Anda di halaman 1dari 11

GANGGUAN HIPERAKTIF DAN DEFISIENSI ATENSI ANAK

Jeffry Rulyanto Simamora


10.2011.414
Fak.Kedokteran UKRIDA
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510
Email: fasterthanvelocity@yahoo.com

Pendahuluan
Ditinjau secara psikologis, hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal
yang disebabkan disfungsi neurologia dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian.
Begitu pula anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian.
Gangguan ini disebabkan kerusakan kecil pada system saraf pusat dan otak sehingga
rentang konsentrasi penderita menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan. Penyebab lainnya
dikarenakan temperamen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak, serta epilepsi. Atau bisa
juga karena gangguan di kepala seperti geger otak, trauma kepala karena persalinan sulit atau
pernah terbentur, infeksi, keracunan, gizi buruk, dan alergi makanan. Hiperaktif menunjukkan
adanya suatu pola perilaku yang menetap pada seorang anak. Perilaku ini ditandai dengan sikap
tidak mau diam, tidak bisa berkonsentrasi dan bertindak sekehendak hatinya atau impulsif. 1

Anamnesis

Identitas
Ditanyakan identitas anak dan orang tua : Nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan,
suku/bangsa, alamat lengkap.

Alasan Datang/Keluhan

Data kebiasaan sehari-hari

Riwayat Psikososial, Spiritual dan Ekonomi

Pemeriksaan
Untuk pemeriksaan menyeluruh dapat menggunakan kuisioner DSM IV.1,2
KRITERIA A MASING-MASING (1) ATAU (2)
(1) Enam atau lebih dari gejala

(1) Enam atau lebih gejala dari kurang perhatian atau konsentrasi yang tampak paling sedikit 6
bulan terakhir pada tingkat maladaptive dan tidak konsisten dalam perkembangan

INATTENTION
a. Sering gagal dalam memberi perhatian secara erat secara jelas atau membuat
kesalahan yang tidak terkontrol dalam :
1.

sekolah

2.

bekerja

3.

aktifitas lainnya

b. Sering mengalami kesulitan menjaga perhatian/ konsentrasi dalam menerima tugas atau
aktifitas bermain.
c. Sering kelihatan tidak mendengarkan ketika berbicara secara langsung
1. Menyelesaikan pekerjaan rumah
2. Pekerjaan atau tugas
3. Mengerjakan perkerjaan rumah (bukan karena perilaku melawan)
4. Gagal untuk mengerti perintah
d. Sering kesulitan mengatur tugas dan kegiatan
e. Sering menghindar, tidak senang atau enggan mengerjakan tugas yang membutuhkan

usaha (seperti pekerjaan sekolah atau perkerjaan rumah)


f.

Sering kehilangan suatu yang dibutuhkan untuk tugas atau kegiatan ( permainan, tugas
sekolah, pensil, buku dan alat sekolah lainnya ))

g. Sering mudah mengalihkan perhatian dari rangsangan dari luar yang tidak berkaitan
h. Sering melupakan tugas atau kegiatan segari-hari

(2) Enam atau lebih gejala dari hiperaktivitas/impulsifitas yang menetap dalam 6 bulan terakhir

HIPERAKTIFITAS

1. Sering merasa gelisah tampak pada tangan, kaki dan menggeliat dalam tempat duduk
2. Sering meninggalkan tempat duduk dalam kelas atau situasi lain yang mengharuskan tetap duduk.
3. Sering berlari dari sesuatu atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak seharusnya
(pada dewasa atau remaja biasanya terbatas dalam keadaan perasaan tertentu atau kelelahan )

4. Sering kesulitan bermain atau sulit mengisi waktu luangnya dengan tenang.
5. isering berperilaku seperti mengendarai motor
6. Sering berbicara berlebihan

IMPULSIF
a.Sering mengeluarkan perkataan tanpa berpikir, menjawab pertanyaan sebelum pertanyaannya selesai.
b. Sering sulit menunggu giliran atau antrian
c. Sering menyela atau memaksakan terhadap orang lain (misalnya dalam percakapan atau permainan).

