyut yang melonjak dapat mengindikasikan PDA.

Tekanan darah. Bagi bayi baru lahir sampai usia 7 hari, TD sistolik >96 mmHg
merupakanhipertensi signifikan dan TD >106 mmHg merupakan hipertensi berat. Untuk
bayi usia 8-30hari, TD sistolik >104 mmHg merupakan hipertensi signifikan dan TD
>110 mmHgmerupakan hipertensi berat.

Perkusi. Dikaji dengan menggunakan 1 jari, paru bayi baru lahir pada kondisi normal
hiperresonan di seluruh bidang paru suara redup dapat mengindikasikan ada efusi atau
konsolidasi.

Pemeriksaan abdomen dan punggung

Pemeriksaan pada abdomen ini meliputi pemeriksaan secara inspeksi untuk


melihatbentuk

dari

didugakemungkinan

abdomen,
disebabkan

apabila
karena

didapatkan

abdomen

hepatosplenomegali

membuncit,
atau

cairan

dapat
dalam

rongga perut.
-

Pada perabaan, hati biasanya teraba 2-3 cm di bawah arkus kosta kanan, limfa teraba 1cm
dibawah arkus kosta kiri.

Pada palpasi ginjal dapat dilakukan dengan pengaturan posisi telentang dan tungkai
bayidilipat agar otot-otot dinding perut dalam keadaan relaksasi, batas bawah ginjal
dapatdiraba setinggi umbilicus diantara garis tengah dan tepi perut. Bagian-bagian
ginjaldapat diraba sekitar 2-3 cm. adanya pembesaran pada ginjal dapat disebabkan
olehneoplasma, kelainan bawaan, atau thrombosis vena renalis.

Untuk menilai daerah punggung atau tulang belakang, cara pemeriksaannya adalahdengan
meletakkan bayi dalam posisi tengkurap. Raba sepanjang tulang belakang untukmencari
ada atau tidaknya kelainan seperti spina bifida atau mielomeningeal (defektulang
punggung, sehingga medulla spinalis dan selaput otak menonjol).

Pemeriksaan genitalia

Berfungsi untuk mengetahui keadaan labium minor yang tertutup oleh labia mayor, lubang
uretra dan lubang vagina seharusnya terpisah, namun apabila ditemukan satu lubang maka

11

didapatkan terjadinya kelainan dan apabila ada sekret pada lubang vagina, hal tersebut karena
pengaruh hormon.
Pada bayi laki-laki sering didapatkan fimosis, secara normal panjang penis pada bayi
adalah3-4 cm dan 1-1,3 cm untuk lebarnya, kelainan yang terdapat pada bayi adalah
adanyahipospadiayang merupakan defek di bagian ventral ujung penis atau defek sepanjang
penisnya. Epispadia merupakan kelainan defek pada dorsum penis.
2) Pemeriksaan Reflex2
Berikut ini beberapa reflex pada bayi beserta usia mulai dan menghilangnya reflex
Jenis reflex

Usia mulai

Reflex moro

Sejak lahir

Usiamenghilang
6 bulan

Reflex memegang (grasp)

Palmar

Sejak lahir

6 bulan

Plantar

Sejak lahir

9-10 bulan

Reflex snout

Sejak lahir

3 bulan

Reflex tonic neck

Sejak lahir

5-6 bulan

Reflex berjalan (stepping)

Sejak lahir

12 bulan

Reaksi penempatan taktil (placing 5 bulan

respon)

Reflex air terjun (parachute)

8-9 bulan

Seterusnya ada

Reflex landau

3 bulan

21 bulan

Reflek Moro
12

Timbul akibat dari rangsangan yang mendadak. Caranya : Bayi dibaringkan terlentang,
kemudian diposisikan setengah duduk dan disanggah olehkedua telapak tangan
pemeriksa, secara tiba-tiba tapi hati-hati kepala bayi dijatuhkan 30-450 (merubah posisi
badan

anak

secara

mendadak).

