Anda di halaman 1dari 2

INVENTARISASI EMISI PENCEMARAN UDARA DAN GAS RUMAH

KACA DI JABODETABEK DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIG


(SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS)
Hadiyah Asma Noor A.1 dan Asep Sofyan2
Program Studi Teknik Lingkungan
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganesha No. 10 Bandung 40132
1
hadiyah.asma@yahoo.com dan 2asep@ftsl.itb.ac.id

PENDAHULUAN
Laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi berpengaruh
terhadap industrialisasi wilayah perkotaan yang ditandai
dengan pembanguan fisik kota dan berdirinya pusat-pusat
industri disertai dengan melonjaknya produksi kendaraan
bermotor. Hal ini mengakibatkan peningkatan kepadatan
lalu lintas dan hasil buangan produksi yang merupakan
salah satu sumber pencemaran udara yang berpotensi
menimbulkan masalah lingkungan yang serius terutama di
Negara berkembang (Mayer, 1999), begitu pula dengan
dampak kesehatan. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu
kebijakan yang aplikatif mengenai pengendalian dan
penanggulangan pencemaran udara.
Pada penelitian ini dilakukan inventarisasi emisi di
wilayah Jabodetabek yang mana diketahui sebagai salah
satu wilayah dengan arus urbanisasi tertinggi di Indonesia
dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0.95-4.23%
per tahun.
METODOLOGI
Pada penelitian ini dilakukan estimasi nilai beban
emisi yang dihasilkan oleh sektor kegiatan berikut: (1)
industri; (2) transportasi; (3) penggunaan bahan bakar
sebagai sumber energi pada sektor domestik (rumah
tangga); (4) limbah padat; (5) pertanian; dan (6)
peternakan. Perhitungan dilakukan terhadap gas pencemar
udara CO, SO2, NOx, PM10, dan GRK CO2 dan CH4.
Perhitungan yang dilakukan pada dasarnya mengacu
pada IPCC Guidelines (2006) dan IPCC Good Practice
Guidance (2001), adapun sumber lain ditinjau untuk
mendapat metode perhitungan yang lebih aplikatif untuk
diterapkan pada sektor tertentu pada penelitian ini, di
antaranya penggunaan metode IPPS (Industrial Pollution
Projection System) untuk sektor industri.
Pada dasarnya estimasi emisi diperoleh dengan
mengalikan faktor emisi untuk setiap spesies polutan
dengan data aktivitas pada setiap sektor sumber. Data
aktivitas diperoleh dari badan pemerintahan dan badan
usaha terkait.
Selain tabular dan grafik, penyajian data juga
dilakukan secara spasial dengan menggunakan metode SIG
(Sistem Informasi Geografis) dimana data emisi
didistribusikan ke dalam peta geografis wilayah studi
dalam format grid dengan resolusi 1 km x 1 km.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambar 1 menunjukkan kontribusi tiap sektor
kegiatan terhadap total emisi pencemar spesifik. Dapat

AP-1

dilihat bahwa sektor transportasi secara keseluruhan


memberikan kontribusi terbesar terhadap total
emisi, sedangkan secara spesifik terhadap emisi
CO, CO2, NOx, dan PM10. Emisi SO2 terbesar
dihasilkan dari sektor industri diikuti oleh sektor
transportasi. Emisi CH4 terbesar dihasilkan oleh
sektor limbah dan sektor pertanian dengan bobot
sebesar 45.63% dan 43.30% secara berurutan
diikuti oleh sektor transportasi sebesar 8.53%.

Gambar 1 Persentase kontribusi sektor kegiatan


terhadap jumlah total emisi

Gambar 2 Beban emisi (a) CO; (b) SO2; (c) NOx ;


(d) PM10; (e) CO2; (f) CH4 Jabodetabek
Untuk polutan CO, CO2, NOx, dan PM10,
dimana emisi sebagian besar dihasilkan oleh sektor

transportasi, berdasarkan Gambar 2(a),(c),(d), dan (e)