KRITERIA B: Gejala hiperaktif-impulsif yang disebabkan gangguan sebelum usia 7 tahun.


KRITERIA C : Beberapa gangguan yang menimbulkan gejala tampak dalam sedikitnya 2 atau lebih
situasi ( misalnya di kelas, di permainan atau di rumah )
KRITERIA D : Harus terdapat pengalaman manifestasi bermakna secara jelas mengganggu kehidupan
sosial, akademik, atau pekerjaan )
KRITERIA E : Gejala tidak terjadi sendiri selama perjalanan penyakit dari Pervasive Developmental

Disorder, Schizophrenia, atau gangguan psikotik dan dari gangguan mental lainnya (Gangguian
Perasaan, Gangguan kecemasan, Gangguan Disosiatif atau gangguan kepribadian)

Diagnosa hiperaktifitas tidak dapat dibuat hanya berdasarkan informasi sepihak dari
orang tua penderita saja tetapi setidaknya informasi dari sekolah, serta penderita harus dilakukan
pemeriksaan meskipun saat pemeriksaan penderita tidak menunjukkan tanda-tanda hiperaktif,
dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi saat pemeriksaan dan kemungkinan hal lain yang
mungkin mejadi pemicu terjadinya hiperaktifitas. Pada beberapa kasus bahkan membutuhkan
pemeriksaan psikometrik dan evaluasi pendidikan. Hingga saat ini belum ada suatu standard
pemeriksaan fisik dan psikologis untuk hiperaktifitas. Ini berarti pemeriksaan klinis haruslah
dilakukan dengan sangat teliti meskipun belum ditemukan hubungan yang jelas antara jenis
pemeriksaan yang dilakukan dengan proses terjadinya hiperaktifitas. Beragam kuesioner dapat
disusun untuk membantu mendiagnosa, namun yang terpenting adalah perhatian yang besar dan
pemeriksaan yang terus-menerus, karena tidak mungkin diagnosa ditegakkan hanya dalam satu
kali pemeriksaan.
Bila didapatkan seorang anak dengan usia 6 hingga 12 tahun yang menunjukkan tandatanda hiperaktif dengan prestasi akademik yang rendah dan kelainan perilaku, hendaknya
dilakukan evaluasi awal kemungkinan.2

Diagnosis
Gangguan hiperkinetik/ADHD adalah gangguan pada anak yang timbul pada masa
perkembangan dengan ciri utama tidak mampu memusatkan perhatian, hiperaktif dan impulsif.
Ciri perilaku ini mewarnai berbagai situasi dan dapat berlanjut hingga dewasa. ADHD atau
Attention Deficite Hyperactivity Disorder pada anak yang merupakan gangguan perilaku yang
semakin sering ditemukan. Seringkali karena kurang pemahaman dari orangtua dan guru serta
orang-orang disekitarnya anak diperlakukan tidak tepat sehingga cenderung memparah keadaan.
Terdapat beberapa pegangan dalam mendiagnosa ADHD, gejala hiperaktifitas harus dapat dilihat
pada setidaknya di dua tempat yang berbeda dengan kondisi (setting) yang berbeda pula.3, 4

Diagnosis Banding
Retardasi Mental
Retardasi mental adalah suatu penurunan fungsi intelektual secara menyeluruh yang
terjadi pada masa perkembangan dan dihubungkan dengan gangguan adaptasi sosial. Ada 3 hal
penting yang merupakan kata kunci dalam definisi ini yaitu penurunan fungsi intelektual,
adaptasi sosial, dan masa perkembangan. 2,4
Gangguan perilaku menentang
Gangguan perilaku menentang atau biasa disebut ODD (oppositional defiant disorder) adalah
gangguan sikap menentang yang terdiri atas pola menetap sikap tidak kooperatif, tidak patuh,
dan perilaku bermusuhan terhadap figure yang berwenang yang tidak mencakup pelanggran
antisocial utama. 2,4