Refleks

moro

juga

dapat

ditimbulkan

denganmenimbulkan suara keras secara mendadak ataupun dengan menepuk tempat


tidur bayi secaramendadak ataupun dengan menepuk tempat tidur bayi secara
mendadak.
Refleks moro dikatakan positif bila terjadi abduksi-ekstensi keempat ekstremitas dan
pengembangan jari-jari, kecuali pada falangs distal jari telunjuk dan ibu jari yang dalam
keadaan fleksi. Gerakan itu segera diikuti oleh adduksi-fleksi keempat ekstremitas.
Refleks moro asimetri menunjukkan adanya gangguan system neuromuscular antara
lain pleksus brakhialis. Apabila asimetri terjadi pada tangan dan kaki kita harus
mencurigai adanya hemiparesis. Nyeri yanghebat akibat fraktur klavikula atau
humerus juga dapat memberikan hasil refleks MORO asimetri.
Sedangkan refleks moro menurun dapat ditemukan pada bayi dengan fungsi SSP yang
tertekan misalnya pada bayi yang mengalami hipoksia, perdarahan intracranial dan
laserasi jaringan otak akibat trauma persalinan, juga pada bayi hipotoni, hipertoni dan
premature. Refleks moro menghilang setelah bayi berusia > 6 bulan.

Refleks PALMAR GRASP

Caranya : Bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi, kepala menghadap ke depan
dan tangan dalam keadaan setengah fleksi. Dengan memakai jari telunjuk pemeriksa
menyentuh sisiluar tangan menuju bagian tengah telapak tangan secara cepat dan hatihati sambil menekan permukaan telapak tangan. Refleks palmar Grasp dikatakan positif
apabila didapatkan fleksi seluruh jari (memegangtangan pemeriksa). Refleks palmar
grasp asimetris menunjukkan adanya kelemahan otot-otot fleksor jari tangan yang
dapat disebabkan akibat adanya palsi pleksus brakhialis inferior atau yang disebut
klumkes paralyse. Refleks Palmar Grasp ini dijumpai sejak lahir dan menghilang setelah
usia 6 bulan. Refleks palmar grasp yang menetap setelah usia 6 bulan khas dijumpai
pada penderita cerebral palsy.

Refleks PLANTAR GRASP

Caranya : bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi kemudian ibu jari tangan
pemeriksamenekan pangkal ibu jari bayi atau anak di daerah plantar. Refleks plantar
13

grasp dikatakanpositif apabila didapatkan fleksi plantar seluruh jari kaki. Refleks
refleks plantar grasp negativedijumpai pada bayi atau anak dengan kelainan pada
medulla spinalis bagian bawah. Refleks iniijumpai sejak lahir, mulai menghilang usia 9
bulan dan pada usia 10 bulan sudah menghilangsama sekali.

Refleks SNOUT

Caranya : dilakukan perkusi pada daerah bibir atas. Refleks SNOUT dikatakan positif
apabila didapatkan respon berupa bibir atas dan bawah menyengir atau kontraksi otototot di sekitar bibir dan di bawah hidung. Refleks SNOUT ini dijumpai sejak lahir dan
menghilang setelah usia 3bulan. Refleks SNOUT yang menetap pada anak besar
menunjukkan adanya regresi SSP.

Refleks TONIC NECK

Caranya : bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi, kemudian kepalanya
diarahkanmenoleh ke salah satu sis. Refleks ini dikatakan positif apabila lengan dan
tungkai yangdihadapi/ sesisi menjadi hipertoni dan ekstensi, sedangkan lengan dan
tungkai sisilainnya/dibelakangi menjadi hipertoni dan fleksi. Refleks ini menghilang
setelah usia 5-6 bulan.Refleks tonic neck yang masih mantap pada bayi berusia 4 bulan
harus dicurigai abnormal. Danapabila masih bisa dibangkitkan setelah berusia 6 bulan
atau lebih harus sudah dianggap patologik. Gangguan yang terjadi biasanya
pada ganglion basalis.

Refleks Berjalan (STEPPING)

Caranya ; bayi dipegang pada daerah torax dengan kedua tangan pemeriksa.
Kemudianpemeriksa mendaratkan bayi dalam posisi berdiri di atas tempat periksa.
Pada bayi berusia < 3bulan, salah satu kaki yang menyentuh alas tempat periksa akan
berjingkat sedangkan padayang berusia >3 bulan akan menapakkan kakinya. Kemudian
diikuti oleh kaki lainnya dan kakiyang sudah menyentuh alas periksa akan berekstensi
seolah-olah

melangkah

untuk

melakukangerakan

berjalan otomatis. Refleks

berjalan tidak dijumpai atau negative pada penderita cerebral palsy, mental retardasi,
hipotoni, hipertoni, dan keadaan dimana fungsi SSP tertekan.