dapat dilihat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan
dari karakteristik timbulan emisi pada tiap daerah dengan
emisi tertinggi dihasilkan oleh Kabupaten Tangerang
diikuti oleh Jakarta Selatan dan Kota Tangerang. Hal ini
disebabkan oleh tingginya tingkat pertumbuhan kendaraan
bermotor pada Kabupaten Tangerang, Jakarta Selatan, dan
Kota Tangerang dibanding kota-kota lainnya di
Jabodetabek (Viva, 2008).
Gambar 2(b) menunjukkan beban emisi SO2 yang
dihasilkan tiap kabupaten dan kota. Dapat dilihat bahwa
emisi tertinggi dihasilkan oleh sektor industri di Jakarta
Utara diikuti Jakarta Timur. Nilai ini dipengaruhi oleh
jumlah emisi aktual dari pemakaian bahan bakar pada
sektor industri. Dari hasil perhitungan, emisi aktual SO2
Jakarta Utara memiliki nilai lebih dari 2 kali lebih besar
dari emisi aktual SO2 Jakarta Timur, sementara emisi
aktual SO2 Jakarta Barat 5 kali lebih kecil dari emisi aktual
SO2 Jakarta Timur.
Tingginya nilai emisi CH4 pada sektor pertanian
disebabkan oleh luas lahan sawah basah dimana terjadi
dekomposisi materi organik secara anaerob sehingga
menghasilkan gas CH4. Secara kuantitatif, luas lahan
sawah basah terbesar terdapat di Kabupaten Bekasi diikuti
oleh Kabupaten Bogor dan Kabupaten Tangerang dengan
nilai 108.930 Ha, 79.693 Ha, dan 73.518 Ha secara
berurutan. Sebuah studi menyatakan bahwa kontribusi
lahan sawah dalam menghasilkan emisi CH4 mencapai 629% dari total emisi CH4 dalam skala global (Neue, 1993).
Pada Gambar 2(f) perlu diperhatikan pula bahwa
emisi CH4 banyak dihasilkan oleh sektor limbah pada
Kabupaten Bogor dan terutama Kota Bekasi. Hal ini
disebabkan oleh keberadaan TPA Sampah pada daerahdaerah tersebut.

Gambar 3 Distribusi spasial emisi (a) CO; (b) SO2; (c)


NOx; (d) PM10; (e) CO2; (f) CH4 dalam format grid dengan
resolusi 1 km x 1 km
AP-2

Pada Gambar 3(b), sesuai dengan Gambar


2(b), intensitas emisi tertinggi SO2 terdapat di
Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Berdasarkan
Gambar 3(b) nilai emisi SO2 di Kabupaten Bogor
dan Tangerang terbilang cukup tinggi, namun pada
kenyataannya setelah dialokasikan ke dalam grid,
dapat dilihat (Gambar 3(b)) bahwa intensitas emisi
pada Kabupaten Bogor dan Tangerang tidak begitu
tinggi. Hal ini disebabkan oleh data yang disajikan
pada Gambar 2 merupakan data kuantitatif total
sementara dibutuhkan pengetahuan mengenai
kondisi aktual persebaran emisi yang mendetail
untuk menentukan kebijakan lingkungan yang perlu
diambil. Begitu pula halnya dengan intensitas emisi
CO2 di Kabupaten Bogor dimana pada Gambar
3(e) dapat dilihat bahwa intensitas emisi CO2 di
Kabupaten Bogor kurang lebih serupa dengan
intensitas emisi CO2 di Kabupaten Bekasi
sementara analisis kuantitatif menunjukkan bahwa
ada selisih nilai yang cukup signifikan antara dua
wilayah tersebut.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil perhitungan beban emisi,
ditemukan bahwa untuk Jabodetabek, penghasil
polutan terbesar merupakan sektor transportasi,
diikuti oleh sektor industri dan sektor limbah.
Berdasarkan hasil distribusi emisi secara
spasial diperoleh hasil bahwa selain untuk CH4,
nilai emisi tertinggi dihasilkan di daerah perkotaan
yaitu DKI Jakarta dan Kota Tangerang. Sedangkan
untuk gas CH4, emisi tertinggi berada di daerah
dimana terdapat TPA, yaitu Kota Bekasi dan
Kabupaten Bogor.
Selain analisis kuantitatif, analisis distribusi
spasial dibutuhkan untuk mengamati persebaran
emisi secara kualitatif dimana analisis kuantitatif
saja tidak cukup untuk menggambarkan persebaran
emisi terhadap kondisi geografis suatu daerah.
Adapun hasil gridding mempermudah identifikasi
karakteristik wilayah dan meningkatkan akurasi
data.
DAFTAR PUSTAKA
Intergovernmental Panel on Climate Change, 2006.
IPCC Guidelines for National Greenhouse
Gas Inventories.
Mayer, Helmut. 1999. Air pollution in Cities.
Atmospheric Environment. 9: 4029-4037
Neue, H. 1993. Methane emission from rice fields:
Wetland rice fields may make a major
contribution to global warming. BioScience 43
(7): 466-73.
Streets et al., 2003. Biomass burning in Asia:
annual
and
seasonal
estimates
and
atmospheric emissions.
Viva.
2008.
Data
Jumlah
Kendaraan.
(http://metro.vivanews.com/news/read/9762data_jumlah_kendaraan_1, diakses 24 Mei
2012)
Zhang et al., 2000. Greenhouse gases and other
airborne pollutants from household stoves in
China: a database for emission factors.