Etiologi
Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif antara lain 5:
a. Faktor Genetik
Didapatkan korelasi yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga dengan anak
hiperaktif. kurang lebih sekitar 25-35% dari orang tua dan saudara yang masa kecilnya
hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga dapat terlihat pada anak laki-laki dengan
ekstra kromosom Y yaitu XYY, kembar satu telur lebih memungkinkan hiperaktif dibanding
kembar dua telur.
b. Faktor Neurologik
Penelitian menunjukan, insiden anak hiperaktif lebih banyak didaptakan pada bayi yang
lahir dengan masalah-masalah prenatal yang disebabkan karena gangguan fungsi otak akibat
sulit saat kelahiran, penyakit berat, cidera otak. Disamping itu factor seperti bayi lahir dengan
berat badan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok dan minum alcohol juga
meninggikan insiden hiperaktif. Faktor etiologi dalam bidang neurologi yang sampai kini
banyak dianut adalah terjadinya disfungsi pada salahsatu neorotransmiter diotak yang
bernama dopamine . Dopamin merupakan zat aktif yang berguna untuk memlihara proses
konsentrasi
c. Faktor toksik

Beberapa zat makanan seperti selisilat dan bahan bahan pengawet memiliki potensi
untuk memebentuk perilaku hiperaktif pada anak, Karena kadar timah lead dalam serum
darah anak akan meningkat. Disamping itu, ibu yang merokok dan mengonsumsi alcohol,
terkena sinar x pada saat hamil, juga dapat melahirkan calon anak hiperaktif
d. Faktor Kultural dan Psikososial
1. Pemanjaan.
Pemanjaan dapat juga disamakan dengan memperlakukan anak terlalu manis, membujukbujuk makan, membiarkan saja, dan sebagainya. Anak yang terlalu dimanja itu sering
memilih caranya sendiri agar terpenuhi kebutuhannya.
2. Kurang disiplin dan pengawasan.
Anak yang kurang disiplin atau pengawasan akan berbuat sesuka hatinya, sebab
perilakunya kurang dibatasi. Jika anak dibiarkan begitu saja untuk berbuat sesuka hatinya
dalam rumah, maka anak tersebut akan berbuat sesuka hatinya ditempat lain termasuk di
sekolah. Dan orang lain juga akan sulit untuk mengendalikannya di tempat lain baik di
sekolah.
e. Orientasi kesenangan.
Anak yang memiliki kepribadian yang berorientasi kesenangan umumnya akan memiliki
ciri-ciri hiperaktif secara sosio-psikologis dan harus dididik agak berbeda agar mau
mendengarkan dan menyesuaikan diri.

Klasifikasi
Gangguan ini dibagi menjadi beberapa tipe, yakni 4,5 :
1. Tipe inatentif predominan
Tipe anak yang tidak bisa memusatkan perhatian. Mereka sangat mudah terganggu
perhatiannya, tetapi tidak hiperaktif atau Impulsif. Mereka tidak menunjukkan gejala
hiperaktif. Mereka seringkali melamun dan dapat digambarkan seperti sedang berada di
awang-awang.
2. Tipe hiperaktivitas dan impulsivitas predominan
Tipe anak yang hiperaktif dan impulsive. Mereka menunjukkan gejala yang sangat hiperaktif
dan impulsif, tetapi bisa memusatkan perhatian. Tipe ini seringkali ditemukan pada anakanak kecil.
6

3. Tipe kombinasi
Tipe gabungan. Mereka sangat mudah terganggu perhatiannya, hiperaktif dan impulsif.
Kebanyakan anak anak termasuk tipe seperti ini.
Gejalanya akan mulai muncul dan nampak pada usia sekolah, karena pada usia inilah anak
mulai menggunakan otaknya dalam belajar dan ia mulai memiliki teman dan mengenali
lingkungan barunya.