Reaksi Penempatan Taktil (PLACING RESPONSE)

Caranya : seperti pada refleks berjalan, kemudian bagian dorsal kaki bayi disentuhkan
pada tepimeja periksa. Respon dikatakan positif bila bayi meletakkan kakinya pada
meja periksa. Responnegative dijumpai pada bayi dengan paralise ekstremitas bawah.

Refleks Terjun (PARACHUTE)


14

Caranya : Bayi dipegang pada daerah thorax dengan kedua tangan pemeriksa dan
kemudian diposisikan seolah-olah akan terjun menuju meja periksa dengan posisi
kepala lebih rendah dari kaki. Refleks terjun dikatakan positif apabila kedua lengan bayi
diluruskan dan jari-jari kedua tangan dikembangkan seolah-olah hendak mendarat di
atas meja periksa.
Gejala Klinik3
Fisik

bayi kecil

pergerakan kurang dan masih lemah

kepala lebih besar dari pada badan

berat badan < 2500 gram

Kulit dan kelamin

kulit tipis dan transparan

lanugo banyak

rambut halus dan tipis

genitalia belum sempurna

Sistem syaraf

refleks moro

refleks menghisap, menelan, batuk belum sempurna.

Sistem muskuloskeletal

axifikasi tengkorak sedikit

ubun-ubun dan satura lebar

tulang rawan elastis kurang

otot-otot masih hipotonik

tungkai abduksi

sendi lutut dan kaki fleksi

Sistem pernafasan

pernafasan belum teratur sering apnoe

frekwensi nafas bervariasi

Working Diagnosis3,6

15

Bayi Kurang Bulan,Kecil Masa Kehamilan, dengan BBLR/BBLSR dan RDS (Respiratory
Distress Syndrom) merupakan bayi yang lahir sebelum waktunya dengan kecil kehamilan
dimana berat badan lahir rendah mengacu pada kelahiran dengan berat 500-2500g dan berat
badan sangat rendah 500-1500g

yang disertai dengan gejala kebocoran udara/displasia

bronkopulmoner.
Klasifikasi :6
a) Berdasarkan Berat Badan :
-

Low Birth Weight (LBW) dimana berat badannya 1500 - <2500 g

Very Low Birth Weight (VLBW) dimana berat badaan bayi baru lahir 1000 g <1500g

Extremely Low Birth Weight (ELBW) dimana berat badan bayi baru lahir <1000 g

b) Berdasarkan umur kehamilan :


-

Bayi prematur murni


Masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat
badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk
masa kehamilan (NKB-SMK)

Dismaturitas Kecil dibanding masa kehamilan (KMK)

Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu.
Terbagi atas :

Bayi kurang bulan ialah bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu

Bayi cukup bulan ialah bayi dengan masa kehamilan mulai 37 minggu sampai 42 minggu.

Bayi lebih bulan ialah bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu atau lebih.
Prematur
36 minggu

Normal
37-41
Minggu

Lebih
Bulan
42
mingu

Penatalaksanaan4

16

Dengan memperhatikan gambaran klinik dan berbagai kemungkinanan yang dapat terjadi
pada bayi prematuritas maka perawatan dan pengawasan ditujukan pada pengaturan suhu,
pemberian makanan bayi, Ikterus, pernapasan, hipoglikemi dan menghindari infeksi.

Pengaturan suhu badan bayi prematuritas


Bayi prematur dengan cepat akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermi karena
pusat pengaturan panas belum berfungsi dengan baik metabolisme rendah dan permukaan
badan relatif luas oleh karena itu bayi prematuritas harus dirawat dalam inkubator
sehingga panas badannya mendekati dalam rahim , apabila tidak ada inkubator bayi dapat
dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol berisi air panas sehingga panas
badannya dapat dipertahhankan.