Gejala Klinik
Gejala atau tanda yang sering didapatkan pada anak hiperaktif atau anak penderita
attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD) 5
1. Tidak fokus
Anak dengan gangguan hiperaktif tidak bisa konsentrasi lebih dari lima menit. Tidak memiliki
focus yang jelas dan melakukan sesuatu tanpa tujuan. Cenderung tidak mampu melakukan
sosialisasi dengan baik.
2. Sulit untuk dikendalikan
Anak hiperaktif memang selalu bergerak, nakal. Keinginannya harus segera dipenuhi. Tidak bisa
diam dalam waktu lama dan mudah teralihkan.
3. Impulsif,
Melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa dipikir lebih dahulu. Selalu ingin meraih dan
memegang apapun yang ada di depannya. Gangguan perilaku ini biasanya terjadi pada anak usia
prasekolah dasar, atau sebelum mereka berusia 7 tahun.
4. Menentang
Umumnya memiliki sikap penentang/pembangkang/tidak mau dinasehati. Penolakannya
ditunjukkan dengan sikap cuek.
5. Destruktif
Destruksif atau merusak. Merusak mainan yang dimainkannya dan cenderung menghancurkan
sangat besar.
6. Tidak kenal lelah
Sering tidak menunjukkan sikap lelah, hal inilah yang sering kali membuat orang tua kewalahan
dan tidak sanggup meladeni perilakunya.

7. Tidak sabar dan usil


Ketika bermain tidak mau menunggu giliran,tetapi langsung merebut. Sering pula mengusili
teman-temannya tanpa alas an yang jelas.
8. Intelektualitas rendah
Sering kali anak dengan gangguan hiperaktif memiliki intelektualitas di bawah rata-rata anak
normal. Mungkin dikarenakan secara psikologis mentalnya sudah terganggu sehingga ia tidak
bisa menunjukkan kemampuan kreatifnya.

Ciri-ciri khusus anak hiperaktif yang lainnya diantaranya ialah sebagai berikut :
1. Sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki ketika duduk, atau sering menggeliat.
2. Sering meninggalkan tempat duduknya, padahal seharusnya ia duduk manis.
3. Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan pada keadaan yang tidak selayaknya.
4. Sering tidak mampu melakukan atau mengikuti kegiatan dengan tenang.
5. Selalu bergerak, seolah-olah tubuhnya didorong oleh mesin. Juga, tenaganya tidak pernah
habis.
6. Sering terlalu banyak bicara.
7. Sering sulit menunggu giliran.
8. Sering memotong atau menyela pembicaraan.
9. Jika diajak bicara tidak dapat memperhatikan lawan bicaranya (bersikap apatis terhadap
lawan bicaranya).

Ciri-ciri lain yang menyertai Gangguan Pemusatan Perhatian dengan Hiperaktivitas


(GPPH/ADHD) adalah :
1. Kemampuan akademik tidak optimal
2. Kecerobohan dalam hubungan sosial
3. Kesembronoan dalam menghadapi situasi yang berbahaya
4. Sikap melanggar tata tertib secara impulsif

Penatalaksanaan
Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan ADHD, namun ada berbagai
tretamen untuk menangani gejala ADHD beberapa treatment dan layanan yang dilakukan untuk
mengatasi kasus anak-anak yang tergolong hiperaktif diantaranya 5 :
a. Orang tua perlu menambah pengetahuan mengenai gangguan hiperkatifitas serta mengenali
bakat anak
b. Menggunakan teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat posisitf (misalnya
memeberikan pujian jika anak makan dengan tertib), memebrikan disilin yang konsisten dan
selalu memonitor perilaku anak.
c. Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktifitas anak untuk menyalurkan kelebihan
energinya serta membangkitkan rasa percaya diri anak
d. Menyingkirkan perlengkapan yang tidak diperlukan di meja belajar anak, supaya
perhatiannya tidak pecah.