Makanan bayi prematur


Alat pencernaan bayi belum sempurna lambung kecil enzim pencrnaan belum matang
sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kg BB dan kalori 110 kal/kgBB sehingga
pertumbuhan dapat meningkat. Pemberian minumbayi sekitar 3 jam setelahn lahir dan
didahului dengan menghisap cairan lambung, reflek masih lemah sehingga pemberian
minum sebaiknya sedikit demi sedikit dengan frekwensi yang lebih sering. Asi
merupakan makanan yasng paling utama sehingga ASI lah ynag paling dahulu diberikan,
bila faktor menghisapnya kurang maka ASI dapat diperas dan diberikan dengan sendok
perlahan lahan atau dengan memasang sonde. Permulaan cairan yang diberikan 50-60
cc/kgBB/hari terus dinaikan sampai mencapai sekitar 200 cc/kgBB/hari

Ikterus
Semua bayi prematur menjadi ikterus karena sistem enzim hatinya belum matur dan
bilirubin tak berkonjugasi tidak dikonjugasikan secara efisien sampai 4-5 hari berlalu.
Ikterus dapat diperberat oleh polisetemia, memar hemolisis dan infeksi karena
hiperbilirubinemia dapat menyebabkan kernikterus maka warna bayi harus sering dicatat
dan bilirubin diperiksa bila ikterus muncul dini atau lebih cepat bertambah coklat

Pernapasan
Bayi prematur mungkin menderita penyakit membran hialin. Pada penyakit ini tandatanda gawat pernafasan selalu ada dalam 4 jam bayi harus dirawat terlentang atau
tengkurap dalam inkubator dada abdomen harus dipaparkan untuk mengobservasi usaha
pernapasan

17

Hipoglikemi
Mungkin paling timbul pada bayi prematur yang sakit bayi berberat badan lahir rendah,
harus diantisipasi sebelum gejala timbul dengan pemeriksaan gula darah secara teratur

Menghindari Infeksi
Bayi prematuritas mudah sekali mengalami infeksi karena daya tahan tubuh masih lemah,
kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan antibodi belum sempurna. Oleh
karena itu tindakan prefentif sudah dilakukan sejak antenatal sehingga tidak terjadi
persalinan dengan prematuritas (BBLR)

Komplikasi2,5,6
Sindroma distress respiratory
Terjadi pada 10% bayi kurang bulan. Nampak konsolidasi paru progresif akibat kurangnya
surfaktan yang menurunkan tegangan permukaan di alveoli dan mencegah kolaps. Pada
waktu atau segera setelah lahir bayi akan mengalami :

rintihan waktu inspirasi

napas cuping hidung

kecepatan respirasi leih dari 70/ menit

tarikan waktu inspirasi pada sternum ( tulang dada )

Nampak gambaran sinar- X dada yang khas bronkogrm udara dan pemeriksaan gas darah
menunjukkan :

kadar oksigen arteri menurun

konsentrasi CO2 meningkat

asidosis metabolic

Pengobatan dengan oksigen yang dilembabkan, antibiotika, bikarbonas intravena dan


makanan intravena. Mungkin diperlukan tekanan jalan positif berkelanjutan menggunakan
pipa endotrakea. Akhirnya dibutuhkan pernapasan buatan bila timbul gagal napas dengan
pernapasan tekanan positif berkelanjutan.

18

Kesimpulan
Kelahiran kurang bulan atau prematur merupakan istilah yang digunakan untuk
mendefinisikan neonatus yang dilahirkan terlalu dini. Berdasarkan usia kehamilan, bayi yang
baru lahir mungkin kurang bulan, Dilihat berdasarkan ukuran, bayi yang baru lahir mungkin
kecil ukurannya yaitu kecil masa kehamilan (kurang dari 37 minggu) dengan masalah jangka
pendek yaitu Respiratory distress syndrom.

19

Daftar Pustaka
1. Pemeriksaan

Fisik

Neonatal.

Diunduh

dari

http://www.scribd.com/doc/36983654/Pemeriksaan-Fisik-Neonatal, 04 Juni 2013.


2. Mafula l. Konsep dan asuhan keperawatan pada bayi baru lahir beserta kelainannya.
http://www.scribd.com/doc/76029667/15/Cara-menilai-APGAR-Score, 04 Juni 2013.
3. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jilid 3.
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universtas Indonesia ; 2007. h.1040-53
4. Behrman re, voughan vc. Nelson : Ilmu Kesehatan Anak. Vol 1. Edisi ke-15. Jakarta :
EGC. 2009.
5. Hidayat, Alimul A. Pengantar ilmu keperawatan anak 1. Jakarta : Penerbit Salemba
Medica. 2005.
6. Cunningham fg.Obstetri williams : penerbit buku kedokteran.Edisi ke 23.Jakarta :
EGC.h.846-859.

20