Memberitahukan orang tuanya agar menyediakan tempat

belajar yang tenang, jauh dari televisi atau musik keras


e. Menatap anak saat berkomunikasi, dan sesekali menggunakan kontak fisik, seperti
memegang bahu atau menepuk punggung anak untuk memfokuskan perhatiannya.
f. Mengingatkan orang tuanya agar melatih anak melakukan kegiatan secara teratur /
terjadwal saat waktu tertentu (misalnya bangun, mandi, belajar, makan, tidur, baca buku,
main dll).
g. Bekerjasama dengan guru disekolah agar guru memhami kondisi anak yang sebenarnya,
dan guru dapat menempatkan anak didik dengan hiperaktif di bangku yang dekat guru,
atau di antara anak yang tenang dan amat memperhatikan pelajaran.
h. Menghindari menempatkan anak di dekat jendela, pintu terbuka atau gambar / lukisan
yang warnanya cerah karena akan merusak konsentrasinya.
Pihak pihak yang dilibatkan orang tua, guru, psikolog, dokter dan terapis kesehatan mental.

Penatalaksanaan Khusus
Selain penatalaksaan umum kita dapat mengajar dan memberi konseling mengenai
penanganan untuk perbaikan sikap dan perilaku anak. 6
a. Pendekatan behavioral

Pendekatan ini mendasarkan pada prosedur operant conditioning. Misalnya program


penangan residential, yang menetapkan aturan dengan jelas terhadap anak-anak. Mereka akan
diberikan reward untuk perilaku yang tepat dan hukuman untuk perilaku yang tidak tepat.
b. Pendekatan kognitif-behavioral
Penanganan anak dengan gangguan tingkah laku dilakukan dengan terapi kognitif
behavioral, yaitu melatih anak dengan gangguan tingkah laku untuk berpikir bahwa konflik
sosial adalah masalah yang dapat diselesaikan dan bukan merupakan tantangan yang harus
diselesaikan dengan kekerasan. Anak anak ini dilatih menggunakan calming self talk, yaitu
teknik untuk berfikir dan berbicara kepada diri sendiri, tujuannya adalah menghambat
perilaku impulsive, mengendalikan kemarahan dan mencoba solusi yang yang tidak
mengandung kekerasan dalam emnghadapi konflik sosial.
c. Pendekatan keluarga-lingkungan (family ecological approach)
Anak berada dalam berbagai sistem sosial (keluarga, hukum, komunitas dll), pendekatan
ini menekankan bahwa anak-anak/ remaja yang melanggar peraturan itu memepengaruhi dan
dipengaruhi oleh sisitem soaial yang berinteraksi dengan mereka. Teknik yang digunakan
adalah berusaha mengubah hubungan anak dengan berbagai sistem, untuk menghentikan
perilaku dan interaksi yang menganggu.

Kesimpulan
Perilaku anak yang hiperaktif tampak mengalami kesulitan di dalam memusatkan
perhatian ia dapat mempertahankan konsentrasinya paling lama lima menit, tidak dapat duduk
tenang, berpindah dari satu tempat ketempat lain, tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas, dalam
interaksi sosial cenderung memonopoli kegiatan, impulsif, kadang menyela pembicaraan orang
dan agresif. Merubah perilaku anak yang hiperaktif dituntut kesabaran, keikhlasan dan
keterampilan, dengan penanganan kognitif behavioral yaitu menggabungkan modifikasi perilaku
yang didasarkan pada pemberian pujian atas keberhasilan yang dicapai dan modifikasi kognitif
dengan melatih anak untuk mewarnai atap rumah dan berhasil melakukannya.

10

Daftar pustaka
1. Markum AH. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. FKUI: Jakarta; 1991.
2. Behrman, Kliegman, Arvin. Ilmu kesehatan Anak Nelson. Edisi ke-15. Volum 1. EGC:
Jakarta;1999.
3. Johnston DHD. Dasar-dasar pediatri. Edisi ke-3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2008.h.145-75.
4. Soedjiningsih. Tumbuh kembang anak. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2000.h.127.
5. Maslim R. Retardasi Mental.dalam Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa-Rujukan Ringkas
dari PPDGJ III. Jakarta. Hal.119-33
6. American Psychiatric Association: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders
(DSM-IV-TR). 4th ed. Washington, DC: American Psychiatric Association; 2000. 78-85

11